Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH

AKROMEGALI DAN GIGANTISME

DOSEN APLIKASI KOMPUTER


Fajarianditya Nugraha, M.Kom.

DISUSUN OLEH:
Ratna Kristiani (114011)
Riana Nellasari K (114012)
Ririn Arif Wijayanti (114013)
Sherli (114014)
Valentina Dexna M (114015)

AKADEMI ANALIS KESEHATAN THERESIANA


SEMARANG
2015

Daftar Isi

BAB I...................................................................................................... 1
PENDAHULUAN....................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang.................................................................................... 1
1.2 Tujuan.............................................................................................. 3
1.3 Rumusan Masalah................................................................................ 3
BAB II..................................................................................................... 4
TINJAUAN PUSTAKA................................................................................4
2.1 Definisi............................................................................................. 4
2.2 Etiologi............................................................................................. 7
2. 3 Manifestasi Klinis...............................................................................8
2.5 Penatalaksanaan.................................................................................. 9
BAB III................................................................................................... 14
ASUHAN KEPERAWATAN.................................................................14
3.1 Gigantisme..................................................................................... 14
3.2 Akromegali...................................................................................... 21
BAB IV.................................................................................................. 25
4.1 Kesimpulan...................................................................................... 25
4.2 Kritik dan Saran................................................................................ 26
DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 27

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gigantisme dan akromegali adalah kelainan yang disebabkan oleh karena sekresi
hormone pertumbuhan (HP) atau Growth Hormon (GH) yang berlebihan. (Ilmu
Penyakit Dalam, Jilid 1, edisi 3). Akromegali adalah kelainan yang jarang
didiagnosis, ditandai dengan hipersekresi dari hormon pertumbuhan, dengan
insiden diperkirakan 3 - 4 kasus per satu juta penduduk. Lebih dari 95 % kasus,
penyebab dari hipersekresi GH adalah adenoma dari hipofise. Namun juga dapat
disebabkan oleh lesi diluar hipofise yang prevalensinya kurang dari 1% antara lain
tumor extra hipofise seperti pancreatic isleth cell tumor, ekses sekresi GHRH
central

seperti

hamartoma

hipotalamus,

Choriostoma,

ganglioneuroma,

disebabkan oleh ekses sekresi GHRH perifer seperti bronchial carcinoid, dan lain
sebagainya (Cook,2004; Melmed, 2005). Gigantisme sangat jarang dijumpai. Di
Eropa, setiap tahunnya hanya dilaporkan 3-4 kasus dari 1 juta penduduk. Kejadian
antarawanita dan laki-laki sama. Laporan adanya kasusu ini di Indonesia juga
sangat jarang. Prognosis pada pasien gigantisme tergantung pada lamanya proses
kelainan berlangsung dan besarnya tumor. (Guyton, 2006)
Angka kejadian gigantisme dan akromegali sekitar 3 permil untuk semua umur,
tetapi lebih banyak pada kelompok umur 30-50 tahun; Tidak jelas ada predisposisi
seks ataupun suku. Pernah dilaporkan beberapa kasus dalam satu keluarga, tetapi
umumnya timbul secara sporadik. Di Indonesia baru ada beberapa kasus, dan pada
saat ini di Surabaya didapatkan rata-rata 2 kasus per tahun dan tercatat 10 kasus
pada tahun 1987-1989 (Askandar, 1991). Angka kematian akromegali adalah dua
kali lipat bila dibandingan dengan populasi normal. Acromegaly adalah penyakit

langka, dengan perkiraan prevalensi sekitar 69 kasus per juta penduduk (European
Journal of Endocrinology ,2004). Penyakit ini jarang sekali. Insiden pasien baru
adalah 3-4/1 juta penduduk/tahun. Usia rata-rata pada saat ditegakkannya
diagnosis akromegali adalah 40-45 tahun. Dapat timbul gejala-gejala akibat
gigantisme dan akromegali antara lain pusing 87%, gangguan visus 62%, papil
edema 3%, Rhinorrhoe 15%, Apoplexihipofise 3% dan apabila manifestasi klinis
ini tidak mendapat penanganan yang tepat akan menimbulkan rasa yang tidak
nyaman bagi penderita gigantisme dan akromegali.
Apabila manifestasi klinis dari kelainan ini tidak segera ditangani dengan
perawatan yang tepat, maka akan menyebabkan timbulnya kematian di usia muda.
Hal ini sangat penting terutama bagi perawat sebagai tenaga kesehatan yang
berada 24 jam bersama pasien gigantisme dan akromegali.
Karena sangat berbahayanya kelainan ini dan pentingnya untuk mengetahui
pentingnya pengetahuan mengenai gigantisme dan akromegali oleh perawat, maka
kami menyusun sebuah makalah yang merangkum mengenai kelainan sistem
endokrin tersebut. Diharapkan dengan adanya makalah ini dapat menjadi sumber
informasi mengenai gigantisme dan akromegali, serta bermanfaat bagi ilmu
pengetahuan

