Anda di halaman 1dari 25

TORSIO TESTIS VS ORCHITIS

Disusun oleh:
Yan aditya
Pembimbing:
dr. Hendra Sutapa, Sp.U

FK UNPAD/ FK UNLAM
RSHS/RSUD ULIN
BANJARMASIN
2015

BAB I
PENDAHULUAN
Tosio testis adalah kegawatdaruratan urologi yang membutuhkan
penegakan diagnosis dan intervensi segera agar viabilitas testis tetap
terjaga. (Schwartz, 2005)
Torsio

testis

merupakan

suatu

keadaan

dimana

funikulus

spermatikus yang terpuntir mengakibatkan oklusi dan strangulasi dari


vaskularisasi vena atau arteri ke testis dan epididimis. (Siroky, 2004)
Torsio testis diderita oleh 1 diantara 4000 pria yang berumur kurang
dari 25 tahun, dan paling banyak diderita oleh anak pada masa pubertas
(12-20 tahun). Di samping itu tidak jarang janin yang masih berada di
dalam uterus atau bayi baru lahir menderita torsio testis yang tidak
terdiagnosis sehingga mengakibatkan kehilangan testis baik unilateral
ataupun bilateral. (Cuckow, Frank, 2000)
Orchitis adalah proses inflamasi pada satu atau kedua testis, paling
sering

disebabkan/bersamaan

dengan

virus

yang

menyebabkan

gondongan (mumps). Setidak-tidaknya 1/3 laki-laki yang terkena mumps


setelah mengalami pubertas akan terkena orchitis. Penyebab lainnya
adalah infeksi bakteri, termasuk didalamnya penyakit menular seksual
(PMS = STD), seperti gonorrhea atau chlamydia. (Simon, Everitt, Hazel,
2005)
Komplikasi orchitis bisa berupa atrofi testis, abses pada skrotum,
dan infertilitas, terutama jika terkena pada kedua testis.(Linda, 2010)
Pengobatan tergantung penyebab. Untuk yang disebabkan oleh
virus, bertujuan menghilangkan gejala-gejala yang ada. Untuk yang
disebabkan bakteri, diperlukan pemberian antibiotika.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Testis
Testis adalah organ genitalia pria yang terletak di skrotum. Ukuran
testis pada orang dewasa adalah 4 x 3 x 2,5 cm dengan volume 15-25 ml
berbentuk ovoid. Kedua buah testis terbungkus oleh jaringan tunika
albuginea yang melekat pada testis. Di luar tunika albuginea terdapat
tunika vaginalis yang terdiri atas lapisan viseralis, yang menempel
langsung ke testis, dan lapisan parietalis, sebelah luar testis yang
menempel ke muskulus dartos pada dinding skrotum. Otot kremaster yang
berada di sekitar testis memuungkinkan testis dapat digerakkan
mendekati organ abdomen untuk mempertahankan temperature testis
agar tetap stabil. (Purnomo,2009)
Secara histopatologis, testis terdiri atas 250 lobuli dan tiap lobules
terdiri atas tubuli seminiferi. Di dalam tubulus seminiferus terdapat sel-sel
spermatogonia dan sel Sertoli, sedang antara tubuli seminiferi terdapat
sel-sel lydig. Sel-sel spermatogonium pada proses spermatogenesis
menjadi sel spermatozoa. Sel-sel Sertoli berfungsi memberi makan pada
bakal sperma, sedangkan sel-sel Leydig atau disebut sel-sel interstisial
testis berfungsi dalam menghasilkan hormone testosterone.(Purnomo,
2009)
Sel-sel spermatozoa yang diproduksi di tubuli seminiferi testis
disimpan dan mengalami permatangan/maturasi di epididimis. Setelah
mature (dewasa) sel-sel spermatozoa bersama-sama dengan getah dari
epididimis dan vas deferens disalurkan menuju ke ampula vas deferens.
Sel-sel itu setelah bercampur dengan cairan-cairan dari epididimis, vas
deferens, vesikula seminalis. serta cairan prostat membentuk cairan
semen atau mani. (Purnomo,2009)

Gambar 2.1. Anatomi testis, epididimis, dan potongan transversal testis


(Sumber: Vishal, McGrawhill, 2007)

