Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN KANKER KOLOECTAL

A. PENGERTIAN
Kanker kolorectal adalah kanker yang berasal dalam permukaan usus besar (kolon) atau rektum/rektal, umumnya kanker kolo
rectal berawal dari pertumbuhan sel yang tidak ganas terdapat adenoma atau berbentuk polip. Adenoma atau polip pada kolo rectal
dapat diangkat dengan mudah hanya saja jarang menimbulkan gejala apapun, sehingga tidak terdeteksi dalam waktu cukup lama
hingga berkembang menjadi kanker kolorektal.
Kanker kolon sebagaimana sifat kanker lainnya, memiliki sifat dapat tumbuh dengan relatif cepat, dapat menyusup atau
mengakar (infiltrasi) ke jaringan disekitarnya serta merusaknya, dapat menyebar jauh melalui kelenjar getah bening maupun pembuluh
darah ke organ yang jauh dari tempat asalnya tumbuh, seperti ke lever, paru-paru, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kematian
bila tidak ditangani dengan baik ( Burkitt, 1971 ).
B. ETIOLOGI
Penyebab nyata dari kanker kolorectal belum diketahui secara pasti, namun faktor resiko & faktor predisposisi telah
diidentifikasi. Faktor resiko yang mungkin adalah :
1. Riwayat kanker pribadi, orang yang sudah pernah terkena kanker colorectal dapat terkena kanker colorectal untuk kedua kalinya.
Selain itu, wanita dengan riwayat kanker di indung telur, uterus (endometrium) atau payudara mempunyai tingkat risiko yang
2.

lebih tinggi untuk terkena kanker colorectal.


kanker colorectal pada keluarga, jika mempunyai riwayat kanker colorectal pada keluarga, maka kemungkinan akan terkena

3.

penyakit ini lebih besar, khususnya jika mempunyai saudara yang terkena kanker pada usia muda.
Penyakit FAP (Familial Adenomatous Polyposis) Polip adenomatosa familial (terjadi dalam keluarga); memiliki resiko 100%

4.
5.
6.

untuk terjadi kanker kolorektal sebelum usia 40 tahun, bila tidak diobati
Riwayat penyakit usus inflamasi kronis.
Inveksi Virus. Virus tertentu seperti HPV (Human Papilloma Virus) turut andil dalam terjadinya kanker kolorektal
Diet : kebiasaan mengkonsumsi makanan yang rendah serat (sayur-sayuran, buah-buahan), kebiasaan makan makanan berlemak
tinggi dan sumber protein hewani.

Faktor predisposisi yang penting adalah faktor gaya hidup, orang yang merokok, atau menjalani pola makan yang tinggi lemak
seperti lemak jenuh dan asam lemak omega-6 (asam linol) dan sedikit buah-buahan dan sayuran memiliki tingkat risiko yang
lebih besar terkena kanker colorectal.
Etiologi lain :
1.
2.
3.

Kontak dengan zat-zat kimia tertentu seperti logam berat, toksin, dan ototoksin serta gelombang elektromagnetik.
Zat besi yang berlebihan diantaranya terdapat pada pigmen empedu, daging sapi dan kambing serta tranfusi darah.
Minuman beralkohol, khususnya bir. Usus mengubah alkohol menjadi asetilaldehida yang meningkatkan risiko menderita kanker

4.
5.
6.

kolon.
Obesitas.
Bekerja sambil duduk seharian, seperti para eksekutif, pegawai administrasi, atau pengemudi kendaraan umum
Polip di usus (Colorectal polyps), polip adalah pertumbuhan pada dinding dalam kolon atau rektum, dan sering terjadi pada orang

7.

berusia 50 tahun ke atas. Sebagian besar polip bersifat jinak (bukan kanker), tapi beberapa polip (adenoma) dapat menjadi kanker.
Colitis Ulcerativa atau penyakit Crohn, orang dengan kondisi yang menyebabkan peradangan pada kolon (misalnya colitis

8.

ulcerativa atau penyakit Crohn) selama bertahun-tahun memiliki risiko yang lebih besar.
Usia di atas 50, kanker colorectal lebih biasa terjadi pada usia manusia yang semakin tua. Lebih dari 90 persen orang yang
menderita penyakit ini didiagnosis setelah usia 50 tahun ke atas.

C. PATOFISIOLOGI
Kanker kolon dan rektum terutama ( 95 % ) adenokarsinoma ( muncul dari lapisan epitel usus ). Dimulai sebagai polip jinak
tetapi dapat menjadi ganas dan menyusup serta merusak jaringan normal serta meluas ke dalam sturktur sekitarnya. Sel kanker dapat
terlepas dari tumor primer dan menyebar ke bagian tubuh yang lain ( paling sering ke hati ).
Karsinoma kolon sebagian besar menghasilkan adenomatus polip. Biasanya tumor ini tumbuh tidak terdeteksi sampai gejala-gejala
muncul secara perlahan dan tampak membahayakan. Penyakit ini menyebar dalam beberapa metode. Tumor mungkin menyebar
dalam tempat tertentu pada lapisan dalam di perut, mencapai serosa dan mesenterikfat, kemudian umor ini mulai mendekat pada organ
yang ada di sekitarnya, kemudian meluas ke dalam lumen pada usus besar atau menyebar ke limfa atau pada sistem sirkulasi. Sistem

sirkulasi ini langsumg masuk dari tumor utama melewati pembuluh darah pada usus besar melalui limfa, setelah sel tumor masuk pada
sistem sirkulasi, biasanya sel bergerak menuju liver. Tempat yang kedua adalah tampat yang jauh kemudian metastase ke paru-paru.
Kanker kolorektal dapat menyebar melalui beberapa cara yaitu :
1. Secara infiltratif langsung ke struktur yang berdekatan melalui sistem limpatikus dan hematogen, serta melalui implantasi sel ke
daerah peritoneal. Karsinoma kolon dan rektum mulai berkembang pada mukosa dan bertumbuh sambil menembus dinding dan
meluas secara sirkuler ke arah oral dan aboral. Penyebaran perkontinuitatum menembus jaringan sekitar atau organ sekitarnya
misalnya ureter, buli-buli, uterus, vagina atau prostat. Penyebaran limfogen terjadi ke kelenjar parailiaka, mesenterium dan
paraaorta. Penyebaran hematogen terutama ke hati. Penyebaran peritoneal mengakibatkan peritonitis karsinomatosa dengan atau
2.
3.

tanpa asites. seperti ke dalam kandung kemih.


