Anda di halaman 1dari 2

ATURAN HARUS MENGABDI MANUSIA

Rm. Yohanes Agus Setyono CM

Konsolidasi dan aksi menuntut kenaikan UMK tahun 2007 sudah beberapa kali
dilakukan oleh pelbagai aliansi serikat pekerja. Tetapi sampai detik ini pemerintah
daerah dan propinsi belum menunjukkan tanda-tanda niat baiknya untuk
mendengarkan tuntutan itu. Belum adanya kesepakatan dialog itu terjadi karena
masing-masing pihak cenderung bertahan pada posisi dan prinsipnya masing-masing.
Pihak buruh berpendapat bahwa penentuan UMK tahun 2007 masih di bawah standart
kehidupan layak. Sementara pemerintah mengklaim bahwa keputusan mengenai
UMK tahun 2007 sudah diambil berdasarkan prosedur dan aturan yang benar.
Bertolak dari pengakuan pihak pemerintah ini, kemudian pihak buruh
mempertanyakan soal validitas hasil survey UMK tahun 2007. Pihak buruh
berpendapat bahwa hasil survey yang dilakukan oleh Dewan Pengupahan tingkat
daerah tidak valid. Pendapat ini muncul karena pihak buruh berhasil menemukan
pelbagai macam kejanggalan dalam proses survey, mulai dari soal waktu yang terlalu
singkat, banyak point-point kebutuhan yang tidak disurvey, sampai pada proses
survey yang dilakukan secara tertutup. Aneka temuan ini, rupanya tidak membuat
pihak pemerintah berusaha merubah sikapnya. Malahan mereka menegaskan bahwa
hasil survey itu valid, bukan hanya karena prosesnya yang sudah sesuai aturan,
melainkan juga karena sudah dilakukan dan diputuskan oleh unsur-unsur yang harus
ada dalam Dewan Pengupahan, yaitu unsur pemerintah, buruh, dan pengusaha.

Di luar perbebatan di atas saya ingin menyodorkan fakta yang lain, yaitu kesaksian
seorang hidup seorang teman. Setelah lima tahun bekerja di sebuah pabrik sepatu di
kawasan Surabaya Utara, Sumirah tetap saja menempati kamar kost 2 x 2,5 meter,
dan tak memiliki apa-apa juga dikampungnya. Keadaan buruh yang satu ini
membangkitkan pertanyaan, apa yang menyebabkan kehidupannya sama
sekali tak berubah. Orang bisa mengadilinya dengan malas, tak mau menabung,
mungkin untuk foya-foya, dan sebagainya. Jawaban atas semua pertanyaan itu
adalah pada kenyataan yang ia pertanyakan balik, "Uang 315.000 sebulan saat ini
dapat apa Mas?" Sumirah hanya salah satu dari ribuan buruh Surabaya yang tak pernah
menyentuh angka Upah Layak. la masuk kerja 5 tahun lalu dengan upah 8.000 per
hari, berarti 208.000 per bulan. Kini ia menyentuh 12.120 per hari. la memaksa
cukup hidup dengan angka tersebut sebagai uang makan, uang kost, uang untuk
berpakaian, dana beli bedak seadanya. Bisa dimengerti kalau ia tak pernah
membuktikan janjinya pada keluarga untuk mengirimkan sedikit biaya sekolah 3
adiknya di kampung. Ribuan buruh hidup jauh dibawah standart hidup layak.

Hukum dan nilai martabat manusia


Dengan dua fenomena di atas saya ingin mengatakan satu hal, yaitu soal martabat
manusia di hadapan hukum dan aturan. Ada pepatah yang mengatakan “hukum dibuat
untuk manusia, dan bukan manusia untuk hukum.” Hidup manusia tidak bisa
dilepaskan dari hukum. Itu jelas. Karena tanpa hukum, apa yang disebut dengan tata
hidup bersama, dengan segala aspek yang menyertainya, pasti tidak akan jalan. Akan
tetapi kalau manusia terlalu terpaku pada hukum dan aturan , maka tata hidup bersama
pun juga tidak akan jalan. Hukum dan aturan tidak pernah dibuat demi hukum itu
sendiri. Sebaliknya Hukum dan aturan harus selalu merujuk pada nilai-nilai martabat
manusia. Oleh karena itu, ketika sebuah produk hukum atau aturan ternyata malah
menindas, tidak adil, dan memandang rendah manusia, maka adalah hak setiap
manusia untuk melawannya.

Logika pemerintah
Sekarang marilah kita membandingkan logika hukum seperti yang saya paparkan di
atas dengan logika hukum yang diterapkan oleh pemerintah: sebuah keputusan
dikatakan valid kalau berdasarkan prosedur (survey). Nilai UMK 2007 sudah
dilakukan dengan mengikuti prosedur. Kesimpulannya, penetapan nilai UMK 2007
adalah valid. Logika pemerintah ini sama halnya dengan logika berikut ini: kalau
hujan, maka tanah-tanah akan basah. Hari ini tanah-tanah basah. Kesimpulannya, hari
ini telah turun hujan. Apakah menurut anda kesimpulan ini benar?
Dengan logikanya, pemerintah sebenarnya telah membuat kesalahan yang sangat
fatal. Itu terjadi karena pemerintah hanya mendasarkan keputusannya pada tataran
aturan atau prosedur yang ada, terlepas apakah aturan atau prosedur itu sesuai dengan
fakta atau tidak.