Anda di halaman 1dari 423

PROSIDING

SEMINAR NASIONAL HIMPUNAN KIMIA INDONESIA 2006

AUDITORIUM REKTORAT IPB DRAMAGA 12 SEPTEMBER 2006

2006 AUDITORIUM REKTORAT IPB DRAMAGA 12 SEPTEMBER 2006 DEPARTEMEN KIMIA FMIPA INSTITUT PERTANIAN BOGOR HIMPUNAN

DEPARTEMEN KIMIA FMIPA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2006 DEPARTEMEN KIMIA FMIPA INSTITUT PERTANIAN BOGOR HIMPUNAN KIMIA INDONESIA CABANG JAWA BARAT DAN BANTEN

HIMPUNAN KIMIA INDONESIA CABANG JAWA BARAT DAN BANTEN

BOGOR

2006

PROSIDING

SEMINAR NASIONAL HIMPUNAN KIMIA INDONESIA 2006

AUDITORIUM REKTORAT IPB DRAMAGA 12 SEPTEMBER 2006

Peranan Kimia Memacu Kemajuan Industri

Penyunting:

Budi Arifin Tuti Wukirsari Steven Gunawan Wulan Tri Wahyuni

Diterbitkan oleh Departemen Kimia FMIPA Institut Pertanian Bogor bekerja sama dengan Himpunan Kimia Indonesia Cabang Jawa Barat dan Banten

dalam rangka Seminar Nasional Himpunan Kimia Indonesia 2006 Bogor, 12 September 2006

ISBN No.: 978-979-25-0984-7

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Dilarang mencetak dan menerbitkan sebagian atau seluruh isi buku dengan cara atau bentuk apapun tanpa seizin penerbit.

PRAKATA

Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia-Nya sehingga Prosiding Seminar Nasional Himpunan Kimia Indonesia 2006 ini akhirnya berhasil diterbitkan. Prosiding ini merupakan kumpulan sambutan dan makalah yang disajikan dalam Seminar Nasional Himpunan Kimia Indonesia yang diselenggarakan tanggal 12 September 2006. Dalam seminar tersebut, Menteri Perindustrian RI hadir sebagai pembicara kunci, dan sebanyak 6 orang pembicara utama yang berasal dari kalangan perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan industri hadir memaparkan presentasinya. Tujuan seminar ini ialah menghimpun para ilmuwan yang berkecimpung dalam bidang kimia dan bidang ilmu lain yang terkait dari berbagai lembaga pendidikan, penelitian, dan industri di Indonesia, untuk bertukar informasi dan pengalaman tentang hasil-hasil penelitian mutakhir yang telah dilaksanakan. Telah terhimpun sebanyak 32 makalah yang dipresentasikan secara oral dan 22 makalah lainnya yang disajikan dalam bentuk poster. Terima kasih kami kepada semua penulis yang telah menyumbangkan makalahnya untuk dikompilasikan dalam prosiding ini. Terima kasih pula kepada seluruh dosen dan mahasiswa Departemen Kimia FMIPA IPB yang telah terlibat dalam perencanaan dan penyelenggaraan seminar. Terima kasih secara khusus bagi Tuti Wukirsari dan Riki Ariwanda yang telah bekerja keras merapikan prosiding ini, baik dari segi naskah agar memenuhi kaidah penulisan ilmiah dan ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan maupun dari segi tampilan format dan gambar-gambar yang ada agar seragam dan tersaji dengan apik. Akhir kata, tak ada gading yang tak retak, kami mohon maaf atas segala kesalahan yang disengaja ataupun tidak, selama penyuntingan naskah prosiding ini. Kami juga mohon maaf atas keterlambatan dalam penerbitan prosiding ini. Semoga prosiding ini bermanfaat.

Budi Arifin

Tuti Wukirsari

Steven Gunawan

Oktober 2007

Wulan Tri Wahyuni

Daftar Isi

DAFTAR ISI

Sambutan Ketua Panitia Seminar Nasional Himpunan Kimia Indonesia 2006

1

Sambutan Ketua Departemen Kimia Institut Pertanian Bogor

2

Sambutan Rektor Institut Pertanian Bogor

3

Sambutan Kunci Menteri Perindustrian Republik Indonesia

5

Makalah Pembicara Utama

1. Pengkajian Teknologi Proses dalam Lingkup Agroindustri dan Bioteknologi untuk Meningkatkan Daya Saing Industri di Indonesia Wahono Sumaryono – Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT

8

2. 2010 Challenges for Chemical Society in Indonesia M Saleh – Ketua Himpunan Kimia Indonesia Pusat

23

3. Challenges and Opportunities in Applying Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) for Industrial Oral Care Products Jae-Kwan Hwang, Yaya Rukayadi – Department of Biotechnology, Yonsei University, Seoul

25

4. Peranan Kimia Komputasi dalam Desain Senyawa Baru dan Optimalisasi Proses Industri Harno Dwi Pranowo – Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Gajah Mada

33

5. Kinetic Study of Enzymatic Hydrolysis of Starch Granules and Crystalline Cellulose Hirosuke Tatsumi – Department of Bioscience, Fukui Perfectural University, Jepang

40

6. Kimia dalam Industri Berbasis Minyak Nabati. Kasus: Konversi Asam Lemak ke Aditif Pelumasan Batas Zainal Alim Mas’ud – Departemen Kimia, FMIPA, Institut Pertanian Bogor

44

Makalah Presentasi Oral

1. Kinerja Fenil α-Naftilamina pada Penghambatan Oksidasi Ester Poligliserol-Estolida Asam Oleat Dicky Dermawan, Arry Kusnadi, Ilowati Kurniawan

49

2. Alkaloid Eritrina yang Bersifat Anthelmintik dari Biji Dadap Ayam (Erythrina variegata) Tati Herlina, Unang Supratman, Anas Subarnas, Supriyatna Sutardjo, Hideo Hayashi

55

3. Antibiotika Baru dari Actinomycetes dan Jamur Desak Gede Sri Andayani, Linar ZU, LBS Kardono, M Hanafi

59

4. Aktivitas Sitotoksik Ekstrak Rizoma Tumbuhan Spesies Zingiberaceae Jasril

66

5. The Effect of Ce 3+ on The Crystallinity of Nano-Sized Yttrium Aluminum Garnet Enrico F. Joland, I Made Joni, Camellia Panatarani

70

6. Keterkaitan Kadar Logam-logam Transisi dengan Variasi Warna Batu Merah (Studi Eksploratif Pigmen Anorganik Alami dari Batu Merah di Desa Tajun, Kabupaten Buleleng, Bali) I Wayan Karyasa

73

7. Pengaruh Kandungan Silika Terhadap Sifat Termal Membran Hibrida Poli(metil metakrilat)/SiO 2 Muhammad Ali Zulfikar, Abdul Wahab Mohammad, Amir H. Khadum

79

8. The Crystal Structure of An Octahedral Niobium Oxychloride Cluster Compound, Cs 2 GdNb 6 Cl 15 O 3 (Abstract) Fakhili Gulo

86

9. Sintesis Itrium Aluminium Garnet (YAG)-Ce 3+ dengan Metode Sol-Gel Loli Yusastri, I Made Joni, Camellia Panatarani

87

10. Adsorpsi Zn(II) dan Cd(II) pada Hibrid Amino-Silika dari Abu Sekam Padi Nuryono, L Dewi, MR Kurniasari, Narsito

90

11. Prakonsentrasi dan Analisis Kelumit Selektif Spesies Cr(VI) Berdasarkan Teknik Analisis Injeksi Alir Ni Luh Gede Ratna Juliasih, Muhammad Bachri Amran

101

12. Pemisahan Selektif Pr(III) dan Nd(III) dari Larutan Encer Menggunakan Resin Terimpregnasi yang Mengandung Asam Di-2-etilheksilfosfat Ibnu Khaldun, Buchari, Muhammad Bachri Amran, Amminuddin Sulaeman

108

13. Penerapan Metode Spektrofotometer Serapan Atom Nyala-Pembangkitan Hidrida untuk Penentuan Sn(II) pada Level ng dalam Larutan A. Sentosa Panggabean, Muhammad Bachri Amran, Buchari, Sadijah Achmad

115

14. Alumina-Asam Termodifikasi untuk Prakonsentrasi dan Analisis Kelumit Timbel Berbasis Analisis Injeksi Alir Muhammad Iqbal, Muhammad Bachri Amran

122

15. Prakonsentrasi dan Analisis Kelumit Selektif Ion Timbel Berbasis Analisis Injeksi Alir Menggunakan Resin XAD Termodifikasi Muhammad Bachri Amran

132

16. Isolasi dan Analisis Senyawa Antioksidan Spons Petrosia sp. dan Beberapa Soft Coral dari Perairan Kepulauan Seribu Ifah Munifah, Thamrin Wikanta, Hedi Indra Januar

140

17. Penggunaan Kitosan untuk Meningkatkan Permeabilitas (Fluks) dan Permselektivitas (Koefisien Rejeksi) Membran Selulosa Asetat Maria Erna, T Ariful Amri, Resti Yevira

149

18. Studi Pendahuluan: Penggunaan Berulang Larutan Natrium Hidroksida dalam Pembuatan Kitosan Ariyanti Suhita Dewi, Yusro Nuri Fawzya

154

19. The Effect of Cinnamon on Bacterial Growth, Protein Degradation, and Amino Acid and Fatty Acid Contents of Milks at Storage Tatik Khusniati, Yantyati Widyastuti

162

20. Pengaruh pH dan Konsentrasi Awal pada Proses Ozonisasi Limbah Pabrik Asam Tereftalat Murni Indar Kustiningsih, Yeyen Maryani, Devi Sri Grahayu, Qoriatun Hasanah

171

21. Pentadekanal, Senyawa Antimikrob Hasil Sekresi Kimia Pertahanan Rayap Tanah Coptotermes curvignathus Holmgren (Isoptera: Rhinotermitidae) Farah Diba

177

22. Isolasi dan Identifikasi Steroid dari Tumbuhan Ciplukan (Physalis angulata) Susilawati, Herdini, Lusia Wilza

183

23. In Vitro Antifungal Activity of Xanthorrhizol Isolates from Curcuma xanthorrhiza Roxb. Against Pathogenic Candida, Opportunistic Filamentous Fungi and Malassezia Yaya Rukayadi, Jae-Kwan Hwang

191

24. Keladi Tikus (Typhonium flagelliforme) sebagai Antikanker: Mekanisme Inhibisi Ekstrak Etanol dan Ekstrak Air terhadap Aktivitas Enzim Tirosin Kinase (Abstrak) Dyah Iswantini, Gustini Syahbirin, Yusuf Affandi

203

25. Uji Aktivitas Antibakteri Propolis Lebah Madu Trigona spp. AE Zainal Hasan, I Made Artika, Kasno, AD Anggraini

204

26. Pengolahan Limbah Fotografi Menggunakan Pirolisis Semprot Nyala Arif Jumari, Sperisa Distantina, A Purwanto

216

27. Analisis Spesies Boron dalam Cairan Floem Tanaman Jarak (Ricinus communis L.) dengan Metode PNC PAGE-ICP MS Noor Fitri, Björn Thiele, Klaus Günther, Buchari

223

28. Ekstraksi Xilan dari Tongkol Jagung untuk Medium Pertumbuhan Bacillus pumilus RXAIII-5 Penghasil-Xilanase Nur Richana, Tun Tedja Irawadi, M Anwar Nur, Illah Sailah, Khaswar Syamsu, Yandra Arkenan

229

29. Beberapa Senyawa Heterosiklik yang Berpotensi sebagai Inhibitor Korosi pada Baja Karbon dalam Larutan NaCl 1% Deana Wahyuningrum, Sadijah Ahmad, Yana Maolana Syah, Buchari, Bambang Ariwahjoedi

237

30. Peningkatan Kandungan Unsur Hara Kalium dan pH Tanah Gambut Menggunakan Dregs (Limbah Bagian Recauticizing Pabrik Pulp) Roza Linda, Rini, Admin Alif, Teguh Budi Santoso, Akmal Mukhtar

246

31. Pemanfaatan Kertas Bekas sebagai Bahan Baku Alternatif Pembuatan Etanol Agus Rochmat, Indar Kustiningsih, Dedik Dermady, Asih Suharsih

252

32. Sintesis dan Pencirian Surfaktan Berbasis-inyak Sawit dan Karbohidrat untuk Aditif Produk Pangan dan Detergen Komar Sutriah, Tun Tedja Irawadi, M Farid, M Khotib, Betty M. Soebrata, Henny Purwaningsih

259

Makalah Penyaji Poster

1. Senyawa Difenil Eter Terpolibrominasi dari Spons Microciona sp. dari Mentawai, Sumatera Barat Irmanida Batubara, Latifah K Darusman, Anggia Murni, Ekowaty Chasanah

271

2. Perbandingan Sistem Ekstraksi dalam Penentuan Kadar Xantorizol Temulawak Irmanida Batubara, Latifah K Darusman, Sri Wahyuni Nur

279

3. Identifikasi Fraksi Daging Buah Picung (Pangium edule Reinw.) yang Aktif sebagai Insektisida Botani terhadap Ulat Grayak (Spodoptera litura F. [Lepidoptera: Noctuidae]) Zulhan Arief, Elly Suradikusumah, Irmanida Batubara

288

4. Uji Aktivitas Antidiabetes Ekstrak Air Biji Jengkol (Pithecellobium jiringa [Jack] Prain ex King [Leguminosae]) pada Tikus Putih Irma R Kartika, Muktiningsih Nurjayadi, Fera Kurniadewi, Dwianantyo Setyadi

298

5. Aktivitas Antioksidan Ekstrak Mahkota Dewa, Temu Putih, Sambiloto, dan Keladi Tikus Secara In Vitro (Abstrak) Dyah Iswantini, Dedy Irawan, Gustini Syahbirin

303

6. Kajian Teknik Ekstraksi dan Identifikasi DHA, Sterol, dan Kuinon dalam Minyak Schizochytrium sp. Galur SR21 Tri Marwati

304

7. Spektrofotometri Derivatif Ultraviolet untuk Analisis Kuantitatif Kuinin dalam Tablet Obat M Rafi, E Suradikusumah, I Batubara, E Daryadi

311

8. Konversi Eugenol dari Minyak Daun Cengkeh Menjadi Isoeugenol dengan Pemanasan Gelombang Mikro Tatang Hidayat, Edy Mulyono

