Anda di halaman 1dari 4

Judul Jurnal : Efektifitas Penggunaan Levofloxacin Yang di Berikan Tiga Kali Sehari Untuk

Pengobatan Konjungtivitis Bakterial Ditinjau Secara Klinis dan Mikrobiologis


Nama Jurnal : European Journal of Ophthalmology / Vol. 19 no. 1, 2009 / pp. 1-9
Penulis : J. SZAFLIK1,2, J.P. SZAFLIK1,2, A. KAMISKA1,2, THE LEVOFLOXACIN
BACTERIAL CONJUNCTIVITIS DOSAGE STUDY GROUP

Pendahuluan
Konjungtivitis bakteri adalah gangguan mata yang umum. Meskipun penyakit ini
dianggap self limiting, hasil pengobatan antibiotik topical sebelumnya dalam penyembuhan
klinis dan meningkatkan tingkat eradikasi mikrobiologis terhadap pathogen.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektifitas penggunaan tetes mata
levofloxacin 0,5% dengan frekuensi pemberian 3 kali kali sehari selama 5 hari dengan
penggunaan levofloxacin yang diberikan dengan frekuensi setiap 2 jam sekali pada hari 1, 2 dan
setiap 4 jam sekali pada hari ke 3, 4, 5. Pada pasien yang didiagnosis menderita konjungtivitis
bacterial. Hasil terapi akan dibandingkan berdasarkan pemantauan keadaan klinis pasien dan
hasil pemeriksaan mikrobiologi.
Metode
Metode penelitian berupa RCT dengan menggunakan uji t-test, uji wilcoxon, uji MannWhitney dan uji fisher . Dalam penelitian ini subjek adalah wanita dan pria berusia minimal 18
tahun sebanyak 120 yang terdiri dari 62 laki-laki dan 58 pasien perempuan yang terdaftar, usia
minimum adalah 18 tahun dan usia maksimum adalah 70 tahun. Semua pasien yang terdaftar
adalah dari ras Kaukasia. dengan diagnosis konjungtivitis bakteri yang ditandai dengan adanya
tiga tanda kardinal yaitu discharge yang purulen di konjungtiva, injeksi di konjungtiva bulbi dan
terdapat injeksi pada konjungtiva palpebra. Kemudian akan dilakukan pemilihan subjek
berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi.

Kriteria Inklusi :
-

Pasien wanita dan laki-laki antara 18 dan 70 tahun


Pasien dengan diagnosis klinis konjungtivitis bakteri yang ditandai dengan tiga tanda
kardinal : discharge konjungtiva yang purulen , injeksi konjungtiva bulbar , dan

injeksi konjungtiva palpebral


Kemampuan dan kemauan untuk mematuhi semua prosedur penelitian
Pasien yang telah diberikan dan menandatangani surat persetujuan

Kriteria Eksklusi :
-

Sedang hamil atau menyusui


hipersensitivitas terhadap fluoroquinolones atau benzalkonium klorida
sedang menggunakan obat tetes mata
Penggunaan lensa kontak selama penelitian
Terdapat hordeolum , sindrom Sjgren , erosi berulang sindrom , keratitis ,

glaukoma , ketajaman visual miskin


Setiap operasi mata dilakukan kurang dari 6 bulan sebelum memulai penelitian
Sejarah keganasan dalam 5 tahun terakhir sebelum masuk penelitian (kecuali sel basal

atau karsinoma skuamosa sel kulit )


Penggunaan Insulin -dependent diabetes mellitus
Penggunaan glukokortikosteroid atau terapi imunosupresif ( jika pengobatan ini tidak

memiliki dihentikan minimal 3 bulan sebelum dimulainya penelitian )


Penggunaan obat anti - inflamasi ( dengan kecuali aspirin dosis rendah )
Pengobatan antibiotik sistemik Sebelum dan bersamaan selama 7 terakhir hari
sebelum dimulainya penelitian

Kemudian subjek dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok A dan kelompok B.


