Anda di halaman 1dari 96

Selamat bertugas untuk Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM (K).

Mari berjuang bersama kami para tenaga kesehatan di seluruh Indonesia untuk
memperbaiki kualitas kesehatan yang lebih baik.

Presiden Joko Widodo menunjuk Nila Djuwita Anfasa


Moeloek sebagai Menteri Kesehatan menggantikan Nafsiah Mboi. Nila, yang lahir pada 11 April
1949, (sebelumnya) menjabat sebagai Utusan Indonesia untuk Urusan Millenium Development
Goals (MDGs).
Menuntaskan pendidikan dengan spesialis mata, Nila kini menjadi Ketua Perhimpunan Dokter
Spesialis Mata Pusat (Perdami) dan menduduki posisi di berbagai organisasi kesehatan seperti
Yayasan Kanker Indonesia dan Pimpinan Riset Medis di UI.
Memimpin Kementrian Kesehatan, Nila akan menitikberatkan pada pencegahan dibanding
pengobatan. Seperti kutipan dengan wawancara Kompas Tv beberapa waktu lalu, yaitu "Tidak
perlu menunggu sampai sakit, karena itu akan menelan biaya lebih besar". Ia menegaskan,
seluruh program kementrian kesehatan akan dibuat satu arah, sesuai petunjuk presiden.
Sebelumnya, Nila juga pernah dekat dengan lingkungan istana. Dia sempat diwawancarai untuk
menduduki posisi Menteri Kesehatan pada pada era Kabinet Bersatu II, yang dipimpin Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2009. Nila adalah istri dari Farid Afansa Moeleok, yang
pernah menjabat sebagai Menteri Kesehatan di era Kabinet Reformasi Pembangunan.

Menkes: Kartu Indonesia Sehat Tak Berbeda


dengan BPJS Kesehatan
Rencana peluncuran Kartu Indonesia Sehat (KIS) memunculkan pertanyaan mengenai nasib
kartu BPJS Kesehatan. Menkes Nila Moeloek mengatakan konsep KIS tidak berbeda jauh
dengan program BPJS Kesehatan.
"(Konsep KIS dan BPJS Kesehatan) Itu yang lagi diatur tapi tidak berbeda dengan BPJS
Kesehatan," ujar Nila saat ditemui di kantor Kemenko PMK, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta
Pusat, Jumat (31/10/2014).
Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan
Maharani mengatakan dirinya tengah mengupayakan peleburan KIS dengan BPJS. Puan
menerangkan KIS memiliki cakupan pelayanan dan pembiayaan yang lebih luas dibanding kartu
sebelumnya.
Adapun target penerima KIS ini adalah masyarakat pra sejahtera yang belum menerima kartu
BPJS.
Anggaran KIP dan KIS akan menggunakan APBN 2014 yang sudah disetujui oleh pemerintah
dan DPR periode lalu. Anggaran tersebut memang telah difokuskan untuk bidang kesejahteraan
rakyat.
"KIS targetnya untuk masyarakat pra sejahtera yang belum terima kartu BPJS. Sebanyak 86,4
juta orang yang akan menerima di tahun 2014 dan 2015 tapi kami harap nanti bisa bertambah,"
kata Puan pada Kamis (30/10).
sumber: http://news.detik.com/

BPJS Kesehatan Terapkan Aturan Baru

Purnawarman Basundoro saat memberi penjelasan kepada


wartawanPendaftaran BPJS (Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial) Kesehatan untuk peserta

mandiri, kini tak lagi bisa secara individual, melainkan dalam satu keluarga. Peserta juga harus
memiliki rekening di bank agar pembayaran bisa autodebet setiap bulannya.
"Semua it

u tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 4/2014 tentang tata cara pendaftaran dan
pembayaran BPJS Kesehatan, yang baru saja diluncurkan," kata Direktur Hukum, Komunikasi
dan Hubungan Antar Lembaga (HAL) BPJS Kesehatan, Purnawarman Basundoro dalam
keterangan pers, di Jakarta, Kamis (30/10).
Pada kesemapatan itu, Purnawarman didampingi Direktur Perencanaan dan Pengembangan BPJS
Kesehatan, Tono Rustiono.
Perubahan lainnya, Purnawarman menambahkan, adalah kartu BPJS Kesehatan tidak bisa
langsung dipergunakan begitu selesai mendaftar dan membayar di bank, seperti aturan
sebelumnya. Namun, peserta harus menunggu hingga satu minggu atau 7 hari ke depan untuk
bisa menggunakannya.
Ditanya kebijakan baru menjadi tak pro rakyat, Purnawarman menukasnya. Katanya, peraturan
itu untuk membiasakan masyarakat membuat perencanaan. Masyarakat harus diingatkan bahwa
masalah kesehatan bisa terjadi kapan saja, sehingga setiap anggota dalam keluarga harus
memiliki jaminan kesehatannya.

"Sudah tidak bisa lagi mau operasi besok, hari ini baru mendaftar BPJS Kesehatan. Harus dibuat
sistem yang terencana dan rapi, karena peserta BPJS Kesehata jumlahnya sudah lebih dari 130
juta orang. Dengan jumlah yang begitu besar, tidak bisa diterapkan manajemen terburu-buru,"
kata Purnawarman menegaskan.
Soal keharusnya memiliki rekening di bank, Purnawarman menjelaskan, itu semata demi
kemudahan para peserta yang harus bolak balik ke bank demi menyetor iuran. Dengan sistem
autodebet, pembayaran iuran akan lebih lancar sehingga kartu bisa seketika bisa dipergunakan.
Ditanya apakah sistem autodebet dilakukan lantaran banyak peserta yang enggan membayar
iuran, Purnawarman tidak menampik adanya kasus semacam itu. Meski kasusnya masih
terbilang kecil, jika tidak ditata sejak awal dikhawatirkan akan menjadi ganjalan di kemudian
hari.
"Sukses tidaknya pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) ini karena adanya
iuran dari masyarakat. Itu jadi jantung kami. Karena itu, perlu ditata agar pembayaran iuran bisa
lancar, dan program ini bisa berjalan," tuturnya.
Hal senada dikemukakan Direktur Perencanaan dan Pengembangan BPJS Kesehatan, Tono
Rustiano. Ia menyebutka, jumlah peserta BPJS Kesehatan hingga 24 Oktober 2014 sebanyak
130.286.703 jiwa. Target hingga akhir tahun 2014 sebanyak 131 juta jiwa.
Ditambahkan, sepanjang periode Januari-Agustus 2014, BPJS Kesehatan telah menerima
pembayaran iuran peserta hingga sebesar Rp 25,656 triliun. Sedangkan pembayaran klaim
hingga 31 Agustus 2014 sebanyak Rp 24,4 triliun.
"Adapun penyaluran dana kapitasi ke faskes tingkat pertama untuk periode yang sama mencapai
5,38 triliun," ucap Tono.
Dari semua itu, menurut Tono, yang lebih penting adalah peningkatan rata-rata waktu
penyelesaian klaim yaitu selama 2,95 hari sejak berkas lengkap dari rumah sakit yang diajukan
ke BPJS Kesehatan. Capaian itu lebih baik ketimbang catatan per 30 Juni 2014 yang masih ratarata 3,16 hari.
Jumlah fasilitas kesehatan tingkat pertama yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan pun
meningkat dari 16.831 per 30 Juni 2014 menjadi 17.419 per 31 Agustus 2014. Rinciannya 9.768
puskesmas, 3.590 dokter praktik per orangan, 1.890 klinik pratama, 1.327 klinik TNI/Polri dan
836 dokter gigi praktik mandiri dan 8 RS D Pratama.
Di tingkat faskes rujukan, lanjut Tono, penambahan terjadi dari 1.551 per 30 Juni 2014 menjadi
1.574 faskes rujukan. Hal itu mencakup 18 RS pemerintah kelas A, 135 RS pemerintah kelas B,

294 RS pemerintah kelas C, 158 RS pemerintah kelas D, 127 RS Khusus, 34 RS Khusus Jiwa,
602 RS swasta, 103 RS TNI, 40 RS Polri, dan 63 klinik utama.
"Hingga 31 Agustus 2014, BPJS Kesehatan telah bekerjasama dengan faskes penunjang yang
meliputi 1.359 apotek dan 801 optikal," ujar Tono Rustiano menandaskan. (TW)
Angka Kebutaan di Indonesia Masih Tinggi

Angka kebutaan di Indonesia masih relatif tinggi. Hasil riset kesehatan dasar 2013, angka
kebutaan di Indonesia mencapai 0.6 persen, dan 35 persen di antaranya kebutaan permanen.
Dengan angka tersebut, kesehatan mata di Indonesia masih merupakan masalah sosial yang
membutuhkan penanganan dari semua pihak.
"Angka kebutaan di Indonesia masih lebih tinggi dari Singapura dan Thailand yang sudah di
bawah 0,5 persen. Tapi jika dibanding tahun 1990-an, dengan angka kebutaan mencapai 1,47
persen, kita sudah menurun sangat signifikan," kata Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM, Prof
dr Suhardjo SU SpM(K), Selasa ( 28/10/2014).
Lebih lanjut Suhardjo menuturkan, penyebab kebutaan terbanyak berturut-turut adalah katarak,
kebutaan kornea, glaukoma dan retinopati. Untuk menurunkan angka kebutaan, lanjut Suharjo,
pelayanan pemeriksaan kesehatan mata sebaiknya ada di tingkat pusat pelayanan primer, yakni
puskesmas. Hal ini juga sejalan dengan berlakunya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
"Sayangnya, gagasan itu belum bisa dilaksanakan karena puskesmas belum siap. Ketersediaan
paramedis mata yang terampil belum ada. Paramedis yang ada saat ini masih umum. Oleh karena
itu, ke depan dibutuhkan pengembangan profesi paramedis khusus mata yang nantinya akan
ditempatkan di pusat pelayanan primer," imbuhnya.
Selain masalah ketersediaan tenaga paramedis, menurut Suharjo, persoalan pembiayaan juga
merupakan masalah dalam upaya menekan angka kebutaan di Indonesia.

Tahap Pertama, 1 Juta Kartu Indonesia Sehat, Pintar, dan Keluarga Sejahtera akan
Dibagikan

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani memastikan


sekitar 1 juta kartu Indonesia Sehat, Indonesia Pintar, dan Kartu Keluarga Sejahtera akan
dibagikan dalam tahap pertama. Puan menjanjikan 1 juta kartu tersebut bisa dibagikan pada
pekan pertama November hingga Desember.

"Peluncuran kartu Indonesia sehat dan pintar merupakan salah satu janji presiden dan wakil
presiden. Ini memang harus diluncurkan secepatnya dan jadi prioritas hingga bisa dinikmati
rakyat dan rakyat sejahtera," kata Puan di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Rabu (29/10/2014)
seusai mengikuti rapat dengan Wapres Jusuf Kalla dan sejumlah menteri lainnya.
Puan mengaku telah melaporkan persiapan peluncuran kartu tersebut kepada Wapres Jusuf Kalla.
Menurut Puan, kartu ini akan diluncurkan pada 7 November dan diberkan kepada keluarga pra
sejahtera yang belum mendapatkan fasilitas jaminan kesehatan masyarakat.
Politisi PDI-Perjuangan ini juga menyampaikan bahwa program Kartu Indonesia Sehat, Pintar,
dan Keluarga Sejahtera tidak akan tumpang tindih dengan program jaminan kesehatan nasional
(JKN) yang diluncurkan pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Program Kartu Indonesia Sehat ini, menurut Puan, justru akan melengkapi JKN.
"Ada pengobatan penyakit yang bertambah yang tadinya tidak di-cover Jamkesmas," kata Puan.
Dengan Kartu Indonesia Sehat, kata dia, bukan hanya warga yang sakit yang mendapatkan
pelayanan kesehatan. Kartu ini juga mengakomodasi pencegahan penyakit. Mengenai anggaran
untuk 1 juta kartu tersebut, Puan mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan koordinasi
dengan kementerian terkait, termasuk Kementerian Keuangan.
Dalam rapat dengan Wapres hari ini, kata dia, Menteri Keuangan menyampaikan bahwa
anggaran untuk peluncuran kartu Indonesia sehat, Indonesia pintar, dan keluarga sejahtera sudah
disetujui DPR.
"Dari mana ini kita akan bicara lebih detil lagi dengan Kemenkeu, kita akan bicara dengan
menteri pendidikan, menteri kesehatan, mengenai anggaran, teknisnya di kementerian terkait,"
ucap dia.
sumber: http://nasional.kompas.com

Berikut 5 Isu Strategis Kesehatan 2015-2019


Selasa, 1 April 2014 - 13:54 wib |

Qalbinur Nawawi - Okezone

Browser anda tidak mendukung iFrame

Menteri Kesehatan (Foto:Dok/Okezone)

RAKERKESNAS 2014 menghasilkan lima isu strategis kesehatan tahun 2015


sampai 2019. Salah satu isinya adalah meningkatkan status gizi, dari orang yang
kurang gizi sampai kelebihan gizi (obesitas).
Menteri Kesehatan Republik Indonesia dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, menjelaskan
bahwa ada lima isu strategis kesehatan yang lahir dalam Rakerkesnas 2014 tahun
ini. Isu pertama, bagaimana meningkatkan status kesehatan rakyat Indonesia pada
setiap tahap kehidupan, mulai dari bayi hingga lansia.
"Status gizi dimana itu tentu harus kita cegah, dari yang kurang gizi maupun
kelebihan gizi. Gimana caranya rakyat punya status gizi optimal, inilah pentingnya
Rakerkesnas 2014 ini," katanya dalam acara yang bertema Konferensi Pers
Rakerkesnasi 2014: Pemantapan Pembangunan Kesehatan Menuju Masyarakat
Sehat, Mandiri, dan Berkeadilan, di Hotel Bidakara, R. Birawa Lt.1,Jakarta Selatan,
Selasa, (1/4/2014)
Isu ketiga, lanjut dia, mengenai penyakit menular dan penyakit tidak menular. Yang
keempat, pembangunan sistem kesehatan nasional Jaminan Kesehatan agar lebih
optimal.
"Yang sering dikeluhkan masyarakat mengenai JKN itu kan karena mereka kurang
mengetahui dan juga salah intrepretasi dalam JKN. Jadi kita akan mengsosialisakan
lagi agar semua masyarakat Indonesia benar-benar bisa memahami," terangnya.
Dan isu kelima ialah meningkatkan akses pelayanan kesehatan. Jadi semua
diharapkan merata sehingga tiap rakyat bisa mengakses pelayanan kesehatan yang
komprehensif," ucap Menkes.

Menkes juga berharap adanya isu strategis bisa mempercepat peningkatan


pembangunan kesehatan di seluruh Indonesia di masa depan.

"Saat ini, tarif pengobatan mata dalam BPJS relatif rendah. Semua pembiayaan kebanyakan
disamaratakan. Padahal untuk beberapa kasus, butuh peralatan dan obat-obatan yang tidak
murah," paparnya.
Berbagai persoalan kesehatan mata tersebut akan dibahas dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan ke39 Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia yang akan diselenggarakan di Yogyakarta pada 1
November 2014 mendatang.
sumber: http://regional.kompas.com

ISU-ISU TERKINI YANG DIBAHAS


DALAM PRA RAKER BADAN LITBANG
KESEHATAN
published by humas on Tue, 03/04/2014 - 15:33
Sinkronisasi pelaksanaan program dan kegiatan 2014 serta persiapan penyusunan perencanaan
program dan kegiatan tahun 2015 dilaksanakan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
(Litbangkes) pada Pra Rapat Kerja (Pra Raker) dan Rapat Kerja (Raker) Badan Litbangkes, hari
Senin Jumat, tanggal 3 7 Maret 2014, di Swissbel Hotel, Jalan Kartini Raya No. 57, Jakarta.
Pra Raker dilaksanakan tanggal 3 4 Maret 2014, sedangkan Raker tanggal 5 7 Maret 2014.
Acara ini dibuka oleh Sekretaris Badan
Litbangkes, Ria Sukarno, SKM, MCN.
Materi yang diangkat pada Pra Raker
adalah Sosialisasi Jaminan Kesehatan
Nasional, Sosialisasi Undang-Undang No.
5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil
Negara (ASN), dan Sosialisasi PP No. 53
Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai, PP
46 Tahun 2011 tentang SKP & Permenkes
No. 83 Tahun 2013 tentang Tunjangan
Kinerja.

Pada tanggal 4 Maret, acara dilanjutkan dengan diskusi kelompok, terbagi dalam 5 kelompok
diskusi, untuk membahas tentang :
1. Perencanaan penelitian strategis nasional
2. Perencanaan Renstra tahun 2015 2019 dan Output 2015
3. Perencanaan Sarana dan Prasarana Kantor, BMN, PNBP serta Tata Naskah Dinas
4. Perencanaan Roadmap JFU dan SKP
5. Perencanaan Pengelolaan LPB
Kemudian dilanjutkan dengan penyusunan hasil diskusi dan paparan pleno oleh masing-masing
kelompok.
Pelayanan Kesehatan Dasar di Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK)

PontianakMasalah Kesehatan di Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan secara umum


tidak berbeda dengan daerah lainnya. Pelayanan kesehatan di DTPK menjadi lebih sulit karena
keterbatasan akses akibat kondisi georafi dan iklim yang menyebabkan keterbatasan sarana
prasarana pelayanan kesehatan maka akses masyarakat ke sarana pelayanan kesehatan rendah,
minat tenaga kesehatan rendah, dll. Khususnya didaerah perbatasan dengan negara tetangga
terdapat masalah kesehatan yang berhubungan dengan mobilitas penduduk/barang.

Beberapa program khusus yang telah dikembangkan unit utama di lingkungan Kementerian
Kesehatan dalam mendukung pelayanan kesehatan di DTPK antara lain: a. Pendayagunan
Tenaga Kesehatan di DTPK berupa peningkatan ketersediaan, pemerataan dan kualitas SDM. b.
Peningkatan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan di DTPK misal : Rumah Sakit Bergerak,
pelayanan dokter terbang, pelayanan perairan c. Dukungan Pembiayaan Kesehatan seperti
Jamkesmas, BOK, DAK, TP dan Jampersal, Bantuan Sosial d. Dukungan Peningkatan Akses
Pelayanan berupa pengadaan perbekalan, obat dan alat kesehatan e. Pemberdayaan masyarakat
di DTPK melalui kegiatan Posyandu, Desa Siaga, Tanaman Obat Keluarga serta kegiatan PHBS.
f. Kerjasama antar Kementerian Kesehatan dengan Kementerian Lainnya g. Dan berbagai
program lainnya.

Penyusunan Peta Pola Pelayanan Kesehatan di suatu wilayah sangat tergantung pada akses,
persebaran penduduk, pola penyakit, serta sarana dan prasarana pelayanan kesehatan. Dengan
adanya Peta Pola Pelayanan Kesehatan akan diketahui sarana prasarana, SDM yang diperlukan
untuk melakukan pelayanan yang efektif serta dapat mengembangkan sistem rujukan yang
sesuai dengan kebutuhan daerah setempat.
DTPK menjadi prioritas karena adanya disparitas antar wilayah DPTK dan Non DTPK, kondisi
geografi yang sulit ditempuh dan iklim/cuaca yang sering berubah, luas wilyah DTPK yang
sangat besar, status kesehatan masyarakat yang masih rendah, sarana dan prasarana kesehatan
terbatas, terbatasnya jumlah, jenis dan mutu SDM kesehatan, pembiayaan kesehatan terbatas dan
tidak koordinir, sumber daya dan kekayaan alam DTPK yang besar untuk daerah perbatasan
terutama kedaulatan negara. Demikian sambutan Kepala Sub Direktorat Bina Pelayanan
Kesehatan di DTPK Direktorat Bina Upaya Kesehatan Dasar Ditjen Bina Upaya Kesehatan di
Pontianak tanggal 16 s/d 18 November 2011 dalam rangka sosialisasi dan advokasi pelayanan
kesehatan dasar di DTPK yang dihadiri oleh kantor pusat dan Plh.Kepala Dinas Kesehatan
Kalimantan Barat, 14 Kabupaten se Kalimantan Barat dan instansi terkait dengan DTPK.

Upaya terobosan bersama adalah berupa dukungan Kementerian/Lembaga dan Pemerintah


Daerah Terkait yaitu berupa dasar hukum yang jelas, perbaikan akses transportasi baik darat, laut
maupun udara, meningkatkan sarana pendukung umum berupa air bersih, listrik, keamanan dan
insentif baik finansial dan non finansial.
Sedangkan dukungan Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota adalah pola pelayanan di wilayah,
pembangunan sarana pelayanan kesehatan, pengadaan prasarana pendukung (alat dan sarana
transportasi serta komunikasi), pendayagunaan tenaga kesehatan. AZ (Humas).

Penyakit menular
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Wikipedia Indonesia tidak dapat bertanggung jawab dan tidak bisa menjamin
bahwa informasi kedokteran yang diberikan di halaman ini adalah benar.
Mintalah pendapat dari tenaga medis yang profesional sebelum melakukan pengobatan.

Dalam medis, penyakit menular atau penyakit infeksi adalah sebuah penyakit yang disebabkan
oleh sebuah agen biologi (seperti virus, bakteria atau parasit), bukan disebabkan faktor fisik
(seperti luka bakar) atau kimia (seperti keracunan). cara cara penularan penyakit: 1.Media
Langsung dari Orang ke Orang (Permukaan Kulit) Jenis Penyakit yang ditularkan antara lain:
1.Penyakit kelamin 2.Rabies 3. Trakoma 4. Skabies 5. Erisipelas 6. Antraks 7. Gas-gangren 8.
Infeksi luka aerobik 9. Penyakit pada kaki dan mulut Pada penyakit kelamin seperti GO, sifiis,
dan HIV, agen penyakit ditularkan langsung dan seorang yang infeksius ke orang lain melalui
hubungan intim. Cara memutuskan rantai penularannya adalah dengan mengobati penderita dan
tidak melakukan hubungan intim dengan pasangan bukan suami atau istri. Khusus untuk HIV,
jangan mempergunakan alat suntik bekas dan menggunakan darah donor penderita HIV. 2.
Melalui Media Udara Penyakit yang dapat ditularkan dan menyebar secara langsung maupun
tidak langsung melalui udara pernapasan disebut sebagai air borne disease. Jenis Penyakit yang
ditularkan antara lain: a. TBC Paru b. Varicella c. Difteri d. Influenza e. Variola f. Morbili g.
Meningitis h. Demam skarlet i. Mumps j. Rubella k. Pertussis Cara pencegahan penularan
penyakit antara lain memakai masker, menjauhi kontak serta mengobati penderita TBC yang
sputum BTA-nya positif. 3. Melalui Media Air Penyakit dapat menular dan menyebar secara
langsung maupun tidak langsung melalui air. Penyakit-penyakit yang ditularkan melalui air
disebut sebagai water borne disease atau water related disease. Agen Penyakit: 1. Virus : hepatitis
virus, poliomielitis 2. Baktcri : kolera, disentri, tifoid, diare 3. Protozoa : amubiasis, giardiasis 4.
Helmintik : askariasis, penyakit cacing cambuk, penyakit hidatid 5. Leptospira : penyakit Weil
Pejamu akuatik: 1. Bermultiplikasi di air :skistosomiasis (vektor keong) 2. Tidak
bermultiplikasi :Guineas worm dan fish tape worm (vektor cyclop) Penyakit-penyakit yang
berhubungan dengan air, dapat dibagi dalam empat kelompok menurut cara penularannya:a)
Water borne mechanisme Kuman patogen yang berada dalam air dapat menyebabkan penyakit
pada manusia, ditularkan melalui mulut atau sistem pencernaan. Contoh: kolera, tifoid, hepatitis
virus, disentri basiler dan poliomielitis. b) Water washed mechanisme jenis penyakit water
washed mechanism yang berkaitan dengan kebersihan individu dan umum dapat berupa: a.
Infeksi melalui alat pencernaan, seperti diare pada anak-anak. b. Infeksi melalui kulit dan mata,
seperti skabies dan trakoma. c. Penyakit melalui gigitan binatang pengerat, seperti Ieptospirosis.
c) Water based mechanisme jenis penyakit dengan agen penyakit yang menjalani sebagian siklus
hidupnya di dalam tubuh vektor atau sebagai pejamu intermediate yang hidup di dalam air.
Contoh: skistosomiasis, Dracunculus medinensis. d) Water related insect vector mechanisme
Jenis penyakit yang ditularkan melalui gigitan serangga yang berkembang biak di dalam air.
Contoh: filariasis, dengue, malaria, demam kuning (yellow fever). Cara pencegahan penularan
penyakit melalui media air atau makanan dapat dilakukan antara lain dengan cara: a. Penyakit

infeksi melalui saluran pencernaan, dapat dilakukan dengan cara Sanitation Barrier yaitu
memutus rantai penularan, seperti menyediakan air bersih, menutup makanan agar tidak
terkontaminasi oleh debu dan lalat, buang air besar dan membuang sampah tidak di sembarang
tempat. b. Penyakit infeksi yang ditularkan melalui kulit dan mata, dapat dicegah dengan higiene
personal yang baik dan tidak memakai peralatan orang lain seperti sapu tangan, handuk dan
lainnya, secara sembarangan. c. Penyakit infeksi lain yang berhubungan dengan air melalui
vektor seperti malaria dan demam berdarah dengue (DBD) dapat dicegah dengan pengendalian
vektor. 4. Melalui Media Vektor Penyakit Artbropod-borne diseases atau sering juga disebut
sebagai vector-borne diseases merupakan penyakit penting yang seringkali bersifat endemis
maupun epidemis dan sering menimbulkan bahaya kematian.
Infeksi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa

Infeksi adalah kolonalisasi yang dilakukan oleh spesies asing terhadap organisme inang, dan
bersifat pilang membahayakan inang. Organisme penginfeksi, atau patogen, menggunakan
sarana yang dimiliki inang untuk dapat memperbanyak diri, yang pada akhirnya merugikan
inang. Patogen mengganggu fungsi normal inang dan dapat berakibat pada luka kronik,
gangrene, kehilangan organ tubuh, dan bahkan kematian. Respons inang terhadap infeksi disebut
peradangan. Secara umum, patogen umumnya dikategorikan sebagai organisme mikroskopik,
walaupun sebenarnya definisinya lebih luas, mencakup bakteri, parasit, fungi, virus, prion, dan
viroid.
Simbiosis antara parasit dan inang, di mana satu pihak diuntungkan dan satu pihak dirugikan,
digolongkan sebagai parasitisme. Cabang kedokteran yang menitikberatkan infeksi dan patogen
adalah cabang penyakit infeksi.
Secara umum infeksi terbagi menjadi dua golongan besar:[1]

Infeksi yang terjadi karena terpapar oleh antigen dari luar tubuh

Infeksi yang terjadi karena difusi cairan tubuh atau jaringan, seperti virus HIV,
karena virus tersebut tidak dapat hidup di luar tubuh.

