Anda di halaman 1dari 17

PENGARUH LOCUS OF CONTROL TERHADAP KINERJA

PELAYANAN PUBLIK MELALUI PROFESIONALISME APARATUR


(Studi pada Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Tengah)

Agustinus Sujatmiko
Program Magister Sains Manajemen
Roby Sambung
Program Magister Sains Manajemen

Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji dan menganalisis pengaruh locus of control
terhadap kinerja pelayanan public secara langsung, maupun melalui profesionalisme aparatur.
sampel dalam penelitian ini sebesar 108 orang aparatur Dinas Perhubungan, Komunikasi dan
Informatika Provinsi Kalimantan Tengah, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan
metode simple random sampling. Teknik analisis yang digunakan dengan statistik inferensial
dengan alat analisis smart PLS II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa locus of control tidak
berpengaruh terhadap profesionalisme aparatur namun locus of control berpengaruh kuat
terhadap kinerja aparatur dan profesionalisme apartur berpengaruh kuat terhadap kinerja
aparatur.
Kata kunci : locus of control, profseionalisme dan kinerja
Pendahuluan
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang pesat, secara
langsung disadari maupun tidak disadari pasti memiliki dampak yang luar biasa terhadap
perkembangan organisasi. Perubahan tersebut selain memiliki dampak positif di sisi lain
dapat berdampak negatif terhadap organisasi. Dengan demikian dibutuhkan sumber daya
manusia yang mampu menyikapi perubahan yang tidak pernah berhenti. Sumber daya
manusia diharapkan dapat mengolah sumber-sumber lain yang dapat mendukung pencapaian
visi dan misi organisasi.
Pegawai negeri sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat mempunyai peran
sangat penting dalam pembangunan untuk menciptakan masyarakat madani yang taat hukum,
berperadaban modern, demokratis, makmur, adil, dan bermoral tinggi menyelenggarakan
pelayanan secara adil dan merata kepada masyarakat, serta menjaga persatuan dan kesatuan
bangsa. Untuk melaksanakan tugas mulia itu diperlukan pegawai negeri yang mempunyai
kemampuan melaksanakan tugas secara profesional dan bertanggung jawab dalam
menyelenggarakan tugas pemerintahan dan pembangunan.

Kepemerintahan yang baik (good governance) dapat menjadi kenyataan dan sukses
apabila didukung oleh aparatur yang memiliki profesionalisme tinggi dengan mengedepankan
pentingnya akuntabilitas dan responsibilitas publik, yakni dengan menekan sekecil mungkin
pemborosan penggunaan sumber-sumber keuangan pemerintah (negara) dan juga sekaligus
memperkuat peraturan perundangan-undangan yang berlaku sebagai fondasi untuk
melaksanakan tugas-tugasnya (Islamy, 2001).
Pentingnya profesionalisme aparatur pemerintahan ini sejalan dengan bunyi pasal 3
ayat (1) UU no. 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 8 Tahun
1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian yang menyebutkan bahwa Pegawai Negeri
berkedudukan sebagai unsur aparatur negara yang bertugas untuk memberikan pelayanan
kepada masyarakat secara profesional, jujur, adil dan merata dalam penyelenggaraan tugas
negara, pemerintahan dan pembangunan.
Alvaro (2008), yang mengungkapkan bahwa internal auditor yang memiliki locus of
control internal memiliki kinerja yang lebih tinggi dari internal auditor yang memiliki locus
of control eksternal. Wiriani (2011) menemukan bahwa kinerja karyawan dipengaruhi oleh
karyawan yang memiliki locuc of control internal tinggi dibandingkan locus of control
exsternal karyawan. Penelitian Dahren (2008), menunjukkan dan membuktikan bahwa
profesionalisme memiliki hubungan yang kuat terhadap kinerja pelayanan . Sulistya (2008),
menyatakan bahwa profesionalisme aparat sebagai bentuk dari kemampuan seorang aparat
dalam menjalankan tugas dan fungsinya secara efektif serta mampu merespon dinamika
lingkungan nasional maupun global termasuk perkembangan kebutuhan dan tuntutan
masyarakat dengan menciptakan inovasi-inovasi baru guna tercapainya penyelenggaraan
pembangunan dan pelayanan publik yang profesional namun tetap menjadikan tujuan
organisasi sebagai acuan dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Berdasarkan uraian-uraian
tersebut maka masalah penelitian ini adalah bagaimana pengaruh locus of control dalam
meningkatkan kinerja pelayanan publik melalui profesinalisme aparatur pemerintah.
Karyawan dengan locus of control internal yang tinggi, akan berusaha untuk encapai
prestasi belajar yang tinggi sehingga mampu untuk menerapkan hasil pelatihan ke pekerjaan
yang akan mempengaruhi kinerja (Kustini, 2005). Karyawan yang memiliki locus of control
yang tinggi mampu meningkat kinerja karyawan Alvaro (2008), Sulistya (2008), Dahren
(2008), dan Wiriani (2011).
Agar kinerja pelayanan publik semakin berkualitas diperlukan aparatur pemerintah
yang profesional. Profesionalisme adalah kemampuan seseorang yang memiliki profesi
melayani kebutuhan orang lain atau professional menanggapi kebutuhan khas orang lain.
Profesionalisme dalam suatu bidang merupakan hal yang sangat penting, karena hal ini
berhubungan dengan pelaksanaan tugas seorang aparatur pemerintah yang bekerja dengan
baik tanpa adanya kerjasama yang menguntungkan atau merugikan salah satu pihak. Selain
itu, dengan aparatur pemerintah yang profesional menunjukkan bahwa aparat pemerintah
tersebut bekerja sesuai dengan bidang keahliannya sehingga dapat melayani masyarakat
dengan baik.