Testis mendapatkan darah dari beberapa cabang arteri, yaitu (1)


arteri spermatika interna yang merupakan cabang dari aorta, (2) arteri
deferensialis cabang dari arteri vesikalis inferior dan (3) artei kremasterika
yang merupakan cabang arteri epigastrika. Pembuluh vena yang
meninggalkan testis berkumpul membentuk pleksus Pampiniformis.
Pleksus ini pada beberapa orang mengalami dilatasi dan dikenal sebagai
variokel. (Purnomo,2009)
2.2 Torsio Testis
2.2.1

Definisi
Torsio testis merupakan suatu keadaan dimana funikulus

spermatikus yang terpuntir mengakibatkan oklusi dan strangulasi dari


vaskularisasi vena atau arteri ke testis dan epididimis. (Siroky, 2004)

Gambar. Testis normal dan torsio testis


(Sumber: http://familydoctor.org/online/famdocen/home/men/reproductive/916.html)

2.2.2 Epidemiologi
Torsio testis diderita oleh 1 diantara 4000 pria yang berumur
kurang dari 25 tahun, dan paling banyak diderita oleh anak pada masa
pubertas (12-20 tahun). (Ringdahl dkk, 2006)
Testis kiri lebih sering terjadi disbanding testis kanan, hal ini
mungkin disebabkan oleh karena secara normal funikulus spermatikus
kiri lebih panjang. (Rupp, 2010)
Pada kasus torsio testis yang terjadi pada periode neonatus,
70% terjadi pada fase prenatal dan 30% terjadi postnatal. (Rupp,
2010)
2.2.3 Etiologi
Penyebab dari torsio testis meliputi kelainan congenital, anomali
bell clapper, testis yang tidak turun, gangguan seksual

atupun

aktifitas seksual, trauma, tumor testis dan olahraga. (Rupp, 2010)


Kadang torsio dicetuskan oleh cedera olahraga (Gardjito, 2005).

Beberapa kanker testis intra abdominal dapat mengakibatkan torsio.

Setengah dari pasien memiliki gangguan ini pada saat tidur. Pada beberapa
kasus, kelainan congenital dari tunika vaginalis atau funikulus spermatikus
muncul. (Cranston,2002)

Pada masa janin dan neonatus lapisan parietal menempel pada


muskulus dartos masih belum banyak jaringan penyanggahnya
sehingga testis, epidimis dan tunika vaginalis mudah sekali bergerak
dan

memungkinkan

untuk

terpluntir

pada

sumbu

funikulus

spermatikus. Terpluntirnya testis pada keadaan ini disebut torsio testis


ekstravagina. Torsio ini muncul dengan testis yang keras dan
bengkak. (Purnomo, 2009).

(Sumber: Favourito, 2004)


Kelainan ini sering terjadi pada neonatus dan pada kondisi
undesensus testis. (Minevich, 2010)
Terjadinya torsio testis pada masa remaja banyak dikaitkan
dengan kelainan sistem penyanggah testis. Tunika vaginalis yang
seharusnya mengelilingi sebagian dari testis pada permukaan anterior
dan lateral testis, pada kelainan ini tunika mengelilingi seluruh
permukaan testis sehingga mencegah insersi epididimis ke dinding
skrotum. Keadaan ini menyebabkan testis dan epididimis dengan
mudahnya bergerak di kantung tunika vaginalis dan menggantung
pada funikulus spermatikus. Kelainan ini dikenal sebagai anomali bell

clapper. Keadaan ini memudahkan testis mengalami torsio invaginalis.


Pada saat ini terjadi, vena pada plexus pampiniform menjadi
terkompresi dan menyebabkan kongesti vena. Setelah beberapa jam,
infark vena akan muncul kecuali torsio di koreksi. (Minevich 2010,
Purnomo, 2009)

Gambar. Deformitas Bell-clapper (Siroky, 2004)

2.2.4 Patofisiologi
Torsio testis terjadi pada anak dengan insersi tunika vaginalis
tinggi di funikulus spermatikus sehingga funikulus dengan testis dapat
terpuntir dalam tunika vaginalis. Akibat puntiran tungkai, terjadi
pendarahan testis mulai dari bendungan vena sampai iskemia yang
menyebabkan gangren. Keadaan insersi tinggi tunika vaginalis di
funikulus biasanya gambarkan sebagai lonceng dengan bandul yang
memutar dan mengalami nekrosis dan gangren.(Wim De Jong, 2005)
Secara fisiologis otot kremaster berfungsi menggerakkan testis
mendekati dan menjauhi rongga abdomen guna mempertahankan
suhu ideal untuk testis. adanya kelainan sistem penyanggah testis
menyebabkan testis menyebabkan testis dapat mengalami torsio jika
bergerak secara berlebihan. Beberapa keadaan yang menyebabkan