Daftar isi

1 Infeksi awal

2 Terpuruknya mekanisme sistem kekebalan


o

2.1 Variasi serotipe

2.1.1 Mutasi genetik

2.2 Fokus infeksi laten

2.3 Evolusi fitur

2.4 Perlawanan patogen

3 Fokus infeksi

4 Rujukan

Infeksi awal
Setelah menembus jaringan, patogen dapat berkembang pada di luar sel tubuh (ekstraselular)
atau menggunakan sel tubuh sebagai inangnya (intraselular). Patogen intraselular lebih lanjut
dapat diklasifikasikan lebih lanjut:

patogen yang berkembang biak dengan bebas di dalam sel, seperti : virus
dan beberapa bakteri (Chlamydia, Rickettsia, Listeria).

patogen yang berkembang biak di dalam vesikel, seperti Mycobacteria.

Jaringan yang tertembus dapat mengalami kerusakan oleh karena infeksi patogen, misalnya oleh
eksotoksin yang disekresi pada permukaan sel, atau sekresi endotoksin yang memicu sekresi
sitokina oleh makrofaga, dan mengakibatkan gejala-gejala lokal maupun sistemik.[2]

Terpuruknya mekanisme sistem kekebalan


Pada tahapan umum sebuah infeksi, antigen selalu akan memicu sistem kekebalan turunan, dan
kemudian sistem kekebalan tiruan pada saat akut. Tetapi lintasan infeksi tidak selalu demikian,
sistem kekebalan dapat gagal memadamkan infeksi, karena terjadi fokus infeksi berupa:[3]

subversi sistem kekebalan oleh patogen

kelainan bawaan yang disebabkan gen

tidak terkendalinya mekanisme sistem kekebalan

Perambatan perkembangan patogen bergantung pada kemampuan replikasi di dalam inangnya


dan kemudian menyebar ke dalam inang yang baru dengan proses infeksi. Untuk itu, patogen
diharuskan untuk berkembangbiak tanpa memicu sistem kekebalan, atau dengan kata lain,
patogen diharuskan untuk tidak menggerogoti inangnya terlalu cepat.
Patogen yang dapat bertahan hanya patogen yang telah mengembangkan mekanisme untuk
menghindari terpicunya sistem kekebalan.

Variasi serotipe

Salah satu cara yang digunakan patogen untuk menghindari sistem kekebalan adalah dengan
mengubah struktur permukaan selnya. Banyak patogen ekstraselular mempunyai tipe antigenik
yang sangat beragam. Salah satu contoh adalah streptococcus pneumoniae, penyebab pneumonia,
yang mempunyai banyak tipe antigenik dan baru diketahui 84 macam. Setiap macam mempunyai
stuktur pelapis polisakarida yang berbeda. Tipe-tipe tersebut dibedakan berdasarkan uji serologi,
sehingga disebut juga serotipe. Infeksi yang dilakukan oleh satu serotipe tertentu dapat memicu
sistem kekebalan tiruan terhadapnya, tetapi tidak terhadap infeksi ulang yang dilakukan oleh
serotipe yang berbeda, oleh karena sistem kekebalan tiruan melihat satu serotipe sebagai satu
jenis organisme yang berbeda. Infeksi akut berulang dari antigen yang sama dapat terjadi karena
hal ini.
Penggunaan kapsul pelindung yang mencegah lisis oleh sistem komplemen dan fagosit juga
dilakukan Mycobacterium tuberculosis. Spesies bacterioides umumnya bakteri komensal yang
berdiam di usus buntu mamalia. Beberapa spesies seperti Bacterioides fragilis adalah patogen
oportunistik penyebab infeksi pada lapisan peritoneum. Spesies ini menghindari sistem
kekebalan dengan memengaruhi pencerap yang digunakan fagosit untuk menelan bakteri atau
dengan menyamar sebagai sel organisme tersebut sehingga sistem kekebalan tidak mengenali
mereka sebagai patogen.
Bakteri dan jamur mungkin juga membentuk lapisan bio kompleks, menyediakan perlindungan
dari sel dan protein dari sistem kekebalan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa lapisan bio
muncul di infeksi yang berhasil, termasuk infeksi kronis Pseudomonas aeruginosa dan
Burkholderia cenocepacia, ciri utama dari cystic fibrosis.

Mutasi genetik

Deteksi trypanosome oleh antibodi akan memicu pergantian gen VSG pada DNA,
sehingga dihasilkan protein VSG yang berbeda pula. Tubuh kemudian akan
membuat antibodi baru dengan cara yang sama, tetapi setiap antibodi yang baru
dibuat mengenali trypanosome, gen VSG akan berubah lagi sebelum sistem
kekebalan terpicu. Dengan demikian trypanosome berada satu langkah lebih cepat
dari sistem kekebalan, sehingga meskipun berupa protozoa yang berkembangbiak
ekstraselular, fokus infeksinya bersifat kronik dan membentuk kompleks imun dan
peradangan, hingga berakhir pada kerusakan saraf dan koma. Hal ini yang
menyebabkan African trypanosomiasis mendapatkan julukan penyakit "tidur".
Malaria adalah contoh lain penyakit yang disebabkan parasit protozoa dengan
kemampuan tata-ulang DNA, yang sangat sulit diatasi oleh sistem kekebalan.

Metode kedua yang lebih dinamis ditunjukkan oleh virus influensa. Virus influensa dikenali oleh
sistem kekebalan melalui hemaglutinin yang terdapat pada permukaan virus.

Mutasi genetik yang pertama disebut antigenic drift yang mengubah notasi
gen ekspresi dari hemaglutinin, sebagai respon dari protein yang berada
pada permukaan, neuraminidase. Mutasi yang lain mengubah epitop agar
tidak dikenali oleh sel T, khususnya yang mempunyai pencerap CD8. [4]

Mutasi genetik yang kedua disebut antigenic shift yang terjadi karena
tertukarnya RNA antara virus baru dengan virus yang telah lama berada
dalam tubuh inang.

Mekanisme ketiga melibatkan tata-ulang DNA terprogram. African


trypanosome mempunyai kemampuan untuk mengubah major surface
antigen berkali-kali dengan satu kali infeksi. Trypanosome terbalut sebuah
tipe glikoprotein yang disebut variant-specific glycoprotein (VSG), yang
dengan mudah dapat dikenali oleh sistem kekebalan. Meskipun demikian,
DNA trypanosome mengandung lebih dari 1000 gen VSG dengan ekspresi
antigenik yang berlainan.

Pada tingkat bakteri, kemampuan tata-ulang DNA juga dijumpai pada


Salmonella typhimurium dan Neisseria gonorrhoeae.

Fokus infeksi laten

Dalam fisiologi, laten didefinisikan sebagai jedah waktu antara stimulus dan respon yang terpicu
di dalam suatu organisme. Virus umumnya segera akan mengkoordinir sintesis protein viral yang
dibutuhkan untuk proliferasi, setelah berhasil melakukan infeksi terhadap sebuah sel. Mekanisme
semacam ini akan mengakibatkan kondisi akut yang akan segera direspon oleh sistem kekebalan
tiruan. Sel T akan dengan mudah memindai fragmen dari protein viral yang tertera pada
permukaan molekul MHC dan memadamkan infeksi.
Meskipun demikian, masih terdapat jenis virus yang lain yang mampu menunda proses sintesis
protein viral di dalam sel. Kondisi ini disebut kondisi laten, saat tidak terjadi replikasi virus di
dalam sel. Infeksi laten tidak menimbulkan penyakit dan keberadaan virus tidak terdeteksi oleh
karena tidak terdapat fragmen viral pada molekul MHC. Salah satu contoh adalah virus Herpes
Simplex, yang melakukan infeksi epitelia dengan fokus berupa sel saraf di daerah tersebut.
Setelah sistem kekebalan mengatasi infeksi pada epitelia, virus HS tetap berada dalam kondisi
laten di dalam neuron saraf. Beberapa faktor seperti sinar matahari, infeksi bakteri dan
perubahan hormonal akan mengaktivasi virus ini untuk bermigrasi melalui akson dan melakukan
infeksi ulang pada jaringan epitelial. Fokus infeksi berupa neuron memiliki dua keunggulan:

peptida viral yang dihasilkan sangat sedikit, menghasilkan fragmen yang


tidak menyolok

neuron mempunyai molekul MHC kelas I, yang kecil, sehingga sulit dideteksi
sel T CD8.

Contoh lain adalah virus Epstein-Barr (EBV), sebuah tipe virus herpes yang lain, memiliki
kondisi laten di dalam sel B. Proliferasi sel B akan menghasilkan sel baru dengan EBV di
dalamnya.
Evolusi fitur

Beberapa bakteri yang biasanya dicerna oleh makrofaga dengan proses fagositosis, telah
berevolusi dan berhasil membuat makrofaga sebagai fokus infeksi. Salah satu contoh adalah
Mycobacterium tuberculosis yang tertelan oleh makrofaga, akan menghalangi pencairan lisosom
ke dalam fagosom dan melindunginya dari sitokina di dalam lisosom.
Listeria monocytogenes, bahkan dapat keluar dari fagosom dan masuk ke dalam sitoplasma dan
membuat replikasi di dalamnya. Kemudian menginfeksi sel yang berdekatan, tanpa keluar dari
ruang intraselularnya.
Sebuah parasit protozoa toxoplasma gondii, dapat membuat vesikel sendiri yang memisahkannya
dari bagian sel yang lain. Hal ini memungkinkan T. gondii untuk membuat peptida dengan
fragmen yang tidak termuat pada molekul MHC, sehingga keberadaannya tidak terdeteksi sistem
kekebalan.
Perlawanan patogen

Staphylococci aureus, salah satu penyebab mastitis pada ternak sapi. Kapsul yang
besar melindung organisme ini dari sistem kekebalan sapi, sebagai inangnya. Citra
ini diambil dengan 50.000x pembesaran dari substrat replikasi yang kering dan
beku.

Respon patogen dalam menghadapi sistem kekebalan juga berlainan. Selain dengan berbagai
cara untuk menghindar, beberapa patogen melakukan perlawanan. Staphylococci aureus

melepaskan dua macam toksin yaitu staphylococcal enterotoxin dan toxic shock syndrome toxin1 yang berperan sebagai superantigen.

Superantigen adalah protein yang mengikat sejumlah pencerap


antigen dari sel T. Ikatan ini menyebabkan sel T mengalamai apoptosis
dengan sangat cepat.

Organisme lain seperti Streptococcus pyogenes, dan Bacillus anthracis memiliki mekanisme
untuk membunuh langsung fagosit.
Banyak patogen melakukan perlawanan dalam rentang waktu infeksi akut. Hal merupakan
tekanan terhadap sistem kekebalan (bahasa Inggris: immunosuppression) dan menyebabkan
tubuh inang menjadi rentan terhadap infeksi susulan oleh patogen jenis lain. Contoh-contoh
penting meliputi trauma, luka bakar dan operasi bedah besar. Pasien dengan luka bakar tidak
dapat merespon infeksi, sehingga infeksi ringan pun dapat menyebabkan kematian.
Infeksi virus measles juga merupakan salah satu contoh tekanan terhadap sistem kekebalan.
Banyak anak-anak yang menderita malnutrisi menjadi korban, hingga meninggal dunia, karena
infeksi susulan pada saat sistem kekebalan tertekan oleh infeksi virus measles. Infeksi susulan
biasanya berupa bakteri penyebab pneumonia. Virus measles mempunyai fokus infeksi pada sel
dendritik sehingga memengaruhi kinerja sel T dan sel B dalam sistem kekebalan, dan aktivasi
makrofaga oleh sel TH1.

Fokus infeksi
Salah satu contoh terbaik dari topik ini adalah fokus infeksi yang dimiliki oleh virus HIV, berupa
putusnya mata rantai sistem kekebalan selular[5] karena padamnya kemampuan sel T CD4 untuk
teraktivasi dan terdiferensiasi menjadi sel T pembantu. Terputusnya mata rantai tersebut terjadi
perlahan tanpa memantik sistem kekebalan oleh sebab sifat laten retrovirus. Sejumlah kecil PSK
Gambia dan Kenya yang selalu terpapar infeksi HIV selama 5 tahun melalui fluida reproduksi[6][7]
justru menunjukkan respon kekebalan tiruan sel T CD8 dan sel TH1[8] yang merespon berbagai
macam epitop HIV tanpa disertai respon antibodi.
Selain itu, modus yang digunakan oleh virus HIV adalah pemotongan jalur informasi selular
dengan menempel pada pencerap kemokina CCR5 dan CXCR4, selain pada CD4.[9] Pencerap
CCR5 merupakan ekspresi dari sel dendritik, makrofaga dan sel T CD4. Ekspresi CXCR4 adalah
pencerap pada sel T CD4 setelah teraktivasi.
Kompetisi pada area pencerap CCR5 oleh sekresi kemokina RANTES, MIP-1, and MIP-1
menunjukkan respon kekebalan terhadap infeksi HIV.[10]
Mikrobiologi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa
Rangkaian dari

Sains
Sains formal[tampilkan]
Sains fisik[tampilkan]
Sains kehidupan[tampilkan]
Ilmu sosial[tampilkan]
Ilmu terapan[tampilkan]
Interdisipliner[tampilkan]

Portal
Kategori

Mikrobiologi adalah sebuah cabang dari ilmu biologi yang mempelajari mikroorganisme.[1]
Objek kajiannya biasanya adalah semua makhluk (hidup) yang perlu dilihat dengan mikroskop,
khususnya bakteri, fungi, alga mikroskopik, protozoa, dan Archaea. Virus sering juga
dimasukkan walaupun sebenarnya tidak sepenuhnya dapat dianggap sebagai makhluk hidup.[2]
Mikrobiologi dimulai sejak ditemukannya mikroskop dan menjadi bidang yang sangat penting
dalam biologi setelah Louis Pasteur dapat menjelaskan proses fermentasi anggur (wine) dan

membuat vaksin rabies[2] Perkembangan biologi yang pesat pada abad ke-19 terutama dialami
pada bidang ini dan memberikan landasan bagi terbukanya bidang penting lain: biokimia.
Penerapan mikrobiologi pada masa kini masuk berbagai bidang dan tidak dapat dipisahkan dari
cabang lain karena diperlukan juga dalam bidang farmasi, kedokteran, pertanian, ilmu gizi,
teknik kimia, bahkan hingga astrobiologi dan arkeologi.[1]

Daftar isi

1 Sejarah Perkembangan Mikrobiologi


o

1.1 Era Robert Hooke dan Antoni van Leeuwenhoek

1.2 Era Pasteur

1.3 Era Robert Koch

1.4 Era Mikrobiologi Umum

1.4.1 Martinus Beijerinck dan Teknik Kultur Pengkayaan

1.4.2 Sergei Winogradsky dan Konsep Kemolitotrofi

2 Mikrobiologi Modern

3 Istilah yang dipakai pada anti mikroorganisme

4 Mekanisme kerja dari zat anti mikroorganisme

5 Faktor - faktor yang memengaruhi resistensi mikroorganisme terhadap Zat zat Antimikroorganisme

6 Referensi

7 Lihat pula

Sejarah Perkembangan Mikrobiologi

Ilustrasi dari mikroskop yang digunakan oleh Robert Hooke pada tahun 1664. Lensa
objektif dipasang di ujung tuas pengatur (G), dengan fokus pada spesimen
menggunakan lensa tunggal (1)
Era Robert Hooke dan Antoni van Leeuwenhoek

Robert Hooke (1635-1703) adalah matematikawan, sejarawan alam, dan ahli mikroskopi asal
Inggris.[2] Dalam bukunya yang terkenal, Micrographia (1665), Hooke mengilustrasikan struktur
badan buah dari suatu jenis kapang[2] Ini adalah deskripsi pertama tentang mikroorganisme yang
dipublikasikan.[2]

Wajah Antoni van Leewenhoek diabadikan dalam prangko di Belanda pada tahun
1937

Orang pertama yang melihat bakteri adalah Antoni van Leeuwenhoek (1632-1723), seorang
pembuat mikroskop amatir berkebangsaan Belanda.[2] Pada tahun 1684, van Leeuwenhoek
menggunakan mikroskop yang sangat kecil hasil karyanya sendiri untuk mengamati berbagai
mikroorganisme dalam bahan alam.[2] Mikroskop yang digunakan Leeuwenhoek kala itu berupa
kaca pembesar tunggal berbentuk bikonveks dengan spesimen yang diletakkan di antara sudut
apertura kecil pada penahan logam.[3] Alat itu dipegang dekat dengan mata dan objek yang ada di
sisi lain lensa disesuaikan untuk mendapatkan fokus[3]. Dengan alat itulah, Leewenhoek

mendapatkan kontras yang sesuai antara bakteri yang mengambang dengan latar belakang
sehingga dapat dilihat dan dibedakan dengan jelas[3]. Beliau menemukan bakteri pada tahun 1676
saat mempelajari infusi lada dan air (pepper-water infusion).[2]Van Leeuwenhoek melaporkan
temuannya itu lewat surat pada Royal Society of London, yang dipublikasikan dalam bahasa
Inggris pada tahun 1684.[2] Ilustrasi van Leewenhoek tentang mikroorganisme temuannya dikenal
dengan nama "wee animalcules".[2]
Era Pasteur

Skema percobaan Pasteur

Bertahun-tahun setelahnya, banyak observasi lain yang menegaskan hasil pengamatan van
Leeuwenhoek, namun peningkatan tentang pemahaman sifat dan keuntungan mikroorganisme
berjalan sangat lambat sampai 150 tahun berikutnya.[2] Baru di abad ke 19, yaitu setelah produksi
mikroskop meningkat pesat, barulah keingintahuan manusia akan mikroorganisme mulai
berkembang lagi.[2] Louis Pasteur dikenal luas karena berhasil menumbangkan teori Generatio
Spontanea, organisme hidup terjadi begitu saja.[2] Percobaan Pasteur menggunakan kaldu yang
disterilkan dan labu leher angsa membuktikan tentang adanya mikroorganisme.[2]
Era Robert Koch

Sejak abad ke-16, telah diketahui bahwa ada suatu agen penyebab penyakit yang dapat
menularkan penyakit.[2] Setelah penemuannya, dipercaya bahwa mikroorganisme adalah agen
yang dimaksud, namun belum ada pernah ada bukti.[2] Robert Koch (1842-1910), seorang dokter
berkebangsaan Jerman adalah orang pertama yang menemukan konsep hubungan antara penyakit
menular dan mikroorganisme dengan menyertakan bukti eksperimental.[4][2] Konsep yang
dikemukan oleh Koch dikenal sebagai Postulat Koch dan kini menjadi standar emas penentuan
penyakit menular. [2]

Era Mikrobiologi Umum

Mikrobiologi umum merujuk pada aspek mikrobiologi non medis.[2] Dua raksasa yang dikenal
pada era ini adalah Beijerinck dan Winogradsky.[2] Keduanya memulai aspek mikrobiologi
lingkungan [5]
Martinus Beijerinck dan Teknik Kultur Pengkayaan

Martinus Beijerinck (1851-1931) adalah profesor berkebangsaan Belanda yang berkontribusi


besar terhadap teknik kultur pengkayaan.[2] Pada teknik ini, mikroorganisme diisolasi dari alam
dan ditumbuhkan di laboratorium dengan memanipulasi nutrisi dan kondisi inkubasinya.[2]
Dengan menggunakan teknik ini, Beijerinck berhasil mengisolasi kultur murni berbagai
mikroorganisme air dan tanah untuk pertama kalinya.[2] alfian
Sergei Winogradsky dan Konsep Kemolitotrof

Pekerjaan Sergei Winogradsky (1856-1953), asal Rusia, mirip dengan yang dilakukan Beijerinck,
namun beliau mendalami bakteri yang terlibat dalam siklus nitrogen dan siklus sulfur.[2] Konsep
kemolitotrofi yang dicetuskannya berkaitan dengan adanya hubungan antara oksidasi senyawa
anorganik dengan konservasi energi.[2] Dengan menggunakan teknik pengkayaan, Winogradsky
berhasil mengisioalsi bakteri pengikat nitrogen, Clostridium pasteurianum yang bersifat anaerob,
dan sebagai cikal bakal konsep fiksasi nitrogen.[2]

Mikrobiologi Modern

Seorang pekerja di laboratorium sedang mengamati pertumbuhan bakteri pada


cawan petri

Memasuki abad ke-20, mulai berkembang dua cabang mikrobiologi yang masih saling
berhubungan: mikrobiologi dasar (basic) dan mikrobiologi teraplikasi (applied).[2] Mikrobiologi
dasar mengacu pada penemuan-penemuan baru di bidang ini.[2] Sedangkan mikrobiologi
teraplikasi mengacu pada aspek pemecahan masalah (problem solving) yang berhubungan
dengan bidang ini.[2] Sejak ditemukannya konsep tentang DNA maka bidang mikrobiologi pun
memasuki era molekuler.[2] Keberhasilan sekuensing DNA berhasil mengungkap hubungan
filogenetik (evolusi) di antara berbagai jenis bakteri.[2]

Istilah yang dipakai pada anti mikroorganisme


Bakteriostatik : Kemampuan menghambat perkembangbiakan bakteri temporer. [6] Jadi pada saat
zat ini tidak ada, bakteri dapat berkembangbiak kembali
Bakterisidal : Bahan kimia yang mematikan bakteri secara permanen. [6] Disinfektan : Bahan bahan kimia yang digunakan untuk mematikan mikroorganisme patogen yang ada pada benda
mati. [6]
Steril : Bebas dari kehidupan mikroorganisme patogen. [7] Septik : Adanya bakteri patogen di
dalam jaringan hidup yang dalam suatu proses infeksi.[8]

Mekanisme kerja dari zat anti mikroorganisme


1. Perusakan DNA
2. Denaturasi protein
3. Gangguan pada gugus Sulfhidirl
4. Antagonisme kimiawi
5. perusakan pada dinding sel bakteri

Faktor - faktor yang memengaruhi resistensi mikroorganisme


terhadap Zat - zat Antimikroorganisme
1. Unsur - unsur Fisik, yang meliputi :
1. Panas
2. Penyinaran oleh sinar uv
3. pendinginan pada suhu yang standar
2. Unsur - unsur kimia, yang meliputi :

1. Alkohol
2. Ion logam berat
3. Detergen
4. Oksidator

Kisahku.
ZAMAN SUDAH BERUBAH, SAATNYA MELEK

STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG KESEHATAN


Posted on September 14, 2013 by abdulahramli

Standar pelayanan minimal atau biasa disingkat SPM adalah standar pelayanan minimal yang
harus didapatkan oleh masyarakat dan menjadi program yang ditetapkan oleh pemerintah pusat
dan pelaksanaanya diwajibkan kepada pemerintah daerah sesuai dengan sumber daya dan
kemampuan daerah
Tahun 2013 ditetapkan 18 indikator SPM yaitu :
1. Cakupan kunjungan ibu hamil K4 target 88%
2. Cakupan kompllikasi kebidanan yang ditangani target 73%
3. Pertolongan persalinan oleh bidan atau nakes yang mempunyai kompetensi kebidanan target
88%
4. Cakupan pelayanan nifas target 88%
5. Cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani target 70%
6. Cakupan kunjungan bayi target 86%
7. Cakupan kelurahan/desa Uci target 90%
8. Cakupan pelayanan anak balita 81%
9. Cakupan pemberian MPAsi pada anak usia 6 sampai 24 bulan keluarga miskin target 100%
10. Cakupan penderita gizi buruk mendapatkan perawatan target 100%
11. Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan sederajat target 100%
12. Cakupan peserta KB aktif target 63%
13. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit AFP, pneumonia balita, TB paru,
DBD dan Diare
14. Cakupan yankesdas masyarakat miskin target 100%
15. Cakupan pelayanan kesehatan rujukan masyarakat miskin
16. Cakupan pelayanan Gadar level 1 yg harus diberikan sarana kesehatan kabupaten/kota
17. Cakupan kelurahan/ desa mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan epidemiologi 24
jam trget 100%
18. Cakupan desa siaga aktif target 100%

