Anda di halaman 1dari 21

ANALISIS EROSI DENGAN METODE USLE

DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG) UNTUK ARAHAN


PENGGUNAAN LAHAN DI SUB DAS NOONGAN-PANASEN DAERAH
TANGKAPAN HUJAN DANAU TONDANO

Oleh :
Murdiyanto
Jurusan Geografi FIS UNIMA
ABSTRAK
Penelitian di lakukan di Sub DAS Noongan-Panasen Daerah
Tangkapan Hujan danau Tondano dengan tujuan memetakan
tingkat bahaya erosi dan merumuskan model arahan
penggunaan lahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan unit
lahan sebagi satuan analis dan pemetaan Metiode pendugaan
erosi dihitung dengan model USLE. Penentuan tingkat bahaya
didasarkan atas tingkat kehilangan tanah dan kedalaman tanah
dengan mengacu pada Perhut No. 32/II/2009. Hasil analisis
diperoleh sebagian besar tingkat bahaya erosi di wilayah
penelitian tergolong sangat ringan sampai ringan, yang
menempati wilayah seluas 52,89% dari luas wilayah. Sekitar
3350 ha atau 31,63% tingkat baya erosi diwilayah ini tergolong
berat sampai sangat berat dengan faktor penyebab uatama
adalah kemiringan lereng, solum tanah yang dangkal, dan
pengolahan lahan yang berlebihan. Arahan penggunaan lahan
yang dapat dilakukan untuk mengendalikan erosi di wilayah ini
adalah dengan berbagai teknik koservasi seperti : Teras Gulud,
Budidaya Lorong, Pagar Hidup, SilvipasturaTanaman Penutup
Tanah, Rorak, Strip rumput atau strip tanaman alami, Teras
Kredit, Teras Kebun, Teras Bangku, dan Teras Individu
A. PENDAHULUAN
Danau Tondano yang terletak di bagian hulu DAS Tondano memiliki arti
penting dan strategis bagi pelaksanaan pembangunan di beberapa kabupaten/kota
di wilayah Propinsi Sulawesi Utara, khususnya Kabupaten Minahasa, Minahasa
Utara, Kota Tomohon dan Kota Manado. Dikatakan penting dan strategis karena
danau tersebut berfungsi sebagai penyedia air untuk kebutuhan PLTA Tonsea

Lama dan Tanggari, PDAM Manado, irigasi dan perikanan bagi penduduk di
sekitar danau serta keindahan alam untuk objek wisata serta kebutuhan air
domestik bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya. Namun demikian danau
tersebut dilaporkan telah mengalami pendangkalan secara terus-menerus sebagai
akibat sedimentasi yang bersumber dari daerah tangkapan hujan (cathment area)
di sekitarnya. Pada tahun 1996 pemetaan batimetri yang dilakukan oleh Dinas
Pekejaan Umum Pengairan Sulawesi Utara memperoleh data kedalaman danau
maksimum di bagian selatan (dekat inlet) sedalam 17 meter, dan berangsur-angsur
menjadi sekitar 3 meter di bagian utara (dekat outlet). Sepuluh tahun kemudian
pemetaan batimetri dilakukan Murdiyanto (2006) ditemukan kedalaman danau di
bagian selatan dekat inlet telah mengalami pendangkalan menjadi sekitar 15 meter
dan berangsur-angsur dibagian utara dekat outlet kedalamannya menjadi sekitar 2
meter. Berdasarkan data tersebut berarti selama kurun waktu sepuluh tahun telah
terjadi pendangkalan danau rata-rata setebal 20 cm per tahun.
Mencermati fenomena di atas mengindikasikan bahwa daerah tangkapan
hujan Danau Tondano telah mengalami degradasi lahan. Degradasi lahan secara
umum dapat diartikan sebagai hilangnya atau

menurunnya

kemampuan

produktivitas lahan atau potensi lahan sebagai akibat pengaruh faktor alam dan
atau pengaruh manusia. Salah satu faktor alam yang menyebabkan degradasi
lahan dan berpengaruh langsung terhadap pendangkalan Danau Tondano adalah
erosi tanah.
Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (BRLKT) dalam studinya
pada tahun 1986 melaporkan kehilangan tanah di DAS Tondano (termasuk
catchment area Danau Tondano) sebesar 145,4 ton/ha/tahun yang mencerminkan
situasi pada saat boom cengkeh dalam arti harga cengkeh pada saat itu sangat
tinggi. Sepuluh tahun kemudian, studi yang sama dilakukan Dinas Pekerjaan
Umum (1996) untuk membangun cek dam melaporkan nilai kehilangan tanah
yang sangat tinggi yaitu 235 ton/ha/tahun. Nilai ini didapat karena perhitungan
dilakukan hanya memakai faktor yang disarankan untuk USLE. Hasil tersebut
jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Hikmatullah (1996) di
catchment area Danau Tondano yang melaporkan kehilangan tanah berkisar

