Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Paru mempunyai fungsi utama untuk melakukan pertukaran gas, yaitu mengambil
O2 dari udara luar dan mengeluarkan CO 2 dari badan ke udara luar. Bilamana paru
berfungsi secara normal, tekanan parsial O2 dan CO2 di dalam darah akan dipertahankan
seimbang, sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Analisa Gas Darah (AGD) merupakan pemeriksaan untuk mengukur keasaman
(pH), jumlah oksigen, dan karbondioksida dalam darah. Pemeriksaan ini digunakan untuk
menilai fungsi kerja paru-paru dalam menghantarkan oksigen kedalam sirkulasi darah
dan mengambil karbondioksida dalam darah. Analisa gas darah meliputi PO2, PCO3, pH,
HCO3, dan saturasi O2.
Analisa gas darah merupakan salah satu alat diagnosis dan penatalaksanaan
penting bagi pasien untuk mengetahui status oksigenasi dan keseimbangan asam basanya.
Manfaat dari pemeriksaan analisa gas darah tersebut bergantung pada kemampuan dokter
untuk menginterpretasi hasilnya secara tepat. Di Indonesia hampir 50% penyakit dalam
dilakukan AGD (Analisa Gas Darah) untuk mendapatkan data penunjang. Pada tahun
2007 banyaknya penderita demam berdarah menambah catatan penderita penyakit dalam
yang dilakukan AGD (Analisa Gas Darah).
Pemeriksaan analisis gas darah merupakan pemeriksaan laboratorium yang
penting sekali di dalam penatalaksanaan penderita akut maupun kronis, terutama
penderita penyakit paru. Pemeriksaan analisis gas darah penting baik untuk menegakkan
diagnosis, menentukan terapi, maupun untuk mengikuti perjalanan penyakit setelah
mendapat terapi.
Pemeriksaan gas darah dan pH digunakan sebagai pegangan dalam penanganan
pasien-pasian penyakit berat dan menahun. Pemeriksaan analisa gas darah dikenal juga
pemeriksaan ASTRUP yaitu suatu pemeriksaan gas darah yang dilakukan melalui darah
arteri. Gas darah arteri memungkinkan untuk pengukuran pH (dan juga keseimbangan
asam basa), oksigenasi, kadar karbondioksida, kadar biokarbonat, saturasi oksigen, dan

kelebihan atau kekurangan basa. Pemeriksaan gas darah arteri dan pH sudah secara luas
digunakan sebagai pegangan dalam penatalaksanaan pasien-pasien penyakit berat yang
akut dan menahun. Pemeriksaan gas darah juga dapat menggambarkan hasil berbagai
tindakan penunjang yang dilakukan, tetapi kita tidak dapat menegakkan suatu diagnosa
hanya dari penelitian analisa gas darah dan keseimbangan asam-basa saja, kita harus
menghubungkan dengan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, dan data-data laboratorium
lainnya. Gas darah memberikan informasi tentang oksigenasi, homeostasis CO2, dan
keseimbangan asam basa, dan karena itu merupakan alat terpenting yang digunakan
dalam mengevaluasi adekuasi fungsi paru.
Pada pemeriksaan Analisa Gas Darah (AGD), cara pengambilan sampel darah
arteri harus diperhatikan, sebab pada pengambilan darah arteri resiko komplikasi lebih
berbahaya daripada pengambilan darah vena (venipuncture) maupun skinpuncture. Oleh
sebab itu seorang analis (plebotomis) harus mengerti tentang pengertian analisa gas
darah, indikasi pemeriksaan gas darah, metode pemeriksaan analisa gas darah, dan
interpretasi analisa gas darah.
B. Rumusan Masalah

C. Tujuan

BAB II

PEMBAHASAN
A. Analisa Gas Darah
Pemeriksaan AGD (Astrup) adalah pemeriksaan beberapa gas yang terlarut dalam
darah arteri, bertujuan untuk mengetahui keseimbangan asam basa, kadar oksigen,
kadar karbondioksida dan sebagainya dalam tubuh.
Analisa Gas Darah ( AGD ) atau sering disebut Blood Gas Analisa ( BGA )
merupakan pemeriksaan penting untuk penderita sakit kritis yang bertujuan untuk
mengetahui atau mengevaluasi pertukaran Oksigen ( O2),Karbondiosida ( CO2) dan
status asam-basa dalam darah arteri.
B. Komponen Darah
Analisa gas darah (AGD) atau BGA (Blood Gas Analysis) biasanya dilakukan untuk
mengkaji gangguan keseimbangan asam-basa yang disebabkan oleh gangguan pernafasan
dan/atau gangguan metabolik. Komponen dasar AGD mencakup pH, PCO2, PO2, SO2,
HCO3 dan BE (base excesses/kelebihan basa).
pH merupakan logaritma negative dari kosentrasi ion hydrogen di dalam darah. pH
secara terbalik menunjukkan konsentrasi ion hydrogen. Oleh karena itu, ketika
konsentrasi ion hydrogen menurun, pH akan naik, begitu pula sebaliknya. pH normal
pada darah arteri orang dewasa adalah 7,35 sampai 7,45. Dan 7,31 hingga 7,41 pada
vena.
PCO2 merupakan ukuran tekanan parsial CO2 dalam darah. PCO2 menunjukkan
kondisi ventilasi. Semakin cepat dan dalam klien bernapas, semakin banyak CO2 yang
dikeluarkan dan PCO2 pun akan turun. PCO2 dalam darah dan CSF merupakan stimulus
utama bagi pusat pernapasan di otak. Apabila PCO2 naik, maka pernapasan akan
terstimulasi.

Jika

PCO2

naik

terlalu

tinggi

dan

paru-paru

tidak

dapat

mengkompensasinya, maka akan terjadi koma. Nilai normal PCO2 dalam arteri adalah
35-45 mmHg, sedangkan dalam vena adalah 40-50 mmHg.
Kebanyakan CO2 dalam darah berbentuk HCO3- (asam bikarbonat). HCO3- adalah
ukuran dari komponen metabolic dari keseimbangan asam-basa dan diatur oleh ginjal.
Dalam ketoasidosis diabetic, HCO3- menurun karena digunakan untuk menetralisir asamasam diabetic dalam plasma. Nilai normal dari HCO3- dalam darah adalah 21-28 mEq/L.

