Anda di halaman 1dari 11

Bells Palsy pada Seorang Laki-laki Usia 25 Tahun

Egy Pradana Yudhistira


102012247 / A3
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara, No. 6, Jakarta Barat, 11510, Telp. (021) 5694-2061, Fax. (021) 563-1731
Email : egypradana14@yahoo.com
I.

Pendahuluan

Bells palsy merupakan kelemahan otot wajah dengan tipe lower motor neuron yang
disebabkan oleh keterlibatan saraf fasialis idiopatik di luar sistem saraf pusat, tanpa adanya
penyakit neurologik lainnya.1
Sir Charles Bell (1774-1842) adalah orang pertama yang meneliti tentang sindroma
kelumpuhan saraf fasialis dan sekaligus meneliti tentang distribusi dan fungsi saraf fasialis. Oleh
karena itu nama Bell diambil untuk diagnosis setiap kelumpuhan saraf fasialis perifer yang tidak
diketahui penyebabnya. Saraf fasialis (N.VII) mengandung sekitar 10.000 serabut saraf yang
terdiri dari 7.000 serabut saraf motorik untuk otot-otot wajah dan 3.000 serabut saraf lainnya
membentuk saraf intermedius (Nerve of Wrisberg) yang berisikan serabut sensorik untuk
pengecapan 2/3 anterior lidah dan serabut parasimpatik untuk kelenjer parotis, submandibula,
sublingual dan lakrimal. Manifestasi klinisnya terkadang dianggap sebagai suatu serangan stroke
atau gambaran tumor yang menyebabkan separuh tubuh lumpuh atau tampilan distorsi wajah
yang akan bersifat permanen.2
I.
Pembahasan
A. Anamnesis
Anamnesis yang perlu ditanyakan adalah:
-

Identitas pasien.
Keluhan utama : pada skenario, pasien datang ke puskesmas dengan keluhan mata
sebelah kiri tidak dapat ditutup dan mulutnya mencong ke kanan.
Riwayat penyakit sekarang :
o Waktu dan lamanya keluhan berlangsung.
o Apakah ada rasa nyeri di lokasi keluhan.
1

o
o
o
o
o

Gangguan atau kehilangan pengecapan.


Sifat dan beratnya serangan (masih dapat ditahan atau tidak).
Lokasi dan penyebarannya (dapat menyebutkan tempat sakit atau menyebar)
Apakah keluhan baru pertama kali atau sudah berulang kali.
Faktor resiko dan pencetus serangan, termasuk faktor-faktor yang memperberat

atau meringankan serangan.


o Perkembangan penyakit, kemungkinan telah terjadi komplikasi
o Upaya yang telah dilakukan dan bagaimana hasilnya, jenis-jenis obat yang telah
diminum oleh pasien; juga tindakan medik lain yang berhubungan dengan

penyakit yang saat ini diderita.


o Tanyakan juga apakah sebelumnya terdapat penurunan kesadaran
o Keluhan penyerta lain
Riwayat penyakit dahulu : riwayat penyakit yang pernah dialami oleh penderita seperti

infeksi saluran pernafasan, otitis, herpes, dan lain-lain.


Riwayat penyakit keluarga.
Riwayat kebiasaan dan sosial

B. Pemeriksaan fisik
1. Pemeriksaan tanda-tanda vital
2. Pemeriksaan neurologi
Kelumpuhan nervus fasilalis melibatkan semua otot wajah sesisi dandapat dibuktikan
dengan pemeriksaan - pemeriksaan berikut, yaitu:
a. Pemeriksaan motorik nervus fasialis.
Mengerutkan dahi : lipatan kulit dahi hanya tampak pada sisi yang sehat
saja.
Mengangkat alis : alis pada sisi yang sakit tidak dapat diangkat.
Memejamkan mata dengan kuat : pada sisi yang sakit kelompak
tidak

dapat

menutupi

bola

mata

dan

berputarnya

bola

mata
mata

ke atas dapat dilihat. Hal tersebut dikenal Fenomena Bell. Selain itu dapat
dilihat juga bahwa gerakan kelopak mata yang sakit lebih lambat
dibandingkan dengan gerakan kelopak mata yang sehat, hal ini dikenal
sebagai Lagoftalmus.
Mengembungkan pipi, pada sisi yang tidak sehat pipi tidak dapat
dikembungkan.
Pasien disuruh utnuk memperlihatkan gigi geliginya atau disuruh meringis
menyeringai, sudut mulut sisi yang lumpuh tidak dapat diangkat sehingga

