Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

Penederita tumor urologi tersebar di seluruh dunia. Tumor merupakan


penyebab kematian kedua yang memberikan kontribusi 13% kematian dari 22%
kematian akibat penyakit tidak menular utama di dunia (1). Di Indonesia tumor
merupakan urutan ke 6 penyakit nasional. Setiap tahunnya sekitar 100 kasus terjadi
diantara 100.000 penduduk(2). Meningkatnya pengguna rokok, konsumsi alkohol dan
gaya hidup yang kurang bagus juga berperan mempengaruhi peningkatan angka
kejadian tumor di Indonesia
Tumor urologi disebabkan oleh multifaktor. Sampai sekarang penyebab
pastinya belum diketahui pasti. Beberapa faktor yang berperan untuk terjadinya tumor
urologi adalah faktor makanan seperti mengkonsumsi yang menganduk lemak dan
sering mengkonsumsi pemanis buatan. Faktor non makanan seperti sering terpapar
bahan kimia, pekerjaan dan merokok. Faktor genetik juga dapat mempengaruhi
terjadinya tumor urologi. Faktor lain yang berpengaruh antara lain kesehatan mental.
Orang dengan penyakit mental khususnya yang berkaitan dengan mood seperti
depresi dan bipolar akan meningkatkan resiko terjadinya tumor pada usia muda (3).
Biasanya pasien tumor urologi tidak datang berobat pada keadaan dini dikarenakan
gejalanya yang sering dianggap sepele seperti nyeri pinggang. Pasien baru datang
berobat bila gejala sudah mengganggu seperti buang air kecil yang bercampur darah
dan nyeri pada saat buang air kecil.
Pemeriksaan terhadap tumor urologi dilakukan dengan cara anamnesa,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan lanjutan seperti memeriksa PSA, USG, CT-Scan,
dan MRI, bahkan kita dapat melakukan bone scan untuk memeriksa apakah sudah
terjadi metastasis atau belum. Terkadang tumor diketahui dari pemeriksaan kesehatan
rutin yang dilakukan pada pasien yang peduli kesehatan tetapi merasa tidak ada
keluhan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi
Sistem urogenitalia adalah sistem organ yang memproduksi, menyimpan, dan
mengalirkan urine. Pada manusia normal, organ ini terdiri dari ginjal, ureter, buli-buli,
dan uretra. Pada umumnya organ urogenitalia terletak di rongga peritonial dan
terlindung oleh organ lain yang berada di sekitarnya, kcuali testis, epididimid, vas
deferens, penis, dan uretra.
Ginjal adalah sepasang organ saluran kemih yang terletak di rongga
retroperitoneal bagian atas. Bentuknya menyerupai kacang dengan sisi cekungnnya
menghadap ke medial. Cenkungan ini disebut sebagai hilus renalis, yang didalmnya
terdapat apeks pelfis renalis dan struktur lain yang merawat ginjal, yaitu pembuluh
darah, sistem limfa, dan sistem saraf. Besar dan berat ginjal sangat bervariasi, hal ini
tergantung pada jenis kelamin ,umur ,serta tidak adanya ginjal pada sisi lain.Pada
umumnya ginjal lelaki relatif lebih besar ukurannya di bandingkan dengan
perempuan. Pada orang yang mempunyai ginjal tunggal yang di dapat sejak kecil
ukurannya akan lebih besar dari pada ginjal normal.Ukuran rata-rata ginjal orang
dewasa adalah 11,5 cm (panjang) x 6cm (lebar) x 3,5cm (tebal), beratnnya bervariasi
antara 120-170g atau 0,4% dari berat badan.Ginjal di bungkus oleh jaringan fibrosa
tipis dan mengkilap yang disebut kapsula fibrosa ginjal, yang melekat pada parenkim
ginjal. Diluar kapsul fibrosa terdapat jaringan lemak yang di sebelah luarnnya di
batasi oleh fasia gerota. Di antara kapsula fibrosa ginjal dengan fasia gerota terdapat
rongga perirenal. Di sebelah kranial ginjal terdapat glandula adrenal atau disebut juga
kelenjar suprarenal yang berwarna kuning. Glandula adrenal bersama-sama ginjal dan
jaringan lemak perirenal dibungkus oleh fasia gerota, yang berfungsi sebagai barier
yang menghambat meluasnnya perdarahan dari parenkim ginjal serta mencegah
ekstravasasi urin pada saat trauma ginjal. Diluar vasia gerota terdapat jaringan lemak
retroperitoneal yang terbungkus oleh peritoneum posterior. Disebelah posterior, ginjal

dilindungi oleh otot punggung yang tebal serta tulang rusuk ke XI dan XII, sedangkan
di sebelah anterior dilindungi oleh organ intraperitoneal, ginjal kanan dikelilingi oleh
hepar, kolon, duodenum;ginjal kiri di kelilingi oleh lien, lambung, pankreas,
jejeunum, dan kolon.
Ginjal terbagi menjadi dua bagian yaitu korteks dan medula. Korteks ginjal
terletak lebih superfisial dan di dalamnya terdapat berjuta-juta nefron. Nefron
merupakan unit fungsional terkecil ginjal. Medula ginjal yang terletak lebih profundus
banyak terdapat duktuli yang mengalirkan hasil ultrafiltrasi berupa urin. Nefron terdiri
atas glumerulus, tubulus kontortus proksimal, loop of henle, tubulus kontortus distalis,
dan duktus kolegentes. Suplai darah ke ginjal di perankan oleh arteri dan vena renalis.
Arteri renalis merupakan cabang langsung dari aorta abdominalis dan vena renalis
yang bermuara langsung kedalam vena kava inferior. Arteri memasuki ginjal dan
vena keluar dari ginjal di dalam area yang disebut hilus renalis. Pada sisi kanan vena
terletak di sebelah anterior arteri renalis. Pada sisi kiri vena renalis lebih panjang dari
pada arteri. Pada sisi kiri terdapat rangkaian sistem vena yang berbeda dengan sebeleh
kanan, yaitu vena yang merawat gonad ( vena spermatika pada lelaki atau ovarika
pada perempuan ) langsung bermuara pada vena renalis kiri. Lain halnya dengan sisi
kanan vena tersebut bermuara secara oblik langsung ke vena kava inferior, di bawah
percabangan vena renalis dengan vena kava. Arteri renalis bercabang menjadi anterior
dan posterior, cabang anterior merawat kutub atas, bawah dan seluruh segmen anterior
ginjal sedangkan cabang posterior merawat segmen medius dan posterior. Arteri
renalis bercabang menjadi arteri interlobaris yang berjalan di dalam kolumna bertini
kemudian membelok membentuk busur mengikuti basis piramida sebagai arteri
arkuata dan selanjutnya menuju korteks sebagai arteri lobularis. Arteri ini bercabang
kecil menuju ke glomeruli sebagai arteri afferen dan dari glomeruli keluar arteri
efferen yang menuju ke tubulus ginjal. Sistem arteri ginjal adalah end arteri yaitu
arteri yang tidak mempunyai anastomosis dengan cabang dari arteri lain, sehingga jika
terdapat kerusakan pada salah satu cabang arteri akan berakibat timbulnya
iskemia/nekrosis pada daerah yang dilayaninnya.
Ureter adalah organ berbentuk tabung kecil yang berfungsi mengalirkan urin
dari pielum (pelvis) ginjal ke dalam buli-buli. Pada orang dewas panjangnnya kurang
lebih 25-30 cm dan diameternya 2 4 mm. Dindingnnya terdiri atas mukosa yang
dilapisi oleh sel transisional, otot polos sirkuler dan otot polos longitudinal. Kontraksi

dan relaksasi kedua otot polos itulah yang memungkinkan terjadinya gerakan
peristaltik ureter untuk mengalirkan urine kedalam buli buli. Ureter membentang
dari pielum hingga buli buli dan secara anatomis terdapat beberapa tempat yang
diameternya lebih sempit dari pada tempat lain. Tempat penyempitan itu antara lain
adalah (1) pada perbatasan antar pelvis renalis dan ureter atau pelvi ureter junction (2)
tempat saat ureter menyilang arteri iliaka di rongga pelvis dan (3) pada saat ureter
masuk ke buli buli. Ketiga tempat penyempitan itu batu atau benda lain yang berasal
dari ginjal sering kali tesangkut. Ureter masuk ke buli buli dalam posisi miring dan
berada di dalam otot buli-buli (intramural); keadaan ini dapat mencegah terjadinya
aliran balik urin daro buli-buli ke ureter atau refluks vesiko ureter pad saat buli-buli
berkontraksi. Untuk kepentingan pembedahaan ureter di bagi menjadi dua yaitu ureter
pars abdominalis, yang membentang mulai dari pelvis renalis sampai menyilang vasa
ilaka dan ureter pars pelvika yang membentang dari persilangannya dengan vasa
iliaka sampai muaranya di buli-buli.
Buli buli atau vesika urinaria adalah organ berongga yang terdiri dari 3 lapis
otot detrusor yang saling beranyaman, yaitu (1) terletak paling dalam adalah otot
longitudinal, (2) ditengah adalah otot sirkuler, (3) paling luar merupakan otot
longitudinal. Mukosa buli-buli terdiri atas sel transisional yang sama seperti pada
mukosa pelvis renalis, ureter dan uretra posterior. Pada dasar buli-buli kedua muara
ureter dan meatus uretra internum membentuk suatu segitiga yang di sebut trigonum
buli-buli. Secara anatomis vesika urinaria terdiri atas 3 permukaan yaitu (1)
permukaan superior yang berbatasan dengan rongga peritoneum (2) dua permukaan
inferiolateral dan (3) permukaan posterior. Vesika urinaria berfungsi menampung
urine dari ureter dan kemudian mengeluarkannya melalui uretra dalam mekanisma
miks. Dalam menampung urine vesika urinaria mempunyai kapasitas maksimal yang
volumennya untuk orang dewasa kurang lebih 300-450 ml; sedangkan kapasitas bulibuli pada anak menurut formula dari Koff : Kapasitas buli buli = (umur (tahun) + 2) x 30
ml
Pada saat kosong, buli-buli terletak di belakang simfisis pubis dan pada saat
penuh berada di atas simfisis sehingga dapat di palpasi dan perkusi. Buli-buli yang
terisi penuh memberikan rangsangan pada saraf aferen dan mengaktifkan pusat miksi
di medula spinalis. Hal ini akan mengakibatkan kontraksi otot detrusor,terbukanya
leher buli-buli dan relaksasi sfingter uretra sehingga terjadilah proses miksi.

Uretra merupakan tabung yang menyalurkan ulir keluar dari buli-buli melalui
proses miksi. Secara anatomis uretra dibagi menjadi dua bagian yaitu uretra posterior
dan uretra anterior. Pada pria organ ini berfungsi juga dalam menyalurkan caira mani.
Uretra dilengkapi dengan sfingter uretra interna yang terletak pada perbatasan bulibuli dan uretra sedangkan sfingter uretra eksterna yang terletak pada perbatasan uretra
anrerior dan posterior. Sfingter uretra interna terdiri atas otot polos yang dipersarafi
oleh sistem simpatik sehingga pada saat buli-buli penuh sfingter ini terbuka. Sfingter
uretra eksterna terdiri atas otot yang dipersarafi oleh sistem somatik sehingga aktivitas
sfingter uretra eksterna ini dapat diperintah sesusai keinginan seseorang . panjang
uretra wanita kurang lebih 3-5 cm sedangkan uretra pada pria dewasa kurang lebih
20-25 cm. uretra posterior pada pria terdiri atas uretra pars prostatika yaitu bagian
uretra yang dilingkupi oleh kelenjar prostat dan uretra pars membranosa. Dibagian
posterior lumen uretra prostatika terdapat suatu tonjoan verumontanum, dan
disebeleah proksimal dan distal dari verumontanum terdapat krista uretralis. Bagian
akhir dari vas deferens yaitu kedua duktus ejakulatorius terdapat dipinggir kiri dan
kanan verumontanum. Sekresi kelenjar prostat bermuara di dalam duktus prostatikus
yang tersebar di uretra prostatika. Uretra anterior ada;ah bagian uetra yang di bungkus
oleh korpus spongiosum penis. Uretra anterior dari pars bulbosa, pars pendularis,
fossa navikularis, dan meatus uretra eksterna. Di dalam lumen uretra anterior terdapat
muara kelenjar yang berfungsi dalam proses reproduksi yaitu kelenjar cowperi yang
berada di dalam diafragma urogenitalis dan bermuara di uretra par bulbosa.
Kelenjar prostat adalah organ genetalia pria yang terletak disebelah inferior
buli buli, di depan rektum dan membungkus uretra posterior. Bentuknya seperti
buah kemiri dengan ukuran 4 x 3 x 2,5 cm dan beratnya kurang lebih 20g. Prostat
menghasilkan suatu cairan yang merupakan salah satu komponen dari cairan ejakulat.
Cairan ini dialirkan melalui duktus sekretorius dan bermuara di uretra posterior untuk
kemudian di keluarkan bersama cairan semen yan lain pada saat ejakulasi.
Rangsangan parasimpatik meningkatkan sekresi kelenjar pada epitel prostat,
sedangkan rangsangan simpatik menyebabkan pengeluaran cairan prostat kedalam
uretra posterior pada saat ejakulasi .
Testis adalah organ genetalia pria yang pada orang normal jumlahnya ada dua
yang masing-masib terletak di dalam skrotum kanan dan kiri. Bentuknya ovoid dan
pada orang deawasa 4 x 3 x 2,5 cm. kedua buah testis terbungkus oleh jaringan tunika

albuginea yang melekat pada testis. Diluar tunika albuginea terdepat tunika vaginalis
yang terdiri atas lapisan viseralis dan parietali serta tunika dartos. Otot kremaster yang
berada di sekitar testis memungkinkan testis dapat digerakan mendekati rongga
abdomen untuk mempertahankan temperatur testis agar tetap stabil. Di dalam tubulus
seminiferus terdapat sel spermatogonia dan sel sertoli, sedangkan di antara tubuli
seminiferi terdapat sel leydig. Sel spermatogenesis menjadi sel spermatozoa. Sel
sertoli berfugsi memberi makan pada bakal sperma, sedangkan sel leydig atau di sebut
sel interstisial testis berfungsi dalam menghasilkan hormon testosteron. Sel
spermatozoa yang diproduksi di tubulus seminiferus testis disimpan dan mengalami
maturasi di epididimis, setelah mature sel spermatozoa bersama getah bening dari
epididimis dan vas deferens disalurkan menuju ampula vas deferens. Sel itu setelah
bercampur dengan cairan dari epididimis, vas deferens, vesikula seminalis, serta
cairan prostat membentuk cairan mani atau semen.
Epididimis adalah organ yang berbentuk seperti sosis terdiri atas kaput,
korpus, dan kauda epididimis. Korpus epididimis dihubungkan dengan testis melalui
duktuli eferentes. Sel spermatozoa setelah diproduksi di dalam testis dialirkan ke
epididimis. Di sini spermatozoa mengalami maturasi sehingga menjadi motil (dapat
bergerak) dan disimpan di dalam kauda epididimis sebelum dialirkan ke vas deferens
Vas deferens adalah organ berbentuk tabung kecil dan panjangnya 30-35 cm,
bermula dari kauda epididimis dan berakhir pada duktus ejakulatorius di uretra
posterior. Duktus deferens dibagi menjadi beberapa bagian yaitu (1) pars tunika
vaginalis, (2) pars skrotalis, (3) pars inguinalis, (4) pars pelvikum, dan (5) pars
ampularis. Duktus ini terdiri atas otot polos yang mendapatkan persarafan dari sistem
simpatik sehingga dapat kontraksi untuk menyalurkan sperma dari epididimis ke
uretra posterior.
Vesikula seminalis terletak di dasar buli-buli dan di sebelah kranial dari
kelenjar prostat. Panjangnya kurang lebih 6 cm berbentuk sakula-sakula. Vesikula
seminalis menghasilkan cairan yang merupakan bagian dari semen. Cairan ini di
antaranya adalah fruktosa,berfungsi dalam memberi nutrisi pada sperma.
Penis terdiri dari 3 buah korpora yang berbentuk silindris yaitu 2 buah korpora
kavernosa yang saling berpasangan dan sebuah korpus spongiosum yang berada di
sebelah ventralnya. Korpora kavernosa dibungkus oleh jaringan fibroelastik tunika

albuginea sehingga merupakan satu kestuan, sedangkan di sebelah proksimal terpisah


menjadi dua sebagai krura penis. Setiap krus penis dibungkus oleh otot ishiokavernosus yang kemudian menempel pada rami osos ischii. Korpus spongiosum
mebungkus uretra mulai dari diafragma urogenitalis hingga muara uretra eksterna.
Sebelah proksimal korpus spongiosum dilapisi oleh otot bulbo-kavernosus. Korpus
spongiosum ini berakhir pada sebelah distal sebagai glans penis. Ketiga korpora yaitu
dua buah korpora kavernosa dan sebuha korpus kavernosum dibungkus oleh fasia
Buck dan lebih superfisial lagi oleh fasia Colles atau fasia Dartos.

Tumor urogenitalia merupakan keganasan yang sering dijumpai