Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar belakang
Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan

bertanggung jawab terhadap pergerakan. Komponen utama sistem utama sistem


muskuloskeletal adalah jaringan ikat. Sistem ini terdiri dari tulang, sendi, otot
rangka,

tendo,

ligamen,

bursa,

dan

jaringan-jaringan

khusus

yang

menghubungkan struktur-struktur ini. Beragamnya jaringan dan organ sistem


muskuloskeletal dapat menimbulkan berbagai macam gangguan. Beberapa
gangguan tersebut timbul primer pada sistem itu sendiri, sedangkan gangguan
yang berasal dari bagian lain tubuh tetapi menimbulkan efek pada sistem
muskuloskeletal. Tanda utama gangguan sistem muskuloskeletal adalah nyeri
dan rasa tidak nyaman , yang dapat bervariasi dari tingkat yang paling ringan
sampai yang sangat berat (Price, Wilson, 2005).
Pada salah satu penelitian 35% pasien pernah mengalami trauma pada
tulang yang terkena osteomielitis. Riwayat trauma sebelumnya dapat terjadi
kebetulan dan tidak berhubungan. Tetapi sekarang sudah diketahui bahwa
trauma dapat menjadi faktor penyebab terjadinya osteomielitis. Beberapa tahun
belakangan ini, insiden osteomielitis telah menurun, mungkin disebabkan oleh
perbaikan kesehatan umum dan perbaikan fasilitas medik. Sekali menderita
penyakit ini, sulit untuk memberantasnya. Penyakit ini sulit diobati karena dapat
terbentuk abses lokal. Abses tulang biasanya memiliki pendarahan yang sangat
kurang, dengan demikian penyampaian sel sel imun dan antibiotik terbatas
(Elizabeth J. Corwin, 2001)
Berdasarkan data dari rekam medik BPRSUD Kraton Kabupaten
Pekalongan selama tahun 2005 di bulan Januari-Desember kasus Osteomielitis
sebanyak tiga pasien dan pada tahun 2006 dari bulan Januari-Desember kasus
Osteomielitis sebanyak empat pasien. Jadi, selama kurun waktu dua tahun
jumlah penderita osteomilitis sebanyak tujuh pasien.

Salah satu penyebab terjadinya osteomielitis adalah adanya fraktur. Pada


keadaan semacam ini, maka operasi untuk irigasi, debridemen, dan pemberian
antibiotika

intravena

mungkin

diperlukan

untuk

mencegah

terjadinya

osteomielitis. Pada umumnya harus dilakukan 6 jam setelah cedera. Semakin


banyak waktu yang dilewati maka kemungkinan infeksi semakin besar (Price
dan Wilson, 2006).
1.2. Rumusan Masalah
2. Apakah yang dimaksud dengan osteomielitis?
3. Apa saja etiologi osteomielitis?
4. Apa saja manifestasi klinis osteomielitis?
5. Bagaimanakah patofisologi dan WOC osteomielitis?
6. Bagaimanakah asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem
muskuloskeletal osteomielitis?
1.3. Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Setelah perkuliahan diharapkan mahasiswa mengetahui asuhan
keperawatan pada klien dengan gangguan osteomielitis.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui definisi, etiologi osteomielitis.
2. Mengetahui manifestasi klinis osteomielitis.
3. Mengetahui patofisologi dan WOC osteomielitis.
4. Mengetahui penatalaksanaan osteomielitis.
5. Mengetahui komplikasi osteomielitis.
1.4. Manfaat
Mahasiswa mampu memahami tentang acne, rosacea dan miliariasis serta
menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan osteomielitis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Spondilitis tuberkulosis (TB) atau dikenal dengan Potts disease adalah
penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis yang
mengenai tulang belakang (Paramarta, 2008).
Spondilitis tuberkulosa atau tuberkulosa tulang belakang adalah peradangan
granolumastoma

yang

bersifat

kronis

destruktif

oleh

Mycobacterium
2

tuberculosis. Dikenal pula dengan nama Poots disease of the spine atau
tuberculous vertebral osteomielitis. Spondilitis ini paling sering ditemukan pada
vertebra C 1-2. Spondilitis tuberculosis biasanya mengenai korpus vertebra,
tetapi jarang mengenai arkus vertebrae (Ant. File, 2010)
Spondilitis terutama ditemukan pada kelompok usia 2-10 tahun dengan
perbandingan yang hamper sama antara wanita dan pria. Tuberculosis tulang
belakang merupakan infeksi sekunder dari tuberculosis di tempat lain dalam
tubuh. Lokasi spondilitis tuberkulosa terutama pada daerah vertebra torakalis
bawah dan vertebra lumbalis atas sehingga diduga ada infeksi sekunder dari
tuberculosis traktus urinarius, yang penyebarannya melalui pleksus Batsori pada
vena paravertebralis. Penyakit ini pada umumnya mengenai lebih dari satu
vertebra. Infeksi berawal dari bagian sentral, bagian depan, atau daerah epifisial
korpus vertebra. Kemudian terjadi hyperemia dan eksudasi yang menyebabkan
osteoporosis dan pelunakan korpus. Selanjutnya terjadi kerusakan pada korpus
epifisis, diskus intervertebralis, dan vertebra sekitarnya. Kerusakan pada bagian
depan korpus ini akan menyebabkan terjadinya kifosis (Muttaqin, 2008).
2.2 Etiologi
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman
Mycobacterium tuberculosis yang merupakan anggota ordo Actinomicetales dan
famili Mycobacteriase. Basil tuberkel berbentuk batang lengkung, gram positif
lemah yaitu sulit untuk diwarnai tetapi sekali berhasil diwarnai sulit untuk
dihapus walaupun dengan zat asam, sehingga disebut sebagai kuman batang
tahan asam. Hal ini disebabkan oleh karena kuman bakterium memiliki dinding
sel yang tebal yang terdiri dari lapisan lilin dan lemak (asam lemak mikolat).
Selain itu bersifat pleimorfik, tidak bergerak dan tidak membentuk spora serta
memiliki panjang sekitar 2-4 m (Paramarta, 2008).
Lokasi spondilitis tuberkulosa terutama pada daerah vertebra torakalis
bawah dan vertebra lumbalis atas sehingga diduga ada infeksi sekunder dari
tuberculosis traktus urinarius, yang penyebarannya melalui pleksus Batsori pada
vena paravertebralis. Meskipun menular, tetapi orang tertular tuberculosis tidak

semudah tertular flu. Penularan penyakit ini memerlukan waktu pemaparan yang
cukup lama dan intensif dengan sumber penyakit (penular). Menurut
Mayoclinic, seseorang yang kesehatan fisiknya baik, memerlukan kontak dengan
penderita TB aktif setidaknya 8 jam sehari selama 6 bulan

