Anda di halaman 1dari 12

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PERAN SERTA KELUARGA


PADA KLIEN DENGAN MENARIK DIRI DAN
PENATALAKSANAANNYA.

Oleh : Kelompok 6
1. DIANATUS SHOLEHAH

(201210300511030)

2. MUHAMAD TAUFIK

(201210300511024)

3. IHYA ULUMUDIN

(201210300511054)

4. DELLA KIRDA SARI

(201210300511003)

DIII KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2014
SATUAN ACARA PENYULUHAN

MENARIK DIRI
Topik

: Peran serta keluarga pada klien dengan menarik diri dan


penatalaksanaannya.

Sasaran

: Keluarga, Pasien di Puskesmas Ciptomulyo Malang.

Tempat

: Puskesmas Ciptomulyo Malang

Hari/Tanggal : Sabtu, 17 Januari 2015


Waktu

: 07.30 08.00 WIB

1. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM


Pada akhir proses penyuluhan, peserta penyuluhan dapat mengetahui
tentang peran serta keluarga pada klien dengan menarik diri dan
penatalaksanaanya.
2. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
Setelah diberikan penyuluhan pengunjung Puskesmas Ciptomulyo Malang,
pasien di dapat :
1) Mengetahui pengertian menarik diri.
2) Mengetahui penyebab menarik diri.
3) Mengetahui tanda gejala menarik diri.
4) Mengetahui perawatan pasien menarik diri di rumah.
3. SASARAN
Keluarga, Pasien yang berada di Puskesmas Ciptomulyo Malang.
4. PEMBAHASAN MATERI
1)

Pengertian menarik diri

2)

Penyebab menarik diri

3)

Tanda dan gejala menarik diri

4)

Perawatan pasien menarik diri di rumah

5. METODE

1) Ceramah
2) Tanya Jawab
6. MEDIA
1) LCD
2) Leaflet
7. KRITERIA EVALUASI
1) Evaluasi Struktur
a. Peserta hadir ditempat penyuluhan
b. Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di Puskesmas Ciptomulyo
Malang.
c. Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelumnya
2) Evaluasi Proses
a. Peserta antusias terhadap materi penyuluhan.
b. Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat penyuluhan sebelum
acara selesai.
c. Peserta mengajukan pertanyaan.
3) Evaluasi Hasil
a. Keluarga pasien mengetahui tentang Menarik diri
b. Jumlah hadir dalam penyuluhan minimal 6 orang

8. KEGIATAN PENYULUHAN

No. WAKTU
1.

3 Menit

KEGIATAN

KEGIATAN

PENYULUH
Pembukaan :

PESERTA
Pembukaan :

1) Membuka kegiatan

METODE /
MEDIA

1) Menjawab salam

dengan

2) Mendengarkan

Ceramah dan

mengucapkan salam.

3) Memperhatikan

LCD

2) Memperkenalkan
diri

4) Memperhatikan dan
mendengarkan

3) Menjelaskan tujuan
dari penyuluhan
4) Menyebutkan materi
2.

15 Menit

yang akan diberikan


Pelaksanaan :
Pelaksanaan :
1) Menjelaskan tentang 1) Memperhatikan
pengertian Menarik 2) Mendengarkan
diri

3) Bertanya dan menjawab Ceramah dan

2) Menjelaskan tentang
penyebab dan tanda
gejala Menarik diri.
3) Menjelaskan cara
mengatasi Menarik
diri.
4) Menjelaskan peran
serta keluarga dalam
merawat klien
dengan Menarik
diri.
5) Memberi
kesempatan kepada
peserta
bertanya.

untuk

pertanyaan yang
diajukan

LCD

3.

10 Menit

Evaluasi :

Evaluasi :

Menanyakan kepada

Menjawab pertanyaan

peserta tentang materi

Ceramah

yang telah diberikan,


dan reinforcement
kepada audien, peserta
yang dapat menjawab
pertanyaan.

4.. 2 Menit

Terminasi :

Terminasi :

1) Mengucapkan

1) Mendengarkan

terimakasih atas

2) Menjawab salam

peran serta peserta.


