Anda di halaman 1dari 20

REFERAT ANESTESI

TATALAKSANA OBSTRUKSI JALAN NAPAS ATAS

Muhammad Ridhwan F.
030.10.195

Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti


Periode 22 Sept 25 Okt 2014

BAB I
Pendahuluan
Obstruksi saluran napas atas ini seringkali menyebabkan suatu keadaan gawat darurat, yang
memerlukan diagnosis cepat serta penanganan yang cepat pula.
Sumbatan jalan nafas merupakan salah satu penyebab kematian utama yang kemungkinan
masih dapat di atasi. Penolong harus dapat mengenal tanda-tanda dan gejala-gejala dan
menanganinya, walaupun tanpa menggunakan alat-alat yang canggih.
Obstruksi jalan napas atas adalah gangguan yang menimbulkan penyumbatan pada saluran
pernapasan bagian atas.
Jackson membagi sumbatan laring yang progressif dalam 4 stadium dengan tanda dan gejala :
Stadium I : retraksi tampak pada waktu inspirasi di supra sternal, stridor saat inspirasi dan
pasien masih tenang.
Stadium II : retraksi pada waktu inspirasi di daerah suprasternal makin dalam, ditambah lagi
dengan timbulnya retraksi di daerah epigastrium. Pasien sudah mulai gelisah. Stridor
terdengar pada saat inspirasi.
Stadium III : cukungan selain didaerah suprasternal, epigastrium juga terdapat di
infraklavikula dan sela iga, pasien sangat gelisah dan dispnea. Stridor pada saat inspirasi dan
ekspirasi.
Stadium IV : retraksi bertambah jelas disemua tempat seperti diatas, pasien sangat gelisah,
tampak ketakutan dan sianosis. Jika terus berlanjut dapat terjadi asfiksia dan kematian

Anatomi Organ Pernapasan


Saluran napas dibagi menjadi dua: saluran napas atas dan bawah. Organ-organ pada saluran
napas atas terletak diluar rongga thorax, sedangkan saluran napas bawah di dalam organ
toraks. Setelah itu organ pernapasan adalah tempat pertukaran gas.
Saluran Napas Atas
Saluran napas atas dimulai dari hidung dan berakhir di pita suara.Termasuk didalamnya
adalah sinus paranasalis dan laring. Fungsi utama dari saluran napas atas adalah untuk
mengondisikan udara inspirasi sehingga ketika mencapai trakea, udara cukup lembab dan
hangat,sama dengan suhu tubuh. Mukosa pernapasan adalah membrane yang melapisi hampir
seluruh system pernapasan. Komponen epitel yang membentuk mukosa pernapasan adalah
sel epitel silinder bertingkat semu bersilia dan sel mucus (goblet).
Mekanisme pemurnia udara menyaring hampir semua benda-benda yang mengkontaminasi
udara sebelum mencapai alveoli. Mukus yang dihasilkan oleh sel goblet berfungsi untuk
melindungi mukosa pernapasan dan merupakan bagian terpenting dari mekanisme pemurnian
udara. Mukus yang dihasilkan sekitar 125 ml setiap hari. Mukus ini membentuk lapisan yang
disebut selimut mucus. Gerakan silia-silia pada mukosa pernapasan mendorong mucus ke
arah faring.
1. Hidung
Hidung berfungsi untuk menyaring, menangkap , dan membersihkan udara inspirasi dari
partikel-partikel yang berukuran >10um. Permukaan rongga hidung bersifat lembab karena
mucus dan hangat karena aliran darah.
Volume hidung orang dewasa 20 ml tetapi permukaanna diperluas oleh conchae nasalis.
Pada manusia, volum udara yang melewati hidung berkisar antara 10.000 L 15.000 L per
hari. Pada pernapasan norma, 50% dari resistensi total saluran napas berasal dari resistensi
terhadap aliran udara dalam hidung. Resistensi tersebut meningkat pada infeksi viral atau
dengan peningkatan aliran udara, seperti pada saat olahraga. Bagian dalam hidung dilapisi
oleh sel-sel epitel pernapasan dan sel-sel sekretorik. Sel-sel sekretorik memproduksi

