Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KASUS

Frans Bobby Hamonangan Hutabarat, S.ked


61108006
Pembimbing :
dr. Agus Permadi, Sp.S

LAPORAN KASUS
I.1 IDENTITAS

Nomor rekam medik

: 097409.

Nama

: Tn. S.

Umur

: 45 tahun.

Suku/Bangsa

: Melayu.

Agama

: Islam.

Alamat

: Lancang Kuning Bintan Utara.

Pekerjaan

: Swasta.

Tanggal Masuk

: 02 08 2014 pukul 17.00 WIB.

I.2 ANAMNESIS

KELUHAN UTAMA : Anggota gerak tubuh sebelah


kiri tidak dapat digerakkan.
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien

masuk rumah sakit via UGD dengan keluhan lemas


dan tidak dapat menggerakkan anggota tubuh sebelah kiri,
adanya penurunan kesadaran, diskomunikasi, disertai
sakit kepala dan muntah.

RIWAYAT MASA TERDAHULU


Pasien

pernah mengalami hal yang serupa 3 tahun lalu


dan dirawat dirumah sakit. Pasien juga memiliki riwayat
penyakit Diabetes mellitus dan Hipertensi sejak usia muda.

I.3 PEMERIKSAAN FISIK


I.3.1 KEADAAN UMUM
Kesadaran
: Somnolen
Kesan sakit
: Tampak sakit berat
Kesan Gizi
: Baik
Tanda Vital
:
TD

Nadi

Pernapasan
Suhu

: 200/130 mmHg
: 152 x/menit
: 26 x/menit
: 37,1 oC

I.3.2 STATUS GENERALIS

Kepala :

Mata : kongjungtiva anemis (-), sclera ikterik (-), reflek pupil (+/
+), visus (+/+)
Hidung : Indra penciuman (+/+), epistkasis (-)
Mulut : reflek membuka mulut (+), reflek menjulurkan lidah (+),
reflek menelan (+)
Leher : Pembesaran Kelenjar getah bening (-)

Dada : Jantung

: bunyi jantung I dan II reguler.


Murmur (-), gallop (-)
Paru - paru : Suara Vesikuler. Ronki (-),
wheezing (-)
Abdomen
: Permukaan rata (+), supel (+), gerakan
peristaltik (+),
Ektremitas
: akral hangat (+/+), motorik (+/-), CRT
< 3 detik

I.3.2 STATUS NEUROLOGIS


Kesadaran : GCS : E3V5M5
Rangsang meningeal : Nervus kranilais
N1
: Dapat berbicara tetapi dengan suara rendah
N2
: Dapat menjulurkan lidah
N III,IV,VI
: Pupil bulat isokor , reflek cahaya (+),
NV
: Tonus maseter dan Temporalis baik, mandibularis
dan maxilaris dalam batas normal
N VII
: Wajah asimetris, bibir mecong sebelah kiri (1/4) wajah
N IX,X
: Disatria, disfagia (+)
N XI
: Nyeri tekan anggota tangan bagian kiri (-), paralisis (+)
Motorik
: Posisi berbaring, gerak involunter (+)
Sensorik
: Dalam Batas Normal.

I.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG


I.4.1 laboratorium Darah
Hematologi
Hemoglobin
: 9,5 gr/dl.
Jumlah leukosit
: 16.100 /mm3.
Eritrosit
: 3,9 juta/mm3
Jumlah trombosit
: 318.000 /mm3.
Hematokrit
: 31 %.
Gula Darah Sewaktu
: 224 mg/dl

I.4.2 CT Scan Kepala


Deskripsi
Tampak lesi hiperdens (HU perdarahan) peritokal edema dibasal ganglia dan
kapsula ekterna kanan.
Tampak juga gambaran hipodens di lobus oksipital kiri.
Ventrikel III,IV da lateralis kiri baik. Tak tampak peritokal edema.
Sistem siterna baik, Thalamus dan ganglia basal normal.
Sulci dan gyri hemister cerebri kiri baik. Tak tampak pergeseran garis
tengah.
Sella dan parasella masih baik.
Intra temporal pons cerebellum dan cerebellopontine tak tampak kelainan.
Tampak kalsifikasi fisiologis pineal body.
Pneumatisasi kedua mastoid baik.
Sinus senoidalis dan frontalis masih baik.
Kesan
Perdarahan dibasal ganglia dan kapsula ekterna kanan.
Infark di lobus oksipitalis kiri.

I.5 DIAGNOSIS

Diagnosis Klinis

: Stroke Perdarahan.

Diagnosis Topis

: Sistem karotis kanan.

Diagnosis Etiologis

: Hipertensi, DM tipe 2.

Diagnosis Patologis

: Intra cerebral.

I.6 PENATALAKSANAAN
IVFD

KAEN 3B + Drip Neurosanbe 1 Ampul 20


tetes/menit
Injeksi Citicoline 2 x 500 mg
Injeksi Manitol 3 x 150 cc
Injeksi Amlodipine 1 x 5 mg
Injeksi Ranitiden 2x1
Injeksi Ceftriaxone 2x1 gram

I.7 PROGNOSIS
Ad vitam
: Dubia at bonam
Ad funcionam
: Dubia at malam
Ad Sanationam : Dubia at malam

STROKE
Stroke hemoragik disebabkan oleh perdarahan ke dalam
jaringan otak (disebut hemoragia intraserebrum atau hematom
intraserebrum) atau kedalam ruang subaraknoid, yaitu ruang sempit
antara permukaan otak dan lapisan jaringan yang menutupi otak
(disebut hemoragia subaraknoid). Ini adalah jenis stroke yang paling
mematikan dan merupakan sebagian kecil dari stroke total yaitu 1015% perdarahan intraserebrum dan sekitar 5% untuk perdarahan
subaraknoid.