Melalui pembuluh limfe ke kelenjar limfe perikolon dan mesokolon .
Sebagian besar tumor maligna (minimal 50%) terjadi pada area rektal dan 2030 % terjadi di sigmoid dan kolon desending (Black
dan Jacob, 1997). Kanker kolorektal terutama adenocarcinoma (muncul dari lapisan epitel usus) sebanyak 95%. Tumor pada
kolon asenden lebih banyak ditemukan daripada pada transversum (dua kali lebih banyak). Tumor bowel maligna menyebar
dengan cara:
a. Menyebar secara langsung pada daerah disekitar tumor secara langsung misalnya ke abdomen dari kolon transversum.

4.
5.
6.

Penyebaran secara langsung juga dapat mengenai bladder, ureter dan organ reproduksi.
b. Melalui saluran limfa dan hematogen biasanya ke hati, juga bisa mengenai paru-paru, ginjal dan tulang.
c. Tertanam ke rongga abdomen.
Melalui aliran darah, biasanya ke hati karena kolon mengalirakan darah ke system portal.
Penyebaran secara transperitoneal
Penyebaran ke luka jahitan, insisi abdomen atau lokasi drain.

Tempat metastase yang lain di antaranya :


1.
2.
3.

Kelenjar Adrenalin
Ginjal
Kulit

4.
5.

Tulang
Otak.
Penambahan untuk infeksi secara langsung dan menyebar melalui limfa dan sistem sirkulasi, tumor kolon juga dapat menyebar

pada bagian peritonial sebelum pembedahan tumor di lakukan. Penyebaran terjadi ketika tumor di hilangkan dan sel kanker dari tumor
pecah menuju ke rongga peritonial.

D. KLASIFIKASI
Klasifikasi kanker kolon menurut modifikasi DUKES adalah sebagai berikut (FKUI, 2001:209) :

A
: kanker hanya terbatas pada mukosa dan belum ada metastasis.
B1
: kanker telah menginfiltrasi lapisan muskularis mukosa.
B2
: kanker telah menembus lapisan muskularis sampai lapisan propria.
C1
: kanker telah mengadakan metastasis ke kelenjar getah bening sebanyak satu sampai empat buah.
C2
: kanker telah mengadakan metastasis ke kelenjar getah bening lebih dari 5 buah.
D
: kanker telah mengadakan metastasis regional tahap lanjut dan penyebaran yang luas & tidak dapat dioperasi lagi.
Klasifikasi kanker kolon dapat ditentukan dengan sistem TNM (T = tumor, N = kelenjar getah bening regional, M = jarak
metastese).
T
: Tumor primer
T0
: Tidak ada tumor
T1
: Invasi hingga mukosa atau sub mukosa
T2
: Invasi ke dinding otot
T3
: Tumor menembus dinding otot
N
: Kelenjar limfa
N0
: tidak ada metastase
N1
: Metastasis ke kelenjar regional unilateral
N2
:Metastasis ke kelenjar regional bilateral
N3
: Metastasis multipel ekstensif ke kelenjar regional
M
: Metastasis jauh
M0
: Tidak ada metastasis jauh
M1
: Ada metastasis jauh
Kanker usus besar di klasifikasikan menjadi 3 kelompok
1. Tipe menonjol
Semua tumor yang massa utamanya menonjol ke dalam lumen usus termasuk tipe ini. Tumor tampak nodular, polipoid, seperti
kembang kola tai fungoid. Massa tumor besar, permukaan mudah mengalami perdarahan, infeksi, dan nekrosis. Umumnya terjadi
2.

di belahan kanan kolon. Sifat invasi rendah, prognosis agak baik.


Tipe ulseratif
Setiap tumor dengan permukaan memiliki tukak jelas yang agak dalam (kedalamannya biasanya mencapai atau melebihi
tunika muskularis) termasuk tipe ini.tipe ulseratif paling sering di jumpai, menempati lebih dari separuh kanker besar.

Karakteristiknya adalah pada massa terdapat tukak yang agak dalam, bentuk luar mirip kawah gunung berapi, tepinya menonjol
3.

dank eras, dasarnya tidak rata, nekrosis, derajad keganasan tinggi, metastasis limfogen lebih awal.
Tipe infiltrative
Tumor menginfiltrasi tiap lapisan dinding usus secara difus, sehingga dinding usus setempat menebal, tapi tampak dari luar
seringkali tidak jelas terdapat tukak atau tonjolan. Tumor seringkali mengenai sekeliling saliran usus, disertai hyperplasia
abnormal jaringan ikat, lingkaran usus jelas menyusut, membentuk konstriksi anular, dipermukaan serosa setempat sering tampak
cincin konstriksi akibat traksi jaringan ikat. Oleh karena itu mudah terjadi ileus, timbul diare dan obstipasi silih berganti. Tipe ini
sering ditemukan pada kolon sigmoid dan bagian atas rectum, derajad keganasan tinggi, metastasis lebih awal.

E. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi kanker kolon secara umum adalah :
1. Perdarahan rektum
2. Perubahan pola BAB
3. Tenesmus (nyeri rektal)
4. Obstruksi intestinal
5. Nyeri abdomen
6. Kehilangan berat badan
7. Anorexia
8. Mual dan muntah
9. Anemia
10. Massa palpasi
Manifestasi klinis sesuai dengan bagian kolon yang terkena keganasan
Colon Kanan
Nyeri dangkal abdomen
Anemia

Colon Kiri
1Obstruksi
abdomen

Rektal/Rectosigmoid
(nyeri Evakuasi feses yang
dan

kram,

tidak lengkap setelah

Melena (feses hitam, seperti ter)


Dyspepsia
Nyeri di atas umbilicus
Anorexia, nausea, vomiting
Rasa tidak nyaman diperut kanan

bawah
Teraba massa saat palpasi
Penurunan BB

penipisan

feses,

konstipasi dan distensi )