immunoglobulin, mediator inflamasi dan interferon yang merupakan lini pertama dari system
pertahanan tubuh.
Ujung saraf olfaktorius berada di mukosa hidung Saraf inilah yang memberikan fungsi lain
bagi hidung, yaitu organ penghidu. Duktus lakrimalis jga bermuara di rongga hidung,
mengalirkan air mata ke rongga hidung.
Terdapat empat buah sinus paranasalis(sinus frontalis, makrilaris, etmoidalis dan sfenoidalis)
yang bermuara di rongga hidung. Fungsi dari sinus adalah untuk mengurangi berat tulang
tengkorak,memberikan resonansi pada suara dan memberikan perlindungan kepada otak
terhadap trauma frontal. Sinus-sinus paranasalis dilapisi dilapisi oleh sel-sel epitel bersilia.
Sel-sel tersebut memfasilitasi pergerakan mucus dari saluran napas atas dan membersihkan
saluran hidung utama setiap 15 menit. Ostia dari sinus maksilaris terletak pada tepi atas yang
memungkinkan terjadinya retensi mucus. Retensi mucus memudahkan terjadi infeksi
sekunder sehingga menyebabkan sinusitis.
2. Faring
Panjang faring sekitar 12,5 cm dan dibagi menjadi tiga bagian yaitu nasofaring,orofaring,dan
laringofaring. Faring dilewati oleh udara yang masuk melalui hidung ke laring dan makanan
yang masuk melalui mulut ke esophagus. Tuba Eustachius kiri dan kanan bermuara di
nasofaring, menghubungkan telinga tengah dengan nasofaring. Tuba ini berfungsi untuk
menyamakan tekanan di telinga tengah dengan telinga luar.
Ada tiga kelenjar yang berada di daerah faring, disebut tonsil. Dua tonsil palatine di orofaring
dan satu tonsil faringeal/adenoid di nasofaring.

3. Laring
Laring berada di bawah faring, diantara vertebra cervical 4-6. Laring tersusun atas beberapa
tulang rawan, yang terbesar adalah tulang rawan tiroid. Struktur-struktur utama pada laring
adalah epiglottis, arytenoid dan pita suara. Bila terinfeksi, struktur-struktur tersebut dapat
mengalami edema dan meningkatkan resistensi jalan napas secara signifikan.

Otot-otot yang menempel pada tulang-tulang rawan di laring dapat membuat pita suara
menjadi tegang atau kendur. Keterangan pita suara akan mempengaruhi tinggi rendah suara
yang keluar. Ruang diantara pita suara disebut glottis. Tulang rawan lainnya adalah epiglottis
yang menutupi sebagian dari pintu masuk sebelah atas laring. Epiglotis dan arytenoid
berfungsi untuk menutupi laring ketika menelan makanan sehingga makanan tidak masuk ke
trakea. Gerakan menelan adalah koordinasi sempurna antara otot-otot dan struktur di laring.
Pasien dengan penyakit neuromuscular dapat kehilangan koordinasi tersebut.Akibatnya,
resiko aspirasi meningkat dan meningkatkan pula risiko pneumonia.

BAB II
Pembahasan
Etiologi dan Klasifikasi
Banyak sebab yang dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas sebagian ataupun total, seperti :
Sumbatan pada lidah
Akibat berkurangnya tonus otot penahan lidah, lidah jatuh ke belakang dan menutupi faring.
Hal ini dijumpai pada pasien tidak sadar, intoksikasi alokohol ataupun obat lain
Sumbatan kareana epiglotis
Akibat inspirasi paksa berlebihan sehingga epiglotis tertarik menyumbat jalan nafas
Benda asing
Kerusakan jaringan
Akibat luka tusuk ataupun benturan benda tumpul dan pembengkakan (edema) faring dan
trakea akibat trauma ataupun luka bakar
Penyakit
Infeksi saluran pernafasan clan reaksi alergi mengakibatkan peradangan dan edema saluran
nafas
Mengetahui sumbatan jalan napas
1. Look : Melihat, yaitu melihat dinding dada. apakah ada pergerakan naik turun tidak.
2. Listen : Mendengarkan, yaitu mendengarkan apakah adanya bunyi pernapasan dengan cara
menempelkan cuping telinga kita ke dekat hidung pasien/penderita/korban.
3. Feel : Merasakan, yaitu merasakan apakah adanya hembusan angin atau udara pernapasan
berbarengan dengan (listen).

