Anda di halaman 1dari 95

BAB 1

PERAN KIMIA DALAM KEHIDUPAN, HAKIKAT ILMU KIMIA, METODE


ILMIAH DAN KESELAMATAN KERJA
A. PERAN KIMIA DALAM KEHIDUPAN
Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin pesat, baik dalam
bidang informasi, komunikasi dan IPTEK. Ilmu kimia juga semakin berkembang
secara siknifikan, ini ditandai dengan digunakannya ilmu kimia dalam produkproduk yang dihasilkan manusia, seperti : sabun, detergen, pasta gigi, sampo,
kosmetik, obat, dan produk-produk yang dibutuhkan lainnya. Ilmu kimia juga
sangat berpengaruh dan memiliki peran yang penting dalam perkembangan ilmu
lain, seperti : geologi, pertanian, kesehatan dan dalam menyelesaikan masalah
global.
Peran ilmu kimia untuk membantu pengembangan ilmu lainnya seperti pada
bidang geologi, sifat-sifat kimia dari berbagai material bumi dan teknik
analisisnya telah mempermudah geolog dalam mempelajari kandungan material
bumi; logam maupun minyak bumi.
Pada bidang pertanian, analis kimia mampu memberikan informasi tentang
kandungan tanah yang terkait dengan kesuburan tanah, dengan data tersebut
para petani dapat menetapkan tumbuhan/tanaman yang tepat. Kekurangan zatzat yang dibutuhkan tanaman dapat dipenuhi dengan pupuk buatan, demikian pula
dengan serangan hama dan penyakit dapat menggunakan pestisida dan
Insektisida.
Dalam bidang kesehatan, ilmu kimia cukup memberikan kontribusi, dengan
diketemukannya jalur perombakan makanan seperti karbohidrat, protein dan
lipid. Hal ini mempermudah para ahli bidang kesehatan untuk mendiagnosa
berbagai penyakit. Interaksi kimia dalam tubuh manusia dalam sistem
pencernaan, pernafasan, sirkulasi, ekskresi, gerak, reproduksi, hormon dan
sistem saraf, juga telah mengantarkan penemuan dalam bidang farmasi
khususnya penemuan obat-obatan
1.

Di bidang pertanian
Ambil contoh ketika tumbuhan membutuhkan air serta tanah yang subur.

Namun dibidang pertanian modern, telah menggunakan pupuk dan pestisida.


manfaat pupuk untuk tumbuhan ialah Merangsang pertumbuhan akar, batang dan
daun serat Meningkatkan mutu dan jumlah hasil yang baik. karena pupuk adalah
senyawa kimia anarganik yang dijumpai di alam atau dibuat manusia yang memiliki
1

nilai hara langsung atau tidak langsung bagi tanaman. Penggunaan pestisida dapat
memusnahkan hama-hama, dan meningkatkan produksi tumbuhan dengan cepat.
namun dapat membahayakan bagi kesehatan manusia.
2.

Di bidang kedokteran
Di bidang ini banyak dijumpai manfaatnya, seperti obat-obatan yang

membantu penyembuhan pasien, karena obat adalah hasil dari penelitian dibidang
kimia farmasi.
3.

Di bidang pangan

Adanya komposisi pada makanan, yang bermanfaat bagi manusia. penggunaan


mikroorganisme/bakteri pada makanan, contoh pembuatan kecap, tempe, dan
yoghurt.
4.

Di bidang industri/pabrik
Penerapan ilmu Kimia di bidang industri, ilmu Kimia seringkali sangat

dibutuhkan. Mesin-mesin di industri membutuhkan logam yang baik dengan sifat


tertentu yang sesuai dengan kondisi dan bahan-bahan yang digunakan. Seperti
semen, kayu, cat, beton, dsb. dihasilkan melalui riset yang berdasarkan ilmu
Kimia. Kain sintetis yang Anda gunakan juga merupakan hasil penerapan ilmu
Kimia.
5.

Di bidang Hukum
Manfaat di bidang hukum yaitu ketika terjadi kejahatan-kejahatan

ataupun pembunuhan, dengan begitu dibutuhkan sample hasil tes DNA, yang
menggunakan ilmu kimia.
6.

Peran Kimia dalam Menyelesaikan Masalah Global


Ilmu kimia juga berperan dalam menyelesaikan masalah global yaitu

masalah yang dihadapi oleh seluruh dunia, seperti yang menyangkut masalah
dalam bidang lingkungan hidup, kedokteran, geologi, biologi dan lain-lain, ataupun
untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM). Sebagai contoh, masalah
global dalam hal lingkungan hidup dan krisis energy.

Bahan Bakar
Saat ini bahan bakar dunia, berupa minyak bumi, batu bara, gas alam yang
berasal dari fosil. Fosil merupakan sumber daya alam yang tidak dapat
diperbaharui, karena fosil terbentuk dari organisme yang terkubur beberapa
jutaan tahun lalu. Bahan bakar tersebut akan habis dan manusia harus dapat
mencari sumber energi alternatif, untuk mengatasi krisis enegri tersebut. Dalam
hal ini ilmu kimia sangat berperan. Contoh sumber energi alternatif misalnya
alkohol, energi nuklir, geoternal (panas bumi) atau energi matahari yang tak
terbatas.
Teknologi Biogas
Ternak-ternak di pedesaan dapat menimbulkan masalah lingkungan, karena
kotorannya yang berserakan dapat menimbulkan bau yang tidak enak, kotoran
ternak juga merusak pemandangan di desa, bahkan dapat menjadi sumber
penularan penyakit. Dengan teknologi biogas, permasalahan tersebut, dapat
diatasi, dimana kotoran hewan tersebut diolah hingga bermanfaat bagi manusia.
Pembuatan biogas menggunakan bahan baku kotoran hewan/ternak yang dibubur
halus menjadi butiran kecil dan dicampur air. Hasil teknologi biogas tersebut
dapat digunakan sebagai sumber energi, misalnya untuk lampu penerangan maupun
untuk memasak
Program Langit Biru
Program

Langit

Biru

artinya

program

yang

bertujuan

untuk

meminimalisasikan polusi udara akibat dari pemanfaatan energi. Polusi udara


tersebut diakibatkan dari emisi gas buang yang ditimbulkan dari pemanfaatan
energi. Transportasi merupakan salah satu penyebab polusi udara. Emisi gas
buang tersebut misalnya Karbon Monoksida (CO), Hidrokarbon, Nitrogen Oksida,
Sulfur dioksida, Timah hitam (Pb) dan debu. Jenis dan jumlah pencemaran ini
dipengaruhi oleh beberapa faktor jenis energi, jenis kendaraan, umur kendaraan,
ukuran mesin dan perawatan kendaraan tersebut.
Bahan Kimia dalam Berbagai Produk
Perkembangan ilmu kimia yang siknifikan mengakibatkan produk-produk
yang dibutuhkan manusia juga menggunakan bahan kimia. Banyak sekali produkproduk yang menggunakan bahan kimia antara lain:

1.

Sabun
Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan

membersihkan. Sabun biasanya berbentuk padatan tercetak yang disebut batang


karena sejarah dan bentuk umumnya. Penggunaan sabun cair juga telah meluas,
terutama pada sarana-sarana publik. Jika diterapkan pada suatu permukaan air,
sabun secara efektif mengikat partikel dalam suspensi mudah dibawa oleh air
bersih. Di negara berkembang, detergen sintetik telah menggantikan sabun
sebagai alat bantu mencuci atau membersihkan.
Banyak juga sabun yang merupakan campuran garam natrium atau kalium
dari asam lemak yang dapat diturunkan dari minyak atau lemak dengan
direaksikan dengan alkali (seperti natrium atau kalium hidroksida) pada suhu 80
100 C

melalui

suatu

proses

yang

dikenal

dengan

saponifikasi.

Lemak

akan terhidrolisis oleh basa, menghasilkan gliserol dan sabun mentah. Secara
tradisional, alkali yang digunakan adalah kalium yang dihasilkan dari pembakaran
tumbuhan, atau dari arang kayu. Sabun dapat dibuat pula dari minyak tumbuhan,
seperti minyak zaitun.
Kandungan utama sabun adalah Na-karboksilat (RCOONa), sabun mandi
dibuat dari campuran basa dengan minyak. Umumnya basa yang digunakan adalah
kalium hidroksida (KOH). Pada beberapa sabun mandi ditambahkan sulfur yang
berfungsi sebagai antiseptik. Garam mandi merupakan zat aditif yang berfungsi
memberi nilai tambah bagi sebuah peran sabun mandi. Garam mandi umumnya
mengandung garam-garam anorganik, minyak esensial dan pewangi.
Sodium Lauryl Sulfate (SLS) adalah bahan kimia berbahaya bagi kulit yang
biasanya dapat ditemukan dalam produk-produk seperti: pada pasta gigi dan
sabun. Bahan kimia ini, merupakan salah satu bahan pembersih surfaktan yang
dapat mengangkat kotoran dan noda minyak. Bahan kimia ini memiliki sifat
sebagai bahan pembersih yang sangat kuat, dan biasanya bahan kimia ini
dicampur ke dalam produk pembersih karena memiliki kemampuan untuk
menghasilkan busa yang banyak.
Namun, meskipun memiliki kemampuan yang kuat sebagai pembersih,
Sodium Lauryl Sulfate (SLS) ini jika digunakan dalam jangka waktu panjang,
dapat mengakibatkan iritasi yang tinggi pada kulit. Dan untuk jangka pendeknya
mengakibatkan alergi, gatal-gatal, kulit kering serta kemerahan. Efek samping ini
dapat terlihat jelas pada orang yang memiliki jenis kulit sensitive. Selain itu
karena daya pembersihnya yang kuat, SLS ini dapat mengangkat dan mengikis
lemak yang sangat berguna bagi kulit. Padahal lemak memiliki peran yang sangat
4

penting bagi kulit karena dapat melindungi kulit dari radikal bebas, sengatan
sinar

matahari

dan

juga

hal-hal

yang

dapat

mengganggu

kesehatan

dan kelembaban kulit, seperti alergi dan iritasi.


2.

Susu
Peneliti di London, menemukan dalam segelas susu terdapat campuran

hingga 20 macam bahan kimia. Campuran tersebut mulai dari obat penghilang
rasa sakit, antibiotik dan zat pertumbuhan hormon.
Menggunakan tes yang sangat sensitif, mereka menemukan sejumlah bahan
kimia yang digunakan untuk mengobati penyakit pada hewan dan manusia, dengan
menggunakan sample pada sapi, kambing, dan air susu ibu.
Dosis obat pada bahan kima tersebut memang kecil untuk berefek pada
orang yang meminumnya. Tetapi, hasil tersebut menunjukan bagaimana bahan
kimia buatan manusia sekarang ditemukan di seluruh rantai makanan. Bahkan,
jumlah tertinggi penggunaan bahan kimia banyak ditemukan dalam susu sapi.
Para peneliti percaya beberapa obat dan promotor pertumbuhan diberikan
kepada ternak guna mendapatkan susu melalui pakan ternak yang telah
terkontaminasi. Tim peneliti Spanyol dan Maroko menganalisis 20 sampel susu
sapi yang dibeli di Spanyol dan Maroko, bersama dengan sampel susu kambing dan
air susu ibu.
Kerusakan tersebut mereka publikasikan dalam Journal of Agricultural
and Food Chemistry yang menyatakan bahwa susu sapi mengandung sisa antiinflamasi obat asam niflumic, asam mefenamat dan ketoprofen. Biasanya
digunakan sebagai obat penghilang rasa sakit pada hewan dan manusia.
Tidak hanya itu, dalam susu tersebut juga mengandung hormon 17 beta
estradiol, suatu bentuk estrogen hormon seks. Hormon terdeteksi pada tiga
sepersejuta gram dalam setiap kilogram susu, sedangkan dosis tertinggi asam
niflumic kurang dari sepersejuta gram per kilogram susu. Namun, para ilmuwan,
yang dipimpin oleh Dr Evaristo Ballesteros, dari University of Jaen di Spanyol,
mengatakan,teknik mereka bisa digunakan untuk memeriksa keselamatan
makanan jenis lain.
3.

Garam Dapur
Natrium

klorida,

juga

dikenal

dengan garam

dapur,

atau halit,

adalah senyawa kimia dengan rumus molekul NaCl. Senyawa ini adalah garam yang
paling

memengaruhi

salinitas laut dan cairan

ekstraselular pada

banyak
5

organisme multiselular. Sebagai komponen utama pada garam dapur, natrium


klorida sering digunakan sebagai bumbu dan pengawet makanan.
Sodium Chlorida atau Natrium Chlorida (NaCl) yang dikenal sebagai garam
adalah zat yang memiliki tingkat osmotik yang tinggi. Zat ini pada proses
perlakuan penyimpanan benih recalsitran berkedudukan sebagai medium inhibitor
yang fungsinya menghambat proses metabolisme benih sehingga perkecambahan
pada benih recalsitran dapat terhambat. Dengan kemampuan tingkat osmotik
yang tinggi ini maka apabila NaCl terlarut di dalam air maka air tersebut akan
mempunyai nilai atau tingkat konsentrasi yang tinggi yang dapat mengimbibisi
kandungan air (konsentrasi rendah)/low concentrate yang terdapat di dalam
tubuh benih sehingga akan diperoleh keseimbangan kadar air pada benih
tersebut. Hal ini dapat terjadi karena H2O akan berpindah dari konsentrasi yang
rendah ke tempat yang memiliki konsentrasi yang tinggi. Hal ini merupakan hal
yang sangat menguntungkan bagi benih recalsitran, karena sebagaimana kita
ketahui benih recalsitran yaitu benih yang memiliki tingkat kadar air yang tinggi
dan sangat peka terhadap penurunan kadar air yang rendah. Kadar air yang tinggi
menyebabkan benih recalsitran selalu mengalami perkecambahan dan berjamur
selama masa penyimpanan atau pengiriman ketempat tujuan. Namun dengan
perlakuan konsentrasi sodium chlorida (NaCl) maka hal ini dapat teratasi.
4.

Asam Cuka
Asam cuka atau asam asetat (acetic acid) adalah senyawa kimia organik

yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan, selain dapat
berfungsi juga sebagai pengawet bahan makanan. Asam cuka encer merupakan
golongan asam lemah yang paling aman bagi tubuh. Selain dalam makanan, asam
asetat encer juga sering digunakan sebagai pelunak air dalam rumah tangga.
Selain digunakan dalam industri makanan dan rumah tangga, asam asetat
juga digunakan dalam industri produksi polimer dan berbagai macam serat dan
kain, dan industri obat-obatan. Asam asetat yang digunakan dalam industri
makanan haruslah asam cuka makan. Asam asetat encer, seperti pada cuka, tidak
berbahaya. Namun konsumsi asam asetat yang lebih pekat berbahaya bagi
manusia maupun hewan. Hal itu dapat menyebabkan kerusakan pada sistem
pencernaan, dan perubahan yang mematikan pada keasaman darah.
Komposisi utama cuka terdiri dari asam asetat atau lebih dikenal asam
cuka (acetic acid), juga mengandung asam amino (amino acid), asam organik
(organic acid), zat gula (saccharides), vitamin B1 dan B2. Cuka memiliki beberapa
6

fungsi, antara lain: membasmi kuman, menghilangkan racun dan bau amis. Ketika
membuat ikan asinan, tambah sedikit cuka akan hindarkan remuk dan busuk.
Dalam pengolahan hidangan seafood mentah seperti oyster dan kepiting laut,
menggunakan cuka akan mampu membasmi kuman dan hilangkan rasa amis dalam
10 menit.
B. HAKIKAT ILMU KIMIA
Manusia pada zaman dahulu, pertama kali menggunakan ilmu kimia setelah
mereka belajar menggunakan api. Begitu api dapat dibuat, orang mulai memasak
makanan, dan membakar tanah liat untuk membuat gerabah. Rasa ingin tahu yang
bersifat alami tentang bahan-bahan atau materi, menghasilkan eksperimentasi
sederhana, seperti bagaimana bijih- bijih logam dicairkan, dan dibuat perkakas
dari logam seperti tombak, kampak dan pisau.
Orang-orang Mesir pada zaman dahulu,

membuat

mumi

dengan

menggunakan bahan-bahan kimia. Orang Cina sudah memiliki sejarah yang panjang
dalam preparat kimia. Pernis, yang barangkali merupakan plastik industri paling
kuno, sudah digunakan di Cina dalam industri yang sudah rapi pada tahun 1300
SM. Akan tetapi mereka belum berusaha untuk memahami hakikat materi yang
mereka gunakan, sehingga pada waktu itu kimia sebagai ilmu belumlah lahir. Kimia
sebagai ilmu yang melibatkan kegiatan metode ilmiah dilahirkan oleh para ilmuwan
Arab dan Persia pada abad ke- 8.
Salah seorang bapak ilmu kimia Arab yang terkemuka adalah Jabir ibn
Hayyan ( 700-778 M ), yang lebih dikenal di Eropa dengan nama Geber. Nama
kimia sendiri berasal dari kata al-kimiya (bahasa Arab) yang berarti perubahan
materi. Dari kata al-kimiya inilah segala bangsa dimuka bumi ini meminjam istilah
seperti: alchemi (Latin), chemistry (Inggris), chimie (Prancis), chemie (Jerman),
chemica (Italia) dan kimia (Indonesia).
Melalui pusat-pusat peradaban Islam di Spanyol (Cordova) dan Sisilia
serta akibat hubungan antara Eropa dan Timur Tengah semasa Perang Salib, ilmu
kimia mulai dikenal secara luas dan dipelajari oleh bangsa- bangsa Eropa. Sejak
abad ke 17, Negara-negara Barat menggantikan Timur dalam perkembangan ilmu
pengetahuan, dan pada awal abad ke 19 umat manusia mulai memasuki zaman
kimia modern.
Ilmu Kimia adalah ilmu yang mempelajari komposisi, struktur, sifat-sifat
materi, perubahan suatu materi menjadi materi yang lain dan energi yang
menyertai perubahan materi. Dengan demikian seluruh materi di langit dan di
bumi tanpa terkecuali adalah zat-zat kimia.
7

Hakikat ilmu kimia adalah bahwa benda itu bisa mengalami perubahan
bentuk, maupun susunan partikelnya menjadi bentuk yang lain sehingga terjadi
deformasi, perubahan letak susunan, ini mempengaruhi sifat-sifat yang berbeda
dengan wujud yang semula.
Alam semesta berproses melalui reaksi kimia.

Reaksi kimia terjadi

disekitar kita setiap saat, di atmosfir, pada pabrik kimia, dalam mesin kendaraan,
di lingkungan dan di tubuh kita. Bahan-bahan kimia dapat kita jumpai dalam
kehidupan kita sehari-hari. Seperti pada saat kita memasak kita gunakan garam
dapur (NaCl), mencuci kita gunakan detergen, dan saat kita makan, kita memakan
makanan yang mengandung karbohidrat, lemak dan protein.

Sebagai bagian dari

ilmu pengetahuan alam (sains), ilmu kimia berkaitan dengan ilmu-ilmu yang lainnya
seperti: biologi, fisika, kedokteran dan bahkan geografi fisik. Perubahan (reaksireaksi) yang terjadi pada tubuh makhluk hidup, misalnya bagaimana proses
pembentukan glukosa pada peristiwa fotosintesis tumbuhan hijau, merupakan
bagian ilmu kimia yang berkaitan dengan biologi.
Bagaimana suatu logam dapat mencair, atau bagaimana suatu bahan dapat
menghasilkan listrik sedangkan bahan lainnya tidak, adalah bagian ilmu kimia yang
berkaitan dengan fisika. Bagaimana struktur DNA virus penyebab flu burung
dapat dijelaskan dan pengaruh obat-obatan terhadap tubuh manusia merupakan
bagian ilmu kimia yang berkaitan dengan bidang kedokteran.
Apa saja bahan-bahan penyusun bumi, bintang, dan bulan serta apa saja
bagian-bagian

atmosfir

dan

bagaimana

terbentuknya

lapisan

merupakan bagian ilmu kimia yang berkaitan dengan geografi fisik.

ozon

(O 3),

Di dalam

mempelajari dan mendapatkan ilmu pengetahuan yang baru seorang ilmuwan


(saintis) biasanya melakukan penelitian. Penelitian merupakan suatu kegiatan yang
dilakukan untuk menguji dan atau menemukan teori-teori baru dengan
menggunakan suatu metode ilmiah.
Kimia di Alam
Perubahan kimia (reaksi kimia) telah menjadi bagian dari Alam Semesta,
bahkan sebelum umat manusia mengalami evolusi di muka bumi ini. Sebenarnya,
para ilmuwan meyakini bahwa awal mula kehidupan di Bumi ini, adalah sebagai
akibat bahan-bahan kimia kompleks (hidrogen, amonia, metana dan uap air), yang
berproduksi sendiri dengan bantuan kilat dan halilintar membentuk struktur
dasar

kehidupan

(asam

amino).

