Anda di halaman 1dari 32

PROPOSAL

PROGRAM KARYA NYATA MAHASISWA

JUDUL PROGRAM :
Upaya Peningkatan Kualitas Kesehatan Melalui Pelayanan dan Pemberdayaan
Kesehatan Lansia Di Dusun Bugis Kelurahan Saptorenggo Kecamatan Pakis Kabupaten
Malang
Oleh:
Nama Ketua

: Wahyu Wiswa Wardhana

(115070101111013)

Nama Anggota

: William Christian Sindhu

(115070101111004)

Renata Primasari

(115070101111005)

Shabrina Martha Bella B

(115070101111012)

Miqdad Muhammad I

(115070400111031)

Hayyu Dwi Cahyani

(115070401111011)

Alify Yanura Putri

(115070500111029)

Suci Wulansari

(115070301111017)

Firdausi Ayu Fitriani

(115070301111018)

Ni Made Indah Ciptadewi

(115070601111004)

Fenti Diah Hariyanti

(115070201111002)

Arini Nur Hidayati

(115070201111004)

Niko Yohanda Putra

(115070207113001)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
JANUARI 2015

HALAMAN PENGESAHAN
Judul Kegiatan

Ketua Pelaksana
Nama
NIM
Jurusan/ Lab
No telp/ HP

: Upaya Peningkatan Kualitas Kesehatan Melalui Pelayanan dan


Pemberdayaan Kesehatan Lansia Di Dusun Bugis Kelurahan
Saptorenggo Kecamatan Pakis Kabupaten Malang
: Wahyu Wiswa Wardhana
: 115070101111013
: Pendidikan Dokter 2011
: 085749433270

Anggota Pelaksana
Anggota 1
: William Christian S.
Anggota 2
: Renata Primasari
Anggota 3
: Shabrina Martha Bella B
Anggota 4
: Miqdad Muhammad I
Anggota 5
: Hayyu Dwi Cahyani
Anggota 6
: Alify Yanura Putri
Anggota 7
: Suci Wulansari
Anggota 8
: Firdausi Ayu Fitriani

Anggota 9
Anggota 10
Anggota 11
Anggota 12
Anggota 13
-

: Ni Made Indah C.
: Arimbi Sardju
: Fenti Diah Hariyanti
: Arini Nur Hidayati
: Niko Yohanda Putra

Proposal Kegiatan PKNM FKUB Kelompok 31

Lokasi Kegiatan
: Dusun Bugis, Kelurahan Saptorenggo,
Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang
Lama Kegiatan
: 19 Januari 31 Januari 2015
Malang, 22 Januari
2015
Mengetahui,
Pembimbing
Ketua Pelaksana

Catur Saptaning W., S.Gz, MPH


Wardhana
NIP. 84071207120031
115070101111013

Wahyu Wiswa
NIM.

- Mengetahui
- Ketua PKNM 2014/2015
- dr. Hikmawan W S
NIP. 198604092012121004
- JUDUL
-

Upaya Peningkatan Kualitas Kesehatan Melalui Pelayanan dan Pemberdayaan


Kesehatan Lansia Di Dusun Bugis Kelurahan Saptorenggo Kecamatan Pakis
Kabupaten Malang
-

BAB I

PENDAHULUAN

A. ANALISA SITUASI
1. Geografi
Desa Saptorenggo mempunyai luas wilayah 353.105 Ha yang
mempunyai jumlah enam dusun, antara lain Dusun Bugis, Bulurejo, Saptoraya,
Boro Bugis, Boro Jambangan, dan Amarta.

Untuk transportasi dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua

dan roda empat dan dapat ditempuh dengan melewati jalan tembusan dari arah
desa Asrikaton , desa Mangliawan, ataupun melewati desa Dengkol.
Adapun batas wilayah sebagai berikut:
1. Utara: Desa Dengkol Kec. Singosari,
2. Selatan: Desa Asrikaton Kec. Pakis,
3. Timur: Desa Asrikaton Kec. Pakis, dan
4. Barat: Mangliawan Kec. Pakis.
2. Demografi
Berdasarkan data dari kantor Kepala Desa Saptorenggo, keadaan
demografi desa Saptorenggo memiliki jumlah penduduk sebanyak 16.994 jiwa
dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 8.479 orang dan jumlah penduduk
wanita sebanyak 8.515 orang. Sedangkan berdasarkan kondisi geografis, desa
Saptorenggo berada pada ketinggian 440 m DPL, memiliki curah hujan 2.339
mm/tahun dan memiliki suhu udara 320 C.
- Tabel 1. Laporan Penduduk Desa Saptorenggo Bagian Bulan Desember Tahun
2014
-

Penduduk Awal
- L

Lahir
-

Mati
-

L+

P
1

8.5

12

20

10

.
0
0
1
-

Datang

Pindah

Penduduk

Akhir
-

L+

17

31

49

8.

8.

16

3. Keadaan Khusus
a. Sarana Kesehatan Pemerintah
Pustu 1
Posyandu
16
b. Sarana Pendidikan
- SD/MI
8
c. Sarana Peribadatan
- Masjid
5
d. Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UK3M)
- Jumlah Kader Aktif
5 tiap RW
- Posyandu Lansia
1
e. Ketenagaan
- Tenaga Di Pustu
-

1 Orang Perawat

2 Orang Bidan

Tabel 2: Kondisi Umum Kesehatan pada Bayi/ balita dan Lansia

N
1

Masalah

Gizi

kurang

Deskripsi

Tidak ada bayi dan balita yang mengalami


gizi buruk, hanya ada bayi/ balita dengan

bayi/balita

MP ASI

balita

pendamping

ASI

kurang tepat dari segi waktu maupun bentuk

Penyakit tersering
pada

gizi kurang
Pemberian makanan

bayi

dan

makanan yang diberikan


Ditemukan beberapa penyakit pada bayi dan
balita seperti ISPA, diare, dan radang
tenggorokan pada bayi dan balita tapi tidak
ada data tentang KLB

