Anda di halaman 1dari 12

GEDUNG BANGUNAN

1. DEFINISI
PP 71 TAHUN 2010
Berdasarkan PP 71 tahun 2010, Gedung dan Bangunan adalah mencakup seluruh
gedung dan bangunan yang diperoleh dengan maksud untuk dipakai dalam kegiatan
operasional pemerintah dan dalam kondisi siap pakai.

Buletin Teknis Akuntansi Aset Tetap


PSAP 07 Paragraf 10 menyatakan bahwa Gedung dan bangunan mencakup seluruh

gedung dan bangunan yang diperoleh dengan maksud untuk dipakai dalam kegiatan
operasional pemerintah dan dalam kondisi siap dipakai. Termasuk dalam kelompok Gedung
dan Bangunan adalah gedung perkantoran, rumah dinas, bangunan tempat ibadah,
bangunan menara, monumen/bangunan bersejarah, gudang, gedung museum, dan rambu rambu.
Gedung dan bangunan ini tidak mencakup tanah yang diperoleh untuk pembangunan
gedung dan bangunan yang ada di atasnya. Tanah yang diperoleh untuk keperluan
dimaksud dimasukkan dalam kelompok Tanah.
Gedung bertingkat pada dasarnya terdiri dari komponen bangunan fisik, komponen
penunjang utama yang berupa mechanical engineering (lift, instalasi listrik beserta
generator, dan sarana pendingin Air Conditioning), dan komponen penunjang lain yang a.l.
berupa saluran air dan telpon. Masing-masing komponen mempunyai masa manfaat yang
berbeda, sehingga umur penyusutannya berbeda, serta memerlukan pola pemeliharaan
yang berbeda pula. Perbedaan masa manfaat dan pola pemeliharaan menyebabkan
diperlukannya sub-akun pencatatan yang berbeda untuk masing-masing komponen gedung
bertingkat, misalnya menjadi sebagai berikut:
Gedung :

Bangunan Fisik
Taman, Jalan, dan Tempat Parkir, Pagar
Instalasi AC
Instalasi Listrik dan Generator
Lift
Penyediaan Air, Saluran Air Bersih, dan Air Limbah
Saluran Telepon

Disarankan agar akuntansi pengakuan gedung bertingkat diperinci sedemikian rupa,


sehingga setidak-tidaknya terdapat perincian per masing-masing komponen bangunan yang
mempunyai umur masa manfaat yang sama. Data untuk perincian tersebut dapat diperoleh
pada dokumen penawaran yang menjadi dasar kontrak konstruksi pekerjan borongan
bangunan.

PMK 219/PMK.05/2013

Gedung dan Bangunan adalah mencakup seluruh gedung dan bangunan yang diperoleh
dengan maksud untuk dipakai dalam kegiatan operasional pemerintah dan dalam kondisi
siap pakai.
2. PENGAKUAN
PP 71 TAHUN 2010
Gedung dan Bangunan termasuk dalam klasifikasi Aset Tetap sehingga sesuai dengan
klasifikasi Aset Tetap, suatu aset dapat diakui sebagai aset tetap apabila berwujud dan
memenuhi kriteria :
1.
2.
3.
4.

Mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan;


Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal;
Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasi normal entitas;
Diperoleh/dibangun dengan maksud untuk digunakan.
Pemerintah mengakui suatu aset tetap apabila aset tetap tersebut telah diterima atau

diserahkan hak kepemilikannya, dan atau pada saat penguasaannya berpindah. Oleh
karena itu, apabila belum ada bukti bahwa suatu aset dimiliki atau dikuasai oleh suatu
entitas maka aset tetap tersebut belum dapat dicantumkan di neraca. Prinsip pengakuan
aset tetap pada saat aset tetap ini dimiliki atau dikuasai berlaku untuk seluruh jenis aset
tetap, baik yang diperoleh secara individual atau gabungan, maupun yang diperoleh melalui
pembelian, pembangunan swakelola, pertukaran, rampasan, atau dari hibah.

Buletin Teknis Akuntansi Aset Tetap


Untuk dapat diakui sebagai aset tetap, gedung dan bangunan termasuk harus berwujud

dan memenuhi kriteria :


1.
2.
3.
4.

Mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan;


Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal;
Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasi normal entitas;
Diperoleh/dibangun dengan maksud untuk digunakan.
Dengan demikian, untuk dapat diakui sebagai Gedung dan Bangunan, maka gedung

dan bangunan harus berwujud dan mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas)
bulan, biaya perolehannya dapat diukur secara handal, tidak dimaksudkan untuk dijual
dalam kondisi normal entitas dan diperoleh atau dibangun dengan maksud untuk digunakan.
Pengakuan Gedung dan Bangunan harus dipisahkan dengan tanah di mana gedung dan
bangunan tersebut didirikan.
Gedung dan bangunan yang dibangun oleh pemerintah, namun dengan maksud akan
diserahkan kepada masyarakat, seperti rumah yang akan diserahkan kepada para
transmigrans, maka rumah tersebut tidak dapat dikelompokkan sebagai Gedung dan
Bangunan, melainkan disajikan sebagai Persediaan.
Gedung dan Bangunan diakui pada saat gedung dan bangunan telah diterima atau
diserahkan hak kepemilikannya dan/atau pada saat penguasaannya berpindah serta telah
siap dipakai. PSAP 07 Paragraf 20 menyatakan bahwa: Pengakuan aset tetap akan sangat

andal bila aset tetap telah diterima atau diserahkan hak kepemilikannya dan atau pada saat
penguasaannya berpindah.
Saat pengakuan Gedung dan Bangunan akan lebih dapat diandalkan apabila terdapat
bukti bahwa telah terjadi perpindahan hak kepemilikan dan/atau penguasaan secara hukum,
misalnya akte jual beli atau Berita Acara Serah Terima. Apabila perolehan Gedung dan
Bangunan belum didukung dengan bukti secara hukum dikarenakan masih adanya suatu
proses administrasi yang diharuskan, seperti pembelian gedung kantor yang masih harus
diselesaikan proses jual beli (akta) dan bukti kepemilikannya di instansi berwenang, maka
Gedung dan Bangunan tersebut harus diakui pada saat terdapat bukti bahwa penguasaan
atas Gedung dan Bangunan tersebut telah berpindah, misalnya telah terjadi pembayaran
dan penguasaan atas bangunan.
PMK 219/PMK.05/2013
Gedung dan Bangunan termasuk ke dalam klasifikasi Aset Tetap, dapat diakui pada saat
masa manfaat ekonomi masa depan dapat diperoleh dan nilainya dapat diukur dengan
andal. Pengakuan aset tetap akan sangat andal apabila aset tetap telah diterima atau
diserahkan hak kepemilikannya dan/ atau pada saat penguasaannya berpindah. Kriteria
untuk dapat diakui sebagai aset tetap adalah sebagai berikut :
1. Berwujud
2. Mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan;
3. Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal;
4. Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasi normal entitas;
5. Diperoleh/dibangun dengan maksud untuk digunakan.
Gedung dan Bangunan yang diperoleh dari hibah/ donasi diakui pada saat aset tetap
tersebut diterima dan/ atau hak kepmilikannya berpindah. Gedung dan Bangunan yang
diperoleh dari sitaan/ rampasan diakui pada saat ada keputusan instansi yang berwenang
yang memiliki kekuatan hukum tetap.
Pengakuan

atas

Aset

berdasarkan

jenis

transaksinya,

antara

lain

perolehan,

pengembangan, pengurangan, serta penghentian dan pelepasan. Berikut adalah penjelasan


dari masing masing jenis transaksi tersebut :
1. Perolehan adalah suatu transaksi perolehan aset tetap sampai dengan aset tetap
tersebut dalam kondisi siap digunakan.
2. Pengembangan adalah suatu transaksi peningkatan nilai aset tetap yang berakibat
pada peningkatan masa manfaat, peningkatan efisiensi, peningkatan kapasitas, mutu
produksi dan kinerja dan/ atau penurunan biaya pengoperasian.
3. Pengurangan adalah suatu transaksi penurunan nilai aset tetap dikarenakan
berkurangnya volume/ nilai aset tetap tersebut atau dikarenakan penyusutan.
4. Penghentian dan Pelepasan adalah suatu transaksi penghentian dari penggunaan
aktif atau penghentian permanen suatu aset tetap.
3. PENGUKURAN
PP 71 TAHUN 2010