Dengan

mengikuti

hukum-hukum

Allah

(sunatullah), selama jutaan tahun struktur dasar kehidupan itu berproses


membentuk makhluk hidup yang ada dimuka bumi ini.
Banyak spesies dari dunia binatang menggunakan zat kimia untuk
mempertahankan diri, mem- bunuh musuh, dan membangun strukturnya dengan
kekuatan yang luar biasa. Bunglon, memiliki kemam- puan untuk mengubah warna
kulitnya untuk menyamarkan dirinya dari musuh. Senyawa yang paling berperan
untuk penyamaran ini adalah melanin, yang juga dapat membantu kulit manusia
berubah menjadi warna cokelat dibawah terik matahari.

Pada tumbuhan

senyawa-senyawa kimia berperan memberikan warna, rasa dan aroma. Seperti


rasa panas yang kita alami saat makan cabai disebabkan oleh senyawa organik
kapsaisin.
Senyawa kimia ionon (sejenis senyawa organik) memberikan rasa dan
aroma segar buah rasberi. Aroma jeruk dan lemon disebabkan oleh sejenis
senyawa limonone, suatu minyak essen yang terdapat dalam kulit jeruk.

Materi

yang seluruh bagiannya mempunyai sifat dan susunan yang sama, disebut juga
sebagai Zat.
Sebagian besar zat-zat kimia yang kita jumpai di Alam berada dalam
bentuk senyawa, walaupun ada juga yang berada dalam bentuk unsur atau
campuran.

Unsur merupakan zat yang paling sederhana dari materi. Ia tidak

dapat diuraikan lagi menjadi zat -zat yang lebih sederhana. Sampai saat ini
unsur-unsur yang sudah diketahui sebanyak 116 unsur. Sebagian besar ditemukan
di Alam walaupun ada juga yang berasal dari hasil sintesis di laboratorium.
Contoh-contoh unsur, misalnya: hidrogen, oksigen dan karbon. Pembahasan lebih
rinci tentang unsur terdapat pada Bab 2. Sistem Periodik Unsur.
Senyawa adalah zat-zat yang terbentuk dari unsur-unsur melalui suatu
reaksi kimia. Sifat-sifat suatu senyawa sangat berbeda dengan sifat-sifat unsur
pembentuknya. Seperti air (H2O) merupakan senyawa yang terbentuk dari
unsurunsur hidrogen dan oksigen. Akan tetapi sifat air tidaklah sama dengan
sifat hidrogen dan oksigen. Air berwujud cair, sedangkan hidrogen dan oksigen
berwujud gas pada suhu kamar. Gas hidrogen sangat mudah terbakar sedangkan
air mustahil terbakar.
Campuran merupakan hasil penggabungan dari beberapa zat-zat tanpa
terjadinya reaksi kimia. Oleh karena itu, suatu campuran dapat dipisahkan
dengan

cara

filtrasi

(penyaringan),

kristalisasi

(penghabluran),

destilasi

(penyulingan), ekstraksi (penyarian), adsorpsi (penyerapan) dan kromatografi


(pemisahan zat-zat warna).

Kimia dalam Kehidupan Modern


Salah satu temuan ahli kimia modern yang saat ini banyak digunakan untuk
berbagai keperluan, yaitu plastik. Plastik merupakan karya besar ahli kimia yang
bahkan berpengaruh besar terhadap kebiasaan hidup manusia. Plastik sintesis
pertama dibuat pada tahun 1860- an. Sebelum itu bahan-bahan alami seperti
gading dan ambar banyak digunakan. Akan tetapi karena kelangkaan dan
keterbatasan gading dan ambar membuat para ahli kimia membuat serat sintesis
plastik.
Plastik merupakan suatu polimer dari bahasa Yunani poly, berarti banyak,
dan mer, berarti sebagian. Polimer terdiri atas molekul-molekul raksasa, terdiri
atas sejumlah besar molekul kecil monomer (mono artinya satu) yang terikat
dalam rantai yang panjang. Plastik digunakan untuk industri dan di rumah-rumah,
terutama di dapur. Polivinil klorida (PVC) yang kuat digunakan sebagai penutup
lantai dan pipa. Plastik-plastik lain, seperti polistiren, digunakan untuk keranjang,
mangkuk, dan botol. Sayangnya, kebanyakan plastik dapat merusak kehidupan;
plastik tidak membusuk dan dapat mengeluarkan zat-zat atau uap beracun jika
dibakar. Plastik juga tidak dapat terurai oleh mikroba dalam tanah, sehingga
timbunan sampah plastik dapat mencemari lingkungan.
Selain plastik dalam zaman modern ini, bahan kimia industri yang paling
penting adalah asam sulfat. Bahan ini sangat dibutuhkan untuk semua jenis
industri, dari bahan-bahan pewarna dan pupuk sampai metalurgi dan plastik.
Proses pembuatan asam sulfat di Industri dikenal dengan nama Proses Kontak,
adalah proses dimana asam sulfat dibuat secara langsung dari sulfur yang
dibakar di udara untuk menghasilkan sulfur dioksida, kemudian sulfur dioksida
dengan bantuan katalisator (vanadium pentaoksida), dioksidasi menjadi senyawa
sulfur trioksida. Akhirnya asam sulfat terbentuk dengan mereaksikan sulfur
trioksida dengan air.

Produk utama industri kimia raksasa adalah bahan bakar

(petrokimia). Kira-kira 10 % dari minyak bumi yang diproses menghasilkan bahan


mentah untuk banyak industri kimia organik modern, terutama karet, plastik, dan
karet sintetis yang banyak menggantikan sumber ter batu bara.
Walaupun industri kimia merupakan kebutuhan pokok kehidupan modern.
Industri ini benar-benar memiliki kelemahan. Bahan- bahan limbah pabrik kimia
yang sangat besar dapat mencemari lautan dan lingkungan hidup. Namun,
pengawasan yang ketat secara bertahap sedang diperkenalkan sebagai usaha
untuk mengontrol pencemaran ini.

10

Profesi di Bidang Kimia


Bidang kimia merupakan profesi yang menarik dan sangat diperlukan oleh
Negara dalam melaksanakan pembangunan. Pada umumnya, sarjana kimia bekerja
di Laboratorium. Sebagian dari mereka bertugas sebagai pengendali mutu
(Quality Control) dalam industri kimia. Dengan menggunakan berbagai alat serta
teknik-teknik laboratorium dari yang sederhana hingga yang canggih, mereka
menguji mutu bahan baku dan produk industri kimia. Sebagian lainnya bekerja
dalam laboratorium-laboratorium riset. Mereka ada yang bertugas menganalisis
kandungan bahan-bahan alam, baik yang berasal dari tumbuhan maupun mineral.
Konsep Dasar Kimia
Konsep dasar Kimia merupakan kumpulan beberapa hal penting yang akan
dipelajari atau dibahas dalam Ilmu Kimia. Beberapa hal yang termasuk
dalam Konsep Dasar Kimia, antara lain adalah :
1.

Tatanama
Tatanama kimia merujuk pada sistem penamaan senyawa kimia. Telah

dibuat sistem penamaan spesies kimia yang terdefinisi dengan baik. Senyawa
organik diberi nama menurut sistem tatanama organik. Senyawa anorganik
dinamai menurut sistem tatanama anorganik.
2.

Atom
Atom adalah suatu kumpulan materi yang terdiri atas inti yang bermuatan

positif, yang biasanya mengandung proton dan neutron, dan beberapa elektron di
sekitarnya yang mengimbangi muatan positif inti. Atom juga merupakan satuan
terkecil yang dapat diuraikan dari suatu unsur dan masih mempertahankan
sifatnya, terbentuk dari inti yang rapat dan bermuatan positif dikelilingi oleh
suatu sistem elektron.
3.

Unsur
Unsur adalah sekelompok atom yang memiliki jumlah proton yang sama

pada intinya. Jumlah ini disebut sebagai nomor atom unsur. Sebagai contoh, atom
yang memiliki 6 proton pada intinya adalah atom dari unsur karbon, dan semua
atom yang memiliki 92 proton pada intinya adalah atom unsur uranium. Semua
unsur kimia yang telah ditemukan dapat dilihat pada tabel periodik unsur, yang
mengelompokkan unsur-unsur berdasarkan kemiripan sifat kimianya. Daftar
11

unsur berdasarkan nama, lambang, dan nomor atom dan nomor massa juga
tersedia. Ciri-ciri unsur:

Sebuah unsur terdiri dari hanya satu jenis atom.

Tidak dapat dipecah lebih lanjut baik oleh kekuatan fisik atau kimia

BIsa eksis sebagai salah satu atom (cth: neon, Ne) atau molekul (cth:
hidrogen, H2)

4.

Ion
Ion atau spesies bermuatan, atau suatu atom atau molekul yang kehilangan

atau mendapatkan satu atau lebih elektron. Kation bermuatan positif (misalnya
kation natrium Na+) dan anion bermuatan negatif (misalnya klorida Cl -) dapat
membentuk garam netral (misalnya natrium klorida, NaCl).
5.

Senyawa
Senyawa merupakan suatu zat yang dibentuk oleh dua atau lebih unsur

dengan perbandingan tetap yang menentukan susunannya. Sebagia contoh, air


merupakan senyawa yang mengandung hidrogen dan oksigen dengan perbandingan
dua terhadap satu. Senyawa dibentuk dan diuraikan oleh reaksi kimia. Ciri-ciri
senyawa:

Dua

atau

lebih

unsur

bergabung

bersama

untuk

membentuk

senyawa. Contoh: Air (H2O), Ammonia (NH3).

Sebuah senyawa selalu berisi rasio yang sama dengan unsur pembentuknya.
Misalnya satu molekul amonia selalu berisi satu atom nitrogen dan tiga
atom hidrogen.

Sebuah senyawa dapat dipecah unsur-unsurnya hanya dengan cara kimiawi.


Sifat-sifat senyawa berbeda dari unsur konstituen pengabungnya.

Misalnya natrium dan klorin beracun. Tapi mereka bergabung untuk membentuk
senyawa natrium klorida, (garam meja) yang sangat penting untuk kehidupan.
6.

Molekul
Molekul adalah bagian terkecil dan tidak terpecah dari suatu senyawa

kimia murni yang masih mempertahankan sifat kimia dan fisik yang unik. Suatu
molekul terdiri dari dua atau lebih atom yang terikat satu sama lain. Contoh
molekul adalah H2O yang dalam kehidupan sehari-hari dikenal dengan air.
7.

Zat Kimia
12

Suatu zat kimia dapat berupa suatu unsur, senyawa, atau campuran
senyawa-senyawa, unsur-unsur, atau senyawa dan unsur. Sebagian besar materi
yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari merupakan suatu bentuk
campuran, misalnya air, aloy, biomassa, dan lain-lain. Ciri-ciri campuran:

Dua atau lebih unsur atau senyawa yang bercampur tanpa menggabungkan
kimia untuk membentuk suatu campuran. Contoh: cuka, tanah, susu, limun

Unsur konstituen dalam campuran dapat dipisahkan dengan metode fisik.

Setiap konstituennya mempertahankan sifat khas yang dimiliki.


Dialisis, elektroforesis dan kromatografi adalah beberapa metode yang

digunakan untuk memisahkan komponen-komponen dalam campuran. Metode ini


didasarkan pada perbedaan ukuran, kelarutan, densitas dan muatan listrik dari
komponen.
8.

Ikatan Kimia
Ikatan kimia merupakan gaya yang menahan berkumpulnya atom-atom

dalam molekul atau kristal. Ikatan kimia yang umum adalah ikatan ion, ikatan
kovalen dan ikatan kovalen koordinasi. Pada banyak senyawa sederhana, teori
ikatan valensi dan konsep bilangan oksidasi dapat digunakan untuk menduga
struktur molekular dan susunannya. Serupa dengan ini, teori-teori dari fisika
klasik dapat digunakan untuk menduga banyak dari struktur ionik. Pada senyawa
yang lebih kompleks/rumit, seperti kompleks logam, teori ikatan valensi tidak
dapat digunakan karena membutuhken pemahaman yang lebih dalam dengan basis
mekanika kuantum.
9.

Wujud Zat
Fase adalah kumpulan keadaan sebuah sistem fisik makroskopis yang

relatif serbasama baik itu komposisi kimianya maupun sifat-sifat fisikanya


(misalnya masa jenis, struktur kristal, indeks refraksi, dan lain sebagainya).
Contoh keadaan fase yang kita kenal adalah padatan, cair, dan gas.
Ada tiga wujud zat: padat, cair, dan gas. Semuanya memiliki berbagai
tingkat daya tarik antara partikel dan jumlah energi yang berbeda. Semakin
tinggi energi dalam partikel, semakin baik kemampuannya untuk bisa lolos dari
interaksi inter-partikel.
Setiap perubahan materi memerlukan penambahan atau pengurangan
energi. Jumlah energi yang lebih besar diperlukan untuk mengatasi gaya tarik
13

menarik kuat. Saat energi materi meningkat, gangguan sistem juga meningkat.
Misalnya, benda padat adalah struktur kristal yang sangat terorganisir . Di sisi
lain, gas bersifat bebas dan terbang ke mana-mana. Energi dari suatu zat
tertentu (dan tingkat gangguan) meningkat saat:
Benda Padat -> Benda Cair -> Gas
Ada tiga perubahan zat yang perlu diketahui:
a. Pembekuan (fusi/lebur) dan mencair
Suhu dimana zat membeku atau meleleh disebut titik beku. Suhu akan
sama, apakah substansi zat itu mencair atau mengalami pembekuan. Untuk air,
akan membeku jika suhu turun di bawah 273 K (0) dan mencair jika suhu naik
di atas 273 K (0).
Jumlah energi (entalpi) terkait dengan mencairnya benda padat disebut
panas lebur. Jumlah pelepasan energi akan sama seperti saat benda cair
membeku. Energi ini akan ke memecah ikatan antara partikel padat. Sebagai
contoh, dalam air, sebuah bentuk ikatan polar antara oksigen elektrinegatif yang
lebih banyak dengan oksigen elektronegatif yang lebih sedikit. Ikatan ini tidak
sekuat ikatan molekul, tetapi masih memiliki banyak kekuatan. Saat benda cair
membeku energi ini dilepaskan karena dibutuhkan energi yang lebih sedikit untuk
tetap terjebak bersama dalam kristal es. Pikirkan seperti ini: Ketika Anda
berlarian di sekitar rumah, itu akan membutuhkan banyak energi. Ketika Anda
duduk di sofa, Anda memiliki lebih banyak energi.

b. Mendidih dan Kondensasi


Suhu saat suatu zat menjadi mendidih, yaitu saat gas terbentuk dalam
benda cair, atau saat gas mengalami kondensasi kembali menjadi cairan disebut
dengan titik didih. Air mendidih saat suhu berada diatas 373 K (100) pada
tekanan 1 atmosfer dan mengkondensasi saat suhu dibawah 373 K (100) pada
tekanan 1 atmosfir.

14

Titik didih suatu zat adalah fungsi dari tekanan udara di atas benda
cair.Hal ini dikarenakan titik didih suatu zat adalah suhu di mana tekanan uap
benda cair sama dengan tekanan daerah sekitar dan benda cair mengalami
perubahan menjadi uap.Jadi Titik didih dari benda cair turun saat tekanan udara
turun, air mendidih pada suhu yang lebih rendah seperti yang Anda menaikan
ketinggian.
Panas yang dibutuhkan untuk menguapkan benda cair secara komplit,
dikenal sebagai panas penguapan. Partikel cair juga memiliki ikatan yang menjaga
mereka "terjebak" secara bersamaan

c. Sublimasi dan Deposisi


Beberapa benda padat tidak meleleh, tetapi luruh langsung ke gas dan
sebaliknya. Panas sublimasi adalah jumlah panas yang dibutuhkan untuk mengubah
benda padat menjadi fase gas. Ini adalah gabungan dari panas lebur, penguapan,
dan kalor jenis dari material saat suhu meningkat dari mencair ke titik didih.
Kalor jenis
Ketika merebus air dalam panci, anda akan melihat bahwa air tidak mulai
langsung mendidih. Dibutuhkan waktu untuk sampai ke suhu 100, titik didih
pada air. Jumlah panas yang dibutuhkan untuk mengubah suhu suatu zat tanpa
mengubah materinya disebut dengan kalor jenis.
Massa partikel juga memiliki efek ke materinya. Partikel yang lebih berat
cenderung mencair dan mendidih pada suhu yang lebih tinggi. Sebagai kesimpulan
di setiap suhu tertentu, benda padat cenderung memiliki partikel berat dengan
ikatan antar-partikel yang kuat, benda cair memiliki ikatan sedikit lemah dan
massa yang lebih ringan, sedangkan gas biasanya memiliki partikel ringan dengan
ikatan lemah.

10. Reaksi Kimia


Reaksi kimia adalah transformasi/perubahan dalam struktur molekul.
Reaksi ini bisa menghasilkan penggabungan molekul membentuk molekul yang
15

lebih besar, pembelahan molekul menjadi dua atau lebih molekul yang lebih kecil,
atau penataulangan atom-atom dalam molekul. Reaksi kimia selalu melibatkan
terbentuk atau terputusnya ikatan kimia.
C. METODE ILMIAH
Metode ilmiah atau dalam bahasa inggris dikenal sebagai scientific

method adalah

proses

berpikir

untuk

memecahkan

masalah

secara

sistematis,empiris, dan terkontrol.


Metode ilmiah berangkat dari suatu permasalahan yang perlu dicari
jawaban atau pemecahannya. Proses berpikir ilmiah dalam metode ilmiah tidak
berangkat dari sebuah asumsi, atau simpulan, bukan pula berdasarkan data atau
fakta khusus. Proses berpikir untuk memecahkan masalah lebih berdasar kepada
masalah nyata. Untuk memulai suatu metode ilmiah, maka dengan demikian
pertama-tama harus dirumuskan masalah apa yang sedang dihadapi dan sedang
dicari

pemecahannya.

Rumusan

permasalahan

ini

akan

menuntun

proses

selanjutnya.
Dalam metode ilmiah, proses berpikir dilakukan secara sistematis dengan
bertahap, tidak zig-zag. Proses berpikir yang sistematis ini dimulai dengan
kesadaran akan adanya masalah hingga terbentuk sebuah kesimpulan. Dalam
metode ilmiah, proses berpikir dilakukan sesuai langkah-langkah metode ilmiah
secara sistematis dan berurutan.
Setiap metode ilmiah selalu disandarkan pada data empiris. maksudnya
adalah, bahwa masalah yang hendak ditemukan pemecahannya atau jawabannya
itu harus tersedia datanya, yang diperoleh dari hasil pengukuran secara objektif.
Ada atau tidak tersedia data empiris merupakan salah satu kriteria penting
dalam metode ilmiah. Apabila sebuah masalah dirumuskan lalu dikaji tanpa data
empiris, maka itu bukanlah sebuah bentuk metode ilmiah.
Di saat melaksanakan metode ilmiah, proses berpikir dilaksanakan secara
terkontrol. Maksudnya terkontrol disini adalah, dalam berpikir secara ilmiah itu
dilakukan secara sadar dan terjaga, jadi apabila ada orang lain yang juga ingin
membuktikan kebenarannya dapat dilakukan seperti apa adanya. Seseorang yang
berpikir ilmiah tidak melakukannya dalam keadaan berkhayal atau bermimpi, akan
tetapi dilakukan secara sadar dan terkontrol.
Karena metode ilmiah dilakukan secara sistematis dan berencana, maka
terdapat

langkah-langkah

yang

harus

dilakukan

secara

urut

dalam

16

pelaksanaannya. Setiap langkah atau tahapan dilaksanakan secara terkontrol dan


terjaga. Adapun langkah-langkah metode ilmiah adalah sebagai berikut:
1.