Kurangnya

Masyarakat kurang berpartisipasi untuk

Pemantauan

datang ke Posyandu ketika mereka

Kesehatan Lansia

membutuhkan. Selain itu, di desa

Saptorenggo masih ada dukun dan beberapa


masyarakat masih datang kesana. Terdapat

satu posyandu lansia yang diadakan


bergiliran. Setiap RW terdapat 5 kader dan

kebanyakan kurang mengetahui tugasnya


sebagai kader. Kegiatan yang biasanya

dilakukan pada posyandu adalah


menimbang berat badan, pemeriksaan
tekanan darah dan gula darah. Data yang
ada menyatakan jumlah lansia di desa
Saptorenggo banyak dan sejauh ini kegiatan
yang melibatkan lansia masih sedikit.
-

Tabel 3. Analisis USG Kondisi Kesehatan Bayi/ Balita dan Lansia di desa

Saptorenggo
-

URGENCY
- 1:2=1
- 1:3=3
- 1:4=4
- 2:3=3
- 2:4=4
- 3:4=3
- SERIOUSNESS
- 1:2=1
- 1:3=3
- 1:4=4
- 2:3=3
- 2:4=4
- 3:4=4
- GROWTH
- 1:2=2
- 1:3=3
- 1:4=4
- 2:3=3

KETERANGAN
1 =1
2 =0
3 =3
4 =2

KETERANGAN
1 =1
2 =0
3 =2
4 =3

KETERANGAN
1 =0
2 =1
3 =2
4 =3

2:4=4
3:4=4

Keterangan:

1 = Gizi kurang bayi/balita

2 = MP ASI

3 = Penyakit tersering bayi/balita

4 = Kurangnya pemantauan kesehatan lansia

Tabel 4. Hasil Analisis USG


-

MASALAH

T
O
T
A

L
2

MP ASI

1
-

1
-

0
-

Penyakit tersering pada

0
-

0
-

1
-

bayi dan balita


Kurangnya Pemantauan

3
-

2
-

2
-

Kesehatan Lansia

Gizi kurang bayi/balita

1
-

2
3
-

4
-

B. RUMUSAN MASALAH
-

Bagaimana intervensi yang tepat untuk menciptakan lansia sehat dan

produktif melalui program pelayanan dan pemberdayaan lansia?


C. TUJUAN
1. Melaksanakan pemeriksaan kesehatan berupa pengukuran tekanan darah,
glukosa darah, dan asam urat
2. Meningkatkan pengetahuan lansia tentang asupan nutrisi seimbang
3. Meningkatkan pengetahuan lansia tentang sumber makanan yang dapat
menyebabkan asam urat dan tekanan darah meningkat

4. Meningkatkan pengetahuan lansia tentang obat herbal yang dapat digunakan


untuk mengatasi masalah kesehatan
5. Meningkatkan pengetahuan lansia tentang olahraga dan penguatan otot untuk
lansia
6. Meningkatkan pengetahuan lansia tentang perawatan gigi mulut yang benar
7. Menurunkan tingkat stress dan jenuh lansia dengan hiburan dan teknik
relaksasi
D. MANFAAT
1. Para lansia mengetahui status tekanan darah, glukosa darah, dan asam uratnya
2. Para lansia mengetahui asupan nutrisi seimbang
3. Para lansia mengetahui sumber makanan yang dapat menyebabkan asam urat
dan tekanan darah meningkat
4. Para lansia mengetahui obat herbal yang dapat digunakan untuk mengatasi
masalah kesehatan
5. Para lansia mengetahui olahraga dan penguatan otot untuk lansia
6. Para lansia mengetahui perawatan gigi mulut yang benar
7. Para lansia merasa senang menghadiri kegiatan ini
-

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Lansia
1. Definisi Lansia
-

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan lansia

menjadi 4 yaitu: usia pertengahan (middle age) adalah 45 59 tahun, lanjut usia
(elderly) adalah 60 74 tahun, lanjut usia tua (old) adalah 75 90 tahun dan
usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun (Nugroho, 2008). Usia lanjut menurut
Keliat (1999) dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan
manusia. Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4), UU No. 13 Tahun 1998
tentang Kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah
mencapai usia lebih dari 60 tahun (Maryam dkk, 2008).
-

Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa

lansia adalah seseorang yang berusia 60 tahun ke atas baik pria maupun wanita,
yang masih aktif beraktivitas dan bekerja ataupun mereka yang tidak berdaya
untuk mencari nafkah sendiri sehingga bergantung kepada orang lain untuk
menghidupi dirinya (Ineko, 2012).
-

Manusia yang mulai menjadi tua secara alamiah akan mengalami

berbagai perubahan, baik yang menyangkut kondisi fisik maupun mentalnya.


Terdapat tiga aspek yang perlu dipertimbangkan untuk membuat suatu batasan
penduduk lanjut usia menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional
yaitu aspek biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial. Secara biologis penduduk
lanjut usia adalah penduduk yang mengalami proses penuaan secara terus
menerus, yakni ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin
rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal
ini disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan,
serta sistem organ. Jika ditinjau secara ekonomi, penduduk lanjut usia lebih
dipandang sebagai beban dari pada sebagai sumberdaya. Banyak orang
beranggapan bahwa kehidupan masa tua tidak lagi memberikan banyak manfaat,
bahkan ada yang sampai beranggapan bahwa kehidupan masa tua, seringkali
dipersepsikan secara negatif sebagai beban keluarga dan masyarakat (BKKBN,
2011).
-