Tanda pernafasan yang tidak adekuat adalah :


a)

Gerakan dinding dada yang menghilang, minimal ataupun tidak simetris

b)

Gerakan saat bernafas terbatas pada perut (pernafasan perut (abdominal)

c)

Hilang atau berkurangnya suara atau hembusan udara nafas darihidung/mulut

d)

Suara nafas tambahan seperti rnendengkur, berkumur, tersengal clan mengi -Pernafasan

sangat dalam atau sangat dangkal.


e)

Warna kulit, mukosa bibir, lidah, telinga ataupun membiru (sianosis).

f)

Inspirasi yang memanjang (tanda sumbatan jalan nafas atas) ataupunekspirasi yang

memanjang (tanda sumbatan jalan nafas bawah)


g)

Pasien tidak marnpu berbicara dalam kalimat lengkap karena nafas yang pendek

Tanda-tanda adanya sumbatan (ditandai adanya suara nafas tambahan) :

Mendengkur(snoring), berasal dari sumbatan pangkal lidah. Cara mengatasi : chin lift,
jaw thrust, pemasangan pipa orofaring/nasofaring, pemasangan pipa endotrakeal.

Berkumur (gargling), penyebab : ada cairan di daerah hipofaring. Cara mengatasi :


finger sweep, pengisapan/suction.

Stridor (crowing), sumbatan di plika vokalis. Cara mengatasi : cricotirotomi,


trakeostomi.

Macam-macam sumbatan jalan napas


a.

Sumbatan Total.

Bila tidak segera ditangani dalam waktu 5-10 menit dapat menyebabkan Asfiksia (kombinasi
antara hipoksemia dan hiperkarbi), henti nafas dan henti jantung.
b.

Sumbatan Partial (sebagian)

Harus pula segera dikoreksi karena dapat menyebabkan kerusakan otak, sembab otak,
sembab paru, kepayahan, henti nafas dan henti jantung sekunder.

Penangan sumbatan jalan napas


Penanganan jalan nafas terutama ditujukan pada penderita tidak sadar, yang memerlukan
tindakan cepat sampai sumbatan teratasi. Sambil meminta pertolongan orang lain dengan cara
berteriak, kita harus tetap berada disamping penderita.
Teknik management jalan nafas
Tehnik yang dapat dilakukan untuk mengelola jalan nafas meliputi tindakan yang non invasif
atau invasif tergantung dari sumbatan di atas atau di bawah glotis, dan apakah bersifat
surgikal atau non surgikal.
Tehnik yang dipilih tergantung dari masing-masing situasi, yang merupakan konsekuensi dari
interaksi faktor kondisi pasien, alat yang tersedia clan pengalaman tenaga medis.
1.

Tehnik Non Invasif

a) Tanpa alat
Pada kondisi dimana tidak terdapat alat maka dilakukan upaya membebaskan jalan nafas
secara manual dengan cara triple airway manuver meliputi: ekstensi kepala, angkat dagu
(Chin Lift maneuver), dan mendorong mandibula/rahang bawah (Jaw thrust maneuver).
Upaya ini dilakukan untuk mengangkat lidah yang jatuh menutupi saluran nafas.jika terdapat
benda asing di jalan nafas.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk management airway tanpa alat yaitu :
1.

Teknik Cross Finger untuk memeriksa jalan nafas terutama di daerah mulut dengan

menggunakan ibu jari dan jari telunjuk yang disilangkan dan menekan gigi atas dan bawah

Gambar : Pemeriksaan sumbatan jalan nafas di daerah mulut dengan menggunakan


teknik cross finger

2.

Teknik sapuan jari. Bila jalan nafas tersumbat karena adanya benda asing dalam rongga

mulut

Gambar : Tehnik finger sweep


3.

Teknik maneuver Heimlich, dilakukan jika Kegagalan membuka nafas dengan cara

sapuan jari. Ini perlu dipikirkan hal lain yaitu adanya sumbatan jalan nafas di daerah faring
atau adanya henti nafas (apnea) Bila hal ini terjadi pada penderita tidak sadar, lakukan
peniupan udara melalui mulut, bila dada tidak mengembang, maka kemungkinan ada
sumbatan pada jalan nafas
Teknik maneuver Heimlich ada beberapa macam yaitu :

Abdominal Thrust (Manuver Heimlich)

Dapat dilakukan dalam posisi berdiri dan terlentang.