316

9. Daya Inhibisi Ekstrak Kasar Flavonoid Sambiloto (Andrographis paniculata [Burm. F] Ness) dan Temu Putih (Curcuma zedoaria Roscoe) terhadap Aktivitas Tirosin Kinase secara In Vitro Gustini Syahbirin, Dyah Iswantini Pradono, Tri Rahayu

323

10. Perbandingan Metode Ekstraksi Daging Biji Picung (Pangium edule Reinw.) dan Uji Toksisitas terhadap Artemia salina Leach. Tuti Setiawati Sudjana, Eti Rohaeti, Filia Candra Yunita

330

11. Adsorption of Amine Species on Nano-Ball Allophane and Its Molecular Orbital Mechanism (Abstract) Zaenal Abidin, Naoto Matsue, Henmi Teruo

334

12. Pemanfaatan Zeolit Alam Cikalong sebagai Adsorben Kromium Limbah Cair Proses Penyamakan Kulit Eti Rohaeti, Muhammad Sri Saeni, Astiana Sastiono

335

13. Teknik Separasi dan Aplikasinya pada Industri Agro Edy Mulyono, Tri Marwati

340

14. Pengaruh Kapur terhadap Pelepasan Gas H 2 S dan Unsur Hara pada Manur Ayam Petelur Charlena, Irma H Suparto, Aldi Eka Praja

348

15. Pengaruh Penambahan Kapur terhadap Pelepasan Gas NH 3 pada Manur Ayam Petelur Charlena, Irma H Suparto, M Farid Humaidi

361

16. Adsorpsi Karbon Aktif Termodifikasi-Zink Klorida terhadap Surfaktan Anionik pada Berbagai pH

Tetty Kemala, Ahmad Sjachriza, Dyah Pratama Puspitasari

372

17. Kajian Tanaman Anting-anting (Acalypha indica L.) sebagai Penurun Glukosa Darah (Abstrak) Purwantiningsih Sugita, Latifah K Darusman, Abadi Soetisna, Nurlaila, Danang Widya Wardhana

379

18. Sintesis dan Optimalisasi Gel Kitosan-Karboksimetil Selulosa Purwantiningsih Sugita, Achmad Sjachriza, Rachmanita

380

19. Pencirian Membran Selulosa dari Kulit Nanas Menggunakan SEM, FTIR, dan Nilai Fluks Betty Marita Soebrata, Sri Mulijani, Tya Prawesti Diana Putri

387

20. Modifikasi Kulit Singkong sebagai Bioremoval Logam Pb(II) dan Cd(II) Betty Marita Soebrata, Muhammad Sri Saeni, Indiah Ratna Dewi

398

21. Potensi Beberapa Pakan Ikan Laut Alami dalam Pengadaan Asam Lemak Esensial pada Ikan Baronang (Siganus canaliculatus) Anna Priangani Roswiem

407

22. Efek Androgenik dan Anabolik Madu pada Anak Ayam Jantan (Tidak ada naskah) Anna Priangani Roswiem

413

SAMBUTAN KETUA PANITIA SEMINAR NASIONAL HIMPUNAN KIMIA INDONESIA 2006

Assalamualaikum wr.wb. Puji syukur alhamdullillah kita panjatkan ke hadirat Allah Yang Mahaesa, atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga Seminar Nasional Himpunan Kimia Indonesia 2006 ini dapat berlangsung sesuai dengan tempat dan waktu yang telah direncanakan. Seminar nasional ini dapat terselenggara atas kerja sama Departemen Kimia FMIPA IPB dengan Himpunan Kimia Indonesia (HKI) Cabang Jawa Barat dan Banten, sebagai salah satu acara dalam rangkaian peringatan Dies Natalis IPB ke-43 sekaligus sebagai bagian dari Program Hibah Kompetensi A2 Departemen Kimia IPB. Adapun tema yang diangkat dalam seminar nasional ini ialah Peranan Kimia Memacu Kemajuan Industri. Pada kesempatan yang baik ini kami menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Menteri Perindustrian RI, Bapak Rektor IPB, para pembicara tamu, Ketua Departemen Kimia IPB, Ketua HKI Cabang Jabar dan Banten, para donatur dan sponsor, serta seluruh peserta seminar dan para undangan, atas segala partisipasi dan bantuannya. Rasa bangga dan terima kasih juga kami haturkan kepada seluruh anggota panitia dan Himpunan Profesi Imasika yang telah bekerja keras dan bahu-membahu demi suksesnya acara ini. Akhirnya kami ucapkan selamat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan seminar ini. Semoga bermanfaat. Wassallamu’alaikum wr. wb.

Bogor, 12 September 2006 Panitia Pelaksana,

Dr. Purwantiningsih S, MS

SAMBUTAN KETUA DEPARTEMEN KIMIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh Selamat pagi dan salam sejahtera

Yang terhormat Bapak Menteri Perindustrian RI, Bapak Rektor IPB, Bapak Ketua HKI Cabang Jabar dan Banten, para pembicara tamu, serta undangan sekalian. Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Ilahi karena atas perkenan-Nya kita boleh bertemu dan berkumpul pada kegiatan Seminar Nasional Himpunan Kimia Indonesia 2006 ini dalam keadaan sehat walafiat. Sehubungan dengan tema yang diangkat dalam seminar nasional ini, yaitu Peranan Kimia Memacu Kemajuan Industri, sebagai Ketua Departemen Kimia, saya berharap tema ini bermanfaat bukan hanya bagi kalangan dosen dan peneliti kimia, melainkan juga bagi masyarakat dan para pelaku industri. Melalui penelitian, pengembangan, dan penerapan ilmu kimia, bidang industri dapat mengeksplorasi proses yang lebih efektif dan efisien dan menghasilkan produk baru yang bernilai jual tinggi, sehingga dapat menciptakan lapangan kerja baru dan juga menarik minat investor, yang pada akhirnya dapat meningkatkan perekonomian Indonesia. Untuk itu, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada panitia penyelenggara atas segala usaha dan upaya yang telah dilakukan. Saya sangat berharap seminar ini tidak hanya ditindaklanjuti dengan penelitian lanjutan, tetapi yang terpenting ialah untuk pengembangan industri baik industri besar maupun usaha kecil dan menengah. Pada kesempatan ini saya juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak Menteri Perindustrian RI yang berkenan hadir sebagai pembicara kunci, dan kepada Bapak Rektor, saya mohon berkenan memberi sambutan dan secara resmi membuka acara Seminar Nasional HKI 2006. Demikian sambutan saya, mudah-mudahan seminar nasional ini berjalan baik dan lancar. Selamat mengikuti seminar nasional, semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarokaatuh. Ketua Departemen Kimia FMIPA IPB

Prof. Dr. Tun Tedja Irawadi, MS.

SAMBUTAN REKTOR INSTITUT PERTANIAN BOGOR PADA SEMINAR NASIONAL HIMPUNAN KIMIA INDONESIA Selasa, 12 September 2006

SAMBUTAN REKTOR INSTITUT PERTANIAN BOGOR PADA SEMINAR NASIONAL HIMPUNAN KIMIA INDONESIA

Selasa, 12 September 2006

Yang terhormat, Menteri Perindustrian Saudara sekalian peserta seminar yang berbahagia,

Assalamu'alaikum Wr.Wb., Selamat pagi dan

Salam sejahtera.

Segala puji dan syukur marilah kita panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, atas izin-Nya, sehingga kita semua dapat berkumpul untuk bersama-sama mengikuti acara yang penting bagi kita semua, yaitu Seminar Nasional Himpunan Kimia Indonesia, dengan tema Peranan Kimia Memacu Kemajuan Industri. Pada hari ini juga akan dilakukan Pelantikan DPP Himpunan Kimia Indonesia periode 2006–2009 dan Pemilihan Ketua Himpunan Kimia Indonesia Cabang Jawa Barat dan Banten periode 2006–2009. Mewakili sivitas akademika IPB, saya mengucapkan terima kasih atas kepercayaannya menjadikan IPB sebagai tuan rumah pada acara yang penting ini. Saya ucapkan selamat datang kepada seluruh peserta seminar di Kampus IPB Darmaga, Bogor. Pada bulan September 2006 ini IPB sedang merayakan Dies Natalisnya yang ke-43. Dalam rangka Dies Natalis tersebut, selama satu bulan penuh diselenggarkan berbagai macam kegiatan seperti seminar, ekspos hasil-hasil penelitian, orasi guru besar, pesta sains, open house, berbagai aksi pelayanan dan pemberdayaan masyarakat, serta kegiatan penunjang seperti pertandingan olah raga, lomba-lomba, dan atraksi kesenian. Seminar Nasional Himpunan Kimia Indonesia yang diselenggarakan di IPB ini telah turut serta mengisi dan memeriahkan kegiatan Dies Natalis IPB ke-43 tersebut.

Saudara sekalian yang saya hormati

Indonesia dikenal sebagai negara yang mempunyai potensi sumber daya alam hayati dan non hayati yang sangat besar dan beragam untuk digali serta dikembangkan ke arah pengembangan produksi industri kimia. Seperti kita ketahui bahwa sumber daya alam Indonesia sangat kaya, baik dalam jumlah maupun jenisnya, termasuk aneka ragam produk pertanian. Salah satu sumber daya alam yang berpotensi besar untuk dikembangkan dan digali adalah laut. Indonesia dengan luas lautan yang mencakup hampir 2/3 luas wilayahnya seharusnya bisa memanfaatkannya sebagai bahan baku untuk kebutuhan industri kimia dasar. Pengelolaan dan pemanfaatan produk tersebut sampai saat ini masih belum optimal, karena masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah yang nilai tambahnya sangat rendah. Salah satu cara yang andal dalam meningkatkan nilai tambah produk tersebut adalah mengembangkan industri kimia.

Sebagai contoh nilai tambah produk kelapa sawit di Indonesia masih relatif lebih rendah dibandingkan dengan di Malaysia. Melalui teknologi kimia sederhana sebenarnya CPO dapat dijadikan bahan baku untuk menghasilkan turunan-turunannya yang dapat menghasilkan nilai tambah lebih tinggi.

Saudara sekalian yang saya hormati.

Industri kimia dan farmasi adalah salah satu sektor yang diminati oleh investor. Dengan cakupan yang sangat Iuas, industri ini diramalkan akan terus berkembang pesat di Indonesia pada masa-masa mendatang. Sementara itu, industri kimia ini ke depan akan semakin kompleks dibandingkan dengan sebelumnya, karena mencakup berbagai proses kimia yang lebih kompleks dalam berbagai skala dan kombinasi serta diatur dengan undang-undang, termasuk masalah keselamatan kerja. Persaingan global yang makin tinggi membuat konsumen menuntut kualitas produk terbaik dengan harga yang terjangkau. Untuk itu, teknologi kimia yang feasible harus terus-menerus dikembangkan agar produk-produk yang dihasilkan dapat bersaing di pasar internasional. Untuk itu peran pemerintah, akademisi/perguruan tinggi, dan industri sangat penting dalam meningkatkan peran kimia dalam menunjang industrialisasi di Indonesia. Ketiga pihak tersebut harus bersinergi sesuai dengan perannya. IPB sebagai salah satu perguruan tinggi di Indonesia akan selalu mendukung penuh berbagai upaya peningkatan peran kimia terutama melalui penyediaan SDM yang berkualitas dan teknologi yang andal. Seminar Nasional Himpunan Kimia Indonesia yang diselenggarakan pada hari ini adalah salah satu cara untuk meningkatkan peran tersebut. Seminar ini diharapkan dapat menjadi wahana untuk berinteraksi, melakukan pertukaran informasi hasil penelitian antara ilmuwan dan stakeholder dalam rangka pemberdayaan potensi kimiawi bahan hayati dan non hayati di Indonesia. Melalui fokus penelitian dan pengembangan yang baik, berbagai masalah yang ada dapat diselesaikan dengan tuntas. Untuk itu perlu kerja sama dengan berbagai pihak. Saya berharap agar seminar ini dapat memfasilitasi tumbuhnya jejaring antara pemerintah, perguruan tinggi/akademisi, dan industri, serta stakeholder lainnya baik di dalam maupun di luar negeri. Mudah-mudahan Seminar Nasional ini dapat berjalan dengan sukses sesuai dengan tujuan dan sasaran yang diinginkan. Semoga Allah SWT merestui dan selalu menunjukkan jalan yang terbaik bagi kita semua.

Terima kasih atas perhatiannya,

Billahi taufik wal hidayah, Wassalamu'alaikum wr.wb.

Rektor IPB

Prof. Dr. Ir. H. Ahmad Ansori Mattjik, MSc

Menteri Perindustrian Republik Indonesia SAMBUTAN KUNCI MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA SEMINAR NASIONAL HIMPUNAN KIMIA

Menteri Perindustrian Republik Indonesia

SAMBUTAN KUNCI MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA SEMINAR NASIONAL HIMPUNAN KIMIA INDONESIA DENGAN TEMA PERANAN KIMIA MEMACU KEMAJUAN INDUSTRI

Bogor, 12 September 2006

Assalamu’alaikum Wr. Wb Salam sejahtera bagi kita semua.

Hadirin yang terhormat,

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga hari ini kita dapat berkumpul bersama untuk menghadiri acara Seminar Nasional Himpunan Kimia Indonesia. Kegiatan ini bertujuan sebagai usaha bersama untuk memberikan kontribusi dan pemikiran berharga bagi perkembangan industri nasional, khususnya dalam peningkatan peranan kimia memacu kemajuan industri. Dalam kesempatan ini saya sampaikan apresiasi kepada Himpunan Kimia Indonesia dan Institut Pertanian Bogor serta semua pihak yang telah bekerja keras sehingga acara Seminar Nasional Himpunan Kimia Indonesia 2006 ini dapat terselenggara dengan baik.

