Anda di halaman 1dari 21

I.

TUJUAN PRAKTIKUM
A. Transformator Hubung Singkat dan Beban Nol
a) Mempelajari prinsip kerja transformator dan karakteristiknya.
b) Mengetahui rangkaian ekivalen transformator pada beban nol dan
hubung singkat.
B. Transformator Pembebanan Trafo 3 Fasa
a) Mengenal hubungan pembebanan trafo baik hubungan bintang (Y)
maupun hubungan delta ( ).
b) Mengetahui jenis pembebanan dari R, L, C.
c) Mengetahui grafik hubungan dari besaran-besaran yang diukur.

II.

TEORI DASAR
2.1. Definisi Transformator
Transformator atau transformer atau disebut juga trafo adalah
komponen elektromagnetik yang dapat mengubah suatu taraf tegangan
AC ke taraf yang lainnya.
Trafo adalah alat yang digunakan untuk menaikkan atau
menurunkan tegangan bolak-balik (AC).
Transformator adalah suatu alat yang statis / stasioner yang dapat
memindahkan daya listrik dari suatu rangkaian ke rangkaian lainnya
dalam frekuensi yang sama. Tegangan yang diterima dapat dinaikkan
atau diturunkan sesuai dengan besar kecilnya arus dalam rangkaian.
Prinsip dasar suatu transformator adalah induksi bersama (mutual
induction) antara dua rangkaian yang dihubungkan oleh fluks magnet.

Gambar 1. Transformasi Energi

Jadi, kami dapat simpulkan bahwa Trafo adalah suatu alat listrik
yang dapat memindahkan dan mengubah energi listrik dari satu atau

lebih rangkaian listrik ke rangkaian listrik yang lain, melalui suatu


gandengan magnet dan berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik.
2.2. Sejarah Trafo
1831, Michael Faraday mendemonstrasikan sebuah koil dapat
menghasilkan tegangan dari koil lain.
1832, Joseph Henry menemukan bahwa perubahan flux yang cepat
dapat menghasilkan tegangan koil yang cukup tinggi.
1836, Nicholas Callan memodifikasi penemuan Henry dengan dua
koil.
1850 1884, era penemuan generator AC dan penggunaan listrik
AC.
1885, Georges Westinghouse & William Stanley mengembangkan
transformer berdasarkan generator AC.
1889, Mikhail Dolivo-Dobrovolski mengembangkan transformer 3
fasa pertama.

Gambar 2. Sejarah Perkembangan Trafo

2.3. Transformator Hubung Singkat dan Beban Nol

Dalam bentuk yang sederhana, transformator terdiri dari dua


kumparan induktif yang secara listrik terpisah tetapi secara magnit
dihubungkan oleh suatu path yang mempunyai reluktansi yang rendah.
Kedua kumparan tersebut mempunyai mutual induction yang tinggi. Jika
salah satu kumparan dihubungkan terhadap suatu sumber tegangan AC,
fluks bolak-balik akan timbul didalam inti besi, sehingga dihubungkan
dengan kumparan yang lain, dengan demikian menimbulkan gaya gerak
listrik (GGL) induksi. Jika rangkaian kumparan kedua dihubungkan
dengan beban, arus akan mengalir dalam rangkaian dan juga daya listrik
ditransfer dari kumparan pertama ke kumparan kedua. Kumparan
pertama yang dihubungkan dengan sumber tegangan disebut gulungan
primer, sedang kumparan yang kedua disebut kumparan sekunder.
Berdasarkan frekuensi, transformator dibedakan atas :
1.

Frekuensi daya, 50 c/s 60 c/s

2.

Frekuensi pendengaran, 50 c/s 20 kc/s

3.

Frekuensi radio, diatas 30 kc/s


Dalam bidang tenaga listrik pemakaian transfo dibedakan menjadi :

1. Transformator daya
2. Transformator distribusi
3. Transformator pengukuran : terdiri dari transformator arus dan
transformator tegangan.

