Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN RESPONSI

PRAKTIKUM ELEKTRONIKA NUKLIR


DETEKTOR ION CHAMBER

DISUSUN OLEH:

Adityo Agung

(38683)

Hardina Dwi Lestari

(37794)

Mella Soelanda

(38435)

Prayoga Isyan

(38989)

Finny Pratama Putera

(38946)

Muhammad Resna

(38691)

LABORATORIUM SENSOR DAN SISTEM TELEKONTROL


JURUSAN TEKNIK FISIKA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

TUJUAN
1) Mahasiswa mampu membuat, memahami dan mengaplikasikan detektor Ion Chamber
2) Mahasiswa mampu mendeteksi sumber radiasi dengan detektor Ion Chamber

DASAR TEORI
Radiasi adalah pancaran energi melalui suatu materi atau ruang dalam bentuk panas, partikel
atau gelombang elektromagentik/cahaya (foton) dari sumber radiasi. Ada beberapa sumber
radiasi yang kita kenal disekitar kehidupan kita., contohnya adalah televise, lampu
penerangan, alat pemanas makanan, computer dan lain-lain. radaiasi dalam bentuk
gelombang elegtromagnetik atau disebut juga dengan foton adalah jenis radiasi yang tidak
mempunyai massa dan muatan listrik. Misalnya adalah gamma dan sinar-x dan juga termasuk
radiasi tampak seperti sinar lampu, sinar matahari, gelombang microwave, radar dan
handpone. (BATAN, 2008)
Salah satu cara untuk mendeteksi radiasi non pengion (gamma, sinar-x, alfa dan beta) adalah
dengan menggunakan detektor radiasi. Ada beberapa jenis detektor radiasi, salah satunya
adalah detektor isian gas. Detektor isian gas merupakan detektor yang paling sering
digunakan untuk mengukur radiasi. Detektor ini terdiri dari dua elektroda, positif dan negatif,
serta berisi gas di antara kedua elektrodanya. Elektroda positif disebut sebagai anoda, yang
dihubungkan ke kutub listrik positif, sedangkan elektroda negatif disebut sebagai katoda,
yang dihubungkan ke kutub negatif. Kebanyakan detektor ini berbentuk silinder dengan
sumbu yang berfungsi sebagai anoda dan dinding silindernya sebagai katoda sebagaimana
berikut.

Radiasi yang memasuki detektor akan mengionisasi gas dan menghasilkan ion-ion positif dan
ion-ion negatif (elektron). Jumlah ion yang akan dihasilkan tersebut sebanding dengan energi
radiasi dan berbanding terbalik dengan daya ionisasi gas. Daya ionisasi gas berkisar dari 25
eV s.d. 40 eV. Ion-ion yang dihasilkan di dalam detektor tersebut akan memberikan
kontribusi terbentuknya pulsa listrik ataupun arus listrik.

Ion-ion primer yang dihasilkan oleh radiasi akan bergerak menuju elektroda yang
sesuai. Pergerakan ion-ion tersebut akan menimbulkan pulsa atau arus listrik. Pergerakan ion
tersebut di atas dapat berlangsung bila di antara dua elektroda terdapat cukup medan listrik.
Bila medan listriknya semakin tinggi maka energi kinetik ion-ion tersebut akan semakin besar
sehingga mampu untuk mengadakan ionisasi lain.

Ion-ion yang dihasilkan oleh ion primer disebut sebagai ion sekunder. Bila medan listrik di
antara dua elektroda semakin tinggi maka jumlah ion yang dihasilkan oleh sebuah radiasi
akan sangat banyak dan disebut proses avalanche.Terdapat tiga jenis detektor isian gas yang
bekerja pada daerah yang berbeda yaitu detektor kamar ionisasi, detektor proporsional, dan
detektor Geiger Mueller (GM).
Dari ketiga jenis detektor tersebut yang akan kita buat dan aplikasikan adalah detektor Ion
Chamber (Kamar Ionisasi).