untuk dapat

terinfeksi. Sementara masa inkubasi TB sendiri, yaitu waktu yang diperlukan


dari mula terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan. Bakteri
TB akan mati bila terkena sinar matahari langsung, tetapi dalam tempat yang
lembab, gelap dan pada suhu kamar, kuman dapat bertahan hidup selama
beberapa jam. Dalam tubuh, kuman ini dapat tertidur lama (dorman) selama
beberapa tahun (Ant. File, 2010).
2.3 Patofisiologi
Muttaqin (2008) menjelaskan perjalanan penyakit spondylitis tuberkulosa
besagai beerikut. Penyakit ini umumnya mengenai lebih dari satu vertebra.
Infeksi berawal dari bagian sentral , bagian depan, atau daerah epifiseal korpus
vertebrae.kemudian

terjadi

hiperemi

dan

eksudasi

yang

menyebabkan

osteoporosis dan pelunakan korpus. Selanjutnya terjadi kerusakan pada korteks


epifisis, diskus invertebralis, dan vertebra sekitarnya. Kerusakan pada bagian
depan korpus ini akan menyebabkan terjadinya kifosis.
Kemudian eksudat (yang terdiri atas serum, leukosit, tulang yang fibrosis,
serta basil tuberkulosis) menyebar ke depan, di bawah ligamentum longitudinal
anterior. Eksudat ini dapat menembus ligamentum dan bereksparasi ke berbagai
arah di sepanjang garis ligamen yang lemah. Pada daerah vertebra servikallis,
eksudat terkumpul di belakang paravertebral dan menyebar ke lateral di
belakang muskulus sternokleidomastoideus. Eksudat dapat mengalami prostrusi
ke depan dan ke dalam faring yang dikenal sebagai abses faringeal. Abses dapat
berjalan mengisi tempat trakea, esophagus, atau kavum pleura. Abses pada
vertebra torakalis biasanya tetap tinggal pada toraks setempat menempati daerah
paravertebral , berbentuk massa menonjol dan fusiform. Abses pada daerah ini
dapat menekan medulla spinalis sehingga timbul paraplegia. Abses pada daerah
lumbal dapat menyebar masuk mengikuti muskulus psoas dan muncul di bawah
ligamentum inguinale pada bagian medial paha. Eksudat juga menyebar ke
4

daerah krista iliaka dan mungkin dapat mengikuti pembuluh darah femoral pada
trigonum skarpei atau region gluteal.
Stadium perjalanan penyakit:
1. Stadium implantasi. Setelah bakteri berada dalam tulang, bila daya tahan
tubuh klien mnurun, bakteri akan berduplikasi membentuk koloni yang
berlangsung selama 6-8 minggu. Keadaaan ini umumnya terjadi pada
daerah pre diskus dan pada anak-anak umumnya terjadi pada daerah
sentral vertebra.
2. Stadium Destruksi awal. Setelah stadium implantasi, terjadi destruksi
korpus vertebra serta penyempitan ringan pada diskus. Proses ini
berlangsung hingga 3-6 minggu.
3. Stadium destruksi lanjut. Pada stadium ini terjadi destruksi yang masif,
kolaps vertebra, dan terbentuk massa kaseosa serta pus yang berbentuk
cold abcess yang terjadi pada 2-3 bulan setelah stadium destruksi awal.
Selanjutnya dapat terbentuk sekuestrum serta kerusakan diskus
invertebralis. Pada saat ini terbentuk tulang baji terutama di sebelah
depan (wedging anterior) akibat kerusakan korpus vertebra yang
menyebabkan terjadinya kifosis atau gibus.
4. Stadium gangguan neurologis. Gangguan neurologis tidak berkaitan
dengan beratnya kifosis yang terjadi, tetapi terutama ditentukan oleh
tekanan abses ke kanalis spinalis yang lebih kecil sehingga gangguan
neurologis lebih mudah terjadi pada daerah ini.
Tabel 1: Derajat Paraplegia
Derajat

Manifestasi klinis

Kelemahan pada anggota gerak bawah terjadi setelah


melakukan aktivitas atau setelah berjalan jauh. Pada
tahap ini belum terjadi gangguan saraf sensorik.

II

Terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah, tetapi


klien masih dapat melakukan pekerjaannya.

III

Terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah yang


memebatasi

gerak

aktivitas

klien

serta

Spondilitis TB

hipoastesia/anesthesia.
IV

Terdapat gangguan saraf sensorik dan motorik disertai


gangguan defekasi dan miksi.

5. Stadium deformitas residual. Stadium ini terjadi kurang lenih 3-5 tahun
setelah timbul stadium implantasi. Kifosis atau gibus bersifat permanen
karena kerusakan vertebra yang masif di sebelah depan.
2.4 WOC
Infeksi secara hematogen tuberculosis paru ke dalam korpus vertebrata dekat diskus intervertebralis

Perusakan tulang dan penjalaran infeksi ke ruang diskus dan ke vertebrata yang berdekatan

Perkijuan jaringan tulang dan pembentukan abses dingin menjalar ke bagian lunak paravertebra

Spondilitis TB

Penatalaksanaan
Spondilitis TB

Farmakologi

Operatif

Konservatif

Resiko regimen terapeutik inadekuat


Memberi korset yang mencegah gerakan vertebra /membatasi gerak vertebra
Tirah Baring
Luka insisi

Perubahan pada vertebra servikalisPerubahan pada vertebra torakalisPe


Port de entry mikroorganisme
Terputusnya kontinuitas jaringan

Kerusakan
korpus
vertebra
dan terjadi angulasi verte
Kerusakan korpus vertebra dan terjadi
angulasi
vertebra
ke depan
Penekanan korda dan rad
Resiko Kerusakan integritas kulit
Resiko Infeksi

Kompresi radiks saraf pada ver

Perubahan vertebra
Perubahan diskus intervertebralis servikal

Nyeri

Paraplegia, stimulus nyeri pad

2.5 Manifestasi Klinis


Manifestasi klinis pada spondilitis tuberkulosis sebagai berikut:

Perubahan vertebra menjadi kifosis

Stimulus nyeri

a. Kelelahan
b. Kehilangan berat badan
c. Berkeringat pada malam hari
Gangguan mobilitas leher
sehingga
Penurunan
menjadi
kemampuan
kaku dan pembentukan
maksimal dalam
abses
melakukan
pada faring
respirasi, batuk e
d. Nyeri
dada leher
Nyeri
e. Batuk dengan mengeluarkan dahak atau darah
f. Nafas pendek (tuberculosis.org, 2012).
Muttaqin (2008) membagi manifestasi klinis sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Batuk, sesak, sputum


Hiperemi
Osteoporosis
Kifosis
Akumulasi secret meningkat
dalam proses menelan
ParaplegiGangguan
disertai hipotensi
ortostatik (penurunan sistolik <= 25mmHg

6.
7.
8.
9.

dan diastolik <=10 mmHg dari berbaring ke duduk)


Deformitas terutama pada spondilitis torakal
Inkontinensia
jika terjadi
di lumbal
Ketidakefektifan
pembersihan jalan napas
Asupan
nutrisispondylitis
tidak
adekuat
Kaku leher akibat penyakit mengenai vertebra serikalis
Penurunan berat badan