Tekanan parsial oksigen, PO2, secara tidak langsung menunjukkan nilai O2 dalam
darah. PO2 menunjukkan tekanan oksigne yang larut dalam plasma. PO2 juga
merupakana salah satu indicator untuk mengetahui keefektifan terapi oksigen yang
digunakan. Nilai normal dari PO2 adalah 80-100 mmHg pada arteri dan 40-50 mmHg
pada vena.
Saturasi oksigen (SaO2), adalah presentasi ikatan hemoglobin (Hb) dengan oksigen.
Pada lansia nilai SaO2 ialah 95%. Sedangkan pada orang dewasa 95% sampai 100%.
Berikut merupakan nilai normal untuk analisa gas darah arteri dan nilai abnormal dalam
gangguan keseimbangan asam-basa yang tidak terkompensasi.
Pada dasarnya pH atau derajat keasaman darah tergantung pada konsentrasi ion H+
dan dapat dipertahankan dalam batas normal melalui 3 faktor, yaitumekanisme
penyangga kimia, pernapasan dan ginjal. Mekanisme pernapasan bekerja dengan
menahan dalam darah atau melepas ke udara CO2 melalui ekspirasi.
Proses perubahan pH darah ada dua macam, yaitu proses perubahan yang bersifat
metabolik (adanya perubahan konsentrasi bikarbonat[HCO3-] yang disebabkan gangguan
metabolisme) dan yang bersifat respiratorik (adanya perubahan tekanan parsial CO2 yang
disebabkan gangguan respirasi). Perubahan PaCO2 dan/atau HCO3- akan menyebabkan
perubahan pH darah. Asidosis (pH turun di bawah normal) akan terjadi jika PaCO2
meningkat dan/atau bikarbonat menurun, sedangkan alkalosis terjadi bila sebaliknya.
Asidosis ada dua macam yaitu asidosis akut dan asidosis kronik, demikian juga
halnya dengan alkalosis. Penggolongan asidosis atau alkalosis akut berdasarkan
kejadiannya belum lama dan belum ada upaya tubuh untuk mengkompensasi perubahan
pH darah, sedangkan kronik jika kejadiannya telah melampaui 48 jam dan telah ada
upaya tubuh untuk mengkompensasi perubahan pH.
Pemeriksaan gas darah juga dapat menggambarkan hasil berbagai tindakan
penunjang yang dilakukan, tetapi kita tidak dapat menegakkan suatu diagnosa hanya dari
penilaian analisa gas darah dan keseimbangan asam basa saja, harus menghubungkan
dengan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, dan data-data laboratorium lainnya. Pada
dasarnya pH atau derajat keasaman darah tergantung pada konsentrasi ion H+ dan dapat
dipertahankan dalam batas normal melalui 3 faktor, yaitu:

1.
2.
3.

Mekanisme dapar kimia


Mekansime pernafasan.
Mekanisme ginjal

Tabel gas-gas darah normal dari sample arteri dan vena campuran.
parameter

Sampel arteri

Sampel vena

Ph

7,35-7,45

7,32-7,38

PaCO2
PaO2
Saturasi oksigen

35-45 mmHg
80-100mmHg
95%-100%

42-50 mmHg
40 mmHg
75%

Kelebihan

+ atau -2

+ atau -2

/kekurangan basa
HCO3

22-26 mEq/L

23-27 mEq/L

Darah arteri biasanya diambil dari arteri radialis, brachialis atau femoralis.
Tempat-tempat pengambilan darah untuk AGD
1. Arteri Radialis, merupakan pilihan pertama yang paling aman dipakai untuk
fungsi arteri kecuali terdapat banyak bekas tusukan atau haematoem juga
apabila Allen test negatif.
2. Arteri Dorsalis Pedis, merupakan pilihan kedua.
3. Arteri Brachialis, merupakan pilihan ketiga karena lebih banyak resikonya
bila terjadi obstruksi pembuluh darah.
4. Arteri Femoralis, merupakan pilihan terakhir apabila pada semua arteri diatas
tidak dapat diambil. Bila terdapat obstruksi pembuluh darah akan
menghambat aliran darah ke seluruh tubuh / tungkai bawah dan bila yang
dapat mengakibatkan berlangsung lama dapat menyebabkan kematian
jaringan. Arteri femoralis berdekatan dengan vena besar, sehingga dapat
terjadi percampuran antara darah vena dan arteri.

C. Anatomi daerah yang akan menjadi target tindakan

(www.google.co.id)
Lokasi pengambilan darahnya antara lain di arteri radialis, arteri brachialis, arteri
femoralis, arteri tibialis, dan arteri dorsal pedalis. Umunya pengambilan darah arteri
dilakukan pada arteri radialis. Arteri radialis merupakan kelanjutan dari arteri brachialis,
tetapi lebih kecil dari ulnaris. Pada fossa cubitis, arteri brachialis bercabang membentuk
arteri radialis dan arteri ulnaris. Arteri ini berada di atas tendon biseps dan letaknya
berawal dari atas m. spinator kemudian turun di sisi radialis lengan bawah, di bawah tepi
m. brachioradialis kemudian di antara tendon brachioradialis dan m.flexor carpi radialis
di bagian bawah lengan bawah.
Arteri radialis berjalan berturut-turut di atas m.supinator, m.pronator teres, kaput
radius m.flexor digitorum superfisialis, m.flexor polisis longus, dan m.pronator
kuadratus. Di pergelangan tangan arteri ini terletak di sebelah distal radius lateral
terhadap tendon flexor carpi radialis. Disinilah denyut nadi radialis terasa paling jelas.
Arteri radial itu terdiri dari tiga bagian, satu di lengan, yang kedua di bagian belakang
pergelangan tangan, dan yang ketiga di tangan.
Arteri radialis berjalan ke belakang di bawah tendon m.abduktor polisis longusdan
m.abduktor polisis brevis memasuki snuffbox anatomis. Akhirnya arteri ini melewati atas
os.skafoid dan os.trapezium dalam snuffbox dan keluar diantara dua kaput m.abduktor
polisis membentuk arcus palmaris profunda bersama dengan arteri ulnaris (ramus
palmaris profunda). Dari sini keluar cabang prinseps polisis menuju ibu jari dan radialis
indisis menuju telunjuk. Arcus palmaris profunda punya tiga cabang aa metacarpal

palmaris yang akhirnya bergabung dengan a digitalis palmaris comunis (dari arcus
superfisialis) yang memasok darah ke jari-jari tangan.
7. Aspek keamanan dan keselamatan (safety) yang harus diperhatikan
a. Pasien diusahakan dalam keadaan tenang dan tidak takut/gelisah dengan posisi
berbaring. Apabila pasien dalam keadaan takut/gelisah akan menyebabkan
hiperventilasi.
b. Pengambilan astrup dilakukan 20 menit setelah pemberian oksigen pada pasien
yang sedang diberi terapi oksigen dan cantumkan kadar oksigen yang diberikan.
c. Perlu diperhatikan adanya perdarahan dan hematoma akibat pengambilan darah
terutama pada pasien yang sedang mendapat terapi antikoagulan.
d. Jika AGD dilakukan bersamaan dengan rencana pemeriksaan spirometri, darah
arteri diambil sebelum pemeriksaan spirometri dilakukan (bertujuan untuk
menentukan diagnosa gagal napas)
e. Suhu tubuh pasien waktu pengambilan darah harus dicantumkan pada formulir
permohonan pemeriksaan.
8. Prosedur tindakan
a.
b.
c.
d.
e.