Gambar 3. Skema Rangkaian Tranformator

Keterangan :
V1 = Tegangan jepit primeer
3

V2 = Tegangan jepit sekunder


Huruf besar adalah nilai efektif
Huruf kecil adalah nilai sesaat
E1 = ggl primer

E2 = ggl sekunder

N1 &N2 = Jumlah lilitan

= fluksi

Bila kumparan primer dihubung tegangan sumber V1 yang


berbentuk sinus (v1 = v1 sin t). Maka akan mengalirlah arus primer Io
yang juga sinusoida dan dengan menganggap belitan N 1 reaktif murni, Io
akan tertinggal 90 dari V1. Arus primer Io menimbulkan fluks yang
sefasa dan juga berbentuk sinusoida, sehingga :
= cos t
Fluks yang sinusoida ini akan menghasilkan tegangan induksi e1
(hukum faraday) menurut hukum Faraday secara umum :

e N

d 8
10 Volt
dt

Maka kumparan primer :

el N

d ( cos t )
d
N
N 1 sin t.
dt
dt

GGL kumparan ini akan maksimum bila sin t = 1 jadi :


e1 maks = e1 = N1
= N12f

Nilai ..efektif

E1 eff

Jadi

nilai max
2

N 1 2f
2

4,44 N 1 f

Volt

Dengan perhitungan yang sama pada kumparan sekunder didapat :

E 2 4,44 N 2 f

Volt

Sedangkan perbandingannya :
E1 N 1

E2 N 2

Rangkaian trafo ekivalen pada beban nol :

Gambar 4. Rangkaian Ekivalen Beban Nol

Keterangan :
V1 = tegangan jepit pada keadaan beban nol
I1 = I0 = arus beban nol
Ic = arus rugi-rugi inti
Ij = arus magnetisasi
Rc = tahanan karena adanya rugi-rugi inti
Xm = reaktansi yang menimbulakan fluksi utama
Pada keadaan beban nol arus yang mengalir pada kumparan primer
sama dengan arus beban nol, sedangkan arus yang mengalir pada
kumparan sekunder sangatlah kecil sehingga dapat diabaikan. Arus yang
mengalir sangat disebabkan oleh rangkaian terbuka, dengan demikian
daya yang masuk pada keadaan beban nol hanya cukup untuk mengatasi
rugi-rugi.

Po

Rugi rugi beban :

V1
Rc

Rangkaian ekivalen trafo hubung singkat :

Gambar 5. Rangkaian Ekivalen Hubung Singkat

Keterangan :
V1 = tegangan jepit pada kumparan
Ihs = arus yang mengalir pada rangkaian hubungan singkat
Re = tahanan ekivalen pada keadaan hubungan singkat
Xe = reaktansi ekivalen pada keadaan hubung singkat
Pada keadaan hubung singkat arus yang mengalir pada rangkaian
magnetisasi sangat kecil dibandingkan rangkaian utama, sehingga arus
yang mengalir pada magnetisasi dapat diabaikan.
Rugi-rugi hubungan singkat (Phs) : Phs = I2.R
2.4. Pembebanan Trafo 3 Fasa
Transformator 3 fasa terdiri dari 3 pasang belitan dengan tiap
pasang bekerja pada fasa tertentu. Dalam membentuk sistem teganagan 3
fasa, ketiga pasang belitan tersebut, masing-masing untuk sisi primer dan
sekunder, dapat saling berhubungan dalam hubungan delta ( ) atau
bintang (Y).

Gambar dibawah ini memperlihatkan sistem tenaga listrik yang ada


dalam (sumber) transformator daya Y/ dan sistem tenaga listrik 3 fasa
yang dihasilkan (keluaran).

Gambar 6. Sistem Tenaga Transformator 3 Fasa

Sistem tegangan 3 fasa 4 kawat 220 V/127V.