Kelompok A mendapatkan terapi 1-2 tetes mata levofloxacin 0,5 % sebanyak 3 kali dalam sehari
selama 5 hari. Kelompok B mendapatkan terapi tetes mata levofloxacin setiap 2 jam pada hari 1,
2 dan setiap 4 jam pada hari 3,4, dan 5.
Selama pemberian terapi akan dilakukan pemantauan sebanyak 3 kali yaitu VI, V2 dan
V3. V1 dilakukan pada hari 1 pengobatan, V2 dilakukan pada hari ke 3 atau 4 pengobatan dan
V3 dilakukan pada hari ke 7. Pada pemantauan dan pemeriksaan V1 yang dicatat berupa data
demografi, riwayat penyakit, test kehamilan bagi subjek wanita, ketajaman penglihatan, gejala
klinis pada mata pasien, tanda ocular berupa discharge pada konjungtiva dan injeksi pada

konjungtiva bulbi dan konjungtiva palpebra, uji funduskopi tanpa penggunaan midriatil, swab
konjungtiva dan tanda-tanda vital berupa tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh.
Pada pemantauan V2 dilakukan pencatatan dan pemeriksaan berupa gejala klinis pada
mata pasien, ketajaman visus, tanda ocular berupa discharge pada konjungtiva dan injeksi pada
konjungtiva bulbi dan konjungtiva palpebra. tanda-tanda vital berupa tekanan darah, denyut nadi,
suhu tubuh.
Pada pemantauan V3 dilakukan pencatatan dan pemeriksaan gejala klinis pada mata
pasien, ketajaman visus, tanda ocular berupa discharge pada konjungtiva dan injeksi pada
konjungtiva bulbi dan konjungtiva palpebra, , uji funduskopi tanpa penggunaan midriatil, swab
konjungtiva dan tanda-tanda vital berupa tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh.
Keberhasilan pengobatan dilihat berdasarkan 2 parameter yaitu parameter efektifitas
primer dilihat berdasarkan kesembuhan klinis yang ditandai dengan penyembuhan tanda-tanda
kardinal. Parameter efektifitas

sekunder dilihat berdasarkan tingkat bakteri, yang ditandai

dengan jumlah bakteri yang ditemukan pada pemeriksaan mikrobiologi.


Tanda-tanda kardinal dinilai berdasarkan skala 4 poin yaitu: normal (0), ringan (1),
sedang (2), dan berat (3). Kemudian hasil klinis pengobatan dinilai dengan skala 4 poin yaitu :
skala (0-3): terapi selesai (0), meningkat (1), tidak ada perubahan (2), dan lebih buruk (3).
Hasil pemeriksaan mikrobiologi dinilai berdasarkan skala 4 poin yaitu : skala (0-3):
terapi selesai (0), meningkat (1), tidak ada perubahan (2), dan lebih buruk (3).

Hasil
Sebanyak 120 pasien yang terdaftar dalam penelitian ini.

memenuhi syarat untuk

menjadi subjek dalam penelitian, namun selama proses penelitian didapatkan

86 pasien

menyelesaikan studi dan 33 pasien dihentikan dari penelitian sebelum pemantauan V2 dan V3

dikarenakan pada pemeriksaan bakteriologi negatif (N = 27) , tidak mengikuti proses follow up
(n = 5) atau keduanya (n = 1).
Delapan puluh enam pasien ( 41 dosis eksperimental , 45 dosis klasik ) dievaluasi .
didapatkan perbedaan secara klinis dari penggunaan levofloxaxin dengan dosis eksperimen
dibandingkan penggunaan lefofloxacin dosis klasik. Namun perbedaan yang didapatkan tidak
signifikan degan melihat nilai p=0,3 ( 85,4 % pada eksperimen dan 93,3 % pada kelompok dosis
klasik p = 0,3 ) . Dari hasil pemeriksaan mikrobiologi didapatkan bahwa pemberian levofloxacin
dengan dosis eksperimental dan dosis klasik tidak didapatkan adanya perbedaan yang signifikan,
hal ini dibuktikan dangan nilai p= 0,67( 92,7 % dan 95,6 % , masing-masing p = 0.67 ) .
Kesimpulan
Tidak ada perbedaan statistik yang signifikan dalam keberhasilan atau keamanan antara
dua metode pemberian obat . hal yang dapat disimpulkan bahwa dengan metode pemberian tetes
mata levofloxacin 0,5% dengan dosis pemberian tiga kali sehari dapat meningkatkan kepatuhan
pasien, bila dibandingkan dengan pemberian tetes mata levofloxacin 0,5% dengan dosis klasik
yaitu setiap 2 jam pada hari 1, 2 dan setiap 4 jam pada hari 3,4 dan 5.