Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

PROYEK SAINS TUMBUHAN (BI- 2104)


METABOLIT SEKUNDER DAN STUKTUR ORGAN
PENGHASIL PADA TUMBUHAN
Tanggal Praktikum : 03 Februari 2015
Tanggal Pengumpulan: 10 Februari 2015
Disusun oleh :
Achmad Wanenda Sahata Manurung
10613050
Kelompok 7
Asisten:
Rahayu Jatiningsih
10612014

PROGRAM STUDI BIOLOGI


SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Metabolit sekunder adalah senyawa metabolit tak esensial bagi
pertumbuhan organisme. Senyawa metabolit sekunder merupakan senyawa yang
diproduksi terbatas di alam dengan melibatkan jalur metabolisme spesifik.
(Sudibyo, 2002). Meskipun begitu metabolit sekunder memiliki peranan penting
yaitu sebagai penyokong jaringan tumbuhan, proteksi tumbuhan, dan hormon.
(Wang, 2014).
Dalam kehidupan manusia, metabolit sekunder banyak dimanfaatkan.
Utamanya dimanfaatkan di dunia farmasi sebagai obat-obatan. Contohnya adalah
senyawa Vinblastine dan Vincristine yang digunakan dalam treatment kanker
(Aslam, et.al., 2010). Senyawa Vinblastine dan Vincristine merupakan contoh dari
alkaloid yang merupakan salah satu jenis metabolit sekunder. Selain alkaloid,
terpenoid C10 yang juga merupakan metabolit sekunder banyak dimanfaatkan
sebagai campuran obat-obatan, bahan makanan, parfum dan pasta gigi sebagai
aroma atau rasa mentol. (Ringer, et. al., 2005).
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum Proyek Sains Tumbuhan kali ini adalah :
1. Menentukan letak penyimpanan metabolit sekunder pada tumbuhan.
2. Menentukan jenis metabolit sekunder pada tumbuhan.
1.3 Hipotesis
1. Metabolit sekunder ditemukan di sel-sel jaringan parenkim pada
tumbuhan.
2. Jenis metabolit sekunder yang terdapat pada tumbuhan adalah alkaloid
dan terpenoid.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Jenis-jenis metabolit sekunder pada tumbuhan
Menurut Ahmad (2007), Senyawa metabolit sekunder terdiri atas 3
golongan besar : alkaloid, terpenoid, dan senyawa fenolik. Senyawa alkaloid
merupakan senyawa heterocyclic (mempunyai cincin) dan mengandung unsur N
pada kerangka cincinnya (Cowan, 1999). Senyawa alkaloid merupakan turunan
dari asam amino melalui proses transaminasi (Aniszewski, 2007).
Senyawa terpenoid terdiri dari isopentana dengan rantai karbon
bercabang, atau disebut juga isoprene unit. Terpenoid bersifat tidak larut dalam air
(water insoluble). Terdapat dua jalur biosintesis utama bagi senyawa terpenoid,
yaitu mevalonic acid pathway dan methylerythritol phosphate pathway. Senyawa
terpenoid tertentu berperan sebagai penunjang pertumbuhan dan perkembangan,
misalnya gibberelin. Beberapa senyawa terpenoid bersifat detterent atau pengusir
bagi predator, seperti limonoid (Taiz & Zeiger, 2002).
Senyawa fenolik merupakan senyawa yang mengandung struktur
benzena yang memiliki cabang OH. Beberapa turunan senyawa fenolik yang
terdapat pada tumbuhan adalah polifenol, lignin, dan tannin (Dey, 1989). Senyawa
fenolik dihasilkan melalui 2 jalur biosintesis pada tumbuhan. Jalur biosintesis
pertama adalah jalur sikimat di mana sikimat merupakan metabolit primer dari
siklus calvin.
2.2 Uji metabolit sekunder dengan metode histokimia dan kolorimetri
Metabolit sekunder biasanya diuji menggunakan metode histokimia dan
kolorimetri. Metode histokimia adalah metode menentukan letak senyawasenyawa tertentu dalam sel dan jaringan. (Dey, 1989). Senyawa-senyawa tersebut
bisa berupa senyawa metabolit sekunder dan senyawa metabolit primer
(karbohidrat, protein, dan lipid). Senyawa metabolit sekunder merupakan senyawa
hasil biosintesis dari senyawa metabolit primer. Senyawa metabolit sekunder,
biasanya tersimpan dalam vakuola sel tumbuhan (Ahmad, 2007). Tujuan dari
metode histokimia adalah menentukan persebaran dan distribusi senyawasenyawa tertentu dalam tumbuhan, sehingga peranan senyawa tersebut bagi
tumbuhan dapat diprediksi (Brossi, 1990).
Sedangkan metode kolorinetri merupakan metode menentukan
konsentrasi senyawa-senyawa tertentu pada suatu ekstrak. Meningkatnya
intensitas warna perubahan berbanding lurus dengan konsentrasi senyawa yang
diuji kolorimetri (Gerdel, 1928). Jadi dalam metode kolorimetri ini kita hanya
dapat mengetahui kuantitas senyawa metabolit sekunder pada bagian tumbuhan