220V = tegangan antara fasa
127V = tegangan fasa netral
Transformator daya 3 fasa, Y/ , 220-127V/380V
380 V = tegangan antar fasa kawat netral tidak ada.
Transformator

merupakan

suatu

alat

listrik

yang

dapat

memindahkan dan mengubah energi listrik dari satu atau lebih rangkaian
listrik ke rangkaian listrik yang lain melalui suatu gandengan magnet dan
berdasarkan prinsip induksi elektromagnet. Transformator digunakan
secara luas, baik dalam tenaga listrik maupun elektronika. Penggunaan
dalam sistem tenaga memungkinkan dipilihnya tegangan yang sesuai dan

ekonomis untuk tiap-tiap keperluan misalnya kebutuhan akan tegangan


tinggi dalam pengiriman daya listrik jarak jauh.
Dalam bidang elektronika transformator digunakan antara lain
sebagai gandengan impedansi antara sumber dan beban, untuk
memisahkan suatu rangkaian dari rangkaian yang lain untuk menghambat
arus searah sambil tetap melewatkan arus bolak-balik.
Dalam bidang tenaga listrik transformator dikelompokkan sebagai
berikut:
a. Transformator daya
b. Transformator distribusi
c. Transformator pengukuran : yang terdiri dari transformator
arus dan transformator tegangan.
Kerja transformator yang berdasarkan elektromagnet menghendaki
adanya gandengan magnet antara primer dan sekunder.
Transformator 3 fasa digunakan pertimbangan

ekonomis,

pemakaian inti pada transformator 3 fasa akan jauh lebih sedikit


dibandingkan dengan pemakaian tiga buah transformator fasa tunggal.
Setiap sisi primer atau sisi sekunder dari transformator tiga fasa dapat
dihubungkan menurut tiga cara yaitu :
1. Hubungan Bintang (Y)
A
B

Vbc

Ia
Ib

Van

In

Vab

Gambar 7. Hubungan Bintang


C

Vbn

Vcn

Vca

Ic

Arus transformator 3 fasa dengan kumparan yang

dihubungkan secara Y bintang yaitu : IA; IB; IC masing-masing


berbeda fasa 1200. Untuk beban yang seimbang :

IN = I A + I B + I C = 0
VAB + VAN + VNB = VAN - VBN
VBC = VBN - VCN
VCA = VCN - VAN
Dari gambar diatas diketahui bahwa untuk hubungan
bintang berlaku hubungan :
VAB =

. VAN

VL =
. VP.......................................
IL = IP..................................................

(1)
(2)

W (Y) = 3VP = 3.(

....

).IL =

(3)

2. Hubungan Delta ( )
Ica
Ic

Ic

Ibc

Iab

IA

IAB

ICA

IC
IB

IBC

Gambar 8. Hubungan Delta

Tegangan transformator 3 fasa dengan kumparan yang


dihubungkan secara delta yaitu :
9

VAB + VBC + VCA = 0


Untuk beban seimbang :
IA = IAB ICA
IB = IBC IAB
IC = ICA IBC
Dari diagram vektor diatas diketahui arus I A (arus jala-jala)
adalah 3x IAB (arus fasa). Tegangan jala-jala dalam hubungan
delta sama dengan tegangan fasanya.
W ( ) = VP . IP = 3. VL (
III.

). =

ALAT-ALAT PRAKTIKUM
3.1. Transformator Hubung Singkat dan Beban Nol

Transformator 1 fasa

1 buah

Power DC

1 buah

Variac

1 buah

Rangkaian Panel

1 unit

Wattmeter Digital

1 buah

Voltmeter AC

1 buah

Amperemeter AC

1 buah

Jumper

secukupnya

3.2. Pembebanan Transformator 3 Fasa

IV.

Transformator 3 fasa

1 buah

Rangkaian panel

1 unit

Voltmeter AC

1 buah

Amperemeter AC

1 buah

Wattmeter AC Digital

1 buah

Beban lampu

6 buah

Jumper

secukupnya

PROSEDUR PERCOBAAN
4.1. Transformator 1 Fasa

10

A. Beban Nol

Gambar 9. Rangkaian Percobaan Beban Nol

1. Menyusun rangkaian seperti pada gambar.


2. Menyalakan MCB.
3. Mencatat nilai arus dan tegangan dan daya.
4. Mematikan kembali MCB.
B. Hubung Singkat

Gambar 10. Rangkaian Percobaan Hubung Singkat

1.

