Anda di halaman 1dari 3

BAB III

PEMBAHASAN
Pada pasien ini didiagnosa SLE karena sesuai dengan teori yaitu faktor
predisposisi bahwa perempuan usia produktif sering terkena SLE, kemudian
karena memenuhi 7 gejala dan tanda dari kriteria yaitu ruam malar, ruam diskoid,
fotosensitivitas, ulserasi di mulut, gangguan renal, gangguan hematologi dan
gangguan

imunologik.

Pada

pasien

ini

dilakukan

pengelolaan

dengan

kortikosteroid dosis 2-0-1 untuk mengurangi adanya respon inflamasi dan


mensupresi imun yang berlebih.
Pada pasien ini terdapat diperlukan beberapa pemeriksaan penunjang yang
digunakan untuk menyingkirkan adanya kegawatan pada SLE yang sifatnya
sistemik seperti :

Jantung:

endokarditis

Libman-Sacks,

vaskulitis

arteri

koronaria,

miokarditis,tamponade jantung, hipertensi maligna.

Paru-paru: hipertensi pulmonal, perdarahan paru, pneumonitis, emboli


paru, infark paru, ibrosis interstisial, shrinking lung.

Gastrointestinal: pankreatitis, vaskulitis mesenterika.

Ginjal: nefritis proliferatif dan atau membranous.

Kulit: vaskulitis berat, ruam difus disertai ulkus atau melepuh (blister).

Neurologi: kejang, acute confusional state, koma, stroke, mielopati


transversa, mononeuritis, polineuritis, neuritis optik, psikosis, sindroma
demielinasi.

32

Hematologi: anemia hemolitik, leukositopeni (leukosit<1.000/mm3),


trombositopenia < 20.000/mm3, purpura trombotik
Pada pasien ini dicurigai nefritis akibat SLE yang derajatnya secara

histopatologis masih susah ditentukan karena belum dilaksanakan biopsi ginjal


pada pasien ini diusulkan untuk dilakukan biopsi ginjal dan pengawasan
terhadap gejala nefritis sendiri seperti hematuria, proteinuria dan hipertensi pada
penatalaksanaan kasus ini ditemukan adanya hematuria dan piuria yaitu diet
rendah protein untuk mengurangi kerja ginjal.
Diagnosis anemia didasarkan pada kadar hemoglobin pada pemeriksaan
darah rutin yaitu 7,9 g/dL, lebih rendah dari batas nilai normal yaitu 12 g/dL. Pada
anamnesis didapatkan gejala anemia berupa pasien lemas, sedangkan pada
pemeriksaan fisik didapatkan pucat pada konjungtiva palpebra inferior kanan dan
kiri.
Morfologi eritrosit penderita berdasarkan indeks eritrosit termasuk
normositik normokromik karena didapatkan nilai MCV dan MCH normal. Masih
perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mencari etiologi anemia pada
pasien yaitu gambaran darah tepi, retikulosit, serum iron, TIBC, ferritin dan AIHA
(coombs test). Untuk terapi anemia pada penderita SLE, terapi ditujukan pada
proses penyakitnya, tidak dianjurkan untuk terapi besi atau intervensi spesifik
lainnya. Terapi steroid , 1-1,5 mg/kgBB/hari cukup efektif. Steroid diberikan
parenteral pada keadaan akut dan diganti oral jika keadaan membaik.
Pada pasien ini juga ditemukan anamnesis batuk berdahak putih kental yang
terjadi saat pasien mondok di RSUD Demak sebelum dirujuk ke RSUP Dr
Kariadi. Tanda tanda yang mengarah ke pneumonia yang lain adalah adanya

33

temuan suara ronkhi basah kasar pada basal lapangan paru kanan dan kiri,
peningkatan leukosit sebesar 14,3 ribu/mmk, pada gambaran radiologi x-foto
thorax didapatkan bercak pada perihiler kanan dan kiri lapangan paru yang
dicurigai sebagai adanya infiltrat dan efusi pleura kiri minimal. Pemeriksaan
penunjang yang akan dilakukan untuk mengetahui etiologinya adalah dengan
kultur dan pengecatan sputum. Sembari menunggu hasil, pasien ini diberi
penatalaksanaan berupa antibiotik golongan cephalosporin karena bersifat
spektrum luas.
Pada pasien ini dijumpai adanya kadar kalium yang rendah pada tubuh yaitu
2,5 mmol/L. Beberapa penyebab terjadinya hipokalemi, antara lain : alkalosis,
kehilangan melalui jalur gastro-intestinal (diare, muntah, penggunaan laksatif
berlebihan) , kehilangan melalui ginjal (diuretik, renal tubular asidosis) , intake
kurang. Pada pasien ini dicurigai penyebab terjadinya hipokalemi adalah akibat
adanya riwayat diare dan intake yang kurang. Untuk itu perlu diberikan
penatalaksanaan medis dengan memberikan asupan zat elektrolit berupa
pemberian KSR 500 mg/8 jam yang diberikan secara per oral.

34