Apabila kita cermati lebih jauh dari 18 indikator SPM seperti yang saya sebutkan diatas maka
bisa dipastikan bahwa 17 indikator adalah merupakan beban dan tanggung jawab sarana
pelayanan kesehatan strata 1 yaitu puskesmas kecuali indikator nomor 17 (pelayanan gawat
darurat RS). Oleh karena itu Puskesmas dituntut secara profesional melakukan kerjasama luntas
program dan lintas sektor demi pencapaian target SPM dengan kata lain SPM adalah kitab suci
Puskesmas yang harus benar benar dilaksanakan
Penting dilakukan evaluasi terhadap pencapaian SPM Puskesmas, dimana masih banyak
ditemukan mis pengertian tentang juknis SPM dibeberapa puskesmas yang menyebabkan
kesalahan data yang sepele antara lain proyeksi jumlah penduduk, bahkan banyak ditemukan
Puskesmas yang pencapaian targetnya tidak wajar hingga 200 % dan seterusnya yang tentu
menjadi pertanyaan apakah informasi itu benar atau kesalahan teknis manajemen Puskesmas
Posted from WordPress for Android

Penggolongan Obat
Ilmu Farmasi : Penggolongan Obat Berdasarkan Peraturan Menteri
Kesehatan

Lihat Artikel lain terkait, dengan klik :


PENGGOLONGAN OBAT LENGKAP : penggolongan berdasarkan banyak aspek
KLASIFIKASI OBAT : obat generik, mitu, obat paten, nama dagang, wajib apotek,
eselsial, dll
PENGGOLONGAN OBAT TRADISIONAL : Jamu, obat herbal terstandar (OHT) dan
fitofarmaka
PENGGOLONGAN NARKOTIKA : golongan I, golongan II dan golongan III
Obat adalah bahan atau panduan bahanbahan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau
menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan,
penyembuhan,pemulihan,peningkatankesehatandankontrasepsi.(UndangUndangKesehatanNo.23

tahun

1992).
Sesuai Permenkes No.917/MENKES/PER/X/1993 tentang WajibDaftarObatJadi. yangdimaksud
dengan golongan obat adalah penggolongan yang dimaksudkan untuk peningkatan keamanan dan
ketetapanpenggunaansertapengamanandistribusiyangterdiridariobatbebas,obatbebasterbatas,
obat wajib apotek (obat keras yang dapat diperoleh tanpa resep dokter diapotek, diserahkan oleh
apoteker), obatkeras,psikotropikadannarkotika. Untukobatyangdapatdiperolehtanparesepdokter
makapadakemasandanetiketnyaterteratandakhusus.
Penggolongan Jenis Obat berdasarkan berbagai undang undang dan peraturan
menteri kesehatan dibagi menjadi :

1. Obat Bebas

Obat bebas sering juga disebut OTC (Over The Counter) adalah obat yang dijual
bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa resep dokter. Tanda khusus pada kemasan
dan etiket obat bebas adalah lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam.
Contoh
:
Parasetamol,
Obat bebas ini dapat diperoleh di toko/warung, toko obat, dan apotik.

vitamin

2. Obat Bebas Terbatas (Daftar W: Warschuwing)

Obat bebas terbatas adalah obat yang sebenarnya termasuk obat keras tetapi
masih dapat dijual atau dibeli bebas tanpa resep dokter, dan disertai dengan tanda
peringatan. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas terbatas adalah
lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam. disertai tanda peringatan dalam
kemasannya:
P1.
Awas!
Obat
Keras.
Bacalah
Aturan
Memakainya.
P2.
Awas!
Obat
Keras.
Hanya
untuk
kumur,
jangan
ditelan
P3.
Awas!
Obat
Keras.
Hanya
untuk
bagian
luar
dan
badan.
P4.
Awas!
Obat
Keras.
Hanya
Untuk
Dibakar.
P5.
Awas!
Obat
Keras.
Tidak
Boleh
Ditelan.
P6. Awas! Obat Keras. Obat Wasir, jangan ditelan.

Contoh
obat
:
CTM,
Antimo,
noza
Obat bebas terbatas dan obat bebas disebut juga OTC (over the counter)
Obat bebas terbatas ini dapat diperoleh di toko obat, dan apotik tanpa resep dokter.

3. Obat Keras (Daftar G : Gevarlijk : berbahaya)

Obat keras adalah obat yang hanya dapat dibeli di apotek dengan resep dokter.
Tanda khusus pada kemasan dan etiket adalah huruf K dalam lingkaran merah
dengan garis tepi berwarna hitam.
Contoh : Asam Mefenamat,semuaobatantibiotik(ampisilin,tetrasiklin,sefalosporin,penisilin,
dll), serta obatobatan yang mengandung hormon (obat diabetes, obat penenang, dll)
Obat keras ini dapat diperoleh di apotik, harus dengan resep dokter.
4.

Obat Psikotropika

dan Narkotika (Daftar

O)

a.
Psikotropika
Obat psikotropika adalah obat keras baik alamiah maupun sintetis bukan narkotik,
yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang
menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.
Contoh
:
Diazepam,
Phenobarbital,
ekstasi,
sabu-sabu
Obat psikotropika ini dapat diperoleh di apotik, harus dengan resep dokter.

b. Narkotika

Obat narkotika adalah obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik
sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan
menimbulkan ketergantungan.
Contoh
:
Narkotika digolongkan menjadi 3 golongan :

Morfin,

Petidin

Narkotika golongan I
Contohnya : Tanaman Papaver Somniferum L kecuali bijinya, Opium mentah, Opium
masak, candu, jicing, jicingko, Tanaman koka, Daun koka, Kokain mentah, dll

Narkotika golongan II
Contohnya : Alfasetilmetadol, Alfameprodina, Alfametadol, Alfaprodina, dll

Narkotika golongan III


Contohnya : Asetildihidrokodeina, Dekstropropoksifena, Dihidrokodeina, Etilmorfina, dll
Obat narkotika ini dapat diperoleh di apotik, harus dengan resep dokter

Lebih jelasnya lihat 5 artikel Narkotika, Penggolongan Narkotika, dan Narkotika


golongan I, II, III dan UU Narkotika No. 35 thn 2009 di : LABEL NARKOTIKA

Sumber: Depkes RI (2006) Bina kefarmasian dan kemendiknas RI, Farmasetika


dasar, IMO dll
Baca Lagi Artikel Lain, Sedot Ilmunya :
Dunia Obat

Tamoksifen dan Vincristine

Interferon alfa dan Metotrexate

Gimcetabine dan Ifosfamide

Flutamid dan Gefitinib

Epirubisin HCl dan Erlotinib

Doksorubisina HCl dan Dosetaksel

Bleomisina dan Bortezomide

Cisplatin dan Etoposide

Busulfan dan Carboplatin

Captopril

NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA


Senyawa bahan alam atau senyawa kimia yang bersumber dari alam (ramuan yang
berasal dari tanaman, bagian dari hewan dan dari mineral anorganik)

dapat

dipergunakan sebagai obat. Obat pada prinsipnya pemberian senyawa kimia yang
berasal dari alam dan berpengaruh positif terhadap penyembuhan suatu penyakit.
Demikian pula dengan narkotika dan psikotropika, apabila digunakan secara benar dan
sesuai dengan petunjuk dokter maka dapat digunakan sebagai obat.

Pengertian narkotika menurut Undang Undang Nomor 22 tahun 1997 tentang


Narkotika Pasal 1, yaitu zat atau obat yang berasal dari tanaman baik sintetis
maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan
dapat menimbulkan ketergantungan.

Sedangkan yang dimaksud ketergantungan

narkotika menurut UU tersebut adalah gejala dorongan untuk menggunakan


narkotika secara terus menerus, toleransi dan gejala putus narkotika apabila
penggunaan dihentikan.
Narkotik berarti segala bahan kecuali makanan, air dan oksigen, yang jika
masuk ke dalam tubuh akan mengubah fungsinya secara fisik atau psikologis. Istilah
narkotik mencakup berbagai jenis bahan sebagai berikut.
-

obat terlarang, seperti kafeina, tembakau dan alkohol

obat yang dapat dibeli di apotek atau pasar swalayan, seperti analgesik, misal
aspirin, kodin dan parasetamol serta obat anti-radang non-steroid

obat resep seperti obat penenang, missal Valium, Rohypnol dan Serepax

obat terlarang, seperti ganja, heroin, halusinogen dan amfetamina

bahan lain yang disalahgunakan, seperti pelarut dan bensin.


Istilah narkotik dalam pengobatan merujuk kepada bahan candu dan

turunannya atau bahan sintetik yang bertindak seperti candu. Berdasarkan definisi
tersebut maka bahan narkotik hanya boleh digunakan dalam bidang pengobatan,
yaitu sebagai sejenis obat penahan sakit. Misalnya, akibat patah tulang ataupun
pada saat pembedahan. Penggunaan narkotik selain untuk tujuan pengobatan,
dikatakan sebagai penyalahgunaan.

1. Zat Narkotik

Senyawa kimia yang ada pada berbagai bagian tanaman yang bersifat narkotik
berupa alkaloid atau glikosida. Beberapa tanaman juga diduga mengandung
aprodisiac/senyawa kimia untuk dapat mengkhayal, misalnya tanaman kecubung
(Solanum sp, Argemon sp) mengandung alkaloid paradin (terdapat pada biji dan daging
buah, khasiatnya sama dengan opium asli), daun ganja atau Papaver somniferum L
atau P. album, Mill, keluarga Papavera ceae. Senyawa alkaloid terbesar tetap morfin
10 - 16%, noscapine 4 - 8%, codeine 0,8 2,5%, papaverine 0,5 2,5%, tebaine 0,5
2,0% dan lainnya, semuanya tidak kurang dari 20 jenis. Senyawa kokain, suatu
alkaloid pada daun Erythroxylon coca Lam dan Erythroxylon spp lainnya, juga bersifat
narkotik.

2. Sumber Zat Narkotik


Semula sumber bahan narkotik adalah pohon popi Papaver somniferum.
Apabila buah popi muda disadap (menggores) maka akan mengeluarkan getah
(sejenis alkaloid) berwarna putih dan dinamai "Lates" Getah ini dibiarkan
mengering pada permukaan buah sehingga berwarna coklat kehitaman dan
sesudah diolah akan menjadi suatu adonan yang menyerupai aspal lunak. Inilah
yang dinamakan candu mentah atau candu kasar. Candu kasar mengandung
bermacam-macam zat-zat aktif yang sering disalahgunakan. Candu mentah ini
juga dapat diperoleh dalam bentuk cair, padat atau serbuk. Saat ini candu
mentah ini juga dapat dihasilkan secara sintetik dengan cara mengeluarkan
alkaloid tersebut dari pohon popi tua yang kering. Candu dapat menghasilkan
sedikitnya dua kelompok alkaloid. Pertama bahan seperti morfin dan kodeina,
dan kelompok kedua yaitu bahan yang terdiri dari papaverin dan noskapin.
Kelompok kedua ini tidak banyak memberi dampak pada otak dibandingkan
dengan narkotik kelompok pertama khususnya morfin.
Morfin merupakan bahan dasar awal dari alkaloid ini, untuk dapat dimanfaatkan
sebesar-besarnya untuk pengobatan. Sebagai bahan dasar morfin, dapat disintesis
bahan narkotik baru yang nilai pengobatannya lebih baik dari bahan dasarnya. Sintesis
kimia ini mencakup menambah gugus-gugus yang akan menembah bioaktifitasnya,
misalnya dengan menambahkan gugus metil, asetil, metoksi ataupun bentuk ester
berbagai asam organik karboksilat. Demikian pula berbagai derivat dari kokain sebagai
bahan dasar untuk sintesis kimia. Bahan dasar kokain terdapat pada ekstrak daun
Erythraxyloncoca lain dan Erythroxylon spp lainnya.

3. Jenis Narkotik
Jenis-jenis narkotik umumnya dapat dibagi dalam tiga jenis, yaitu: jenis
semula jadi (morfin dan kodeina); separuh-tiruan (heroin dan hidromorfon), dan
tiruan (meperidin, metadon).
a. Morfin
Morfin adalah hasil olahan dari opium/candu mentah. Morfin merupakan
Alkaloida utama dari opium ( C17H19NO3 ) . Morfin rasanya pahit, berbentuk
tepung halus berwarna putih atau dalam bentuk cairan

b. Kodeina
Kodeina termasuk garam/turunan dari opium/candu. Efek kodeina lebih
lemah daripada heroin, dan potensinya untuk menimbulkan ketergantungan
rendah. Biasanya dijual dalam bentuk pil atau cairan jernih. Cara
pemakaiannya ditelan dan disuntikkan
c. Heroin ( putaw )
Heroin mempunyai kekuatan yang dua kali lebih kuat dari morfin dan
merupakan jenis opiat yang paling sering disalahgunakan orang di Indonesia
pada akhir-akhir ini. Heroin, yang secara farmakologis mirip dengan morfin
menyebabkan orang menjadi mengantuk dan perubahan mood yang tidak
menentu. Walaupun pembuatan, penjualan dan pemilikan heroin adalah
ilegal, tetapi diusahakan heroin tetap tersedia bagi pasien dengan penyakit
kanker terminal karena efek analgesik dan euforik-nya yang baik.

d. Hidromorfon

Hidomorfon juga ialah sejenis narkotik separa-tiruan yang diperbuat daripada


morfin. Kegunaan perubatannya agak banyak dan oleh itu mudah
disalahgunakan. Ia didapati dalam bentuk tablet dan cair.
e. Meperidin
Meperidin ataupun petidin adalah narkotik tiruan sepenuhnya. Ia diperbuat
keseluruhannya dalam makmal dengan tujuan menggantikan kegunaan
morfin. Ini kerana ia boleh mengurangkan kesan buruk berbanding morfin,
khususnya kesan tolerans dan pergantungan. Meperidin juga boleh berfungsi
menahan sakit dan didapati dalam bentuk pil serta cecair. Meperidin masih
mempunyai kesan tolerans dan pergantungan jika digunakan berpanjangan
dan meluas.
f.

Methadon
Saat

ini

Methadone

banyak

digunakan

orang

dalam

pengobatan

ketergantungan opioid. Antagonis opioid telah dibuat untuk mengobati


overdosis opioid dan ketergantungan opioid. Sejumlah besar narkotik sintetik
(opioid) telah dibuat, termasuk meperidine (Demerol), methadone (Dolphine),
pentazocine (Talwin), dan propocyphene (Darvon). Kelas obat tersebut
adalah nalaxone (Narcan), naltrxone (Trexan), nalorphine, levalorphane, dan
apomorphine. Sejumlah senyawa dengan aktivitas campuran agonis dan
antagonis telah disintesis, dan senyawa tersebut adalah pentazocine,
butorphanol (Stadol), dan buprenorphine (Buprenex). Beberapa penelitian
telah menemukan bahwa buprenorphine adalah suatu pengobatan yang
efektif untuk ketergantungan opioid. Nama popoler jenis opioid : putauw, etep,
PT, putih.

Jenis narkotik lain yang perlu diketahui yaitu demerol. Nama lain dari
Demerol adalah pethidina. Pemakaiannya dapat ditelan atau dengan suntikan.
Demerol dijual dalam bentuk pil dan cairan tidak berwarna.

4. Pengaruh Narkotik terhadap Kesehatan


Narkotik sifatnya yang membius tentunya mengurangi rasa sakit dan dikendalikan
dari syaraf otak. Sifat pasrah tanpa berbuat sesuatu, tanpa pedulikan sekitarnya,
bahkan melukai dirinya sendiri tidak merasa sakit. Sifat ini sangat berbahaya, bila
kecanduannya sudah memuncak maka tidak segan-segan mengambil darahnya sendiri
yang mengandung morfin untuk disuntikkan kembali atau disuntikkan ke orang lain
yang juga kecanduan. Hal tersebut dapat menyebabkan tertularnya penyakit antar
pengguna narkotik. Sifat kecanduan ini juga berpengaruh pada kinerjanya sebagai
anggota masyarakat.
Sifat kecanduan yang berlebihan dapat berakibat memperoleh bahan
narkotik dengan membeli berapapun harga dan jumlahnya. Untuk memperoleh
uang

pembeli

narkotik,

tidak

membunuh, dan melakukan

segan-segan

untuk

mencuri,

merampas,

tindakan kriminal lainnya. Tindakan kriminal

merupakan bagian masyarakat yang tidak sehat dan perlu dicegah serta
diberantas keberadaanya.

5. Penanggulangan Ketergantungan Narkotik


Hal pertama yang harus dicegah dari ketergantungannya pada narkotik dalam hal
ini morfin yaitu dilakukan secara perlahan-lahan dan di bawah pengawasan dokter.
Pembinaan mental dan spiritual tentang kehidupan yang normal agar diperoleh

ketenangan hidup yang hakiki sangat perlu dilakukan. Pendekatan kekeluargaan dan
tidak mengucilkan dalam lingkungan keluarga akan lebih baik daripada diasingkan.
Jauhkan dari pergaulan yang membawa ke jaringan yang menjerumuskan.

a.

Peranan sekolah dalam mendukung pelajar yang menghadapi risiko


penyalahgunaan narkotik
Lingkungan sekolah mempunyai pengaruh yang penting dalam hidup anakanak. Ikhtisar mata pelajaran Personal Development Health and Physical
Education (PDHPE) menjelaskan konteks kurikulum untuk pendidikan
tentang narkotik, yang difokuskan terutama pada analgesik, tembakau,
alkohol, dan ganja, karena jenis narkotik tersebut dari hasil penelitian
menunjukkan sebagai penyebab bahaya yang terbesar bagi kaum muda
Indonesian
Sekolah mempunyai peranan penting dalam mengurangi risiko masalah
penggunaan narkotik oleh siswa melalui penerapan program pendidikan yang
efektif tentang narkotik dan program kesejahteraan siswa. Sekolah dapat
menganjurkan semangat gotong royong dan memberikan peluang kepada
semua siswa untuk sukses dengan mewujudkan lingkungan belajar yang
aman, nyaman dan memberi cukup dukungan. Siswa yang menghadapi
risiko terbesar dalam penyalahgunaan narkotik mungkin mereka yang terkucil
di sekolah karena masalah dalam pelajaran atau kekurangan pengalaman
yang sukses.
Sekolah mendukung para siswa dengan cara :
-

membentuk perilaku yang positif dan mempedulikan keadaan siswa


menyediakan program, struktur dan kurikulum yang relevan untuk
kebutuhan dan aspirasi siswa

menyediakan akses kepada jasa dukungan sekolah dan personel yang


relevan seperti konselor sekolah, dan

menghubungkan para siswa dan keluarga siswa dengan jasa dukungan


masyarakat yang sesuai.

b. Peranan orang tua dalam pendidikan narkotik


Orang tua sebagai pendidik anak di rumah memainkan peranan yang
penting dalam pendidikan tentang penggunaan narkotik. Oleh karena itu,
anak-anak di rumah banyak dipengaruhi oleh teladan orang tua. Perlu
kesadaran, tanggung jawab, perhatian dan kerjasama dari orang tua
tentang kebijakan dan aturan-aturan sekolah, bagaimana pendidikan
tentang narkotika disampaikan dan bagaimana peristiwa yang melibatkan
narkotika dikendalikan di sekolah. Sekolah perlu berkoordinasi dengan
orang tua dalam masyarakat sekolah tentang segala aspek pendidikan
narkotik.

Psikotropika menurut Pasal 1, Undang-Undang Nomor 5 tahun 1997 tentang


psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika,
yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang
menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku."
Zat/obat yang dapat menurunkan aktivitas otak atau merangsang susunan
syaraf pusat dan menimbulkan kelainan perilaku, disertai dengan timbulnya
halusinasi (mengkhayal), ilusi, gangguan cara berpikir, perubahan alam perasaan

dan dapat menyebabkan ketergantungan serta mempunyai efek stimulasi


(merangsang) bagi para pemakainya.
Pemakaian Psikotropika yang berlangsung lama tanpa pengawasan dan
pembatasan pejabat kesehatan dapat menimbulkan dampak yang lebih buruk, tidak
saja menyebabkan ketergantungan bahkan juga menimbulkan berbagai macam
penyakit serta kelainan fisik maupun psikis si pemakai, tidak jarang bahkan
menimbulkan kematian.
Menurut Pasal 4 UU ini, psikotropika hanya dapat digunakan untuk
kepentingan pelayanan kesehatan dan/ atau ilmu pengetahuan. Psikotropika
golongan I hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan. Selain
penggunaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), psikotropika golongan I
dinyatakan sebagai barang terlarang.
Psikotropika terbagi dalam empat golongan yaitu:
-

Psikotropika golongan I

Psikotropika golongan II,

Psikotropika golongan III dan

Psikotropika golongan IV.

Psikotropika yang sekarang sedang populer dan banyak disalahgunakan adalah


psikotropika golongan I, diantaranya yang dikenal dengan Ecstasi dan psikotropik
golongan II yang dikenal dengan nama Shabu-shabu.
Psikotropika apabila dilihat dari pengaruh penggunaannya terhadap susunan
saraf pusat manusia, maka dapat dikelompokkan menjadi:

Depresant yaitu yang bekerja mengendorkan atau mengurangi aktifitas susunan


saraf pusat (Psikotropika golongan 4), contohnya antara lain : Sedatin/Pil BK,
Rohypnol, Magadon, Valium, Mandrak (MX).

Stimulant yaitu yang bekerja mengaktif kerja susan saraf pusat, contohnya
amphetamine, MDMA, N-etil MDA & MMDA. Ketiganya ini terdapat dalam
kandungan Ecstasi.

Hallusinogen yaitu yang bekerja menimbulkan rasa perasaan halusinasi atau


khayalan contohnya licercik acid dhietilamide (LSD), psylocibine, micraline.
Disamping itu Psikotropika dipergunakan karena sulitnya mencari Narkotika dan
mahal harganya. Penggunaan Psikotropika biasanya dicampur dengan alkohol
atau minuman lain seperti air mineral, sehingga menimbulkan efek yang sama
dengan Narkotika.

1. Zat Kimia Bersifat Psikotropika


Obat-obat analgesic, antipiretik ataupun antireumatik, bila dilarutkan
dalam etanol konsentrasi tinggi akan bersifat psikotropika. Kita kenal
dengan pesta shabu-shabu, dimana mereka meminum obat-obat
psikotropika bercampur alkohol. Berbeda dengan narkotik, sifatnya
menyendiri dan tidak dalam berhalusinasi berat.

2. Sumber Zat Bersifat Psikotropika


Umumnya obat sintetis atau jarang berasal dari tanaman/hewan.
Pencampurannya dengan soda dan pelarut alkohol kinerja psikotropika
berjalan baik. Kesadaran berkelompok untuk obat ini sangat menonjol dan
mampunyai keberanian yang luar biasa dari keadaan normal.

3. Pengaruh Zat Psikotropika Terhadap Kesehatan dan Penanggulangannya.

Pencampuran obat-obat sintesis dengan alkohol sangat merusak


kejiwaan (psikis) maupun saluran pencernaan yang sangat penting bagi
kesehatan. Penanggulangan terhadap ketergantungan pada obat
psikotropika, sebetulnya lebih mudah, tetapi karena kesukaan akan
berkelompok, maka isolasi dari kelompok tersebut sangat penting, disamping
pengurangan terhadap penggunaan obat psikotropika. Semua ini harus tetap
dibawah pengawasan dokter. Pembinaan mental dan spiritual tetap harus
dilakukan karena termasuk penyakit kejiwaan.

Berikut akan dijelaskan dua jenis psikotropika yang sedang populer dan banyak
disalahgunakan yaitu Ecstasi dan Shabu-shabu.

Ecstasy
Ecstasy (XTC) mempunyai rumus kimia 3-4-Methylene-Dioxy-MethilAmphetamine (MDMA). XTC mulai bereaksi setelah 20 sampai 60 menit setelah
diminum. Efeknya berlangsung maksimum 1 jam. Seluruh tubuh akan terasa
melayang. Kadang-kadang lengan, kaki dan rahang terasa kaku, serta mulut
rasanya kering. Pupil mata membesar dan jantung berdegup lebih kencang.
Mungkin pula akan timbul rasa mual. Bisa juga pada awalnya timbul kesulitan
bernafas (untuk itu diperlukan sedikit udara segar). Jenis reaksi fisik tersebut
biasanya tidak terlalu lama. Selebihnya akan timbul perasaan seolah-olah kita
menjadi hebat dalam segala hal dan segala perasaan malu menjadi hilang.
Kepala terasa kosong, rileks dan "asyik". Dalam keadaan seperti ini, kita merasa
membutuhkan teman mengobrol, teman bercermin, dan juga untuk menceritakan
hal-hal rahasia. Semua perasaan itu akan berangsur-angsur menghilang dalam
waktu 4 sampai 6 jam. Setelah itu kita akan merasa sangat lelah dan tertekan.
Ecstacy merupakan sediaan farmasi berupa obat yang mengandung zat
aktif berupa senyawa-senyawa turunan amphetamin yang secara umum bersifat
stimulan.