antara sangat rendah sampai rendah yang meliputi sebagaian besar (94,2 %)
wilayah tersebut. Hanya sekitar 5,8 % dari wilayah tersebut yang memiliki erosi
potensial antara menengah sampai sangat tinggi. Lima tahun kemudian Lengkong
(2001) melakukan penelitian di daerah yang sama dengan pendekatan yang sama
(USLE) memperkirakan besarnya laju erosi telah berada di atas ambang batas
kewajaran, yaitu pada tingkat bahaya erosi tinggi (180 - 480 ton/ha/tahun) sampai
sangat tinggi (> 480 ton/ha/tahun) yang menempati sebagian besar wilayah
tersebut. Pada saat yang sama JICA (2001) melakukan studi rehabilitasi hutan
lindung dan lahan kritis di DAS Tondano melaporkan kehilangan tanah di daerah
tersebut jauh lebih rendah, yaitu rata-rata 24,3 ton/ha/tahun dengan nilai
maksimum 87,6 ton/ha/tahun dan minimum 5,2 ton/ha/tahun. Pada studi tersebut
JICA juga melaporkan kehilangan tanah di catchment area Danau Tondano
khusus pada lahan kering dengan topografi yang terjal rata-rata 19,1 ton/ha/tahun.
Memperhatikan beberapa data sebagaimana tersebut di atas meskipun terdapat
berbedaan yang signifkan masih dapat menjadi petunjuk adanya indikasi
degradasi lahan di daerah tangkapan hujan Danau Tondano. Atas dasar itulah
maka penggunaan lahan di daerah tersebut mendesak ditata dan dikelola kembali
sesuai dengan kualitas lahan setempat agar laju erosi dapat dikendalikan.
Rekomendasi tersebut didasarkan atas hasil kajian beberapa peneliti sebagaimana
tersebut di atas yang menyimpulkan bahwa penyebab erosi yang utama adalah
faktor vegetasi dan pengelolaan lahan.
Wilayah penelitian dibatasi pada bagian selatan daerah tangkapan hujan
Danau Tondano, yaitu wilayah yang dilalui oleh dua sungai utama yang masuk ke
Danau Tondano dan memberi kontribusi besar terhadap pendangkalan danau..
Sungai tersebut adalah Sungai Noongan dan Panasen, yang selanjutnya daerah
penelitian ini disebut

Sub DAS Noongan-Panasen Daerah Tangkapan Hujan

danau Tondano.
Pendangkalan Danau Tondano disebabkan oleh berbagai faktor, baik dari
dalam tubuh perairan danau maupun dari luar perairan. Sumber muatan sedimen
yang berasal dari daerah sekitar danau disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain
erosi, longsor maupun aktifitas penduduk di sekitar danau. Penelitian ini

membatasi pada masalah erosi sebagai faktor penenyebab pendangkalan danau.


Bagaimana pola spasial sebaran tingkat bahaya erosi dan model arahan
penggunaan lahan di Sub-DAS Noongan Panasen DAS Tondano yang mampu
meminimalisir laju tingkat bahaya erosi.
Penelitian ini bertujuan memetaan tingkat bahaya erosi dan merumuskan
model arahan penggunaan lahan berdasarkan laju tingkat erosi di sub-DAS
Noongan-Panasen DAS Tondano, yang diharapkan bermanfaat untuk digunakan
sebagai rujukkan dalam perencanaan penggunaan lahan yang berbasis konservasi
lahan dalam rangka pengendalian erosi di Sub DAS Noongan Panasen DAS
Tondano
B. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode survey dengan pendekatan spasial
(spatial).

Dalam kaitannya dengan itu, maka teknik

yang digunakan untuk

mengkaji tingkat bahaya erosi dan arahan penggunaan lahan adalah unit lahan
(land unit), yang selanjutnya digunakan sebagai satuan analisis. Unit lahan
diperoleh dari hasil overlay secara digital dengan ektensi geoprocessing terhadap
peta jenis tanah dan peta bentuklahan dengan bantuan teknologi SIG. Model
spasial arahan pengunaan lahan dirumuskan berdasarkan tingkat bahaya erosi.
Setiap unit lahan dilakukan pengamatan dan pengukuran lapangan
terhadap indeks erosivitas, indeks erodibilitas, indeks kelerengan, indeks vegetasi
dan indeks praktek konservasi untuk menenduga besarnya kehilangan tanah per
tahun dihitung dengan metode USLE yang dikembangkan oleh Wischmeier dan
Smith (1978), dengan rumus
A = R x K x LS x C x P , dimana :
A=
jumlah kehilangan tanah akibat erosi (ton/ha/tahun),
R=
indeks erosivitas hujan,
K=
faktor erodibilitas tanah,
LS = faktor panjang dan kemiringan lahan,
C=
faktor penutupan vegetasi dan pengelolaan tanaman, dan
P=
faktor pengelolaan lahan/tindakan konservasi tanah.