Beritahu pasien tujuan dari pengambilan darah


Ukur suhu tubuh pasien
Pasang alas/ perlak pada lokasi yang akan diambil darah
Pasang sarung tangan
Usahakan agar lengan dalam posisi abduksi dengan telapak tangan menghadap ke
atas dan pergelangan tangan ekstensi 30o agar jaringan lunak terfiksasi oleh
ligamen dan tulang. Bila perlu bagian bawah pergelangan dapat diganjal dengan

bantal kecil.
f. Jari pemeriksa diletakkan di atas arteri radialis (proksimal dari lipatan kulit di
pergelangan tangan) untuk meraba denyut nadi agar dapat memperkirakan letak
dan kedalaman pembuluh darah
g. 0,2 ml heparin diaspirasikan ke dalam spuit sehingga dasar spuit basah oleh
heparin dan kemudian kelebihan heparin dibuang melalui jarum, dilakukan
perlahan sehingga pangkal jarum penuh dengan heparin dan tidak ada gelembung
udara.

h. Pastikan denyutan dari arteri terbesar kemudian dengan menggunakan tangan kiri
antara telunjuk dan jari tengah beri batas daerah yang akan ditusuk dan titik
maksimum denyutan ditemukan.
i. Lakukan tindakan asepsis/antisepsis, bersihkan daerah tersebut dengan kapas
alkohol
j. Setelah dilakukan asepsis, jarum 5-10 mm ditusukkan pada daerah distal dari jari
pemeriksa yang menekan arteri ke arah proksimal. Jarum ditusukkan membentuk
sudut 30o (45o pada arteri radialis dan 90o pada arteri femoralis) dengan
permukaan lengan dengan posisi lubang jarum/ bevel menghadap ke atas.
k. Jarum yang masuk ke dalam arteri akan menyebabkan torak semprit terdorong
oleh tekanan darah.
l. Pada pasien hipotensi, torak semprit dapat ditarik perlahan, indikasi satu-satunya
bahwa darah tersebut darah arteri adalah adanya pemompaan darah ke dalam spuit
dengan kekuatan sendiri.
m. Setelah jumlah darah yang diperlukan terpenuhi (minimal 1 ml), cabut jarum
dengan cepat dan di tempat tusukan jarum lakukan penekanan dengan jari selama
5 menit untuk mencegah keluarnya darah dari pembuluh arteri (10 sampai 15
menit untuk pasien yang mendapat antikoagulan)
n. Gelembung udara harus dibuang keluar spuit, lepaskan jarum dan tempatkan
penutup udara pada spuit, putar spuit diantara telapak tangan untuk
mencampurkan heparin.
o. Spuit diberi label dan segera tempatkan dalam es/air es atau termos berisi air es
(semprit dibungkus plastik agar air tidak masuk ke dalam semprit, keadaan dingin
bertujuan memperkecil terjadinya perubahan biokimia (metabolisme sel darah),
untuk selanjutnya spuit dibawa ke laboratorium.
p. Bereskan alat
q. Lepas sarung tangan
Pengambilan darah arteri brachialis
a. Arteri brachialis letaknya lebih dalam dar arteri radialis, Pengambilannya harus
hati-hati dan memperhatikan letak syaraf, agar tidak menciderai nervus medianus
yang dekat dengan srteri brachialis.
b. Lengan pasien dalam keadaan ekstensi maksimal, siku dihiperekstensikan setelah
meletakkan bantal/handuk di bawah siku
c. Raba denyut arteri brachialis dengan jari

d. Lakukan tindakan asepsis


e. Tusukkan jarum dengan sudut 45o dan lubang jarum menghadap ke atas, 5-10 mm
dari distal jari pemeriksa yang menekan pembuluh darah
f. Setelah pengambilan, tekan daerah tusukan selama 5 menit atau sampai
perdarahan berhenti.
9. Hal-hal penting yang harus diperhatikan perawat dalam melakukan tindakan
a. Spuit yang digunakan untuk mengambil darah sebelumnya diberi heparin. Rasional:
untuk mencegah darah membeku.
b. Kaji ambang nyeri klien, apabila klien tidak mampu menoleransi nyeri, berikan
anestesi lokal. Rasional: meskipun pengambilan darah arteri menyakitkan, sebisa
mungkin kenyamanan klien harus tetap terjamin.
c. Bila menggunakan arteri radialis, lakukan test allent untuk mengetahui kepatenan
arteri. Rasional: apabila tes Allen yang dilakukan negatif akan tetapi tetap
dipaksakan mengambil darah arteri lewat a. radialis, trombosis dapat terjadi dan
berisiko mengganggu viabilitas tangan.
d. Untuk memastikan apakah yang keluar darah vena atau darah arteri, lihat darah
yang keluar, apabila keluar sendiri tanpa kita tarik berarti darah arteri. Rasional:
untuk mengetahui tindakan yang dilakukan telah tepat dan mengurangi risiko salah
diagnosis.
e. Apabila darah sudah berhasil diambil, goyangkan spuit sehingga darah tercampur
rata dan tidak membeku. Rasional: jika terjadi pembekuan maka tidak akan
didapatkan hasil yang diharapkan dari pemeriksaan AGD yang dilakukan.
f. Lakukan penekanan yang lama pada bekas area insersi (aliran arteri lebih deras
daripada vena). Rasional: untuk mencegah pembentukan hematoma.
g. Keluarkan udara dari spuit jika sudah berhasil mengambil darah dan tutup ujung
jarum dengan karet atau gabus. Rasional: udara bebas dapat mempengaruhi nilai O2
pada AGD arteri.
h. Ukur tanda vital (terutama suhu) sebelum darah diambil. Rasional: untuk
mengetahui apakah klien mengalami demam atau tidak. Apabila terdapat demam
dapat mengindikasi adanya infeksi patogen.
i. Penusukan tepat pada arteri ditandai dengan darah yang keluar berwarna segar dan
memancar.
j. Spesimen dimasukkan ke dalam kantong es bila tempat pemeriksaan jauh.
Rasional: suhu yang rendah menurunkan metabolism sel darah yang mungkin

merubah nilai pH, PCO2, PO2 dan HCO3-.