Adanya darah segar

dalam feses.
Tenesmus (nyeri rektal)
Perdarahan rektal
Perubahan pola BAB
Obstruksi intestine

defekasi.
Konstipasi dan diare

bergantian.
Feses berdarah.
Perubahan kebiasaan

defekasi.
Perubahan BB

F. FAKTOR RESIKO
Faktor resiko yang mungkin adalah adanya riwayat kanker payudara dan tumor uterus atau kanker kolon atau polip dalam
keluarga ; riwayat penyakit usus inflamasi kronis.
1. usia >50 tahun
2. adanya polip pada colon, khususnya jeis adenomatosa
3. Riwayat Ca colon, telah diobati namun dapat kambuh lagi, wanita yang pernah terkena kanker ovarium, uterus atau payudara.
4. Faktor keturunan, adanya keluarga penderita Ca colon
5. Penyakit kolitis ulseratif yang tidak diobati
6. Pola hidup: merokok, minum alkohol, konsumsi makanan tinggi lemak dan rendah serat, kurang olahraga
7. Hereditary nonpolyposis colorectal cancer (HNPCC) merupakan penyakit keturunan dengan risiko terjadi kanker kolo rectal pada
usia muda, ditemukan polip dalam jumlah sedikit.
G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Endoskopi
Pemeriksaan endoskopi perlu dilakukan baik sigmoidoskopi maupun kolonoskopi. Pemeriksaan kolonoskopi atau teropong usus
ini dianjurkan segera dilakukan bagi mereka yang sudah mencapai usia 50 tahun. Pemeriksaan kolonoskopi relatif aman, tidak
berbahaya, namun pemeriksaan ini tidak menyenangkan. Kolonoskopi dilakukan untuk menemukan kanker kolorektal sekaligus
mendapatkan jaringan untuk diperiksa di laboratorium patologi. Pada pemeriksaan ini diperlukan alat endoskopi fiberoptik yang
digunakan untuk pemeriksaan kolonoskopi. Alat tersebut dapat melihat sepanjang usus besar, memotretnya, sekaligus biopsi

tumor bila ditemukan. Dengan kolonoskopi dapat dilihat kelainan berdasarkan gambaran makroskopik. Bila tidak ada penonjolan
2.

atau ulkus, pengamatan kolonoskopi ditujukan pada kelainan warna, bentuk permukaan, dan gambaran pembuluh darahnya.
Radiologis
Pemeriksan radiologis yang dapat dilakukan antara lain adalah foto dada dan foto kolon (barium enema). Foto dada dilakukan

3.

untuk melihat apakah ada metastasis kanker ke paru.


Ultrasonografi (USG).
Sulit dilakukan untuk memeriksa kanker pada kolon, tetapi digunakan untuk melihat ada tidaknya metastasis kanker ke kelenjar

4.

getah bening di abdomen dan hati.


Histopatologi.
Biopsy digunakan untuk menegakkan diagnosis. Gambar histopatologis karsinoma kolon adalah adenokarsinoma dan perlu

5.

ditentukan diferensiansi sel.


Laboratorium Pemeriksaan Hb
Pemeriksaan Hb penting untuk memeriksa kemungkinan pasien mengalami perdarahan (FKUI, 2001 : 210). Selain itu,

6.
7.

pemeriksaan darah samar (occult blood) secara berkala, untuk menentukan apakah terdapat darah pada tinja atau tidak.
Pemeriksaan colok dubur
Pemeriksaan tersebut sekaligus untuk mengetahui adanya kelainan pada prostat.
Barium Enema
Pada pemeriksaan enema barium, bahan cair barium dimasukkan ke usus besar melalui dubur dan siluet (bayangan)-nya dipotret
dengan alat rontgen. Pada pemeriksaan ini hanya dapat dilihat bahwa ada kelainan, mungkin tumor, dan bila ada perlu diikuti
dengan pemeriksaan kolonoskopi. Pemeriksaan ini juga dapat mendeteksi kanker dan polip yang besarnya melebihi satu

8.
9.

sentimeter. Kelemahannya, pada pemeriksaan ini tidak dapat dilakukan biopsi


Fecal occult blood test
Pemeriksaan darah samar feses di bawah mikroskop
Pemeriksaan kimia darah
Alkaline phosphatase dan kadar bilirubin dapat meninggi, indikasi telah mengenai hepar. Test laboratorium lainnya meliputi

serum protein, kalsium, dankreatinin


10. Test Guaiac pada feces
Digunakan untuk mendeteksi bekuan darah di dalam feces, karena semua kanker kolorektal mengalami perdarahan intermitten
11. CEA (carcinoembryogenic antigen)

Dalam pemeriksaan ini ditemukannya glikoprotein di membran sel pada banyak jaringan, termasuk kanker kolorektal. Antigen ini
dapat dideteksi oleh radioimmunoassay dari serum atau cairan tubuh lainnya dan sekresi. Karena test ini tidak spesifik bagi
kanker kolorektal dan positif pada lebih dari separuh klien dengan lokalisasi penyakit, ini tidak termasuk dalam skreening atau
test diagnostik dalam pengobatan penyakit. Ini terutama digunakan sebagai prediktor pada prognsis postoperative dan untuk
deteksi kekambuhan mengikuti pemotongan pembedahan (Way, 1994).
12. CT (computed tomography) scan, magnetic resonance imaging (MRI), atau pemeriksaan ultrasonic dapat digunakan untuk
mengkaji apakah sudah mengenai organ lain melalui perluasan langsung atau dari metastase tumor
13. X-ray dada
Digunakan untuk deteksi metastase tumor ke paru-paru
14. Whole-body PET Scan Imaging
Sementara ini adalah pemeriksaan diagnostik yang paling akurat untuk mendeteksi kanker kolorectal rekuren (yang
timbulkembali).
15. Pemeriksaan DNA Tinja
H. PENATALAKSANAAN
1. Medis
Pasien dengan gejala obstruksi usus diobati dengan cairan IV dan pengisapan nasogastrik. Apabila terdapat perdarahan yang
cukup bermakna, terapi komponen darah dapat diberikan. Pengobatan tergantung pada tahap penyakit dan komplikasi yang
berhubungan. Pengobatan medis untuk kanker kolorektal paling sering dalam bentuk pendukung atau terapi anjuran. Terapi
2.

anjuran biasanya diberikan selain pengobatan bedah yang mencakup kemoterapi, terapi radiasi, dan imunoterapi.
Terapi radiasi
sering digunakan sebelum pembedahan untuk menurunkan ukuran tumor dan membuat mudah untuk direseksi. Intervensi lokal
pada area tumor setelah pembedahan termasuk implantasi isotop radioaktif ke dalam area tumor. Isotop yang digunakan termasuk
radium, sesium, dan kobalt. Iridium digunakan pada rektum. Terapi radiasi memakai sinar gelombang partikel berenergi tinggi
misalnya sinar X, atau sinar gamma, difokuskan untuk merusak daerah yang ditumbuhi tumor, merusak genetic sehingga

membunuh kanker. Terapi radiasi merusak sel-sel yang pembelahan dirinya cepat, antara alin sel kanker, sel kulit, sel dinding
lambung & usus, sel darah. Kerusakan sel tubuh menyebabkan lemas, perubahan kulit dan kehilangan nafsu makan.
3.