yang diekstrak. Berbeda dengan metode histokimia yang dapat mengetahui letak
sel atau jaringan yang menghasilkan senyawa metabolit sekunder.
2.3

Reaksi-reaksi uji metabolit sekunder sehingga menghasilkan warnawarna tertentu

Pada uji senyawa metabolit sekunder dengan metode histokimia, reagen


yang digunakan untuk mendeteksi adanya alkaloid adalah reagen Jeffrey. (Bedetti
et al., 2013). Ketika reagen Jeffrey bereaksi dengan alkaloid, timbul warna kuning
hingga coklat. Selain untuk mendeteksi alkaloid, metode histokimia dapat
mendeteksi senyawa terpenoid menggunakan reagen Neutral Red. Neutral Red
merupakan reagen yang bersifat metachromasia. Senyawa metachromasia adalah
senyawa yang dapat berubah warna ketika berikatan dengan senyawa tertentu
(Lamar Jones, 2002). Ketika berada dalam suasana asam, Neutral Red tetap
merah. Namun ketika berada dalam suasana basa, Neutral Red berubah warna
menjadi kuning (Lamar Jones, 2002). Terpenoid walaupun tersusun atas isoprenaisoprena namun beberapa bersifat asam. Hal ini disebabkan terpenoid disintesis
dari senyawa asam asetat sehingga beberapa memiliki kemiripan struktur asam
lemak (Cowan, 1999). Dengan demikian, Neutral Red dapat berada dalam suasana
asam (karena adanya terpenoid) sehingga Neutral Red tetap menampakkan warna
merah (Lamar Jones, 2002).
Metode kolorimetri juga dapat mendeteksi senyawa alkaloid dan
terpenoid pada tumbuhan. Uji kolorimetri senyawa alkaloid pada suatu ekstrak
jaringan tanaman (biasanya berupa ekstrak etanol) menggunakan reagen
Dragendorff. Ketika reagen Dragendorff bereaksi dengan senyawa alkaloid,
timbul endapan maupun larutan yang berwarna jingga hingga jingga kemerahan.
Warna tersebut dikarenakan Reagen Dragendorff tersusun atas potasium iodidabismuth nitrat. Unsur logam berat pada reagen Dragendorff akan berikatan dengan
unsur N pada alkaloid membentuk garam. Garam tersebut tidak akan larut
sehingga membentuk endapan.

Gambar Reaksi Alkaloid dengan Garam Logam Berat BiI4(Farnsworth, 1966)

Produk di kanan reaksi merupakan endapan yang berwarna merah atau


jingga. Tingginya intensitas warna endapan berbanding lurus dengan tingginya
kandungan alkaloid dalam ekstrak (Gerdel, 1928).

BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
Tabel 3.1 Alat dan Bahan
Alat
1. Silet

Bahan
1. Daun tapak dara

2. Empulur singkong

2. Batang mint

3. Preparat

3. Akar wangi

4. Mikroskop

4. Buah mengkudu

5. Mortal + Pester

5. Bunga cengkeh

6. Plat tetes

6. Akuades

7. Pipet tetes

7. Tissue
8. Reagen Jeffrey
9. Reagen Neutral Red
10. Reagen Dragendorf
11. Reagen Lieberman- Buschard

3. 2 Cara Kerja
3.2.1 Histokimia
Pertama-tama sampel (daun tapak dara, batang mint, akar wangi,
dan bunga cengkeh) dan alat disiapkan. Lalu sampel disayat melintang
setipis mungkin. Kemudian diletakkan di dua sisis atas kaca objek yang
sudah ditetesi akuades. Setelah itu ditutup dengan kaca objek yang lain.
Lalu satu sisi ditetesi reagen jeffry dan sisi lainnya ditetesi reagen neutral
red. Kemudian ditempelkan tissue agar menyerap akuades. Lalu
didiamkan selama 2-3 menit. Terakhir diamati di mikroskop dan dicatat
hasilnya. Bila pada sampel yang ditetesi reagen Jeffrey terdapat cairan
berwarna coklat berarti hasil positif dan sampel yang ditetesi reagen
neutral red terdapat cairan berwarna merah muda berarti hasil positif.

