Anda di halaman 1dari 2

PEMBAHASAN

Uji fungsi paru yang dilakukan ada praktikum kali ini menggunakan spirometer.
Berdasarkan hasil pengukuran dengan menggunakan spirometer diperoleh dua
data, yang terdiri atas elemen statis dan dinamis dari fungsi paru.
Elemen statis dihitung berdasarkan volume, yang terdiri atas volume dan kapasitas.
Volume statis paru
1. Volume Tidal (VT) = volume/jumlah udara dalam satu kali bernafas yang terdiri
atas udara yang dihirup dan dihembuskan, dengan nilai 500 ml. Namun setiap
orang dapat bervariasi satu dengan yang lain tergantung dari gender, tinggi
badan, dan usia. Namun, hanya 70 % (350 ml) dari volume tidal tersebut yang
masuk ke paru-paru, sisanya 30% (150 ml) mengisi di saluran pernafasan
(nasopharynx, trakea, bronkus) atau yang disebut dengan dead space. Pada
praktikum ini probandus memiliki volume tidal rata-rata 405 ml yang berarti
dibawah rata-rata normal.
2. Volume cadangan inspirasi (IRV) = volume/jumlah udara tambahan yang dapat
dihirup saat melakukan inspirasi maksimal, sesudah inspirasi volume tidal
normal. Pada pria dewasa rata-rata berjumlah 3100 ml, sedangkan pada wanita
dewasa rata-rata berjumlah 1900 ml. Probandus dalam pengukuran dengan
spirometer menunjukkan volume inspirasi cadangan 2725 ml. Volume ini di
bawah dari rata-rata IRV pria dewasa normal.
3. Volume cadangan ekspirasi (ERV) = volume/jumlah udara yang dapat dikeluarkan
secara paksa saat melakukan ekspirasi maksimal, sesudah ekspirasi volume tidal
normal. Rata-rata pada pria dewasa adalah 1200 ml dan pada wanita 700 ml.
Hasil pengukuran volume cadangan ekspirasi pada probandus adalah 1280 ml,
masih dalam batas cadangan ekspirasi normal.
Kapasitas Statis Paru
1. Inspiratory Capacity (IC) = jumlah udara maksimal yang dapat diinspirasi setelah
ekspirasi normal. Terdir atas IC = volume tidal (VT) + volume cadangan inspirasI
(VCI). Pada pria dewasa rata-rata IC = 500 ml + 3100 ml = 3600 ml, sedangkan
pada wanita dewasa IC = 500 ml + 1900 ml = 2400 ml. Hasil pengukuran ratarata kapasitas inspirasi pada probandus adalah 3130 ml, hal ini menunjukkan
volume tersebut di bawah rata-rata normal.
2. Vital Capacity (VC) = jumlah udara yang dapat diekspirasi maksimal setelah
inspirasi maksimal. VC = = VT + IRV + ERV. Rata-rata pada pria dewasa = 4100
ml dan pada wanita dewasa 3100 ml. Hasil pengukuran rata-rata kapasitas vital
probandus adalah 4410 ml. volume ini berada diatas rata-rata normal kapasitas
vital.
3. Vital Capacity Predictive Value (VCP) = jumlah udara yang dihitung berdasarkan
tinggi badan dan usia. Parameter yang digunakan untuk menentukan ada
tidaknya restriksi pada paru berdasarkan ratio VC/VCP. Hasil pengukuran VCP
probandus = 4185 ml. Setelah dihitung ratio VC/VCP = 4185/4410 = 1,053 atau
>100 %. Normalnya nilai ratio VC/VCP paru-paru >80 %. Sehingga paru-paru
dapat dikatakan masih dalam batas normal.
Elemen dinamis yang dihitung melibatkan beberapa parameter, antara lain:
1. Forced Vital Capacity (FVC) = total volume udara yang dapat dikeluarkan dalam
usaha ekspirasi maksimal. Dari praktikum diperoleh nilai FVC sebesar 4006 mL.
Nilai FVC prediction sama dengan VCP sebesar 4410 mL. Maka, diperoleh rasio
FVC/FVC prediction = 4006/4410 = 0,91 atau 91 %. Nilai normal rasio FVC/FVC

2.

3.

4.
5.

prediction adalah >80 % sehingga paru-paru probandus dapat dikatakan normal.


Penurunan nilai FVC (< 80 % FVC prediction) dapat ditemukan pada penyakit
paru restriktif seperti fibrosis pulmo.
Forced Expiratory Volume in 1 second (FEV1) = volume udara yang dikeluarkan
dalam waktu 1 detik pada usaha ekspirasi maksimal. Dari praktikum diperoleh
nilai FEV1 sebesar 3325 mL. Maka, diperoleh rasio FEV1/FVC = 3325/4006 = 0,83
atau 83 %. Nilai normal rasio FEV1/FVC adalah >70 % sehingga paru-paru
probandus dapat dikatakan normal. Penurunan nilai FEV1/FVC (<70 %) dapat
terjadi pada penyakit paru obstruktif (asma, emfisema, bronkhitis kronis, dan
sebagainya).
FEV1 prediction = nilai FEV1 yang dihitung berdasarkan tinggi badan dan usia
probandus. Diperoleh FEV1 probandus sebesar 3955 mL. Maka, diperoleh rasio
FEV1/FEV1 prediction = 3325/3955 = 0,84 atau 84 %. Nilai normal rasio
FEV1/FEV1 prediction adalah >80 % sehingga paru-paru probandus dapat
dikatakan normal.
FEF25-75 % = rerata kecepatan aliran dari titik 25 % FVC sampai 75 % FVC. Dari
praktikum diperoleh nilai FEF25-75 % = 2010 mL/0,5 detik = 4020 mL/detik.
Penurunan FEF25-75 % dapat ditemukan pada small airway disease.
Maximal Voluntary Ventilation (MVV) = total volume udara yang diperoleh dari
perkalian volume tidal maksimal dan laju respirasi ketika probandus diminta
bernafas selama 15 detik. Dari praktikum diperoleh nilai MVV sebesar 144 L.
Maka, diperoleh rasio MVV/(40 x FEV1) = 144 L/(40 x 3,325 L) = 1,082 atau >100
%. Nilai normal rasio MVV/(40 x FEV1) adalah >80 % sehingga paru-paru
probandus dapat dikatakan masih dalam batas normal, kemungkinan tidak terjadi
penyakit neuromuskular.

Secara keseluruhan, terdapat beberapa hasil yang normal, di atas normal, atau di
bawah normal. Dari hasil tersebut, tidak dapat dikatakan bahwa probandus
mengalami gangguan pada fungsi paru karena keadaan Paru-paru tiap orang dapat
berbeda-beda tergantung pada gender, tinggi badan, dan usia. Hasil pengukuran
yang abnormal harus dicocokkan dengan gejala klinis yang ada pada probandus
dan hasil pemeriksaan penunjang lain seperti pemeriksaan darah. Selain itu juga
dapat terjadi ketidaktepatan dan kesalahan dalam penggunaan spirometer,
misalnya kebocoran pada selang atau di sekitar mulut probandus. Sehingga banyak
hal yang harus dipertimbangkan untuk mengetahui keadaan paru probandus yang
sesungguhnya. Namun secara keseluruhan dapat dikatakan kondisi paru probandus
masih dalam keadaan normal.