Menyusun rangkaian seperti pada gambar.

2.

Mengkonfirmasi rangkaian dengan asisten modul.

3.

Menyalakan MCB.

4.

Mengatur pengatur tegangan (Variac) hingga arus mencapai 10


ampere.

5.

Mencatat nilai tegangan.

6.

Mengembalikan pengatur tegangan ke keadaan 0.

7.

Mematikan kembali MCB.

C. Tahanan Dalam

Gambar 11. Rangkaian Percobaan Tahanan Dalam

11

1. Menyusun rangkaian percobaan seperti pada gambar diatas.


2. Menyalakan MCB.
3. Mengatur channel tegangan pada Power DC dengan nilai paling
besar.
4. Mengatur channel arus pada Power DC sebesar 2A.
5. Mencatat nilai tegangan dan arus yang terdapat pada Power
supply.
6. Mengembalikan channel arus ke keadaan 0.
7. Mengembalikan channel tegangan ke keadaan 0.
8. Mematikan kembali MCB.
4.2. Transformator 3 Fasa
1. Hubungan Bintang dengan Beban 300 Watt
a. Membuat rangkaian seperti gambar dibawah ini.

b. Melaporkan rangkaian percobaan yang telah dibuat ke asisten,


tegangan suplly hanya boleh dipasang pada rangkaian bila
disetujui asisten.
c. Menyalakan MCB.
d. Memindahkan posisi saklar (SH 1) ke O ke I, Selanjutnyasaklar
handel (SH 20 dari posisi O ke I.
e. Mencatat masing-masing parameter yang diukur : wattmeter,
voltmeter dan amperemeter.
2. Hubungan Bintang dengan Beban 600 Watt
a. Membuat rangkaian seperti gambar dibawah ini.

12

b. Melaporkan rangkaian percobaan yang telah dibuat ke asisten,


tegangan suplly hanya boleh dipasang pada rangkaian bila
disetujui asisten.
c. Menyalakan MCB.
d. Memindahkan posisi saklar (SH 1) ke O ke I, Selanjutnyasaklar
handel (SH 20 dari posisi O ke I.
e. Mencatat masing-masing parameter yang diukur : wattmeter,
voltmeter dan amperemeter.
3. Hubungan Delta dengan Beban 300 Watt
a. Membuat rangkaian seperti gambar dibawah ini.

b. Melaporkan rangkaian percobaan yang telah dibuat ke asisten,


tegangan suplly hanya boleh dipasang pada rangkaian bila
disetujui asisten.
c. Menyalakan MCB.
d. Memindahkan posisi saklar (SH 1) ke O ke I, Selanjutnyasaklar
handel (SH 20 dari posisi O ke I.
e. Mencatat masing-masing parameter yang diukur : wattmeter,
voltmeter dan amperemeter.
4. Hubungan Delta dengan Beban 600 Watt
a. Membuat rangkaian seperti gambar dibawah ini.

13

b. Melaporkan rangkaian percobaan yang telah dibuat ke asisten,


tegangan suplly hanya boleh dipasang pada rangkaian bila
disetujui asisten.
c. Menyalakan MCB.
d. Memindahkan posisi saklar (SH 1) ke O ke I, Selanjutnyasaklar
handel (SH 20 dari posisi O ke I.
e. Mencatat masing-masing parameter yang diukur : wattmeter,
voltmeter dan amperemeter.
V.

DATA PENGAMATAN
5.1. Tabel 1 Percobaan Beban Nol
V (volt)
108

I (ampere)
0.1111

P (watt)
20

5.2. Tabel 2 Percobaan Hubung Singkat


V (volt)
2.7

I (ampere)
7.66

5.3. Tabel 3 Percobaan Tahanan Dalam Transformator


V (volt)
3.9
1.8

I (ampere)
7.32
7.32

Pada
primer
sekunder

5.4. Tabel 4 Pembebanan Trafo 3 fasa


Hubung

Load
(watt)

V
(volt)

I
(ampere)

Daya
(Watt)

300
600
300
600

125
126
125
125

0.3
0.2
0.73
0.5

87
62
203
138

Kondisi
Lampu
Terang
Redup
Sangat Terang
Terang

14

VI.