Selanjutnya tingkat bahaya erosi (TBE) yang ditentukan berdasarkan


besarnya kehilangan tanah rata-rata tahunan (ton/ha/tahun) dan kedalaman solum
tanah (cm) pada setiap unit lahan. Kelas bahaya erosi tersebut diklasifikasikan
menjadi 5 kelas dari sangat ringan sampai sangat berat (Permen Kehutanan No. :
P.32/Menhut-II/2009).
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Analisis Nilai Indeks Penduga Laju Erosi
Nilai indeks masing-masing faktor yang digunakan untuk menghitung
besarnya kehilangan tanah setiap unit lahan adalah sebagai berikut.
Indeks erosivitas ( R ), adalah daya erosi hujan untuk membuat erosi pada
suatu tempat yang dapat dihitung berdasarkan data hujan yang diperoleh dari
penakar hujan otomatik atau penakar hujan biasa.
Tabel . 1. Data Curah Hujan dan Indeks Erosivitas Sub DAS Noongan-Panasen
Daerah Tangkapan Hujan Danau Tondano
Lokasi
Posisi
Elevasi (m dpl)
Bulan

Winabetengan
X : 124.8333333
Y : 1.149444444
777
Curah Hujan
Indeks
Bulanan (mm)
Erosivitas

Januari
Febuari
Maret

304
247

229.6679
173.165

364

293.4203

425

362.244

371

301.1208

403

336.9823

359
224
80

287.9524
151.6106
37.37616

April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September

Noongan
X : 124.8166667
Y : 1.133333333
800
Curah Hujan
Indeks
Bulanan (mm) Erosivitas
334
261.028
2
265
190.549
325
251.509
1
289
214.394
4
225
152.531
8
215
143.386
6
203
132.613
2
125
68.5788
25
7.68405

Oktober

137

Nopember
Desember

317
358

243.1268
286.8621

333

259.9659

265
207

Total R (Thn)
3785
2963.494
Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Sulawesi Utara, 2007
Nilai

2615

9
77.6841
2
190.549
136.179
6
1826.68
8

indeks erosivitas dihitung dengan menggunakan persamaan yang

dikembangkan oleh Bols.


I30 = 6,119(Rain)1,21(Day S)-0,47(Max P)0,53
Berdasarkan data curah hujan yang tersedia di wilayah penelitian diperoleh
indeks erosivitas sebesar 2963,494 yang tersebar di bagian hilir wilayah penelitian
dan 1826,688

tersebar disebagain besar unit lahan di bagian hulu wilayah

penelitian (lihat Tabel 1).


Indeks Erodibilitas (K) tanah adalah daya tahan tanah terhadap erosi, yang di
tentukan oleh berbagai sifat fisik dan kimia tanah. Indeks K dihitung dengan
persamaan sebagai berikut :
100K = 2, 1M1,14(10-4)(12 a) + 3; 25(b 2) + 2,5(c 3)
Dimana :
K

= erodibilitas

= ukuran partikel (% debu + % pasir halus) x (100 - % liat)

= kandungan bahan organik (% C x 1,724)

= kelas struktur tanah

= kelas permeabilitas
Tabel 2. Nilai Indeks Erodibilitas pada Berbagai Jenis Tanah di Sub DAS
Noongan-Panasen Daerah Tangkapan Hujan Danau Tondano
Jenis Tanah
Humic Udivitrands
Typic Endoaquands
Typic Hapludands

Indeks K
0,1220
0,2173
0,2116
6

Luas (Ha)
2716.186
2886.651
585.283

Persen (%)
25.58
27.18
5.51

(6)

Alfic Hapludands
Typic Hapludalfs
Mollic Hapludalfs
Typic Argiudolls
Typic Tropaquepts