k. Daerah/lokasi pengambilan darah arteri harus bergantian. Rasional: mencegah
kerusakan pembuluh arteri karena seringnya insersi di tempat yang sama.
l. Hindarkan pengambilan darah pada arteri femoralis. Rasional: arteri femoralis
terletak sangat dalam di bawah kulit dan arteri femoralis merupakan salah satu
pembuluh arteri utama yang memperdarahi ekstremitas bawah.
m. Hindari melakukan aspirasi yang bertujuan untuk mengeluarkan udara pada spuit
yang berisi darah. Rasional: udara bebas dapat mempengaruhi nilai O2 pada AGD
arteri.
n. Segera kirim ke laboratorium
o. Nilai normal hasil analisi gas darah arteri
10. Hal-hal penting yang harus dicatat setelah tindakan (dokumentasi)
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Nama pasien
Usia
Keterangan klien menggunakan alat bantu oksigenasi atau tidak
Waktu dilakukannya prosedur.
Jenis pemeriksaan yang dilakukan
Keadaan kulit (kemerahan, perdarahan berlebihan)
Ruangan
Suhu tubuh pasien

A. Tujuan dan Manfaat Analisa Gas Darah


Sebuah analisis ABG mengevaluasi seberapa efektif paru-paru yang memberikan
oksigen ke darah . Tes ini juga menunjukkan seberapa baik paru-paru dan ginjal yang
berinteraksi untuk menjaga pH darah normal (keseimbangan asam-basa). Pemeriksaan ini
biasanya dilakukan untuk menilai penyakit khususnya pernapasan dan kondisi lain yang
dapat mempengaruhi paru-paru, dan sebagai pengelolaan pasien untuk terapi oksigen
(terapi pernapasan). Selain itu, komponen asam-basa dari uji tes dapat memberikan
informasi tentang fungsi ginjal.Adapun tujuan
analisa gas darah,yaitu :
1.Menilai fungsi respirasi (ventilasi)
2.Menilai kapasitas oksigenasi
3.Menilai keseimbangan asam-basa

lain dari dilakukannya pemeriksaan

4.Mengetahui keadaan O2 dan metabolisme sel


5.Efisiensi pertukaran O2 dan CO2.
6.Untuk mengetahui kadar CO2dalam tubuh
7.Memperoleh darah arterial untuk analisa gas darah atau test diagnostik yang lain.
Adapun manfaat pada pemeriksaan analisa gas darah yaitu untuk menegakkan
diagnosis, menentukan terapi, maupun untuk mengikuti perjalanan penyakit setelah
mendapat terapi,serta mengkaji gangguan keseimbangan asam-basa yang disebabkan oleh
gangguan pernafasan dan/atau gangguan metabolic dalam tubuh.
AGD tidak perlu dilakukan apabila:
1. Hasil tidak akan memberikan pengaruh pada tindakan medis selanjutnya
2. Mengikuti prosedurpemeriksaan yang ada, bukan karena adanya indikasi
3. Masih terdapat cara lain yang lebih mudah untuk mendapatkan hasil yang diinginkan
4. Komplikasi yang timbul >>daripada hasil AGD yang diharapkan
C. Indikasi Analisa Gas Darah
Indikasi dilakukannya pemeriksaan Analisa Gas Darah (AGD) yaitu :
1.

Pasien dengan penyakit obstruksi paru kronik


penyakit paru obstruktif kronis yang ditandai dengan adanya hambatan aliran udara pada
saluran napas yang bersifat progresif non reversible ataupun reversible parsial.
Terdiri dari 2 macam jenis yaitu bronchitis kronis dan emfisema, tetapi bisa juga
gabungan antar keduanya.
2.

Pasien dengan edema pulmo

Pulmonary edema terjadi ketika alveoli dipenuhi dengan kelebihan cairan yang merembes
keluar dari pembuluh-pembuluh darah dalam paru sebagai gantinya udara. Ini dapat
menyebabkan persoalan-persoalan dengan pertukaran gas (oksigen dan karbon dioksida),
berakibat pada kesulitan bernapas dan pengoksigenan darah yang buruk. Adakalanya, ini
dapat dirujuk sebagai "air dalam paru-paru" ketika menggambarkan kondisi ini pada
pasien-pasien.
Pulmonary edema dapat disebabkan oleh banyak faktor-faktor yang berbeda. Ia dapat

dihubungkan pada gagal jantung, disebut cardiogenic pulmonary edema, atau


dihubungkan pada sebab-sebab lain, dirujuk sebagai non-cardiogenic pulmonary edema.
3.

Pasien akut respiratori distress sindrom (ARDS)

ARDS terjadi sebagai akibat cedera atau trauma pada membran alveolar kapiler yang
mengakibatkan kebocoran cairan kedalam ruang interstisiel alveolar dan perubahan
dalarn jaring- jaring kapiler , terdapat ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi yang jelas
akibat-akibat kerusakan pertukaran gas dan pengalihan ekstansif darah dalam paru-.paru.
ARDS menyebabkan penurunan dalam pembentukan surfaktan , yang mengarah pada
kolaps alveolar . Komplians paru menjadi sangat menurun atau paru- paru menjadi kaku
akibatnya adalah penurunan karakteristik dalam kapasitas residual fungsional, hipoksia
berat dan hipokapnia ( Brunner & Suddart 616).
4.

Infark miokard

Infark miokard adalah perkembangan cepat dari nekrosis otot jantung yang disebabkan
oleh ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen (Fenton, 2009). Klinis
sangat mencemaskan karena sering berupa serangan mendadak umumya pada pria 35-55
tahun, tanpa gejala pendahuluan (Santoso, 2005).
5.

Pneumonia

Pneumonia merupakan penyakit dari paru-paru dan sistem dimana alveoli(mikroskopik


udara mengisi kantong dari paru yang bertanggung jawab untuk menyerap oksigen dari
atmosfer) menjadi radang dan dengan penimbunan cairan.Pneumonia disebabkan oleh
berbagai macam sebab,meliputi infeksi karena bakteri,virus,jamur atau parasit.
Pneumonia juga dapat terjadi karena bahan kimia atau kerusakan fisik dari paru-paru,
atau secara tak langsung dari penyakit lain seperti kanker paru atau penggunaan alkohol.

6.

