Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Penyakit trofoblas gestasional (PTG) adalah sekelompok penyakit yang berasal dari

khorion janin. Berdasarkan gambaran proliferasi abnormal trofoblas pada pemeriksaan


patologi anatomi, PTG terdiri dari mola hidatidosa, korio adenoma destruen (mola invasif),
koriokarsinoma dan plasental site trophoblastic tumor.1 Mola hidatidosa sebagai penyakit
trofoblas gestasional jinak dibagi atas mola komplit dan mola parsialis yang dapat dibedakan
secara makros dan histopatologis1,2
Mola Hidatidosa di masyarakat umum dikenal dengan kehamilan anggur. Prevalensi
insiden mola hidatidosa bervariasi dari populasi yang ada diberbagai negara. Dari data yang
ada, di Amerika Serikat 1:1000 kehamilan, Eropa 1:2000 kehamilan. Asia berkisar 1:500
kehamilan yang mana di Asia Tenggara angka kejadian 8 kali lebih lebih besar. Biasanya lebih
sering terjadi pada usia reproduktif (15-45 tahun), dan pada multipara. Jadi dengan
meningkatnya paritas kemungkinan menderita mola akan lebih besar.3
Kasus mola hidatidosa dapat terjadi berulang pada kehamilan berikutnya , disebut
mola hidatidosa berulang (recurrent hydatidiform mole) yang mana terjadi secara berturutturut atau diselingi oleh kehamilan normal. Resiko terjadi mola hidatidosa berulang sekitar 1 :
100 kehamilan mola dan kejadiannya berkisar antara 0,6 % - 2,57 % terutama pada mola
hidatidosa komplit.1,3
Berdasarkan penjelasan di atas besar persentase kasus mola hidatidosa pada wanita
mendasari study kasus ini untuk mengkaji lebih dalam mengenai salah satu penyakit kelainan
trofoblas.
1.2

Tujuan
Tujan dalam penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui dan memahami kasus mola

hidatidosa dari segi klinis dan kedokteran keluarga


1.3

Manfaat
Menambah pengetahuan medis terhadap penyakit mola hidatidosa dari segi klinis dan

kedokteran keluarga
BAB II
LAPORAN KASUS
1

2.1. IDENTITAS PENDERITA


Nama

: Ny. A.

Umur

: 23 tahun

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Alamat

: Jln MT Haryono

No RM

: 09-02-40

MRS tanggal

: 1 Desember 2013

KELUHAN UTAMA
Keluar bercak darah dari vagina

ANAMNESA

Keluhan Utama
Keluar bercak darah dari vagina
Harapan
:Pasien berharap agar keluhannya bisa cepat sembuh
Kekhawatiran
:Bila keluhannya menjadi parah dan terjadi apa-apa dengan dirinya
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan setelah terpeleset keluar bercak darah dari vagina. Selain itu
pasien mengeluh perut terasa kencang serta keluar sedikit gumpalan. Riwayat pingsan, jantung
berdebar, keringat dingin malam hari disangkal oleh pasien. BAK dan BAB pasien normal.
Pasien merasa semakin gemuk, sehingga pasien melakukan diet ketat beberapa bulan terakhir
setelah berhenti KB. Pasien mengatakan belum pernah melakukan tes kehamilan sejak
menstruasi terakhir. Selain itu pasien juga mengeluh mual dan muntah sejak beberapa hari yang
lalu
Riwayat Penyakit Dahulu
-

Riwayat sakit serupa


: disangkal
Riwayat DM
: disangkal
Riwayat penyakit jantung : disangkal
Riwayat hipertensi
: disangkal
Riwayat alergi obat
: disangkal
Riwayat alergi makanan : disangkal
Riwayat MRS : pernah (GEA, ISK)
Riwayat Kuratse : (+)

Riwayat Penyakit dalam Keluarga


2

- Riwayat keluarga dengan penyakit serupa


: disangkal
- Riwayat hipertensi
: disangkal
- Riwayat DM
: disangkal
- Riwayat penyakit jantung : disangkal
- Riwayat penyakit paru : disangkal
Riwayat Kebiasaan
- Riwayat merokok dan minum kopi: suami merokok 5 batang per hari hanya diluar rumah.
- Riwayat minum alkohol : disangkal
- Riwayat olahraga
: jarang
- Riwayat pengisian waktu luang : bersih-bersih di rumah bersama keluarga
Riwayat Gizi
Penderita makan sehari-hari biasanya 3 kali dengan nasi sepiring, lauk pauk tahu, tempe, ayam,
daging, ikan, sayur, buah. Tapi pasien sedang kondisi diet ketat untuk menurunkan berat
badannya.
Riwayat Obstetri
Anak:
1. kuretase
2. Laki laki, BBL 2800 gr, aterm, spontan, spesialis, 4 tahun
Riwayat Menstruasi
Pasien mengalami menstruasi pertama kali umur 11 tahun, teratur dengan siklus antara 28 30
hari, lama menstruasi 6 7 hari. Pasien menyangkal merasa nyeri pada saat menstruasi.
HPHT : 4 9 - 2013
Riwayat kontrasepsi
Pasien pernah menggunakan KB suntik, lalu siklus menstruasi jadi tidak tereatur. Pasien lalu
berhenti menggunakan KB suntik sejak 9 bulan yang lalu

Review of Sistem
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Kulit
: kulit gatal (-), bintik merah di kulit (-)
Kepala
: pusing (+), rambut rontok (-), luka (-), benjolan (-)
Mata
: merah (-/-), katarak (-/-)
Hidung
: tersumbat (-/-), mimisan (-/-), sekret/rhinorrea (-/-)
Telinga
: Cairan (-/-), nyeri (-/-)
Mulut
: Sariawan (-), mulut hiperemis (-)
Tenggorokan: Sakit menelan (-), serak (-), ada rasa tersendat (-)
Pernafasan : Sesak nafas (-), batuk (-), mengi (-)
Kardiovaskuler : Berdebar-debar (-), nyeri dada (-),
Gastrointestinal : Mual (+), muntah (+), diare (-), nyeri perut (-) , kembung (-), BAB

11. Genitourinaria
12. Neurologic

(-), perut trasa kenceng (+)


: BAK (normal), keluar darah dari vagina (+),
: Kejang (-), lumpuh (-), kaki kesemutan (-)
3

13. Muskuluskeletal : Kaku sendi (-), nyeri sendi (-), nyeri otot (-)
14. Ekstremitas :
a. Atas kanan : bengkak (-), hangat (-), pucat (-), luka (-), dingin (-)
b. Atas kiri
: bengkak (-), hangat (-), pucat (-), luka (-), dingin (-)
c. Bawah kanan: bengkak (-),hangat (-), pucat (-), luka (-), dingin (-)
d. Bawah kiri : bengkak (-),hangat (-), pucat (-), luka (-), dingin (-)
2.2 PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum

: keadaan umum tampak sakit ringan, kesadaran compos mentis (GCS

2. Atropometri

E4V5M6), status gizi kesan over weight.


: BB = 66 kg
TB = 160 cm
BMI = BB/TB225,78 (over weight)

3. Tanda vital

: Tensi = 100/70 mmHg


To = 36,5 oC
HR = 80 x/mnt
RR = 22x/mnt
4. Kepala dan wajah : bentuk kepala mesocephal, luka (-), keriput (-), warna kulit kuning,
papul (-), nodul (-), makula (-)
: warna kelopak putih, radang (-/-), eksoftalmus (-), strabismus (-)
: nafas cuping hidung (-/-), rhinorrhea (-/-), epistaksis (-), deformitas hidung(-)
: mukosa bibir pucat (-), sianosis bibir (-)
: otorrhea (-/-), kedua cuping teling normal
: lesi kulit (-), pembesaran kelenjar tiroid (-), pembesaran KGB (-)
: bentuk normal, simetris

5. Mata
6. Hidung
7. Mulut
8. Telinga
9. Leher
10. Thorax
Cor :
Inspeksi : Palpasi : Perkusi : batas kiri atas
:Batas kanan atas
:Batas kiri bawah
:Batas kanan bawah : Auskultasi : Pulmo :
Inspeksi : pengembangan dada kanan sama dengan dada kiri
Palpasi : fremitus taktil kiri sama dengan kanan
Perkusi : sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi :
+ +
suara dasar vesikuler
+
wheezing ronkhi basah & kering
+ +
- 2.

Abdomen
Inspeksi : bentuk simetris, tidak terlihat cembung (-)
Palpasi : supel, hepar dan lien tdk teraba, turgor baik, nyeri tekan (-)
Perkusi : timpani seluruh lapangan perut (-)
Auskultasi : peristaltik (+) normal (-)
4

3. System Collumna Vertebralis:


Inspeksi : skoliosis (-), kifosis (-), lordosis (-)
13. Ekstremitas : palmar eritem (-)
Akral dingin

Oedem

L : deformitas (-), luka (-)


F : nyeri tekan (-), krepitasi (-)
M: normal
4. Sistem genitalia : dalam batas normal
5. Pemeriksaan neurologis:
kesadaran : composmentis
fungsi sensorik

fungsi motorik
5

Kekuatan

tonus

Ref.Fisiologi Ref.Patologis

6. Pemeriksaan psikiatri
Penampilan : perawatan diri baik
Kesadaran : kualitatif tidak berubah, kuantitatif composmentis
7.

