Anda di halaman 1dari 6

ETNOPSIKIATRI

Etnopskiatri merupakan perhatian dari etnomedisin,yang mana suatu


bidangnya yang biasanya disebut sebagaipsikiatri transkulturataupsikiatri lintas
budaya atau etnopskiatri. Dan Etnomedisin juga mencakup studi tentang
bagaimana masyarakat tradisional memandang dan menangani penyakit jiwa.

Awal dari etnopskiatri


Perhatian awal dari para ahli antropologi terhadap penyakit mental mulanya
sangatlah jauh dari bidang etnomedisin.perhatian mereka itu mulai dari pemahaman
atas hubungan antara kpribadian dan kekuatan-kekuatan budaya yang berpengaruh
dan membentuk kpribadian. Perhatian utama di tunjuka untuk menguji hipotesis
Freud,untuk menentukan apakah oedipus kompleks itu bersifat universal,apakah fasefase perkembangan oral,anal,genital dan laten dalam sejarah kehidupan individu
bersifat universal ataukah hanya terbatas pada masyarakat-masyarakat khusus.
Ahli antropologi medis menaruh perhatian terhadap serangkaian pertanyaan
yang berhubungan dengan konsep normal dan abnormal dalam lingkungan lintas
budaya,dengan konsep-konsep pribumi mengenai gangguan psikiatri,cara-cara
penyembuhan.beberapa pertanyaan yang ditangani oleh para ahli antropologi tentang
etnopsikiatri yaitu:
1. Defenisi budaya tentang normal dan abnormal,serta bagaimana penyakit
jiwa diakui dan didefenisikan dalam masyarakat lain di luar masyarakat
amerika.
2. Penjelasan non-barat tentang penyakit jiwa.
3. Cara-cara segi budaya untuk menangani tingkah laku menyimpang yang di
defenisikan sebagai abnormal.
4. Terjadi penyakit jiwa dalam masyarakat-masyarakat dengan kompleksitas
yang berbeda.
5. Demografi penyakit jiwa.

DEFENISI BUDAYA TENTANG NORMAL DAN ABNORMAL

1. Kasus teori label


Rosenhan menyatakan bahwa suatu label psikiatri mempunyai kehidupan dan
pengaruh
tersendiri.sekali
terbentuk
impresi
bahwa
pasien
menderita
schizophrenia,harapan orang adalah bahwa ia akan selamannya demikian.setelah
melewati suatu priode tanpa ada gejala-gejala lagi,pasien dapat dianggap telah
mereda dan siap untuk dilepaskan,namun cap tetap melekat setelah ia di izinkan
pulang,dengan harapan yang tidak tegas bahwa ia akan bertingkah laku sebagai
seorang penderita schizophrenia lagi.
Label psikiatri seringkali merupakan ramalan diri yang direalisir sendiri oleh
pasien,keluarganya dan oleh kawan-kawannya.pada akhirnya pasien juga menerima
diagnosis trsebut dengan segala tuntutan harapannya dan bertingkah laku seperti
yang di inginkan.
2.Argumentasi terhadap pemberian label
Walaupun teori label menarik sebagai suatu pendekatan untuk memahami dan
menangani penyakit jiwa,namun teori itu tidak banyak diterima oleh para ahli
antropologi yang bekerja dalam bidang-bidang lintas budaya.
Kata Edgerton selanjutnya penyakit jiwa tidak hanya merupakan mitos juga
bukan semata-mata suatu masalah sosial.tetapi memang-memang ada gangguan
dalam pikiran,prasaan dan tingkah-laku yang membutuhkan pengobatan.juga tidak
berarti bahwa diagnosis psikiatrinterutama bukanlah suatu usaha empris yang
sungguh-sungguh untuk mengklasifikasikan gejala-gejala atau sindroma-sindroma
kedalam apa yang suatu ketika diharapkan menjadi sesuatu nosologi ilmiah.
Menurut foster dan anderson bahwa tidak ada satu kebudayaan pun dimana
laki-laki ataupun perempuan tidak acuh terhadap tingkah laku yang menyimpang
,mengganggu yang ada dikalangan mereka,apapun defenisi konteks budaya nya
terhadap tingkah laku tersebut.
Leighton membuktikan bahwa sebagian besar keruwetan dan perbedaan
pendapat mengenai maaalah prsamaan dan perbedaan penyakit mental dalam
berbagai masyarakat barat dan non-barat bersumber dari kenyataan bahwa orang
cendrung berpikir dalam rangka kategori diagnostik,seperti yang diakui oleh
masyarakat yang bersangkutan.karena etiologi non barat biasanya sangat berbeda
dari penjelasan-penjelasan barat,proses pmberian label diagnostik,tetapi kata
Leighton bila perhatian dibatasi pada perbandingan pola-pola gejala dan bukannya

pada kategori-kategori diagnostik,maka sebagian besar hambatan lintas budaya akan