Dengan demikian agar terwujud kinerja pelayanan publik yang baik diperlukan
profesionalisme aparatur melalui kinerja yang baik dari seorang aparat pemerintah dengan
bekerja secara profesional berdasarkan peraturan yang telah ditetapkan demi terwujudnya
kesejahteraan masyarakat.
Dengan melandaskan pemikiran kepada pendapat di atas maka menurut penulis perlu
dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui dan menganalisis indikator-indikator yang
berpengaruh dominan dengan tujuan penulisan, dan pada akhirnya diharapkan hasil yang
diperoleh dapat meningkatkan kinerja pelayanan publik aparatur pemerintah khususnya pada
Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Tengah.

Kinerja
Pelayanan

Locus of Control

Profesionalisme
Aparatur

Gambar 1. kerangka konseptual

Konsep tentang locus of control (pusat kendali) pertama kali dikemukakan oleh Rotter
pada tahun 1966 seorang ahli pembelajaran sosial. Locus of control merupakan salah satu
variabel kepribadian (personility), yang didefinisikan sebagai keyakinan individu terhadap
mampu tidaknya mengontrol nasib (destiny) sendiri. Individu yang memiliki keyakinan
bahwa nasib atau event-event dalam kehidupannya berada dibawah kontrol dirinya, dikatakan
individu tersebut memiliki internal locus of control. Sementara individu yang memiliki
keyakinan bahwa lingkunganlah yang mempunyai kontrol terhadap nasib atau event-event
yang terjadi dalam kehidupannya dikatakan individu tersebut memiliki locus of control
external.
Karyawan yang mempunyai locus of control internal akan memandang dunia sebagai
sesuatu yang dapat diramalkan, dan perilaku individu turut berperan didalamnya. Pada
individu yang mempunyai locus of control external akan memandang dunia sebagai sesuatu
yang tidak dapat diramalkan, demikian juga dalam mencapai tujuan sehingga perilaku
individu tidak akan mempunyai peran didalamnya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh
Ngatemin (2009) sebagai variabel dependen dalam penelitian ini adalah kinerja sedangkan
variabel moderating locus of control dan gaya kepemimpinan. Hasil penelitian ini
menyatakan bahwa moderasi variabel locus of control dan gaya kepemimpinan berpengaruh
terhadap kinerja.

Chen (2010) dalam penelitiannya menemukan bahwa orientasi pelanggan dan locus of
control internal berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja. Selain itu, locus of
control internal tidak memiliki efek moderasi pada orientasi pelanggan dan kinerja tetapi
locus of control exsternal memiliki efek moderasi pada orientasi pelanggan dan kinerja. Dia
menguji hubungan antara locus of control dan prilaku stress kerja, kepuasan kerja dan
kinerja. Temuan-temuan menunjukkan bahwa salah satu dari aspek kepribadian seorang
akuntan yang diukur dengan lokus of control internal yang lebih tinggi cendrung memiliki
tingkat stress kerja dan tingkat kepuasan kerja dan kinerja praktis lebih tinggi.
Teori locus of control memungkinkan bahwa perilaku karyawan dalam situasi konflik
akan dipengaruhi oleh karakteristik internal locus of control mereka yakin bahwa suatu
kejadian selalu berada dalam rentang kendalinya dan kemungkinan akan mengambil
keputusan yang lebih etis dan independen. Oleh karena itulah dapat disimpulkan kinerja juga
dipengaruhi oleh tipe personalitas individu dengan internal locus of control lebih berorientasi
pada tugas yang dihadapinya sehingga akan meningkatkan kinerja mereka.
Kartika dan Wijayanti (2007) meneliti tentang pengaruh kinerja auditor dan
penerimaan perilaku disfungsional audit. Hasil analisis terhadap sampel yang terdiri dari 140
auditor di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta menjelaskan bahwa karakteristik
individual auditor mempengaruhi secara signifikan kinerja auditor, dimana auditor yang
memiliki locus of control internal berkinerja lebih baik dari auditor yang memiliki locus of
control eksternal.
Alfaro (2008) melakukan penelitian dengan mengumpulkan data dari internal auditor
yang ada di Jawa Tengah, hasil penelitian menemukan bahwa internal auditor yang memiliki
locus of control internal memiliki kinerja yang lebih tinggi dari internal auditor yang
memiliki locus of control exsternal. Patten (2005) dalam Alfaro (2008) melakukan penelitian
berdasarkan sampel yang terdiri dari 50 orang internal auditor yang berasal dari enam
perusahaan AS berkedudukan di wilayah Midwest. Hasil penelitian menyatakan bahwa
internal auditor dengan kecendrungan locus of control internal memiliki kinerja lebih baik
dari internal auditor yang memiliki locus of control exsternal. Berdasarkan tinjauan teoritis
dan beberapa hasil penelitian maka hipotesis yang dapat diajukan adalah
H1 Kinerja kelompok karyawan level locus of control internal lebih tinggi dibandingkan
dengan kelompok karyawan level locus of control external.
Locus of control merupakan keyakinan seseorang tentang sejauh mana orang tersebut
merasakan ada atau tidaknya hubungan antara usaha yang dilakukan dengan hasil yang
diterima, sehingga mereka mampu mengontrol peristiwa-peristiwa yang mempengaruhi
hidupnya. Seorang pegawai yang mempunyai locus of control tentunya akan mampu
mengontrol kejadian-kejadian dalam hidupnya, terutama kejadian-kejadian yang
berhubungan dengan pekerjaannya. Hal ini menjadikan pegawai tetap mampu bekerja dengan
baik. Pegawai mampu memberikan pelayanan yang adil dan inklusif kepada masyarakat.
Selain itu, pegawai yang mempunyai locus of control akan memilih pekerjaan yang sesuai