Respon peruba

2.6 Pemeriksaan Diagnostik

Re
Ansiet
Ketidakefektifan koping i

Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh

Adapun pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada penyakit spondilitis


tuberkulosa antara lain: (Rasjad, 2007)
1

Pemeriksaan laboratorium
a Peningkatan laju endap darah dan mungkin disertai leukositosis.
Pemeriksaan laju endap darah (LED) meningkat dengan hasil >100
b

mm/jam.
Uji Tuberkulin
Pemeriksaan
adanya

infeksi

rutin

yang

biasa

Mycobacterium

dilakukan

untuk menentukan

tuberculosis

adalah

dengan

menggunakan uji tuberkulin (Mantoux tes). Uji tuberkulin adalah suatu


cara untuk mengenal adanya infeksi tuberkulosis. Jika disuntikkan
secara intrakutan kepada seseorang yang telah terinfeksi TB akan
memberikan reaksi berupa indurasi di lokasi suntikan. Indurasi ini
terjadi

karena

vasodilatasi

lokal,

edema,

endapan

fibrin

dan

meningkatnya sel radang lain di daerah suntikan. Uji ini dilakukan


berdasar

adanya

hipersensitivitas

tubuh

akibat

adanya

infeksi

Mycobacterium tuberculosis terutama pada anak dengan sensitivitas dan


spesifisitas di atas 90%.
Uji tuberkulin dibaca setelah 48-72 jam (saat ini dianjurkan 72 jam)
setelah penyuntikan. Indurasi diperiksa dengan cara palpasi untuk
menentukan tepi indurasi, ditandai dengan alat tulis, kemudian diukur
dengan alat pengukur transparan, diameter transversal indurasi yang
terjadi dan dinyatakan hasilnya dalam milimeter. Jika tidak timbul
indurasi sama sekali hasilnya dilaporkan sebagai 0 mm. Secara umum,
hasil uji tuberkulin adalah diameter indurasi 0-4 mm dinyatakan uji
tuberkulin negatif. Diameter 5-9 mm dinyatakan positif meragukan,
karena dapat disebabkan oleh infeksi Mycobacterium atipic dan BCG,
c

atau memang karena infeksi TB (Setyanto, 2008).


Uji BTA
Spesimen dapat berupa dahak, cairan pleura, cairan serebrospinalis,
bilasan lambung, bronchoalveolar lavage, urin, dan jaringan biopsi.
Pemeriksaan dapat dilakukan secara mikroskopis atau biakan.

Pemeriksaan dahak dilakukan 3 kali (sewaktu-pagi-sewaktu), dengan


pewarnaan Zeil-Nielsen atau Kinyoun Gabbet.
Diagnosis TB paru ditegakkan dengan ditemukannya basil tahan
asam pada pemeriksaan hapusan sputum secara mikroskopis. Hasil
pemeriksaan dinyatakan positif bila sedikitnya 2 dari 3 spesimen dahak
ditemukan BTA positif. Bila hanya 1 spesimen positif, perlu
pemeriksaan foto toraks atau SPS ulang. Bila foto toraks mendukung TB
maka didiagnosis sebagai TB paru BTA positif. Bila SPS ulang hasilnya
negatif berarti bukan penderita TB. Bila SPS positif, berarti penderita
TB BTA positif. Bila foto toraks mendukung TB tetapi pemeriksaan SPS
negatif, maka didiagnosis adalah TB paru negatif rontgen positif.
1. Biopsi jaringan granulasi atau kelenjar limfe regional
Biopsi tulang juga dapat bermanfaat pada kasus yang sulit, namun
memerlukan tingkat pengerjaan dan pengalaman yang tinggi serta
pemeriksaan histologi yang baik. Pada pemeriksaan histologi akan
ditemukan nekrosis kaseosa dan formasi sel raksasa, sedangkan bakteri
tahan asam tidak ditemukan dan biakan sering memberikan hasil yang
negatif
2. Pemeriksaan radiologis
a. Pemeriksaan foto toraks untuk melihat adanya tuberkulosis paru
b. Foto polos vertebra
Ditemukan osteoporosis, osteolitik, dan destruksi korpus vertebra,
disertai penyempitan diskus intervertebralis yang berada diantara korpus
tersebut

dan

mungkin

dapat

ditemukan

adanya

massa

abses

paravertebral. Pada stadium lanjut terjadi destruksi vertebra yang hebat


sehingga timbul kifosis
c. Mielografi
Pemeriksaan mielografi dilakukan bila terdapat gejala-gejala penekanan
sumsum tulang
d. Pemeriksaan CT scan
CT scan dikerjakan untuk dapat menjelaskan sklerosis tulang belakang
dan destruksi pada badan vertebrae sehingga dapat menentukan
kerusakan dan perluasan ekstensi posterior jaringan yang mengalami
radang, material tulang, dan untuk mendiagnosis keterlibatan spinal
posterior serta keterlibatan sacroiliac join dan sacrum. Hal tersebut dapat
9

membantu memandu biopsi dan intervensi perencanaan pembedahan.


Pemeriksaan CT scan diindikasikan bila pemeriksaan radiologi hasilnya
meragukan. Gambaran CT scan pada spondilitis TB tampak kalsifikasi
pada psoas disertai dengan adanya kalsifikasi peripheral (Paramarta dkk,
2008).
e. Pemeriksaan MRI
Magnetic resonance imaging(MRI) dilaksanakan untuk mendeteksi
massa jaringan, appendicular TB, luas penyakit, dan penyebaran
subligamentous dari debris tuberculous (Paramarta dkk, 2008).
2.7 Penatalaksanaan
Terapi medikamentosa lebih diutamakan, sedangkan terapi pembedahan
melengkapi terapi medikamentosa dan disesuaikan dengan keadaan individual
tiap pasien. Pasien spondilitis TB pada umumnya bisa diobati secara rawat jalan,
kecuali diperlukan tindakan bedah dan tergantung pada stabilitas keadaan pasien.
Tujuan penatalaksanaan spondilitis TB adalah untuk mengeradikasi kuman TB,
mencegah dan mengobati defisit neurologis, serta memperbaiki kifosis (Byrne
TN, Benzel EC, Waxman SG, 2000).
Terapi OAT selama 9 bulan memberikan angka remisi yang lebih baik (hingga
99
persen) dibandingkan terapi OAT selama 6 bulan (Parthasarathy R, et al, 1999).
Untuk mempermudah klinis menentukan tindakan yang cocok untuk pasien,
dapat digunakan klasifikasi GATA.
1. Medikamentosa
Spondilitis TB dapat diobati secara sempurna hanya dengan OAT saja
hanya jika diagnosis ditegakkan awal, dimana destruksi tulang dan
deformitas masih minimal Seperti pada terapi TB pada umumnya, terapi
infeksi spondilitis TB adalah multidrug therapy. Secara umum, regimen
OAT yang digunakan pada TB paru dapat pula digunakan pada TB
ekstraparu, namun rekomendasi durasi pemberian OAT pada TB
ekstraparu hingga saat ini masih belum konsisten antarahli. British
Medical Research

