Anda di halaman 1dari 7

Siak Siap Relokasi Bandara SSK

Kamis, 25 Mei 2006


Arwin: Soal Lokasi Sudah Dipersiapkan
Laporan RUSLAN, Siak ruslan@riaupos.com
Rencana relokasi Bandara Sutan Syarif kasim (SSK) II yang terletak di Kota
Pekanbaru yang dinilai tidak relevan lagi untuk menampung kepadatan rute
penerbangan milik pemerintah maupun komersil, mendapat respon positif dari
Pemkab Siak.
Dengan posisi geografi Kabupaten Siak yang dinilai sebagai daerah yang
beredekatan dengan ibukota provinsi tersebut, menyatakan siap bila suatu saat
Bandara SSK II tersebut direlokasi dan dipindahkan ke daerah ini.
Untuk mendukung rencana ini, sesuai dengan kemampuannya pemerintah Kabupaten
Siak siap membantu berbagai sarana dan prasaran penunjang yang diperlukan untuk
kelayakan pendirian sebuah bandara bertaraf internasional.
Ditinjau dari bentuk geografis, kondisi lahan, kesiapan mental masyarakat dan
program jangka menengah yang akan dilakukan oleh Kabupaten Siak ke depan, kita
bisa dikatakan sangat siap untuk mendukung program pemerintah provinsi tersebut
bila memang kajian yang sedang dilakukan saat ini membuktikan Bandara SSK II ini
tidak relevan lagi untuk melayani padatnya aktivitas penerbangan yang ada. Kita akan
berusaha semaksimal mungkin untuk membantu perwujudan pembangunan bandara
itu, ujar Bupati Siak H Arwin AS SH kepada Riau Pos, Rabu (23/5) di Siak.
Hal tersebut disampaikan Arwin AS kepada Riau Pos menanggapi wacana yang saat
ini hangat digulirkan oleh pihak eksekutif dan legistlatif di tingkat provinsi untuk
memindahkan bandara SSK II dari Pekanbaru.
Menurut Bupati, kalau memang benar Siak dijadikan sebagai alternatif relokasi
bandara SSK, Bandara SSK II nantinya akan menjadi seperti Bandara Minangkabau
Internasional Airport. Kalaupun pada konsepnya standar kepemilikan dipegang oleh
provinsi secara utuh, tapi letaknya di Kabupaten Siak, dan Pemkab Siak tetap akan
mendapat keuntungan. Dan ini tentunya akan semakin membuka akses Kabupaten
Siak dengan akses luar baik dalam sekala nasional maupun internasional. Ini
tentunya akan berdampak positif bagai pertumbuhan ekonomi Kabupaten Siak itu
sendiri. Jadi tidak ada asalan bagi Siak untuk menolak relokasi pembangunan
bandara SSK II di Siak.
Dikatakannya lagi, kesiapan Kabupaten Siak dalam menerima tawaran yang diberikan
untuk menjadi lokasi relokasi Bandara SSK II tersebut, tidak hanya didasarkan pada
program pembangunan jangka menengah dan jangka panjang yang saat ini dibingkai
dalam program strategis pembangunan Kabupaten Siak untuk 20 tahun ke depan.
Sikap ini juga ditunjang oleh nilai historis daerah karena nama bandara yang ada di
Pekanbaru berasal dari nama penguasa Kerajaan Kabupaten Siak yang pernah
meraih sukses gemilang dimasa lalu, serta tercatat sebagai Pahlawan Nasional dari
Riau. Jadi dengan dengan relokasi pembangunan bandara SSK II ini akan semakin
menguatkan posisi Siak dalam membangun wisata.