lenyap. Edgerton berpendapat bahwa usaha-usaha untuk membenarkan tentang
kekuatan kebudayaan asing ,atau inti yang sama dari penyakit jiwa adalah prematur.
ETIOLOGI-ETIOLOGI PENYAKIT
JIWA NON-BARAT
Etiologi dari banyak penyakit jiwa dapat dipahami apabila konteks sosialnya
yang merupakan pencetus nya dipelajari melalui proses. Generalisasi atas perbedaan
etiologi kejiwaan barat dan non-barat ,suatu pembedaan yang penting adalah bahwa
pada masyarakat non-barat, faktor-faktor psikologis ,pengalaman-pengalaman hidup
dan stres nampak kurang memainkan pranan di bandingkan dengan yang terdapat
dalam masyarakat barat.misalnya penduduk di kalumburu tidak akan dan tidak dapat
membicarakan perangai atau konflik-konflik kejiwaan pada seseorang yang sakit
,walaupun orang-orang Yoruba percaya bahwa beberapa penyakit pikiran dan emosi
dapat tertangkap akibat berhubungan orang-orang yang sakit akibat kekuatankekuatan kosmik,terutama fisik seperti pukulan pada kepala dan kehilangan
darah,dan karena beberapa pengalaman yang menyedihkan,bila ditimbang-timbang
penjelasan psikologi memainkan pranan sangat kecil dalam menjelaskan tentang
tingkah-laku abnormal,faktor-faktor penyebab yang pribadi dalam hal p0enyakit
jiwa,yang mempunyai arti penting dalam pengobatan psikiatri barat umumnya amat
terbatas atau sedikit sekali di perhatikan dalam sistem-sistem tradisional.
CARA-CARA BUDAYA DALAM
MENANGANI PENYAKIT JIWA
1. Siapa yang menyembuhkan?
Para ahli antropologi menaruh perhatiannya pada ciri-ciri psikologis dan sosial
dari para shaman,berasal dari bahasa tungus,siberia, istilah tersebut digunakan
dalam arti umum tentang penyembuhan yang memiliki kekuatan-kekuatan
supranatural dan kontak dengan roh-roh biasanya diproleh melalui pilihan oleh para
roh (misalnya kemasukan yang pertama kalinya yang menimbulkan penyakit yang
gawat dan diikuti dengan penyembuhan yang lama). Dalam pengobatan shaman
biasanya berada dalam keadaan kesurupan (tak sadar). Dimana mereka
berhubungan dengan roh pembinanya untuk mendiagnosis penyakit.
Shaman adalah seorang yang tidak stabil dan sering mengalami delusi dan
mungkin ia adalah orang wadam atau homoseksual.namun apabila ketidakstabilan
jiwanya secara budaya diarahkan pada bentuk-bentuk konstruktif,maka individu
tersebut di bedakan dari orang-orang lain yang mungkin menunjukkan tingkah-laku
serupa,namun digolongkan sebagai abnormal oleh para warga masyarakatnya dan

merupakan subjek dari upacara-upacara penyembuhan. Murphy menyimpulkan


situasi ini dengan menyatakannyatanya ada serangkaian kemungkinan respons
terhadap orang yang sakit jiwa ,dan sebagian macam respon itu terhadap satu orang
yang sakit jiwa dan terhadap satu orang tertentu lebih ditentukan oleh sifat tngkahlakunya daripada oleh susunan budaya yang telah lebih dulu ada,untuk memberikan
respon dalam bentuk yang seragam terhadap apapun yang dicap sebagai penyakit
jiwa.
2. Perawatan terhadap orang yang sakit jiwa
Menurut Lambo,dalam masyarakat afrika,yang menderita psikosis berat dan
cacat mental diberi tempat sebagai warga masyarakat yang menjalankan fungsinya
dalam masyarakatnya,apabila mereka dapat mengurus dirinya sendiri sampai pada
tingkatan kecukupan tertentu. Masyarakat Yoruba katanya mengurus diri mereka
sendiri dan dalam menyesuaikan diri dengan konsep mereka tentang takdir dan nasib
baik,sulit untuk mengusir anggota-anggota keluarga mereka sendiri,karena setiap
orang laki-laki dewasa yoruba memiliki kamar sendiri,seseorang yang sakit gawat
dapat dipelihara dirumah tanpa mengganggu kehidupan rutin RT nya ataupun
kehidupan masyarakatnya.
Di lingkungan kelompok tani penderita sering menimbulkan rasa empati dan
kasihan.contohnya paling sedikit tiga orang yang hidup di desa kun Shen di taiwan
dinilai sebagai menderita gangguan jwa yang cukup serius yang apabila ada di
amerika,mereka akan dimasukkan ke lembaga perawatan.namun pada waktu tenang
mereka,para penderita itu boleh berpartsipasi dalam kehidupan sehari-sehari sejauh
kemampuan mereka,mereka sering jadi bahan tertawaan,tetapi jarang menimbulkan
rasa takut,seorang wanita mengalami masa waras hingga tiga bulan,dimana selama
masa itu ia mengurus dirinya sendiri dan mengobrol dengan tetangga dan
kerabatnya.pada saat lainia menolak untuk makan,menangis terus mengurus dan
kadang-kadang menyiram air kotor kepada orang-orang lain.dan perasaan yang
umum adalah bahwa ia tidak memerlukan perawatan khusus seperti perawatan
rumah sakit,karena nyatanya ia tidak membahayakan seorang pun.