mulut tampaknya mencong ke arah sehat. Dan juga sulcus nasolabialis


pada sisi wajah yang sakit mendatar.
b. Pemeriksaan sensorik pada nervus fasialis, siapkan cairan garam dan gula, dengan
menggunakan cotton bud yang dicelupkan pada cairan tsb sentuhkan pada lidah
2/3 depan dan 1/3 belakang kedua sisi. Tanyakan ke os apa yang terasa.
c. Pemeriksaan refleks yang dilakukan pada penderita Bells Palsy adalah
pemeriksaan reflek kornea dimana pada paresis nervus VII didapatkan hasil
berupa pada sisi yang sakit kedipan mata yang terjadi lebih lambat atau tidak ada
sama sekali.2
C. Pemeriksaan penunjang
o Pemeriksaan laboratorium, tidak ada yang spesifik untuk menegakkan diagnosis Bells
palsy. Namun pemeriksaan kadar gula darah atau HbA1c dapat dipertimbangkan untuk
mengetahui apakah pasien tersebut menderita diabetes atau tidak. Pemeriksaan kadar
serum HSV juga bisa dilakukan namun ini biasanya tidak dapat menentukan dari mana
virus tersebut berasal.
o Pemeriksaan radiologis dengan CT-scan atau radiografi polos dapat dilakukan untuk
menyingkirkan fraktur, metastasis tulang, dan keterlibatan sistem saraf pusat (SSP).
Pemeriksaan MRI dilakukan pada pasien yang dicurigai neoplasma di tulang temporal,
otak, glandula parotis, atau untuk mengevaluasi sklerosis multipel. Selain itu, MRI dapat
memvisualisasi perjalanan dan penyengatan kontras saraf fasialis.
o Pemeriksaan elektromiografi (EMG) mempunyai nilai prognostik yang lebih baik
dibandingkan elektroneurografi (ENG). Pemeriksaan serial EMG mempunyai positivepredictivevalue (PPV) 100% dan negative-predictive-value (NPV) 96%. Spektrum
abnormalitas yang didapatkan berupa penurunan amplitudo Compound Motor Action
Potential (CMAP), pemanjangan latensi saraf fasialis, serta pada pemeriksaan blink reflex
didapatkan pemanjangan gelombang R1 ipsilateral.3
D. Diagnosis kerja
Bells palsy adalah penyakit idiopatik dan merupakan penyakit saraf tepi yang bersifat
akut

dan mengenai

nervus

fasialis (N.VII) yang menginervasi seluruh otot wajah yang

menyebabkan kelemahan atau paralisis satu sisi wajah. Paralisis ini meyebabkan asimetri
wajah serta mengganggu fungsi normal. Awitan bells palsy biasanya mendadak, penderita
setelah bangun pagi mendapati salah satu sisi wajahnya asimetris. Gejala awal yang ringan
seperti kesemutan di sekitar bibir atau mata kering biasanya cepat menjadi berat dalam waktu
kurang lebih 48 jam.1-3
3

E. Diagnosis banding
Diagnosis banding paralisis fasialis dapat dibagi menurut lokasi lesi sentral dan perifer :
o Kelainan sentral dapat merupakan Stroke iskemik bila disertai kelemahan anggota gerak
sisi yang sama dan ditemukan proses patologis di hemisfer serebri kontralateral, sakit
kepala berat dan penurunan kesadaran; Sklerosis multipel bila disertai kelainan
neurologis lain seperti hemiparesis atau neuritis optika.
o Kelainan perifer yang ditemukan dapat merupakan suatu otitis media supuratif dan
mastoiditis apabila terjadi reaksi radang dalam kavum timpani dan foto mastoid
menunjukkan suatu gambaran infeksi; Sindroma Guillain-Barre jika ditemukan adanya
paresis bilateral dan akut; kelainan Myastenia gravis jika terdapat tanda patognomonik
berupa gangguan gerak mata kompleks dan kelemahan otot orbikularis okuli bilateral.
F. Epidemiologi
Bells palsy menempati urutan ketiga penyebab terbanyak dari paralysis fasial akut. Di
dunia, insiden tertinggi ditemukan di Seckori, Jepang tahun 1986. Insiden Bells palsy ratarata sekitar 1500 kasus per 100.000 populasi. Penderita diabetes mempunyai resiko
29% lebih tinggi dibanding non-diabetes. Wanita muda usia 10-19 tahun lebih sering terkena
dibandingkan dengan laki-laki. Wanita hamil memiliki 3,3 kali resiko lebih tinggi
dibandingkan wanita yang tidak hamil.6