Caranya berikan hentakan mendadak pada ulu hati (daerah subdiafragma abdomen).

Abdominal Thrust (Manuver Heimlich) pada posisi berdiri atau duduk

Caranya : penolong harus berdiri di belakang korban, lingkari pinggang korban dengan kedua
lengan penolong, kemudian kepalkan satu tangan dan letakkan sisi jempol tangan kepalan
pada perut korban, sedikit di atas pusar dan di bawah ujung tulang sternum. Pegang erat
kepalan tangan dengan tangan lainnya. Tekan kepalan tangan ke perut dengan hentakan yang
cepat ke atas. Setiap hentakan harus terpisah dan gerakan yang jelas.

Abdominal Thrust (Manuver Heimlich) pada posisi tergeletak (tidak sadar)

Caranya : korban harus diletakkan pada posisi terlentang dengan muka ke atas. Penolong
berlutut di sisi paha korban. Letakkan salah satu tangan pada perut korban di garis tengah
sedikit di atas pusar dan jauh di bawah ujung tulang sternum, tangan kedua diletakkan di atas
tangan pertama. Penolong menekan ke arah perut dengan hentakan yang cepat ke arah atas.
Berdasarkan ILCOR yang terbaru, cara abdominal thrust pada posisi terbaring tidak
dianjurkan, yang dianjurkan adalah langsung melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP).

Abdominal Thrust (Manuver Heimlich) pada yang dilakukan sendiri

Pertolongan terhadap diri sendiri jika mengalami obstruksi jalan napas.


Caranya : kepalkan sebuah tangan, letakkan sisi ibu jari pada perut di atas pusar dan di bawah
ujung tulang sternum, genggam kepala itu dengan kuat, beri tekanan ke atas kearah diafragma
dengan gerakan yang cepat, jika tidk berhasil dapat dilakukan tindakan dengan menekan
perut pada tepi meja atau belakang kursi
Mengatasi sumbatan nafas parsial
Dapat digunakan teknik manual thrust

Abdominal thrust

Chest thrust

Back blow

Jika sumbatan tidak teratasi, maka penderita akan :

Gelisah oleh karena hipoksia

Gerak otot nafas tambahan (retraksi sela iga, tracheal tug)

Gerak dada dan perut paradoksal

Sianosis

Kelelahan dan meninggal

Prioritas utama dalam manajemen jalan nafas adalah JALAN NAFAS BEBAS!

Pasien sadar, ajak bicara. Bicara jelas dan lancar berarti jalan nafas bebas

Beri oksigen bila ada 6 liter/menit

Jaga tulang leher : baringkan penderita di tempat datar, wajah ke depan, posisi leher
netral
10

Nilai apakah ada suara nafas tambahan.

Ada beberapa cara untuk penanganannya :


1.

Lakukan teknik chin lift atau jaw thrust untuk membuka jalan nafas. Ingat tempatkan

korban pada tempat yang datar! Kepala dan leher korban jangan terganjal!
Dilakukan dengan maksud mengangkat otot pangkal lidah ke depan
Caranya : gunakan jari tengah dan telunjuk untuk memegang tulang dagu pasien kemudian
angkat.
2.

Head Tilt

Dlilakukan bila jalan nafas tertutup oleh lidah pasien, Ingat! Tidak boleh dilakukan pada
pasien dugaan fraktur servikal.
Caranya : letakkan satu telapak tangan di dahi pasien dan tekan ke bawah sehingga kepala
menjadi tengadah dan penyangga leher tegang dan lidahpun terangkat ke depan

Gambar : tangan kanan melakukan Chin lift ( dagu diangkat). dan tangan kiri melakukan
head tilt. Pangkal lidah tidak lagi menutupi jalan nafas.
3.

Jaw thrust

Caranya : dorong sudut rahang kiri dan kanan ke arah depan sehingga

barisan gigi

bawah berada di depan barisan gigi atas

11

Gambar : Manuver Jaw thrust


4.

