Anda di halaman 1dari 16

NYERI PUNGGUNG BAWAH

(LOW BACK PAIN)


KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SYARAF
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BUDHI ASIH

Oleh:
Ageng Budiananti (030.09.002)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI


JAKARTA
22 JANUARI 2014

DAFTAR ISI

BAB I
Pendahuluan..1
BAB II (Tinjauan Pustaka)...2
Definisi..2

BAB I
PENDAHULUAN

Nyeri punggung bawah merupakan penyebab terbanyak dari disabilitas. Hal ini dialami
hampir secara merata pada semua ras, mempengaruhi kualitas kehidupan, dan merupakan
alasan terbanyak dari konsultasi medis. Beberapa kasus dari nyeri punggung disebabkan oleh
penyebab spesifik; tetapi paling banyak disebabkan karena penyebab non-spesifik. Nyeri
punggung akut merupakan kelainan yang paling sering muncul dan biasanya sembuh dengan
sendirinya, berlangsung kurang dari tiga bulan tergantung dari penatalaksanaan. Nyeri
punggung kronis merupakan masalah yang lebih rumit, yang dapat menimbulkan masalah
psikologis seperti ketidakpuasan dalam bekerja serta kebosanan.1Ehrlich
Nyeri punggung bawah merupakan penyebab kelima terbanyak dari kunjungan pasien kepada
dokter di Amerika Serikat. Kurang lebih seperempat dari orang dewasa di Amerika Serikat
melaporkan adanya nyeri punggung bawah setidak-tidaknya satu hari penuh dalam tiga bulan
terakhir. 7,6% orang dewasa melaporkan adanya paling tidak suatu episode dari nyeri
punggung kanan bawah akut berat dalam periode satu tahun. Banyak pasien memiliki episode
dari LBP akut yang dapat sembuh sendiri dan tidak memeriksakan diri ke dokter. Diantara
pasien yang mendapatkan pengobatan, rasa nyeri, disabilitas berkurang dan dapat kembali
bekerja biasanya dalam bulan pertama.2 http://annals.org/ on 01/21/2014

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I.

Definisi
Low back pain (LBP) adalah nyeri di daerah punggung antara sudut bawah costae
sampai lumbosakral. Nyeri juga bisa menjalar ke daerah lain seperti punggung bagian
atas dan pangkal paha. Nyeri punggung bawah merupakan perjalanan akhir yang paling
sering dari banyak proses; contohnya nyeri pada osteomyelitis vertebral, secara
kualitatif dan intensitasnya tidak terlalu berbeda dengan pada yang disebabkan oleh
ketegangan otot pada orang-orang dengan aktivitas tertentu. Banyak faktor risiko dari
LBP; merokok, usia diatas 50 tahun, dan keganasan, dimana semuanya juga merupakan
faktor terjadinya metastasis bagian vertebrae.
LBP dialami kurang lebih oleh 80% dari populasi. Diagnosis banding dari penyakit ini
luas dan meliputi ketegangan otot, penyakit primer spinal (HNP, arthritis degenerative),
penyakit sistemik (metastasis dari keganasan), dan penyakit regional (aneurisma aorta).
Diagnosis yang tepat sulit ditegakkan pada kebanyak kasus. Kebanyakan dari pasien
sembuh dalam 1-4 minggu dan tidak memerlukan evaluasi diluar anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Yang menjadi kesulitan adalah untuk menentukan apakan pasien
tersebut merupakan yang membutuhkan penanganan ekstensif dan segera. Dalam
praktiknya, menentukan penyebab menjadi hal penting, seperti (1) infeksi, (2)
keganasan, (3) penyakit inflamasi punggung seperti ankylosing spondylitis (4) atau
keadaan nonrematologis seperti aneurisma aorta. Selain itu, deficit neruologis yang
signifikan dan progresif juga memerlukan identifikasi. Apabila tidak terdapat bukti dari
masalah-masalah tersebut, maka dapat dilakukan terapi secara konservatif.3 CMDT

II.