dengan keahlian sehingga mampu memahami dan menterjemahkan aspirasi dan kebutuhan
masyarakat ke dalam kegiatan dan program pelayanan. Dengan demikian semakin tinggi
locus of control seorang pegawai maka akan semakin tinggi juga profesionalisme seorang
pegawai.
Sulistya (2008) dalam penelitiannya menemukan bahwa profesionalisme seorang
aparatur negara merupakan bentuk dari kemampuan seorang aparat dalam menjalankan tugas
dan fungsinya secara efektif serta mampu merespon dinamika lingkungan nasional maupun
global termasuk perkembangan kebutuhan dan tuntutan masyarakat dengan menciptakan
inovasi-inovasi baru guna tercapainya penyelenggaraan pembangunan dan pelayanan publik
yang profesional namun tetap menjadikan tujuan organisasi sebagai acuan dalam
menjalankan tugas dan fungsinya dipengaruhi oleh locus of control.
Gouzali (2006) dalam Wiriani (2011) dalam penelitiannya menemukan bahwa
pelatihan memberikan manfaat yang amat besar, karena mampu mengembangkan
kemampuan berfikir guna memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Pelatihan yang
diikuti seorang pegawai mampu meningkatkan locus of control dalam dirinya. Hal ini berarti
pelatihan mampu meningkatkan dan mengembangkan kemampuan pribadi, profesional, dan
sosial peserta pelatihan, bahkan dapat dilakukan sebagai wahana promosi. Berdasarkan
uraian-uraian yang terdapat dalam landasan teori, maka perumusan hipotesis dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut:
H2: Profesionalisme kelompok karyawan level locus of control internal lebih tinggi
mempengaruhi kinerja dibandingkan dengan kelompok karyawan level locus of control
external.
Wroom (1964) dalam Cahyasumirat (2006), mengemukakan bahwa kinerja karyawan
dipengaruhi oleh profesionalisme dan motivasi kerja merupakan kemauan individu untuk
menggunakan usaha yang tinggi dalam upaya mencapai tujuan-tujuan perusahaan dan
memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Apabila tuntutan kerja yang dibebankan pada individu
tidak sesuai dengan kemampuannya (ability) maka kinerja yang diharapkan akan sulit
tercapai.
Dahren (2008) dalam hubungan antara profesionalisme dengan kinerja pelayanan,
dimana hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa profesionalisme memiliki hubungan
yang kuat terhadap kinerja pelayanan dengan koefisien korelasi sebesar 0,769. Besarnya
sumbangan variabel profesionalisme terhadap kinerja pelayanan adalah sebesar 59%.
Berdasarkan uraian-uraian yang terdapat dalam landasan teori, maka perumusan hipotesis
dalam penelitian ini adalah
H3 : Profesionalisme karyawan mempunyai pengaruh yang positif terhadap kinerja karyawan.
Metode Penelitian
Populasi dalam penelitian ini sebesar 148 pegawai, maka dengan rumus slovin sampel
dalam penelitian ini, sebagai berikut:
n = N / (1 + Ne)

n = 148 / (1 + 148 x 0,05)


n = 108.03
Dengan demikian, jumlah sampel yang dibutuhkan adalah 108 pegawai. Maka sampel
dalam penelitian ini sebesar 108 orang aparatur Dinas Perhubungan, Komunikasi dan
Informatika Provinsi Kalimantan Tengah, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan
metode simple random sampling, yaitu teknik pengambilan sampel, di mana tiap elemen
memiliki peluang yang sama untuk terpilih sebagai subjek.
Variabel penelitian
a. Locus of control
Keyakinan seseorang tentang sejauh mana seseorang merasakan ada atau tidaknya
hubungan antara usaha yang dilakukan dengan hasil yang diterima, sehingga mereka
mampu mengontrol peristiwa-peristiwa yang mempengaruhi hidupnya. Locus of control
terdiri dari Semangat kerja, memiliki inisiatif, selalu berusaha dan berfikir efektif.
b. Profesionalisme Aparatur
Profesionalisme aparatur adalah kemampuan seorang aparat yang memiliki profesi
melayani kebutuhan orang lain atau professional menanggapi kebutuhan khas
masyarakat. Profesionalisme aparatur diukur dengan indikator sebagai berikut (Widodo,
2005):
1. Itikad kerja yang baik, dengan item pertanyaaan yaitu bekerja tidak semata-mata
mencari materi dalam pemberian pelayanan, Ketaatan dan kepatuhan dalam
mengikuti apel mingguan dengan taat dan patuh
2. Kualifikasi formal dan teknis, item pertanyaaan yaitu tingkat pendidikan yang
sesuai dengan pekerjaannya, diklat, kursus dan seminar yang diikuti dan Tugas
pelayanan masyarakat mampu dilaksanakan dengan baik
3. Ketaatan terhadap peraturan bersama, dengan item pertanyaan yaitu pemahaman
terhadap tupoksi yang melekat pada jabatan, Memanfaatkan waktu luang untuk
kegiatan yang positif, Tugas pelayanan senantiasa sesuai kode etik
c. Kinerja Aparatur
Untuk mengukur kinerja, dapat digunakan beberapa ukuran kinerja. Beberapa ukuran
kinerja yang meliputi; kuantitas kerja, kualitas kerja, pengetahuan tentang pekerjaan,
kemampuan mengemukakan pendapat, pengambilan keputusan, perencanaan kerja dan
daerah organisasi kerja. Ukuran prestasi yang lebih disederhana terdapat tiga kriteria
untuk mengukur kinerja (menurut pendapat Leon C.Megginson, sebagaimana dikutip
Mangkunegara, Anwar Prabu, 2000) yaitu:
1) Kuantitas Kerja, yaitu jumlah yang harus dikerjakan
2) Kualitas Kerja, yaitu mutu yang dihasilkan
3) Ketepatan Waktu, yaitu kesesuaiannya dengan waktu yang telah ditetapkan.