pergerakkan yang berlebihan itu, antara lain adalah perubahan suhu


yang mendadak (seperti pada saat berenang), ketakutan, latihan yang
berlebihan, batuk, celana yang terlalu ketat, defekasi, atau trauma
yang mengenai skrotum. (Purnomo,2009)
Torsio dari funikulus spermatikus mengakibatkan terhambatnya
aliran darah ke testis dan epididimis. Derajat torsi dapat berkisar
antara 180-720. Peningkatan kongesti pembuluh darah memicu
torsio yang berlanjut. Testis dapat bertahan dalam waktu 6-8 jam. Bila
lebih dari 24 jam, akan terjadi nekrosis dari testis. (Minevich, 2010)

Gambar. Testis nekrosis


2.2.5 Gejala Klinis
Kadang torsio testis dicetuskan oleh cedera olahraga. Biasanya
nyeri testis hebat timbul tiba0tiba yang sering disertai nyeri perut
dalam serta mual atau muntah. Nyeri perut selalu ada karema
berdasarkan pendarahan fan persarafannya, testis merupakan organ
perut. Pada permulaan testis teraba agak bengkak dengan nyeri tekan
dan terletak agak tinggi di skrotum dengan funikulus yang juga
bengkak. Akhirnya, kulit skrotum menunjukkan udem dan menjadi
merah sehingga menyulitkan palpasi dan kelainan sukar dibedakan
dengan epididimis akut.(Wim De Jong, 2005)

Gejala pertama dari torsio testis adalah hampir selalu nyeri.


Gejala ini bisa timbul mendadak atau berangsur-angsur, tetapi
biasanya meningkat menurut derajat kelainan. Riwayat trauma
didapatkan pada 20% pasien, dan lebih dari sepertiga pasien
mengalami episode nyeri testis yang berulang sebelumnya. Derajat
nyeri testis umumnya bervariasi dan tidak berhubungan dengan
luasnya serta lamanya kejadian.
Pembengkakan dan eritema pada skrotum berangsur-angsur
muncul. Dapat pula timbul nausea dan vomiting, kadang-kadang
disertai demam ringan. Gejala yang jarang ditemukan pada torsio
testis ialah rasa panas dan terbakar saat berkermih, dan hal ini yang
membedakan dengan orchio-epididymitis. Adapun gejala lain yang
berhubungan dengan keadaan ini antara lain :

Nyeri perut bawah

Pembengkakan testis

Darah pada semen

2.2.6 Diagnosis
Diagnosis secara utama dibuat berdasarkan riwayat dan
pemeriksaan. (Cranston,202). Pasien mengeluh nyeri hebat di daerah
skrotum, yang sifatnya mendadak dan diikuti pembengkakan pada
testis. Keadaan ini dikenal sebagai akut skrotum. Nyeri dapat menjalar
ke daerah inguinal atau perut sebelah bawah sehingga jika tidak
diwaspadai sering dikacaukan dengan appendisitis akut (Purnomo,
2009). Kecurigaan diarahkan pada pasien lelaki muda yang datang
dengan nyeri akut dan pembengkakkan, dimana torsio testis terjadi
pada hampir 90 persen dengan gejala akut skrotum pada kelompok
usia

13

sampai

21

tahun.

Muntah

merupakan

salah

satu

gejalanya(Cranston,2002). Pada bayi gejalanya tidak khas yakni


gelisah, rewel atau tidak mau menyusui (Purnomo,2009).

Pemeriksaan fisis dapat membantu membedakan torsio testis


dengan penyebab akut skrotum lainnya. Testis yang mengalami torsio
pada skrotum akan tampak bengkak dan hiperemis. Eritema dan
edema dapat meluas hingga skrotum sisi kontralateral. Testis yang
mengalami torsio juga akan terasa nyeri pada palpasi. Jika pasien
datang pada keadaan dini, dapat dilihat adanya testis yang terletak
transversal atau horisontal. Seluruh testis akan bengkak dan nyeri
serta