Gambar 1.1 Darah

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi gangguan sistem endokrin, kelenjar hipofisis
(gigantisme dan akromegali).
2. Untuk mengetahui etiologi gangguan sistem endokrin, kelenjar hipofisis
(gigantisme dan akromegali).
3. Untuk mengetahui manifestasi klinis gangguan sistem endokrin, kelenjar
hipofisis (gigantisme dan akromegali).
4. Untuk mengetahui mekanisme gangguan sistem endokrin, kelenjar
hipofisis (gigantisme dan akromegali).
5. Untuk mengetahui penatalaksanaan gangguan sistem endokrin, kelenjar
hipofisis (gigantisme dan akromegali).
6. Untuk mengetahui WOC gangguan sistem endokrin, kelenjar hipofisis
(gigantisme dan akromegali).
7. Untuk mengetahui asuhan keperawatan gangguan sistem endokrin,
kelenjar hipofisis (gigantisme dan akromegali).

1.3 Rumusan Masalah


1.
2.
3.
4.
5.

Apa pengertian eritrosit?


Bagaimana cara pengambilan darah kapiler yang tepat ?
Bagaimana cara menghitung jumlah sel eritrosit ?
Mengetahui jumlah normal sel eritrosit !
Penyakit akibat kekurangan atau kelebihan jumlah sel eritrosit !

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Hormon Pertumbuhan (GH) juga disebut sebagai hormone somatotropik atau
somatotropin. Terdiri atas 191 molekul asam amino. Hormone ini menyebabkan
pertumbuhan seluruh jaringan tubh yang memang mampu untuk bertumbuh.
Hormon Pertumbuhan (GH) menambah ukuran sel dan meningkatkan proses
mitosis yang diikuti dengan bertambahnya jumlah sel dan diferensiasi khusus dari
beberapa tipe sel seperti sel-sel pertumbuhan tulang dan sel-sel otot awal.

Efek metabolic Hormon Pertumbuhan (GH)


1. Peningkatan kecepatan sintesis protein di seluruh sel tubuh (penyimpanan
protein meningkat)
Proses yang terjadi antara lain:
1. Bertambahnya peningkatan asam amino yang melewati membrane sel
sehingga sintesis protein meningkat.
2. Hormon Pertumbuhan (GH) meningkatkan translasi RNA pada ribosom
sehingga sintesis protein meningkat
3. Hormon Pertumbuhan (GH) meningkatkan transkripsi DNA dan bila
terdapat cukup vitamin, energy maka pertumbuhan akan cepat berlangsung
juga
4. Hormon Pertumbuhan (GH) menurunkan pemecahan protein sel, sehingga
akan tertimbun banyak sekali protein
Keempat proses ini sangat berpengaruh dan tampak terutama pada pertumbuhan
struktur rangka. Jumlah protein yang banyak pada sel tulang menyebabkan
Pertumbuhan pada tulang, meningkatkan reproduksi pada sel-sel tulang tersebut
dan menyebabkan timbunan khusus tulang yang baru. Hormon Pertumbuhan (GH)
merangsang osteoblas pada tulang sehingga dapat terus membesar sepanjang usia
terutama pada tulang membranosa. Dan menyebabkan ketebalan tulang semakin
meningkat.
Meningkatkan mobilisasi asam lemak dari jaringan adipose, meningkatkan asam
lemak bebas dalam darah, meningkatkan penggunaan asam lemak untuk energy
(penggunaan cadangan lemak )
Hormon Pertumbuhan (GH) menyebabkan asam lemak membentuk Asetil Ko-A
yang menghambat timbulnya proses pemecahan glukosa (glukolitik) sehingga
glukosa ketika masuk dalam sel akan tertimbun dan menyebabkan kadar glukosa
yang tinggi yakni diabetes hipofisis. Diabetes ini adalah diabetes yang tidak

peka terhadap insulin, sehingga dibutuhkan insulin yang amat banyak untuk
menurunkan sedikit kadar gula darah saja.
Insulin dihasilkan dari sel beta di plau-pulau langerhans pancreas. Karena sekresi
yang berlebihan menyebabkan sel beta burn out dan mengalami kematian sel.
Hal ini memperparah gejala diabet timbul diabetes mellitus.
Menurunkan kecepatan pemakaian glukosa di seluruh tubuh (menghemat
karbondioksida)
Gigantisme adalah kondisi seseorang yang kelebihan pertumbuhan, dengan tinggi
dan besar yang diatas normal. Gigantisme disebabkan oleh kelebihan
jumlah hormon pertumbuhan. Tidak terdapat definisi tinggi yang merujukan orang
sebagai "raksasa." tinggi dewasa.
Gigantisme adalah kondisi seseorang yang kelebihan pertumbuhan, dengan tinggi
dan besar diatas normal yang disebabkan oleh sekresi Growth Hormone (GH)
berlebihan dan terjadi sebelum dewasa atau sebelum proses penutupan epifisis.
(Corwin, 2007)

Akromegali adalah suatu penyakit poliferasi jaringan penyambung, dijumpai pada


individu dewasa dengan kelebihan GH. Akromegali adalah pertumbuhan atau
penebalan tulang-tulang dan jaringan lunak akibat dari hipersekresi GH yang
terjadi

setelah

pertumbuhan

somatic

selesai.