Kesiapan kita, untuk menyambut kehadiran bandara itu tidak hanya selogan. Kita
juga telah mengupayakan dengan menyiapkan program pemangunan jalan lintas
(high way) dari Siak menuju Kota Pekanbaru yang akan semakin memperlancar arus
transportasi. Jadi, program ini kita nilai sangat urgen dengan program pembangunan
ke depan Siak terutama dalam membuka akses Siak dengan dunia internasional. Kita
optimis bila hal ini teruwujud, Siak akan tumbuh menjadi pusat kota dan pertumbuhan
ekonomi baru di kawasaan persisir yang turut didukung dengan terbukanya Kawasan
Industri Buton, jelas Bupati.
Masih Layak
Meskipun demikian, lanjut bupati, wacana tersebut tentunya baru akan diwujudkan
pemerintah provinsi dalam waktu lama.
Soalnhya, keberadaan Bandara SSK II yang ada di Pekanbaru saat ini masih relevan
untuk 10-15 tahun mendatang. Sehingga pengerjaan relokasi bandara tersebut
bukanlah hal yang sangat mendesak, sebab saat ini Provinsi Riau masih
membutuhkan anggaran cukup besar untuk membamngu berbagai fasiltias publik
yang lain yang lebih mendesak.
Ini baru setakat wacana, dan saya pikir bandara SSK II di Pekanbaru masih layak
untuk 10-15 tahun ke depan. Dan relokasi pembangunan bandara SSK yang baru
tidak terlalu mendesak, akan lebih bagus kalau dana untuk relokasi pembangunan
bandara SSK II tersebut dialokasikan untuk membangun berbagai fasilitas publik yang
lainnya yang lebih mendesak dan dibutuhkan masyarakat, imbuh Bupati Siak Arwin
AS.(izl)

Lakukan Studi Kelayakan Lokasi Bandara Baru


Jalinus SH, Kasubdin Transportasi Udara Dishub Riau
Minggu, 19 Pebruari 2006
PADA tahun 2016 atau tahun 2018 Bandar Udara (Bandara) Sutan Syarif Kasim
(SSK) II tidak layak lagi dipakai karena pertumbuhan ekonomi Riau yang tinggi setiap
tahun. Oleh sebab itu, wacana pembentukan bandara baru harus digesah dari
sekarang. Untuk 2006 ini, Dinas Perhubungan Riau telah mengajukan anggaran ke
DPRD Riau untuk feasibility study (studi kelayakan) pengembangan bandara baru
tersebut.
Kepada wartawan Riau Pos, Edwar Yaman dan Zulmasri, Kasubdin Transportasi
Udara, Dinas Perhubungan Riau, Jalinus, SH, Rabu (15/2) lalu menjelaskan tentang
rencana pemindahan Bandara SSK II itu. Kapan akan dipindahkan, seperti apa
bandara yang akan dibangun nantinya, dan bagaimana dengan bandara yang
sekarang ini? Berikut kutipan wawancaranya.
Saat ini telah berkembang wacana Bandara SSK II. Bisa Anda jelaskan, apakah
bandara yang sekarang ini memang tidak layak lagi?
Begini, isu ataupun wacana pemindahan Bandara SSK II ini sudah lama berkembang
dari berbagai kalangan masyarakat. Kami sebagai instansi yang berkewenangan
dalam hal itu, tentu tidak akan memfollow up atau menerima keinginan itu begitu saja.
Dalam tahun anggaran 2005 yang lalu kita mengadakan suatu studi tentang
optimalisasi pembangunan bandara udara SSK II. Jadi, bandara itu sekarang itu
dibangun dalam master plannya yang ada, di mana rencananya akan dibangun dua
jalur landasan pacu. Tetapi ada satu hal penelitian yang sangat mengejutkan kita.
Pertama, estimasi kejadian sepuluh tahun yang akan datang itu sudah tercapai hari
ini, peak hour (jam sibuk).
Hasil penelitian kita dengan konsultan, apabila bandara SSK II ini dibangun sesuai
dengan master plan yang ada, itu pada tahun 2018 itu sudah over lagi. Bahkan PT
Angkasa Pura II yang melakukan penelitian itu mengatakan pada tahun 2016 sudah
terjadi. Jadi ada selisih dua tahun analisanya. Bandara SSK II selambat-lambatnya
tahun 2016 atau 2018 memang harus pindah.
Bandara sekarang sudah over maksudnya jam sibuknya sudah tidak bisa lagi
melayani. Untuk tahun berikutnya akan terjadi ketidaklancaran turun naiknya pesawat
di bandara. Yang kedua, fasilitas, ruang tunggu penumpang itu sudah sangat tidak
ideal lagi dengan melonjaknya jumlah penumpang dari tahun ke tahun.
Jika nanti memang benar-benar dipindahkan, bandara yang sekarang itu
nantinya mau dijadikan apa?
Ya, akan timbul pertanyaan, buat apa aset yang ada? Rupanya PT AP II sebagai
pengelolah bandara itu sudah mempersiapkan diri sudah jauh sebelumnya. PT
Angkasa Pura II telah mempersipkan perencanaan lokasi Bandara Udara SSK II
existing untuk menjadi Kota Bandar Baru yang lengkap dan mandiri(sebagai aset PT
Angkasa Pura II) yang dikembangkan sesuai dengan tuntutan arah perkembangan
Kota Pekanbaru ke depan sebagai ibukota Provinsi Riau.