tampak

lebih

besar

bila

dibandingkan

dengan

testis

kontralateral, oleh karena adanya kongesti vena. Testis juga tampak


lebih tinggi di dalam scotum disebabkan karena pemendekan dari
funikulus spermatikus. Hal tersebut merupakan pemeriksaan yang
spesifik dalam menegakkan dianosis. Biasanya nyeri juga tidak
berkurang bila dilakukan elevasi testis (Prehn sign). Pemeriksaan fisik
yang paling sensitif pada torsio testis ialah hilangnya refleks
cremaster. Dalam satu literatur disebutkan bahwa pemeriksaan ini
memiliki sensitivitas 99% pada torsio testis.(Reynard, 2006)
Pada pemeriksaan fisis skrotum harus selalu diperiksa
(Cranston,2002). Testis membengkak, letaknya lebih tinggi dan lebih
horizontal daripada testis sisi kontralateral. Kadang-kadang pada
torsio testis yang baru saja terjadi dapat diraba adanya lilitan atau
penebalan funikulus spermatikus. keadaan ini biasanya tidak disertai
dengan demam (Purnomo,2009). Udem dan eritem pada skrotum
merupakan hal yang sering terjadi pada torsio dan tidak menunjang
diagnosis untuk epididimo-orchitis, yang sangat jarang terjadi pada
kelompok usia lelaki muda. Torsio dari ujung testicular lebih sering
pada anak laki-laki prepubertal, begitu juga dengan orchitis dan
udema scrotal idiopatik. Jarang perdarahan pada tumor testicular
muncul dengan akut skrotum. (Cranstoon,2002).
Pemeriksaan sedimen urin tidak menunjukkan adanya leukosit
dalam urin dan pemeriksaan darah tidak menunjukkan tanda

10

inflamasi, kecuali pada torsio testis yang sudah lama dan telah
mengalami keradangan steril. (Purnomo, 2009)
Teknik investigative biasanya tidak diperlukan dan menunda
eksplorasi (Cranston,2002). Pemeriksaan penunjang yang berguna
untuk membedakan torsio testis dengan keadaan akut skrotum yang
lain adalah dengan memakai : stetoskop Doppler, ultrasonografi
Doppler (Purnomo,2009) (dapat berguna dalam diagnosis namun
dapat salah diartikan, terutama pada kasus torsio intermitten dengan
hyperemia dapat muncul setelah terjadi pemutaran balik secara
spontan (Cranston,2002), dan sintigrafi testis yang kesemuanya
bertujuan menilai adanya aliran darah ke testis. Pada torsio testis
tidak didapatkan adanya aliran darah ke testis sedangkan pada
keradangan akut testis terjadi peningkatan aliran darah ke testis
(Purnomo,2009).

Gambar. A Testis normal (panah merah) B Torsio testis ekogenisitas menurun,edema

B
(Sumber: http://mymedicineworld.net/?tag=infarction)

11

Gambar. Torsio testis dan Orchitis


(Sumber:http://www.catscanman.net/blog/wpcontent/uploads/casebook/orchitis5.jpg)

2.2.7

Diagnosis Banding
Diagnosis bandingnya adalah semua keadaan darurat dan

akut di dalam skrotum seperti hernia inkarserata, orkitis akut,


epididimitis akut dan torsio hidatid morgagni. (Wim De jong, 2005)

12

Sumber: (http://www.ebmedicine.net/topics.php?
paction=showTopicSeg&topic_id=173&seg_id=3410)

13

(Sumber: Siroky, 2004)


A. Epididimis akut.
Penyakit ini secara klinis sulit dibedakan dengan torsio
testis. Nyeri skrotum akut biasanya disertai dengan kenaikan suhu
tubuh, keluarnya nanah dari uretra, adanya riwayat coitus
suspectus (dugaan melakukan senggama dengan bukan isterinya),
atau

pernah

menjalani

katerisasi

uretra

sebelumnya

(Purnomo,2009).
Jika

dilakukan

elevasi

(pengangkatan)

testis,

pada

epididimitis akut terkadang nyeri akan berkurang sedangkan pada


torsio testis nyeri tetap ada (tanda dari Prehn). Pasien epididimitis
akut biasanya berumur lebih dari 20 tahun dan pada pemeriksaan
sedimen urin didapatkan adanya leukosituria atau bakteriuria
(Purnomo,2009).
Pada
kasus

epididimo-orkitis,

Ultrasound

Doppler

menunjukkan adanya peningkatan aliran darah. Pada kasus torsio


testis tidak terdapat aliran darah. (Schwartz, 2005)
B. Hernia skrotalis inkarserata.