PENGOLAHAN DATA

15

VII.

TUGAS AKHIR DAN PERNYATAAN


A. Beban Nol
1. Tentukan harga Rc dan Xm !
2. Gambarkan ekivalen trafo dengan konstantanya ?
B. Hubung Singkat
1. Tentukan harga Rc dan Xm !
2. Gambarkan ekivalen trafo dengan konstantanya ?
C. Hitung rugi-rugi total dan efisiensi trafo ?

VIII.

ANALISA

16

Praktikan dapat menganalisa dari hasil teori yang ada dengan hasil
percobaan, analisanya adalah sebagai berikut :
a. Prinsip kerja trafo adalah arus akan mengalir dari sumber tegangan
PLN pada lilitan (N pada kumparan primer), maka timbul fluks pada
inti besi, hal ini dikarenakan adanya induksi elekromagnetik pada inti
besi oleh lilitan (yang dapat kita analogikan dengan kaidah tangan
kanan). Kemudian fluks mengalir melalui inti besi menuju kumparan
sekunder dengan arah fluks sesuai arah arus yang masuk. Lalu fluks
menginduksi lilitan sekunder sehingga lilitan sekunder menjadi magnet
sehingga timbullah ggl induksi disekitarnya. Sehingga, Ggl tersebut
membuat kumparan sekunder mengalir arus.
b. Pada percobaan trafo beban nol dilakukan untuk mengetahui besar
rugi-rugi inti besi, sedangkan percobaan hubung singkat dilakukan
untuk mengetahui rugi-rugi tembaga.
c. Pada percobaan trafo beban nol, daya yang didapatkan itu sebesar 20
watt dan tegangan yang didapatkan itu sebesar 108 volt. Sehingga
untuk mengetahui nilai arus yang mengalir pada rangkaian itu ada
tetapi sangat kecil sebesar 0.111. Dan hambatan akan didapatkan
sebesar 583,2 Ohm. Perhitungan tersebut berdasarkan Hukum OHM.
d. Pada percobaan trafo hubung singkat, I nominal yang digunakan
adalah 10 A karena kapasitas alat ukur yang digunakan adalah 10 A.
Apabila menggunakan I nominal yang lebih dari 10 A alat ukur
tersebut akan rusak. Tetapi pada percobaan I yang didapatkan senilai
7.66 (kurang dari 10), sehingga alat ukur masih dalam keadaan aman.
e. Pada percobaan trafo hubung singkat, masih terdapat parameter arus di
alat ukur pada saat VT AC dinolkan karena pada trafo masih tersimpan
sisa-sisa fluks yang berputar pada inti besi sehingga menimbulkan arus
yang ditunjukkan pada alat ukur.

17

f. Tahanan dalam hanya mengukur Rp dan Rs tetapi nilai tahanan


dalammnya berbeda nilainya. Karena pengaruh lilitan primer dan
lilitan sekunder itu berbeda lilitannya.
g. Pada pengukuran tahanan dalam digunakan sumber DC dikarenakan
sumber DC bersifat hanya memperlihatkan tahanan murni yaitu R saja,
sedangkan AC bersifat memperlihatkan semua tahanan yaitu
impedansi total (R,L,C).
h. Pada percobaan sistem 3 fasa pada hubungan bintang dan delta
tegangan trafo 220 tetapi alat ukur voltmeter menunjukakan tegangan

V LN
sebesar 125 hal ini dikarena rumus

i.
-

V LL
3

Syarat lampu pijar :


Arus
Beda Potenial
VLL / VLN
VDC /VAC

j. Pada percobaan pembebanan transformator 3 fasa, rangkaian hubungan


bintang lampu menyala lebih redup daripada rangkaian hubungan
delta. Hal ini disebabkan karena
Dik :
I
I LL LN
3
VLN = VLN &
Y V = 3. V
I I
LL

P
VLN. ILN. COS

LN &

=
=

3.
VLL.

ILL

LL = LN

PY
VLN. ILN. COS
V LL
=

.I LL
x 3

3. VLL . ILL
Sehingga :

VLL . ILL

18

P = 3. VLL . ILL (1)


PY = VLL . ILL .(2)
Subsitusikan persm (1) ke (2) :
P = 3. PY
IX.

