Anda di halaman 1dari 177

PERSEPSI STAKEHOLDERS TERHADAP PROGRAM BANTUAN

SOSIAL KEMENTERIAN PEMBANGUNAN DAERAH


TERTINGGAL
DI KABUPATEN KAUR PROVINSI BENGKULU

TUGAS AKHIR
Program Studi S1 Perencanaan Wilayah dan Kota
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai
Gelar Sarjana Teknik

Diajukan Oleh:
Median Tri Widyasana
10/301549/TK/37040

JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR DAN PERENCANAAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya
yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan
Tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat
yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis
diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Yogyakarta,

Agustus 2014

Median Tri Widyasana


10/301549/TK/37040

... Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat..
(Qs. Al Mujadillah ayat 11)
SesungguHnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan maka apabila kamu telah
selesai (dari semua urusan) maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan)
yang lain dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap
(Qs. Al-Insyiroh ayat 6-8)
SKRIPSI INI SAYA PERSEMBAHKAN UNTUK KEDUA ORANG TUA SAYA YANG SANGAT SAYA
HORMATI DAN SAYA BANGGAKAN
BAPAK SUYANTA DAN IBU MADE SUARTASIH
TANPA MEREKA BERDUA SAYA TIDAK AKAN MENJADI SEPERTI SEKARANG INI
SKRIPSI INI JUGA SAYA PERSEMBAHKAN KEPADA KEDUA SAUDARA SAYA
METRIKANA NOVEMBRINA DAN MATRA DWI NUGROHO
TANPA MEREKA, SAYA TIDAK MEMPUNYAI PANUTAN DALAM MENJALANI HIDUP
SKRIPSI INI JUGA SAYA PERSEMBAHKAN UNTUK DIA YANG SUDAH DAN AKAN
MENEMANI HIDUP SAYA DI DUNIA INI
PUTRI UTAMI
TERIMAKASIH UNTUK MASA-MASA INDAH SELAMA KULIAH, SEMOGA TERUS
BERLANJUT HINGGA SETERUSNYA

HIDUP ITU SINGKAT, LAKUKANLAH UNTUK HAL-HAL YANG BERMANFAAT DAN


MENYENANGKAN
TERINGAT MOTO SAYA WAKTU SMA, KENAPA HARUS HARI INI KALAU BISA
DILAKUKAN BESOK DAN ITU TERNYATA SALAH KARENA, APA YANG HARI INI KALAU
BUKAN KEMARIN DAN APA YANG BESOK KALAU BUKAN HARI INI

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas berkah dan hidayah-Nya,
penelitian yang berjudul Persepsi Stakeholders Terhadap Program Bantuan
Sosial KPDT di Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu, dapat diselesaikan. Tugas
akhir ini disusun sebagai syarat kelulusan Strata 1, Program Studi Perencanaan
Wilayah dan Kota, Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik,
Universitas Gadjah Mada.
Dalam proses penyusunan skripsi ini, telah banyak pihak yang membantu
sehingga tugas akhir ini dapat diselesaikan dengan baik. Pada kesempatan ini,
penulis mengucapkan terima kasih kepada
1.

Bapak Prof. Ir. Bakti Setiawan, MA, Ph.D, selaku Ketua Jurusan Teknik
Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada.

2.

Bapak Prof. Ir. Bakti Setiawan, MA, Ph.D, yang juga sebagai dosen
pembimbing Tugas Akhir yang telah dengan sabar memberikan waktu,
dukungan, pengarahan dan koreksi bagi penelitian ini.

3.

Pak Iwan dan Bu Ratna sebagai dosen penguji yang sudah memberikan
masukan yang sangat membangun dan membimbing dalam penyelesaian
skripsi ini.

4.

Kedua orang tua (Bapak Drs.Suyanta dan Ibu Made Suartasih,S.Pd) yang
sudah senantiasa memberikan dukungan, baik dukungan moral dan juga
dukungan finansial untuk menyelesaikan penelitian ini.

5.

Kedua saudara dan saudari saya, Matra Dwi Nugroho dan Metri Kana
Novembrina yang selalu mendukung selama penelitian ini.

6.

Putri Utami, yang selalu memberikan semangat serta selalu mengingatkan


dalam upaya menyelesaikan penelitian ini.

7.

Bagian pengajaran Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan atas


bantuannya.

8.

Bang Andi yang telah dengan senang hati memberikan bantuan baik
informasi dan juga waktunya pada saat di lokasi penelitan Kabupaten
Kaur.

9.

Teman-teman seperjuangan Keluarga Teknik Perencanaan Wilayah dan


Kota Angkatan 2010 atas kerja sama dan dukungannya.

10.

Semua pihak di Kabupaten Kaur yang sudah bersedia memberikan waktu


dan informasi pada saat wawancara.

11.

Semua pihak lain yang tidak bisa disebutkan namanya satu persatu atas
semua bantuannya.
Tugas akhir yang berjudul Persepsi Stakeholders Terhadap Program

Bantuan Sosial KPDT di Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu ini diharapkan


dapat memberikan manfaat bagi pemerintah dalam menurunkan program dalam
upaya mengentaskan daerah tertinggal. Penulis menyadari adanya berbagai
keterbatasan dan kekurangan dalam penelitian ini. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan saran untuk penyempurnaan yang lebih lanjut.

Sleman, 20 Agustus 2014

Median Tri Widyasana


10/301549/TK/37040

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL . i
HALAMAN PENGESAHAN... ii
HALAMAN PERSEMBAHAN iii
KATA PENGANTAR... iv
DAFTAR ISI..viii
DAFTAR TABEL .................................................................................................xi
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. xiii
INTISARI ............................................................................................................... xv
ABSTRACT ........................................................................................................... xvi
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penelitian ............................................................................ 1
1.2. Pertanyaan Penelitian ................................................................................... 4
1.3. Tujuan Penelitian ........................................................................................ 4
1.4. Manfaat Penelitian ...................................................................................... 4
1.5. Batasan Penelitian ....................................................................................... 5
1.5.1 Fokus ............................................................................................... 5
1.5.2 Lokus ............................................................................................... 5
1.6. Keaslian Penelitian ...................................................................................... 6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ketertinggalan .............................................................................................. 7
2.2 Otonomi Daerah ......................................................................................... 12
2.3 Pemekaran Daerah ..................................................................................... 13
2.4 Persepsi ...................................................................................................... 14
2.5 Indikator Kinerja ........................................................................................ 16
2.5.1 Indikator Kinerja Output ................................................................ 18
2.5.2 Indikator Kinerja Outcome ............................................................ 19
2.6 Kebijakan Publik ........................................................................................ 20
2.6.1 Definisi Kebijakan Publik .............................................................. 20
2.6.2 Evaluasi Kebijakan Publik ............................................................. 23
2.7 Kemiskinan ................................................................................................ 24
2.8 Landasan Penelitian ................................................................................... 27
BAB 3 METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian ................................................................................ 30
3.2 Unit Analisis dan Unit Amatan ................................................................. 31
3.3 Alat dan Instrumen Penelitian ................................................................... 32
3.4 Cara dan Langkah Pengumpulan Data ...................................................... 33
3.4.1 Data Sekunder ................................................................................ 33
3.4.2 Data Primer .................................................................................... 33
3.5 Tahapan Penelitian ..................................................................................... 33
3.6 Cara Analisis Data ..................................................................................... 37

viii

3.6.1
3.6.2
3.6.3

Gambaran Kondisi Ketertinggalan................................................. 37


Persepsi Stakeholders Terhadap Program Bantuan Sosial............. 37
Kesesuaian Program Bantuan Sosial dengan Kondisi
Ketertinggalan di Kabupaten Kaur ................................................ 38

BAB 4 DESKRIPSI KETERTINGGALAN KABUPATEN KAUR


4.1 Deskripsi Umum Kabupaten Kaur ............................................................. 39
4.2 Gambaran Kondisi Ketertinggalan di Kabupaten Kaur ............................. 42
4.2.1 Ekonomi ......................................................................................... 44
A. Persentase Penduduk Miskin .......................................................... 45
B. Pengeluaran Konsumsi Perkapita ................................................... 46
4.2.2 Sumber Daya Manusia ................................................................... 46
A. Angka Harapan Hidup .................................................................... 47
B. Rata-Rata Lama Sekolah ................................................................ 48
C. Angka Melek Huruf........................................................................ 50
4.2.3 Infrastruktur ................................................................................... 52
A. Infrastruktur Transportasi ............................................................... 52
B. Infrastruktur Kebutuhan Dasar Rumah Tangga ............................. 54
C. Jumlah Desa Dengan Pasar Tanpa Bangunan Permanen ............... 55
D. Infrastruktur Kesehatan dan Pendidikan ........................................ 56
4.2.4 Kapasitas Kelembagaan ................................................................. 58
4.2.5 Aksesibilitas ................................................................................... 59
A. Jarak Kantor Desa/Kelurahan Ke Kantor
Kabupaten atau kantor yang membawahi ...................................... 60
B. Jumlah desa dengan akses ke pelayanan kesehatan > 5 km ........... 61
C. Akses ke pelayanan pendidikan dasar ............................................ 62
4.2.6 Karakteristik Daerah ...................................................................... 62
4.2.7 Kondisi Ketertinggalan Di Kabupaten Kaur .................................. 67
BAB 5 HASIL TEMUAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Bantuan Sosial Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal .................. 69
5.1.1 Deskripsi Bantuan Sosial KPDT .................................................... 69
5.1.2 Bantuan Sosial KPDT di Kabupaten Kaur ..................................... 72
A. Bantuan Sosial Bidang Lembaga dan Sumber Daya ............... 74
B. Bantuan Sosial Bidang Peningkatan Infrastruktur .................. 77
C. Bidang Pembinaan Ekonomi dan Dunia Usaha ...................... 94
D. Bidang Pengembangan Sumber Daya ..................................... 97
E. Bidang Pengembangan Daerah Khusus ................................ 101
5.1.3 Persepsi Stakeholder Terhadap Bansos KPDT ............................ 102
A. Efektifitas ............................................................................... 103
B. Manfaat .................................................................................. 107
C. Kesesuaian dengan Kebutuhan .............................................. 115
D. Keberlanjutan ......................................................................... 121
5.1.4 Pandangan Terhadap KPDT......................................................... 124
5.1.5 Rekomendasi Pelaksanaan Program Bantuan Sosial ................... 126
5.2 Kesesuaian Dengan Kondisi Ketertinggalan di Kabupaten Kaur ............ 130

ix

5.2.1

5.2.2
5.2.3
5.2.4
5.2.5
5.2.6

Indikator Ekonomi ....................................................................... 136


A. Penguatan Modal dan Aset .................................................... 138
B. Peningkatan Produktivitas Masyarakat .................................. 139
C. Peningkatan Pengetahuan ...................................................... 140
Indikator Sumber Daya Manusia ................................................. 141
Indikator Infrastruktur .................................................................. 143
Indikator Kapasitas Kelembagaan ............................................... 144
Indikator Karakteristik Daerah..................................................... 145
Kesesuaian Program dengan Karakter Daerah............................. 145

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN


6.1 Kesimpulan .............................................................................................. 146
6.2 Saran ........................................................................................................ 147
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... xv
LAMPIRAN .........................................................................................................xvi

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 -1
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel

2.6 -1
2.6 -2
2.6 -3
3.5 -1
3.5 -2
3.5 -3
4.1 -1

Tabel 4.1 -2
Tabel 4.2 -1
Tabel 4.2 -2
Tabel 4.2 -3
Tabel 4.2 -4
Tabel 4.2 -5
Tabel 4.2 -6
Tabel 4.2 -7
Tabel 4.2 -8
Tabel 4.2 -9
Tabel 4.2 -10
Tabel 4.2 -11
Tabel 4.2 -12
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel

4.2 -13
4.2 -14
4.2 -15
4.2 -16
4.2 -17

Tabel
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel

5.1 -1
5.1 -2
5.1 -3
5.1 -3
5.2 -1
5.2 -2

Indikator Utama dan Sub Indikator Penentuan


Daerah Tertinggal.. 11
Tujuan dari Kebijakan Publik... 22
Pendekatan Evaluasi Kebijakan Publik. 22
Kriteria Evaluasi Kebijakan Publik... 23
Daftar Narasumber Instansi Pemerintah Daerah 35
Daftar Narasumber Akademisi.. 35
Daftar Narasumber Masyarakat. 36
Luas Kecamatan, Jumlah Desa dan Kelurahan di
Kabupaten Kaur. 40
Sex Ratio Penduduk Kabupaten Kaur Tahun 2012 42
Indikator Utama dan Sub Indikator Daerah Tertinggal. 43
Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Kaur
Tahun 2008 2012 44
Tingkat Kemiskinan Kabupaten Kaur Tahun 2008 2012.. 45
Pertumbuhan Pengeluaran Perkapita Disesuaikan (PPP)
Tahun 2008 2012 46
Angka Harapan Hidup Kabupaten Kaur Tahun 2008 2012 47
Perkembangan Indikator Pendidikan di Kabupaten Kaur
Tahun 2008 2012... 48
Rasio Murid Sekolah dan Murid Guru Tahun 2012 49
Perkembangan Indikator Pendidikan di Kabupaten Kaur
Tahun 2008 2012 50
Sub Indikator Infrastruktur 52
Perkembangan Infrastruktur Transportasi..... 53
Perkembangan Persentase Pengguna Listrik dan Telepon di
Kabupaten Kaur. 54
Perkembangan Infrastruktur Kesehatan dan Pendidikan
di Kabupaten Kaur. 57
Fiscal Gap Kabupaten Kaur.. 58
Total Pendapatan Daerah di Kabupaten Kaur 59
Jarak Lurus Kantor Kecamatan dengan Kantor Kabupaten. 60
Sub Indikator Karakteristik Daerah.. 63
Hasil Rekapitulasi Kondisi Ketertinggalan di Kabupaten Kaur
Berdasarkan Indikator KPDT 67
Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Kaur . 74
Data Bansos Pembangkit Listrik di Kabupaten Kaur. 78
Pandangan Stakeholders Terhadap KPDT.. 126
Rekomendasi Stakeholders Terhadap Bansos... 126
Daftar Indikator Bermasalah di Kabupaten Kaur.. 126
Matriks Indikator Masalah, Kegiatan Pemerintah
Daerah, Bantuan Sosial KPDT... 131

xi

Tabel 5.2 -3
Tabel 5.2 -4
Tabel 5.2 -5

Kegiatan yang Bertujuan Penguatan Modal


dan Penguatan Aset. 138
Kegiatan yang Bertujuan Peningkatan
Produktivitas Masyarakat 139
Kegiatan yang Bertujuan Meningkatkan Pengetahuan.. 141

xii

DAFTAR GAMBAR
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar

2.6 -1
2.8 -1
4.1 -1
4.1 -2

Gambar 4.2 -1
Gambar 4.2 -2
Gambar 4.2 -3
Gambar 4.2 -4
Gambar 4.2 -5
Gambar 4.2 -6
Gambar 5.1 -1
Gambar 5.1 -2
Gambar 5.1 -3
Gambar 5.1 -4
Gambar 5.1 -5
Gambar 5.1 -6
Gambar 5.1 -7
Gambar 5.1 -8
Gambar 5.1 -9
Gambar 5.1 -10
Gambar 5.1 -11
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar

5.1 -12
5.1 -13
5.1 -14
5.1 -15
5.1 -16

Gambar 5.1 -17

Tujuan Kebijakan Publik


Kerangka Penelitian
Peta Administrasi Kabupaten Kaur
Diagram Perkembangan Jumlah Penduduk Tahun
2008 2012 di Kabupaten Kaur
Salah Satu Kondisi Jalan di Kabupaten Kaur
Diagram Rumah Tangga yang mempunyai Akses Terhadap
Air Bersih Tahun 2012
Salah Satu Kondisi Jalan di Kecamatan Tanjung Kemuning
Kabupaten Kaur
Salah satu hutan yang Dibakar untuk dijadikan area
perkebunan
Kiri : Pinggir jalan yang longsor di Kecamatan Nasal
Kanan : Rumah yang berada di daerah rawan bencana
Kiri : Permukiman yang berada di pinggir sungai
Kanan : Kerusakan akibat banjir
Struktur Organisasi Kementerian Pembangunan Daerah
Tertinggal
Bagan Uraian Bantuan Sosial Penguatan Kelembagaan
Bagan Uraian Bantuan Sosial Pembinaan Usaha Kecil
dan Menengah
Bagan Kegiatan Bansos Bidang Pembinaan Lembaga
dan Sumberdaya di Kabupaten Kaur
Bagan Uraian Bansos Pengadaan Pembangkit Listrik
Bagan Uraian Bansos Peningkatan Infrastruktur Handtraktor
dan Mobil Rice Miller
Kiri : Salah satu tempat produksi kopi luwak di Kaur
Kanan : Hasil produksi kopi yang siap dipasarkan
Bagan Uraian Bantuan Sosial Warung Informasi Masyarakat
dan ICT
Bagan Uraian Bantuan Sosial Peningkatan Infrastruktur
Jalan Desa
Bagan Uraian Bantuan Sosial Pengadaan Sarana Infrastruktur
Kesehatan
Bagan Uraian Bantuan Sosial Peningkatan Infrastruktur
Pasar Desa
Bagan Bantuan Sosial Bidang Peningkatan Infrastruktur
Tempat Produksi Kopi di Kaur Selatan
Mesin Pembuat Kopi di Kaur Selatan
Hasil Produksi Kopi Yang Unik, Kopi Luwak
Bagan Uraian Bantuan Sosial Pengembangan Komoditas
Unggulan
Bagan Uraian Bantuan Sosial Modal Usaha dan Sarana
Informasi Ekonomi

20
29
40
41
53
55
61
64
65
65
66
66
70
75
76
77
79
82
84
84
85
88
90
92
93
94
95
96
96
98

xiii

Gambar 5.1 -18 Bagan Uraian Bantuan Sosial Bidang Pembinaan Ekonomi
Dan Dunia Usaha
Gambar 5.1 -19 Bantuan Sosial Pengelolaan Limbah Ternak Menjadi
Biogas
Gambar 5.1 -20 Bagan Uraian Bantuan Sosial Bidang Pengembangan
Sumber Daya
Gambar 5.1 -21 Bagan Uraian Bantuan Sosial Bidang Pengembangan
Daerah Khusus
Gambar 5.1 -22 Bagan Pemetaan Sub Tema Bentuk Bantuan Sosial yang
Telah Diberikan
Gambar 5.1 -23 Bagan Pemetaan Sub Tema Pencapaian Hasil yang
Diharapkan
Gambar 5.1 -24 Bagan Pemetaan Sub Tema Peningkatan Perekonomian
Masyarakat
Gambar 5.1 -25 Bagan Pemetaaan Tema Persepsi Stakeholders Terhadap
Efektifitas Bantuan Sosial
Gambar 5.1 -26 Bagan Pemetaan Sub Tema Manfaat Tidak Langsung
Gambar 5.1 -27 Bagan Pemetaan Sub Tema Manfaat Langsung
Gambar 5.1 -28 Bagan Pemetaan Sub Tema Manfaat Jangka Panjang
Gambar 5.1 -29 Bagan Pemetaan Sub Tema Manfaat Jangka Pendek
Gambar 5.1 -30 Bagan Pemetaan Tema Persepsi Stakeholders terhadap
Manfaat dari Bantuan sosial KPDT
Gambar 5.1 -31 Bagan Pemetaan Sub Tema Usaha Meningkatkan
Produktivitas SDM Kabupaten Kaur
Gambar 5.1 -32 Bagan Pemetaan Sub Tema Usaha Meningkatkan Kualitas
SDA di Kabupaten Kaur
Gambar 5.1 -32 Bagan Pemetaan Sub Tema Pemahaman akan Kebutuhan
Daerah
Gambar 5.1 -33 Bagan Pemetaan Tema Persepsi Stakeholders terhadap
Kesesuaian Bantuan Sosial dengan Kebutuhan
Gambar 5.1 -34 Bagan Pemetaan Sub Tema Kontinyu
Gambar 5.1 -35 Bagan Pemetaan Sub Tema Tidak Kontinyu
Gambar 5.2 -1 Diagram Cara Penanggulangan Indikator Ekonomi
di Kabupaten Kaur
Gambar 5.2 -2 Diagram Hubungan Antara Kesehatan dengan Ekonomi
Gambar 5.2 -3 Diagram Hubungan Pembangunan Jalan dengan
Peningkatan Ekonomi Masyarakat