3.2.2 Kolorimetri
Pertama-tama sampel (daun tapak dara, batang mint, akar wangi,
dan bunga cengkeh) digerus di mortar. Lalu dilarutkan dengan 5 ml etanol
95%. Kemudian larutan diteteskan 5 tetes pada tiga cekungan plat tetes,
satu cekungan sebagai kontrol. Setelah itu ditambahkan reagen dragendorf
pada salah satu cekungan yang berisi larutan dan ditambahkan reagen
Lieberman-Buschard pada satu cekungan yang lain. Terakhir diamati
perubahan warna dan dicatat. Jika larutan yang diberi reagen Dragendorf
berwarna jingga-merah bata artinya hasil positif dan bila larutan yang
diberi reagen Lieberman-Buschard berwarna coklat kehitaman artinya
hasil positif.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Dari hasil praktikum kali ini, didapati sruktur akar, batang, dan daun pada
tumbuhan dikotil dan monokotil yang terdapat pada tabel 4.1. Selain itu hasil dari
pengamatan histokimia yang ditunjukkan pada tabel 4.2 dengan keterangan yang
ditunjuk merupakan bagian penghasil metabolit sekuder. Pada tabel 4.3 yang
menjelaskan hasil dari pengamatan kolorimetri dengan keterangan bahwa (+)
berarti uji positif dan (-) berarti uji negatif.
Tabel 4.1 Struktur akar, batang, daun dikotil dan monokotil

No.

Bagian

1.

Hasil pengamatan

Literatur

Dikotil
Akar
Rununculus sp

Perbesaran 4x10

Campbell et al, 2012

Batang
Heliantus sp

Campbell et al, 2012

Perbesaran 10x10

Daun
Ficus sp

Campbell et al, 2012


Perbesaran 4x10

2.

Monokotil
Akar
Zea mays

Campbell et al, 2012

Perbesaran 4x10

Batang
Zea mays

Campbell et al, 2012


Perbesaran 10x10

Daun
Zea mays

Perbesaran 4x10

Campbell et al, 2012

Tabel 4.2 hasil uji histokimia

No.

Bagian

1.

Bunga
cengkeh

2.

Hasil uji terpenoid

Hasil uji alkaloid

Perbesaran 10x10

Perbesaran 10x10

Perbesaran 10x10

Perbesaran 10x10

Akar
Vetiveria
zizanioides

3.

Daun
tapak dara

Perbesaran 10x10
Perbesaran 10x10

4.

Batang
mint

Perbesaran 10x10

Perbesaran 10x10

Dari tabel 4.2 dapat dilihat bahwa letak senyawa metabolit seekunder
alkaloid maupun terpenoid sama bila ada. Namun berbeda letak tiap bagiannya
seperti pada bunga senyawa alkaloid berada di epidermis sedangkan pada batang
terletak di endodermis.

Tabel 4.3 Hasil uji kolorimetri

No

Bagian

Terpenoid

Alkaloid

.
1.

Daun
Tapak dara

2.

Batang
Mint

3.

Buah
Mengkudu

Data pada tabel 4.3 diambil dari pengamatan warna dari gambar 4.1.
dengan larutan ditambah dengan reagen Dragendorf berwarna jingga berarti
positif dan larutan ditambah dengan reagen Lieberman-Buschard berwarna coklat
kehitaman berarti positif.
4.2 Pembahasan
Metode histokimia adalah metode menentukan letak senyawa-senyawa
tertentu dalam sel dan jaringan. (Dey, 1989). Pada hasil percobaan yang
ditunjukkan pada tabel 4.2 beberapa bagian (daun, bunga, akar, dan batang) pada

tumbuhan terdapat senyawa alkaloid dan/atau senyawa terpenoid. Bagian daun


tapak dara dari hasil yang didapat hanya mengandung senyawa alkaloid. Daerah
yang mengandung alkaloid adalah jaringan mesofil.
Bagian akar Vetiveria zizanioides tidak terdapat senyawa alkaloid
maupun terpenoid. Sedangkan biagian batang mint terdapat kedua senyawa
alkaloid dan senyawa terpenoid. Tempat senyawa alkaloid dan senyawa terpenoid
pada batang mint adalah jaringan dasar. Pada bagian bunga cengkeh terdapat
senyawa alkaloid saja. Tempat yang mengandung senyawa alkaloid adalah
jaringan meristem.
Sesuai dengan literatur bahwa letak senyawa-senyawa metabolit
sekunder hampir semua terletak pada jaringan dasar. (Wang, 2014). Namun pada
beberapa bagian tumbuhan tidak sesuai dengan literatur atau tidak terdapat
senyawa metabolit sekunder. Hal tersebut diduga saat menyayat bagian yang
disayat didominasi oleh senyawa-senyawa lain sehingga reaksi dengan reagen
tidak terjadi.
Pada percobaan menggunakan metode kolorimetri semua bagian yang
diuji yakni daun, batang, dan buah mengandung senyawa alkaloid dan senyawa
terpenoid. Hal tersebut dikarenakan warna jingga setelah penetesan reagen
Dragendorff