Observasi
Merumuskan Masalah/Obsevasi adalah berpikir ilmiah melalui metode

ilmiah didahului dengan kesadaran akan adanya masalah. Permasalahan ini


kemudian harus dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya. Dengan penggunaan
kalimat tanya diharapkan akan memudahkan orang yang melakukan metode ilmiah
untuk mengumpulkan data yang dibutuhkannya, menganalisis data tersebut,
kemudian
Bagaimana

menyimpulkannya. Permusan
mungkin

memecahkan

masalah adalah

sebuah

sebuah keharusan.

permasalahan

dengan

mencari

jawabannya bila masalahnya sendiri belum dirumuskan.


2.

Merumuskan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah yang masih

memerlukan pembuktian berdasarkan data yang telah dianalisis. Dalam metode


ilmiah dan proses berpikir ilmiah, perumusan hipotesis sangat penting. Rumusan
hipotesis yang jelas dapat memabntu mengarahkan pada proses selanjutnya
dalam metode ilmiah. Seringkali pada saat melakukan penelitian, seorang peneliti
merasa semua data sangat penting. Oleh karena itu melalui rumusan hipotesis
yang baik akan memudahkan peneliti untuk mengumpulkan data yang benar-benar
dibutuhkannya. Hal ini dikarenakan berpikir ilmiah dilakukan hanya untuk menguji
hipotesis yang telah dirumuskan.
3.

Mengumpulkan Data
Pengumpulan data merupakan tahapan yang agak berbeda dari tahapan-

tahapan sebelumnya dalam metode ilmiah. Pengumpulan data dilakukan di


lapangan. Seorang peneliti yang sedang menerapkan metode ilmiah perlu
mengumpulkan

data

berdasarkan

hipotesis

yang

telah

dirumuskannya.

Pengumpulan data memiliki peran penting dalam metode ilmiah, sebab berkaitan
dengan pengujian hipotesis. Diterima atau ditolaknya sebuah hipotesis akan
bergantung pada data yang dikumpulkan.
4.

Melakukan Eksperimen / Menguji Hipotesis


Sudah disebutkan sebelumnya bahwa hipotesis adalah jawaban sementara

dari suatu permasalahan yang telah diajukan. Berpikir ilmiah pada hakekatnya
merupakan sebuah proses pengujian hipotesis. Dalam kegiatan atau langkah
menguji hipotesis, peneliti tidak membenarkan atau menyalahkan hipotesis,
17

namun menerima atau menolak hipotesis tersebut. Karena itu, sebelum pengujian
hipotesis

dilakukan,

peneliti

harus

terlebih

dahulu

menetapkan

taraf

signifikansinya. Semakin tinggi taraf signifikansi yang tetapkan maka akan


semakin tinggi pula derjat kepercayaan terhadap hasil suatu penelitian.Hal ini
dimaklumi karena taraf signifikansi berhubungan dengan ambang batas kesalahan
suatu pengujian hipotesis itu sendiri.
5.

Perumusan Teori
Setelah menguji hipotesis maka perlunya di rumuskan teori atau hasil yang

diperoleh dari eksperimen.


6.

Merumuskan Kesimpulan
Langkah paling akhir dalam berpikir ilmiah pada sebuah metode ilmiah

adalah kegiatan perumusan kesimpulan. Rumusan simpulan harus bersesuaian


dengan masalah yang telah diajukan sebelumnya. Kesimpulan atau simpulan ditulis
dalam bentuk kalimat deklaratif secara singkat tetapi jelas. Harus dihindarkan
untuk menulis data-data yang tidak relevan dengan masalah yang diajukan,
walaupun dianggap cukup penting. Ini perlu ditekankan karena banyak peneliti
terkecoh dengan temuan yang dianggapnya penting, walaupun pada hakikatnya
tidak relevan dengan rumusan masalah yang diajukannya.
D. KESELAMATAN KERJA
Setiap pekerjaan pasti ada resikonya. Tingkat resiko tersebut ada yang
kecil, ada juga yang besar. Keselamatan kerja di laboratorium merupakan usaha
atau tindakan pencegahan agar di dalam kegiatan di laboratorium terhindar
dari kecelakaan sekecil apapun. Sehubungan dengan kemungkinan timbul bahayabahaya di dalam kegiatan laboratorium, maka perlunya mengetahui bahaya yang
ditimbulkan oleh benda-benda atau barang-barang yang ada di laboratorium.
Tata tertib ini penting untuk menjaga kelancaran dan keselamatan
pekerja/praktikum di dalam laboratorium. Berikut ini beberapa contoh tata
tertib di Laboratorium:
1. Alat-alat serta bahan yang ada di dalam laboratorium tidak diperkenankan
diambil keluar tanpa seizin asisten laboratorium.
2. Alat dan bahan harus digunakan sesuai dengan petunjuk praktikum yang
diberikan.

18

3. Jika

dalam

melakukan

percobaan

tidak

mengerti

atau

ragu-ragu,

hendaknya segera bertanya kepada asisten laboratorium.


4. Bekerja di laboratorium hendaknya memakai jas laboratorium.
5. Jika ada alat yang rusak atau pecah, hendaknya dengan segera dilaporkan
kepada asisten laboratorium.
6. Jika terjadi kecelakaan, sekalipun kecil, seperti kena kaca, terbakar, atau
terkena

bahan

kimia,

hendaknya

segera

dilaporkan

ke

asisten

laboratorium.
7. Etiket (label) bahan yang hilang atau rusak harus segera diberitahukan
kepada asisten laboratorium, agar dapat segera diganti.
8. Tidak diperkenankan makan, minum dan merokok di dalam laboratorium.
9. Setelah selesai percobaan, alat-alat hendaknya dikembalikan ke tempat
semula dalam keadaan bersih.
10. Buanglah sampah pada tempatnya.
11. Sebelum meninggalkan laboratorium, meja praktikum harus dalam keadaan
bersih, kran air dan gas ditutup, dan kontak listrik dicabut.
12. Menggunakan kaca mata pelindung.
13. Menggunakan sepatu tertutup, bukan sepatu sandal atau sepatu berhak
tinggi.
14. Tidak makan dan minum selama bekerja di laboratorium.
15. Tidak mencicipi bahan kimia.
16. Menghindari kontak langsung dengan bahan kimia.
17. Tidak bermain-main dengan peralatan laboratorium dan bahan kimia.
18. Tidak bercanda dengan teman.
19. Tidak memakai perhiasan karena dapat rusak terkena bahan kimia.
20.Mengetahui letak dan cara menggunakan alat PPPK dan alat pemadam
kebakaran.
21. Mengikat rambut bagi wanita yang berambut panjang.
22.Menjaga kebersihan meja praktikum.
23.Membuang larutan yang beracun ke dalam botol pembuangan khusus.
24.Mencuci tangan dengan sabun dan air bersih setelah melakukan praktikum.
25.Jika ada alat yang pecah, segera kumpulkan pecahannya dan beri tahu
asisten laboratorium.
26.Laporkan setiap kecelakaan sekecil apapun kepada asisten laboratorium.
Untuk luka ringan, balutlah dengan plester. Jika kulit anda tersentuh
benda panas/bahan kimia, siramlah dengan air dingin yang mengalir untuk
19

mengatasi rasa nyeri, jangan olesi dengan minyak. Untuk kecelakaan yang
lebih berat hubungi paramedis.
27.Jika bahan kimia mengenai mata, cuci dengan air bersih yang banyak dan
mengalir, dan laporkan kejadiannya kepada asisten laboratorium.
28.Jika kulit terkena bahan kimia, jangan digaruk agar tidak menyebar.
Beritahu asisten laboratorium untuk mendapatkan penanganan segera.
Untuk mencegah terjadinya bahaya yang tidak diinginkan, penyimpanan bahan
kimia perlu memperhatikan hal-hal berikut:
1. Botol-botol yang berisi bahan kimia disimpan pada rak atau lemari yang
disediakan khusus untuk itu.
2. Tidak meletakkan pelarut yang sangat mudah terbakar seperti alcohol,
aseton, dan khususnya ether di dekat nyala api.
3. Jangan mengisi botol-botol sampai penuh.
4. Jangan menggunakan tutup dari kaca untuk botol yang berisi basa, karena
lama kelamaan tutup itu akan melekat pada botol dan susah dibuka.
5. Semua peralatan/gelas kimia yang berisi bahan kimia harus diberi label
yang menyatakan nama bahan itu.
6. Bahan kimia yang dapat bereaksi hebat hendaknya jangan disimpan
berdekatan.
7. Bahan-bahan kimia yang sangat beracun dan berbahaya hendaknya dibeli
dalam jumlah kecil dan tanggal pembeliannya dicatat.
8. Semua bahan persediaan bahan kimia secara teratur diteliti.
9. Bahan Kimia Beracun (Toxic), harus disimpan dalam ruangan yang sejuk,
tempat dengan peredaran hawa yang lancar, jauh dari bahaya kebakaran
dan jauh dari bahan yang inkompatibel (tidak dapat dicampur).
10. Bahan Kimia Korosif (Corrosive), harus disimpan dalam ruangan yang sejuk
dengan ventilasi yang cukup agar mencegah terjadinya pengumpulan uap.
Dan semua logam disekelilingnya harus dicat dan diperiksa kondisinya
apakah ada kerusakan yang disebabkan oleh korosi atau tidak.
11. Bahan Kimia Mudah Terbakar (Flammable), harus disimpan pada tempat
yang cukup dingin, peredaran hawa yang cukup, dijauhkan dari daerah yang
ada bahaya kebakarannya, harus terpisah dari bahan oksidator kuat,
bahan yang mudah panas dengan sendirinya dan bahan yang dapat bereaksi
dengan udara atau uap air, disimpan pada tempat yang dekat dengan alatalat pemadam api dan mudah dicapai serta dipasangkan sambungan
20

tanah/arde yang dilengkapi dengan alat deteksi asap atau api otomatis dan
juga harus diperiksa secara periodik.
12. Bahan Kimia Peledak (Explosive), harus pada tempat atau bangunan yang
kokoh dan tahan api dengan lantai yang terbuat dari bahan yang tidak
menimbulkan loncatan api, serta memiliki sirkulasi udara yang baik dan
bebas dari kelembaban, dan juga tetap terkunci sekalipun tidak digunakan.
13. Bahan Kimia Oksidator (Oxidation), harus diusahakan agar suhunya tetap
dingin, dengan peredaran hawa lancar, dan gedungnya harus tahan api. Dan
bahan ini harus jauh dari bahan bakar, dan bahan yang mudah terbakar
juga bahan yang memiliki titik api rendah.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan zat-zat kimia, yaitu:
1. Tabung reaksi yang berisi zat kimia tidak boleh diarahkan ke wajah sendiri
atau orang lain, begitupun juga saat memanaskan

tabung reaksi yang

berisi zat kimia.


2. Senyawa kimia tidak boleh langsung dihisap atau dibau, melainkan tepiskan
sedikit demi sedikit sampel gas ke hidung.
3. Larutan kimia yang tertuang di meja praktikum atau di lantai dibersihkan
segera dengan cara asam pekat dinetralkan dahulu dengan serbuk NaHC03.
Basa kuat dinetralkan dahulu dengan serbuk NH4CI, kemudian ditambah
air yang cukup.
4. Larutan pekat yang tidak terpakai harus dibuang setelah diencerkan
dengan air terlebih dahulu. Mulut tabung reaksi atau bejana, selama
digunakan untuk pencampuran atau pemanasan tidak boleh ditengok
langsung.
5. Senyawa/zat kimia tertentu (asam kuat dan basa kuat) tidak boleh
dicampur karena akan terjadi reaksi yang dahsyat, kecuali sudah diketahui
pasti tidak menimbulkan bahaya.
6. Tidak mengembalikan zat sisa ke dalam botol stok agar terhindar dari
kontaminasi. Sediakan wadah, misalnya tabung reaksi, untuk mengumpulkan
zat-zat sisa.
7. Menggunakan lemari asam saat sedang mereaksikan berbagai jenis reaksi
kimia, terutama zat-zat yang berbahaya, beracun, mengeluarkan gas,
hingga menimbulkan api.
8. Penggunaan pelindung wajah sangat diperlukan jika menangani zatzat/senyawa-senyawa kimia yang berbahaya, dan jangan mengembalikan
21

zat/senyawa kimia yang terlanjur tertuang untuk dikembalikan ke botol


asalnya.
Berikut simbol-simbol yang sering digunakan untuk menandai jenis-jenis
bahan kimia secara Internasional:

22

BAB 2
SISTEM PERIODIK UNSUR
A. PERKEMBANGAN TABEL PERIODIK
Tabel Periodik Modern, disusun menjadi baris (Periode) unsur dengan
jumlah atom meningkat dan kolom (Kelompok) unsur dengan konfigurasi elektron
kulit luar yang sama, dikembangkan lebih dari dua abad penyelidikan ilmiah
karakteristik unsur oleh banyak kimiawan dan fisikawan.

Ini adalah beberapa penemuan yang paling penting yang membuka jalan bagi
Tabel Periodik Modern:
1. 1789, Antoine Lavoisier mempublikasikan sebuah daftar berisi 33 unsur, yang
dikelompokkan secara sederhana ke gas, logam, non logam, dan bumi.
2. 1829, Johann Dbereiner mengamati bahwa banyak unsur

dapat

dikelompokkan menjadi tiga, atau triad, menurut karakteristik kimianya.


Lithium, sodium dan potassium adalah triad yang paling terkenal dari logam
lunak reaktif. Triad lainnya yang ia kenali adalah klorin, bromine dan iodine
dan calcium, strontium dan tellurium. Dbereiner juga mengamati bahwa,
ketika disusun oleh berat atom (rata-rata muatan atom suatu unsur), unsur
kedua dari triad berada di tengah unsur pertama dan ketiga ini dikenal
dengan Hukum Triad. Sebelum 1843 ilmuwan menemukan sepuluh triad, tiga
kelompok dari empat dan satu kelompok dari lima unsur.

23

3. 1862, bentuk awal tabel periodik dikenalkan oleh Alexandre-Emile Bguyer


de Chancourtois, seorang geologis Perancis, yang ia panggil telluric helix atau
screw. Ia juga dapat menunjukkan unsur dengan karakteristik yang serupa
terjadi dalam interval teratur.
4. 1864, Julius Meyer, seorang kimiawan Jerman, mempublikasikan sebuah tabel
dengan 44 unsur disusun berdasarkan kekuatan penggabungannya atau valensi.
Tabel menunjukkan bahwa unsur dengan karakteristik yang serupa sering
berbagi valensi yang sama atau kombinasi kekuatan dari sebuah atom. Pada
waktu yang bersamaan kimiawan Inggris, William Odling, mempublikasikan
sebuah tabel dengan 57 unsur, diurutkan berdasarkan berat atom, dengan
beberapa ketidakteraturan dan celah yang penting.
5. 1865, kimiawan Inggris John Newlands mencatat bahwa ketika unsur
didaftarkan pada urutan atom yang meningkat, fisik yang serupa dan
karakteristik kimia terulang pada interval ke delapan; yang ia bandingkan
dengan

oktaf

di

musik.

Hal

ini

disebut

dengan Hukum

Oktaf dan

menggunakannya untuk memperkirakan keberadaan beberapa unsur yang


hilang seperti germanium, Ge.

6. 1869 and 1871, Tabel Periodik yang diakui pertama kali dipublikasikan oleh
Dmitiri Mendeleev, seorang kimiawan, guru dan pemain kartu Rusia, ketika
hanya 62 unsur diketahui.

Ia menyusun tabelnya sehingga setiap baris

mempunyai unsur dengan berat atom yang meningkat dan ia meninggalkan


24

celah untuk unsur yang belum ditemukan. Tabelnya memiliki kolom unsur yang
disusun berdasarkan kesamaan kimia dan fisik mereka.

Pengakuan dan penerimaan tabel Mendeleev berasal dari dua hal yang dia
lakukan: Ia meninggalkan tempat kosong pada tabelnya untuk unsur yang belum
ditemukan ketika tidak sesuai dengan baik dan ia kadang-kadang mengabaikan
urutan oleh berat atom dan beralih ke unsur yang berdekatan, seperti tellurium
dan iodine, untuk mengelompokkan lebih baik secara kimia ke dalam kelompok.
Untuk pekerjaannya, Mendeleev dikenal sebagai "Bapak Tabel Periodik Modern".
Dalam 100 tahun tabel Mendeleev diperkirakan bahwa terdapat 700 versi
tabel publikasi yang berbeda telah dipublikasikan.
7. 1913, Henry Moseley mengurutkan unsur berdasarkan jumlah atom (muatan
pada inti atau jumlah proton di atom) daripada berat atom, jadi unsur akan
sesuai lebih baik pada kelompok/keluarga dan periode. Tabel Periodik
berkembang sejak itu ke dalam Tabel Periodik Modern yang digunakan hari
25

ini dengan bentuk standar unsur dengan kisi 18 7 yang disusun berdasarkan
jumlah atom, konfigurasi elektron dan karakteristik kimia yang berulang.

8. Sistem Periodik Modern,

Susunan periodik yang disusun oleh Moseley

akhirnya berkembang lebih baik sampai didapatkan bentuk yang sekarang ini
dengan mengikuti hukum periodik bahwa:

bila unsur unsur disusun

berdasarkan kenaikan nomor atom, maka sifat unsur akan berulang secara
periodic. Sistem periodik modern dikenal juga sebagai sistem periodik
bentuk panjang, terdapat lajur panjang yang disebut periode dan lajur tegak
yang disebut golongan.

Jumlah periode dalam sistem periodik ada 7

dan

diberi tanda dengan angka : Periode 1 disebut periode yang sangat pendek dan
berisi dua unsur. Periode 2 dan Periode 3 disebut periode pendek dan masingmasing berisi 8 unsur. Periode 4 dan Periode 5 disebut periode panjang dan
masing-masing berisi 18 unsur Periode 6 disebut periode panjang yang berisi
32 unsur. Pada periode ini unsur Lantanida yaitu unsur nomor 58 sampai 71
dan diletakan pada bagian bawah. Periode 7 disebut periode belum lengkap
karena mungkin masih akan bertambah lagi jumlah unsur yang akan
menempatinya, sampai saat ini berisi 24 unsur. Pada periode ini berisi pula
deretan unsur yang disebut deret aktinida, yaitu unsur bernomor 90 sampai
nomor 103, dan diletakan pada bagian bawah.
26

Jumlah golongan sistem periodik ada 8 dan ditandai angka Romawi. Ada dua
golongan besar yaitu golongan utama (golongan A) dan golongan transisi
(golongan B). Beberapa golongan diberi nama khusus, misalnya: Golongan IA
disebut golongan alkali, Golongan IIA disebut golongan alkali tanah, Golongan
IIIA disebut golongan boron, Golongan IVA disebut golongan karbon,
Golongan

VA disebut golongan nitrogen-fosfor, Golongan VIA disebut

golongan khalkogen, Golongan VIIA disebut golongan halogen, Golongan VIIIA


disebut golongan gas mulia.
Hubungan Konfigurasi Elektron dan Sistem Periodik. Pada konfigurasi terlihat
bahwa unsur-unsur periode kedua mempunyai jumlah kulit sebanyak 2 buah.
Hal yang sama akan terjadi pada unsur-unsur periode ketiga yang akan
mempunyai jumlah kulit sebanyak 3 buah.