Pemeriksaan Gynekologi
Inspekulo : portio livide (+)
VT (-)

8.

Pemeriksaan Obstetri
TFU
: (-)
HPHT
: 4-9-2013
UK
: (-)
VT
: (-)
Pelepasan: darah dan jaringan sedikit

Diagnosa banding :

- Abortus imminen
- Kehamilan ektopik
- Mola Hidatidosa

2.3 PEMERIKSAAN PENUNJANG


USG (30-11-2013)
Tampak gambaran multivesikuler bentuk dan besar seperti sarang tawon
Kesimpulan : Suspect Mola Hidatidosa

Pemeriksaan Plano Test : (+)

Darah Lengkap (1-12-2013)


Tabel .1 Darah lengkap
Pemeriksaan

1 Desember
2013

Jumlah sel darah


- Hemoglobin (g/dl)
12,2
-hematokrit (%)
37,0
-leukosit (ribu/uL)
+10,76
-trombosit (ribu/uL)
340
-eritrosit (juta/uL)
4,19
-PDW (fL)
12,0
-MPV (fL)
7,94
-PCT (%)
0,3
Index
-MCV (%)
88,3
-MCH (pg)
29,1
-MCHC (%)
33,0
Differential
-Basofil (%)
0,0
-Eosinofil (%)
2,8
-Limfosit (%)
- 26,5
-Monosit (%)
6,8
-Netrofil (%)
63,9
Large imm, cell (%)
0,9
Atyp. Limfosit (%)
0,1
Jumlah total sel
Lymp # (ribu/uL)
2,85
Total basofil (ribu/uL)
0,00
Total monosit (ribu/uL)
0,73
Total eosinofil (ribu/uL)
0,30
Total neutrofil (ribu/uL)
6,88
Total large imm cell (ribu/uL)
0,10
Total atyp limfosit (ribu/uL)
1,25

Normal
13,0-18
40-45
3,8-10,6
150-440
4,5-8,5
9-13
7,2-11,1
80-100
26-34
32-36
0-1
1-6
30-45
2-8
50,70

RESUME
KU : Keluar bercak darah dari vagina

K. Penyerta : perut terasa kencang dan keluar sedikit gumpalan serta mual dan muntah
(+)
RPD : pernah kuret anak1
R. pengobatan : R. Obstetri : An. Laki-laki, BBL 2800 gr, aterm, spontan, spesialis, 3 tahun
P. Fisik Ginekologi :
Inspekulo :Porsio livide (+)
P. Penunjang :
Darah lengkap: Pemeriksaan laboratorium didapatkan leukosistosis, Sedangkan limfosit
mengalami penurunan
USG : Tampak gambaran multivesikuler bentuk

dan besar seperti sarang tawon

Plano test (+)


Kesimpulan : Suspect Mola Hidatidosa
2.4 DIAGNOSA
Mola Hidatidosa
2.5 PENATALAKSANAAN
Tx

: Asam mefenamat 3 x 500 mg


Konsul TS Anestesi
Kuretase

KIE : Rencana tindakan pada pasien dan keluarga

2.6 RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT


Tabel.2 Riwayat perjalanan penyakit
No
1.

Tanggal
14/11/13

S
Pasien datang

Vital sign:

ke Poli

TD: 100/70 mmHg,

Kandungan

RR:20x/menit

untuk periksa

HR: 78 x/menit

karena habis

T: 36,5 oC

jatuh terpeleset.
Pasien

P
USG Abdomen

HCG (+)

mengatakan ada

Status general : DBN

keluar bercak

Status ginekologi :-

darah dari
vagina setelah
terpeleset.
7

2.

30/11/13

gumpalan

Vital sign:

Mola hidatidosa

suction kuretase tanggal

seperti

TD: 100/70 mmHg,

1 12 2013

keputihan (+),

RR: 22x/menit

KIE : Pasien dan keluarga

keluar bercak

HR:80 x/menit

tentang rencana tindakan.

darah (+)

T: 36,5 C
Status general : DBN
Status ginekologi :USG : ditemukan gambaran
multivesikuler bentuk dan
besar sepereti sarang tawon

3.

1/12/13

nyeri

perut

kencengkenceng

(+),

perdarahan
pervaginam (+),
gumpalan putih
pervaginam (+)

Vital sign:

Mola hodatidosa

IVFD RL 30 tpm

TD: 100/70 mmHg,

pro kuretase

Inj. Ranitidin (jam 18.00)

RR: 22x/menit

Inj. Primperan (jam 18.00

HR: 80 x/menit

Suction

T: 36,5 C

Pdx : periksa PA

Status general : DBN

Obv. Vital Sign


KIE

1/21/213

Vital sign:

Post-operative

RL 30 tpm

21.45

TD: 100/70 mmHg,

suctioncurretase

Cefadroxil 2 x 500 mg

RR: 22x/menit

mola hidatidosa

Sanmol 3 x 500 mg

HR: 89 x/menit

Metilat 2 x 1 (0,125 mg)

T: 36,5 C

Vitamulti 1 x 1
Asam Mefenamat 3 x 500

Status general : DBN


Status

ginekologi

mg
:

(-)

Obv. Keluar fluksus, dan

Dilakukan suctioncurretase :

Vital Sign

didapatkan jaringan normal,

KIE : Kontrol lagi 1

gelembung mola (+)

5.

(jam

19.00)

Status ginekologi :-

4.

kuretase

7/12/13

Masih
bercak darah

ada

minggu

Vital sign:

Post-operative

Pdx : PA (Mola hidatidosa

TD: 100/60 mmHg,

suctioncurretase

proliferasi sedang)

RR:

mola hidatidosa 1

Tx : RL 20 tpm

HR:

Inj. Otogenta 80 mg

T:

Pro curetase

Ginekologi :

Obv.Fluksus,Keluhan,
Vital

Sign Bila stabil


8

Vagina : bercak darah (+)

boleh pulang

WBC

: 7,17 ribu/UL

MCV

: 88,2 fL

RBC

: 3.82 juta/UL

MCH

: 29,8 pg

HGB

MCHC

: 33,8 %

HCT

MPV

: 8.19 fL

11.4
33,7

KIE

g/Dl
%

2.7 Resume
Pasien perempuan, 23 tahun datang ke BKIA RSI Unisma pada tanggal 1 Desember 2013
dengan keluhan keluar bercak darah dari vagina. Selain itu pasien juga mengeluh perut terasa
kenceng-kenceng dan juga ada gumpalan putih dari vagina. Sebelumnya pasien telah
memeriksakan diri di dokter spesialis kandungan dan didiagnosa suspect mola hidatidosa.Pada
pemeriksaan fisik didapatkan Nadii 80x/menit, TD 100/70mmHg, RR 22x/menit, Tax 36,5oC.
2.8 Diagnosis Holistik
Diagnosis dari segi biologis
Mola Hidatidosa
Diagnosis dari segi psikososial
Pasien tinggal serumah bersama suami, dan anak pertama. Sehari-hari pasien beraktivitas
sebagai ibu rumah tangga pada umumnya. Hubungan dengan anggota keluarga berjalan
baik dan tidak ada masalah.
Diagnosis dari segi sosial
Keluarga ini tidak mempunyai kedudukan sosial tertentu dalam masyarakat, hanya sebagai
anggota masyarakat biasa. Pasien banyak beraktivitas diluar sebagai IRT dan rajin
mengikuti kegiatan masyarakat.
Aspek Klinis :
Mola Hidatidosa
Aspek Resiko Internal :
Pasien pernah kuretase
Aspek Resiko Eksternal :
Pasien melakukan diet ketat untuk menurunkan berat badan, tanpa menyadari bahwa
sedang dalam kondisi hamil.
9

Aspek Fungsional :
Derajat 2. Pasien masih mampu melakukan aktivitas seperti sebelum sakit.
2.9 Penatalaksanaan
-

Planning Terapi
o Non Farmakoterapi
Edukasi
1. Anjurkan untuk makan dengan takaran gizi 4 sehat 5 sempurna
2. Bila terjadi keluhan yang terkait dengan penyakit, segera konsultasikan ke dokter atau
ke tempat pelayanan kesehatan terdekat.
3. Hindari diet ketat.
4. Tidak melakukan hubungan badan minimal 40 hari setelah operasi, sedangkan untuk
hamil lagi harus menunggu minimal 3 bulan.
Terapi Nutrisi Pasca Operasi

Analisa dan Pola Pengaturan Gizi :


Perhitungan BMR dengan rumus Harris Benedict
665 + (9,6xBB) + (1,7xTB) - (4,7xU)
= 665 + (9,6x66) + (1,7x160) (4,7x23)
= 1.470 kkal
Kebutuhan kalori terkait aktivitas dan stress:
-

Aktifitas istirahat di tempat tidur (faktor: 1,2)


Trauma stress ringan: (faktor: 1,2)
Pos operatif (faktor: 1,1)
Kalori = BMR x faktor aktifitas x faktor stress
= 1470 x 1,2 x 1,2 x 1,1 = 2.328 kkal

Kalori ini dibagi dalam 3 porsi besar dan 2 porsi tambahan, yakni:
Makan pagi 20% = 465,6 kalori
Makan siang 30% = 698,4 kalori
Makan malam 25% = 582 kalori
Asupan di sela makan pagi dan siang 10% = 232,8 kalori
Asupan di sela makan siang dan malam 15% = 377,28 kalori
Tabel 3. Distribusi makanan setiap waktu makan:
Waktu makan
Pagi