0,2116
0,1397
0,1397
0,1897
0,1160
Jumlah
Sumber : Hasil analisis peta tanah

1738.749
429.416
382.441
1432.216
447.734
10618.676

16.37
4.04
3.60
13.49
4.22
100

Indeks Erosivitas juga dapat ditentukan berdasarkan peta tanah yang


tersedia di wilayah tersebut atau data penelitian sebelumnya yang pernah
dilakukan di wilayah tersebut. Hasil analisis diperoleh nilai indeks erodibilitas
tanah di wilayah penelitian sebagaimana dalam Tabel 2 . Berdasarkan tabel di atas
ternyata tingkat erodibilitas di wilayah penelitian tergolong rendah ( 0,11 0,20)
sampai sedang (0,21 0,32), yang berarti ketahanan tanah terhadap erosi cukup
baik, sehingga kemungkinan terjadinya erosi yang berat disebabkan oleh faktor
lainnya.
Indeks Kelerengan (LS), merupakan gabungan dari faktor panjang lereng (L) dan
faktor kemiringan lereng (S) yang dalam perhitungan erosi digabungkan menjadi
faktor kelerengan (LS). Faktor kelerengan diperoleh berdasarkan analisis DEM
dari peta topografi dengan menggunakan extention spatial analysis pada program
ArcView. Hasil analisis tersebut selanjutnya diplotkan kedalam peta unit lahan
untuk memperoleh Peta Indeks Kelerengan sebagaimana dalam Tabel : 3
Tabel 3 Indeks Kelerengan di Sub DAS Noongan-Panasen
Daerah Tangkapan Hujan Danau Tondano
No. Indeks LS
Luas (Ha)
Persentase (%)
1
0.4
7137.747
67.22
2
1.4
1153.23
10.86
3
3.1
772.538
7.28
4
6.8
1450.977
13.66
5
9.5
104.184
0.98
Jumlah
10618.68
100.00
Sumber : Hasil Analisis Peta Kemiringan Lereng

Berdasarkan Tabel 3 ternyata sebagaian besar (67,22%) wilayah penelitian


memiliki nilai indeks kelerengan 0,4 yang berarti faktor lereng bukan menjadi
penyebab utama terjadinya laju erosi di wilayah tersebut.
Indeks Vegetasi dan Tindakan Konservasi, memiliki peran penting dalam erosi
tanah. Kedua faktor tersebut menjadi perhatian utama dalam setiap perencanaan
tata guna lahan dan koservasi tanah di daerah aliran sungai. Faktor vegetasi dan
tindakan koservasi lebih mudah dikendalikan atau dimodifikasi sesuai dengan
tujuan, dibadingkan dengan faktor erosi lainnya. Indeks vegetasi (C) dalam
penelitian ini dianalisis berdasarkan peta Tutupan Lahan BPDAS Tondano 2007,
sedangkan faktor praktek konservasi dijaring melalui pengamatan lapangan. Hasil
analisis tersebut diperoleh data Indeks CP sebagai berikut
Tabel : 4 Indeks CP Sub DAS Noongan-Panasen Daerah Tangkapan Hujan Danau
Tondano
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Indeks CP
Luas (Ha)
Persen (%)
0.001
414.253
3.90
0.004
2421.909
22.81
0.005
957.816
9.02
0.044
525.455
4.95
0.120
7.373
0.07
0.160
1424.410
13.41
0.180
1085.969
10.23
0.300
2397.835
22.58
0.364
53.808
0.51
0.400
1329.848
12.52
Jumlah
10618.676
100.00
Sumber : Hasil Analisis Peta Tutupan Lahan dan Pengamatan Lapangan

2. Pendugaan Besarnya Kehilangan Tanah dan Tingkat Bahaya Erosi


Tingkat laju erosi dianalisis dengan menggunakan bantuan perangkat lunak
ArcView GIS 3.3 dengan extention geoprocessing. Menggunakan bantuan
Intersect tools keempat peta nilai indeks penentu erosi sebagaimana tersebut di
atas, yaitu peta indeks erosivitas (Indeks R), indeks erodibilitas (indeks K), peta
indeks kelerengan (LS) dan indeks vegetasi dan praktek konservasi (indeks CP)

dioverlaykan secara bertahap. Operasi ini digunakan untuk memotong input theme
dan secara otomatis meng-overlay antara theme yang dipotong dengan theme
pemotongnya, dan outputnya berupa theme yang memiliki atribut data dari kedua
theme yang dioverlaykan. Dari hasil penggabungan atribut data dilanjutkan
penghitungan laju erosi dengan fasilitas Field

Calculate

sehingga

diperoleh data sebagai mana dalam Tabel 5.


