Anda di halaman 1dari 5

Tugas 2 Geologi Geotermal

Sistem Hidrotermal Indonesia


Extivonus Kiki Fransiskus (12012060)

Penelitian tentang panas bumi di Indonesia telah dimulai sejak 150 tahun lalu oleh Junghun pada
1854, pada penelitiannya terutama pada daerah vulkanik aktif. Penelitian lebih lanjut dilakukan oleh
Badan Survey Geologi Belanda sekitar tahun 1900 meliputi daerah di Jawa, Maluku, dan Sumatera.
Penelitian berlanjut pasca kemerdekaan bangsa Indonesia yaitu pada tahun 1960 dengan memetakan
daerah dengan manifestasi sepanjang Jawa dan Bali dan bagian Indonesia lainnya. Total lapangan prospek
panas bumi yang ditemukan mencapai 200 titik,
Hampir seluruh dari prospek panas bumi Indonesia berasosiasi dengan manifestasi permukaan
yang berasal dari vulkanik kuarter aktif. Seluruh gunung api kuarter muda dapat berasosiasi dengan
magma yang membeku atau intrusi, yang menjadi sumber panas dari vulkanik aktif. Sistem panas bumi
(hidotermal, ada hubungan dengan fluida) di Indonesia menurut Hochstein, 2000 terbagi menjadi 6 tipe
sistem, yaitu:

1. Vapor-Dominated System ( Sistem Panas Bumi Dominasi Uap)

Lapangan panas bumi yang memiliki sistem ini antara lain Kamojang dan Darajat.
Reservoir lapangan Kamojang mencakup area seluas 14 km2 dengan daerah resestivitas rendah
seluas 21 km2. Pemboran lapangan panas bumi ini pada tahun 1974 mencapai kedalaman 615 m,
temperature maksimal saat itu adalah 239C, tekanan reservoir 35 bar, dengan kandungan uap
berkisar 25 - 120 t/h. Lapangan Kamojang tertutupi oleh lapisan tebal yang jenuh oleh uap
terkondensasi dan mengandung mineral lempung.
Prospek panas bumi dengan sistem dominasi uap yang kedua adalah Darajat. Karakteristik
panas bumi pada prospek ini memiliki kemiripan dengan lapangan Kamojang. Lapangan Darajat
memiliki cakupan daerah reservoir seluas 14 km2 dengan temperature berkisar antara 243 - 241

Tugas 2 Geologi Geotermal

C dengan produksi uap kering rata-rata sebesar 81 88 t/h. Intepretasi terkait sistem panad bumi
di Darajat menunjukkan zona low-velocity tersebut menunjukkan daerah alterasi propilitik dengan
cakupan wilayah 22 km2. Total heat loss dari semua manifestasi sekitar 100MW. Strukturstruknya hampir sama dengan Kamojang namun morfologi daerah Darajat lebih curam dengan
akses lapangan yang sulit.

2.

Volcanic- Geothermal System

Lapangan panas bumi yang memiliki sistem ini adalah lapangan Dieng-Sikidang. Prospek
Dieng-Sikidang tegolong cukup penuh resiko dengan adanya sejarah erupsi freatik dari daerah
tersebut. Eksplorasi dilakukakan antara tahun 1970 hingga 1972 di kawasan gunung api kompleks
Dieng yang melibatkan USGS, VSI, dan ITB dengan sokongan dana dari USAID. Dari hasil
pemboran sumur produksi yang dimulai tahun 1980-an pada areal 5 km2 dari kawah Sikidang,
diketahui bahwa sumur merupakan dominasi-air pada bagian bawahnya, dengan brine terlarut
(TDS antara 5-10 g/kg), kandungan boron yang tinggi ( lebih dari 10% TDS), dan perbedaan rasio
Cl/B. Maksimum temperatur adalah 275- 325C pada kedalaman <1500 m dan entalpi berkisar
antara 1500-2600 kJ/kg, serta uap yang dihasilkan berkisar 0-90 t/h. Daerah Sikidang merupakan
volkanik geothermal system dengan fluida yang tidak homogen, berasal dari uap magmatic
plume.

3. Vapor Layer System (Sistem Dominasi Uap Berlapis Dua Fasa)

Gunung Wayang dan Gunung Windu merupakan daerah panas bumi dengan sistem lapisan
uap (produknya dominasi uap). Bentuk Gunung Wayang dan Gunung Windu adalah lava dome
kecil yang tidak pernah mengalami erupsi. Aktivitas fumarole dengan alterasi asam ditemukan

Tugas 2 Geologi Geotermal

didekat Gunung Wayang, sedangkan steam ground


ditemukan di Gunung Windu. Seluruh manifestasi
tersebut berada pada luas area kurang dari 30 km2.
Fase pertama eksplorasi ditemukan daerah
dengan resistivity rendah yaitu 25 km2. Pada
tahun 1991 pengeboran dengan kedalaman 1600m
menghasilkan temperature 280C. Sumur tersebut
menembus lapisan atas setebal 900 m dengan 350
m lapisan jenuh, uap mengalami kondensasi di
bagian bawah lapisan, di bagian bawahnya pada kedalaman 600 m berupa lapisan dominasi uap,
akhirnya di dasar sumur terdapat lapisan jenuh fluida (20 g/kg TDS) sebagai reservoir. Pada

prospek Wayang-Windu lapisan dominasi uap berada ditengah-tengah (seperti sandwich)


dengan bagian atas adalah fluida tersaturasi dan bagian bawah adalah brine yang
tersaturasi.