Saudara-saudara yang terhormat

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Ilmu kimia sangat berperan dalam kehidupan umat manusia. Penerapan ilmu kimia secara nyata diwujudkan dengan adanya berbagai macam produk yang dikembangkan oleh industri kimia. Dalam kehidupan sehari-hari, umat manusia tidak lepas dari penggunaan produk kimia dengan volume yang sangat besar, mulai dari sandang, pangan, dan papan tidak lepas dari proses kimia. Oleh karena itu, ilmu kimia mempunyai nilai ekonomi yang sangat besar dan potensinya sangat strategis untuk dikembangkan di Indonesia. Bahkan, kualitas, kuantitas, dan nilai ekonomi penggunaan produk kimia dapat dijadikan sebagai tolok ukur kemandirian suatu bangsa dalam percaturan dunia. Ilmu kimia dapat dikategorikan sebagai ilmu yang dinamis dan berkembang menyesuaikan perkembangan kualitas serta kuantitas kehidupan umat manusia. Peningkatan jumlah penduduk dan kesejahteraan masyarakat Indonesia mendorong perkembangan ilmu kimia nasional ke arah yang mutakhir. Dalam hal ini, peneliti dan praktisi ilmu kimia nasional harus berperan sebagai ujung tombak dari perkembangan ilmu kimia di Indonesia. Hal tersebut merupakan tantangan bagi peneliti dan praktisi kimia nasional agar selalu berkarya dengan performa yang unggul. Peneliti atau praktisi

kimia harus mempunyai keterkaitan yang kuat dengan praktisi industri agar mempunyai keterpaduan yang erat dalam pemanfaatan ilmu kimia di industri nasional. Perkembangan industri khususnya kimia sangat bertumpu pada keberhasilan peneliti dan praktisi kimia dalam mengembangkan ilmu dan produk kimia. Dengan kata lain, ilmu kimia adalah landasan bagi konsep perancangan/conceptual design bagi industri kimia. Pola penelitian ilmu kimia diupayakan dapat memenuhi kebutuhan peningkatan teknologi industri kimia nasional. Pola yang dapat dikembangkan meliputi rekayasa inovasi produk, optimalisasi proses reaksi kimia, pengembangan alur proses baru, akurasi analisis produk kimia, pemanfaatan limbah industri, serta integrasi teknologi komputasi dan informasi dalam ilmu kimia. Tentunya, peningkatan kualitas penelitian ilmu kimia tidak lepas dari keterkaitannya dengan ilmu alam Iainnya seperti ilmu fisika, matematika, bioteknologi, dan teknologi informasi. Peneliti dan praktisi kimia diharapkan membuka wawasan terhadap perkembangan ilmu-ilmu alam tersebut serta memadukannya dalam rangkaian keilmuan yang harmonis. Dengan demikian, kehadiran terobosan ilmu kimia dapat memberikan solusi dalam perkembangan industri kimia nasional khususnya yang berorientasi pasar komersial.

Hadirin sekalian,

Pemerintah berharap bahwa peneliti kimia nasional hendaknya melakukan penelitian yang saling mendukung dan menguntungkan antara peneliti dan sektor industri nasional. Kriteria mendukung dan menguntungkan berbeda-beda bergantung pada sisi stakeholder penelitian dan pengembangan kimia nasional. Dilihat dari sisi peneliti, angka kredit dan finansial dapat dijadikan sebagai motivasi agar terus berkarya dengan performa prima. Dari sisi industri, penelitian dan pengembangan kimia nasional diharapkan dapat menemukan inovasi baru yang dapat menjawab perkembangan zaman. Sementara dari sisi pemerintah, penelitian yang menguntungkan berarti mendongkrak taraf hidup masyarakat, menggerakkan sektor perekonomian, dan memperluas penguasaan teknologi dan kualitas SDM. Penelitian dan pengembangan ilmu kimia dharapkan dapat menghasilkan produk dan teknologi unggul yang dapat diterapkan di industri nasional. Kriteria unggul berarti mengandung terobosan baru sekaligus bernilai ekonomi tinggi dan bermanfaat bagi kemajuan masyarakat. Dengan demikian, investor dapat tertarik untuk membeli lisensi teknologi dan mengembangkannya melalui investasi di bidang tersebut. Dengan masuknya investasi industri berbasis pengetahuan (knowledge- based industry), maka sektor penelitian dan pengembangan produk dan teknologi bidang ilmu kimia menjadi garda terdepan dalam perindustrian nasional. Selain itu, upaya ini dapat mengurangi kebergantungan nasional pada lisensi produk dan teknologi dari Iuar negeri. Dalam melahirkan inovasi dan terobosan baru dalam industri nasional, peneliti kimia harus selalu melihat perkembangan industri dan hendaknya disesuaikan dengan skala prioritas yang sedang dibutuhkan oleh industri nasional. Penentuan skala prioritas ini bertujuan sebagai pengaturan agar hasil penelitian dapat Iangsung diterapkan untuk menjawab kebutuhan aktual sektor industri. Pemerintah bertugas sebagai fasilitator dalam penentuan skala prioritas penelitian bekerja sama dengan pihak-pihak terkait. Dalam menentukan skala prioritas tersebut, pemerintah menggunakan dasar kebijakan pengembangan industri nasional yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah. Pemerintah telah menetapkan kebijakan pengembangan industri nasional dengan pendekatan klaster. Pengertian klaster adalah sebagai aglomerasi industri inti, pendukung, dan penyedia Iayanan secara terintegrasi di lingkungan kawasan tertentu. Pemerintah telah menetapkan 7 fokus klaster yang akan dikembangkan di bidang industri agro dan kimia. Fokus tersebut adalah industri makanan dan minuman, hasil taut, kelapa sawit, kayu, karet, pulp dan kertas, petrokimia, dan pengolahan bahan galian non logam. Kontribusi aktif peneliti dan praktisi kimia nasional dalam pengembangan fokus klaster tersebut sangat dinantikan oleh pemerintah sebagai fasilitator klaster dan sektor swasta sebagai pelaku usaha.

Hadirin yang saya hormati,

Pertemuan yang membahas tentang peranan kimia dalam memacu industri nasional seperti ini sangat penting dalam menunjang industrialiasi Indonesia, khususnya industri kimia. Pokok pikiran dan bahasan yang akan dikaji dalam pertemuan ini hendaknya disesuaikan dengan perkembangan terkini dan isu aktual yang berkembang, terutama di bidang produk kimia yang akhir-akhir ini mengemuka. Sebagai contoh saat ini pemerintah gencar menggalakkan pemakaian energi alternatif pengganti BBM (biofuel) seperti biodiesel, bioetanol, biooil, dan biomassa. Praktisi kimia hendaknya memandang ini sebagai peluang berkontribusi melalui penelitian yang inovatif dan menguntungkan. Bidang yang dapat dikaji mendalam meliputi sistem produksi biofuel, pemanfaatan Iimbah industri biofuel, hingga peningkatan keekonomian biofuel melalui inovasi pengembangan produk samping biofuel seperti gliserol. Analog dengan bidang biofuel, tidak menutup kemungkinan pengembangan bidang industri kimia lainnya seperti industri berbasis CPO, karet, dan kakao. Sektor industri tersebut menunggu langkah nyata dari peneliti dan praktisi kimia nasional untuk berkontribusi melalui penelitian ilmu kimia yang inovatif dan menguntungkan. Pemerintah menyambut balk usaha-usaha yang dilakukan pihak-pihak terkait dalam memacu industri nasional melalui penelitian di bidang ilmu kimia. Dalam hal itu, pemerintah mengharapkan agar selalu menempatkan segi teknologi, ekonomi, dan lingkungan dalam menentukan langkah penelitian ilmu kimia. Pertemuan ini diharapkan dapat menghasilkan sinergi yang menguntungkan, khususnya bagi peneliti dan praktisi kimia dan praktisi industri kimia nasional. Selain itu, pemerintah mengharapkan pertemuan ini dapat digunakan sebagai momen untuk membuka saluran komunikasi antara peneliti, praktisi kimia, praktisi industri kimia, pihak perguruan tinggi, pihak pemerintah maupun swasta yang selama ini dirasakan belum berjalan secara optimal. Pertemuan ini diharapkan juga memberikan kesadaran akan pematenan hasil penelitian dan pengembangan kimia agar tidak terjadi penjiplakan bahkan pengakuan hasil penelitian oleh pihak-pihak yang tidak seharusnya mematenkan hasil penelitian. Bagaimanapun juga, kesadaran atas Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) harus ditanamkan dengan balk oleh para peneliti dan praktisi kimia nasional.

Hadirin yang saya hormati,

Dalam kesempatan ini saya mengharapkan kepada seluruh peserta seminar untuk memberikan dukungan yang penuh dan sumbang saran yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu kimia dalam memacu kemajuan industri nasional. Manfaatkanlah acara Seminar Himpunan Kimia Indonesia ini sebagai ajang berkumpul, berdiskusi, dan mengkaji bersama tentang terobosan inovasi dan teknologi kimia nasional. Pada kesempatan ini pula, saya mengharapkan agar seminar ini berjalan dengan lancar dan menghasilkan berbagai pemikiran serta langkah-langkah nyata dalam memacu kemajuan industri kimia nasional. Akhirnya dengan mengucapkan "Bismillahirrohmanirrohim" acara Seminar Himpunan Kimia Indonesia ini, resmi saya buka dan selamat berseminar

Sekian dan terima kasih Wassalamualaikum Wr.Wb

MENTERI PERINDUSTRIAN

FAHMI IDRIS

PENGKAJIAN TEKNOLOGI PROSES DALAM LINGKUP AGROINDUSTRI DAN BIOTEKNOLOGI UNTUK MENINGKATKAN DAYA SAING INDUSTRI INDONESIA

Wahono Sumaryono

Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi

PENDAHULUAN

Indonesia dikaruniai kondisi geografis dan sumber daya alam yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi aneka jenis industri, mulai dari industri yang bersifat ekstraktif, pengolahan, manufaktur, sampai dengan industri jasa. Untuk pengembangan industri, mutu sumber daya manusia dan penguasaan teknologi serta modal kerja merupakan peubah determinan. Indonesia memiliki luas daratan lebih dari 1.9 juta km 2 dan sekitar 70%-nya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Indonesia juga memiliki lautan teritorial seluas 2.8 juta km 2 , dengan 8.36 juta ha di antaranya sangat potensial untuk budi daya perikanan laut. Selain itu, perairan darat seluas 14 juta ha juga potensial untuk budi daya perikanan air tawar dan payau. Oleh karena itu, pengembangan kawasan berbasis agroindustri merupakan pilihan yang tepat bagi Indonesia karena lebih dari separuh penduduknya tinggal di pedesaan. Dengan jumlah pengangguran yang relatif tinggi dan iklim investasi asing yang belum kondusif, pengembangan agroindustri dan penerapan bioteknologi untuk pertanian akan memberikan solusi bagi peningkatan nilai tambah produk-produk agro. Hal tersebut juga akan berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja maupun kontribusi yang cukup signifikan bagi pertumbuhan ekonomi. Dampak positif juga akan terjadi pada peningkatan produk domestik bruto (PDB) tingkat nasional. Dalam rangka peningkatan daya saing industri, segi peningkatan produktivitas perlu diperhatikan. Hal-hal yang bersifat spesifik daerah terkait dengan produk-produk agro, dukungan pemerintah melalui kebijakan industri, dan perdagangan yang efektif juga perlu diperhatikan.

KONDISI AKTUAL

Kondisi Pertanian Nasional

Pembangunan pertanian dalam arti luas dilakukan untuk mendukung pencapaian sasaran penciptaan lapangan kerja terutama di pedesaan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Pada tahun 2004, sektor pertanian, mencakup tanaman bahan makanan, peternakan, hortikultura, perkebunan, perikanan, dan kehutanan, menyerap 44.04% tenaga kerja dari total angkatan kerja dan memberikan kontribusi sebesar 15.23% dari PDB nasional. Sektor pertanian juga berperan besar dalam penyediaan pangan untuk mewujudkan ketahanan pangan dalam rangka memenuhi hak atas pangan. Tingkat kesejahteraan, antara lain tercermin dari nilai tukar petani/nelayan, termasuk masyarakat yang tinggal di sekitar dan bergantung pada hutan, menunjukkan bahwa pada tahun 2003 di sebagian besar wilayah, nilai tukar petani/nelayan masih di bawah nilai tukar tahun 1983. Artinya, meskipun kontribusi sektor pertanian secara keseluruhan sangat besar terhadap perekonomian nasional, kesejahteraan petani dan nelayan tidak mengalami perubahan. Selanjutnya, sekitar 7080% kelompok masyarakat ini termasuk golongan miskin dengan usaha pertanian, perikanan, dan kehutanan yang masih bersifat tradisional dan subsisten. Minimnya akses terhadap informasi, sumber permodalan,

dan penguasaan pasar menyebabkan masyarakat petani/nelayan dan masyarakat pesisir tidak dapat mengembangkan usahanya secara layak. Lahan pengusahaan petani semakin sempit sehingga pendapatan yang diperoleh tidak mencukupi kebutuhan dan kurang mendorong upaya peningkatan produksi. Berdasarkan hasil Sensus Pertanian, jumlah petani dalam kurun waktu 19832003 meningkat, tetapi jumlah lahan pertanian justru menurun. Akibatnya, rata-rata pemilikan lahan per petani menyempit dari 1.30 menjadi 0.70 ha. Dengan luasan lahan usaha tani seperti ini, meskipun produktivitas per luas lahan tinggi, tidak dapat memberikan pendapatan yang cukup bagi petani untuk menghidupi rumah tangga dan mengembang- kan usaha mereka. Hal ini merupakan tantangan besar dalam rangka mengamankan produksi padi/beras dalam negeri untuk mendukung ketahanan pangan nasional pada khususnya dan peningkatan daya saing, serta komoditas pertanian pada umumnya. Akses petani dan nelayan ke sumber daya produktif, permodalan, dan layanan usaha masih sangat terbatas. Dukungan kredit untuk usaha pertanian dalam mendukung kebutuhan modal petani dan nelayan masih terbatas. Keterbatasan modal kurang mendorong petani dan nelayan untuk menerapkan teknologi tepat guna dalam meningkatkan produktivitas, membatasi peningkatan nilai tambah, dan berakibat pada kebergantungan terhadap penyedia modal informal (pengijon). Akses terbatas petani dan nelayan terhadap prasarana dan sarana transportasi juga menghambat pemasaran produk pertanian dan perikanan sehingga menekan harga produk. Masih rendahnya sistem alih teknologi dan diseminasi teknologi pengolahan produk pertanian dan perikanan berakibat pada rendahnya produktivitas serta nilai tambah produk pertanian dan perikanan. Dalam sepuluh tahun terakhir, subsektor perkebunan, peternakan, dan perikanan masing- masing tumbuh sekitar 4.9, 3.6, dan 5.8% per tahun. Namun demikian, nilai tambah komoditas ini masih rendah karena pada umumnya dipasarkan dalam bentuk segar (produk primer) dan olahan sederhana. Kondisi ini diperberat oleh semakin tingginya persaingan produk dari luar negeri, baik yang masuk melalui jalur legal maupun ilegal. Dalam tiga tahun terakhir, Indonesia sudah menjadi importir neto untuk komoditas tanaman bahan makanan, hasil ternak dan pakan ternak, beras, jagung, dan gula. Suatu ilustrasi tentang aneka jenis industri dan kontribusinya terhadap PDB tahun 2004 serta gambaran distribusi tenaga kerja per sektor untuk tahun 2005 digambarkan secara berurutan pada Tabel 1 dan 2.