Penduduk lanjut usia merupakan satu kelompok sosial sendiri. Di

negara Barat, penduduk lanjut usia menduduki strata sosial di bawah kaum
muda. Hal ini dilihat dari keterlibatan mereka terhadap sumberdaya ekonomi,

pengaruh terhadap pengambilan keputusan serta luasnya hubungan sosial yang


semakin menurun. Akan tetapi di Indonesia penduduk lanjut usia menduduki
kelas sosial yang tinggi yang harus dihormati oleh warga muda.
2. Masalah Kesehatan pada Lanjut Usia
-

Masalah kesehatan pada lansia tentu saja berbeda dengan jenjang

umur yang lain karena pada penyakit pada lansia merupakan gabungan dari
kelainan-kelainan yang timbul akibat penyakit dan proses menua yaitu proses
menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki
diri atau mengganti sel serta mempertahankan struktur dan fungsi normalnya,
sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang
diderita. Siburian dalam Khadijah (2010), menyatakan bahwa ada sebanyak 14
yang menjadi masalah kesehatan pada lansia, yaitu :

Immobility (kurang bergerak), dimana meliputi gangguan fisik, jiwa dan


faktor lingkungan sehingga dapat menyebabkan lansia kurang bergerak.
Keadaan ini dapat disebabkan oleh gangguan tulang, sendi dan otot,

gangguan saraf dan penyakit jantung.


Instability (tidak stabil/ mudah jatuh), dapat disebabkan oleh faktor intrinsik
(yang berkaitan dengan tubuh penderita), baik karena proses menua, penyakit
maupun ekstrinsik (yang berasal dari luar tubuh) seperti obat-obatan tertentu
dan faktor lingkungan. Akibatnya akan timbul rasa sakit, cedera, patah tulang
yang akan membatasi pergerakan. Keadaan ini akan menyebabkan gangguan

psikologik berupa hilangnya harga diri dan perasaan takut akan terjadi.
Incontinence (buang air) yaitu keluarnya air seni tanpa disadari dan
frekuensinya sering. Meskipun keadaan ini normal pada lansia tetapi
sebenarnya tidak dikehendaki oleh lansia dan keluarganya. Hal ini akan
membuat lansia mengurangi minum untuk mengurangi keluhan tersebut,

sehingga dapat menyebabkan kekurangan cairan.


Intellectual Impairment (gangguan intelektual/ dementia), merupakan
kumpulan gejala klinik yang meliputi gangguan fungsi intelektual dan ingatan
yang cukup berat sehingga menyebabkan terganggunya aktivitas kehidupan
sehari-hari.

Infection (infeksi), merupakan salah satu masalah kesehatan yang penting


pada lansia, karena sering didapati juga dengan gejala tidak khas bahkan

asimtomatik yang menyebabkan keterlambatan diagnosis dan pengobatan.


Impairment of vision and hearing, taste, smell, communication,
convalencence, skin integrity (gangguan panca indera, komunikasi,
penyembuhan dan kulit), merupakan akibat dari proses menua dimana semua
panca indera berkurang fungsinya, demikian juga pada otak, saraf dan otototot yang dipergunakan untuk berbicara, sedangkan kulit menjadi lebih

kering, rapuh dan mudah rusak dengan trauma yang minimal.


Impaction (konstipasi = sulit buang air besar), sebagai akibat dari kurangnya
gerakan, makanan yang kurang mengandung serat, kurang minum, dan

lainnya.
Isolation (depresi), akibat perubahan sosial, bertambahnya penyakit dan
berkurangnya kemandirian sosial. Pada lansia, depresi yang muncul adalah
depresi yang terselubung, dimana yang menonjol hanya gangguan fisik saja
seperti sakit kepala, jantung berdebardebar, nyeri pinggang, gangguan

pecernaan, dan lain-lain.


Inanition (kurang gizi), dapat disebabkan karena perubahan lingkungan
maupun kondisi kesehatan. Faktor lingkungan dapat berupa ketidaktahuan
untuk memilih makanan yang bergizi, isolasi sosial (terasing dari
masyarakat), terutama karena kemiskinan, gangguan panca indera; sedangkan
faktor kesehatan berupa penyakit fisik, mental, gangguan tidur, obat-obatan,

dan lainnya.
Impecunity (tidak punya uang), semakin bertambahnya usia, maka
kemampuan tubuh untuk menyelesaikan suatu pekerjaan akan semaki
berkurang, sehingga jika tidak dapat bekerja maka tidak akan mempunyai

penghasilan.
Iatrogenesis (penyakit akibat obat-obatan), sering dijumpai pada lansia yang
mempunyai riwayat penyakit dan membutuhkan pengobatan dalam waktu
yang lama, jika tanpa pengawasan dokter maka akan menyebabkan timbulnya

penyakit akibat obat-obatan.


Insomnia (gangguan tidur), sering dilaporkan oleh lansia, dimana
merekamengalami sulit untukmasuk dalam proses tidur, tidur tidak nyenyak

dan mudah terbangun, tidur dengan banyak mimpi, jika terbangun susah tidur

kembali, terbangun didini hari-lesu setelah bangun di pagi hari.


Immune deficiency (daya tahan tubuh menurun), merupakan salah satu akibat
dari prose menua, meskipun terkadang dapat pula sebagai akibat dari penyakit

menahun, kurang gizi dan lainnya.


