Anda di halaman 1dari 5

Uncle Baldy lived in north

Georgia near the Tennessee border.
His family got their water from a
spring near the front of his house.
Water in those days was always
considered a gift from above. Often
the people who built the spring would
drive a nail in a nearby tree and hang
a long-handled dipper on it. Anyone
who came along could quench his
thirst.
But if too many dipped into the
water, or if they weren’t careful and
knocked dirt in it, Uncle Baldy would
get angry and yell at them for “riling
up”his spring.

“Paman Baldy” tinggal di bagian utara Georgia,
di dekat perbatasan dengan Tennessee. Keluarga
kakekku mendapatkan air dari sebuah mata air yang
berada di dekat bagian depan rumahnya.
Air pada masa itu selalu dianggap sebagai suatu
pemberian yang berasal dari Atas. Seringkali orang
yang empunya mata air menggantungkan sebuah
gayung bergagang panjang di pohon yang terdekat.
Siapa saja yang tiba di tempat itu bisa
menghilangkan rasa haus mereka.
Akan tetapi jika gayung itu terlalu sering
dicelupkan ke dalam mata air, atau jika orang tidak
cukup berhati-hati sehigga menyebabkan sumber air
itu menjadi kotor, Paman Baldy marah dan
mengumpat mereka karena mereka telah
“mengobok-obok” mata airnya.

Across the dirt road from Uncle Baldy’s
house was a little school. The school had
no well or spring of its own. The
children would have to either bring their
drinking water from home or risk Uncle
Baldy’s wrath by using his spring.
Invariably by Friday afternoon Uncle
Baldy’s crystal clear spring water looked
more like a mud puddle.
Di seberang jalan setapak yang terletak
di depan rumah Paman Baldy ada sebuah
sekolah kecil. Sekolah itu tidak memiliki
sumber mata air atau sumur sendiri.
Para anak-anak harus membawa air
minum sendiri dari rumah atau
menanggung resiko dimarahi oleh Paman
Baldy jika mereka mempergunakan mata
air yang ada di rumahnya. Secara silih
berganti pada hari Jumat sore, mata air
milik Paman Baldy yang tadinya sangat
jernih kelihatannya lebih mirip seperti
sebuah kubangan lumpur.

Uncle Baldy had all he could take. One
Monday when the children arrived, they found
a fence around the spring. They were no longer
permitted to set foot on his property.
Soon something strange happened. Uncle
Baldy noticed the water level in his spring
began to get lower and lower. Then one day the
white sand in the bottom of the wooden frame
was bone dry.
Paman Baldy telah tiba pada batas
kesabarannya. Pada suatu hari Senin ketika para
anak-anak tiba di sana, mereka mendapati pagar
mengelilingi mata air itu. Mereka tidak lagi
diizinkan untuk menginjakkan kaki mereka di
halaman rumah Paman Baldy.
Segera saja sesuatu yang aneh terjadi. Paman
Baldy memperhatikan bahwa permukaan air yang
ada di sumber mata air itu lama kelamaan
menjadi semakin rendah. Lalu pada suatu hari,
pasir putih yang berada di dasar bingkai kayu itu
terlihat kering kerontang.

Several weeks later, one of the
parents happened to step backward into a
clump of weeds and got stuck in deep
mud. Realizing what he had found, he
and some of the men brought shovels
and dug around the mudhole. Soon a thin
stream of water
began to trickle
out. Now the
school had its
own water supply.
Across the road,
Uncle Baldy’s
spring was a dry
wooden box stuck
in the ground.
Evidently, the
spring had decided to cross the road
and join the school!

Moral: Those who are generous gain
more, while those who are stingy lose
out.

Beberapa minggu kemudian salah satu orang
tua tanpa disengaja melangkah mundur ke arah
sekumpulan semak belukar dan terbenam ke dalam
kubangan lumpur yang dalam. Setelah menyadari
apa yang baru saja ditemukannya, orang itu
bersama beberapa orang orang tua itu lalu
mengambil sekop dan
menggali tanah yang berada
di sekitar lubang lumpur itu.
Tidak lama kemudian sebuah
aliran air yang kecil mulai
keluar.Sekarang sekolah itu
telah memiliki sumber mata
air sendiri.
Sementara itu di seberang
jalan, mata air milik Paman
Baldy kini hanya menjadi
sebuah bingkai kayu yang
kering kerontang, yang tertanam di tanah. Sumber
mata air jelas telah memutuskan untuk
menyeberang jalan dan bergabung dengan sekolah
itu!
Moral: Ada orang suka memberi, tapi bertambah
kaya, ada yang suka menghemat, tapi bertambah
miskin papa.

Cerita untuk anak-anak: www.freekidstories.org
Text adapted from story publisehd in “The Christian Reader. Art © The Family International/Microsoft Clipart.