..

(Terbukti)

KESIMPULAN
Praktikan dapat menyimpulkan dari dasar teori, hasil percobaan, hasil
perhitungan dan hasil analisa. Kesimpulannya adalah sebagai berikut :
a. Praktikan dapat mengetahui prinsip kerja dari transformator dan
karakteristiknya.
b. Praktikan dapat mengetahui rangkaian ekivalen transformator pada beban
nol, hubung singkat.
c. Praktikan dapat mengetahui hubungan pembebanan trafo hubung bintan
dan hubung delta.
d. Praktikan dapat mengetahui jenis-jenis pembebanan dari R,L, dan C.
e. Praktikan

dapat

mengetahui

besaran-besaran

yang

diukur

dan

membandingkannya denga dasar teori dan hasil perhitungan yang diapat


dari data percobaan.
f. Trafo adalah suatu alat listrik yang dapat memindahkan dan mengubah
energi listrik dari satu atau lebih rangkaian listrik ke rangkaian listrik
yang lain, melalui suatu gandengan magnet dan berdasarkan prinsip
induksi elektromagnetik.
g. Prinsip kerja trafo adalah arus akan mengalir dari sumber tegangan PLN
pada lilitan (N pada kumparan primer), maka timbul fluks pada inti besi,
hal ini dikarenakan adanya induksi elekromagnetik pada inti besi oleh
lilitan (yang dapat kita analogikan dengan kaidah tangan kanan).
Kemudian fluks mengalir melalui inti besi menuju kumparan sekunder
dengan arah fluks sesuai arah arus yang masuk. Lalu fluks menginduksi
lilitan sekunder sehingga lilitan sekunder menjadi magnet sehingga
timbullah ggl induksi disekitarnya. Sehingga, Ggl tersebut membuat
kumparan sekunder mengalir arus.
19

h. Percobaan beban nol dilakukan untuk mengetahui besar rugi-rugi inti


besi, sedangkan percobaan hubung singkat dilakukan untuk mengetahui
rugi-rugi tembaga.
i. Pada percobaan sistem 3 fasa pada hubungan bintang dan delta

V LN
digunakan rumus

V LL
3

, sehingga dapat dilihat tegangan trafo 220

sedangkan pada alat ukur voltmeter menunjukakan tegangan sebesar 125.


j. Pada percobaan pembebanan transformator 3 fasa, rangkaian hubungan
bintang lampu menyala terang tetapi pada rangkaian hubungan delta
nyala lampu 2 kali dari hubung bintang.

X.

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Modul Praktikum Transformator dan Mesin DC, 2013.
[2]. Zuhal. 1980. Dasar Tenaga Listrik. Penerbit : ITB, Bandung.
[3]. http://staff.ui.ac.id/internal/040603019/material/transformerpaper.pdf
[4]. http://repository.upi.edu/operator/upload/s_pte_0805357_chapter1(1).pdf
[5]. http://pksm.mercubuana.ac.id/new/elearning/files_modul/14072-1471168335087.doc
[6]. http://kk.mercubuana.ac.id/files/13020-12-510328925657.doc
[7]. http://id.wikipedia.org/wiki/Transformator
[8]. http://dunia-listrik.blogspot.com/2009/01/komponen-komponentransformator.html
[9]. http://dunia-listrik.blogspot.com/2009/01/komponen-komponentransformator.html
[10]. http://pksm.mercubuana.ac.id/new/elearning/files_modul/14072-1471168335087.doc

20

XI.

LAMPIRAN

21