Bisa Anda jelaskan, bandara baru sebagai pengganti Bandara SSK II yang akan
dibangun nanti itu seperti apa?
Dari diskusi-diskusi yang berkembang untuk mempercepat proses pembangunan
bandara baru sebagai pengganti Bandara SSK II existing agar dapat beroperasi pada
tahun 2016-2017. Lokasi dan rancang bangun bandara tersebut harus disiapkan
secara dini sesuai trend bandara masa depan. Bandara yang dibangun itu tidak
hanya disiapkan untuk melayani kelancaran lau lintas udara saja, akan tetapi
dirancang sedemikian rupa menjadi bandara udara internasional yang dilengkapi
dengan fasilitas terintegrasi dengan Central Business District (CBD), pemukiman
perkotaan ekslusif dan sekaligus sebagai sentral budaya dan pariwisata. Ini tentu
sesuai dengan visi dan misi Riau 2020.
Apakah sudah dilakukan penelitian untuk menentukan lokasi bandara baru
nanti?
Dari hasil studi sementara terdapat empat lokasi yang berada di empat kabupaten
kota. Pertama arah ke Siak, yakni Minas, kedua Langgam Pelalawan, ketiga Tapung
(Kampar) dan yang keempat Rumbai (Pekanbaru).
Dari keempat alternatif itu mana yang paling layak?
Inilah yang sekarang itu dimintakan anggaran biaya yang diusulkan ke DPRD untuk
melakukan penelitin pemilihan lokasi. Kita ajukan anggaran 5,6 milyar tapi hanya
disetujui 1,4 milyar. Dan pada tahun-tahun berikutnya bisa dianggarkan lagi. Jadi hasil
studi itu nanti akan menentukan mana dari keempat lokasi yang paling
menguntungkan untuk bandara baru itu secara teknis dan ekonomis, atau mungkin
ada alternatif lain selain empat lokasi itu. Secara teknisnya arah angin, dari bentuk
tanah, sedangkan secara ekonomis kenapa bandara yang akan kita bangun ini tidak
seperti bandara yang sekarang, tapi adalah bandara yang di dalamnya termasuk
sebagai pusat bisnis dan pariwisata. Jadi merupakan satelit baru kotanya. Artinya
apa, terlalu jauh dari ibukota provisi, Pekanbaru, ekonomisnya tadi tidak terpenuhi.
Tentu untuk membangun bandara masa depan itu mengeluarkan biaya yang
sangat besar. Bagaimana cara untuk mengakali hal ini?
Oleh sebab itu pembangunan fisiknya rencananya tidak akan menggunakan APBD
dan APBN, tetapi bisa saja melalui investor. Buat analisa sementara untuk
pembangunan lahan baru itu diperkirakan membutuhkan lahan lebih kurang 800
hektar. Hasil studi yang telah dilaksanakan diperkirakan investasi yang dibutukan
untuk membangun bandara baru tersebut sekitar 3,15 triliun (NPV=212, 8 milyar pada
discount rate 18 persen dihitung sampai tahun 2040. dan tingkat pengembalian
investasi (IRR) sebesar 24 persen, sehingga sangat layak dibangun melalui program
investasi infrastruktur transportasi udara melalui kerja sama dengan pihak swasta
(Private Sector Perticipation (PSP) atau melalui program infrastruktur yang menjadi
kewajiban pemerintah (public service obligation (PSO).
Kalau kita lihat pembangunan bandara ini kan sebenarnya tidak hanya untuk
kepentingan daerah semata, tapi juga nasional. Bagaimana koordinasi dan
sinkronisasi antara daerah dan pusat?
Bahwasanya Gubernur Riau HM Rusli Zainal SE telah melakukan koordinasi yang
baik untuk tercapainya fungsional bandara baru ini. Rencana ini telah dikoordinasikan