G. Etiologi
Terdapat beberapa teori yang kemungkinan menyebabkan terjadinya Bells palsy, yaitu :
o
o
o
o
o
o

Virus
Bakteri
Iskemik vaskular
Herediter
Imunologi
Suhu

Teori virus lebih banyak dibahas sebagai etiologi penyakit ini. Burgess et al mengidentifikasi
adanya genom virus herpes simpleks (HSV) di ganglion genikulatum pada seorang pria usia
lanjut yang meninggal enam minggu setelah mengalami Bells palsy.6
4

H. Makroskopis nervus Facialis


Saraf otak ke VII mengandung 4 macam serabut, yaitu :
a. Serabut somato-motorik, yang mensarafi otot-otot wajah kecuali m. levator palpebrae
(N.III), otot platisma, stilohioid, digastrikus bagian posterior dan stapedius di telinga
tengah.
b. Serabut visero-motorik, (parasimpatis) yang datang dari nukleus saliva torius superior.
Serabut saraf ini mengurus glandula dan mukosa faring, palatum,rongga hidung, sinus
paranasal, dan glandula submaksilaris serta sublingual dan lakrimalis.
c. Serabut visero-sensorik, yang menghantar impuls dari alat pengecap di dua pertiga bagian
depan lidah.
d. Serabut somato-sensorik, rasa nyeri dan mungkin juga rasa suhu dan rasa raba dari
sebagian daerah kulit dan mukosa yang dipersarafi oleh nervus trigeminus.
Nervus VII terutama terdiri dari saraf motorik yang mempersarafi seluruh otot mimik
wajah. Komponen sensorisnya kecil, yaitu nervus intermedius Wrisberg yang mengantarkan rasa
pengecapan dari 2/3 bagian anteriort lidah dan sensasi kulit dari dinding anterior kanalis
auditorius eksterna. Serabut-serabut rasa pengecapan pertama-tama melintasi nervus lingual,
yaitu cabang dari nervus mandibularis lalu masuk ke kordatimpani dimana ia membawa sensasi
pengecapan melalui nervus fasialis ke nukleustraktus solitarius. Serabut-serabut sekretomotor
menginervasi kelenjar lakrimal melalui nervus petrosus superfisial major dan kelenjar sublingual
serta kelenjar submaksilar melalui korda tympani.
Nukleus (inti) motorik nervus VII terletak di ventrolateral nukleus abdusens, dan serabut
nervus fasialis dalam pons sebagian melingkari dan melewati bagian ventro lateral nukleus
abdusens sebelum keluar dari pons di bagian lateral traktus kortikospinal. Karena posisinya yang
berdekatan (jukstaposisi) pada dasar ventrikel IV, maka nervus VI danVII dapat terkena bersamasama oleh lesi vaskuler atau lesi infiltratif. Nervus fasialismasuk ke meatus akustikus internus
bersama dengan nervus akustikus lalu membelok tajam ke depan dan ke bawah di dekat batas
anterior vestibulum telinga dalam. Pada sudut ini (genu) terletak ganglion sensoris yang disebut
genikulatum karena sangat dekat dengan genu.

Nervus fasialis berjalan melalui kanalis fasialis tepat di bawah ganglion genikulatum
untuk memberikan percabangan ke ganglion pterygopalatina, yaitu nervus petrosus superfisial
major, dan di sebelah yang lebih distal memberi persarafan ke m. stapedius yang dihubungkan
oleh korda timpani. Lalu nervus fasialis keluar dari kranium melalui foramen stylomastoideus
kemudian melintasi kelenjar parotis dan terbagi menjadi lima cabang yang melayani otot-otot
wajah, m. stilomastoideus, platisma dan m. digastrikus venter posterior.7

Gambar 1. Alur perjalanan nervus facialis


Sumber: http://irapanuss.com/2012/06/perjalanan-nervus-facialis-nc-vii.html

I. Patafisologi
Bells palsy hampir selalu terjadi secara unilateral. Patofisiologinya belum jelas, tetapi
salah satu teori menyebutkan terjadinya proses inflamasi akut pada nervus fasialis di daerah
tulang temporal di sekitar foramen stilomastoideus yang disebabkan oleh virus, bakteri, iskemik
vascular, herediter, imunologi ataupun suhu yang menyebabkan peningkatan diameter nervus
fasialis sehingga terjadi kompresi dari saraf tersebut pada saat melalui tulang temporal.7

Gambar 2. Patofisiologi penyakit bells palsy.