3. Tujuan perawatan
Perwatan dalam masyarakat barat dan non-barat juga berbeda.perawatan
dalam terapi barat berkisar dari pengobatan simptomatik,dari hal-hal gerakangerakan tics dan fobia sampai pembongkaran besar-besaran kpribadian pasien.
Tetapi barat dalam waktu tertentu adalah redukasi,pasien didorong untuk

mengembangkan suatu pandangan baru tentang dirinya sendiri,dengan harga diri


yang lebih besar,agar ia bebas dari rasa sakit subjektif kekhawatiran dan
stres,mungkin untuk mencapai kebebasaan yang lebih besar,dan dapat berfungsi
lebih efektif lagi dalam masyarakat sebaliknya ahli-ahli terapi non-barat sedikit sekali
melakukan redukasi,memperkuat ego,dan modifikasi kpribadian.
PERBANDINGAN TIMBULNYA PENYAKIT JIWA
DALAM MASYARAKAT YANG BERBEDA
1. Mitos eksistensi primitif yang bebas stress
Orang batak sejak lama percaya dan ingin mempercayai bahwa dalam
masyarakat sederhana yang belum dirusak oleh pradaban manusia hidup dalam
hubungan alami satu sama lain suatu hubungan yang ditandai oleh kerjasama,dan
goro,logikanya karena tingkatan-tingkatan stres mestinya rendah dala suatu
masyarakat yang demikian,maka penyakit kejiwaan yang berasal dari kehidupan yang
penuh stres tentunya juga jarang.walaupun secara historis mmang benar bahwa
masyarakat sederhana kurang mengalami stres karena pradaban,namun suatu dunia
yang penuh dengan dewa-dewa dan hantu,tukang sihir ,tidak sedikit menimbulkan
stres dibandingkan dengan ketakutan yang ada pada kita,ketakutan yang jelas
merupakan stres,mungkin merupakan pngalaman yang lebih umum dalam
masyarakat tersebut daripada stres dalam kehidupan modern.
Stres yang diakibatkan oleh prubahan sosial budaya yang cepat,masyarakat
bukannya asing terhadap tingkah laku abnormal.mereka berpendapat bahwa kita
tidak boleh mengasumsikan bahwa penyakit jiwa adalah harga yang kita bayar bagi
pradaban,seperti yang dikatakan oleh filed bahwa masih saja membekas pikiran
bahwa stres mental dan penyakit jiwaadalah hak istimewa masyarakat yang terlalu
beradab.

2. Variasi dalam pola-pola pokok tingkah-laku abnormal


Leighton menemukan bahwa banyak sekali pola-pola gejala yang ditunjukan
oleh para pasien Yoruba adalah yang dikenal dalam ilmu psikiatri .namun ia juga
menemukan kesenjangan yang penting terutama gejala-gejala fobia yang komplusifobsesi yang hampir tak ada.gejala-gejala depresi tidak ditemukan seperti itu,walaupun
komponen dari sindroma seperti gairah hidup,kekhawatiran yang ekstrim.

PENYAKIT JIWA DAN PERUBAHAN


Dalam mencatat kenaikan insiden penyakit jiwa dalam berbagai populasi yang
sedang mengalami perubahan sosial-budaya yang cepat,
David loff menjelskan tentang hubungan antara penyakit jiwa dengan praktek
sosialisasi di appalachia.ia telah mendmostrasikan betapa ketergantungan yang
berlebihan terhadap sumber-sumber keamanan yang terbatas memelihara keakraban
yang sia-sia,betapa sistem keluarga yang tertutup dan terikat tradisi membentuk
patologi terhadap anak sehingga menjadi takut terhadap apa saja yang asing.

Gangguan-gangguan budaya khusus


Dalam bidang penyakit jiwa ,tidak ada topic lain yng sedemikian menarik bagi
ahli antropologi daripada yang di sebut sebagai penyakit-penyakit budaya khusus.
Pertanyaan pokok yang timbul dari pertimbangan tentang penyakit-penyakit
budaya khusus adalah apakah kondisi-kondisi yang disebutkan dalam kenyataannya
mewakili sindroma yang secara klinis berbeda atau merupakan variasi dari atau
kombinasi dari sindroma-sindroma psikiatri umum yang telah di kenal oleh para
psikiater.

Anda mungkin juga menyukai