Back Blow (untuk bayi)

Bila penderita sadar dapat batuk keras, observasi ketat. Bila nafas tidak efektif atau berhenti,
lakukan back blow 5 kali (hentakan keras pada punggung korban di titik silang garis antar
belikat dengan tulang punggung/vertebrae)
5.

Chest Thrust (untuk bayi, anak yang gemuk dan wanita hamil)

Bila penderita sadar, lakukan chest thrust 5 kali (tekan tulang dada dengan jari telunjuk atau
jari tengah kira-kira satu jari di bawah garis imajinasi antara kedua putting susu pasien). Bila
penderita sadar, tidurkan terlentang, lakukan chest thrust, tarik lidah apakah ada benda asing,
beri nafas buatan
b) Bag - Mask Ventilation
Kombinasi antara triple airway manuver dengan ventilasi menggunakan bag mask merupakan
upaya yang sangat dasar dalam menangani jalan nafas. tangan kiri melakukan jaw trust
sambil memegang sungkup muka sementara tangan kanan memompa baging. Berbagai jenis
sungkup muka tersedia tetapi yang disarankan adalah yang transparan sehingga dapat melihat
langsung keadaan mulut dan hidung serta ada tidaknya sumbatan.Kunci utama tehnik ini
adalah kemampuan mempertahankan seal antara sungkup muka clan wajah paten, jika tidak
terjadi kebocoran maka ventilasi akan adekuat. Komplikasi dari tehnik ini adalah
kemungkinan aspirasi paru.

12

c) Oro dan nasofaringeal airway


Pada

pasien yang tidak sadar, obstruksi

terjadi akibat ketidakmampuan

untuk

mempertahankan tonus lidah sehingga akan jatuh menutupi jalan nafas. Orofaringeal
airway/gudel/mayo dapat menahan lidah pada posisi yang seharusnya. Cara memasukkan
guedel adalah dengan memasukkan pada posisi lengkungnya menghadap keatas sampai
menyentuh palatum kemudian diputar 1800 sambil didorong.
Nasofaringeal airway terbuat dari karet atau plastik yang lembut yang dimasukkan melalui
lubang hidung dan diteruskan sampai faring posterior. Komplikasi pemasangan NPA adalah
epistaksis, aspirasi, laringospasme dan masuk ke esofagus.
d) Laryngeal Mask Airway (LMA)
Alat ini dimasukkan kemulut sampai dengan faring kemudian cuffnya diisi udara sehingga
akan terjadi seal. Berbeda dengan ETT alat ini tidak masuk ke dalam trakea hanya ada lubang
pipa nafas di depan glotis/pita suara.
2.

Tehnik Invasif

a.

Intubasi trakea

Pada kondisi gawat darurat jalan nafas merupakan komponaen yang paling penting dan
menjadi prioritas utama dalam penanganannya. Banyak sekali pasien yang tidak sadar
maupun yang sadar yang tidak dapt mempertahankan jalan nafasnya terbuka, tidak mampu
mengeluarkan sekret, mencegah aspirasi dan membutuhkan bantuan ventilasi mekanik.
Tujuan utama dari penatalaksanaan jalan nafas darurat adalah mempertahankan
integritas jalan nafas, meyakinkan ventilasi adekuat, dan mencgah aspirasi. Semua tujuan
tersebut dapat dicapai dengan bantuan inttubasi trakea. Indikasi utama intubasi trakea pada
situasi gawat darurat adalah :
1.

Koreksi hipoksia atau hiperkarbia

2.

Mencegah ancaman hipoventilasi

3.

Mempertahankan patensi jalan

4.

Jalan untuk pemberian obat obatan emergensi seperti lidokain, stropin, nalokson,

epinefrin.
13

Sebelum melakukan intubasi, persiapan alat merupakan hal yang sangat penting, jika terjadi
malfungsi alat atau tidak tersedianya alat yang dibutuhkan karena persiapan yang kurang
baik, maka akan sangat membahayakan keselamatan dan nyawa pasien. Untuk menghindari
hal itu maka setiap alat harus dipersiapkan dengan baik dan lengkap dan dilakukan
pengecekan terhadap fungsinya.
Untuk mempermudah dan agar tidak ada alat yang terlewatkan maka dibuatlah singkatan
untuk persiapan alat yaitu: "S T A T I C S'
S (scope)
Scope terdiri dari laringoskop dan stetoskop.Berdasarkan bentuk bilahnya terdapat dua
macam laringoskop dengan berbagi ukuran mulai dari bayi sampai dewasa.yaitu bilah yang
melengkung (macintosh) dan bilah yanglurus (magil).
Tidak ada perbedaan fungsi diantara keduanya, perbedaannya adalah bilah lurus digunakan
untuk visualisasi pita suara dengan caramengangkat epiglotis sedangkan bilah lengkung tidak
mengangkat epiglotis secara langsung tapi dengan cara menempatkan ujung bilah di dalam
valecula