Nama lain estacy yaitu: EVA, ADAM, MDM, INEX, GOLONG-

GOLONG, I, dan lain-lain. Jenis dan bentuk estacy yang masuk ke Indonesia,

yaitu bentuk: tablet (yang paling banyak beredar di Indonesia), kapsul, lem dan
tissue. Adapun jenis estacy yang ditemukan beredar di Indonesia yaitu: STAR,
MELON, PINGUIN, RN, BON JOVI, DOLAR, PINK, LUMBA-LUMBA, ELECTRIC,
KANGURU, APPLE, E, TURBO, APACHE, PETIR, dan
BLACK LOVE

Shabu-shabu
Shabu-shabu berbentuk kristal, biasanya berwarna putih, dan dikonsumsi
dengan cara membakarnya di atas aluminium foil sehingga mengalir dari ujung
satu ke arah ujung yang lain. Kemudian asap yang ditimbulkannya dihirup
dengan sebuah Bong (sejenis pipa yang didalamnya berisi air). Air Bong tersebut
berfungsi sebagai filter karena asap tersaring pada waktu melewati air tersebut.
Ada sebagian pemakai yang memilih membakar Sabu dengan pipa kaca karena
takut efek jangka panjang yang mungkin ditimbulkan aluminium foil yang
terhirup.
Sabu sering dikeluhkan sebagai penyebab paranoid (rasa takut yang
berlebihan), menjadi sangat sensitif (mudah tersinggung), terlebih bagi mereka
yang sering tidak berpikir positif, dan halusinasi visual. Masing-masing pemakai
mengalami efek tersebut dalam kadar yang berbeda. Selain itu, pengguna Sabu
sering mempunyai kecenderungan untuk memakai dalam jumlah banyak dalam
satu sesi dan sukar berhenti kecuali jika shabu yang dimilikinya habis. Hal itu
juga merupakan suatu tindakan bodoh dan sia-sia mengingat efek yang
diinginkan tidak lagi bertambah.

Yang dimaksud bahan berbahaya lainnya adalah zat, bahan kimia dan biologi,
baik dalam bentuk tunggal maupun campuran yang dapat membahayakan
kesehatan dan lingkungan hidup secara langsung atau tidak langsung yang
mempunyai sifat karsinogenik, teratogenik, mutagenik, korosif dan iritasi. Bahan
berbahaya ini adalah zat adiktif yang bukan Narkotika dan Psikotropika atau Zat-zat
baru hasil olahan manusia yang menyebabkan kecanduan.

1. Nikotin
Nikotin adalah obat yang bersifat adiktif, sama seperti kokain dan heroin.
Bentuk nikotin yang paling umum adalah tembakau, yang dihisap dalam bentuk
rokok, cerutu, dan pipa. Tembakau juga dapat digunakan sebagai tembakau
sedotan dan dikunyah (tembakau tanpa asap). Walaupun kampanye tentang
bahaya merokok sudah menyebutkan betapa berbahayanya merokok bagi
kesehatan tetapi pada kenyataannya sampai saat ini masih banyak orang yang
terus merokok. Hal ini membuktikan bahwa sifat adiktif dari nikotin adalah sangat
kuat.
Secara perilaku, efek stimulasi dari nikotin menyebabkan peningkatan
perhatian, belajar, waktu reaksi, dan kemampuan untuk memecahkan masalah.
Menghisap

rokok

meningkatkan

mood,

menurunkan

ketegangan

dan

menghilangkan perasaan depresif. Pemaparan nikotin dalam jangka pendek


meningkatkan aliran darah serebral tanpa mengubah metabolisme oksigen
serebral, tetapi pemaparan jangka panjang akan disertai dengan penurunan
aliran darah serebral. Berbeda dengan efek stimulasinya pada sistem saraf
pusat, bertindak sebagai relaksan otot skeletal. Komponen psikoaktif dari
tembakau adalah nikotin. Nikotin adalah zat kimia yang sangat toksik. Dosis 60
mg pada orang dewasa dapat mematikan, karena paralisis ( kegagalan )
pernafasan.

2. Volatile Solvent atau Inhalansia


a. Volatile Solvent
Volatile solvent adalah zat adiktif dalam bentuk cair. Zat ini mudah menguap.
Penyalahgunaannya adalah dengan cara dihirup melalui hidung. Cara
penggunaan seperti ini disebut inhalasi. Zat adiktif ini antara lain lem UHU,
cairan pencampur Tip Ex (Thinner), aceton untuk pembersih warna kuku dan
Cat tembok, aica aibon dan Castol, serta premix.
b. Inhalansia :
Zat inhalan tersedia secara legal, tidak mahal dan mudah didapatkan. Oleh
sebab itu banyak ditemukan dan digunakan oleh kalangan sosial ekonomi
rendah. Contoh spesifik dari inhalan adalah bensin, vernis, cairan pemantik
api, lem, semen karet, cairan pembersih, cat semprot, semir sepatu, cairan
koreksi mesin tik ( tip-Ex ), perekat kayu, bahan pembakarm aerosol,
pengencer cat. Inhalan biasanya dilepaskan ke dalam paru-paru dengan
menggunakan suatu tabung.
Dalam dosis awal yang kecil inhalan dapat menginhibisi dan menyebabkan
perasaan

euforia,

kegembiraan,

dan

sensasi

mengambang

yang

menyenangkan. Gejala psikologis lain pada dosis tinggi dapat merupa rasa
ketakutan, ilusi sensorik, halusinasi auditoris dan visual, dan distorsi ukuran
tubuh.

Gejala

neurologis

dapat

termasuk

bicara

yang

tidak

jelas

(menggumam, penurunan kecepatan bicara, dan ataksia ). Penggunaan


dalam waktu lama dapat menyebabkan iritabilitas, labilitas emosi dan
gangguan ingatan.
Efek merugikan yang paling serius adalah kematian yang disebabkan karena
depresi pernafasan, aritmia jantung, asfiksiasi, aspirasi muntah atau
kecelakaan atau cedera. Penggunaan inhalan dalam jangka waktu lama

dapat menyebabkan kerusakan hati dan ginjal yang ireversibel dan


kerusakan otot yang permanen.

3. Zat Desainer
Zat Desainer adalah zat-zat yang dibuat oleh ahli obat jalanan.

Mereka membuat obat-obat itu secara rahasia karena dilarang oleh


pemerintah. Obat-obat itu dibuat tanpa memperhatikan kesehatan. Mereka
hanya memikirkan uang dan secara sengaja membiarkan para pembelinya
kecanduan dan menderita. Zat-zat ini banyak yang sudah beredar dengan
nama speed ball, peace pills, crystal, angel dust rocket fuel dan lain-lain.

Pencegahan Demam Berdarah Melalui Metode Pemberantasan Sarang Nyamuk


(PSN)
Published on 18 August 2014 by Candra Wiguna

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) telah dikenal di Indonesia sebagai penyakit yang
endemis terutama bagi anak-anak. Di Indonesia DBD timbul sebagai wabah untuk pertama
kalinya di Surabaya pada tahun 1968. Sampai saat ini DBD dilaporkan dari 26 propinsi dan telah
menyebar dari daerah perkotaan ke daerah pedesaan dan selama tahun 1974 sampai 1982
dilaporkan sebanyak 3500-7800 kasus dengan Case Fatality Rate 3.9%. Penyebab penyakit ini
ialah virus Dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegepty sebagai faktor utama,
disamping nyamuk Aedes albopictus.
Wabah penyakit demam berdarah yang sering terjadi di berbagai daerah di Indonesia di beberapa
tahun yang lalu perlu mendapat perhatian. Begitu pula vektor Aedes aegepty yang terdapat baik
di daerah pedesaan maupun perkotaan memberi risiko timbulnya wabah penyakit di masa akan
datang. Untuk mengatasi masalah penyakit demam berdarah di Indonesia telah puluhan tahun
dilakukan berbagai upaya pemberantasan vektor, tetapi hasilnya belum optimal. Kejadian luar
biasa (KLB) masih sering terjadi secara teoritis ada empat cara untuk memutuskan rantai
penularan DBD ialah melenyapkan virus, isolasi penderita, mencegah gigitan nyamuk (vektor)
dan penggalian vektor. Untuk pengendalian vektor dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara

kimia dan pengelolaan lingkungan, salah satunya dengan cara pemberantasan sarang nyamuk
(PSN).
Demam Berdarah Dengue

1. Definisi Demam Berdarah Dengue


Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang akut yang disebabkan oleh virus
dengue dan disebarkan oleh nyamuk yaitu nyamuk Aedes aegypti betina.
2. Penyebab Demam Berdarah Dengue
Penyakit DBD disebabkan oleh Virus Dengue dengan tipe DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4.
Virus tersebut termausk dalam group B Arthropod borne viruses (ARBOVIRUSES). Keempat
virus tersebut telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia antara lain Jakarta dan
Yogyakarta. Virus yang banyak berkembang di masyarakat adalah virus dengue dengan tipe satu
dan tiga.
3. Gejala
Gejala pada penyakit demam berdarah diawali dengan:
1. Demam tinggi yang mendadak 2-7 hari (38oC 40oC).
2. Manifestasi pendarahan, dengan bentuk: uji tourniquet positif puspura
pendarahan, konjungtiva, epitaksis, melena, dsb.
3. Hepatomegali (pembesaran hati)
4. Syok, tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang, tekanan sitolik
sampai 80 mmHg atau lebih rendah.
5. Trombositopeni, pada hari ke 3-7 ditemukan penurunan trombosit sampai
100.000/mm.
6. Hemokonsentrasi, meningkatnya nilai hematokrit.
7. Gejala-gejala klinik lainnya yang dapat menyertai: anoreksia, lemah, mualmual, muntah, sakit perut, diare, kejang, dan sakit kepala.
8. Pendarahan pada hidung dan gusi.
9. Rasa sakit pada otot dan persendian, timbul bintik-bintik merah pada kulit
akibat pecahnya pembuluh darah.

4. Masa Inkubasi

Masa inkubasi terjadi selama 4-6 hari.


5. Penularan
Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti / Aedes albopictus betina yang
pada sebelumnya telah membawa virus dalam tubuhnya dari penderita demam berdarah lain.
Nyamuk aedes aegypti berasaldari Brasil dan Etiopia, dan sering menggigit manusia pada waktu
pagi dan siang.
Orang yang berisiko terkena demam berdarah adalah anak-anak yang berusia dibawah 15 tahun,
dan sebagian besar inggal di lingkungan lembab, serta daerah pinggiran kumuh. Penyakit DBD
sering terjadi di daerah tropis, dan muncul pada musim penghujan. Virus ini kemungkinan
muncul akibat pengaruh musim atau alam serta perilaku manusia.
6. Penyebaran
Kasus penyakit ini pertama kali ditemukan di Manila, Filipina pada tahun 1953. Kasus di
Indonesia pertama kali dilaporkan terjadi di Surabaya dan Jakarta dengan jumlah kematian
sebanyak 24 orang. Beberapa tahun kemudian penyakit ini menyebar ke beberapa propinsi si
Indonesia, dengan jumlah kasus sebagai berikut:

Tahun 1996 : Jumlah kasus 45.548 orang, dengan jumlah kematian sebanyak
1.234 orang.

Tahun 1998 : Jumlah kasus 72.133 orang, dengan jumlah kematian sebanyak
1.414 orang (terjadi ledakan).

Tahun 1999 : Jumlah kasus 21.134 orang.

Tahun 2000 : Jumlah kasus 33.443 orang.

Tahun 2001 : Jumlah kasus 45.904 orang.

Tahun 2002 : Jumlah kasus 40.377 orang.

Tahun 2003 : Jumlah kasus 50.131 orang.

Tahun 2004 : sampai tanggal 5 Maret 2004 jumlah kasus sudah mencapai
26.015 orang, dengan jumlah kematian sebanyak 389 orang.

Pencegahan Demam Berdarah Dengue

Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya, yaitu nyamuk aides
aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode
yang tepat baik secara lingkungan, biologis maupun secara kimiawi yaitu:

1. Lingkungan
Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan pemberantasan
sarang nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk
hasil samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain rumah.
PSN pada dasarnya merupakan pemberantasan jentik atau mencegah agar nyamuk tidak
berkembang tidak dapat berkembang biak. Pada dasarnya PNS ini dapat dilakukan dengan:

Menguras bak mandi dan tempat-tempat penampungan air sekurangkurangnya seminggu sekali,. Ini dilakukan atas dasar pertimbangan bahwa
perkembangan telur agar berkembang menjadi nyamuk adalah 7-10 hari.

Menutup rapat tempat penampungan air seperti tempayan, drum, dan


tempat air lain dengan tujuan agar nyamuk tidak dapat bertelur pada
tempat-tempat tersebut.

Mengganti air pada vas bunga dan tempat minum burung setidaknya
seminggu sekali.

Membersihkan pekarangan dan halaman rumah dari barang-barang bekas


terutama yang berpotensi menjadi tempat berkembangnya jentik-jentik
nyamuk, seperti sampah kaleng, botol pecah, dan ember plastik.

Munutup lubang-lubang pada pohon


menggunakan tanah.

Membersihkan air yang tergenang di atap rumah serta membersihkan


salurannya kembali jika salurannya tersumbat oleh sampah-sampah dari
daun.

terutama pohon

bambu dengan

2. Biologis
Pengendalian secara biologis adalah pengandalian perkambangan nyamuk dan jentiknya dengan
menggunakan hewan atau tumbuhan. seperti memelihara ikan cupang pada kolam atau
menambahkannya dengan bakteri Bt H-14
3. Kimiawi
Pengendalian secara kimiawi merupakan cara pengandalian serta pembasmian nyamuk serta
jentiknya dengan menggunakan bahan-bahan kimia. Cara pengendalian ini antara lain dengan:

Pengasapan/fogging dengan menggunakan malathion dan fenthion yang


berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan Aides aegypti sampai
batas tertentu.

Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air


seperti gentong air, vas bunga, kolam dan lain-lain.

Cara yang paling mudah namun efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan
mengkombinasikan cara-cara diatas yang sering kita sebut dengan istilah 3M plus yaitu dengan
menutup tempat penampungan air, menguras bak mandi dan tempat penampungan air sekurangkurangnya seminggu sekali serta menimbun sampah-sampah dan lubang-lubang pohon yang
berpotensi sebagai tempat perkembangan jentik-jentik nyamuk. Selain itu juga dapat dilakukan
dengan melakukan tindakan plus seperti memelihara ikan pemakan jentik-jentik nyamuk, menur
larvasida, menggunakan kelambu saat tidur, memasang kelabu, menyemprot dengan insektisida,
menggunakan repellent, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik nyamuk secara berkala serta
tindakan lain yang sesuai dengan kondisi setempat.
Pemberantasan Sarang Nyamuk

PSN merupakan tindakan untuk memutus mata rantai perkembangan nyamuk. Tindakan PSN
terdiri atas beberapa kegiatan antara lain:
1. 3 M
3M adalah tindakan yang dilakukan secara teratur untuk memberantas jentik dan menghindari
gigitan nyamuk Demam Berdarah dengan cara:
1. Menguras:
Menguras tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi, tempayan,
ember, vas bunga, tempat minum burung dan lain-lain seminggu sekali.
2. Menutup:
Menutup rapat semua tempat penampungan air seperti ember, gentong,
drum, dan lain-lain.
3. Mengubur:
Mengubur semua barang-barang bekas yang ada di sekitar rumah yang dapat
menampung air hujan.

2. Memelihara ikan pemakan jentik-jentik nyamuk


3. Cegah gigitan nyamuk dengan cara:
1. Membunuh jentik nyamuk Demam Berdarah di tempat air yang sulit dikuras
atau sulit air dengan menaburkan bubuk temephos (abate) atau altosoid 2-3
bulan sekali dengan takaran 1 gram abate untuk 10 liter air atau 2,5 gram
altosoid untuk 100 liter air. Abate dapat di peroleh/dibeli di Puskesmas atau di
apotek.
2. Mengusir nyamuk dengan obat anti nyamuk.

3. Mencegah gigitan nyamuk dengan memakai obat nyamuk gosok.


4. Memasang kawat kasa di jendela dan di ventilasi
5. Tidak membiasakan menggantung pakaian di dalam kamar.
6. Gunakan sarung kelambu waktu tidur.

7.

Indonesia bebas malaria 2030

8. Senin, 12 Mei 2014 20:37 WIB | 6.137 Views


9. Pewarta: Jimmy Ayal
10.

11. Hari Malaria Sedunia Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron Mukti (kiri) menyerahkan
paket bantuan kesehatan kepada Wakil Bupati Maluku Barat Daya Johanis Letelay saat
puncak Peringatan Hari Malaria Sedunia yang dipusatkan di Lapangan Merdeka, Ambon,
Maluku, Senin (12/5). (ANTARA FOTO/izaac mulyawan) ()
12. Ambon (ANTARA News) - Menteri Kesehatan RI Nafsiah Mboy menegaskan
pemerintah pusat menargetkan Indonesia bebas dari penyakit malaria pada 2030.
"Hingga awal 2014 terdapat 212 kabupaten/kota di 29 provinsi telah memenuhi syarat
untuk dinyatakan bebas penyakit malaria," kata Menkes Nafsiah Mboy dalam sambutan
tertulis dibacakan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Ali Ghufron Mukti pada puncak
peringatan Hari Kesehatan dan Malaria Se-dunia di Maluku, Senin.

Target ini juga, ujar Menteri, berlaku untuk kawasan Indonesia Timur khususnya di
Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua dan Papua Barat.
Diakuinya, lima provinsi di kawasan Timur Indonesia merupakan daerah endemis tinggi
penularan penyakit malaria, sehingga diperlukan kerja sama semua komponen untuk
menanggulanginya.
"Perlu kerja sama semua komponen masyarakat untuk memberantas penularan penyakir
Malaria di kawasan Timur Indonesia, sehingga target Indonesia bebas malaria pada 2030
dapat tercapai," katanya.
Dia mengakui kabupaten/kota di Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat dan NTT
belum termasuk dalam 212 kabupaten/kota yang telah dinyatakan memenuhi syarat bebas
malaria.
Dengan demikian diharapkan adanya kerja sama antara Gubernur bersama para Bupati
dan Wali Kota untuk menyelaraskan program pemberantasan penularan penyakit malaria
atau tular vektornya.
"Khusus di Maluku ada tiga penyakit tular vector yang merupakan masalah penting untuk
ditanggulangi yakni malaria, Deman Berdarah Dengue (DBD) dan Filariasis atau
penyakit kaki gajah," ujarnya.
Menurutnya, upaya pengendalian penyakit malaria dilaksanakan untuk mencapai bebas
malaria secara bertahap.
Kementrian Kesehatan sendiri telah membagi wilayah atau zona bebas dari penyakit
diatas berdasarkan standar pelayanan serta upaya yang telah dilakukan, di mana Maluku
ditargetkan bebas pada tahun 2030.
Untuk daerah endemis tinggi penularan malaria seperti Maluku dan Papua, Kementrian
Kesehatan telah menerapkan strategi akselerasi pengendalian dengan cakupan seluruh
wilayah.
Strategi ini mencakup pekan akselerasi pengendalian malaria terintegrasi, intensifikasi
pengobatan di semua fasilitas kesehatan serta penemuan kasus malaria secara aktif.
"Diharapkan semua strategi yang telah dilakukan ini berdampak mengatasi penularan
penyakit malaria di daerah endemis tinggi, terutama di kawasan timur," tandasnya.
(KR-JA/J007)
13. Editor: Tasrief Tarmizi
Indonesia Bebas Malaria 2030
By admin April 24, 2013 No comments
Kesehatan Tagged: Dompet Dhuafa, hari malaria, indonesia, Kesehatan, LKC

Peringatan Hari Malaria Sedunia yang jatuh pada


tanggal 25 April setiap tahunnya, masih menjadikan penyakit malaria sebagai salah satu masalah
kesehatan utama di banyak daerah tropis dan subtropis. Penyakit Malaria banyak terdapat di
daerah tropis, pola penyebarannya disebabkan oleh berbagai faktor antara lain seperti perubahan
lingkungan, vektor, sosial budaya masyarakat dan resistensi obat, selain itu juga karena
keterbatasan jangkauan pelayanan kesehatan di beberapa daerah.
Malaria Masalah Kesehatan
The World Malaria Report (2011) melaporkan bahwa setengah dari penduduk dunia berisiko
terkena malaria. Transmisi malaria di Indonesia juga masih terjadi, berdasarkan laporan riset
kesehatan dasar menunjukkan hingga tahun 2011, terdapat 374 kabupaten endemis malaria.
Pada 2011, jumlah kasus malaria di Indonesia terdata sebanyak 256.592 orang dari 1.322.451
kasus suspek malaria yang diperiksa sediaan darahnya. Dengan angka Annual Parasite
Insidence (API) 1,75 per seribu penduduk, artinya dalam setiap 1.000 penduduk di daerah
endemis terdapat 2 orang terkena malaria. Dampaknya sangat nyata terhadap penurunan kualitas
sumber daya manusia yang mengakibatkan berbagai masalah sosial, ekonomi bahkan
berpengaruh terhadap ketahanan nasional. Oleh karena itu malaria adalah satu di antara penyakit
yang menjadi target pemerintah untuk dieleminasi secara bertahap dan ditargetkan Indonesia
bebas malaria pada 2030.
Untuk mengeliminasi malaria, Indonesia telah melakukan berbagai upaya. Sejarah mencatat
melalui Komando Pembasmian Malaria (KOPEM) pada tahun 1950-an, telah berhasil yang
berhasil menurunkan jumlah kasus malaria secara bermakna khususnya di Pulau Jawa.
Selanjutnya karena pelaksanaan adanya keterbatasan dana, program ini terhenti pada 1969 dan
diubah secara bertahap menjadi upaya pemberantasan yang diintegrasikan ke dalam sistim
pelayanan kesehatan, seperti Puskesmas, Puskesmas Pembantu (Pustu), dan lain-lain.
Namun demikian, upaya penanggulangan malaria tidak berhasil optimal karena hanya
mengandalkan sektor kesehatan, padahal malaria adalah penyakit yang berkaitan dengan perilaku

manusia dan lingkungan. Oleh karena perlu melibatkan sektor lain yang turut berperan di dalam
epidemiologi malaria. Atas dasar inilah kemudian WHO meluncurkan gerakan intensifikasi
pengendalian malaria dengan kemitraan global, yang dikenal Roll Back Malaria
Initiative (RBMI) pada Oktober 1998.
Bentuk operasional RBMI di Indonesia dikenal dengan nama Gerakan Berantas Kembali
Malaria (Gebrak Malaria) yang telah dicanangkan oleh Menteri Kesehatan pada 8 April 2000
di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Jadi Gebrak Malaria merupakan upaya pemberantasan malaria
melalui kemitraan dengan seluruh komponen masyarakat. Lebih lanjut, Indonesia bertekad untuk
melakukan eliminasi malaria pada 2030, sesuai dengan Keputusan Menkes
No.293/Menkes/SK/IV/2009 tanggal 28 April 2009 tentang Eliminasi malaria di Indonesia.
Dalam laporan penyakit malaria yang dikeluarkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun
2012, berkat kerjasama antar lembaga donor di tahun 2010 Indonesia tercatat sudah
mengeluarkan biaya penanggulangan penyakit malaria lebih dari 45juta US$ baik yang berasal
dari dana pemerintah atau donor asing. Namun di tahun 2011 terjadi penurunan, hanya sekitar
22juta US$.
Tentang Malaria
Malaria dapat diderita baik laki-laki maupun perempuan serta pada semua golongan umur, dari
bayi sampai orang dewasa serta yang diserang umumnya masyarakat yang tinggal di pedesaan
dan tempat yang banyak genangan airnya.
Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit bernama Plasmodium dan ditularkan
melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi parasit tersebut. Di dalam tubuh manusia, parasit
Plasmodium akan berkembang biak di organ hati kemudian menginfeksi sel darah merah.
Penyakit ini paling banyak terjadi di daerah tropis dan subtropis di mana parasit Plasmodium
dapat berkembang baik begitu pula dengan vektor nyamuk Anopheles. Daerah selatan Sahara di
Afrika dan Papua Nugini di Oceania merupakan tempat-tempat dengan angka kejadian malaria
tertinggi.
Masa tunas / inkubasi penyakit malaria dapat terjadi beberapa hari sampai beberapa bulan
kemudian, barulah muncul tanda dan gejala yang dikeluhkan oleh pasien. Gejala awal yang
dialami oleh pasien malaria adalah demam menggigil secara berkala dan biasanya disertai
sakit kepala yang hebat, badan terasa lemah, mual-muntah dan tidak nafsu makan, kuning pada
mata, air kencing berwarna teh tua serta wajah pucat karena kurang darah. Apabila tidak
mendapatkan pengobatan yang adekuat, dapat terjadi kejang-kejang dan kehilangan kesadaran.
Namun demikian, gejala yang klasik muncul pada pasien malaria adalah adanya perasaan tibatiba kedinginan yang diikuti dengan kekakuan dan kemudian munculnya demam dan banyak

berkeringat setelah 4 sampai 6 jam kemudian, hal ini berlangsung tiap dua hari. Diantara masa
tersebut, mungkin penderita merasa sehat seperti sediakala.
Malaria digolongkan menjadi 4 jenis , yaitu, pertama, Malaria tertiana, disebabkan oleh
Plasmodium vivax, dimana pasien malaria merasakan demam muncul setiap hari ketiga dan
merupakan penyebab kira-kira 43% kasus penyakit malaria pada manusia. Kedua, Malaria
quartana, disebabkan oleh Plasmodium malariae, pasien malaria merasakan demam setiap hari
keempat dan menyebabkan kira-kira 7% penyakit malaria didunia.
Dan ketiga, Malaria tropica, disebabkan oleh Plasmodium falciparum serta merupakan
penyakit malaria yang paling berbahaya dan seringkali berakibat fatal. Jenis penyakit malaria
ini adalah yang terberat, karena dapat menyebabkan berbagai komplikasi berat
seperti cerebral malaria (malaria otak), anemia berat, syok, gagal ginjal akut, perdarahan, sesak
nafas, dll. Penderita penyakit malaria jenis ini mengalami demam tidak teratur dengan disertai
gejala terserangnya bagian otak, bahkan memasuki fase koma dan kematian yang mendadak.
Serta, keempat, Malaria pernisiosa, disebabkan oleh Plasmodium ovale. Penyakit malaria jenis
ini jarang sekali dijumpai, umumnya banyak di Afrika dan Pasifik Barat.
Diagnosis sakit malaria ditegakkan berdasarkan gejalanya, dimana terjadi serangan demam dan
menggigil secara periodik tanpa penyebab yang jelas. Dugaan malaria semakin kuat jika dalam
waktu 1 tahun sebelumnya, pasien telah mengunjungi daerah endemik malaria. Untuk
memperkuat diagnosis dilakukan pemeriksaan darah guna menemukan parasit penyebabnya.
Mungkin perlu dilakukan beberapa kali pemeriksaan karena kadar parasit di dalam darah
bervariasi dari waktu ke waktu.
Cara pencegahan yang efektif dari malaria adalah pertama, menghindari gigitan nyamuk
dengan menggunakan kelambu, menggunakan obat nyamuk dan memakai obat oles anti nyamuk
saat tidur, serta pasang kawat kasa pada ventilasi, menjauhkan kandang ternak dari rumah dan
kurangi berada di luar rumah pada malam hari. Kedua, dengan menebarkan pemakan jentik
untuk menekan kepadatan nyamuk dengan menebarkan ikan pemakan jentik, seperti ikan kepala
timah, nila merah, gupi dan mujair. Dibarengi pula dengan upaya membersihkan lingkungan
melalui menimbun genangan air, membersihkan lumut dan gotong royong membersihkan
lingkungan sekitar
Bentuk pencegahan yang ketiga adalah dengan pemberian obat pencegahan, 2 hari sebelum
berangkat ke daerah malaria, minum obat doksisilin 1 x 1 kapsul/ hari sampai 2 minggu setelah
keluar dari lokasi endemis malaria.
Pengobatan malaria tergantung kepada jenis parasit dan resistensi parasit terhadap klorokuin.
Untuk suatu serangan malaria falciparum akut dengan parasit yang resisten terhadap klorokuin,

bisa diberikan kuinin atau kuinidin secara intravena. Pada malaria lainnya jarang terjadi
resistensi terhadap klorokuin, karena itu biasanya diberikan klorokuin dan primakuin.
Obat penyakit malaria belakangan ini sudah menggunakan obat baru seperti Artemisinin-based
Combination Therapy (ACT), atas rekomendasi dokter dan dosis yang tepat, diharapkan ACT
dapat mengurangi angka kematian akibat penyakit malaria. Disinilah dibutuhkan kerjasama
antara masyarakat, pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat khususnya pada pusat layanan
kesehatan masyarakat dalam ikut menanggulangi penyebaran penyakit malaria.
Semoga, dengan gerakan bersama, GEBRAK MALARIA, harapan Indonesia bebas malaria di
tahun 20130 bisa terwujud dengan sempurna.
Ditulis oleh : dr. H. Yahmin Setiawan, MARS (Direktur Utama RST Dompet Dhuafa)
Related Posts

KLINIK METHADONE
1.
Apakah itu methadone?