Kemoterapi
Kemoterapi memakai obat antikanker yang kuat , dapat masuk ke dalam sirkulasi darah, sehingga sangat bagus untuk kanker
yang telah menyebar. Obat chemotherapy ini ada kira-kira 50 jenis. Biasanya di injeksi atau dimakan, pada umumnya lebih dari
satu macam obat, karena digabungkan akan memberikan efek yang lebih bagus (FKUI, 2001 : 211). Kemoterapi yang diberikan
ialah 5-flurourasil (5-FU). Belakangan ini sering dikombinasi dengan leukovorin yang dapat meningkatkan efektifitas terapi.
Bahkan ada yang memberikan 3 macam kombinasi yaitu: 5-FU, levamisol, dan leuvocorin. Dari hasil penelitian, setelah
dilakukan pembedahan sebaiknya dilakukan radiasi dan kemoterapi. Radiasi dan kemoterapi dapat diberikan secara
berkesinambunagn dengan memperhatikan derajat kanker. Deteksi kanker yang dapat dilanjutkan dengan pemberian kemoterapi

4.

disesuaikan dengan klasifikasi dengan sistem TNM (T = tumor, N = kelenjar getah bening regional, M = jarak metastese)
Imunoterapi
Imunoterapi adalah upaya untuk meningkatkan sistem imunitas tubuh, untuk mengalahkan sel-sel kanker dengan cara
meningkatkan reaksi kekebalan tubuh terhadap sel kanker.Imunoterapi hampir selalu menggunakan bahan alami yang berasal dari
mahluk hidup, terutama manusia. Digunakannya bahan alami karena dapat berfungsi merangsang respon anti tumor dengan tubuh
dengan meningkatkan jumlah sel pembunuh tumor, secara langsung berfungsi sebagai agen pembunuh tumor, mengurangi
mekanisme tubuh yang normal dalam menekan respon imun, atau berfungsi memperbaiki toleransi tubuh terhadap radioterapi
atau kemoterapi.
a. interferon adalah sitokin yang berupa glikoprotein. Dalam keadaan normal, hampir seluruh sel manusia menghasilkan
interferon tetapi juga dapat dibuat dengan teknologi biologi molekuler rekombinan. Meski mekanisme aksinya belum
sepenuhnya jelas, interferon berperan dalam pengobatan beberapa kanker. Sitokin sebenarnya diproduksi tubuh, tetapi
jumlahnya sangat kecil, selain langsung menyerang sel kanker, interferon dapat menghentikan pertumbuhan kanker atau

mengubahnya menjadi sel normal. Interferon bekerja dengan merangsang kerja sel NK, sel T, dan makrofag yang berfungsi
b.

sebagai alat penjaga daya tahan tubuh serta mengurangi suplai darah ke sel kanker.
Antibodi monoklonal bertujuan untuk melawan antigen tertentu. Karena tiap jenis kanker mengeluarkan antigen yang
berbeda, berbeda pula antibodi yang digunakan. Antibodi dapat menghambat pertumbuhan sel kanker, sehingga jika dipadu

c.

dengan radioterapi atau kemoterapi, dapat langsung membunuh sel kanker yang memproduksi antigen tersebut.
Vaksin, penggunaan vaksin sebagai imunoterapi masih dalam tahap penelitian sehingga belum bisa digunakan secara umum.
Berbeda dengan vaksin yang diberikan sebagai pencegahan, pada penderita kanker, vaksin digunakan sebagai pengobatan.
Vaksin untuk pengobatan kanker bekerja dengan merangsang sistem kekebalan tubuh agar mampu mengenali sel kanker,
menghentikan pertumbuhannya, mencegah kekambuhan, dan membersihkan sisa kanker dari terapi bedah, kemoterapi atau
readioterapi. Sedangkan vaksin yang difungsikan sebagai pencegah kanker, ditujukan untuk melawan virus penyebab

d.

penyakit yang dapat menjurus ke kanker, misalnya vaksin HPV (kanker leher rahim).
colony Stimulating Fcators (CSFs), jenis imunoterapi ini merangsang sumsum tulang belakang untuk membelah dan
membentuk sel darah putih, sel darah merah, maupun trombosit, yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Pengobatan
CSFs penting bagi penderita kanker yang menjalani pengobatan dengan efek samping merusak sumsum tulang belakang
sehingga penderita mengalami kurang darah (anemia), mudah infeksi dan sering mengalami pendarahan. CSFs dapat

e.
5.

mengurangi resiko tersebut.


Terapi gen, memberi harapan besar bagi penderita kanker. Dengan memasukkan material genetik tertentu ke dalam sel tubuh

pendeirta kanker, perilaku sel tubuh orang tersebut bisa dikendalikan sesuai kebutuhan
Bedah
Pembedahan adalah tindakan primer untuk kebayakan kanker kolorektal. Operasi adalah penangan yang paling efektif dan
cepat untuk tumor yang diketahui lebih awal dan masih belum metastatis, tetapi tidak menjamin semua sel kanker telah terbuang.
Oleh sebab biasanya dokter bedah menghilangkan sebagian besar jaringan sehat yang mengelilingi sekitar kanker. Pembedahan
merupakan tindakan primer pada kira kira 75 % pasien dengan kanker kolorektal. Pembedahan dapat bersifat kuratif atau
palliative. Kanker yang terbatas pada satu sisi dapat diangkat dengan kolonoskop. Kolostomi laparoskopik dengan polipektomi,