Tabel 1 Produk domestik bruto tahun 2004 berdasarkan harga pasar

No

Jenis Industri

Rp Miliar

%

1 Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan

252,953

15.23

a. Pertanian Tanaman Pangan

124,579

7.50

b. Pertanian Non Pangan

39,920

2.40

c. Peternakan dan Produknya

32,158

1.94

d. Kehutanan

18,396

1.11

e. Perikanan

37,900

2.28

2 Pertambangan dan Quarrying

160,655

9.67

3 Industri Manufaktur

469,118

28.25

4 Listrik, Gas, dan Air

11,066

0.67

5 Konstruksi

97,467

5.87

6 Perdagangan, Hotel, dan Restoran

271,177

16.33

7 Transportasi dan Komunikasi

95,772

5.77

8 Keuangan dan Jasa Bisnis

150,936

9.09

9 Jasa (Services)

151,435

9.12

Total PDB

1,660,579

100.00

Sumber: BPS (2006)

Tabel 2 Komposisi penduduk dengan umur di atas 15 tahun yang bekerja menurut sektor (tahun 2005)

No

Main Industry

Jumlah Tenaga Kerja

(orang)

(%)

1 Agriculture, Forestry, Hunting, and Fishery

41,814,197

44.04

2 Mining and Quarrying

808,842

0.85

3 Manufacturing Industry

11,652,406

12.27

4 Electricity, Gas, and Water

186,801

0.20

5 Construction

4,417,087

4.65

6 Wholesale Trade, Retail Trade, Restaurants, and Hotels

18,896,902

19.90

7 Transportation, Storage, and Communications

5,552,525

5.85

8 Financing, Insurance, Real Estate, and Business Services

1,042,786

1.10

9 Community, Social, and Personal Services

10,576,572

11.14

Total

94,948,118

100.00

Komponen Sistem Pembangunan Pertanian

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, sistem pembangunan pertanian pada dasarnya merupakan suatu kesatuan yang terdiri atas bagian-bagian yang saling berinteraksi satu sama lain dan secara keseluruhan memiliki tujuan tertentu. Dalam sistem pembangunan pertanian (agribisnis) paling tidak terdapat 4 subsistem yang saling berinteraksi, yaitu subsistem pembibitan, budi daya, pengolahan, dan pemasaran. Kinerja (performance) sistem secara keseluruhan akan sangat menentukan keberhasilannya dalam menghasilkan luaran (output) yang diharapkan. Pembibitan merupakan subsistem yang akan menentukan mutu dan jumlah produk yang dihasilkan oleh subsistem budi daya, dan selanjutnya dijadikan bahan baku agroindustri dan siap dipasarkan. Mutu produk yang dipasarkan pada rantai terakhir tidak hanya ditentukan oleh kinerja dari subsistem pemasaran, tetapi juga oleh kinerja subsistem-subsistem di hulunya. Hal ini menunjukkan adanya interaksi antarsubsistem yang terlibat dalam sistem agribisnis, yang secara keseluruhan akan menentukan keberhasilan pencapaian tujuan sistem (dalam hal ini menghasilkan produk pertanian bermutu tinggi dan berdaya saing tinggi di pasar). Subsistem budi daya merupakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan petani yang menggunakan masukan berupa bibit dan prasarana produksi lainnya yang disediakan oleh subsistem di hulu dan menghasilkan luaran yang akan digunakan oleh subsistem di hilir. Kinerja subsistem ini akan menentukan kinerja sistem secara keseluruhan, sehingga setiap subsistem memiliki kontribusi terhadap luaran yang dihasilkan oleh sistem secara keseluruhan. Subsistem pengolahan dapat dibedakan menjadi pengolahan pascapanen dan hasil pertanian. Pengolahan pascapanen adalah proses pengolahan bentuk fisik produk sehingga lebih tahan lama dan memberikan nilai tambah yang lebih tinggi, misalnya bagaimana mengubah kedelai menjadi beras kedelai atau tepung kedelai, atau jagung menjadi tepung maizena. Sementara pengolahan hasil pertanian lebih diarahkan pada pengolahan produk pertanian menjadi produk-produk baru yang memiliki nilai tambah tinggi. Hal tersebut dapat dilakukan melalui teknologi fermentasi, kimiawi, fisiko- kimiawi, biokimiawi/bioteknologi, farmasi, dan sebagainya. Subsistem pemasaran merupakan rantai akhir subsistem yang ada pada sistem pembangunan pertanian. Subsistem ini merupakan ujung tombak dari upaya meningkatkan ekspor produk pertanian dalam rangka meningkatkan penghasilan devisa. Penyempurnaan subsistem pemasaran diharapkan dapat menghasilkan akses yang lebih besar tarhadap pemasaran produk di pasar domestik maupun internasional.

DAYA SAING-PRODUKTIVITAS-KOMPETISI INDUSTRI

Pengertian Daya Saing

Dalam perspektif tingkatan yang berbeda (mikro, meso, makro), istilah daya saing (competitiveness) memiliki pengertian yang berbeda walaupun saling berkaitan satu dengan lainnya. Pada tingkat mikro (perusahaan), daya saing diartikan sebagai kemampuan untuk mengatasi perubah- an dan persaingan pasar dalam memperbesar dan mempertahankan keuntungan (profitability), pangsa pasar, dan/atau ukuran bisnisnya (skala usahanya). Tingkatan meso (industri) mendefinisikan daya saing sebagai kemampuan suatu industri (agregasi perusahaan dan keterkaitan di antaranya) untuk menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan industri pesaingnya. Sementara itu, pengertian daya saing pada tingkat makro ialah daya tarik (attractiveness) atau kemampuan membentuk (menawarkan) lingkungan paling produktif bagi bisnis (termasuk menarik talenta/talented people), investasi dan mobile factors lain, serta determinan lain dan kinerja unggul yang berkelanjutan.

Unsur-unsur Produktivitas

Kemampuan menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi merupakan salah satu prasyarat bagi peningkatan daya saing di tingkat mikro maupun meso. Untuk mencapai produktivitas tersebut, unsur- unsur yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:

Biaya (cost):

a. Tenaga kerja langsung (direct labor)

b. Overhead

c. Material dan energi

d. Penjualan dan distribusi

e. Biaya modal (cost of capital)

Nilai (value):

a. Desain

b. Mutu

c. Pelayanan

d. Kompetensi (competence)

e. Citra (image)

Waktu (time):

a. Ketanggapan (responsiveness)

b. Inovasi

c. Keandalan (reliability)

d. Teknologi

Kompleksitas dan Kompetisi Industri

Kemampuan industri untuk mencapai dan mempertahankan daya saing pada sisi internal dipengaruhi oleh tekanan pada biaya investasi dan biaya produksi, regulasi, tuntutan dari pemangku kepentingan (stakeholders) untuk memperoleh keuntungan secara cepat, serta tingginya biaya dan risiko untuk melaksanakan penelitian dan pengembangan. Dari sisi eksternal, kemampuan sangat dipengaruhi oleh pasar dan persaingan yang terus berubah, cepatnya perubahan teknologi,

kompleksitas teknologi dan/atau produk, serta tekanan globalisasi. Diagram pada Gambar 1 menunjukkan gambaran komprehensif mengenai segi-segi yang memengaruhi kemampuan suatu industri untuk mencapai dan mempertahankan daya saingnya.

industri untuk mencapai dan me mpertahankan daya saingnya. Gambar 1 Dinamika kompleksi tas dan kompetisi industri.

Gambar 1 Dinamika kompleksitas dan kompetisi industri.

Beberapa pakar terkemuka mengemukakan pendapatnya tentang kiat-kiat untuk memenang- kan persaingan dalam era globalisasi yang ditunjukkan dengan cepatnya perubahan. Kutipan dua pakar tersebut adalah sebagai berikut:

Peter F. Drucker (Pakar Manajemen Industri)

1. “……

2.

.“……

in technology (GLOBALIZATION) …… we are entering a period of turbulence, period of rapid

innovation. But, such condition is also one of great opportunity for those who can understand, accept and exploit the new realities. It is, above all, a time of opportunity for leadership

The greatest danger in times of turbulence is not the turbulence itself ……., but to act with yesterday’s logic

Marcel Proust “The real voyage of DISCOVERY consist not in seeking new lands, but in seeing with new eyes VISION MISION STRATEGY“

Faktor Lokal dan Kemampuan Daya Saing

Sejarah menunjukkan bahwa kemampuan daya saing suatu bangsa lebih banyak ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk yang sarat dengan pengetahuan/teknologi (knowledge/tech- nology intensive) dibandingkan dengan yang mengandalkan sumber daya alam (resource base). Meskipun demikian, daya saing juga dapat dicapai dengan mengedepankan keunikan yang erat kaitannya dengan konteks “daerah” (lokalitas). Daya saing global semakin ditentukan oleh faktor-faktor lokalitas, dan agenda peningkatan daya saing perlu beriringan dengan upaya penguatan kohesi sosial masyarakat yang semakin maju. Perspektif hubungan antara konteks daerah dan jangkauan global ditunjukkan pada Gambar 2.

Internasional Regional Nasional Daerah/ Lokal Kohesi Sosial Daya Saing Global • Kecukupan • Efektivitas
Internasional
Regional
Nasional
Daerah/
Lokal
Kohesi Sosial
Daya Saing Global
• Kecukupan
• Efektivitas

Pembangunan Masyarakat

Identitas Budaya

Nilai Keluarga

Efisiensi

Produktivitas

Inovasi

Gambar 2 Perspektif daya saing.

Dalam membangun daya saing agroindustri, beberapa segi kelembagaan dan komunikasi

potensi daerah merupakan faktor sangat penting berdasarkan pertimbangan sebagai berikut:

1. Pergeseran pola pemerintahan: desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas perbantuan dalam kerangka otonomi daerah (UU No. 32 tahun 2004);

2. Pemerintah daerah berfungsi menumbuhkembangkan motivasi, menstimulasi, dan memfasilitasi pengembangan iptek sebagai unsur peningkatan daya saing;

3. Perlunya memberikan perhatian terhadap konteks spesifik daerah sebagai unsur peningkatan daya saing;

4. Koordinasi dengan mitra kerja atau institusi terkait untuk peningkatan kinerja inovasi dan daya saing.

Kerjasama ABG

Untuk mengembangkan kemampuan daya saing, sinergi potensi dari produk masing-masing lembaga perlu digalang. Berdasarkan hal tersebut, konsep kerjasama ABG (Academia, Pengusaha/Business, Pemerintah/Government) perlu ditumbuhkembangkan (Gambar 3). Melalui sinergi “ABG”, keterbatasan sumber daya yang ada (SDM, dana, sarana-prasarana) serta iklim pengembangan industri yang kondusif (kebijakan-kebijakan terkait) dapat dicarikan solusinya.

Trilateral Network dan Organisasi Hibrid Academia (A) Business Government (B) (G)
Trilateral Network dan
Organisasi Hibrid
Academia
(A)
Business
Government
(B) (G)

Gambar 3 Konsep kerjasama ABG.

TEKNOLOGI PROSES PRODUK AGRO

Aneka produk pertanian yang relevan sebagai bahan baku dapat dikembangkan sekurang- kurangnya ke arah 4 kelompok industri, yaitu industri pangan, bioenergi, kesehatan (obat-obatan herbal dan produk bioteknologi), serta bahan baku industri lainnya. Beberapa contoh teknologi proses untuk keempat jenis industri tersebut adalah sebagai berikut:

1. Industri pangan. Teknologi proses pengembangan pati-patian menjadi tepung, gula-gula monomer (fruktosa, glukosa, dsb.), asam sitrat, dan asam laktat.

2. Industri bioenergi. Teknologi proses produksi etanol, pure plant oil, dan biodiesel.

3. Industri kesehatan.

a. Teknologi pengembangan obat-obat herbal.

b. Teknologi proses bioteknologi untuk produk obat-obatan dan bahan baku industri.

4. Aneka bahan baku industri lainnya yang bernilai ekonomi tinggi.

a. Teknologi produksi enzim.

b. Teknologi produksi poli(laktat).

Uraian singkat teknologi proses secara skematis dari berbagai jenis industri di atas akan disampaikan

sebagai berikut:

Uraian singkat teknologi proses secara skematis dar i berbagai jenis industri di atas akan disampaikan sebagai
Uraian singkat teknologi proses secara skematis dar i berbagai jenis industri di atas akan disampaikan sebagai
15
15
15
15
15
15
15
15
16
16
16
16
16
16
16
16
17
17
17
17
17
17
17
17
18
18
18
18
18
18
18
18
19
19
19
19
19
19
19
19
20
20
20
20
20
20
20
20
21
21
21
21
21
21
21
21
DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2005. Alcohol, Citric Acid, and HFS Technology . Jerman: Vogelbusch Leaflet. Anonim.
DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2005. Alcohol, Citric Acid, and HFS Technology . Jerman: Vogelbusch Leaflet. Anonim.

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2005. Alcohol, Citric Acid, and HFS Technology . Jerman: Vogelbusch Leaflet. Anonim. 2005.
DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2005. Alcohol, Citric Acid, and HFS Technology . Jerman: Vogelbusch Leaflet. Anonim. 2005.

Anonim. 2005. Alcohol, Citric Acid, and HFS Technology. Jerman: Vogelbusch Leaflet. Anonim. 2005. Hasil Penelitian dan Pengembangan Unit-unit Kerja di Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (laporan teknis, tidak dipublikasikan). Anonim. 2006. Program Pengembangan Bahan Bakar Nabati (Biooil, Biodiesel, Bioetanol) di BPPT (laporan teknis, tidak dipublikasikan). Badan Pusat Statistik (website: www.bps.go.id). Bappenas. 2005. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Republik Indonesia 2005-2009. Departemen Kelautan dan Perikanan (website: www.dkp.go.id). Departemen Perindustrian dan Perdagangan (website: www.dprin.go.id). Departemen Pertanian (website: www.deptan.go.id). Food and Agricultural Organization (website: www.fao.org). Stace D, Dunphy, D. 1994. Beyond the Boundaries, Leading and Re-Creating the Succesful Enterprise. Sydney: McGraw Hill. Taufiq, Tatang A. 2003. Pemetarencanaan (Roadmapping): Konsep, Metode, dan Implikasi Kebijakan. Jakarta: Pusat Pengkajian Kebijakan Teknologi-Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

2010 CHALLENGES FOR CHEMICAL SOCIETY IN INDONESIA

M. Saleh

ICS/HKI Chairman

People Concerns Facing 2010

People nowadays are increasingly concerned about how our environment is changing over the time as a result of man’s activities in exploiting earth. People reckon growing concern on social issues globally. The gap between those who have and who do not have is widening, plus how now epidemic in one country would become a global concern as a result of people travel and migration. We still see evidence of starvation e.g. in Africa and developing countries, while natural disasters and terrorism are also haunting people’s life and fears. People are also becoming aware of what goes into products and very selective upon it.