Methadone adalah sejenis rawatan menggunakan ubat bagi menghentikan mengambilan dadah jenis Opiate. Proses
rawatan methadone dilakukan di bawah pengawasan dan penyeliaan Pegawai Perubatan secara teratur.

2.
Siapakah yang layak mengambil methadone?

Disahkan penagih dadah jenis Opiate seperti Heroin dan Morfin.

Disahkan penagih dadah melebihi 2 tahun.

Tiada kesan sampingan methadone yang teruk.

Tiada masalah perubatan dan mental akut.

3.
Apakah Faedah Daripada Pengambilan Methadone?

Mengurangkan risiko mendapat penyakit bawaan darah seperti HIV, Hepatitis B dan Hepatitis C.

Menghentikan pengambilan dadah secara suntikan.

Mengurangkan tingkah laku berisiko dan jenayah.

Mengembalikan penagih kepada keluarga dan masyarakat.

Berubah menjadi individu yang lebih baik dan bertanggungjawab.

4.
Berapa lamakah saya perlu mengambil methadone?

Sehingga anda pulih dan tidak memerlukan pergantungan terhadap dadah.

5.
Saya hamil, bolehkah saya mengambil atau mengikuti rawatan methadone?

Wanita hamil boleh mengambil atau mengikuti rawatan methadone. Pengambilan methadone semasa hamil boleh
mencegah keguguran dan tekanan. Penyusuan susu ibu juga boleh diteruskan kepada bayi.

6.
Bagaimana saya / saudara saya boleh mendapatkan rawatan methadone?

Anda boleh mendapatkan rawatan methadone dari mana-mana cawangan Klinik Cure & Care 1Malaysia (C&C) atau
Cure & Care Service Centre (CCSC) di seluruh Negara yang mempunyai Pegawai/Pakar Perubatan bertauliah bagi
menilai tahap kesihatan anda.

7.
Adakah rawatan methadone ini percuma?

Ya, rawatan methadone ini diberi secara percuma kepada klien AADK.

8.
Apakah yang dimaksudkan dengan detoksifikasi ubat-ubatan?

Detoksifikasi adalah satu intervensi bertujuan untuk merawat intoksikasi akut dan gejala tarikan menggunakan ubatubatan. Detoksifikasi merupakan satu kaedah untuk mengeluarkan dadah dari sistem badan. Proses detoksifikasi
adalah tempoh yang diperlukan oleh sistem fisiologi badan yang sedang membuat menyesuaian tanpa dadah.

9.
Bolehkan saya menjalani detoksifikasi sekiranya saya mengalami masalah kesihatan?

Boleh. Proses ini akan diselia oleh Pegawai/Pakar Perubatan yang bertugas di fasiliti AADK yang berkenaan.

Peresmian Klinik Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) RSUP dr. M. Djamil Padang

Padang Penyalahgunaan Napza sudah menjadi masalah baik di tingkat gobal, regional,
maupun nasional. Survey BNN tahun 2011 menyatakan 2,2% penduduk Indonesia atau sekitar
3,8 juta adalah pengguna Napza dan estimasi Kementerian Kesehatan pada tahun 2008 jumlah
pengguna Napza suntik adalah 105.000 orang. Bagi pengguna Napza penyalahgunaannya
berdampak bagi fisik, mental emosional serta sosial.
Upaya penanggulangan penyalahgunaan Napza melalui 3 pilar yaitu reduksi suplai, reduksi
permintaan dan pengurangan dampak buruk (harm reduction). Salah satu komponen dari
pengurangan dampak buruk adalah program terapi substitusi yang diantaranya adalah Program
Terapi Rumatan Metadon (PTRM). Tujuan PTRM untuk mengurangi risiko terkait penyakit
infeksi (HIV/AIDS, Hepatitis) memperbaiki kesehatan fisik dan psikologis, mengurangi perilaku
kriminal, memperbaiki fungsi sosial pasien. Demikian sambutan Direktur Jenderal Bina Upaya
Kesehatan, dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS, dalam acara Peresmian Klinik Program Terapi
Rumatan Metadon di RSUP dr. M. Djamil Padang, tanggal 18 April 2012.
Kebijakan Kementerian Kesehatan terkait PTRM adalah :

SK Menkes No. 567/Menkes/SK/VIII/2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengurangan


Dampak Buruk Napza

SK Menkes No. 350/Menkes/SK/III/2008 tentang Penetapan Lanjutan RS Pengampu dan


Satelit serta Pedoman PTRM

dan SK Menkes No. 421/Menkes/SK/III/2010 tentang Standar Layanan Terapi


Rehabilitasi Napza

Sedangkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2011 tentang Wajib Lapor Pecandu Narkotika.
Wajib lapor merupakan pintu masuk untuk pecandu mengikuti rehabilitasi medis termasuk
PTRM.

Sampai dengan Januari 2012 , telah berjalan di 76 unit layanan


rawat jalan terapi rumatan metadon di 15 propinsi, yang terdiri dari RS Pengampu, Satelit
Puskesmas dan Satelit Lapas/Rutan dengan jumlah pasien aktif sebanyak 2.487 orang. Pelayanan
PTRM ini juga dilakukan di RS rujukan ODHA, sehingga menjadi sistem pelayanan HIV/AIDS
yang terpadu. Dirjen BUK telah menerbitkan surat persetujuan aktivasi unit layanan PTRM
RSUP M. Djamil pada bulan Desember 2011 dan aktivasi unit layanan PTRM (satelit) dibawah
supervisi RS Pengampu yaitu RSUP Adam Malik Medan.
Beliau mengharapkan agar Klinik PTRM RSUP M. Djamil Padang Memperluas jangkauan dan
mendekatkan akses terapi rehabilitasi Napza kepada masyarakat khususnya di wilayah Sumatera
Barat. Semoga layanan PTRM dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh masyarakat yang
memerlukan dan para petugas dapat memberikan layanan PTRM yang bermutu dan berkeadilan
kepada masyarakat serta berkoordinasi dengan baik baik lintas program dan lintas sektor terkait
untuk mendukung kesinambungan layanan PTRM ini sehingga tujuan dari layanan PTRM ini
dapat tercapai.

Dalam laporannya Direktur Utama RSUP dr. M. Djamil


Padang, Dr. HJ. Aumas Pabuti, SpA(K), MARS. Menyatakan tujuan sosialisasi NAPZA ke stake
holder di Padang agar mendapatkan dukungan dan kerjasama pihak terkait untuk kelancaran
pelayanan PTRM terhadap kelompok berisiko (penasun) sehingga kasus HIV/AIDS bisa
dikendalikan/dikurangi.
1. Rangkaian Pekan Millenium Development Goals dalam rangka pengenalan MDGs di
Sumatera Barat yang bertempat di Taman Budaya Provinsi Sumatera Barat dibuka oleh
Gubernur Provinsi Sumatera Barat, Prof. DR. H. Irwan Prayitno, Psi. MSc, dihadiri oleh
Wakil Menteri Kesehatan Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D., pada tanggal 17

April 2012.
2. Acara Undangan Seminar Mari Kita Suarakan MDGs dibuka tanggal 18 April 2012
yang merupakan rangkaian Pekan Millenium Development Goals diadakan di Hotel
Pangeran Beach Hotel Padang dengan Laporan Ketua Panitia oleh Kepala Dinas
Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, dr. Hj. Rosnini Savitri, M, Kes, Sambutan Selamat
Datang dan Pembukaan oleh Wakil Gubernur Provinsi Sumatera Barat. Nara Sumber
Dirjen P2PL, Dirjen Bina Upaya Kesehatan, Dirjen Gizi KIA Kementerian Kesehatan,
Prof. Dr. Nila Djuwita Anfasa Moeloek, SpM(K), PHd. Dihadiri oleh Pemda se Sumatera
Barat.
3. Dirjen Bina Upaya Kesehatan dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS, menyampaikan paparan
Peran Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan dalam Percepatan Pencapaian MDGs
beliau memaparkan bahwa Tujuan MDGs berupa tantangan target pencapaian MDGs di
bidang kesehatan sampai dengan tahun 2015 mencakup penurunan angka kematian ibu
dan bayi, serta penurunan angka penyakit menular seperti HIV&AIDS. Diharapkan AKI
dari 228/100.000 kelahiran hidup menjadi 102/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015,
sementara AKB dari 34/1000 kelahiran hidup menjadi menjadi 23/1.000 kelahiran hidup
pada tahun 2015. Keberhasilan pencapaian target tersebut sangat dipengaruhi oleh
kesiapan puskesmas dalam pelayanan kesehatan dasar dan rumah sakit dalam pelayanan
kesehatan rujukan. Strategi Peningkatan Pelayanan Kesehatan Peningkatan kuantitas
pelayanan kesehatan (sarana-prasarana, alat kesehatan, dan SDM), Peningkatan kualitas
pelayanan kesehatan (Revitalisasi pelayanan kesehatan dasar, peningkatan kualitas SDM,
perijinan, penetapan kelas, akreditasi pelayanan kesehatan, pemantauan dan evaluasi)
4. Dalam kunjungannya ke RSUP dr. M. Djamil Padang pada tanggal 18 April 2012 Dirjen
Bina Upaya Kesehatan di RSUP dr. M. Djamil Padang meresmikan Klinik Program
Terapi Rumatan Metadon (PTRM), Beliau berharap Memperluas jangkauan dan
mendekatkan akses terapi rehabilitasi Napza kepada masyarakat khususnya di wilayah
Sumatera Barat. Semoga layanan PTRM dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh
masyarakat yang memerlukan dan para petugas dapat memberikan layanan PTRM yang
bermutu dan berkeadilan kepada masyarakat., Koordinasi yang baik dari lintas program
dan lintas sektor terkait untuk mendukung kesinambungan layanan PTRM ini sehingga
tujuan dari layanan PTRM ini dapat tercapai.
5. Dalam sambutannya Direktur Utama RSUP dr. M. Djamil Padanga Dr. HJ. Aumas
Pabuti, SpA(K), MARS menyatakan bahwa perlu dibuat klinik PTRM karena di Padang
adanya kasus HIV/AIDS dari waktu kewaktu terus meningkat, resiko penularan melalui
pengguna narkoba suntik paling tinggi dibanding faktor resiko lainnya, beliau berharap
mendapatkan dukungan dan kerjasama dengan pihak terkait untuk kelancaran pelayanan
PTRM terhadap kelompok berisiko (penasun) sehingga kasus HIV/AIDS bisa
dikendalikan/dikurangi.
**Berita ini disiarkan oleh Subbagian Hubungan Masyarakat Ditjen Bina Upaya Kesehatan.
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon 021-5277734 atau

alamat e-mail : humas.buk@gmail.com

Apa itu PHBS?

Apa itu Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ?

PHBS adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran


sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di
bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di
masyarakat.

PHBS itu jumlahnya banyak sekali, bisa ratusan. Misalnya tentang Gizi:
makan beraneka ragam makanan, minum Tablet Tambah Darah,
mengkonsumsi garam beryodium, memberi bayi dan balita Kapsul Vitamin A.
Tentang kesehatan lingkungan seperti membuang sampah pada tempatnya,
membersihkan lingkungan.

Setiap rumah tangga dianjurkan untuk melaksanakan semua perilaku


kesehatan.

Apa Manfaat PHBS ?

Setiap anggota keluarga menjadi sehat dan tidak mudah sakit.

Anak tumbuh sehat dan cerdas.

Anggota keluarga giat bekerja.

Pengeluaran biaya rumah tangga dapat ditujukan untuk memenuhi gizi


keluarga, pendidikan dan modal usaha untuk menambah pendapatan
keluarga.

Lokasi PHBS

PHBS di Rumah

PHBS di Sekolah

PHBS di Tempat Kerja (Kantor)

PHBS di Tempat Umum

PHBS di Fasiitas Pelayanan Kesehatan (Rumah Sakit)

10 INDIKATOR PHBS DALAM TATANAN RUMAH TANGGA


Senin, 21 April 2014 10:01 |
User Rating:

/3

Poor

Best

Mengapa PHBS masih diperlukan dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari? Karena faktor
perilaku memiliki andil 30 35 % terhadap derajat kesehatan, sedangkan dampak dari perilaku
terhadap derajat kesehatan cukup besar, maka diperlukan berbagai upaya untuk mengubah
perilaku yang tidak sehat menjadi sehat, salah satunya melalui program Perilaku Hidup Bersih
dan Sehat (PHBS).
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah wujud keberdayaan
masyarakat yang sadar, mau dan mampu mempraktekkan PHBS.
Dalam hal ini ada 5 program priontas yaitu KIA, Gizi, Kesehatan
Lingkungan, Gaya Hidup, Dana Sehat / Asuransi Kesehatan /
JPKM.
Sedangkan penyuluhan PHBS itu adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau
menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan
membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk meningkatkan
pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan pimpinan (Advokasi), bina suasana (Social
Support) dan pemberdayaan masyarakat (Empowerment).
Dengan demikian masyarakat dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri, terutama
dalam tatanan masing-masing, dan masyarakat dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dengan
menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya.
Apa saja 10 indikator itu?
a. Persalinan Ditolong oleh Tenaga Kesehatan
Anda mempunyai balita atau adik yang masih berusia 0-5 tahun? Kalau tidak, boleh
mengabaikan ini. Berarti tinggal sembilan indikator lagi kan? Tapi kalau punya, sudahkah istri
atau ibu anda bersalin/melahirkan di tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan
(dokter kandungan dan kebidanan, dokter umum dan bidan). Jika sudah, berarti untuk indikator
yang satu ini anda lulus. Mengapa harus tenaga kesehatan? Karena karena tenaga kesehatan
merupakan orang yang sudah ahli dalam membantu persalinan, sehingga keselamatan ibu dan

bayi lebih terjamin. Disamping itu dengan ditolong oleh tenaga kesehatan, apabila terdapat
kelainan dapat diketahui dan segera ditolong atau dirujuk ke Puskesmas atau Rumah Sakit. Jika
ibu bersalin ditolong oleh tenaga kesehatan maka peralatan yang digunakan aman, bersih dan
steril sehingga mencegah terjadinya infeksi dan bahaya kesehatan lainnya. Paham kan???
b. Memberi Bayi ASI Ekslusif
Adakah bayi usia 0-6 bulan di rumah anda? Kalau tidak, lewat dan boleh mengabaikan yang satu
ini. Bagaimana kalau ada? Sudahkah anak anda atau adik anda yang masih berusia di bawah 6
bulan mendapat ASI saja sejak lahir sampai usia 6 bulan? Mengapa harus ASI, ga kelaparan tuh
bayi diberi ASI saja??? Pertanyaan ini pasti ada dibenak anda, benar kan ? ASI adalah makanan
alamiah berupa cairan dengan kandungan zat gizi yang cukup dan sesuai untuk kebutuhan bayi,
sehingga tumbuh dn berkembang dengan baik. Air susu ibu pertama berupa cairan bening
berwarna kekuningan (kolostrum) sangat baik untuk bayi karena mengandung zat kekebalan
terhadap penyakit.
Manfaat memberi ASI bagi ibu adalah dapat menjalin hubungan kasih sayang antara ibu dan
bayi, mengurangi pendarahan setelah persalinan, mempercepat pemulihan kesehatan ibu, dapat
menunda kelahiran berikutnya, mengurangi risiko kena kanker payudara dan lebih praktis karena
ASI lebih mudah diberikan pada saat bayi membutuhkan.
c. Menimbang Bayi dan Balita setiap bulan
Sama seperti indikator pertama, Anda mempunyai balita atau adik yang masih berusia 0-5 tahun?
Kalau tidak, boleh mengabaikan ini. Kalau ada, sudahkah bayi atau balita anda ditimbang setiap
bulan dan tercatat di KMS atau buku KIA? Penimbangan bayi dan balita anda dimaksudkan
untuk memantau pertumbuhannya setiap bulan. Menimbang secara rutin di posyandu akan
terlihat perkembangan berat badannya apakah naik atau tidak.
Manfaatnya, anda dapat mengetahui apakah balita anda tumbuh sehat, tahu dan bisa mencegah
gangguan pertumbuhan balita, untuk mengetahui balita sakit (demam, batuk, pilek, diare), jika
berat badan dua bulan berturut-turut tidak naik atau bahkan balita yang berat badannya dibawah
garis merah (BGM) dan dicurigai gizi buruk, sehingga dapat dirujuk ke Puskesmas. Datang
secara rutin ke Posyandu juga berfungsi untuk mengetahui kelengkapan imunisasi serta untuk
mendapatkan penyuluhan gizi.
d. Menggunakan Air Bersih
Yang satu ini seharusnya bukan masalah bagi anda. Anda dan rumah tangga anda dikatakan sehat
jika di rumah tangga anda menggunakan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari yang berasal dari

air kemasan, air ledeng, air pompa, sumur terlindung dan penampungan air hujan dan memenuhi
syarat air bersih yaitu tidak berasa, tidak berbau dan tidak berwarna
Manfaat anda menggunakan air bersih diantaranya agar kita terhindar dari gangguan penyakit
seperti diare, kolera, disentri, thypus, kecacingan, penyakit mata, penyakit kulit atau keracunan.
Dan dengan menggunakan air bersih setiap anggota keluarga terpelihara kebersihan dirinya.
e. Mencuci Tangan dengan Air Bersih dan Sabun
Indikator ini sebenarnya gampang, tapi saya ragu apakah anda selalu melakukannya sampai saat
ini, benar kan? Mulailah dari sekarang! Kapan saja harus mencuci tangan? Sebelum makan dan
makan, sesudah buang air besar, sebelum memegang bayi, setelah menceboki anak dan sebelum
menyiapkan makanan tentunya menggunakan air bersih mengalir dan sabun. Manfaat mencuci
tangan adalah agar tangan menjadi bersih dan dapat membunuh kuman yang ada di tangan,
mencegah penularan penyakit seperti diare, kolera, dysentri, kecacingan, penyakit kulit, infeksi
daluran pernafasan akut (ISPA), bahkan flu burung dan lainnya.
f.

Menggunakan Jamban Sehat

Sudah setengah jalan anda lewati untuk menjadi rumah tangga yang sehat, Tiba saatnya di
indikator yang keenam. Punya jamban kan dirumah? Jamban yang digunakan minimal jamban
leher angsa, atau jamban duduk yang banyak di jual di toko bangunan, tentunya dengan tangki
septic atau lubang penampungan kotoran sebagai pembuangan akhir dan terpelihara
kebersihannya. Untuk daerah yang sulit air (kalau ada) dapat menggunakan jamban cemplung
atau jemban plengsengan. Tujuannya dimaksudkan agar tidak mengundang datangnya lalat atau
serangga lain yang dapat menjadi penular penyakit.
g. Memberantas Jentik di Rumah
Cukup sekali seminggu, asal rutin ya! Tidak sulit menerapkan indikator yang satu ini,
manfaatkan waktu libur anda dengan membersihkan rumah, tidak perlu waktu lama bukan?
Lakukan pemberantasan jentik nyamuk didalam dan atau diluar rumah seminggu sekali dengan
3M plus abatisasi/ikanisasi. Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) merupakan kegiatan
pemberantasan telur, jentik, kepompong nyamuk penular penyakit seperti demam berdarah
dengue, chikungunya, malaria, filariasis (kaki gajah) di tempat-tempat perkembangbiakannya.
PSN dapat dilakukan dengan cara 3M plus yaitu menguras bak air, menutup tempat
penampungan air dan mengubur benda yang berpotensi menjadi sarang nyamuk plus
menghindari gigitan nyamuk.
h. Makan Buah dan Sayur Setiap Hari

Sederhana, murah dan banyak manfaatnya. Biasakan anda dan anggota keluarga anda
mengkonsumsi minimal 2 porsi sayur dan 3 porsi buah atau sebaliknya setiap hari, tidak harus
mahal, yang penting memiliki kecukupan gizi. Semua jenis sayuran bagus untuk dimakan,
terutama sayuran yang berwarna (hijau tua, kuning, oranye) seperti bayam, kangkung, daun
katuk, kacang panjang, selada hijau atau daun singkong. Begitu pula dengan buah, semua bagus
untuk dimakan, terutama yang berwarna (merah, kuning) seperti mangga, papaya, jeruk, jambu
biji atau apel lebih banyak mengandung vitamin dan mineral serta seratnya.
i.

Melakukan Aktivitas fisik Setiap hari

Minimal 30 menit setiap hari. Anda lakukan pergerakan anggota tubuh yang menyebabkan
pengeluaran tenaga yang sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan fisik, mental dan
mempertahankan kualitas hidup agar tetap sehat dan bugar sepanjang hari. Jenis aktifitas fisik
yang dapat dilakukan bisa berupa kegiatan sehari-hari, yaitu berjalan kaki, berkebun, bekerja
ditaman, mencuci pakaian, mencuci mobil, mengepel lantai, naik turun tangga dan membawa
belanjaan. Aktifitas fisik lainnya bisa berupa olah raga yaitu push up, lari ringan, bermain bola,
berenang, senam, bermain tenis, yoga, fitness, angkat beban/berat. Intinya olahraga itu tidak
harus mahal, bahkan banyak yang gratis bukan?
j.

Tidak Merokok di Dalam Rumah

Terakhir, anda perokok atau memiliki anggota keluarga yang merokok? Jika anda bukan
perokok, acungan jempol buat anda dan jangan pernah terpengaruh dengan yang namanya rokok.
Tapi jika anda perokok atau memiliki anggota keluarga yang merokok, itu hak anda, namun kami
anjurkan untuk berpikir bahaya merokok dan berusaha berhenti untuk merokok. Biar adil, bagi
perokok, jangan merokok di dalah rumah atau ketika berada bersama orang lain yang bukan
perokok, mereka juga berhak dapat udara segar bukan?
Sumber : www.dinkes.jogjaprov.go.id

MDGS
Tujuan Pembangunan Milenium
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Artikel ini perlu diwikifikasi agar memenuhi standar kualitas Wikipedia.
Anda dapat memberikan bantuan berupa penambahan pranala dalam, atau
dengan merapikan tata letak dari artikel ini.

Untuk keterangan lebih lanjut, klik [tampilkan] di bagian kanan.[tampilkan]

Tujuan Pembangunan Milenium dalam lambang

Tujuan Pembangunan Milenium (bahasa Inggris : Millennium Development Goals atau


disingkat dalam bahasa Inggris MDGs) adalah Deklarasi Milenium hasil kesepakatan kepala
negara dan perwakilan dari 189 negara Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang mulai dijalankan
pada September 2000, berupa delapan butir tujuan untuk dicapai pada tahun 2015. Targetnya
adalah tercapai kesejahteraan rakyat dan pembangunan masyarakat pada 2015. Target ini
merupakan tantangan utama dalam pembangunan di seluruh dunia yang terurai dalam Deklarasi
Milenium, dan diadopsi oleh 189 negara serta ditandatangani oleh 147 kepala pemerintahan dan
kepala negara pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium di New York pada bulan
September 2000 tersebut. [1] Pemerintah Indonesia turut menghadiri Pertemuan Puncak Milenium
di New York tersebut dan menandatangani Deklarasi Milenium itu. Deklarasi berisi komitmen
negara masing-masing dan komunitas internasional untuk mencapai 8 buah tujuan pembangunan
dalam Milenium ini (MDG), sebagai satu paket tujuan yang terukur untuk pembangunan dan
pengentasan kemiskinan. [2] Penandatanganan deklarasi ini merupakan komitmen dari pemimpinpemimpin dunia untuk mengurangi lebih dari separuh orang-orang yang menderita akibat
kelaparan, menjamin semua anak untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya, mengentaskan
kesenjangan jender pada semua tingkat pendidikan, mengurangi kematian anak balita hingga
2/3 , dan mengurangi hingga separuh jumlah orang yang tidak memiliki akses air bersih pada
tahun 2015.

Daftar isi

1 Tujuan
o

1.1 Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan

1.2 Mencapai pendidikan dasar untuk semua

1.3 Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan

1.4 Menurunkan angka kematian anak

1.5 Meningkatkan kesehatan ibu

1.6 Memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya

1.7 Memastikan kelestarian lingkungan hidup

1.8 Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan

2 Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia

3 Kontroversi

4 Lihat pula

5 Referensi

6 Pranala luar

Tujuan
Deklarasi Millennium PBB yang ditandatangani pada September 2000 menyetujui agar semua
negara:
Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan

Pendapatan populasi dunia sehari $10000.

Menurunkan angka kemiskinan.

Mencapai pendidikan dasar untuk semua

Setiap penduduk dunia mendapatkan pendidikan dasar.

Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan

Target 2005 dan 2015: Mengurangi perbedaan dan diskriminasi gender dalam
pendidikan dasar dan menengah terutama untuk tahun 2005 dan untuk
semua tingkatan pada tahun 2015.

Menurunkan angka kematian anak

Target untuk 2015 adalah mengurangi dua per tiga tingkat kematian anakanak usia di bawah 5 tahun.

Meningkatkan kesehatan ibu

Target untuk 2015 adalah Mengurangi dua per tiga rasio kematian ibu dalam
proses melahirkan.

Memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya

Target untuk 2015 adalah menghentikan dan memulai pencegahan


penyebaran HIV/AIDS, malaria dan penyakit berat lainnya.

Memastikan kelestarian lingkungan hidup

Mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan dalam


kebijakan setiap negara dan program serta mengurangi hilangnya sumber
daya lingkungan.

Pada tahun 2015 mendatang diharapkan mengurangi setengah dari jumlah


orang yang tidak memiliki akses air minum yang sehat.

Pada tahun 2020 mendatang diharapkan dapat mencapai pengembangan


yang signifikan dalam kehidupan untuk sedikitnya 100 juta orang yang
tinggal di daerah kumuh.

Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan

Mengembangkan lebih jauh lagi perdagangan terbuka dan sistem keuangan


yang berdasarkan aturan, dapat diterka dan tidak ada diskriminasi. Termasuk
komitmen terhadap pemerintahan yang baik, pembangungan dan
pengurangan tingkat kemiskinan secara nasional dan internasional.

Membantu kebutuhan-kebutuhan khusus negara-negara kurang berkembang,


dan kebutuhan khusus dari negara-negara terpencil dan kepulauankepulauan kecil. Ini termasuk pembebasan-tarif dan -kuota untuk ekspor
mereka; meningkatkan pembebasan hutang untuk negara miskin yang
berhutang besar; pembatalan hutang bilateral resmi; dan menambah
bantuan pembangunan resmi untuk negara yang berkomitmen untuk
mengurangi kemiskinan.

Secara komprehensif mengusahakan persetujuan mengenai masalah utang


negara-negara berkembang.

Menghadapi secara komprehensif dengan negara berkembang dengan


masalah hutang melalui pertimbangan nasional dan internasional untuk
membuat hutang lebih dapat ditanggung dalam jangka panjang.

Mengembangkan usaha produktif yang layak dijalankan untuk kaum muda.

Dalam kerja sama dengan pihak "pharmaceutical", menyediakan akses obat


penting yang terjangkau dalam negara berkembang

Dalam kerjasama dengan pihak swasta, membangun adanya penyerapan


keuntungan dari teknologi-teknologi baru, terutama teknologi informasi dan
komunikasi.

Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia


Setiap negara yang berkomitmen dan menandatangani perjanjian diharapkan membuat laporan
MDGs. Pemerintah Indonesia melaksanakannya dibawah koordinasi Bappenas dibantu dengan
Kelompok Kerja PBB dan telah menyelesaikan laporan MDG pertamanya yang ditulis dalam
bahasa Indonesia dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk menunjukkan rasa
kepemilikan pemerintah Indonesia atas laporan tersebut. Tujuan Tujuan Pembangunan Milenium
ini menjabarkan upaya awal pemerintah untuk menginventarisasi situasi pembangunan manusia
yang terkait dengan pencapaian tujuan MDGs, mengukur, dan menganalisa kemajuan seiring
dengan upaya menjadikan pencapaian-pencapaian ini menjadi kenyataan, sekaligus
mengidenifikasi dan meninjau kembali kebijakan-kebijakan dan program-program pemerintah
yang dibutuhkan untuk memenuhi tujuan-tujuan ini. Dengan tujuan utama mengurangi jumlah
orang dengan pendapatan dibawah upah minimum regional antara tahun 1990 dan 2015, Laporan
ini menunjukkan bahwa Indonesia berada dalam jalur untuk mencapai tujuan tersebut. Namun,
pencapaiannya lintas provinsi tidak seimbang.[2]
Kini MDGs telah menjadi referensi penting pembangunan di Indonesia, mulai dari tahap
perencanaan seperti yang tercantum pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM)
hingga pelaksanaannya. Walaupun mengalamai kendala, namun pemerintah memiliki komitmen
untuk mencapai tujuan-tujuan ini dan dibutuhkan kerja keras serta kerjasama dengan seluruh
pihak, termasuk masyarakat madani, pihak swasta, dan lembaga donor. Pencapaian MDGs di
Indonesia akan dijadikan dasar untuk perjanjian kerjasama dan implementasinya di masa depan.
Hal ini termasuk kampanye untuk perjanjian tukar guling hutang untuk negara berkembang
sejalan dengan Deklarasi Jakarta mengenai MDGs di daerah Asia dan Pasifik. [3] [4]

Kontroversi
Upaya Pemerintah Indonesia merealisasikan Tujuan Pembangunan Milenium pada tahun 2015
akan sulit karena pada saat yang sama pemerintah juga harus menanggung beban pembayaran
utang yang sangat besar. Program-program MDGs seperti pendidikan, kemiskinan, kelaparan,
kesehatan, lingkungan hidup, kesetaraan gender, dan pemberdayaan perempuan membutuhkan
biaya yang cukup besar. Merujuk data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Departemen
Keuangan, per 31 Agustus 2008, beban pembayaran utang Indonesia terbesar akan terjadi pada
tahun 2009-2015 dengan jumlah berkisar dari Rp97,7 triliun (2009) hingga Rp81,54 triliun
(2015) rentang waktu yang sama untuk pencapaian MDGs. Jumlah pembayaran utang Indonesia,
baru menurun drastis (2016) menjadi Rp66,70 triliun. tanpa upaya negosiasi pengurangan jumlah
pembayaran utang Luar Negeri, Indonesia akan gagal mencapai tujuan MDGs.

Menurut Direktur Eksekutif International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) Don
K Marut Pemerintah Indonesia perlu menggalang solidaritas negara-negara Selatan untuk
mendesak negara-negara Utara meningkatkan bantuan pembangunan bukan utang, tanpa syarat
dan berkualitas minimal 0,7 persen dan menolak ODA (official development assistance) yang
tidak bermanfaat untuk Indonesia [5]. Menanggapi pendapat tentang kemungkinan Indonesia
gagal mencapai tujuan MDGs apabila beban mengatasi kemiskinan dan mencapai tujuan
pencapaian MDG pada tahun 2015 serta beban pembayaran utang diambil dari APBN pada tahun
2009-2015, Sekretaris Utama Menneg PPN/Kepala Bappenas Syahrial Loetan berpendapat
apabila bisa dibuktikan MDGs tidak tercapai di 2015, sebagian utang bisa dikonversi untuk bantu
itu. Pada tahun 2010 hingga 2012 pemerintah dapat mengajukan renegosiasi utang. Beberapa
negara maju telah berjanji dalam konsesus pembiayaan (monetary consensus) untuk memberikan
bantuan. Hasil kesepakatan yang didapat adalah untuk negara maju menyisihkan sekitar 0,7
persen dari GDP mereka untuk membantu negara miskin atau negara yang pencapaiannya masih
di bawah. Namun konsensus ini belum dipenuhi banyak negara, hanya sekitar 5-6 negara yang
memenuhi sebagian besar ada di Skandinavia atau Belanda yang sudah sampai 0,7 persen. [6]

Menkes Luncurkan Vaksin Pentavalen dan Progran Imunisasi Lanjutan bagi Batita

Karawang - Kini, anak-anak Indonesia akan lebih terlindungi dari ancaman penyakit-penyakit
yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), dengan ditambahkannya vaksin Haemophilus
influenzae type b (Hib) yang diberikan bersamaan dengan vaksin DPT dan Hepatitis B. Vaksin
pengembangan vaksin tetravalen (DPT-HB) kombinasi buatan Indonesia ini disebut Pentavalen,
karena merupakan gabungan dari 5 antigen, yaitu DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus), Hepatitis
B, serta HiB. Kini, kelima antigen tersebut diberikan dalam satu suntikan sehingga menjadi lebih
efisien, tidak menambah jumlah suntikan pada anak sehingga memberikan kenyamanan bagi
bayi yang mendapat imunisasi beserta ibunya.

Demikian pernyataan Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, pada Pencanangan
Vaksin Kombinasi Pentavalen di Desa Karang Pawitan, Kab. Karawang, Kamis pagi (22/8).
Pada kesempatan tersebut, Menkes menyerahkan secara simbolis vaksin pentavalen kepada
Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar, didampingi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
Barat, dr. Hj. Alma Lucyati, M.Kes, MSi, MH.Kes, serta disaksikan oleh Bupati Karawang, Drs.
H. Ade Swara, M.
Program penguatan kekebalan dengan imunisasi pentavalen dan program imunisasi lanjutan
akan dimulai tahun ini di 4 Provinsi, yaitu Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali dan
Nusa Tenggara Barat. Untuk selanjutnya, pelaksanaan program serupa di Provinsi lainnya di
seluruh Indonesia akan dimulai pada tahun 2014. Saat itu juga, Menkes mencanangkan
Imunisasi Lanjutan pada Anak Batita (bawah tiga tahun). Imunisasi lanjutan ini diberikan pada
semua anak usia 1,5 dan 2 tahun, guna meningkatkan kekebalan terhadap campak, difteri,
pertusis, tetanus, hepatitis B dan Hib.
Vaksinasi penting bagi kesehatan masyarakat. Program imunisasi merupakan salah satu
prioritas dalam pembangunan kesehatan karena dapat mencegah kesakitan, kematian dan
kecacatan, ungkap Menkes
Vaksin Haemophilus influenza tipe B (Hib) berisi suatu antigen yang dapat mencegah penyakit
radang otak dan radang paru. Kedua penyakit ini merupakan penyebab 17,2% kematian pada
bayi.
Vaksin Hib akan diintegrasikan pada vaksin DPT-HB yang telah lebih dulu dikenal masyarakat.
Seperti kita ketahui sebelumnya, vaksin hepatitis B (HB) bermanfaat untuk mencegah terjadinya
kerusakan hati (kanker hati). Sementara vaksin DPT terdiri dari 3 antigen yang dapat melindungi
bayi/balita dari penyakit difteri, pertussis (batuk rejan) dan tetanus. Sebelum vaksin difteri
ditemukan, racun yang dikeluarkan oleh bakteri penyebab penyakit difteri dapat memicu
terjadinya gagal jantung.
Dengan digunakannya vaksin pentavalen (DPT-HB-Hib) bersama vaksin campak, polio dan
BCG, maka program imunisasi yang semula diarahkan pada pencegahan 7 penyakit menular
(Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, Tuberculosis pada bayi, Polio dan Campak) bertambah
menjadi 8 penyakit menular melalui penambahan antigen Haemophilus influenzae type b untuk
mencegah Pneumonia dan Meningitis pada anak.

Dalam program imunisasi dasar lengkap (IDL) bayi yang baru lahir hingga berusia 7 hari
langsung mendapatkan imunisasi Hepatitis B. Lalu, saat berusia 1 bulan, bayi memerlukan
imunisasi polio dan BCG. Vaksin polio mencegah lumpuh layu sementara vaksin BCG
mencegah tuberkulosis. Kemudian berturut-turut pada usia 2, 3, dan 4 bulan, bayi mendapatkan
lagi vaksin polio bersamaan dengan pemberian vaksin Pentavalen. Ketika bayi memasuki usia 9
bulan, imunisasi campak perlu diberikan. Antara usia 0 hari hingga genap 1 tahun, bayi
setidaknya dibawa sebanyak 5 kali ke fasilitas kesehatan untuk melengkapi imunisasinya.
Imunisasi tidak hanya memberikan kekebalan perorangan terhadap penyakit, melainkan juga
membentuk kekebalan masyarakat. Pemberian imunisasi Polio misalnya, apabila terdapat satu
saja anak yang tidak diimunisasi dan terinfeksi virus tersebut, maka ia berotensi besar untuk
menularkan penyakit pada anak-anak lain yang belum memiliki kekebalan karena tidak
diimunisasi. Karena itu, jika semua anak sudah mendapatkan imunisasi, maka tidak ada seorang
anak pun yang akan menderita lumpuh layu karena terserang virus Polio.
Program Imunisasi di Indonesia telah mencapai sukses ditandai dengan: (1) hilangnya penyakit
cacar yang mematikan sejak tahun 1974, (2) tidak ditemukan lagi penderita Polio sejak tahun
2006; dan (3) Tetanus pada ibu dan bayi baru lahir sudah tidak lagi menjadi masalah kesehatan
masyarakat di Indonesia Bagian Barat dan Tengah. Pada tahun 2012, cakupan Imunisasi dasar
lengkap pada bayi di Indonesia mencapai 86,8%. Dengan demikian, sudah lebih dari 4 juta bayi
di Indonesia telah mendapatkan imunisasi lengkap pada tahun tersebut. Angka ini melampaui
target yang telah ditetapkan, yakni sebesar 85%.
Imunisasi adalah kebutuhan dunia. Badan dunia seperti World Health Organization (WHO) dan
United Nations Chilrens Fund (UNICEF) mengerahkan sumber daya dan melakukan berbagai
kegiatan untuk mendukung program imunisasi di seluruh dunia. Imunisasi merupakan isu
kesehatan penting yang bahkan menggugah berbagai organisasi tingkat dunia untuk bergabung
dalam sebuah kemitraan, salah satunya GAVI Alliance. Aliansi ini menyediakan sumber daya
yang diperlukan negara-negara untuk memastikan agar anak-anak terhindar dari penyakit serta
kematian serta tumbuh sehat hingga usia dewasa.
Menkes mengharapkan kepada Gubernur dan Bupati/Walikota di seluruh Indonesia bersama
jajaran serta segenap masyarakat untuk melakukan upaya-upaya mendukung imunisasi demi
melindungi seluruh anak Indonesia dari ancaman penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.
**Berita ini disiarkan oleh Subbagian Hubungan Masyarakat Ditjen Bina Upaya Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon
021-5277734 atau alamat e-mail : humasbuk@kemkes.go.id

3 Perkembangan Terbaru Obat dan Vaksin


Ebola
published by admin on Mon, 09/08/2014 - 17:13

Pada 5 September 2014 WHO menyampaikan hasil pertemuan para pakar dan menjelaskan 3
perkembangan terbaru obat dan vaksin Ebola :
1. Prioritas utama adalah kemungkinan pengobatan dengan darah lengkap (whole blood) atau
serum darah dari pasien yang sembuh
2. Dua calon vaksin Ebola berdasar pada :
- vesicular stomatitis virus (VSV-EBO)
- chimpanzee adenovirus (ChAd-EBO).
Bila terbukti aman, maka akan tersedia November 2014 ini
3. Jenis obat lain adalah :
- antibodi monoklonal
- obat berbasis RNA
- molekul antiviral kecil
- obat lain yangg kini sudah digunakan untuk penyakit lain.
Prof dr Tjandra Yoga Aditama
SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Jenis/Macam Vaksin Imunisasi Untuk Anak - Informasi
Imunisasi Lengkap Wajib Penangkal Penyakit

Oleh godam64 pada 26 November 2008 | 21:56


Imunisasi adalah salah satu cara untuk menangkal penyakit-penyakit berat yang
terkadang belum ada obat untuk menyembuhkannya. Imunisasi umumnya diberikan
kepada anak-anak balita (usia di bawah lima tahun). Imunisasi dilakukan dengan
memberikan vaksin yang merupakan bibit penyakit yang telah dibuat lemah kapada
seseorang agar tubuh dapat membuat antibodi sendiri terhadap bibit penyakit kuat
yang sama.
Anak-anak kecil adalah korban yang lemah terhadap berbagai serangan penyakit
yang berbahaya karena tubuh anak masih belum sempurna sistem kekebalan
tubuhnya di mana belu banyak terdapat antibodi di dalam tubuhnya. Untuk itulah
diperlukan imunisasi lengkap wajib yang teratur pada anak agar terhindar dari
berbagai macam gangguan penyakit berbahaya dan fatal.
Vaksin imunisasi mungkin dapat memberikan efek samping yang membuat anak
jatuh sakit, namun dampak positif perlindungan yang dihasilkan vaksin tersebut
amat sangat berguna. Berikut di bawah ini adalah merupakan beberapa jenis-jenis
atau macam-macam imunisasi bagi anak :
A. Jenis / Macam Imunisasi Vaksin Wajib Pada Anak :
1. BCG
- Perlindungan Penyakit : TBC / Tuberkolosis

- Penyebab : Bakteri Bacillus Calmette Guerrin


- Kandungan : Bacillus Calmette-Guerrin yang dilemahkan
- Waktu Pemberian :
I. Umur / usia 2 bulan
2. DPT/DT
- Perlindungan Penyakit : Difteri (infeksi tenggorokan), Pertusis (batuk rejan) dan
Tetanus (kaku rahang).
- Penyebab : Bakteri difteri, pertusis dan tetanus
- Waktu Pemberian :
I. Umur / usia 3 bulan
II. Umur / usia 4 bulan
III. Umur / usia 5 bulan
IV. Umur / usia 1 tahun 6 bulan
V. Umur / usia 5 tahun
VI. Umur / usia 10 tahun
3. Polio
- Perlindungan Penyakit : Poliomielitis / Polio (lumpuh layuh) yang menyababkan
nyeri otot, lumpuh dan kematian.
- Waktu Pemberian :
I. Umur / usia 3 bulan
II. Umur / usia 4 bulan
III. Umur / usia 5 bulan
IV. Umur / usia 1 tahun 6 bulan
V. Umur / usia 5 tahun
4. Campak / Measles
- Perlindungan Penyakit : Campak / Tampek
- Efek samping yang mungkin : Demam, ruam kulit, diare
- Waktu Pemberian :
I. Umur / usia 9 bulan atau lebih
II. Umur / usia 5-7 tahun
5. Hepatitis B
- Perlindungan Penyakit : Infeksi Hati / Kanker Hati mematikan
- Waktu Pemberian :
I. Ketika baru lahir atau tidak lama setelahnya
II. Tergantung situasi dan kondisi I
III. Tergantung situasi dan kondisi II
IV. Tergantung situasi dan kondisi III

B. Jenis / Macam Imunisasi Vaksin Yang Dianjurkan Pada Anak (Tidak Wajib) :
1. MMR
- Perlindungan Penyakit : Campak, gondongan dan campak Jerman
- Waktu Pemberian :
I. Umur / usia 1 tahun 3 bulan
II. Umur / usia 4-6 tahun
2. Hepatitis A
- Perlindungan Penyakit : Hepatitis A (Penyakit Hati)
- Penyebab : Virus hepatitis A
- Waktu Pemberian :
I. Tergantung situasi dan kondisi I
II. Tergantung situasi dan kondisi II
3. Typhoid & parathypoid
- Perlindungan Penyakit : Demam Typhoid
- Penyebab : Bakteri Salmonela thypi
- Waktu Pemberian :
I. Tergantung situasi dan kondisi
4. Varisella (Cacar Air)
- Perlindungan Penyakit : Cacar Air
- Penyebab : Virus varicella-zoster
- Waktu Pemberian :
I. Umur / usia 10 s/d 12 tahun 1 kali dan di atas 13 tahun 2 kali dengan selang
waktu 4 s/d 8 minggu.
Tambahan :
Sebaiknya berikan imunisasi yang wajib-wajib saja karena tidak jelas apakah ada
efek negatif jangka panjang dari pemberian imunisasi ke anak-anak atau tidak.

Standar Penyimpanan Vaksin Menurut Depkes RI dan


WHO
Vaksin adalah senyawa antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif
danmeningkatkan imunitas tubuh terhadap suatu penyakit sehingga tubuh dapat segera membuat
antibodi yang di kemudian hari dapat mencegah atau kebal dari penyakit tersebut. Pada tahun

1877 Louis Pasteur membuat suatu vaksin, menggunakan kuman hidup yang telah dilemahkan.
Vaksin ini dimaksudkan untuk vaksinasi cowpok dan smallpox. Pada tahun 1881 mulai dibuat
vaksin anthrax, menyusul pembuatan vaksin rabies tahun 1885.
Terkait dengan penyimpanan vaksin, aturan umum untuk sebagian besar vaksin, bahwa vaksin
harus didinginkan pada temperature 2-8 C dan tidak membeku. Sejumlah vaksin (DPT, Hib,
Hepatitis B dan Hepatitis A) akan tidak aktif bila beku. Vaksin yang disimpan dan diangkut
secara tidak benar akan kehilangan potensinya. Instruksi pada lembar penyuluhan (brosur)
informasi produk harus disertakan.
Penyimpanan vaksin membutuhkan suatu perhatian khusus karena vaksin merupakan sediaan
biologis yang rentan terhadap perubahan temperatur lingkungan. Pada setiap tahapan rantai
dingin maka transportasi vaksin dilakukan pada temperature 0C sampai 8C. Vaksin polio boleh
mencair dan membeku tanpa membahayakan potensi vaksin. Vaksin DPT, DT, dT, hepatitis-B
dan Hib akan rusak bila membeku pada temperature 0 (vaksin hepatitis-B akan membeku
sekitar -0,5C).
Menurut Petunjuk Pelaksanaan Program Imunisasi, Depkes RI, 1992, sarana penyimpanan
vaksin di setiap tingkat administrasi berbeda. Di tingkat pusat, sarana penyimpan vaksin adalah
kamar dingin/cold room. Ruangan ini seluruh dindingnya diisolasi untuk menghindarkan panas
masuk ke dalam ruangan. Ada 2 kamar dingin yaitu dengan suhu +2o C sampai +8o C dan suhu
-20o C sampai -25o C. Sarana ini dilengkapi dengan generator cadangan untuk mengatasi
putusnya aliran listrik. Di tingkat provinsi vaksin disimpan pada kamar dingin dengan suhu -20o
C sampai -25o C, di tingkat kabupaten sarana penyimpanan vaksin menggunakan lemari es dan
freezer.
Dasar yang menjadi pertimbangan dalam memilih cold chain antara lain meliputi jumlah sasaran,
volume vaksin yang akan dimuat, sumber energi yang ada, sifat, fungsi serta stabilitas suhu
sarana penyimpanan, suku cadang dan anjuran WHO atau hasil penelitian atau uji coba yang
pernah dilakukan. Sarana cold chain di tingkat Puskesmas merupakan sarana penyimpanan
vaksin terakhir sebelum mencapai sasaran. Tingginya frekuensi pengeluaran dan pengambilan
vaksin dapat menyebabkan potensi vaksin cepat menurun.