Gedung dan Bangunan yang merupakan Aset tetap dinilai dengan biaya perolehan.
Apabila penilaian aset tetap dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan
maka nilai aset tetap didasarkan pada nilai wajar pada saat perolehan.
Pengukuran dapat dipertimbangkan andal bila terdapat transaksi pertukaran dengan
bukti pembelian aset yang mengidentifikasikan biayanya. Dalam keadaan suatu aset yang
dikonstruksi/dibangun sendiri, suatu pengukuran yang dapat diandalkan atas biaya dapat
diperoleh dari transaksi pihak eksternal dengan entitas tersebut untuk perolehan bahan
baku, tenaga kerja dan biaya lain yang digunakan dalam proses konstruksi.
Biaya perolehan Gedung dan Bangunan yang dibangun dengan cara swakelola meliputi
biaya langsung untuk tenaga kerja, bahan baku, dan biaya tidak langsung termasuk biaya
perencanaan dan pengawasan, perlengkapan, tenaga listrik, sewa peralatan, dan semua
biaya lainnya yang terjadi berkenaan dengan pembangunan aset tetap tersebut.
Gedung dan Bangunan pada awalnya harus diukur berdasarkan biaya perolehan. Bila
diperoleh dengan tanpa nilai, biaya aset tersebut adalah sebesar nilai wajar pada saat aset
tersebut diperoleh.
Biaya perolehan gedung dan bangunan menggambarkan seluruh biaya yang dikeluarkan
dan yang masih harus dikeluarkan untuk memperoleh gedung dan bangunan sampai siap
pakai. Biaya ini antara lain meliputi harga pembelian atau biaya konstruksi, termasuk biaya
pengurusan IMB, notaris, dan pajak.

Buletin Teknis Akuntansi Aset Tetap


PSAP 07 Paragraf 22 menyatakan bahwa: Aset tetap dinilai dengan biaya perolehan.

Apabila penilaian aset tetap dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan
maka nilai aset tetap didasarkan pada nilai wajar pada saat perolehan. Berdasarkan PSAP
tersebut, maka gedung dan bangunan dinilai dengan biaya perolehan. Biaya perolehan
gedung dan bangunan meliputi seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh gedung
dan bangunan sampai siap pakai. Biaya ini antara lain meliputi harga pembelian atau biaya
konstruksi, termasuk biaya pengurusan IMB, notaris, dan pajak. Apabila penilaian Gedung
dan Bangunan dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan maka nilai aset
tetap didasarkan pada nilai wajar/taksiran pada saat perolehan.
Biaya perolehan Gedung dan Bangunan yang dibangun dengan cara swakelola meliputi
biaya langsung untuk tenaga kerja, bahan baku, dan biaya tidak langsung termasuk biaya
perencanaan dan pengawasan, perlengkapan, tenaga listrik, sewa peralatan, dan semua
biaya lainnya yang terjadi berkenaan dengan pembangunan aset tetap tersebut seperti
pengurusan IMB, notaris, dan pajak. Sementara itu, Gedung dan Bangunan yang dibangun
melalui kontrak konstruksi, biaya perolehan meliputi nilai kontrak, biaya perencanaan dan
pengawasan, biaya perizinan, jasa konsultan, dan pajak. Gedung dan Bangunan yang
diperoleh dari sumbangan (donasi) dicatat sebesar nilai wajar pada saat perolehan.

Pengukuran Gedung dan Bangunan harus memperhatikan kebijakan pemerintah


mengenai ketentuan nilai satuan minimum kapitalisasi aset tetap. Untuk Pemerintah Pusat,
kebijakannya sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 01/KMK.12/2001 tentang
Pedoman Kapitalisasi Barang Milik/Kekayaan Negara dalam Sistem Akuntansi Pemerintah,
yang mengatur bahwa nilai satuan minimum perolehan gedung dan bangunan adalah
Rp10.000.000.

Artinya,

jika

nilai

perolehan

gedung

dan

bangunan

kurang

dari

Rp10.000.000, maka gedung dan bangunan tersebut tidak dapat diakui dan disajikan
sebagai aset tetap, namun tetap diungkapkan dalam Catatan Atas Laporan Keuangan dan
dalam Laporan BMN. Sesuai dengan PSAP 07 Paragraf 53, aset tetap disajikan
berdasarkan biaya perolehan aset tetap tersebut dikurangi akumulasi penyusutan. Metode
penyusutan atas Metode penyusutan atas gedung dan bangunan diatur dalam Buletin
Teknis Nomor 05 tentang Akuntansi Penyusutan.
PMK 219/PMK.05/2013
Gedung dan Bangunan termasuk dalam klasifikasi Aset tetap yang dinilai dengan biaya
perolehan.