Sumber: http://irapanuss.com/2012/06/perjalanan-nervus-facialis-nc-vii.html

J. Manifestasi klinis
Gejala pada sisi wajah ipsilateral meliputi kelemahan otot wajah, kerutan dahi menghilang,
tampak seperti orang letih, tidak mampu atau sulit mengedipkan mata, hidung terasa kaku, sulit
berbicara, sulit makan dan minum, sensitive terhadap suara (hiperakusis), pembengkakan wajah,
berkurang atau hilangnya rasa kecap, nyeri di dalam atau di sekitar telinga, dan air liur sering
keluar.
Gejala pada mata ipsilateral seperti sulit atau tidak mampu menutup mata, air mata
berkurang, alis mata jatuh, kelopak mata bawah jatuh, dan sensitive terhadap cahaya.
Adapun gejala klinis yang residual yaitu mata terlihat lebih kecil, kedipan mata jarang atau
tidak sempurna, senyum yang asimetris, spasme hemifasial pascaparalitik, otot hipertonik,
sinkinesis, otot menjadi lebih flaksid jika lelah, dan otot menjadi kaku saat kedinginan.6

Gambar 3. Bells palsy


Sumber: https://pmrehab.wordpress.com/2012/02/11/stroke-atau-bells-palsy/

K. Penatalaksanaan
7

o Terapi medikamentosa
Inflamasi dan edema saraf fasialis merupakan penyebab paling mungkin dalam
patogenesis Bells palsy. Penggunaan steroid dapat mengurangi kemungkinan paralisis permanen
dari pembengkakan pada saraf di kanalis fasialis yang sempit. Steroid, terutama prednisolon
yang dimulai dalam 72 jam dari onset, harus dipertimbangkan untuk optimalisasi hasil
pengobatan.
Dosis pemberian prednison (maksimal 40-60 mg/hari) dan prednisolon (maksimal 70 mg)
adalah 1 mg per kg per hari peroral selama enam hari diikuti 4 hari tappering off. Efek toksik dan
hal yang perlu diperhatikan pada penggunaan steroid jangka panjang (lebih dari 2 minggu)
berupa retensi cairan, hipertensi, diabetes, ulkus peptikum, osteoporosis, supresi kekebalan tubuh
(rentan terhadap infeksi), dan Cushing syndrome.
Ditemukannya genom virus di sekitar saraf ketujuh menyebabkan preparat antivirus
digunakan dalam penanganan Bells palsy. Hasil yang lebih baik didapatkan pada pasien yang
diterapi dengan asiklovir/valasiklovir dikombinasi dengan prednisolon.
Dosis pemberian asiklovir untuk usia >2 tahun adalah 80 mg per kg per hari melalui oral
dibagi dalam empat kali pemberian selama 10 hari. Sementara untuk dewasa diberikan dengan
dosis oral 2000-4000 mg per hari yang dibagi dalam lima kali pemberian selama 7-10 hari.17,18,23
Sedangkan dosis pemberian valasiklovir (kadar dalam darah 3-5 kali lebih tinggi) untuk
dewasa adalah 1000-3000 mg per hari secara oral dibagi 2-3 kali selama lima hari. Efek samping
jarang ditemukan pada penggunaan preparat antivirus, namun kadang dapat ditemukan keluhan
berupa adalah mual, diare, dan sakit kepala.1,6,8

o Terapi non-medikamentosa
Kornea mata memiliki risiko mengering dan terpapar benda asing. Proteksinya dapat
dilakukan dengan penggunaan air mata buatan (artificial tears), pelumas (saat tidur), kaca mata,
plester mata, penjahitan kelopak mata atas, atau tarsorafi lateral (penjahitan bagian lateral
kelopak mata atas dan bawah).
Pijatan dari otot yang lemah dapat dikerjakan secara halus dengan mengangkat wajah ke
atas dan membuat gerakan melingkar.
Tidak terdapat bukti adanya efektivitas dekompresi melalui pembedahan saraf fasialis,
namun tindakan ini kadang dilakukan pada kasus yang berat dalam 14 hari onset.1,6,8

L. Komplikasi
8

Sekitar 5% pasien setelah menderita Bells palsy mengalami sekuele berat yang tidak dapat
diterima. Beberapa komplikasi yang sering terjadi akibat Bells palsy yaitu