Impotence (impotensi), merupakan ketidakmampuan untuk mencapai dan
atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk melakukan senggama yang
memuaskan yang terjadi paling sedikit 3 (tiga) bulan. Hal ini disebabkan
karena terjadi hambatan aliran darah ke dalam alat kelamin sebagai adanya
kekakuan pada dinding pembuluh darah, baik karena proses menua atau
penyakit.
-

Data penyakit lansia di Indonesia (umumnya pada lansia berusia

lebih dari 55 tahun) adalah sebagai berikut:


-

a. Penyakit kardiovascular

b. Penyakit otot dan persendian

c. Bronchitis, asma dan penyakit respirasi lainnya

d. Penyakit pada mulut, gigi dan saluran cerna

e. Penyakit syaraf

f. Infeksi kulit

g. Malaria

h. Lain-lain

3. Keadaan Rongga Mulut Lansia


-

Kehilangan gigi atau edentulisme memiliki prevalensi yang tinggi

pada lansia di seluruh dunia dan berkaitan erat dengan status sosial ekonomi.
Studi epidemologis menunjukkan bahwa individu dengan status sosial ekonomi
bawah dan individu dengan sedikit menerima pendidikan lebih sering
mengalami edentulisme daripada individu status ekonomi lebih tinggi. Di
Indonesia, prevalensi edentulisme pada lansia usia 65 tahun ke atas mencapai
24%, lebih rendah presentase Malaysia dan Srilangka, tetapi lebih tinggi dari
persentase Singapura, Kamboja dan Thailand.11
a. Keadaan Gigi
-

Umumnya para lansia akan mengalami pengurangan jumlah gigi.

Berkurangnya gigi, terutama gigi posterior telah diindikasikan sebagai penyebab

TMD karena kondil mandibula akan mencari posisi yang nyaman pada saat
menutup mulut. Hal inil memicu perubahan letak condilus pada fossa glenoid
dan menyebabkan TMD, serta kelainan oklusal akibat hilangnya gigi
menghasilkan stres melalui sendi dan menyebabkan ganguan fungsi sendi.
Griffin (1979)2 sebagaimana yang dikutip oleh Soikkonen menulis bahwa
degenerasi TMJ berhubungan dengan hilangnya gigi, terutama gigi-gigi molar.
-

Perubahan gigi geligi pada proses penuaan menjadi faktor yang

memicu terjadinya TMD dan berkaitan dengan proses fisiologis normal, dan
proses patologis akibat tekanan fungsional dan lingkungan. Gigi geligi
mengalami diskolorisasi menjadi lebih gelap dan kehilangan email akibat atrisi,
abrasi dan erosi. Secara umum ruang pulpa menyempit dan sensitivitas
berkurang karena adanya deposisi dentin sekunder. Resesi gingiva, hilangnya
perlekatan periodontal dan tulang alveolar merupakan perubahan jaringan
periodontal yang umum ditemukan pada lansia. Degenerasi tulang alveolar
menyebabkan gigi geligi tampak lebih panjang daripada sebelumnya. Resesi
gingiva yang terjadi secara signifikan tidak diikuti oleh peningkatan kedalaman
poket periodontal. Massa tulang, baik pada tulang alveolar dan sendi rahang
menurun pada lansia akibat menurunnya asupan kalsium dan hilangnya mineral
tulang..11
b. Keadaan Saliva dan Mukosa Mulut
-

Diketahui bahwa fungsi kelenjar saliva yang mengalami

penurunan merupakan suatu keadaan normal pada proses penuaan manusia.


Lansia mengeluarkan jumlah saliva yang lebih sedikit pada keadaan istirahat,
saat berbicara, maupun saat makan. Keluhan berupa xerostomia atau mulut
kering sering ditemukan pada orang tua daripada orang muda yang disebabkan
perubahan karena usia pada kelenjar itu sendiri. Fungsi utama dari saliva adalah
pelumasan, buffer, dan perlindungan untuk jaringan lunak dan keras pada rongga
mulut. Jadi, perubahan aliran saliva akan mempersulit fungsi bicara dan
penelanan serta menaikkan jumlah karies gigi, dan meningkatkan kerentanan
mukosa terhadap trauma mekanis dan infeksi microbial.
-

Berdasarkan penelitian terjadinya degenerasi epitel saliva, atrofi,

hilangnya asini dan fibrosis terjadi dengan frekuensi dan keparahan yang

meningkat dengan meningkatnya usia. Secara umum dapat dikatakan bahwa


saliva nonstimulasi secara keseluruhan berkurang volumenya pada lansia.12
-

Gambaran klinis jaringan mukosa mulut lansia sehat tidak

berbeda jauh dibandingkan dengan individu muda, meski demikian riwayat


adanya trauma, penyakit mukosa, kebiasaan merokok dan adanya gangguan pada
kelenjar ludah dapat merubah gambaran klinis dan karakter histologis jaringan
mulut lansia. Kesehatan umum dan kesehatan rongga mulut saling berkaitan.
Sebagai contoh, penyakit periodontal parah diasosiasikan dengan diabetes
mellitus, penyakit jantung sistemik dan penyakit paru-paru kronis. Kehilangan
gigi juga dikaitkan dengan peningkatan resiko stroke dan kesehatan mental yang
buruk.11
-

Perubahan pada mukosa mulut dengan bertambahnya usia dapat

menimbulkan kesalahan penetapan diagnosis. Varikositas pada ventral lidah


akan tampak jelas pada lansia. Berkurangnya jumlah gigi geligi seiring dengan
proses penuaan menyebabkan lidah terlihat lebih besar atau macroglosia, tampak
bercelah dan beralur dikenal dengan fissured tongue atau dapat pula tampak
berambut dikenal dengan hairy tongue. Beberapa kondisi mukosa mulut yang
sering ditemukan pada lansia adalah keratoris friksional akibat trauma gigitan
kronis, makula melanotik, amalgam tattoo, torus, fissured tongue dan
geographic tongue.
c. Keadaan TMJ pada Lansia
-

Proses menua, terjadi kemunduran banyak fungsi tubuh. Salah

satu di antaranya adalah fungsi TMJ untuk mengunyah. Adanya gangguan pada
fungsi TMJ untuk mengunyah mengakibatkan berkurangnya asupan makanan
sebagai sumber gizi.
-

TMJ merupakan sendi yang paling kompleks, sendi ini membuka

dan menutup seperti sebuah engsel dan bergeser ke depan, ke belakang dan dari
sisi yang satu ke sisi yang lainnya. Selama proses mengunyah, sendi ini
menopang sejumlah besar tekanan. Sendi ini memiliki sebuah kartilago atau
tulang rawan khusus yang disebut cakram, yang mencegah gesekan antara tulang
rahang bawah dan tulang tengkorak.