Council menyarankan bahwa spondilitis TB


10

torakolumbal harus diberikan kemoterapi OAT selama 6 9 bulan. Untuk


pasien dengan lesi vertebra multipel, tingkat servikal, dan dengan defisit
neurologis belum dapat dievaluasi, namun beberapa ahli menyarankan
durasi kemoterapi selama 912 bulan. The Medical Research Council
Committee for Research for Tuberculosis in the Tropics menyatakan
bahwa isoniazid dan rifampisin harus selalu diberikan selama masa
pengobatan. Selama dua bulan pertama (fase inisial), obat-obat tersebut
dapat dikombinasikan dengan pirazinamid, etambutol dan streptomisin
sebagai obat lini pertama. Obat lini kedua diberikan hanya pada kasus
resisten pengobatan. Yang termasuk sebagai OAT lini kedua antara lain:
levofl oksasin, moksifl oksasin, etionamid, tiasetazon, kanamisin,
kapreomisin, amikasin, sikloserin, klaritomisin dan lain-lain. Adakalanya
kuman TB kebal terhadap berbagai macam OAT. Multidrug resistance
TB (MDR-TB) didefinisikan sebagai basil TB yang resisten terhadap
isoniazid dan rifampisin.
Spondilitis MDR-TB adalah penyakit yang agresif karena tidak dapat
hanya diterapi dengan pengobatan OAT baku. Regimen untuk MDR-TB
harus disesuaikan dengan hasil kultur abses. Perbaikan klinis umumnya
bisa didapatkan dalam 3 bulan jika terapi berhasil. Adapula rekomendasi
terbaru untuk penganganan MDR-TB, yaitu dengan kombinasi 5 obat,
antara lain: 1) salah satu dari OAT lini pertama yang diketahui sensitif
melalui hasil kultur resistensi, 2) OAT injeksi untuk periode minimal
selama 6 bulan, 3) kuinolon, 4) sikloserin atau etionamid, 5) antibiotik
lainnya seperti amoksisilin klavulanat dan klofazimin. Durasi pemberian
OAT setidaknya selama 1824 bulan. The United States Centers for
Disease Control merekomendasikan pengobatan spondylitis TB pada
bayi dan anak-anak setidaknya harus selama 12 bulan.
Untuk kategori I, yaitu kasus baru TB paru kasus baru dengan TB
ekstraparu, termasuk TB spinal, diberikan 2 HRZE (HRZS) fase inisial
dilanjutkan 4HR fase lanjutan, atau 2HRZE(HRZS) fase inisial
dilanjutkan 4H3R3 fase lanjutan, atau 2RHZE(HRZS) fase inisial

11

dilanjutkan 6HE fase lanjutan. Pemberian regimen bisa diperpanjang


sesuai dengan respons klinis penderita. Sedangkan untuk kategori II,
yaitu kasus gagal pengobatan, relaps, drop-out, diberikan 2RHZES fase
inisial dilanjutkan 5HRE fase lanjutan, atau 2HRZES fase inisial
dilanjutkan 5H3R3E3 fase lanjutan. Pemberian bisfosfonat intravena
bersamaan dengan kemoterapi OAT telah dicoba pada beberapa pasien
dan dikatakan dapat meningkatkan proses perbaikan tulang. Terapi
medikamentosa dikatakan gagal jika dalam 34 minggu, nyeri dan atau
deficit neurologis masih belum menunjukkan perbaikan setelah
pemberian OAT yang sesuai dengan atau tanpa imobilisasi atau tirah
baring.
2. Pembedahan
Dengan

berkembangnya

penggunaan

OAT yang

efektif,

terapi

pembedahan relatif ditinggalkan sebagai penatalaksanaan utama pada


spondilitis TB. Pilihan teknik bedah tulang belakang pada spondilitis
sangat bervariasi, namun pendekatan tindakan bedah yang baku dan
empiris masih belum ada. Setiap kasus harus dinilai keadaanya secara
individual. Pada pasien yang direncanakan dioperasi, kemoterapi tetap
harus diberikan, minimal 10 hari sebelum operasi OAT harus sudah
diberikan. Tindakan bedah yang dapat dilakukan pada spondilitis TB
meliputi drainase abses; debridemen radikal; penyisipan tandur tulang;
artrodesis/fusi;

penyisipan

tandur

tulang

dengan

atau

tanpa

instrumentasi/fiksasi, baik secara anterior maupun posterior; dan


osteotomi.
a. Indikasi dan Kontraindikasi Pembedahan
Indikasi pembedahan pada spondilitis TB secara umum sebagai berikut:
1) defisit neurologis akut, paraparesis, atau paraplegia.
2) deformitas tulang belakang yang tidak stabil atau disertai nyeri, dalam
hal ini kifosis progresif (30 untuk dewasa, 15 untuk anak-anak).
3) tidak responsive kemoterapi selama 4 minggu.
4) abses luas.
5) biopsi perkutan gagal untuk memberikan diagnosis

12

6) nyeri berat karena kompresi abses. Jika lesi di servikal, intervensi


bedah dilakukan lebih awal mengingat potensi kecacatan yang akan
terjadi. Jika mengikuti klasifikasi GATA yang telah dijelaskan diatas,
maka intervensi bedah dilakukan pada pasien dengan GATA IB hingga
GATA III. Sementara itu, satu-satunya kontraindikasi pembedahan pada
pasien spondilitis TB adalaha kegagalan jantung dan paru. Pada keadaan
ini kegagalan jantung dan paru harus ditangani terlebih dahulu untuk
menyelamatkan jiwa pasien.
b. Pembedahan drainase abses
Setelah terjadi pembentukan abses (cold abscess) dan degenerasi
setidaknya dua diskus, maka drainase harus dilakukan. Abses dapat
menekan medula spinalis sehingga terjadi gangguan neurologis.
Tindakan ini dapat mencegah progresi perburukan gejala neurologis dan
mencegah kolaps vertebra. Abses dapat terbentuk di tingkat manapun
sesuai fokus infeksi TB pada vertebra. Pada tingkat servikal, abses dapat
terjadi pada rongga retrofaringeal dan segitiga posterior leher. Untuk
abses retrofaringeal dapat dilakukan pendekatan transoral, sedangkan
pada segitiga posterior insisi dilakukan pada margo posterior
m.sternokleidomastoideus. Pada tingkat torakal, abses dapat dievakuasi
secara kostotransversektomi. Drainase abses lumbar/ paravertebral
dilakukan lewat insisi longitudinal dorsolateral. Drainase abses psoas/
pelvis dapat dilakukan melalui segitiga Petit atau insisi Ludloff.
c. Pembedahan debridemen dan koreksi kifosis
Karena lesi TB spinal biasanya di bagian anterior badan vertebra,
dekompresi anterior sangat direkomendasikan banyak ahli. Instrumentasi
kemudian dilakukan untuk stabilisasi tulang belakang, untuk melindungi
tandur anterior yang disisipkan, dan sekaligus untuk menjaga koreksi
kifosis.
d. Pembedahan pada kasus non-contiguous (skipping lesion)
Penelitian oleh Zhang dkk menyimpulkan bahwa spondilitis TB noncontiguousmulti-level dapat ditatalaksana dengan adekuat dengan

13

metode operasi tunggal pendekatan posterior transforaminal, debridemen


thorasik, dekompresi minimal, fusi vertebra, dan instrumentasi posterior
(modifi kasi TTIF Transforaminal

Thoracic

Interbody

Fusion).