Regenerasi motor inkomplit yaitu regenerasi suboptimal yang menyebabkan paresis


seluruh atau beberapa muskulus fasialis;
Regenerasi sensorik inkomplit yang menyebabkan disgeusia (gangguan pengecapan),
ageusia (hilang pengecapan), dan disestesia (gangguan sensasi atau sensasi yang tidak
sama dengan stimuli normal);
Reinervasi yang salah dari saraf fasialis, reinervasi yang salah dari saraf fasialis dapat
menyebabkan sinkinesis (gerakan involunter yang mengikuti gerakan volunter, contohnya
pengerutan dahi saat memejamkan mata); crocodile tear fenomena yang timbul beberapa
bulan setelah paresis akibat regenerasi yang salah dari serabut otonom, contohnya air
mata pasien keluar pada saat mengkonsumsi makanan; dan clonic facial spasm
(hemifacial spasm) yaitu timbul kedutan secara tiba-tiba (shock-like) pada wajah yang
dapat terjadi pada satu sisi wajah saja pada stadium awal, kemudian mengenai sisi
lainnya (lesi bilateral tidak terjadi bersamaan).6,8

M. Prognosis
Sekitar 80-90% pasien dengan Bells palsy sembuh total dalam 6 bulan, bahkan pada 5060% kasus membaik dalam 3 minggu. Sekitar 10% mengalami asimetri muskulus fasialis
persisten, dan 5% mengalami sekuele yang berat, serta 8% kasus dapat rekuren.
Faktor yang dapat mengarah ke prognosis buruk adalah palsi komplit (risiko sekuele
berat), riwayat rekurensi, diabetes, gangguan pengecapan, wanita hamil dengan Bells palsy,
penyembuhan lambat, dan kasus dengan penyengatan kontras yang jelas.
Faktor yang dapat mendukung ke prognosis baik adalah paralisis parsial inkomplit pada
fase akut (penyembuhan total), pemberian kortikosteroid dini, penyembuhan awal dan atau
perbaikan fungsi pengecapan dalam minggu pertama.8

II.

Penutup

Kesimpulan
Bells Palsy merupakan sindrom klinis gangguan saraf fasialis yang bersifat perifer.
Keterlibatan virus Herpes Simplex tipe 1 banyak dilaporkan sebagai penyebab kerusakan saraf
tersebut. Kelumpuhan perifer N.VII memberikan ciri yang khas hingga dapat didiagnosa dengan
inspeksi. Otot muka pada sisi yang sakit tak dapat bergerak, lipatan-lipatan didahi akan
menghilang dan nampak seluruh muka sisi yang sakit akan mencong tertarik kebarah sisi yang
9

sehat. Pengobatan pasien dengan Bells palsy adalah dengan kombinasi obat- obat antiviral dan
kortikosteroid serta perawatan mata yang berkesinambungan. Prognosis pasien dengan Bells
palsy relative baik meskipun pada beberapa pasien, gejala sisa dan rekurensi dapat terjadi.
Seorang laki-laki usia 25 tahun datang dengan ke Puskesmas dengan keluhan mata kiri
tidak dapat di tutup dan mulutnya mencong ke kanan sejak 1 hari yang lalu di duga menderita
sindrom klinis Bells Palsy. Hipotesis diterima.

Daftar pustaka
1. Aminoff MJ, Greenberg DA, Simon RP. Disorders of peripheral nerves: Bell palsy. In:
Aminoff MJ, Greenberg DA, Simon RP, editors. Clinical Neurology. 6th Ed. USA: The
McGraw-Hill Companies, Inc; 2005.p.182.
2. Welsby
PD.
Pemeriksaan
fisik
dan
anamnesis
klinis.
Jakarta:EGC;2009.hal.77-89.
3. Burnside
JW,
McGlynn

TJ.

Diagnosis

fisik.

Edisi

17.

Jakarta:EGC;2003.hal. 267-83.
4. Bickley LS, Szilagyi PG. Bates buku ajar pemeriksaan fisik dan riwayat
kesehatan. Edisi ke-8. Jakarta: EGC; 2009.hal.166-290.
5. Dewanto G, Suwono WJ, Riyanto B, Turana Y. Diagnosis dan tatalaksana
penyakit saraf. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2009.h.137-141.
6. Seok JI, Lee DK, Kim KJ. The usefulness of clinical findings in localising lesions in
Bells palsy: comparison with MRI. J Neurol Neurosurg Psychiatry. 2008;79:418-20.
10

7. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit.


Volume 2. Edisi 6. Jakarta: EGC; 2005. Hal.966-71.
8. Mardjono, M. Sidharta, P. Nervus fasialis dan patologinya. Neurologi klinis dasar, 5thed.
Jakarta: PT Dian Rakyat; 2005.hal.159-163.

11