Standar Penempatan Vaksin


Untuk melakukan pemantauan suhu rantai dingin (cold chain) vaksin maka digunakan pemantau
suhu. Pada kamar dingin (cold room) alat pemantau suhu berupa lampu alarm yang akan

menyala bila suhu di dalamnya melampaui suhu yang ditetapkan. Untuk memantau suhu lemari
es selain menggunakan termometer yang terletak pada dinding luar lemari es juga menggunakan
termometer yang diletakkan dalam lemari es.Sementara standar WHO (Users handbook for
vaccine, 2002), menjelaskan detail susunan vaksin dalam lemari es sebagaimana pada gambar
disamping :
Agar vaksin tetap mempunyai potensi yang baik sewaktu diberikan kepada sasaran maka vaksin
harus disimpan pada suhu tertentu dengan lama penyimpanan yang telah ditentukan di masingmasing tingkatan administrasi. Untuk menjaga rantai dingin vaksin yang disimpan pada lemari es
di Puskesmas, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Pengaturan dan penataan vaksin di dalam lemari es
2. Pengontrolan suhu lemari es dengan penempatan termometer di dalam lemari di tempat
yang benar dan pencatatan suhu pada kartu suhu atau grafik suhu sebanyak dua kali
sehari pada pagi dan siang hari
3. Pencatatan data vaksin di buku catatan vaksin meliputi tanggal diterima atau dikeluarkan,
nomor batch, tanggal kadaluarsa, jumlah diterima atau dikeluarkan dan jumlah sisa yang
ada.
Cara penyimpanan untuk vaksin sangat penting karena menyangkut potensi dan daya antigennya.
Beberapa faktor yang mempengaruhi penyimpanan vaksin adalah antara lain suhu, sinar matahari
dan kelembaban. Sedangkan standard waktu penyimpanan vaksin disetiap tingkatan, menurut
users handbook for vaccine cold room or freezer room, WHO ( 2002), sebagaimana gambar
berikut :

Standar Tempat dan Suhu Vaksin

Pada awalnya vaksin yang berasal dari virus hidup seperti polio dan campak, harus disimpan
pada suhu di bawah 0oC. Namun berdasarkan penelitian berikutnya, ternyata hanya vaksin polio
yang masih memerlukan suhu dibawah 0oC. Sementara vaksin campak dapat disimpan di
refrigerator pada suhu 2oC-8oC. Sedangkan vaksin lainnya harus disimpan pada suhu 2oC-8oC.
Sesuai Pedoman Teknis Imunisasi Tingkat Puskesmas, Depkes RI, 2005, vaksin hepatitis B,
DPT, TT, dan DT tidak boleh terpapar pada suhu beku karena vaksin akan rusak akibat
meningkatnya konsentrasi zat pengawet yang merusak antigen. Sementara terkait penyimpanan
vaksin, susunannya harus diperhatikan. Karena suhu dingin dari lemari es/freezer diterima vaksin
secara konduksi, maka ketentuan jarak antar kemasan vaksin harus dipenuhi. Demikian pula
letak vaksin menurut jenis antigennya mempunyai urutan tertentu untuk menghindari penurunan
potensi vaksin yang terlalu cepat.
Pada pelaksanaan program imunisasi, salah satu kebijakan yang dipersyaratkan adalah tetap
membuka vial atau ampul baru meskipun sasaran sedikit. Jika pada awalnya indeks pemakaian
vaksin menjadi sangat kecil dibandingkan dengan jumlah dosis per vial/ampul, namun tingkat
efisiensi dari pemakaian vaksin ini harus semakin tinggi. Sementara menurut WHO, prinsip yang
dipakai dalam mengambil vaksin untuk pelayanan imunisasi, adalah, Earliest Expired First Out
(EEFO) (dikeluarkan berdasarkan tanggal kadaluarsa yang lebih dulu). Dengan adanya Vaccine
Vial Monitor (VVM) ketentuan EEFO tersebut menjadi pertimbangan kedua. Vaccine Vial
Monitor sangat membantu petugas dalam manajemen vaksin secara cepat dengan melihat
perubahan warna pada indikator yang ada.
Jenis dan Macam Vaksin
OPINI | 22 August 2012 | 13:38

Dibaca: 13091

Komentar: 1

Jenis dan Macam Vaksin


Sejak ditemukannya vaksin pada abad ke 18, maka tehnologi pembuatan vaksin dan ilmu
ppengetahuan tentang vaksin telah maju dengan sangat pesatnya, dan hal positif yang kita lihat
dan kita rasakan dari vaksin, adalah bahwa dunia kedokteran saat ini telah berhasil
mengeliminasikan beberapa jenis penyakit infeksi yang dahulu kala sangat mematikan, misalnya
penyakit cacar air, yang setiap kali terjadi wabah akan membawa korban meninggal yang cukup
banyak, penyakit polio dibeberapa bagian dunia ini, dan beberapa penyakit infeksi lain yang bisa
diatasi dengan pemberian vaksin yang tepat dan vaksinasi.
Dengan kemajuan teknologi pembuatan vaksin, maka kita juga telah mengenal banyak jenis
vaksin yang tersedia untuk berbagai macam penyakit infeksi yang bisa dicegah dengan vaksin,
saat ini telah tersedia sekitar 23 jenis vaksin, dan masih banyak vaksin baru lain yang sedang
dalam proses penelitian dan pengembangan, misalnya vaksin HIV AIDs, vaksin demam berdarah
dengue, vaksin malaria, vaksin TBC baru.

Kita akan mencoba membahas jenis dan macam vaksin yang tersedia saat ini, dan pada akhir
karangan ini, diharapkan pembaca sudah mempunyai gambaran jelas dan ringkas tentang jenis
dan macam vaksin dan keperluan/indikasi pemakaiannya.
Kita bisa membagi jenis vaksin yang ada berdasarkan hal hal berikut :

1. Pembedaan jenis vaksin dari antigen yang dipergunakan untuk merangsang sistim
imunologi/daya pertahanan tubuh membuat zat antobody.
2. Pembedaan vaksin atas dasar cara membuat vaksin tersebut, sehingga kita mengenal
adanya vaksin hidup yang dilemahkan (live attenuated vaccine) dan vaksin mati (killed
Vaccine/ inactivated vaccine).
Juga kita dikenalkan dengan adanya vaksin Monovalent dan vaksin Polivalent
3. Pembedaan vaksin untuk imunisasi bayi anak, dan vaksin untuk imunisasi orang dewasa
dan orang berusia lanjut
4. Pembedaan vaksin berdasarkan tujuan pemakaiannya, misalnya ada vaksin wisatawan, bagi
wisatawan yang akan berkunjung ke suatu daerah dengan endemik penyakit infeksi tertentu,
vaksin wanita hamil untuk mencegah keguguran janin (abortus) dan mencegah janin lahir
dengan cacat fisk bawaan (anomali congenital)
5. Vaksin masa depan : misalnya vaksin utuk malaria, vaksin untuk demam berdarah dengue,
vaksin untuk tumor otak Glioblastoma, vaksin untuk kanker Prostate, vaksin untuk diabetes dll
Pembahasan :

1. Pembedaan jenis vaksin dari antigen yang dipergunakan untuk merangsang sistim
imunologi/daya pertahanan tubuh membuat zat antobody.
Antigen adalah (bagian dari) bakteri atau (bagian dari) virus yang dipergunakan sebagai zat aktif
yang dikandung didalam vaksin, dan antigen ini bertujuan untuk merangsang sistim imunologi
tubuh atau sistim pertahanan tubuh, untuk membuat zat antibody yang diperlukan untuk
melawan dan membasmi bibit penyakit yang invasi masuk dalam tubuh kita.
Antigen ini diambil dari (sebagian atau seluruh) bakteri atau virus penyebab penyakit, antigen
bibit penyakit ini, yang sebelumnya telah diolah sedemikan rupa, sehingga tidak akan
menimbulkan penyakit lagi, bila disuntikkan kembali ke dalam tubuh kita, namun akan
merangsang sistim imunologi tubuh untuk memberi reaksi dan membuat zat antibody yang
diperlukan untuk melawan dan mematikan bibit penyakit yang sama bila invasi masuk dalam
tubuh kita sehingga kita terhindar dari penyakit dan kita menjadi kebal / imun terhadap penyakit
tersebut.

Karena antigen yang diambil itu bisa berasal dari kuman atau juga dari virus penyebab penyakit,
maka kita akan mendapatkan jenis vaksin :
- Vaksin Bakteri yang berasal dari antigen bakteri dan
- Vaksin Virus yang berasal dari antigen virus
2. Cara Pengolahan Antigen Bakteri dan Virus Untuk Pembuataan Vaksin

Seperti diawal tadi sudah disinggung bahwa antigen penyakit ini sudah tidak berbahaya dan
tidak menimbulkan penyakit lagi, ini karena semua antigen sebelum dipergunakan dalam
pembuatan vaksin, telah diolah sedemikian rupa, sehingga sifat keganasanya melemah atau
hilang, dan aman untuk dijadikan bahan vaksin.
Bagaimana cara orang mengolah antigen bibit penyakit agar supaya aman untuk dipergunakan
dalam vaksin ?

Ini bisa dengan cara mematikan bibit penyakit tersebut dengan cara
pemanasan/heating, dengan cara penyinaran/radiasi, dengan zat
kimia/chemical substant misalnya fenol, alkohol dan lain-lain, proses ini
disebut Inaktivasi / inactivation, artinya vaksin ini mngandung antigen
bakteri atau virus yang telah di MATIKAN , sehingga tidak bisa menularkan
penyakit yang sama lagi bila dipakai sebagai vaksin. Ini yang dikenal sebagai
VAKSIN MATI (Killed Vaccine / Inactivated Vaccine)

Atau bisa juga dengan cara mengembang biakkan bakteri atau virus
tersebut kedalam medium tertentu yang mirip dengan medium habitat bibit
penyakit tersebut, dan pengembangbiakan ini diteruskan hingga mencapai
tahapan dimana sifat asli bibit penyakit yaitu sifat keganasan hilang,
namun secara genetik tetap akan dikenali oleh sistim imunologi tubuh kita
sebagai bibit penyebab penyakit tertentu dan akan merangsang tubuh
membuat zat antibody untuk bibit penyait tersebut. Ini yang dikenal sebagai
VAKSIN HIDUP yang Dilemahkan (Lived Attenuated Vaccine)

Apa perbedaan antara vaksin hidup yang dilemahkan dan vaksin mati ?

Kita bisa membedakan antara vaksin mati dan vaksin hidup yang dilemahkan dengan melihat
kelebihan dan kekurangan antara kedua jenis vaksin ini.
Kelebihan dan Kelemahan Vaksin Mati :
Kelebihannya :
Keuntungan vaksin mati adalah bisa dipergunakan untuk semua orang, termasuk untuk wanita
hamil, mereka yang mengalami kelainan sistim imunologi/sistim pertahanan tubuh, misalnya
penderita penyakit HIV AIDs, orang yang dicangkok organ tubuh, pasien ginjal yang
melakukan dialisis (cuci) darah, atau pasien yang mendapat pengobatan kortiosteroid.

Karena hanya mengandung bakteri atau virus mati, tidak ada lagi kemungkinan mutasi genetik
dari bibit penyakit kembali menjadi ganas, sehingga aman bagi pemakai vaksin tersebut.
Cara menyimpan vaksin mati ini juga lebih mudah daripada vaksin hidup, cukup disimpan dalam
suhu 2 - 8 derajat Celsius.
Kelemahannya :
Kelemahannya adalah karena bakteri atau virus penyebab penyakitnya telah dimatikan, maka
reaksi perangsangan terhadap sistim imunologi tubuh lebih lemah, sehingga untuk mendapatkan
hasil proteksi yang optimal, dan berlangsung lama, diperlukan pengulangan vaksinasi, yang
disebut dosis booster / dosis penguat ulangan.
Catatan: dalam penelitian vaksin, ditemukan bahwa vaksin mati lebih baik dipakai untuk
mencegah penyakit infeksi karena bakteri daripada penyakit infeksi karena virus
Contoh Vaksin Mati (Killed Vaccines / Inactivated Vaccines) :
Vaksin Polio Inactivated (IPV)
Vaksin DPT
Vaksin Hepatitis A dan B
Vaksin Pneumonia
Vaksin Meningitis
Vaaksin Hib dan Vaksin Influenza
Vaksin Human Papiloma Virus
Vaksin Demam Typhoid
Kelebihan dan Kelemahan Vaksin Hidup yang Dilemahkan :

Kelebihanannya :
Karena mengandung bibit penyakit hidup yang dilemahkan, sehingga menimbulkan reaksi
rangsangan yang sangat kuat terhadap sistim imunologi tubuh kita untuk memproduksi zat
antibody, dan reaksi ini bertahan cukup lama bahkan seumur hidup, sehingga kita tidak
memerlukan mengulang vaksinasi atau dosis booster.

Kelemhannya:
Kelemahanya adalah karena ini mengandung bakteri yang hidup meski telah dilemahkan,
sehingga vaksin jenis ini tidak boleh diberikan untuk wanita hamil, mereka yang mengalami
kelainan sistim imunologi /sistim pertahanan tubuh, misalnya penderita penyakit HIV AIDs,
orang yang dicangkok organ tubuh, pasien ginjal yang melakukan dialisis (cuci) darah dan
penderita yang diobati dengan kortikosteroid.
Karena bibit penyakit masih hidup meskipun telah dilemahkan, masih ada kemungkinan terjadi
mutasi genetik, dimana bibit penyakit menjadi ganas kembali, sehinggga menimbulkan penyakit
bagi penerima vaksin tersebut.
Juga dikatakan bahwa kemungkinan efek samping lebih banyak ditemukan dengan vaksin hidup
yang dilemahkan daripada dengan vaksin mati
Karena mengandung bibit penyakit yang masih hidup, maka dalam penyimpanan vaksin ini
diperlukan suhu rendah untuk menyimpannya, biasanya adalah suhu minus 20 derajat Celsius.
Catatan : dalam penelitian vaksin, ditemukan bahwa vaksin hidup lebih baik dipakai untuk
mencegah penyakit infeksi karena virus daripada penyakit infeksi karena bakteri
Contoh vaksin hidup yang dilemahkan (Live Attenauted Vaccines) :
Vaksin MMR
Vaksin Oral Polio (OPV)
Vaksin Varicella
Vaksin Yellow Fever / Demam Kuning
Vaksin Rotavirus
Jumlah Antigen dalam Satu Sediaan Vaksin :
Vaksin Monovalent dan Vaksin Polyvalent

Dalam perkembangan teknologi pembuatan vaksin, telah terjadi suatu lompatan besar dalam
sediaan vaksin, yaitu adanya vaksin kombinasi yang terdiri beberapa jenis antigen vaksin dalam
satu sediaan, sehingga vaksinasi sekarang menjadi lebih sederhana dan ringkas, yaitu sekali
suntikan akan memberikan beberapa jenis vaksin sekaligus, dengan demikian juga memberikan
proteksi terhadap beberapa penyakit sekali suntik saja, ini akan mengurangi sangat bermakna
jumlah suntikan yang harus diberikan untuk bayi dan anak.

Saat ini kita masih mengenal adanya Vaksin Monovalent yang artinya dalam sediaan vaksin
hanya mengandung satu jenis antigen saja, misalnya vaksin Hepatitis A, vaksin Hepatitis B,
vaksin Rabies, vaksin Polio inactivated, vaksin influenza, semua contoh vaksin tadi yang dalam
satu sediaan vaksin hanya mengandung satu jenis antigen, sehingga bertujuan mencegah hanya
satu jenis penyakit saja.
Vaksin Monovalent ini adalah sedia vaksin yang pertama kali dibuat oleh pabrik vaksin karena
keterbatasan teknologi saat itu, juga karena indikasi pemakaiannya, sehingga vaksin monovalent
tetap diperlukan.
Kemudian kita juga dikenalkan dengan Vaksin Polyvalent atau lebih populer dikenal Vaksin
Kombinasi. Dalam satu sediaan vaksin polyvalent atau vaksin kombinasi terdapat lebih dari 2
jenis antigen bakteri atau virus yang dipergunakan untuk merangsang sistim imunologi tubuh
untuk membuat zat antibody.
Saat ini vaksin kombinasi yang kita kenal adalah:
Vaksin DTwP dan vaksin DTaP > Vaksin bakteri kombinasi untuk penyakit difteri, pertusis
dan tetanus (vaksin kombinasi trivallent)
Vaksin DTaP HepB Polio > Vaksin bakteri dan virus, kombinasi untuk penyakit DPT, hepatitis
B dan Polio (vaksin kombinasi pentavalent)
Vaksin DTaP Hib Polio > Vaksin bakteri dan virus, kombinasi untuk penyakit DPT,
Haemophilus Influenza dan Polio (vaksin kombinasi pentavalent)
Vaksin DPaT HepB Hib Polio > Vaksin bakteri dan virus, kombinasi untuk penyakit DPT,
Hib, Hepatitis B dan Polio (vaksin kombinasi hexavalent)
Vaksin DPaT Hib > Vaksin bakteri kombinasi untuk penyakit DPT dan Hib (vasin kombinasi
tetravalent)
Pemakaian Vaksin kombinasi dan vaksin monovalent dapat dilakukan berdasarkan usia bayi anak
atau untuk vaksinasi orang dewasa dan orang usia lanjut.
Keuntungan vaksin kombinasi atau vaksin polyvalent adalah :
- mengurangi jumlah suntikan yang harus diberikan sejak bayi baru lahir hingga remaja
- meningkatkan kepatuhan jadwal vaksinasi dan imunisasi bayi dan anak juga bagi orang
dewasa dan lanjut usia

- efisiensi dan ekonomis bagi orang tua dan juga bagi rumah sakit dan dokter vaksinator
- memudahkan transportasi,
penyimapanan /storage vaksin

rantai

dingin

(cold

chain

vaccine)

dan

ruang

3. Vaksin untuk bayi anak dan vaksin orang dewasa juga usia lanjut:

Sejak dahulu, orang selalu beranggapan bahwa vaksin dan vaksinasi adalah hanya monopoli
untuk bayi dan anak anak saja, baru belakangan ini, mulai dibicarakan dan dilakukan uji klinik
yang membuktikan bahwa orang dewasa juga orang berusia lanjut memerlukan imunisasi dan
vaksinasi guna melindungi dirinya terhadap penyakit infeksi yang sangat berbahaya bagi orang
dewasa dan orang berusia lanjut, terutama bagi mereka juga sudah menderita beberapa jenis
penyakit degeneratif seperti misalnya penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit
paru, penyakit diabetes, penyakit hati dan ginjal, penderita stroke dan lain lain, dimana
penyakit2 ini akan menjadi lebih serius dan memburuk jika juga terkena penyakit infeksi yang
sebetulnya bisa dicegah dengan diberikan vaksinasi sebelumnya untuk menagkal penyakit infeksi
demikian.
Vaksin untuk Orang Dewasa dan Usia Lanjut:
Saat ini telah dikenal beberapa jenis vaksin yang sangat dianjurkan untuk orang dewasa dan
orang berusia lanjut, sehingga bisa melindungi diri dan kesehatan mereka terhadap komplikasi
penyakit degeneratif yang sudah mereka derita sebelumnya seperti yang disebutkan diatas.
Vaksin Orang Dewasa dan Usia Lanjut adalah sebagai berikut :
1. Vaksin Hepatitis A dan Vaksin Hepatitis B (vaksin virus mati, monovalent)
2. Vaksin Demam Typhus (vaksin bakteri mati, monovalent)
3. Vaksin Varicella (vaksin virus hidup dilemahkan, monovalent)
4. Vaksin Influenza (vaksin virus mati, monovalent)
5. Vaksin Pneumonia (vaksin bakteri mati, monovalent)
Vaksin Bayi Anak :
1. Vaksin DPaT dan DTwP (vaksin bakteri mati, kombinasi trivalent)
2. DPaT Hib Polio (vaksin bakteri dan virus mati, kombinasi pentavalent)
3. Vaksin DPaT HepB Polio (vaksin bakteri dan virus mati, kombinasi pentavalent)

4. Vaksin DPaT HepB Hib Polio (vaksin bakteri dan virus mati, kombinasi hexavalent)
5. Vaksin DPaT Hib (vaksin bakteri mati, kombinasi tetravalent)
6. Vaksin Inactivated Polio (vaksin virus mati, monovalent)
7. Vaksin Polio Oral (vaksin virus hidup dilemahkan, monovalent)
8. Vaksin MMR (vaksin virus hidup dilemahkan, kombinasi trivalent)
9. Vaksin Influenza (vaksin virus mati, monovalent)
10. Vaksin pneumonia (vaksin bakteri mati, monovalent)
11. Vaksin Rabies (vaksin virus hidup dilemahkan, monoovalent)
12. Vaksin Varicella (vaksin virus hidup dilemahkan, monovalent)
13. Vaksin Human Papiloma Virus/HPV (vaksin virus mati, tetravalent)
14. Vaksin Rotavirus (vaksin virus hidup dilemahkan, monovalent)
15. Vaksin Hepatitis A dan Vaksin Hepatitis B (vaksin virus mati, monovalent)
Tujuan pemakaian vaksin kombinasi , antara lain adalah demi keamanan, efisiensi dan
kepatuhan jadwal program imunisasi
4. Pemakaian Vaksin Berdasarakn Tujuan/ Indikasi Pemakaiannya

Dari pembahasan yang lalu dalam website ini, kita juga telah menyinggung tentang vaksinasi
atau imunisasi untuk kepariwisataan (http://selukbelukvaksin.com/traveler-vaccine-vaksinuntuk-wisatawan/)
dan
untuk
Kelomok
Khusus,
misalnya
wanita
hamil
(http://selukbelukvaksin.com/vaksin-untuk-wanita-hamil-vaccines-for-pregnant-woman/).
Untuk mengetahui jenis vaksin tertentu dan jadwal pemberian vaksinasi atau imunisasi untuk
calon ibu dan wanit hamil, juga untuk wisatawan yang akan bepergian kesuatu negara atau
daerah dengan penyakit endemis tertentu, silahkan melihat ke website tersebut diatas.
5. Vaksin Masa Depan

Sejak Dr. Edward Jenner menjadi pioner dalam bidang riset vaksin pada abad ke 18, sampai
detik ini para ahli bidang kedokteran telah berhasil menemukan sebanyak 23 jenis vaksin yang
diperguakan untuk mencegah penyakit infeksi yang dimaksud, hasil dan sumbangsih vaksin
dalam bidang kesehatan umat manusia telah kita sendiri dan anak anak kita rasakan dan alami

manfaatnya, sehingga hidup umat manusia semakin hari semakin sehat, sehat jasmani dan
rohani, juga sejahtera sosial, kualitas sumber daya manusia yang semakin baik dan bermutu.
Namun masih banyak yang harus kita lakukan, karena masih banyak penyakit yang menjadi
beban bagi kesehatan umat manusia, sehingga pekerjaan untuk menemukan jawaban dan solusi
bagi masalah kesehatan ini tidak akan pernah berhenti. Banyak penyakit infeksi yang
sebelumnya telah mulai menghilang, atau sudah terkendali penyebarannya, namun karena
kondisi alam dan kebiasaan buruk manusia, penyakit lama itu timbul kembali dan menjadi
masalah kesehatan dizaman modern ini, misalnya penyakit TBC paru.
Untuk menjawab tantangan ini, para ilmuwan sedang melakukan penelitian untuk menemukan
obat baru juga vaksin baru untuk mengatsi penyakit penyakit tersebut.
Saat ini ada beberapa jenis vaksin yang sedang dalam proses penelitian dan pengembangan,
antara lain :
1. Vaksin HIV AIDs Sejak merebaknya kasus HIV AIDs beberapa decade yang lalu, hingga
sekarang vaksin anti virus HIV ini masih dalam tahap penelitian yang intensif, namun belum
juga berhasil menemukan vaksin yang benar benar memuaskan dan efektif untuk menangkal dan
mengobati infeksi virus HIV AIDs ini.
2. Vaksin Malaria, vaksin ini telah diteliti sejak beberapa puluh tahun yang lalu, dan saat ini
telah mulai memberikan harapan dan hasil hasil uji klinik yang menjanjikan
3. Vaksin demam berdarah dengue, vaksin ini juga telah diteliti sejak beberapa puluh tahun
yang lalu, saat ini uji klinik fase 3 sedang dilakukan secara intensif untuk membuktikan bahwa
vaksin ini aman untuk digunakan, dan efektif untuk menangkal infeksi virus demam berdarah
dengue yang banyak beredar dinegara subtropis dan tropis seperti Indonesia
4. Vaksin untuk penyakit non infeksi seperti vaksin untuk tumor otak (Glioblastoma), vaksin
utk penyakit Alzheimer (penyakit gangguan daya ingat orang tua), vaksin untuk penyakit
Atherosclerosis (penyakit kelainan pembuluh darah), vaksin untuk multiplesclerosis, vaksin
untuk pengobatan kecanduan zat nikotin, kecanduan obat /drugs abuse, vaksin untuk alergi,
vaksin kanker Prostate, vaksin utk diabetes dll
5. Vaksin untuk pengobatan penyakit (Vaccine for Treatmet)
Nanti kita akan mempunya vaksin yang dipergunakan untuk mengobati penyakit bukan hanya
untuk mencegah penyakit infeksi seperti yang kita kenal dan pergunakan saat ini.