14

Biasanya didahului dengan anamnesis didapatkan benjolan


yang dapat keluar dan masuk ke dalam skrotum (Purnomo,2009).
C. Hidrokel terinfeksi,
Tunika vaginalis di skrotum sekitar testis normlanya tidak
teraba, kecuali bila mngandung cairan membentuk hidrokel, yang
jelas bersifat diafan (tembus cahaya) pada transiluminasi. Hidrokel
dapat disebabkan oelh rangsangan patologik seperti radang atau
tumor testis. (Wim De Jong, 2005)
Dengan anamnesis sebelumnya sudah ada benjolan di
dalam skrotum (Purnomo,2009)
D. Tumor testis.
Benjolan tidak dirasakan nyeri kecuali terjadi perdarahan di
dalam testis (Purnomo,2009).
E. Edema skrotum
Dapat disebabkan oleh hipoproteinemia, filariasis, adanya
pembuntuan saluran limfe inguinal, kelainan jantung, atau kelainankelainan

lain

yang

tidak

diketahui

sebabnya

(idiopatik)

(Purnomo,2009)
2.2.8 Penatalaksanaan
A. Detorsi Manual
Detorsi manual adalah mengembalikan posisi testis ke
asalnya, yaitu dengan jalan memutar testis kea rah berlawanan
dengan arah torsio. Karena arah torsio biasanya ke medial
maka dianjurkan untuk memutar testis ke arah lateral dahulu,
kemudian jika tidak terjadi perubahan, dicoba detorsi kearah
medial. Hilangnya nyeri setelah detorsi menandakan bahwa
detorsi telah berhasil. Jika detorsi berhasil operasi harus tetap
dilaksanakan. (Purnomo,2009).
Bila dilakukan detorsi dalam 6 jam setelah onset gejala makan 97%
testis dapat diselamatkan. Dan bila lebih dari 24 jam hanya ada 10%
kemungkinan. (Kass, Lundak, 1997)
B. Operasi

15

Tindakan operasi ini dimaksudkan untuk mengembalikan


posisi testis pada arah yang benar (reposisi) dan setelah itu
dilakukan penilaian apakah testis yang mengalami torsio masih
viable (hidup) atau sudah mengalami nekrosis (Purnomo,2009).
Operasi dalam 6 jam biasanya dapat mencegah terjadi
iskemia testis, dan akan mengalami penurunan sebesar 20%
dalam 12 jam.(Schwartz, 2005).
Atrofi muncul antara 4 jam sampai 8 jam dan setelah 10 jam
iskemia nekrosis tidak dapat lagi terelakkan (Cranston,2002).
Jika testis masih hidup, dilakukan orkidopeksi (fiksasi testis)
pada tunika darts kemudian disusul orkidopeksi pada testis
kontralateral (Purnomo,2009).
Orkidopeksi dilakukan dengan mempergunakan benang
yang tidak diserap pada 3 tempat untuk mencegah agar testis
tidak terpluntir kembali, sedangkan pada testis yang sudah
mengalami

nekrosis

dilakukan

pengangkatan

testis

(orkidektomi) dan kemudian disusul orkidopeksi pada testis


kontralateral (Purnomo,2009), Kecuali apabila terdapat infeksi
sekunder karena iskemia nekrosis. Kualitas semen akan
menurun pada testis yang mengalami torsio, dan walaupun
mekanismenya masih belum jelas, terdapat beberapa bukti
yang menyatakan pengembalian suplai darah pada testis yang
mengalami

iskemia

menstimulasi

produksi

antitestis

dan

antibody antisperma (Cranston,2002).

16

Gambar 2.5 Torsio tetis (Lonergan, 2007)


Gambar testis yang mengalami nekrosis
2.3 Orchitis
2.3.1 Definisi
Orchitis adalah reaksi inflamasi akut akibat infeksi sekunder pada
testis. Kebanyakan kasus berkaitan dengan infeksi virus mumps. Selain
virus mumps, virus ataupun abkteri lain juga dapat menyebabkan orchitis.
(Mycyk, 2010)
2.3.2 Epidemiologi
DI Amerika Serikat diperkirakan 20% dari pasien prepubuertas
yang terinfeksi virus mumps mengalami orchitis. Pada Orkitis mumps, 4-5
kasus terjadi pada usia prepubertas ( < 10 tahun). Pada Orkitis bakterialis,
kebanyakan kasus berkaitan dengan epididimis (epididimo-orkitis), dan
terjadi pada usia seksual aktif, lebih dari 15 tahun atau diatas 50 tahun
dengan hipertrofi prostat jinak. (Mycyk, 2010)

17

II.3.1 Etiologi

Gambar 3.1 Orchitis


(Sumber: http://www.sciencephoto.com)
Orkitis paling sering disebabkan oleh virus mumps. Selain itu, dapat
juga disebabkan oleh virus coxsackie, mononucleosis infeksiosa, varicella
dan echovirus.Orkitis bakterialis biasanya berkaitan dengan epididimitis.
Bakteri

yang

berpean

berupa

Neisseria

gonorrhea,

Chlamydia

trachomatis, Escheriaia coli, Klebsiella peneumoniae, Pseudomonas


aeruginosa,

Staphylococcus

dan

Streptococcus.