Apabila

penilaian

aset

dengan

menggunakan

biaya

perolehan

tidak

memungkinkan maka nilai aset tetap didasarkan pada nilai wajar pada saat perolehan.
Berdasarkan PSAP tersebut, maka gedung dan bangunan dinilai dengan biaya perolehan.
Biaya perolehan gedung dan bangunan meliputi seluruh biaya yang dikeluarkan untuk
memperoleh gedung dan bangunan sampai siap pakai. Biaya ini antara lain meliputi harga
pembelian atau biaya konstruksi, termasuk biaya pengurusan IMB, notaris, dan pajak.
Apabila penilaian Gedung dan Bangunan dengan menggunakan biaya perolehan tidak
memungkinkan maka nilai aset tetap didasarkan pada nilai wajar/taksiran pada saat
perolehan.
Biaya perolehan Gedung dan Bangunan yang dibangun dengan cara swakelola meliputi
biaya langsung untuk tenaga kerja, bahan baku, dan biaya tidak langsung termasuk biaya
perencanaan dan pengawasan, perlengkapan, tenaga listrik, sewa peralatan, dan semua
biaya lainnya yang terjadi berkenaan dengan pembangunan aset tetap tersebut seperti
pengurusan IMB, notaris, dan pajak. Sementara itu, Gedung dan Bangunan yang dibangun
melalui kontrak konstruksi, biaya perolehan meliputi nilai kontrak, biaya perencanaan dan
pengawasan, biaya perizinan, jasa konsultan, dan pajak. Gedung dan Bangunan yang
diperoleh dari sumbangan (donasi) dicatat sebesar nilai wajar pada saat perolehan.
Penggunaan nilai wajar pada saat tidak ada nilai perolehan atau tidak dapat didentifikasi
bukan merupakan suatu proses penilaian kembali (revaluasi). Pengukuran atas Gedung dan
Bangunan harus memperhatikan kebijakan pemerintah mengenai ketentuan nilai satuan
minimum kapitalisasi Aset Tetap. Jika nilai perolehan Gedung dan Bangunan di bawah nilai
satuan minimum kapitalisasi maka atas Gedung dan Bangunan tersebut tidak dapat diakui

dan disajikan sebagai Aset Tetap, namun tetap diungkapkan dalam Catatan Atas Laporan
Keuangan dan Catatan atas Laporan BMN.
4. PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN
PP 71 TAHUN 2010
Karena Gedung dan Bangunan termasuk dalam klasifikasi Aset Tetap, maka mengenai
penyajian dan pengungkapannya sesuai dengan ketentuan Aset Tetap. Gedung dan
Bangunan disajikan di Neraca dalam kelompok Aset Tetap sebesar nilai biaya perolehannya
atau nilai wajar pada saat perolehan. Laporan keuangan harus mengungkapkan untuk
masing-masing jenis Aset Tetap sebagai berikut :
a. Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai tercatat (carying amount);
b. Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan :
1) Penambahan;
2) Pelepasan;
3) Akumulasi penyusutan dan perubahan nilai, jika ada;
4) Mutasi Aset Tetap lainnya.
c. Informasi penyusutan, meliputi:
1) Nilai penyusutan;
2) Metode penyusutan yang digunakan;
3) Masa manfat atau tarif penyusutan yang digunakan;
4) Nilai tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode.
d. Informasi terkait pertukaran Aset Tetap (jika ada), meliputi :
a. Pihak yang melakukan pertukaran Aset Tetap;
b. Jenis Aset Tetap yang diserahkan dan nilainya;
c. Jenis Aset Tetap yang diterima beserta nilainya; dan
d. Jumlah hibah selisih lebih dari pertukaran Aset Tetap.
e. Hal lain yang juga harus mengungkapkan :
1) Eksistensi dan batasan hak milik atas Aset Tetap;
2) Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan Aset Tetap;
3) Jumlah pengeluaran pada pos Aset Tetap dalam konstruksi; dan
4) Jumlah komitmen untuk akuisisi Aset Tetap.
Buletin Teknis Akuntansi Aset Tetap
Gedung dan Bangunan disajikan di Neraca dalam kelompok Aset Tetap sebesar nilai
biaya perolehannya atau nilai wajar pada saat perolehan. Selain itu, dalam Catatan Atas
Laporan Keuangan diungkapkan pula, antara lain :
1. Dasar penilaian yang digunakan untuk mencatat Gedung dan Bangunan.
2. Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan Gedung dan Bangunan.
3. Rekonsiliasi nilai tercatat Gedung dan Bangunan pada awal dan akhir periode yang
menunjukkan:
a. Penambahan (perolehan, reklasifikasi dari Konstruksi dalam Pengerjaan, dan
penilaian);
b. Perolehan yang berasal dari pembelian/pembangunan direkonsiliasi dengan total
belanja modal untuk gedung dan bangunan;
c. Pengurangan (penjualan, penghapusan, dan penilaian).
4. Informasi penyusutan Gedung dan Bangunan yang meliputi nilai penyusutan, metode
penyusutan yang digunakan, masa manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan, serta

nilai tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode.
PMK 219/PMK.05/2013