Pasien syok

Syok merupakan suatu sindrom klinik yang terjadi jika sirkulasi darah arteri tidak adekuat untuk
memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan. Perfusi jaringan yang adekuat tergantung pada 3 faktor
utama, yaitu curah jantung, volume darah, dan pembuluh darah. Jika salah satu dari ketiga faktor
penentu ini kacau dan faktor lain tidak dapat melakukan kompensasi maka akan terjadi syok. Pada

syok juga terjadi hipoperfusi jaringan yang menyebabkan gangguan nutrisi dan metabolism sel sehingga
seringkali menyebabkan kematian pada pasien.
7.

Post pembedahan coronary arteri baypass

Coronary Artery Bypass Graft adalah terjadinya suatu respon inflamasi sistemik pada
derajat tertentu dimana hal tersebut ditandai dengan hipotensi yang menetap, demam
yang bukan disebabkan karena infeksi, DIC, oedem jaringan yang luas, dan kegagalan
beberapa organ tubuh. Penyebab inflamasi sistemik ini dapat disebabkan oleh suatu
respon banyak hal, antara lain oleh karena penggunaan Cardiopulmonary Bypass
(Surahman, 2010).
8.

Resusitasi cardiac arrest

Penyebab utama dari cardiac arrest adalah aritmia, yang dicetuskan oleh beberapa
faktor,diantaranya penyakit jantung koroner, stress fisik (perdarahan yang banyak,
sengatan listrik,kekurangan oksigen akibat tersedak, tenggelam ataupun serangan asma
yang berat), kelainan bawaan, perubahan struktur jantung (akibat penyakit katup atau otot
jantung) dan obat-obatan.Penyebab lain cardiac arrest adalah tamponade jantung dan
tension pneumothorax. Sebagai akibat dari henti jantung, peredaran darah akan berhenti.
Berhentinya peredaran darahmencegah aliran oksigen untuk semua organ tubuh. Organorgan tubuh akan mulai berhenti berfungsi akibat tidak adanya suplai oksigen, termasuk
otak. Hypoxia cerebral atau ketiadaan oksigen ke otak, menyebabkan korban kehilangan
kesadaran dan berhenti bernapas normal.Kerusakan otak mungkin terjadi jika cardiac
arrest tidak ditangani dalam 5 menit dan selanjutnyaakan terjadi kematian dalam 10
menit. Jika cardiac arrest dapat dideteksi dan ditangani dengansegera, kerusakan organ
yang serius seperti kerusakan otak, ataupun kematian mungkin bisa dicegah.
D. Kontra Indikasi Analisa Gas Darah
1.

Denyut arteri tidak terasa, pada pasien yang mengalami koma (Irwin & Hippe,

2010).
2.

Modifikasi Allen tes negatif , apabila test Allen negative tetapi tetap dipaksa untuk

dilakukan pengambilan darah arteri lewat arteri radialis, maka akan terjadi thrombosis
dan beresiko mengganggu viabilitas tangan.
3.

Selulitis atau adanya infeksi terbuka atau penyakit pembuluh darah perifer pada

tempat yang akan diperiksa


4.Adanya koagulopati (gangguan pembekuan) atau pengobatan denganantikoagulan dosis
sedang dan tinggi merupakan kontraindikasi relatif.
F. Keseimbangan Asam Basa
Satuan derajad keasaman adalah pH, nilainya berkisar antara 1,00 (asam) sampai 14,00
(basa) dengan nilai normal atau netral sebesar 7,00. Dalam ilmu kimia, nilai pH di bawah
7 disebut asidosis dan di atas 7 disebut alkalosis. Dalam tubuh manusia nilai normal pH
berkisar antara 7,35 7,45, sedikit berbeda dengan ilmu kimia yang memasukkan nilai
tersebut sebagai alkalosis. Disebut nilai normal pada tubuh karena pada kisaran pH
tersebutlah segala proses dalam tubuh manusia bisa berjalan dengan normal. Agar pH
bisa dipertahankan tetap dalam kisaran normal maka keseimbangan asam basa dalam
darah perlu dikendalikan dengan akurat karena perubahan yang sangat kecilpun dapat
memberikan efek yang serius pada organ atau sistem.

Ada 3 mekanisme dalam tubuh kita yang berperan mengendalikan keseimbangan asam
basa.

Ginjal berperan membuang kelebihan asam, sebagian besar dalam bentuk amonia.
Ginjal mampu menentukan jumlah asam atau basa yang dibuang, biasanya
berlangsung beberapa hari.

Tubuh memanfaatkan penyangga (buffer) pH dalam darah sebagai pelindung terhadap


perubahan pH yang terjadi mendadak. Penyangga pH yang paling penting adalah
bikarbonat. Bikarbonat (komponen basa) berada dalam keseimbangan dengan CO2
(komponen asam). Jika lebih banyak asam yang masuk ke dalam darah, maka akan
dihasilkan lebih banyak bikarbonat dan lebih sedikit CO2. Sedang jika lebih banyak
basa yang masuk ke aliran darah maka proses sebaliknya yang terjadi.

Pembuangan CO2. Proses metabolisme memproduksi CO2 yang akan dibawa darah
menuju paruuntuk dibuang. Pusat pernapasan di otak mengatur jumlah CO2 yang
diekspirasi dengan cara mengendalikan kecepatan dan kedalaman pernapasan. Jika
jumlah CO2 yang dibuang bertambah, kadar CO2 darah akan menurun dan

selanjutnya pH menjadi basa. Proses sebaliknya akan terjadi jika jumlah CO2 yang
dibuang berkurang dan pH bergeser ke arah asam. Pengaturan pengeluaran CO2
mampu mengatur pH darah dalam hitungan menit.
Bila terjadi kelainan pada satu atau lebih dari ketiga mekanisme tersebut maka pH darah
akan bergeser dan keluar dari nilai normal menjadi asidosis atau alkalosis. Asidosis
terjadi bila dalam darah terlalu banyak asam atau terlalu sedikit basa sehingga pH
berkurang, bila terjadi sebaliknya akan terjadi alkalosis. Asidosis dan alkalosis bukan
penyakit, namun akibat dari beberapa penyakit. Terjadinya pergeseran pH merupakan
petunjuk adanya masalah metabolisme atau respirasi yang serius.
Asidosis dan alkalosis dikelompokkan menjadi metabolik dan respiratorik, tergantung
pada penyebab utamanya. Kelainan pH metabolik disebabkan oleh ketidakimbangan
pembentukan dan pembuangan asam dan basa oleh ginjal, sedang kelainan pH
respiratorik disebabkan oleh gangguan di paru atau saluran napas.
Sebagian besar asam yang masuk dalam tubuh berasal dari proses respirasi, yaitu CO2
yang membentuk asam karbonat, sedangkan sisanya berasal dari metabolisme lemak dan
protein. Mekanisme tubuh untuk menjaga pH tetap dalam rentang normalnya diketahui
melalui tiga mekanisme,
1. Kontrol respirasi terhadap PaCO2 oleh pusat pernafasan yang mengatur ventilasi
alveolar. Semakin banyak ion H+ dalam darah, semakin banyak CO2 yang
dibuang melalui paru-paru. Mekanisme ini cepat dan sangat efektif untuk
mengkompensasi kelebihan ion H+.
2. Pengontrolan ginjal terhadap bikarbonat dan ekskresi asam-asam non-volatil.
Mekanisme ini relatif lebih lama (jam sampai hari) jika dibandingkan dengan
kontrol respirasi.
3. Sistem buffer oleh bikarbonat, sulfat, dan hemoglobin yang meminimalkan
perubahan asam-basa akut.
Metode Henderson Hasselbach (H H)
Persamaan H H menitik beratkan pada sistem buffer asam karbonat yang memegang
peranan penting dalam pengaturan asam basa melalui ginjal dan paru paru.