Metode ini meliputi reseksi sebagian korpus vertebra, sendi faset,


prosesus transversus dan iga, kemudian tandur tulang disisipkan pada
defek reseksi, dan terakhir dipasang implan posterior. Kekurangan dari
modifi kasi TTIF adalah: 1) terdapat risiko kompresi medula spinalis, 2)
debridemen anterolateral sulit dilakukan, namun dengan pemberian OAT,
dapat mengkompensasi hal ini. Cara ini tidak dapat dipakai pada keadaan
dimana abses luas terbentuk di anterior korpus.
e. Pembedahan invasif minimal
Tindakan bedah invasif minimal mulai menjadi

trenddalam segala

bidang

tulang

pembedahan,

termasuk

pembedahan

belakang.

Pembedahan ini menjanjikan morbiditas yang lebih rendah, waktu rawat


yang lebih singkat, dan nyeri pasca-operasi yang lebih ringan. Tidak
semua operator menguasai teknik ini karena memerlukan keahlian
tersendiri. Belum banyak ahli bedah tulang yang melakukan pembedahan
invasif minimal pada pasien spondilitis TB. Sejauh yang penulis ketahui,
terdapat dua jenis pembedahan invasif minimal yang telah dikaji
hasilnya, yaitu 1) fusi dan debridemen anterior dengan video-assisted
thoracoscopic

surgery(VATS),

dan

2)

pemasangan

pedicle

screwposterior secara invasif minimal, diikuti fusi dan debridemen


posterolateral mini-open. Kedua teknik ini dapat menghasilkan fusi
vertebra yang adekuat, disertai dengan perbaikan postur, fungsional dan
neurologis yang memuaskan.
f. Pilihan tandur tulang
Tandur tulang yang dapat digunakan pada penatalaksanaan bedah
spondilitis TB adalah tandur krista iliaka, tandur iga, tandur tibia, tandur
fibula, hingga tandur humerus, baik otogenik ataupun alogenik. Tandur
krista iliaka trikortikal adalah pilihan utama untuk seluruh tingkat
vertebra karena tingginya yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

14

Namun, khusus untuk operasi daerah torakal, tandur iga otogenik juga
dapat digunakan. Tandur fibula, tibia dan humerus digunakan pada
keadaan dimana defek debridemen terlalu luas untuk ditutup oleh krista
iliaka, atau iga tidak cukup panjang.
g. Pembedahan pada Pasien Anak
Pada anak-anak, meskipun lesi akibat spondilitis TB dapat sembuh
dengan terapi non-operatif, namun kifosis cenderung terus bertambah
seiring dengan berjalannya pertumbuhan, oleh karena itu perlu dilakukan
koreksi kifosis secara cepat dan stabilisasi vertebra pada fase aktif
penyakit. Penatalaksanaan spondilitis TB anak harus secara agresif.
Koreksi deformitas tulang belakang pada pasien anak adalah imperatif.
Angulasi 15 saja cukup untuk menyebabkan gangguan pertumbuhan
tinggi. Pertumbuhan vertebra setelah pemasangan instrumen pada anakanak post-operasi koreksi kifosis telah dipelajari dan dievaluasi.
Pertumbuhan unit vertebra setelah pemasangan fiksasi internal vertebra
tidak memiliki perbedaan yang signifikan dibanding vetebra yang intak.
Di sisi lain, ditemukan adanya pertumbuhan kolumna anterior sehingga
membentuk sudut lordosis yang dapat mengkoreksi kifosis secara
sendirinya saat pertumbuhan berlangsung. Dilaporkan juga bahwa dalam
2 tahun, dapat terjadi kompresi implan terhadap diskus yang berpotensi
menimbulkan degenerasi diksus intervertebralis.
3. Tirah baring, Imobilisasi, dan Fisioterapi
Imobilisasi yang singkat akan mengurangi morbiditas pasien. Dengan
instrumentasi, kebutuhan imobilisasi semakin berkurang sehingga pasien
dapat cepat mencapai status ambulatorik. Jenis imobilisasi spinal
tergantung pada tingkat lesi. Pada daerah servikal dapat diimobilisasi
dengan jaket Minerva; pada daerah vertebra torakal, torakolumbal dan
lumbal bagian atas dapat diimobilisasi menggunakan body cast jacket.
Sedangkan pada lumbal bawah, lumbosakral, dan sakral dilakukan
imobilisasi dengan body jacket atau korset dari gips yang disertai dengan
fiksasi salah satu sisi panggul

15

Terapi pada penderita spondilitis TB dapat pula berupa tirah baring


disertai dengan pemberian kemoterapi, dengan atau tanpa imobilisasi.
Tindakan ini biasanya dilakukan pada penyakit yang telah lanjut atau bila
tidak tersedia keterampilan dan fasilitas yang cukup untuk melakukan
operasi tulang belakang, atau bila terdapat permasalahan teknik operasi
yang dianggap terlalu berbahaya. Jenis imobilisasi yang dilakukan sama
dengan imobilisasi pasca-operasi yang telah dijelaskan sebelumnya.
Imobilisasi dilakukan setidaknya selama enam bulan. Tirah baring diikuti
dengan pemakaian gips untuk melindungi tulang belakang pada posisi
ekstensi, terutama pada keadaan akut atau fase aktif. Pemasangan gips ini
ditujukan untuk imobilisasi spinal, mengurangi kompresi medula spinalis
dan progresi deformitas lebih lanjut. Istirahat di tempat tidur dapat
berlangsung hingga empat minggu. Fisioterapi diperlukan sepanjang
ditemukan adanya gangguan fungsional. Dalam hal ini gangguan
fungsional dikaitkan dengan cedera medula spinalis yang menimbulkan
kelumpuhan motorik, sensorik, dan autonom. Intervensi fisioterapi yang
diberikan disesuaikan dengan modalitas yang terganggu. Paraplegia yang
mengharuskan pasien untuk terus duduk atau tidur berpotensi
menyebabkan ulkus dekubitus. Maka dari itu, posisi baring harus sering
diganti. Selain itu, pemeriksaan kulit secara menyeluruh harus rutin
dilakukan. Pasien dengan gangguan defekasi dan berkemih dapat dibantu
dengan kateterisasi intermiten dan evakuasi feses setiap hari. Mobilisasi
dengan kursi roda (wheelchair) dianjurkan setidaknya 10 hari setelah
dimulai pengobatan. Jika pasien sudah stabil, dapat rencanakan untuk
pelatihan kemandirian, kemampuan sosial dan melakukan aktivitas
sehari-hari dan berikutnya dapat diberikan pelatihan vokasional. Studi
prospektif pada pasien spodilitis TB yang diterapi secara medikamentosa
atau bedah, direhabilitasi mulai dari masa pre-operasi hingga 6 bulan
pasca-operasi dekompresi dan fusi spinal, membuktikan bahwa
fisioterapi mampu meningkatkan kualitas hidup pasien spondilitis TB,
terlebih jika dikombinasi dengan terapi kuratif yang adekuat. Terapi