dan

mengangkat

epigfotis

secara

tidak

langsung

dengan menarik frenulumnya tanpa menyentuh epiglotis. Penggunaannya tergantung dari


situsi klinis dan kondisi pasien. Bilah lengkung lebih sedikit menyebabkan trauma karena
sama sekali tidak menyentuh laring serta memberikan ruang yang lebih besar untuk
visualisasi saat menempatkan ETT sehingga sangat berguna untuk pasien yang gemuk.
Sedangkan bilah lurus lebih mudah dimasukkan terutama pada bayi dan lebih
mudahmencari pita suara karena secara langsungmencari epiglotis dan mengangkatnya.
Stetoskop digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap penempatan dan kedalaman ETT.
Jika terdengar suara baging di paru-paru berarti ETT beradi di posisi yang benar yaitu di
trakea, sedangkanbila terdengar suara baging di lambung berarti ETT pada posisi yang salah,
harus segera ditarik dan dilakukan intubasi ulang. Stetoskop juga digunakan untuk mengecek
kedalaman ETT, jika terlalu dalam maka ETT akan masuk ke bronkus kanan sehingga suara
nafas di paru kanan lebih keras daripada paru kiri, ETT harus ditarik pelan-pelan 1 - 2 cm
sambil terus didengarkan suara nafas dan jika suara nafas paru kiri dan kanan telah sama

14

maka penarikan dihentikan clan batas ETT di mulut dilihat panjangnya kemudian ETT
difiksasi di level tersebut di bibir.
T (tube)
ETT tersedia dalam berbagai jenis clan ukuran. Berdasarkan bahan pembuatnya ada yang
dibuat dari karet ada pula dari PVC, berda~arkan ada tidaknya Cuff (balon), ada yang
memakai balon ada pula yang tidak memakai balon, berdasarkan kemungkinan tertekuk atau
tergigit, ada yang bisa tertekuk (kinking) ada pula yang tidak bisa tertekuk (non
kinking) karera disekeliling ETT dilapisi oleh spiral yang terbuat dari logam.
Tube atau pipa nafas (ETT) harus dipilih sesuai ukuran trakea pasien, jika ukuran yang
digunakan terlalu kecil maka akan terjadi kebocoran, begitu pula jika ukuran ETT terlalu
besar maka tidak akan masuk ke trakea dan bisa menimbulakan cedera apabila dipaksakan.
Pemilihan yang tepat berdasarkan umur dan jenis kelamin, biasanya wanita memiliki ukuran
trakea yang lebih kecil dari laki-laki. Rumus yang dapt digunakan untuk anak-anak adalah 4+
(umur dalam tahun / 4) atau secara sederhana dapat dilihat ukuran dari jari kelingking pasien.
Ukursn untuk pasien laki-laki dewasa adalah 7,5 8 sedangkan untuk wanita 7 7,5. Setelah
didapatkan 1 ukuran yang pas harus pula disiapkan satu ukuran dibawahnya dan 1 ukuran
diatasnya. Misalnya ukuran yang akan dipakai adalah no 7 maka disiapkan pula no 6,5 dan
7,5.
A (Airway)
Segala peralatan yang digunakan untuk membuka dan mengmankan jalan nafas sementara
harus disiapkan seperti orofaringeal airway (OPA/guedel/mayo) dan nasofaringeal airway
(NPA). Ukuran guedel atau NPA disesuaikan dengan ukuran jalan nafas. Panjangnya guedel
yang dibutuhkan diukur jarak dari sudut bibir sampai kebagian depan liang telinga.
T (Tape)
Tape atau plester berguna untuk melakukan fiksasi setelah intubasi selesai dilakukan. Tanpa
fiksasi kemungkinan ETT akan tercabuut atau terdorong akan lebih besar sehingga perlu
difiksasi dengan plester ke pipi atau wajah pasien.