Dengan demikian, dapat

disimpulkan bahwa dari konfigurasi elektron dapat ditentukan letak unsur


dalam sistem periodik, yaitu, jumlah kulit elektron menunjukan letak periode
dalam sistem periodik unsur. Bagaimanakah untuk menunjukan letak golongan?
Dari konfigurasi elektron sederhana dapat ditentukan letak unsur didalam
golongan utama (golongan A) didalam sistem periodik.

B. SIFAT-SIFAT PERIODIK UNSUR


Sistem periodik unsur disusun dengan memperhatikan sifat-sifat dalam
unsur. Dalam bagian ini akan dibahas beberapa sifat-sifat unsur, misalnya jari27

jari atom, energi ionisasi, dan keelektronegatifan


unsur-unsur dalam sistem periodik unsur.
1. Jari-Jari Atom
Jari-jari atom ( R ) merupakan jarak dari pusat
atom (inti atom) sampai kulit elektron terluar yang
ditempati elektron. Panjang pendeknya jari-jari atom
ditentukan oeh 2 faktor yaitu:
a. Jumlah Kulit Atom Makin banyak jumlah kulit yang
dimiliki suatu atom, maka jari-jari atomnya makin panjang. Jari- jari atom
Natrium lebih panjang daripada jari-jari atom Litium, sebab jumlah kulit yang
dimiliki atom Natrium lebih banyak daripada atom Litium.
b. Muatan Inti Atom Bila jumlah kulit dari dua atom sama banyak, maka yang
berpengaruh terhadap panjangnya jari- jari atom adalah muatan inti atom.
Makin banyak inti atom berarti makin besar muatan intinya dan gaya tarik inti
atom terhadap elektron lebih kuat sehingga elektron lebih mendekat ke inti
atom. Dari tabel tersebut terlihat ada kecenderungan bahwa jari-jari atom
dalam satu periode dari kiri kekanan makin pendek, sedangkan jari-jari atom
unsur segolongan dari atas kebawah makin panjang. Hal ini dapat dijelaskan
bahwa kecenderungan tersebut diakibatkan oleh adanya gaya tarik inti
terhadap elekltron dan jumlah kulit elektron. Dalam satu periode dari kiri ke
kanan muatan inti makin bertambah, sedangkan jumlah kulit elektronnya
tetap, akibatnya gaya tarik inti terhadap elektron terluar makin kuat
sehingga menyebabkan jarak elektron kulit terluar dengan inti makin dekat.
Gambar di bawah ini adalah kecenderungan perubahan jari-jari atom pada
system periodic unsur.

28

Dalam satu golongan makin kebawah jumlah kulit makin banyak meskipun
dalam hal ini jumlah muatan inti makin banyak, tetapi pengaruh bertambahnya
jumlah kulit lebih besar daripada pengaruh muatan inti, akibatnya jarak
elektron kulit terluar terhadap inti makin jauh. Kecenderungan perubahan
jari-jari atom unsur-unsur seperiode dan unsur-unsur segolongan semakin
jelas bila diperhatikan dari grafik keperiodikan jari-jari atom. Jari-jari atom
menunjukan besarnya volum atom tersebut. Keperiodikan volum dibawah ini
dapat digunakan sebagai gambaran sifat keperiodikan jari-jari atom.
2. Energi Ionisasi
Energi ionisasi adalah energi yang diperlukan untuk melepaskan elektron
yang terikat paling lemah oleh suatu atom atau ion dalam wujud gas. Energi
ionisasi pertama digunakan oleh suatu atom untuk melepaskan elektron pada kulit
terluar, sedangkan energi ionisasi kedua merupakan energi yang diperlukan suatu
ion (ion + 1) untuk melepas elektronnya yang terikat paling lemah. Energi ionisasi
merupakan energi yang diperlukan untuk melawan gaya tarik inti terhadap
elektron, sehingga elektron dapat terlepas dari atomnya. Jadi, jika jarak antara
elektron dengan inti semakin jauh, maka energi yang diperlukan untuk melawan
gaya tarik inti semakin kecil dan itu berarti energi ionisasinya kecil. Kesimpulan
yang dapt ditarik adalah makin panjang jari-jari atom atau ion makin kecil energi
ionisasinya. Untuk lebih memudahkan dalam melihat kecenderungan perubahan
ionisasi dalam sistem periodik dapat dilihat pada grafik energi ionisasi di bawah.

29

Contoh: Diketahui 6 buah unsur: 3Li, 4Be, 5B, 6C, 7N, 8O. Unsur yang
mempunyai energi ionisasi terbesar adalah? Jelaskan
Jawab: Unsur 8O memiliki energi ionisasi terbesar, karena unsur yang
seperiode, makin ke kanan gaya tarik inti makin kuat, sehingga energi ionisasi
pada umumnya makin ke kanan makin besar, dan semakin besar energi ionisasi
makin sukar untuk melepaskan elektron.
3. Afinitas Elektron
Tidak semua atom mudah melepaskan elektron, tetapi ada sebagian atomatom unsur justru cenderung lebih mudah menarik elektron. Bila energi ionisasi
merupakan energi yang diperlukan untuk melepaskan elektron maka afinitas
elektron adalah besarnya enegi yang dihasilkan atau dilepaskan apabila suatu
atom menarik sebuah elektron. Afinitas elektron dapat digunakan sebagai ukuran
mudah tidaknya suatu atom menangkap elektron. Semakin besar energi yang
dilepas (afinitas elektron) menunjukan bahwa atom tersebut cenderung menarik
elektron menjadi ion negatif.

30

4. Keelektronegatifan
Adanya kesulitan dalam pengukuran afinitas elektron untuk semua unsur,
maka para ahli kimia menciptakan besaran baru yang dapat menggantikan harga
afinitas

elektron,

yaitu

keelektromagnetikan

atau

elektronegativitas.

Keelektronegatifan atau elektronegativitas adalah kecenderungan suatu atom


dalam menarik pasangan elektron yang digunakan bersama dalam membentuk
ikatan. (Mengenai pasangan elektron bersama ini akan dibahas pada bab 3).
Makin besar harga keelektronegatifan suatu atom makin mudah menarik
pasangan elektron ikatan, atau gaya tarik elektron dari atom tersebut kuat.
Dengan demikian, pola kecenderungannya akan sama dengan afinitas elektron.
Keelektronegatifan mempunyai makna yang berlawanan dengan energi ionisasi,
sebab makin mudah suatu atom melepas elektron berarti makin sukar dalam
menarik elektron dan sebaliknya.

Skala keelektronegatifan tidak mempunyai

satuan, sebab harga ini hanya didasarkan kepada gaya tarik atom terhadap
elektron relatif terhadap terhadap gaya tarik atom lain terhadap elektron.

5. Sifat Logam dan Non Logam


Unsur-unsur logam memperlihatkan sifat-sifat yang spesifik, yaitu
mengkilat, menghantarkan panas dan listrik, dapat ditempa menjadi lempeng
tipis, serta dapat direntangkan menjadi kawat atau kabel panjang. Sifat-sifat di
atas tidak dimiliki oleh unsur-unsur non logam.
Ditinjau dari konfigurasi elektron,

unsur-unsur

logam

cenderung

melepaskan elektron (memiliki energi ionisasi yang kecil). Sedangkan unsur-unsur


31

non logam cenderung menangkap elektron (memiliki keelektronegatifan yang


besar). Dengan demikian, dalam sistem periodik sifat-sifat logam makin ke bawah
makin

bertambah

serta

makin

kekanan

makin

berkurang. Unsur-unsur logam terletak dibagian kiri,


dan unsur-unsur non logam dibagian kanan dari sistem
periodik unsur. Batas logam dan non logam pada
sistem periodik sering digambarkan dengan tangga
diagonal

bergaris

tebal

Unsur-unsur

di

daerah

perbatasan memperlihatkan sifat ganda. Berilium dan


alumunium,

misalnya,

adalah

logam-logam

yang

memiliki beberapa sifat bukan logam, dan disebut


unsur-unsur amfoter. Di lain pihak, boron dan silikon merupakan unsur bukan
logam yang memiliki beberapa sifat logam, dan disebut unsur-unsur metaloid.
6. Titik Didih dan Titik Leleh
Bagi unsur-unsur logam segolongan, titik leleh dan titik didih makin ke
bawah makin rendah. Sebaliknya, bagi unsur-unsur non logam segolongan, titik
eleh dan titik didih makin ke bawah makin tinggi. Misalnya, titik leleh Kalium
lebih rendah daripada titik leleh Natrium, sedangkan titik didih Klorin lebih
tinggi daripada titik didih fluorin.
7. Sifat Oksidator
Sifat oksidator adalah sifat suatu unsur yang cenderung menangkap
electron (mengalami reduksi). Dalam satu periode: dari kiri ke kanan sifat
oksidator semakin besar. Dalam satu golongan: dari bawah ke atas sifat
oksidator semakin besar.

8. Sifat Reduktor
Sifat reduktor adalah sifat suatu unsur yang cenderung melepas electron
(mengalami oksidasi). Dalam satu periode: dari kiri ke kanan sifat reduktor
semakin kecil. Dalam satu golongan: dari bawah ke atas sifat reduktor semakin
kecil.

32

C. STRUKTUR ATOM
Konsep atom berawal dari Demokritos seorang ahli filsafat Yunani yang
hidup sekitar tahun 400 sebelum Masehi. Demokritos membangun sebuah teori
tentang materi tidak berdasarkan hasil eksperimen tetapi lebih ke pemahaman
filosofi mereka tentang Alam Semesta. Menurut pemikiran Demokritos, bahwa
setiap materi tersusun dari partikel-partikel kecil yang tidak dapat diperkecil
lagi. Partikel penyusun materi itu dinamakan Atom, berasal dari bahasa Yunani (a
= tidak, tomos = terbagi).
1. Model Atom Dalton
Konsep atom dari Demokritos tidak dihiraukan orang, dan segera
terlupakan selama berabad- abad. Baru pada tahun 1803 seorang guru SMU di
Manchester,
mengemukakan

Inggris

John

teorinya

Dalton

tentang

(1766-1844)
atom

melalui

bukunya yang berjudul a New System of Chemical


Philosophy (Sistem Baru Ilmu Kimia). Teori atom
Dalton ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Setiap unsur tersusun dari partikel-partikel kecil
yang tidak dapat dibagi lagi yang disebut atom.

33

b. Atom-atom dari unsur yang sama, mempunyai sifat yang sama sedangkan
atom-atom dari unsur yang berbeda akan mempunyai sifat yang berbeda pula.
c. Pembentukan senyawa dari unsur-unsurnya berlangsung melalui ikatan antar
atom unsur-unsur yang menyusun senyawa tersebut.
d. Dalam reaksi kimia tidak ada atom yang hilang, tetapi hanya terjadi
perubahan susunan atom-atom dalam zat tersebut.
Sejak pertengahan abad ke-19, para ilmuwan banyak meneliti daya hantar
listrik dari gas-gas pada tekanan rendah. Pada tahun 1854 tabung lampu gas
pertama kali dirancang oleh Heinrich Geissler (1829-1879) dan dilanjutkan oleh
rekannya, Julius Plucker (1801-1868) dengan membuat beberapa eksperimen
pada tabung gas. Tabung gas ini kemudian lebih dikenal sebagai tabung sinar
katode.

Percobaan Julius Plucker dengan tabung sinar katode, diulang secara

teliti oleh William Crookes (1832-1919) dari Inggris. Hasil eksperimen Crookes
adalah sebagai berikut:
a. Partikel sinar katode bermuatan negatif, sebab tertarik oleh pelat bermuatan
positif
b. Patikel sinar katode mempunyai massa, sebab mampu memutar baling-baling
dalam tabung.
c. Patikel sinar katode dimiliki oleh semua materi, sebab semua bahan yang
digunakan (padat, cair, dan gas) menghasilkan sinar katode yang sama.

2. Model Atom J.J. Thomson


Setelah William Crooker menemukan tabung katode yang lebih baik pada
tahun 1879, maka J.J. Thomson meneliti lebih lanjut tentang sinar katode ini dan
dapat dipastikan bahwa sinar katode merupakan partikel, sebab dapat memutar
baling-baling yang diletakkan di antara katode dan anode. Dari hasil percobaan
itu J.J. Thomson menyatakan bahwa sinar katode merupakan partikel penyusun
atom (partikel sub-atom) yang bermuatan negatif dan selanjutnya disebut
elektron. Atom merupakan partikel yang bersifat netral dan karena elektron
34

bermuatan negatif maka harus ada partikel lain yang bermuatan positif untuk
menetralkan muatan negatif elektron tersebut. Dari penemuannya tersebut J.J.
Thomson mengemukakan teori atomnya yang dikenal sebagai Teori Atom
Thomson. Atom merupakan bola pejal yang bermuatan positif dan di dalamnya
tersebar muatan negatif electron.
Model

atom

Thomson

tidak

berumur panjang. Hanya setelah 10


tahun

dipublikasikan,

ditunjukkan
oleh

salah

Thomson

model

ini

ketidaksempurnaannya
seorang
yang

murid

bernama

J.

J.

Ernest

Rutherford (1871-1937).
3. Model Atom Rutherford
Pada tahun 1911, Rutherford menemukan
bukti bahwa dalam atom terdapat inti atom yang
bermuatan positif yang berukuran jauh lebih
kecil dari pada ukuran atom, tetapi massa atom
hampir seluruhnya berasal dari massa intinya.
Model atom Rutherford menggambarkan atom
terdiri atas inti yang bermuatan positif dan
berada pada pusat atom, serta elektron bergerak melintasi inti, seperti planetplanet mengitari matahari.

Seperti halnya temuan-temuan lain dalam ilmu

pengetahuan, model atom Rutherford mempunyai berbagai kelemahan. Model


atom Rutherford tidak mampu menerangkan apa sebab elektron dalam atom
tidak jatuh ke inti sebagai akibat gerakan mengitari inti yang muatannya
berlawanan (positif). Penyempurnaan model atom Rutherford dilakukan oleh ahli
fisika bangsa Denmark, yang bernama Niels Bohr.

4. Model Atom Bohr


Pada tahun 1913, Niels Bohr berdasarkan hasil percobaannya tentang
spektrum atom hidrogen. Bohr menyatakan bahwa selama mengelilingi inti atom,
elektron tidak kehilangan energi dan berada pada lintasan-lintasan energi
35

tertentu yang disebut orbit atau kulit elektron. Pokok-pokok model atom Bohr
adalah sebagai berikut:
a. Didalam

mengelilingi

menurut

inti

elektron

lintasan(orbit)

penyelidikan

diketahui

bergerak

tertentu,

terdapat

dari
lintasan

elektron.
b. Pada setiap lintasan energi gerak elektron selalu
tetap

besarnya

kehilangan

energi

(elektron
sewaktu

tidak

mengalami

melintas

pada

lintasannya mengelilingi inti. Oleh karena energi elektron pada lintasan selalu
tetap maka elektron tidak akan tertarik masuk ke inti.
c. Lintasan elektron berenergi tetap ini disebut lintasan stasioner atau lebih
sering disebut tingkat energi elektron, atau tingkat energi saja. Tingkat
energi (lintasan elektron) diberi tanda huruf E.
d. Setiap lintasan elektron mempunyai tingkat energi tertentu besarnya.
Tingkat energi E1 yang paling dekat ke inti adalah yang terkecil energinya
yang paling besar energinya adalah tingkat energi yang paling luar 5. Elektron
dapat berpindah dari satu lintasan ke lintasan yang lain, atau dari satu tingkat
energi ke tingkat energi yang lain (tereksitasi).

5. Teori Mekanika Kuantum


Menurut Niels Bohr, elektron beredar mengelilingi inti membentuk orbit
lingkaran dengan jari-jari atom tertentu. Hal ini tidak sesuai fakta bahwa
gerakan elektron menyerupai gelombang elektromagnetik. Gelombang tidak
bergerak menurut suatu garis melainkan menyebar pada suatu daerah tertentu.
Tidak mungkin membayangkan suatu gelombang yang bergerak pada satu
lingkaran dan selalu pada pada lingkaran itu.
Pada tahun 1927 Erwin Schrodinger, seorang ahli matematika dari Austria
mengajukan teori atom yang disebut teori atom Mekanika Kuantum. Menurut
36

teori ini, kedudukan elektron dalam atom tidak dapat ditentukan dengan pasti,
yang dapat ditentukan adalah probabilitas menemukan elektron pada posisi dan
waktu tertentu. Daerah dengan probabilitas
terbesar

menemukan

elektron

itu

disebut

orbital. Orbital digambarkan seperti awan yang


ketebalannya

menyatakan

kebolehjadian

menemukan elektron di daerah itu. Bentuk dan


tingkat

energi

elektron

diperoleh

dari

persamaan gelombang ketidakpastian.


Kemudian

pada

tahun

1927 Werner

Heisenberg seorang ahli fisika dari Kopenhagen Denmark menguatkan teori atom
Mekanika

Kuantum

dengan

munculnya asas ketidakpastian.


Heisenberg
bahwa

mengemukakan
semua

metode

yang

digunakan

eksperimen

untuk menentukan posisi atau


momentum

suatu

elektron

dapat menyebabkan perubahan


baik posisi atau momentumnya.
Heisenberg

mengembangkan

persamaanpersamaan matematika untuk menunjukkan bahwa tidak ada metode


eksperimen yang dapat dirancang untuk mengukur dengan serempak posisi
maupun momentum elektron. Jika eksperimen dirancang untuk memastikan
momentum atau kecepatan elektron ,maka posisinya menjadi tidak pasti.
Model atom mekanika kuantum mempunyai persamaan dengan model atom
Bohr dalam hal adanya tingkat-tingkat energi. Setelah membahas tentang
sejarah mekanika kuantum, saatnya kita mempelajari mekanisme yang terjadi di
dalamnya. Mekanisme utama yang menjadi topik pembahasan dalam mekanika
kuantum adalah elektron. Banyak hal-hal yang harus diperhatikan dalam
membahas elektron ini, salah satunya dengan memperhatikan bilangan-bilangan
kuantumnya.

37

D. PARTIKEL PENYUSUN ATOM


1. Elektron
Elektron adalah partikel penyusun atom yang bermuatan listrik negatif.
Penemuan elektron bermula dengan diketemukannya tabung katode yang
memancarkan sinar hijau lemah. Tabung katode terbuat dari dua kawat yang
diberi potensial listrik yang cukup besar dalam tabung kaca sehingga dapat
terjadi perbendaharaan cahaya.J.J. Thomson meneliti lebih lanjut tentang sinar
katode ini dan dapat dipastikan bahwa sinar
katode merupakan partikel, sebab dapat
memutar baling-baling yang diletakkan di
antara

katode

dan

anode.

Dari

hasil

percobaan itu J.J. Thomson menyatakan


bahwa

sinar

katode

merupakan

partikel

penyusun atom (partikel sub-atom) yang


bermuatan negatif dan selanjutnya disebut
electron.
Elektron memiliki massa 9,11 x 10-28 gram, kira-kira 1/1837 kali massa
proton. Dalam suatu atom yang netral. Jumlah elektron harus sama dengan
jumlah proton. Oleh karena itu, nomor atompun menyatakan jumlah elektron.
Penyelidikan lebih lanjut mengenai elektron ini dilakukan oleh Robert A. Milikan
(1908 - 1917) yang dikenal dengan percobaan tetes minyak Milikan. Dari
percobaan tersebut Milikan berhasil menemukan muatan setiap tetes minyak.
Muatan-muatan tersebut merupakan kelipatan dari bilangan yang sangat kecil,
yaitu 1,59 x 10-19 C. Berdasarkan percobaan Milikan tersebut disimpulkan bahwa
muatan 1 elektron adalah 1,59 x 10-19 coloumb dan selanjutnya disebut dengan 1
satuan muatan elektron (1 s.m.e).
2. Inti Atom (Proton dan Neutron)
Penemuan elektron oleh Thomson menyebabkan para ahli semakin yakin
bahwa atom tersusun oleh partikel-partikel sub-atom yang lebih kecil ukurannya.
Oleh karena itu, penelitian sinar katode dilakukan lebih mendalam. Pada tahun
1886, Eugen Goldstein memodifikasi tabung sinar katode dengan melubangi
lempeng katodenya. Dari percobaan tersebut, Goldstein menemukan sinar yang
38

arahnya berlawanan dengan sinar karode melalui lubang katode tersebut. Oleh
karena sinar ini melewati lubang (kanal) yang dibuat pada lempengan katode,
maka sinar ini tersebut sinar kanal.
Pada tahun 1989, Wilhelm Wien menunjukkan bahwa sinar kanal merupakan
partikel yang bermuatan positif. Sinar kanal ini disebut proton. Sifat proton ini
tergantung gas yang diisikan pada tabung katode. Dari penelitiannya terhadap
atom hidrogen dapat ditentukan bahwa massa proton adalah 1.837 kali massa
elektron.