Penderita

akromegali

memperlihatkan pembesaran tangan dan kaki. Karena pertumbuhan tulang


panjang berhenti pada individu dewasa, kelebihan GH tidak dapat menyebabkan
pertumbuhan skelet. Akromegali berkaitan dengan pertumbuhan kartilago tangan,
kaki, hidung, rahang, dagu, dan tulang wajah. Poliferasi jaringan penyambung di
organ internal, termasuk jantung, juga terjadi. (Corwin,2007)

Gambar 2.1 Sel Darah Merah

2.2 Etiologi
Penyebab dari gigantisme dan akromegali dibagi menjadi:
1.

GA (Gigantisme-Akromegali) Primer = GA Hipofisik (sebab: adenoma


hipofisi)

2.

GA (Gigantisme-Akromegali) Sekunder = GA Hipotalamik (karena


hipersekresi GRH dari hipotalamus)

3.

GA (Gigantisme-Akromegali) Tersier = meskipun sangat jarang <1 %,GA


tipe ini dapat disebabkan oleh karena tumor-tumor etopik(tumor paru,
pankreas, dan lain-lain yang mengsekresi hormon yang mirip dengan
GHRH.

4.

GA (Gigantisme-Akromegali) Variasi

Tumor hipofisi dapat dibagi dalam 3 golongan:


2.1.Tumor Kromofob (80 %) merupakan adenoma hipofisi yang paling sering.
Adenoma ini dapat sangat besar sehingga menekan chiasma opticus,
hipotalamus dan saraf yang memelihara otot ekstra okular.
2.2.Tumor Asidofil (15 %) tumbuh lambat dan biasanya berkapsul.
2.3.Tumor Basofil (5 %). Biasanya kecil ukurannya dan tidak sampai
menyebabkan gejala lokal.

2. 3 Manifestasi Klinis
Berikut adalah bagan manifestasi klinis dari gigantisme dan akromegali.
Akromegali
Fitur wajah yang kasar
Pertumbuhan tangan dan kaki yang berlebihan
Jari-jari tangan dan kaki menebal
Lidah menebal
Mandibula tumbuh berlebih
Gigi menjadi terpisah-pisah
Penurunan libido
Penurunan ketajaman penglihatan
Perubahan pada bentuk wajah
Jaringan lunak menebal (limpa, jantung, hepar,

Gigantisme
Bertubuh tinggi
Pertumbuhan tangan dan kaki yang berlebih
Jari-jari tangan dan kaki menebal
Lidah menebal
-

lidah)
Suara terdengar dalam dan bergaung
Terjadi pada dewasa (cartilago epifise sudah

Terjadi pada bayi-usia pubertas (cartilago

tertutup)
Perbesaran terjadi hanya beberapa organ saja

epifise belum menutup)


Perbesaran terjadi diseluruh tubuh

2.4 Mekanisme
Mekanisme gigantisme dan akromegali menurut Guyton, 2002 :
Gigantisme
Kadang-kadang sel-sel penghasil hormon pertumbuhan hipofisis anterior menjadi
aktif berlebihan, dan kadang-kadang terdapat tumor sel hormon pertmbuhan sel
asidofilik pada kelenjar ini. Sebagai akibatnya, dihasilkan hormon pertumbuhan
dalam jumlah besar. Semua jaringan tubuh tumbuh cepat, termasuk tulang dan
bila epifisis tulang panjang belum bersatu dengan batang tulang, tinggi badan
bertambah sehingga orang tersebut menjadi seperti raksasa dengan tinggi sebesar
8-9 kaki. Jadi, gigantisme akan terjadi jika tumor timbul sebelum pubertas.
Sayangnya sebagian besar gigantisme akhirnya menderita hipopituitarisme bila
mereka tetap tidak di obati karena tumor kelenjar hipofisis tumbuh sampai sel
kelenjar itu sendiri rusak. Defisiensi umum hormon hipofisis ini bila tak d obati
biasanya menyebabkan kematian pada permulaan masa dewasa. Tetapi sekali

gigantisme didiagnosis, biasanya perkembangan selanjutnya dapat dihambat


dengan pembuangan tumor dari kelenjar hipofisis dengan bedah mikro atau
radiasi kelenjar.
Akromegali
Bila tumor sel hormon pertumbuhan terjadi setelah pubertas yaitu setelah epifisis
tulang panjang bersatu dengan batang tulang, orang tidak dapat tumbuh lebih
tinggi lagi, tetapi jaringan lunakkya dapat terus tumbuh, dan tulang dapat tumbuh
menebal. Keadaan ini di kenal dengan akromegali. Pembesaran khususnya nyata
pada tulang tulang kecil tangan dan kaki serta pada tulang tulang memnbranosa,
rahang bawah dan bagian bagian vertebra, karena pertumbuhannya tidak berhenti
pada pubertas. Akibatnya rahang menonjol ke depan, kadang kadang sebesar 0,5
inci, dahi miring ke depan karena pertumbuhan samping supraorbital yang
berlebihan, hidung bertambah besar sampai mencapai 2 kali ukuran normal, kaki
memerlukan sepatu ukuran lebih besar dari pada keadaan normal. Dan jari jari
menjadi sangat tebal sehingga ukuran tangan hampir 2 kali normal. Selain efek
efek ini perubahan pada vertebra, biasanya menyebabkan punggung bungkuk.
Akhirnya, banyak organ jaringan lunak seperti lidah, hati, dan khususnya ginjal
menjadi sangat besar.