Detektor Ion Chamber (kamar ionisasi)


Detektor ini merupakan salah satu jenis detektor. Umumnya, alat ini terdiri atas dua
keeping logam sejajar,terpisah dan diletakkan dalam sebuah kotak logam yang
dikebumikan. Keping bawah dihubungkan ke potensial tinggi yang dihasilkan oleh
baterai listrik. Sebagaimana terlihat pada kurva karakteristik gas di atas, jumlah ion
yang dihasilkan di daerah ini relatif sedikit sehingga tinggi pulsanya, bila menerapkan
pengukuran model pulsa, sangat rendah. Oleh karena itu, biasanya, pengukuran yang
menggunakan detektor ionisasi menerapkan cara arus. Bila akan menggunakan
detektor ini dengan cara pulsa maka dibutuhkan penguat pulsa yang sangat baik.
Keuntungan detektor ini adalah dapat membedakan energi yang memasukinya dan
tegangan kerja yang dibutuhkan tidak terlalu tinggi. Cara pembuatan detektor ini lebih
efisien dibandingkan dengan detektor gas lainnya, selain itu harga pembuatannya juga
lebih murah.

ALAT DAN BAHAN


1) 3 buah resistor 10K
2) 2 buah resistor 2K
3) 1 buah resistor 1M
4) 1 buah trimmer potensiometer 100K
5) 1 buah kaleng biscuit atau sejenisnya
6) 1 buah beterai 9V
7) 1 buah snap beterai 9V
8) 2 buah darlington transistor MPSA55 PNP
9) 2 buah darlington transistor 2n3904 NPN
10) 1 buah multimeter
11) Solder

LANGKAH KERJA
1) Sediakan semua alat dan bahan yang diperlukan seperti prosedur yag berlaku
2) Hubungkan emitter dari kedua kaki transistor MPSA55 PNP secara bersama-sama dan
solder pada kedua kaki emitter
3) Bengkokan sedikit resistor 10K dengan cara mengkaitkan masing-masing resitor dan
kemudian gunting kaki resistor yang berlebihan

4) Gantung kaki resistor 10K ke masing2 basis pada kaki transistor MPSA55 PNP dan
kemudian disolder
5) Gantung kaki resistor 2.2K ke masing2 kolektor pada kaki transistor MPSA55 PNP
dan kemudian disolder
6) Balikan perakitan keatas, ambil 2 kaki resistor pada resistor 2.2K dan gabungkan
mereka satu sama lain.
7) Solder kaki resistor pada 2.2K dan kemudian balik kelebihan dari kaki resistor
8) Tekuk kaki emitor dan kolektor di kedua transistor 2n3904 . 2n3904 memiliki pinout
yang sama dengan MPSA55 ( EBC sebagai transistor menghadap ke arah Anda )
9) Solder salah satu emitor 2n3904 ke kaki resistor 2.2K yang disolder bersama ,
kemudian solder kaki kolektor ke kaki resistor 10K, kemudian ulangi untuk 2n3904
yang lain dengan cara yang sama.
10) Balik kelebihan dari kolektor dan emitter dari 2n3904 dan resistor 10K
11) Sediakan 2 kabel jumper 4 inch
12) Solder salah satu kabel ke kolektor MPSA55 yang melekat pada resistor 2.2K,
kemudian ulangi dengan kawat lainnya untuk bagian yang sama
13) Potong jumper yang akan digunakan untuk kolektor ion dengan panjang 3/4 dari
panjang kaleng yang digunakan
14) Solder jumper ke salah satu basis 2n3904
15) kikis tepi bawah kaleng, dan tutup kaleng sebagai perisai untuk rangkaian
16) Waktu untuk memotong lubang kaleng, tempatkan dengan hati-hati lubang kecil
sekitar 1/4 inci di ke bagian bawah kaleng.
17) Kikis bagian kecil dari bagian bawah kaleng, kemudian panaskan dan tambahkan
solder (pre-tin bagian ini). Di sinilah resistor akan disolder.
18) Ambil rangkaian dan tekuk kaki resisto kalengr sehingga dapat dimasukkan ke dalam
lubang kaleng
19) Potong ujung kaki resistor dari salah satu kaki pada resistor 10K yang tersisa dan
tinggalkan sekitar 0,2 inci.
20) Solder kaki pendek dari resistor 10k ke persimpangan emitor pada kedua transistor
MPSA55
21) Solder kaki panjang resistor 10K ke kaleng, kemudian potong kelebihan kaki resistor
dan pastikan saat ini ion berpusat ke dalam lubang.
22) Potong 4 inci jumper dan solder salah satu ujung ke dasar kaki resistor dari 2n3904
tersebut. Jumper ini akan digunakan untuk penekanan rangkaian.