Faktor Risiko Low Back Pain


Faktor resiko nyeri pinggang meliputi usia, jenis kelamin, berat badan, etnis, merokok,
pekerjaan, paparan getaran, angkat beban yang berat yang berulang-ulang,
membungkuk, duduk lama, geometri kanal lumbal spinal dan faktor psikososial. Sifat
dan karakteristik nyeri yang dirasakan pada penderita LBP bermacam-macam seperti
nyeri terbakar, nyeri tertusuk, nyeri tajam, hingga terjadi kelemahan pada tungkai.
Nyeri ini terdapat pada daerah lumbal bawah, disertai penjalaran ke daerah-daerah lain,

antara lain sakroiliaka, koksigeus, bokong, kebawah lateral atau posterior paha, tungkai,
dan kaki.
III.

Klasifikasi Low Back Pain


Neurologis biasanya mengevaluasi dan memberikan penatalaksanaan dengan cara
membedakan menurut onset nyeri akut atau subakut dan tanda adanya iritasi nerve-root
nyeri menjalar, kelemahan, baal, atau gejala kandung kemih maupun usus. Selain itu,
adanya dan derajat dari impairment (defek fisik) dan disabilitas (apa yang dapat dan
tidak dapat dilakukan pasien karena impairment yang ditimbulkan) juga perlu menjadi
pertimbangan. Klasifikasi dari nyeri punggung bawah berdasarkan derajat keparahan
dari penyebab dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
- Red Flag
Suatu kondisi yang merupakan indicator dari adanya patologis spinal serius, yang
termasuk red flag dari LBP adalah:
Sindrom Cauda Equina (kelemahan motorik, sensorik, deficit neurologis

progresif, gangguan sfingter, saddle anesthesia)


Infeksi atau tumor pada medulla spinalis dan sekitarnya
Fraktur dan fraktur patologis (adanya trauma hebat, riwayat keganasan,

penyakit kronis maupun degenerative)


Yellow Flag
Yang termasuk dari yellow flag merupakan kelainan yang timbul berhubungan
dengan faktor psikososial dan menjadi indicator dari adanya gangguan kronis dan
disabilitas:

Anggapan yang kurang positif bahwa LBP merupakan hal yang

membahayakan dan membuat cacat


Perilaku yang menghindari aktivitas karena adanya LBP
Depresi dan social withdrawal
Permasalahan social maupun finansial4

Beberapa penyebab dari Low Back Pain:


-

Radicular (adanya kaitan dengan nerve-root):


Penyebab intraspinal:
o Proksimal dari diskus (conus dan cauda equina); neurofibroma,
ependyoma, meningioma
o Level diskus )herniasi diskus intravertebral, stenosis spinal, kista
synovial dan sendi facet
o Vaskular (malformasi arteriosus dari spinal cord, fistel AV dural
spinal)

Penyebab ekstraspinal:
o Pelvis (vascular,

ginekologis,

sendi

sacroiliaca,

keganasan

retroperitoneal yang mempengaruhi plexus lumbosacral, plexitis


lumbosacral)
o Nervus perifer (mononeuropati, polineuropati diabetes, trauma,
-

keganasan local, herpes zoster)


Nonradicular (tidak berkaitan dengan nerve-root)
Penyebab traumatic:
o Strain muscles, fraktur kompresi vertebral, fraktur processus

transversus
Penyebab kronik atau subakut:
o Spondylosis dan penyakit degenerative diskus, spondylolithesis,
penyakit sendi sacroilliaca, muscular (kronik dan strain berulang),

deconditioning, postural, fibromyalgia.


Penyebab nonmekanikal:
o Nyeri alih (abdominal atau retroperitoneal seperti aneurisma aorta
abdominal, penyakit pancreas, endometriosis)
o Infeksi (tulang, diskus, epidural, traktus urinarius terutama pada
wanita)
o Neoplasma vertebral atau celah epidural (tumor metastasis, multiple
myeloma, tumor tulang primer)
o Penyakit rheumatologis (ankylosing spondylitis, penyakit degenratif,
dan arthritis lainnya)
o Bermacam-macam penyebab metabolic dan vascular (osteopenia
dengan fraktur kompresi, Pagets disease)
o Psikogenik

Menurut Bimariotejo (2009), berdasarkan perjalanan kliniknya LBP terbagi menjadi


dua jenis, yaitu:
1.

Acute Low Back Pain


Acute low back pain ditandai dengan rasa nyeri yang menyerang secara tiba-tiba
dan rentang waktunya hanya sebentar, antara beberapa hari sampai beberapa
minggu. Rasa nyeri ini dapat hilang atau sembuh. Acute low back pain dapat
disebabkan karena luka traumatik seperti kecelakaan mobil atau terjatuh, rasa
nyeri dapat hilang sesaat kemudian. Kejadian tersebut selain dapat merusak
jaringan, juga dapat melukai otot, ligamen dan tendon. Pada kecelakaan yang
lebih serius, fraktur tulang pada daerah lumbal dan spinal dapat masih sembuh

sendiri. Penatalaksanaan yang dapat diberikan untuk nyeri punggung akut


adalah:

Mengurangi nyeri

Pengembalian mobilitas/pergerakan

Meminimalisir kelemahan residual

Menghindari kekambuhan

Intervensi terjadinya nyeri kronik

Untuk nyeri punggung akut, pasien disarankan untuk melakukan tirah baring 35 hari, 7-14 hari apabila ada gejala radikular (terdapat skoliosis dan antalgic
spine) dan 5 minggu pada herniasi diskus akut. Posisi Semi-Fowler dapat
dilakukan di rumah. Dan terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan pada
saat pasien beristirahat, seperti:

Pasien tidak boleh duduk langsung dengan posisi tegak dari berbaring

Pasien harus berbaring pada satu sisi dengan panggul dan lutut fleksi
terlebih dahulu lalu duduk

Punggung bawah harus berada dalam posisi fleksi dan immobile selama
pergerakan

Jika kedua kaki sudah berada pada lantai, pasien harus berdiri perlahan,
menjaga tubuh tetapi sebagai pusat dari gravitasi dan tidak tegak secara
penuh dengan postur lordosis lumbar penuh.

Posisi Semi-Fowler

2. Chronic Low Back Pain


Rasa nyeri pada chronic low back pain bisa menyerang lebih dari 3 bulan. Rasa
nyeri ini dapat berulang-ulang atau kambuh kembali. Fase ini biasanya memiliki
onset yang berbahaya dan sembuh pada waktu yang lama. Chronic low back

pain dapat terjadi karena osteoarthritis, rheumatoidarthritis, proses degenerasi


discus intervertebralis dan tumor.
Brena telah membuat 5 urutan yang tampak pada nyeri kronik yang disebut
Five D-Syndrome.:

Drug: abuse atau misuse

Dysfunction: penurunan fungsi, performa atau bahkan kualitas hidup

Disuse: kehilangan fleksibilitas dan kekuatan

Depression: dengan kehilangan yang signifikan dapat menyebabkan depresi

Disability: ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari

Selain yang telah disebutkan diatas, penyebab LBP juga dapat dibagi menjadi beberapa
grup seperti infeksi, congenital (sejak lahir), keganasan, degenerative, dan trauma.
- Kelainan Tulang Punggung (Spine) Sejak Lahir
Keadaan ini lebih dikenal dengan istilah Hemi Vertebrae. Menurut Soeharso (1978)
kelainan-kelainan kondisi tulang vertebra tersebut dapat berupa tulang vertebra
hanya setengah bagian karena tidak lengkap pada saat lahir. Hal ini dapat
menyebabkan timbulnya low back pain yang disertai dengan skoliosis ringan.
Selain itu ditandai pula adanya dua buah vertebra yang melekat menjadi satu,
namun keadaan ini tidak menimbulkan nyeri. Terdapat lubang di tulang vertebra
dibagian bawah karena tidak melekatnya lamina dan keadaan ini dikenal dengan
Spina Bifida. Penyakit spina bifida dapat menyebabkan gejala-gejala berat sepert
club foot, rudimentair foof, kelayuan pada kaki, dan sebagainya. namun jika lubang
tersebut kecil, tidak akan menimbulkan keluhan.
Beberapa jenis kelainan tulang punggung (spine) sejak lahir adalah:
a. Penyakit Spondylisthesis
Pada spondylisthesis merupakan kelainan pembentukan korpus vertebrae,
dimana arkus vertebrae tidak bertemu dengan korpus vertebrae. Walaupun
kejadian ini terjadi sewaktu bayi, namun ketika berumur 35 tahun baru
menimbulkan nyeri akibat kelinan-kelainan degeneratif. Nyeri pinggang ini
berkurang atau hilang bila penderita duduk atau tidur dan akan bertambah, bila
penderita itu berdiri atau berjalan.
Soeharso (1978) menyebutkan gejala klinis dari penyakit ini adalah:
1). Penderita memiliki rongga badan lebih pendek dari semestinya. Antara dada
dan panggul terlihat pendek.

2). Pada punggung terdapat penonjolan processus spinosus vertebra yang


menimbulkan skoliosis ringan.
3). Nyeri pada bagian punggung dan meluas hingga ke ekstremitas bawah.
4). Pemeriksaan X-ray menunjukan adanya dislokasi, ukuran antara ujung spina
dan garis depan corpus pada vertebra yang mengalami kelainan lebih panjang
dari garis spina corpus vertebrae yang terletak diatasnya.
b. Penyakit Kissing Spine
Penyakit ini disebabkan karena dua tau lebih processus spinosus bersentuhan.
Keadan ini bisa menimbulkan gejala dan tidak. Gejala yang ditimbulkan adalah
low back pain. Penyakit ini hanya bisa diketahui dengan pemeriksaan X-ray
dengan posisi lateral.
c. Sacralisasi Vertebrae Lumbal Ke V
Penyakit ini disebabkan karena processus transversus dari vertebra lumbal ke V
melekat atau menyentuh os sacrum dan/atau os ileum.
-

Low Back Pain karena Trauma


Trauma dan gangguan mekanis merupakan penyebab utama LBP. Pada orangorang yang tidak biasa melakukan pekerjaan otot atau melakukan aktivitas dengan
beban yang berat dapat menderita nyeri pinggang bawah yang akut.
Gerakan bagian punggung belakang yang kurang baik dapat menyebabkan
kekakuan dan spasme yang tiba-tiba pada otot punggung, mengakibatkan
terjadinya trauma punggung sehingga menimbulkan nyeri. Kekakuan otot
cenderung dapat sembuh dengan sendirinya dalam jangka waktu tertentu. Namun
pada kasus-kasus yang berat memerlukan pertolongan medis agar tidak
mengakibatkan gangguan yang lebih lanjut.
Secara patologis anatomis, pada low back pain yang disebabkan karena trauma,
dapat ditemukan beberapa keadaan, seperti:
a. Perubahan pada sendi Sacro-Iliaca
Gejala yang timbul akibat perubahan sendi sacro-iliaca adalah rasa nyeri pada
os sacrum akibat adanya penekanan. Nyeri dapat bertambah saat batuk dan saat
posisi supine. Pada pemerikasaan, lassague symptom positif dan pergerakan
kaki pada hip joint terbatas.
b. Perubahan pada sendi Lumba Sacral
Trauma dapat menyebabkan perubahan antara vertebra lumbal V dan sacrum,
dan dapat menyebabkan robekan ligamen atau fascia. Keadaan ini dapat

menimbulkan nyeri yang hebat di atas vertebra lumbal V atau sacral I dan dapat
menyebabkan keterbatasan gerak.
-

Low Back Pain karena Perubahan Jaringan


Kelompok penyakit ini disebabkan karena terdapat perubahan jaringan pada tempat
yang mengalami sakit. Perubahan jaringan tersebut tidak hanya pada daerah
punggung bagian bawah, tetapi terdapat juga disepanjang punggung dan anggota
bagian tubuh lain.
Beberapa jenis penyakit dengan keluhan LBP yang disebabakan oleh perubahan
jaringan antara lain:
a. Osteoartritis (Spondylosis Deformans)
Dengan bertambahnya usia seseorang maka kelenturan otot-ototnya juga
menjadi berkurang sehingga sangat memudahkan terjadinya kekakuan pada otot
atau sendi. Selain itu juga terjadi penyempitan dari ruang antar tulang vetebra
yang menyebabkan tulang belakang menjadi tidak fleksibel seperti saat usia
muda. Hal ini dapat menyebabkan nyeri pada tulang belakang hingga ke
pinggang.
b. Penyakit Fibrositis
Penyakit ini juga dikenal dengan Reumatism Muskuler. Penyakit ini ditandai
dengan nyeri dan pegal di otot, khususnya di leher dan bahu. Rasa nyeri
memberat saat beraktivitas, sikap tidur yang buruk dan kelelahan.
c. Penyakit Infeksi
Infeksi pada sendi terbagi atas dua jenis, yaitu infeksi akut yang disebabkan
oleh bakteri dan infeksi kronis, disebabkan oleh bakteri tuberkulosis. Infeksi
kronis ditandai dengan pembengkakan sendi, nyeri berat dan akut, demam serta
kelemahan.

Low Back Pain karena Pengaruh Gaya Berat


Gaya berat tubuh, terutama dalam posisi berdiri, duduk dan berjalan dapat
mengakibatkan rasa nyeri pada punggung dan dapat menimbulkan komplikasi pada
bagian tubuh yang lain, misalnya genu valgum, genu varum, coxa valgum dan
sebagainya. Beberapa pekerjaan yang mengaharuskan berdiri dan duduk dalam
waktu yang lama juga dapat mengakibatkan terjadinya LBP.
Kehamilan dan obesitas merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya
LBP akibat pengaruh gaya berat. Hal ini disebabkan terjadinya penekanan pada

tulang belakang akibat penumpukan lemak, kelainan postur tubuh dan kelemahan
otot.5
IV.

Anamnesis, Pemeriksaan Fisik dan Penunjang


Untuk menyingkirkan diagnosis banding, terdapat klasifikasi yang digunakan dengan
melihat hasil dari anamnesis, pemeriksaan fisik serta penunjang.
- Anamnesis
Beberapa pertanyaan yang harus diutarakan antara lain adalah adanya trauma
yang dapat berhubungan, sejak kapan, adanya serangan nyeri sebelumnya,
penatalaksanaan sebelumnya, dan durasi serta progresifitas dari gejala. Pasien
juga harus ditanyakan mengenai kelemahan; baal; dysesthesia dan paresthesia,
disfungsi kandung kemih, usus dan seksual, dan adanya nyeri perut atau pinggang
yang menyertai.
Jenis Nyeri
Beberapa hal yang harus diperhatikan dari nyeri yang dialami pasien adalah
kualitas nyeri, lokasi, dan radiasi dari nyeri, adanya hal-hal atau aktivitas yang
memperburuk atau mengurangi nyeri. Nyeri hebat, konstan yang terjadi malam
hari menunjukkan adanya neoplasma, infeksi, dan kompresi nerve-root lateral.
Jaras nyeri berada pada annulus yang mengelilingi diskus (dalam ligamentum
spinalis, facets dan joint capsules) tetapi tidak didalam discus intravertebralis
sendiri. Nyeri nerve-root biasanya tajam, berdenyut, dan biasanya meningkat
dengan adanya batuk, mengejan, berdiri atau duduk dan biasanya berkurang
dengan berbaring. Nyeri syaraf atau plexus perifer biasanya dideskripsikan
sebagai rasa terbakar dan seperti tumpul atau baal; tetapi memburuk pada saat
pasien berbaring pada malam hari. Pada radikulopati dan mononeuropati yang
nyeri, area dari nyeri dan abnormalitas sensorik biasanya dapat berkembang
diatas penyebaran sensorik yang terpengaruh nervus perifer atau diatas dermatom
dari asal dari sensorik yang berkaitan, seperti pada postherpetic neuralgia. Akan
tetapi, deskripsi dari lokasi nyeri dapat membantu melokalisasi level dari nerveroot yang terkena.
Perbedaan nyeri syaraf pusat dengan syaraf perifer

Durasi
Kualitas

Pusat
Sesaat
Tajam, seperti ditusuk

Perifer
Kontinu
Seperti terbakar, baal

Diperburuk dengan

Batuk, mengejan,

Berbaring di tempat tidur

Membaik dengan

berdiri, duduk
Ya

Tidak

berbaring
-

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang umum dilakukan sama pentingnya dengan pemeriksaan
neurologic dan harus disertai vaskulatur, abdomen, area inguinal, dan rectum
(terutama jika sindroma cauda equine dicurigai). Lihat bagaimana pasien
bergerak, duduk, berdiri. Lihat adanya atrofi (ukur diameter tungkai bawah dan
tungkai atas untuk melihat adanya asimetri), fasikulasi, pelvic tilit, fleksi lutut
involunter, skoliosis, dan caf aulait spots (dapat mengindikasikan fibromatosis).
Pemeriksaan gait juga dapat dilakukan saat melihat pasien berjalan dengan
menumpu pada tumit ataupun jempol.
Palpasi spinal bagian bawah, otot-otot paraspinal, kelenjar limfe sciatic, nervus
sciatic untuk melihat adanya nyeri, muscle spasm, dan nyeri yang menjalar. Nyeri
otot dapat berhubungan dengan iritasi nerve-root (otot betis dengan S1, tibialis
anterior dengan L5, dan quadriceps dengan L4).
Nerve-root Teregang
Syaraf dapat terganggu oleh adanya diskus yang mengalami herniasi atau lesi
lainnya, sehingga dapat menimbulkan regangan dari syaraf yang menimbulkan
nyeri. Hal ini dapat diperiksa dengan melakukan pemeriksaan dengan cara
meminta pasien untuk membungkuk kedepan atau dengan straight-leg raising
(SLR).
SLR dilakukan dengan mengangkat/mengekstensikan sendi panggul dengan posisi
pasien berbaring untuk melihat apakah hal tersebut dapat menimbulkan nyeri pada
tungkai, pinggul, punggung, dan jika ya, pada sudut berapa dari garis horizontal
nyeri mulai terasa. Nyeri biasanya makin memburuk dengan dorsofleksi ankle dan
berkurang dengan fleksi dari lutut dan panggul. SLR (+) biasanya mengindikasikan
adanya iritasi syaraf S1 atau L5. Nyeri yang dirasakan bersifat kontralateral,
simptomatik ketika tungkai asimptomatik diangkat dianggap tes crossed SLR
positif yang mengindikasikan adanya herniasi diskus medial dari syaraf. SLR tes
terbalik mendeteksi adanya iritasi L3 atau L4. Pasien tengkurap atau menghadap ke
satu sisi, lalu paha diekstensikan pada sendi panggul. Jika pasien merasa nyeri pada

panggul atau selangkangan, pemeriksa selanjutnya merotasikan panggul; nyeri saat


rotasi menunjukkan adanya penyakit pada panggul, bukan suatu radikulopati.
Nerve Root Syndrome
Root Nyeri
S1

dan Hypesthesia

Gangguan

Paresthesia
Motorik
Pinggul, femoris jari kaki ke- Fleksor
post., betis, tumit, 4

dan

kaki lat., jari kaki betis,

Hilangnya
Refleks
jari Refleks

5, kaki,

Pemeriksaan
SLR

achilles

dan gastrocnemius,

ke-4 dan 5, nyeri femoris post. hamstring,


tungkai
L5

>

adductor

jari

punggung
kaki
Femoris postlat., Jari kaki 1, Peroneii (foot selangkangan,

SLR

kaki bagian drop)

betis lat., jari kaki medial, betis


ke-1 dan 2, nyeri anterolat.
punggung
L4
L3

tungkai
Femoris

>
Femoris

anteromed.
anteromed,
Nyeri punggung
Lutut
> tungkai

Quadriceps,

Patella

Reverse SLR

Illiopsoas

Pemeriksaan Motorik
Pemeriksaan motorik untuk menilai adanya kelemahan pada tungkai bagian
proksimal dapat dilakukan dengan meminta pasien untuk berdiri dari posisi
jongkok. Kelemahan pada gastrocnemius dapat terdeteksi dengan gerakan berdiri/
berjinjit pada jari-jari kaki. Fleksor dan ekstensor jari kaki biasanya menjadi lemah
sebelum otot-otot pada kaki. Jika otot gluteus maksimus (siplai dari S1) melemah,
salah satu sisi bokong dapat mengendur; kelemahan gluteus medius (L5) dapat
menimbulkan kelemahan sehingga muncul Tradelenburg gait. Pada pasien dengan
nyeri dari radix, pemeriksaan dorsofleksi kaki dengan lutut ektensi tidak dilakukan,
karena dapat mengakitbatkan teregangnya S1 dan L5 sehingga menimbulkan nyeri
sciatic. Oleh karena itu, dengan alasan yang sama, kekuatan quadriceps diperiksa
dengan cara pasien tengkurap. Otot diinervasi oleh lebih dari satu nervus, sehingga

paralisis

total menunjukkan adanya

lesi multiple dari radix, sehingga

mempengaruhi nervus perifer multiple juga. Atrofi jarang ditemukan kecuali gejala
sudah timbul lebih dari tiga minggu. Atrofi berat dapat meningkatkan kecurigaan
terhadap neoplasma extradural.
Pemeriksaan Sensorik
Distribusi dermatom dari kehilangan sensasi pinprick dan sentuhan menunjukkan
dan melokalisir adanya keterlibatan syaraf. Karena terdapat banyak distribusi dari
syaraf maka lesi pada suatu syaraf biasanya menyebabkan adanya hyalgesia ringan.
Pemeriksa mungkin tidak dapat mendeteksi adanya deficit sensoris, walaupun
pasien memiliki gejala sensoris.
Refleks Tendon
Refleks fisiologis yang berbeda antara pergelangan kaki dan lutut dapat membantu
identifikasi dari syaraf yang bersangkutan.
-

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menentukan perkiraan
penyebab dari LBP adalah:

Pemeriksaan laboratorium darah lengkap; untuk melihat apakah terdapat

faktor risiko seperti infeksi (dapat diperiksa leukosit, LED)


Pemeriksaan gula darah; untuk melihat adanya faktor risiko seperti Diabetes

Mellitus
Pemeriksaan Bone Scan; untuk melihat adanya kemungkinan terjadi fraktur

V.

patologis atau faktor risiko lain seperti osteoporosis


Pemeriksaan radiografi:
o
Foto Lumbosacral
o
CT-scan
o
MRI6

Penatalaksanaan Low Back Pain


Menurut WHO, penatalaksanaan yang paling baik untuk dilakukan pada awalnya
adalah terapi perilaku kognitif dan kebugaran fisik walaupun keduanya tidak
konklusif. Penatalaksanaan medikamentosa biasanya efektif untuk pasien dengan
acute low back pain tetapi kurang menguntungkan untuk pasien dengan chronic back

pain. Penatalaksanaan medikamentosa yang dapat diberikan diantaranya adalah


Paracetamol dan non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAID) yang dapat
menurunkan nyeri ke level yang dapat ditoleransi, tetapi obat-obatan tersebut tidak
boleh diberikan dalam jangka waktu panjang (paling lama diberikan selama 12 hari).
Beberapa sumber mengatakan bahwa penatalaksanaan seperti tirah baring, korset,
maupun braces, yang dulunya sering diberikan secara rutin sekarang tidak lagi
ditujukan untuk penatalaksanaan nyeri punggung, karena dianggap dapat menghambat
otot sendiri untuk menopang secara structural. Latihan dan olahraga lainnya untuk
punggung memberikan dampak yang kurang berarti terutama untuk nyeri punggung
bawah kronik. Kortikosteroid sebaiknya dihindari bahkan dalam injeksi karena
pengaruhnya tidak berbeda jauh dengan pemberian placebo dan tidak berbeda jauh
dengan penyembuhan yang temporer tanpa menggunakan kortikosteroid. Dosis kecil
dari antidepresan trisiklik (peningkat mood) diberikan satu jam sebelum tidur dapat
membantu regulasi siklus tidur yang dapat membantu pada beberapa kasus. Obatobatan psiktropik dan muscle relaxant juga memiliki peran yang terbatas. Sekarang
telah berkembang beberapa jenis terapi baru seperti chiropractic dan terapi
manipulative lainnya dinilai cukup disukai oleh masyarakat tetapi juga merupakan
terapi yang paling mahal diluar tindakan operatif dan tidak memberikan outcome yang
signifikan.
Selain itu terapi yang diberikan juga tergantung pada penyebab dari low back pain
tersebut, seperti pemberian antibiotic atau obat anti tuberculosis pada nyeri punggung
bawah yang disebabkan oleh infeksi, serta terapi operatif atau suportif untuk beberapa
kasus seperti trauma, degenerative maupun keganasan.
Tujuan dari terapi sesungguhnya adalah kesembuhan, tetapi sulit untuk dicapai.
Kemampuan untuk hidup tanpa merasa terbatas walaupun dengana adanya nyeri
merupakan tujuan yang palin realistis. Terapi yang juga penting adalah penjelasan dan
edukasi mengenai physical conditioning, peningkatan aktivitas yang memungkinkan;
relaksasi fisik dan mental yang cukup; peningkatan mood dan peningkatan akan
pandangan positif terhadap diri sendiri dapat mengarahkan individu untuk
meningkatkan kepercayaan diri dan fungsi individu tersebut dalam masyarakat serta
dalam hal sosioekonomi; juga untuk menghindari terjadinya relaps merupakan hal-hal
yang sama pentingnya dengan pemberian obat-obatan.7

Terapi Manipulatif Nyeri Punggung Bawah (Buletin WHO, 2003)