ke pusat dan ke semua pihak yang berkompeten di daerah ini. Semua rencana tindak
lanjut (action plan) berada di bawah koordinasi dan bimbingan langsung Dirjen
Perhubungan Udara melalui tim asistensi yang akan ditunjuk untuk memberikan
masukan secara teknis (langkah-langkah tahapan, urutan rangkaian kegiatan
perencanaan yang meliputi, jangka waktu pelaksanaan, plafon dan sumber dana
untuk masing-masing kegiatan) dengan skema yang jelas. Dengan demikian
keterpaduan dan sinkronisasi program pembangunan bandara baru tersebut antara
pemerintah daerah dan pemerintah pusat melalui departemen perhubungan dapat
terlaksana dengan baik, mulai dari tahapan perencanaan sampai dengan
pelaksanaannya sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku.
Pengelolaan bandara baru ini dipercayakan kepada siapa nantinya?
Mengingat proyek tersebut termasuk kategori kegiatan proyek strategis, oleh sebab
itu kita harus melengkapi semua dokumen-dokumen atau penyusunan proposal
proyek yang dapat memenuhi standar kriteria atau persiapan yang layak
dikerjasamakan dengan pihak swasta dengan alternatif pelaksanaan konstruksi
menggunakan kontrak model; tipe Buid Operate Transfer (BOT), tipe Build Own
Operate Transfer (BOOT), tipe Build Lease Transfer (BLT) atau bentuk lain yang
menguntungkan semua pihak. Untuk pembiayaan kegiatan perencanaan kita
berharap alokasi sumber dana APBN, APBD atau sumber dana lainnya, sehingga
pada tahun 2009 s/d 2017 kegiatan fisik bandara baru ini sudah bisa dilaksanakan.***

PEMERINTAH PROPINSI RIAU BERENCANA RELOKASI BANDARA SSK


Selasa, 14 Februari 2006, 13:03 WIB
PEKANBARU,
Pemerintah Provinsi Riau merencanakan untuk segera merelokasi Bandara Sultan
Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru ke lokasi lain menginat lokasi yang ada saat ini telah
tidak memadai lagi.
"Rencana relokasi bandara merupakan kebutuhan yang sangat mendesak untuk
menjaga eksistensi bandara tersebut," kata gubernur Riau HM Rusli Zainal di
Pekanbaru, Senin.
Berdasarkan analisis yang dibuat PT Angkasapura Bandara SSK II diprediksikan pada
2018 masih dimungkinkan bandara tersebut dimanfaatkan namun diatas 2018 sudah
sangat tidak memungkinkan lagi karena padatnya penerbangan dan pemukiman.
Gubernur menjelaskan, pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak Angkasapura
untuk melakukan pemindahan Bandara. Dimana lokasinya juga sedang dikaji, sebab
cepat atau lambat bandara tersebut pasti dipindahkan.
Bandara yang baru akan mengacu pada perkembangan kota sehingga bangunan
bandara kelak tidak jadi monumen tetapi sebagai pusat areal komersil.
Ia menjelaskan, pihaknya telah bekerjasama dengan lembaga konsultan untuk
mencari lokasi yang layak bagi sebuah bandara internasional lengkap dengan
pertimbangan teknis, perkembangan kota, keselamatan penerbangan dan
sebagainya.
"Yang pasti, bandara baru itu akan berada diluar kota Pekanbaru," katanya.
Sementara itu Kepala Bappeda Riau Emrizal Pakis mengatakan, pihaknya telah
mengalokasikan studi pembangunan bandara baru itu dalam APBD 2006.
"Rencanya akan dibangun Bandara Internasional di lokasi baru mengingat daya
tampung bandara yang ada saat ini untuk ke depan tidak memungkinkan," ujar
Emrizal. Ia menjelaskan, saat ini pihaknya belum dapat menentukan lokasi bandara
internasional itu karena masih dikaji secara detail.(ms)