The bottom line is, we see increasing concern on how the earth would evolve to in the future with all those changes and significantly less and less energy and good quality water on earth.

This is why at the same time frustration is also escalating because of the inability of global leaders to handle the case collaboratively.

Business in 2010

With people mobility and connectivity, we can see corporation has started to work as a global community than before, as evidenced from many corporate restructuring, merger, and acquisition.

At the same time, spread of technology capability around the world is also happening, where basically external orientation is necessary to watch out the trend and to survive the business.

Innovation remains a key to thrive the business, where fast track new technology acquisition will be essential in order to be ahead in competition. However, what make one corporation excels relies on how they come up with their implementation strategy as well as disruptive business models.

2010 Challenges for Chemical Profession in Indonesia – 3P (Planet, Profit, People)

We still need to establish strong local industries, which do not only support our national development, but also environmentally responsible to our planet, yet profitable and competitive in regional and global battle. We need to re-ignite our local innovation as part of our competitiveness, generating better link and synergy to industries as the end user, which is challenging in order to make it sustainable.

At the very core, we also need to have a clear direction from our national research strategy facing 2010, which is aligned and supported by our national chemical education policy.

People is power -- It is very obvious that chemical profession readiness facing 2010 will be a crucial element to prepare for. Capability is just one thing which any standard education can provide, but being passionate, open minded with full of integrity, are other important elements which need to be injected into our educational curriculum. These kinds of quality people will hopefully also bring benefit for majority of Indonesian people as a whole.

Contribution of ICS/HKI

We have established our new framework to mobilize potencial of chemical professions in Indonesia, in relation to Industry, Academia & Innovation, Solution for Health-Safety-Environment. How we can maximize our potencial and contribution in those three areas would be very challenging, given it has never been easy to really consolidate intellectual power which is spreading all over the nation.

Hopefully with a newly formed ICS/HKI’s central committee, who have been working under 7 key agenda, in three years we can shape up the organization better and better.

We are consolidating… but indeed we welcome you to join and to participate in this chemical professional’s media, to together be part of the nation’s effort and strengthen our social and national economy.

CHALLENGES AND OPPORTUNITIES IN APPLYING TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) FOR INDUSTRIAL ORAL CARE PRODUCTS

Jae-Kwan Hwang 1* , Yaya Rukayadi 1,2

1 Department of Biotechnology, Yonsei University 2 Biopharmaca Research Center, Bogor Agricultural University

ABSTRACT

Curcuma xanthorrhiza Roxb., commonly known as temulawak or java turmeric, is an indigenous plant from Java, Bali, and Mollucas, Indonesia. It has been used by Indonesian ancestors for food, medicinal purposes, and as a tonic. C. xanthorrhiza has been traditionally used to treat stomach diseases, liver disorders, constipation, bloody diarrhea, dysentery, children’s fevers, haemorrhoid, and skin eruptions. Recently, it has been reported that temulawak confers various biological activities such as antitumor, hypotriglyceridaemic, anti-inflammatory, hepatoprotective, and antibacterial. In our research, we found that xanthorrhizol (1,3,5,10-bisabolatetraen-3-ol), isolated from the rhizome of C. xanthorrhiza, possessed remarkable anticariogenic activity against oral pathogens. Xanthorrhizol exhibited the highest antibacterial activity against Streptococcus species causing dental caries and also demonstrated antibacterial potential against Actinomyces viscosus and Porphyromonas gingivalis which are responsible for periodontitis. Xanthorrhizol killed completely Streptococcus mutans in a minute. This bactericidal activity is of practical significance, since applications of xanthorrhizol in mouthwash or toothpaste should be effective within a few minutes. Xanthorrhizol also showed a promising activity as an antibacterial agent for inhibiting and removing S. mutans biofilms. Clinical test analysis showed that xanthorrizol was active in vivo and was not toxic to the host cells. In Korea, temulawak oil has been developed and marketed as xanthorrhizol-containing toothpaste. Thus, there are some challenges and opportunities in applying temulawak for industrial oral care products.

INTRODUCTION

Java turmeric is classified to the kingdom Plantarum, division Spermatophyta, sub-division Angiospermae, class Monocotyledonae, order Zingiberales, family Zingiberaceae, genus Curcuma, and species Curcuma xanthorrhiza Roxb., synonym Curcuma javanica. Vernacular names of java turmeric are koneng gede (Sundanese), temu lawak (Javanese), temo labak (Madurese) (Indonesia); temu lawas, temu raya (Malaysia); and wan chakmotluk (Thailand). C. xanthorrhiza is native to Java, Bali, and the Moluccas. It is commonly cultivated in Java, Peninsular Malaysia, Philippines, and Thailand, occasional- ly also in India. C. xanthorrhiza Roxb. is a herb with branched rhizome, dark yellow to reddish-brown at the exterior, orange or orange-red in the interior; leaf sheaths up to 75 cm long, blades elliptical-oblong to oblong-lanceolate, 25–100 cm × 8–20 cm, green with reddish-brown band along the midrib; inflourescence on a separate shoot, bracts pale green, coma bracts purple; corolla 46 cm long, pale red; labellum 2–2.5 cm × 1.5–2 cm, yellowish with a darker yellow median band, other staminodes longitudinally folded, yellowish-white, anther with long spurs. C. xanthorrhiza Roxb. is found in thickets

* Correspondence author:

Jae-Kwan Hwang, Department of Biotechnology, Yonsei University, 134 Shinchon-dong, Seodaemun-gu, Seoul 120- 749, South Korea. Tel: +82-2-2123-5881, Fax: 82-2-362-7265. E-mail: jkhwang@yonsei.ac.kr

and teak forest, mainly on moist, fertile, humus-rich soils, up to 750 m altitude (Wardini & Prakoso

1999).

C. xanthorrhiza has been traditionally used in Indonesia for food and medicinal purposes (Lin et al. 1995). For food, temulawak produces starch and a yellow dye. Young stem and rhizome parts are eaten as a vegetable, either raw or cooked. The inflourescences are eaten cooked. In Java, a soft drink called ‘bir temulawak’ is prepared by cooking dried pieces of the rhizome. For medicinal purposes, rhizomes of temulawak are used to treat various abdominal complaints and liver disorders (jaundice, gall-stones, promoting the flow of bile). A decoction of the rhizome is also used as a remedy for fever and constipation, and is taken by women as a galactagogue and to lessen uterine inflammation after giving birth. Others applications are against bloody diarrhea, dysentery, inflammation of the rectum, haemorrhoids, stomach disorders caused by cold, infected wounds, skin eruptions, acne vulgaris, ecxema, smallpox, and anorexia. In Indonesia, rhizome is used as an important ingredient into many “jamus” (Wardini & Prakoso 1999). Modern researches done by various overseas researchers found that temulawak has the following effects: antihepatotoxic, antioxidant, antitumor, anti-inflammation, etc.

PYTHOCHEMISTRY OF TEMULAWAK

The fresh rhizomes of C. xanthorrhiza Roxb. contain terpenoids, one monoterpenoid, and curcuminoids. There are 9 sesquiterpenoids (α-curcumene, arturmerone, xanthorrhizol, germacrone, β- curcumene, β-sesquiphellandrene, curzerenone, α-turmerone, and β-turmerone) and 3 curcuminoids (curcumin, mono-demethoxycurcumin, and bis-demethoxycurcumin) (Uehara et al. 1992). Dried rhizomes of C. xanthorrhiza Roxb. contain on average 3.8% of essential oil, with ar-curcumene, xanthorrhizol, α-, β-curcumene, and germacrene as major constituents. Cyclo-isopren-emyrcene and p- tolylmethylcarbinol, which are often mentioned as essential oil constituents in older literature, are artifacts which originated from distillation and fractionation of oils at higher temperatures. The phenolic sesquiterpene xanthorrhizol is species specific: its presence can thus be used to distinguish C. xanthorrhiza Roxb. from e.g. Curcuma longa. Three nonphenolic diarylheptanoids isolated from C. xanthorrhiza Roxb. have been identified as trans, trans-1,7-diphenyl-2,3-heptadien-4-one (alnustone), trans-1,7-diphenyl-1,3-hepten-5-ol, and trans, trans-1,7-diphenyl-1,3-heptadien-5-ol (Wardini & Prakoso

1999).

XANTHORRHIZOL ISOLATED FROM THE RHIZOME OF TEMULAWAK

Xanthorrhizol, a natural sesquiterpenoid (Figure 1), can be isolated as a pure form from ethyl acetate fraction of the methanol extract of C. xanthorrhiza Roxb., according to the method of Hwang et al. (2000b). Briefly, the rhizomes (100 g) were ground and extracted with 400 ml methanol 75% (v/v), and further fractionations were carried out consecutively with ethyl acetate (4.8 g), n-butanol (1.7 g), and water (1.1 g). Xanthorrhizol (0.2 g) was isolated from the ethyl acetate fraction by using a silica gel column chromatography (Merck; 70230 mesh; 5 × 43 cm; n-hexane/ethyl acetate, 10:1). Xanthorrhizol was identified by direct comparison of the 1 H-nuclear magnetic resonance (NMR), 13 C-NMR, and electron ionization (EI)-mass spectral results with the published data (Itokawa et al. 1985). The specific

rotation of xanthorrhizol was determined as

Our study has led to the isolation of xanthorrhizol, and the compound had a powerful activity against oral pathogens and Streptococcus mutans biofilms (Hwang et al. 2000a,b; Rukayadi & Hwang 2006a,b). Other results related to xanthorrhizol have been published by our group and showed an anticandidal activity of this compound (Rukayadi et al. 2006), a suppressive effect of natural

[α]

20

D

: 50.2 o (c = 0.65, CHCl 3 ).

sesquiterpenoids on inducible cyclooxygenase (COX-2) and nitric oxide synthase (iNOS) activities in mouse macrophage cells (Lee et al. 2002), an effect of cisplatin-induced hepatotoxicity abrogation on the regulation of gene transcription in mice (Kim et al. 2004), a potential to attenuate the high dose cisplatin-induced nephrotoxicity in mice (Kim et al. 2005a), a natural sesquiterpenoid and an anti- metastatic potential in experimental mouse lung metastasis model (Choi et al. 2005). Our findings demonstrated that xanthorrhizol is a compound with multibioactive functions. In the future, a single drug for variously therapeutic will be very important in order to reduce drug-drug interactions.

14 4 OH 5 3 6 2 12 1 7 9 11 15 8 10
14
4
OH
5
3
6
2
12
1
7
9 11
15
8
10 13
Figure 1 Structure of xanthorrhizol.

ANTIBACTERIAL ACTIVITY OF XANTHORRHIZOL AGAINST ORAL PATHOGENS

The antibacterial activity of xanthorrhizol was evaluated against oral microorganisms in comparison with chlorhexidine. Antibacterial activity was determined in terms of minimum inhibitory concentration (MIC) and minimum bactericidal concentration (MBC). Xanthorrhizol exhibited the highest antibacterial activity against Streptococcus species causing dental caries and also demonstrated antibacterial potential against Actinomyces viscosus and Porphyromonas gingivalis which are responsible for periodontitis (Table 1).

Table 1 Antibacterial activity of xanthorrhizol a (Hwang et al. 2000a)

activity of xanthorrhizol a (Hwang et al . 2000a) MIC of xanthorrhizol against S. mutans ,

MIC of xanthorrhizol against S. mutans, which is known to be a major causative organism for dental plaque and can also be a source of infective endocarditis (Banas 2004), was determined to be 2 µg/ml, which was much lower than other natural anticariogenic agents such as 16 µg/ml of sangunarine, 125 µg/ml of tea polyphenol, 125 µg/ml of carvacrol, 250 µg/ml of isoeugenol, 500 µg/ml of eucalyptol, and 500 µg/ml of thymol. Figure 2 shows that 5 µg/ml treatment of xanthorrhizol killed completely S. mutans in a minute. This bactericidal activity is of practical significance, since applications of xanthorrhizol in mouthwash or toothpaste should be effective within a few minutes. These results suggested that xanthorrhizol could be employed as a potential anticariogenic agent.

6 5 4 3 2 1 0 0 1 2 3 4 logCFU/ml
6
5
4
3
2
1
0
0
1
2
3
4
logCFU/ml

Figure 2

Treatment time (min)

Bactericidal activity of xanthorrhizol against S. mutans (--: control; --: 1 µg/ml; --: 3 µg/ml; -×-: 5 µg/ml).

ANTI-BIOFILM ACTIVITY OF XANTHORRHIZOL

S. mutans and other oral streptococci are colonizers of the surface of the tooth, where, together with many other bacterial species, they build a biofilm also known as dental plaque. Plaque development commences with the adhesion of microorganisms to acquired salivary pellicles on the enamel’s surface. Therefore, inhibition of pathogenic bacterial adherence can yield benefits in controlling caries and periodontal disease (Liljemark & Bloomquist 1996). Sharma et al. (2005) reported that prevention of microbial adhesion and detachment of adhering microorganisms from the surface of the tooth is important. Moreover, microbial adhesion in the oral cavity occurs under highly unfavorable conditions, and flow of saliva and movement of the tongue, lips, and cheeks, for instance, cannot prevent adhesion. This indicates that the forces involved in microbial adhesion to the surface of the tooth are quite strong. Hence, interest has increased in studying prevention of microbial adhesion and reducing plaque development. A widely adopted approach to reduce and remove plaque development is the topical application of bactericides, e.g. triclosan, chlorhexidine, and cetylpyridinium chloride, by inhibiting the plaque development and lowering the number of microorganisms in saliva (Eley 1999). In general, they are nonselective in their efficacy, and their frequent use can potentially lead to a change in the oral microbiota and the occurrence of resistant strains (McMurry et al. 1998). An alternative approach for controlling plaque formation is to select molecules that can block or reduce bacterial adherence. Coating of the substratum surfaces by biomaterial is highly effective in the prevention of bacterial adhesion (Roosjen et al. 2004). Vaccines against major cariogenic oral bacteria and chemical agents for coating the tooth surface or interfering with bacterial binding, have been investigated (Wade et al. 1994; Hajshengallis & Michalek 1999; Kato et al. 1999). In principle, the vaccine approach is more efficient, but its limitations are high in cost. Chemical agents can offer an alternative means of reducing plaque formation. However, these chemicals possess many adverse effects such as microorganisms building tolerance, vomiting, diarrhea, and teeth staining (Chen et al. 1989). We have evaluated the effect of coating the wells of a polystyrene plate with xanthorrhizol on S. mutans biofilm formation. Coating with xanthorrhizol resulted in significant (up to 60%) reduction of adherent cells compared to that of cells in uncoated wells, and similar result was found in the chlorhexidin-coated wells (Figure 3).

