Anda di halaman 1dari 3

Stabilisasi Tanah dengan Metode Grouting

Eria Widasmara (21100111110076)


Teknik Geologi Universitas Diponegoro
Abstrak
Ketidakstabilan atau pergerakan tanah seringkali terjadi disebabkan oleh adanya
rekahan, retakan, atau pori-pori pada lapisan batuan dibawahnya. Yang dapat dilakukan
adalah melakukan penginjeksian bahan cair kedalam tanah agar dapat mengisi rekahan,
retakan, dan pori-pori, yang setelah beberapa saat cairan tersebut akan mengeras dan
menyatu dengan tanah dalam hal ini adalah grouting.
Kata kunci: pergerakan tanah, grouting.
LATAR BELAKANG
Bencana alam hampir sering terjadi
pada setiap tahun baik disebabkan oleh
alam
maupun
manusia
yang
mempercepatnya.
Bencana
seperti
ketidakstabilan tanah atau lereng sering
kali terjadi, maka dari itu kita harus
mensiasatinya agar tidak memakan
banyak
korban
dan
mengurangi
kerugian.
Cara untuk mensiasatinya adalah
dengan metode grouting yaitu dengan
menginjeksikan campuran semen dan air
kedalam tanah yang dibawahnya
terdapat rekahan, retakan, pori, dan
sebagainya sehingga cairan tersebut
akan mengeras dan mengisi celah-celah
tersebut.
METODE GROUTING
Grouting adalah suatu proses,
dimana suatu cairan campuran antara
semen dan air diinjeksikan dengan
tekanan kedalam rongga, pori, rekahan
dan retakan batuan yang selanjutnya
cairan tersebut dalam waktu tertentu
akan menjadi padat secara fisika
maupun kimiawi.
Pelaksanaan grouting meliputi
penentuan
titik
grouting,
uji
permebilitas, pemboran dan grouting

(Dwiyanto, 2005). Berikut ini adalah


uraian secara singkat mengenai tahap
pelaksanaan grouting:
1. Penentuan titik grouting
Penentuan titik grouting berpatokan
pada stasiun-stasiun yang ditentukan
di lapangan melalui penyelidikan
oleh tenaga ahli. Jarak tiap-tiap titik
grouting
disesuaikan
dengan
kebutuhan.
2. Pemboran
Pelubangan titik grouting dilakukan
dengan cara di bor. Dalam grouting
ada 2 macam pemboran, yaitu
pemboran dengan pengambilan core
dan pemboran tanpa core. Diameter
lubang bor adalah 76 cm untuk
pemboran coring dan 46 mm untuk
pemboran non coring. Khusus untuk
permboran dengan coring diperlukan
mesin dengan penggerak hidrolik
agar kualitas core yang dihasilkan
lebih bagus.
3. Uji Permeabilitas atau Test Lugeon
Uji permeabilitas pertama kali
diperkenalkan oleh Lugeon pada
tahun 1933, yang bertujuan untuk

mengetahui nilai lugeon (Lu) dari


deformasi batuan. Nilai lugeon
adalah
suatu
angka
yang
menunjukkan berapa liter air yang
bisa merembes ke dalam formasi
batuan sepanjang satu meter selama
periode
satu
menit,
dengan
menggunakan tekanan standar 10
Bars atau sekitar 10 kg/cm2. Angka
ini hampir sama dengan koefisien
kelulusan air sebesar 1 x 10-5
cm/detik.
Nilai
lugeon dapat
memberikan informasi mengenai
sifat aliran dalam batuan dan sifat
batuan itu sendiri terhadap aliran air
yang melaluinya.
Metode pengujiannya adalah dengan
cara memasukkan air bertekanan ke
dalam lubang bor, menggunakan
peralatan yang disebut rubber
packer, yang digunakan untuk
menyumbat lubang bor. Peralatan
lain yang digunakan dalam uji
permeabilitas antara lain:

Waterflow
Meter
mengetahui debit air

Stop Watch untuk menentukan


waktu rembesan

Pressure Gauge untuk mengetahui


tekanan air

Water Pump untuk memompa air

untuk

Untuk pengujian dengan tekanan


kurang dari 10 kg/cm2, dibuat
ekstrapolasi
sehingga
bentuk
persamaannya menjadi:
Lu= 10Q/PL

Keterangan:
Lu = Lugeon unit (l/mnt/m)
Q = debit aliran yang masuk (l/mnt)
P = tekanan total (Po+Pi) (kg/cm2)
L = panjang lubang yang di uji (m)
4. Grouting
Tahap pekerjaan grouting dilakukan
dengan cara menyuntikkan bahan
semi kental (slurry material) ke
dalam tanah atau batuan melalui
lubang bor. Komponen utama
peralatan grouting adalah grout
mixer dan grout pump.
a. Grout Mixer
Grout mixer adalah mesin
pencampur material yang akan
disuntikkan ke dalam tanah atau
batuan. Umumnya grout mixer
mempunyai
kapasitas
mencampur (batching) sebesar
200 liter/batch.
b. Grouting Pump
Grouting pump berperan untuk
memompa air maupun campuran
grouting. Kapasitas pemompaan
minimum 100 liter/menit pada
tekanan pompa 6 kg/cm2 dan
mampu
mencapai
tekanan
2
hingga 20 kg/cm .
Tipe grouting yang digunakan dalam
kasus stabilitas tanah ini adalah grouting
penembusan (permeation grouting)
disebut
juga
grouting
penetrasi

(penetration grouting), yang meliputi


pengisian
retakan,
rekahan
atau
kerusakan pada batuan, rongga pada
sistem pori-pori tanah serta media
porous lainnya. Tujuan grouting
penembusan adalah untuk mengisi ruang
pori (rongga), tanpa merubah formasi
serta konfigurasi maupun volume
rongga. Grouting jenis ini dapat
dilakukan untuk tujuan penguatan
formasi, menghentikan aliran air yang
melaluinya,
maupun
kombinasi
keduanya. Grouting penembusan dapat
meningkatkan kohesi tanah. Warner
(2005)

KESIMPULAN
Dengan memanfaatkan metode grouting
kita dapat mengurangi kemungkinan
gerakan tanah dan menekan angka
korban maupun kerugian.
DAFTAR PUSTAKA
dennaaf.blogspot.com/2012/08/sekilastentang-grouting-dibendungan.html
smiagiundip.wordpress.com/2013/03/31/
metode-grouting-untuk-penguatanpondasi-tanah/
tukangbata.blogspot.com/2013/01/pekerj
aan-grouting-atau-sementasi.html