Untuk menguji hipotesis dan menghasilkan suatu model yang layak (fit), penelitian ini
menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan pendekatan variance based atau
component based dengan Partial Least Square (PLS). Analisis regresi Partial Least Square
(PLS) di desain khusus untuk mengatasi masalah-masalah dalam regresi berganda seperti
jumlah pengamatan terbatas, banyak data yang hilang (missing) dan korelasi antara variabel
independen tinggi (Ghozali, 2011).
Hasil Analisis Inferensial
1. Uji Unidimensionalitas
Menguji Unidemensionalitas dari masing-masing konstruk dengan melihat
convergent validity dari masing-masing indikato konstruk. Menurut Chin (1998) dalam
Ghozali (2011), suatu indikator dikatakan mempunyai realibilitas yang baik jika nilainya
lebih besar dari 0,70, sedangkan loading factor 0,50 sampai 0,60 masih dapat
dipertahankan. Berdasarkan kriteria ini bila ada loading factor dibawah 0,50 maka akan di
drop dari model.
a. Pengujian Convergent Validity
Perhitungan convergent validity bertujuan untuk mengetahui item-item
instrumen yang dapat digunakan sebagai indikator dari seluruh variabel laten. Hasil
uji convergen validity diukur berdasarkan besarnya nilai loading faktor (outer
loading) dari indikator construct. Hasil pengujian convergent validity disajikan pada
Tabel berikut.
Tabel 1 Hasil Uji convergent validity
Variabel
Locus of control
Profesionalisme
Kinerja Aparat

X1.2
X1.3
Y1.1
Y1.2
Y1.3
Y2.1
Y2.2

Outer Loading
0.732
0.940
0.783
0.739
0.625
0.899
0.715

Keterangan
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid

Sumber: data diolah


Hasil diatas menunjukkan bahwa seluruh indikator memiliki nilai outer loading
diatas 0,6, sehingga dapat dikatakan seluruh indikator memenuhi convergent validity.
b.

Composite Reliability
Pengujian composite reliability bertujuan untuk menguji validitas instrumen
dalam suatu model penelitian. Hasil pengujian composite reliability disajikan pada
Tabel.

Tabel 2. Hasil Pengujian Composite Reliability


Variabel
Composite
Reliability
0.828
Locus od Control (X1)

Keterangan
Reliabel

Profesionalisme (Y1)

0.761

Reliabel

Kinerja Aparatur (Y2)

0793

Reliabel

Sumber: data diolah


Berdasarkan tabel tersebut dapat diuraikan bahwa hasil pengujian composite
reliability menunjukkan nilai yang memuaskan, yaitu semua variabel laten telah
reliabel karena seluruh nilai variabel laten memiliki nilai composite reliability 0,7.
Hal itu berarti bahwa, kuisioner yang digunakan sebagai alat dalam penelitian ini
telah andal atau konsisten. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seluruh
indikator memang menjadi pengukur konstruknya masing-masing.
2.

Pemodelan Persamaan Struktural Pendekatan PLS


Penelitian ini menggunakan model persamaan struktural pendekatan Partial Least
Square (PLS). Sebelum menganalisis, terlebih dahulu dilakukan pengujian atau evaluasi
model empiris penelitian. Hasil pengujian model empiris penelitian ini adalah sebagai
berikut.

a.

Goodness of Fit Model


Pengujian Goodness of Fit model struktural pada inner model
menggunakan nilai predictive-relevance (Q2). Nilai R2 tiap-tiap variabel
endogen dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel berikut.

Tabel 3. Nilai R2 Variabel Endogen


Variabel Endogen

R-square

Profesionalisme (Y1)

0.036

Kinerja (Y2)

0.298

Sumber: Lampiran 2
Nilai predictive-relevance diperoleh dengan rumus:
Q2 = 1 ( 1 R12) ( 1- Rp2 )
Q2 = 1 (1 0.036) (1 0.298)
Q2 = 0.323
Hasil perhitungan diatas memperlihatkan nilai predictive-relevance sebesar
0.323 (> 0). Hal itu berarti bahwa 32.3% variasi pada variabel kinerja
(dependent variabel) dijelaskan oleh variabel-variabel yang digunakan. Dengan
demikian model dikatakan layak memiliki nilai prediktif yang relevan.
b. Hasil Pengujian Hipotesis
Hasil pengujian hipotesis dengan Partial Least Square menunjukkan bahwa
enam hipotesis dinyatakan signifikan dan satu hipotesis dinyatakan tidak
signifikan. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji t (t-test)
pada tiap-tiap jalur pengaruh antara variabel dependen dengan variabel
independen. Hasil pengujian hipotesis tersebut ditunjukkan
pada Tabel
berikut.
Tabel 4. Hasil Pengujian Hipotesis
Pengaruh Langsung
Locus of Control ->
Profesional
Locus of Control ->
Kinerja
Profesional -> Kinerja
Pengaruh tidak
langsung
Locus of Control ->
Profesional -> kinerja
Sumber: data diolah