Dari tabel tersebut diperoleh data laju tingkat erosi di wilayah penelitian
sebagai berikut
Tabel 5. Tingkat Laju Erosi
Sub DAS Noongan-Panasen Daerah Tangkapan Hujan Danau Tondano
No
1
2
3
4
5

Tingkat Erosi (ton/ha/tahun)


Luas (Ha)
Sangat rendah (< 15)
4899.285
Rendah ( 15 - 60)
2147.89
Sedang (60-180)
1661.599
Tinggi (160 - 480)
773.528
Sangat Tinggi (>480)
1136.374
Jumlah
10618.676
Sumber :Hasil Analisis data Pengukuran Erosi

Persentase (%)
46.14
20.23
15.65
7.28
10.70
100

Berdasarkan Tabel 5 dan Gambar 1 ternyata tingkat laju erosi di wilayah


penelitian tergolong sangat rendah sampai sampai rendah, yang tersebar pada
wilayah seluas 8047.175 ha atau 66,37% dari luas wilayah penelitian.
Laju erosi yang sangat rendah sampai rendah pada suatu unit lahan tidak
selamanya tingkat bahaya etosi (TBE) di unit tersebut dikatakan sangat ringan
sampai ringan. Hal itu tergantung pada kedalaman solum tanah dimana erosi
tersebut terjadi. .Tingkat bahaya erosi dapat dikatakana berat sampai sangat barat
apabila terjadi pata tanah dengan solum dangkal sampai sangat dangkal, walaupun
laju erosinya tergolong sangat rendah sampai rendah.

Demikian sebaliknya

tingkat bahaya erosi dapat dikatakan berat sampai sangat berat apabila laju
erosinya tergolong tinggi sampai sangat tinggi sekalipun berada pada tanah yang
dalam.

Gambar : 1. Peta Tingkat Laju Erosi Sub DAS Noongan-Panasen


Daerah Tangkapan Hujan Danau Tondano

10

Hasil interpretasi dan analisis peta tingkat erosi dengan berpedoman pada
Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor : P. 32/Menhut-II/2009,
ternyata tingkat bahaya erosi di wilayah penelitian tergolong ringan.
Tabel : 6 Tingkat Bahaya Erosi di Sub DAS Noongan-Panasen Daerah Tangkapan
Hujan Danau Tondano
No.
1
2
3
4
5

Tingkat Bahaya Erosi


Luas (Ha)
Sangat Ringan
2292.960
Ringan
3217.707
Sedang
1748.437
Berat
1315.157
Sangat Berat
2044.415
Jumlah
10618.676
Sumber : Hasil Analisis Peta Tingkat Bahaya Errosi

Persen (%)
21.59365
30.30234
16.46568
12.38532
19.25301
100

3. Arahan Penggunaan Lahan


Arahan pengunaan lahan dalam penelitian ini ditujukan untuk pengendalian
erosi di Sub DAS Noongan-Panasen, sehingga diharapkan pendangkalan Danau
Tondano dapat diminimalisir. Untuk itu tingkat bahaya erosi (TBE) di wilayah
penelitian perlu diketahui sebagai dasar dalam perumusan arahan penggunaan
lahan. Untuk mencegah dan mengendalikan erosi permukaan

harus sesuai

dengan kondisi lahan setempat dengan tetap memperhatikan faktor penyebab


erosi sebagaimana dalam persamaan

USLE

terutama

faktor

(vegetasi

penutup) dan faktor P (tindakan konservasi).


Pemodelan penggunaanlahan untuk pengendalian erosi dilakukan dengan
menskenariokan lahan terhadap indeks CP. Sekenario nilai CP dieksperimenkan
dengan berbagai penggunaan lahan yang secara berkelanjutan dapat memulihkan
kerusakan lahan maupun pencegehan erosi yang akan terjadi dimasa mendatang.
Karena itu upaya tersebut dilakukan dengan cara menurunkan nilai C dan P,
sehingga laju erosi diwilayah tersebut menjadi lebih rendah.. Nilai faktor CP pada
dasarnya adalah kombinasi antara teknik vegetative dan mekanik dalam
konservasi. Model penggunaan lahan sebagai bentuk pengendalian erosi dilakukan