99
100
101
102
104
105
106
107
109
111
113
114
115
117
119
120
121
122
123
137
142
144

xiv

INTISARI
Pemekaran daerah di Indonesia menyebabkan banyak daerah baru yang
tergolong dalam daerah tertinggal. Kondisi ketertinggalan tersebut digambarkan
melalui 6 indikator utama oleh Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT),
yaitu ekonomi, SDM, infrastruktur, aksesibilitas, kapasitas kelembagaan dan
karakteristik daerah. Pemerintah daerah dan pemerintah pusat melalui KPDT telah
melakukan upaya untuk mengentaskan kondisi ketertinggalan ini melalui berbagai
program-program, salah satunya adalah program bantuan sosial (bansos) dari KPDT.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana persepsi stakeholders di daerah
tertinggal terhadap bantuan sosial yang diberikan oleh KPDT ini. Selain itu, penelitian
ini juga bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kecocokan antara bantuan sosial
yang diberikan dengan kondisi ketertinggalan di daerah tertinggal.
Penelitian ini mengambil lokasi di Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu
sebagai salah satu kabupaten tertinggal yang telah ditetapkan KPDT. Penelitian ini
menggunakan metode induktif kualitatif. Berdasarkan metode yang digunakan,
penulis dapat mengetahui bagaimana persepsi stakeholders terhadap bantuan sosial
yang diberikan di Kabupaten Kaur.
Hasil penelitian ini menunjukkan gambaran mengenai kondisi ketertinggalan
yang berbeda di tiap kabupaten. Indikator yang menyatakan ketertinggalan di
Kabupaten Kaur adalah ekonomi, SDM, infrastruktur, kapasitas kelembagaan dan
karakteristik daerah. Maka dari itu, program-program yang diturunkan harus
menyesuaikan dengan kebutuhan daerah. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa
program-program yang diturunkan di Kabupaten Kaur secara umum sudah sesuai
dengan kondisi ketertinggalan di Kabupaten Kaur, terutama program dari pemerintah
pusat (bansos KPDT) yang memang bertujuan untuk mengentaskan kondisi
ketertinggalan di Kabupaten Kaur. Selain itu, stakeholders di Kabupaten Kaur
menunjukkan bahwa bantuan sosial yang diberikan sangat bermanfaat dan juga sangat
efektif dalam upaya pengentasan kondisi ketertinggalan di Kabupaten Kaur.
Peningkatan program-program pembangunan daerah tertinggal di daerah tertinggal
harus lebih ditingkatkan, terutama program-program dari pemerintah pusat yang
berupa bansos. Hal ini dikarenakan daerah tertinggal belum mampu menjalankan
program-program pengentasan daerah tertinggal jika hanya mengandalkan dana yang
berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Kata Kunci : KPDT, Daerah Tertinggal, Bansos

xv

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Sejak terjadi pergeseran paradigma di Indonesia, yaitu dari sentralisasi

(pemerintahan yang terpusat) menuju desentralisasi (penyerahan kewenangan


kepada pemerintah daerah) telah banyak memberikan perubahan pada wajah
pemerintahan Indonesia. Perubahan yang paling siginifikan terjadi pada sisi
pembangunan. Adapun perubahan-perubahan yang terjadi pada sisi pembangunan
ini, diharapkan menjadi salah satu dampak positif pergeseran paradigma yang
akan menghilangkan kesenjangan pembangunan antara pusat dan daerah seperti
yang terjadi pada saat diberlakukannya sistem sentralisasi di Indonesia.
Pergesaran paradigma yang terjadi ini telah memberikan kesempatan
kepada daerah-daerah di Indonesia untuk mengurus daerahnya secara mandiri,
sehingga diharapkan pemerintah daerah dapat membangun daerah mereka secara
lebih cepat. Hal tersebut menjadi penyebab banyaknya daerah di Indonesia
melakukan pemekaran atau pembuatan daerah baru. Pemekaran ini banyak terjadi
di daerah-daerah yang merasa terjadi kondisi kesenjangan pembangunan yang
sangat tinggi, seperti daerah-daerah di pulau Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, dan
Papua.
Dasar hukum pemekaran wilayah di Indonesia adalah Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang merupakan
pembaharuan dari Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan
Daerah. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, terdapat tiga
persyaratan yang mutlak harus dipenuhi dalam rangka pembentukan daerah baru,
yaitu persyaratan administrasi, persyaratan teknis dan persyaratan fisik wilayah.
Syarat administrasi adalah mendapatkan persetujuan dari DPRD
kabupaten/kota yang akan mengalami pemekaran serta bupati/walikota, DPRD
provinsi dan rekomendasi dari Menteri Dalam Negeri. Sedangkan persyaratan
teknis mencakup faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan daerah hasil
pemekaran, yaitu kemampuan ekonomi, potensi daerah, dan sosial budaya.

69

Sementara persyaratan fisik meliputi minimal terdapat empat kecamatan dalam


kabupaten yang akan dimekarkan (UU No 32 Tahun 2004).
Berdasarkan tiga syarat dalam undang-undang tersebut, terutama dalam
hal persyaratan teknis, seharusnya daerah yang akan dimekarkan telah mengetahui
potensi daerah yang dapat dikembangkan sehingga pada saat paska pemekaran,
kabupaten baru tersebut dapat segera berkembang. Akan tetapi yang terjadi dalam
beberapa tahun terakhir ini, sebagian besar dari kabupaten-kabupaten baru yang
mengalami pemekaran masih tergolong dalam kabupaten yang tertinggal
berdasarkan data Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT). Kondisi
ini tertuang dalam Keputusan Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal
nomor:

006/PER/M-PDT/1/2010

tentang

Rencana

Strategis

Kementerian

Pembangunan Daerah Tertinggal Tahun 2010 2014.


Keadaan seperti ini perlu mendapat perhatian khusus terkait pemekaran
daerah yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini. Pertanyaan mendasar yang
muncul adalah apakah daerah-daerah yang ingin mekar tersebut telah benar-benar
siap untuk melakukan pemekaran atau belum. Bila daerah yang akan mekar
tersebut belum siap, dampak yang diperoleh hanya akan semakin membebani
pemerintah pusat karena tidak sesuai dengan tujuan awal dari pembentukan
daerah baru (otonomi daerah).
Sejak diberlakukannya undang-undang No 22 Tahun 1999 yang diperbarui
menjadi undang-undang No 32 Tahun 2004 sudah terjadi 205 pemekaran di
Indonesia, yang terdiri dari 7 provinsi, 164 kabupaten dan 34 kota hingga tahun
2011. Melihat hal ini, telah terjadi peningkatan 64% daerah otonom baru atau
dapat diartikan muncul 20 daerah otonom baru setiap tahunnya. Hingga saat ini,
terdapat 34 provinsi, 398 kabupaten dan 93 kota. Jika dibandingkan dengan data
KPDT berdasarkan Permen PDT No 1 Tahun 2005, terdapat 199 daerah yang
tergolong ke dalam daerah tertinggal pada tahun 2005. Sebagian besar daerah
yang digolongkan ke dalam daerah tertinggal oleh KPDT adalah daerah yang baru
melakukan pemekaran. Jumlah ini mulai berkurang pada tahun 2010, dimana
jumlah daerah tertinggal menjadi 183 daerah dan terdapat 34 daerah otonom baru
(Renstra PDT tahun 2010 2014).

70

Hal yang sama terjadi pada Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu.


Kabupaten Kaur merupakan salah satu kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten
Bengkulu Selatan pada tahun 2003 melalui undang-undang Nomor 3 tahun 2003.
Pada UU No 3 tahun 2003, terbentuk 3 kabupaten baru di Provinsi Bengkulu,
yaitu Kabupaten Muko-Muko, Kabupaten Seluma dan Kabupaten Kaur.
Kabupaten Kaur masih tergolong sebagai salah satu kabupaten yang
tertinggal, padahal paska pemekaran dari Kabupaten Bengkulu Selatan telah
berlangsung selama lebih dari 10 tahun. Hal itu dijelaskan dalam Keputusan
Menteri

Negara

Pembangunan

Daerah

Tertinggal

nomor:

006/PER/M-

PDT/1/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Pembangunan Daerah


Tertinggal Tahun 2010 2014. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dicermati
lagi mengenai langkah-langkah yang sudah dilakukan oleh pemerintah daerah
Kabupaten Kaur. Hal ini dikarenakan 10 tahun paska pemekaran, pemerintah
sebagai alat untuk merekayasa kondisi awal, baik itu sumber daya manusia
ataupun sumber daya alam untuk mensejahterakan masyarakat, belum mampu
menjalankan fungsinya dengan maksimal. Sehingga, dapat ditarik kesimpulan
bahwa program dan kebijakan pemerintah daerah selama ini belum mampu
melepaskan Kabupaten Kaur dari kondisi ketertinggalan.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka pemerintah pusat dirasa perlu untuk
turun tangan mengevaluasi dan membantu perkembangan daerah-daerah yang
masih dalam kondisi tertinggal. Hal ini ditunjukkan melalui Kementerian
Pembangunan Daerah Tertinggal yang mempunyai tugas menyelenggarakan
urusan di bidang pembangunan daerah tertinggal dalam peranannya untuk
membantu Presiden menyelenggarakan pemerintahan negara. Bentuk bantuan
yang di berikan melalui kementerian ini bermacam-macam, salah satunya adalah
dalam bentuk bantuan sosial (bansos) untuk daerah tertinggal.
Kabupaten Kaur sebagai salah satu kabupaten dengan kondisi yang masih
tertinggal, tentu saja telah mendapatkan bantuan sosial dari Kementerian
Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT). Adapun yang menjadi pertanyaan
adalah apakah bantuan sosial yang diberikan oleh KPDT tersebut sudah tepat
sasaran atau dalam hal ini apakah pemerintah daerah telah merasakan manfaat

71

bantuan sosial yang diberikan oleh KPDT tersebut. Dan apakah bantuan sosial
yang diberikan telah sejalan dengan program dari pemerintah daerah itu sendiri,
dalam hal ini pemerintah Kabupaten Kaur. Berdasarkan hal diatas, peneliti merasa
perlu untuk melakukan penelitian terkait dengan persepsi dari stakeholders
mengenai bantuan sosial yang diberikan oleh KPDT terhadap daerah tertinggal
ini. Hal ini ditujukan agar bantuan sosial yang diberikan dapat berdampak secara
maksimal kepada daerah tertinggal.

1.2

Pertanyaan Penelitian
Mengacu kepada latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka

rumusan masalah yang muncul adalah bagaimana persepsi stakeholders terkait


dengan pemberian bantuan sosial di daerah tertinggal, khususnya di Kabupaten
Kaur sebagai lokasi pada penelitian ini. Selain itu, muncul juga pertanyaan,
apakah bantuan sosial yang diberikan oleh KPDT sudah sesuai dengan kondisi
ketertinggalan di Kabupaten Kaur sebagai salah satu kabupaten yang tertinggal.

1.3

Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini

adalah untuk mengetahui persepsi stakeholders mengenai bantuan sosial yang


diberikan oleh KPDT kepada daerah tertinggal dan juga untuk melihat kesesuaian
antara bantuan sosial yang diberikan oleh KPDT dengan kondisi ketertinggalan di
Kabupaten Kaur sebagai salah satu kabupaten tertinggal.

1.4

Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini antara lain:

1.4.1 Bagi Pemerintah


Penelitian ini diharapkan menjadi salah satu rekomendasi pemerintah, baik
itu pemerintah daerah Kabupaten Kaur itu sendiri ataupun pemerintah pusat
melalui Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal dalam hal pengadaan
program yang ditujukan untuk pelepasan dari kondisi ketertinggalan.

72

1.4.2 Bagi Akademisi


Dapat menjadi acuan bagi akademisi dalam hal perumusan mengenai
program-program

pembangunan,

terkhusus

untuk

pengembangan

daerah

tertinggal.

1.5

Batasan Penelitian

1.5.1

Fokus
Fokus penelitian ini dibagi menjadi 2, yaitu: pertama, persepsi

stakeholders di Kabupaten Kaur mengenai bantuan sosial yang diberikan.


Stakeholders berpusat kepada pemerintah daerah sebagai pelaksana dari bantuan
sosial yang diberikan oleh KPDT ini, selain itu juga terdapat beberapa
masuyarakat sebagai penerima dari bantuan sosial. Fokus yang kedua adalah
kesesuaian bantuan sosial dengan kondisi ketertinggalan yang ada di Kabupaten
Kaur. Hal ini dikarenakan kondisi ketertinggalan tiap daerah tertinggal, berbeda
satu sama lain. Sehingga program bansos yang diberikan tidak dapat disamakan
pada tiap daerah.

1.5.2

Lokus
Lokasi dari penelitian ini adalah Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu.

Pemilihan lokasi ini berdasarkan data dari Kementerian Pembangunan Daerah


Tertinggal, dimana berdasarkan Keputusan Menteri Negara Pembangunan Daerah
Tertinggal

nomor:

006/PER/M-PDT/1/2010

tentang

Rencana

Strategis

Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal Tahun 2010 2014, dinyatakan


Kabupaten Kaur merupakan salah satu kabupaten yang masih tergolong berada
dalam kondisi tertinggal.
Pemilihan lokasi penelitian di Kabupaten Kaur ini juga dikarenakan
ketersediaan data yang diperlukan dalam penelitian kali ini sebagian besar sudah
dimiliki oleh peneliti, sehingga diharapkan dalam proses penelitian akan menjadi
lebih mudah. Selain itu, pemilihan lokasi penelitian di Kabupaten Kaur ini
dikarenakan tempat tinggal peneliti yang berada di kota Bengkulu sehingga proses
penelitian akan menjadi lebih ringan.
73

1.6

Keaslian Penelitian
Beberapa penelitian telah membahas mengenai pemekaran wilayah di

Indonesia. Salah satu penelitian tersebut adalah penelitian yang dilakukan oleh
Rona Muliana dengan judul Dampak Kebijakan Pemekaran terhadap
Perkembangan Wilayah Kabupaten Induk Studi Kasus Kabupaten Kampar. Pada
penelitian ini, Rona Muliana membahas mengenai dampak dari pemekaran
wilayah terhadap perkembangan kabupaten induk. Kabupaten induk merupakan
kabupaten yang dipecah menjadi beberapa kabupaten dengan adanya pemekaran
wilayah. Penelitian ini meneliti dampak dari perkembangan kabupaten sesudah
dan sebelum terjadinya pemekaran wilayah. Rona Muliana menggunakan
pendekatan deduktif kualitatif-kuantitatif dengan paradigma rasionalistik.
Berdasarkan penelitian ini, Rona Muliana mengambil kesimpulan bahwa
perkembangan Kabupaten Kampar paska pemekaran secara makro cenderung
tetap dimana perkembangan yang terjadi terbatas hanya pada pembangunan fisik.
Selain itu terdapat juga penelitian yang membahas mengenai persepsi
stakeholders, salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Ratna Eka
Suminar dengan judul Persepsi Stakeholders terhadap pelaksanaan program
Community Development PT Chevron Pacific Indonesia di Provinsi Riau. Dalam
penelitian ini, Ratna Eka Suminar menyimpulkan bahwa program CD PT CPI
sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Hasil dari pelaksanaan program CD
sudah sesuai dengan target dan tujuan yang telah direncanakan. Akan tetapi
terdapat beberapa temuan lainnya dalam CD PT CPI ini, yaitu terdapat
penyalahgunaan bantuan yang telah diberikan untuk kepentingan pihak lain.
Sedangkan penelitian kali ini lebih membahas bagaimana persepsi
stakeholders di daerah tertinggal terhadap program bantuan sosial KPDT sebagai
salah satu program untuk pengentasan kondisi ketertinggalan di Indonesia. Pada
penelitian ini, juga dibahas mengenai keseuaian bantuan sosial yang diberikan di
daerah tertinggal dengan kondisi ketertinggalan. Hal ini dikarenakan kondisi
ketertinggalan di tiap daerah tertinggal berbeda antara satu dengan yang lainnya.

74

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Ketertinggalan
Konsep Daerah Tertinggal telah dirumuskan dalam Kepmen PDT nomor 1

Tahun 2005 tentang Strategi Nasional Pembangunan Daerah Tertinggal, dimana


daerah tertinggal adalah daerah kabupaten yang relatif kurang berkembang
dibandingkan daerah lain berdasarkan skala nasional, dan berpenduduk yang
relatif tertinggal. Pada Kepmen PDT nomor 1 tahun 2005 juga dijelaskan faktorfaktor yang dianggap sebagai penyebab dari kondisi ketertinggalan, yaitu:
1.

Geografis
Umumnya secara geografis, daerah tertinggal relatif sulit dijangkau karena
letaknya yang jauh di pedalaman, perbukitan/pegunungan, kepulauan,
pesisir, dan pulau-pulau terpencil atau karena faktor geomorfologi lainnya.
Sehingga lokasinya sulit dijangkau oleh jaringan, baik transportasi
maupun media komunikasi.

2.

Sumber Daya Alam


Beberapa daerah tertinggal tidak memiliki potensi sumber daya alam,
daerah yang memiliki sumber daya alam yang besar namun lingkungan
sekitarnya merupakan daerah yang dilindungi atau tidak di eksploitasi, dan
daerah tertinggal akibat pemanfaatan sumber daya alam yang berlebihan.

3.

Sumber Daya Manusia


Pada umumnya, masyarakat di daerah tertinggal mempunyai tingkat
pendidikan, pengetahuan dan keterampilan yang relatif rendah serta
kelembagaan adat yang belum berkembang.

4.

Prasarana dan Sarana


Keterbatasan prasarana dan sarana komunikasi, transportasi, air bersih,
irigasi, kesehatan, pendidikan dan pelayanan lainnya yang menyebabkan
masyarakat di daerah tertinggal tersebut mengalami kesulitan untuk
melakukan aktivitas ekonomi dan sosial.

75

5.

Daerah Rawan Bencana dan Konflik Sosial


Seringnya suatu daerah mengalami bencana alam dan konflik sosial dapat
menyebabkan terganggunya kegiatan pembangunan sosial dan ekonomi.

6.

Kebijakan Pembangunan
Suatu daerah menjadi tertinggal dapat disebabkan oleh beberapa kebijakan
yang tidak tepat seperti kurang memihak pembangunan daerah tertinggal,
kesalahan pendekatan dan prioritas pembangunan serta tidak dilibatkannya
kelembagaan masyarakat adat dalam perencanaan dan pembangunan.

Pengertian daerah tertinggal sebenarnya sangat luas, meski demikian, ciri


umumnya antara lain, tingkat kemiskinan tinggi, kegiatan ekonomi amat terbatas
dan terfokus pada sumber daya alam, minimnya sarana prasarana dan kualitas
SDM rendah. Daerah tertinggal secara fisik kadang lokasinya amat terisolasi
(Edy, 2009).
Menurut Edy (2009) secara umum, karakteristik daerah tertinggal di
negara-negara Eropa dapat dilihat dari berbagai aspek berikut:
1.

Ekonomi, pada umumnya daerah tertinggal di Eropa ditandai dengan


tingkat pendapatan perkapita penduduknya yang dibawah rata-rata
negara/nasional. Hal ini juga disebabkan oleh kegiatan perekonomian
utama di daerah tertinggal di Eropa yang berupa pertanian terutama
kegiatan pertanian yang bersifat non-komersial sehingga menyebabkan
ketertinggalan tersebut.

2.

Sosial

Kependudukan,

terkait

dengan

kegiatan

perekonomian

penduduknya, salah satu penyebab ketertinggalan daerah di Eropa adalah


karakteristik penduduknya yang enggan untuk berwirausaha. Kegiatan
wirausaha yang diharapkan dapat menjadi roda penggerak perekonomian
sulit ditemukan di daerah tertinggal di Eropa. Didaerah tersebut tidak
ditemukan kegiatan yang dapat menimbulkan multiplier effect bagi
kegiatan lainnya. Tingginya tingkat pengangguran juga merupakan
karakteristik daerah tertinggal di negara Eropa.

76

3.

Infrastruktur, pada umumnya infrastruktur di daerah tertinggal di Negaranegara Eropa juga menunjukkan kondisi yang tertinggal dibandingkan
dengan daerah lainnya. Infrastruktur yang menjadi penghambat utama
adalah pada akses pemasaran hasil produksi di daerah tersebut.
Selanjutnya menurut Edy (2009), indikator daerah tertinggal di negara

berkembang diturunkan dari karakteristik dan aspek daerah tertinggal yang


digunakan di beberapa negara kawasan Asia Selatan dan Afrika, secara umum
adalah sebagai berikut :
1.