23) Potong jumper lagi 4 inci. Solder salah satu ujung ke persimpangan yang
menghubungkan resistor 2.2K ke emitter dari transistor 2n3904

(ini adalah

persimpangan ground) kawat ini juga akan digunakan untuk rangkaian nol.
24) Tempatkan lubang pada tutup kaleng dengan lebar 1/4 inci.
25) solder kabel merah dari batrei ke persimpangan emiter pada transistor MPSA 55 dan
10K ke badan kaleng. solder kabel hitam batrei ke persimpangan ground dimana
resistor 2.2K dan emmiter dari MPSA 55 bertemu
26) Masukan kabel ke lubang yang telah dibuat di tutup kaleng.
27) Solder bagian akhir dari resistor 1 M ke timah merah trimmer potensial
28) Masukan ion probe secara perlahan, kemudian lekatkan kabel pada bagian bawah
kaleng
29) Pasang tutup kaleng pada bagian bawah kaleng, kemudian solder di tiga titik
30) Ikatkan kaki dari resistor 1 M pada pinggir kaleng untuk meng-groundkan kaleng
31) Sambungkan zero circuit. kabel dari base MPSA 55 harus di solder ke tengah trimmer
potensiometer. kabel dari simpangan ground juga akan disolder ke kaki dari trimmer
potensiometer yang lebar
32) Cek untuk kedua kalinya apakah ion probe ada ditengah. jika tidak di tengah bisa
digerakan perlahan
33) Potong selembar alumunium foil dan pasang di bagian muka kaleng dengan
menggunakan karet
34) Hubungkan ke multimeter
35) De solder koneksi bagaina tengah di pot zero dan biarkan tergatung diudara agar tidak
mnyentuh apapun.

HASIL RANGKAIAN ALAT

PEMBAHASAN
Pada percobaan kali ini kelompok kami membuat alat pendeteksi sinar radiasi yang biasa
disebut Ion Chamber (Kamar Ionisasi). Detektor ini bekerja pada rentang batas tegangan
kerja tertentu, jumlah pasangan ion (pulsa) yang terjadi tidak tergantung pada tegangan tetapi
tergantung pada energi radiasi. Pada umumnya kelebihan dari detektor ini adalah:
Pulsa yang terbentuk relatif rendah
Efektif mengukur radiasi dengan energi yang besar.
Kenaikan tegangan tidak mempengaruhi tinggi pulsa
Berdasarkan prosedur yang ditentukan, cara kerja dari alat yang kami buat adalah sebagai
berikut:
Atur multimeter 9V
Hubungkan baterai ke Ion Chamber dan tunggu 1 menit
Perhatikan multimeter dan harus dimulai 4V dan kemudian perlahan-lahan kembali
keadaan awal stelah sekitar 1 menit sehingga seharusnya nilainya 200mV dari nol.
Jika cara kerja sudah benar, lepas baterainya
Solder kabel nol kembali ke bagian tengah
Hubungkan baterainya lagi dan tampilannya 8V dan tidak terjadi settling
Letakkan sumber radiasi ke dekat detektor, jika jarum pada penunjukkan multimeter
naik, maka ada radiasi, jika tidak, maka tidak ada radiasi.
Dengan demikian alat yang kami buat telah jadi dan untuk menunjukkan kebenaran alatnya
bisa dipraktikan dengan mendekatkan sumber radiasi.

KESIMPULAN
Detektor Ion Cahamber bisa mendeteksi radiasi yang ada dengan cara melihat jarum
penunjukan pada multimeter.

DAFTAR PUSTAKA
http://madscientisthut.com/wordpress/tag/make-a-radiation-detector/. Make a Cheap and Effective
Radiation Detector. Tanggal akses 31/12/2013.
http://www.batan.go.id/pusdiklat/elearning/Pengukuran_Radiasi/Dasar_04.htm. Jenis Detektor
Radiasi. Tanggal akses 13/01/2013

LAMPIRAN
Rangkaian Multisim