Karbohidrat 65%
302,64 kalori

Protein 25%
116,4 kalori

Lemak 10%
46,56 kalori

Total
465,6

Siang

453,96 kalori

174,6 kalori

69,84 kalori

kalori
698,4

Malam

378,3 kalori

145,5 kalori

58,2 kalori

kalori
582
kalori
10

o Farmakoterapi
R/

Sefadroksil 2x500
tiap kapsul mengandung cefadroxil monohydrate
Indikasi: Cefadroxil diindikasikan untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh
mikroorganisme yang sensitif seperti: Infeksi saluran pernafasan : tonsillitis, faringitis,
pneumonia, otitis media. Infeksi kulit dan jaringan lunak. Infeksi saluran kemih dan
kelamin. Infeksi lain: osteomielitis dan septisemia.
Efek Samping: Gangguan saluran pencernaan, seperti mual, muntah, diare, dan gejala
kolitis pseudomembran. Reaksi hipersensitif, seperti ruam kulit, gatal-gatal dan reaksi
anafilaksis.
Efek samping lain seperti vaginitis, neutropenia dan peningkatan transaminase.
Kontraindikasi: Penderita yang hipersensitif terhadap sefalosporin.
Dosis:
Dewasa:Infeksi saluran kemih : 1 - 2 gram / hari dalam dosis tunggal atau terbagi.
Biasanya 2 gram perhari dalam dosis terbagi. Infeksi kulit dan jaringan lunak : 1 gram /
hari atau 500 mg / 12 jam. Faringitis, tonsillitis yang disebabkan oleh Streptococcus haemolyticus : 1 gram / hari dalam 2 dosis terbagi diberikan selama 10 hari. Infeksi
ringan : 1 gram / hari dalam dosis terbagi dua (2 x 500 mg). Infeksi sedang sampai
berat : 1 - 2 gram / hari dalam dosis terbagi 2 (500 mg 1 gram tiap 12 jam).
Anak-anak : 30 mg / kg BB / hari dalam dosis terbagi tiap 12 jam.
Sediaan: Cefadroxil 125 mg / 5 mL, sirup kering, dalam botol 60 mL. Cefadroxil 250
mg kapsul (1 box berisi 5 strip @ 10 kapsul). Cefadroxil 500 mg kapsul (1 box berisi 5
strip @ 10 kapsul).

Asam Mefenamat 3x500


Asam mefenamat 500 mg
Indikasi: Meredakan nyeri ringan sampai sedang sehubungan dengansakit kepala,sakit
gigi,dismenore primer, termasuk nyeri karenatrauma,nyeri ototdannyeri sesudah oprasi.
Efek Samping: sistem pencernaan :mual, muntah, diare dan rasa sakit pada abdominal.
Sistemhematopoetik:leukopenia,

eosinophilia,

trombocytopenia,

dan

agranulocytopenia. Sistem saraf:rasa mengantuk, pusing, penglihatan kabur dan


insomnia.
11

Kontraindikasi: Pasien yanghipersensitifterhadap Asam Mefenamat. Pasien yang


denganaspirinmengalamibronkospasme,alergi
dengantukak

lambungdanusus.

Penderita

rhinitisdanurtikaria.
denganganguan

Penderita

ginjalyang

berat.

Dosis: Asam Mefenamat 250 mg dan 500 mg, kotak, 10 strip x 10 tablet.

Sanmol 3 x 500 mg
parasetamol
Indikasi: Meredakan nyeri termasuk sakit kepala, sakit gigi, demam yang menyertai flu
dan setelah imunisasi
Efek Samping: Reaksi hematologi, reaksi kulit dan reaksi alergi lainnya
Kontraindikasi: Disfungsi hati dan ginjal
Pemberian obat : sesudah makan
Dosis: Dewasa : 1-2 tablet. Anak : -1 tablet.
Kemasan : tablet 500mg x4 x25

Metilat 2 x 1
Tiap tablet mengandung : Methylergometrine maleat. 0,125 mg.
Indikasi: Melancarkan kala 3 pada partus, Perdarahan uterus setelah placenta lepas,
atoni uterus subinvolusi uterus pada puerperium lokhiometra, Perdarahan uterus
karena pembedahan caesaria, Perdarahan uterus karena abortus.
Efek Samping: Mual, muntah-muntah dan sakit perut dapat terjadi pada pem-berian
dosis yang besar. Hipertensi jarang dilaporkan timbul nya kelainan-kelainan kulit, nyeri
kepala atau reaksi kardiovas kuler seperti hipertensi, vertigo, tachikardia, bradikardia.
Kontraindikasi: Kehamilan, kala satu dan kala dua partus sebelum korona kepala
terlihat: inersia uterus primer dan sekunder, hipertensi, toksemia, hipersensitivitas.
Dosis: Melancarkan kala 3 : im. 1/2 sampai 1 ml. (0,1-0,2 mg) setelah kepala atau bahu
anterior keluar atau selambat-lambatnya segera setelah bayi dilahirkan. Kala tiga pada
partus dengan anestesi umum : 1 ml. Seksio caesaria : setelah bayi dikeluarkan secara
ekstraksi i.m. 1 ml. atau i.v. 1/2 sampai 1 ml intramural. Membantu involusi uterus : 1
tablet 3 kali sehari, umumnya selama 3 - 4 hari. Perdarahan puerperal, subinvolusi,
lokhiometra : 1 atau 2 tablet 3 kali sehari atau im. 1/2 - 1 ml. atau 1 tablet setiap 2 - 4
jam, apabila diperlukan.
Kemasan : Doos 10 strip 10 tablet

12

Vitamulti 1 x 1
Vitamin A 6000 iu, vitamin B1 10 mg, vitamin B2 2 mg, vitamin B6 2.5 mg, vitamin
B12 4 mcg, vitamin C 100 mg, vitamin D3 400 iu, nicotinamide 20 mg, Ca
pantothenate 7.5 mg, folic acid 0.4 mg, Fe fumarate 90 mg, Ca lactate 250 mg, vitamin
E 10 mg, Fe fumarate 90 mg, copper sulphate 0.15 mg, K iodide 0.1 mg
Indikasi: Suplemen untuk ibu hamil dan laktasi
Pemberian obat : Dapat diberikan bersama makanan agar diabsorpsi lebih baik atau jika
timbul rasa tidak nyaman pada GI
Dosis: 1 kaplet/hari
Kemasan : Kaplet 100

Ceftriaxone 2x1 gr
Ceftriaxone 1 gram injeksi
Indikasi: Infeksi-infeksi yang disebabkan oleh patogen yang sensitif terhadap
Ceftriaxone, seperti: infeksi intra abdominal, profilaksis perioperatif, dan infeksi pada
pasien dengan gangguan pertahanan tubuh.
Kontraindikasi: Hipersensitif terhadap cephalosporin dan penicillin (sebagai reaksi
alergi silang)
Efek samping: Ggn GI, reaksi kulit, hematologi, sakit kepala, pusing, reaksi
anafilaktik, nyeri di tempat suntik (IM), flebitis (IV). Reversibel.
Dosis: Dewasa dan anak > 12 tahun dan anak BB > 50 kg : 1 - 2 gram satu kali sehari.
Pada infeksi berat yang disebabkan organisme yang moderat sensitif, dosis dapat
dinaikkan sampai 4 gram satu kali sehari. Bayi 14 hari : 20 - 50 mg/kg BB tidak boleh
lebih dari 50 mg/kg BB, satu kali sehari. Bayi 15 hari -12 tahun : 20 - 80 mg/kg BB,
satu kali sehari. Dosis intravena > 50 mg/kg BB harus diberikan melalui infus paling
sedikit 30 menit.
Sediaan: Vial 1 gram x 2.

Primperan
Metoclopramide HCl
Indikasi : Gangguan saluran cerna, mual dan muntah akibat obat, anoreksia, kembung,
ulkus peptikum, stenosis piloris (ringan), dispepsia, epigastralgia, gastroduodenitis,
travel sickness, morning sickness, endoskopi, dispepsia pasca gastektomi, dan intubasi.
Kontraindikasi: Merangsang motilitas GI seperti obstruksi intestinal, epilepsi,
feokromositoma

13

Efek samping: Mengantuk, sakit kepala, depresi, gelisah, reaksi ekstrapiramidal,


pusing, lelah, hipertensi, gangguan GI.
Dosis: Tablet : Dewasa : 10 mg 3 kali/hari . Sirup : Dewasa : 1-2 sendok takar 3
kali/hari. Anak 5-15 tahun : 0.5 mg/kg berat badan/hari dalam dosis terbagi. Drops
Anak < 5 tahun : 0.1 mg/kg berat badan 3 kali/hari atau 0.5 mg/kg berat badan/hari
dalam beberapa dosis. Ampul : Dewasa : 1 ampul 3 kali/hari.
Sediaan: Ampul 10 mg/2 mL x 6.