2) Mengucapkan salam
penutup.
Evaluasi hasil penyuluhan :
1. Peserta mengerti tentang pengertian menarik diri.
2. Peserta mengerti tentang penyebab menarik diri.
3. Peserta mengerti tentang tanda gejala menarik diri.
4. Peserta mengerti tentang perawatan pasien menarik diri di rumah.

9. PENGORGANISASIAN
Moderator

: Della Kirda Sari Putri

Pembicara

: Muhammad Taufik

Fasilitator

: Dianatus Sholehah

Observer

: Ihya Ulumuddin

10. SETTING TEMPAT

Ceramah

Keterangan:
11.

: Pembicara

12.

: LCD
: Pembawa acara
: Peserta
: Observer
: Fasilitator

MATERI MENARIK DIRI


A. Kasus (Masalah Utama)
Kerusakan interaksi sosial : Menarik Diri
B. Proses Terjadinya Masalah (Tinjauan Teori)
1. Definisi Menarik Diri
Perilaku menarik diri adalah suatu usaha menghindari interaksi
dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab
dan tidak menyadari kesempatan untuk berhubungan secara spontan
dengan orang lain yang dimanifestasikan dengan sikap memisahkan diri,
tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang
lain (Budi Anna Keliat, 1999).
Perilaku yang di munculkan oleh individu yang teramati lewat
prilaku yang maladaptif yang merupakan suatu upaya individu tersebut
untuk mengatasi kecemasannya, berhubungan dengan rasa takut, kesepian,
kemarahan, rasa malu, rasa bersalah, dan rasa tidak aman. (Stuart &
Sunden, 1995).
Menarik diri adalah suatu gangguan suatu hubungan interpersonal
yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang
menimbulkan prilaku maladatif dan mengganngu fungsi seseorang dalam
hubungan sosial (Depkes RI, 2000).
2. Tanda dan Gejala
1) Kurang spontan
2) Apatis (acuh terhadap lingkungan)
3) Ekspresi wajah kurang berseri
4) Afek Tumpul
5) Tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri
6) Komunikasi verbal menurun atau tidak ada, klien tidak bercakapcakap dengan klien lain / perawat
7) Mengisolasi diri (menyendiri)

8) Klien tampak memisahkan diri dari orang lain, misalnya pada saat
makan
9) Tidak atau kurang sadar dengan lingkungan sekitarnya
10) Pemasukan makanan dan minuman terganggu
11) Retensi urine dan feces
12) Aktivitas menurun
13) Kurang energi (tenaga)
14) Harga diri rendah
15) Menolak berhubungan dengan orang lain
16) Klien memutuskan percakapan atau pergi bila diajak bercakap-cakap.
3. Mekanisme Koping
Mekanisme koping digunakan klien sebagai usaha untuk mengatasi
kecemasan yang merupakan suatu kesepian nyata yang mengancam
dirinya. Mekanisme koping yang sering digunakan pada klien menarik diri
adalah regresi, represi, dan isolasi. Represi didefinisikan sebagai upaya
individu untuk menyingkirkan frustrasi, konflik batin, mimpi buruk, krisis
keuangan dan sejenisnya yang menimbulkan kecemasan. Regresi
merupakan respon yang umum bagi individu bila berada dalam situasi
frustrasi, setidak-tidaknya pada anak-anak. Ini dapat pula terjadi bila
individu yang menghadapi tekanan kembali lagi kepada metode perilaku
yang khas bagi individu yang berusia lebih muda. Reaksi ini merupakan
respon yang umum dalam mengambil sikap. Bila individu menarik diri,
dia memilih untuk tidak mengambil tindakan apapun. Biasanya respons ini
disertai dengan depresi dan sikap apatis.
4. Etiologi
1) Faktor Predisposisi
a. Faktor Perkembangan
Setiap tahap tumbuh kembang mempunyai tugas yang harus dilalui
dengan sukses. Karena apabila tugas perkembangan tersebut tidak di

