Anda di halaman 1dari 36

PERPAJAKAN

KONSEP DASAR PPN DAN PPnBM

Dibuat oleh:
Kelompok 8 :
Dianing Ratna Wijayani
Melisa Devina
Fitri Wulansari
Silvia Devi
Fadholi

PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2013

A. KARAKTERISTIK DAN MEKANISME PENGADAAN PPN DAN PPNBM


Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
Dasar hukum PPN dan PPnBM adalah UU No. 8 tahun 1983 tentang Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah diubah
dengan UU No 11 tahun 1994, diubah lagi dengan UU No. 18 tahun 2000, dan terakhir
UU No. 42 tahun 2009.
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi barang
dan jasa di dalam daerah pabean wilayah RI yang didalamnya berlaku peraturan
Perundang-undangan pabean. Dalam bahasa Inggris, PPN disebut Value Added Tax
(VAT) atau Goods and Services Tax (GST). PPN termasuk jenis pajak tidak langsung,
maksudnya pajak tersebut disetor oleh pihak lain (pedagang) yang bukan penanggung
pajak atau dengan kata lain, penanggung pajak (konsumen akhir) tidak menyetorkan
langsung pajak yang ia tanggung.
PPN mulai diperkenalkan di Indonesia sejak 1 Januari 1985 untuk menggantikan
pajak penjualan (PPn). Kelebihan PPN dibandingkan pajak penjualan menurut
Mardiasmo (2009) yaitu :

Menghilangkan pajak berganda


Menggunakan tarif tunggal, sehingga memudahkan pelaksanaan
Netral dalam persaingan dalam negeri
Netral dalam perdagangan internasional
Netral dalam pola konsumsi
Dapat mendorong ekspor
Karakteristik PPN di Indonesia :

1. Pajak Tidak Langsung


Secara ekonomis beban PPN dapat dialihkan kepada pihak lain. Tanggungjawab
pembayaran pajak yang terutang berada pada pihak yang menyerahkan barang atau
jasa. Sedangkan pihak yang menanggung beban pajak berada pada penanggung pajak
(pihak yang memikul beban pajak)
2. Pajak Objektif
Timbulnya kewajiban membayar pajak sangat ditentukan oleh adanya objek pajak.
Kondisi subjektif subjek pajak tidak dipertimbangkan.
3. Multistage Tax
PPN dikenakan secara bertahap pada setiap mata rantai jalur produksi dan distribusi
(dari pabrikan sampai ke peritel)
4. Nonkumulatif

PPN tidak bersifat kumulatif meskipun memiliki karakteristik multistage tax karena
PPN mengenal adanya mekanisme pengkreditan pajak masukan. Oleh karena itu, PPN
yang dibayar bukan unsur dari harga pokok barang atau jasa.
5. Tarif Tunggal
PPN di Indonesia hanya mengenal satu jenis tarif (single tariff), yaitu 10% untuk
penyerahan dalam negeri dan 0% untuk ekspor BKP.
6. Credit Method / Invoice Method / Indirect Substraction Method
Metode ini mengandung pengertian bahwa pajak yang terutang diperoleh dari hasil
pengurangan pajak yang dipungut atau dikenakan pada saat penyerahan barang/jasa
(pajak keluaran) dengan pajak yang dibayar pada saat pembelian barang / penerimaan
jasa (pajak masukan).
7. Pajak Atas Konsumsi Dalam Negeri
Atas impor BKP dikenakan PPN sedangkan atas ekspor BKP tidak dikenakan PPN.
Prinsip ini menggunakan prinsip tempat tujuan, yaitu pajak dikenakan di tempat
barang atau jasa akan dikonsumsi.
Mekanisme pemungutan, penyetoran, dan pelaporan PPN ada pada pihak pedagang
atau produsen sehingga muncul istilah Pengusaha Kena Pajak yang disingkat PKP.
Dalam perhitungan PPN yang harus disetor oleh PKP, dikenal istilah pajak keluaran dan
pajak masukan. Pajak keluaran adalah PPN yang dipungut ketika PKP menjual
produknya, sedangkan pajak masukan adalah PPN yang dibayar ketika PKP membeli,
memperoleh, atau membuat produknya.
Mekanisme pengenaan PPN dapat digambarkan sebagai berikut :
Pada saat membeli / memperoleh BKP/JKP, akan dipungut PPN oleh PKP penjual.
Bagi pembeli, PPN yang dipungut oleh PKP penjual tersebut merupakan pembayaran
pajak dimuka dan disebut dengan pajak masukan. Pembeli berhak menerima bukti
pemungutan berupa faktur pajak.
Pada saat menjual / menyerahkan BKP/JKP kepada pihak lain, wajib memungut PPN.
Bagi penjual, PPN tersebut merupakan pajak keluaran. Sebagai bukti telah memungut
PPN, PKP penjual wajib membuat faktur pajak.
Apabila dalam suatu masa pajak (jangka waktu yang lamanya sama dengan satu bulan
takwim) jumlah pajak keluaran > pajak masukan, selisihnya harus disetorkan kepada
kas negara.
Apabila dalam suatu masa pajak jumlah pajak keluaran < pajak masukan, selisihnya
dapat direstitusi (diminta kembali) atau dikompensasikan ke masa pajak berikutnya.
Pelaporan penghitungan PPN dilakukan setiap masa pajak dengan menggunakan Surat
Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN)
Contoh :

Sepanjang bulan Maret 2013, PT ABC mempunyai transaksi sebagai berikut :


o Membeli bahan baku seharga Rp 100 juta (dipungut PPN Rp 10 juta)
o Membeli bahan penolong seharga Rp 40 juta (dipungut PPN Rp 4 juta)
o Menjual produknya seharga Rp 200 juta (memungut PPN Rp 20 juta)
Maka perhitungan PPN :
Jumlah pajak keluaran

: Rp 20.000.000

Jumlah pajak masukan

: Rp 14.000.000

PPN Kurang bayar

: Rp 6.000.000

Jumlah PPN Kurang bayar sebesar Rp 6.000.000 ini harus disetorkan ke kas negara.
Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM)
Kegiatan-kegiatan berikut selain dikenakan PPN juga dikenakan PPnBM :
1. Penyerahan BKP yang tergolong Mewah yang dilakukan oleh pengusaha yang
menghasilkan BKP yang tergolong Mewah di dalam daerah pabean dalam
kegiatan usaha atau pekerjaannya.
2. Impor BKP yang tergolong mewah
Pengenaan PPnBM tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa :
1. Perlu adanya keseimbangan pembebanan pajak antara konsumen yang
berpenghasilan rendah dengan konsumen yang berpenghasilan tinggi.
2. Perlu adanya pengendalian pola konsumsi atas BKP yang tergolong mewah.
3. Perlu adanya perlindungan terhadap produsen kecil atau tradisional.
4. Perlu untuk mengamankan penerimaan negara.
Karakteristik dan mekanisme PPnBM yaitu sebagai berikut:
1. PPnBM merupakan pungutan tambahan BKP Mewah selain PPN.
2. PPnBM hanya dikenakan satu kali yaitu pada saat impor BKP yang tergolong mewah
atau pada saat penyerahan BKP yang tergolong mewah oleh pabrikan atau produsen.
3. PPnBM tidak dapat dikreditkan sehingga diperlakukan sebagai biaya.
4. Dalam hal BKP Mewah diekspor, maka PPnBM yang telah dibayar pada saat
perolehan BKP dapat diminta kembali (restitusi).
5. Pengenaan PPnBM terhadap impor BKP yang tergolong mewah tanpa memandang
siapa yang mengimpor BKP tersebut dan apakah impor tersebut dilakukan secara
terus-menerus atau hanya sekali saja.
6. Pengenaan PPnBM terhadap suatu penyerahan BKP yang tergolong mewah tidak
memandang apakah bagian dari BKP tersebut sudah atau tidak dikenakan PPnBM
pada transaksi sebelumnya.

B. OBJEK PAJAK DAN YANG DIKECUALIKAN


Objek PPN
PPN dikenakan atas pertambahan nilai yang terjadi karena kegiatan-kegiatan tertentu
yang dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu :
1. Penyerahan/impor/pemanfaatan/ekspor terhadap BKP/JKP/BKP tidak berwujud
a) Penyerahan BKP di dalam daerah pabean yang dilakukan oleh pengusaha kena
pajak (PKP) maupun pengusaha yang seharusnya dikukuhkan menjadi PKP tetapi
belum dikukuhkan. Penyerahan BKP harus memenuhi syarat-syarat :
Barang berwujud yang diserahkan merupakan BKP
Barang tidak berwujud yang diserahkan merupakan BKP yang tidak berwujud
Penyerahan dilakukan di dalam daerah pabean
Penyerahan dilakukan dalam rangka kegiatan usaha atau pekerjaannya.
Kegiatan yang termasuk dalam pengertian penyerahan BKP :
1) Penyerahan hak atas BKP karena suatu perjanjian
2) Pengalihan BKP oleh karena suatu perjanjian sewa beli dan perjanjian sewa
guna usaha (leasing).
3) Penyerahan BKP kepada pedagang perantara atau melalui juru lelang.
4) Pemakaian sendiri dan/atau pemberian cuma-cuma atas BKP.
5) Persediaan BKP dan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk
diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan,
sepanjang PPN atas perolehan aktiva tersebut menurut ketentuan dapat
dikreditkan.
6) Penyerahan BKP dari pusat ke cabang atau sebaliknya dan penyerahan BKP
antarcabang.
7) Penyerahan BKP secara konsinyasi
Kegiatan yang tidak termasuk dalam pengertian penyerahan BKP :
1) Penyerahan BKP kepada makelar
2) Penyerahan BKP untuk jaminan utang piutang
3) Penyerahan BKP sebagaimana dimaksud pada angka 1 huruf f dalam hal PKP
memperoleh izin pemusatan tempat pajak terutang (sentralisasi)
b) Impor BKP
Pemungutan pajak saat impor BKP dilakukan melalui Dirjen Bea dan Cukai.
Siapapun yang memasukkan BKP ke dalam daerah pabean dikenakan pajak tanpa
memperhatikan apakah dilakukan dalam rangka kegiatan usaha atau pekerjaannya
ataukah tidak.
c) Penyerahan JKP di dalam daerah pabean yang dilakukan oleh pengusaha
Penyerahan jasa yang terutang pajak harus memenuhi syarat-syarat :
Jasa yang diserahkan merupakan JKP, penyerahan dilakukan dalam daerah
pabean, penyerahan dilakukan dalam kegiatan usaha/pekerjaannya.

d) Pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar daerah pabean di dalam daerah
pabean
Pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar daerah pabean oleh siapapun
dikenakan PPN.
Contoh :
Pengusaha A yang berkedudukan di Jakarta memperoleh hak menggunakan merk
yang dimiliki pengusaha B yang berkedudukan di Hong Kong. Atas pemanfaatan
merk di dalam daerah pabean oleh pengusaha A terutang PPN.
e) Pemanfaatan JKP dari luar daerah pabean (jasa konsultan asing yang memberikan
jasa manajemen, jasa teknik, dan jasa lain) di dalam daerah pabean
Contoh :
Pengusaha C di Surabaya memanfaatkan JKP dari pengusaha D yang
berkedudukan di Singapura. Atas pemanfaatan JKP di dalam daerah pabean oleh
pengusaha C terutang PPN.
f) Ekspor BKP berwujud oleh PKP
Ekspor BKP dikenakan PPN, hanya jika yang melakukan adalah pengusaha yang
telah dikukuhkan sebagai PKP.
g) Ekspor BKP tidak berwujud oleh PKP
Pengertian BKP tidak berwujud yaitu :
1) Penggunaan atau hak menggunakan hak cipta di bidang kesusastraan,
kesenian atau karya ilmiah, paten, desain atau model, rencana, formula atau
proses

rahasia,

merk

dagang,

intelektual/industrial/hak serupa lainnya.


2) Penggunaan atau hak menggunakan

atau

bentuk

hak

kekayaan

peralatan/perlengkapanindustrial,

komersial, atau ilmiah.


3) Pemberian pengetahuan atau informasi di bidang ilmiah, teknikal, industrial,
atau komersial.
4) Pemberian bantuan tambahan atau pelengkap sehubungan dengan penggunaan
atau hak menggunakan hak-hak tersebut pada angka 1), 2), dan 3) berupa :
Penerimaan / hak menerima rekaman gambar / rekaman suaraatau
keduanya yang disalurkan kepada masyarakat melalui satelit kabel, serta
optic atau teknologi yang serupa.
Penggunaan atau hak menggunakan rekaman gambar atau rekaman suara
atau keduanya untuk siaran televisi atau radia yang disiarkan /
dipancarkan melalui satelit, kabel, serat/optik, atau teknologi yang serupa
Penggunaan atau hak menggunakan sebagian atau seluruh spectrum radio
komunikasi.

5) Penggunaan atau hak menggunakan hak film gambar hidup (motion picture
film), film atau pita video untuk siaran televisi, atau pita suara untuk siaran
radio.
6) Pelepasan seluruhnya atau sebagian hak yang berkenaan dengan penggunaan
atau pemberian hak kekayaan intelektual/industrial atau hak-hak sebagaimana
tersebut diatas.
h) Ekspor JKP oleh PKP
Termasuk dalam pengertian ekspor JKP adalah penyerahan JKP dri dlam daerah
pabean ke luar daerah pabean oleh PKP yang menghasilkan dan melakukan
ekspor BKP berwujud atas dasar pesanan atau permintaan dengan bahan dan atas
petunjuk dari pemesan di luar daerah pabean.
2. Kegiatan membangun sendiri yang dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau
pekerjaan oleh orang pribadi atau badan yang hasilnya digunakan sendiri atau
digunakan pihak lain. Pengenaan pajak ini dilakukan dengan pertimbangan untuk
mencegah terjadinya penghindaran pengenaan PPN. Untuk melindungi masyarakat
yang berpenghasilan rendah dari PPN ini, maka diatur tentang batasan kegiatan
membangun sendiri.
3. Penyerahan aktiva oleh PKP yangmenurut tujuan semula aktiva tersebut tidak untuk
diperjualbelikan, sepanjang pajak masukan yang dibayar pada saat perolehannya
menurut ketentuan dapat dikreditkan.
Objek PPnBM
PPnBM dikenakan atas :
1. Penyerahan oleh pabrikan atau produsen BKP yang tergolong mewah
2. Impor BKP yang tergolong mewah
Pengecualian Objek PPN
Yang dikecualikan dari objek PPN adalah saat penyerahan BKP/penerimaan JKP (di
dalam daerah pabean) seperti :
1. Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboranyang diambil langsung dari
sumbernya, misalnya minyak mentah, gas bumi (selain elpiji), panas bumi, dan
lainnya.
2. Barang-barang kebutuhan pokok yang dibutuhkan oleh rakyat banyak, misalnya
beras, jagung, sagu, kedelai, garam, daging, telur, dan lainnya.
3. Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung, dan
sejenisnya meliputi makanan dan minuman baik yang dikonsumsi ditempat maupun

tidak, termasuk makanan dan minuman yang diserahkan oleh usaha jasa boga atau
catering.
4. Uang, emas batangan, dan surat-surat berharga.
5. Jasa pelayanan kesehatan dan medis
6. Jasa pelayanan social
7. Jasa pengiriman surat dengan perangko
8. Jasa keuangan
9. Jasa asuransi
10. Jasa keagamaan
11. Jasa pendidikan
12. Jasa kesenian dan hiburan
13. Jasa penyiaran yang tidak bersifat iklan
14. Jasa angkutan umum di darat dan di air serta jasa angkutan udara dalam negeri yang
menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari jasa angkutan luar negeri.
15. Jasa tenaga kerja
16. Jasa perhotelan
17. Jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan
secara umum
18. Jasa penyediaan tempat parker
19. Jasa telepon umum dengan menggunakan uang logam
20. Jasa pengiriman uang dengan wesel pos
21. Jasa boga atau catering
Pengecualian Objek PPnBM
Yang dikecualikan dari pengenaan PPnBM adalah penyerahan/impor BKP yang tidak
termasuk dalam BKP yang tergolong mewah. BKP yang tergolong mewah meliputi :
1) Barang tersebut bukan merupakan barang kebutuhan pokok
2) Barang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat tertentu
3) Pada umumnya barang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat berpenghasilan tinggi
atau apabila dikonsumsi dapat merusak kesehatan dan moral masyarakat serta
menganggu ketertiban masyarakat, contoh : minuman beralkohol.
C. PENGUSAHA KENA PAJAK
1. Pengertian
Pengusaha adalah orang pribadi atau badan yang dalam kegiatan usaha atau
pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang, mengekspor barang,
melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar
daerah pabean, melakukan usaha jasa, atau memanfaatkan jasa dari luar daerah
pabean.
Pengusaha kena pajak (PKP) adalah pengusaha sebagaimana dimaksud
sebelumnya yang melakukan penyerahan barang kena pajak (BKP) atau penyerahan

jasa kena pajak (JKP) yang dikenakan pajak berdasarkan UU PPN 1984, tidak
termasuk pengusaha kecil yang batasannya ditetapkan dengan keputusan menteri
keuangan, kecuali pengusaha kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai PKP.
2. Kewajiban Pengusaha Kena Pajak
PKP berkewajiban, antara lain untuk :
Melaporkan usahanya untuk dikukuhkan menjadi PKP
Memungut PPN dan PPnBM yang terutang
Membuat faktur pajak atas setiap penyerahan kena pajak
Membuat nota retur dalam hal terdapat pengambilan BKP
Melakukan pencatatan atau pembukuan mengenai kegiatan usahanya
Menyetor PPN dan PPnBM yang terutang
Menyampaikan SPT Masa PPN
3. Pengecualian Kewajiban Pengusaha Kena Pajak
Pengusaha yang dikecualikan dari kewajiban sebagai pengusaha kena pajak adalah :
pengusaha kecil dan pengusaha yang semata-mata menyerahkan barang/jasa yang
tidak dikenakan PPN.
4. Pengusaha Kecil
Pengusaha kecil adalah pengusaha yang selama satu tahun buku melakukan
penyerahan BKP/JKP dengan jumlah peredaran bruto dan atau penerimaan bruto
tidak lebih dari Rp 600.000.000,-. Pengusaha kecil wajib melaporkan usahanya
untuk dikukuhkan sebagai PKP paling lambat pada akhir bulan berikutnya, jika
sampai dengan satu bulan dalam tahun buku jumlah peredaran bruto dan atau
penerimaan brutonya melebihi batas yang telah ditetapkan.
PKP dapat mengajukan permohonan pencabutan pengukuhan sebagai PKP
apabila jumlah peredaran bruto dan atau penerimaan brutonya dalam satu tahun
buku tidak melebihi batas yang telah ditentukan dengan mengajukan permohonan
kepada Kepala KPP tempat pengusaha dikukuhkan sebagai PKP paling lambat 1
bulan sejak berakhirnya tahun buku. Dirjen pajak wajib memberikan keputusan
dalam jangka waktu 2 bulan sejak permohonan pencabutan pengukuhan diterima,
jika setelah batas 2 bulan itu tidak ada keputusan maka permohonan pencabutan
pengukuhan dianggap diterima.
Beberapa hal yang perlu diketahui sehubungan dengan pengusaha kecil yaitu :
a. Dilarang membuat faktur pajak
b. Tidak wajib memasukkan SPT Masa PPN
c. Diwajibkan membuat pembukuan atau pencatatan
d. Wajib lapor untuk dikukuhkan sebagai PKP, bagi pengusaha kecil yang
memperoleh peredaran bruto diatas batas yang telah ditentukan.