d. Cara perawatan gigi dan mulut pada lansia


-

Kebersihan mulut dan gigi pada lansia harus tetap dijaga dengan

menyikat gigi dan kumur-kumur secara teratur meskipun sudah ompong. Gosok
gigi, membersihkan dengan serat (flossing), dan irigasi adalah cara pembersihan
yang tepat. Adapun cara-cara perawatan gigi dan mulut pada lansia adalah
sebagai berikut.
-

a. Kebersihan gigi dan mulut pada lansia yang masih mempunyai gigi.
-

Bagi lansia yang memiliki gigi agak lengkap dapat menyikat giginya

sendiri dua kali sehari pada pagi dan malam sebelum tidur, termasuk bagian
gusi. Bila ada gigi berlobang dan ada endapan warna kuning sampai cokelat
sebaiknya dibawa ke puskesmas.
-

b. Bagi yang menggunakan gigi palsu.


-

Bagi lansia yang menggunakan gigi palsu, gigi dibersihkan dengan sikat

gigi perlahan-lahan dibawah air yang mengalir bila perlu dapat gunakan pasta
gigi. Pada waktu tidur gigi palsu dilepas dan direndam dalam air bersih
( Hardywinoto, 2005 dan Maryam, 2008).
-

c. Bagi lansia yang tidak mempunyai gigi.


-

Untuk lansia yang tidak mempunyai gigi sama sekali setiap habis makan

juga harus menyikat secara lembut bagian gusi dan lidah menggunakan sikat
yg lembut atau menggunakan kain yang lembut untuk membersihkan sisa
makanan yang melekat. Selain menyikat gusi dan lidah lansia yang tidak
memiliki gigi sama sekali setiap habis makan juga harus berkumur untuk
membersihkan sisa makanan.
B. Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga Untuk Mengatasi Asam Urat dan
Darah Tinggi
-

Pemerintah telah menetapkan kebijaksanaan dalam upaya

pelayanan kesehatan yaitu Primary Health Care (PHC) sebagai suatu strategi
untuk mencapai kesehatan semua pada tahun 2000. Salah satu unmsur penting
dalam PHC antara lain penerapan teknologi tepat guna dan peran serta

masyarakat. Upaya pengobatan tradisional dengan obat-obat tradisional


merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dan sekaligus merupakan
teknologi tepat guna yang potensial untuk menunjang pembangunan kesehatan.
-

Toga adalah singkatan dari tanaman obat keluarga. Taman obat

keluarga pada hakekatnya sebidang tanah baik di halaman rumah, kebun ataupun
ladang yang digunakan untuk membudidayakan tanaman yang berkhasiat
sebagai obat dalam rangka memenuhi keperluan keluarga akan obat-obatan.
Kebun tanaman obat atau bahan obat dan selanjutnya dapat disalurkan kepada
masyarakat, khususnya obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Terdapat
beberapa tanaman obat keluarga yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi
penyakit yang biasa menyerang lansia yakni:
1. Tekanan darah tinggi
Daun Sambung Nyawa
Ambil daun sambung nyawa segar sebanyak 5-6 lembar.
Kemudian cuci bersih sebelum dimakan langsung sebagai lalapan. Daun
sambung nyawa tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan karena dapat
menyebabkan gejala pusing.
Daun Pegagan
Rebus 20 lembar daun pegagan segar dalam 3 gelas air sampai
tersisa 3/4 nya. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum
sehari 3 kali masing masing sebanyak 1/3 bagian. Bisa ditambahkan gula
secukupnya, dilakukan setiap hari.
Daun salam
Cuci 7-10 lembar daun salam segar sampai bersih, lalu rebus
dalam 3 gelas air sampai tersisa satu gelas. setelah dingin saring dan air
saringannya diminum sehari 2 kali sampai masing-masing 1/2 gelas.
2. Asam Urat
Daun Seledri
-

Rebus 30-40 lembar daun, lalu air rebusannya diminum.


Peringatan penggunaan pada pasien dengan proteinuria.

C. Edukasi aktifitas dan olahraga untuk lansia


-

Olahraga adalah budaya manusia, artinya tidak dapat disebut ada

kegiatan olahraga apabila tidak ada faktor manusia yang berperan secara
ragawi/pribadi melakukan aktivitas olahraga itu.Dari sudut pandang ilmu faal
olahraga, olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana
yang dilakukan orang dengan sadar untuk meningkatkan kemampuan
fungsionalnya (Giriwijoyo, 2010: 41 dalam Ani, 2013). Lansia hendaknya selalu
berolahraga yang cukup sesuai dengan kemampuan dan usianya. Olahraga jalan
kaki diharapkan menjadi salah satu pilihan bagi lansia guna meningkatkan
kebugaran jasmaninya karena memiliki resiko cedera rendah sekaligus jenis
olahraga yang murah meriah dan menyenangkan (Junaidi, 2011).
-

Olahraga untuk lansia sebaiknya bersifat aerobic dan rekreasi.