Penemuan

proton

oleh

Goldstein

ini

menimbulkan

pertanyaan,

bagaimanahkah kedudukan masing-masing partikel tersebut di dalam atom. Untuk


mengetahui kedudukan partikel-partikel tersebut Ernest Rutherford bersama
dua orang muridnya (Hans Geiger dan Ernest Marsden). Melakukan percobaan
yang dikenal dengan hamburan sinar alfa terhadap lempeng tipis emas.
Dari pengamatan mereka didapatkan fakta bahwa apabila partikel alfa
ditembakan (dihamburkan) pada lempeng emas yang sangat tipis, maka sebagian
besar partikel alfa diteruskan (ada penyimpangan sudut kurang dari 1), tetapi
dari pengamatan Marsden diperoleh fakta bahwa satu di antara 20.000 partikel
alfa akan membelok dengan sudut 90 bahkan lebih. Berdasarkan gejala-gejala
yang terjadi diperoleh kesimpulan, antara lain sebagai berikut:
a. Atom bukan merupakan bola pejal, karena hampir semua partikel alpa
diteruskan.
b. Jika lempengan emas tersebut dianggap sebagai satu lapisan atom-atom emas,
maka dalam atom emas terdapat partikel yang sangat kecil yang bermuatan
positif.
c. Partikel tersebut merupakan partikel yang menusun suatu inti atom,
berdasarkan fakta bahwa 1 dari 20.000 partikel alpa akan dibelokan, bila
perbandingan

20.0000,

merupakan

perbandingan

diameter

maka

didapatkan ukuran inti atom kira-kira 10.000 lebih kecil dari ukuran atom
keseluruhan.
Dari percobaan tersebut Rutherford dapat memperkirakan jari-jari atom
kira-kira 10-8 cm dan jari-jari inti kira-kira 10-13 cm. Dugaan tersebut baru
dapat dibuktikan oleh James Chadwick pada tahun 1932, berdasarkan
perhitungan terhadap massa atom dan percobaan hamburan partikel alfa
39

terhadap boron dan parafin.

Partikel netral yang menyusun inti atom dinamakan

neutron, sedangkan partikel positif yang telah diketemukan lebih dahulu oleh
James Chadwick dan Wilhelm Wien disebut proton. Jadi di dalam ini atom
terdapat

proton yang bermuatan positif dan neutron yang tidak bermuatan

(netral).
Berdasarkan fakta-fakta yang didapatkan dari percobaan tersebut,
Rutherford mengusulkan model atom yang dikenal sebagai Model Atom
Ruterhford yang menyatakan bahwa atom terdiri dari inti atom yang sangat kecil
dan bermuatan positif, dikelilingi oleh elektron yang bermuatan negatif.
Rutherford menduga bahwa di dalam inti atom terdapat partikel netral yang
berfungsi mengikat partikel- partikel positif agar tidak saling tolak menolak.
Massa elektron sangat kecil dibandingkan dengan massa proton dan massa
neutron. Oleh karena itu, massa elektron dapat diabaikan terhadap massa atom
secara keseluruhan.

E. LAMBANG ATOM
1. Nomor Atom Moseley
Pada tahun 1913, Hendry Moseley seorang ahli fisika berkebangsaan
Inggris, menemukan bahwa jumlah muatan positif dalam inti atom merupakan
sifat khas masing-masing unsur. Atom-atom dari unsur yang sama memiliki jumlah
muatan positif yang sama. Moseley sendiri mengusulkan istilah Nomor Atom
disimbolkan dengan huruf Z, untuk menyebutkan jumlah muatan positif dalam inti
atom. Jumlah muatan positif yang dikemukakan oleh Moseley disebut dengan
Proton adapun jumlah nukleon (jumlah proton dan neutron) dalam inti atom
40

disebut Massa Atom atau Nomor Massa disimbolkan dengan huruf A. Tanda atom
yang lengkap ditulis sebagai berikut:

2. Menentukan Jumlah Proton, Elektron dan Neutron


Pada atom netral:
Jumlah proton

= Jumlah Elektron = Nomor atom.

Jumlah neutron = Nomor Massa ( A ) - Nomor Atom ( Z ).


Pada atom bermuatan positif (ion positif):
Jumlah proton

= Nomor atom

Jumlah elektron = Nomor Atom ( Z ) - Jumlah Muatan


Jumlah neutron = Nomor Massa ( A ) - Nomor Atom ( Z )
Pada atom bermuatan negatif (ion negatif):
Jumlah proton

= Nomor atom

Jumlah elektron = Nomor Atom ( Z ) + Jumlah Muatan


Jumlah neutron = Nomor Massa ( A ) - Nomor Atom ( Z )
Contoh: Hitunglah jumlah proton, jumlah elektron dan jumlah neutron pada
masing-masing atom dibawah ini.

a.

23
11

Na

b.

80
35

Br

c.

14
7

Jawab:
41

F. ISOTOP, ISOTON, DAN ISOBAR


Atom-atom suatu unsur dapat mempunyai nomor atom yang berbeda,
karena jumlah neutron dalam atom tersebut berbeda. Selain itu, atom-atom yang
berbeda dapat mempunyai nomor massa dan jumlah neutron yang sama.
1. Isotop
Isotop adalah atom-atom yang mempunyai nomor atom yang sama, namun
mempunyai massa atom yang berbeda atau unsur-unsur sejenis yang memiliki
jumlah proton sama, tetapi jumlah neutron yang berbeda. Diketahui bahwa nomor
atom merupakan identitas dari atom, sehingga setiap atom yang mempunyai
nomor atom yang sama maka unsurnya pun sama. Sebagai contoh atom-atom yang
memiliki isotope dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

42

2. Isoton
Isoton adalah atom dari unsur yang berbeda (mempunyai nomor atom
berbeda), tetapi mempunyai jumlah neutron yang sama.Karena nomor atomnya
berbeda maka sifat-sifatnya juga berbeda. Contoh atom yang termasuk dalam
isoton dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

3. Isobar
Isobar adalah atom dari unsur yang berbeda (mempunyai nomor atom
berbeda) tetapi mempunyai jumlah nomor massa yang sama. Contoh atom yang
termasuk dalam isoton dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Menentukan massa atom realtif unsur (Ar)

43

Massa atom relatif adalah massa suatu atom jika dibandingkan dengan
massa atom acuan. Namanya juga relatif, jadi tergantung pada yang melihat
(atom yang jadi acuan). Awalnya penentuan massa atom relatif suatu unsur kimia
menggunakan pembanding atom hidrogen. Kemudian sejak 62 tahun yang lalu
tepatnya

tahun

1961

posisi

hidrogen

sebagai

pembanding

oleh

IUPAC

(International Union for Pure and Applied Chemistry ) diganti oleh atom karbon
C12. Dipilihnya atom karbon karena atom dari karbon lebih stabil. Massa atom
relatif dilambangkan dengan Ar dengan satuan sma (satuan massa atom). Cara
menentukan massa atom relatif dengan menggunakan rumus massa atom relatif:

Massa atom C12 = 1,993 x 10-23 g


1
1
Jadi 12 massa atom C12 = 12 x 1,993 x 1023

= 1,661 x 10-24 g (nilai 1 sma)

Satuan sma tidak pernah dicantumkan dalam tabel periodik unsur. Jika
sobat melihat dalam tabel Natrium memiliki nomor massa 23, maka artinya massa
satu atom dari unsur natrium adalah 23 kali dari 1/12 massa atom C 12. Coba sobat
hitung ingat lagi materi isotop, isoton, dan isobar. Massa atom dari sebuah unsur
yang dibandingkan dengan 1/12 massa atom C12 adalah massa atom rata-rata dari
isotop-isotop unsur tersebut di alam. Jadi untuk menentukan massa atom relatif
suatu unsur yang memiliki beberapa isotop dapat menggunakan rumus massa

atom relative:

Contoh:
1. Tentukan Ar unsur A bila massa rata-rata 1 atom unsur A adalah 2,66.10-23
gram!

44

Jawab:

2,66 x 1023
1
24
x 1,993 x 10
12

= 16,014

2. Unsur Cl di alam terdiri dari 75% isotop

35

Cl (bermassa 35) dan 25% isotop

Cl (bermassa 37) . Tentukan Ar Cl !

37

Jawab:
Ar Cl =

( x Cl35 ) +( x Cl37)
100

(75 x 35)+(25 x 37)


100

2625+(925)
100

3550
100

35,50

3. Galium terdiri atas isotop Ga-69 dan Ga-71,sedangkan massa atom relatif Ga
adalah

69,8.

Tentukan

kelimpahan

masing-masing

isotop

galium

itu!

Jawab:
Misalkan kelimpahan isotop Ga-69 adalah x%, maka kelimpahan isotop Ga-71
adalah (100-x)% Maka:
Ar Ga =

( x Ga69 )+( x Ga71)


100

( X . 69 )+ ( 100X ) . 71

69,8 =
100
6980 = 69X + 7100 71X
-2x

x = 60 % kelimpahan Ga69
% kelimpahan Ga-71 = 100 X
= 100 60
= 40%

= -120
45

G. KONFIGURASI ELEKTRON
Konfigurasi elektron adalah distribusi elektron dari atom atau molekul
pada sebuah orbital. Konfigurasi elektron menggambarkan elektron yang
bergerak secara bebas dalam suatu orbital.
Sama seperti partikel elementer lainnya, elektron patuh pada hukum
mekanika kuantum dan menampilkan sifat-sifat seperti partikel maupun seperti
gelombang. Secara formal, keadaan kuantum elektron tertentu ditentukan oleh
fungsi gelombangnya, yaitu sebuah fungsi ruang dan waktu yang bernilai
kompleks. Menurut interpretasi mekanika kuantum Copenhagen, posisi sebuah
elektron tidak bisa ditentukan kecuali setelah adanya aksi pengukuran yang
menyebabkannya untuk bisa dideteksi. Probabilitas aksi pengukuran akan
mendeteksi sebuah elektron pada titik tertentu pada ruang adalah proporsional
terhadap kuadrat nilai absolut fungsi gelombang pada titik tersebut.
Elektron-elektron dapat berpindah dari satu tingkat energi ke tingkat
energi yang lainnya dengan emisi atau absorpsi kuantum energi dalam bentuk
foton. Oleh karena asas larangan Pauli, tidak boleh ada lebih dari dua elektron
yang dapat menempati sebuah orbital atom, sehingga elektron hanya akan
meloncat dari satu orbital ke orbital yang lainnya hanya jika terdapat
kekosongan di dalamnya.

1. Kulit Elektron
Percobaan-percobaan selanjutnya mengenai model atom bertujuan untuk
mengetahui bagaimana partikel-partikel penyusun atom itu tersusun di dalam
suatu atom. Niels Bohr melalui percobaannya tentang spektrum atom hidrogen
berhasil memberikan gambaran keadaan elektron dalam menempati daerah di
sekitar inti atom. Berdasarkan pengamatan terhadap spektrum atom hidrogen,
Niels Bohr berhasil menyusun model atom yang dikenal sebagai model atom Bohr.
Menurut model atom Bohr, elektron-elektron mengelilingi inti pada lintasanlintasan tertentu yang disebut kulit elektron atau tingkat energi. Tingkat energi
paling rendah adalah kulit elektron yang terletak paling dalam, makin ke luar
makin besar nomor kulitnya dan makin tinggi tingkat energinya. Kulit elektron
diberi simbol (lambang), untuk kulit pertama (paling dekat dengan inti) diberi
46

lambang K, kulit kedua diberi lambang L, kulit ketiga M, dan seterusnya. Tiap
kulit elektron hanya dapat ditempati elektron maksimum 2n2, dengan n adalah
nomor kulit. Kulit dan jumlah elektron maksimum dapat dilihat pada tabel
dibawah ini. sehingga konfigurasi electron digunakan untuk menggambarkan
distribusi elektron dalam atom.

Elektron-elektron akan menempati kulit elektron dimulai dari kulit K


sampai terisi maksimum, kemudian kulit L sampai terisi maksimum, dan
seterusnya. Penempatan elektron sampai penuh akan terjadi pada kulit K, L, dan
M, sedangkan untuk kulit-kulit keempat (kulit N) sudah akan terisi bila kulit M
sudah terisi 8 elektron. Konfigurasi elektron seperti pada gambar di atas dapat
ditulis dengan singkat sebagai berikut.

Contoh: Tuliskan konfigurasi elektron dari 12Mg dan 19K


Jawab:

Mg = 2, 8, 2

12

19

K = 2, 8, 8, 1

Pada atom K tidak membentuk konfigurasi 2, 8, 9 sebab mulai kulit ketiga


dan seterusnya jika sisa dari kulit L lebih dari 8 tetapi kurang dari 18,maka
diisikan 8 saja dan elektron berikutnya akan menempati kulit N. Jumlah elektron
yang menempati kulit terluar disebut elektron valensi. Jadi, elektron valensi
atom Mg adalah 2 dan elektron valensi atom K adalah 1. Konfigurasi elektron dari
beberapa unsur dalam golongan Alkali dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
47

Menentukan golongan dan periode suatu unsur dengan konfigurasi electron


cara kulit elektron:

Catatan:
Elektron valensi adalah electron yang paling luar/electron urutan yang
terakhir
Golongan

diperoleh dari elektron valensi

Periode

diperoleh dari jumlah kulit elektron yang terisi

2. Sub Kulit Elektron


48

Subkulit elektron merupakan sekelompok orbital-orbital yang mempunyai


label orbital yang sama, yakni yang memiliki nilai n dan l yang sama. Sehingga tiga
orbital 2p membentuk satu subkulit, yang dapat menampung enam elektron.
Jumlah elektron yang dapat ditampung pada sebuah subkulit berjumlah 2(2 l+1);
sehingga subkulit "s" dapat menampung 2 elektron, subkulit "p" 6 elektron,
subkulit "d" 10 elektron, dan subkulit "f" 14 elektron.
Jumlah elektron yang dapat menduduki setiap kulit dan subkulit berasal
dari persamaan mekanika kuantum, terutama asas larangan Pauli yang menyatakan
bahwa tidak ada dua elektron dalam satu atom yang bisa mempunyai nilai yang
sama pada keempat bilangan kuantumnya.
a. Aturanaturan Penulisan Konfigurasi Elektron dengan Sub Kulit

Azas Aufbau

Pengisian orbital selalu dimulai dari subkulit dengan tingkat energi yang
rendah kemudian ke tingkat energi yang lebih tinggi. Urutanurutan tingkat
energi ditunjukkan oleh gambar berikut:

Diagram Mnemonik Moeler


Urutan-urutan tingkat energi subkulit sesuai dengan diagram adalah: 1s, 2s, 2p,
3s, 3p, 4s, 3d, 4p, 5s, 4d, 5p, 6s, 4f, 5d, 6p, 7s, 5f, 6d, 7p.

Azas larangan Pauli


49

Tidak ada dua elektron dalam satu atom yang mempunyai bilangan kuantum
spin yang sama. Dua elektron yang menempati satu orbital mempunyai bilangan
kuantum utama, azimuth dan magnetik yang sama, dan mempunyai spin yang
berbeda. Kedua elektron ini disebut berpasangan dan dapat dinyatakan dengan
gambar berikut.
1.
2. Gambar Spin Up dan Spin Down
3. Dengan demikian satu orbital hanya dapat ditempati oleh dua elektron.
Jadi, jumlah maksimum elektron pada setiap subkulit sama dengan dua kali
jumlah orbitalnya.

Kaidah Hund

Pada pengisian orbital-orbital dari satu subkulit, mula-mula elektron akan


menempati orbital secara sendiri-sendiri dengan spin yang parallel, baru
kemudian berpasangan. Hal ini akan meminimalkan tolak menolak antara elektron
tersebut.
Contoh:

nomor

atom

konfigurasi

elektronnya

1s 2 2s2 2p3.

Bentuk orbitalnya sebagai berikut.

Gambar orbital sub kulit:

1s2

2s2

2p3

Aturan penuh dan setengah penuh yang stabil untuk orbital d


Contoh : Cr nomor atom 24 dengan konfigurasi sebagai berikut:

Aturan ini hanya berlaku jika unsur memiliki konfigurasi dengan dua electron
terluarnya:

50

b. Beberapa Catatan tentang Konfigurasi Elektron


1. Ada dua cara menuliskan urutan subkulit
Contoh : menuliskan konfigurasi elektron scandium nomor atom =21.

2. Menyingkat

Penulisan

Konfigurasi

Elektron

dengan

Menuliskan

Konfigurasi Elektron Gas Mulia


Acuan:

3. Konfigurasi Elektron Ion


Unsur yang mengalami ionisasi akan mengalami perubahan jumlah elektron.
Sebagai contoh adalah besi (Fe) yang mempunyai nomor atom 26
mempunyai konfigurasi elektron [Ar]3d64s2. Jika Fe terionisasi menjadi
Fe2+, maka elektron Fe berkurang 2 buah dari jumlah asalnya. Maka
konfigurasi elektron Fe2+ adalah [Ar]3d6. Ingat, jika sebuah atom
mengalami ionisasi, yang berkurang adalah elektron valensi (elektron
terluar).
Menentukan Golongan dan Periode Suatu Unsur

51

Unsur Golongan Utama (A) memiliki konfigurasi terluar s atau s p


Unsur Golongan Transisi (B) memiliki konfigurasi terluar s d
Contoh:
Tentukan letak unsur

Fe dalam tabel periodic unsur!

26

Golongan diperoleh dengan menjumlahkan elektron pada dua subkulit paling


luar yaitu 2+6=8, karena s d maka golongan unsur

26

Fe adalah VIIIB.

Periode diperoleh dari nomor subkulit yang paling besar, sehingga unsur
Fe terletak pada periode 4.

26

Diagram Orbital
Pada pengisian orbital-orbital dari satu subkulit, mula-mula elektron akan
menempati orbital secara sendiri-sendiri dengan spin yang parallel, baru
kemudian berpasangan. Hal ini akan meminimalkan tolak menolak antara elektron
tersebut.
Contoh:

nomor

atom

konfigurasi

elektronnya

1s 2 2s2 2p3.

Bentuk orbitalnya sebagai berikut.

Diagram orbital sub kulit:

1s2

2s2

2p3
52

H. BILANGAN KUANTUM
Hipotesis Louis de Broglie dan azas ketidakpastian dari Heisenberg
merupakan dasar dari model Mekanika Kuantum (Gelombang) yang dikemukakan
oleh Erwin Schrodinger pada tahun1927, mengajukan konsep orbital untuk
menyatakan kedudukan elektron dalam atom. Orbital menyatakan suatu daerah
dimana elektron paling mungkin (peluang terbesar) untuk ditemukan.
Persamaan gelombang (=psi) dari Erwin Schrodinger menghasilkan tiga
bilangan gelombang (bilangan kuantum) untuk menyatakan kedudukan (tingkat
energi, bentuk, serta orientasi) suatu orbital. Bilangan kuantum adalah suatu
value (nilai bilangan) yang menunjukkan keadaan/kedudukan elektron dalam suatu
atom.
h2 2
2
2
+
+
+V =E
8 2 m x2 y2 x2

x, y, z = ketiga sumbu pada 3 dimensi


= fungsi gelombang
m = massa elektron
h = konstanta Planck = 6,63 x 10-34 J.s
E = energy total
V = energy potensial

Adapun 3 (tiga) bilangan kuantum yang diusulkan oleh Erwin Schrodinger


adalah, yaitu Bilangan Kuantum Utama (n), Bilangan Kuantum Azimut (l), dan
Bilangan Kuantum Magnetik (m)

53

Penemuan Heisenberg tentang dualisme materi dan energi menunjukkan


bahwa model atom Bohr tidak tepat lagi. Bersama-sama Schrodinger, Heisenberg
membuat model atom yang lebih dikenal dengan model atom mekanika gelombang
(kuantum) atau model modern.
dapat

dipastikan

tempatnya,

Menurut model atom modern, elektron tidak


hanya

dapat

ditentukan

keboleh-jadian

(kemungkinan) terbesar elektron berada yang disebut orbital.