Dikepung Pemukiman dan Ruko, Dikaji Pemindahan Bandara SSK


II Pekanbaru
PEKANBARU (Riau Online): Peristiwa tragis yang menimpa warga Padang Bulan,
Medan, yang pemukimanannya beberapa hari lalu ditimpa pesawat Mandala, jadi
pengalaman berharga bagi Pemprov Riau. Saat ini Pemprov Riau sedang
mempertimbangkan untuk memindahkan Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II
Pekanbaru yang lokasinya kini sudah dikepung pemukiman penduduk.
Kepala Dinas Perhubungan Riau, Tezzy Dachlan kepada wartawan, Rabu (7/9) di
Pekanbaru mengatakan, lokasi bandara SSK II Pekanbaru saat ini sudah tidak layak
lagi, mengingat sudah dikepung oleh pemukiman penduduk. "Kita kawatir kasus di
Polonia Medan itu terulang di bandara ini," jelasnya.
Dikatakannya, pengembangan Pekanbaru yang sangat pesat akhir-akhir ini
menjadikan bandara SSK II semakin berada di tengah kota. Pemukiman penduduk,
pertokoan dan perkantoran semakin dekat ke lokasi bandara, sehingga hal ini sangat
membahayakan keselamatan penerbangan.
Mengingat hal itu, menurut dia, pihaknya mulai mempertimbangkan untuk
memindahkan lokasi bandara ke tempat yang lebih tepat, yakni berada di luar kota
Pekanbaru. Saat ini Dinas Perhubungan Riau telah melakukan kajian studi kelayakan
pemindahan bandara ke lokasi yang dianggap paling aman.
lebih lanjut Tezy mengatakan, pengkajian tersebut dilakukan dalam rangka
mematangkan rencana pemindahan bandara ke tempat yang lebih aman serta
memperkecil kesalahan dalam proses pemindahan kelak. "Sebelum dipindahkan,
tentunya perlu diperhitungkan lokasi mana yang dianggap tepat untuk dibangun
bandara," tegasnya.
Dia mengatakan, pemindahan bandara SSK II ke lokasi yang lebih aman sangat
penting dilakukan secepatnya, mengingat perkembangan kota Pekanbaru makin
membuat lokasi bandara sekarang makin dikepung pemukimanan, pertokoan dan
kantor. Sebab kalau kejadian di Polonia itu terjadi di Pekanbaru, maka jumlah korban
yang jatuh dipastikan juga banyak.
Saat ini saja, tidak kurang 1 km dari lokasi bandara SSK II Pekanbaru telah berdiri
banyak pertokoan bertingkat, gedung-gedung perkantoran dan juga hotel. Belum lagi
rumah-rumah penduduk dan komplek perumahan telah bermunculan di sekitar
kawasan bandara, sehingga membuat bandara semakin dikepung bangunan.
Jika dulu bandara SSK II berjarak 10 km dari pusat kota, kini malah sudah berada di
dalam kota Pekanbaru. Selama ini lokasi bandara ini tetap dipertahankan karena
letaknya cukup bagus, karena lokasinya berada lebih tinggi dibandingkan lokasi
lainnya di kota ini.
Berkaitan dengan rencana pemindahan bandara itu, saat ini berkembang informasi
yang menyebutkan ada tiga lokasi yang kemungkinan dijadikan lokasi, yakni di
Kabupaten Kampar, Siak atau Pelelawan. Namun Tezzy tidak bisa memastikan lokasi
yang akan digunakan.(ak/rtc)