Selain itu ketika berolahraga lansia harus memulai pada kadar aktivitas yang
sangat ringan kemudian secara bertahap meningkat sampai pada kadar aktivitas
sedang. Tidak diperkenankan lansia berolahraga setiap hari, paling tidak
melakukan olahraga tiga kali dalam satu minggu. Olahraga lansia sebaiknya
terdiri dari tiga komponen, yaitu latihan aerobik, latihan kekuatan dan latihan
keseimbangan serta kelenturan. Latihan aerobik artinya latihan olah raga untuk
kesehatan jantung dan paru, berupa gerakan tubuh secara umum seperti berjalan
kaki. Target untuk lansia adalah latihan aerobik sedang selama tiga puluh menit,
hampir setiap hari. Awalnya tentu latihan ini harus dimulai perlahan-lahan dan
dicoba-coba sesuai kemampuan lansia. Misalnya dimulai selama 5-10 menit
(Pangastuti, 2010).
-

Seperti halnya latihan aerobik, lansia yang baru mulai berolah

raga harus memulai latihan kekuatan secara perlahan dan bertahap. Latihan ini
penting untuk membantu meningkatkan kekuatan otot lansia yang mengalami
penurunan kekuatan dan massa otot seiring bertambahnya usia. Latihan kekuatan
bisa dimulai dengan mengangkat botol minuman dengan jumlah pengulangan
dan berat botol sedikit demi sedikit meningkat. Setiap gerakan dilakukan
perlahan (lengan diangkat perlahan), sendi bergerak penuh, dan tidak boleh
menahan napas. Targetnya adalah berhasil melakukan satu set latihan kekuatan
terdiri dari sepuluh jenis gerakan berbeda sebanyak masing-masing 10-15 kali
tanpa merasa pegal kemudian. Latihan ini dilakukan dua atau tiga kali dalam
seminggu. Sedangkan manfaat dari latihan keseimbangan dan kelenturan yaitu

untuk meningkatkan stabilitas dan menghindari risiko lansia jatuh. Latihan ini
dilakukan seminggu dua kali (Pangastuti, 2010)
D. DIET PENDERITA ASAM URAT (Diet Rendah Purin)
1. Gambaran Umum
- Gout adalah salah satu penyakit artritis yang disebabkan oleh metabolism
abnormal purin yang ditandai dengan meningkatnya kadar asam urat dalam
darah. Hal ini diikuti dengan terbentuknya timbunan Kristal berupa garam
urat di persendian yang menyebabkan peradangan sendi pada lutut dan/atau
jari.
-

Tujuan Diet
Mempertahankan status gizi optimal
Menurunkan kadar asam urat dalam darah
Memperlancar pengeluaran asam urat
-

Syarat Diet

Energi diberikan sesuai kebutuhan tubuh. Bila berat badan berlebih

kebutuhan energi mengikuti pedoman diet energi rendah


Protein : 1 1,2 g/kg BB atau 10-15% dari kebutuhan energi total.
Hindari bahan makanan sumber protein yang mempunyai kandungan

purin >150 mg/100g


Lemak tidak lebih dari 30%, 10% nya dari protein hewani
Karbohidrat : 65-75% dari kebutuhan energi total, berupa karbohidrat

kompleks
Vitamin dan mineral diberikan sesuai kebutuhan
Cairan disesuaikan dengan urin yang dikeluarkan setiap hari. Banyak
minum untuk membantu pengeluaran kelebihan asam urat, 2 sampai
3 liter/hari untuk mencegah terjadinya pengendapan asam urat dalam

ginjal (batu ginjal)


Apabila BB lebih, dianjurkan untuk menurunkan BB karena akan
membantu menurunkan kadar purin dalam darah.

Cara Mengatur Diet

Memasak dengan merebus, mengukus, mengungkep, menumis,


memanggang, pepes.

Banyak makan buah-buahan yang mengandung air untuk


memperlancar pengeluaran asam urat
-

Hal Hal yang Perlu Diperhatikan

Olahraga secara teratur untuk mencegah kaku sendi.

Bila disertai dengan darah tinggi dan atau penyakit jantung diberikan pula
diet rendah garam.

Hati-hati dengan minuman atau suplemen berenergi (lebih baik konsultasi


ke dokter)

E. DIET PENDERITA HIPERTENSI (Diet Rendah Garam)


1. Gambaran Umum
-

Yang dimaksud garam dalam diet ini adalah garam Natrium seperti

garam dapur, soda kue, natrium benzoate, vetsein / MSG. Natrium adalah kation
utama dalam cairan ekstraseluler tubuh yang mempunyai fungsi menjaga
keseimbangan cairan dan asam basa tubuh, serta berperan dalam transmisi saraf
dan kontraksi otot. WHO menganjurkan pembatasan konsumsi garam dapur
hingga 6 gr/hari setara dengan 2400 mg Natrium. Asupan natrium yang
berlebihan terutama dalam bentuk natrium klorida, dapat menyebabkan gangguan
keseimbangan cairan tubuh, sehingga menyebabkan edema atau asites dan/atau
hipertensi. Sehingga dalam keadaan demikian asupan natrium perlu dibatasi.
2. Tujuan Diet

Membantu menurunkan tekanan darah

Membantu menghilangkan penimbunan cairan dalam tubuh atau edema atau


bengkak *)

*)

Penyebab timbunan air dalam tubuh: kegagalan tubuh untuk mengatur

keseimbangan cairan, akibatnya tubuh tidak mampu mengeluarkan garam


natrium yang berlebihan dalam jaringan. Natrium ini akan mengikat air sehingga
menimbulkan penimbunan cairan dalam tubuh.
3. Syarat Diet

Makanan beraneka ragam mengikuti pola gizi seimbang

Jenis dan komposisi makanan disesuaikan dengan kondisi penderita

Jumlah garam disesuaikan dengan berat ringannya penyakit dan obat yang
diberikan

4.

Cara Mengatur Diet


Rasa tawar dapat diperbaiki dengan menambah gula merah, gula pasir,
bawang merah, bawang putih, jahe, kencur, salam dan bumbu lain yang tidak
mengandung atau sedikit garam Na.