11

dengan pertimbangan prioritas pada lahan usaha tani, melibatkan masyarakat tani,
dan pengelolaan tindakan yang wajar.
Arahan penggunaan lahan pada setiap satuan lahan diawali dengan
mengidentifikasi faktor CP yang menyebabkan tingkat bahaya erosi di wilayah
tersebut berat sampai sangat berat. Berdasarkan Peta Tingkat Bahaya Erosi,
diperoleh data faktor-faktor yang yang menyebabkan tingkat bahaya erosi sedang
sampai sangat berat.
Dari dat tersebut nampak faktor yang menyebabkan tingkat bahaya erosi di
daerah penelitian pada tingkat sedang sampai sangat tinggi disebabkan oleh faktor
kedalaman solum tanah, kemiringan lereng, pengelolaan tanaman dan praktek
konservasi. Tingkat bahaya erosi yang sangat berat memiliki faktor penghambat
yang lebih kompleks, yaitu kemiringan lereng curam (> 45%), pada tanah yang
dangkal yang digunakan untuk lahan pertanian dan belukar.dengan tanpa tindakan
konservasi.
Mendasarkan pada beberapa faktor tersebut maka arahan penggunaan lahan
untuk pengendalian erosi dapat dirumuskan. Faktor kedalaman tanah dan
kemiringan lereng merupakan faktor yang sulit untuk disekenariokan kecuali
dengan tindakan koservasi vegetative maupun mekanik. Beberapa arahan
penggunaan lahan yang dapat dilakukan untuk pengendalian erosi di wilayah
penelitian sebagaimana dalam Tabel 7
Berdasarkan Tabel 7 arahan penggunan lahan untuk pengendalian erosi di SUB
DAS Noongan-Panasen dapat disekenariokan atas empat

model. Perumusan

model tersebut didasarkan atas pertimbangan kemiringan lereng, kedalaman


solum dan kepekaan erosi. Adapun arahan penggunaan lahan untuk pengendalian
erosi di wilayah penelitian dapat dimodelkan sebagai berikut :

12

Gambar : 2. Tingkat Bahaya Erosi (BE) Sub DAS Noongan-Panasen Daerah


Tangkapan Hujan Danau Tondano

13

Tabel 7
Arahan Penggunaan Lahan Untuk Pengendalian Erosi
Pada Unit Lahan Dengan Tingkat Bahaya Erosi Sedang Sampai Sangat Berat
Di Sub DAS Noongan-Panasen
No
Unit

Nama Unit
Lahan

Tingkat
Bahaya
Erosi (TBE)

Faktor Penyebab TBE

H1End

Sedang

Kedalaman Solum tanah yang


dangkal

H1Tro

Sedang

Kemiringan lereng 15 25%


dengan solum tanah dangkal

H3AHap

Sedang

Kemiringan lereng 15 25%


dengan solum tanah dangkal

H3Arg

Sedang

Kemiringan lereng 15 25%


dengan solum tanah dangkal

H3End

Sedang

Solum tanah dangkal

H3Tro

Sedang

Kemiringan lereng 15 25%


dengan solum tanah dangkal

14

Arahan Penggunaan Lahan


Penghijauan dan teras bangku, BL,
dan teras kridit (TD)
TG,BL,PH,SP,PT,PR,ST, Propori
maks 50% tanaman semusim danmin
50% tanaman tahunan
TG,BL,PH,SP,PT,PR,ST, Propori
maks 50% tanaman semusim danmin
50% tanaman tahunan
TG,BL,PH,SP,PT,PR,ST, Propori
maks 50% tanaman semusim danmin
50% tanaman tahunan
Penghijauan dan teras bangku, BL,
dan teras kridit (TD)
TG,BL,PH,SP,PT,PR,ST, Propori
maks 50% tanaman semusim danmin
50% tanaman tahunan

Model
I
II
II
II
I
II

M5End

Sedang

Solum tanah dangkal

V2HUd

Sedang

Lahan belukar tanpa konservai

V8Arg

Sedang

Kemiringan lereng 25 45%

10

V8Tro

Sedang

Solim tanah yang dangkal

11

H1Hfs

Berat

Lereng 15 25% dengan


penggunaan lahan belukar

12

V3.5HUd

Berat

Penggunaan lahan pertanian tanpa


konservasi pada solum tanah yang
dangkal

13

V2Arg

Berat

Lahan belukar tanpa koservasi

14

V4AHap

Berat

Pertanian lahan kering pada solum


tanah yang dangkal

15

V4End

Berat

Pertanian lahan kering pada solum


tanah yang dangkal

16

V8Hfs

Berat

Lereng dengan kemiringan 15 25


%

15

Penghijauan dan teras bangku, BL,


dan teras kridit (TD)
Penghijauan dan teras bangku, BL,
dan teras kridit (TD)
TG,BL,PH,PT, Dengan Proporsi
Tanaman Semusim Maks 25% Dan
Tahunan: Min 75%
TB,BL,PH,SP,PT,PR,ST dengan
proporsi tanaman semusim : tahunan
=maks50% Min 50%
TG,BL,PH,PT, Dengan Proporsi
Tanaman Semusim Maks 25% Dan
Tahunan: Min 75%
Penghijauan dan teras bangku, BL,
dan teras kridit (TD)
TG,BL,PH,PT, Dengan Proporsi
Tanaman Semusim Maks 25% Dan
Tahunan: Min 75%
TG,BL,PH,PT, Dengan Proporsi
Tanaman Semusim Maks 25% Dan
Tahunan: Min 75%
TB,BL,PH,SP,PT,PR,ST dengan
proporsi tanaman semusim : tahunan
=maks50% Min 50%