Penyajian Gedung dan Bangunan yakni berdasarkan biaya perolehan Aset tersebut
dikurangi akumulasi penyusutan. Laporan keuangan harus mengungkapkan untuk masingmasing jenis Aset Tetap sebagai berikut :
a. Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai tercatat (carying amount);
b. Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan :
1) Penambahan;
2) Pelepasan;
3) Akumulasi penyusutan dan perubahan nilai, jika ada;
4) Mutasi Aset Tetap lainnya.
c. Informasi penyusutan, meliputi:
1) Nilai penyusutan;
2) Metode penyusutan yang digunakan;
3) Masa manfat atau tarif penyusutan yang digunakan;
4) Nilai tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode.
d. Informasi terkait pertukaran Aset Tetap (jika ada), meliputi :
1) Pihak yang melakukan pertukaran Aset Tetap;
2) Jenis Aset Tetap yang diserahkan dan nilainya;
3) Jenis Aset Tetap yang diterima beserta nilainya; dan
4) Jumlah hibah selisih lebih dari pertukaran Aset Tetap.
e. Hal lain yang juga harus mengungkapkan :
1) Eksistensi dan batasan hak milik atas Aset Tetap;
2) Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan Aset Tetap;
3) Jumlah pengeluaran pada pos Aset Tetap dalam konstruksi; dan
4) Jumlah komitmen untuk akuisisi Aset Tetap.
ASET TETAP LAINNYA
1. DEFINISI
PP 71 TAHUN 2010
Aset Tetap Lainnya adalah mencakup Aset tetap yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam
kelompok Aset Tetap (selain Tanah, Peralatan dan Mesin, Gedung dan Bangunan, Jalan,
Irigasi, dan Jaringan) yang diperoleh dan dimanfaatkan untuk kegiatan operasional
pemerintah dan dalam kondisi siap pakai.

Buletin Teknis Akuntansi Aset Tetap


PSAP 07 Paragraf 13 menyatakan bahwa Aset tetap lainnya mencakup aset tetap yang

tidak dapat dikelompokkan ke dalam kelompok aset tetap di atas, yang diperoleh dan
dimanfaatkan untuk kegiatan operasional pemerintah dan dalam kondisi siap dipakai.
Aset Tetap Lainnya mencakup aset tetap yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam
kelompok Tanah; Peralatan dan Mesin; Gedung dan Bangunan; Jalan, Irigasi dan Jaringan,
yang diperoleh dan dimanfaatkan untuk kegiatan operasional pemerintah dan dalam kondisi
siap dipakai. Aset yang termasuk dalam kategori Aset Tetap Lainnya adalah koleksi
perpustakaan/buku dan non buku, barang bercorak kesenian/kebudayaan/olah raga, hewan,
ikan, dan tanaman. Termasuk dalam kategori Aset Tetap Lainnya adalah Aset TetapRenovasi yaitu biaya renovasi atas aset tetap yang bukan miliknya, dan biaya partisi suatu
ruangan kantor yang bukan miliknya.

PMK 219/PMK.05/2013

Aset Tetap Lainnya adalah mencakup Aset tetap yang tidak dapat dikelompokkan ke
dalam kelompok Aset Tetap (selain Tanah, Peralatan dan Mesin, Gedung dan Bangunan,
Jalan, Irigasi, dan Jaringan) yang diperoleh dan dimanfaatkan untuk kegiatan operasional
pemerintah dan dalam kondisi siap pakai. Aset yang termasuk dalam kategori Aset Tetap
Lainnya

adalah

koleksi

perpustakaan/buku

dan

non

buku,

barang

bercorak

kesenian/kebudayaan/olah raga, hewan, ikan, dan tanaman. Khusus untuk hewan, ikan dan
tanaman, sesuai dengan kebijakan kapitalisasi aset tetap, disajikan secara ekstrakomptabel
dan tidak disajikan di neraca. Selain itu, termasuk Aset Tetap lainnya adalah Aset Tetap
Renovasi, yaitu biaya renovasi atas Aset Tetap yang bukan milik entitas, sepanjang
memenuhi syarat-syarat kapitalisasi aset.
2. PENGAKUAN
PP 71 TAHUN 2010
Aset Tetap Lainnya masih dalam klasifikasi Aset Tetap sehingga sesuai dengan
klasifikasi Aset Tetap, suatu aset dapat diakui sebagai aset tetap apabila berwujud dan
memenuhi kriteria :
1)
2)
3)
4)

Mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan;


Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal;
Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasi normal entitas;
Diperoleh/dibangun dengan maksud untuk digunakan.
Pemerintah mengakui suatu aset tetap apabila aset tetap tersebut telah diterima atau

diserahkan hak kepemilikannya, dan atau pada saat penguasaannya berpindah. Oleh
karena itu, apabila belum ada bukti bahwa suatu aset dimiliki atau dikuasai oleh suatu
entitas maka aset tetap tersebut belum dapat dicantumkan di neraca. Prinsip pengakuan
aset tetap pada saat aset tetap ini dimiliki atau dikuasai berlaku untuk seluruh jenis aset
tetap, baik yang diperoleh secara individual atau gabungan, maupun yang diperoleh melalui
pembelian, pembangunan swakelola, pertukaran, rampasan, atau dari hibah.