15

I (Introducer)
Introducer digunakan untuk membantu intubasi.Alat yang biasa digunakan adalah mandarin
yaitu kawat yang bisa dimasukan ke dalam ETT dan dibentuk / dilengkungkan sesuai dengan
anatomi jalan nafas. Sehingga akan memudahkan mengarahkan ujung ETT melewati pita
suara. Alat lain adalah Klem magil, jerupa klem yang bisa menjepit ETT di,dalam rongga
mulut untuk diarahkan kemulut pita suara
C (Conector).
Merupakan a!at untuk merighubungkan ETT dengan alat lainnya yaitu baging, ventilator, dll.
Conecior ini mempunvai ukuran / diameter yang standar sehingga dapat dihubungkan
kesemua alat.
S (Suction)
Suction lengkap dengan kateter suction digunakan untuk menghisap lendir, sekret ataupun
darah yang berada di dalam rongga faring dan menghalangi pandangan.
Dalam melakukan intubasi trakea seorang tenaga medis harus melakukan evaluasi terhadap
anatomi jalan nafas meliputi: pemeriksaan gigi geligi, ukuran rongga mulut, jarak tiroid dan
os

mentalis

mandibula, mobilitas

leher

dan

mandibula. Evaluasi

tersebut

untuk

menyingkirkan kemungkinan sulit intubasi.


Setelah semua perlengkapan disiapkan dengan baik dan lengkap, pasien diposisikan daiam
posisi snifing position yaitu; fleksi pada leher bagian bawah denganekstensi pada
atlantoocipital joint. Posisi ini akanmenyebabkan aksis orofaringeolaringeal berada dalam
satu garis dan memudahkan visualisasipita suara.
Penambahan bantal atau kain yang dilipat setinggi 6 - 10 cm akansangat membantu
menempatkan pasien pada snifing position.
Setelah posisi pasien benar maka diteruskan dengan preoksigenasi, yaitu pemberian oksigen
100 % selama beberapa menit melalui baging. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan
konsentrasi oksigen di dalam darah dan paru-paru pasien sehingga mencegah terjadinya
hipoksia selama tindakan intubasi

16

Laringoskop dipegang oleh tangan kiri, kemudian bilah dimasukan dari sudut mulut pasien
sebelah kanan menyususri lidah.Setelah mendekati pangkal lidah, laringoskop digeserkan ke
sebalah kiri sampai berada di garis tengah dengan menyingkirkan lidah ke sebelah
kiri.Jikamenggunakan bilah lengkung (macintosh), maka ujung bilah ditempatkan di dalam
valekula pada pangkal epiglotis, -sedangkan jika menggunakan bilah lurus, maka ujung bilah
ditempatkan di bawah epiglotis secara langsung.Setelah itu epiglotis diangkat untuk melihat /
visualisasi pita suara.Setelah pita suara terlihat maka tangan kanan memasukan ETT.Untuk
membantu melakukan visualisasi pita suara dapat dilakukan tindakan menekan jakun /
kartilago tiroid agar glotis turun sehingga pita suara terlihat.
Setelah ETT masuk ke daiann trakhea, balon udara dikembangkan sampai tidak terdengar
kebocoran di rongga mulut, untuk konfirmasi posisi ETT dilakukan auskultasi pada dada kiri
kanan serta lambung. setelah suara nafas di paru kiri dan kanan sama, lalu dilakukan fiksasi
dengan menggunakan pester di wajah atau pipi. Kemudian ETT dihubungkan dengan manual
baging atau ventilator.
Komplikasi intubasi
Tindakan laringoskopi dapat mengakibatkan trauma jalan nafas jika tidak dilakukan dengan
hati-hati.Cedera pada bibir, atau gigi patah merupakan kejadian yang spring terjadi.Tindakan
laringoskopi merupakan tindakan yang menyakitkan, untuk itu perlu diberikan analgetik
atau anastetik lokal, jika nyeri ini terjadi maka dapat mengakibatkan gangguan irama jantung
sampai henti jantung.
Tindakan intubasi juga mempunyai komplikasi ringan sampai berat yang dapat
membahayakan nyawa pasien.Edema pada pita suara yang mengakibatkan nyeri clan suara
serak, ETT yang didorong terlalu dalam sehingga masuk ke bronkus sebelah kanan dapat
mengakibatkan hipoksia clan hiperkarbia.Begitu pula ETT yang masuk ke dalam
esofagusmenyebabkan distensi lambung sampai perforasi.Untuk itu posisi ETT harus
diyakinkan berada pada posisi yang tepat.