Ringer Laktat (RL)


(mmol/100ml) : Na = 130-140, K = 4-5, Ca = 2-3, Cl = 109-110, Basa = 28-30 mEq/l.
Cara Kerja Obat : keunggulan terpenting dari larutan Ringer Laktat adalah komposisi
elektrolit dan konsentrasinya yang sangat serupa dengan yang dikandung cairan
ekstraseluler. Natrium merupakan kation utama dari plasma darah dan menentukan
tekanan osmotik. Klorida merupakan anion utama di plasma darah. Kalium merupakan
kation terpenting di intraseluler dan berfungsi untuk konduksi saraf dan otot.
Elektrolit-elektrolit ini dibutuhkan untuk menggantikan kehilangan cairan pada
dehidrasi dan syok hipovolemik termasuk syok perdarahan.
Indikasi : mengembalikan keseimbangan elektrolit pada keadaan dehidrasi dan syok
hipovolemik. Ringer laktat menjadi kurang disukai karena menyebabkan hiperkloremia
dan asidosis metabolik, karena akan menyebabkan penumpukan asam laktat yang tinggi
akibat metabolisme anaerob.
Kontraindikasi : hipernatremia, kelainan ginjal, kerusakan sel hati, asidosis laktat.
Adverse Reaction : edema jaringan pada penggunaan volume yang besar, biasanya
paru-paru.
Peringatan dan Perhatian : Not for use in the treatment of lactic acidosis. Hati-hati
pemberian pada penderita edema perifer pulmoner, heart failure/impaired renal
function & pre-eklamsia.
Kemasan : 500, 1000 ml.
Tabel. 4 Kebutuhan Cairan Ny.A

Kebutuhan cairan
=50cc/kgBB/24 jam

Kebutuhan cairan Ny.A


Kebutuhan natrium
=3-5 mEq/kgBB/24 jam

T/M
Otsuka (3300 x 15)/24 x 60

=50cc x 66/24jam

= 3-5 mEq x 66/24 jam

= 49.500/1.440

=3300cc/24 jam

=198 330

= 34

FOLLOW UP
Tabel 5. Follow Up Ny. A
14

Tanggal
1/12/13

nyeri perut kencengkenceng (+), perdarahan

O
Pem. Fisik

A
Ddx : -Mola

Pre op

KU: tampak sakit

Hidatidosa

Infuse :

sedang

-RL 30 tpm

Kesadaran: CM, GCS

Injeksi :

(E4V5M6)

-ceftriaxone 2x1g

pervaginam (+), mual

T: 100/70 mmHg

-primperan bolus

muntah (+)

N: 80 x/menit

pelan-pelan

R: 22x/menit

Rencana operasi

pervaginam (+),
gumpalan putih

Tax: 36,5 C

suctioncuretasei jam

Status generalis :

19.00 WIB

Tidak ada data


Status lokalis : nyeri

Post op
Infuse :
-RL 30 tpm
Injeksi :
Cefadroxil 2 x 500 mg
Sanmol 3 x 500 mg
Metilat 2 x 1
Vitamulti 1 x 1
Asam Mefenamat 3 x 500 mg

Obv. Fluksus
1/12/13

Pusing (-), bercak darah (+)

Pem. Fisik

-post

Jam

KU: tampak sakit

suctioncuretase e.c

Pasien boleh pulang

21.45

sedang

mola hidatidosa

jika VS stabil dan

Kesadaran: CM

pusing(-)

GCS (E4V5M6)
Lab PA
T: 110/70 mmHg
N: 89 x/menit

KIE :

R:tidak ada data

Tax: 36,5 C

Kontrol lagi
untuk mengetahui
perkembangan

7/12/13

Bercak darah pervagina (+),

Pem. Fisik

-post

Injeksi :

Hasil PA (mola hidatidosa

KU: tampak sakit

suctioncuretase e.c

-ottogenta 80mg

proliferasi sedang)

ringan

mola hidatidosa

Kesadaran: kompos

Pre op

mentis, GCS

Infuse :

(E4V5M6)

-RL 30 tpm

T: 110/60 mmHg

Injeksi :

N: 87 x/menit

-ceftriaxone 2x1g

R: tidak ada data

-primperan bolus
15

Tax: 36,50C

pelan-pelan
Rencana operasi

St. General

suctioncuretasei II jam

Status lokalis : pervag

16.00 WIB

(+) sedikit
Post op
Infuse :
-RL 30 tpm
Injeksi :
Amoxicilin 3 x 500 mg
Metilat 2 x 1
Vitamulti 1 x 1
Asam Mefenamat 3 x 500 mg

Obv. Fluksus dan VS


Boleh pulang bila VS
stabil

BAB III
IDENTIFIKASI FUNGSI-FUNGSI KELUARGA
Karakteristik Demografi Keluarga
Nama Kepala Keluarga

: Tn. A

Alamat Lengkap

: Jl. MT Haryono 165

Bentuk Keluarga

Tabel 6. Daftar anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah


No. Nama Kedu1

Tn. A

dukan
Suami

Ny. A

Istri

An. A

Anak

L/
P
L
P
L

Umur Pendi34 th

dikan
Diploma

23 th

SMA

4 th

Pekerjaan Pasien

Ket.

Karyawan

RS
Tidak

swasta
IRT

Ya

Mola

Hidatidosa
Tidak
Sumber: Data Primer, 15 Desember 2013

Kesimpulan:
Keluarga Ny.D adalah nuclear family yang terdiri atas 3 orang yang tinggal dalam satu
rumah. Terdapat satu orang sakit yaitu Ny. A, umur 23 tahun, beralamat di jalan Budi Utomo.
Diagnosis klinis penderita adalah Mola Hidatidosa. Penderita adalah tamatan SMA. Penderita
sebagai istri yang tinggal dalam satu rumah.

16

3.1 Fungsi Holistik


3.1.1 Fungsi Biologis
Keluarga terdiri dari penderita (Ny. A, 23 tahun), Suaminya (Tn. A, 34 tahun), dan
anaknya (An. A, 4 tahun). Pasien tinggal bertiga. Pasien beraktivitas sebagai ibu rumah tangga
dan tetap memperhatikan anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah tersebut.
3.1.2 Fungsi Psikologis
Hubungan keluarga terjalin akrab, terbukti dengan permasalahan-permasalahan yang dapat
diatasi dengan baik dalam keluarga ini. Hubungan dengan anggota keluarga yang lain saling
mendukung terbukti keluarga menjenguk pasien saat dirawat di RS sehingga untuk
kesembuhan pasien juga dinilai baik.
3.1.3 Fungsi Sosial
Keluarga ini tidak mempunyai kedudukan sosial tertentu dalam masyarakat, hanya sebagai
anggota masyarakat biasa. Penderita aktif berkumpul dengan tetangga dan kegiatan di
desanya.
Penghasilan keluarga berasal dari Tn. A yang bekerjasebagai karyawan swasta, dengan
penghasilan yang cukup dalam 1 bulan. Kalau ada dalam keluarga yang sakit periksa ke rumah
sakit atau dokter.
Kesimpulan :
Secara umum, fungsi holistik keluarga Ny. D baik. fungsi sosial baik karena aktif dalam
kegiatan di masyarakat. Fungsi psikologis baik karena hubungan pasien dengan keluarga yang
lain adanya sikap saling mendukung.
3.2 Fungsi Fisiologis
Untuk menilai fungsi fisiologis digunakan APGAR score. APGAR score adalah skor yang
digunaka untuk menilai fungsi keluarga ditinjau dari sudut pandang setiap anggota keluarga
terhadap hubungannya dengan anggota keluarga yang lain. APGAR score meliputi:
1. Adaptation
Kemampuan anggota keluarga tersebut beradaptasi dengan anggota keluarga yang
lain, serta penerimaan, dukungan dan saran dari anggota keluarga yang lain.
2. Partnership
Menggambarkan komunikasi, saling membagi, saling mengisi antara anggota keluarga
dalam segala masalah yang dialami oleh keluarga tersebut.
3. Growth
17

Menggambarkan dukungan keluarga terhadap hal-hal baru yang dilakukan anggota


keluarga tersebut.
4. Affection
Menggambarkan hubungan kasih sayang dan interaksi antar anggota keluarga.
5. Resolve
Menggambarkan kepuasan anggota keluarga tentang kebersamaan dan waktu yang
dihabiskan bersama anggota keluarga yang lain.
Skoring:

kriteria nilai APGAR

Hamir selalu

: 2 poin

8-10

: baik

Kadang-kadang

: 1 poin

6-7

: sedang

Hampir tak pernah

: 0 poin

<= 5

: buruk

Tabel 7. APGAR score Tn. A


APGAR Tn. A Terhadap Keluarga

Sering/sel

Kadang- Jarang/Ti
kadang

Saya puas bahwa saya dapat kembali ke

alu

dak

keluarga saya bila saya menghadapi


masalah
Saya puas dengan cara keluarga saya

membahas dan membagi masalah dengan


saya
Saya puas dengan cara keluarga saya

menerima dan mendukung keinginan


saya untuk melakukan kegiatan baru
atau arah hidup yang baru
Saya puas dengan cara keluarga saya

mengekspresikan kasih sayangnya dan


merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian dll
Saya puas dengan cara keluarga saya dan

saya membagi waktu bersama-sama


Untuk Tn. A APGAR score dapat dijelaskan sebagai berikut: Jumlah score: 9
Tabel 8. APGAR score Ny. A
APGAR Ny. A Terhadap Keluarga
Saya puas bahwa saya dapat kembali ke

Sering/sel

Kadang- Jarang/Ti

alu

kadang

dak

18

keluarga saya bila saya menghadapi


masalah
Saya puas dengan cara keluarga saya

membahas dan membagi masalah dengan


saya
Saya puas dengan cara keluarga saya

menerima dan mendukung keinginan


saya untuk melakukan kegiatan baru
atau arah hidup yang baru
Saya puas dengan cara keluarga saya

mengekspresikan kasih sayangnya dan


merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian dll
Saya puas dengan cara keluarga saya dan

saya membagi waktu bersama-sama


Untuk Ny. A APGAR score dapat dijelaskan sebagai berikut: Jumlah score: 10
APGAR score keluarga Ny. D = (9+10)/2 = 9,5
Kesimpulan: Fungsi fisiologis keluarga Ny.A Baik

3.3 Fungsi Patologis


Fungsi patologis dari keluarga Ny.A dinilai dengan menggunakan alat S.C.R.E.E.M
sebagai berikut:
19

Tabel 9. SCREEM keluarga penderita


SUMBER
Social

PATHOLOGY
Tidak mengalami hambatan untuk bersosialisasi dengan

KET
-

masyarakat setempat, masih bisa berkumpul dengan


anggota keluarga seperti biasanya.

Cultural

Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya baik,

penderita menggunakan bahasa jawa dalam kehidupan


Religius

sehari-hari.
Pemahaman terhadap ajaran agama cukup, demikian juga

Economy
Education

ketaatanya dalam beribadah.


Ekonomi keluarga ini termasuk menengah.
Tingkat pendidikan dan pengetahuan keluarga ini cukup

memadai, dimana Ny. A berpendidikan hanya sampai


Medical

SMA dan Tn.D sampai Diploma


Dalam mencari pelayanan kesehatan keluarga ini biasanya

ke pelayanan kesehatan primer atau dokter.


Kesimpulan: Keluarga Ny. D tidak mempunyai fungsi patologis.
3.4 Pola Interaksi Keluarga
Diagram 1. Pola interaksi keluarga Ny. A
Ny. A

Tn. A
An. A

Keterangan:
: Hubungan baik
: Hubungan tidak baik
Kesimpulan: Hubungan antara Ny. A dengan keluarga baik
3.5 Genogram Keluarga Ny. S
Alamat lengkap : Jln. MT Haryono 165
Bentuk keluarga : Extended Family
Diagram 2. Genogram keluarga Ny. A

20

Sumber: data Primer, 15 Desember 2013


Kesimpulan:
Kemungkinan tidak ada faktor keturunan namun faktor risiko penyakit yang lain
kemungkinan mendukung.
3.6 Identifikasi Faktor Perilaku dan Non Perilaku Keluarga
1. Faktor Perilaku Keluarga
Menurut anggota keluarga ini, yang dimaksud dengan sehat adalah keadaan terbebas dari
sakit, yaitu yang menghalangi aktivitas sehari-hari. Keluarga ini menyadari pentingnya
kesehatan karena apabila mereka sakit, mereka tidak dapat bekerja lagi sehingga otomatis
pendapatan keluarga akan berkurang dan menjadi beban anggota keluarga yang lainnya. Ny. A
aktif berkomunikasi dengan keluarganya terutama suami untuk berbagi masalah.

2. Faktor Non Perilaku Keluarga


Dipandang dari segi ekonomi, keluarga ini termasuk keluarga menengah. Keluarga ini
memiliki sumber pengahasilan yaitu dari Tn. A, suami pasien yang bekerja sebagai karyawan
Pengetahuan:
Lingkungan:
swasta.
Keluarga kurang mengetahui
Keluarga cukup memahami
penyakit pasien
pentingnya kebersihan
lingkungan terhadap kesehatan
Sikap:
Keluarga sangat peduli
terhadap penyakit penderita
Tindakan:

Saat ada anggota keluarga sakit,


langsung dibawa ke tempat
pelayanan kesehatan

Keluarga
Ny.A

Keturunan:
pasien menyangkal

Pelayanan Kesehatan:
Jika sakit Ny. D ke tempat
dokter praktik dan kadang ke
RS

21

Kesimpulan: Faktor perilaku dan non-perilaku keluarga Ny. A berpengaruh ke arah


positif terhadap kesehatan pasien.
3.7 Identifikasi Lingkungan Rumah
Lingkungan Luar Rumah
Keluarga Ny. A tinggal di sebuah rumah berukuran 7 x 5 m2 yang saling berdekatan
dengan rumah tetangganya tanpa jarak. Tidak memiliki pekarangan rumah dan pagar
pembatas. Tempat penampungan sampah di depan rumah.
Lingkungan Dalam Rumah
Dinding rumah terbuat dari batu bata yang sudah diplester semen dan telah dicat,
sedangkan lantai rumah terbuat dari keramik. Rumah ini terdiri dari ruang tamu, 4 kamar tidur,
satu dapur, 1 kamar mandi, 1 ruang keluarga. Rumah ini mempunyai satu pintu untuk keluar
masuk serta memiliki jendela kayu di ruang kamar saja. Keluarga ini sudah memiliki fasilitas
MCK keluarga dan fasilitas air dari sumur. Ventilasi udara cukup . Pencahayaan cukup terang.

Gambar 3.1. Denah rumah pasien


Keterangan: Keadaan dalam rumah keluarga Ny.A cukup memenuhi syarat kesehatan
3.8 Masalah Medis
Mola Hidatidosa
22

3.9 Masalah Non Medis


Menjalani diet ketat tanpa tahu jika sedang hamil
3.10 Diagram Permasalahan Keluarga Pasien
(menggambarkan hubungan antara timbulnya masalah kesehatan yang ada dengan
faktor-faktor resiko yang ada dalam kehidupan pasien)
Diagram 3. Daftar Permasalahan Pasien

Menjalani diet ketat


tanpa tahu jika
sedang hamil

Ny. A, 23 tahun,
Mola Hidatidosa

23

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA
4.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI ORGAN GENETALIA WANITA
4.1.1 Uterus
Uterus pada seorang dewasa berbentuk seperti buah avokat atau buah peer yang sedikit
gepeng. Ukuran panjang uterus 7-7,5 cm, lebar ditempat yang paling lebar 5,25 cm, dan tebal
2,5 cm. Uterus terdiri dari corpus uteri (2/3 bagian atas) dan serviks uteri (1/3 bagian bawah).
Didalam korpus uteri terdapat rongga (kavum uteri), yang membuka keluar melalui saluran
(kanalis servikalis) yang terletak diserviks. Bagian bawah serviks yang terletak di vagina
dinamakan portio uteri (pars vaginalis servisis uteri), sedangkan yang berada diatas vagina
disebut pars supravaginalis servisis uteri. Antara korpus dan serviks masih ada bagian yang
disebut isthmus uteri. Bagian atas uterus disebut fundus uteri, di situ tuba fallopi kanan dan
kiri masuk ke uterus. Dinding uterus terutama terdiri terutama atas miometrium, yang
merupakan otot polos berlapis tiga, yang sebelah luar longitudinal, yang sebelah dalam
sirkuler, yang antara kedua lapisan ini beranyaman. Miometrium dan keseluruhannya dapat
berkontraksi dan berelaksasi.
Kavum uteri dilapisi oleh selaput lendir yang kaya dengan kelenjar, disebut endometrium.
Endometrium terdiri atas epitel kubik, kelenjar-kelenjar, dan stroma dengan banyak pembuluhpembuluh darah yang berkelok-kelok, kelenjar-kelenjar itu bermuara di kanalis servikalis
(arbor vitae). Pertumbuhan dan fungsi endometrium dipengaruhi sekali oleh hormon ovarium.
Uterus pada wanita dewasa umumnya terletak di sumbu tulang panggul dalam
anteversiofleksio (serviks ke depan ke atas) dan membentuk sudut dengan vagina, sedang
korpus uteri berarah ke depan dan membentuk sudut 120-130 dengan serviks uteri. Di
Indonesia uterus sering ditemukan dalam retrofleksio (korpus uteri berarah ke belakang) yang
pada umumnya tidak memerlukan pengobatan.
Perbandingan antara korpus uteri dan serviks berbeda-beda dalam pertumbuhan. Pada bayi
perbandingan itu adalah 1:2, sedangkan pada wanita dewasa 2:1. Diluar, uterus dilapisi oleh
serosa (peritoneum viserale). Jadi dari luar ke dalam ditemukan pada dinding korpus uteri
serosa atau perimetrium, miometrium, dan endometrium. Uterus mendapatkan darah dari arteri
uterina, ranting dari arteri iliaca interna, dan dari arteria ovarika.
4.1.2 Tuba
Tuba fallopi adalah saluran telur yang berasal dari duktus mulleri. Rata-rata panjangnya
tuba 11-14 cm. Bagian yang berada di dinding uterus dinamakan pars interstitialis, lateral dari
itu (3-6 cm) terdapat pars isthmika yang masih sempit (diameter 2-3 mm), dan lebih ke arah
lateral lagi pars ampullaris yang lebih besar (4-10 mm) dan memiliki ujung terbuka seperti

24

anemon yang disebut infundibulum. Bagian luar tuba diliputi oleh peritoneum viserale, yang
merupakan bagian dari ligamentum latum. Otot di dinding tuba terdiri atas (dari luar ke dalam)
otot longitudinal dan sirkuler. Lebih dalam lagi terdapat mukosa yang berlipat-lipat ke arah
longitudinal dan terutama dapat ditemukan di bagian ampulla. Mukosa tuba terdiri atas epitel
kubik sampai silindrik, yang mempunyai bagian-bagian getah, sedangkan yang berserabut
dengan getarannya menimbulkan suatu arus ke kavum uteri.
4.1.3 Ovarium
Indung telur pada seorang dewasa sebesar ibu jari tangan, terletak dikiri dan kanan, dekat
pada dinding pelvis di fossa ovarika. Ovarium berhubungan dengan uterus dengan ligamentum
ovarii proprium. Pembuluh darah ke ovarium melalui ligamentum suspensorium ovarii
(ligamentum infundibulopelvikum).
Ovarium terletak pada lapisan belakang ligamentum latum. Sebagian besar ovarium berada
intraperitoneal dan tidak dilapisi oleh peritoneum. Bagian ovarium kecil berada di dalam
ligamentum latum (hilus ovarii). Disitu masuk pembuluh-pembuluh darah dan saraf ovarii.
Lipatan yang menghubungakan lapisan belakang ligamentum latum dengan ovarium
dinamakan mesofarium.
Bagian ovarium yang berada pada cavum peritonei dilapisi oleh epitel kubik-silindrik,
disebut epithelium germinativum. Dibawah epitel ini terdapat tunika albuginea dan dibawahnya
lagi terletak folikel-folikel primordial. Pada wanita memiliki banyak folikel. Tiap bulan kadang
1 folikel kadang 2 folikel, berkembang menjadi folikel de graff. Folikel-folikel ini merupakan
bagian ovarium yang terpenting, dan dapat ditemukan dikorteks ovarii dengan berbagai tingkat
perkembangan tertentu. Satu sel telur dikelilingi satu lapisan sel saja sampai folikel de graff
yang matang. Folikel yang matang ini terisi dengan likuor follikuli yang mengandung esterogen
dan siap untuk berovulasi.

4.1.4 Jaringan penunjang alat genital


Uterus berada pada rongga panggul dalam anteversiofleksio sedemikian rupa sehingga
bagian depannya setinggi simfisis pubis, dan bagian belakang setinggi artikulasio
sakrokoksigea. Jaringan ikat di parametrium dan ligamentum-ligamentum membentuk suatu
sistem penunjang uterus terfiksasi relatif cukup baik.

25

4.2

Definisi
Mola hidatidosa adalah suatu kehamilan yang berkembang tidak wajar di mana tidak

ditemukan janin dan hampir seluruh vili korialis mengalami perubahan berupa degenerasi
hidropik. Janin biasanya meninggal akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematus itu
hidup dan tumbuh terus, gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur.
Jaringan trofoblast pada vilus berproliferasi dan mengeluarkan hormon human chononic
gonadotrophin (HCG) dalam jumlah yang lebih besar daripada kehamilan biasa.4,5,6
4.3

Epidemiologi
Frekuensi mola hidatidosa umumnya di wanita Asia lebih tinggi (1 per 120 kehamilan)

daripada wanita di negara Barat (1 per 2.000 kehamilan). Di Indonesia, mola hidatidosa
dianggap sebagai penyakit yang penting dengan insiden yang tinggi (data RS di Indonesia, 1
per 40 persalinan), faktor risiko banyak, penyebaran merata serta sebagian besar data masih
berupa hospital based. Faktor risiko mola hidatidosa terdapat pada usia kurang dari 20 tahun
dan di atas 35 tahun, gizi buruk, riwayat obstetri, etnis dan genetik.4
4.4

Etiologi dan Faktor Resiko


Mola hidatidosa disebabkan oleh sebuah spermatozooa memasuki ovum yang telah

kehilangan nukleusnya atau dua sperma memasuki ovum tersebut. Pada lebih dari 90 persen
mola komplit hanya ditemukan gen dari ayah dan 10 persen mola bersifat heterozigot.
Sebaliknya, mola parsial biasanya terdiri dari kromosom triploid yang memberi kesan
gangguan sperma sebagai penyebab.7

26

Pembuluh darah primitif di dalam vilus tidak terbentuk dengan baik sehingga embrio
'kelaparan', mati, dan diabsorpsi, sedangkan trofoblas terus tumbuh dan pada keadaan tertentu
mengadakan invasi kejaringan ibu. Peningkatan aktivitas sinsitiotrofoblas menyebabkan
peningkatan produksi hCG, tirotrofin korionik dan progestron. Sekresi estrodiol menurun,
karena sintesis hormone ini memerlukan enzim dari janin, yang tidak ada. Peningkatan kadar
hCG dapat menginduksi perkembangan kista teka-lutein di dalam ovarium.8
Sosial ekonomi yang rendah dihubungkan dengan frekuensi yang lebih tinggi. Di Philipina
kejadiannya 10 kali lebih tinggi pada sosial ekonomi rendah dibandingkan populasi umum.
Hubungan insiden Mola Hidatidosa yang berbeda sesuai geografis, kultur dan status sosial
ekonomi menunjukkan bahwa diet dan nutrisi

juga memberikan kontribusi dari etiologi

penyakit ini. Konsumsi beta karoten yang rendah dan defisiensi dari vit A juga dihubungkan
sebagai penyebab dari kehamilan mola.2
Riwayat kehamilan mola sebelumnya merupakan faktor risiko untuk terjadinya penyakit
trofoblas gestasional. Wanita dengan riwayat mola hidatidosa memiliki 10 kali risiko lebih
tinggi untuk terjadinya mola hidatidosa pada kehamilan berikutnya.
4.5
Patofisiologi
Menurut Sarwono, 2010, Patofisiologi dari kehamilan mola hidatidosa yaitu karena
tidak sempurnanya peredaran darah fetus, yang terjadi pada sel telur patologik yaitu : hasil
pembuahan dimana embrionya mati pada umur kehamilan 3 5 minggu dan karena pembuluh
darah villi tidak berfungsi maka terjadi penimbunan cairan di dalam jaringan mesenkim villi.4,9
Analisis sitogenetik pada jaringan yang diperoleh dari kehamilan mola memberikan
beberapa petunjuk mengenai asal mula dari lesi ini. Kebanyakan mola hidatidosa adalah mola
lengkap dan mempunyai 46 kariotipe XX. Penelitian khusus menunjukkan bahwa kedua
kromosom X itu diturunkan dari ayah. Secara genetik, sebagian besar mola hidatidosa komplit
berasal dari pembuahan pada suatu telur kosong (yakni, telur tanpa kromosom) oleh satu
sperma haploid (23 X), yang kemudian berduplikasi untuk memulihkan komplemen kromosom
diploid (46 XX). Hanya sejumlah kecil lesi adalah 46 XY.7,8,10

Gambar 4.1. Susunan sitogenetik dari mola hidatidosa. A. Sumber kromosom dari mola lengkap. B. Sumber
kromosom dari mola sebagian yang triploid. (Hacker). 11

27

Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit
trofoblas 4:

1. Teori missed abortion.


Teori ini menyatakan bahwa mudigah mati pada usia kehamilan 3-5 minggu (missed
abortion). Hal inilah yang menyebabkan gangguan peredaran darah sehingga terjadi
penimbunan cairan dalam jaringan mesenkim dari villi dan akhirnya terbentuklah gelembunggelembung. Menurut Reynolds, kematian mudigah itu disebabkan karena kekurangan gizi
berupa asam folik dan histidine pada kehamilan hari ke 13 dan 21. Hal ini menyebabkan
terjadinya gangguan angiogenesis.

2. Teori neoplasma
Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Park. Pada penyakit trofoblas, yang abnormal
adalah sel-sel trofoblas dimana fungsinya juga menjadi abnormal. Hal ini menyebabkan
terjadinya reabsorpsi cairan yang berlebihan kedalam villi sehingga menimbulkan gelembung.
Sehingga menyebabkan gangguan peredaran darah dan kematian mudigah.

3. Teori sitogenetika
Menyatakan bahwa Mola Hidatidosa dapat terjadi bila sperma tunggal membuahi telur
yang tidak berinti sehingga membentuk embrio yang abnormal yang hanya memiliki materi
genetik paternal, atau bisa juga dua sperma membuahi satu sel telur. Kejadian ini menghasilkan
abnormalitas dari trofoblas dan memungkinkan embrio mati lebih awal. Tumbuhnya elemen
plasenta yang terus menerus ditandai oleh adanya udem dari villi yang kemudian tampak
sebagai gambaran gelembung air. Sel-sel trofoblas menghasilkan hormon kehamilan yaitu hCG,
yang dipakai sebagai dasar tes kehamilan. Produksi yang berlebihan dari hCG menyebabkan
keluhan-keluhan pada penderita.
Secara makroskopik, mola hidatidosa mudah dikenal yaitu berupa gelembunggelembung putih, tembus pandang, berisi cairan jernih, sehingga menyerupai buah anggur, atau
mata ikan. Karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan. Ukuran gelembunggelembung ini bervariasi dari beberapa milimeter sampai 1-2 cm. Secara mikroskopik terlihat
trias: (1) Proliferasi dari trofoblas; (2) Degenerasi hidropik dari stroma villi dan kesembaban;
(3) Hilangnya pembuluh darah dan stroma. Sel-sel Langhans tampak seperti sel polidral
dengan inti terang dan adanya sel sinsitial giantik (syncytial giant cells). Pada kasus mola
banyak dijumpai ovarium dengan kista lutein ganda berdiameter 10 cm atau lebih (25-60%).
Kista lutein akan berangsur-angsur mengecil dan kemudian hilang setelah mola hidatidosa
sembuh. 4,11
28

4.6

Klasifikasi
Mola hidatidosa dapat diklasifikasikan menjadi 2 yaitu bila tidak disertai janin maka

disebut mola hidatidosa atau Complete mole, sedangkan bila disertai janin atau bagian dari
janin disebut mola parsialis atau Parsials mole . 4,5,10
Tabel 10. Perbandingan bentuk mola hidatidosa
Gambaran
Kariotipe

Mola Komplit
46,XX atau 46,XY

Mola Parsial
Umumnya 69,XXX
atau 69,XXY (tripoid)

Patologi
Edema villus
Proliferasi trofoblastik

Difus
Bervariasi, ringan s/d berat

Bervariasi,fokal
Bervariasi, fokal,

Tidak ada
Tidak ada

ringan s/d sedang


Sering dijumpai
Sering dijumpai

merah janin
Gambaran klinis
Diagnosis
Ukuran uterus

Gestasi mola
50% besar untuk masa

Missed abortion
Kecil untuk masa

Kista teka-lutein
Penyulit medis
Penyakit pascamola
Kadar hCG

kehamilan
25-30%
Sering
20%
Tinggi

kehamilan
Jarang
jarang
<5-10%
Rendah - tinggi

Janin
Amnion, sel darah

4.7

Gejala Klinis
Tanda dan gejala kehamilan dini didapatkan pada mola hidatidosa. Kecurigaaan
biasanya terjadi pada minggu ke 14 - 16 dimana ukuran rahim lebih besar dari kehamilan
biasa, pembesaran rahim yang terkadang diikuti perdarahan, dan bercak berwarna merah
darah beserta keluarnya materi seperti anggur pada pakaian dalam.
1. Terdapat tanda-tanda kehamilan. Mual dan muntah yang parah yang menyebabkan
10% pasien masuk RS
2. Pembesaran rahim yang tidak sesuai dengan usia kehamilan (lebih besar)
3. Gejala gejala hipertitoidisme seperti intoleransi panas, gugup, penurunan BB yang
tidak dapat dijelaskan, tangan gemetar dan berkeringat, kulit lembab
29

4. Gejala gejala pre-eklampsi seperti pembengkakan pada kaki dan tungkai, peningkatan
tekanan darah, proteinuria (terdapat protein pada air seni)
Dan menurut Cuningham, 2006. Dalam stadium pertumbuhan mola yang dini terdapat
beberapa ciri khas yang membedakan dengan kehamilan normal, namun pada stadium lanjut
trimester pertama dan selama trimester kedua sering terlihat perubahan sebagai berikut10 :
1. Perdarahan
Perdarahan uterus merupakan gejala yang mencolok dan bervariasi mulai dari
spoting sampai perdarahan yang banyak. Perdarahan ini dapat dimulai sesaat sebelum
abortus atau yang lebih sering lagi timbul secara intermiten selama berminggu-minggu
atau setiap bulan. Sebagai akibat perdarahan tersebut gejala anemia ringan sering
dijumpai. Anemia defisiensi besi merupakan gejala yang sering dijumpai.
2. Ukuran uterus
Uterus tumbuh lebih besar dari usia kehamilan yang sebenarnya dan teraba
lunak. Saat palpasi tidak didapatkan balotement dan tidak teraba bagian janin.
3. Aktivitas janin
Meskipun uterus cukup membesar mencapai bagian atas sympisis, secara khas
tidak akan ditemukan aktivitas janin, sekalipun dilakukan test dengan alat yang
sensitive sekalipun. Kadang-kadang terdapat plasenta yang kembar pada kehamilan
mola hidatidosa komplit. Pada salah satu plasentanya sementara plasenta yang lainnya
dan janinnya sendiri terlihat normal. Demikian pula sangat jarang ditemukan perubahan
mola inkomplit yang luas pada plasenta dengan disertai dengan janin yang hidup.
4. Embolisasi
Trofoblas dengan jumlah yang bervariasi dengan atau tanpa stroma villus dapat
keluar dari dalam uterus dan masuk aliran darah vena. Jumlah tersebut dapat
sedemikian banyak sehingga menimbulkan gejala serta tanda emboli pulmoner akut
bahkan kematian. Keadaan fatal ini jarang terjadi. Meskipun jumlah trofoblas dengan
atau tanpa stroma villus yang menimbulkan embolisasi ke dalam paru-paru terlalu kecil
untuk menghasilkan penyumbatan pembuluh darah pulmoner namun lebih lanjut
trofoblas ini dapat menginfasi parenkin paru. Sehingga terjadi metastase yang terbukti
lewat pemeriksaan radiografi. Lesi tersebut dapat terdiri dari trofoblas saja
(koriokarsinoma metastasik) atau trofoblas dengan stroma villus (mola hidatidosa
metastasik). Perjalanan selanjutnya lesi tersebut bisa diramalkan dan sebagian terlihat
menghilang spontan yang dapat terjadi segera setelah evakuasi atau bahkan beberapa

30

minggu atau bulan kemudian. Sementara sebagian lainnya mengalami proliferasi dan
menimbulkan kematian wanita tersebut tidak mendapatkan pengobatan yang efektif.
5. Ekspulsi Spontan
Kadang-kadang gelembung-gelembung hidatidosa sudah keluar sebelum mola
tersebut keluar spontan atau dikosongkan dari dalam uterus lewat tindakan. Ekspulsi
spontan paling besar kemungkinannya pada kehamilan sekitar 16 minggu. Dan jarang
lebih dari 28 minggu.7
4.8 Diagnosis
1.

Anamnesis

Ada kehamilan disertai gejala dan tanda kehamilan muda yang berlebihan, perdarahan
pervaginam berulang cenderung berwarna coklat dan kadang bergelembung seperti busa.
(1) Perdarahan vaginal. Gejala klasik yang paling sering pada mola komplet adalah
perdarahan vaginal. Jaringan mola terpisah dari desidua, menyebabkan perdarahan. Uterus
membesar (distensi) oleh karena jumlah darah yang banyak, dan cairan gelap bisa mengalir
melalui vagina. Gejala ini terdapat dalam 97% kasus.
(2) Hiperemesis. Penderita juga mengeluhkan mual dan muntah yang berat. Hal ini merupakan
akibat dari peningkatan secara tajam hormon -HCG.
(3) Hipertiroid. Setidaknya 7% penderita memiliki gejala seperti takikardi, tremor dan kulit
yang hangat. Didapatkan pula adanya gejala preeklamsia yang terjadi pada 27% kasus
dengan karakteristik hipertensi ( TD > 140/90 mmHg), protenuria (>300 mg.dl), dan
edema dengan hiperefleksia
2.

Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Palpasi :
Uterus membesar tidak sesuai dengan tuanya kehamilan, teraba lembek
Tidak teraba bagian-bagian janin dan ballotement dan gerakan janin.
Auskultasi : tidak terdengar bunyi denyut jantung janin
Pemeriksaan dalam :
Memastikan besarnya uterus
Uterus terasa lembek
Terdapat perdarahan dalam kanalis servikalis

3.

Pemeriksaan Laboratorium
31

Pemeriksaan kadar B-hCG


BetaHCG urin > 100.000 mlU/ml
Beta HCG serum > 40.000 IU/ml
Berikut adalah gambar kurva regresi hCG normal yang menjadi parameter dalam
penatalaksanaan lanjutan mola hidatidosa.

Gambar 4.2 Nilai rata-rata dari 95 % confidence limit yang menggambarkan kurva regresi normal
gonadotropin korionik subunit pasca mola.

10

Pemeriksaan kadar T3 /T4


B-hCG > 300.000 mIU/ml mempengaruhi reseptor thyrotropin, mengakibatkan aktifitas
hormon-hormon tiroid (T3/T4) meningkat. Terjadi gejala-gejala hipertiroidisme berupa
hipertensi, takikardia, tremor, hiperhidrosis, gelisah, emosi labil, diare, muntah, nafsu
makan meningkat tetapi berat badan menurun dan sebagainya. Dapat terjadi krisis
hipertiroid tidak terkontrol yang disertai hipertermia, kejang, kolaps kardiovaskular,
toksemia, penurunan kesadaran sampai delirium-koma. 10
4.

Pemeriksaan Imaging
a. Ultrasonografi

Gambaran seperti sarang tawon tanpa disertai adanya janin

Ditemukan gambaran snow storm atau gambaran seperti badai salju.

b. Plain foto abdomen-pelvis: tidak ditemukan tulang janin

4.7 Penatalaksanaan
1. Evakuasi
a. Perbaiki keadaan umum.

32

Bila mola sudah keluar spontan dilakukan kuret atau kuret isap

Bila Kanalis servikalis belum terbuka dipasang laminaria dan 12 jam


kemudian dilakukan kuret.

b. Memberikan obat-obatan Antibiotik, uterotonika dan perbaiki keadaan umum


penderita.
c. 7-10 hari setelah kerokan pertama, dilakukan kerokan ke dua untuk membersihkan
sisa-sisa jaringan.
d. Histeriktomi total dilakukan pada mola resiko tinggi usia lebih dari 30 tahun,
Paritas 4 atau lebih, dan uterus yang sangat besar yaitu setinggi pusat atau lebih
2. Pengawasan Lanjutan

Ibu dianjurkan untuk tidak hamil dan dianjurkan memakai kontrasepsi oral
pil.

Mematuhi jadwal periksa ulang selama 2-3 tahun :


o Setiap minggu pada Triwulan pertama
o Setiap 2 minggu pada Triwulan kedua
o Setiap bulan pada 6 bulan berikutnya
o Setiap 2 bulan pada tahun berikutnya, dan selanjutnya setiap 3 bulan.

Setiap pemeriksaan ulang perlu diperhatikan :


a. Gejala Klinis : Keadaan umum, perdarahan
b. Pemeriksaan dalam :
o

Keadaan Serviks

Uterus bertambah kecil atau tidak

c. Laboratorium

Reaksi biologis dan imunologis :


o 1x seminggu sampai hasil negatif
o 1x2 minggu selama Triwulan selanjutnya
o 1x sebulan dalam 6 bulan selanjutnya
o 1x3 bulan selama tahun berikutnya
o Kalau hasil reaksi titer masih (+) maka harus dicurigai adanya
keganasan

3. Sitostatika Profilaksis
Metoreksat 3x 5 mg selama 5 hari

33

4.8 Komplikasi

Perdarahan yang hebat sampai syok

Perdarahan berulang-ulang yang dapat menyebabkan anemia

Infeksi sekunder

Perforasi karena tindakan atau keganasan

BAB V
PEMBAHASAN
5.1. Dasar Penegakan Diagnosis
Diagnosis Mola Hidatidosa ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.

34

Dari Anamnesa didapatkan keluhan dari pasien setelah terpeleset keluar bercak darah dari
vagina, dan perut terasa kenceng-kenceng dengan tes kehamilan positif yang disertai dengan
pendarahan pervaginam, serta tanda-tanda kehamilan seperti mual dan muntah.
Sedangkan dari pemeriksaan fisik pada inspikulo didapatkan adanya livide dan gumpalan
putih. Pada pemeriksaan fisik lain tidak ada data. Hasil Plano test, HCG positif. Dari
anamnesis riwayat telat haidnya adalah sekitar 2 bulan dengan hari pertama haid terakhir pada
tanggal 4 September 2013. Dari hasil yang didapatkan secara klinis belum ada kecurigaan
mengarah adanya suatu Mola Hidatidosa. Seperti diketahui gejala dari mola hidatidosa yang
sering terdapat adalah adanya riwayat perdarahan pervaginam, gerakan anak tidak pernah
dirasakan, gejala mual dan muntah berlebihan, pada perabaan konsistensi uterus lembek dan
tidak teraba bagian anak atau tidak ada ballotement, serta pada auskultasi tidak terdengar
denyut jantung janin. Lalu pasien diminta kontrol beberapa hari kemudian dengan planning
pemeriksaan penunjang USG.
Dari pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan USG didapatkan gambaran multivesikuler
bentuk dan besar sepereti sarang tawon. Dari pemeriksaan darah lengkap tampak adanya
leukositosis dan limfopeni.
Dari anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang tersebut dapat disimpulkan
diagnosis kerja berupa Mola Hidatidosa.

Etiologi

Beberapa penyebab yang dipikirkan sebagai penyebabnya antara lain dapat berupa :
Faktor usia, sosial ekonomi rendah, riwayat kehamilan Mola Hidatidosa dan adanya
riwayat abortus spontan berulang
Penyebab Mola Hidatidosa pada pasien ini belum diketahui secara pasti, namun
kemungkinan penyebab dari Mola Hidatidosa ini adalah faktor diet ketat yang dilakukan
pasien yang dihubungkan dengan defisiensi nutrisi.
5.2 Dasar Rencana Penatalaksanaan
Untuk penatalaksanaan, suction curetase dilakukan pada pasien ini dan didapatkan
darah keluar bersama cairan berwarna coklat, gelembung-gelembung mola, dan tidak
ditemukan janin sehingga pasien dapat dikatakan mengalami mola komplit. Tindakan suction
curetage pada pasien ini sudah tepat dilakukan. Dan perlu tindakan kuret ke-2 (7-10 hari
berikutnya) untuk memastikan tidak ada jaringan mola yang tersisa. Sebagai penatalaksanaan
lanjutan pasien sebaiknya menunda kehamilan selama 12 bulan dengan menggunakan
kontrasepsi non hormonal.
35

Penderita disarankan melakukan pemeriksaan -hCG urine semi kuantitatif setiap dua
minggu sekali hingga hasilnya. Setelah -hCG serum normal, atau Test Pack negative dua kali
berturut-turut dengan interval 2 minggu, pasien dianjurkan untuk kontrol tiap satu bulan pada
1 tahun pertama, kontrol tiap 3 bulan pada tahun kedua, dan tahun ketiga kontrol bila ada
keluhan. Sebelum tercapai -hCG serum normal atau Test Pack 2 kali berturut-turut interval 2
minggu negative, dianjurkan memakai alat kontrasepsi kondom. Setelah tercapai -hCG serum
normal atau Test Pack negative.

Prognosis

Mola hidatidosa diperkirakan 80% akan mengalami remisi spontan pasca evakuasi, dan
sisanya 20% dapat berkembang menjadi keganasan atau korio karsinoma. Demikian juga
dapat terjadi berulang pada kehamilan berikutnya.
Pada kasus ini ada kemungkinan berulangnya Mola Hidatidosa tetapi tetapi masih ada
kesempatan terjadinya kehamilan normal.

BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan Holistik
Ny. A (23 tahun) adalah seorang penderita mola hidatidosa, dengan kondisi keluarga yang
harmonis. Dalam kehidupan sehari-hari sebagai anggota masyarakat biasa.
1. Diagnosis dari segi biologis
Mola Hidatidosa
2. Diagnosis dari segi psikologis
Hubungan antara suami dan anak baik, saling membantu jika terkena masalah. Bila ada
yang sakit keluarga berkunjung dan menjaga
3. Diagnosis dari segi sosial :
Hubungan pasien dan keluarga aktif membaur dengan masyarakat meski tidak
memiliki kedudukan tinggi di masyarakat
.
6.2

Saran Komprehensif
36

Ny. A dan keluarga perlu membiasakan pola hidup sehat, mengetahui tentang penyakit mola
hidatidosa dan komplikasinya.
1. Promotif
Selalu menjaga kesehatan baik diri sendiri dan lingkungan keluarga dari stress menjadikan

2.

3.

seseorang rentan akan sakit.


Menghidari pekerjaan yang terlalu berat
Selalu minta saran dokter atau bidan bila ingin diet atau mengkonsumsi obat lain selain
dari dokter atau bidan.
Preventif
Anjurkan untuk makan makanan yang bergizi, 4 sehat 5 sempurna.
Hindari makanan yang berkolesterol.
Kuratif
Setelah post curretase mengkonsumsi obat terapi antibiotik, metilat untuk mempercepat

kesembuhan uterus dan analgesik untuk meringankan rasa nyeri.


4. Rehabilitatif
Olahraga yang teratur, selalu menjaga kebutuhan nutrisi dengan makan tinggi kalori
DAFTAR PUSTAKA
1.

Chalik TMA. Penyakit Trofoblas pada Kehamilan. Dalam : Chalik TMA, eds. Hemoragi Utama Obstetri
& Ginekologi. Jakarta : Widya Medika, 1997

2.

Cunningham FG, Paul MC, Leveno KJ, et al. Disease and Abnormalities of the Placenta. In :
Cunningham FG, Paul MC, Leveno KJ, et al, eds. Williem Obstetrics. 20 th edition.

3.

Harahap RE. 2008. Mola Hidatidosa. Dalam : Harahap RE, eds. Kanker Ginekologi. Jakarta .
http://www.kalbefarma.com/cdk

4.

Sumapraja, S & Martaadisoebrata, D. 2005. Penyakit Serta Kelainan Plasenta dan Selaput Janin, dalam:
Ilmu Kebidanan, Edisi ketiga, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Jakarta. Hal: 342-348.

5.

Manuaba, I.B.G., Manuaba, I.B.G.F., dan Manuaba, I.D.C. 2007. Penyakit Trofoblas, dalam: Pengantar
Kuliah Obstetri. EGC. Jakarta. Hal: 725-726.

6.

Mansjoer, A. dkk. 2001. Mola Hidatidosa Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jilid I. Media Aesculapius. Jakarta. Hal 265-267

7.

John T,2006, Gestational Throphoblastic Disease. The American College of Obstetricians and
Gynecologists.

Lippincott

Williams

&

Wilkins.

Diakses

dari

http://www.utilis.net/Morning%20Topics/Gynecology/GTN.PDF
8.

Mochtar, R. 1998. Penyakit Trofoblast, dalam Sinopsis Obstetri, Jilid I, Edisi kedua. EGC. Jakarta. Hal :
138-143.

9.

Prawirohadjo, S. & Wiknjosastro, H. Mola Hidatidosa. Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohadjo. Jakarta. 2009. Hal . 262-264.

10. Cuninngham. F.G. dkk. 2006. Mola Hidatidosa Penyakit Trofoblastik Gestasional Obstetri Williams.
Edisi 21. Vol 2. Penerbit Buku Kedokteran. EGG Jakarta. Hal 930-938.
11. Hacker, N.F., & Moore, J.G. 2001. Neoplasia Trofoblast Gestasi, dalam: Esensial Obstetri dan
Ginekologi, Edisi 2. Hipokrates. Jakarta. Hal: 679-680.

37

38