suatu prosedur yang baru dikembangkan untuk meminimalkan luasnya pembedahan pada beberapa kasus. Laparoskop digunakan
sebagai pedoman dalam membuat keputusan di kolon, massa tumor kemudian dieksisi.
Tipe pembedahan tergantung pada lokasi dan ukuran tumor. Prosedur pembedahan pilihan, sebagai berikut:
a. Pada tumor sekum dan kolon asenden
Dilakukan hemikolektomi kanan, lalu anastomosis ujung ke ujung. Pada tumor di fleksura hepatika dilakukan juga
hemikolektomi, yang terdiri dari reseksi bagian kolonyang diperdarahi oleh arteriiliokolika, arteri kolika kanan, arteri kolika
media termasuk kelenjar limfe dipangkal arteri mesentrika superior.
b. Pada tumor transversum
Dilakukan reseksi kolon transversum (transvesektomi)kemudian dilakukan anastomosis ujung ke ujung. Kedua fleksura
hepatika danmesentrium daerah arteria kolika media termasuk kelenjar limfe.
c. Pada Ca Colon desenden dan fleksura lienalis
Dilakukan hemikolektomi kiri yang meliputi daerah arteri kolika kiri dengan kelenjar limfe sampai dengan dipangkal
arteri mesentrika inferior.
d. Tumor rektum
Pada tumor rectum 1/3 proximal dilakukan reseksi anterior tinggi (12-18 cm dari garis anokutan) dengan atau tanpa stapler.
Pada tumor rectum 1/3 tengah dilakukan reseksi dengan mempertahankan spingter anus, sedangkan pada tumor 1/3 distal
dilakukan reseksibagian distal sigmoid, rektosigmoid,rektum melalui abdominal perineal(Abdomino Perineal Resection/APR),
kemudian dibuat end colostomy. Reseksi abdoperineal dengan kel.retroperitoneal menurut geenu-mies. Alat stapler
untuk membuat anastomisis di dalam panggul antara ujung rektum yang pendek dan kolon dengan mempertahankan anus dan
untuk menghindari anus pneternaturalis. Reseksi anterior rendah (Low Anterior Resection/LAR) pada rektum dilakukan
melalui laparatomi dengan menggunakan alat stapler untuk membuat anastomisis kolorektal/koloanal rendah.
e. Tumor sigmoid
Dilakukan reseksi sigmoid termasuk kelenjar di pangkal arteri mesentrika inferior.
Selain tindakan pembedahan, klien juga harus menjalani terapi lanjut yang dapat berupa kemoterapi dan radioterapi.Klien
memerlukan asuhan keperawatan yang komprehensif dengan memperhatikan aspek bio-psiko-sosio-spiritual terutama karena
klien harus menjalani terapi lanjut setelah pembedahan. Dengan pemberian asuhan keperawatan secara komprehensif dan

berkualitas diharapkan klien dapat beradaptasi dengan kondisi tubuhnya, menjalani terapi secara kooperatif dan dapat
bersosialisasi kembali di masyarakat. Identifikasi masalah keperawatan klien sangat penting, terkait dengan intervensi dan
implementasi yang akan dilakukan terhadap klien selama hospitalisasi sehingga tercapai asuhan keperawatan yang optimal.
Karsinoma pada colon menimbulkan perubahan pada kebiasaan buang air besar. Karsinoma pada colon sebelah kanan
menyebabkan peningkatan gerakan colon, tetapi karsinoma pada colon sebelah kiri menimbulkan konstipasi. Keduanya dapat
menunjukkan gambaran klinis berupa: darah dan lendir di dalam tinja, penurunan berat badan dan anemia, palpasi dapat
mengungkapkan adanya massa yang nyeri tekan, keadaan ini dapat memberikan gambaran klinis berupa obstruksi
intestinum Pasien dengan gejala obstruksi usus diobati dengan cairan IV dan pengisapan nasogastrik. Apabila terdapat
perdarahan yang cukup bermakna, terpai komponen darah dapat diberikan. Pengobatan tergantung pada tahap penyakit dan
komplikasi yang berhubungan. Endoskopi, ultrasonografi dan laparoskopi telah terbukti berhasil dalam pentahapan kanker
kolorektal pada periode praoperatif.
Pembedahan adalah tindakan primer untuk kebanyakan kanker kolon dan rektal. Pembedahan dapat bersifat kuratif atau
paliatif. Kanker yang terbatas pada satu sisi dapat diangkat dengan kolonoskop.
Tipe pembedahan tergantung pada lokasi dan ukuran tumor.
a. LAR (Low Anterior Resection)
b. HCT (Hemi Colorectal)
c. APR (Abdominal Parietal Resection): dilakukan kolostomi permanen
Tipe pembedahan tergantung pada lokasi dan ukuran tumor. Prosedur pembedahan pilihan adalah sebagai berikut ( Doughty &
Jackson, 1993 ):
a.

Reseksi abdominoperineal dengan kolostomi sigmoid permanen (pengangkatan tumor dan porsi sigmoid dan semua rektum
serta sfingter anal)

6.

b.

Kolostomi sementara diikuti dengan reseksi segmental dan anostomosis serta reanastomosis lanjut dari kolostomi

c.

(memungkinkan dekompresi usus awal dan persiapan usus sebelum reseksi)


Reseksi segmental dengan anostomosis (pengangkatan tumor dan porsi usus pada sisis pertumbuhan, pembuluh darah dan

nodus limfatik)
d. Kolostomi permanen atau ileostomi (untuk menyembuhkan lesi obstruksi yang tidak dapat direseksi)
Kolostomi
Berkenaan dengan teknik perbaikan melalui pembedahan, kolostomi dilakukan pada kurang dari sepertiga pasien kanker
kolorektal. Kolostomi adalah pembuatan lubang (stoma) pada kolon secara bedah. Stoma ini dapat berfungsisebagai diversi
sementara atau permanen. Ini memungkinkan drainase atau evakuasi isi kolon keluar tubuh. Konsistensi drainase dihubungkan
dengan penempatan kolostomi, yang ditentukan oleh lokasi tumor dan luasnya invasi pada jaringan sekitar.
Kolostomi laparoskopik dengan polipektomi, suatu prosedur yang baru dikembangkan untuk meminimalkan luasnya
pembedahan pada beberapa kasus. Laparoskop digunakan sebagai pedoman dalam menbuat keputusan di kolon; massa tumor
kemudian di eksisi.
Kolostomi adalah suatu operasi untuk membentuk suatu hubungan buatan antara colon dengan permukaan kulit pada
dinding perut. Hubungan ini dapat bersifat sementara atau menetap selamanya. (llmu Bedah, Thiodorer Schrock, MD, 1983).
Kolostomi dapat berupa secostomy, colostomy transversum, colostomy sigmoid, sedangkan colon accendens dan descendens
sangat jarang dipergunakan untuk membuat colostomy karena kedua bagian tersebut terfixir retroperitoneal. Kolostomi pada bayi
dan anak hampir selalu merupakan tindakan gawat darurat, sedang pada orang dewasa merupakan keadaan yang pathologis.
Colostomy pada bayi dan anak biasanya bersifat sementara.
Keadaan yang diperbolehkan dilakukan pembedahan (kolostomi)
a. Peradangan dibagian usus halus
b. Cacat/kelainan bawaan
c. Kecelakaan atau trauma yang mengenai bagian perut
d. Adanya sumbatan di anus
e. Kanker

Kolostomi dibuat berdasarkan indikasi dan tujuan tertentu, sehingga jenisnya ada beberapa macam tergantung dari kebutuhan
pasien. Kolostomi dapat dibuat secara permanen maupun sementara. ada pun jenis-jenis kolostomi :
a.