Penderita

imunokompromais yang menderita orkitis berkaitan dengan infeksi


Mycobacterium complex, Cryptococcus neoformans, Toxoplasma gondii,
Haemophilus parainfluenzae dan Candida albicans. (Mycky, 2010)
Orkitis akut ditemukan sebagai penyulit penyakit virus, misalnya
yang terkenal adalah parotitis epidemika (Wim De jong, 2005).
Peradangan pada testis dapat terjadi sebagai akibat dari penyebaran
hematogen dari berbagai penyakit infeksi sistemik. Diperkirakan orchitis
tanpa epididimitis berasal melalui cara tersebut (Meares, 1995).
Epididimoorchitis, merupakan komplikasi serius dari mumps,
secara umum hanya terlihat pada remaja laki-laki dan lelaki muda. Faktor
yang menjadi predisposisi komplikasi ini tidak diketahui, bagaimanapun,
mumps orchitis terjadi pada 20-35 % kasus mumps pada laki-laki pada

18

usia tersebut dan bilateral pada 10 % kasus. Onset biasanya terjadi pada
3-4 hari setelah berkembangnya parotitis (Meares, 1995).
Tuberkulosis orchitis dapat terjadi dari penyebaran hematogen dari
tuberkel bacilli dari focus infeksi di paru atau lebih sering lagi, secara
langsung dari tuberculous epididimytis (Meares, 1995).
Orkitis luetika jarang ditemukan. Sifilis stadium IV yang merupakan
guma di orgaan ini agak sering terdapat di testis, tetapi setelah penemuan
antibiotik, sifilis stadium IV sangat jarang ditemukan. Pada pemeriksaan
didapatkan pembengkakan seluruh testis yang tidak nyeri, konsistensi
agak kenyal seperti karet dan mungkin terdapat hubungan dengan kulit
depan yang akhirnya membentuk fistel kulit. Diagnosis bandingnya berupa
kanker testis. (Wim De Jong, 2005)
Testis dapat terlibat dalam syphilis, gummas dengan area nekrosis
yang besar terkadang berkomplikasi sebagai tingkat lanjut dari syphilis
(Meares, 1995).
Granulomatous orchitis, proses inflamasi nonspesifik pada testis,
terjadi biasanya pada umur pertengahan dan laki-laki tua. Berasal dari
proses noninfeksi. Bukti menunjukkan bahwa penyakit autoimun dapat
terlihat sebagai respon granulomatos pada spermatozoa (Meares, 1995).
2.3.3 Patogenesis dan patologi
Pada inspeksi menyeluruh, testis yang terlibat dalam orchitis
ninspesifik biasanya membesar, kongesti dan supel; pada bagian tertentu
abses kecil dapat terlihat. Secara histologi, edema dari jaringan ikat dan
infiltrasi neutrofil merupakan karakteristik. Tubulus seminiferus dapat juga
terlibat dan nekrosis dapat muncul. Tubulus seminiferus digantikan
dengan tuberkel kaseosa pada tuberculosis orchitis dan dengan infiltrate
dari sel mononuclear (sel plasma, limfosit, sel mononukleat, dan sel
epiteloid) pada nonspesifik granulomatosa orchitis. Garis luar tubulus
seminiferus tetap ada namun aktivitas spermatogenesis tidak ada. Pada