1.2 1 0.8 0 6 0.4 0 2 0 0 2 4 6 8 10
1.2
1
0.8
0
6
0.4
0
2
0
0
2
4
6
8
10
12
16
18
20
24
26
14
22
Absorbance (595 nm)

Incubation time (h)

Figure 3 Effect of xanthorrhizol impregnation on subsequent biofilm formation by S. mutans ATCC 27351 on the wells of uncoated- (), xanthorrhizol-coated- (), and chlorhexidine-coated () microtiter plates at 37 o C during 24 h. The concentration of xanthorrhizol or chlorhexidine was 5 µg/ml. * Significantly different (p < 0.05) (Rukayadi & Hwang 2006b).

We determined the effect of xanthorrhizol on the S. mutans biofilms in vitro. The biofilms of S. mutans at different phases of growth were exposed to xanthorrhizol at different concentrations (5, 10, and 50 µmol/ml) and for different time exposures (1, 10, 30, and 60 min). The results demonstrated that the activity of xanthorrhizol in removing S. mutans biofilm depended on the concentration, exposure time, and growth phase of biofilm (Table 2). A concentration of 5 µmol/ml of xanthorrhizol completely inhibited biofilm formation by S. mutans at adherent phases of growth, whereas 50 µmol/ml of xanthorrhizol removed 76% of biofilm at plateau accumulated phase when exposed to S. mutans biofilm for 60 min (Table 2).

Table 2

The effect of xanthorrhizol at different concentrations and exposure time on biofilms of S. mutans at different phases of growth (Rukayadi & Hwang 2006a)

and exposure time on biofilms of S. mutans at different phases of gr owth (Rukayadi &

CLINICAL TEST OF XANTHORRHIZOL

Some clinical tests of oral hygiene products containing C. xanthorrhiza Roxb. extract (Cx) have been determined and published. Gingivalis suppression effect of the de novo dentifrice containing C. xanthorrhiza Roxb., bamboo salt, and various additives was investigated (Hwang et al. 2005). The results showed that the dentifrice containing bamboo salt, C. xanthorrhiza Roxb., ursodeoxycholic acid, and various additives could be a useful dentifrice in reducing gingivalis. Other test was a highly selective antibacterial effect of Cx extract against oral pathogens and clinical effectiveness of a dentifrice containing Cx in controlling bad breath (Kim et al. 2005b). The summary of this test showed that Cx with its highly selective antibacterial activity appeared to be an attractive candidate to replace chemicals, and oral hygiene products with Cx will be a new paradigm delivering natural benefit for consumers.

CHALLENGES AND OPPORTUNITIES IN APPLYING TEMULAWAK FOR INDUSTRIAL ORAL CARE PRODUCTS

Some plant extracts clearly demonstrate antibacterial properties although the mechanism of their activities are still poorly understood (Dorman & Deans 2000). The spice extracts, cinnamon bark oil, papua-mace extract, and clove bud oil were all reported to inhibit the growth of many oral bacteria (Saeki et al. 1989). Sanguinarine, an alkaloid extract from the rhizome of Sanguinaria canadensis, has been reported to possess a broad spectrum against a wide variety of oral bacteria (Joann & Sigmund 1985). In particular, green tea extract, which is customarily drunk after every meal in Japan, is known to contain several polyphenols that inhibit the growth of S. mutans (Sakanaka et al. 1989). However, they have relatively mild effects against oral pathogens compared to that of commercial synthetic anticariogenic agents. Our study showed that temulawak extract or xanthorrhizol has more powerful activity against oral pathogens compared to that of anticariogenic agents. In Korea, temulawak extract has been developed and marketed as xanthorrhizol-containing toothpaste (Figure 4). Thus, there are some challenges and opportunities in applying temulawak for industrial oral care products.

Error!
Error!

Figure 4 Temulawak extract-containing toothpaste.

REFERENCES

Chen CP, Lin CC, Namba T. 1989. Screening of Taiwanese crude drugs for antibacterial activity against Streptococcus mutans. J Ethnopharmacol 27:285-295.

Choi MA, Kim SH, Chung WY, Hwang JK, Park KK. 2005. Xanthorrhizol, a natural sesquiterpenoid from Curcuma xanthorrhiza, has an anti-metastatic potential in experimental mouse lung metastasis model. Biochem Biophys Res Commun 326:210-217.

Dorman HJD, Deans SG. 2000. Antimicrobial agents from plants: Antibacterial activity of plant volatile oils. J Appl Microbiol 88:308-316.

Eley BM. 1999. Antibacterial agents in the control of supragingival plaque-A review. Br Dent J 186:286-

296.

Hajshengallis G, Michalek SM. 1999. Current status of a mucosal vaccine against dental caries. Oral Microbiol Immunol 14:1-20.

Hwang JK, Shim JS, Pyun YR. 2000a. Antibacterial activity of xanthorrhizol from Curcuma xanthorrhiza against oral pathogens. Fitoterapia 71:321-323.

Hwang JK, Shim JS, Baek NI, Pyun YR. 2000b. Xanthorrhizol: a potential agent from Curcuma xanthorrhiza against Streptococcus mutans. Planta Med 66:196-197.

Hwang SJ et al. 2005. Gingivalis suppression effect of the de novo dentifrice containing Curcuma xanthorrhiza, bamboo salt and various additives. J Korean Acad Dent Health 29:222-236.

Itokawa H, Hirayama F, Takeya K. 1985. Studies on the antitumor bisabolane sesquiterpenoids isolated from Curcuma xanthorrhiza. Chem Pharm Bull 33:3488-3492.

Joann LD, Sigmund SS. 1985. Comparative in vitro activity of sanguinarine against oral microbial isolates. Antimicrob Agents Chemother 27:663-665.

Kato H et al. 1999. The immunogenicity of various peptide antigens inducing cross-reacting antibodies to a cell surface protein antigen of Streptococcus mutans. Oral Microbiol Immunol 14:213-219.

cisplatin-induced

hepatotoxicity in mice by xanthorrhizol is related to its effect on the regulation of gene

Kim

SH,

Hong

KO,

Chung

WY,

Hwang

JK,

Park

KK.

2004.

Abrogation

of

transcription. Toxicol Appl Pharmacol 196:346-355.

Kim SH, Hong KO, Hwang JK, Park KK. 2005a. Xanthorrhizol has a potential to attenuate the high dose cisplatin-induced nephrotoxicity in mice. Food Chem Toxicol 43:117-22.

Kim BI et al. 2005b. A highly selective antibacterial effect of Curcuma xanthorrhiza extract against oral pathogens and clinical effectiveness of a dentifrice containing Curcuma xanthorrhiza extract for controlling bad breath. J Korean Acad Dent Health 35:1053-1069.

Lee SK et al. 2002. Suppressive effect of natural sesquiterpenoids on inducible cyclooxygenase (COX- 2) and nitric oxide synthase (iNOS) activity in mouse macrophage cells. J Environ Pathol Toxicol Oncol 21:141-148.

Liljemark WF, Bloomquist C. 1996. Human oral microbial ecology and dental caries and periodontal diseases. Crit Rev Oral Bio Med 7:180-198.

Lin SC, Lin CC, Lin YH, Supriyatna S, Teng CW. 1995. Protective and therapeutic effects of Curcuma xanthorrhiza on hepatotoxin-induced liver damage. Am J Chin Med 23:243-254.

McMurry LM, Oethiger M, Levy SB. 1998. Triclosan targets lipid synthesis. Nature 394:531-532.

Rukayadi Y, Hwang JK. 2006a. In vitro activity of xanthorrhizol against Streptococcus mutans biofilms. Lett Appl Microbiol 42:400-404.

Rukayadi Y, Hwang JK. 2006b. Effect of coating the wells of a polystyrene microtiter plate with xanthorrhizol on the biofilm formation of Streptococcus mutans. J Basic Microbiol 46:411-416.

Rukayadi Y, Yong D, Hwang JK. 2006. In vitro anticandidal activity of xanthorrhizol isolated from Curcuma xanthorrhiza Roxb. J Antimicrob Chemother 57:1231-1234.

Roosjen A, de Vries J, Mei HC van der, Busscher HJ. 2005. Stability and effectiveness against bacterial adhesion of poly(ethylene oxide) coatings in biological fluids. J Biomed Mater Res Part B: Appl Biomater 73B:347-354.

Saeki Y, Ito Y, Okuda K. 1989. Antibacterial action of natural substances on oral bacteria. Bull Tokyo Dent Coll 30:129-135.

Sakanaka S, Kim M, Taniguchi M, Yamamoto T. 1989. Antibacterial substances in Japanese green tea extract against Streptococcus mutans, a cariogenic bacterium. Agric Biol Chem 53:2307-2311.

Sharma PK, Gibcus MJ, Mei HC van der, Busscher HJ. 2005. Influence of fluid shear and microbubbles on bacterial detachment from a surface. Appl Environ Microbiol 71:3668-3673.

Wardini TH, Prakoso B. 1999. Curcuma L. In: de Padua LS, Bunyapraphatsara N, Lemmens RHMJ, editors. Plant Resources of South-East Asia 12. (1) Medicinal and Poisonous Plants 1. 1 st Volume. Bogor: Prosea. pp. 210-219.

Uehara S, Yosuda I, Takeya K, Itokawa H. 1992. Terpenoids and curcuminoids of the rhizome of Curcuma xanthorrhiza Roxb. Yakugaku Zasshi 112:817-823.

PERANAN KIMIA KOMPUTASI DALAM DESAIN SENYAWA BARU DAN OPTIMALISASI PROSES INDUSTRI

Harno Dwi Pranowo*

Jurusan Kimia, FMIPA, UGM, Yogyakarta

ABSTRAK

Perkembangan kemampuan komputer dalam mengolah data telah memberikan andil yang besar dalam perkembangan kimia komputasi. Hal ini juga didukung oleh ketersediaan perangkat lunak dan bahasa pemrograman yang semakin mudah diaplikasikan dalam penyelesaian masalah- masalah kimia. Pengakuan terhadap peran kimia komputasi dalam sains dan teknologi ditandai dengan penganugerahan hadiah nobel bidang kimia tahun 1998 kepada John A. Pople yang telah mengembangkan metode komputasi dalam kimia kuantum dan Walter Kohn yang mengembangkan teori fungsional-rapatan (density-functional theory). Desain senyawa baru yang mempunyai aktivitas tertentu dapat dilakukan melalui studi QSAR (quantitative structure and activity relationship = hubungan kuantitatif struktur dan aktivitas) dengan menggunakan prediktor teoretis, seperti muatan atom neto, yang dapat dihasilkan dari perhitungan kimia komputasi. Prediksi senyawa aktif telah mampu mengurangi secara signifikan biaya produksi obat tertentu karena senyawa yang disintesis hanyalah yang diprediksi memiliki aktivitas tinggi. Docking molekular yang mampu memodelkan interaksi antara suatu senyawa dan reseptor juga banyak memberikan informasi tentang rekayasa senyawa baru. Bidang lain yang menjadi topik kajian kimia komputasi adalah spektroskopi, mekanisme reaksi, simulasi dinamika molekular, simulasi Monte Carlo, dan termokimia. Kemampuan komputer dalam menyelesaikan permasalahan kimia juga telah dimanfaatkan dalam bidang kemometri, yang banyak menggunakan konsep statistika dalam kimia serta kemoinformatika untuk mengembangkan database kimia dalam menghasilkan informasi baru. Pendekatan diskoneksi dalam sintesis juga difasilitasi oleh keandalan dan kecepatan proses komputer dalam mengolah database reaksi kimia. Pengembangan perangkat lunak yang mengatur proses produksi bahan kimia tidak hanya menjadi bidang kajian kimiawan, tetapi juga ahli pemrograman, statistika, dan teknik.

PENDAHULUAN

Teknologi komputasi diperlukan hampir di setiap segi penelitian kimia, baik dalam pengembangan desain maupun produksi, yang dapat diaplikasikan mulai dari pemodelan molekul sampai simulasi dan pengaturan suatu proses kimia. Bidang kimia komputasi mempunyai definisi luas, yang meliputi komputasi molekular, korelasi empiris, seperti hubungan energi bebas linear (linear free energy relationship, LFER) dan hubungan kuantitatif struktur-sifat (quantitative structure-property relationships, QSPR), serta segi proses pemodelan dan simulasi. Kemajuan kimia komputasi telah memberikan kontribusi yang besar dalam bidang proses kimia terutama dalam efisiensi desain proses dan produk baru, optimalisasi proses yang sedang berjalan, peningkatan efisiensi energi, peminimuman produksi yang menghasilkan limbah, penyempurnaan mekanisme reaksi, pemodelan lingkungan, dan peningkatan produksi dengan tetap mempertimbangkan bidang kesehatan, keselamatan, dan lingkungan hidup.

* Alamat korespondensi:

harnodp@ugm.ac.id

Keberadaan perangkat keras komputer yang mampu menangani perhitungan dengan kompleksitas tinggi telah mengalami peningkatan yang luar biasa dalam 10 tahun terakhir. Pengembangan sistem komputasi paralel memungkinkan untuk menemukan jawaban atas permasalahan yang sebelumnya tidak mungkin terselesaikan. Ketersediaan komputer dengan daya guna yang sangat tinggi memberi peluang bagi pengembangan algoritme dan metode teoretis baru. Tahap yang ingin dicapai oleh para peneliti bidang komputasi adalah pengembangan komputer dengan biaya murah tetapi berdaya guna tinggi sehingga memudahkan penyusunan data input, analisis, dan visualisasi hasil perhitungan. Upaya yang lain adalah agar perhitungan yang kompleks dapat dilakukan pada desktop sehingga dapat dilakukan siapa saja tanpa dibebani biaya operasional yang tinggi.