Kolostomi Permanen
Pembuatan kolostomi permanen biasanya dilakukan apabila pasien sudah tidak memungkinkan untuk defekasi secara normal
karena adanya keganasan, perlengketan, atau pengangkatan kolon sigmoid atau rectum sehingga tidak memungkinkan feses

b.

melalui anus. Kolostomi permanen biasanya berupa kolostomi single barrel ( dengan satu ujung lubang)
Kolostomi Temporer/ sementara
Pembuatan kolostomi biasanya untuk tujuan dekompresi kolon atau untuk mengalirkan feses sementara dan kemudian kolon akan
dikembalikan seperti semula dan abdomen ditutup kembali. Kolostomi temporer ini mempunyai dua ujung lubang yang
dikeluarkan melalui abdomen yang disebut kolostomi double barrel.

Tipe kolostomi inkontinen :


a.

b.

Loop colostomy
Lokasi di colon transversum, bersifat sementara, dilakukan pada kondisi darurat medis dengan membuat 2 lubang usus yang
dihubungkan.
Endostomy
Terdiri dari satu hubungan yang bagian usus berikutnya dibuang/dijahit tetapi masih ada/tetap dalam rongga abdomen. Dilakukan

untuk klien dengan terapi kolorektal.


Single barrel/ end stoma
hanya 1 stoma: dilakukan permanen; bagian distal ditutup dan bagian proksimal yang terbuka
d. Double barrel colostomy
Terdapat 2 hubungan di bagian proximal dan distal. Bagian proximal untuk drain feses dan distal untuk drain mucus.
e. Mukospicetel
pada kasus Ca kolorektal yang tidak bisa diangkat sama sekali, dilakukan pada bagian kolon descenden, bagian proksimal untuk
c.

mengeluarkan feses, bagian distal untuk mengeluarkan mukus yang dihasilkan Ca

Jenis Kantung kolostomi :


a. Drainable (terbuka bawahnya), memiliki klem: digunakan untuk menampung feses
b. Close end (tidak ada lubang dibawahnya): digunakan untuk menampung feses
c. Puff drain (memiliki lubang dan seperti selang dibawahnya: digunakan untuk menampung urin
Bagian Plate pada kolostomi:
a. Faceplate: bagian melingkar yang ditempel ke tubuh klien
b. One piece, clear (transparan) drainable
c. One piece, opaq (buram/kecoklatan) drainable
d. Stoma cap: untuk menutup stoma, tidak perlu kantung
Letak Anastomi Kolostomi:
a.

Ileustomy
Lubang pada ileum untuk tujuan pengobatan ulseratif regional dan pengalihan isi pada kanker kolon, polip, dan trauma yang
biasanya berbentuk permanen. Cairan yang keluar cenderung konstan dan tidak dapat diatur, mengandung enzim-enzim

percernaan yang dapat mengiritasi permukaan kulit.


Colostomy asenden
Drainage yang keluar berbentuk cairan dan tidak teratur serta lebih bau.
c. Colostomy transversum
Drainage yang keluar berbentuk padat karena cairan sudah direabsorbsi dan biasanya pengeluaran tidak terkontrol.
d. Colostomy desenden
Produksinya lebih padat. Feses yang keluar dari sigmoid normal dan frekuensinya dapat diatur sehingga klien tidak harus
b.

menggantinya setiap saat dan baunya tergantung diet.


Komplikasi Kolostomi:

a.

Prolaps
Merupakan penonjolan mukosa colon 6 cm atau lebih dari permukaan kulit.Prolaps dapat dibagi 3 tingkatan: Penonjolan seluruh
dinding colon termasuk peritonium kadang-kadang sampat loop ilium, adanya strangulasi dan nekrosis pada usus yang
mengalami penonjolan. Prolaps dapat terjadi oleh adanya faktor-faktor Peristaltik usus meningkat, fixasi usus tidak sempurna,
mesocolon yang panjang, tekanan intra abdominal tinggi, dinding abdomen tipis dan tonusnya yang lemah serta kemungkinan

b.

omentum yang pendek dan tipis.


lritasi Kulit
Hal ini terutama pada colostomy sebelah kanan karena feces yang keluar mengandung enzim pencernaan yang bersifat iritatif.

Juga terjadi karena cara membersihkan kulit yang kasar, salah memasang kantong dan tidak tahan akan plaster.
Diare
Makin ke proksimal colostominya makin encer feces yang keluar. Pada sigmoid biasanya normal.
d. Stenosis Stoma
Kontraktur lumen terjadi penyempitan dari celahnya yang akan mengganggu pasase normal feses.
e. Hernia Paracolostomy
f. Pendarahan Stoma
g. Eviserasi
Dinding stoma terlepas dari dinding abdomen sehingga organ intra abdomen keluar melalui celah
h. lnfeksi luka operasi
i.
Retraksi karena fixasi yang kurang sempurna
j.
Sepsis dan kematian
c.

I.

KOMPLIKASI
Pertumbuhan tumor dapat menyebabkan obstruksi usus parsial atau lengkap. Pertumbuhan dan ulserasi dapat juga menyerang
pembuluh darah sekitar kolon yang menyebabkan hemoragi. Perforasi dapat terjadi dan mengakibatkan pembentukan abses. Peritonitis
dan atau sepsis dapat menimbulkan syok.
ada juga beberapa komplikasi nya yaitu :
1. Pertumbuhan tumor dapat menyebabkan obstruksi usus parsial atau lengkap.
2. Metastase ke organ sekitar, melalui hematogen, limfogen dan penyebaran langsung.
3. Pertumbuhan dan ulserasi dapat juga menyerang pembuluh darah sekitar kolon yang menyebabkan hemorragi.
4. Perforasi usus dapat terjadi dan mengakibatkan pembentukan abses.

5.

Peritonitis dan atau sepsis dapat menimbulkan syok

J. PROGNOSIS
Prognosis untuk CA colorektal tergantung stadium dan penanganan, jika terdeteksi lebih dini dan penanganan yang tepat maka
prognosisnya akan baik. Prognosis pasien yang terkena kanker kolon lebih baik bila lesi masih terbatas pada lapisan mukosa dan sub
mukosa pada saat operasi dan jauh lebih buruk bila terjadi penyebaran diluar usus(metastase) ke kelenjar limfe hepar paru dan organ
lain.
K. PENCEGAHAN
Terdapat 3 pencegahan kanker kolorektal, antara lain:
1. Pencegahan Primer
a. Anjurkan klien untuk mempertahankan makanan yang rendah lemak dan tinggi serat
b. Anjurkan klien untuk banyak minum
2. Pencegahan sekunder
a. Promosikan deteksi dini dengan rektal touche untuk mereka yang berusia lebih dari 40 tahun
b. Monitor klien yang berusia lebih dari 50 tahun dengan guaiak test dan rectal touche setiap tahun
c. Evaluasi klien dengan sigmoid oscopy fleksibel setiap 35 tahun pada orang dengan risiko rata-rata, bagi yang berisiko di
3.

atas rata-rata evaluasidengan colonoscopy dengan barium enema setiap 2-3 tahun
Pencegahan tersier
a. Anjurkan penggunaan bulk laksative (Metamucil) untuk klien dengan risiko tinggi
b. Promosi kan skrining secara regular pada orang dengan 1 atau 2 risiko kanker kolorektal
c. Anjurkan klien untuk mengikuti diet tinggi serat dan rendah lemak

L. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN CA COLOREKTAL


PENGKAJIAN
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh (Boedihartono, 1994 : 10).
1. Riwayat kesehatan:
Adanya nyeri abdomen dan karakternya (lokasi, frekuensi, durasi, berhubungan dengan makan arau defekasi), pola eliminasi
2.

dahulu dan saat ini, deskripsi tentang warna, bau dan konsistensi feses, mencakup adanya darah atau mukus.
Riwayat kesehatan dahulu

Penyakit usus inflamasi kronis atau polip kolorektal, riwayat keluarga dari penyakit kolorektal dan terai obat saat ini. Kebiasaan
3.

diet mencakup masukan lemak dan atau serat serta jumlah konsumsi alkohol.
Pengkajian objektif mencakup auskultasi abdomen terhadap bising usus dan palpasi abdomen untuk area nyeri tekan, distensi dan
masa padat. Spesimen feses diinspeksi terhadap karakter dan adanya darah

Pengkajian pasien Post Operatif Ca Colon (Doenges, 1999) adalah meliputi :


1. Sirkulasi Gejala : Riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vascular perifer, atau stasis vascular (peningkatan
2.

risiko pembentukan trombus).


Integritas Ego Gejala : Perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress multiple, misalnya financial, hubungan, gaya

3.

hidup.Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ; stimulasi simpatis.


Makanan / cairan Gejala : Insufisiensi pancreas/DM, (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis) ; malnutrisi (termasuk

4.
5.

obesitas) ; membrane mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi).
Pernapasan Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.
Keamanan Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ; Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi
sitemik dan penundaan penyembuhan) ; Munculnya kanker /terapi kanker terbaru ; Riwayat keluarga tentang hipertermia
malignant/reaksi anestesi ; Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi) ;

6.

Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse.Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.
Penyuluhan / Pembelajaran Gejala : pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi, kardiotonik glokosid,
antidisritmia, bronchodilator, diuretic, dekongestan, analgesic, antiinflamasi, antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang
dijual bebas, atau obat-obatan rekreasional. Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan ginjal, yang mempengaruhi koagulasi

7.

dan pilihan anastesia, dan juga potensial bagi penarikan diri pascaoperasi).
Riwayat kesehatan diambil untuk mendapatkan informasi tentang perasaan lelah; adanya nyeri abdomen atau rektal dan
karakternya (lokasi, frekuensi, durasi, berhubungan dengang makan atau defekasi), pola eliminasi terdahulu dan saat ini,
deskripsi tentang warna, bau dan konsistensi feses, mencakup adanya darah atau mukus. Informasi tambahan mencakup riwayat
masa lalu tentang penyakit usus inflamasi kronis atau polip kolorektal, dan terapi obat saat ini. Kebiasaan diet diidentifikasi
mencakup masukan lemak dan/ atau serat serta jumlah konsumsi alkohol. Riwayat penurunan berat badan adalah

penting.Pengkajian objektif adalah mencakup auskultasi abdomen terhadap bisisng usus dan palpasi abdomen untuk area nyeri
tekan, distensi, dan massa padat. Spesimen feses diinspeksi terhadap karakter dan adanya darah.
DIAGNOSA
1. Perubahan eliminasi alvi berhubungan dengan penurunan asupan cairan dan serat, kelemahan otot abdomen sekunder akibat Ca
2.
3.
4.

Colorectal.
Risiko infeksi berhubungn dengan perdarahan tonjolan CA..
PK. Perdarahan
Nyeri berhubungan dengan proses penyakit

PERENCANAAN
N Diagnosa
o
1

Tujuan

Intervensi

Perubahan eliminasi alvi Setelah dilakukan


berhubungan

dengan asuhan

Observasi

Rasional
warna

dan

konsistensi feses, frekuensi,

Merupakan tindakan dependent perawat dalam memberikan


bantuan defekasi kepada klien.

penurunan asupan cairan keperawatan 3x24

keluarnya flatus, bising usus

dan

dan nyeri terkan abdomen


Ajarkan klien dalam bantuan

Penting

eleminasi defekasi.
Anjurkan klien

memudahkan rencana selanjutnya.


Keadaan ini dapat menjadi penyebab kelemahan otot

serat,

kelemahan jam pola defekasi

otot abdomen sekunder pasien


akibat Ca Colorectal

normal

kembali (2x1hari)
Dengan

kriteria

feses

lonjong

dan

lunak,

defekasi.
Observasi

peristaltic perut klien


Konsultasikan pada ahli gizi

bisingusus

dan

menilai

keefektifan

intervensi,

dan

abdomen dan penurunan peristaltic usus, yang dapat

menghindari mengejan selama

hasil
Bentuk

untuk

untuk

menyebakan konstipasi.
Mengetahui dengan jelas factor penyebab memudahkan

pilihan intervensi yang tepat.


Akan meningkatkan pola defekasi yang optimal.
Mencegah terjadi perubahan tanda vital, sakit kepala atau

Nyeri

saat

defekasi

untuk meningkatkan serat dan

berkurang

perdarahan.

cairan dalam diet.


Konsultasikan dengan dokter
untuk memberikan bantuan

skala: 3-4

eleminasi,

seperti

diet,

pelembut feses, enema dan


laksatif.
N Diagnosa
o
2

Tujuan

Intervensi

Rasional

Risiko

infeksi Setelah dilakukan

Observasi metastase peyebaran

Dengan cara palpasi dapat diketahui metastase ca dan dapat

berhubungn

dengan asuhan

ca ke organ lain dengan cara

segera di tangani

perdarahan tonjolan CA.

keperawatan 3x24

palpasi ke daerah purutt sekitar

jam resiko infeksi

kolon

Observasi bising usus dan

dan metastase ke
organ lain tidak
cepat

dan

untuk

mungkin hilang
Dengan

peristalaik pasien

Kolaborasi dengan dokter

kriteria

Untuk mengetahui fungsi organ apakah ada penurunan atau


tidak
Untuk menanggulangi/mengurangi resiko inflamasi kolon

memberikan

kortikosteroid
Kolaborasi dengan

dokter

Untuk mengetahui ,metastase ca ke organ-organ lain sekitar

hasil :

untuk melakukan usg dan ct-

kolan

Proses

scan

Kolaborasi dengan dokter

Untuk membunuh kuman dan bakteri dari darah yang pecah

penyebaran
infeksi

dan

untuk pemberian antibiaotik

pado masa kolan

metastase
organ

ke
lain

tidak ada
3

PK Perdarahan

Setelah dilakukan

Posisikan klien

Memberikan posisi nyaman selama klien dalam proses

Pantau tanda-tanda vital

perawatan
Perkembangan tanda-tanda vital akan menentukan pola

Batasi aktivitas klien


Membantu dan melayani klien

intervensi selanjutnya.
Meningkatkan keadekuatan tubuh klien
Mengatasi melena dengan konsentrasi darah berlebihan tanpa

kriteria

dalam hal penggunaan Diapers


Kolaborasi rehidrasi kumbah

tahanan sfingter
Membantu mengurangi hematemesis

asuhan
keperawatan
selama 2x24 jam
Perdarahan
terhenti
Dengna

lambung

hasil
6.
Melena tidak
terjadi
Hematemesis

6.

PK. Kolaborasi:

Kolaborasi
dalam

tidak terjadi

denngan

pemberian

dokter

PK kolaborasi:

hematemesis dapat berhenti

transamin

Untuk mengambil tumor dan untuk menutup lesi pada kolom

(obat penghenti perdarahan)


Kolaborasi gengan dokter

untuk dilakukan pembedahan

Kolaborasi denan dokter untuk

Untuk mengganti darah yang telah keluar agar pasien tidak

transfuse darah
4

Nyeri

Monitor

rasa

sakit

tindak

reguler,

catat

karakteristik,

keperawatan

lokasi dan intensiitas (0-10)

berhubungan Setelah dilakukan

dengan proses penyakit

Untuk menghentikan perdarahan sehingga melena dan

secara

anemi
Sediakan

informasi

mengenai

kebutuhan/efektivitas

intervensi.

Perhatikan hal-hal yang tidak diketahui dan/atau persiapan

selama 3x24 jam

Kaji

tanda-tanda

Pasien

perhatikan

mengatakan

hipertensi dan

bahwa rasa nyeri

pernapasan,

telah

pasien

terkontrol

atau hilang
Dengan

kriteria

inadekuat

vital,

adanya

Pahami

penyebab

ketidaknyamanan,

sebagai

langkah

pemberian teknik pengalihan nyeri / relaksasi, mungkin


mengurangi rasa sakit dan meningkatkan sirkulasi.

sifat ketidaknyamanan, sesuai

Pasien tampak
rileks,

dapat

beristirahat
/tidur

dan

kebutuhan.
Lakukan
reposisi

sesuai

petunjuk, misalnya semi


Fowler ; miring.
Observasi efek analgetik

melakukan

berarti

sesuai

Posisi semi Fowler dapat mengurangi tegangan otot


abdominal dan otot pungguung artritis, sedangkan miring

mengurangi tekanan dorsal.


Respirasi mungkin menurun pada pemberian narkotik, dan
mungkin menimbulkan efek-efek sinergistik dengan zat-zat

pergerakkan
Kolaborasi,

toleransi.

EVALUASI
1.

dapat

jika

rasa sakit.
Berikan informasi mengenai

hasil :

yang

darurat)

mengindikasikan rasa sakit akut dan ketidaknyamanan.

peningkatan

menyangkal

apendikstomi

memperburuk persepsi pasien akan rasa sakit. Dapat

takikardia,
bahkan

(misalnya

Mempertahankan eliminasi usus adekuat

analgetik
kebutuhan.

pemberian
IV
sesuai

anastesi
Analgetik IV akan dengan segera mencapai pusat rasa saki,
menimbulkan penghilang yang lebih efektif dengan obat
dosis kecil.

2. Mengalami sedikit nyeri


3. Meningkatkan toleransi aktivitas
4. Mencapai tingkat nutrisi optimal
a. Makan diet tinggi serat, rendah protein, dan rendah kalori
b. Kram abdomen berkurang
5. Keseimbangan cairan tercapai
a. Membatasi masukan makanan dan cairan oral bila terjadi mual
b. Berkemih sedikitnya 1,5 L/24 jam
6. Mengalami penurunan ansietas
a. Mengungkapkan masalah dan rasa takut dengan bebas
b. Menggunakan tindakan koping untuk menghadapi stres
7. Memerlukan informasi tentang diagnosis, prosedur bedah dan perawatan diri setelah pulang
a. Mendiskusikan diagnosa, prosedur bedah, dan perawatan diri pascaoperatif
b. Mendemonstrasikan teknik perawatan ostomi
8. Mempertahankan insisi tetap bersih, stoma, dan luka perineal
Secara bertahap meningkatkan partisipasi dalam perawatan stoma dan kulit periostomal
9. Mengungkapkan perasaan dan masalah tentang diri sendiri secara verbal
10. Tidak mengalami komplikasi
a. Menggunakan antibiotik oral sesuai resep
b. Bekerjasama dalam protokol pembersihan usus
c. Tidak demam
d. Bising usus ada
e. Lingkar abdomen dalam batas normal atau menurun
f. Tidak ada bukti perforasi atau perdarahan

DAFTAR PUSTAKA

Geissler Doenges moorhouse, 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta: EGC.


Harahap Ikhsanudiddin Ahmad, 2004. Perawatan Pasien dengan kolostomi pada penderita kanker Kolorektal. http// http://www.library.usu.ac.id
Brunner & Suddarth. Keperawatan Medikal Bedah Volume 2. Jakarta: EGC
Heriady Yusuf, dr SpB, SpBOnk. Artikel Kanker Usus Besar dan Rektum.
Ikatan Dokter Indonesia (IDI), 2004. Gaya hidup penyebab kolorektal. http//www.keluargasehat.com
Waspodo Agus, dr. SpPD.KGEH. 2006. Artikel Kanker Kolorektal. e-mail dharmais@dharmais.co.id. Jakarta Barat: Dharmais cancer hospital