D. BARANG DAN JASA KENA PAJAK


BARANG KENA PAJAK (BKP)
Pengertian barang kena pajak adalah barang berwujud yang menurut sifat atau hukumnya
dapat berupa barang bergerak (kendaraan) atau barang tidak bergerak (rumah) dan barang
tidak berwujud yang dikenai pajak berdasarkan undang-undang PPN dan PPnBM. Dengan
batasan tersebut, barang kena pajak dapat dirici sebagai berikut :
1. Barang berwujud atau barang tidak berwujud (merk dagang, hak paten,hak cipta,dll)
2. Dikenakan pajak berdasarkan undang-undang pajak pertambahan nilai.
BARANG TIDAK KENA PAJAK PERTAMBAHAN NILAI
Sesuai dengan pertimbangan ekonomi,sosial dan budaya, tidak semua jenis barang
dan jasa dikenakan pajak. Semua barang yang merupakan hasil pertanian, perkebunan,
kehutanan, perikanan, perternakan dan hasil agrarian lain yang tidak diproses bukan
merupakan sasaran pengenaan PPN. Pengelompokan barang yang tidak dikenai pajak
pertambahan nilai dimuat kedalam penjelasan rinci dimaksudkan untuk menghindari pajak
berganda karena telah merupakan objek pajak daerah.
Jenis kelompok barang yang tidak dikenai pajak pertambahan nilai yaitu barang teetentu
dalam kelompok :
1. Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumber,
meliputi : minyak mentah, gas bumi (tidak termasuk gas bumi seperti elpiji yang siap
dikonsumsi langsung oleh masyarakat), panas bumi, asbes,batu tulis, batu setengah
permata, batu apung, batubara, biji perak, biji emas, biji tembaga, biji nikel , dll
2. Barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat banyak, meliputi :
beras, gabah, jagung, sagu, kedelai, garam, daging, telur, susu, buah-buahan, sayuran,
makanan yang disajiikan dihotel, rumah makan, dan sejenisnya, uang, emas batangan,
dan surat-surat berharga.
JASA KENA PAJAK ( JKP )
Pengertian JKP adalah setiap kegiatan pelayanan berdasarkan suatu perikatan atau
perbuatan hukum yang menyebabkan suatu barang atau fasilitas atau kemudahan atau hak
tersedia untuk dipakai, termasuk jasa yang dilakukan untuk menghasilkan barang karena
pesanan atau permintaan dengan bahan dan atas petunjuk dari pemesan, yang dikenai pajak
berdasarkan undang-undang PPN dan PPnBM.

JASA YANG TIDAK DIKENAKAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI


Kelompok jasa yang tidak dikenai PPN yaitu jasa tertentu dalam kelompok jasa sebagai
berikut :
1. Jasa dibidang pelayanan kesehatan medik, yang meliputi :
a. Jasa dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi
b. Jasa dokter hewan
c. Jasa ahli kesehatan seperti akupuntur, ahli gigi, ahli gizi, dan fisioterapi
d. Jasa kebidanan dan dukun bayi
e. Jasa paramedik dan psikiater
f. Jasa pengobatan alternative, termasuk yang dilakukan oleh paranormal
2. Jasa pelayanan sosial, yang meliputi :
a. Jasa pelayanan panti asuhan dan panti jompo
b. Jasa pemadam kebakaran
c. Jasa pemberian pertolongan pada kecelakaan
d. Jasa lembaga rehabilitasi
e. Jasa penyediaan rumah duka, atau jasa pemakaman termasuk crematorium
f. Jasa di bidang olahraga kecuali yang bersifat komersial
3. Jasa pengiriman surat dengan prangko, yang jenisnya meliputi jasa pengiriman surat
dengan menggunakan prangko tempel dan menggunakan cara lain pengganti prangko
tempel.
4. Jasa keuangan, meliputi :
- Jasa menghimpun

dana

dari

masyarakat

berupa

giro,

depositi

berjangka,bersertifikat deposito, tabungan, dan atau bentuk lain yang disamakan


-

dengan bentuk tersebut.


Jasa penempatan dana, meminjam dana, atau meminjamkan dana kepada pihak
lain dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi maupun dengan wesel

unjuk, cek atau sarana lainnya.


Jasa pembiayaan, termasuk pembiayaan berdasarkan prinsip syariah, berupa :
sewa dengan hak opsi, anjak piutang, usaha kartu kredit dan pembiayaan

konsumen.
Jasa penyaluran pinjaman atas dasar hukum gadai, termasuk gadai syariah dan

fidusia
- Jasa penjaminan
5. Jasa asuransi,
6. Jasa keagamaan yang meliputi :
a. Jasa pelayanan rumah ibadah
b. Jasa pemberian khotbah atau dakwah
c. Jasa lainnya di bidang keagamaan
7. Jasa pendidikan, yang meliputi : jasa penyelenggaraan pendidikan sekolah dan jasa
penyelenggara pendidikan luar sekolah.

8. Jasa kesenian dan hiburan meliputi semua jenis jasa yang dilakukan oleh para pekerja
seni dan hiburan
9. Jasa penyiaran yang tidak bersifat iklan meliputi penyiaran radio dan televise yang
dilakukan oleh instansi pemerintah dan swasta dan tidak dibiayai oleh sponsor ( yang
bertujuan komersial ).
10. Jasa angkutan didarat dan air serta jasa angkutan udara dalam negeri yang menjadi
bagian tak terpisahkan dari jasa angkutan udara luar negeri
11. Jasa tenaga kerja, yang meliputi : jasa tenaga kerja, jasa penyediaan tenaga kerja
sepanjang penyedia tenaga kerja tidak bertanggungjawab atas hasil kerja dari tenaga
kerja tersebut dan jasa penyelenggara pelatihan tenaga kerja
12. Jasa perhotelan, yang meliputi :
a. Jasa penyewaan kamar termasuk tambahannya di hotel, rumah penginapan, motel,
losmen, hostel, serta fasilitas yang terkait dengan kegiatan perhotelan untuk tamu
yang menginap.
b. Jasa persewaan ruang unutk kegiatan acara atau pertemuan di hotel, rumah,
penginapan, motel, losmen, dan hostel.
13. Jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara
umum. Yang jenisnya meliputi jenisjenis jasa yang dilaksanakan oleh instansi
pemerintah seperti pemberian izin mendirikan bangunan (IMB), pemberian surat izin
usaha perdagangan (SIUP), pemberian NPWP, pembuatan katu tanda penduduk
(KTP)
14. Jasa penyedian tempat parkir
15. Jasa telpon umum dengan menggunakan uang logam
16. Jasa pengiriman uang dengan wesel pos
17. Jasa boga atau catering
D. PENYERAHAN DAN BUKAN PENYERAHAN
PENYERAHAN BARANG KENA PAJAK (BKP)
Pengertian penyerahan dimaksudkan sebagai penyerahan hak, pengalihan hak atas
barang, pemakaian sendiri dan penyerahan lainnya seperti penyerahan karena konsinyasi
( penjualan dengan cara pemilik menitipkan barang kepada pihak lain untuk dijualkan dengan
harga dan syarat yang telah ditentukan ).
Termasuk pengertian penyerahan barang kena pajak adalah :
1. Penyerahan hak atas barang kena pajak karena suatu perjanjian. Perjanjian yang
dimaksudkan meliputi jual beli,tukar menukar, jual beli dengan angsuran atau
perjanjian yang mengakibatkan penyerahan hak atas barang.

2. Penyerahan barang kena pajak karena suatu perjanjian sewa beli dan atau perjanjian
sewa (leasing). Penyerahan BKP juga dapat terjadi karena perjanjian sewa beli atau
perjanjian sewa guna usaha (leasing) adapun yang dimaksud dengan leasing adalah
penyerahan yang disebabkan oleh perjanjian sewa guna usaha dengan hak opsi.
Meskipun pengalihan atau penyerahan hak atas barang kena pajak belum dilakukan
dan pembayaran atas harga jual dilakukan secara bertahap, tetapi karena penguasaan
atas barang kena pajak telah berpindah dari penjual kepada pembeli atau dari lessor
dan lessee, maka penyerahan barang kena pajak telah terjadi pada saat perjanjian telah
ditandatanganinya perjanjian.
3. Penyerahan barang kena pajak kepada pedagang perantara atau melalui juru lelang.
Pedagang perantara adalah orang pribadi atau badan yang dalam lingkungan
perusahaan atau pekerjaannya dengan nama sendiri melakukan perjanjian perikatan
atas dan untuk tanggungan orang lain dengan mendapat upah atau balas jasa
tertentu,contohnya komisioner. Sedangkan yang dimaksud juru lelang adalah juru
lelang pemerimtah atau yang ditunjuk oleh pemerintah.
4. Pemakaian sendiri dan atau pemberian cuma-cuma atas barang kena pajak.
Pemakaian sendiri diartikan pemakaian untuk kepentingan pengusaha sendiri,
pengurus, atau karyawannya. Sedangkan pemberian cuma-cuma diartikan sebagai
pemberian yang diberikan tanpa pembayaran, antara lain pemberian contoh barang
untuk promosi kepada relasi atau pembeli.
5. Persediaan barang kena pajak dan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk
diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan sepanjang
pajak pertambahan nilai atas perolehan aktiva tersebut menurut ketentuan dapat
dikreditkan. Persedian BKP dan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk
diperjualbelikan,yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan disamakan
dengan pemakaian sendiri sehingga dianggap sebagai penyerahan barang kena pajak.
Khusus untuk aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, hanya
dikenakan pajak pertambahan nilai apabila memenuhi persyaratan, yaitu bahwa pajak
pertambahan nilai pada saat perolehannya dapat dikreditkan.
6. Penyerahan barang kena pajak dari pusat ke cabang atau sebaliknya dan penyerahan
barang kena pajak antar cabang. Apabila suatu perusahaan mempunyai lebih dari satu
tempat pajak terutang, yaitu tempat melakukan penyerahan BKP kepada pihak lain,
baik sebagai pusat maupun sebagai cabang perusahaan, maka undangundang ini
menganggap bahwa pemindahan barang kena pajak antar tempat tersebut merupakan

penyerahan barang kena pajak. Yang dimaksud dengan cabang dalam ketentuan ini
termasuk antara lain lokasi usaha, perwakilan, unit pemasaran dan sejenisnya.
7. Penyerahan barang kena pajak secara konsinyasi. Dalam hal penyerahan BKP secara
konsinyasi, pajak yang sudah dibayar pada waktu barang kena pajak yang
bersangkutan diserahkan untuk dititipkan dapat dikreditkan dengan pajak keluaran
pada masa pajak terjadinya penyerahan barang kena pajak yang dititipkan tersebut.
Sebaliknya apabila barang kena pajak titipan tersebut tidak laku dijual dan diputuskan
untuk dikembalikan kepada pemilik barang kena pajak pengusaha yang menerima
titipan tersebut dapat menggunakan ketentuan mengenai pengembalian barang kena
pajak (retur) sebagaimana dimaksud dalam pasal 5A UU No.42 tahun 2009 tentang
PPN dan PPnBM. Perlu diketahui bahwa penyerahan BKP secara konsinyasioleh
pengusaha kecil sesuai ketentuan UU PPN, tidak dikenai PPN
8. Penyerahan barang kena pajak oleh PKP dalam rangka perjanjian pembiayaan yang
dilakukan berdasarkan prinsip syariah, yang penyerahannya dianggap langsung dari
PKP kepada pihak yang membutuhkan barang kena pajak.
BUKAN PENYERAHAN BARANG KENA PAJAK
Bukan termasuk dalam pengertian penyerahan barang kena pajak adalah :
1. Penyerahan barang kena pajak kepada makelar sebagaimana dimaksud dalam Kitab
UU Hukum Dagang. Pengertian makelar dalan KUHD adalah pedagang perantara
yang diangkat presiden atau oleh presiden dinyatakan berwenang untuk itu. Dalam
menyelenggarakan perusahaannya, yaitu melakukan pekerjaan dengan mendapat upah
atau provisi tertentu atas amanat dan atas nama orang-orang lain yang dengan mereka
tidak terdapat hubungan kerja.
2. Penyerahan barang kena pajak untuk jaminan utang piutang
3. Penyerahan barang kena pajak dari pusat ke cabang atau sebaliknya dan penyerahan
barang kena pajak antar cabang, dalam hal PKP tersebut telah memperoleh izin
pemusatan tempat pajak terutang dari Direktur Jendral Pajak, maka pemindahan
barang kena pajak dari satu tempat usaha ke tempat usaha lainnya (pusat ke cabang
atau sebaliknya atau antar cabang) dianggap tidak termasuk dalam pengertian
penyerahan barang kena pajak, kecuali pemindahan barang kena pajak antar tempattempat pajak terutang.
4. Pengalihan BKP dalam rangka penggabungan, peleburan, penekanan, pemecahan dan
pengambilalihan usaha dengan syarat pihak yang melakukan pengalihan dan yang
menerima pengalihan adalah PKP, dan pengertian pemecahan usaha adalah pemisahan
usaha yang diatur masing-masing pereroan terbatas.

5. Barang kena pajak berupa aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk
diperjualbelikanyang masih tersisa pada sat pembubaran perusahaan, dan pajak
masukan atas perolehannya tidak dapat dikreditkan.
PENYERAHAN JASA KENA PAJAK
Pengertian penyerahan jasa kena pajak adalah setiap kegiatan pemberian jasa kena
pajak, yaitu setiap kegiatan pelayanan berdasarkan suatu perikatan atau perbuatan hukum
yang menyebabkan suatu barang atau fasilitas atau kemudahan atau hak tersedia untuk
dipakai, termasuk jasa yang dilakukan untuk menghasilkan barang karena pesanan atau
permintaan dengan bahan dan petunjuk dari pemesan yang dikenakan pajak berdasarkan UU
PPN barang dan jasa dan PPnBM atas barang mewah.
Penyerahan jasa kena pajak dikenakan atas :
1. Penyerahan jasa kena pajak di dalam daerah pabean yang dilakukan oleh pengusaha
( baik PKP maupun pengusaha yang seharusnya dikukuhkan sebagai PKP tetapi
belum dikukuhkan)
2. Pemanfaatan jasa kena pajak yang berasal dari luar daerah pabean yang dilakukan
oleh pengusaha. Jasa yang berasal dari luar daerah pabean yang dimanfaatkan oleh
siapapun di dalam daerah pabean dikenakan PPN
3. Ekspor jasa kena pajak oleh PKP, maksudnya adalah penyerahan JKP dari dalam
daerah pabean ke luar daerah pabean oleh PKP yang menghasilkan dan melakukan
ekspor.
E. DAERAH PABEAN DAN KAWASAN BERIKAT
DAERAH PABEAN
Istilah Daerah Pabean merupakan istilah yang penting terutama terkait dengan
pengertian ekspor dan impor. Pengertian Daerah Pabean juga menjadi penting karena batasan
daerah pabean inilah yang menjadi batasan PPN mempunyai hak legal untuk diterapkan
karena PPN pajak atas konsumsi barang atau jasa di dalam daerah pabean. Di luar daerah
pabean, PPN tidak memiliki hak untuk dikenakan atau diterapkan. Pengertian Daerah Pabean
ini terdapat di Pasal 1 angka 1 UU PPN, yaitu wilayah Republik Indonesia yang meliputi
wilayah darat, perairan, dan ruang udara di atasnya, serta tempat-tempat tertentu di Zona
Ekonomi Eksklusif dan landas kontinen yang di dalamnya berlaku Undang-Undang yang
mengatur mengenai kepabeanan. PPN dan PPn BM hanya dikenakan atas barang atau jasa
yang tujuan konsumsinya di Dalam Negeri RI (Destination Principle).

KAWASAN BERIKAT
Kawasan berikat (bonded zone) adalah suatu kawasan dengan batas-batas tertentu di
dalam wilayah pabean Indonesia yang di dalamnya diberlakukan ketentuan khusus di bidang
pabean, yaitu terhadap barang yang dimasukkan dari luar daerah pabean atau dari dalam
daerah pabean Indonesia lainnya tanpa terlebih dahulu dikenakan bea cukai atau pungutan
negara lainnya, sampai barang tersebut dikeluarkan untuk tujuan impor, ekspor, atau reekspor
(diekspor kembali) (PP no. 22 tahun 1986). Fungsi kawasan berikat adalah sebagai tempat
penyimpanan, penimbunan, pengolahan barang yang berasal dari dalam dan luar negeri.
Kemudahan yang diberikan dalam kawasan berikat, yaitu pelayanan dan pengurusan
dokumen ekspor dan impor berada dalam satu atap (satu kantor). Seluruh produksi dari
industri yang terdapat di dalam kawasan berikat harus ditujukan untuk ekspor, kecuali
industri tekstil dapat dipasarkan di dalam negeri hingga 15% dari seluruh hasil produksinya.
F. SAAT DAN TEMPAT PPN TERUTANG
1. Saat Ppn Terutang
Untuk menentukan saat PKP melaksanakan kewajiban membayar pajak, penentuan
saat pajak terutang menjadi sangat relevan.Tanpa diketahui saat pajak terutang, tidak
mungkin ditentukan bilamana PKP wajib memenuhi kewajiban melunasi utang pajaknya.
Untuk menentukan saat pajak terutang sangat erat kaitannya dengan penentuan saat
timbulnya utang pajak.Sebagai pajak objektif, PPN menganut ajaran materiil timbulnya utang
pajak yaitu utang pajak timbul karena undang-undang. Dengan kata lain dapat dirumuskan
bahwa utang pajak timbul karena adanya tatbestand yang diatur dalam undang-undang, yaitu
sejak adanya suatu ke-adaan, peristiwa atau perbuatan hukum yang dapat dikenakan pajak.
Dengan rumusan yang lebih sederhana, dapat ditentukan bahwa utang PPN mulai timbul
sejak adanya objek pajak.Ajaran materiil timbulnya utang pajak dianut oleh suatu jenis pajak
yang mekanisme pemungutan pajak-nya menggunakan self assessment system.Mekanisme
pemungutan PPN menggunakan sistem ini, sehingga timbulnya utang pajak ditentukan
berdasarkan ajaran materiil.
Dari ketentuan UU PPN Pasal 11 Tahun 2009 dapat disimpulkan bahwa pajak
terutang timbul pada saat:

Penyerahan BKP atau JKP


Impor BKP
Ekspor BKP dan JKP
Pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar Daerah Pabean
Pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean
Pembayaran, dalam hal pembayaran diterima sebelum penyerahan BKP atau sebelum

pemanfaatan BKP tidak berwujud atau JKP dari luar Daerah Pabean.
Saat lain yang ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak

Saat terutangnya PPn BM adalah pada saat:

Impor BKP yang tergolong mewah atau;


Penyerahan kepada pembeli dilakukan oleh produsen BKP yang tergolong mewah

tersebut.
Perlu diingat bahwa pengenaan PPnBM hanya satu kali, sesuai dengan saat
terutangnya PPnBM tersebut.

Terutangnya PPN atas penyerahan BKP dalam rangka perubahan bentuk usaha atau
penggabungan usaha atau pemekaran usaha atau pengalihan seluruh aktiva perusahaan yang
diikuti dengan perubahan pihak yang berhak atas BKP tersebut, adalah terjadi pada saat
ditandatanganinya akte yang berkenaan oleh Notaris
2. Tempat Ppn Terutang
a) Tempat terutang pajak bagi PKP yang melakukan penyerahan BKP, JKP dan ekspor
BKP terutang pajak adalah:
Tempat tinggal atau tempat kedudukan
Tempat kegiatan usaha dilakukan
Tempat lain yang ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak.
b) Dalam hal impor, terutangnya pajak terjadi di tempat BKP dimasukkan dan dipungut
melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
c) Orang pribadi atau badan yang memanfaatkan BKP tidak berwujud dan atau JKP dari
luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean terutang pajak adalah:
Tempat tinggal atau tempat kedudukan dan
Tempat kegiatan usaha.
d) Tempat lain yang ditetapkan dengan Direktur Jenderal Pajak, yaitu:
Bagi PKP yang terdaftar di KPP Wajib Pajak Besar dan yang terdaftar di KPP BUMN
ditetapkan tempat terutang pajak hanya di tempat PKP terdaftar (otomatis terpusat di
KPP WP Besar dan KPP BUMN).

G. FAKTUR PAJAK DAN NOTA RETUR


Faktur Pajak
Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak
(PKP) yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) atau penyerahan Jasa Kena
Pajak (JKP), atau bukti pungutan pajak karena impor Barang Kena Pajak yang digunakan
oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Bagi pengusaha kena pajak (PKP) faktur pajak ini
merupakan bukti dari pemenuhan kewajiban perpajakannya. Bagi pembeli atau penerima jasa
faktur pajak ini digunakan sebagai sarana pengkreditan pajak masukan.
Faktur Pajak dapat berupa Faktur Pajak Standar, Faktur Pajak Sederhana, atau
dokumen tertentu yang ditetapkan sebagai Faktur Pajak Standardan Faktur Penjualan yang
dapat dipersamakan dengan Faktur Pajak Standar.
a. Faktur Pajak Standar
Faktur Pajak Standar adalah Faktur Pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak dengan
ketentuan sebagai berikut :
a. Bentuk dan ukuran Faktur Pajak Standar disesuakan dengan kepentingan PKP.
b Setiap Faktur Pajak Standar harus menggunakan Kode Faktur Pajak yang diberikan oleh
. Kepala KPP kepada Wajib Pajak yang telah dikukuhkan sebagai PKP.
c. Dalam Faktur Pajak Standar harus dicantumkan keterangan tentang penyerahan BKP
atau penyerahan JKP yang paling sedikit memuat :
1 Nama, alamat, NPWP yang menyerahkan BKP atau JKP;
)
2 Nama, alamat, dan NPWP pembeli BKP atau penerima JKP;
)
3 Jenis barang atau jasa, jumlah Harga Jual atau Penggantian, dan potongan harga;
)
4 PPN yang dipungut;
)
5 PPn BM yang dipungut;
)
6 Kode, nomor seri dan tanggal pembuatan Faktur Pajak; dan

)
7 Nama, jabatan dan tandatangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak.
)
d Faktur Pajak Standar paling sedikit dibuat dalam rangkap dua yaitu :
.
Lembar ke-1 : Untuk Pembeli BKP atau Penerima JKP sebagai bukti Pajak Masukan.
Lembar ke-2 : Untuk PKP yang menerbitkan Faktur Pajak Standar sebagai bukti Pajak
Keluaran.
Dalam hal Faktur Pajak Standar dibuat lebih dari rangkap dua, maka harus dinyatakan
secara jelas penggunaannya dalam lembar Faktur Pajak yang bersangkutan.
e. Dalam hal rincian BKP atau JKP yang diserahkan tidak dapat ditampung dalam satu
Faktur Pajak, maka PKP dapat membuat lebih dari satu Faktur Pajak yang masingmasing diisi secara lengkap.
f. Sebelum PKP menerbitkan Faktur Pajak Standar diharuskan melaporkan Nomor Seri
Faktur Pajak Standar yang akan digunakan kepada Kepala KPP di tempat PKP
dikukuhkan.
g Faktur Penjualan yang memuat keterangan dan yang pengisiannya sesuai dengan
. ketentuan pada huruf c. di atas dapat dipersamakan sebagai Faktur Pajak Standar.
h PKP yang menggunakan Faktur Penjualan sebagai Faktur Pajak Standar harus
. memberitahukan kepada Kepala KPP di tempat PKP dikukuhkan untuk mendapatkan
Kode Faktur Pajak.
i. Atas Faktur Pajak Standar yang cacat, atau rusak, atau salah dalam pengisian, atau
penulisan, atau yang hilang, PKP yang menerbitkan Faktur Pajak Standar tersebut dapat
membuat Faktur Pajak Standar Pengganti.
Catatan:
Tata cara penggunaan Faktur Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang mengalami
perubahan NPWP karena Reorganisasi Direktorat Jenderal Pajak:
* PKP masih dapat menggunakan NPWP serta Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak lama
sampai dengan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) baru menerbitkan Surat Pemberitahuan
Perubahan Kode dan Nama KPP;
* PKP wajib melaporkan secara tertulis jumlah Faktur Pajak yang belum digunakan pada

tanggal 1 Mei 2002 kepada KPP yang baru dengan cara melaporkan Nomor Seri Faktur
Pajak yang belum digunakan tersebut, paling lambat tanggal 1 Juni 2002.
* Faktur Pajak yang masih tersisa pada akhir Masa Pajak Desember 2002 harus
dimusnahkan dengan membuat Berita Acara Pemusnahan yang ditandatangani PKP yang
bersangkutan dan dilaporkan kepada KPP yang baru paling lambat tanggal 6 Januari
2003.

b. Faktur Pajak Sederhana


Faktur Pajak Sederhana adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh PKP untuk
menampung kegiatan penyerahan BKP dan atau JKP yang dilakukan secara langsung kepada
konsumen akhir dan pembeli BKP atau penerima JKP yang tidak diketahui identitasnya.
Pembuatan Faktur Pajak Sederhana harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :
a. Bentuk Faktur Pajak Sederhana dapat berupa bon kontan, Faktur Penjualan, segi cash
register, karcis, kuitansi, yang dipakai sebagai tanda bukti penyerahan atau pembayaran
atas penyerahan BKP atau JKP oleh PKP yang bersangkutan.
b Faktur Pajak Sederhana dibuat sekurang-kurangnya dalam rangkap dua:
.
- Lembar ke-1 : Untuk pembeli BKP/ penerima JKP
- Lembar ke-2 : Untuk arsip PKP yang bersangkutan.
Faktur Pajak Sederhana dianggap telah dibuat rangkap dua atau lebih dalam hal Faktur
Pajak Sederhana tersebut dibuat dalam satu lembar yang terdiri dari dua atau lebih bagian
atau potongan yang disediakan untuk disobek atau dipotong, seperti yang terjadi pada
karcis
c. Faktur Pajak Sederhana paling sedikit harus memuat :
1 Nama, alamat, dan NPWP yang menyerahkan BKP atau JKP;
)
2 Jenis dan kuantum BKP atau JKP yang diserahkan;
)

3 Jumlah Harga Jual atau Peggantian yang sudah termasuk pajak atau besarnya pajak
) dicantumkan secara terpisah;
4 Tanggal pembuatan Faktur Pajak Sederhana.
)
Faktur Pajak Sederhana yang tidak memenuhi kriteria tersebut, merupakan Faktur Pajak
yang tidak lengkap.
d Faktur Pajak Sederhana tidak dapat digunakan oleh pembeli BKP atau penerima JKP
. sebagai dasar untuk pengkreditan Pajak Masukan.
e. Faktur Pajak Standar yang diisi tidak lengkap bukan merupakan Faktur Pajak Sederhana
Contoh faktur pajak Standar

c. Dokumen Tertentu yang Ditetapkan Sebagai Faktur Pajak Standar


Dokumen tertentu yang diperlakukan sebagai Faktur Pajak Standar paling sedikit
harus memuat :
a. Identitas yang berwenang menerbitkan dokumen;
b Nama dan alamat penerima dokumen;
.
c. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dalam hal penerima dokumen adalah sebagai WP

Dalam Negeri;
d Jumlah satuan barang apabila ada;
.
e. Dasar Pengenaan Pajak;
f. Jumlah pajak yang terutang kecuali dalam hal ekspor.
Dokumen-dokumen tersebut di bawah ini sepanjang memenuhi persyaratan sebagaimana
tersebut di atas diperlakukan sebagai Faktur Pajak Standar, yaitu :
a. Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang dilampiri surat setoran pajak dan atau bukti
pungutan pajak oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk impor Barang Kena Pajak;
b Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) yang telah difiat muat oleh pejabat yang
. berwenang dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan dilampiri dengan invoice yang
merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan PEB tersebut;
c. Surat Perintah Penyerahan Barang (SPPB) yang dibuat/ dikeluarkan oleh BULOG/
DOLOG untuk penyaluran tepung terigu;
d Paktur Nota Bon Penyerahan (PNBP) yang dibuat/ dikeluarkan oleh Pertamina untuk
. penyerahan BBM dan atau bukan BBM;
e. Tanda pembayaran atau kuitansi untuk penyerahan jasa telekomunikasi;
f. Ticket, Tagihan Surat Muatan Udara (Airway Bill), atau Delivery Bill, yang dibuat/
dikeluarkan untuk penyerahan jasa angkutan udara dalam negeri;
g Surat Setoran Pajak untuk pembayaran Pajak Pertambahan Nilai atas pemanfaatan BKP
. tidak berwujud atau JKP dari luar Daerah Pabean;
h Nota Penjualan Jasa yang dibuat/ dikeluarkan untuk penyerahan jasa kepelabuhan;
.
i. Tanda pembayaran atau kuitansi listrik.
Saat Pembuatan Faktur Pajak
a. Faktur Pajak Standar
Faktur Pajak Standar harus dibuat paling lambat :
- Pada akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan BKP dan atau penyerahan
keseluruhan JKP dalam hal pembayaran diterima setelah bulan penyerahan BKP dan
atau penyerahan keseluruhan JKP, kecual pembayaran terjadi sebelum akhir bulan

berikutnya maka Faktur Pajak Standar harus dibuat paling lambat pada saat
penerimaan permbayaran; atau
- Pada saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi sebelum
penyerahan BKP dan atau sebelum penyerahan JKP; atau
- Pada saat pembayaran termijn dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan; atau
- Pada saat PKP rekanan menyampaikan tagihan kepada Pemungut PPN.
b Faktur Pajak Gabungan
. Faktur Pajak Gabungan yang merupakan Faktur Pajak Standar harus dibuat paling
lambat pada akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan BKP dan atau JKP.
c. Faktur Pajak Sederhana
Faktur Pajak Sederhana harus dibuat pada saat :
- Penyerahan BKP atau saat penyerahan JKP, atau
- Pada saat pembayaran apabila pembayaran diterima sebelum penyerahan BKP atau
JKP.
Nota Retur
Nota Retur adalah Nota yang dibuat oleh penerima BKP karena adanya pengembalian atas
BKP yang telah dibeli/diterimanya. Dengan adanya Nota Retur tersebut maka PKP penjual
dapat mengurangkan PPN dan PPn BM (PK) atas penyerahan BKP yang dikembalikan,
sedangkan bagi PKP pembeli harus mengurangkan PPN dan PPnBM (PM) yang telah
dikreditkan atau biaya, dan harta. Nota Retur diterbitkan dan dilaporkan baik oleh PKP
penjual maupun PKP pembeli pada Masa Pajak terjadinya pengembalian BKP tersebut.
A. Pengembalian Barang Kena Pajak Dan Pembuatan Nota Retur
1. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM)
atas penyerahan Barang Kena Pajakyang dikembalikan (retur), dapat dikurangkan
dari PPN dan PpnBM yang terutang dalam masa pajak yang sama.
2. Dalam hal terjadi pengembalian Barang Kena Pajak, maka pembeli harus membuat
dan menyampaikan Nota Retur kepada PKP penjual, kecuali diganti dengan BKP
yang jenisnya, tipenya, jumlahnya dan harganya sama.
3. Nota Retur sekurang-kurangnya harus mencantumkan :
a. Nomor urut;

b Nomor dan tanggal Faktur Pajak dari BKP yang dikembalikan;


.
c. Nama, alamat, dan NPWP pembeli;
d Nama, alamat, NPWP, yang menerbitkan Faktur Pajak;
.
e. Jenis barang dan harga jual BKP yang dikembalikan;
f. PPN atas BKP yang dikembalikan;
g PPn BM atas BKP yang tergolong mewah yang dikembalikan;
.
h Tanggal pembuatan Nota Retur;
.
i. Tanda tangan pembeli.

4. Dalam hal Nota Retur tidak selengkapnya mencantumkan keterangan sebagaimana


dimaksud pada butir 2 di atas maka tidak dapat diperlakukan sebagai Nota Retur
sehingga tidak dapat mengurangi Pajak Keluaran bagi penjual atau Pajak Masukan,
atau harta, atau biaya bagi pembeli.
5. Nota Retur dibuat sekurang-kurangnya dalam rangkap 2 (dua) :
- lembar ke-1 : untuk PKP penjual
- lembar ke-2 : untuk arsip pembeli
6. Nota Retur harus dibuat dalam Masa Pajak yang sama dengan Masa Pajak terjadinya
pengembalian BKP.
7. Bentuk dan ukuran Nota Retur dapat disesuaikan dengan kebutuhan administrasi
pembeli.
B Pengembalian Barang Kena Pajak Yang Tidak Dibuatkan Nota Retur
.

Dalam hal pengembalian Barang Kana Pajak terjadi masih dalam Masa Pajak yang
sama dengan terjadinya penyerahan Barang Kena Pajak tersebut, tidak harus
ditatausahakan sebagai pengembalian BKP, melainkan dapat ditatausahakan sebagai
pembatalan

atau

perbaikan

atas

penyerahan

berikut

Faktur

bersangkutan.Dengan demikian tidak perlu dibuatkan Nota Retur.

Pajak

yang

C Nota Retur Mengurangi Pajak Pertambahan Nilai/ Harta/ Biaya


.

Pajak Pertambahan Nilai atas penyerahan Barang Kena Pajak yang dikembalikan oleh
pembeli mengurangi :
1 Pajak Keluaran bagi Pengusaha Kena Pajak penjual, sepanjang Faktur Pajak (Faktur
. Pajak Standar atau Faktur Pajak Sederhana) atas penyerahan Barang Kena Pajak
tersebut telah dilaporkan dalam SPT Masa PPN.
2 Pajak Masukan bagi Pengusaha Kena Pajak pembeli, sepanjang Pajak Masukannya
. dapat dikreditkan dan telah dilaporkan dalam SPT Masa PPN.
3 Harta atau biaya bagi Pengusaha Kena Pajak pembeli, dalam hal Pajak Masukannya
. tidak dapat dikreditkan dan telah dikapitalisasi atau telah dibebankan sebagai biaya.

H. TARIF DAN DASAR PENGENAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN)


PPN dan PPnBM yang terutang dihitung dengan cara mengalikan Tarif Pajak dengan Dasar
Pengenaan Pajak (DPP)
Tarif PPN &PPnBM :
1. Tarif PPN adalah 10% (sepuluh persen)
2. Tarif PPnBM adalah paling rendah 10% (sepuluh persen) dan paling tinggi 75%
(tujuh puluh lima persen)
3. Tarif PPN dan PPnBM atas Ekspor BKP adalah 0% (nol persen).
Dasar Pengenaan Pajak
Dasar Pengenaan Pajak adalah dasar yang dipakai untuk menghitung pajak yang terutang,
yaitu: Jumlah Harga Jual, Penggantian, Nilai Impor, Nilai Ekspor, atau Nilai Lain yang
ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.
1.

Harga Jual adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau
seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan Barang Kena Pajak (BKP), tidak
termasuk PPN yang dipungut dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak.

2.

Penggantian adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau
seharusnya diminta oleh pemberi jasa karena penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP), tidak

termasuk pajak yang dipungut dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur
Pajak.
3.

Nilai Impor adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar penghitungan Bea Masuk
ditambah pungutan lainnya yang dikenakan pajak berdasarkan ketentuan dalam peraturan
perundangundangan Pabean untuk Impor BKP, tidak termasuk PPN yang dipungut
menurut Undangundang.

4.

Nilai Ekspor adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau
seharusnya diminta oleh eksportir.

5.

Nilai Lain adalah suatu jumlah yang ditetapkan sebagai Dasar Pengenaan Pajak
dengan Keputusan Menteri Keuangan. Nilai Lain yang ditetapkan sebagai Dasar
Pengenaan Pajak adalah sebagai berikut:

Untuk Pemakaian sendiri BKP dan atau JKP adalah Harga Jual atau Penggantian
setelah dikurangi laba kotor;

Untuk Pemberian cuma-cuma BKP dan atau JKP adalah Harga Jual atau Penggantian
setelah dikurangi laba kotor;

Untuk Penyerahan media rekaman suara atau gambar adalah perkiraan Harga Jual
rata-rata;

Untuk Penyerahan film cerita adalah perkiraan hasil rata-rata per judul film;

Untuk Persediaan BKP yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan, adalah
harga pasar yang wajar;

Untuk Aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan sepanjang
PPN atas perolehan aktiva tersebut menurut ketentuan dapat dikreditkan, adalah harga pasar
wajar;

Untuk Kendaraan bermotor bekas adalah 10% (sepuluh persen) dari Harga Jual.

Untuk Penyerahan jasa biro perjalanan atau jasa biro pariwisata adalah 10% (sepuluh
persen) dari jumlah tagihan atau jumlah yang seharusnya ditagih.

Untuk Jasa pengiriman paket adalah 10% (sepuluh persen) dari jumlah tagihan atau
jumlah yang seharusnya ditagih;

Untuk Jasa anjak piutang adal 5% (lima persen) dari jumlah seluruh imbalan yang
diterima berupa service charge, provisi, dan diskon;

Untuk Penyerahan BKP dan atau JKP dari Pusat ke Cabang atau sebaliknya dan
penyerahan BKP dan atau JKP antar cabang adalah Harga Jual atau Penggantian setelah
dikurangi laba kotor.

Untuk Penyerahan BKP kepada pedagang perantara atau melalui juru lelang adalah
harga lelang.
I. HUBUNGAN ISTIMEWA
Berdasarkan Pasal 2 UU PPN 1984, Hubungan Istimewa dapat terjadi, karena :
a) Penyertaan
Pengusaha yang mempunyai penyertaan langsung atau tidak langsung
sebesar 25 % atau lebih d\pada pengusaha lain
Hubungan antar pengusaha dengan penyertaan 25 % atau lebih pada dua
pengusaha atau lebih
Hubungan antara dua pengusaha atau lebih yang modalnya sebesar 25 %
atau lebih dipegang oleh satu pengusaha
b) Penguasaan Manajemen
Pengusaha yang satu menguasai pengusaha lainnya atau dua atau lebih
pengusaha berada dibawah penguasaan pengusaha yang sama baik
langsung maupun tidak langsung.
c) Hubungan Kekeluargaan
Hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis keturunan

lurus satu derajat dan/ atau kesamping satu derajat


Sedarah lurus satu derajat : ayah, ibu dan anak
Sedarah kesamping satu derajat : kakak dan adik
Semenda lurus satu derajat : mertua dan anak tiri
Semenda kesamping satu derajat : ipar
Hubungan antara suami isteri jika ada perjanjian pemisahan harta dan
penghasilan

DASAR PENGENAAN PAJAK (DPP)


Menurut pasal 1 huruf n, o, p, q, dan w undang-undang PPN 1984,dasar pengenaan pajak
adalah nilai berupa uang yang akan dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak terutang.
Yang menjadi dasar pengenaan pajak adalah :

a. Harga jual yaitu nilai berupa uang termasuk semua biaya yang diminta atau
seharusnya

diminta

oleh

penjual

karena

penyerahan

BKP tidak termasuk

PPN/PPnBM dan potongan harga yang dicantumkan dalam faktur pajak.


b. Penggantian adalah nilai berupa uang termasuk semua biaya yang diminta atau
seharusnya diminta oleh pemberi jasa karena penyerahan JKP tidak termasuk PPN dan
potongan harga yang tercantum dalam faktur pajak.
c. Nilai impor adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar penghitungan bea masuk
ditambah pungutan lainnya yang dikenakan sesuai Undan-Undang Pabean untuk impor
BKP tidak termasuk PPN dan PPnBM.
d. Nilai ekspor adalah nilai berupa uang termasuk semua biaya yang diminta atau
seharusnya diminta oleh eksportir.
e. Nilai lain adalah nilai berupa uang yang digunakan sebagai DPP bagi penyerhan
BKP atau JKP yang memenuhi kriteria tertentu yaitu :
Untuk pemakaian sendiri dan pemberian cuma-cuma adalah harga jual atau
penggantian tidak termasuk laba kotor.
Untuk penyerahan media rekaman suara atau gambar adalah harga jual rata-rata.
Untuk penyerahan film cerita adalah perkiraan hasil rata-rata per judul film.
Untuk persediaan BKP yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan adalah
harga pasar wajar.
Untuk aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan yang masih
tersisa pada saat pembubaran perusahaan adalah harga pasar wajar.
Untuk penyerahan jasa biro perjalanan/pariwisata adalah 10% dari jumlah tagihan atau
jumlah yang seharusnya ditagih.
Untuk jasa pengiriman paket adalah 10% dari jumlah tagihan.
Untuk penyerahan PKP pedagang eceran adalah 20% dari seluruh jumlah penyerahan
BKP.
Untuk anjak piutang adalah 5% dari service charge, provisi dan discount.

J. PERHITUNGAN DAN PELAPORAN PPN


PERHITUNGAN
Ada tiga metoda dalam penghitungan PPN, yaitu :
a) Addition Method, berdasarkan metode ini PPN dihitung dari penjumlahan seluruh
unsur nilai tambah dikalikan tarif PPN yang berlaku.
b) Subtraction Method, berdasarkan metode ini PPN dihitung dari selisih antara
harga jual dengan harga beli dikalikan dengan tarif pajak yang berlaku.

c) Credit Method, berdasarkan metode ini PPN dihitung dari selisih antara pajak
yang dibayar pada saat pembelian dengan pajak yang dipungut pada saat
penjualan.
Dari tiga metoda tersebut, undang-undang PPN menganut Credit Method dengan
metoda ini walaupun pengenaan PPN dapat dihindari kemungkinan timbulnya pengenaan
pajak berganda. Dalam Credit Method dikenal adanya istilah Pajak Masukan yaitu pajak
yang dibayar pada saat pembelian barang kena pajak atau jasa kena pajak dan Pajak
Keluaran yatiu pajak yang dipungut pada saat penyerahan barang kena pajak atau jasa
kena pajak. Setiap pemungutan PPN, pengusaha kena pajak yang bersangkutan wajib
membuat faktur pajak.

PELAPORAN
a) Bagi Bendaharawan/ KPKN selaku Pemungut PPN, pajak yang telah dipungut
dan telah disetor ke Kas Negara melalui Bank Persepsi selambat-lambatnya
tanggal 7 bulan berikutnya dan dilaporkan ke KPP selambat-lambatnya tanggal 14
pada bulan yang sama dengan bulan setoran.
b) Bagi badan-badan tertentu selaku Pemungut PPN, pajak yang telah dipungut dan
telah disetor ke Kas Negara selambat-lambatnya tanggal 15 bulan berikutnya,
wajib dilaporkan kepada KPP selambat-lambatnya tanggal 20 pada bulan yang sama
dengan bulan dilakukan setoran.
c) Atas pembayaran yang tidak wajib dipungut PPN/PPnBM, tetap dilaporkan dengan
cara mencantumkan sebagai catatan pada halaman yang kosong yang terdapat pada
formulir Laporan Pemungutan PPN/PPnBM.
d) Bagi PKP Rekanan, jumlah pembayaran yang telah diterima dari Pemungut PPN
dilaporkan dalam SPT Masa PPN pada masa pajak diterima pembayaran, apabila
pembayaran diterima dari KPKN, dilaporkan dalam SPT Masa PPN pada masa pajak
sesuai dengan tanggal mesin kas register.
K. KREDIT PAJAK MASUKAN
a) Prinsip Dasar Pengkreditan Pajak
Prinsip dasar pengkreditan pajak masukan sebagaimana diatur dalam pasal 9 undangundang PPN 1984 dapat dirinci :
Pajak masukan dalam suatu masa pajak dapat dikreditkan dalam pajak keluaran
untuk masa pajak yang sama.

Apabila jumlah pajak keluaran lebih besar dari pajak masukan maka selisihnya
merupakan PPN yang wajib dibayar oleh PKP.
Apabila jumlah pajak masukan lebih besar dari pajak keluaran maka selisihnya
merupakan kelebihan pajak masukan yang dapat dikompensasikan pada masa
pajak berikutnya.
Pajak masukan yang dapat dikreditkan adalah pajak masukan yang dibayar untuk
perolehan BKP atau JKP yang berhubungan langsung dengan kegiatan usaha.
Pengembalian kelebihan pembayaran pajak masukan, pada hakikatnya hanya
boleh dilakukan pada akhir tahun buku kecuali kelebihan tersebut sebagai akibat dari
ekspor BKP dan/atau kegiatan penyerahan BKP dan/atau JKP kepada
pemungutan PPN boleh dikembalikan setiap akhir masa pajak.

Persyaratan Pajak Masukan Yang Dapat Dikreditkan :


a. Persyartan Formil yaitu :
Tercantum dalam faktur pajak standar.
Pajak masukan dan pajak keluaran dalam masa pajak yang sama atau dalam masa
pajak yang tidak sama sepanjang belum melampaui bulan ketiga setelah akhir tahun
buku yang bersangkutan sepanjang belum dibebankan sebagai biaya dan belum
dilakukan pemeriksaan.
b. Persyaratan Materil yaitu :
Berhubungan langsung dengan kegiatan usaha.
Belum dibebankan sebagai biaya.

Pajak Masukan Yang Tidak Dapat Dikreditkan


Dalam pasal 9 ayat 8 dan pasal 16B ayat 3 UU PPN Jo pasal 32 PP nomor 50 tahun 1994 Jo
KMK nomor 643/KMK.04/1994 Jo KMK nomor252/KMK.04/1998, Pajak
Masukan yang tidak dapat dikreditkan adalah :
Pajak Masukan yang dibayar sebelum Pengusaha dikukuhkan sebagai PKP
Pajak Masukan yagn dibayar untuk perolehan BKP atau JKP yang tidak berhubungan
langsung dengan kegiatan usaha
Pajak Masukan yang dibayar untuk pembelian atau pemeliharaan kendaraan
bermotor jenis sedan, jeep, station wagon, van dan kombi, kecuali sebagai barang
dagangan atau digunakan langsung sesuai dengan bidang usahanya
Pajak Masukan yagn dibayar atas pemanfaatan BKP tidak berwujud atau JKP dari

luar daerah pabean didalam daerah pabean sebelum Pengusaha


Pajak Masukan yang tercantum dalam Faktur Pajak Sederhana
Pajak Masukan yang tercantum dalam Faktur Pajak Standar

yang tidak

memenuhi ketentuan Undang-undang


Pajak Masukan yang pembayarannya ditagih menggunakan Surat Ketetapan Pajak
Pajak Masukan yang tidak dilaporkan dalam SPT Masa PPN yang ditemukan dalam
pemeriksaan
Pajak Masukan yang dibayar untuk perolehan BKP atau JKP yang digunakan untuk
kegiatan usaha yang menghasilkan penyerahan yang dibebaskan dari pengenaan
pajak
Pajak Masukan yang dibayar untuk perolehan BKP atau JKP yang digunakan untuk
kegiatan usaha yang menghasilkan penyerahan yang PPN ditanggung oleh Pemerintah
Pajak Masukan Atas Pemakaian Sendiri Bkp (Se-01/Pj/1991)
Pemakaian sendiri untuk tujuan konsumtif, yang berasal dari produknya sendiri
terutang PPN. PPN tersebut merupakan Pajak Keluaran dan merupakan Pajak
Masukan bagi PKP yang bersangkutan dan Pajak Masukannya tidak dapat
dikreditkan.

Pemakaian sendiri untuk tujuan produktif, yaitu pemakaian hasil produksi sendiri
untuk keperluan yang berhubungan langsung dengan kegiatan usaha. Atas
pemakaian sendiri ini terutang PPN. Pajak Keluaran harus dibayar sendiri oleh
PKP tersebut. PPN yang dibayar merupakan Pajak Masukan yang dapat
dikreditkan, sehingga Faktur Pajak yang dibuat harus Faktur Pajak Standar.

Pedoman Pengkreditan Pajak Masukan bagi PKP yang PPhnya menggunakan Norma
Penghitungan Penghasilan Netto ( Pasal 9 ayat 7 UU PPN 1984 Jo KMK nomor
594/KMK.04/1994 Jo SE-13/PJ.54/1995 Jo SE-43/PJ.5/1995) :
Pengusaha yang memilih menggunakan Pedoman Pengkreditan Pajak Masukan wajib
memberitahukan secara tertulis kepada KPP dengan cara membubuhkan catatan pada
kolom yang tersedia dalam SPT Masa PPN.
Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dihitung berdasarkan persentase sebagai
berikut:

70 % dari Pajak Keluaran, dalam hal PKP menyerahkan BKP

40 % dari Pajak Keluaran, dalam hal PKP menyerahkan JKP

PKP wajib menyelenggarakan catatan jumlah peredaran bruto yang menjadi DPP
secara terpisah tentang jumlah peredaran bruto yang berasal dari penyerahan tidak kena
pajak dalam hal PKP juga melakukan penyerahan tidak kena pajak
Bagi PKP yang tidak sepenuhnya menyelenggarakan pencatatan peredaran bruto,
sehingga tidak diketahui dengan pasti jumlah peredaran brutonya dan dari hasil
pemeriksaan ternyata jumlah peredaran bruto lebih besar dari yang dilaporkan dalam
SPT Masa PPN, maka Pajak Keluaran dihitung berdasarkan tarif dikalikan dengan
jumlah peredaran berdasarkan hasil pemeriksaan
Dalam hal PKP melakukan ekspor dan/atau menyerahkan BKP/JKP kepada Pemungut
PPN, sehingga terjadi kelebihan pembayaran pajak, pengembaliannya dilakukan sesuai
dengan KEP-28/PJ./1996.
Bagi PKP yang wajib menyelenggarakan pembukuan tetapi tidak bersedia
memperlihatkan pembukuannya, sehingga tidak diketahui dengan pasti jumlah
peredaran bruto yang sebenarnya, tidakboleh menggunakanPedoman Pengkreditan
Pajak Masukan dalam menghitung Pajak Masukan yang dapat dikreditkan
Apabila dalam satu Masa Pajak PKP tidak memenuhi syarat untuk menggunakan
Norma Penghitungan Penghasilan Netto, maka mulai permulaan tahun buku
berikutnya, PKP tersebut tidak diperbolehkan menggunakan Pedoman Pengkreditan.
Pedoman Pengkreditan Pajak Masukan bagi PKP yang Melakukan Penyerahan yang
Terutang PPN atau PPN yang terutang Ditanggung Pemerintah atau Dibebaskan dari
Pengenaan PPN
Pajak Masukan yang dibayar untuk perolehan BKP dan/atau JKP yang digunakan
untuk menghasilkan penyerahan kena pajak, disamping itu juga digunakan untuk
kegiatan yang tidak terutang PPN atau terutang PPN tetapi PPNnya ditanggung
Pemerintah atau dibebaskan dari PPN, dapat dikreditkan dengan cara :

Pajak yang dikreditkan sebanding dengan persentase penggunaan barang modal


yang digunakan untuk kegiatan usaha yang terutang PPN

Dalam hal Pajak Masukan telah dikreditkan dengan Pajak Keluaran


yang dipungut dalam masa pajak yang sama, maka setelah akhir tahun buku
dihitung kembali bagian dari Pajak Masukan itu yang harus dibayar
kembali ke Kas Negara dengan rumus :

P X PM/T
P : persentase rata-rata penggunaan barang modal untuk kegiatan lain dalam satu
tahun buku
PM : Pajak Masukan atas perolehan dan pemeliharaan barang modal yang telah
dikreditkan
T : masa manfaat barang modal (untuk bangunan : 10 tahun & untuk barang modal
lainnya : 5 tahun)

Pajak Masukan yang dibayar untuk perolehan BKP dan/atau JKP yang :

Nyata-nyata digunakan untuk unit atau kegiatan yang atas penyerahan hasil
dari unit atau kegiatan tersebut tidak terutang PPN atau terutang PPN tetapi
PPNnya ditanggung Pemerintah atau dibebaskan dari pengenaan PPN
tidak dapat dikreditkan

Nyata-nyata digunakan untuk kegiatan usaha yang akan menghasilkan


penyerahan yang terutang PPN dapat dikreditkan

Digunakan baik untuk kegiatan yang akan menghasilkan penyerahan terutang


PPN maupun untuk kegiatan yang akan menghasilkan penyerahannya yang
PPNnya ditanggung oleh Pemerintah atau dibebaskan dari pengenaan PPN
dapat dikreditkan dengan Pajak Keluaran yang dipungut dalam masa pajak
yang sama, kemudian setelah akhir tahun buku wajib menghitung kembali
bagian Pajak Masukan tersebut yang akan dibayar kembali ke Kas Negara
dengan cara :

Untuk Barang Modal :

X/Y x PM/T

Untuk bukan Barang Modal :

X/Y x PM

X: Jumlah seluruh peredaran selama satu tahun buku yang tidak terutang PPN atau PPN
ditanggung Pemerintahatau dibebaskan dari PPN
Y: Jumlah seluruh peredaran dalam satu tahun buku

PM: Pajak Masukan yang telah dikreditkan


T: Masa manfaat barang modal (bangunan 10 tahun & untuk barang modal lainnya 5 thn)
Hasil penghitungan kembali PM tersebut tidak perlu dibayar langsung ke Bank
Persepsi atau Kantor Pos dan Giro tetapi cukup diperhitungkan didalam SPT Masa
PPN
Harus dilakukan paling lambat bulan ketiga setelah akhir tahun buku menggunakan
lampiran SPT Masa PPN formulir 1195 B3
Jika masa manfaat tersebut sudah lewat, tidak perlu dilakukan penghitungan kembali.

L. PENCATATAN TRANSAKSI PPN DAN PPNBM


Pencatatan yang dilakukan pada saat melakukan pembelian
Pembelian / persediaan
Pajak masukan

Rp.200.000
Rp.20.000

Utang Dagang / kas

Rp.220.000

Pada saat melakukan pembelian barang atau barang yang yang dipergunakan untuk

produksi perusahaan harus membayar PPN kepada suplier.


PPN yang dibayarkan pada saat pembelian disebut sebagai PPN masukan
Tidak semua pajak masukan boleh dikreditkan
Jika pajak masukan yang tidak dapat dikreditkan akan langsung dicatat menambah
harga perolehan aktiva

Pencatatan saat penjualan


Kas/Piutang
Penjualan
PPN keluaran

330.000
300.000
30.000

Pencatatan yang dilakukan pada saat pengakuan utang:


PPN keluaran
30.000
PPN masukan
20.000
Utang PPN
10.000
Pencatatan yang dilakukan pada saat pembayaran utang
Utang PPN
10.000
Kas
10.000

Jika PPN masukan lebih besar perusahaan mengajukan permohonan untuk restitusi.
Fiskus akan melakukan pemeriksaan sebelum mengabulkan permohonan restitusi.

PPnBM = Pajak penjualan Barang Mewah

Dikenakan hanya satu kali yaitu pada :

Produsen penghasil barang mewah

Importir barang mewah

PPnBM tidak boleh dikreditkan dengan pajak yang lain.

PPnBM akan ditambahkan dari harga jual yang telah ditetapkan oleh produsen atau
importir

Jumlah pajak yang dibayar oleh pembeli akan dicatat sebagai utang PPnBM.

Utang PPnBM dibayarkan ke kas negara dan dilaporkan kepada fiskus.