16

motorik yang dilakukan antara lain difokuskan pada otot dada, perut,
tungkai bawah, batang tubuh, dan ekstensor sakrospinal. Skor Modifi ed
Barthel Index (MBI) meningkat secara bermakna dimana pada saat
permulaan hanya 10,6 persen pasien termasuk dalam kategori mandiri,
dan pada akhir studi 70,2 persen pasien termasuk dalam kategori
mandiri.
2.8 Komplikasi
Komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh spondilitis tuberkulosa yaitu:
1. Kifosis berat
Hal ini terjadi oleh karena kerusakan tulang yang terjadi sangat hebat
sehingga tulang yang mengalami destruksi sangat besar (Paramarta dkk,
2008).
2. Pottds paraplegiaa.
a. Muncul pada stadium awal disebabkan tekanan ekstradural oleh pus maupun
sequester atau invasi jaringan granulasi pada medula spinalis. Paraplegia ini
membutuhkan tindakan operatif dengan cara dekompresi medulaspinalis dan
saraf.
b. Muncul pada stadium lanjut disebabkan oleh terbentuknya fibrosis dari jaringan
granulasi atau perlekatan tulang (ankilosing) di atas kanalis spinalis.
3. Ruptur abses paravertebraa.
a. Pada vertebra torakal maka nanah akan turun ke dalam pleura sehingga
menyebabkan empiema tuberculosis
b. Pada vertebra lumbal maka nanah akan turun ke otot iliopsoas membentuk psoas
abses yang merupakan cold abscess.
4. Cedera corda spinalis (spinal cord injury).
17

Dapat terjadi karena adanya tekanan ekstradural sekunder karena pus


tuberkulosa, sekuestra tulang, sekuester dari diskus intervertebralis (contoh :
Pottds paraplegia prognosabaik) atau dapat juga langsung karena
keterlibatan korda spinalis oleh jaringan granulasi tuberkulosa (contoh
:menigomyelitis prognosa buruk). Jika cepat diterapi sering berespon baik
(berbeda dengan kondisi paralisis padatumor). MRI dan mielografi dapat
membantu membedakan paraplegi karena tekanan atau karena invasi dura
dancorda spinalis (Harsono, 2003).

2.9 Prognosis
Prognosis spondilitis TB bervariasi tergantung dari manifestasi klinik yang
terjadi. Prognosis yang buruk berhubungan dengan TB milier, dan meningitis
TB, dapat terjadi sekuele antara lain tuli, buta, paraplegi, retardasi mental,
gangguan bergerak dan lain-lain. Prognosis bertambah baik bila pengobatan
lebih cepat dilakukan. Mortalitas yang tinggi terjadi pada anak dengan usia
kurang dari 5 tahun sampai 30% (I gede, 2008).

18

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Kasus
Seorang pria yang bernama Tn. B berusia 59 tahun, dilarikan ke Rumah
Sakit Dr.Soetomo dengan keluhan nyeri pada punggung dan sesak nafas. Pasien
terlihat lemas dan lesu, dan terlihat gibbus (bungkuk). pasien merasa kurang
nafsu makan. Pasien mengalami paraplegi dan kelemahan ekstremitas (nyeri
sendi).
Dalam pemeriksaan ditemukan pasien terlihat sesak dengan RR 35x/menit, suhu
36,8C, BB: 48 Kg, TB: 160cm, HR: 90x/menit, TD: 130/80 mmHg skala nyeri
8/10. Pasien sudah memiliki sakit TB Paru sejak 5 tahun yang lalu. Pasien jarang
meminum obat sesuai dengan jadwal. Pada pemeriksaan diagnostic tuberculin
test positif, basil tahan (+), x-rays terjadi destruksi korpus vertebrae.
3.2 Pengkajian
1. Identitas
A. Nama : Tn. B
B. Umur : 59 tahun
C. Jenis Kelamin : Pria
D. Diagnosis medis : Spondilitis TB
E. Keluhan Utama : nyeri pada pungung
2. Riwayat kesehatan sekarang
Akhir-akhir ini pasien merasa lemas dan tiba-tiba terjadi nyeri
hebat pada punggung dan nafsu makan menurun
3. Riwayat kesehatan masa lalu :
Pasien di diagnosis terkena TB Paru sejak 5 tahun.
4. Pemeriksaan Fisik
B1 : pasien terlihat sesak, RR : 35x/menit
B2 : HR: 90x/menit, TD: 130/80 mmHg
B3 : Pasien merasa nyeri dengn skala 8/10 di punggung.
B4 : B5 : nafsu makan menurun, susah menelan
B6 : adanya gibbus, paraplegi dan kelemahan ekstremitas.
3.3 WOC
Infeksi secara hematogen
tuberculosis paru ke dalam
korpus vertebrata

Infeksi secara hematogen


Perkijuan
jaringan
dan
tuberculosis
paru tulang
ke dalam
pembentukan
abses
dingin
korpus vertebrata
menjalar ke bagian lunak
paravertebra

Kerusakan korpus vertebrae dan


Perubahan
terjadi
angulasipada
vertebrae
Perubahan
diskus ke
depan
vertebrae
cervikalis
intervertebralis
servikal

Kompresi
radiks saraf 19
Kerusakan korpus vertebrae padaPenekanan korda dan radiks
vertebfra
dan
terjadi angulasi
Perubahan
pada vertebrae
Perubahan
pada
saraf oleh pembesaran
ke
depan
torakalis
Perubahan
vertebra
abses/tulang
bergeser
vertebrae torakalis
vertebrae lumbalis

Spondilitis
TB

Perubahan pada vertebrae cervikalis


Perubahan pada vertebrae torakalis Perubahan pada vertebrae lumbalis

korpus vertebrae dan terjadi


Kerusakan
angulasi
korpus
vertebrae
vertebrae
ke depan
danPenekanan
terjadi angulasi
korda vertebrae
dan radikske
saraf
depan
oleh pembesaran abses/tulang

Perubahan diskus intervertebralis servikalPerubahan


Kompresi
radiks saraf pada
Paraplegia,
vertebfra stimulus
torakalis nyeri pada pinggang
vertebra

Perubahan vertebra menjadi kifosis

Hambatan mobilitas fisik,

Penurunan kemampuan maksimal dalam melakukan respirasi, batuk efektif


Stimulus nyeri

Nyeri
Akumulasi secret meningkat

Ketidakefektifan pembersihan jalan napas

20

3.4 Analisa Data


Data
DO : nyeri skala 8
DS : pasien merasa
nyeri di daerah
punggung

Etiologi
Kerusakan korpus
vertebrae

Masalah
Nyeri

Kompresi radiks saraf


pada vertebfra torakalis
Nyeri

DO : paraplegi,
kelemahan
DS : Pasien
mengatakan sakit
ketika badan
digerakkan.