Ekonomi, sama halnya dengan karakteristik di Eropa, tingkat pendapatan


perkapita penduduk di daerah tertinggal di negara berkembang
menunjukkan tingkat di bawah rata-rata nasional. Kegiatan utama
penduduknya adalah pertanian dan sebagian besar merupakan pertanian
subsisten sehingga tidak menimbulkan multiplier effect di daerah tersebut.

2.

Sosial Kependudukan, penduduk di daerah tertinggal di negara


berkembang pada umumnya berada dalam kondisi yang buruk, seperti
tingginya tingkat buta huruf. Kematian bayi, wabah penyakit merupakan
beberapa hal yang masih ditemukan dan menjadi salah satu kerentanan
sosial di daerah tertinggal di negara berkembang. Pengangguran dan
tingginya tingkat ketergantungan di daerah tertinggal juga merupakan
karakteristik sosial kependudukan di daerah tertinggal. Adapun tingkat
ketergantungan yang tinggi ini, terkait dengan besarnya push factor di
daerah tertinggal, sehingga banyak penduduk golongan usia produktif
yang meninggalkan daerahnya untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
Dependency ratio dan sex ratio pun dapat digunakan sebagai indikator
ketertinggalan suatu daerah.

3.

Infrastruktur, pada umumnya infrastuktur dan pelayanan dasar pendukung


kehidupan manusia masih dalam kondisi buruk dilihat dari segi kualitas
dan kuantitas. Pelayanan seperti sanitasi, air bersih, dan tenaga listrik
masih berada dalam kondisi yang sangat buruk. Selain itu, keadaan
fasilitas sosial seperti pendidikan dan kesehatan baik secara kualitas

77

maupun kuantitas yang masih buruk pun merupakan salah satu penyebab
tejadinya ketertinggalan daerah di negara berkembang.
4.

Fisik lingkungan, pada umumnya daerah tertinggal di negara berkembang


berlokasi di daerah terpencil, daerah perbatasan negara atau di daerah
rawan bencana. Kondisi lahan yang kurang produktif untuk pertanian yang
masih sangat tergantung dengan kondisi alam juga menjadi faktor
penyebab ketertinggalan daerah. Hal yang perlu menjadi catatan adalah
bahwa daerah yang tertinggal tidak selalu tertinggal dalam potensi sumber
daya alam. Banyak daerah tertinggal yang kaya akan potensi sumber daya
alam akan tetapi menjadi daerah tertinggal disebabkan karena terjadinya
eksploitasi.
Jika dilihat benang merahnya, secara umum, indikator ketertinggalan

berkaitan dengan manusia (kependudukan), ekonomi, dan kemiskinan. Secara


umum, hal tersebut sama dengan indikator yang diterapkan di Indonesia, yaitu
indeks pembangunan manusia (IPM), laju pertumbuhan ekonomi dan juga tingkat
kemiskinan.

Indikator Ketertinggalan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal


(KPDT)
Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) telah menetapkan
indikator yang dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi ketertinggalan
suatu daerah. Indikator ini berdasarkan analisis 6 faktor utama penyebab kondisi
ketertinggalan. 6 indikator yang digunakan oleh KPDT adalah ekonomi,
infrastruktur, sumber daya manusia, kapasitas kelembagaan, aksesibilitas, dan
karakteristik daerah. Untuk lebih jelas nya dapat diperhatikan pada tabel dibawah
ini:

78

No

Tabel 2.1 -1
Indikator Utama dan Sub Indikator Penentuan Daerah Tertinggal
Indikator Utama
Sub Indikator
Persentase Keluarga Miskin

EKONOMI

SDM

INFRASTRUKTUR

KAPASITAS
KELEMBAGAAN

Pengeluaran Konsumsi Perkapita


Harapan Hidup
Rata-Rata Lama Sekolah
Angka Melek Huruf
Persentase desa dengan jenis permukaan jalan utama terluas
Aspal/Beton
Persentase desa dengan jenis permukaan jalan utama terluas
Diperkeras
Persentase desa dengan jenis permukaan jalan utama terluas
Tanah
Persentase desa dengan jenis permukaan jalan utama terluas
Lainnya
Persentase Rumah Tangga Pengguna Listrik
Persentase Rumah Tangga Pengguna Telepon
Persentase Rumah Tangga Pengguna Air Bersih
Jumlah Desa yg mempunyai Pasar Tanpa bangunan
Permanen
Jumlah Prasarana Kesehatan Per 1000 Penduduk
Jumlah Dokter Per 1000 Penduduk
Jumlah SD/SMP Per 1000 Penduduk

AKSESIBILITAS

Fiscal Gap
Rata-rata Jarak dari kantor desa/kelurahan ke kantor
kabupaten/kota yang membawahi

Jumlah Desa Dengan Akses ke Pelayanan Kesehatan > 5 Km


Akses Ke Pelayanan Pendidikan Dasar
Persentase Desa Gempa bumi
Persentase Desa Tanah Longsor
PersentaseDesa Banjir
KARAKTERISTIK
6
Persentase Desa Bencana Lainnya
DAERAH
Persentase Desa di Kawasan Lindung
Persentase Desa berlahan Kritis
Persentsae Rata-Rata Desa Konflik 1 tahun terakhir
Sumber : Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, 2014

KPDT dalam menggambarkan kondisi ketertinggalan di suatu daerah


menggunakan 6 indikator utama seperti yang sudah ada pada tabel diatas. 6
Indikator

yang

digunakan

sudah

menggambarkan

bagaimana

kondisi

ketertinggalan suatu daerah jika dibandingkan dengan rata-rata nasional. Dari 6


79

indikator utama yang dijabarkan oleh KPDT terdapat masing-masing sub


indikator yang menjadi faktor penentu dari indikator utama yang telah ditetapkan.
Terdapat 27 sub indikator yang di tetapkan oleh KPDT yang ikut mempengaruhi 6
indikator utama (sudah dirinci pada tabel).

2.2

Otonomi Daerah
Pergeseran paradigma dari sentralisasi menuju desentralisasi di Indonesia

menimbullkan fenomena baru, yaitu secara berbondong-bondong daerah-daerah di


Indonesia melakukan pemekaran atau membentuk daerah baru. Hal semacam ini
dilakukan atas dasar pemerataan pembangunan, kemudahan akses serta
peningkatan pelayanan masyarakat.
Desentralisasi secara bahasa berasal dari bahasa latin yaitu de yang berarti
lepas dan centrum yang berarti pusat sehingga dapat diartikan desentralisasi
adalah lepas dari pusat atau melepaskan dari pusat. Hal ini merupakan kebalikan
dari sentralisasi yang berarti terpusat. Pergeseran paradigma menuju desentralisasi
ini di Indonesia diwujudkan dalam bentuk sistem baru yang dinamakan otonomi
daerah. Dalam sistem yang baru ini, daerah mempunyai kewenangan yang besar
untuk mengurus daerahnya secara mandiri.
Berdasarkan Undang-Undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah, desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan

oleh

pemerintah pusat kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan
pemerintahan dalam sistem NKRI. Hal inilah yang menyebabkan daerah banyak
melakukan

pemekaran

atau

membentuk

daerah

baru

dengan

berbagai

pertimbangan. Secara bahasa, otonomi berasal dari kata autonomy yang terdiri
dari auto dan nomos yang berasal dari bahasa yunani yang memiliki arti sendiri
dan hukum. Sehingga otonomi memiliki arti hukum sendiri. Berdasarkan UU No
32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, otonomi daerah memiliki arti hak,
wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri
urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.

80

Menurut

Mardiasmo

dalam

Muliana

(2009),

tujuan

utama

penyelenggaraan otonomi daerah adalah untuk meningkatkan pelayanan publik


dan memajukan perekonomian daerah. Adapun misi utama pelaksanaan otonomi
daerah yaitu: (1) meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan
kesejahteraan masyarakat, (2) menciptakan efisiensi dan efektifitas pengelolaan
sumber daya daerah, dan (3) memberdayakan dan menciptakan ruang bagi
masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan. Hal serupa juga
tercantum dalam UU No 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah, yaitu tujuan
dari otonomi daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
pelayanan umum dan daya saing daerah.

2.3

Pemekaran Daerah
Pemekaran daerah adalah pembentukan daerah baru yang dilakukan

dengan cara pemecahan satu daerah menjadi beberapa daerah baru. Pemecahanpemecahan daerah ini harus disertai dengan pertimbangan-pertimbangan yang
logis dan mendalam, seperti pertimbangan faktor geografis, luas wilayah dan
pertimbangan lainnya. Pemekaran daerah di Indonesia terjadi secara besar-besaran
sejak berlakunya UU No 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan diganti
dengan UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Dengan
diberlakukannya UU tersebut, banyak daerah di Indonesia melakukan pemekaran.
Berdasarkan UU No 32 Tahun 2004, Pembentukan daerah kabupaten/kota
harus memenuhi 3 syarat utama, yaitu syarat administrasi, syarat teknis dan juga
syarat fisik kewilayahan.
1.

Syarat Administratif
Untuk pembentukan kabupaten/kota meliputi adanya persetujuan DPRD

kabupaten/kota dan bupati/walikota yang bersangkutan, persetujuan DPRD


provinsi dan gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri.
2.

Syarat Teknis
Faktor yang menjadi dasar pembentukan daerah yang mencakup faktor

ekonomi, potensi daerah, sosial budaya, sosial politik, kependudukan, luas daerah,

81

pertahanan, keamanan, dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya


otonomi daerah.
3.

Syarat Fisik Kewilayahan


Meliputi paling sedikit 5 kabupaten/kota untuk pembentukan provinsi dan

paling sedikit 5 kecamatan untuk pembentukan kabupaten serta 4 kecamatan


untuk pembentukan kota, lokasi calon ibukota, sarana dan prasarana
pemerintahan.

2.4

Persepsi
Persepsi merupakan proses yang didahului oleh penginderaan adalah suatu

proses diterimanya stimulasi oleh individu melalui alat penerima yaitu indera.
Namun proses tersebut tidak berhenti disitu saja, pada umumnya stimulasi
tersebut diteruskan oleh syaraf ke otak sebagai pusat susunan syaraf dan proses
selanjutnya merupakan proses penginderaan terjadi setaip saat, yaitu pada waktu
individu menerima stimulasi pada dirinya melalaui alat inderanya yang
merupakan penghubung antara individu dengan dunia luarnya (Branca,
Woodworth dan Marquis dalam Walgito, 2002).
Stimulasi yang mengenai individu itu kemudian diorganisasikan,
diinterpretasikan, sehingga individu menyadari tentang apa yang diinderakan itu.
Proses inilah yang dimaksud dengan persepsi. Jadi stimulasi diterima oleh alat
indera, kemudian melalui proses persepsi sesuatu tersebut menjadi sesuatu yang
berarti setelah diorganisasikan dan diinterpretasikan (Davidoff dalam Walgito
2002).
Disamping itu menurut (Orgel dalam Walgito 2002) persepsi merupakan
proses yang integrated dari individu terhadap stimulasi yang diterimanya. Dengan
demikian

dapat

dikemukakan

bahwa

persepsi

itu

merupakan

proses

pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulasi yang diterima oleh


organisme, aktivitas yang integrated dalam diri individu. Karena merupakan
aktivitas yang integrated maka seluruh apa yang ada dalam diri individu ikut
berperan aktif dalam persepsi itu.

82

Dari pengertian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa persepsi adalah


rasa nyaman, tidak nyaman, kemudahan, kesulitan, lebar, sempit yang ditentukan
dan dipengaruhi oleh perilakunya. Respon manusia terhadap lingkungannya
tergantung bagaimana individu tersebut mempersiapkan lingkungannya. Persepsi
bukanlah sesuatu yang bersifat statis melainkan juga bisa berubah-ubah.
Persepsi akan terus berubah-ubah sesuai sudut pandang dan kepentingan
masing-masing individu. Persepsi muncul setelah melakukan perbandingan dari
suatu keadaan sebelumnya (pengelaman masa lampau) dengan realitas yang
terjadi pada saat ini. Dapat dibuktikan bahwa persepsi yang muncul dari
perubahan lingkungan akan memunculkan respon tertentu.
Thoha (2002) berpendapat bahwa persepsi pada hakikatnya adalah proses
kognitif yang di alami oleh setiap orang di dalam memahami informasi tentang
lingkungannya. Lebih jauh Thoha (2002) mengatakan bahwa persepsi dan
komunikasi sebagai suatu sistem yang sangat erat hubungannya dan bahkan saling
adanya ketergantungan. Komunikasi sangat tergantung pada persepsi, dan
sebaliknya persepsi juga tergantung pada komunikasi. Persepsi timbul karena
adanya dua faktor baik internal maupun eksternal. Faktor internal di antaranya
tergantung pada proses pemahaman sesuatu termasuk di dalamnya sistem nilai
tujuan, kepercayaan, dan tanggapannya terhadap hasil yang dicapai sedangkan
faktor eksternal berupa lingkungan. Kedua faktor ini menimbulkan persepsi
karena didahului oleh suatu proses yang di kenal dengan komunikasi. Demikian
pula proses komunikasi ini terselenggara dengan baik atau tidak, tergantung
persepsi masing-masing orang yang terlibat dalam proses komunikasi terebut.
Salah satu sub proses dari persepsi adalah interpretasi. Interpretasi tersebut
didahalui oleh diterimanya semua informasi yang sampai kepada seseorang.
Thoha (2002) mengatakan bahwa interpretasi merupakan suatu aspek kognitif dari
persepsi yang amat penting. Proses interpretasi ini tergantung pada cara
pendalaman (learning), motivasi dan kepribadian seseorang. Dimana pendalaman
motivasi dan kepribadian seseorang akan berbeda dengan orang lain. Oleh karena
itu interpretasi terhadap sesuatu informasi yang sama, akan berbeda antara satu

83

orang dengan orang lain. Di sinilah letak sumber perbedaan pertama dari persepsi
dan itulah sebabnya mengapa interpretasi merupakan sub proses yang penting.
Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa persepsi adalah salah satu
proses manusia dalam memandang atau memberikan penilaiannya terhadap
sesuatu obyektifitas yang didahului oleh diterimanya sejumlah informasi dan
komunikasi secara timbal balik yang menyeluruh terhadap rangsangan yang
membolehkan individu menyadari, memahami dan memberikan makna kepada
objektivitas tersebut. Ini bermakna persepsi merupakan proses di mana manusia
membuat penilaian yang subjektif terhadap orang lain/objektifitas dengan merujuk
kepada apa yang mampu diperhatikan dan diamati. Dan persepsi bukanlah proses
yang mudah karena tidak terjadi secara otomatis. Persepsi merupakan proses yang
aktif dengan melibatkan beberapa tahap proses yang saling berkaitan dan amat
kompleks.

2.5

Indikator Kinerja
Oxford

English

Dictionary

mendefinisikan

kinerja

sebagai:

The

accomplishment execution, carrying out, working out of anything ordered or


undertaken. Berdasarkan definisi tersebut, kinerja dapat diartikan sebagai
keberhasilan (kesuksesan) suatu tindakan, tugas atau operasi yang dilakukan oleh
orang, kelompok orang atau organisasi. Kinerja dapat merujuk kepada keluaran
(output), hasil (outcome) atau pencapaian. Jika dikaitkan dengan kebijakan suatu
pemerintah daerah, kinerja kebijakan dapat didefinisikan sebagai gambaran
mengenai tingkat pencapaian kebijakan dalam mewujudkan sasaran dan tujuan
suatu kebijakan, baik itu berupa keluaran kebijakan maupun hasil dari kebijakan
tersebut (Purwanto dan Sulistyastuti, 2012)
Parameter keberhasilan suatu kebijakan/ program/ kegiatan memerlukan
sebuah alat bantu yang disebut sebagai indikator. Indikator dapat diartikan sebagai
alat untuk membantu panca indra kita dalam mengetahui berbagai macam
fenomena, baik fenomena alam, fenomena ekonomi, fenomena sosial, dan
fenomena-fenomena lainnya (Purwanto dan Sulistyastuti, 2012). Fungsi indikator

84

untuk mengetahui kinerja suatu kebijakan dapat dilihat dari pengertian dibawah
ini:
performance indicator are measures of project impact, outcomes,
outputs, and inputs that are monitored during project implementation to
assess progress toward project objectifs. They are also used later to
evaluate a projects success. (World Bank, 1996 dalam Purwanto dan
Sulistyastuti, 2012)

Indikator sebagai sebuah alat ukur yang ditetapkan dapat bersifat kualitatif
(bersifat narasi) ataupun bersifat kuantitatif (angka-angka). Indikator tersebut
sangat berguna dalam menggambarkan pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang
diinginkan dari suatu kebijakan/ program/ kegiatan yang telah ditetapkan.
(Purwanto dan Sulistyastuti, 2012).
Purwanto dan Sulistyastuti (2012) menjelaskan ciri-ciri indikator yang
baik, antara lain:
1.

Memiliki Relevansi dengan kebijakan atau program yang akan di evaluasi.


Hal ini sangat jelas, indikator yang baik mesti mencerminkan realitas dari
suatu kebijakan atau program tersebut. Sebagai contoh, kebijakan atau
program dibidang pendidikan, maka indikator yang digunakan adalah
angka melek huruf, angka putus sekolah, angka partisipasi murni dan
lainnya yang memang ada dibidang pendidikan.

2.

Memadai, dalam arti jumlah indikator yang digunakan memiliki


kemampuan menggambarkan secara lengkap tujuan tercapainya suatu
kebijakan atau program. Sebagai contoh, indikator pembangunan manusia
terdiri dari tiga indikator, yaitu: angka melek huruf, pendapatan perkapita
dan angka harapan hidup. Ketiga indikator tersebut sudah memadai untuk
menggambarkan secara lengkap mengenai pembangunan manusia.

3.

Data yang diperlukan mudah untuk diperoleh di lapangan sehingga tidak


akan menyulitkan evaluator.

85

4.

Indikator yang disusun idealnya memenuhi standar nasional dan juga


internasional. Hal ini ditujukan agar hasil dari evaluasi tersebut juga dapat
dibandingkan dengan kebijakan atau program yang sama ditempat lain.

2.5.1

Indikator Kinerja Output


Salah satu hasil dari kinerja suatu kebijakan atau program yang dapat

dilihat secara langsung adalah dari sisi output atau keluaran dari program/
kebijakan tersebut. Purwanto dan Sulistyastuti (2012) menjelaskan beberapa
indikator output yang ada, antara lain:
1.

Akses
Indikator akses digunakan untuk mengetahui bahwa program atau
kebijakan pelayanan yang diberikan mudah dijangkau oleh kelompok
sasaran.

2.

Cakupan (coverage)
Indikator cakupan digunakan untuk menilai seberapa besar kelompok
sasaran yang sudah dijangkau (mendapatkan pelayanan, hibah, transfer
dana, dan sebagainya) oleh program atau kebijakan publik yang
diimplementasikan.

3.

Frekuensi
Frekuensi merupakan indikator untuk mengukur seberapa sering kelompok
sasaran dapat memperoleh layanan atau pelayanan yang dijanjikan oleh
suatu program atau kebijakan. Semakin tinggi frekuensi layanan maka
akan semakin baik implementasi dari program atau kebijakan tersebut.

4.

Bias
Bias merupakan indikator yang digunakan untuk menilai apakah
pelayanan yang diberikan bias kepada kelompok yang bukan menjadi
sasaran dari suatu program atau kebijakan.

5.

Service Delivery (Ketepatan Layanan)


Indikator ini digunakan untuk menilai apakah pelayanan yang diberikan
dalam implementasi suatu program dilakukan tepat waktu atau tidak.

86

6.

Akuntabilitas
Indikator ini digunakan untuk menilai apakah tindakan para implementer
dalam menjalankan tugas mereka untuk menyampaikan keluaran kebijakan
kepada kelompok sasaran dapat dipertanggungjawabkan atau tidak.

7.

Kesesuaian Program dengan Kebutuhan


Indikator ini digunakan untuk mengukur apakah berbagai keluaran
kebijakan atau program yang diterima oleh kelompok sasaran memang
sesuai dengan kebutuhan mereka atau tidak.