Buletin Teknis Akuntansi Aset Tetap


Aset Tetap Lainnya diakui pada saat Aset Tetap Lainnya telah diterima atau diserahkan

hak kepemilikannya dan/atau pada saat penguasaannya berpindah serta telah siap dipakai.
Khusus mengenai pengakuan biaya renovasi atas aset tetap yang bukan milik, ketentuan
telah diatur dalam Buletin Teknis Nomor 04 tentang Penyajian dan Pengungkapan Belanja
Pemerintah sebagai berikut:
1) Apabila renovasi aset tetap tersebut meningkatkan manfaat ekonomik aset tetap
misalnya perubahan fungsi gedung dari gudang menjadi ruangan kerja dan
kapasitasnya naik, maka renovasi tersebut dikapitalisasi sebagai Aset TetapRenovasi.
2) Apabila renovasi atas aset tetap yang disewa tidak menambah manfaat ekonomik,
maka dianggap sebagai Belanja Operasional. Aset Tetap-Renovasi diklasifikasikan
ke dalam Aset Tetap Lainnya.

3) Apabila manfaat ekonomik renovasi tersebut lebih dari satu tahun buku, dan
memenuhi butir 1 di atas, biaya renovasi dikapitalisasi sebagai Aset Tetap-Renovasi,
sedangkan apabila manfaat ekonomik renovasi kurang dari 1 tahun buku, maka
pengeluaran tersebut diperlakukan sebagai Belanja Operasional tahun berjalan.
Perolehan Aset Tetap Lainnya, selain Aset Tetap-Renovasi, pada umumnya melalui
pembelian atau perolehan lain seperti hibah/donasi. Pengakuan Aset Tetap Lainnya melalui
pembelian didahului dengan pengakuan belanja modal yang akan mengurangi Kas Umum
Negara/Daerah. Dokumen sumber untuk merekam pembayaran ini adalah Surat Perintah
Membayar dan Surat Perintah Pencairan Dana Langsung (SP2D LS).

PMK 219/PMK.05/2013
Aset Tetap Lainnya termasuk ke dalam klasifikasi Aset Tetap, dapat diakui pada saat

masa manfaat ekonomi masa depan dapat diperoleh dan nilainya dapat diukur dengan
andal. Pengakuan aset akan sangat andal apabila aset tetap telah diterima atau diserahkan
hak kepemilikannya dan/ atau pada saat penguasaannya berpindah. Kriteria untuk dapat
diakui sebagai aset tetap adalah sebagai berikut :
1. Berwujud
2. Mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan;
3. Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal;
4. Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasi normal entitas;
5. Diperoleh/dibangun dengan maksud untuk digunakan.
Aset yang diperoleh dari hibah/ donasi diakui pada saat aset tetap tersebut diterima dan/
atau hak kepmilikannya berpindah. Aset yang diperoleh dari sitaan/ rampasan diakui pada
saat ada keputusan instansi yang berwenang yang memiliki kekuatan hukum tetap.
Pengakuan

atas

Aset

berdasarkan

jenis

transaksinya,

antara

lain

perolehan,

pengembangan, pengurangan, serta penghentian dan pelepasan. Berikut adalah penjelasan


dari masing masing jenis transaksi tersebut :
a. Perolehan adalah suatu transaksi perolehan aset tetap sampai dengan aset tetap
tersebut dalam kondisi siap digunakan.
b. Pengembangan adalah suatu transaksi peningkatan nilai aset tetap yang berakibat
pada peningkatan masa manfaat, peningkatan efisiensi, peningkatan kapasitas, mutu
produksi dan kinerja dan/ atau penurunan biaya pengoperasian.
c. Pengurangan adalah suatu transaksi penurunan nilai aset tetap dikarenakan
berkurangnya volume/ nilai aset tetap tersebut atau dikarenakan penyusutan.
d. Penghentian dan Pelepasan adalah suatu transaksi penghentian dari penggunaan
aktif atau penghentian permanen suatu aset tetap.
3. PENGUKURAN
PP 71 TAHUN 2010
Aset Tetap Lainnya dinilai dengan biaya perolehan. Apabila penilaian aset dengan
menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan maka nilai aset didasarkan pada nilai
wajar pada saat perolehan.