1. Bilangan kuantum utama (n)
Bilangan kuantum utama (primer) digunakan untuk
menyatakan tingkat energi utama yang dimiliki oleh elektron
dalam sebuah atom. Bilangan kuantum utama tidak pernah
bernilai nol. Semakin tinggi nilai n semakin tinggi pula energi
elektron. Untuk sebuah atom, nilai bilangan kuantum utama
berkisar dari 1 ke tingkat energi yang mengandung elektron
terluar. Bilangan kuantum utama mempunyai nilai sebagai
bilangan bulat positif 1, 2, 3, dst. Nilai-nilai tersebut
melambangkan K, L, M, dst.

2. Bilangan Kuantum Azimuth (l)


Bilangan kuantum azimut sering disebut dengan bilangan kuantum angular
(sudut). Energi sebuah elektron berhubungan dengan gerakan orbital yang
digambarkan

dengan

momentum

sudut.

Momentum

sudut

tersebut

dikarakterisasi menggunakan bilangan kuantum azimut. Bilangan kuantum azimut


menyatakan bentuk suatu orbital dengan simbol .
Bilangan kuantum azimut juga berhubungan dengan jumlah subkulit. Nilai
ini menggambarkan subkulit yang dimana elektron berada. Untuk subkulit s, p, d,

f, bilangan kuantum azimut berturut-turut adalah 0, 1, 2, 3.

54

3. Bilangan Kuantum Magnetik ( m )


Bilangan kuantum magnetik menyatakan tingkah laku elektron dalam medan
magnet. Tidak adanya medan magnet luar membuat elektron atau orbital
mempunyai nilai n dan yang sama tetapi berbeda m. Namun dengan adanya
medan magnet, nilai tersebut dapat sedikit berubah. Hal tersebut dikarenakan
timbulnya interaksi antara medan magnet sendiri dengan medan magnet luar.
Bilangan kuantum magnetik ada karena momentum sudut elektron,
gerakannya berhubungan dengan aliran arus listrik. Karena interaksi ini, elektron
menyesuaikan diri di wilayah tertentu di sekitar inti. Daerah khusus ini dikenal
sebagai orbital. Orientasi elektron di sekitar inti dapat ditentukan dengan
menggunakan bilangan kuantum magnetik m.

4. Bilangan Kuantum Spin (s)


Bilangan kuantum ke-4 ini diusulkan oleh George Uhlenbeck, Samuel
Goudsmit Otto Stern, dan Walter Gerlach pada tahun 1925. Bilangan kuantum
spin terlepas dari pengaruh momentum sudut. Hal ini berarti bilangan kuantum
55

spin tidak berhubungan secara langsung dengan tiga bilangan kuantum yang lain.
Bilangan kuantum spin bukan merupakan penyelesaian dari persamaan gelombang,
tetapi didasarkan pada pengamatan Otto Stern dan Walter Gerlach terhadap
spektrum yang dilewatkan pada medan magnet, ternyata terdapat dua spektrum
yang terpisah dengan kerapatan yang sama. Terjadinya pemisahan garis
spektrum oleh medan magnet dimungkinkan karena elektron-elektron tersebut
selama mengelilingi inti berputar pada sumbunya dengan arah yang berbeda.
Berdasarkan hal ini diusulkan adanya bilangan kuantum spin untuk menandai arah
putaran (spin) elektron pada sumbunya.
Bilangan Kuantum Spin menyatakan arah putar elektron terhadap
sumbunya sewaktu elektron berputar mengelilingi inti atom. Jadi, hanya ada
dua kemungkinan arah rotasi elektron, yaitu searah jarum jam dan berlawanan
dengan arah jarum jam, maka probabilitas elektron berputar searah jarum jam
adalah dan berlawanan jarum jam 1/2 . Untuk membedakan arah putarnya maka
diberi tanda positif (+) dinyatakan dengan arah panah ke atas dan negatif ( )
dinyatakan dengan arah panah ke bawah. Oleh karena itu dapat dimengerti bahwa
satu orbital hanya dapat ditempati maksimum dua elektron.

Bentuk dan Orientasi Orbital


Bentuk orbital tergantung pada bilangan kuantum azimuth (l) artinya
orbital dengan bilangan kuantum yang sama akan mempunyai bentuk yang sama.
Orbital 1s, 2s dan 3s mempunyai bentuk yang sama, tetapi ukuran dan tingkat
energinya berbeda.

56

Contoh:
1. Bagaimana menyatakan keempat bilangan kuantum dari elektron 3s 1 ?

Jawab:
Keempat bilangan kuantum dari kedudukan elektron 3s 1 dapat dinyatakan
sebagai: n= 3; l = 0; m = 0; s = + atau .
2. Tentukan keempat bilangan kuantum pada elektron terluar pada kulit terluar
X!
Jawab:
X =[Ne]3s 3p
Sehingga keempat bilangan kuantumnya menjadi: s = +1/2; n = 3 ; l =1 ; m =+1
3. Elektron dengan bilangan kuantum n=3, l=2, m=0, s= + terletak pada Golongan
dan Periode berapa?
Jawab:
. . . 4s2 3d3
57

-2

-1

+1

+2

Golongan VB, Periode 4


4. Dari soal no.3 tentukan nomor atom dari unsur tersebut!
Jawab:
Berdasarkan soal no.3 diperoleh elektron terluarnya yaitu 4s 2 3d3, maka
tinggal dilanjutkan sampai konfigurasi awal yaitu di 1s 2, sehingga konfigurasi
elektron lengkapnya yaitu:
1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d3
Kemudian menjumlahkan semua elektronnya dan diperoleh jumlah totalnya
adalah 23. Jumlah ini sebagai nomor atom dari unsur tersebut.
5. Dari soal no.3, jika diketahui jumlah neutron dari unsur tersebut adalah 27,9
maka tentukan nomor massa unsur tersebut!
Jawab:
Berdasarkan jawaban dari soal no.3 dan no.4, diperoleh bahwa nomor atom
unsur tersebut yaitu 23, sehingga:
Massa atom = neutron + nomor atom
= 27,9 + 23
= 50,9

58

BAB 5
REAKSI REDOKS (REDUKSI-OKSIDASI)
1. Pengertian Redoks
Reaksi dengan oksigen lazim disebut reaksi oksidasi. Sebaliknya, reaksi
pelepasan oksigen disebut reduksi. Pengertian oksidasi reduksi itu sendiri telah
mengalami perkembangan menjadi serah terima elektron dan perubahan bilangan
oksidasi (biloks).
A. Oksidasi-Reduksi sebagai Pengikatan dan Pelepasan Oksigen

Oksidasi adalah pengikatan oksigen


Reduksi adalah pelepasan oksigen
Contoh oksidasi:
1. Perkaratan logam, misalnya besi.
4Fe(s) + 3O2(g) 2Fe2O3(s)
2. Pembakaran gas alam (CH4)
CH4(g) + 2O2(g) CO2(g) + 2H2O(g)
3. Oksidasi glukosa dalam tubuh
C6H12O6(aq) + 6O2(g) 6CO2(g) + 6H2O(l)
4. Oksidasi belerang oleh KClO3
3S(s) + 2KClO3(s) 2KCl(s) + 3SO2(g)
Sumber oksigen pada reaksi oksidasi disebut oksidator.
Contoh reduksi:
1. Reduksi bijih besi (Fe2O3, hematit) oleh karbon monoksida (CO).
Fe2O3(s) + 3CO(g) 2Fe(s) + 3CO2(g)
2. Reduksi kromium (III) oksida oleh alumunium.
Cr2O3(s) + 2Al(s) Al2O3(S) + 2Cr(s)
3. Reduksi tembaga (II) oleh gas hidrogen.
CuO(s) + H2(g) Cu(s) + H2O(g)
Zat yang menarik oksigen pada reaksi reduksi disebut oksidator.

59

B. Oksidasi-Reduksi sebagai Pelepasan dan Penerimaan Elektron.


Dalam ikatan kimia, telah kita pelajari bahwa reaksi antara unsur logam
dengan nonlogam terjadi dengan cara serah terima elektron.
Oksidasi adalah pelepasan elektron.
Reduksi adalah penyerapan elektron.

Reaksi kalsium dengan oksigen

Ca:
O:O: 2O

Reduktor

::

Oksidator

Oksidasi

hasil oksidasi

Ca2+
hasil reduksi

Reduksi

Pada contoh di atas, kalsium dioksidasi oleh oksigen. Oleh karena itu, oksigen
merupakan pengoksidasi atau oksidator. Sedangkan belerang direduksi oleh
kalsium yang merupakan pereduksi atau reduktor.
Reaksi kalsium dan oksigen terdiri dari setengah reaksi berikut:
Oksidasi :

Ca Ca2+

2e-

Reduksi :

O + 2e-

Redoks :

Ca + O Ca2+ + O2-

O2-

Oksidator = menangkap elektron, mengalami reduksi.


Reduktor = melepas elektron, mengalami oksidasi.
C. Oksidasi-Reduksi sebagai Pertambahan dan Penurunan Bilangan Oksidasi
Oksidasi = pertambahan bilangan oksidasi.
Reduksi = penurunan bilangan oksidasi
60

Perhatikan kembali reaksi kalsium dengan belerang membentuk kalsium


sulfida berikut:

Ca:
O:O: 2O

Reduktor

::

Oksidator

Oksidasi

hasil oksidasi

Ca2+
hasil reduksi

Reduksi

Setelah melepas 2 elektron, bilangan oksidasi kalsium naik dari 0 menjadi +2.
Sedangkan bilangan oksidasi belerang turun dari 0 menjadi -2. Jadi, dalam
reaksi itu kalsium mengalami oksidasi (pertambahan biloks) dan belerang
mengalami reduksi (penurunan biloks).
Oksidator

= mengalami penurunan bilangan oksidasi

Reduktor

= mengalami pertanbahan bilangan oksidasi.

2. Konsep Bilangan Oksidasi


A. Pengertian Bilangan Oksidasi
Besarnya muatan yang dimiliki oleh suatu atom dalam suatu senyawa, jika
semua elektron didistribusikan pada unsur yang lebih elektronegatif
disebut bilangan oksidasi.
B. Aturan Menentukan Bilangan Oksidasi
Dengan mempertimbangkan keelektronegatifan unsur, dapat disimpulkan
suatu aturan untuk menentukan bilangan oksidasi sebagai berikut:
1. Unsur bebas(H, N, Fe, C, S dll) mempunyai biloks = 0
2. Bilangan oksidasi unsur logam selalu bertanda positif
3. Bilangan oksidasi suatu unsur dalam suatu ion tunggal sama dengan
muatannya.
4. Unsur H mempunyai bilangan oksidasi= +1, kecuali dalam bersenyawa
dengan logam, bilangan oksidasi= -1.
5. Bilangan oksidasi O= -2, kecuali dalam:
a. F2O , BO= +2
61

b. Peroksida H2O2 , b.o= -1


c. Superoksida KO2 , b.o= -1/2
6. Jumlah bilangan oksidasi unsur-unsur dalam senyawa = 0
7. Jumlah bilangan oksidasi unsur-unsur dalam suatu ion poliatom =
muatannya.
Contoh soal 1.1, menentukan bilangan oksidasi
Tentukan bilangan oksidasi unsur yang dicetak miring pada zat/ spesi
berikut:
a. CH4

c. SF6

b. Cr2O7-

d. BaO2

Jawab:
a. CH4

= bilangan oksidasi (bo) H= +1


b.o C + (4 x b.o H) = 0
b.o C + (4 x (+1) = 0
maka b.o C= -4

b. Cr2O72- = bilangan oksidasi (bo) O= -2


(2 x b.o Cr) + (7 x b.o (-2)) = -2
2 x b.o Cr = +12
maka b.o Cr= +6
c. SF6

= bilangan oksidasi (bo) F= -1


b.o S + (6 x b.o (-1)) = 0
maka b.o S= +6

d. BaO2

= bilangan oksidasi (bo) Ba= +2


(+2) + (2 x b.o O) = 0
2 x b.o O = -2
maka b.o O= -1

Contoh soal 1.2. menentukan oksidator dan reduktor dalam reaksi


redoks.
Tentukan reduktor, oksidator, hasil oksidasi, dan hasil reduksi pada
reaksi redoks berikut.
62

a. CuO(s) + H2(g) Cu(s) + H2O(g)


b. Cu(s) + 4HNO3(aq) Cu(NO3)2(aq) + 2NO2(g) + 2H2O(l)
Jawab:
Langkah pertama yang harus dilakukan yaitu menentukan unsur yang
mengalami perubahan bilangan oksidasi
a. +2

CuO(s) +

H2(g)

reduksi

+1

Cu(s) +

H2O(g)

oksidasi

Reduktor

: H2

hasil oksidasi

Oksidator : CuO

hasil reduksi : Cu

b. 0

+2

+5

Cu(s)

+ 4HNO3(aq)

+4
Cu(NO3)2(aq) +

Oksidasi
Reduktor

: H2 O

2NO2(g) +

2H2O(l)

Reduksi
: Cu

hasil oksidasi

Oksidator : HNO3

: Cu (NO3)2

hasil reduksi : NO2

3. Reaksi disproporsionasi dan konproporsionasi


Reaksi

disproporsionasi

adalah

reaksi

redoks

yang

oksidator

dan

reduktornya merupakan zat yang sama. Contoh:


Reaksi antara klorin dengan larutan NaOH:
1
Cl2(g)

-1

+1

+ 2 NaOH(aq) NaCl(aq) +
Reduksi

NaClO(aq) + H2O(l)

oksidasi

Reaksi konproporsionasi merupakan kebalikan dari reaksi disproporsionasi,


yaitu reaksi redoks yang mana hasil reduksi dan oksidasinya sama. Contoh :
Reaksi Antara hidrogen sulfida dengan belerang dengan belerang dioksida
menghasilkan belerang dan air.

63

-2
2H2S(g) +

+4

SO2(g)

3S(S) + 2H2O(g)

Oksidasi
Reduksi
Pada contoh tersebut, hasil reduksi dan oksidasinya merupakan zat yang
sama.
LATIHAN SOAL
1. Tulislah pengertian oksidasi dan reduksi berdasarkan :
a. Pengikatan / pelepasan oksigen
b. Serah-terima elektron
c. Perubahan bilangan oksidasi
2. Tentukan bilangan oksidasi masing-masing unsur dalam senyawa berikut:
a. NH3
b. CHCl3
c. CaH2
d. Cu2O
e. N2O4
3. Tentukan bilangan oksidasi oksigen dalam:
a. O2
b. F2O
c. O2F2
d. Na2O2
e. H2SO4
4. Tentukan bilangan oksidasi belerang dalam:
a. S8
b. SO2
c. SO2Cl2
d. Na2S4O3
e. Na2S4O6

64

5. Tentukan oksidator dan reduktor dalam reaksi redoks berikut:


a. MnO2 + 2H2SO4 + 2NaI MnSO4 + Na2SO4 + 2H2O + I2
b. NaHSO3 + 2Al + NaOH Na2S + Al2O3 + H2O
c. Bi2O3 + 2NaOH + 2NaOCl 2NaBiO3 + 2NaCl + H2O
d. 3As2S3 + 4H2O + 28HNO3 6H3AsO4 + 9H2SO4 +28NO
e. Cl2 + 2 KOH KCl + KClO + H2O
f. 3NaClO 2NaCl + NaClO3
g. 5KI + KIO3 + 3H2SO4 3K2SO4 + 3I2 + 3H2O

65

BAB 7
SOIKIOMETRI
A. HUKUM-HUKUM DASAR KIMIA
Dalam ilmu kimia, stoikiometri (kadang disebut stoikiometri reaksi untuk
membedakannya dari stoikiometri komposisi) adalah ilmu yang mempelajari dan
menghitung hubungan kuantitatif dari reaktan dan produk dalam reaksi kimia
(persamaan kimia). Kata ini berasal dari bahasa Yunani stoikheion (elemen) dan
metri (ukuran). Stoikiometri reaksi adalah penentuan perbandingan massa
unsur-unsur dalam senyawa dalam pembentukan senyawanya. Pada perhitungan
kimia secara stoikiometri, biasanya diperlukan hukum-hukum dasar ilmu kimia.
Hukum kimia adalah hukum alam yang relevan dengan bidang kimia. Konsep
paling fundamental dalam kimia adalah hukum konservasi massa, yang menyatakan
bahwa tidak terjadi perubahan kuantitas materi sewaktu reaksi kimia biasa.
Fisika modern menunjukkan bahwa sebenarnya yang terjadi adalah konservasi
energi, dan bahwa energi dan massa saling berhubungan suatu konsep yang
menjadi penting dalam kimia nuklir. Konservasi energi menuntun ke suatu konsepkonsep penting mengenai kesetimbangan, termodinamika, dan kinetika. Berikut
akan dibahas hokum-hukum dasar kimia.
1. Hukum Kekekalan Massa (Antoine Lavoisier)
Hukum kekekalan massa atau dikenal juga sebagai hukum LomonosovLavoisier adalah suatu hukum yang menyatakan massa dari suatu sistem tertutup
akan konstan meskipun terjadi berbagai macam proses di dalam sistem
tersebut(dalam sistem tertutup Massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah
sama (tetap/konstan). Pernyataan yang umum digunakan untuk menyatakan hukum
kekekalan massa adalah massa dapat berubah bentuk tetapi tidak dapat
diciptakan atau dimusnahkan. Untuk suatu proses kimiawi di dalam suatu sistem
tertutup, massa dari reaktan harus sama dengan massa produk. Hukum kekekalan
massa diformulasikan oleh Antonie Lavoisier pada tahun 1789. Oleh karena
hasilnya ini, ia sering disebut sebagai bapak kimia modern.
Sebelumnya, Mikhail Lomonosov (1748) juga telah mengajukan ide yang
serupa dan telah membuktikannya dalam eksperimen. Sebelumnya, kekekalan
massa sulit dimengerti karena adanya gaya buoyan atmosfer bumi. Setelah gaya
ini dapat dimengerti, hukum kekekalan massa menjadi kunci penting dalam
merubah alkemi menjadi kimia modern. Ketika ilmuwan memahami bahwa senyawa
tidak pernah hilang ketika diukur, mereka mulai melakukan studi kuantitatif
66

transformasi senyawa. Studi ini membawa kepada ide bahwa semua proses dan
transformasi kimia berlangsung dalam jumlah massa tiap elemen tetap.
Hukum kekekalan massa digunakan secara luas dalam bidang-bidang
seperti kimia, teknik kimia, mekanika, dan dinamika fluida. Berdasarkan ilmu
relativitas spesial, kekekalan massa adalah pernyataan dari kekekalan energi.
Massa partikel yang tetap dalam suatu sistem ekuivalen dengan energi
momentum pusatnya. Pada beberapa peristiwa radiasi, dikatakan bahwa terlihat
adanya perubahan massa menjadi energi. Hal ini terjadi ketika suatu benda
berubah menjadi energi kinetik/energi potensial dan sebaliknya. Karena massa
dan energi berhubungan, dalam suatu sistem yang mendapat/mengeluarkan
energi, massa dalam jumlah yang sangat sedikit akan tercipta/hilang dari sistem.
Namun demikian, dalam hampir seluruh peristiwa yang melibatkan perubahan
energi, hukum kekekalan massa dapat digunakan karena massa yang berubah
sangatlah sedikit.
Massa zat sebelum dan sesudah reaksi selalu sama.
Contoh:
a.
b. Sebanyak 0,455 g sampel magnesium, dibakar dalam 2.315 g gas oksigen
untuk menghasilkan magnesium oksida. Setelah reaksi terjadi, diperoleh
massa yang tidak bereaksi sebanyak 2,015 g. Berapakah massa magnesium
oksida yang terbentuk?
Jawab:
Massa sebelum bereaksi
0,455 g magnesium + 2,315 5 oksigen = 2,770
Massa sesudah bereaksi
X g magnesium oksida + 2,315 g oksigen (sisa) = 2,770 g
X g magnesium oksida = 2,770 g 2,015 g

= 0,755 g

Jadi massa magnesium oksida yang terbentuk adalah 0,755 gram.


c. 39 gram Kalium direaksikan dengan 36,5 gram HCl. Berapakah zat hasil
reaksi? Bila Ar K = 39; Ar Cl = 35,5; Ar H = 1
Jawab: 2 K + 2 HCl 2 KCl + H2
mol Kalium = 39 / 39

= 1 mol

67

2. Hukum Perbandingan Tetap (Joseph Proust)


Dalam kimia, hukum perbandingan tetap atau hukum Proust (diambil dari
nama kimiawan Perancis Joseph Proust) adalah hukum yang menyatakan bahwa
suatu senyawa kimia terdiri dari unsur-unsur dengan perbandingan massa yang
selalu tepat sama. Dengan kata lain, setiap sampel suatu senyawa memiliki
komposisi unsur-unsur yang tetap. Misalnya, air terdiri dari 8/9 massa oksigen
dan 1/9 massa hidrogen. Bersama dengan hukum perbandingan berganda (hukum
Dalton),

hukum

perbandingan

tetap

adalah

hukum

dasar

stoikiometri.