Koefisien Standard
Jalur
deviation

TStatistic

PKeterangan
Value
0,047

Tidak
Signifikan

0.190

0.260

0.731

0.350

0.139

2.523

0.357

0.139

2,569

0,011

Signifikan

0,7030

0,482

Bukan
mediasi

0,068

0,000

Signifikan

Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa koefesion jalur yang dominan adalah
pengaruh profesionalisme apartur terhadap kinerja sebesar 0,357 atau sebesar

10

35,7 persen. Sedangkan pengaruh locus of control terhadap kinerja sebesar


0,350 atau 35 persen. Sedangkan Pengaruh locus of control terhadap
profesionalisme sebesar 0,190 atau 19 persen. Analisis data untuk pengaruh
tidak langsung antara locus of control terhadap kinerja melalui profesionalisme
menggunakan sobel test, diperoleh koefesien sebesar 0,068 atau 6 persen.
c. Pengujian Hipotesis
Hipotesis 1 : Locus of control berpengaruh postif signifikan terhadap
Profesionalisme aparatur
Hasil pengujian hipotesis dengan pendekatan PLS menghasilkan koefisien
jalur pengaruh Locus of control terhadap Profesionalisme aparatur dengan nilai
0,190 dan t-statistik 0.731. Karena t-hitung lebih kecil dari t-tabel 1,96 dan nilai pvalue sebesar 0,047 maka hipotesis Locus of control berpengaruh positif
signifikan terhadap Profesionalisme aparatur ditolak. Mengingat koefisien
bertanda positif dan tidak signifikan dapat disimpulkan bahwa hubungan antara
keduanya adalah searah. Artinya, semakin meningkat Locus of control pegawai
tidak mempengaruhi profesionalisme aparatur.
Hipotesis 2 : Locus of control berpengaruh signifikat terhadap kinerja
aparatur.
Pengujian hipotesis dengan pendekatan PLS menghasilkan koefisien jalur antara
Locus of control terhadap kinerja aparatur dengan nilai 0,350 dan t-statistik 2,523.
Karena t-hitung lebih besar dari t-tabel 1,96 dan nilai p-value sebesar 0,000 lebih
kecil dari 0,05 dan dibawah 0,01 maka hipotesis yang menyatakan bahwa Locus
of control berpengaruh signifikat terhadap kinerja aparatur diterima. Mengingat
koefisien bertanda positif dan signifikan sangat kuat dapat disimpulkan bahwa
hubungan antara keduanya adalah searah. Artinya, semakin meningkat Locus of
control pegawai maka semakin meningkatkan kinerja aparatur.
Hipotesis 3 : Profesionalisme berpengaruh signifikan terhadap kinerja
aparatur
Pengujian hipotesis dengan pendekatan PLS menghasilkan koefisien jalur
pengaruh Profesionalisme terhadap kinerja aparatur dengan nilai 0,357 dan tstatistik 2.569. Karena t-hitung lebih besar dari t-tabel 1,96 dan nilai p-value sebesar
0,000 lebih kecil dari 0,05 maka hipotesis yang menyatakan bahwa
Profesionalisme berpengaruh signifikan terhadap kinerja aparatur diterima.
Mengingat koefisien bertanda positif dan signifikan kuat, dapat disimpulkan
bahwa hubungan antara keduanya adalah searah. Artinya, meningkatknya
profesionalisme aparatur mampu meningkatkan kinerja aparatur.
Pembahasan hasil penelitian
Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian hipotesis, maka diuraikan pembahasan dan
penalaran mengenai masing-masing variabel berdasarkan hubungan kausal masing-masing

11

variabel laten. Pembahasan dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai kajian teori dan
penelitian empiris sebelumnya yang terkait dengan penelitian ini.
Variabel locus of control
Indikator yang menggambarkan locus of control pegawai adalah memiliki inisiatif yang
baik dan selalu berusaha. Sedangkan indikator yang paling besar dalam menggambarkan
locus of control pegawai adalah selalu berusaha dengan baik dalam menyelesaikan
pekerjaan, dengan nilai outer loading sebesar 0.940.
Artinya dalam penelitian ini indikator dari locus of control pegawai dinas Perhubungan,
Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Tengah adalah selalu berusaha.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa locus of control pegawai Dinas
Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Tengah termasuk dalam
kategori sangat tinggi yaitu sebanyak 79,2%. Hal ini berarti sebagian besar keyakinan
pegawai Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Tengah
sudah sangat tinggi tentang sejauh mana pegawai tersebut merasakan ada atau tidaknya
hubungan antara usaha yang dilakukan dengan hasil yang diterima, sehingga mereka mampu
mengontrol peristiwa-peristiwa yang mempengaruhi hidupnya. Dengan locus of control yang
tinggi, seorang pegawai mampu mengatasi setiap permasalahan yang timbul dalam
kehidupannya baik dengan usaha sendiri maupun dengan bantuan dari orang-orang di sekitar
dirinya. Tingginya locus of control pegawai Dinas Perhubungan, Komunikasi dan
Informatika Provinsi Kalimantan Tengah tercermin dalam sikap pegawai yang menunjukkan
semangat kerja, memiliki inisiatif, selalu berusaha dan tidak pantang menyerah serta selalu
berfikir efektif.
Variabel Profesionalisme aparatur
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa profesionalisme pegawai Dinas Perhubungan,
Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Tengah sudah tinggi. Dengan
profesionalitas yang tinggi maka pegawai akan semakin mampu dalam memberikan
pelayanan yang baik, adil, dan inklusif dan tidak hanya sekedar kecocokan keahlian dengan
tempat penugasan. Untuk mencapai profesionalisme yang tinggi diperlukan kemampuan dan
keahlian untuk memahami dan menterjemahkan aspirasi dan kebutuhan masyarakat kedalam
kegiatan dan program pelayanan. Tingginya profesionalisme pegawai Dinas Perhubungan,
Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Tengah tercermin dalam itikad kerja yang
baik, kualifikasi formal dan teknis serta ketaatan terhadap peraturan bersama.
Indikator yang menggambarkan profesionalisme pegawai dinas Perhubungan,
Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Tengah adalah memiliki kreativitas,
inovasi dan responsifitas yang baik. Sedangkan indikator yang paling besar dalam
menggambarkan locus of control pegawai adalah kreatifitas dalam menyelesaikan pekerjaan,
dengan nilai outer loading sebesar 0.783.
Artinya dalam penelitian ini indikator dari profesionalisme pegawai dinas Perhubungan,
Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Tengah adalah memiliki kreativitas yang
tinggi.