Pengukuran dapat dipertimbangkan andal bila terdapat transaksi pertukaran dengan


bukti pembelian aset yang mengidentifikasikan biayanya. Dalam keadaan suatu aset yang
dikonstruksi/dibangun sendiri, suatu pengukuran yang dapat diandalkan atas biaya dapat
diperoleh dari transaksi pihak eksternal dengan entitas tersebut untuk perolehan bahan
baku, tenaga kerja, dan biaya lain yang digunakan dalam proses konstruksi.
Biaya perolehan aset yang dibangun dengan cara swakelola meliputi biaya langsung
untuk tenaga kerja, bahan baku, dan biaya tidak langsung termasuk biaya perencanaan dan
pengawasan, perlengkapan, tenaga listrik, sewa peralatan, dan semua biaya lainnya yang
terjadi berkenaan dengan pembangunan aset tersebut.
Aset pada awalnya harus diukur berdasarkan biaya perolehan. Bila diperoleh dengan
tanpa nilai, biaya aset tersebut adalah sebesar nilai wajar pada saat aset tersebut diperoleh.
Biaya perolehan aset menggambarkan seluruh biaya yang dikeluarkan dan yang masih
harus dikeluarkan untuk memperoleh aset sampai siap pakai.

Buletin Teknis Akuntansi Aset Tetap


Biaya perolehan Aset Tetap Lainnya menggambarkan seluruh biaya yang dikeluarkan

untuk memperoleh aset tersebut sampai siap pakai. Aset Tetap Lainnya dinilai dengan biaya
perolehan. Biaya perolehan Aset Tetap Lainnya yang diperoleh melalui kontrak meliputi
pengeluaran nilai kontrak, biaya perencanaan dan pengawasan, pajak, serta biaya
perizinan.
Biaya perolehan Aset Tetap Lainnya yang diadakan melalui swakelola, misalnya untuk
Aset Tetap Renovasi, meliputi biaya langsung dan tidak langsung, yang terdiri dari biaya
bahan baku, tenaga kerja, sewa peralatan, biaya perencanaan dan pengawasan, biaya
perizinan, pajak, dan jasa konsultan. Pengukuran Aset Tetap Lainnya harus memperhatikan
kebijakan pemerintah tentang ketentuan nilai satuan minimum kapitalisasi aset tetap.
Sebagai contoh, pada pemerintah Pusat kebijakan nilai satuan minimum kapitalisasi adalah:
Aset

Tetap

Lainnya

berupa

koleksi

perpustakaan/buku

dan

barang

bercorak

kesenian/kebudayaan tidak ada nilai satuan minimum sehingga berapa pun nilai
perolehannya dikapitalisasi.
Aset Tetap Lainnya yang dikapitalisasi dibukukan dan dilaporkan di dalam Neraca dan
Laporan BMN/D. Aset Tetap Lainnya yang tidak dikapitalisasi tidak dapat diakui dan
disajikan sebagai aset tetap, namun tetap diungkapkan dalam Catatan Atas Laporan
Keuangan dan dalam Laporan BMN/D.
Sesuai dengan PSAP 07 Paragraf 53, aset tetap disajikan berdasarkan biaya perolehan
aset tetap tersebut dikurangi akumulasi penyusutan. Metode penyusutan atas Aset Tetap
Lainnya diatur dalam Buletin Teknis Nomor 05 tentang Akuntansi Penyusutan. Aset Tetap
Lainnya berupa hewan, tanaman, buku perpustakaan tidak dilakukan penyusutan secara
periodik, melainkan diterapkan penghapusan pada saat aset tetap lainnya tersebut sudah
tidak dapat digunakan atau mati. Untuk penyusutan atas Aset Tetap-Renovasi dilakukan