19

masa penyembuhan, tubulus seminiferus dan sel interstisial biasanya


tetap dipertahankan (Meares, 1995).
Mumps merupakan penyebab infeksi paling sering dari orchitis.
Menariknya, mumps orchitis hanya terjadi pada lelaki postpubertal. Secara
umum testis sangat membesar dan berwarna kebiruan. Pada bagian,
karena terjadi reaksi interstitial dan edema, tubulus tidak terdorong
keluar . Secara histology, edema dan

dilatasi diobservasi; neutrofil,

limfosit dan makrofag banyak ditemukan; dan sel tubular menunjukkan


derajat degenerasi. Pada masa penyembuhan testis kecil dan lembut.
Secara histology, fase ini menunjukkan tubular atrophy namun tetap
mempertahankan sel interstisial Leydig. Epididimis seringkali terlibat
(Meares, 1995).
2.3.4 Gambaran klinik
A. Gejala dan Tanda
Orkitis ditandai adanya nyeri dan bengkak pada testis. Nyeri
yang dirasakan berkisar nyeri ringan sampai berat. Gejala lain yang
dapat ditemukan berupa lelah, nafsu makan menurun, nyeri otot,
demam, mual dan nyeri kepala. (Mycyk, 2010)
Munculnya mumps orchitis mendadak, biasanya terjadi
setelah 3-4 hari setelah terjadinya parotitis. Skrotum dapat
berwarna kemerahan dan udem. Tidak seperti penemuan pada
epididimitis, gejala urinari yang dikaraktestikkan tidak ada. Demam
dapat mencapai 40o C dan prostrasi dapat terlihat (Meares, 1995)
Parotitis dari mumps dapat muncul atau bukti penyakit
infeksi yang lain yang dapat ditemukan. Satu atau kedua testikel
akan membesar dan sangat lunak. Terkadang epididimis tidak
dapat dibedakandari testis dengan palpasi. Kulit scrotum dapat
kemerahan.

Pada

hidrocele

terdapat

transluminasi

Pada

pemeriksaan rectal touch dapat ditemukan pembesaran dari


prostat (prostatitis) berkaitan epididimo-orkitis. (Mycyk, 2010).

20

B. Penemuan laboratorium
Pemeriksaan darah biasanya menunjukkan leukositosis.
Proteinuria ringan dan mikrohematuria telah di gambarkan, namun
urinalisis biasanya normal. Selama episode akut dari viral orchitis,
organism infektif dapat ditemukan pada urin (Meares, 1995).
2.3.5 Diagnosis banding
Saat masih awal, epididimis akut dapat dibedakan dengan mudah
dari orchitis akut karena hanya epididimis yang terlibat dalam reaksi
peradangan.

Kemudian

kongesti

pasif

dari

testicle

berkembang,

perbedaan antara epididimis dan orchitis menjadi sulit. Adanya discharge


uretra dan pyuria, hasil positif pada urin dan kultur cairan prostat dan tidak
adanya penyakit infeksi menyeluruh lebih mengarah kepada epididimitis,
bukan orchitis (Meares, 1995).
Torsio pada funikulus spermatikus dapat menjadi diagnosis yang
sulit untuk dibedakan. Pada awal terjadinya torsio, epididimis terasa di
anterior testis. Tidak adanya pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan
fisik yang mengarah ke penyakit infeksi cenderung menyingkirkan orchitis
(Meares, 1995).
Orchitis Granulomatosa non-spesifik mudah tercampurkan dengan
tumor testicular pada awal penemuan klinik. Perbedaannya biasanya
dibedakan melalui patologi pada saat radical orchiectomy (Meares, 1995).

Gambar 3.3 Granulomatous Orchitis


(http://pathweb.uchc.edu/eatlas/GU/503b.htm)

21

Ruptur post-traumatik dari testis dan perdarahan akut pada testis


karena trauma minor merupakan kondisi yang harus dibedakan dari
orchitis. Perdarahan spontan pada testikel dapat terjadi pada pria dengan
poliarteritis nodosa. Orchiectomy biasanya dibutuhkan karena kondisi ini
tidak dapat dibedakan dengan tumor testicular (Meares, 1995).
2.3.6 Komplikasi
Spermatogenesis mengalami kerusakan yang tidak dapat kembali
pada 30% testis yang terkena orchitis mumps. Dapat terjadi atrofi testis. .
Jika kedua testis terlibat, dapat mengakibatkan infertil namun fungsi
androgennya

biasanya

masih

terjaga.

Komplikasi

lainnya

adalah

epididimitis kronik, infark testis, fistula scrotal kutaneus, dan abses


skrotum.(Linda, 2010 dan Meares, 1995).