12

Variabel Kinerja Aparatur


Selain itu, dengan locus of control yang sangat tinggi dan profesionalisme yang tinggi
akan mendorong tingginya kinerja pegawai. Hal ini ditunjukkan bahwa sebagian besar
pegawai Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Tengah
mempunyai kinerja yang tinggi (48,8%). Dengan kinerja yang tinggi, pegawai dapat
memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat. Tingginya kinerja pegawai Dinas
Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Tengah dapat dilihat dari
kuantitas dan kualitas kerja serta ketepatan waktu.
Indikator yang menggambarkan kinerja pegawai dinas Perhubungan, Komunikasi dan
Informatika Provinsi Kalimantan Tengah adalah ditunjukkan dengan kuantitas kerja serta
kualitas kerja. Sedangkan indikator yang paling besar dalam menggambarkan kinerja
pegawai adalah kuantitas pekerjaan, dengan nilai outer loading sebesar 0.899.
Artinya dalam penelitian ini indikator dari kinerja pegawai dinas Perhubungan,
Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Tengah adalah memiliki kuantitas pekerjaa
yang baik.
Pengaruh langsung locus of control terhadap profesionalisme aparatur
Hasil penelitian membuktikan bahwa Locus of control pegawai Dinas Perhubungan,
Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Tengah yang tinggi belum mampu
profesionalisme aparatur. Artinya bahwa dengan selalu berusaha di dalam diri pegawai
untuk menunjukkan atau mengendalikan keadaan belum tentu mampu membentuk tingkat
profesionalisme seseorang.
Penelitian ini juga membuktikan terdapat hubungan positif antara locus of control
dengan kinerja. Locus of control merupakan salah satu variabel kepribadian (personility),
yang didefinisikan sebagai keyakinan individu terhadap mampu tidaknya mengontrol nasib
(destiny) sendiri. Individu yang memiliki keyakinan bahwa nasib atau event-event dalam
kehidupannya berada dibawah kontrol dirinya, dikatakan individu tersebut memiliki internal
locus of control. Sementara individu yang memiliki keyakinan bahwa lingkunganlah yang
mempunyai kontrol terhadap nasib atau event-event yang terjadi dalam kehidupannya
dikatakan individu tersebut memiliki locus of control external.
Pegawai yang mempunyai locus of control internal akan memandang dunia sebagai
sesuatu yang dapat diramalkan, dan perilaku individu turut berperan didalamnya. Pada
individu yang mempunyai locus of control external akan memandang dunia sebagai sesuatu
yang tidak dapat diramalkan, demikian juga dalam mencapai tujuan sehingga perilaku
individu tidak akan mempunyai peran didalamnya.
Teori locus of control memungkinkan bahwa perilaku pegawai dalam situasi konflik
akan dipengaruhi oleh karakteristik internal locus of control mereka yakin bahwa suatu
kejadian selalu berada dalam rentang kendalinya dan kemungkinan akan mengambil
keputusan yang lebih etis dan independen. Oleh karena itulah dapat disimpulkan kinerja juga
dipengaruhi oleh tipe personalitas individu dengan internal locus of control lebih berorientasi
pada tugas yang dihadapinya sehingga akan meningkatkan kinerja mereka. Hasil penelitian