4.

Sistem Dominasi Uap Berlapis di daerah Vulkanik

Patuha merupakan prospek panas bumi yang


berasosiasi dengan (degassing) Gunung Patuha, dengan
gas-gas magmatik berubah menjadi asam dan panas
(Kawah Putih). Mata air panas yang asam dan netral
terjadi pada sisi Gunung Patuha bersamaan dengan
aktivitas fumarole kecil. Eksplorasi yang dilakukan
Pertamina pada 1982-1989 dengan kedalaman 100-200
m sekitar fumarole, terlihat jenis fluida (Cl-SO4) dan pH
netral dari air bikarbonat. Daerah dengan resestivitas
rendah membentang 18 km2 melingkupi Kawah Putih.
Patuha memiliki sistem dominasi uap dua fasa pada reservoirnya (Lubis, 1986) yang
ditusuk oleh dua cerobong vulkanik yang mengandung fluida magmatik. Model sistem memiliki
kesamaan dengan sistem panas bumi volcanic (magmatic). Pengeboran pada tahun 1994 pada
kedalaman 1350 m CBN-1 menghasilkan temperature dasar 235 C dengan produksi utama berupa
uap.

Tugas 2 Geologi Geotermal

5. Liquid Dominated System Associated with Tectonic

Silangkitang yang berada pada NE sesar besar Sumatra memiliki manifestasi berupa air
klorida mendidih dan mengeluarkan alkalin. Adanya fluida mendidih pada kedalaman dangkal
memicu terjadinya erupsi hidrotermal. Hampir seluruh fumarole yang berasosiasi dengan sesar
besar Sumatera memiliki jenis manifestasi asam dengan temperature diperkirakan 270C.

6.

Liquid Dominated Parent System below Mountainous Terrain


Prospek

Lahendong

pertama

kali

dieksplorasi secara mendalam pada 1983 dengan


kedalaman pemboran 2200 disekitar manifestasi
permukaan asam dengan temperature 260C. Antara
tahun 1983-1986 eksplorasi terus beranjut dengan
lima

sumur

pemboran

yang

menghasilkan

temperature rata-rata 350C dengan produksi 125 t/h


fluida klorida. Selain itu jenis sistem ini juga
ditemukan di prospek Cisolok, Citaman, dan Bratan
Kaldera Bali

Keterangan :

Tugas 2 Geologi Geotermal

Pembagian sistem panas bumi Indonesia yang lain dilakukan oleh Kasbani, Badan Geologi
Indonesia. Ia membagi sistem panas bumi Indonesia berdasarkan asosiasi lingkungan geologinya.
Model konseptual yang menjadi acuan pembentukan sistem panas bumi ini adalah jalur gunung api
(ring of fire) di Indonesia dan aktivitas tektonik Indonesia. Kasbani mengelompokkan sistem panas
bumi Indonesia menjadi 3 jenis, yaitu : vulkanik, vulkano tektonik, dan non vulkanik.
1. Sistem Panas Bumi Vulkanik
Sistem panas bumi vulkanik adalah sistem panas bumi yang memiliki asosiasi dengan
gunung api kuarter yang memanjang muai dari Sumatera, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara,
sebagian Maluku dan Sulawesi. Sistem panas bumi ini dicirikan memiliki reservoir sekitar
1.5 km dengan temperature (250-350C). Sistem vulkanik dapat dikelompokkan lagi
menjadi beberapa tipe, yaitu : sistem tubuh gunung api strato, sistem kaldera.

2. Sistem Panas Bumi Vulkano- Tektonik


Sistem panas bumi ini adalah sistem yang berasosiasi antara struktur graben dan kerucut
vulkanik, umumnya ditemukan di jalur sesar besar Sumatera (Sesar Semangko)

3. Sistem Panas Bumi Non Vulkanik


Sistem panas bumi ini didefinisikan sebagai sistem panas bumi yang tidak berkaitan
langsung dengan vulkanisme dan berada di luar jalur vulkanik kuarter, Contoh adalah di
daerah lengan dan kaki Pulau Sulawesi.

Pengelompokan sistem panas bumi ini akan memberikan gambaran tentang estimasi dan
proyeksi cadangan panas bumi di Indonesia. Hal itu akan membantu menentukan prioritas dari prospek
yang akan kita bangun nantinya. Berikut adalah pembagian sistem panas bumi Indonesia menurut
Kasbani dan contoh keberadaan prospeknya di Indonesia.