2.5.2

Indikator Kinerja Outcome


Indikator kinerja outcome adalah indikator yang digunakan untuk melihat

dampak dari suatu program atau kebijakan. Outcome yang diterima masyarakat
atau kelompok sasaran merupakan lanjutan dari keluaran dari suatu program atau
kebijakan. Hasil atau dampak kebijakan pada dasarnya berkaitan dengan
perubahan kondisi masyarakat yang menjadi kelompok sasaran program atau
kebijakan. Hasil ini biasanya merupakan perubahan dari kondisi awal yang tidak
dikehendaki (kemiskinan, kesehatan yang buruk, pendidikan yang rendah) menuju
kondisi yang diharapkan pada masa mendatang (lebih sejahtera, kesehatan baik,
dan pendidikan yang baik) (Purwanto dan Sulistyastuti, 2012)
Dampak yang terjadi dari suatu program atau kegiatan sangat bergantung
dari program atau kebijakan itu sendiri. Akan tetapi, proses merumuskan indikator
outcome tidak dapat dianggap mudah. Hal ini disebabkan oleh luasnya cakupan
program, tujuan program yang kadang tidak spesifik dan juga waktu untuk
merasakan dampak dari program atau kebijakan terkadang cukup lama. (Purwanto
dan Sulistyastuti, 2012).

2.6

Kebijakan Publik

2.6.1

Definisi Kebijakan Publik


Kebijakan publik memiliki pengertian secara umum adalah kebijakan yang

dibuat oleh pemerintah sebagai pembuat kebijakan untuk mencapai tujuan-tujuan


tertentu di masyarakat. Nugroho (2011) mengemukakan kebijakan publik berasal

87

dari 2 kata, yaitu kebijakan dan publik. Kebijakan adalah an authoritatif decision.
Decision made by the one who hold the authority, formal or informal. Sedangkan
publik adalah sekelompok orang yang terikat dengan suatu isu tertentu. Secara
sederhana dapat dikatakan bahwa kebijakan publik adalah setiap keputusan yang
dibuat oleh negara, sebagai strategi untuk merealisasikan tujuan dari negara.
Strategi untuk mengantar masyarakat pada masa awal, memasuki masyarakat pada
masa transisi, untuk menuju masyarakat yang dicita-citakan.
Masyarakat Pada
Kondisi Awal

Masyarakat Pada
masa transisi

Masyarakat yang
dicita-citakan

Gambar 2.6 -1
Tujuan Kebijakan Publik
Sumber : Nugroho (2011), diolah

Selanjutnya menurut Nugroho (2011), kebijakan publik adalah fakta


strategis. Sebagai sebuah strategi, kebijakan publik tidak hanya bersifat positif,
akan tetapi juga bersifat negatif yang mengandung makna bahwa pilihan
keputusan selalu bersifat menerima salah satu atau menolak yang lain. Dalam
pemahaman ini, istilah keputusan termasuk juga ketika pemerintah memutuskan
untuk tidak memutuskan atau memutuskan untuk mengurus isu terkait.
Pelaku dari kebijakan publik adalah pemerintah, dalam hal ini pada UU 5
tahun 1974 tentang Pemerintahan di Daerah, Pemerintah Daerah terdiri atas
Kepala Daerah dan aparatnya dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Sedangkan
UU No 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, DPRD termasuk dalam bagian
dari pemerintah daerah, begitu juga dalam UU No 32 Tahun 2005 Tentang
Pemerintah Daerah, DPRD juga merupakan salah satu bagian dalam pemerintah
daerah. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa pelaku pembuatan kebijakan
publik adalah semua yang termasuk dalam pemerintah, bukan hanya presiden dan
kabinetnya (dalam skala nasional) ataupun walikota beserta SKPD terkait (dalam
skala daerah), akan tetapi juga termasuk lembaga legislatif dan lembaga lainnya.
Nugroho (2011) mengemukakan, kebijakan publik adalah kebijakan yang
mengatur kehidupan bersama atau kehidupan publik dan bukan mengatur

88

kehidupan seorang atau golongan. Kebijakan publik mengatur semua masalah


yang ada, mencakup masalah bersama, masalah pribadi atau golongan yang sudah
menjadi masalah bersama dari seluruh masyarakat di daerah itu. Sebagai ilustrasi,
kemacatan di jalan kota adalah masalah bersama, dan bukan lagi masalah pemilik
mobil atau mereka yang menggunakan jalan saja, hanya kebijakan publik yang
dapat mengatasi masalah tersebut.
Selanjutnya menurut Nugroho (2011), sebuah kebijakan dapat dikatakan
sebagai kebijakan publik jika manfaat yang diperoleh masyarakat yang bukan
pengguna langsung produk yang dihasilkan jauh lebih banyak atau lebih besar dari
pengguna langsungnya. Sebagai ilustrasinya, pemerintah membangun jalan raya,
pengguna manfaat bukan saja pemilik mobil, namun juga masyarakat yang
sebelumnya terasing menjadi terbuka, kegiatan ekonomi meningkat sehingga
kesejahteraan ikut meningkat, dan seterusnya.
Kebijakan publik adalah keputusan otoritas yang bertujuan untuk
mengatur kehidupan bersama. Tujuan kebijakan publik dapat dibedakan dari sisi
sumber daya atau risorsis, yaitu antara kebijakan publik yang bertujuan
mendistribusi sumber daya negara, dan yang bertujuan menyerap sumber daya
negara (Nugroho, 2011). Kebijakan absorbtif adalah kebijakan yang menyerap
sumber daya, terutama sumber daya ekonomi demi kepentingan bersama, dalam
hal ini adalah kebijakan perpajakan. Sedangkan kebijakan distributif adalah
kebijakan yang secara langsung atau tidak langsung mengalokasikan sumbersumber daya material ataupun non-material ke seluruh masyarakat.
Kebijakan publik memiliki tujuan lain yaitu regulatif versus deregulatif.
Kebijakan regulatif bersifat mengatur dan membatasi, seperti kebijakan HAM,
kebijakan proteksi industri, dan sebagainya. Kebijakan deregulatif bersifat
membebaskan, seperti kebijakan privatisasi, kebijakan penghapusan tarif dan
kebijakan pencabutan daftar negatif investasi.
Tujuan ketiga dari kebijakan publik adalah dinamisasi versus stabilisasi.
Kebijakan dinamisasi adalah kebijakan yang bersifat menggerakkan sumber daya
nasional untuk mencapai kemajuan tertentu yang dikehendaki. Misalnya kebijakan
desentralisasi, kebijakan zona industri eksklusif, dan lainnya. Kebijakan stabilisasi

89

bersifat mengerem dinamika yang terlalu cepat agar tidak merusak sistem yang
ada. Baik sistem politik, keamanan, ekonomi, maupun sosial. Kebijakan ini
misalnya kebijakan pembatasan transaksi valas, kebijakan penetapan suku bunga,
dan kebijakan tentang keamanan negara.
Tujuan keempat dari kebijakan publik adalah kebijakan yang memperkuat
negara dan kebijakan yang memperkuat pasar. Kebijakan yang memperkuat
negara adalah kebijakan-kebijakan yang mendorong lebih besar peran negara,
sementara kebijakan yang memperkuat pasar atau publik adalah kebijakan yang
mendorong lebih besar peran publik atau mekanisme pasar daripada peran negara.
Kebijakan yang memperkuat negara misalnya kebijakan tentang pendidikan
nasional yang menjadikan negara sebagai pelaku utama pendidikan nasional
daripada publik. Kebijakan yang memperkuat pasar atau publik misalnya
kebijakan privatisasi BUMN, kebijakan perseroan terbatas dan lain-lain.
Tabel 2.6 -1
Tujuan Dari Kebijakan Publik
Tujuan Kebijakan Publik
Absorbtif
Penyerapan sumber daya seperti kebijakan
perpajakan
Regulatif
Mengatur dan Membatasi seperti, kebijakan
tariff, kebijakan pengadaan barang dan jasa
Dinamisasi
Menggerakkan sumber daya nasional untuk
mencapai tujuan yang dikehendaki, seperti
kebijakan desentralisasi dan zona industry
ekslusif
Memperkuat Negara
Kebijakan yang lebih mendorong peran

negara

Distributif
Pendistribusian sumber daya ke seluruh
daerah, baik material maupun non-material
Deregulatif
Membebaskan, seperti kebijakan pembebasan
tariff dan privatisasi
Stabilisasi
Mengerem dinamika yang terlalu cepat agar
tidak merusak system yang ada. Contohnya
adalah kebijakan pembatasan transaksi valas,
kebijakan penetapan suku bunga
Memperkuat Pasar
Kebijakan yeng lebih mendorong peran publik,
seperti kebijakan privatisasi BUMN

Sumber : Nugroho (2011), diolah

2.6.2

Evaluasi Kebijakan Publik


Dunn (2003), menyatakan terdapat 3 pendekatan yang dapat dilakukan

dalam melakukan evaluasi kebijakan publik, yaitu:

Pendekatan
Evaluasi
Semu

Tabel 2.6 -2
Pendekatan Evaluasi Kebijakan Publik
Tujuan
Asumsi
Menggunakan metode deskriptif untuk
Ukuran manfaat atau nilai terbukti
menghasilkan informasi yang valid
dengan sendirinya atau tidak
Bersambung.
90

Lanjutan tabel 2.6 -2


Pendekatan

Tujuan
Asumsi
tentang hasil kebijakan
kontroversial
Evaluasi
Menggunakan metode deskriptif untuk
Tujuan dan sasaran dari pengambil
formal
menghasilkan informasi yang
kebijakan dan administrator yang
terpercaya dan valid mengenai hasil
secara resmi di umumkan merupakan
kebijakan secara fformal diumumkan
ukuran yang tepat dari manfaat atau
sebagai tujuan program kebijakan
nilai
Evaluai
Menggunakan metode deskriptif untuk
Tujuan dan sasaran dari berbagai
keputusan
menghasilkan informasi yang
pelaku yang diumumkan secara
teoritis
terpercaya dan valid mengenai hasil formal ataupun diam-diam merupakan
kebijakan yang secara eksplisit
ukuran yang tepat dari manfaat atau
diinginkan oleh berbagai pelaku
nilai
kebijakan
Sumber : Pengantar Analisis Kebijakan Publik, Dunn (2003, 612)

Dunn (2003) juga mengatakan kriteria untuk evaluasi kebijakan publik


diterapkan secara restrospektif (ex-post) dimana kriteria dalam evaluasi kebijakan
publik dilakukan setelah kebijakan publik itu sendiri. Kriteria kebijakan publik
adalah sebagai berikut:
Tabel 2.6 -3
Kriteria Evaluasi Kebijakan Publik
Tipe Kriteria
Pertanyaan
Ilustrasi
Efektifitas
Apakah hasil yang diinginkan
Unit Pelayanan
telah dicapai?
Efisiensi
Seberapa banyak usaha yang Unit biaya
diperlukan untuk mencapai
Manfaat bersih
hasil yang diinginkan?
Rasio biaya-manfaat
Kecukupan
Seberapa jauh pencapaian
Biaya tetap
hasil yang diinginkan
Efektifitas tetap
memecahkan masalah?
Perataan
Apakah biaya dan manfaat
Kriteria pareto
didistribusikan dengan merata Kriteria kaldor-hicks
kepada kelompok-kelompok
Kriteria rawls
yang berbeda?
Responsifitas
Apakah hasil kebijakan
Konsitensi dengan survai
memuaskan kebutuhan,
warga Negara
preferensi atau nilai kelompokkelompok tertentu?
Keterpatan
Apakah hasil (tujuan)yang
Program publik harus merata
diinginkan benar-benar
dan efisien
berguna atau bernilai?
Sumber : Pengantar Analisis Kebijakan Publik, Dunn (2003, 610)

91

2.7

Kemiskinan
Secara konsep, jika membahas mengenai kemiskinan, adalah suatu kondisi

dimana kekurangan terhadap kebutuhan primer, yaitu sandang, pangan dan papan.
Terdapat 3 klasifikasi kemiskinan menurut Sayogyo (1974), yaitu kemiskinan
menurut jenisnya, menurut waktunya dan menurut penyebabnya.

A.

Kemiskinan berdasarkan jenisnya


Berdasarkan jenisnya, kemiskinan dibagi menjadi 2, yaitu kemiskinan

absolut dan kemiskinan relatif. Kemiskinan absolut adalah kemiskinan yang


disebabkan oleh pendapatan lebih rendah dari garis kemiskinan, atau pendapatan
tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sedangkan kemiskinan relatif
adalah keadaan perbandingan antara kelompok pendapatan dalam masyarakat,
yaitu antara kelompok yang mungkin tidak miskin karena mempunyai tingkat
pendapatan yang lebih tinggi daripada garis kemiskinan dan kelompok masyarakat
yang relatif lebih kaya (ketimpangan distribusi pendapatan)

B.

Kemiskinan berdasarkan waktunya


Berdasarkan waktunya kemiskinan dapat dibagi ke dalam 4 (empat)

kelompok. Persitent Poverty adalah kemiskinan yang telah kronis atau turun
temurun. Pada umumnya terjadi di daerah-daerah yang kritis sumber daya
alamnya, atau daerah yang terisolasi. Cyclical Poverty adalah kemiskinan yang
mengikuti pola siklus ekonomi secara keseluruhan. Selanjutnya adalah Seasonal
Poverty yakni kemiskinan musiman seperti sering dijumpai pada kasus nelayan
dan pertanian tanaman pangan. Terakhir adalah Accidental Poverty yakni
kemiskinan karena terjadinya bencana alam atau dampak dari suatu kebijakan
tertentu yang menyebabkan menurunnya tingkat kesejahteraan suatu masyarakat.

C.

Kemiskinan berdasarkan penyebab


Berdasarkan penyebabnya kemiskinan terbagi ke dalam kemiskinan

kultural dan kemiskinan struktural. Kemiskinan kultural mengacu pada sikap


seseorang atau masyarakat yang disebabkan oleh gaya hidup, kebiasaan hidup,

92

dan budayanya, lebih jauh kemiskinan kultural sering dikaitkan dengan rendahnya
etos kerja. Ditunjukkan oleh perbedaan sikap terhadap akumulasi modal, bunga,
pendidikan, materi (harta benda) dan etos kerja. Kemiskinan struktural berkaitan
dengan pemilikan sumber daya yang tidak merata, kemampuan masyarakat yang
tidak seimbang, dan ketidaksamaan kesempatan dalam berusaha dan memperoleh
pendapatan serta keikutsertaan dalam pembangunan yang tidak merata pula.

D.

Kemiskinan Berdasarkan Institusional


Menurut Bappenas dalam Sholeh (2010) kemiskinan adalah kondisi

dimana seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan perempuan tidak mampu
memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan
kehidupan yang bermartabat. Hak-hak dasar tersebut antara lain, terpenuhinya
kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih,
pertanahan, sumber daya alam dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakuan
atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan
sosial-politik. Untuk mewujudkan hak-hak dasar orang miskin, bappenas
menggunakan beberapa pendekatan utama antara lain, pendekatan kebutuhan
dasar (basic needs approach), pendekatan pendapatan (income approach),
pendekatan kemampuan dasar (human capability approach) dan pendekatan
objectif dan subjectif.
Pendekatan

kebutuhan

dasar,

melihat

kemiskinan

sebagai

suatu

ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan minimum, antara lain,


sandang, pangan, papan, pelayanan kesehatan, pendidikan, penyediaan air bersih
dan sanitasi. Sedangkan pendekatan pendapatan, kemiskinan disebabkan oleh
rendahnya penguasaan asset, dan alat-alat produktif seperti tanah dan lahan
pertanian atau perkebunan. Pendekatan ini, menentukan secara rigid standar
pendapatan seseorang di dalam masyarakat untuk membedakan kelas sosialnya.
Pendekatan kemampuan dasar menilai kemiskinan sebagai keterbatasan
kemampuan dasar seperti kemampuan membaca dan menulis untuk menjalankan
fungsi minimal dalam masyarakat. Keterbatasan kemampuan ini menyebabkan
tertutupnya kemungkinan bagi orang miskin untuk terlibat dalam pengambilan

93

keputusan. Sedangkan pendekatan objektif atau sering disebut sebagai pendekatan


kesejahteraan menekankan pada penilaian normatif dan syarat yang harus
dipenuhi agar keluar dari kemiskinan. Pendekatan subjektif menilai kemiskinan
berdasarkan pendapat atau pandangan orang miskin sendiri.
Sedangkan menurut bank dunia dalam Sholeh (2010), penyebab dasar
kemiskinan adalah (1) kegagalan kepemilikan tanah dan modal, (2) terbatasnya
ketersediaan bahan kebutuhan dasar, sarana dan prasarana, (3) kebijakan
pembangunan yang bias perkotaan dan bias sektor, (4) adanya perbedaan
kesempatan antara anggota masyarakat dan sistem yang kurang mendukung, (5)
adanya perbedaan sumber daya manusia, (6) rendahnya produktivitas dan tingkat
pembentukan modal dalam masyarakat, (7) budaya hidup yang dikaitkan dengan
kemampuan seseorang mengelola SDA (8) tidak adanya tata pemerintahan yang
bersih, (9) pengelolaan SDA yang berlebihan dan tidak berwawasan lingkungan.
Bank Dunia (2004) menyebutkan terdapat 10 langkah untuk mengurangi
kemiskinan, (1) peningkatan fasilitas jalan dan listrik di pedesaan, (2) perbaikan
tingkat kesehatan melalui fasilitas sanitasi yang lebih baik (3) penghapusan
larangan impor beras, (4) pembatasan pajak dan retribusi daerah yang merugikan
usaha lokal dan orang miskin, (5) pemberian hak penggunaan tanah bagi
penduduk miskin, (6) membangun lembaga-lembaga pembinaan mikro yang
memberi manfaat pada penduduk miskin, (7) perbaikan atas kualitas pendidikan
dan penyediaan pendidikan transisi untuk sekolah menengah, (8) mengurangi
tingkat kematian ibu pada saat persalinan (9) menyediakan lebih banyak dana
untuk daerah-daerah miskin, (10) merancang perlindungan sosial yang lebih tepat
sasaran.

94

2.8

Landasan Penelitian
Berdasarkan beberapa tinjauan pustaka yang menjadi acuan, maka dapat

dibuat suatu kerangka konseptual penelitian yang merupakan kesimpulan dari


tinjauan pustaka. Kerangka konseptual ini mencakup definisi operasional dalam
penelitian ini.
Ketertinggalan adalah suatu kondisi daerah dimana daerah tersebut
memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi, pertumbuhan ekonomi yang rendah,
sumber daya manusia yang rendah, kegiatan ekonomi amat terbatas dan terfokus
pada sumber daya alam, dan minimnya sarana prasarana. KPDT menggambarkan
kondisi ketertinggalan di suatu daerah dengan 6 indikator utama yang dibagi
menjadi 27 sub indikator. 6 indikator utama tersebut adalah ekonomi, sumber
daya manusia, infrastruktur, kapasitas kelembagaan, aksesibilitas, dan juga
karakteristik daerah.
Sedangkan kemiskinan adalah suatu kondisi dimana kekurangan terhadap
kebutuhan primer, yaitu sandang, pangan dan papan. Dalam beberapa hal,
kemiskinan merupakan akar dari penyebab suatu daerah digolongkan kedalam
daerah tertinggal. kondisi masyarakat yang miskin akan menyebabkan lingkaran
kemiskinan yang akan berdampak kepada indikator utama lainnya penyebab dari
ketertinggalan.
Sedangkan persepsi adalah salah satu proses manusia dalam memandang
atau memberikan penilaiannya terhadap sesuatu obyektifitas yang didahului oleh
diterimanya sejumlah informasi dan komunikasi secara timbal balik yang
menyeluruh terhadap rangsangan yang membolehkan individu menyadari,
memahami dan memberikan makna kepada obyektivitas tersebut. Ini bermakna
persepsi merupakan proses dimana manusia membuat penilaian yang subjektif
terhadap orang lain/obyektifitas dengan merunjuk kepada apa yang mampu
diperhatikan dan diamati. Dan persepsi bukanlah proses yang mudah karena tidak
terjadi secara otomatis. Ia merupakan proses yang aktif dengan melibatkan
beberapa tahap proses yang saling berkaitan dan amat kompleks.
Nugroho (2011) mengemukakan, kebijakan publik adalah kebijakan yang
mengatur kehidupan bersama atau kehidupan publik dan bukan mengatur

95

kehidupan seorang atau golongan. Kebijakan publik mengatur semua yang ada,
masalah bersama, masalah pribadi atau golongan yang sudah menjadi masalah
bersama dari seluruh masyarakat di daerah itu. Sebagai ilustrasi, kemacetan di
jalanan kota adalah masalah bersama, dan bukan lagi masalah pemilik mobil atau
mereka yang menggunakan jalan saja, hanya kebijakan publik yang dapat
mengatasi masalah tersebut. Pada tahap selanjutnya, kebijakan publik akan
diturunkan ke dalam program-program yang akan dilaksanakan. Pada penelitian
ini adalah program bantuan sosial yang di berikan oleh KPDT kepada daerahdaerah yang tergolong dalam kondisi tertinggal.
Menurut Dunn (2003), untuk melihat bagaimana kebijakan publik
berjalan, maka diperlukan beberapa kriteria, yaitu efektifitas (hasil telah dicapai),
efisiensi (perbandingan antara input dengan output), kecukupan (seberapa jauh
hasil yang diinginkan dengan pemecahan masalah, perataan (persebaran kepada
target kelompok), responsifitas (hasil memuaskan kebutuhan), dan ketepatan
(apakah hasil benar-benar bernilai). Sedangkan dalam penelitian ini digunakan
beberapa kriteria Dunn (2003), yaitu efektifitas, manfaat (responsifitas) dan
ketepatan (kesesuaian dengan kebutuhan).