FAKTOR RESIKO

MANAJEMEN ANTIHIPERTENSI
UNTUK PENCEGAHAN STROKE

Tujuan sasaran pokok adalah penurunan morbiditas dan


mortalitas dari CVD dan kerusakan ginjal (JNC 7).
Pengobatan harus bersifat individual, dengan
mempertimbangkan usia, komorbiditas dan masalah
kepatuhan berobat.

Pedoman utama dari JNC 7 adalah untuk mencapai target


TD: TDS <140 mmHg dan TDD <90 mmHg pada pasien hipertensi tanpa
komplikasi, TD: <130/80 mmHg pada pasien dengan diabetes dan
penyakit ginjal.
Pada sebagian besar pasien, pengaturan HTN sistolik, yang
merupakan faktor risiko CVD lebih penting dibanding HTN diastolik
(kecuali pada pasien usia di bawah 50 tahun) dan lebih sering muncul
pada usia tua, diperkirakan lebih sulit daripada pengaturan HTN
diastolik. Uji klinis terbaru menunjukkan bahwa pengaturan TD
efektif dapat dicapai pada sebagian besar pasien HTN, tapi pada
umumnya membutuhkan 2 atau lebih obat anti-HTN.

ALGORITMA MENURUT JNC7

KEPUTUSAN DALAM MENGOBATI


HIPERTENSI
1. Pada pasien dengan TDS menetap 160 mmHg atau TDD menetap
100 mmHg
2. Pada pasien dengan TDS menetap antara 140-159 mmHg, dan/atau
TDD antara 90-99 mmHg dengan penyakit kardiovaskuler yang telah
diketahui (CVD), diabetes, kerusakan organ target (seperti kerusakan
ginjal)
3. Pasien dengan TDS terisolasi atau usia > 80 tahun tidak harus
diterapi secara berbeda
4. Selalu memperhatikan komorbiditas dan obat-obatan lain (yang
diresepkan atau yang lain)
5. Target pengobatan TD tentukan dosis obat untuk target berikut,
awasi penambahan jenis obat bila diperlukan, hingga pengobatan
lebih lanjut ternyata tidak tepat lagi atau berkurang efeknya
TD 140/85 (National Institute for Health and Clinical
Excellence NICE
menyatakan 140/90) mmHg
TD 130/80 pada pasien dengan CVD yang jelas, gagal ginjal
kronik atau
diabetes diupayakan untuk kontrol gula darah
optimal HbA1C < 7 (NICE
menyatakan 130/75 mmHg)

ALGORITMA PEMILIHAN
FARMAKOLOGIK

BEBERAPA GOLONGAN OBAT


YANG BISA DIGUNAKAN

PENCEGAHAN STROKE
BERULANG
Perindopril Protection against Recurrent Stroke Study (PROGRESS)

Penurunan TDS/TDD sebesar 12/5 mmHg mengurangi risiko stroke


berulang sebesar 43%.

Kombinasi terapi ACEI (perindopril) dengan diuretik mirip thiazide


(indapamid)untukpenurunan semua jenis stroke

The National Stroke Association Work Group on Recurrent Stroke Prevention


telah menyimpulkan bahwa diuretik, -blocker, ACEI, ARB atau diuretik yang
ditambahkan pada ACEI atau ARB adalah obat yang diperkirakan cocok dalam
terapi awal manajemen TD untuk pencegahan stroke berulang. TD yang
direkomendasikan kurang dari 130/80 mmHg setelah 1 tahun.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Benavento O, Hart RG. Stroke : Part II management of acute Ischemic stroke J. American Family Physician
May 1999. Vol 59/No. 20 : 2828-2836

2.

Ezekowitz J, Straus S, Mayundon S. Stroke : Strategies for primary prevention. J.Am. for Physician. 2003;
68:2379-86

3.

Goldstein A, Albert MJ, Bushwell CD et al. : Primary prevention of ischemic stroke. A guideline from the
American Heart Association/American Stroke Association Stroke Council. Stroke 2006, 37:1583-1633

4.

Jauch E, Kissela B, Stettler BA. Acute stroke management. E medicine continuing education. Last update
Oct 2005. http://www.emedicine.com/neuro/topic.9htm.download 20-07-2007

5.

Khan J,. Ur. Rahman A. Alishah A. et al. Frequentcy of hypertension in stroke petients presenting at Ayul
Teaching Hospital. J. Ayub Med Coll Abbottabad 2006 : 18 (1)

6.

Lawes CMM, Bennett DA, Feigin VL et al. Blood Pressure and stroke. An overview of published reviews.
Stroke 2004;35:1024-1033

7.

Pedelty L, Gorelick PB. Update on Management of Hypertension to Prevent Stroke. Current Treatment
Options in Neurology 2006;8:486-495

Hart RG, Benavento O. Stroke Part I A clinical update on prevention J. Am. Family Physician 1999. Vol
59/No. 9 : 2475 2482
PERDOSSI. Pedoman penatalaksanaan stroke. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia
(PERDOSSI), 2007
De Freitas GR, Christoph DDH, Bogousslavsky J. Topographic classification of ischemic stroke, in Fisher
M. (ed). Handbook of Clinical Neurology, Vol. 93 (3rd series). Elsevier BV, 2009.