13

ini konsisten dengan penelitian Chen (2010) yang menemukan bahwa orientasi pelanggan
dan locus of control internal berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja.
Pengaruh langsung locus of control terhadap kinerja aparatur
Hasil analisis membuktikan bahwa terdapat hubungan antara profesionalisme dengan
kinerja. Profesionalisme merupakan suatu pekerjaan atau keahlian yang mensyaratkan
kompetensi, intelektualitas, sikap yang professional dan keterampilan tertentu yang diperoleh
melalui proses pendidikan secara akademisi dan pengalaman dalam mengemban profesi.
Profesionalisme dalam suatu pekerjaan menuntut seorang pegawai untuk bekerja sesuai
dengan keahlian dan keterampilan yang dimilikinya, sehingga pegawai dapat bekerja dengan
baik.
Hal ini akan mendorong meningkatnya kinerja pegawai. Apabila seorang pegawai
bekerja pada bidang yang tidak sesuai dengan keahliannya, maka pegawai tersebut akan
merasakan ketidaknyamanan dalam bekerja karena tidak cocok dan tidak mengetahui harus
melakukan apa dalam pekerjaan. Sebaliknya, apabila pegawai bekerja pada bidang yang
dikuasainya dan sesuai dengan keahliannya, maka pegawai tersebut akan bekerja dengan
sungguh-sungguh karena ia merasa nyaman bekerja pada bidang tersebut, dan hal ini akan
mendorong kinerjanya. Dengan demikian semakin tinggi profesionalisme seorang pegawai
maka kinerja pegawai juga akan semakin meningkat.
Sulistya (2008) dalam penelitiannya menemukan bahwa profesionalisme seorang
aparatur negara merupakan bentuk dari kemampuan seorang aparat dalam menjalankan tugas
dan fungsinya secara efektif serta mampu merespon dinamika lingkungan nasional maupun
global termasuk perkembangan kebutuhan dan tuntutan masyarakat dengan menciptakan
inovasi-inovasi baru guna tercapainya penyelenggaraan pembangunan dan pelayanan publik
yang profesional namun tetap menjadikan tujuan organisasi sebagai acuan dalam
menjalankan tugas dan fungsinya dipengaruhi oleh locus of control.
Pengaruh langsung locus of control terhadap kinerja aparatur
Selain itu, penelitian ini juga membuktikan terdapat pengaruh yang positif antara
profesionalisme dengan kinerja aparat. Profesionalisme merupakan suatu pekerjaan atau
keahlian yang mensyaratkan kompetensi, intelektualitas, sikap yang professional dan
keterampilan tertentu yang diperoleh melalui proses pendidikan secara akademisi dan
pengalaman dalam mengemban profesi. Profesionalisme dalam suatu pekerjaan menuntut
seorang pegawai untuk bekerja sesuai dengan keahlian dan keterampilan yang dimilikinya,
sehingga pegawai dapat bekerja dengan baik. Hal ini akan mendorong meningkatnya kinerja
pegawai.
Apabila seorang pegawai bekerja pada bidang yang tidak sesuai dengan keahliannya,
maka pegawai tersebut akan merasakan ketidaknyamanan dalam bekerja karena tidak cocok
dan tidak mengetahui harus melakukan apa dalam pekerjaan. Sebaliknya, apabila pegawai
bekerja pada bidang yang dikuasainya dan sesuai dengan keahliannya, maka pegawai tersebut
akan bekerja dengan sungguh-sungguh karena ia merasa nyaman bekerja pada bidang
tersebut, dan hal ini akan mendorong kinerjanya.

14

Dengan demikian semakin tinggi profesionalisme seorang pegawai maka kinerja


pegawai juga akan semakin meningkat. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian
Wroom (1964) dalam Cahyasumirat (2006) yang menemukan bahwa kinerja pegawai
dipengaruhi oleh profesionalisme dan motivasi kerja.
Pengaruh tidak langsung antara locus of control terhadap kinerja aparatur melalui
profesionnal
Hasil ini tidak terbukti bahwa variabel profesional aparatur sebagai variabel
intervening. Hal ini menunjukkan bahwa locus of control tidak berpengaruh terhadap
kinerja aparatur melalui profesionalisme aparatur.
Hasil penelitian ini telah memberikan temuan-temuan sesuai dengan konstruk-konstruk
yang digunakan. Atas dasar tersebut dapat dikemukakan beberapa implikasi teoritis sebagai
berikut.
1. Secara teoritis penelitian ini telah mampu memprediksi bahwa Locus of control, atau
keyakinan individu terhadap mampu tidaknya mengontrol nasib (destiny) sendiri.
Mampu meningkatkan kinerja mereka. Individu yang memiliki keyakinan bahwa nasib
atau event-event dalam kehidupannya berada dibawah kontrol dirinya, dikatakan
individu tersebut memiliki internal locus of control pegawai.
2. Profesionalisme seorang aparatur pemerintah juga terbukti mampu miningkatkan kinerja
pegawai di Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan
Tengah .
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa profesionalisme seorang aparatur pemerintah
lebih besar pengaruhnya dalam meningkatkan kinerja, dibandingkan locus of control
seseorang. Hal ini berarti bahwa profesionalisme menjadi faktor penting dalam meningkatkan
kinerja pegawai selain locus of control seseorang.
Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini telah berupaya untuk menyajikan model yang terintegrasi dan
komprehensif tentang locus of control, profesionalisme dan kinerja aparatur. Namun disadari
masih terdapat keterbatasan-keterbatasan sehingga membuat hasil penelitian ini kurang
sempurna. Beberapa keterbatasan penelitian ini dapat diuraikan dan menyangkut hal-hal
sebagai berikut.
1. Indikator Locus of control yang digunakan tidak bisa menunjukkan internal Locus of
control pegawai dan eksternal Locus of control pegawai.
2. Penelitian ini hanya digeneralisasikan pada pegawai Dinas Perhubungan, Komunikasi
dan Informatika Provinsi Kalimantan Tengah untuk mengungkap seberapa besar
hubungan antara variabel locus of control dan profesionalisme terhadap kinerja aparat
serta seberapa besar hubungan antara locus of control dengan profesionalisme.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa
locus of control yang ditunjukkan dengan selalu berusaha dalam keyakinan dalam