Makanan lebih enak ditumis, digoreng, dipanggang, walaupun tanpa garam

Bubuhkan garam saat di atas meja makan, gunakan garam beryodium (30
80 ppm), tidak lebih dari sendok teh/ hari

Dapat menggunakan garam yang mengandung rendah Natrium

BAB III
KERANGKA PEMECAHAN MASALAH
Faktor Kesehatan
- Lansia

Genetik

Lingkungan

Kebutuhan
Dasar
-

Motivasi

dan

Dukungan Keluarga

Aktivitas

Intake Makan, nafsu makan,

Fisik

Pemilihan

bahan

makanan,

modifikasi variasi makanan

Penyakit degeneratif hipertensi, asam

urat, permasalah gigi dan mulut

Level Prevention

Primary Prevention

Secondary Prevention

Rehabilitation

Health Promotion

Prompt

treatment

Early detection

dan early detection

Usulan kegiatan

Nutrisi

hipertensi,

Penyuluhan tentang
asam

urat,

PGS,

senam lansia, obat


herbal

BAB IV

Antropometri, pengukuran
tekanan darah, cek gula
darah, edukasi aktifitas,

edukasi cara merawat


gilut, rehabilitasi

METODE KEGIATAN
-

A. Waktu
Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 25 Januari 2015 dari pukul 13.00-15.20
WIB
B. Lokasi Kegiatan
- Rumah Ketua RW 04 Dusun Bugis, Kelurahan Saptorenggo, Kecamatan Pakis,
Kabupaten Malang
C. Khalayak Sasaran
-

Sasaran kegiatan ini adalah 30 peserta lansia di Dusun Bugis Kelurahan

saptorenggo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.


D. Metode
-

Metode yang digunakan pada kegiatan ini yaitu


-

Tabel Metode Pelaksanaan Kegiatan


Kegiatan

Metode

N
-

Pendaftaran (Absensi)

Peserta datang dan mendaftar di meja


registrasi dan mendapatkan nomor antrian
untuk pemeriksaan gula darah dan asam
urat. Panitia mengisi kartu status peserta

Tensi

lansia.
Peserta yang datang langsung di cek tensi

Senam

Peserta yang datang dipandu untuk

2
3
-

melakukan gerakan senam untuk lansia


-

Pre Test

4
-

lembar pre test


-

Dengan menjawab pertanyaan MCQ pada

Penyuluhan Nutrisi (termasuk Presentasi kelompok besar dengan slide


Penjelasan melalui poster
hipertensi dan asam urat) dan
Kader
akan
mendampingi
untuk
PGS (pesan gizi seimbang)
mentransfer informasi ke peserta (segi
Games Panca Indra

bahasa)
Peserta dibagi menjadi empat kelompok

dan

diberikan

bahan

makanan

yang

nantinya akan disampaikan kepada peserta


-

yang lain.
Penjelasan aktivitas fisik dan FGD (Focus Grup Discussion)
kesehatan gigi dan mulut

Post Test

Dengan menjawab pertanyaan MCQ pada

lembar post test

Dorprize

Pembagian 3 payung, 10 kaos, 3 topi, dan

30 potongan kuku untuk peserta


Pembagian souvernir untuk ibu kader dan

tuan rumah
Pemeriksaan Gula darah dan Peserta di cek gula darah atau asam urat
asam urat

sesuai dengan nomor antrian


-

RANCANGAN EVALUASI
No

Kegiatan

Indikator
Keberhasilan

Cara Mengukur Indikator

Pretest

Kekutsertaan

Materi

pretest

Penyuluhan

80%

minimal
lansia

total

2
-

Pemeriksaan

dari

ikut pemeriksaan gratis

kehadiran

dengan

diikuti

Tekanan

80%

Darah,

total

Gula

Dara

dan

Asam

jumlah

daftar

kehadiran (absensi).

Pemeriksaan gratis

Gratis

perbandingan

jumlah total lansia yang

(absensi)
-

Melalui

minimal
lansia

dari

kehadiran

(absensi)

Melalui

perbandingan

jumlah total lansia yang


ikut pemeriksaan gratis
dengan

jumlah

daftar

kehadiran (absensi).

Urta
-

Senam

a. Senam

Lansia
-

diikuti

oleh a. Melalui perbandingan jumlah

80% lansia dari total

total lansia yang mengikuti

kehadiran

senam dengan jumlah daftar

(absensi)

posyandu lansia
kehadiran (absensi) posyandu
b. Para
lansia
dapat b. Melalui partipasi aktif lansia
mengikuti

gerakan

mengikuti gerakan senam

senam yang diajarkan


4

Penyuluhan

tentang asam
urat,

obat

herbal,
nutrisi
hipertensi
dan

BGS,Materi
edukasi
aktivitas,Cara
merawat gigi
dan

mulut,

Penyuluhan diikuti a. Melalui daftar kehadiran.


b. Keaktifan bertanya
oleh minimal 80%
c. Dapat menjawab pertanyaan
lansia dari total
dari penyuluh dengan benar
absensi/daftar
atau
dapat
mengulang
kehadiran
beberapa inti materi yang
posyandu
telah dijelaskan dengan benar
-

rehabilitasi
-

Posttest

Hasil skor posttest

Materi

mengalami

Penyuluhan

kenaikan 40% skor

Melalui

perbandingan

skor pretest dan postest

dibanding pretest
JADWAL PELAKSANAAN
1. Jadwal Kegiatan Kelompok 31 PKNM 2015
-

Tang

gal
-

18

Januari 2015

Kegiatan

Target

Indikator

Survey

Peserta
Kepala

Mendapatkan

Lapangan

Desa, Bidan Desa,

Desa Kepala Desa Saptarenggo,

data

dari

19

Januari 2015

Analisa

Kader.

Bidan Desa dan Kader terkait

masalah kesehatan.
Minimal 60%

Kelompok

anggota

situasi dan 31 PKNM 2015

kelompok mengikuti identifikasi

Penyusunan

masalah

Gambaran
-

20

Januari 2015

Program
Konsultasi

analisa

31 PKNM 2014

Kelompok

situasi dan

Data hasil analisa situasi

dan gambaran program diterima


oleh dosen pembimbing.

Gambaran
-

21

januar

Program
Penyusunan Proposal

Kelompok

31 PKNM 2014

i 2015
-

22

Januari 2014
23

24

Masing-masing

kelompok

Januari 2015

dalam

mengerjakan proposal
Tersusun proposal yang fix

Fix
Pemberian

31 PKNM 2014
Kepala

Proposal

Desa, Bidan Desa, diterima oleh stake holder Desa

dan

Kader.

Kelompok

bagian

Proposal

dan siap diberikan ke pihak desa


Proposal dan undangan
Saptorenggo

untuk

selanjutnya

Penyerahan

undangan diberikan kepada lansia

Undangan

desa Saptorenggo

Kegiatan
Persiapan

Program

31 PKNM 2015

Kelompok

Minimal 80% anggota ikut

dalam persiapan program.


75% keperluan program
siap.
-

25

mendapatkan

Januari 2015

anggota

masing-masing

Januari 2015

75% teknis program siap.

Perwakilan Terdapat minimal 1 perwakilan

Pelaksanaa

n Program

dari pihak desa,


kader, lansia dan
kelompok 31
PKNM 2015

dari

pihak

desa

untuk

menghadiri program.
Terdapat minimal 5 kader untuk
menghadiri program
Minimal kehadiran lansia 80%

dari target 30 orang


100 % anggota kelomok

31

menghadiri program.

26

Januari 2014

Pembuatan

Kelompok

laporan

31 PKNM 2015

Akhir

Terbentuk

pembuatan
masing

laporan

pembagian
akhir

masing

dan

anggota

kelompok mempunyai tanggung


jawab untuk menyusun laporan
-

27-29

Pembuatan

Januari 2015

Laporan

31 PKNM 2015

untuk

Akhir
Presentasi

dosen pembimbing.
Presentasi kepada dosen

30

Januari 2015
-

Kelompok

akhir.
Terbentuk laporan akhir

Kelompok

31 PKNM 2015

dikonsultasikan

kepada

pembimbing

2. Rundown Acara Program Kegiatan Kelompok 31 PKNM 2015


Waktu
13.00 13.30

13.45
13.55
14.10
14.25
14.40
15. 10
15.20

1.
2.
3.
4.

Kegiatan
PEMBUKAAN
Pendaftaran (Absensi)
Tensi Gratis
Senam
Pre Test

13.30 Penyuluhan Nutrisi (termasuk hipertensi dan asam


urat) dan PGS (Pesan Gizi Seimbang)
13.45 Games Panca Indra
13.55 FGD (Focus Grup Discussion) : Aktifitas fisik dan
kesehatan gigi dan mulut
14.10 Post Test
14.25 -

Dorprize

14.40 -

Pemeriksaan Gula Darah dan Asam Urat

15.10 -

Penutupan

- RENCANA ANGGARAN BIAYA


-

Pemasukan
Iuran anggota
Pengeluaran
Konsumsi
Konsumsi peserta
Konsumsi kader
Konsumsi undangan
Air mineral
Total

13 x @Rp 100.000,00

= Rp 1.300.000,00

50 x @Rp 5.000,00
5 x @Rp 5.000,00
5 x @Rp 5.000,00
2 x @Rp 20.000,00

= Rp
= Rp
= Rp
= Rp
= Rp

250.000,00
25.000,00
25.000,00
40.000,00 +
340.000,00

= Rp
= Rp
= Rp
= Rp
= Rp

85.000,00
85.000,00
40.000,00
40.000,00
30.000,00

Perlengkapan
Strip Glucose
1
Strip asam urat
1
Lancet
2
Alcohol swab
2
Banner tagline acara (spanduk)

x @Rp 85.000,00
x @Rp 85.000,00
x @Rp 20.000,00
x @Rp 20.000,00

Acara Games

Piring kertas 10 buah @ Rp 500,00


Gambar 5 buah @Rp 500,00
Rempah-rempah
Gula & garam
Tissue

Print

Proposal 55 lbr x @ Rp 200 x 2 eksemplar


LPJ 1 eksemplar x 70 x @ Rp 200
TOR 8 lbr x @ Rp 200
Undangan 1 x @ Rp 200
Poster 8 x @ Rp 5000
Leaflet 110 x 1000
Pretest & Posttest 100 lbr x @Rp 200

= Rp
= Rp
= Rp
= Rp
= Rp

5.000,00
2.500,00
5.000,00
1.000,00
1.000,00

= Rp
= Rp
= Rp
= Rp
= Rp
=Rp
= Rp

11.000,00
14.000,00
1.600,00
200,00
40.000,00
160.000,00
20.000,00

Fotokopi
-

TOR 16 x @ Rp 150

= Rp

2.400,00
-

Undangan 55 x @ Rp 150

Rp

8.250,00 +
-

Total
551.950,00

Rp

Kenang-kenangan

Souvenir kader

Jam dinding

9 x @Rp 10.000

= Rp
= Rp

90.000,00
40.000,00

+
-

Total

= Rp

130.000,00

Total Pengeluaran
Rp
Rp
Rp

Total

340.000,00
551.950,00
130.000,00 +
Rp 1.021.950,00
-

DAFTAR PUSTAKA
-

Almatsier, Sunita. 2004. Penuntun Diet. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Dalimartha, S. 2000. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid II. Jakarta: Trubus
Agriwidya.

Junaidi, Said. 2011. Pembinaan Fisik Lansia melalui Aktifitas Olahraga Jalan
Kaki. Semarang. Jurnal Media Ilmu Keolahragaan Indonesia. Vol.1 Ed. 1

Kemenkes RI. 2011. Diet Hipertensi. Jakarta : Direktorat Bina Gizi Subdit Bina
Gizi Klinik.

Kemenkes RI. 2011. Diet Rendah Purin. Jakarta : Direktorat Bina Gizi Subdit
Bina Gizi Klinik.

Pangastuti, Indah Nur. 2010. Latihan Renang untuk Lansia. Yogyakarta

Suryani, Ani. 2013. Profil Gaya Hidup Sehat Lansia yang Aktif Melakukan
Olahraga Kesehatan. IKOR. Vol 1 No. 1