96

KABUPATEN KAUR ADALAH KABUPATEN TERTINGGAL


BERDASRKAN KEPMEN PDT NO 1 TAHUN 2005
Menemukan indikator yang paling tertinggal

6 INDIKATOR UTAMA DARI KPDT


EKONOMI
SDM
INFRASTRUKTUR
KAPASISTAS KELEMBAGAAN
AKSESIBILITAS
KARAKTERISTIK DAERAH
Sesuai dengan indikator yang paling
tertinggal atau tidak sesuai

IMPLEMENTASI

Program Bantuan Sosial dari


KDPT
PEMERINTAH DAERAH
KABUPATEN KAUR

PEMERINTAH KABUPATEN
MASYARAKAT
AKADEMISI

PERSEPSI STAKEHOLDERS

HASIL DARI
WAWANCARA DAN
OBESRVASI

ANALISIS

WAWANCARA

OBSERVASI

KESIMPULAN

SARAN DAN REKOMENDASI

Gambar 2.8 -1 : Kerangka Penelitian


Sumber : Analisis Peneliti, 2014

97

BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1

Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode induktif kualitatif. Penelitian yang

bersifat induktif adalah penelitian yang mencoba mencari dan menemukan suatu
teori berdasarkan data yang dikumpulkan, Data yang akan dicari adalah data-data
kualitatif, yaitu data-data yang berupa deksriptif dan bukan berbentuk angka
ataupun kuantitas. Prosedur analisisnya juga tidak menggunakan perhitungan
statistik atau cara kuantifikasi lainnya.
Data yang disajikan pada penelitian ini adalah data yang berbentuk
deskriptif dengan menggambarkan subjek/objek penelitian berdasarkan faktafakta yang tampak dan usaha mengemukakan hubungannya satu dengan yang
lainnya dalam aspek-aspek yang diselidiki. Selain itu, penelitian induktif dengan
penyajian secarab deksriptif merupakan suatu usaha untuk memecahkan masalah
dengan membandingkan persamaan dan perbedaan gejala-gejala yang ditemukan,
mengadakan klasifikasi gejala, menilai gejala, menetapkan standar dan
menetapkan hubungan antar gejala yang ditentukan (Bungin, 2011).
Pembahasan dalam temuan hasil penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan pendekatan kualitatif. Metode analisis kualitatif yang digunakan
dalam penelitian kali ini menekankan pada quality (non quantity) atau lebih
menekankan pada hal terpenting dari suatu objek. Hal terpenting dari suatu objek
tersebut biasanya berupa kejadian atau fenomena sosial yang bisa diambil
maknanya dan dijadikan pembelajaran guna mengembangkan suatu konsep teori
(Satori dan Komariah, 2009). Penelitian kualitatif secara umum dapat digunakan
untuk mengeksplorasi fenomena sosial kehidupan masyarakat, sejarah, tingkah
laku, fungsionalisasi organisasi, aktivitas sosial, dan lain-lain yang terjadi di
sekitar kita. Salah satu alasan menggunakan pendekatan kualitatif pada penelitian
ini karena metode tersebut dapat digunakan untuk menemukan dan memahami
apa yang tersembunyi dibalik fenomena yang kadangkala merupakan sesuatu yang
sulit untuk dipahami secara memuaskan.

98

Moleong (2005) menyatakan bahwa sumber utama dalam penelitian


kualitatif adalah rangkaian kata-kata dan tindakan serta selebihnya adalah datadata tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Selain itu juga dapat
membandingkan data sekunder dan informasi yang didapatkan dilapangan (data
primer). Proses pembandingan yang dilakukan biasa disebut dengan cross check.
Dengan

langkah

tersebut

maka

akan

didapatkan

beberapa

keterkaitan

permasalahan yang ada di dalamnya dan akan dihasilkan sebuah abstraksi yang
merupakan usaha membuat init, rangkuman, proses, serta pernyataaan, yang dapat
dijaga dalam rangka mendapatkan apa yang ingin disimpulkan dalam penelitian.
Sedangkan pembahasan penelitian ini juga menggunakan data deskriptif
kuantitatif yang dibahas menggunakan pendekatan kualitatif. Data kuantitatif
adalah data yang menggunakan tabel-tabel dan angka-angka sebagai sumber
utama dalam pembahasannya. Pada penelitian kali ini, tabel-tabel dan angkaangka digunakan dalam membahas perkembangan kondisi ketertinggalan di
Kabupaten Kaur dalam jangka waktu tertentu.

3.2

Unit Amatan dan Unit Analisis


Penentuan unit amatan dan unit analisis bertujuan untuk menentukan

batasan-batasan penelitian, agar penelitian yang dilakukan berjalan konsisten


dalam tataran konteks atau lingkup yang telah ditetapkan, tidak keluar atau
menyimpang dari kajian dan hasil yang ingin dicapai.
Unit amatan dalam penelitian kali ini adalah Kabupaten Kaur dan
stakeholders (pemerintah Kabupaten Kaur) yang berperan sebagai pelaksana
dalam program yang dilaksanakan. Sedangkan unit analisis dalam penelitian ini
adalah bantuan sosial, KPDT dan juga persepsi stakeholders terhadap bantuan
sosial dan juga KPDT.

99

UNIT AMATAN
KABUPATEN KAUR
dianalisis

diamati

BANTUAN SOSIAL
KPDT
PERSEPSI STAKEHOLDERS
TERHADAP KEDUA HAL
TERSEBUT

DOKUMENDOKUMEN
TERKAIT
KONDISI
DILAPANGAN

Gambar 3.2 -1 : Unit Analisis dan Unit Amatan Penelitian


Sumber : Analisis Peneliti 2014

3.3

Alat dan Instrumen Penelitian


Adapun alat yang nantinya akan digunakan untuk membantu kelancaran

proses penelitian ini antara lain:


1.

Peta dasar dan tematik untuk mendeskripsikan unsur-unsur terkait dengan


lokasi penelitian dalam hal ini Kabupaten Kaur

2.

Alat tulis dan komputer yang digunakan untuk mendokumentasikan seluruh


hasil atau data tekstual yang didapatkan selama penelitian.

3.

Peralatan

dokumentasi

visual,

dalam

hal

ini

kamera

untuk

mendokumentasikan proses selama melakukan penelitian.


4.

Peralatan dokumentasi audio, dalam hal ini handphone untuk proses


wawancara di lapangan.

5.

Logbook untuk mendokumentasikan proses penelitian dari pencarian data di


lapangan sampai proses pengolahan data.

6.

Checklist data untuk memudahkan proses pengecekan data.

100

3.4

Cara Pengumpulan Data


Penelitian ini menggunakan data primer maupun sekunder untuk

menganalisis fenomena ketertinggalan di Kabupaten tersebut. Adapun kebutuhan


data dalam penelitian ini antara lain sebagai berikut:

3.4.1

Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang berasal dari kutipan sumber lain atau

diperoleh dari sumber kedua. Untuk mendapatkan data-data tersebut, maka dapat
dilakukan dengan beberapa cara :
1.

Survei data instansional, yang dilakukan dengan menyalin atau mengutip


data dalam bentuk bagan-bagan, data statistik, peta-peta dan catatan-catatan
yang sudah ada.

2.

Pengumpulan data-data media cetak yang memuat berbagai kecenderungan


sejalan dengan kasus yang diangkat

3.

Studi data atau pengumpulan data melalui media internet (website)

4.

Telaah pustaka melalui berbagai dokumen, baik ilmiah maupun non ilmiah.

3.4.2

Data Primer
Data primer adalah sumber data yang didapat langsung dari sumber

pertama di lokasi atau objek penelitian. Seperti melalui wawancara, survei


maupun studi kasus mikro.

3.5

Tahapan Penelitian
Secara garis besar penelitian kali ini dilaksanakan melalui 3 tahap, yaitu:

1.

Tahap persiapan, yang meliputi kegiatan-kegiatan berikut:


a.

Mencari konsep dan data lain dari literatur yang menyangkut topik
penelitian.

b. Merumuskan masalah yang berkaitan dengan topik penelitian.


c.

Merumuskan tujuan penelitian

d. Menyusun tinjauan pustaka dan landasan teori


e.

Menyusun metode penelitian

101

f.

Membuat surat ijin penelitian di Pemerintahan Kabupaten Kaur,


sebagai upaya untuk memberikan kekuasaan dan persetujuan ke
instansi terkait dalam rangka mengumpulkan informasi data primer
dan sekunder.

g. Menyiapkan peralatan yang diperlukan dalam proses penelitian, mulai


dari draft wawancara, kamera, alat pencatat dan peralatan lain yang
diperlukan.
2.

Tahap pelaksanaan, yang meliputi kegiatan-kegiatan:


a.

Menyusun daftar pencarian data yang diperlukan (draft data sekunder


yang diperlukan dalam penelitian), hal ini ditujukan agar data yang
dicari jelas pada saat tiba di instansi terkait.

b.

Mengumpulkan data dari instansi pemerintah yang terkait dalam


penelitian. Data yang dibutuhkan meliputi data primer dan data
sekunder. Sumber-sumber pencarian data yaitu:
1. Bappeda Kabupaten Kaur
2. Dinas Pendidikan Kabupaten Kaur
3. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kaur
4. Dinas Perdagangan, industi dan koperasi
5. Dinas Kelautan dan Perikanan
6. Dinas Pekerjaan Umum
7. Dinas Pertanian

Sedangkan data-data sekunder yang dibutuhkan yaitu:


1. Kabupaten Kaur Dalam Angka
2. Peta-peta Kabupaten Kaur yang dibutuhkan
3. Daftar program KPDT untuk Kabupaten Kaur

Beberapa data primer yang dibutuhkan dalam penelitian kali ini diperoleh
dengan cara wawancara dan pengamatan langsung. Wawancara dilakukan untuk

102

menjawab pertanyaan dari penelitian ini, yaitu bagaimana persepsi stakeholders


terhadap program bantuan sosial KPDT yang ada di Kabupaten Kaur.
Pemilihan SKPD yang akan dilakukan menjadi sasaran wawancara berasal
dari informasi yang diberikan oleh Bappeda Kabupaten Kaur. Hal ini dikarenakan
tidak semua SKPD yang mendapat program dari KPDT ini. Wawancara dilakukan
kepada Kepala Dinas, Kepala Bidang ataupun staf yang sedang berada di lokasi
dan mengerti mengenai program yang diberikan oleh KPDT ini. Selain itu
wawancara juga dilakukan kepada masyarakat yang mengalami langsung program
yang dilakukan oleh KPDT. Berikut adalah daftar orang yang diwawancara dalam
penelitian ini:
Tabel 3.5 -1
Daftar Narasumber di Instansi Pemerintah Kabupaten Kaur
No
Nama
Instansi
Keterangan
1
Es
Dinsosnakertrasns Kepala Dinas
2
Ab
Dinsosnakertrans
Staff, Mantan Staff Bappeda
Bidang Penanaman Modal
3
Mt
Bappeda
Kabid Penanaman Modal
4
DPU
Bappeda
Kasubid Promosi, Bidang
Penanaman Modal
5
Df
Dinas Pertanian
Kepala Dinas
6
Ad
Dinas Pendidikan Kasubag Perencanaan dan
Pelaporan, Kesekertariatan
7
Rw
PU
Staff bidang cipta karya
8
Ha
Perindagkop
Kabid Perindustrian
9
Ai
Bappeda
Staff Bidang Penanaman
Modal
10
SM
DKP
Sekretaris Dinas Kelautan
dan Perikanan
Sumber : analisis peneliti 2014
Tabel 3.5 -2
Daftar Narasumber Akademisi
No
Nama
Instansi
Keterangan
1
Ay
PSPPR UGM
Staff Ahli
2
Dd
PSPPR UGM
Staff Ahli
Sumber : analisis peneliti 2014

103

No

Tabel 3.5 -3
Daftar Narasumber Masyarakat di Kabupaten Kaur
Nama
Keterangan

Dn

Supir Travel Bengkulu Kaur

Ch

Pemilik Hotel Chantio

As

Pegawai Bank BPD Kabupaten Kaur

Pt

Anggota KWT Suka Maju

Sy

Anggota OMS Sekunyit

Jn

Kades Pasar Baru

Sumber : analisis peneliti 2014


c.

Melakukan pengolahan dan analisis data-data yang telah didapatkan,


baik data sekunder maupun data primer. Setelah itu dilakukan cross
check antara data sekunder dan data primer yang didapatkan.
Keterkaitan yang ditemukan harus diidentifikasi secara maksimal
untuk mendapatkan hasil yang optimal. Selain itu juga perlu dilakukan
uji keabsahan atau validitas data untuk mendukung proses analisis.

d.
3.

Membuat pemaknaan dari hasil analisis data-data yang didapat.

Tahap Perumusan Kesimpulan, yang meliputi kegiatan-kegiatan:


a.

Merangkum dan menyusun temuan dan kesimpulan dari penelitian


hasil analisis.

b.

Membuat rekomendasi penelitian yang merupakan upaya untuk


mengatasi

hambatan

substansi

negatif

untuk

mengupayakan

peningkatan bobot substansi positif bagi perumusan kebijakan publik.

104

3.6

Cara Analisis Data

3.6.1

Gambaran Kondisi Ketertinggalan di Kabupaten Kaur


Pada pembahasan yang pertama ini, menggunakan analisis data kualitatif

dengan data kuantitatif. Data kuantitatif yang dimaksud adalah data yang berupa
grafik dan juga tabel yang berasal dari data sekunder yang menggambarkan
kondisi ketertinggalan di Kabupaten Kaur berdasarkan indikator yang sudah
ditetapkan oleh KPDT, yaitu 6 indikator utama yang dibagi kedalam 27 sub
indikator.
Cara analisis data yang digunakan dengan cara melihat perkembangan
Kabupaten Kaur dari tahun 2008 hingga 2012 yang sudah dikelompokkan
kedalam indikator yang ditetapkan. Selanjutnya juga di bandingkan dengan
pengamatan langsung di lapangan dan juga hasil wawancara singkat dengan
masyarakat Kabupaten Kaur. Sehingga dari sini akan terlihat perkembangan
Kabupaten Kaur paska pemekaran.
Selain

itu,

data

perkembangan

Kabupaten

Kaur

yang

sudah

dikelompokkan ke dalam indikator dari KPDT dibandingkan dengan rata-rata


nasional. Indikator yang berada di bawah rata-rata nasional dapat disimpulkan
sebagai indikator yang bermasalah yang akan digunakan untuk melihat kesesuaian
program bantuan sosial dan juga program pemerintah daerah pada pembahasan
selanjutnya.

3.6.2

Persepsi Stakeholders terhadap program bantuan sosial KPDT


Analisis yang digunakan untuk membahas bantuan sosial di Kabupaten

Kaur adalah dengan cara kualitatif. Dalam hal ini, pembahasan dilakukan dengan
cara mengutip hasil wawancara stakeholders atau dalam hal ini pemerintah daerah
Kabupaten Kaur. Evaluasi di lakukan dengan cara melihat pendapat para
narasumber yang merupakan stakeholders di Kabupaten Kaur mengenai bantuan
sosial KPDT yang diturunkan di Kabupaten Kaur. Wawancara yang dilakukan
kepada para narasumber digunakan untuk mendapatkan jawaban mengenai
manfaat bantuan sosial terhadap masyarakat, baik secara langsung maupun tidak

105

langsung dan juga pandangan stakeholders terhadap bantuan sosial KPDT dan
juga KPDT secara umum.
Dengan menggunakan metode induktif, maka pada saat membahas
persepsi stakeholders maka hasil dari wawancara, dapat dihasilkan beberapa unit
informasi yang diperlukan untuk dianalisis. Dari unit informasi ini, maka dapat di
temukan beberapa sub tema dari hasil wawancara tersebut. Hal ini dilakukan
dengan cara mengelompokkan unit informasi yang mempunyai karakteristik yang
serupa. Dari sub tema ini maka dapat ditemukan tema-tema dari persepsi
stakeholders di Kabupaten Kaur.

3.6.3

Kesesuaian Program Bansos dengan Kondisi Ketertinggalan di

Kabupaten Kaur
Untuk melihat kesesuaian antara bansos, program pemerintah daerah dan
juga kondisi ketertinggalan, langkah utama adalah menentukan kondisi
ketertinggalan di Kabupaten Kaur tersebut. Setelah itu, maka perlu dibuat matriks
untuk melihat kesesuaian antara ketiga hal tersebut. Pengelompokan yang
dilakukan juga berdasarkan hasil wawancara mengenai manfaat bansos yang
dijelaskan oleh stakeholders di Kabupaten Kaur. Dari hal ini akan terlihat
bagaimana pengaruh antara program bansos, program pemerintah daerah terhadap
kondisi ketertinggalan yang ada di Kabupaten Kaur.

106

BAB 4
DESKRIPSI WILAYAH PENELITIAN DAN
GAMBARAN KONDISI KETERTINGGALAN KABUPATEN KAUR

4.1

Deskripsi Umum Kabupaten Kaur


Kabupaten Kaur merupakan salah satu kabupaten baru yang tergabung

dalam Provinsi Bengkulu. Kabupaten Kaur dibentuk pada tahun 2003 melalui UU
No 3 tahun 2003 bersamaan dengan 2 kabupaten baru lainnya yaitu Kabupaten
Seluma dan Kabupaten Muko-muko. Kabupaten Kaur merupakan hasil pemekaran
dari Kabupaten Bengkulu Selatan dan tepatnya berdiri pada tanggal 26 April
2003.
Kabupaten Kaur memiliki luas wilayah 236.500 Ha atau mencapai 2.365
2

km wilayah daratan dan kawasan laut seluas 660,59 km2. Kabupaten Kaur
terletak di bagian paling selatan Provinsi Bengkulu dan berjarak kurang lebih 250
km ke arah selatan dari ibukota Provinsi Bengkulu. Batas-batas secara
administratif adalah sebagai berikut :
Utara

: Kecamatan Kedurang, Kabupaten Bengkulu Selatan

Selatan

: Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung

Barat

: Samudera Hindia

Timur

: Kabupaten Oku Selatan, Provinsi Sumatera Selatan

Kabupaten Kaur yang terbentuk berdasarkan UU No 3 Tahun 2003


Tentang Pemekaran Wilayah Kabupaten Kaur merupakan salah satu kabupaten
baru di Provinsi Bengkulu dibagi menjadi 7 kecamatan dan 123 desa serta 3
kelurahan. Pada tahun 2005, jumlah kecamatan di Kabupaten Kaur dimekarkan
menjadi 15 kecamatan dan diikuti dengan pemekaran desa menjadi 153 desa dan 3
kelurahan. Dan pada tahun 2012, administrasi di Kabupaten Kaur dibagi menjadi
15 kecamatan, 192 desa dan 3 kelurahan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
peta dan tabel dibawah ini:

107

Gambar.4.1 -1
Peta Administrasi Kabupaten Kaur
Sumber : RTRW Kabupaten Kaur tahun 2011 - 2031
Tabel .4.1 -1
Luas Kecamatan, Jumlah Desa dan Kelurahan di Kabupaten Kaur
No

Kecamatan

Desa

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Luas
Semidang Gumai
Padang Guci Hilir
Lungkang Kule
Muara Sahung
Kelam Tengah
Tetap
Padang Guci Hulu
Tanjung Kemuning
Kaur Utara
Kinal
Kaur Tengah
Kaur Selatan
Maje
Nasal
total

12
13
9
9
7
13
12
11
20
10
14
8
18
18
18
192

Kelurahan

1
1
1
3

Ibukota Kecamatan

Total
Penduduk

Luas
Km2)

Kepadatan
Penduduk

Benua Ratu
Mentiring
Gunung Kaya
Sukananti
Ulak Lebar
Rigangan 1
Tetap
Bn. Tambun 2
Tanjung Kemuning
Simpang Tiga
Gedung Wani
Tanjung Iman
Bintuhan
Linau
Merpas
110921

4956
5550
3686
3322
5597
4488
6022
6815
10870
6603
4387
6363
14437
12233
15591
2365

124.88
64.91
115.96
32
256
26.4
87.92
370.64
72.91
49.8
154.03
35.84
92.75
361.04
519.92
46.90

39.69
85.50
31.78
103.83
21.86
170.00
68.49
18.39
149.09
132.59
28.48
177.53
155.66
33.88
29.99

Sumber : Kabupaten Kaur dalam angka 2013

108

Berdasarkan Kabupaten Kaur dalam angka tahun 2013, jumlah desa di


Kabupaten Kaur pada tahun 2011 mengalami penurunan dari tahun sebelumnya
yaitu pada tahun 2010. Desa di kecamatan Maje, yaitu Desa Pematang Danau
digabung dengan Desa Kedataran dengan dasar hukum Perda No.32 tahun 2009
dan terjadi perubahan nama Desa Air Bacang menjadi Sinar Mulia dengan dasar
hukum Perda No. 05 Tahun 2010. Alasan penggabungan dan perubahan nama
desa ini dikarenakan desa ini dimaksudkan untuk dikosongkan karena berada di
wilayah hutan lindung di Kabupaten Kaur.
Jumlah dan Kepadatan Penduduk
Berdasarkan hasil registrasi penduduk pada tahun 2012 yang terdapat
dalam Kabupaten Kaur dalam angka tahun 2013, jumlah penduduk Kabupaten
Kaur adalah 110.921 jiwa dengan kepadatan penduduk 46,9 jiwa/km2. Data
jumlah penduduk dan kepadatan penduduk dirinci per kecamatan (dapat dilihat
pada tabel 4.1 -1).
Pertumbuhan penduduk di Kabupaten Kaur mengalami peningkatan dari
tahun 2011 ke tahun 2012, yaitu sebanyak 1.352 jiwa dimana pada tahun 2011
jumlah penduduk di Kabupaten Kaur berjumlah 109.569 jiwa sedangkan pada
tahun 2012 berjumlah 110.921 jiwa. Persebaran penduduk di Kabupaten Kaur
cenderung berada di kecamatan-kecamatan yang berada di daerah pesisir pantai.
Hal ini juga ditunjang dengan keberadaan jalur transportasi yang melalui
kecamatan-kecamatan tersebut, antara lain, kecamatan Nasal, Maje, Tanjung
Kemuning, Kaur Tengah dan Kaur Selatan. Berikut adalah laju pertumbuhan

Jumlah penduduk

penduduk Kabupaten Kaur dari tahun 2008 hingga tahun 2012.

115000

Pertumbuhan Penduduk

110000
105000

104635

106256

107899

109569

110921

100000
2008

2009

2010

2011

2012

Tahun

Gambar.4.1 -2
Diagram Perkembangan Jumlah Penduduk Tahun 2008-2012
Sumber : Kabupaten Kaur dalam angka 2013
109

Jumlah penduduk perempuan dan laki-laki di Kabupaten Kaur cukup


berimbang. Pada tahun 2012, jumlah penduduk laki-laki berjumlah 57.429 jiwa
sedangkan penduduk perempuan 53.492 jiwa, sehingga sex ratio di Kabupaten
Kaur ini adalah 107,36.
Tabel.4.1 -2
Sex Ratio Penduduk Kabupaten Kaur Dirinci Per Kecmatan Tahun 2012
JENIS KELAMIN
LAKIPEREMPUAN
LAKI

TOTAL

SEX
RATIO

NASAL

8424

7190

15591

116,86

MAJE

6587

5646

12233

116,66

KAUR SELATAN

7337

7100

14437

103,34

TETAP

3064

2958

6022

103,58

KAUR TENGAH

2240

2248

4488

99,68

LUAS

2546

2410

4956

105,67

MUARA SAHUNG

2996

2601

5597

115,18

KECAMATAN

KINAL

2247

2140

4387

105,00

SEMINDANG GUMAY

2832

2718

5550

104,20

TANJUNG KEMUNING

5530

5340

10870

103,57

KELAM TENGAH

3242

3121

6363

103,89

KAUR UTARA

3355

3248

6603

103,29

PADANG GUCI HILIR

1875

1811

3686

103,54

LUNGKANG KULE

1691

1632

3323

103,59

PAGANG GUCI HULU

3483

3331

6815

104,61

TOTAL

57429

53492

110921

107,36

Sumber : Kabupaten Kaur dalam angka 2013

4.2

Gambaran Kondisi Ketertinggalan Kabupaten Kaur


Kabupaten Kaur tergolong ke dalam salah satu kabupaten yang tertinggal

menurut Keputusan Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal nomor:


006/PER/M-PDT/1/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Pembangunan
Daerah Tertinggal Tahun 2010 2014. Kabupaten Kaur yang sudah melakukan
pemekaran sejak tahun 2003 mengalami perkembangan yang terhambat sehingga
sampai pada tahun 2014 masih tergolong ke dalam kabupaten yang berada dalam
kondisi tertinggal.
Berdasarkan data dari Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal
(KPDT) terdapat 6 indikator utama dan 27 sub indikator yang digunakan untuk
110

menggambarkan kondisi ketertinggalan di suatu kabupaten. Berikut ini adalah


indikator yang digunakan oleh KPDT.

No

Tabel 4.2 -1
Indikator Utama dan Sub Indikator Penentuan Daerah Tertinggal
Indikator Utama
Sub Indikator
Persentase Penduduk Miskin

EKONOMI

SDM

INFRASTRUKTUR

KAPASITAS
KELEMBAGAAN

AKSESIBILITAS

Pengeluaran Konsumsi Perkapita


Harapan Hidup
Rata-Rata Lama Sekolah
Angka Melek Huruf
Jumlah desa dengan jenis permukaan jalan utama
terluas Aspal/Beton
Jumlah desa dengan jenis permukaan jalan utama
terluas Diperkeras
Jumlah desa dengan jenis permukaan jalan utama
terluas Tanah
Jumlah desa dengan jenis permukaan jalan utama
terluas Lainnya
Persentase Rumah Tangga Pengguna Listrik
Persentase Rumah Tangga Pengguna Telepon
Persentase Rumah Tangga Pengguna Air Bersih
Jumlah Desa yg mempunyai Pasar Tanpa bangunan
Permanen
Jumlah Prasarana Kesehatan Per 1000 Penduduk
Jumlah Dokter Per 1000 Penduduk
Jumlah SD/SMP Per 1000 Penduduk
Fiscal Gap
Rata-rata Jarak dari kantor desa/kelurahan ke kantor
kabupaten/kota yang membawahi

Akses ke Pelayanan Kesehatan > 5 Km


Akses Ke Pelayanan Pendidikan Dasar
Desa Gempa bumi
Desa Tanah Longsor
Desa Banjir
6 KARAKTERISTIK
Desa Bencana Lainnya
DAERAH
Desa di Kawasan Lindung
Desa berlahan Kritis
Rata-Rata Desa Konflik 1 tahun terakhir
Sumber : Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal 2014, diolah

111

4.2.1

Ekonomi
Indikator ekonomi merupakan salah satu indikator yang digunakan oleh

KPDT untuk menganalisis kondisi ketertinggalan di suatu daerah tertinggal,


seperti Kabupaten Kaur. Hal ini dikarenakan tingkat perekonomian suatu daerah
mencerminkan tingkat kemajuan daerah tersebut. KPDT membagi Indikator
ekonomi menjadi 2 sub indikator yang dapat memberi pengaruh pada keadaan
suatu daerah, yaitu persentase penduduk miskin dan pengeluaran konsumsi
perkapita.
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kaur dari tahun 2008 2012
cenderung mengalami peningkatan. Dalam hal ini, parameter yang digunakan
untuk menghitung pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kaur adalah harga konstan.
Berdasarkan PDRB, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kaur pada tahun 2008
adalah 5,42%. Angka ini mengalami penurunan pada tahun 2009 yaitu
pertumbuhan ekonomi hanya 4,28%. Penurunan ini cukup signifikan apabila
dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya. Penurunan pertumbuhan
ekonomi pun terjadi pada tahun berikutnya yaitu pada tahun 2010. Namun
pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Kaur kembali meningkat pada tahun 2011
hingga 2012, yaitu pertumbuhan eknomi pada tahun

2011 mencapai 4,92%.

Sedangkan pada tahun 2012, pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Kaur


meningkat dengan pesat, yaitu sebesar 5,54%. Hal ini merupakan salah satu
dampak dari berlangsungnya aktivitas perekonomian di Kabupaten Kaur yang
ditunjukkan dengan banyak bermunculan usaha-usaha kecil dan menengah di
Kabupaten Kaur. Walaupun pada tahun 2008-2012 pertumbuhan ekonomi di
Kabupaten Kaur cenderung tidak stabil, namun berdasarkan data keseluruhan,
pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Kaur telah mengalami peningkatan dari
tahun 2008 hingga tahun 2012. Untuk lebih jelasnya, pertumbuhan ekonomi
Kabupaten Kaur dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.2 -2
Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Kaur Tahun 2008 - 2012
Pertumbuhan
2008
2009
2010
2011
2012
Ekonomi
5,42 %
4,28 %
4,24 %
4,92 %
5,54 %
Sumber : Dokumen Kabupaten Kaur dalam Angka dan Analisis IPM dan IKK
Kabupaten Kaur, Statistik Kabupaten Kaur 2013

112

A.

Persentase Penduduk Miskin


Sub indikator pertama yang ditetapkan oleh KPDT yang memberikan

pengaruh kepada indikator ekonomi adalah persentase keluarga miskin. Hal ini
dikarenakan jumlah keluarga miskin di suatu daerah akan memberikan gambaran
tingkat ekonomi suatu daerah. Sebagai ilustrasi, apabila pertumbuhan ekonomi
suatu daerah tinggi, namun jika persentase penduduk miskin berada pada level
yang tinggi, maka hal tersebut akan memberikan gambaran bahwa kesenjangan
pada daerah tersebut sangat tinggi. Kesenjangan antara yang kaya dan yang
miskin akan semakin terlihat jelas. Hal-hal seperti ini akan menimbulkan dampak
negatif seperti konflik sosial antar masyarakat dan tingginya jumlah penduduk
miskin suatu daerah serta menunjukkan perkembangan kabupaten tersebut sangat
lambat.
Tabel 4.2 -3
Tingkat Kemiskinan Kabupaten Kaur Tahun 2008 - 2012
Indikator

Satuan

2008

2009

2010

2011

2012

Penduduk
Penduduk Miskin
Persentase Penduduk Miskin

Orang
Orang
%

104.635
27.215
26.01

106.256
24.959
23.49

107.899
22.896
21.22

109.569
24.500
22,26

110.921
24.400
22,66

Sumber:Dokumen Kabupaten Kaur dalam Angka dan Analisis IPM dan IKK Kabupaten
Kaur dan RPJMD Kabupaten Kaur, Statistik Kabupaten Kaur 2013, BAPPEDA(20082013)

Persentase keluarga miskin di Kabupaten Kaur dari tahun 2008 hingga


tahun 2012 cenderung mengalami penurunan. Pada tahun 2008, persentase
penduduk miskin di Kabupaten Kaur mencapai 26,01%. Jumlah ini terus
berkurang dari tahun ke tahun dan pada tahun 2012, persentase penduduk miskin
di Kabupaten Kaur mencapai 22,66%. Jumlah ini mengalami peningkatan dari
tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 2010 mencapai 21,22%. Namun secara
keseluruhan, persentase penduduk miskin di Kabupaten Kaur terus mengalami
penurunan. Jika melihat persentase penduduk miskin dari tahun 2008 hingga
tahun 2012, persentase penduduk miskin mengalami penurunan secara konstan
sebesar 0,8% pertahunnya. Sehingga diharapkan kecenderungan ini terus berlanjut
hingga tahun berikutnya.

113

B.

Pengeluaran Konsumsi Perkapita


Pengeluaran konsumsi perkapita merupakan salah satu sub indikator yang

digunakan

untuk

melihat

kecenderungan

indikator

ekonomi

dalam

menggambarkan kondisi ketertinggalan di Kabupaten Kaur. Pengeluaran


konsumsi perkapita merupakan kemampuan daya beli masyarakat Kabupaten
Kaur dalam membeli keperluan hidup sehari-hari. Kemampuan daya beli
menggambarkan kemampuan ekonomi masyarakat secara umum sebagai dampak
perkembangan dari perekonomian suatu daerah.
Tabel 4.2 -4
Pertumbuhan Pengeluaran Perkapita Disesuaikan (PPP) Tahun 2008 - 2012
Indikator

Satuan

2008

2009

2010

2011

2012

Pengeluaran Per Kapita


Disesuaikan (PPP)

Rupiah

604.600

609.290

610.840

613.140

615.690

Sumber:Dokumen Kabupaten Kaur dalam Angka dan Analisis IPM dan IKK Kabupaten
Kaur, BAPPEDA(2008-2013), Statistik Kabupaten Kaur 2013

Pengeluaran perkapita di Kabupaten Kaur dari tahun 2008 hingga tahun


2012 mengalami peningkatan secara konstan. Pada tahun 2008, pengeluaran
perkapita masyarakat di Kabupaten Kaur mencapai 604 ribu sedangkan pada
tahun 2012 mencapai 615 ribu. Jika melihat secara umum, pengeluaran perkapita
di Kabupaten Kaur dalam 5 tahun terakhir mengalami peningkatan sebesar 0,45%.
Hal ini menunjukkan trend yang positif terkait perkembangan ekonomi di
Kabupaten Kaur.

4.2.2

Sumber Daya Manusia


Indikator kedua yang digunakan oleh KPDT untuk menggambarkan

kondisi ketertinggalan di Kabupaten Kaur adalah sumber daya manusia (SDM).


Sumber

daya

manusia

memberikan

pengaruh

secara

langsung

kepada

perkembangan suatu daerah., Indikator sumber daya manusia secara umum terdiri
dari 3 sub indikator yang berhubungan langsung dengan perkembangan sumber
daya manusia suatu daerah, yaitu angka harapan hidup, rata-rata lama sekolah dan
angka melek huruf.

114

A.

Angka Harapan Hidup


Angka harapan hidup merupakan salah satu sub indikator yang harus

diperhatikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia suatu daerah.


Angka harapan hidup adalah angka yang menunjukkan lamanya seorang manusia
dapat bertahan hidup. Berikut adalah perkembangan angka harapan hidup di
Kabupaten Kaur.
Tabel 4.2 -5
Angka Harapan Hidup Kabupaten Kaur Tahun 2008 - 2012
Indikator

Satuan

2008

2009

2010

2011

2012

Angka Harapan Hidup


Tahun
66,61
66,92
67,23
67,54
67,85
Sumber:Dokumen Kabupaten Kaur dlalam Angka dan Analisis IPM dan IKK Kabupaten
Kaur, BAPPEDA(2008-2013), statistik Kabupaten Kaur 2013

Berdasarkan data sekunder dan hasil observasi lapangan, terdapat 2 faktor


utama yang mempengaruhi perkembangan angka harapan hidup di Kabupaten
Kaur, yaitu fasilitas penunjang untuk kesehatan dan tenaga kesehatan di
Kabupaten Kaur, serta kemampuan ekonomi masyarakat di Kabupaten Kaur yang
masih tergolong rendah sehingga menyebabkan ketidakmampuan untuk
membayar biaya pengobatan.
Fasilitas penunjang kesehatan di Kabupaten Kaur cukup menjadi sorotan
sebagai penyebab dari angka harapan hidup di Kabupaten Kaur yang cukup
memperihatinkan. Berdasarkan data Kabupaten Kaur dalam angka, jumlah dokter
spesialis di Kabupaten Kaur berada pada level yang memprihatinkan, yaitu pada
tahun 2012 berjumlah 0 orang. Walaupun jumlah fasilitas kesehatan di Kabupaten
Kaur sangat mencukupi (selain rumah sakit umum), namun rumah sakit umum di
Kabupaten Kaur hanya berjumlah 1 dan berjarak cukup jauh dari pemukiman
penduduk. Selain itu, pemukiman penduduk yang sehat (dalam hal ini memiliki
jamban sendiri) hanya berjumlah 50% pada tahun 2012. Selain itu, akses air
bersih sebagai penyebab rendahnya angka harapan hidup di Kabupaten Kaur
masih menjadi masalah utama. Pada tahun 2012, sekitar 24,90% masyarakat
masih mengambil sumber air bersih dari sumur yang tidak terlindungi sedangkan
12,03% mengambil sumber air bersih dari sungai (statistik Kabupaten Kaur,
2013).

115

Persentase angka kemiskinan di Kabupaten Kaur yang tinggi menjadi


salah satu penyebab dari adanya masalah pada angka harapan hidup di Kabupaten
Kaur. Masyarakat Kabupaten Kaur umumnya berpenghasilan rendah dan memiliki
daya beli rendah, sehingga tidak mampu apabila harus membayar biaya
pengobatan yang cukup mahal. Sedangkan daerah pun belum mampu untuk
memberikan subsidi secara penuh terahadap biaya pengobatan masyarakat di
Kabupaten Kaur. Hal ini terlihat dari PAD yang masih sangat minim (kurang
lebih 7,78 miliar pada tahun 2012). Hal ini juga dianggap sebagai salah satu
penyebab masalah terkait belum optimalnya layanan kesehatan di masyarakat.

B.

Rata-rata Lama Sekolah


Rata-rata lama sekolah merupakan salah satu sub indikator yang

digunakan oleh KPDT untuk menggambarkan kondisi sumber daya manusia.


Rata-rata lama sekolah merupakan waktu yang dibutuhkan masyarakat suatu
daerah atau kabupaten untuk mengenyam bangku sekolah. Dalam hal ini, rata-rata
pendidikan masyarakat di Kabupaten Kaur adalah setara dengan kelas 2 sekolah
menengah pertama (SMP). Hal ini termasuk dalam level yang cukup
mengkhawatirkan jika mengingat kualitas sumber daya manusia pada masyarakat
yang level pendidikannya hanya setara dengan kelas 2 SMP. Berikut adalah
perkembangan rata-rata lama sekolah di Kabupaten Kaur hingga tahun 2012.
Tabel 4.2 -6
Perkembangan Indikator Pendidikan Di Kabupaten Kaur 2008 - 2012
Indikator
Angka Rata-rata Lama Sekolah

Satuan
Tahun

2008
7,50

2009
7,56

2010
7,91

2011
7,94

2012
8,17

Sumber:Dokumen Kabupaten Kaur dlalam Angka dan Analisis IPM dan IKK Kabupaten
Kaur, BAPPEDA(2008-2013), statistik Kabupaten Kaur

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dan wawancara singkat dengan


masyarakat di Kabupaten Kaur, banyak faktor yang mempengaruhi rata-rata lama
sekolah di Kabupaten Kaur. Faktor-faktor yang berpengaruh tersebut, antara lain:
tingkat ekonomi masyarakat, budaya masyarakat dan infrastruktur penunjang
pendidikan, serta program-program pemerintah untuk memajukan kegiatan
pendidikan di Kabupaten Kaur. Adapun kaitan dengan tingkat ekonomi

116

masyarakat bahwa rata-rata lama sekolah di Kabupaten Kaur berada pada level
yang cukup rendah, yaitu pengeluaran perkapita pada tahun 2012 hanya mencapai
615 ribu rupiah. Hal ini tidak sebanding dengan biaya pendidikan yang cukup
mahal untuk jenjang yang lebih tinggi. Maka dari itu sebagian besar masyarakat
hanya mampu bersekolah hingga tingkat SMP, sesuai dengan program pemerintah
pusat, yaitu wajib belajar 9 tahun.
Infrastruktur penunjang pendidikan di Kabupaten Kaur sudah cukup
memadai. Jumlah Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Kaur adalah 129 sedangkan
SMP + MTS berjumlah 41 dan SMA berjumlah 36 (Kabupaten Kaur Dalam
Angka 2013). Untuk jumlah penduduk yang baru mencapai 110 ribu jiwa, jumlah
ini sudah sangat mencukupi. Hal tersebut juga yang menyebabkan perkembangan
angka rata-rata lama sekolah di Kabupaten Kaur meningkat. Untuk lebih jelasnya,
dapat dilihat pada tabel rasio murid sekolah di Kabupaten Kaur.
Tabel 4.2 -7
Rasio Murid Sekolah dan Rasio Murid Guru Tahun 2012
rasio murid - sekolah
SD
119,01
MI
73,40
SMP
161
MTS
94
Sumber : Kabupaten Kaur Dalam Angka 2013

Jika melihat rasio fasilitas pendidikan di Kabupaten Kaur pada tabel


diatas, maka jumlah fasilitas pendidikan di Kabupaten Kaur sudah mencukupi
dikarenakan tidak terdapat kelas yang melebihi kapasitas normal untuk pendidikan
dasar (1 kelas sekolah dasar rata-rata berisikan 20 murid). Selain itu, persebaran
fasilitas pendidikan yang sudah merata juga menyebabkan minat masyarakat
untuk bersekolah menjadi meningkat (karena kemudahan menuju fasilitas
pendidikan), sehingga angka rata-rata lama sekolah di Kabupaten Kaur ini
meningkat tiap tahunnya. Berikut adalah peta persebaran pendidikan di Kabupaten
Kaur (Lampiran 5).

117

Selain dari segi infrastruktur, program-program pemerintah di Kabupaten


Kaur sudah ditujukan untuk memajukan bidang pendidikan. Salah satunya adalah
Kabupaten Kaur memulai program sekolah satap atau sekolah satu atap pada
tahun 2012, dimana SD, SMP, dan SMA digabung menjadi 1 dan biaya sekolah
gratis bagi masyarakat (hasil wawancara, Ad, kasubag pelaporan dan
perencanaan, dinas pendidikan Kabupaten Kaur). Hal ini menunjukkan bahwa
pemerintah Kabupaten Kaur sudah serius untuk memajukan pendidikan di
daerahnya untuk meningkatkan kualitas SDM.
Selain itu, terdapat juga program kerja sama pemerintah daerah dengan
Universitas, yaitu Universitas Muhammadiyah Bengkulu dengan cara membuka
cabang di Kabupaten Kaur. Hal ini menjadi stimulan bagi masyarakat agar dapat
melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (dalam hal ini tingkat
universitas).

C.

Angka Melek Huruf


Angka melek huruf merupakan salah satu sub indikator dari sumber daya

manusia

yang

digunakan

oleh

KPDT

untuk

menggambarkan

kondisi

ketertinggalan suatu daerah. Angka melek huruf merupakan persentase


masyarakat yang berusia diatas 15 tahun pada suatu daerah yang mengerti dan
mampu baca tulis. Perkembangan angka melek huruf di Kabupaten Kaur cukup
baik hingga tahun 2012. Sejak tahun 2008 hingga tahun 2012 angka melek huruf
di Kabupaten Kaur terus mengalami peningkatan. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.2 -8
Perkembangan Indikator Pendidikan Di Kabupaten Kaur Tahun 2008 - 2012
Indikator
Satuan
2008
2009
2010
2011
2012
Angka Melek Huruf
%
95,00
95,03
96,06
96,36
97,08
Sumber:Dokumen Kabupaten Kaur dalam Angka dan Analisis IPM dan IKK
Kabupaten Kaur, BAPPEDA(2008-2013), Statistik Kabupaten Kaur 2013

Peningkatan indikator ini menunjukkan sebuah tren positif terkait


pendidikan dasar di Kabupaten Kaur. Pada tahun 2012, dapat dilihat bahwa
sebesar 97,08% masyarakat Kabupaten Kaur yang berusia diatas 15 tahun dapat

118

membaca dan menulis. Banyak faktor yang mempengaruhi angka melek huruf di
Kabupaten Kaur. Dari hasil pengamatan langsung dilapangan dan juga analisis
data sekunder yang didapat, faktor-faktor yang mempengaruhi angka melek huruf
di Kabupaten Kaur antara lain: fasilitas pendidikan di Kabupaten Kaur,
kemampuan ekonomi masyarakat dan kapasitas daerah Kabupaten Kaur, dalam
hal ini program-program pemerintah Kabupaten Kaur yang sudah menunjang
pendidikan di Kabupaten Kaur.
Kemampuan ekonomi masyarakat Kabupaten Kaur telah cukup menunjang
untuk membiayai sekolah anak sampai bisa baca dan tulis. Menurut mereka, jika
hanya sampai tamat sekolah dasar, mereka masih mampu membiayai pendidikan
anak-anak mereka. Namun, jika lebih dari itu mereka sudah tidak mampu (lebih
dari pendidikan dasar). Selain itu, masyarakat juga berpendapat bahwa pendidikan
itu penting walaupun hanya sebatas bisa baca dan tulis (hasil wawancara
masyarakat). Hal ini lah yang menjadi salah satu penyebab angka melek huruf di
Kabupaten Kaur cukup tinggi.
Fasilitas penunjang pendidikan di Kabupaten Kaur telah cukup mamadai.
Jumlah Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Kaur adalah 129 sedangkan SMP +
MTS berjumlah 41 dan SMA berjumlah 36 (Kabupaten Kaur Dalam Angka
2013). Angka ini sudah mencukupi untuk melayani pendududuk di Kabupaten
Kaur yang pada tahun 2012 mencapai 110 ribu jiwa. Hal ini terlihat dari rasio
murid dan sekolah yang masih normal (1 kelas sekolah dasar berisikan 20 orang
murid). Sedangkan persebaran fasilitas pendidikan yang sudah cukup merata juga
menjadi salah satu faktor penunjang keinginan untuk bersekolah.
Selain itu, program pemerintah untuk menunjang pendidikan di Kabupaten
Kaur telah cukup banyak. Diantaranya terdapat program sekolah satap atau satu
atap. Dimana program tersebut adalah program SD, SMP dan SMA yang di
gabung menjadi satu dan tanpa biaya (gratis) untuk masyarakat di Kabupaten
Kaur (hasil wawancara, Ad, kasubag pelaporan dan perencanaan, dinas
pendidikan Kabupaten Kaur).

119

4.2.3

Infrastruktur
Infrastruktur merupakan salah satu indikator yang digunakan oleh KPDT

untuk menggambarkan kondisi ketertinggalan di daerah tertinggal, dalam hal ini


adalah Kabupaten Kaur. Indikator infrastruktur memiliki 11 sub indikator yang
digunakan oleh KPDT dalam menggambarkan kondisi ketertinggalan di
Kabupaten Kaur, yaitu:
Tabel 4.2 -9
Sub Indikator Infrastruktur
INDIKATOR
SUB INDIKATOR
Persentase desa dengan jenis permukaan jalan utama terluas
Aspal/Beton
Persentase desa dengan jenis permukaan jalan utama terluas
Diperkeras
Persentase desa dengan jenis permukaan jalan utama terluas
Tanah
Persentase
desa
dengan
jenis
permukaan jalan utama terluas
INFRASTRUKTUR
Lainnya
Rumah Tangga Pengguna Listrik
Rumah Tangga Pengguna Telepon
Rumah Tangga Pengguna Air Bersih
Jumlah Desa yg mempunyai Pasar Tanpa bangunan Permanen
Jml Prasarana Kesehatan Per 1000 Penduduk
Jumlah Dokter Per 1000 Penduduk
Jumlah SD/SMP Per 1000 Penduduk
Sumber : Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal 2014, diolah

A.

Infrastruktur Transportasi
Salah satu sub indikator yang digunakan untuk menggambarkan apakah

suatu daerah itu tertinggal atau tidak adalah berdasarakan infrastruktur


transportasi. Yang tergolong ke dalam infrastruktur transportasi adalah keadaan
jalan di daerah tertinggal. Keadaan jalan di daerah tertinggal dibagi menjadi 4,
yaitu persentase desa dengan jenis permukaan jalan aspal, persentase desa dengan
jenis permukaan jalan diperkeras, persentase desa dengan jenis permukaan jalan
tanah dan persentase desa dengan jenis permukaan jalan lainnya.
Perkembangan sub indikator ini dapat dilihat melalui perkembangan jalan
yang ada di Kabupaten Kaur. Berikut adalah tabel perkembangan infrastruktur
transportasi yang ada di Kabupaten Kaur yang dilihat melalui perkembangan jalan
yang ada di Kabupaten Kaur.
120

Tabel 4.2 -10


Perkembangan Infrastruktur Transportasi di Kabupaten Kaur Tahun 2010 - 2012
Indikator
Satuan
2010
2011
2012
Panjang Jalan Aspal
Km
308,47
360,30
359,85
Panjang Jalan Diperkeras
Km
105
149,07
149,52
Panjang Jalan Tanah
Km
187,61
118,25
118,25
Panjang Jalan Jenis Permukaan Lainnya
Km
0
11,23
11,23
Sumber : Kabupaten Kaur Dalam Angka 2013

Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa perkembangan infrastruktur


transportasi di Kabupaten Kaur menunjukkan hal yang positif. Panjang jalan aspal
terus meningkat dari tahun 2010 sedangkan panjang jalan tanah mengalami
penurunan.
Secara umum, perkembangan jalan merupakan salah satu hal yang sangat
penting. Hal ini dikarenakan jalan merupakan sarana untuk aliran aktivitas
manusia di daerah tersebut. Kondisi jalan yang kurang memadai dapat
menghambat aliran aktivitas manusia, sehingga akan berdampak terhadap banyak
hal, baik ekonomi, pendidikan, hingga kesehatan.
Berdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa jalan aspal di Kabupaten Kaur
mengalami peningkatan yang cukup drastis pada tahun 2010 (mengalami
peningkatan 50 km jalan aspal). Peningkatan ini dapat diberi apresiasi, akan tetapi
jika dicermati lebih lanjut maka akan ditemukan masalah-masalah yang ada di
Kabupaten Kaur. Dari pengamatan di lapangan dan wawancara, sebagian besar
jalan aspal berada di pusat-pusat pemukiman. Sedangkan untuk daerah-daerah
atau desa-desa yang berada jauh di pedalaman, kondisi jalan masih sangat
memprihatinkan.

Gambar 4.2 -1
Salah Satu Kondisi Jalan di Kabupaten Kaur
Sumber : Survei 2014

121

B.

Infrastruktur Kebutuhan Dasar Rumah Tangga


Salah satu sub indikator yang digunakan untuk mengetahui kondisi

ketertinggalan adalah keadaan infrastruktur dasar rumah tangga. Yang tergolong


ke dalam kebutuhan dasar rumah tangga adalah listrik, telepon, dan air bersih.
Perkembangan infrastruktur kebutuhan dasar rumah tangga di Kabupaten Kaur
dapat dilihat melalui tabel di bawah ini.
Tabel 4.2 -11
Perkembangan Persentase Pengguna Listrik dan Telepon di Kabupaten Kaur
Tahun 2010 - 2012
Indikator
Satuan
2011
2010
2012
Persentase RTPengguna Listrik
%
67,79
69,15
69,56
Persentase RT Pengguna Telepon
%
1,44
1,55
1,53
Persentase RT Pengguna Telepon Seluler
%
69,75
70,06
Sumber: statistik Kabupaten Kaur 2013, www.kpdt.bps.go.id, diakses tanggal 10 April
2014

Pada tabel diatas, terlihat bahwa infrastruktur kebutuhan dasar terutama


listrik di Kabupaten Kaur masih tergolong kurang memadai. Hingga tahun 2012
masih terdapat 30% masyarakat Kabupaten Kaur yang belum memiliki jaringan
listrik. Padahal listrik merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam
menunjang kehidupan. Banyak kegiatan yang menggunakan listrik sebagai
sumber energi terutama dalam hal penerangan dan aktivtas sehari-hari.
Sedangkan untuk rumah tangga pengguna telepon memang hanya sebatas
1,53% di Kabuapaten Kaur, akan tetapi hal ini bukan dikarenakan mereka tidak
memiliki kebutuhan terhadap jaringan telepon, tetapi lebih dikarenakan beralihnya
penggunaan telepon rumah menjadi telepon selular. Dari hasil wawancara juga
ditemukan bahwa memang kecendrungan masyarakat di Kabupaten Kaur lebih
menggunakan telepon selular.
Terkait dengan penggunaan air bersih, persentase rumah tangga pengguna
air bersih di Kabupaten Kaur cukup menimbulkan permasalahan. Pada tahun
2012, sebagian besar masyarakat mendapatkan sumber air bersih dari sumur yang
terlindungi (53,29%). Yang menjadi pemasalahan adalah masih banyak rumah
tangga di Kabupaten Kaur yang mendapatkan sumber air bersih dari sumur tidak
terlindungi dan juga dari air sungai (37%). Seperti yang kita ketahui, tingkat

122

pencemaran sungai cukup tinggi dikarenakan 33,32% masyarakat Kabupaten Kaur


masih menggunakan sungai sebagai tempat pembuangan tinja.
60
50
40
30
20
10
0

53.29

24.9
0.27

0.26

2.35

5.21

12.03
1.96

0.28

RT yang
mempunyai
akses terhadap
sumber air
minum (%)

Gambar 4.2 -2
Diagram Rumah Tangga Yang Mempunyai Akses Terhadap Air Bersih (2012)
Sumber : Statistik Kabupaten Kaur 2013

Berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan, ditemukan bahwa


memang masyarakat Kabupaten Kaur masih memanfaatkan sungai yang ada
sebagai sumber air untuk kebutuhan rumah tangga, baik itu mencuci, memasak,
mandi, dan kebutuhan lainnya. Hal inilah yang juga menyebabkan rendahnya
persentase rumah tangga pengguna air bersih di Kabupaten Kaur. Kesadaran
masyarakat pun dinilai masih kurang terutama terkait konservasi sumber air.
Selain itu, masalah yang mulai berkembang di Kabupaten Kaur terkait dengan
masalah limbah penduduk adalah limbah industri rumah tangga yang seringkali
dibuang ke sungai, sehingga dapat menyebabkan terjadinya pencemaran air.

C.

Jumlah Desa Yang Mempunyai Pasar Tanpa Bangunan Permanen


Perkembangan infrastruktur ekonomi merupakan salah satu indikator yang

digunakan untuk menggambarkan kondisi ketertinggalan. Infrastruktur ekonomi


dalam hal ini adalah pasar yang ada di daerah tertinggal.. Pasar sebagai pusat
aktivitas ekonomi suatu daerah dapat menunjang aktivitas ekonomi di daerah
tertinggal. Adapun kondisi infrastruktur pasar di Kabupaten Kaur cukup
memprihatinkan. Berdasarkan data Kabupaten Kaur dalam angka tahun 2013,
hanya terdapat 20 pasar desa di Kabupaten Kaur dan seluruh pasar ini belum

123

memiliki bangunan permanen. Selain itu, Kabupaten Kaur belum memiliki pasar
kabupaten sebagai pusat aktivitas jual dan beli.
biasanya di sekunyit tu sama dekat lapangan. Tapi tidak ada
bangunannya (hasil wawancara, Ch, Pemilik Hotel Chantio, Kabupaten
Kaur, Tanggal 17 Februari 2014)
Kondisi ini dipengaruhi oleh minimnya anggaran belanja daerah untuk
membangun pasar. Pihak pemerintah mengatakan anggaran belanja daerah
digunakan untuk keperluan lain yang lebih mendesak, seperti pembangunan jalan
dan juga infrastruktur penunjang lain yang dirasa lebih bermanfaat bagi
masyarakat Kabupaten Kaur.
Permasalahan pasar juga diakui oleh pihak pemerintah daerah melalui
dinas sosial, tenaga kerja dan transmigrasi Kabupaten Kaur. Dari hasil wawancara
disebutkan bahwa yang menjadi permasalahan utama adalah terkait dengan
pemasaran hasil produksi. Hal ini berhubungan langsung dengan kondisi pasar
yang ada di Kabupaten Kaur.
ya, memang masalah utama dari di Kabupaten Kaur ini adalah maslah
pemasaran. Di desa tanjung agung, sudah banyak hasil pertanian yg ada.
Missal nya timun, bawang. Akan tetapi sebagian besar tidak terjual. Baik
keluar daerah maupun di dalam daerah itu sendiri. Untuk dalam daerah,
kita masih belum ada pasar-pasar yang dapat digunakan untuk menjual
hasil-hasil pertanian, sedangkan jika ingin dikirim keluar daerah, jumlah
nya masih belum mencukupi (wawancara Es, Kepala Dinas Sosial,
Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kaur, Tanggal 20 Februari
2014)
D.

Infrastruktur Kesehatan dan Pendidikan


Salah satu sub indikator yang digunakan untuk menggambarkan kondisi

ketertinggalan di indikator infrastruktur adalaha infrastruktur kesehatan dan


pendidikan. Yang tergolong dalam infrastruktur kesehatan dan pendidikan adalah
jumlah prasarana kesehatan per 1000 penduduk, jumlah dokter per 1000 penduduk
dan jumlah SD/SMP per 1000 penduduk. Untuk melihat perkembangan
infrastruktur kesehatan di Kabupaten Kaur dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

124

Tabel 4.2 -12


Perkembangan Infrastruktur Kesehatan dan Pendidikan di Kabupaten Kaur
Tahun 2008 - 2012
Indikator
Satuan
2008
2009
2010
2011
2012
Rumah Sakit Umum
Unit
1
1
1
1
1
puskesmas
Unit
16
16
16
16
16
puskesmas pembantu
Unit
29
26
28
29
29
poskesdes
Unit
22
35
34
34
Apotek
Unit
2
5
5
5
Jumlah
Unit
67
85
85
85
Rasio prasarna kesehatan
0,63
0,78
0,77
0,76
terhadap 1000 penduduk
Jumlah Dokter Umum
Orang
20
20
30
32
12
rasio dokter umum per 1000
0,191
0,188
0,278
0,292
0,108
penduduk
Jumlah SD,MI,SMP dan MTS
Unit
174
176
178
177
180
rasio ketersediaan pendidikan
1,66
1,65
1,64
1,61
1,62
dasar per 1000 penduduk
Sumber:Dokumen Kabupaten Kaur dalam Angka dan Analisis IPM dan IKK Kabupaten
Kaur, BAPPEDA(2008-2013), Statistik Kabupaten Kaur 2013

Berdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa perkembangan infrastruktur


kesehatan dan pendidikan mengalami penurunan dari tahun 2008 hingga tahun
2012. Keadaan ini disebabkan jumlah penduduk yang terus bertambah sedangkan
jumlah infrastruktur cenderung tetap.
Sedangkan untuk kasus jumlah dokter di Kabupaten Kaur, jumlah dokter
terus meningkat hingga tahun 2011, akan tetapi pada tahun 2012 jumlah dokter di
Kabupaten Kaur menurun dengan sangat drastis. Jumlah dokter pada tahun 2012
hanya berjumlah 12 orang sedangkan pada tahun 2011 mencapai 32 orang.
Kondisi seperti ini disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya karena para dokter
tersebut pergi meninggalkan Kabupaten Kaur setelah masa tugasnya berakhir. Hal
ini dikarenakan jika mereka membuka praktek, dengan tingkat ekonomi penduduk
yang tergolong rendah, maka mereka merasa rugi karena pendapatan yang mereka
peroleh pun akan turut rendah.
Pada kasus sarana pendidikan di Kabupaten Kaur, jumlah sarana
pendidikan dasar pada tahun 2012 adalah 180 unit sudah termasuk SD, MI, SMP
dan MTS sudah mencukupi. Hal ini dikarenakan rasio murid sekolah (Kabupaten
Kaur dalam angka 2013) masih dalam keadaan normal (1 kelas terdiri dari 20

125

orang murid sekolah dasar), dan ini menunjukkan bahwa jumlah sekolah di
Kabupaten Kaur masih mencukupi

4.2.4

Kapasitas Kelembagaan
Salah satu indikator yang digunakan oleh KPDT dalam menggambarkan

kondisi ketertinggalan di suatu daerah adalah kapasitas kelembagaan. Kapasitas


kelembagaan adalah kemampuan pemerintah daerah dalam mengatasi atau
mengurus daerahnya dalam masalah keuangan, baik pendapatan maupun
pengeluarannya. KPDT menggunakan satu sub indikator dalam indikator ini, yang
dapat menjelaskan kapastitas kelembagaan di daerah tertinggal. Adapun sub
indikator tersebut adalah fiscal gap.
Fiscal Gap
Sehubungan mengenai fiscal gap di Kabupaten Kaur, perlu ditekankan
sebelumnya bahwa fiscal gap yang dimaksud oleh pihak KPDT merupakan selisih
antara penerimaan keuangan dan belanja pegawai. Berdasarkan penjelasan
tersebut, maka nilai fiscal gap akan semakin baik apabila selisih belanja pegawai
dengan total pendapatan semakin tinggi. Hal ini dikarenakan selisih dari total
pendapatan dengan belanja pegawai dapat digunakan untuk keperluan lainnya,
terutama bagi pembangunan daerah.
Berdasarkan data yang didapat, rata-rata fiscal gap di Kabupaten Kaur
cenderung meningkat setiap tahunnya, dengan rata-rata 6,79% per tahun. Dari
rata-rata tersebut, terdapat penurunan signifikan yang terjadi pada tahun 2009 dan
2010. Hal ini disebabkan oleh peningkatan persentase belanja pegawai yang
cukup tinggi. Peningkatan terbesar terjadi di tahun 2011-2012 yakni 25,62%,
sehingga belanja pegawai menjadi 231.687.821.974,42.