15

mengendalikan diri, tidak mampu mempengaruhi atau meningkatkan profesionalisme


pegawai di Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Tengah.
Locus of control yang ditunjukkan dengan selalu berusaha dalam keyakinan dalam
mengendalikan diri mampu meningkatkan kinerja kinerja pegawai di Dinas Perhubungan,
Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Tengah.
Pegawai yang memiliki profesionalisme tinggi mampu meningkatkan kinerja pegawai pada
Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Tengah.
Saran
Berdasarkan kesimpulan dan keterbatasan penelitian diatas, maka penulis memberikan saran
Untuk penelitian berikutnya menggunakan locus of control internal dan eksternal, Bagi
instansi, diharapkan dapat meningkatkan profesionalisme pegawai melalui penyelenggaraan
diklat-diklat agar pegawai mempunyai kemampuan dan keahlian yang dapat menunjang
tugas-tugasnya dalam melayani masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Abduh, Muhammad. 1998. Profil Hukum Administrasi Negara Indonesia Dikaitkan dengan
Undang-Undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Pidato Pengukuhan Jabatan
Guru Besar Tetap. Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
Amaral M. Alfaro. 2008 . Analisi Dampak Locus of Control Terhadap Kinerja dan Kepuasan
Kerja Internal Auditor. Tesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro
Semarang.
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Cahyasumirat, Gunawan. 2006. Pengaruh Profesionalisme dan Komitmen Organisasi
Terhadap Kinerja Internal Auditor, Dengan Kepuasan Kerja Sebagai Variabel
Intervening (Studi Empiris Pada Internal Auditor PT. Bank ABC), Tesis, Program
Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang.
Chen, Jui, 2008. The impact of Locus of Control on Job Stress, Job Performance and Job
Satisfaction in Taiwan, Leadership & Organization Development, Journal Vol. 29
No 7, 2008 pp 572-582.
Dahren, Yen. 2008. Hubungan antara Profesionalisme dengan Kinerja Pelayanan Aparatur
Pemerintahan Kecamatan (Studi pada Kantor Camat Abung Barat Kabupaten
Lampung Utara). Tugas Akhir Program Magister. Program Pascasarjana
Universitas Terbuka Bandar Lampung
Ghufron, M. Nur dan Rini Risnawita S. 2010. Teori-Teori Psikologi. Yogyakarta: Ar-ruzz
Media.
http://mohtar.staff.uns.ac.id

16

http://id.wikipedia.org/
http://intanghina.wordpress.com/2008/06/10/kinerja/
Islamy, M. Irfan. 1998. Agenda Kebijakan Reformasi Administrasi Negara. Pidato
Pengukuhan Guru Besar. Malang: FIA Unibraw
Juliantara, Dadang. 2005. Peningkatan Kapasitas Pemerintah Daerah dalam Pelayanan
Publik. Yogyakarta: Pembaruan
Kartika, I dan Wijayanti P, 2007. Locus of Control Sebagai Anteseden hubungan Kinerja dan
Penerimaan Prilaku Disfungsional Audit, SNA X. Makasar.
Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/M.PAN/7/2003
Keputusan Gubernur Kalimantan Tengah Nomor 24 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan
Tengah
Kunandar. 2007. Guru Profesional Implementasi KTSP dan Sukses dalam Sertifikasi Guru.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Kuncoro, Wahyu. 2006. Studi Evaluasi Pelayanan Publik dan Kualitas Pelayanan Di Rumah
Sakit Umum DR. Soetomo. Tesis. Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang
Kustini. 2005. Pengaruh Locus of Control, Orientasi Tujuan Pembelajaran dan Lingkungan
Kerja Terhadap Self Efficacy dan Transfer Pelatihan Karyawan PT. Telkom
Kandatel Surabaya Timur, (Studi Ilmu Pengembangan Sumber Daya Manusia),
Tesis, Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga Surabaya.
Lukman, Sampara. 2000. Manajemen Kualitas Pelayanan. Jakarta: STIA LAN Press
Mangkunegara, Anwar Prabu. 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: CV
Rosda Karya
-----------------------------------. 2005. Evaluasi Kinerja SDM. Bandung: Refika Aditama
------------------------------------. 2006. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
M. Nur Ghufron, dan Rini Risnawita S. 2010. Teori-Teori Psikologi. Yogyakarta: Ar-ruzz
Media.
Nawawi, Zaidan. 2007. Analisis tentang Profesionalisme Aparatur dalam Pelayanan Publik di
Era Otonomi Daerah. Jurnal Ekonomi dan Manajemen. Vol. 8, Nomer 2
Ngatemin, 2009. Pengaruh Komitmen Organisasi dan Locus of Control terhadap Hubungan
antara Partisipasi Penyusunan Anggaran dan Kinerja Manajerial pada Badan
Pengembangan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata Departemen Kebudayaan
dan Pariwisata Republik Indonesia. Tesis Program Pasca Sarjana Universitas
Sumatera Utara, Medan.
Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi Kalimantan Tengah
Siagian, Sondang P. 2000. Administrasi Pembangunan. Jakarta: Bumi Aksara
Sianipar, J.P.G. 2007. Perencanaan Peningkatan Kinerja. Jakarta: Lembaga Administrasi
Negara

17

Sinambela, Lijan Poltak. 2006. Reformasi Pelayanan Publik: Teori, Kebijakan dan
Implementasi. Jakarta: PT Bumi Aksara
Sugiyono. 2002. Statistik untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta
Sulistya, Arief Dwi. 2008. Profesionalisme Aparatur Pemerintah (Studi Kasus Responsifitas
dan Inovasi Aparatur di Kecamatan Sumber Kabupaten Rembang). Tesis. Program
Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang
Sumarni dan Wahyuni. 2006. Metode Penelitian Bisnis. Yogyakarta: Andi Offset
Sundarso, dkk.2006. Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik melalui Reformasi Birokrasi.
Jurnal Ilmu Administrasi
Tjiptono, Fandi. 2000. Manajemen Jasa, Edisi Pertama. Andi Offset, Yogyakarta
UU Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974
tentang Pokok-Pokok Kepegawaian
UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
Veithzal, Rivai. 2006. Credit Manajemen Handbook. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Widodo, Djoko. 2005. Membangun Birokrasi Berbasis Kinerja. Malang: Bayu Media.
Wiriani, Wayan. 2011. Efek Moderasi Locus Of Control pada Hubungan Pelatihan dan
Kinerja pada Bank Perkreditan Rakyat di Kabupaten Badung. Tesis. Program
Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar.