Anda di halaman 1dari 8

Objek Sengketa Tata Usaha Negara

Salah satu karakteristik Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara (HAPTUN) yaitu terletak
pada objek gugatan yang berupa Beschikking (Penetapan) dan subyek gugatannya adalah
orang pribadi atau Badan Hukum Perdata melawan Pejabat Tata Usaha Negara (Pejabat TUN)
dalam keadaan yang tidak seimbang.
Berikut ini adalah uraian dari beberapa ahli mengenai pengertian keputusan yang dapat
digugat di Pengadilan Tata Usaha Negara:

Utrecht: Perbuatan hukum publik bersegi satu yg dilakukan oleh alat-alat pemerintah

berdasarkan kekuasaan istimewa.


Scahran Basah: Keputusan tertulis dari alat administrasi negara yang mempunyai

akibat hukum.
W.F Prins: suatu tindakan hukum yg bersifat sepihak dalam bidang pemerintahan

yang dilakukan oleh suatu badan pemerintah berdasarkan wewenang yg luar biasa;
Menurut P.de Haan, unsur-unsur keputusan adalah adanya:
o Suatu pernyataan kehendak tertulis;
o Diberikan berdasarkan kewajiban/kewenangan dari HAN & HTN;
o Bersifat sepihak;
o Mengecualikan keputusan yg bersifat umum;
o Yang dimaksudkan untuk penentuan, penghapusan, pengakhiran hubungan
hukum yg ada, atau menciptakann hubungan hukum baru, yang memuat
penolakan

sehingga

terjadi

penetapan,

perubahan,

peciptaan

atau

penghapusan;
o Berasal dari organ pemerintahan;

Objek sengketa Tata Usaha Negara adalah Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN).
Keputusan yang dapat digugat di Pengadilan Tata Usaha Negara adalah keputusan yang
sesuai dengan rumusan Pasal 1 butir 3 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang
Peradilan Tata Usaha Negara jo. Undang-undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan
atas Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986 yang berbunyi:
Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh
Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara
yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat konkret,

individual dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum
perdata.

Kemudian pada Pasal 2 UU PTUN diebutkan bahwa terdapat keputusan-keputusan yang


tidak dapat digolongkan dalam Keputusan Tata Usaha Negara, sehingga oleh karenanya tidak
dapat dikategorikan sebagai objek sengketa Tata Usaha Negara, yaitu diantaranya:
a. Keputusan Tata Usaha Negara yang merupakan perbuatan hukum perdata. Sebagai
contoh misalnya pemerintah melakukan jual beli dengan pihak swasta yang
didasarkan pada hukum perdata. Pengecualian ini tidak termasuk pada Keputusan
Pemenang Lelang dalam Pengadaan barang atau di lingkungan pemerintah. Hal ini
dikarenakan proses pengadaan barang atau jasa tersebut tunduk pada Hukum
Administrasi Negara.
b. Keputusan Tata Usaha Negara yang merupakan pengaturan yang bersifat umum.
Keputusan jenis ini, jika masih berlaku, menurut UU No.10 Tahun 2004 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan terbaca sebagai Peraturan. Oleh karena
itu, secara subtansi jika terdapat keputusan yang bersifat mengatur dan berlaku umum,
maka ia bukanlah keputusan melainkan peraturan. Sehingga dengan demikian
pengujiannya juga tidak di PTUN, melainkan lebih tepat di Mahkamah Agung.
c. Keputusan Tata Usaha Negara yang masih memerlukan persetujuan. Keputusan jenis
ini merupakan keputuan yang belum final, karena ia masih memerlukan persetujuan
dari instansi atasan atau instansi lain. Dalam rangka pengawasan preventif dan
keseragaman kebijaksanaan, terkadang peraturan yang mendasari terbitnya suatu
keputusan mempersyaratkan persetujuan dari instansi yang ditunjuk.
d. Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan berdasarkan Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana atau Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana atau peraturan
perundang-undangan lain yang bersifat hukum pidana. contoh dari keputuasan ini
misalnya Surat Perintah Penangkapan atau Penahanan atas seorang tersangka.
e. Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan atas dasar hasil pemeriksaan badan
peradilan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Contoh
dari KTUN ini misalnya Keputusan Dirjen Agraria yang mengeluarkan Sertifikat
Tanah atas dasar Putusan Hakim Perdata.
f. Keputusan Tata Usaha Negara mengenai tata usaha Tentara Nasional Indonesia. Jika
terjadi sengkata Tata Usaha Negara militer akibat dikeluarkannya Keputusan Tata

Usaha Militer, maka kewenangannya diberikan kepada penadilan di Lingkungan


Peradilan Militer.
g. Keputusan Komisi Pemilihan Umum, baik di pusat maupun di daerah, mengenai hasil
pemilihan umum. Artinya jika KPU membuat Keputusan selain dari ketetapan
mengenai hasil Pemilu, maka PTUN tetap berwenang memeriksanya, misalnya
Keputusan tentang Penetapan Calon Kepala Daerah.

Selain itu pula, Pasal 49 UU PTUN menegaskan bahwa Pengadilan tidak berwenang
memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara tertentu dalam hal
keputusan yang disengketakan itu dikeluarkan:
a. Dalam waktu perang, keadaan bahaya, keadaan bencana alam, atau keadaan luar biasa
yang membahayakan, berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
b. Dalam keadaan mendesak untuk kepentingan umum berdasarkan peraturan
perundangundangan yang berlaku.

Untuk mengetahui apakah objek sengketa dalam kasus ini termasuk ke dalam kriteria
Keputusan Tata Usaha Negara, dapat dirumuskan unsur-unsur pasal 1 butir 3 sebagai berikut:
a. Penetapan Tertulis
Maksud dari kata Penetapan Tertulis menunjuk kepada isi yang ditetapkan dalam
keputusan TUN yang dapat berupa:1
-

Kewajiban-kewajiban untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu atau untuk

membiarkan sesuatu
Pemberian suatu subsidi atau bantuan
Pemberian izin
Pemberian suatu status

Terkait dengan kasus, surat keputusan yang dikeluarkan oleh Direksi PD Pasar Jaya Pusat
No. 01.02.6428, 01.02.6429, 01.02.6431, 02.01.6423, 01.02.6424, 01.02.6425, dan
01.02.6426 pada tanggal 7 Desember 2001 merupakan Penetapan tertulis yang berisi
hubungan hukum yaitu berupa izin penggunaan tempat berjualan kepada Ir. Manggul Malik
(Tergugat II Intervensi) di kios yang ditempati oleh Para Penggugat.
1 Subur, Fungsi, Tugas, Wewenang dan Mekanisme Beracara di Peradilan Tata Usaha Negara

b. Badan atau pejabat Tata Usaha Negara


Sebagai suatu Keputusan TUN, Penetapan tertulis itu juga merupakan salah satu
instrumen yuridis pemerintahan yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat TUN dalam
rangka pelaksanaan suatu bidang urusan pemerintahan. Selanjutnya mengenai apa dan
siapa yang dimaksud dengan Badan atau Pejabat TUN sebagai subjek Tergugat, disebutkan
dalam pasal 1 angka 2:
Badan atau Pejabat Tata Usaha negara adalah Badan atau Pejabat yang
melaksanakan urusan pemerintahan berdasarkan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
Badan atau Pejabat TUN ukurannya ditentukan oleh fungsi yang dilaksanakan Badan atau
Pejabat TUN pada saat tindakan hukum TUN itu dilakukan. Sehingga apabila yang diperbuat
itu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku merupakan suatu pelaksanaan
dari urusan pemerintahan, maka apa saja dan siapa saja yang melaksanakan fungsi demikian
itu, saat itu juga dapat dianggap sebagai suatu Badan atau Pejabat TUN. Sedang yang
dimaksud dengan urusan pemerintahan adalah segala macam urusan mengenai masyarakat
bangsa dan negara yang bukan merupakan tugas legislatif ataupun yudikatif. Dengan
demikian apa dan siapa saja tersebut tidak terbatas pada instansi-instansi resmi yang berada
dalam lingkungan pemerintah saja, akan tetapi dimungkinkan juga instansi yang berada
dalam lingkungan kekuasaan legislatif maupun yudikatif pun, bahkan dimungkinkan pihak
swasta, dapat dikategorikan sebagai Badan atau Pejabat TUN dalam konteks sebagai subjek
di Peratun2.
Terkait dengan kasus bahwa yang mengeluarkan Penetapan Tertulis berupa SIPT No.
01.02.6428, 01.02.6429, 01.02.6431, 02.01.6423, 01.02.6424, 01.02.6425, dan 01.02.6426
tanggal 7 Desember 2001 adalah Direksi PD Pasar Jaya Pusat yang dalam kasus a quo
bertindak berdasarkan peraturan-peraturan yang berlaku yakni Perda No. 6 Tahun 1992,
dalam rangka melaksanakan fungsi sebagai pelaksana urusan pemerintahan di bidang
pengurusan pasar di wilayah DKI Jakarta. Oleh karena itu, sesuai ketentuan pasal 1 ayat 2
UU No. 5 Tahun 1986, maka Direksi PD Pasar Jaya dalam rangka menerbitkan SIPT adalah
bertindak selaku Badan/Pejabat Tata Usaha Negara.
c. Berisi tindakan hukum TUN
2 Indroharto, Usaha Memahami Undang-Undang Peradilan Tata Usaha Negara, Buku I dan II,
(Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1994), h. 166

Sebagaimana telah dijelaskan diatas, bahwa suatu Penetapan Tertulis adalah salah satu
bentuk dari keputusan Badan atau Pejabat TUN, dan keputusan yang demikian selalu
merupakan suatu tindakan hukum TUN, dan suatu tindakan hukum TUN itu adalah suatu
keputusan yang menciptakan, atau menentukan mengikatnya atau menghapuskannya suatu
hubungan hukum TUN yang telah ada.3 Dengan kata lain untuk dapat dianggap suatu
Penetapan Tertulis, maka tindakan Badan atau Pejabat TUN itu harus merupakan suatu
tindakan hukum, artinya dimaksudkan untuk menimbulkan suatu akibat hukum TUN.
Dalam kasus tersebut, SIPT No. 01.02.6428, 01.02.6429, 01.02.6431, 02.01.6423,
01.02.6424, 01.02.6425, dan 01.02.6426 yang dikeluarkan Direksi PD Pasar Jaya pada
tanggal 7 Desember 2001 merupakan penetapan tertulis yang berisi izin pemakaian tempat di
sejumlah kios di Pasar Regional Tanah Abang.
d. Berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang Berlaku
Kata berdasarkan dalam rumusan tersebut dimaksudkan bahwa setiap pelaksanaan
urusan pemerintahan yang dilakukan oleh Badan atau Pejabat TUN harus ada dasarnya dalam
peraturan perundang-undangan yang berlaku, karena hanya peraturan perundang-undangan
yang berlaku sajalah yang memberikan dasar keabsahan (dasar legalitas) untuk urusan
pemerintahan yang dilaksanakan oleh Badan atau Pejabat TUN (pemerintah) 4. Dari kata
berdasarkan itu juga dimaksudkan bahwa wewenang Badan atau Pejabat TUN untuk
melaksanakan suatu bidang urusan pemerintahan itu hanya berasal atau bersumber ataupun
diberikan oleh suatu ketentuan dalam suatu peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dalam kasus tersebut, Direksi PD Pasar Jaya dalam menerbitkan SIPT No. 01.02.6428,
01.02.6429, 01.02.6431, 02.01.6423, 01.02.6424, 01.02.6425, dan 01.02.6426 adalah
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu Perda No. 6 Tahun 1992.
e. Bersifat Konkret, Individual dan Final
Keputusan TUN itu harus bersifat konkret, artinya objek yang diputuskan dalam
Keputusan TUN itu tidak abstrak, tetapi berwujud, tertentu atau dapat ditentukan 5. Dalam
kasus, Direksi PD Pasar Jaya menerbitkan Surat Izin Pemakaian Tempat Usaha No.
3 Ibid., h. 171-172
4 Subur, Op.cit., h. 5
5 Indroharto, Op.cit., h.173

01.02.6428, 01.02.6429, 01.02.6431, 02.01.6423, 01.02.6424, 01.02.6425, dan 01.02.6426


untuk sejumlah kios di Pasar Regional Tanah Abang. Bersifat Individual artinya Keputusan
TUN itu tidak ditujukan untuk umum, tetapi tertentu dan jelas kepada siapa Keputusan TUN
itu diberikan, baik alamat maupun hal yang dituju. Jadi sifat individual itu secara langsung
mengenai hal atau keadaan tertentu yang nyata dan ada. SIPT dalam kasus ini secara jelas
diterbitkan atas nama Ir. Manggul Malik. Bersifat Final artinya akibat hukum yang
ditimbulkan serta dimaksudkan dengan mengeluarkan Penetapan Tertulis itu harus sudah
menimbulkan akibat hukum yang definitif. Dengan mengeluarkan suatu akibat hukum yang
definitif tersebut ditentukan posisi hukum dari satu subjek atau objek hukum, hanya pada saat
itulah dikatakan bahwa suatu akibat hukum itu telah ditimbulkan oleh Keputusan TUN yang
bersangkutan secara final. Dalam kaitannya dengan kasus, SIPT yang diterbitkan oleh Direksi
PD Pasar Jaya sudah difinitkan dan menimbulkan akibat hukum bagi Penggugat, yaitu
Penggugat diharuskan mengosongkan tempat berjualan tersebut, padahal Penggugat telah
membayar biaya pengelolaan pasar kepada Tergugat sejak tahun 1994.
f. Menimbulkan Akibat Hukum Bagi Seseorang/Badan Hukum Perdata
Menimbulkan Akibat Hukum disini artinya menimbulkan suatu perubahan dalam
suasana hukum yang telah ada. Karena Penetapan Tertulis itu merupakan suatu tindakan
hukum, maka sebagai tindakan hukum ia selalu dimaksudkan untuk menimbulkan akibat
hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata. Apabila tidak dapat menimbulkan akibat
hukum ia bukan suatu tindakan hukum dan karenanya juga bukan suatu Penetapan Tertulis.
Sebagai suatu tindakan hukum, Penetapan Tertulis harus mampu menimbulkan suatu
perubahan dalam hubungan-hubungan hukum yang telah ada, seperti melahirkan hubungan
hukum baru, menghapuskan hubungan hukum yang telah ada, menetapkan suatu status dan
sebagainya.
Dalam kasus ini, bahwa dengan penerbitan Surat Izin Pemakaian Tempat Usaha oleh
Direksi PD Pasar Jaya pada 7 Desember 2001 tersebut, maka timbul akibat hukum yang
membawa suatu perubahan dalam suasana hubungan hukum yang telah ada yaitu Para
Penggugat terpaksa harus meinggalkan tempat mereka berjualan padahal mereka sudah
membayar biaya pengelolaan pasar sejak tahun 1994 hingga tahun 2002.
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa Surat Izin
Pemakaian Tempat Usaha No. 01.02.6428, 01.02.6429, 01.02.6431, 02.01.6423, 01.02.6424,
01.02.6425, dan 01.02.6426 atas nama Ir. Manggul A. Malik yang diterbitkan oleh Direksi

PD Pasar Jaya pada 7 Desember 2001 merupakan Keputusan Tata Usaha Negara yang
menjadi objek gugatan yang termasuk dalam wewenang peradilan Tata Usaha Negara.

Tenggang Waktu Pengajuan Gugatan


Tenggang waktu gugat adalah batas waktu atas kesempatan yang diberikan oleh UU
kepada seseorang atau Badan Hukum Perdata untuk memperjuangkan haknya dengan cara
mengajukan gugatan. Bila tenggang waktu tersebut tidak dipergunakan maka kesempatan
untuk mengajukan gugatan menjadi hilang dan gugatan akan dinyatakan tidak diterima. 6
Berdasarkan Pasal 55 UU No. 5 Tahun 1986 tenggang waktu mengajukan gugatan adalah 90
hari terhitung sejak diterimanya atau setelah diumumkannya KTUN yang digugat.
Ketentuan Pasal 55 UU No. 5 Tahun 1986 tidak perlu dibedakan antara penggugat
sebagai alamat yang dituju, dengan penggugat sebagai pihak ketiga yang berkepentingan.
SEMA No. 2 Tahun 1991 Tanggal 3 Juli mendefinisikan tenggang waktu pengajuan gugatan
bagi pihak yang tidak dituju oleh suatu KTUN, tetapi merasa kepentingannya dirugikan yaitu
90 hari dihitung secara kasuistis sejak saat ia merasa kepentingannya dirugikan oleh KTUN
yang bersangkutan dan mengetahui adanya KTUN yang bersangkutan.
Berkaitan dengan penghitungan tenggang waktu maka KTUN dapat dibedakan menjadi
2 yaitu7:
a. KTUN Positif yaitu penghitungan tenggang waktu 90 hari tergantung pada cara
penyampaian KTUN kepada penggugat seperti melalui kurir, menerima langsung
di kantor Badan/Jabatan TUN, melalui pos, dan melalui pengumuman ditempat
pengumuman atau media massa.
b. KTUN Negatif yaitu penghitungan tenggang waktu 90 hari terhitung setelah
lewatnya jangka waktu yang ditentukan peraturan dasarnya yang dihitung sejak
tanggal diterimanya permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2)
UU No. 5 Tahun 1986 dan setelah lewatnya batas waktu empat bulan yang
dihitung sejak tanggal diterimanya permohonan tersebut.8
6 Soemaryono dan Anna Erliyana, Tuntunan Praktek Beracara di PTUN, (Jakarta: Primamedia
Pustaka-Gramedia, 1999), h. 2-3.
7 Indroharto, Op.cit., h. 55-60
8 Indroharto, Op.cit., h. 55-60.

Dalam kasus ini, Penggugat mendapat pemberitahuan bahwa Surat Izin Pemakaian
Tempat Usaha tersebut telah terbit dan diperpanjang oleh Tergugat, dan hal tersebut baru
diketahui oleh Penggugat pada bulan Maret 2002 pada pertemuan dengan Tergugat di kantor
Tergugat, dan gugatan Tata Usaha Negara terhadap terbitnya dan perpanjangan Surat Izin
tersebut diajukan oleh Penggugat ke Pengadilan Tata Usaha Negara pada 25 Maret 2002,
dengan demikian masih dalam tenggang waktu sebagaimana di atur dalam Pasal 55 UU
Nomor 5 Tahun 1986.
Setelah dijatuhkan putusan oleh Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta pada tanggal 3
Oktober 2002, pihak Tergugat yaitu Direksi PD Pasar Jaya mengajukan permohonan
pemeriksaan banding yang diajukan melalui Kuasa Hukum Tergugat I/Pembanding dan
Tergugat II Intervensi/Pembanding masing-masing pada tanggal 14 Oktober 2002 dan tanggal
18 Oktober 2002. Kemudian mereka menyerahkan Memori Banding masing-masing pada
tanggal 4 November 2002 dan tanggal 29 November 2002. Permohonan banding oleh
Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara dinyatakan dapat diterima karena masih dalam
tenggang waktu sebagaimana di atur dalam Pasal
Kemudian