17

b. Krikotirodotomi
Merupakan upaya emergensi untuk membypass sumbatan dengan cara membuat lubang pada
membrana krikoid. Dalam keadaan emergensi dapat dilakukan penusukan di membran
krikoid dengan menggunakan Abocath no 14.

c.

Trakeostomi

Trakeostomi dilakukan jika tidak memungkinkan untuk dilakukan intubasi. Merupakan upaya
bypass jalan nafas dengan membuat lubang secara langsung pada cincin trakea.

18

BAB III
Penutup
Sumbatan jalan nafas bagian atas adalah kegawatdaruratan yang mengancam nyawa.Penilaian
yang cepat clan upaya mempertahankan patensi jalan nafas adalah penting walaupun belum
diketahui penyebab / diagnosis spesifik.
Untuk dapat mengelola jalan nafas dengan baik, seorang tenaga medis harus mengetahui, dan
memahami struktur anatomi jalan nafas, fisioiogi dan patofisioligi terjadinya gangguan jalan
nafas.
Anatomi jalan nafas dibagi menjadi dua bagian yaitu jalan nafas bagian atas dimulai dari dua
lubang yaitu rongga hidung dan berlanjut ke posterior yang akanbertemu di faring, kemudian
melewati epiglotis kemudian melewati pita suara dan masuk ke laring. Laring dikelilingi oleh
kartilago tiroid, kartilago krikoid,dan kelenjar tiroid.Jalan nafas bagian atas berakhir
disini.selanjutnya adalah jalan nafas bagian bawah yang diteruskan melalui trachea dan
berakhir di paru-paru. sumbatan jalan nafas dapat terjadi di sepanjang jalan nafas ini. Pada
bayi dan anak ada sedikit perbedaan anatomi dimana lidah yang relatif lebih besar
dibandingkan rahang bawah, glotis yang letaknya lebih atas dan anterior epiglotis yang lebih
besar dan mudah terlipat serta pita suara yang terletak lebih anterior sehingga pada bayi
dan anak lebih mudah terjadi sumbatan jalan nafas.
Tujuan utama

pengelolaan

atau membypass sumbatan

jalan

nafas

adalah

untuk

membersihkan

jalan nafas, mencegah aspirasi dan membantu pernafasan

atau

mengambila alih pernafasan spontan dengan bantuan mesin ventilator.

19

Daftar Pustaka

Ratna F.dkk.2012.Buku Ajar Anestesiologi.Jakarta: Dept.Anestesiologi dan Intensive

Care FKUI
Said A.dkk.2001.Petunjuk praktis anestesiologi.Jakarta:Bagian Anestesiologi dan

terapi intensif FKUI


Feng PH,dkk.1996. sumber penuntun pengobatan darurat.yogyakarta: Essentia

Medica
Chung Edward

3.Jakarta:EGC
Morgan, G. Edward. 2005. Clinical Anesthesiology, 4th Edition. Mc Graw-Hill

K.1995.Penuntun

Praktis

Penyakit

Kardiovaskuler.

Edisi

Companies, Inc. United State.


Afzal M : Airway Management In Pediatric Anesthesia: Laryngeal Mask Airway Vs
Endotracheal Tube. The Internet Journal of Anesthesiology 2007. Volume 13 Number
11.

Byhahn C, Meininger D, Zwissler B : Current Concepts of Airway Management in


The ICU and The Emergency Departement; Yearbok of Intensive Care and
Emergency Medecine, Vincent JL (ed), Springer, New York, 2006. P 377-399.

Messeeha Z, Ellyn G : 1954 Pediatric General Anastesi by Laryngeal Mask Airway


Without Intravenous Access. The Internet Journal of Anesthesiology 2007. Volume 13
Number 1.

20