I
I
III

II
III
I
III
III
II

17

H1Arg

Sangat Berat

Lereng dengan kemiringan 15


25% untuk pertanian lahan kering
tanpa konsevasi

18

M5MHa

Sangat Berat

Lereng 15 25% digunakan untuk


pertanian lahan kering

19

M5Tro

Sangat Berat

20

V3.4End

Sangat Berat

21

V3.4MHa

Sangat Berat

22

V8End

Sangat Berat

Lahan belukar tanpa konservasi


pada lereng 15 25% dengan
solum dangkal
Lahan belukar tanpa konservasi
pada lereng > 45% dengan solum
dangkal
Lereng > 45% dengan penggunaan
lahan belukar tanpa konservasi
Lereng 15 25% dengan
penggunaan lahan belukar tanpa
konservasi

TB,BL,PH,SP,PT,PR,ST dengan
proporsi tanaman semusim : tahunan
=maks50% Min 50%
TB,BL,PH,SP,PT,PR,ST dengan
proporsi tanaman semusim : tahunan
=maks50% Min 50%
TG,BL,PH,PT, Dengan Proporsi
Tanaman Semusim Maks 25% Dan
Tahunan: Min 75%
TI, TK dengan proporsi tanaman
semusim 0% dan tahuan 100%
TI, TK dengan proporsi tanaman
semusim 0% dan tahuan 100%
TB,BL,PH,SP,PT,PR,ST dengan
proporsi tanaman semusim : tahunan
=maks50% Min 50%

II
II
IV
IV
IV
II

Sumber : Analisis data hasil penelitian


Kete rangan
TG: Teras Gulud, BL : Budidaya Lorong, PH : Pagar Hidup, SP : Silvipastura, PT : Tanaman Penutup Tanah, PR :Rorak, ST
Strip rumput atau strip tanaman alami, TD : Teras Kredit, TK : Teras Kebun, TB : Teras Bangku, TI : Teras Individu

16

Gambar : 3 Peta Arahan Penggunaan Lahan Pada Wilayah Tererosi Sedang-Sangat


Berat di Wilayah Suib DAS Noongan-Panasen DAS Tondano
Model : 1
Untuk wilayah dengan kemiringan < 15% namun tingkat bahaya erosinya
tergolong sedang- sampai sangat berat maka diperlukan penghijauan dengan

17

terasering model teras bangku (TB), teras kredit (TD), budidaya lorong (BL) dan
penghijauan
Model : 2
Model ini konservasinya dengan teknik teras guludan (TG), budidaya lorong
(BL), Pagar Hidup( PH), : Silvipastura (SP), Tanaman Penutup Tanah (PT),
:Rorak (PR), Strip rumput atau strip tanaman alami (ST),

dengan proporsi

tanaman semusim dan tanaman tahun berbanding maks 50% untuk tanaman
semusim dan min 50% untuk tanaman tahunan
Model : 3
Bentuk konservasi yang dapat diterapkan pada model ini adalah teras guludan
(TG), budidaya lorong (BL), Pagar Hidup( PH), dan tanaman Penutup Tanah
(PT)d engan proporsi tanaman semusim dan tanaman tahunan berbanding
maksimu 25% untuk tanaman semusim dan minimal 75% untuk tanam tahunan
Model : 4
Model ini diterapkan untuk lahan dengan kemiringan > 40 %, dengan teknik
konservasi teras individu ( TI,), teras kebun (TK) dengan proporsi tanaman
semusim 0% dan tahunan 100%
Dari keempat model tersebut jika diplotkan kedalam peta tingkat bahaya
erosi akan menghasilkan peta arahan penggunaan lahan untuk pengendalian erosi
sebagai mana dalam Gambar : 3

D. KESIMPULAN DAN SARAN


1. Kesimpulan
Tingkat bahaya erosi di wilayah penelitian bervariasi dari sangat ringan
sampai sangat berat, namun demikian sebagian besar tingkat bahaya erosi di
wilayah penelitian tergolong sangat ringan sampai ringan, yang menempati
wilayah seluas 52,89% dari luas wilayah. Sekitar 3350 ha atau 31,63% tingkat
baya erosi diwilayah ini tergolong berat sampai sangat berat dengan faktor