TB MDR
Pendahuluan
Tuberkulosis (Tb) merupakan penyebab terbesar penyakit dan kematian di dunia
khususnya di Asia dan Afrika dan sejak tahun 2005 terdapat peningkatan yang
disebabkan oleh pertumbuhan populasi di India, Cina, Indonesia, Afrika Selatan dan
Nigeria. Menurut WHO prevalens kasus TB tahun 2006 ada 14,4 juta kasus dan
multidrug resistant Tb (MDR Tb) ada 0,5 juta kasus dengan Tb kasus baru MDR
23.353 kasus. Jumlah total kasus Tb baru MDR yang diobati tahun 2007 dan 2008
sekitar 50.000 kasus. Prevalens Tb di Indonesia tahun 2006 adalah 253/100.000
penduduk angka kematian 38/100.000 penduduk. Tb kasus baru didapatkan MDR Tb
2% dan Tb kasus yang telah diobati didapatkan MDR Tb 19%.
Timbulnya resistensi obat dalam terapi Tb khususnya MDR Tb merupakan masalah
besar kesehatan masyarakat di berbagai negara dan fenomena MDR menjadi salah
satu batu sandungan program pengendalian Tb. Pengobatan pasien MDR Tb lebih
sulit, mahal, banyak efek samping dan angka kesembuhannya relatif rendah.
Penyebaran resistensi obat di berbagai negara tidak diketahui dan tatalaksana
pasien
MDR
Tb
masih
tidak
adekuat.
Mekanisme
Multidrug resistant tuberculosis (MDR Tb) adalah Tb yang disebabkan oleh
Mycobacterium Tuberculosis (M. Tb) resisten in vitro terhadap isoniazid (H) dan
rifampisin (R) dengan atau tanpa resisten obat lainnya. Terdapat 2 jenis kasus
resistensi obat yaitu kasus baru dan kasus telah diobati sebelumnya. Kasus baru
resisten obat Tb yaitu terdapatnya galur M. Tb resisten pada pasien baru
didiagnosis Tb dan sebelumnya tidak pernah diobati obat antituberkulosis (OAT)
atau durasi terapi kurang 1 bulan. Pasien ini terinfeksi galur M. Tb yang telah
resisten obat disebut dengan resistensi primer. Kasus resisten OAT yang telah
diobati sebelumnya yaitu terdapatnya galur M. Tb resisten pada pasien selama
mendapatkan terapi Tb sedikitnya 1 bulan. Kasus ini awalnya terinfeksi galur M Tb
yang masih sensitif obat tetapi selama perjalanan terapi timbul resistensi obat atau
disebut
dengan
resistensi
sekunder
(acquired).
Secara mikrobiologi resistensi disebabkan oleh mutasi genetik dan hal ini membuat
obat tidak efektif melawan basil mutan. Mutasi terjadi spontan dan berdiri sendiri
menghasilkan resistensi OAT. Sewaktu terapi OAT diberikan galur M. Tb wild type
tidak terpajan. Diantara populasi M. Tb wild type ditemukan sebagian kecil mutasi
resisten OAT. Resisten lebih 1 OAT jarang disebabkan genetik dan biasanya
merupakan hasil penggunaan obat yang tidak adekuat. Sebelum penggunaan OAT
sebaiknya dipastikan M. Tb sensitif terhadap OAT yang akan diberikan. Sewaktu

penggunaan OAT sebelumnya individu telah terinfeksi dalam jumlah besar populasi
M.
Tb
berisi
organisms
resisten
obat.
Populasi galur M. Tb resisten mutan dalam jumlah kecil dapat dengan mudah
diobati. Terapi Tb yang tidak adekuat menyebabkan proliferasi dan meningkatkan
populasi galur resisten obat. Kemoterapi jangka pendek pasien resistensi obat
menyebabkan galur lebih resisten terhadap obat yang digunakan atau sebagai efek
penguat resistensi. Penularan galur resisten obat pada populasi juga merupakan
sumber kasus resistensi obat baru. Meningkatnya koinfeksi Tb HIV menyebabkan
progresi awal infeksi MDR Tb menjadi penyakit dan peningkatan penularan MDR Tb.
Banyak faktor penyebab MDR Tb. Beberapa analisis difokuskan pada
ketidakpatuhan pasien. Ketidakpatuhan lebih berhubungan dengan hambatan
pengobatan seperti kurangnya pelayanan diagnostik, obat, transportasi, logistik dan
biaya pengendalian program Tb. Survei global resistensi OAT mendapatkan
hubungan antara terjadinya MDR Tb dengan kegagalan program Tb nasional yang
sesuai petunjuk program Tb WHO. Terdapatnya MDR Tb dalam suatu komuniti akan
menyebar. Kasus tidak diobati dapat menginfeksi lebih selusin penduduk setiap
tahunnya dan akan terjadi epidemic khususnya di dalam suatu institusi tertutup
padat seperti penjara, barak militer dan rumah sakit. Penting sekali ditekankan
bahwa MDR Tb merupakan ancaman baru dan hal ini merupakan manmade
phenomenon.
Pengendalian sistematik dan efektif pengobatan Tb yang sensitive melalui DOTS
merupakan senjata terbaik untuk melawan berkembangnya resistensi obat.
Terdapat 5 sumber utama resisten obat Tb menurut kontribusi Spigots, yaitu :
1. Pengobatan tidak lengkap dan adekuat menyebabkan mutasi M. Tb resistensi
2. Lamanya pasien menderita infeksi disebabkan oleh keterlambatan diagnosis MDR
Tb dan hilangnya efektiviti terapi sehingga terjadi penularan galur resisten obat
terhadap
kontak
yang
masih
sensitif.
3. Pasien resisten obat Tb dengan kemoterapi jangka pendek memiliki angka
kesembuhan kecil dan hilangnya efek terapi epidemiologi penularan.
4. Pasien resisten obat Tb dengan kemoterapi jangka pendek akan mendapatkan
resistensi lanjut disebabkan ketidak hatihatian pemberian monoterapi (efek
penguat).
5. Koinfeksi HIV dapat memperpendek periode infeksi menjadi penyakit Tb dan
penyebab
pendeknya
masa
infeksi.
Diagnosis
Langkah awal mendiagnosis resisten obat Tb adalah mengenal pasien dalam risiko
dan mempercepat dilakukannya diagnosis laboratorium. Deteksi awal MDR Tb dan
memulai sejak awal terapi merupakan faktor penting untuk mencapai keberhasilan
terapi. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi sputum BTA, uji kultur M. Tb dan
resistensi obat. Kemungkinan resistensi obat Tb secara simultan dipertimbangkan
dengan pemeriksaan sputum BTA sewaktu menjalani paduan terapi awal. Kegagalan
terapi dapat dipertimbangkan sebagai kemungkinan resisten obat Tb sampai ada
hasil uji resistensi obat beberapa minggu kemudian yang menunjukkan terdapatnya

paduan terapi yang tidak adekuat. Identifikasi cepat pasien resistensi obat Tb
dilakukan terutama pasien memiliki risiko tinggi karena program pengendalian Tb
lebih sering menggunakan paduan terapi empiris, minimalisasi penularan, efek
samping OAT, memberikan terapi terbaik dan mencegah resistensi obat lanjut.
Prediksi seseorang dalam risiko untuk melakukan uji resistensi obat adalah langkah
awal deteksi resistensi obat. Prediktor terpenting resistensi obat adalah riwayat
terapi Tb sebelumnya, progresiviti klinis dan radiologi selama terapi Tb, berasal dari
daerah insidens tinggi resisten obat dan terpajan individu infeksi resisten obat Tb.
Setelah pasien dicurigai MDR Tb harus dilakukan pemeriksaan uji kultur M. Tb dan
resistensi obat. Laboratorium harus mengikuti protokol jaminan kualiti dan memiliki
akreditasi nasional / internasional. Khususnya 2 sampel dengan hasil yang berbeda
dari laboratorium dengan tingkat yang berbeda direkomendasikan untuk
diperiksakan pada laboratorium yang lebih balk. Penting sekali laboratorium
menekankan pemeriksaan uji resistensi obat yang cepat, adekuat, valid dan mudah
dicapai oleh pasien dan layanan kesehatan. Mewujudkan laboratorium seperti ini
disuatu daerah merupakan tantangan untuk program pengendalian Tb.
Kesimpulan
Tuberkulosis sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan di dunia dan
diperparah dengan timbulnya masalah baru berupa MDR Tb. Kebanyakan MDR Tb
terjadi karena kekurang patuhan dalam pengobatan Tb.Resistensi yang terjadi
dapat berupa resistensi primer dan resistensi sekunder. Deteksi awal MDR Tb dan
memulai terapi sedini mungkin merupakan faktor penting untuk tercapainya
keberhasilan
terapi.
Daftar
Pustaka
1. World Health Organization. Key point. WHO Report 2008 : Global Tuberculosis
Control 2008 surveillance, planning, financing. Geneva, Switzerland: WHO;2008.p.37.
2. World Health Organization. Profiles of high-burden countries. Country profile
Indonesia. WHO Report 2008 : Global Tuberculosis Control 2008 surveillance,
planning,
financing.
Geneva,
Switzerland:
WHO-,2008.p.
113-8.
3. World Health Organization. Guidelines for the programmatic management of
drug-resistant
tuberculosis.
Geneve,
Switzerland:
WHO;2006.p.1-8.
4. World Health Organization. Treatment of tuberculosis: guidelines for national
programmes,
3rd
ed.
Geneva,
Switzerland:
WHO-2003.p.39-47.
5. Crofton SJ, Chaulet P, Maher D. Guidelines for the management of drug-resistant
tuberculosis.
Geneva,
Switzerland:
WHO;1996.p.5-9.
6. Francis J. Curry National Tuberculosis Center, San Francisco Departement of Public
Health, University of California. Drug-Resistant Tuberculosis a Survival Guide for
Clinicians. Loeffler AM, Daley CL, Flood JM editors. California San francisco: CDC12004.p.1-14.
7. Iseman MD, Goble M. Multidrug-resistant tuberculosis. N Engl J Med. 1996;334268-9.

8. Munsiff SS, Bassoff T, Nivin B, et al. Molecular epidemiology of multidrugresistant


tuberculosis, New York City, 1995-1997. Emerg Infect Dis. 2002;8:12308.
9. The WHO/IUATLD Global Project on Anti-Tuberculosis Drug Resistance
Surveillance. Anti-Tuberculosis Drug Resistance in the World. Report No. 3. Geneva,
Switzerland:
WHO-12004.p.7-36.
10. Partners In Health, Harvard Medical School, Bill & Melinda Gates Foundation. A
DOTS-Plus Handbook Guide to the Community based Treatment of MDR TB. Boston,
Massachusetts:
PIH-12002.p.1-13.
11. Partners In Health, Harvard Medical School, Division of Social Medecine and
Health Inequalities Brigham and Womens Hospital. The PIH Guide to the Medical
Management of Multidrug-Resistant Tuberculosis International Edition. Rich ML
editor.
Boston,
Massachusetts:
PIH;2003.p.1-19.
12. Parsons LM, Somoskovi A, Urbanczik R, Salfinger M. Laboratory diagnostic
aspects of drug resistant tuberculosis. Front Biosci. 2004;9:2086-105.
13. Sarin R. MDR-TB Interventional Strategy. Indian J Tuberc 2007;54:110-6.
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest
Social Profiles

Popular

Tags

Popular Posts

TB Tulang
TUBERKULOSIS TULANG Tuberkulosis sebagai suatu penyakit sistemik yang
dapat menyerang berbagai organ termasuk tulang dan sedi. Lesi pa...

Mekanisme dan Diagnosis Multidrug Resistant Tuberculosis (MDR Tb)


Mekanisme dan Diagnosis Multidrug Resistant Tuberculosis (MDR Tb) Arif
Riswahyudi Hanafi, Prasenohadi Departemen Pulmonologi dan Il...

Diagnosis TB pada anak


DIAGNOSIS TUBERKULOSIS PADA ANAK Diagnosis paling tepat adalah dengan
ditemukannya kuman TBC dari bahan yang diambil dari penderita, m...

TBC di Indonesia Peringkat ke-4

TB di Indonesia Peringkat ke-4 Hampir 10 tahun lamanya Indonesia


menempati urutan ke-3 sedunia dalam hal jumlah penderita tuberkulosis...

Hubungan Rokok dan TBC


Hubungan Rokok dan TBC Banyak orang, terutama perokok, bakal
menyangkal keras perselingkuhan antara rokok dan TBC. Percayalah, sudah
b...

EBOLA
Penyakit virus ebola
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Wikipedia Indonesia tidak dapat bertanggung jawab dan tidak bisa
menjamin bahwa informasi kedokteran yang diberikan di halaman
ini adalah benar.
Mintalah pendapat dari tenaga medis yang profesional sebelum melakukan
pengobatan.

Penyakit virus ebola


Klasifikasi dan rujukan eksternal

Sebuah fotografi pada tahun 1976 yang menunjukkan dua perawat

berdiri di depan Mayinga N., seorang pengidap Ebola; ia meninggal


beberapa hari setelah mengalami pendarahan internal.

ICD-10

A98.4

ICD-9

065.8

DiseasesDB

18043

MedlinePlus

001339

eMedicine

med/626

MeSH

D019142

Penyakit virus ebola (EVD) atau demam berdarah Ebola (EHF) adalah penyakit pada
manusia yang disebabkan oleh virus Ebola. Gejalanya biasanya dimulai dua hari hingga tiga
minggu setelah terjangkit virus, dengan adanya demam, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan sakit
kepala. Biasanya diikuti dengan mual, muntah, dan diare, serta menurunnya fungsi liver dan
ginjal. Pada saat itu, beberapa orang mulai mengalami masalah pendarahan.[1]

Daftar isi

1 Penyebab dan diagnosis

2 Pencegahan

3 Referensi

4 Pranala luar

Penyebab dan diagnosis


Virus mungkin didapatkan melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh hewan yang terinfeksi
(bisanya monyet atau kelelawar buah).[1] Penyebaran lewat udara belum pernah tercatat dalam
lingkungan alami.[2] Kelelawar buah diyakini dapat membawa dan menyebarkan virus tanpa
terjangkit. Begitu terjadi infeksi pada manusia, penyakit ini dapat menyebar pada orang-orang.
Pria yang selamat dari penyakit ini dapat menularkannya lewat sperma selama hampir dua bulan.
Untuk membuat diagnosis, biasanya penyakit lain dengan gejala serupa, seperti malaria, kolera
dan demam berdarah virus lainnya harus dikecualikan terlebih dahulu. Untuk memastikan
diagnosis, sampel darah diuji untuk antibodi virus, RNA virus, atau virus itu sendiri.[1]

Pencegahan
Pencegahannya meliputi upaya mengurangi penyebaran penyakit dari monyet dan babi yang
terinfeksi ke manusia. Hal ini dapat dilakukan dengan memeriksa hewan tersebut terhadap
infeksi, serta membunuh dan membuang hewan dengan benar jika ditemukan penyakit tersebut.
Memasak daging dengan benar dan mengenakan pakaian pelindung ketika mengolah daging juga

mungkin berguna, begitu juga dengan mengenakan pakaian pelindung dan mencuci tangan ketika
berada di sekitar orang yang menderita penyakit tersebut. Sampel cairan dan jaringan tubuh dari
penderita penyakit harus ditangani dengan sangat hati-hati.[1]
Belum ada pengobatan khusus untuk penyakit ini, upaya untuk membantu orang yang terjangkit
meliputi pemberian terapi rehidrasi oral (air yang sedikit manis dan asin untuk diminum) atau
cairan intravena.[1] Penyakit ini memiliki tingkat kematian yang tinggi: seringkali menewaskan
antara 50% hingga 90% orang yang terinfeksi virus.[1][3] EVD pertama kali diidentifikasi di
Sudan dan Republik Demokratik Kongo. Penyakit ini biasanya mewabah di wilayah tropis
Afrika Sub-Sahara.[1] Sejak tahun 1976 (ketika pertama kali diidentifikasi) hingga 2013, kurang
dari 1.000 orang per tahun telah terinfeksi.[1][4] Wabah terbesar hingga saat ini adalah wabah
Ebola Afrika Barat 2014 yang sedang terjadi, dan melanda Guyana, Sierra Leone, Liberia dan
kemungkinan Nigeria.[5][6] Hingga bulan Agustus 2014, lebih dari 1600 kasus telah diidentifikasi.
[7]
Upaya sedang dilakukan untuk mengembangkan vaksin, namun belum membuahkan hasil.[1]

Pedoman Umum Revitalisasi Posyandu

Pengertian posyandu adalah sistem pelayanan yang dipadukan antara satu program dengan
program lainnya yang merupakan forum komunikasi pelayanan terpadu dan dinamis seperti
halnya program KB dengan kesehatan atau berbagai program lainnya yang berkaitan dengan
kegiatan masyarakat (BKKBN, 1989).
Pelayanan yang diberikan di posyandu bersifat terpadu , hal ini bertujuan untuk memberikan
kemudahan dan keuntungan bagi masyarakat karena di posyandu tersebut masyarakat dapat
memperolah pelayanan lengkap pada waktu dan tempat yang sama (Depkes RI, 1990).
Posyandu dipandang sangat bermanfaat bagi masyarakat namun keberadaannya di masyarakat
kurang berjalan dengan baik, oleh karena itu pemerintah mengadakan revitalisasi posyandu.
Revitalisasi posyandu merupakan upaya pemberdayaan posyandu untuk mengurangi dampak
dari krisis ekonomi terhadap penurunan status gizi dan kesehatan ibu dan anak. Kegiatan ini juga
bertujuan untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam menunjang upaya

mempertahankan dan meningkatkan status gizi serta kesehatan ibu dan anak melalui peningkatan
kemampuan kader, manajemen dan fungsi posyandu (Depdagri, 1999).
Sasaran Revitalisasi Posyandu
Kegiatan revitalisasi posyandu pada dasarnya meliputi seluruh posyandu dengan perhatian
utamanya pada posyandu yang sudah tidak aktif/rendah stratanya (pratama dan madya) sesuai
kebutuhan, posyandu yang berada di daerah yang sebagian besar penduduknya tergolong miskin,
serta adanya dukungan materi dan non materi dari tokoh masyarakat setempat dalam menunjang
pelaksanaan kegiatan posyandu. Dukungan masyarakat sangat penting karena komitmen dan
dukungan mereka sangat menentukan keberhasilan dan kesinambungan kegiatan posyandu
(Depkes RI, 1999).
Kontribusi posyandu dalam meningkatkan kesehatan bayi dan anak balita sangat besar, namun
sampai saat ini kualitas pelayanan posyandu masih perlu ditingkatkan. Keberadaan kader dan
sarana yang ada merupakan modal dalam keberlanjutan posyandu. Oleh karena itu keberadaan
posyandu harus terus ditingkatkan sehingga diklasifikasikan menjadi 4 jenis yaitu posyandu
pratama, madya, purnama, dan mandiri.

Jenis posyandu
Untuk meningkatkan kualitas dan kemandirian posyandu diperlukan intervensi sebagai berikut :
1. Posyandu pratama (warna merah)
Posyandu tingkat pratama adalah posyandu yang masih belum mantap, kegiatannya belum bisa
rutin tiap bulan dan kader aktifnya terbatas. Keadaan ini dinilai gawat sehingga intervensinya
adalah pelatihan kader ulang. Artinya kader yang ada perlu ditambah dan dilakukan pelatihan
dasar lagi.
2. Posyandu madya (warna kuning)
Posyandu pada tingkat madya sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun
dengan rata-rata jumlah kader tugas 5 orang atau lebih. Akan tetapi cakupan program utamanya
(KB, KIA, Gizi, dan Imunisasi) masih rendah yaitu kurang dari 50%. Ini berarti, kelestarian
posyandu sudah baik tetapi masih rendah cakupannya. Intervensi untuk posyandu madya ada 2
yaitu :
a. Pelatihan Toma dengan modul eskalasi posyandu yang sekarang sudah dilengkapi dengan
metoda simulasi.

b. Penggarapan dengan pendekatan PKMD (SMD dan MMD) untuk menentukan masalah dan
mencari penyelesaiannya, termasuk menentukan program tambahan yang sesuai dengan situasi
dan kondisi setempat.

3. Posyandu purnama (warna hijau)


Posyandu pada tingkat purnama adalah posyandu yang frekuensinya lebih dari 8 kali per tahun,
rata-rata jumlah kader tugas 5 orang atau lebih, dan cakupan 5 program utamanya (KB, KIA,
Gizi dan Imunisasi) lebih dari 50%. Sudah ada program tambahan, bahkan mungkin sudah ada
Dana Sehat yang masih sederhana. Intervensi pada posyandu di tingkat ini adalah :
a. Penggarapan dengan pendekatan PKMD untuk mengarahkan masyarakat menetukan sendiri
pengembangan program di posyandu
b. Pelatihan Dana Sehat, agar di desa tersebut dapat tumbuh Dana Sehat yang kuat dengan
cakupan anggota minimal 50% KK atau lebih.

4. Posyandu mandiri (warna biru)


Posyandu ini berarti sudah dapat melakukan kegiatan secara teratur, cakupan 5 program utama
sudah bagus, ada program tambahan dan Dana Sehat telah menjangkau lebih dari 50% KK.
Intervensinya adalah pembinaan Dana Sehat, yaitu diarahkan agar Dana Sehat tersebut
menggunakan prinsip JPKM.
Kolaborasi Pelayanan Kesehatan PONED - PONEK dalam Rangka Implementasi JKN

Lampung - Peran jajaran kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit sangat penting dalam
mengefektifkan pelayanan obstetri neonatal emerjensi dasar atau PONED di Puskesmas dan
pelayanan obstetri neonatal emerjensi komprehensif atau PONEK di Rumah Sakit. PONED dan
PONEK telah dilaksanakan sejak lebih dari satu dasa warsa yang lalu dan dimaksudkan untuk

memperbaiki pelayanan kesehatan ibu dan anak - khususnya untuk mempercepat penurunan
angka kematian ibu serta angka kematian bayi dan anak.
Pengembangan PONED dan PONEK merupakan bagian dari upaya pembangunan kesehatan
untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia yang setinggi-tingginya. Derajat
kesehatan dapat dinilai melalui berbagai indikator seperti usia harapan hidup, status gizi
masyarakat, angka kesakitan ibu, angka kematian bayi dan balita demikian sambutan Kepala Sub
Direktorat Kesehatan Dasar Direktorat Bina Upaya Kesehatan Dasar, dr. H. KM. Taufiq, MMR,
dalam acara pertemuan Peningkatan Kemampuan Kolaborasi PONED PONEK dalam rangka
Implementasi JKN di Propinsi Lampung tahun 2013 oleh Direktorat Jenderal Bina Upaya
Kesehatan Dasar 10 s/d 12 Desember 2013 di Randu Bandar Lampung, acara dihadiri oleh :
peserta pusat, Dinas Kesehatan Propinsi Lampung, seluruh Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten
Propinsi Lampung, Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Direktur RSUD di Propinsi Lampung.
Pertemuan ini merupakan pertemuan yang berupaya menurunkan AKI dan AKB dalam mencapai
target MDGs dan implementasi kegiatan Jaminan Kesehatan Nasional ( JKN), dengan tujuan
dapat menurunkan AKI dan AKB diperlukan perbaikan kualitas pelayanan PONED dan PONEK
di Fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan, dan program tersebut sejalan dengan
pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional tahun 2014 serta adanya sinkronisasi antara
pemerintah pusat dan daerah

Percepatan pencapaian MDGs 4 dan 5 terutama angka kematian ibu dan bayi yang merupakan
komitmen global melalui upaya promotif dan preventif dan kuratif, salah satu diantaranya yaitu
penguatan kolaborasi PONED dan PONEK dalam suatu sistem pembinaan dan rujukan, tanpa
mengesampingkan upaya lai yang telah ada termasuk kesetaraan gender, kesehatan reproduksi
dan KB serta ANC dan persalinan di faskes.
JKN akan segera dilaksanakan 1 Januari 2014, diperlukan komitmen semua pihak Pemerintah
dan Pemerintah Daerah dalam mempersiapkan pelaksanaannya sebaik mungkin.
Beberapa fokus yang harus diperhatikan antara lain : Penyiapan fasilitas pelayanan kesehatan
baik primer maupun lanjutan dari segi input maupun proses pelayanan, serta kompetensi
pemberi pelayanan, Penyiapan peraturan mengenai sistem rujukan dan regionalisasi sistem
rujukan, Memaksimalkan cakupan peserta Badan Penyelenggara Jaminanan Sosial (BPJS)
Kesehatan yang terintegrasi anatara peserta Jamkesda dan Jamkes lainnya, kendala yang biasa
dialami saat integrasi antara lain besaran iuran yang berbeda serta paket manfaat yang berbeda

sehingga harus bisa dikoordinasikan dengan pemberi pelayanan dan peserta BPJS, Penambahan
iuran oleh Pemda bagi peserta penerima jaminan kesehatan yang berstatus PNS dari 2% menjadi
3%, permasalahan saat ini banyak Dinas Kesehatan / Pemda yang menunggak klaim ke PT
ASKES, Pemanfaatan penerimaan biaya kapitasi dari BPJS ke Puskesmas, Pembinaan dan
pengawasan pelaksanaan JKN oleh Dinas Kesehatan. Hasil dari pertemuan ini diharapkan Dinas
Kesehatan mau berkomitmen untuk mendukung pelaksanaan JKN 2014 serta turut membina dan
mengawasi pelaksanaannya di daerah.
**Berita ini disiarkan oleh Bagian Hukormas, Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat
menghubungi melalui nomor telepon : 021-5277734 atau alamat e-mail : humas.buk@gmail.com