Perubahan pada
vertebrae lumbalis

Hambatan Mobilitas Fisik

Penekanan korda dan


radiks saraf
Paraplegia, stimulus
nyeri pada pinggang
Hambatan Mobilitas Fisik

DO : RR 35x/menit
DS : pasien mengeluh
sesak

Perubahan diskus
intervertebralis servikal

Ketidakefektifan
bersihan jalan nafas

Perubahan vertebra
menjadi kifosis
Penurunan kemampuan
maksimal dalam
melakukan respirasi,
batuk efektif
Akumulasi secret
meningkat
Ketidakefektifan
bersihan jalan nafas
3.5 Diagnosa dan Intervensi
1. Nyeri berhubungan dengan inflamasi (peradangan sendi).
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan nyeri dan
ketidaknyamanan berkurang, serta tidak terjadi kekambuhan nyeri dan
komplikasi

21

Kriteria hasil :
Tidak ada nyeri, klien tampak rileks, tidak ada mengerang dan perilaku
melindungi bagian yang nyeri, frekuensi pernapasan 12-24 per menit, suhu klien
dalam batas normal (36C-37C) dan tidak adanya komplikasi
Intervensi
1)kaji tanda-tanda vital klien

Rasional
1) Untuk mengetahui rasa nyeri klien dengan

2) Pertahankan imobilisasi bagian yang


sakit dengan tirah baring
3) Evaluasi keluhan nyeri atau ketidak
nyamanan.

Perhatikan

karakteristik,

lokasi

termasuk

dan

intensitas

(skala nyeri 1-10). Perhatikan petunjuk

perubahan tanda-tanda vital


2) untuk mengurangi rasa nyeri

pada

pungung
3) untuk mengetahui persepsi klien tentang
nyeri dan mengetahui seberapa besar rasa
nyeri tersebut

nyeri perubahan pada tanda vital dan


emosi atau perilaku.
4) gunakan

brace

punggung

penyangga pungung jika perlu.


5)

Lakukan

dan

awasi

atau 4) untuk menyongkong punggung yang


rapuh agar tidak terjadi keparahan atau

latihan

rentang gerak pasif atau akfif


6)

Dorong

menggunakan

tehnik

fraktur pada pungung


5) untuk menghindari kekakuan otot pada
ekstremitas lain.
6) Untuk mengurangi rasa nyeri dengan
distraksi

managemen stress, seperti relaksasi


progresif,

latihan

napas

imajinasi

visualisasi,

dan

dalam,
sentuhan

Kolaborasi
7) Analgesik adalah obat untuk pereda nyeri

terapeutik..
Kolaborasi :
7) Berikan

obat

analgesik

hidroksin,siklobenzaprin

seperti
sesuai

indikasi.

22

.
2. Diagnosa keperawatan : Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan
paraplegia , paralisis ekstrimitas bawah, kelemahan fisik.
Tujuan : Dalam waktu 3x24 jam, klien dapat melakukan cara mobilisasi secara
optimal sesuai dengan kondisi daerah spondilitis
Kriteria hasil : Klien mampu melakukan aktifitas perawatan diri sesuai tingkat
kemampuan, mengidentifikasi individu atau masyarakat yang dapat membantu,
klien dapat terhindar dari cidera
Intervensi
Mandiri :

Rasional
Mandiri :

Hindari apa yang tidak dapat dilakukan klien

Klien dalam keadaan cemas dan tergantung

dan bantu bila perlu.

sehingga hal ini dapat mencegah frustasi dan


menjaga harga diri klien.

Atur posisi fisiologis meliputi :


1. Kaji kesejajaran dan tingkat

Memberikan data dasar tentang kesejajajran

kenyamanan selama klien berbaring

tubuh dan kenyamanan klien untuk

sesuai dengan daerah spondilitis.

perencanaan selanjutnya.

2. Atur posisi telentang dan letakkan

Mengurangi kemungkinan stimulus nyeri,

gulungan handuk/bantal di area

kontraktur sendi, dan memungkinkan untuk

bawah bagian punggung yang sakit

pergerakan optimal pada ekstrimitas atas.

dengan menjaga kondisi kurvatura


tulang belakang dalam kondisi
optimal.
3.

Sokong kaki bawah yang mengalami Posisi optimal untuk mencegah footdrop yang
paraplegia dengan bantal pada posisi

sering terjadi akibat kondisi kaki yang

jari kaki menghadap ke langit.

jatuh(posisi ekstensi) terlalu lama di tempat


tidur. Adanya bantal akan mencegah
terjadinya rotasi luar kaki dan mengurangi
tekanan pada jari-jari kaki.

Lakukan latihan ROM pasif

Latihan yang efektif dan berkesinambungan

1.miring kanan miring kiri

akan mencegah terjadinya kontraktur sendi

2.fleksi ekstensi ekstremitas

dan atrofi otot yang sering terjadi pada klien


23

spondilitis TB.
Klien memerlukan empati, tetapi perawat
Ajak klien untuk berpikir positif terhadap

perlu mengetahui perawatan yang konsisten

kelemahan yang dimilikinya. Berikan klien

dalam menangani klien, sekaligus

motivasi dan ijinkan klien melakukan tugas,

meningkatkan harga diri, memandirikan klien,

beri umpan balik positif atas usahanya.

dan menganjurkan klien untuk terus mencoba.


Membantu dalam mengantisipasi dan

Kaji kemampuan dan tingkat penurunan

merencanakan pertemuan untuk kebutuhan

dalam melakukan mobilisasi.


Kolaborasi

individual.

Pemberian OAT

Pemberian regimen OAT(Obat Anti


Tuberkulosis) sesuai panduan akan mengatasi

Tindakan operatif

masalah utama pada klien spondilitid TB.