18

penyebab uatama adalah kemiringan lereng, solum tanah yang dangkal, dan
pengolahan lahan yang berlebihan
Arahan penggunaan lahan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan erosi
di wilayah ini adalah dengan berbagai teknik koservasi seperti : Teras Gulud,
Budidaya Lorong, Pagar Hidup, SilvipasturaTanaman Penutup Tanah, Rorak, Strip
rumput atau strip tanaman alami, Teras Kredit, Teras Kebun, Teras Bangku, dan
Teras Individu.
2. Saran
1. Megingat sebagian besar wilayah penelitian dimanfaatkan untuk pertanian

lahan kering, maka diperlukan tindakan konservasi dalam usaha tani lahan
kering.
2. Reboisasi di kawasan hutan diperlukan mengingat senmakin menurunnya luas

hutan di wilayah penelitian sebagai akbat perambahan


3. Direkomendasikan proporsi tanaman semusim dan tahunan memperhatikan

tingkat kemiringan lereng

DAFTAR PUSTAKA
Amore, E., et al. 2004. Scale Effect in USLE and WEPP Application for Soil
Erosion Computation from Three Sicilian Basins. Journal of Hydrology 293
(2004) 100114. http://www.elsevier.com/locate/jhydrol
Anonim. 2009. Lampiran Peraturan Direktour Jenderal Rehabilitasi Lahan dan
Perhutanan Sosial Nomor : P.04/V-SET/2009 tanggal 05 Maret 2009 tentang
Pedoman Monitoring dan Evaluasi Daerah Alran Sungai.
Arsyad, Sintanala. 2006. Konservasi Tanah dan Air. Edisi Kedua. Bogor : IPB
Press
Assyakur, A.R. 2008. Prediksi Erosi dengan Menggunakan Metode USLE
dan Sistem Informasi Geografi (SIG) Berbasis Piksel di Daerah Tangkapan
Air Danu Buyan. Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan

19

MAPIN di Bandung pada Tanggal 10 Desember 2008. Denpasar : Pusat


Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Udayana
Ginting, S. 2009. Kajian Erosi Dan Sedimentasi Di Das Garang. Prosiding
Kolokium Pusair, 22-23 April 2009. Balai Hidrologi dan Tata Air, Pusat
Litbang Sumber Daya Air. http://segelg.blogspot.com/2009/08/inflowestimation-of-tondano-lake-using.html
Hikmatullah, 1995. Erosion Hazard Assessment in the Lake Tondano
Catchment, North sulawesi, Indonesia with Respect to its Possible Siltation.
Thesis for the degree of Master of Science in International Institute for
Aerospace Survey and Earth Sciences (ITC) Enschede, The Netherlands.
Japan International Cooperation Agancy. 2001. Studi Rehabilitasi Hutan
Lindung dan Lahan Kritis di DAS Tondano. Nippon Koei Co, Ltd-Kokusai
Kogyo Co, Ltd
Karaburun, Ahmet. 2010. Estimation of C Control for Soil Erosion modelling
using NDVI in Buyukcekmece Watershed. Ozean Journal of Applied Sciences
3 (1), 2010. ISSN 1943 2429 , Turkey Istambul
Kinnell., P.I.A. 2008. The Miscalculation of The USLE Topographic Faktors
in GIS. Faculty of Science University of Canberra. Canberra Australia
Murdiyanto.2006. Analisis Perubahan Morfologi Dasar Danau Tondano
Melalui Pemetaan Batimetri. Jurnal MIPATEKES Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Manado. Edisi September 2006 Vol 10 No. : 2
Purwanto, E. dan Ruijter. 2004. Hubungan antara Hutan dan Fungsi Daerah
Aliran Sungai. Prosiding Lokakarya di Padang/Singkarak, Sumatera Barat,
Indonesia, 25-28 Pebruari 2004.
Rachman, A. dan Dariah, A. 2009. Permodelan dalam Perencanaan
Konservasi Tanah dan Air. Balai Penelitian Tanah Bogor.
http://balittanah.litbang. deptan.go.id/dokumentasi/lainnya/ buku%20 bunga
%20rampai%20kta%20 12-07%20 (achmad%20rachman).pdf
Sulastriningsih, H.S. 2002. Sumbangan Sedimen dari Sub DAS Panasen dan
Noongan Terhadap Pedangkalan Danau Tondano di Sulawesi Utara. Jurnal
Teknosains 15 (1), Januari 2002. Universitas Gadjah Mada
Widjayanto. 2006. Model Penggunaan Lahan untuk Pengembangan
Pertanian Berkelanjutan (Studi Kasus Daerah Aliran Sungai Gumbasa
Donggala). Disertasi S3 Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor
Wischmeier, W.H and Smith, D.D. 1978. Predicting Rainfall Erosion Losses,
A Guide to Conservation Planning. Agriculture Handbook Number 537.

20

United State Department of Agriculture : Preparad by Science and Education


Administration

21