penuhi maka akan mengganggu atau menghambat perkembangan


selanjutnya. (Budi Anna Keliat, 2002)
b. Faktor Biologis
Faktor genetik dapat menunjang terhadap kerusakan interaksi sosial
menarik diri. Adanya kelainan-kelainan seperti retardasi mental
dianggap membatasi kapasitas adaptif seorang individu secara umum
(Townsend, 1998).
c. Faktor Sosial Budaya
Isolasi sosial merupakan faktor dalam gangguan berhubungan yang
diakibatkan oleh karena norma yang tidak mendukung. Pendekatan
terhadap orang lain atau tidak menghargai anggota masyarakat yang
tidak produktif seperti lansia, orang cacat, dan orang yang
berpenyakit kronis. Isolasi sosial dapat terjadi karena mengadopsi
norma, prilaku dan sistem nilai yang berbeda dari kelompok
mayoritas. Harapan yang tidak realistik terhadap hubungan juga
termasuk faktor lain yang berkaitan dengan gangguan ini (Stuart &
Sunden, 1998 ).
2) Faktor presipitasi
a. Stressor sosial budaya
Stresor sosial budaya dapat menyebabkan terjadinya gangguan
dalam berhubungan, misalnya keluarga yang labil, dirawat di RS.
b. Stresor psikologis
Tingkat kecemasan yang berat akan menyebabkan menurunnya
kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain.
Intensitas kecemasan yang ekstrim dan memanjang disertai
terbatasnya kemampuan individu untuk mengatasi masalah di yakini
akan menimbulkan berbagai masalah gangguan berhubungan
(menarik diri).

5. Peran serta keluarga dalam merawat klien Menarik Diri


Keluarga Penting Artinya dalam perawatan dan penyembuhan
pasien,keluarga pemberi perawatan utama dalam pemenuhan kebutuhan
dasar dan mengoptimalkan ketenangan jiwa bagi pasien.
Tujuan Perawatan adalah :
1) Meningkatkan Kemandirian Pasien
2) Pengoptimalan peran dalam masyarakat
3) Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah
6. Perawatan Dirumah Yang Dapat Dilakukan Oleh Keluarga
1) Memenuhi kebutuhan sehari-hari
a. Bantu dan perhatikan pemenuhan kebutuhan makan, minum,
kebersihan diri dan penampilan.
b. Latih dan libatkan klien dalam kegiatan sehari-hari (cuci pakaian,
setrika, menyapu dan lain-lain).
2) Bantu komunikasi dengan teratur
a. Bicara jelas dan singkat
b. Kontak / bicara secara teratur
c. Pertahankan tatap mata secara teratur
d. Lakukan sentuhan yang akrab
e. Sabar, lembut, tidak terburu-buru
f. Hindari kecemasan pada klien
3) Libatkan dalam Kelompok
a. Beri kesempatan untuk menonton TV, mendengarkan musik,
membaca buku dan lain-lain.
b. Sediakan peralatan pribadi seperti tempat tidur, lemari dan lainlain.
c. Pertemuan keluarga secara teratur.
Menyendiri bisa menimbulkan gangguan jiwa lain yaitu halusinasi (merasa
mendengar bisikan, merasa melihat bayangan, merasa ada yang meraba, merasa
mencium bau, yang semua itu sebenarnya tidak ada).

DAFTAR PUSTAKA

Stuart GW, Sundeen SJ. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 3. Jakarta :
EGC
Budi Anna Keliat. 1999. Asuhan Klien Gangguan Hubungan Sosial : Menarik
Diri. Jakarta : FKUI.
Townsend MC. 1995. Nursing Diagnosis in Psychatric Nursing; A Pocket Guide
For Care Plan Construction. Alih Bahasa: Novi Helena CD. 1998. Buku
Saku Diagnosa Keperawatan Psikiatri; Pedoman Untuk Pembuatan
Rencana Perawatan. Jakarta: EGC

DAFTAR HADIR PESERTA PENYULUHAN


NO

NAMA

ALAMAT

TTD