Karbondioksida bereaksi dengan air untuk membentuk HCO3- dan H+.


CO2

H2O

H2CO3

H+

HCO3-

Berdasarkan hukum kekekalan massa, maka [H+] [HCO3-] / [H2CO3] = konstan.


Sehingga, dapat ditentukan bahwa pH = pKa + log([H+] [HCO3-] / [H2CO3]). Dari
persamaan tersebut, pH dapat dikatakan sebagai rasio antara bikarbonat dan
karbondioksida. Perubahan pH dapat disebabkan oleh perubahan CO2 (respirasi) atau
HCO3- (metabolik). Sistem kompensasi tubuh berusaha mempertahankan rasio tersebut
tetap 20:1.
Namun, persamaan H H tidak membahas mekanisme perubahan pH akibat efek
metabolik sejelas efek respiratoriknya, karena secara in vivo kadar bikarbonat sangat
tergantung pada tekanan parsial karbondioksida (pCO2). Oleh sebab itu, muncullah
konsep standard bikarbonat dan standard base excess (BE) untuk membantu menghitung
efek metabolik terhadap perubahan pH. Standard bikarbonat adalah jumlah bikarbonat
yang seharusnya ada pada PCO2 = 40 mmHg, sehingga dapat menyingkirkan efek
respirasi pada suatu perubahan pH. Sementara standard BE melihat jumlah asam (dalam
mmol/l) yang harus ditambahkan atau dikurangkan pada sampel darah yang sama dengan
Hb 5,5 g/dl untuk mencapai pH normal pada PCO2 40 mmHg. Semakin negatif BE
menunjukkan sampel darah tersebut semakin asam.
Metode Stewart
Pada tahun 1983, Stewart memperkenalkan metode pendekatan asam basa yang diakui
secara luas. Metode ini menggunakan pendekatan matematis dan menyimpulkan bahwa
jika hukum keseimbangan muatan terjadi pada suatu larutan, maka pH atau konsentrasi
ion H+ akan ditentukan terutama oleh derajat disosiasi air. Terdapat tiga variabel yang
masing-masing dapat mempengaruhi derajat disosiasi air, yaitu PCO2, strong ion
difference (SID), dan konsentrasi total asam lemah (Atot). Ion bikarbonat dan asam
lemah merupakan variabel yang terikat dan tidak mempengaruhi pH secara langsung.

Diagram1.
Pendekatan
Asam Basa
Metode
Stewart
Pengaruh
PCO2
sudah
dijelaskan
melalui
persamaan
H

H,

bahwa
perubahan
pada CO2
hasil
respirasi
secara langsung juga akan mengubah konsentrasi ion H+.
Ion-ion kuat adalah ion yang dalam jumlah besar terdapat dalam bentuk terdisosiasi atau
ion bebas dalam plasma. Pada manusia, SID adalah selisih antara kation kuat (Na+, K+,
Mg2+, dan Ca2+) dengan anion kuat (Cl- dan laktat) yang nilai normalnya adalah 42
mmol/l. SID memiliki pengaruh kuat terhadap disosiasi air, peningkatan kation total akan
menurunkan konsentrasi H+ dan menurunkan pH. Begitu pula sebaliknya, peningkatan
jumlah anion total akan menurunkan pH. Pada dasarnya plasma tidak bisa bermuatan,
sehingga dibutuhkan muatan negatif untuk menetralkan kelebihan muatan (SIDe). SIDe
terutama dibentuk oleh ion yang sulit berdisosiasi seperti HCO3- dan asam lemah yang
terdisosiasi seperti albumin, fosfat, dan sulfat. Strong ion gap (SIG) adalah selisih antara
SID dan SIDe, menggambarkan ion-ion yang tidak terukur seperti keton, sulfat, atau
asam yang berasal dari luar. Perhitungan ini mirip dengan anion gap, namun memiliki

kelebihan karena memperhitungkan albumin dan fosfat. SIG juga dapat menjadi prediktor
yang sensitif bagi kegawatan pada pasien-pasien kritis. Atot adalah konsentrasi total
asam-asam lemah non-volatil dalam plasma, fosfat inorganik, protein serum dan albumin.

Gambar1.

Keseimbangan Ion-ion Dalam Plasma


Pendekatan Stewart tidak merubah klasifikasi kelainan asam basa sebelumnya, begitu
pula dengan BE tetap dapat digunakan untuk menghitung jumlah perubahan SID yang
telah terjadi dibandingkan dengan nilai normal. Namun dengan pendekatan ini, kita dapat
melihat peran ion-ion dalam mengembalikan pH darah. Contoh kasus adalah, untuk
merubah BE dari -20 menjadi -10 mEq/l adalah dengan memberikan NaHCO3, dimana
terjadi peningkatan konsentrasi Na+ dalam serum sebesar 10 mEq/l.
Implikasi lain yang penting dari pendekatan Stewart adalah peran ion klorida dalam
homeostasis asam basa. Ion-ion yang terutama mempengaruhi SID adalah Na+ dan Cl-.