Perbandingan massa unsur-unsur dalam suatu persenyawaan kimia selalu tetap.


Perbandingan tetap pertama kali dikemukakan oleh Joseph Proust, setelah
serangkaian eksperimen di tahun 1797 dan 1804. Hal ini telah sering diamati
sejak lama sebelum itu, namun Proust-lah yang mengumpulkan bukti-bukti dari
hukum ini dan mengemukakannya Pada saat Proust mengemukakan hukum ini,
konsep yang jelas mengenai senyawa kimia belum ada (misalnya bahwa air adalah
H2O dsb.). Hukum ini memberikan kontribusi pada konsep mengenai bagaimana
unsur-unsur membentuk senyawa. Pada 1803 John Dalton mengemukakan sebuah
teori atom, yang berdasarkan pada hukum perbandingan tetap dan hukum
perbandingan berganda, yang menjelaskan mengenai atom dan bagaimana unsur
membentuk senyawa.

Contoh soal:
Jika kita mereaksikan 4 gram hidrogen dengan 40 gram oksigen, berapa gram air
yang terbentuk?
Jawab:

68

3. Hukum Kelipatan Perbandingan (Hukum Dalton)


Berdasarkan teori atom Dalton, kita dapat mendefinisikan atom sebagai
unit terkecil dari suatu unsur yang dapat melakukan penggabungan kimia. Dalton
membayangkan suatu atom yang sangat kecil dan tidak dapat dibagi lagi. Tetapi,
serangkaian penyelidikan yang dimulai pada tahun 1850-an dan dilanjutkan pada
abad

IXX

(kesembilan

belas)

secara

jelas

menunjukkan

bahwa

atom

sesungguhnya memiliki struktur internal: yaitu atom tersusun atas partikelpartikel yang lebih kecil lagi, yang disebut partikel subatom. Penelitian tersebut
mengarah pada penemuan tiga partikel subatom-elektron, proton, dan neutron.
Jika dua unsur dapat membentuk satu atau lebih senyawa, maka perbandingan
massa dari unsur yang satu yang bersenyawa dengan jumlah unsur lain yang
tertentu massanya akan merupakan bilangan mudah dan tetap.
Contoh:
Nitrogen dan oksigen dapat membentuk senyawa-senyawa N 2O, NO, N2O3, dan
N2O4 dengan komposisi massa terlihat dalam tabel berikut:

Dari tabel tersebut bila massa N dibuat tetap (sama) sebanyak 7 gram,
maka perbandingan massa oksigen dalam N 2O : NO : N2O3 : N2O4 = 4 : 8 :
12 : 16 atau 1 : 2 : 3 : 4.

69

4. Hukum Perbandingan Volume (Hukum Gay Lussac)


Setelah lebih dari satu abad penemuan Boyle ilmuwan mulai tertarik pada
hubungan antara volume dan temperatur gas. Mungkin karena balon termal
menjadi topik pembicaraan di kota waktu itu. Kimiawan Perancis Jacques
Alexandre Csar Charles (1746-1823), seorang navigator balon yang terkenal
pada waktu itu, mengenali bahwa, pada tekanan tetap, volume gas akan meningkat
bila temperaturnya dinaikkan. Hubungan ini disebut dengan hukum Charles,
walaupun datanya sebenarnya tidak kuantitatif. Gay-Lussac lah yang kemudian
memplotkan volume gas terhadap temperatur dan mendapatkan garis lurus
(Gambar 6.2). Karena alasan ini hukum Charles sering dinamakan hukum GayLussac. Baik hukum Charles dan hukum Gay-Lussac kira-kira diikuti oleh semua
gas selama tidak terjadi pengembunan.
Pembahasan menarik dapat dilakukan dengan hukum Charles. Dengan
mengekstrapolasikan plot volume gas terhadap temperatur, volumes menjadi nol
pada temperatur tertentu. Menarik bahwa temperatur saat volumenya menjadi
nol sekitar -273C (nilai tepatnya adalah -273.2 C) untuk semua gas. Ini
mengindikasikan bahwa pada tekanan tetap, dua garis lurus yang didapatkan dari
pengeplotan volume V1 dan V2 dua gas 1 dan 2 terhadap temperatur akan
berpotongan di V = 0.
Fisikawan Inggris Lord Kelvin (William Thomson (1824-1907)) mengusulkan
pada temperatur ini temperatur molekul gas menjadi setara dengan molekul
tanpa gerakan dan dengan demikian volumenya menjadi dapat diabaikan
dibandingkan dengan volumenya pada temperatur kamar, dan ia mengusulkan
skala temperatur baru, skala temperatur Kelvin, yang didefinisikan dengan
persamaan berikut.

273,2 + C = K Kini temperatur Kelvin K disebut dengan

temperatur absolut, dan 0 oK disebut dengan titik nol absolut. Dengan


menggunakan skala temperatur absolut, hukum Charles dapat diungkapkan
dengan persamaan sederhana Dari percobaan ini, Gay Lussac merumuskan hukum

perbandingan volume (hukum Gay Lussac):


V = bT (K)
dengan b adalah konstanta yang tidak bergantung jenis gas.
Menurut Kelvin, temperatur adalah ukuran gerakan molekular. Dari sudut
pandang ini, nol absolut khususnya menarik karena pada temperatur ini, gerakan
molekular gas akan berhenti. Nol absolut tidak pernah dicapai dengan percobaan.
Temperatur terendah yang pernah dicapai adalah sekitar 0,000001 K.

70

Avogadro menyatakan bahwa gas-gas bervolume sama, pada temperatur


dan tekanan yang sama, akan mengandung jumlah molekul yang sama (hukum
Avogadro). Hal ini sama dengan menyatakan bahwa volume gas nyata apapun
sangat kecil dibandingkan dengan volume yang ditempatinya. Bila anggapan ini
benar, volume gas sebanding dengan jumlah molekul gas dalam ruang tersebut.
Jadi, massa relatif, yakni massa molekul atau massa atom gas, dengan mudah
didapat.

Dalam suatu reaksi kimia gas yang diukur pada P dan T yang sama

volumenya berbanding lurus dengan koefisien reaksi atau mol, dan berbanding
lurus sebagai bilangan bulat dan sederhana.

5. Hipotesis Avogadro
Adalah hukum gas yang diberi nama sesuai dengan ilmuwan Italia Amedeo
Avogadro, yang pada 1811 mengajukan hipotesis bahwa:
Gas-gas yang memiliki volum yang sama, pada temperatur dan tekanan yang
sama, memiliki jumlah partikel yang sama pula.
Artinya, jumlah molekul atau atom dalam suatu volum gas tidak tergantung
kepada ukuran atau massa dari molekul gas. Sebagai contoh, 1 liter gas hidrogen
dan nitrogen akan mengandung jumlah molekul yang sama, selama suhu dan
tekanannya sama. Pada keadaan STP (0oC, 76 cmHg), 1 mol gas volumenya 22,4
liter
Contoh:
Pada reaksi pembentukkan uap air. 2 H 2 (g) + O2 (g) 2 H2O (g). Jika volume gas H 2
yang diukur pada suhu 25o C dan tekanan 1 atm adalah 10 liter, maka volume gas
71

O2 dan H2O pada tekanan dan suhu yang sama dapat ditentukan dengan cara
sebagai berikut :
Volume H2 : Volume O2 = Koefisien H2 : Koefisien O2
Volume O2 = x volume H2
Volume O2 = x 10 L = 5 Liter
Tentukan volume H2O!
Jawab :
Volume H2O = 2/2 x 10 L = 10L

B. PERHITUNGAN KIMIA
1. Mol
Mol

Dalam kehidupan sehari-hari dikenal beberapa satuan jumlah zat.

Misalnya 1 kodi kain, 1 lusin gelas, 1 rim kertas dan sebagainya. Akan tetapi, ada
pula zat-zat yang tidak mungkin dinyatakan dengan menggunakan satuan jumlah
tetapi satuan massa misalnya 1 kg beras, 1 kg gula, 1 liter minyak. Mengapa?
Sebab tidak mungkin orang akan mengitung butiran beras, gula atau butiran
minyak. Dapat dibayangkan bagaimana jika seseorang membeli seribu butir beras,
gula atau miyak di pasar.
Seperti halnya beras, gula, atau minyak, atom merupakan partikel yang
sangat kecil, sehingga tidak mungkin untuk mengambil atom dalam bilangan butir,
tetapi juga tidak memungkinkan menimbang beberapa butir atom. Dalam
kenyataannya reaksi-reaksi kimia melibatkan banyak atom, molekul, atau ion.
Satuan jumlah atom tidak mungkin digunakan satuan biji, lusin atau satuansatuan yang banyak dikenal dalam kehidupan sehari-hari.
Para ahli kimia sepakat mencari satuan yang mudah digunakan dan satuan
tersebut oleh IUPAC disebut dengan mol. Jadi, mol merupakan satuan yang

72

menyatakan jumlah partikel yang terkandung dalam sejumlah zat. Berdasarkan


perjanjian digunakan standar atom karbon -12 (C-12) dengan ketentuan :
Satu mol suatu zat adalah sejumlah partikel yang terkandung dalam suatu
zat yang jumlahnya sama dengan banyaknya atom yang terdapat dalam 12.00
gram C-12.
Dari percobaan yang dilakukan oleh Jhon Lochsmid dan kemudian
dibenarkan oleh Avogadro melalui percobaan yang dilakukannya ternyata
banyaknya atom karbon yang terdapat dalam 12.00 gram C-12 adalah 6,02 10 23
butir atom. Bilangan ini selanjutnya disebut bilangan Avogadro atau tetapan
Avogadro dan diberi lambang L (diambil dari nama Lochsmid). Jadi, satu mol
logam besi mengandung 6,02 10 23 butir atom besi, 1 mol air mengandung 6,02 x
1023 molekul air.
1 mol zat = L partikel = 6,02 1023 partikel.
Partikel dapat sebagai atom, molekul atau ion. Menghitung atom sejumlah
itu sangatlah tidak mungkin. Oleh sebab itu, digunakan cara seperti yang
dilakukan oleh para pegawai bank menghitung uang logam dalam jumlah yang
sangat banyak, yaitu dengan menimbang uang logam dari jenis yang sama. Untuk
itu berarti harus diketahui lebih dahulu untuk setiap 100 keping uang logam
mempunyai berat beberapa gram.
Demikian pula dalam ilmu kimia, untuk mengambil sejumlah mol zat
digunakan dengan cara menimbang. Mula-mula ditentukan dahulu berat massa
dari 1 mol zat, baru kemudian digunakan sebagai patokan untuk penghitungan
selanjutnya. Misalnya, telah diketahui bahwa setiap 12 gram C-12 berisi 6,02 x
1023 atom C, maka jika ditimbang 6 gram tentulah akan mengandung 3,01 10 23
atom karbon. Massa 1 mol zat tersebut selanjutnya dinamakan massa molar.
2. Hubungan Mol dengan Jumlah Parikel
Satu mol suatu zat adalah massa zat itu (gram) yang megandung 6,02 x 10 23
partikel. Bilangan 6,02 x 1023 partikel disebut bilangan Avogadro yang diberi
lambang L. Hubungan mol dengan jumlah partikel (JP) adalah sebagai berikut:
JP
JP = mol x 6,02 x 1023 atau mol = 6,02 x 10 23

3. Massa Atom Relatif (Ar) dan Massa Molekul Relatif (Mr)


a. Massa Atom Relatif (Ar)

73

Massa atom relatif adalah massa suatu atom jika dibandingkan dengan
massa atom acuan. Namanya juga relatif, jadi tergantung pada yang melihat
(atom yang jadi acuan). Awalnya penentuan massa atom relatif suatu unsur kimia
menggunakan pembanding atom hidrogen. Kemudian sejak 62 tahun yang lalu
tepatnya

tahun

1961

posisi

hidrogen

sebagai

pembanding

oleh

IUPAC

(International Union for Pure and Applied Chemistry ) diganti oleh atom karbon
C12. Dipilihnya atom karbon karena atom dari karbon lebih stabil. Massa atom
relatif dilambangkan dengan Ar dengan satuan sma (satuan massa atom). Cara
menentukan massa atom relatif dengan menggunakan rumus massa atom relatif:

Massa atom C12 = 1,993 x 10-23 g


1
1
Jadi 12 massa atom C12 = 12 x 1,993 x 1023

= 1,661 x 10-24 g (nilai 1 sma)

Satuan sma tidak pernah dicantumkan dalam tabel periodik unsur. Jika
sobat melihat dalam tabel Natrium memiliki nomor massa 23, maka artinya massa
satu atom dari unsur natrium adalah 23 kali dari 1/12 massa atom C 12. Coba sobat
hitung ingat lagi materi isotop, isoton, dan isobar. Massa atom dari sebuah unsur
yang dibandingkan dengan 1/12 massa atom C12 adalah massa atom rata-rata dari
isotop-isotop unsur tersebut di alam. Jadi untuk menentukan massa atom relatif
suatu unsur yang memiliki beberapa isotop dapat menggunakan rumus massa

atom relative:

Contoh:
1. Tentukan Ar unsur A bila massa rata-rata 1 atom unsur A adalah 2,66.10-23
gram!

74

Jawab:

2,66 x 1023
1
24
x 1,993 x 10
12

= 16,014

2. Unsur Cl di alam terdiri dari 75% isotop

Cl (bermassa 35) dan 25% isotop

35

Cl (bermassa 37) . Tentukan Ar Cl !

37

Jawab:
Ar Cl =

( x Cl35 ) +( x Cl37)
100

(75 x 35)+(25 x 37)


100

2625+(925)
100

3550
100

35,50

3. Galium terdiri atas isotop Ga-69 dan Ga-71,sedangkan massa atom relatif Ga
adalah

69,8.

Tentukan

kelimpahan

masing-masing

isotop

galium

itu!

Jawab:
Misalkan kelimpahan isotop Ga-69 adalah x%, maka kelimpahan isotop Ga-71
adalah (100-x)% Maka:

75

Ar Ga =

( x Ga69 )+( x Ga71)


100

( X . 69 )+ ( 100X ) . 71

69,8 =
100
6980 = 69X + 7100 71X
-2x

= -120

x = 60 % kelimpahan Ga-69
% kelimpahan Ga-71 = 100 X
= 100 60
= 40%

b. Massa Molekul Relatif (Mr)


Mr adalah massa rata-rata molekul menurut skala C-12. Suatu molekul
adalah gabungan dari atom-atom, sehingga:
Mr = jumlah Ar dari semua atom dalam molekul.
Contoh:
Tentukan massa molekul relatif (Mr) dari H2SO4! (Ar H = 1, S = 32, O = 16)
Jawab:
Mr = (jumlah atom H x Ar H) + (jumlah atom S x Ar S) + (jumlah atom O x Ar O)
= (2x1) + (1x32) + (4x16)
= 2 + 32 + 64
= 98
4.

Hubungan Mol dengan Massa Molar


Massa molar (mm) menyatakan massa yang dimiliki oleh 1 mol zat. Massa 1

mol zat sama dengan massa molekul relatif (Mr) zat tersebut dengan satuan
gram/mol. Untuk unsur yang partikelnya berupa atom, maka massa molar sama
dengan Ar (massa atom relatif) dalam satuan gram/mol.
Contoh:

Massa molar kalsium (Ca) = massa dari 1 mol kalsium (Ca) = Ar Ca = 40


gram/mol.

Massa molar besi (Fe) = massa dari 1 mol besi (Fe) = Ar Fe = 56 gram/mol.

Massa molar aluminium (Al) = massa dari 1 mol aluminium (Al) = Ar Al = 27


gram/mol.
Untuk unsur yang partikelnya berupa molekul dan senyawa, maka massa

molar sama dengan Mr (massa molekul relatif) dalam satuan gram/mol.


Mr = Ar
dengan: Mr = massa molekul relatif (gram/mol)
Ar = massa atom relatif (gram/mol)

5.

Hubungan Mol dengan Volume Molar


Volume molar gas adalah volume 1 mol gas pada suhu dan tekanan tertentu.

Volume molar gas bergantung pada suhu dan tekanan. Berikut ini kondisi yang
biasa dijadikan acuan penentuan volume gas.
a. Keadaan standar (STP)

b. Keadaan bukan standar


Pada keadaan bukan standar, pengubahan mol menjadi volume atau
sebaliknya dapat menggunakan persamaan gas ideal atau menggunakan gas
pembanding sesuai dengan hukum Avogadro.

Contoh:

6.

Hubungan antara Massa Zat, Jumlah Partikel, dan Volume Gas


Hubungan antara massa zat, jumlah partikel, dan volume gas apat

digambarkan sebagai berikut:

C. RUMUS KIMIA
1. Rumus Empiris
Rumus empiris suatu senyawa memberi kita rasio sederhana dari unsur atom
dalam suatu senyawa. Ini kadang-kadang berbeda untuk rumus molekul suatu
senyawa, yang adalah jumlah aktual dari setiap atom dalam molekul atau unit
senyawa.

Sebagai

contoh,

rumus

molekul

untuk

natrium

klorida,

NaCl,

memberitahu kita bahwa rasio atom natrium, Na, untuk atom klorin, Cl, adalah 1:1
dan rumus molekul untuk propana, C 3 H 8 , memberitahu kita bahwa pada molekul
propana, rasio atom karbon, C, untuk atom hidrogen, H, adalah 03:08. Karena ini
adalah kedua rasio sederhana sudah, mereka berdua juga rumus empiris. Tapi
bagaimana benzena (formula C 6 H 6 )? Ini rasio 06:06 dapat disederhanakan ke
01:01 dengan membagi masing-masing oleh faktor umum tertinggi, 6. Jadi rumus
empiris benzena adalah CH.
Rumus empiris adalah langkah antara persentase komposisi massa dan rumus
molekul dan dengan demikian penting dalam menentukan karakteristik kimia
suatu senyawa .
Konversi komposisi persentase rumus empiris :
a. Langkah

1:

Komposisi

Persentase

untuk.

natrium

klorida

adalah:

Na = 39,3% dan Cl = 60,7%.


Catatan: Hal ini sangat penting untuk menjaga setidaknya 3 angka signifikan
dalam perhitungan Anda untuk membuat Anda bekerja cukup akurat untuk
melakukan Langkah 4.
b. Langkah 2: Untuk tujuan perhitungan, menganggap Anda memiliki 100 g
natrium klorida, sehingga Anda sekarang memiliki rasio massa nyata dari
dua unsur:
Na = 39.3g dan Cl = 60.7g

c. Langkah 3: Bagi setiap massa unsur berat atom untuk menentukan jumlah
mol masing-masing unsur ini:
Na = 39.3g/23.0 = 1,71 mol dan Cl = 60.7g/35.5 = 1.71 mol
d. Langkah

4:

Membagi

setiap

jumlah

mol

dengan

jumlah

terkecil:

Na = 1.71/1.71 = 1 dan Cl = 1,71 / 1,71 = 1, sehingga Na: Cl adalah 1:1. Close


Catatan: Karena pembulatan angka, kesalahan eksperimental bisa ada variasi
kecil pada rasio utama, seperti 1:0.95, ini adalah 1:1. Jika Anda
mendapatkan variasi yang lebih besar dari seluruh nomor kemudian lihat
Langkah 6.
e. Langkah 5:. Jika rasio ini adalah rasio seluruh nomor, maka ini merupakan
Formula empiris, NaCl
f. Langkah 6: Hanya untuk dilakukan jika rasio 5 Langkah bukan rasio seluruh
nomor. Kadang-kadang rasio yang diperoleh adalah sesuatu seperti 1:1.50,
1:1.33, 1:1.67 atau bahkan 1:1.20. Dalam kasus ini, jatah yang sebenarnya
adalah: 1:1.50 pergi ke 2:3, 1:1.33 pergi ke 2:05, 1:1.67 pergi ke 03:05 dan
1:1.20 pergi ke 4:05. Ini adalah rasio yang paling umum, jika Anda
mendapatkan sesuatu yang lain memeriksa perhitungan atau mungkin benar.
Metode ini dapat digunakan untuk sejumlah unsur hadir dalam senyawa dan
ada beberapa Langkah 6 rumus empiris dalam pertanyaan, jadi waspadalah!
2. Rumus Molekul
Rumus molekul senyawa memberi kita jumlah yang sebenarnya dari masingmasing unsur atom dalam suatu senyawa. Rumus tersebut kadang sama tetapi
juga kadang berbeda dengan rumus empiris suatu senyawa yang merupakan rasio
yang paling sederhana dari atom-atom dalam molekul suatu senyawa. Perlu
diketahui bahwa rumus unit (molekul) dari semua senyawa ion (garam) selalu sama
dengan rumus empiris nya, sehingga hanya senyawa molekul kovalen yang mungkin
memiliki rumus molekul berbeda dari rumus empirisnya.
Rumus molekul selalu kelipatan angka penuh rumus empiris, yaitu rumus
empiris yang sama, dua kali rumus empiris, tiga kali rumus empiris, dll. Misalnya:
Natrium klorida rumus empiris = NaCl dan rumus molekul NaCl (Sama). Hidrogen
peroksida rumus empiris HO rumus molekul H2O2 (dua kali). Untuk menentukan
rumus molekul, Ambil rumus empiris senyawa dan kalikan dengan rasio massa
molekul / massa empiris.
Rumus Molekul = rumus empiris x massa molekul / massa empiris.

Massa empiris relatif dihitung dengan cara yang sama seperti massa
molekul relatif namun hanya saja menggunakan rumus empiris. Mari kita lihat
pada dua contoh di atas:
Natrium klorida, rumus empiris = NaCl, oleh karena itu, massa empiris
relatif adalah 23,0 + 35,5 = 58,5.
Hidrogen peroksida , rumus empiris = HO, dengan demikian, massa empiris
relatif adalah 1,0 + 16,0 = 17,0.
Menemukan massa molekul relatif tidak cukup hanya dengan secara
langsung. Menemukan massa molekul

relatif harus dilakukan dari data

eksperimen. Penentuan massa molekul relatif berada di luar lingkup topik ini
sehingga massa molekul relatif akan diberikan dalam setiap kasus.
Perhitungan Formula Molekuler
Natrium klorida: rumus empiris = NaCl dan massa molekul relatif = 58,5.
Rumus Molekul = rumus empiris x massa molekul / relatif massa empiris.
rumus Molekul = NaCl x 58.5/58.5 = NaCl x 1 = NaCl
Hidrogen peroksida: rumus empiris = HO dan massa molekul relatif = Rumus
Molekul = rumus empiris x massa molekul / massa empiris relative.
rumus Molekul = HO x 34.0/17.0 = HO x 2 = H2O2.
Contoh:

D. KADAR UNSUR DALAM SENYAWA


Kadar unsur dalam senyawa dapat dinyatakan dalam bentuk persen atau
massa. Dalam senyawa AmBn:

Contoh:

E. PERSAMAAN REAKSI
a. Reaksi Kimia dalam Kata dan Simbol
Kimia

adalah

ilmu

perubahan-perubahan

fisik

dan

perubahan

kimia. Perubahan fisik menghasilkan perubahan keadaan fisik suatu zat, seperti
ketika es mencair membentuk air. Perubahan ini penting, tetapi pada perubahan
kimia itulah yang benar-benar paling menarik bagi ahli kimia. Jadi bagaimana ahli
kimia menjelaskan perubahan kimiawi atau karena mereka lebih suka menyebut
mereka, reaksi kimia?
Cara

termudah

untuk

menggambarkan

reaksi

kimia

adalah

dengan

menggunakan semua nama zat yang terlibat. Zat-zat yang akan menjalani reaksi
kimia disebut reaktan (atau kadang-kadang reagen) dan zat yang terbentuk
dalam reaksi disebut produk . Untuk menunjukkan reaksi kimia, ahli kimia
menggunakan panah seperti ini: reaktan produk . Jika beberapa reaktan atau
produk yang terlibat, tanda tambah "+" digunakan seperti ini:
Reaktan 1 + reaktan 2 produk
Dua contoh kerja adalah:
1. Ketika natrium karbonat ditempatkan dalam asam klorida, natrium klorida,
karbon dioksida dan air yang dihasilkan. Reaksi ini ditulis sebagai:
kalsium karbonat + asam klorida kalsium klorida + karbon dioksida + air
2. Ketika gas kalium dan klorin direaksikan, kalium klorida terbentuk. Reaksi ini
ditulis sebagai:
kalium + klorin kalium klorida
Meskipun persamaan kata cukup baik untuk mengetahui apa yang akan
bereaksi dan apa yang akan diproduksi, mereka tidak memberikan informasi yang
cukup tentang reaksi seperti formula zat yang terlibat, kondisi fisik mereka
(padat, cair, gas atau larutan) dan rasio dimana reaktan bereaksi dan produk

yang dihasilkan. Untuk memberikan informasi ini, ahli kimia menggunakan


persamaan kimia menggunakan simbol-simbol, bukan kata-kata.
Menggunakan simbol dalam persamaan kimia memerlukan pengetahuan yang
baik tentang bagaimana simbol kimia yang digunakan untuk menulis rumus.
Sebagai contoh, air memiliki rumus H 2 O. Ini memberitahu ahli kimia bahwa unit
air terdiri dari dua atom hidrogen dan satu atom oksigen, dengan menambahkan
kondisi fisiknya H 2 O (l), hal ini menunjukkan bahwa air cair. Bahkan setiap
negara memiliki simbol fisik sendiri: padat (s) , cair (l) , gas (g) dan larutan
dalam air (aq) untuk larutan.
Sebelum seseorang dapat berlatih menulis persamaan kimia, salah satu
kebutuhan untuk mengetahui simbol unsur, dan menggunakan Tabel Periodik,
orang harus bisa menulis rumus kimia dari simbol. Hal ini tercakup dalam topik:.
"Menulis rumus senyawa ion dari nama IUPAC nya" dan "Menulis rumus senyawa
molekuler dari nama IUPAC nya".
Menggunakan contoh di bawah ini, yang persamaan kimia dapat ditulis
dengan menggunakan formula dari senyawa (reaktan dan produk) dan simbol dari
negara bagian senyawa.
Ketika kalsium karbonat padat ditempatkan dalam larutan asam klorida,
larutan kalsium klorida, gas karbon dioksida dan air cair yang dihasilkan. Reaksi
ini ditulis sebagai:
CaCO

3 (s)

+ HCl

(aq)

CaCl

2 (aq)

+ CO

2 (g)

+ H 2 O (l)(tidak seimbang)

Ketika kalium padat dan gas klor direaksikan, kalium klorida padat terbentuk.
Reaksi ini ditulis sebagai:
K

(s)

+ Cl

2 (g)

KCl

(s)

(tidak seimbang)

Menyeimbangkan persamaan kimia sangat penting dan tercakup dalam topik


"Menyeimbangkan Persamaan - 1 & 2". Dalam topik ini pertanyaan hanya akan
meminta Anda untuk menulis persamaan kata dan persamaan kimia seimbang dari
deskripsi dari reaksi. Ini merupakan langkah penting dalam menulis persamaan
kimia dan harus diselesaikan sebelum seseorang dapat menulis persamaan kimia
sepenuhnya seimbang.
b. Menyeimbangkan Persamaan 1
Sebelum mengambil topik ini, salah satu yang harus Anda lakukan terlebih
dahulu adalah membaca "Reaksi Kimia dan Hukum Konservasi Massa, Proporsi
Tetap dan Ganda" dan "Reaksi Kimia dalam Kata dan Simbol".

Menurut Hukum Konservasi Massa, Proporsi Tetap dan Ganda, tidak ada
yang dapat diciptakan maupun dihancurkan selama reaksi kimia. Atom-atom yang
ada di awal tetap harus ada setelah reaksi, tetapi mereka akan diatur kembali
untuk membentuk zat baru. Juga, hasil dari Hukum Proporsi Tetap dan Ganda
adalah bahwa formula zat tidak berubah, dan orang yang mencoba untuk
membuat sebuah persamaan yang harus "menyeimbangkan" untuk mematuhi
Hukum Konservasi Massa. Tidak ada yang tidak bisa hanya mengubah formula
atau persamaan untuk membuat segalanya menjadi seimbang. Sebagai contoh, air,
H 2 O tidak bisa menjadi berubah menjadi H 3 O atau HO hanya untuk
menyeimbangkan persamaan. Air selalu H 2 O.
Menyeimbangkan persamaan kimia, satu-satunya hal yang bisa dilakukan
adalah bekerja dengan jumlah masing-masing reaktan dan produk dalam reaksi.
Hal ini dilakukan dengan menggunakan angka yang disebut koefisien, ditulis
sebelum rumus dalam persamaan.
Ambil

reaksi

antara

kalsium

karbonat

dalam

asam

klorida

untuk

menghasilkan kalsium klorida, karbon dioksida dan air.


CaCO 3 + HCl CaCl 2 + CO 2 + H 2 O - tidak seimbang CaCO 3 + 2 HCl CaCl

+ CO

+ H 2 O - Seimbang -

Dengan hanya menempatkan koefisien 2 di depan HCl, persamaan kimia sekarang


mematuhi Hukum Konservasi Massa dan dengan demikian seimbang. Kenapa?
Hitungan atom-atom pada setiap sisi seimbang dan persamaan seimbang.
Tidak seimbang : CaCO

+ HCl CaCl

; + CO 2 + H

Ca - 1 di setiap sisi
C - 1 di setiap sisi
O - 3 di setiap sisi
H - 1 di kiri dan 2 di kanan
Cl - 1 di kiri dan 2 di kanan
H dan atom Cl tidak seimbang.
Seimbang: CaCO

+ 2 HCl CaCl

Ca - 1 di setiap sisi
C - 1 di setiap sisi
O - 3 di setiap sisi
H - 2 di setiap sisi
Cl - 2 di setiap sisi
Semua atom sekarang seimbang.

+ CO

+ H

Balancing persamaan kimia tidak harus menjadi proses acak, meskipun ketika
Anda mendapatkan keseimbangan yang baik, banyak persamaan tidak seimbang
dapat diimbangi dengan inspeksi sederhana.
Aturan untuk Menyeimbangkan Persamaan Kimia

Peraturan 1: Tuliskan persamaan seimbang pada satu baris dengan ruang di


depan setiap rumus untuk koefisien.

Peraturan 2: Periksa persamaan dan menghitung setiap atom. Beberapa


mungkin sudah seimbang. Jika tidak ada nomor di depan rumus koefisien
tersirat menjadi satu (1).

Peraturan 3: Seimbangkan setiap atom logam pertama.

Peraturan 4: Seimbangkan setiap atom non-logam berikutnya, kecuali H dan


O.

Peraturan 5: Seimbangkan setiap atom H pertama.

Peraturan 6: Seimbangkan setiap atom O berikutnya.


Setiap kali Anda menambahkan koefisien Anda dapat mengubah atom
sebelumnya seimbang, kembali dan memeriksa dan pergi melalui aturan dari
titik bahwa dalam rangka lagi.

Periksa lagi untuk melihat semua atom seimbang.

Ingat, Anda tidak dapat mengubah rumus, atau menambah atau mengambil
reaktan

atau

produk,

semua

yang

Anda

dapat

lakukan

adalah

menyeimbangkan logam, non-logam, H, O dan periksa.


c. Menyeimbangkan Persamaan 2
Sebelum mengambil topik ini, Anda harus terlebih dahulu mengambil "Reaksi
Kimia dan Hukum Kekekalan Massa, Proporsi Tetap dan Ganda", "Reaksi Kimia
dalam Kata & Simbol" dan "Pengantar Menyeimbangkan Persamaan".
Dalam "Sebuah Pengantar Menyeimbangkan Persamaan", Anda disuguhi
dengan aturan untuk menyeimbangkan persamaan kimia:

Aturan 1: Tuliskan persamaan seimbang pada satu baris dengan ruang di


depan setiap rumus untuk koefisien.

Aturan 2: Periksa persamaan dan hitung setiap atom. Itu mungkin sudah
seimbang, tetapi banyak yang tidak. Jika tidak ada nomor di depan rumus
koefisien dapat disimpulkan bahwa itu satu (1)

Aturan 3:. Seimbangkan setiap atom logam terlebih dahulu

Aturan 4: Seimbangkan setiap non. atom logam berikutnya, selain H dan O.

Aturan 5: Seimbangkan setiap atom H

Aturan 6 pertama: Seimbangkan setiap atom O terakhir.


Setiap kali Anda menambahkan koefisien, Anda dapat mengubah atom
seimbang yang sebelumnya. Kembali dan periksa dan ikuti aturan dari titik 1
sampai akhir lagi dan lagi. Periksa untuk melihat semua atom setara.
Cara lain dalam menyeimbangkan/menyetarakan reaksi:

Contoh:

Dalam topik ini, Anda akan mempertemukan semua pengetahuan Anda


tentang reaksi kimia dan menulis persamaan kimia. Anda akan diminta untuk
menulis persamaan kimia seimbang sepenuhnya dengan bentuk(padat, cair, gas
atau larutan) dari deskripsi kata reaktan dan produk.

1. reaksi penggantian tunggal melibatkan logam reaktif yang ditempatkan


dalam larutan logam yang kurang reaktif dan dua logam bertukar tempat :
Zn

(s)

+ Cu (NO 3 )

2 (aq)

Zn (NO 3 )

2 (aq)

+ Cu

(s)

2. reaksi penggantian ganda , juga dikenal sebagai reaksi presipitasi ,


terjadi ketika dua larutan garam dicampur dan endapan larut terbentuk:
Cu (NO 3 )

+ 2 NaOH

2 (aq)

Cu (OH) 2

(aq)

(s)

+ 2 NaNO3 (aq)

3. reaksi Sintesis melibatkan pembentukan senyawa dari unsur-unsur atau


senyawa lain:
2 Na (s) + Cl

2 (g)

2 NaCl

(s)

4. reaksi dekomposisi terjadi ketika senyawa terurai menjadi senyawa


sederhana atau unsur-unsurnya:
2 H 2O

(l)

2H

2 (g)

O+

2 (g)

5. reaksi Pembakaran melibatkan pembakaran bahan bakar oksigen untuk


membentuk karbon dioksida dan air:
CH

4 (g)

+2O2

(g)

> CO

+2H

2 (g)

2 sub> O (l)

6. Reaksi asam basa mencakup reaksi dengan asam, termasuk:

Asam
HCl

dengan

(aq)

+ NaOH

dasar

(aq)

NaCl

untuk
(aq)

membentuk

+ 2 H 2O

garam

dan

air:

(l)

Asam dengan karbonat untuk membentuk garam, karbon dioksida dan


air:
2 HCl

(aq)

+ Na 2 CO

3 (s)

2 NaCl

(aq)

+ CO

2 (g)

+ 2 H 2 O(l)

Asam dengan logam reaktif untuk membentuk garam dan hidrogen, (Ini
juga
Mg

(s)

merupakan
+ 2 HCl

(aq)

jenis

MgCl

2 (aq)

reaksi
+H

Penggantian

Single)

2 (g)

Reaksi Sintesis dan Dekomposisi


Sintesis
Dalam reaksi sintesis, dua atau lebih reaktan (pereaksi) bergabung untuk
membentuk suatu senyawa tunggal yang lebih kompleks. Reaktan ini dapat berupa
unsur atau senyawa yang lebih sederhana. Ketika dua unsur saling bereaksi,
reaksinya selalu berupa reaksi sintesis.
Persamaan umum reaksi sintesis adalah A + B AB.
Reaksi sintesis juga dikenal sebagai reaksi kombinasi atau formasi.
Syarat
Dua atau lebih unsur bergabung membentuk senyawa kompleks.
Gabungan dua unsur secara langsung menghasilkan suatu senyawa biner.

Logam + Oksigen oksida logam


Contoh: 2Mg + O2 2MgO
Nonlogam + oksigen oksida nonlogam
Contoh: 2H2 + O2 2H2O
logam + nonlogam garam
Contoh: 2Na + Cl2 2NaCl
nonlogam + nonlogam senyawa
Contoh: 2P + 3Cl2 2PCl3
Dua senyawa bergabung untuk membentuk satu senyawa kompleks.
oksida logam + air hidroksida logam (basa)
Contoh: CaO + H2O Ca(OH)2
oksida nonlogam + air asam
Contoh: N2O5 + H2O 2HNO3
oksida logam + CO2

karbonat

Contoh: Na2O + CO2 Na2CO3


Suatu unsur dan senyawa bergabung untuk membentuk senyawa yang lebih
kompleks.
Klorida logam + oksigen klorat logam
Contoh: BaCl2 + 3O2 Ba(ClO3)2
Dua hasil reaksi dalam satu reaksi sintesis
Contoh: 6CO2 + 6H2O C6H12O6 + 6O2
Adakalanya sulit untuk meramalkan hasil suatu reaksi sintesis. Misalnya karbon
dan oksigen dapat bergabung untuk membentuk entah karbondioksida atau
karbonmonoksida.
C + O2 CO2
2C + O2 2CO
Kita dapat menentukan senyawa yang terbentuk hanya dengan menganalisis hasil
reaksinya.
Dekomposisi
Dekomposisi (reaksi penguraian) adalah kebalikan dari reaksi sintesis. Selama
dekomposisi, suatu senyawa terurai menjadi dua atau lebih zat yang lebih
sederhana. Hanya ada satu reaktan dalam reaksi ini.
Persamaan umum dekomposisi adalah AB A + B.

a. Reaktan terurai menjadi unsur


Contoh: 2HgO 2Hg + O2
Reaksi 2H2O 2H2 + O2 dihasilkan melalui reaksi listrik.
b. Reaktan terurai menjadi senyawa yang lebih sederhana
Hidroksida logam (basa) ketika dipanaskan akan terurai membentuk oksida
logam dan air.
Contoh: Ca(OH)2 CaO + H2O
Asam ketika dipanaskan akan terurai menjadi oksida nonlogam dan air.
Contoh: 2HNO3 N2O5 + H2O
Karbonat logam ketika dipanaskan akan terurai menjadi oksida logam dan
karbondioksida.
Contoh: Na2CO3 Na2O + CO2
Klorat logam ketika dipanaskan akan terurai menjadi Klorida logam dan oksigen.
Contoh: Ba(ClO3)2 BaCl2 + 3O2
F. PERHITUNGAN MOL DALAM PERSAMAAN REAKSI
Pada suatu persamaan reaksi yang sudah setara, koefisien reaksi
menunjukkan pebandingan mol zat-zat.
Contoh:

G. PEREAKSI PEMBATAS