2.3.7 Pencegahan
Vaksin mumps sangat efektif dalam mencegah parotitis dan
komplikasi orchitis, ini direkomendasikan untuk semua orang yang
kemungkinan terkena pada umur lebih dari satu tahun. Insiden orchitis
menurun dengan diadministrasikan mumps hiperimun globulin, 20 mL,
selama masa inkubasi atau pada tahap awal penyakit. Pemberian
estrogen atau kortikosteroid yang rutin untuk semua laki-laki post pubertal
yang terkena mumps diberikan untuk mencegah orchitis, bagaimanapun
hal ini masih kontroversial (Meares, 1995).
2.3.8 Penatalaksanaan
Orchitis karena bakteri harus diobati dengan obat antimikroba,
sedangkan obat-obatan ini tidak berguna melawan mumps orchitis.
Resolusi yang cepat dan dari pembengkakan dan rasa sakit kadang dapat
dicapai dengan infiltrasi dari funikulus spermatikus secepatnya superior
dari testis yang terlibat dengan 20 mL dari 1% lidocaine. Ini dapat menjaga

22

aktivitas spermatogenic dengan memperbaiki suplai darah ke testicle.


Pada kasus orchitis granulomatosa nonspesifik penggunaan kortikosteroid
diindikasikan (Meares, 1995).
Tirah baring penting untuuk tahap akut orchitits. Penghangatan
local berguna dan menghilangkan nyeri. Dukungan terhadap organ dapat
meningkatkan kenyamanan; handuk diletakkan di bawah skrotum atau
penggunaan athletic supporter dapat berguna. Pengobatan untuk
menghilangkan rasa sakit dan demam disarankan (Meares, 1995).
2.3.9 Prognosis
Orchitis bilateral dapat berakibat kerusakan spermatgenesis yang
tidak dapat dikembalikan dan permanen sterilitas. Pada fase akut mumps
orchitis bertahan sampai 1 minggu. Atropi baru terlihat pada 1 atau 2
bulan (Meares, 1995).

23

DAFTAR PUSTAKA
1.

Cranston. Torsion of the testicle. In Oxford textbook of surgery.Oxford


University Press 2002

2.

Cuckow.P.M, Frank.J.D : Torsion of the testis, BJU International


2000; 86 (3) : 349.

3.

Favorito LA, Cavalcante AG, Costa WS, Anatomic aspects of


epididymis and tunica vaginalis in patients with testicular torsion,
International braz j urol, vol.30 no.5, Sept./Oct. 2004 available in
http://www.scielo.br/scielo.php?script=sci_arttext&pid=S167755382004000500014, july 6, 2004

4.

Minevich E, McQuiston LT, Division of Pediatric Urology, University of


Cincinnati, available in
http://emedicine.medscape.com/article/438817-overview. Sep 24,
2010

5.

Kass EJ, Lundak BL: The acute scrotum. Pediatr Clin North Am
1997;44:1251.

6.

Linda J. Vorvick, MD, MEDEX Northwest Division of Physician


Assistant Studies, University of Washington School of Medicine.
available in
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001280.htm, March
9, 2010

7.

Lonergan GJ, Children's Hospital of Austin, Washington, DC,


available in
http://www.radiologyassistant.nl/images/thmb_45f66b0f05842FI
G-torsion2.jpg, Mei 1, 2007

8.

Sabiston. Textbook of Surgery : The Biological Basis of Modern


Surgical Practice. Edisi 16.USA: W.B Saunders companies.2002

9.

Schwartz. Principles of Surgery. Edisi Ketujuh.USA:The Mcgraw-Hill


companies.2005

24

10. Siroky.M.B : Torsion of the testis. In : Siroky.M.B, Oates.R.D,


Babayan.R.K (eds), Handbook of urology: diagnosis and Therapy, 3 rd
ed, Lippincot William&Wilkins; Philadelpihia 2004: 369-72.

11. Reynard.J : Torsion of the testis and testicular appendages. In:


Reynard.J, Brewster.S, Biers.S (eds), Oxford Handbook of Urology,
Oxford University Press, New York 2006: 452.

12. Ringdahl E, Teague L. Testicular torsion. Am Fam Physician. Nov


15 2006;74(10):1739-43. [Medline].

13. Rupp.T.J : testicular Torsion, Department of Emergency Medicine,


Thomas

Jefferson

University,

available

in

http://www.emedicine.com/med/topic2560.htm, Dec 13, 2006

14. Vishal. Endocrine Physiology. 2nd Ed. McGrawHill. 2007


15. http://www.sciencephoto.com/images/showFullWatermarked.html/M8
65061-Acute_epididymo-orchitis_(inflammation)_of_testis-SPL.jpg?
id=778650061

25

Anda mungkin juga menyukai