2.5 Penatalaksanaan
1. Gigantisme
Tujuan pengobatan adalah:
- Menormalkan tubuh kembali kadar GH atau IGF1/SM-C
- Memperkecil tumor atau menstabilkan besarnya tumor
- Menormalkan fungsi hipofisis
- Mencegah komplikasi akibat kelebihan kadar GH/IFG1 atau SM-C
akibat pembesaran tumor.
Dalam hal ini dikenal 3 macam terapi, yaitu:
Terapi pembedahan adalah cara pengobatan utama. Dikenal 2 macam pembedahan
tergantung dari besarnya tumor yaitu bedah makro dengan melakukan

10

pembedahan pada batok kepala (TC atau Trans Cranial) dan bedah mikro (TESH/
Tans Ethmoid Sphenoid Hypophysectomy). Cara terakhir TESH ini dilakukan
dengan cara pembedahan melalui sudut antara celah intra orbita dan jembatan
hidung antara kedua mata untuk mencapai tumor hipofisis.
Indikasi radiasi adalah sebagai terapi pilihan secara tunggal, kalau tindakan
operasi tidak memungkinkan dan menyertai tindakan pembedahan atau masih
terdapat gejala aktif setelah terapi pembedahan dilakukan.
Tindakan radiasi dapat dilaksanakan dalam 2 cara, yaitu:
1. Radiasi secara konversional (Conventinal High Voltage Radiation, 45 69
4500 RAD)
2. Radiasi dengan energy tinggi partikel berat (High Energy Particles
Radiation, 150 69 15000 RAD)
Terapi medikamentosa
Pada orang normal dopamine dapat meningkatkan kadar HP tetapi tidak demikian
halnya pada pasien akromegali. Pada akromegali dopamine menurunkan kadar
HP dalam darah.
Contoh dopamine:
a) Brokriptin
b) Dianjurkan memberikan dosis 2,5 mg sesudah makan malam, dan dinaikkan
secara berkala 2,5 mg setiap 2-4 hari. Perbaikan klinis yang dicapai antara
lain adalah:
- Ukuran tangan dan jari mengcil,
- Terjadi perbaikan gangguan toleransi glukosa
Efek samping yang terjadi adalah vaso spasme digital, hipotensi ortostatik,
sesak nafas ringan, nausea, konstipasi, dll.
c) Ocreotide (long acting somatostatin analogue)
Cara pemberian melalui subkutan. Dosis: dosis rata-rata adalah 100-200
mikrogram diberikan setiap 8 jam. Perbaikan klinis yang dicapai.
a) Menurunkan kadar HP menjadi dibawah 5 mikrogram/ 1 pada 50 kasus

11

b) Menormalkan kadar IGF1/ SM-C pada 50% kasus


c) Penyusunan tumor
Efek samping: ringan dan mempunyai sifat sementara yaitu nyeri local/di
daerah suntikan dan kram perut.

2. Akromegali
Terapi kelebihan GH biasanya adalah eksisi tumor penyekresi GH pembedahan.
Terapi yang paling tepat untuk kelebihan hormon pertumbuhan tak lain adalah
pengangkatan tumor pada hipofisis sedini mungkin untuk mencegah efek negative
darinya. Ada dua macam pembedahan tergantung daribesarnya tumor:
Bedah makro: pembedahan batok kepala (TC atautrans kranial)
Bedah mikro: pembedahan melalui sudut celahinfraorbital dan jembatan hidung
antara kedua mata (TESH: Trans Et hmoid sphenoid hy popy sectomy).
Sasaran

pengobatan

akromegali

adalah

mengendalikan

pertumbuhan/menormalkan sekresi GH dan mengangkat massa tumor. Sasaran


biokimiawi: IGF-1 normal dan kadar GH < 1 ng/ml setelah beban glukosa. 3
macam pengobatan akromegali yaitu pengobatan medis, bedah dan radiasi.

a. Pengobatan Medis
Pengobatan medis/farmakologis sangat pesat akhir-akhir ini. Tujuan pengobatan
medis adalah menghilangkan keluhan/gejala efek lokal dari tumor dan/atau
kelebihan GH/IGF-1. Untuk itu sasaran pengobatan adalah kadar GH < 2 ng/ml
pada pemeriksaan setelah pebebanan dengan glukosa (< 1 mcg / l dengan cara
IRMA), disamping tercapainya kadar IGF-1 normal. Pengobatan medis utama
adalah dengan analog somatostatin dan analog dopamin. Oleh karena
somatostatin, penghambat sekresi GH, mempunyai waktu paruh pendek maka
yang digunakan adalah analog kerja panjang yang dapat diberikan 1 kali sebulan.

12

Yang

banyak digunakan adalah octreotide yang bekerja pada reseptor

somatostatin sub tipe II dan V dan menghambat sekresi GH. Pengobatan dengan
octreotide dapat menurunkan kadar GH sampai < 5 ng/ml pada 50% pasien dan
menormalkan kadar IGF-1 pada 60% pasien akromegali. Lanreotide, suatu analog
somatostatin sustained-release yang dapat diberikan satu kali dua minggu
ternyata efektif dan aman untuk pengobatan akromegali.Bromokriptin merupakan
suatu antagonist dopamin yang banyak digunakan dalam menekan kadar GH
/IGF-mbalikan kadar hormone ke normal,memulihkan fertilitas,dan memperkecil
tumor. Somatostatin (Sandostatin) juga berhasil memperbaiki akromegali karena
bisa menekan pengeluaran hormone pertumbuhan.Obat ini diberikan subkutan 3-4
kali sehari.

b. Pembedahan
Untuk adenoma hipofisis, pembedahan transsphenoid merupakan pilihan dan
dapat menyembuhkan. Laws dkk. (2000) Laws dkk. (2000) melaporkan hasil
terapi pembedahan transsphenoid pada 86 pasien akromegali : IGF-1 mencapai
normal pada 67%, kadar GH dapat disupresi sampai < 1 ng/ml oleh beban glukosa
pada 52%. Walaupun pembedahan tidak dapat menyembuhkan pada sejumlah
pasien, namun terapi perbedahan disepakati sebagai terapi lini pertama. Pada
pasien-pasien dengan gejala sisa setelah pembedahan dapat diberikan pengobatan
penunjang (medis dan radiasi). Hipofisektomi transsfenoid akan segera
menghilangkan keluhan-keluhan akibat efek lokal massa tumor sekaligus
menekan/ menormalkan kadar GH/IGF-1. Remisi tergantung pada besarnya
tumor, kadar GH dan keterampilan ahli bedahnya. Angka remisi mencapai 80
85% pada mikroadenoma dan 5065% pada makroadenomia. Pembedahan
hipofisis transsphenoid berhasil pada 80 90% pasien dengan tumor < 2 cm dan
kadar GH < 50 ng/ml.

c. Radiasi

13

Untuk tercapainya hasil yang diharapkan dengan terapi radiasi diperlukan waktu
bertahun-tahun. Terapi radiasi konvensional saja menghasilkan remisi sekitar 40%
setelah 2 tahun dan 75% setelah 5 tahun terapi, namun disertai efek negatif berupa
panhipopituitarisme.Di samping itu studi Ariel dkk (1997) pada 140 pasien
akromegali mendapatkan terapi radiasi tidak dapat menormalkan kadar IGF-1
walaupun kadar GH sudah dapat dikontrol. Oleh karena kekurangannya tersebut,
terapi radiasi hanya diberikan sebagai terapi penunjang untuk tumor besar dan
invasif dan apabila terdapat kontraindikasi operasi.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Gigantisme
Anak y pertumbuhannya normal sampai usia 8 tahun, sejak saaat itu dia tumbuh
besar sampai usia 16 tahun. Tingginuya mencapai 2,28 m dan beratnya mencapai
163 kg. Pemeriksaan optalmologi mengungkapkan ketajaman visualnya normal
namun tingkat gula darah yang diperiksa sedikit lebih tinggi yaitu 117 mg/dl.
Pengkajian
Identitas pasien:
Nama pasien
:Y
Umur
: 16 th
Diagnosa medis
: Gigantisme
Agama
: Islam
Alamat
: Nanggungan, Baron, Nganjuk
Tgl pengkajian
: 22 september 2011
Keluhan utama : tubuh semakin tinggi melebihi batas normal
Riwayat kesehatan masa lalu : adenoma hipofisis yang tidak terlalu parah
Riwayat tumor pada keluarga : Riwayat pengobatan : Riwayat pembedahan : -

14

Riwayat alergi : -

Pemeriksaan Fisik
Tanda-tanda Vital, meliputi :
1) Tekanan Darah : 120/80 mmHg
2) Denyut nadi : 100x / menit
3) Suhu tubuh : 370 C (normal)
4) RR : 20 x / menit
Pemeriksaan Persistem
1) B1 : Breathing
Sistem Pernapasan : costae terus memanjang karena proioferasi apda
sambungan tulang dan tulang rawan.bila berlangsung lama akan timbul
barrel chest (pigeon chest yang dalam.
2) B2 : Blood
Sistem Kardiovaskular : 3) B3 : Brain
Sistem Persyarafan : 4) Sistem Perkemihan : 5) Sistem Pencernaan : 6)
Sistem Integumen dan Muskuloskeletal : terjadi penebalan,tulang
semakin tumbuh tinggi.
Data Penunjang
Pemeriksaan Lab : (IGF 1)
1. Pemeriksaan glukosaa darah
Gigantisme (+) : glukosa darah meningkat
2. Pemeriksaan GH darah atau SM-C (IGF 1)
Gigantisme (+) : peningkatan GH darah atau SM-C (IGF 1)
3. Pemeriksaan somatostatin
Gigantisme (+) : somatostatoin meningkat
4. Pemeriksaan radiologi
a) CT-scan
b) MRI

15

Roentgenogram tengkorak dapat menunjukkan pembesaran sella


tursika dan sinus paranasalis; sken tomografi komputasi atau foto
resonansi nmagnetik (MRI) menampakkan tumor. Ikatan falangs
dan bertambahnya penebalan bantal tumit adalah biasa. Maturasi
tulang adalah normal.

16

Analisis Data
No
1

Data
S : tidak nafu makan
O : lidah membesar,
gigi terpisah pisah

Etiologi
Gigantisme

Lidah membesar

Penurunan nafsu
makan

Resiko tinggi nutrisi


kurang dari kebutuhan

Masalah
Resiko tinggi nutrisi
kurang dari kebutuhan

S : Pasien merasa
malu dengan orang
lain.
O : Pasien cenderung
diam, tidak banyak
bicara dan kurang
bersosialisasi dengan
sekitar.

Gigantisme

Tumbuh tinggi dan


besar melebihi normal

Merasa malu

Gangguan citra tubuh

Gangguan citra tubuh.

S : pasien merasa
diacuhkan keluarga
O : keluarga acuh tak
acuh

Gigantisme

Pertumbuhan dan
perkembangan
menjadi abnormal

Keluarga Merasa malu

Perubahan proses
keluarga

Perubahan proses
keluarga

Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan body image b.d perubahan struktur tubuh
2. Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d
peningkatan metabolisme, lidah membesar, mandibula tumbuh berlebih,
gigi menjadi terpisah-pisah.
3. Perubahan proses keluarga b.d keluarga dengan gegantisme

17

Intervensi
Gangguan bodi image b.d perubahan struktur tubuh.
Tujuan: Tidak terjadi penurunan bodi image pada klien
Kriteria Hasil:
-

Klien dapat menerima perubahan diri


Klien mau bersosialisasi dengan lingkungan

Intervensi dan rasional:


Pertahankan lingkungan yang kondusif
-

untuk membicarakan perubahan citra tubuh


Diskusikan perasaan yang berhubungan dengan perubahan yang dialami

oleh klien
mengetahui perasaan yang dirasakan klien
Kaji klien dengan mengidentifikasi dan mengembangkan mekanisme

koping
untuk mengatasi perubahan fisik
Berikan dorongan untuk mengungkapkan perasaan yang berhubungan

dengan perubahan fisik


agar klien lebih terbuka
Bantu klien dalam mengembangkan mekanisme koping untuk mengatasi

perubahan fisik
harga diri klien tidak rendah
Bantu klien dalam mengembangkan rencana
untuk menyelaraskan semua perubahan ke dalam gaya hidup
Berikan penekanan perilaku yang memperlihatkan penerimam terhadap
perubahan

dapat menerima perubahan diri yang terjadi


Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d
peningkatan metabolisme, lidah membesar, mandibula tumbuh berlebih, gigi
menjadi terpisah-pisah.

18

Tujuan: Nutrisi klien adekuat


Kriteria Hasil:
-

Klien tidak mengalami penurunan berat badan yang berarti


Nafsu makan klien meningkat
Intervensi dan rasional:

Beri makan sedikit tapi sering (termasuk cairan)


-

nutrisi klien dapat terpenuhi


Masukkan makanan kesukaan dalam diet
meningkatkan nafsu makan klien
Anjurkan untuk makan sendiri, bila mungkin (kelemahan otot dapat
membuat keterbatasan)
melatih klien untuk memenuhi kebutuhannya sendiri
Memilih makanan dari daftar menu
meningkatkan nafsu makan dan memenuhi kebutuhan nutrisi klien
Atur makanan secara menarik diatas nampan
agar klien tertarik, sehingga nafsu makan meningkat
Atur jadwal pemberian makanan
mengatur diet kliien
Berikan makanan yang bergizi tinggi dan berkualitas
memenuhi kebutuhan nutrisi klien
Perubahan proses keluarga b.d keluarga dengan gegantisme.

Tujuan:
Mempersiapkan keluarga untuk dapat merawat anggota dengan gegantisme
Keluarga dapat beradaptasi dengan penyakitnya
Kriteria Hasil:
Keluarga dapat mengatasi masalah yang timbul dari adanya tanda dan gejala yang
muncul dan memberikan atau menyediakan lingkungan yang sesuai dengan
kondisi klien.

Intervensi dan rasional: Berikan dukungan emosional pada


keluarga dan klien

19

keluarga dapat menerima klien: Anjurkan orang tua untuk

mengekspresikan perasaannya
keluarga dapat beradaptasi dengan penyakit klien: Anjurkan klien
untuk berbagi rasa tidak berdaya, malu, ketakutan yang berkaitan

dengan manifestasi penyakit


untuk mengatasi masalah yang timbul: Bertindak sebagai pembela
dan penghubung klien dan keluarga dengan anggota tim perawatan

kesehatan lainnya
mempersiapkan keluarga untuk merawat klien: Anjurkan klien

untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar


memotifasi klien: Dorong keterlibatan klien dalam aktivitas

rekreasi dan aktivitas pengalih yang sesuai dengan usia


meningkatkan rasa percaya diri klien

20

3.2 Akromegali
Bapak A mengalami sakit kepala frontal sejak usia 28 tahun, kemudian mengalami
gangguan penglihatan pada usia 31 tahun. Lama- kelamaan iQ menjadi rendah
dan tidak memiliki libido pada usia 41 tahun. Dan diketahui pada usia 46 tahun
diketahui tinggi bapak A mencapai 23 m dengan berat badan 129 kg.

Pengkajian
Data Subjektif:
1. Perubahan sensori terutama penglihatan
2. Sakit kepala bagian frontal dan temporal, nyeri pada sendi (atralgia), dan
nyeri punggung
3. Riwayat perubahan pada wajah, tangan, dan kaki ; banyak keringat dan
kulit tampak berlemak
4. Merasa cepat lelah, letargik, dan malas bergerak
5. Perubahan pada tingkah laku, misalnya cepat marah, cemas, dan khawatir
tentang citra diri
6. Perubahan menstruasi pada wanita dan perubahan libido; impotensi dan
infertilitas pada pria
7. Riwayat obat: kontrasepsi oral dan obat psikotropik
Anamnesis:
1) Penampilan wajah berubah
2) Tangan/kaki membesar
3) Nyeri kepala
4) Berkeringat

Pemeriksaan Fisik

21

Dahi menonjol
Hidung lebar dan membesar
Lidah membesar
Rahang menonjol
Suara dalam
Tangan besar
Cek rambut badan yang kasar dan ginekomastia.

Pemeriksaan Penunjang
1) Pengukuran kadar GH melalui radio immunoassay; kadarnya hanya
meningkat pada penyakit aktif dan tidak ditekan oleh glukosa pada tes
toleransi glukosa standar. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejalagejalanya dan diperkuat oleh tingginya kadar hormon pertumbuhan atau
IGF-I (insulin-like growth factor I) dalam darah. Jika hasil pemeriksaan
darah berada di daerah perbatasan, maka kepada penderita diberikan
sejumlah gula untuk melihat apakah kadar hormon pertumbuhannya turun.
Pada bukan penderita akromegali, kadar hormon pertumbuhan akan turun
setelah pemberian sejumlah gula. Pada penderita akromegali, kadar gula
darah dan hormon pertumbuhan tetap tinggi.
2) Perimetri untuk mencari defek lapang pandang visual bitemporal (50%).
3) Rontgen tengkorak untuk melihat pembesaran sella, erosi prosesus klinoid,
alur supraorbita, dan rahang bawah. Lantai fosa hipofisis biasanya tampak
mengalami erosi atau menjadiganda pada tomogram tampak lateral Rontgen
tulang tengkorak bisa menunjukkan penebalan tulang, pembesaran sinus
hidung dan pembesaran atau pengikisan sella tursika (struktur bertulang
yang mengelilingi hipofisa).
4) CT scan atau MRI untuk melihat ekstensi suprasellar.
5) Rontgen tangan untuk mencari bentuk lempeng pada falang dista dan
peningkatan jarak rongga antara sendi hipertrofi kartilago. Bantalan tumit
biasanya menebal.
6) Kadar glukosa serum meningkat.
7) Rontgen dada dan EKG bisa menunjukkan hipertrofi ventrikel kiri akibat
hipertensi.

Analisa Data
No

Data

Etiologi

Masalah

22

S : pasien mengeluh
nyeri
O:-

akromegali

Deformitas tulang
belakang

nyeri

Nyeri

S : Pasien merasa
malu dengan orang
lain.
O : Pasien cenderung
diam, tidak banyak
bicara dan kurang
bersosialisasi dengan
sekitar.

akromegali

Tumbuh menebal
melebihi normal

Merasa malu

Gangguan citra tubuh

Gangguan citra tubuh.

S:O : kurang informasi

Akromegali

Kurangnya informasi
mengenai kelainan
tersebut

Kurang
pengetahuan

Kurangnya
pengetahuan

Diagnosa
1. Nyeri (sakit kepala) yang berhubungan dengan tekanan intrakranial tumor
2. Gangguan citra diri b.d perubahan pada struktur tubuh, kebutaan, disfungsi
seksual, masalah mobilitas, dan masalah kemandirian
3. Defisit pengetahuan tentang gangguan hormonal, pengobatan, dan
komplikasi pengobatan b.d kurang informasi yang tepat.

Intervensi
Nyeri (sakit kepala) yang berhubungan dengan tekanan intrakranial tumor

23

Tujuan: Nyeri berkurang sampai dengan hilang 3 X 24 jam

Kriteria Hasil:
-

Nyeri berkurang skala (01)


Ekspresi menyeringai (-)
Nadi : 60100 x/menit

Intervensi dan rasional:


-

Pantau rasa nyeri setiap 4 jam. Pakai skala untuk menilai rasa nyeri. Minta
pasien memberi tahu secara spesifik rasa nyeri dan menunjuk lokasi rasa nyeri.
Nyeri tidak selalu ada tetapi bila ada harus dibandingkan dengan gejala
nyeri pasien
Tentukan waktu rasa nyeri itu timbul dan beri obat analgesik yang telah
dipesan oleh dokter sebelum rasa nyeri memuncak. Kaji efek analgesik.
menghindari puncak periode nyeri/ coping emosi
Bantu pasien memakai tindakan non farmakologis untuk mengatasi rasa nyeri,
misalnya mengubah posisi dengan kepala ditinggikan, masase, mendengar lagu
yang bisa menyenangkan, distraksi, kompres hangat atau dingin.
mengalihkan perhatian pasien terhadap rasa nyeri yang sedang
dirasakan.
Lakukan tindakan yang bisa membantu pasien istirahat dan tidur.
untuk meminimalis mobilisasi pasien biar nyeri berkurang.
Gangguan citra diri b.d perubahan pada struktur tubuh, kebutaan, disfungsi
seksual, masalah mobilitas, dan masalah kemandirian

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Akromegali dan gigantisme terjadi akibat hipersekresi persisten dari GH,
yang merangsang sekresi IGF-1 oleh hati dan akhirnya menyebabkan manifestasi
klinis. Akromegali terjadi apabila peningkatan GH terjadi setelah dewasa
sedangkan pada anak-anak/remaja akan muncul sebagai gigantisme.Penyebab
terbanyak (95%) dari akromegali/gigantisme adalah adenoma hipofisis yang

24

mensekresi GH ; jarang sekali disebabkan oleh GH/GHRH ektopik. Gambaran


klinik ditentukan oleh tingginya GH/IGF-1 dan efek massa tumor. Konsekuensi
akromegal dan

gigantisme meningkatkan angka morbiditas dan motalitas,

terutama oleh komplikasi cardioserobrovaskuler dan pernafasan. Pengobatan


akromegali dan gigantisme lebih kompleks. Iradiasi hipofisis, pembedahan
kelenjar hipofisis untuk mengangkat tumor hipofisis, atau kombinasi keduanya,
dapat mengakibatkan penurunan atau perbaikan penyakit. Pengobatan medis
dengan menggunakan ocreotide, suatu analog somatostatin, juga tersedia.
Ocreotide dapat menurunkan supresi kadar GH dan IGF-1, mengecilkan ukuran
tumor, dan memperbaiki gambaran klinis.Terapi yang paling tepat untuk
kelebihan hormone pertumbuhan tak lain adalah pengangkatan tumor pada
hipofisis sedini mungkin untuk mencegah efek negative darinya.
Untuk itu kita sebagai seorang perawat, kita perlu mengetahui dan
memahami tanda dan gejala berbagai penyakit khususnya akromegali dan
gigantisme agar kita dapat melaksanakan asuhan keperawatan yang profesional.
Eritrosit merupakan bagian utama dari sel-sel darah. Setiap mm kubiknya
darah pada seorang laki-laki dewasa mengandung kira-kira 5 juta sel darah merah
dan pada seorang perempuan dewasa kira-kira 4 juta sel darah merah.
Pengenceran darah yang lazim dipakai untuk menghitung eritrosit ialah 20x
tetapi menurut keadaan (leukositas tinggi atau leucopenia) pengenceran itu dapat
diubah sesuai dengan keadaan itu.Pengaenceran dilakukan lebih tinggi pada
leukositas dan lebih rendah pada leocopenia. Jadi jumlah eritrosit dari pasien atas
nama syahriani adalah 4.670.000/mm3

4.2 Kritik dan Saran


Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih belum sempurna,
untuk itu kami mengharapkan kepada pembaca untuk memberikan kritik dan
saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini

25

DAFTAR PUSTAKA

Guyton, Artur C.2002.Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit.Jakarta: EGC.


Tjokroprawiro, Askandar, dkk .1991. Simposium Nasional Perkembangan
Mutakhir Endokrinologi Metabolisme. Surabaya: PT. Organon Indonesia.
Greenspan, Francis S., dkk .2000. Endokrinologi Dasar dan Klinik. Jakarta: EGC.
J. Corwin, Elizabet .2007. Buku Saku Patofisiologi Corwin ed 3. Jakarta: EGC.
European Journal of Endocrinology .2004. Epidemiology, clinical characteristics,
outcome, morbidity and mortality in acromegaly based on the Spanish
Acromegaly Registry (Registro Espan ol de Acromegalia, REA). Avalaible from:
http://www.eje-online.org/content/151/4/439.full.pdf. accessed on September 22th
2011.
Baradero, Mary, dkk .2009. Klien Gangguan Endokrin Seri Asuhan Keperawatan.
Jakarta: EGC.