PENGERTIAN KIMIA KOMPUTASI

Kimia komputasi melibatkan penjelasan matematis dari suatu sistem kimia. Tujuan kimia komputasi adalah menyelesaikan persamaan kompleks seperti persamaan Schrödinger untuk gerakan elektronik dan inti yang dapat digambarkan secara akurat seperti fenomena aslinya. Dalam aplikasi praktis kimia komputasi, persamaan matematika atau algoritme digunakan untuk menggambarkan suatu fenomena fisika dan kimia (energi, struktur, posisi atom, dll.) secara kuantitatif. Algoritme ini kemudian diubah menjadi suatu program dengan menggunakan bahasa pemrograman komputer yang sesuai sehingga komputer dapat menjalankan perhitungan yang efektif dan cepat dalam menggambar- kan fenomena kimia tersebut. Hasil akhir yang ingin dicapai adalah perhitungan menggunakan metode komputasi yang dapat memrediksi sifat dan kelakuan sistem kimia. Kimia komputasi dapat digunakan untuk menjelaskan beragam sistem kimia dengan kompleksitas yang sangat luas. Tiga metode kimia komputasi yang sering digunakan adalah ab initio, semiempiris, dan mekanika molekular. Metode ab initio dapat digunakan untuk memrediksi sifat sistem kimia yang melibatkan sedikit atom, sementara metode semiempiris mampu melakukan perhitungan untuk sistem kimia yang lebih besar. Sistem kimia yang terdiri dari jutaan atom masih mungkin dianalisis dengan metode mekanika molekular. Kemampuan perhitungan dengan metode kimia komputasi bergantung juga pada kemampuan (platform) komputer dalam melakukan perhitungan. Banyak aplikasi kimia komputasi yang dapat dimanfaatkan untuk memrediksi sifat dan kelakuan sistem kimia dalam proses kimia. Dengan mengetahui kelakuan sistem, efisiensi dari sistem operasi yang sedang digunakan berpotensi untuk ditingkatkan. Bahkan dapat didesain sistem baru yang lebih andal untuk mengoptimumkan proses dan meningkatkan efisiensi energi. Kimia komputasi juga memainkan peran dalam desain molekul. Kajian termokimia – energi yang berhubungan dengan terjadinya reaksi – dapat dimanfaatkan untuk menguji kebolehjadian suatu mekanisme reaksi sehingga keberlangsungan suatu reaksi secara termodinamika dapat diprediksi. Kimia komputasi juga dapat digunakan secara cermat untuk memrediksi sifat spektroskopi seperti inframerah, Raman, ultraviolet-tampak (UV-Vis), resonansi magnet inti (NMR), dan fotoelektron, sehingga memudahkan elusidasi struktur suatu spesies kimia, baik sebagai produk maupun sebagai zat antara reaksi. Perhitungan struktur elektronik dapat dimanfaatkan dalam mengeksplorasi jenis ikatan, energi, dan bentuk orbital, yang dapat digunakan untuk menentukan target dalam desain senyawa baru dengan reaktivitas yang diinginkan (Hofer et al. 2004).

PERKEMBANGAN KIMIA KOMPUTASI

Kimia komputasi diawali oleh para peneliti di bidang kimia dan fisika yang melakukan kajian mekanika kuantum untuk sistem kimia dengan jumlah elektron yang terbatas. Hadiah nobel bidang kimia telah diberikan kepada Pauling dan Mulliken atas jasanya dalam mengembangkan teori ikatan

valensi dan teori orbital molekul. Pada tahun 1998, hadiah nobel bidang kimia diberikan kepada Pople dan Kohn yang telah mengembangkan metode kimia komputasi dan teori fungsional-rapatan (density- fuctional theory, DFT). Perubahan dramatis yang terjadi pada dunia akademik dan pada bidang teknik kimia adalah pengembangan dan penerapan perangkat kimia komputasi dalam proses kimia, khususnya pada skala atomik. Di masa depan, peningkatan kolaborasi antara industri dan peneliti universitas dan lembaga penelitian pemerintah akan mendorong pemanfaatan kimia komputasi pada industri kimia. Peneliti bidang teknik kimia akan semakin berperan dalam aplikasi dan penyusunan metode pemodelan molekul serta dalam penyelesaian permasalahan praktis di industri. Teknik komputasi telah berkembang secara dramatis dalam dua dekade ini sejalan dengan kemajuan yang revolusioner dari kemampuan komputasi (perangkat keras). Pada saat ini sangat dimungkinkan menggunakan metode komputasi untuk menyelesaikan permasalahan di bidang teknik dan desain baru dalam proses kimia. Teknik komputasi dapat digunakan sebagai pelengkap, petunjuk, dan kadang-kadang dapat menggantikan perhitungan eksperimental, sehingga mampu mengurangi waktu dan biaya penelitian yang dibutuhkan untuk membawa ide dari skala laboratorium ke dalam aplikasi praktis. Keunggulan potensial akibat penggunaan teknik komputasi adalah telah terbentuknya kelompok kimia komputasi di perusahaan kimia dan farmasi. Hal ini terjadi karena banyak perusahaan perangkat lunak yang menyediakan program pemodelan molekul yang mudah digunakan dalam bidang kimia, farmasi, biokimia, dan aplikasi biologi lainnya. Pada industri farmasi, metode komputasi sangat berperan penting dalam desain obat berbasis struktur, misalnya penelitian tentang inhibitor protease HIV. Dalam industri kimia, penelitian telah dikembangkan pada teknik komputasi yang diaplikasikan pada katalis homogen dan heterogen, misalnya ketersediaan perangkat lunak untuk pemodelan zeolit. Hal ini diperkuat dengan keberadaan perangkat lunak mekanika kuantum yang dilengkapi visualisasi 2D dan 3D. Dalam industri kimia, kimia komputasi digunakan untuk mendesain proses kimia, mendesain pabrik kimia, memrediksi toksisitas bahan kimia, dan juga mendapatkan informasi yang berkaitan dengan keselamatan kerja. Komputasi molekular juga digunakan dalam pemodelan kimia atmosfer, yaitu keadaan spesies kimia setelah berada dalam atmosfer, yang tentunya sangat bermanfaat untuk kajian perubahan cuaca. Kemajuan dalam simulasi dan pemodelan, terutama kimia komputasi, dapat memberikan pengaruh yang berarti dalam menurunkan biaya dan waktu yang diperlukan untuk mendesain proses kimia dan senyawa baru. Pemodelan molekul yang akurat memungkinkan peneliti lebih cepat memrediksi sifat dan spesies kimia yang terlibat dalam suatu proses kimia. Desain katalis baru untuk suatu proses kimia akan menaikkan keunggulan produksi, mereduksi emisi dan limbah, serta membangun proses kimia yang berkategori green chemistry. Pemodelan dan simulasi akan memainkan peranan yang penting dalam pengembangan teknologi baru untuk produksi dan desain material/produk.

KOMPONEN KIMIA KOMPUTASI

Kimia komputasi menjelaskan sistem kimia pada berbagai skala ukuran, yaitu skala kuantum, skala atomik atau molekular, skala meso, dan jembatan antarskala.

Skala Kuantum

Skala kuantum menyelesaikan persamaan Schrödinger untuk gerakan elektronik dalam atom dan molekul dengan menggunakan metode orbital molekul dan DFT. Beberapa perangkat lunak kimia kuantum yang dikenal antara lain Gaussian, Games, Mopac, dan Turbomol yang tersedia untuk para akademisi dan industriawan melalui vendor komersial, atau dapat diperoleh secara gratis untuk institusi pendidikan. Hampir tidak ada bagian dalam kimia yang tidak dapat disentuh oleh kimia komputasi. Peningkatan berkelanjutan dalam teori dan algoritme sejalan dengan peningkatan ukuran sistem kimia

yang dapat dianalisis oleh kimia kuantum komputasional. Pada saat ini, metode perhitungan dengan menggunakan teori orbital molekul ab initio masih menghasilkan prediksi terbaik dari sifat molekular. Metode korelasi seperti teori coupled cluster dengan menggunakan himpunan basis yang besar dapat menghasilkan akurasi sifat kimia untuk molekul yang kecil. Perhitungan dengan DFT dan perlakuan korelasi yang lain menghasilkan prediksi yang lebih rendah, tetapi masih cukup bermakna untuk sistem kimia yang lebih besar. Perhitungan skala kuantum dapat memrediksi struktur molekul, energi ikatan, laju reaksi, dan data spektroskopi. Metode kimia komputasi pada skala kuantum ini mampu memrediksi geometri dan energi keadaan transisi untuk reaksi pada fase gas. Walaupun demikian, perhitungan yang harus dilakukan masih terlalu kompleks jika sistem reaksi yang dianalisis mempunyai efek pelarut yang tinggi. Perhitungan kimia komputasi dengan memasukkan efek pelarut masih membutuhkan waktu dan biaya yang besar, karena harus memperhitungkan konfigurasi dari semua molekul pelarut dalam sistem. Metode yang sering digunakan adalah model dielektrik kontinu yang mengeliminasi kebutuhan akan konfigurasi pelarut, tetapi dengan memasukkan cukup banyak parameter. Metode yang banyak dikembangkan saat ini adalah kombinasi perhitungan mekanika kuantum dan mekanika molekular yang dikenal dengan metode QM/MM (Armunanto et al. 2004).

Skala Atomik atau Molekular

Skala atomik atau molekular menghitung interaksi antaratom atau gugus menggunakan mekanika Newton klasik dan medan gaya yang dihasilkan dari data empiris (mekanika molekular). Pada skala molekular ini, perhitungan melibatkan sifat struktur, termodinamika dan transpor perpindahan massa dan panas , serta kebergantungan struktur pada perubahan waktu. Metode yang sering digunakan adalah simulasi Monte Carlo dan dinamika molekular yang hasil perhitungannya dapat digunakan untuk menjelaskan perilaku sistem kimia pada skala makroskopik. Banyak kelompok industri juga menggunakan metode ini, mulai dari komoditas bahan kimia sampai industri farmasi (Rode et al.

2005).

Salah satu konsekuensi dari beragamnya keperluan para peneliti ialah para peneliti pada skala atomik lebih banyak membuat perangkat lunak yang bersifat spesifik daripada yang bersifat komersial. Beberapa perangkat lunak yang digunakan dalam skala atomik atau molekular adalah Gromos, Amber, Charmm, dan Discover yang kebanyakan difokuskan pada sistem hayati dalam fase larutan dengan pelarut air. Komponen penting yang terus meningkat pada skala atomik adalah penyusunan potensial interaksi yang sesuai untuk berbagai senyawa dan kondisi tekanan/suhu. Potensial interaksi ini sangat penting dalam memrediksi sifat sistem kimia yang terkait dengan desain proses kimia dan produk. Perhitungan dengan sistem komputasi paralel banyak digunakan pada skala atomik untuk mengetahui gerakan molekul dalam sistem kimia, yang memerlukan kemampuan komputer tinggi. Sifat termofisika dari gas dapat diprediksi dengan akurasi yang tinggi berdasarkan potensial interaksi dimer dan teori transpor. Untuk sistem cairan, sifat termofisika dapat diprediksi menggunakan simulasi Monte Carlo atau dinamika molekular. Akurasi prediksi keduanya sangat bergantung pada mutu potensial interaksi yang digunakan (Pranowo 2003; Pranowo et al. 2006).

Skala Meso

Perhitungan skala meso menjelaskan kelakuan dan sifat sistem yang mencerminkan komposisi molekular suatu material. Perhitungan ini umumnya diterapkan pada sistem dengan jutaan atom, yang masih mencerminkan fenomena skala molekular. Penerapan hasil perhitungan pada tingkat molekular kepada permasalahan tingkat makrosopik sangat penting untuk mempelajari material seperti senyawa polimer dan katalis. Banyak sistem kimia mempunyai struktur yang lebih besar dibandingkan dengan yang dapat dipelajari pada skala atomik, dan ternyata memberikan pengaruh yang besar pada sifat

struktur pada skala makroskopik. Metode kimia komputasi pada skala meso masih sangat jarang. Beberapa metode pendekatan yang sering dilakukan adalah pemodelan statistika linear, model fraktal, model re-normalisasi, pendekatan kisi-Boltzmann, wavelets, dan teori medan rerata konsistem mandiri.

Jembatan Antarskala

Teknik jembatan antarskala adalah metode komputasi yang digunakan sebagai jembatan dari skala atomik ke skala meso, dan dari skala femtodetik ke menit atau jam. Tujuan teknik ini adalah menggunakan hasil perhitungan dari suatu skala sebagai input bagi perhitungan pada skala yang lain. Dua metode yang banyak dikaji adalah seamless data interfaces yang memungkinkan terjadinya interaksi antara perhitungan pada skala ukuran yang berbeda-beda (skala kuantum dan atomik) serta coarse-graining techniques, teknik yang memungkinkan untuk memperoleh informasi dari skala kecil untuk dimanfaatkan pada skala yang lebih besar.

HUBUNGAN KUANTITATIF STRUKTUR DAN AKTIVITAS (QSAR)

Hal yang penting dalam kimia adalah konsep yang menyatakan adanya hubungan antara sifat meruah dari senyawa dan struktur molekul senyawa tersebut. Hal ini penting dalam hubungan antara sifat makroskopis dan mikroskopis materi yang menjadi bahan kajian dalam bidang termodinamika statistik. Hal ini juga merupakan landasan berpikir untuk mengidentifikasi hubungan struktur molekul dengan aktivitas/sifat. Ada dua pendekatan yang tersedia untuk menentukan sifat fisika dan kimia. Yang pertama adalah menghitung secara langsung melalui penerapan metode mekanika kuantum dan mekanika klasik. Walaupun jumlah sifat yang dihasilkan dengan cara ini berkembang pesat, data tersebut masih cukup terbatas, terutama pada keterbatasan besarnya molekul yang dianalisis. Pendekatan kedua adalah penggunaan LFER dan hubungan kuantitatif aktivitas/sifat dengan struktur (quantitative structure-activity/property relationship, QSAR/QSPR) yang lebih bersifat empiris sehingga memerlukan data eksperimen sebagai himpunan penguji. Metode ini ternyata lebih fleksibel untuk menghitung sifat fisis, kimiawi, dan biologis. Deskriptor berdasar empiris masih banyak digunakan walaupun literatur saat ini dipenuhi oleh contoh QSAR/LFER dengan deskriptor yang diturunkan dengan perhitungan kimia komputasi (Hansch et al. 2002). Desain obat merupakan proses iteratif yang dimulai dengan penentuan senyawa yang menunjukkan sifat aktif biologis penting dan diakhiri dengan mengoptimumkan profil aktivitas molekul dan sintesis kimianya. Proses ini dapat berjalan jika kimiawan menghipotesiskan kaitan antara struktur kimia suatu molekul (sederet molekul) dan aktivitas biologis tertentu. Tanpa pengetahuan yang rinci tentang proses biokimia yang bertanggung jawab terhadap aktivitas, hipotesis umumnya akan diambil atas dasar kemiripan struktur dan perbedaan antara molekul aktif dan takaktif. Pemilihan senyawa untuk sintesis melibatkan keberadaan gugus fungsi atau konformasi tertentu dalam struktur molekul yang bertanggung jawab terhadap aktivitas (Hansch et al. 1996). Kebolehjadian kombinatorial dari strategi ini akan sangat besar sekalipun hanya berhadapan dengan sistem yang sederhana. Alternatif yang dapat ditempuh adalah bekerja secara intensif pada optimalisasi senyawa dalam molekul deskriptor yang dapat diprediksi sifatnya secara mudah. Perangkat QSAR dapat membantu menunjukkan sintesis kimia dari senyawa yang berdaya guna. Paradigma umum untuk menyatakan dan mengolah data adalah membuat tabel dan menyata- kan suatu senyawa pada setiap baris sesuai dengan sifat molekul (deskriptor) yang didefinisikan pada kolom yang berisi jenis senyawa. QSAR bermaksud mencari hubungan yang konsisten antara variasi harga suatu besaran sifat molekul dan aktivitas biologis untuk sederet senyawa sedemikian rupa sehingga “aturan” dapat digunakan untuk mendesain suatu bahan baru yang mirip dengan sederet molekul yang dimodelkan. Secara umum QSAR menyatakan bentuk persamaan linear sebagai berikut:

Aktivitas biologis = tetapan +(C 1 .P 1 ) +(C 2 .P 2 ) +(C 3 .P 3 ) + …

P i adalah parameter yang dihitung untuk setiap molekul dan C i merupakan koefisien yang dihitung dengan variasi fitting parameter dan aktivitas biologis. Hubungan ini secara umum dicari melalui penerapan teknik statistika, maka diperlukan pengetahuan statistika kimia yang memadai untuk memahami QSAR. Persamaan QSAR merupakan model linear yang menyatakan hubungan antara variasi aktivitas biologis dan variasi sifat yang dihitung (atau diukur) untuk sederet senyawa tertentu. Jika data aktivitas biologis telah terkumpul, sering didapati fakta bahwa data tersebut dinyata- kan dalam suatu besaran yang tidak dapat digunakan dalam analisis QSAR. QSAR didasarkan pada hubungan energi bebas dengan tetapan keseimbangan, maka data untuk mempelajari QSAR harus dinyatakan dalam besaran perubahan energi bebas yang terjadi pada proses respons biologis. Jika pengujian potensi suatu obat dinyatakan dengan suatu dosis tertentu yang dapat menghasilkan pengaruh biologis, maka perubahan energi bebas berbanding terbalik dengan logaritme konsentrasi senyawa. Pada tahun 1979, Marshall mengembangkan pendekatan 3-D untuk QSAR dengan secara eksplisit mempertimbangkan fleksibilitas konformasi dari suatu sederet yang diasumsikan oleh bentuk 3-D sistem kimia. Langkah awal dari pendekatan analog-aktif adalah pencarian konformasi senyawa yang mempunyai aktivitas sangat besar dalam uji biologis. Hasil pencarian ini dipetakan dari jarak antaratom yang digunakan sebagai penapis pencarian konformasi yang menggambarkan profil kemiripan aktivitas yang dapat diambil sebagai konformasi yang mirip. Jika konformasi aktif telah ditentukan, volume setiap molekul dihitung dan dibandingkan. Analisis regresi dari volume digunakan untuk menyatakan hubungan terhadap aktivitas biologis. Marshall mengomersialkan pendekatan analog-aktif ini dan teknik desain obat yang lain dalam program pemodelan molekul dengan nama Sybyl. Perkembangan penelitian dalam bidang QSAR telah banyak memberikan manfaat bagi industri farmasi, karena desain senyawa obat akan dapat dilakukan dengan akurasi yang tinggi. Hal ini akan memberikan kepastian bahwa rancangan jalur sintesis hanya dilakukan untuk senyawa yang secara teoretis telah diyakini mempunyai aktivitas seperti yang diinginkan, dan secara automatis telah menghilangkan langkah coba-coba dalam menentukan aktivitas suatu senyawa. Perlu ditekankan bahwa kajian QSAR harus disertai dengan penguasaan yang baik dalam bidang statistika secara spesifik tercakup dalam bidang kemometri serta keterampilan analisis dan sintesis senyawa, misalnya penguasaan dalam bidang retrosintesis.

CATATAN AKHIR

Kimia komputasi dapat membantu desain dan optimalisasi proses yang baru atau proses yang sedang berjalan maupun produknya. Kimia komputasi dapat mereduksi biaya pengembangan,

meningkatkan efisiensi energi dan daya guna lingkungan, serta menaikkan produktivitas dan keuntung- an. Walaupun kimia komputasi dapat diterapkan pada bidang industri, ukuran permasalahan industri yang dapat dimodelkan masih terbatas. Demikian pula validasi dan kesesuaian dari hasil pemodelan molekulnya. Hambatan yang lain adalah keterbatasan perangkat lunak komersial yang mudah digunakan oleh masyarakat. Keterbatasan ini disebabkan masih rendahnya kualifikasi masyarakat pengguna, sedikitnya peminat, serta kurangnya publikasi informasi dan pendidikan tentang keuntungan penggunaan kimia komputasi dalam bidang yang digeluti masing-masing individu. Idealnya, kimia komputasi dalam bidang industri harus

1. Dapat diterapkan pada sistem yang bervariasi, yaitu berlaku untuk sistem yang besar, waktu operasi yang panjang, sistem cairan atau padatan.

2. Fleksibel, dapat dijalankan pada berbagai platform komputasi (perangkat keras) dan perangkat lunak, dan didukung oleh visualisasi grafis yang memadai.

3.

Berkemampuan tinggi, mampu dijalankan pada desktop atau platform komputasi paralel berbiaya murah.

4. Mudah digunakan, mekanisme penggunaan yang sederhana dan sistem yang canggih untuk dapat digunakan oleh pengguna dengan kemampuan biasa.

5. Dapat divalidasi hasil perhitungannya secara eksperimental.

6. Termasuk dalam kurikulum pendidikan, dapat diberikan pada S1, S2, maupun S3 melalui kuliah atau praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Armunanto R, Schwenk CF, Rode BM. 2004. Gold(I) in liquid ammonia: Ab initio QM/MM molecular dynamics simulation. J Am Chem Soc 126:9934-9935. Hansch C, Hoekman D, Gao H. 1996. Comparative QSAR: Toward a deeper understanding of chemicobiological interactions. Chem Rev 96:1045-1075. Hansch C, Hoekman D, Leo A, Weininger D, Selassie CD. 2002. Chem-bioinformatics: comparative QSAR at the interface between chemistry and biology. Chem Rev 102:783-812. Hofer TS, Tran HT, Schwenk CF, Rode BM. 2004. Recent developments and challenges in chemical simulations. J Comput Chem 25:211-217. Pranowo HD. 2003. Monte Carlo simulation of CuCl 2 in 18.6% aqueous ammonia solution. Chem Phys

291:53-59.

Pranowo HD, Mudasir, Kusumawardani C, Purtadi S. 2006. The structure of Co 2+ in liquid ammonia:

Monte Carlo simulation including three-body correction. Chem Phys 291:53-59. Rode BM, Schwenk CF, Hofer TS, Randolf BR. 2005. Coordination and ligand exchange dynamics of solvated metal ions. Coord Chem Rev 249:2993-3006.

KINETIC STUDY OF ENZYMATIC HYDROLYSIS OF STARCH GRANULES AND CRYSTALLINE CELLULOSE

Hirosuke Tatsumi

Department of Bioscience, Fukui Prefectural University, Japan

of Bioscience , Fukui Prefectural University, Japan Kinetic Kinetic Study Study of of Enzymatic Enzymatic

KineticKinetic StudyStudy ofof EnzymaticEnzymatic HydrolysisHydrolysis ofof StarchStarch GranulesGranules andand CrystallineCrystalline CelluloseCellulose ———— daridari SingkongSingkong keke EtanolEtanol

Hirosuke Tatsumi

Department of Bioscience Fukui Prefectural University, Japan

SugarsSugars storedstored inin plantsplants

Mono- or di-saccharides Glucose (grape, water-melon, etc.) Sucrose (sugar-cane, sugar-beet, etc.) etc.

Polysaccharides Starch (grains, potatoes, etc.) Cellulose (all plants) etc.

DariDari singkongsingkong keke etanoletanol

Ethanol C 2 H 5 OH
Ethanol
C 2 H 5 OH
singkong singkong ke ke etanol etanol Ethanol C 2 H 5 OH Milling Starch (C 6

Milling

singkong ke ke etanol etanol Ethanol C 2 H 5 OH Milling Starch (C 6 H
Starch (C 6 H 10 O 5 ) n Hydrolysis Glucose C 6 H 12
Starch
(C 6 H 10 O 5 ) n
Hydrolysis
Glucose
C 6 H 12 O 6

Fermentation

RecyclingRecycling systemsystem ofof biomassbiomass

Photosynthesis Energy use
Photosynthesis
Energy use

H 2 O

+

CO 2

“Sugar chemistry” becomes more and more important for the effective use of biomass.

HowHow cancan wewe useuse sugarssugars asas energyenergy source?source?

(Direct combustion)
(Direct
combustion)

Heat and Light

Sugars Ethanol Electricity
Sugars
Ethanol
Electricity
(Makan!) Work
(Makan!)
Work

HydrolysisHydrolysis ofof starchstarch

Acid hydrolysis high energy cost (120150 o C) low product yield (byproduct: HCOOH etc.) corrosion of reactor

Enzymatic hydrolysis with amylases low energy cost (ca. 60 o C)

high product yield

HowHow amylasesamylases actact onon starchstarch granules?granules?

amylases act act on on starch starch granules? granules? Starch granule (barley) under enzymatic hydrolysis

Starch granule (barley) under enzymatic hydrolysis (Taniguchi et al.,1986)

Amylase Glc Glc Glc
Amylase
Glc
Glc
Glc

Glc

Glc

Glc

Glc

Starch surface

ReactionReaction modelmodel andand raterate equationequation

β E f (1) E ad k 1 E ad + S E ad S
β
E f
(1)
E ad
k
1
E ad + S
E ad S
(2)
k
−1
k
2
E ad S
E ad + P
(3)

E f ?free enzyme

E ad ?adsrobed enzyme

S?substrate (starch)

P?product (glucose)

Assuming that the Langmuir adsorption isotherm is valid for eq (1),

d[P]

d

v

v =

t

with

where

= v

max

1

β

[E ]

f

+

β

[E ]

f

max

k

0

=

=

k

k

1 + K

Γ

0

max

2

m

aS

,

and

K

m

=

k

1

+

k

1

k

2

β?adsorption coefficient Γ max ?saturation value of Γ a?specific surface area of substrate S?weight of substrate per volume

MonitoringMonitoring ofof glucoseglucose concentrationconcentration

Electrode Dialysis membrane Hydroqui Glucose 2e − none(HQ) Glucose oxidase Benzoqui (GOx) Glucono- none(BQ)
Electrode
Dialysis membrane
Hydroqui
Glucose
2e −
none(HQ)
Glucose
oxidase
Benzoqui
(GOx)
Glucono-
none(BQ)
lactone
E = 0.6 V
10% BQ-
mixed
carbon paste
GOx
Teflon tube
3 mm
Nylon net
Dialysis

membrane

Glucose sensor

Glucose sensor Ag | AgCl electrode 0.1 M KCl Pt Stirrer (500 rpm) Water (25
Glucose sensor
Ag | AgCl electrode
0.1 M KCl
Pt
Stirrer (500 rpm)
Water
(25 o C)

0.1 M Acetate buffer (pH 5.0) 0.0250.25 g cm 3 Raw starch

buffer (pH 5.0) 0.025 − 0.25 g cm − 3 Raw starch Kinetic Kinetic measurement measurement

KineticKinetic measurementmeasurement ofof rawraw starchstarch hydrolysishydrolysis catalyzedcatalyzed byby glucoamylaseglucoamylase

Glucoamylase 0.25 (Rhizopus sp.) 0.020 mg cm −3 Soluble starch + g cm −3 Raw
Glucoamylase
0.25
(Rhizopus sp.)
0.020
mg cm −3 Soluble starch +
g cm −3 Raw starch (fraction IV)
2 U/mL
1
0.25
mg cm −3 Soluble starch
0.5
0.020
g cm −3 Raw starch (fraction IV)
The rate of the hydrolysis
1 min
can be determined even if
0
the suspension contains
soluble starch.
I / µA

OurOur approachapproach

Although many reports have appeared on starch granule hydrolysis, quantitative kinetic analyses have not been provided. Electrochemical measurements have advantages of being free from the influence of turbidity and coloration of a test solution. In the present work, an amperometric glucose sensor has been introduced to study the kinetics of enzymatic hydrolysis of raw starch granules by glucoamylase in a thick starch suspension.

StarchStarch granulesgranules fromfrom corncorn The scale of each picture is 170 µm × 130 µm.
StarchStarch granulesgranules fromfrom corncorn
The scale
of each
picture is
170 µm ×
130
µm.
CurrentCurrent responseresponse ofof thethe glucoseglucose sensorsensor
0.3
0.2
Glucose
0.2
0.1 mM
0.1
0.1
0.0
0
0
100
200
300
400
500
0
0.2
0.4
0.6
t / s
[Glc] / mM
I / µA
I s / µA

Sensitivity: 0.39±0.02 µA mM 1

DependenceDependence ofof vv onon [[EE ff ]]

0.04 0.02 0 0 0.2 0.4 0.6 v / mM min −1
0.04
0.02
0
0
0.2
0.4
0.6
v / mM min −1

[E f ] / µM Plot of v vs [E f ] obtained with fraction IV (a = 2200 cm 2 g 1 ) of S = 0.010 g

cm 3 .

β [E ] f v = v max 1 + β [E ] f
β [E ]
f