sesuai dengan umur ekonomik mana yang lebih pendek (which ever is shorter) antara masa
manfaat aset dengan masa pinjaman/sewa.
PMK 219/PMK.05/2013
Aset tetap lainnya termasuk dalam klasifikasi aset tetap dimana pengukurannya dinilai
dengan biaya perolehan. Apabila penilaian aset dengan menggunakan biaya perolehan
tidak memungkinkan maka nilai aset tetap didasarkan pada nilai wajar pada saat perolehan.
Berdasarkan PSAP tersebut, maka aset dinilai dengan biaya perolehan. Biaya perolehan
aset meliputi seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aset sampai siap pakai..
Apabila penilaian aset dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan maka
nilai aset tetap didasarkan pada nilai wajar/taksiran pada saat perolehan.
Penggunaan nilai wajar pada saat tidak ada nilai perolehan atau tidak dapat didentifikasi
bukan merupakan suatu proses penilaian kembali (revaluasi). Pengukuran atas aset harus
memperhatikan kebijakan pemerintah mengenai ketentuan nilai satuan minimum kapitalisasi
Aset Tetap. Jika nilai perolehan asetdi bawah nilai satuan minimum kapitalisasi maka atas
aset tersebut tidak dapat diakui dan disajikan sebagai Aset Tetap, namun tetap diungkapkan
dalam Catatan Atas Laporan Keuangan dan Catatan atas Laporan BMN.
4. PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN
PP 71 TAHUN 2010
Aset Tetap Lainnya termasuk dalam klasifikasi Aset Tetap, maka mengenai penyajian
dan pengungkapannya sesuai dengan ketentuan Aset Tetap. Aset Tetap Lainnya disajikan di
Neraca dalam kelompok Aset Tetap sebesar nilai biaya perolehannya atau nilai wajar pada
saat perolehan. Laporan keuangan harus mengungkapkan untuk masing-masing jenis Aset
Tetap sebagai berikut :
a. Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai tercatat (carying amount);
b. Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan :
1) Penambahan;
2) Pelepasan;
3) Akumulasi penyusutan dan perubahan nilai, jika ada;
4) Mutasi Aset Tetap lainnya.
c. Informasi penyusutan, meliputi:
1) Nilai penyusutan;
2) Metode penyusutan yang digunakan;
3) Masa manfat atau tarif penyusutan yang digunakan;
4) Nilai tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode.
d. Informasi terkait pertukaran Aset Tetap (jika ada), meliputi :
1) Pihak yang melakukan pertukaran Aset Tetap;
2) Jenis Aset Tetap yang diserahkan dan nilainya;
3) Jenis Aset Tetap yang diterima beserta nilainya; dan
4) Jumlah hibah selisih lebih dari pertukaran Aset Tetap.
e. Hal lain yang juga harus mengungkapkan :
1) Eksistensi dan batasan hak milik atas Aset Tetap;
2) Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan Aset Tetap;
3) Jumlah pengeluaran pada pos Aset Tetap dalam konstruksi; dan
4) Jumlah komitmen untuk akuisisi Aset Tetap.
Buletin Teknis Akuntansi Aset Tetap

Aset Tetap Lainnya disajikan di Neraca dalam kelompok Aset Tetap sebesar biaya
perolehan atau nilai wajar pada saat perolehan. Selain itu, dalam Catatan atas Laporan
Keuangan diungkapkan pula:
a. Dasar penilaian yang digunakan untuk mencatat Aset Tetap Lainnya;
b. Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan Aset Tetap Lainnya;
c. Rekonsiliasi nilai tercatat Aset Tetap Lainnya pada awal dan akhir periode yang
menunjukkan:
1. Penambahan (perolehan, reklasifikasi dari Konstruksi dalam Pengerjaan, dan
penilaian);
Perolehan yang berasal dari pembelian/pembangunan direkonsiliasi dengan total belanja
modal untuk Aset Tetap Lainnya
2. Pengurangan (penjualan, penghapusan, dan penilaian).
d. Informasi penyusutan Aset Tetap Lainnya yang meliputi: nilai penyusutan, metode
penyusutan yang digunakan, masa manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan, serta

nilai tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode.
PMK 219/PMK.05/2013
Penyajian Aset Tetap Lainnya sama seperti jenis aset tetap yang lainnya yakni

berdasarkan biaya perolehan Aset

tersebut dikurangi akumulasi penyusutan. Laporan

keuangan harus mengungkapkan untuk masing-masing jenis Aset sebagai berikut :


a. Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai tercatat (carying amount);
b. Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan :
1) Penambahan;
2) Pelepasan;
3) Akumulasi penyusutan dan perubahan nilai, jika ada;
4) Mutasi Aset Tetap lainnya.
c. Informasi penyusutan, meliputi:
1) Nilai penyusutan;
2) Metode penyusutan yang digunakan;
3) Masa manfat atau tarif penyusutan yang digunakan;
4) Nilai tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode.
d. Informasi terkait pertukaran Aset Tetap (jika ada), meliputi :
1) Pihak yang melakukan pertukaran Aset Tetap;
2) Jenis Aset Tetap yang diserahkan dan nilainya;
3) Jenis Aset Tetap yang diterima beserta nilainya; dan
4) Jumlah hibah selisih lebih dari pertukaran Aset Tetap.
e. Hal lain yang juga harus mengungkapkan :
1) Eksistensi dan batasan hak milik atas Aset Tetap;
2) Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan Aset Tetap;
3) Jumlah pengeluaran pada pos Aset Tetap dalam konstruksi; dan
4) Jumlah komitmen untuk akuisisi Aset Tetap.

SUMBER :

PMK 219/PMK.05/2013
PP 71 TAHUN 2010
BULTEK 09 TENTANG AKUNTANSI ASET TETAP

Anda mungkin juga menyukai