Memberikan stabilitas pada tulang belakang
dengan tindakan pembedahan.Terdapat 2
pendekatan pembedahan, yaitu : pendekatan
anterior dengan debridemen, eksisi, dan fusi
anterior, serta pendekatan posterior dilakukan
dengan dekompresi dan stabilisasi dengan
pemasangan PSSW(Pedicle Screw and
Sublaminary Wire Plate)

3. Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan sekresi


mukus yang kental, hemoptisis, kelemahan, upaya batuk buruk, edema
tracheal/faringeal.
Tujuan: Dalam waktu 2 x 24 jam setelah diberikan intervensi kebersihan jalan
nafas kembali efektif
Kriteria evaluasi:
1. Klien mampu melakukan batuk efektif
2. Klien mampu melakukan batuk efektif
3. Pernapasan klien normal (16-20 x/menit) tanpa ada penggunaan otot
bantu napas. Bunyi napas normal, Rh -/- dan pergerakan pernapasan
normal
24

Rencana Intervensi
Mandiri
Kaji

fungsi

Penurunan

Rasional
bunyi

pernapasan menunjukkan

napas

atelektasis,

(bunyi napas, kecepatan, ronkhi menunjukkan akumulasi


irama,

kedalaman,

penggunaan

otot

dan sekret

dan

ketidakefektifan

bantu pengeluaran

napas).

sekresi

yang

selanjutnya dapat menimbulkan


penggunaan otot bantu napas
dan

peningkatan

pernapasan.
kemampuan Pengeluaran

Kaji

akan

sulit

sekresi, sekret

catat

volume infeksi dan hidrasi yang tidak

sputum,

dan

kental

jika

mengeluarkan
karakter,

sangat

kerja

(efek

adanya adekuat). Sputum berdarah bila

hemoptisis.

ada kerusakan (kavitasi) paru


atau

luka

bronchial

dan

memerlukan

intervensi

lebih

Berikan

lanjut.
posisi Posisi fowler

fowler/semifowler

tinggi ekspansi paru dan menurunkan

dan bantu klien berlatih upaya


napas

dalam

dan

napas.

batuk maksimal

efektif.

memaksimalkan
Ventilasi

membuka

area

atelektasis dan meningkatkan


gerak sekret ke jalan napas

besar untuk dikeluarkan.


Pertahankan intake cairan Hidrasi
yang
adekuat
sedikitnya

2500

ml/hari membantu

kecuali tidak diindikasikan.


Bersihkan

secret

sekret

dan

mengencerkan
mengefektifkan

pembersihan jalan napas


dari Mencegah
obstruksi

dan

mukus dan trachea, bila aspirasi. Pengisapan diperlukan


perlu lakukan pengisapan bila

klien

tidak

mampu

25

(suction). Bila ada batuk mengeluarkan sekret.


darah, hindari batuk efektif
dan beri pengencer mukus.
Kolaborasi pemberian obat Pengobatan
sesuai indikasi OAT

tuberkulosis

terbagi menjadi 2 fase, yaitu


fase intensif (2-3 bulan) dan
fase

lanjutan

(4-7

bulan).

Paduan obat yang digunakan


terdiri atas obat utama dan
obat

tambahan.

Jenis

obat

utama yang digunakan sesuai


dengan

rekomendasi

WHO

adalah

Rifampisin,

INH,

Pirazinamid, Streptomisin, dan


Agen mukolitik

Etambutol.
Agen mukolitik

menurunkan

kekentalan

perlengketan

dan

sekret paru untuk memudahkan


Bronkodilator

pembersihan.
Bronkodilator

meningkatkan

diameter lumen percabangan


trakeobronkhial

sehingga

menurunkan tahanan terhadap


Kortikosteroid

aliran udara.
Kortikosteroid berguna dengan
keterlibatan
hipoksemia
inflamasi

luas
dan

bila

pada
reaksi

mengancam

kehidupan.

26

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Osteomielitis adalah infeksi pada tulang dan sumsum tulang yang dapat
disebabkan oleh bakteri, virus, atau proses spesifik (M. tuberkulosa, jamur )
(Rasjad, 2007). Ostiomielitis kronis pada orang dewasa lebih sulit diatasi dengan
terapi biasanya disembuhkan dengan antibiotic dan debridement. Terapi
antibiotic empirik

biasanya

tidak direkomendasikan. Berdasarkan

tipe

ostiomielitis kronis nya, pasien mendapatkan antibiotic parenteral selama 2-6


minggu. Namun, tanpa debridement yang adekuat, ostiomielitis kronis tidak
memberikan respon pada sebagian rejimen antibiotik tak peduli berapa lama
terapi dilakukan.
4.2 Saran
Setelah penulisan makalah ini, kami mengharapkan masyarakat pada
umumnya dan mahasiswa keperawatan pada khususnya mengetahui lebih dalam
tentang ganguan muskuloskeletal osteomielitis. Osteomielitis yang terjadi akibat
penyebaran infeksi di sekitarnya atau kontaminasi, tidak akan ada gejala
septikema. Daerah terinfeksi membengkak, teraba hangat, rasa nyeri, dan nyeri
tekan. Sementara osteomyelitis kronis akan ditandai dengan pus yang mengalir
keluar, periode nyeri berulang, inflamasi, dan pembengkakan (Lukman &
Ningsih, 2009). Oleh karena itu sebagai perawat kita harus memberikan asuhan
keperawatan serta berkolaborasi dengan tenaga medis lainnya

untuk

memberikan penatalaksanaan yang tepat bagi klien.

27

DAFTAR PUSTAKA

Byrne TN, Benzel EC, Waxman SG, 2000. Infectious and noninfectious
inflammatory disease affecting the spine. Disease of the Spine and Spinal
Cord. Oxford University Press Inc.. vol 9, pp:325 335
Doenges, M.e., Moorhouse, M.F., Murr, A.C., 2005. Nursing Diagnosis
Manual:Planning, Individualizing,and Documenting Client. Philadhelphia:
FA Davis Company
Harsono, 2003. Spondilitis Tuberkulosa dalam Kapita Selekta Neurologi. Ed. II.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press. pp. 195-197
I Gede E.P, Putu S. P, Ida B. S, Putu A (2008). Spondilitis Tuberkulosis. Sari
Pediatri. vol. 10, no. 3 (hlm. 177-178).
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem
Muskuloskeletal. Jakarta : EGC.
Paramarta, I.G. Purniti, P.S. Subanada, I.B. Astawa, P. 2008. Spondilitis TB.
Sari Pediatri; 10(3):177-83
Parthasarathy R, et al, 1999. A comparison between ambulant treatment and
radical surgery - ten-year report. J Bone and Joint Surg; vol 81B, pp: 46471.
Rasyad, Chairuddin. 2007. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Makasar : Bintang
Lamumpatue
Setyanto DB, Rahajoe NN. 2008. Diagnosis Tuberkulosis Pada Anak. Dalam:
Buku Ajar Respirologi. Jakarta: Badan penerbit IDAI
Tuberculosis.org. (2012). Gejala Tuberculosis. Diakses tanggal 27 September
2013 melalui web: http://tuberkulosis.org/tag/spondilitis-tuberkulosis/.
Zuwanda dan Raka Janitra, 2013. Diagnosis dan Penatalaksanaan Spondilitis
Tuberkulosis.CKD-208, vol 40 no 9, pp 661-673.

28

Anda mungkin juga menyukai