menunjukan senyawa metabolit sekunder golongan alkaloid,

sedangkan warna gelap atau kecoklatan setelah penetesan reagen LiebermanBurchard menunjukan adanya adanya senyawa metabolit sekunder golongan
terpenoid (Saha et al., 2011). Sesuai dengan yang ditunjukkan pada gambar 4.1
dan dijelaskan oleh tabel 4.3. Dari hasil percobaan ini sesuai dengan literatur
bahwa semua tumbuhan mengandung senyawa alkaloid (Ahmad, 2007).
Metode kolorimetri bertujuan untuk menunjukkan seberapa banyak atau
kuantitas senyawa-senyawa yang terdapat pada bagian tumbuhan. Meningkatnya
intensitas warna perubahan berbanding lurus dengan konsentrasi senyawa yang
diuji kolorimetri (Gerdel, 1928). Jadi kandungan alkaloid banyak terkandung pada
bagian daun tapak dara dan kandungan terpenoid banyak terdapat pada bagian
buah mengkudu.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5. 1 Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dan pembahasan yang sudah dilakukan, dapat
disimpulkan bahwa :

Senyawa metabolit sekunder disimpan di jaringan dasar


Jenis metabolit sekunder pada tumbuhan ada 3 :
Alkaloid
Terpenoid
Fenolik

5. 2 Saran
Untuk membuat sayatan pada metode histokimia diusahakan setipis
mungkin agar sel tidak bertumpuk sehingga jelas saat diamati di mikroskop
dan setelah membuat larutan untuk kolorinetri selesaikan dengan cepat agar
fenol tidak menguap lebih dulu sebelum ditambahkan reagen.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Sayeed. 2007. Pharmacognosy Introduction of Plant Constituents and
Their Test. New Delhi : Jamia Hamdard.
Aslam, J., & et.al. 2010. "Catharanthus roseus (L.) G. Don. An Important Drug:
It's Applications and ProductionsN". Pharmacie Globale International
Journal of Comprehensive Pharmacy, 1 (4), : 1-16.
Aniszewski, Tadeusz. 2007. Alkaloids Secrets of Life. Amsterdam : Elsevier
Brossi, Arnold. 1990. The Alkaloids. San Diego : Academic Press.
Campbell, N A., J. B. Reece., M. R. Taylor., E. J. Simon., J. L. Dickey. 2012. .
Biology 9th ed. San Francisco : Pearson Education, Inc.
Cowan, Marjorie Murphy. 1999. Plant Products as Antimicrobial Agents.
Clinical Microbiology Reviews 12(4) : 564-582.
Dey, P.M., Harborne, J.B. 1989. Methods in Plant Biochemistry. San Diego :
Academic Press.

Gerdel, R. W.1928. The Colorimetric Determination of Total Phosporous in Plant


Solutions Ohio Journal of Science 28(4) : 229-236.
Lamar Jones, M. 2002. Connective tissues and stains. In Theory and Practice of
Histological Techniques, 5th edn (eds J.D. Bancroft and M. Gamble).
Edinburgh: Churchill Livingstone.
Ringer, K. L., & al., e. 2005. "Monoterpene Metabolism. Cloning, Expression,
and Characterization of ()-Isopiperitenol/()-Carveol Dehydrogenase of
Peppermint and Spearmint1". Plant Physiology 137 (3), : 863-872.
Sudibyo, R. S. 2002). Metabolisme Sekunder: Manfaat dan Perkembangannya
dalam Dunia Farmasi. Yogyakarta: Fakultas Farmasi Universitas Gajah
Mada.
Saha, Santanu, E. V. S., Kodangala, Chandrashekar, Shastry, Shashidhara C. 2011.
Isolation and characterization of triterpenoids and fatty acid ester of
triterpenoid from leaves of Bauhinia variegata Der Pharma Chemica
3(4) : 28-37.
Wang, D. 2014. Secondary Metabolites in Plants. Taichung City: Department of
Forestry National Chung Hsing University.