Peningkatan Cl- relatif terhadap Na+ akan menurunkan SID dan begitu pula pH. Peran
Cl- menjadi lebih penting dalam mengatur pH, karena Na+ dikontrol secara lebih ketat
untuk mengatur tonus plasma. Contoh kasus adalah pada muntah yang terus menerus
sering menyebabkan alkalosis. Pendekatan lama menganggap hal ini disebabkan karena
kehilangan ion H+ melalui HCl. Namun, hipotesis Stewart menganggap hal ini terjadi
akibat Cl- (anion kuat) berkurang tanpa diimbangi oleh berkurangnya kation kuat,
sehingga terjadi peningkatan SID. Pada akhirnya hal ini akan menghambat disosiasi air
dan ion H+ berkurang. Penatalaksanaan kasus ini adalah dengan pemberian normal saline
sehingga ion klorida tergantikan. Kasus lain adalah asidosis hiperkloremik yang juga
sering terjadi akibat pemberian infus normal saline berlebihan. Normal saline
mengandung

ion

sodium

dan

klorida

sebanyak

150

mEq/l

dibandingkan

dengan konsentrasi plasma 135 dan 100 mEq/l. Hal ini menyebabkan penurunan SID dan
pH.
Pada akhirnya, dapat disimpulkan bahwa kedua metode sebenarnya dapat digunakan.
Metode pendekatan Handerson-Hasselbach lebih mudah diterapkan, terutama untuk
mengklasifikasikan jenis kelainan asam basa yang terjadi. Sedangkan, pendekatan
Stewart lebih berguna dalam menghitung kelainan asam basa secara kualitatif dan juga
untuk menyusun hipotesis mekanisme yang menyebabkan timbulnya kelainan asam basa
pada pasien.
A. Gangguan asam basa sederhana
Gangguan asam basa primer dan kompensasinya dapat diperlihatkan dengan memakai
persamaan yang dikenal dengan persamaan Henderson-Hasselbach.
Persamaan ini menekankan bahwa perbandingan asam dan basa harus 20:1 agar pH dapat
dipertahankan dalam batas normal. Persamaan ini juga menekankan kemampuan ginjal
untuk mengubah bikarbonat basa melalui proses metabolik, dan kemampuan paru untuk
mengubah PaCO2 (tekanan parsial CO2 dalam darah arteri) melalui respirasi. Nilai normal
pH adalah 7, 35- 7,45.
Perubahan satu atau dua komponen tersebut menyebabkan gangguan asam dan basa.
Penilaian keadaan asam dan basa berdasarkan hasil analisa gas darah membutuhkan

pendekatan yang sistematis. Penurunan keasaman (pH) darah < 7,35 disebut asidosis,
sedangkan peningkatan keasaman (pH) > 7,45 disebut alkalosis. Jika gangguan asam
basa

terutama

disebabkan

oleh

komponen

respirasi

(pCO 2)

maka

disebut

asidosis/alkalosis respiratorik, sedangkan bila gangguannya disebabkan oleh komponen


HCO3 maka disebut asidosis/alkalosis metabolik. Disebut gangguan sederhana bila
gangguan tersebut hanya melibatkan satu komponen saja (respirasi atau metabolik),
sedangkan bila melibatkan keduanya (respirasi dan metabolik) disebut gangguan asam
basa campuran.

G. Gangguan Keseimbangan Asam Basa Pada Pasien Kritis


Beberapa kelainan pada AGD dapat digunakan sebagai marker resiko kematian pada
pasien-pasien kritis. Diantaranya adalah terjadinya asidosis laktat, BE yang tinggi,
asidosis hiperkloremik, efek asidosis terhadap sistem imun, dan SIG yang tinggi.
Sebagian besar pasien-pasien trauma menderita asidosis laktat akibat hipovolemia
atau hipoperfusi. Perbaikan asidosis laktat berkorelasi dengan survival pasien
berdasarkan hubungan waktu. Keadaan asidosis laktat yang persisten, meskipun telah
terjadi perbaikan tanda vital, berhubungan dengan resiko infeksi dan kematian.
Kadar BE yang tinggi dapat menjadi prognosis yang buruk bagi pasien-pasien, namun
hal tersebut tergantung pada jenis penyakit atau trauma pasien. BE lebih memiliki
nilai prognostik pada pasien-pasien dengan cedera kepala. Selain itu, jumlah SIG juga
memiliki nilai prognostik pada pasien-pasien kritis. Dikatakan nilai SIG >5 pada
pasien yang membutuhkan resusitasi atau >2 pada pasien asidosis metabolik adalah
prediktif untuk mortalitas.
Kondisi hiperkloremik diketahui dapat menyebabkan disfungsi renal dan gangguan
pembekuan darah. Asidosis diduga dapat menstimulasi sel T-protein kinase sehingga
memperparah reaksi peradangan pada pasien kritis.
H. Langkah-langkah Menilai Gas Darah

Berikut ini adalah langkah-langkah yang dianjurkan untuk mengevalusi nilai gas
darah arteri. Langkah-langkah ini didasarkan pada asumsi bahwa nilai rata-rata
adalah:
Ph=7.4
PaCO2=40 mmHg
HCO3=24 mEq/L
1. Pertama-tama,perhatikan pH, pH dapat tinggi, rendah atau normal sebagai
berikut :
pH > 7.4 (alkolisis)
pH < 7.4 (asidosis )
pH = 7.4 (normal)
pH normal dapat menunjukan gas darah yang benar-benar normal atau pH yang
normal ini mungkin suatu indikasi ketidakseimbangan yang terkompensasi.
Ketidakseimbangan yang terkompensasi adalah suatu ketidakseimbangan di mana
tubuh sudah mampu memperbaiki pH, contohnya, seorang pasien dengan asidosis
metabolik primer dimulai dengan kadar bikarbonat yang rendah tetapi dengan
kadar karbondioksida yang normal. Segera sesudah itu paru-paru mencoba
mengkompensasi ketidakseimbangan dengan mengeluarkan sejumlah besar
karbondioksida (hiperventilasi).
2. Langkah berikut adalah untuk menentukan penyebab primer gangguan. Hal ini
dilakukan dengan mengevaluasi PaCO2 dan HCO3 dalam hubunganya dengan
pH.
a. pH > 7.4 (alkolisis)
1) jika PaCO2 < 40 mmHg.gangguan primer adalah alkolisis
respiratorik(situasi ini timbul jika pasien mengalami hiperventilasi dan
blows

off

terlalu

bnayak

karbon

dioksida.ingat

kembali

jika

karbondioksida terlarut dalam air menjadi asam karbonik bagian asam dari
sistem buffer asam karbonik bikarbonat).
2) jika

HCO3

>

24

meq/L

,gangguan

primer

adalah

alkolisis

metabolik(situasi ini timbul jika tubuh memperoleh terlalu banyak


bikarbonat,subtansi alkali bikarbonat dalah basa atau bagian alkali dari
sisitem buffer asam karbonik-bikarbonat).
b. pH < 7.4 (asidosis)
1) jika PaCO2 > 40 mmHg ,gangguan utama adalah asidosis respiratorik.
(situasi ini timbul jika pasien mengalami hipoventilasi dan karenanya
menahan terlalu banyak karbondioksida suatu substansi asam)
2) jika HCO3 < 24 meq/L,gangguan primer dalah asidosis metabolik
(situasi ini timbul jika kadar bikarbonat tubuh turun baik karena
kehilangan langsung bikarbonat atau bikarbonat atau karena penambahan
asam seperti asam laktat atau keton)
3. Langkah berikutnya mencakup menentukan apakah kompensasi telah terjadi. Hal
ini dilakukan dengan melihat nilai selain gangguan primer.Jjika nilai ini bergerak
ke arah yang sama dengan nilai primer, kompensasi sedang berjalan
pertimbangkan gas-gas berikut ini:
pH

PaCO2

HCO3

7.20

60mmHg

24 mmHg

7.40

60mmHg

37mmHg

4. Buat penafsiran tahap akhir (gangguan asam basa sederhana, gangguan asam basa
campuran)
Bagian yang pertama (1) menunjukkan asidosis respiratorik akut tanpa
kompensasi

(PaCO2

tinggi

HCO3 normal), bagian yang kedua (2)

menunjukkan asidosis respiratorik kronik perhatikan bahwa kompensasi sudah


untuk menyeimbangkan PaCO2 yang tinggi dan menghasilkan suatu pH yang
normal.
B. Faktor Yang Mempengaruhi Pemeriksaan Analisa Gas Darah

1. Gelembung udara
Tekanan oksigen udara adalah 158 mmHg. Jika terdapat udara dalam sampel
darah maka ia cenderung menyamakan tekanan sehingga bila tekanan oksigen
sampel darah kurang dari 158 mmHg, maka hasilnya akan meningkat.
2. Antikoagulan
Antikoagulan dapat mendilusi konsentrasi gas darah dalam tabung. Pemberian
heparin yang berlebihan akan menurunkan tekanan CO2, sedangkan pH tidak
terpengaruh karena efek penurunan CO2 terhadap pH dihambat oleh keasaman
heparin.
3. Metabolisme
Sampel darah masih merupakan jaringan yang hidup. Sebagai jaringan hidup, ia
membutuhkan oksigen dan menghasilkan CO2. Oleh karena itu, sebaiknya sampel
diperiksa dalam 20 menit setelah pengambilan. Jika sampel tidak langsung
diperiksa, dapat disimpan dalam kamar pendingin beberapa jam.
4. Suhu
Ada hubungan langsung antara suhu dan tekanan yang menyebabkan tingginya
PO2 dan PCO2. Nilai pH akan mengikuti perubahan PCO 2. Nilai pH darah yang
abnormal disebut asidosis atau alkalosis sedangkan nilai PCO 2 yang abnormal
terjadi pada keadaan hipo atau hiperventilasi. Hubungan antara tekanan dan
saturasi oksigen merupakan faktor yang penting pada nilai oksigenasi darah.
N. Klasifikasi gangguan asam basa primer dan terkompensasi:
1. Normal bila tekanan CO2 40 mmHg dan pH 7,4. Jumlah CO2 yang diproduksi
dapat dikeluarkan melalui ventilasi.
2. Alkalosis respiratorik. Bila tekanan CO2 kurang dari 30 mmHg dan perubahan
pH, seluruhnya tergantung pada penurunan tekanan CO2 di mana mekanisme
kompensasi ginjal belum terlibat, dan perubahan ventilasi baru terjadi. Bikarbonat
dan base excess dalam batas normal karena ginjal belum cukup waktu untuk
melakukan kompensasi. Kesakitan dan kelelahan merupakan penyebab terbanyak
terjadinya alkalosis respiratorik pada anak sakit kritis.
3. Asidosis respiratorik. Peningkatan tekanan CO2 lebih dari normal akibat

hipoventilasi dan dikatakan akut bila peninggian tekanan CO2 disertai penurunan
pH. Misalnya, pada intoksikasi obat, blokade neuromuskuler, atau gangguan SSP.
Dikatakan kronis bila ventilasi yang tidak adekuat disertai dengan nilai pH dalam
batas normal, seperti pada bronkopulmonari displasia, penyakit neuromuskuler,
dan gangguan elektrolit berat.
4. Asidosis metabolik yang tak terkompensasi. Tekanan CO2 dalam batas normal
dan pH di bawah 7,30. Merupakan keadaan kritis yang memerlukan intervensi
dengan perbaikan ventilasi dan koreksi dengan bikarbonat.
5. Asidosis metabolik terkompensasi. Tekanan CO2 < 30 mmHg dan pH 7,30--7,40.
Asidosis metabolik telah terkompensasi dengan perbaikan ventilasi.
6. Alkalosis metabolik tak terkompensasi. Sistem ventilasi gagal melakukan
kompensasi terhadap alkalosis metabolik ditandai dengan tekanan CO2 dalam
batas normal dan pH lebih dari 7,50 misalnya pasien stenosis pilorik dengan
muntah lama.
7. Alkalosis metabolik terkompensasi sebagian. Ventilasi yang tidak adekuat serta
pH lebih dari 7,50.
8. Hipoksemia yang tidak terkoreksi. Tekanan oksigen kurang dari 60 mmHg walau
telah diberikan oksigen yang adekuat
9. Hipoksemia terkoreksi. Pemberian O2 dapat mengoreksi hipoksemia yang ada
sehingga normal.
10. Hipoksemia dengan koreksi berlebihan. Jika pemberian oksigen dapat
meningkatkan tekanan oksigen melebihi normal. Keadaan ini berbahaya pada bayi
karena dapat menimbulkan retinopati of prematurity, peningkatan aliran darah
paru, atau keracunan oksigen. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan yang
lain seperti konsumsi dan distribusi oksigen.

DAFTAR PUSTAKA
R. Gandasoebrata, Penuntun Laboratorium Klinik, Dian Rakyat, Bandung, 1992.
www.wikipedia.com
Diunduh pada tanggal 13 September 2014
http://edikurniawanhulu.blogspot.com/2013/08/analisa-gas-darah.html
Diunduh pada tanggal 13 September 2014
http://ijahijonk.blogspot.com/2013/04/bab-i-pendahuluan-analisagas-darah-agd.html
Diunduh pada tanggal 13 September 2014

http://nailamoulida13034.blospot.teknikindustri.ft.mercubuana.ac.id
Diunduh pada tanggal 13 September 2014
http://kedokteran.unsoed.ac.id-kuliah-modul-genap-analisa-gas-darah-dan-injeksi.pdf
Diunduh pada tanggal 13 September 2014