Indikator Satuan

Tabel 4.2 -13


Fiscal Gap Kabupaten Kaur Tahun 2008 - 2012
2008
2009
2010
2011

2012

Fiscal
rupiah
178.525.
171.744.
166.246.
184.433.
231.687.
gap
009.043,12
998.825,39
842.488,25
229.761,15 821.974,42
Sumber : Dinas Pengelolaan Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Kaur
2013, statistik Kabupaten Kaur 2013

126

Penyebab dari rendahnya fiscal gap adalah dikarenakan oleh belanja


pegawai di Kabupaten yang sangat tinggi. Total pendapatan Kabupaten Kaur pada
tahun 2012 mencapai 430 miliar rupiah (DPPKAD Kabupaten Kaur), dimana
belanja pegawai pada tahun 2012 hampir mencapai 200 miliar rupiah. Hal ini
menunjukkan bahwa belanja pegawai di Kabupaten Kaur hampir mencapai 50%,
hal ini sedikit menjadi masalah karena jumlah pekerja di Kabupaten Kaur
sebagian besar adalah non pns, yaitu sebagai petani, buruh, nelayan, wiraswasta
dan sebagainya. Sedangkan jumlah PNS di Kabupaten Kaur pada tahun 2012
adalah 3521 orang (hanya 6,7% dari total angkatan kerja di Kabupaten Kaur).
Total pendapatan dan belanja pegawai di Kabupaten Kaur, dapat dilihat pada tabel
dibawah ini.

Indikator
Total
pendapatan
Belanja
pegawaii
Sumber :
2013

4.2.5

Tabel 4.2 -14


Total Pendapatan Daerah Kabupaten Kaur Tahun 2008 - 2012
Satuan
2008
2009
2010
2011
2012
Rupiah
281.927.
293.018.
316.054.
365.362.
430.450.
136.088,12 794.929,45 121.230,25
492.814,15
026.504,42
Rupiah
103.402.
121.273.
149.807.
180.929.
198.762.
127.045,00 796.104,06 278.742,00
263.053,00
204.530,00
Dinas Pengelolaan Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Kaur

Aksesibilitas
Aksesibilitas merupakan salah satu indikator yang digunakan oleh KPDT

untuk menggambarkan kondisi ketertinggalan di suatu daerah. Aksesibilitas


merupakan salah satu faktor yang penting. Hal ini dikarenakan akses merupakan
urat nadi kegiatan di daerah, baik itu antar desa, antar kecamatan, antar fasilitas,
antar sarana serta penunjang aktivitas masyarakat di daerah tersebut.
Suatu daerah yang memiliki akses yang bagus, maka kegiatan di daerah
tersebut akan menjadi hidup. KPDT membagi indikator aksesibilitas ini menjadi 3
sub indikator, yaitu rata-rata jarak kantor desa ke kantor yang membawahi, jumlah
desa dengan akses ke pelayanan kesehatan yang lebih dari 5 km, dan akses ke
pelayanan pendidikan dasar (SD dan SMP).

127

A.

Rata-rata

Jarak

dari

kantor

desa/kelurahan

ke

kantor

kabupaten/kota yang membawahi (km)


Rata-rata jarak dari kantor desa/kelurahan ke kantor kabupaten kota yang
membawahi sudah cukup baik di Kabupaten Kaur. Kondisi ini juga tidak terlepas
dari posisi kantor Kabupaten Kaur yang berada di tengah-tengah Kabupaten Kaur.
Hal ini menjadikan jarak menuju kantor kabupaten menjadi relatif lebih singkat.
Berikut adalah data jarak lurus kantor kecamatan menuju kantor kabupaten.
Tabel 4.2 -15
Jarak Lurus Kantor Kecamatan dengan Kantor Kabupaten Tahun 2012
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Kecamatan
Jarak Lurus (Km)
Nasal
25
Maje
12
Kaur Selatan
0
Tetap
7
Kaur Tengah
12
Kinal
30
Semidang Gumay
20
Muara sahung
30
Luas
15
Tanjung Kemuning
35
Lungkang Kule
58
Kaur Utara
48
Padang Guci Hulu
54
Padang Guci Hilir
43
Kelam Tengah
39
Rata-rata
28,53
Sumber : Kabupaten Dalam Angka 2013

Jika diperhatikan dari tabel diatas, jarak ke pusat pemerintahan memang


tidak menjadi masalah. Namun berdasarkan hasil wawancara, fasilitas atau
infrastruktur penunjang masih memiliki berbagai masalah. Masalah tersebut
terutama terkait dengan jalan menuju kecamatan-kecamatan terpencil yang masih
sangat memprihatinkan.
emang kalo jalan ke bintuhan elok cak ini lah, tapi kalo ke ujung-ujung
cak muara sahung, rusak galo jalannyo (hasil wawancara, Dn, Supir
Travel Bengkulu-Kaur, Tanggal 21 Februari 2014)

128

Gambar 4.2 -3
Salah satu kondisi jalan di Kecamatan Tanjung Kemuning, Kabupaten Kaur
Sumber : Survei 2014

Selain itu berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, angkutan umum


yang ada di Kabupaten Kaur berjumlah sangat minim (hanya terdapat 10 angkutan
perkotaan dan 56 travel). Dari pengamatan dalam beberapa hari, tidak ditemukan
angkutan umum yang rutin mengantar masyarakat, hanya ada beberapa travel
pribadi yang melintas dan merupakan salah satu angkutan di Kabupaten Kaur.
Padahal jika dilihat dari peta pergerakan manusia di Kabupaten Kaur (berorientasi
ke bintuhan), angkutan umum ini sangat diperlukan untuk menunjang aktivitas
masyarakat menuju bintuhan (pusat kota).
B.

Jumlah Desa Dengan Akses ke Pelayanan Kesehatan > 5 Km


Jumlah desa dengan akses ke pelayanan kesehatan merupakan salah satu

sub indikator yang digunakan oleh KPDT untuk menggambarkan kondisi


ketertinggalan di daerah tertinggal. Berdasarkan peta persebaran fasilitas
kesehatan yang ada di Kabupaten Kaur, setiap desa di Kabupaten Kaur telah
mampu menjangkau fasilitas kesehatan (puskesmas dan poskesdes, walaupun
rumah sakit umum cukup jauh untuk dijangkau). Namun dalam indikator ini perlu
diperhatikan mengenai kondisi jalan menuju fasilitas kesehatan tersebut, tidak
hanya jarak menuju fasilitas kesehatan seperti halnya kasus pada aksesibilitas
lainnya di Kabupaten Kaur.
Kabupaten Kaur memiliki 1 rumah sakit umum, 16 puskesmas, 29
puskesmas pembantu, 34 poskesdes dan 5 apotek pada tahun 2012 (Kabupaten
Kaur Dalam Angka 2013). Jumlah ini sudah tersebar merata di seluruh daerah

129

dimana tiap kecamatan di Kabupaten Kaur sudah memiliki minimal 1 puskesmas.


Seperti yang sudah dijelaskan, permasalahan yang ada adalah menyangkut kondisi
jalan menuju fasilitas kesehatan tersebut. Selain itu, jalan di Kabupaten Kaur
masih memiliki banyak jenis permukaan tanah yang berbahaya jika dilalui pada
saat hujan (118 km).
C.

Akses ke Pelayanan Pendidikan Dasar


Seperti halnya sub indikator aksesibilitas lainnya, jarak menuju pelayanan

pendidikan dasar tidak menjadi masalah. Persoalan terletak pada kondisi jalan
menuju pelayanan pendidikan dasar tersebut dan juga moda transportasi menuju
pelayanan pendidikan dasar tersebut. Kondisi jalan di Kabupaten Kaur yang
berada dalam kondisi sangat memperihatinkan (masih banyak jalan rusak dan
jalan dengan jenis permukaan tanah) dan keberadaan angkutan perkotaan yang
berjumlah sangat minim (hanya terdapat 10 angkutan perkotaan di Kabupaten
Kaur).
Seperti yang sudah di ketahui, jumlah fasilitas pendidikan dasar di
Kabupaten Kaur pada tahun 2012 sudah berada dalam taraf sangat mencukupi.
Pendidikan dasar yang dimaksud adalah pendidikan dasar 9 tahun, yaitu
mencakup SD, MI, SMP, dan MTS. Jumlah fasilitas pendidikan dasar di
Kabupaten Kaur pada tahun 2012 adalah 180 unit (SD,MI,SMP,MTS). Selain itu,
rasio murid dan sekolah pendidikan dasar di Kabupaten Kaur masih dalam
keadaan normal (1 : 20) dan sudah tersebar merata ke seluruh Kabupaten Kaur.
Berikut adalah persebaran sarana pendidikan dasar di Kabupaten Kaur pada tahun
2009 (Lampiran 5).

4.2.6

Karakteristik Daerah
Karakteristik daerah merupakan salah satu indikator yang digunakan oleh

KPDT dalam menggambarkan kondisi ketertinggalan di daerah tertinggal. Hal ini


dikarenakan banyak daerah yang menjadi tertinggal karena disebabkan oleh
kondisi alam dari daerah tersebut. KPDT menggunakan 7 sub indikator yang
memberikan pengaruh dalam menggambarkan kondisi ketertinggalan untuk

130

indikator karakteristik daerah. Karakteristik daerah merupakan indikator daerah


tertinggal yang tidak memiliki sebab kenapa hal itu dapat terjadi, akan tetapi
kondisi ini memang merupakan kondisi yang dibawa secara alami oleh daerah
tertinggal tersebut. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel sub indikator di
bawah ini.
Tabel 4.2 -16
Sub Indikator Karakteristik Daerah
INDIKATOR
SUB INDIKATOR
Persentase Desa Gempa bumi
Persentase Desa Tanah Longsor
Persentase Desa Banjir
KARAKTERISTIK
Persentase Desa Bencana Lainnya
DAERAH
Persentase Desa di Kawasan Lindung
Persentase Desa berlahan Kritis
Persentase Rata2 Desa Konflik 1 tahun terakhir
Sumber : Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, 2014

Untuk Kabupaten Kaur, dari 7 sub indikator yang mempengaruhi hanya


tanah longsor dan banjir yang pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir
sedangkan bencana lainnya tidak terjadi. Hal ini didapat dari hasil wawancara di
Kabupaten Kaur kepada salah seorang warga yang tinggal di Kabupaten Kaur.
tidak pernah terjadi gempa bumi yang bahaya berapa tahun terakhir
ini, paling kecil.kecil biasa aja, itu juga jarang (hasil wawancara, As,
Pegawai bank pembangunan daerah, Kabupaten Kaur, Tanggal 18
Februari 2014)
Namun bila mencermati posisi Kabupaten Kaur yang berada di pesisir
pantai barat sumatera, maka potensi gempa bumi tidak dapat diacuhkan.
Berdasarkan hasil wawancara, gempa besar pernah terjadi pada tahun 2007, yaitu
gempa yang melanda provinsi Bengkulu yang terasa hingga Kabupaten Kaur. Hal
inilah yang perlu menjadi perhatian khusus bagi pemerintah daerah, dikarenakan
perumahan di Kabupaten Kaur masih banyak yang menggunakan teknologi
pembangunan sederhana dimana kondisi tersebut tidak tahan terhadap gempa.
Adapun posisi Kabupaten Kaur yang berada di pesisir pantai barat sumetara inilah
yang perlu dikhawatirkan karena banyak terdapat titik gempa bumi, sehingga
dapat terjadi gempa bumi sewaktu-sewaktu dan dapat menyebabkan tsunami di
Kabupaten Kaur.

131

Selain itu, bencana lainnya yang pernah terjadi hanya kebakaran hutan.
Hal ini didapat dari hasil wawancara di Kabupaten Kaur.
yah, palingan pernah dengar kebakaran hutan, di daerah atas sana,
kalo tsunami, gunung meletus ga pernah kayaknya yas (hasil wawancara,
As, Pegawai Bank Pembangunan Daerah Kabupaten Kaur)

Gambar 4.2 -4
Salah satu hutan yang dibakar untuk dijadikan areal perkebunan
Sumber : Survei 2014

Sedangkan dalam kasus tanah longsor, cukup sering terjadi di Kabupaten


Kaur, Kondisi seperti ini tidak terlepas dari kondisi fisik Kabupaten Kaur yang
terdiri dari perbukitan yang terjal (berada pada kawasan pegunungan bukit
barisan) serta kemiringan lahan yang tinggi (peta kemiringan lahan Kabupaten
Kaur). Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada peta rawan bencana longsor
(Lampiran 6).
Pada peta tersebut, terlihat bahwa sebagian besar wilayah di Kabupaten
Kaur rawan akan bencana longsor, terutama longsor dengan potensi sedang.
Selain itu, daerah perbukitan di Kabupaten Kaur berada dalam kondisi sangat
rawan akan bencana longsor (longsor dengan potensi tinggi). Hampir semua
kecamatan di Kabupaten Kaur rawan akan bencana longsor, hanya kecamatan
yang berada di pesisir pantai yang memiliki potensi rendah terhadap bencana
longsor.

132

Gambar 4.2 -5
Kiri : Pinggir Jalan yang longsor di Kecamatan Nasal
Kanan : Rumah yang berada di daerah rawan bencana longsor
Sumber : BPBD Kabupaten Kaur 2013

Selain itu, masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui bahaya


longsor. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya masyarakat yang membangun
rumah di daerah yang rawan akan bencana longsor (foto kanan), bahkan longsor
dengan potensi tinggi (seperti di air Palawan).
Selain tanah longsor, karakteristik daerah di Kabupaten Kaur juga
menyebabkan banjir sering terjadi di Kabupaten Kaur. Di Kabupaten Kaur, desa
yang selalu terkena banjir adalah adalah desa yang berada di pesisir pantai dan
bantaran sungai yang berada di Kabupaten Kaur. Hal ini tidak terlepas dari
banyaknya sungai yang dimiliki oleh Kabupaten Kaur, yaitu 24 sungai utama
yang masih berfungsi dengan baik.
Banyak hal yang harus diperhatikan terkait dengan kondisi yang memang
menunjang terjadinya banjir. Hal ini dikarenakan banyaknya sungai aktif di yang
berpotensi dapat menjadi penyebab banjir di Kabupaten Kaur. Hal ini terkait
dengan infrastruktur di Kabupaten Kaur, antara lain infrastruktur drainase di
Kabupaten Kaur yang tergolong jelek. Selain itu masih banyak juga rumah warga
yang berada di sempadan sungai, yang secara notabene tidak boleh dijadikan
permukiman.

133

Gambar 4.2 -6
Kiri - Permukiman yang berada di tepi bantaran sungai
Kanan - Kerusakan akibat banjir
Sumber: Survei 2014, BAPPEDA Kabupaten Kaur 2014

Sedangkan untuk desa konflik di Kabupaten Kaur, sejak tahun 2003 tidak
pernah terjadi konflik yang menyebabkan kerugian yang sangat besar atau sampai
diberitakan dalam koran-koran lokal.
kalo kerusuhan, belum pernah kayaknya yas, belum pernah masuk
koran soalnya (hasil wawancara, As, Pegawai Bank Pembangunan
Daerah Kabupaten Kaur, Tanggal 18 Februari 2014)
Namun bila dipahami lebih dalam mengenai dari hal tersebut, Kabupaten
Kaur sebenarnya rawan akan konflik sosial. Hal ini sesuai dengan kondisi sosial
budaya di Kabupaten Kaur yang memiliki banyak suku, terutama suku Serawai
(dengan marga Kaur, Luas dan Nasal) dan suku Semendo/Pasemah (dengan marga
Saung dan Padang Guci). Selain itu banyaknya jumlah transmigran dari jawa, juga
semakin membuat etnis di Kabupaten Kaur ini semakin beragam. Kondisi seperti
ini harus menjadi perhatian khusus pemerintah daerah guna mengantisipasi
konflik sosial yang terjadi karena perbedaan budaya dan cara hidup.
dikaur ini ada 2 suku yang bahaya, daerah padang guci sama daerah
nasal sana. kalo sejarahnya 2 suku itu yang sering bentrok (hasil
wawancara, Ab, staff dinas sosial, tenaga kerja dan trasnmigrasi, Tanggal
20 Februari 2014)

134

4.2.7

Kondisi Ketertinggalan Di Kabupaten Kaur


Dari hasil gambaran kondisi di Kabupaten Kaur berdasarkan 6 indikator

utama dan 27 sub indikator yang sudah ditetapkan oleh KPDT, terdapat indikator
yang bermasalah. Indikator yang bermasalah didapat dari perbandingan antara
kondisi di Kabupaten Kaur dengan rata-rata nasional. Kondisi yang berada di
bawah rata-rata nasional dianggap sebagai indikator yang bermasalah di
Kabupaten Kaur. Berikut ini adalah hasil rekapitulasi kondisi di Kabupaten Kaur
dengan rata-rata nasional berdasarkan indikator yang sudah di tetapkan oleh
KPDT.
Tabel 4.2 - 17
Hasil Rekapitulasi Kondisi Ketertinggalan Kabupaten Kaur
Berdasarkan Indikator Yang Ditetapkan Oleh KPDT
No
1

Indikator
EKONOMI

SDM

INFRASTRUKTUR

Sub Indikator
Persentase Penduduk Miskin
(2012)
Pengeluaran Konsumsi
Perkapita (2012)
Harapan Hidup (2012)
Rata-Rata Lama Sekolah (2012)
Angka Melek Huruf (2012)
Jumlah desa dengan jenis
permukaan jalan utama terluas
Aspal/Beton (2011)
Jumlah desa dengan jenis
permukaan jalan utama terluas
Diperkeras (2011)
Jumlah desa dengan jenis
permukaan jalan utama terluas
Tanah (2011)
Jumlah desa dengan jenis
permukaan jalan utama terluas
Lainnya (2011)
RT Pengguna Listrik (2012)
RT Pengguna Telepon (2012)
RT Pengguna Air Bersih (2011)
Jumlah Desa yg mempunyai
Pasar Tanpa bangunan
Permanen (2011)
Jml Prasarana Kesehatan Per
1000 Penduduk (2011)
Jumlah Dokter Per 1000
Penduduk (2011)
Jumlah SD/SMP Per 1000

Satuan

Data
Kabupaten

Rata
Nasional

22,66

15,52

615,69

641,04

67,85
8,17
97,08

69,87
8,08
93,25

140

125,16

42

32,26

12

16,89

0,71

%
%
%

67,79
1,53
28,26

82,32
6,31
48,73

Desa

195

152,53

Rasio

1,30

0,95

Rasio

0,25

0,20

Rasio

1,51

1,23

Ribu
Rupiah
Tahun
Tahun
%

Bersambung
135

Lanjutan Tabel 4.2 - 17


No

Indikator

KAPASITAS
KELEMBAGAAN

Sub Indikator

Satuan

Data
Kabupaten

Rata
Nasional

Juta
Rupiah

184.433

223.607,59

Penduduk (2011)
Fiscal Gap (2011)

Rata-rata Jarak dari Kantor


Desa/Keluarahan Kekantor
Km
32,67
54,51
Kabupaten/Kota yang
Membawahi (Km) (2011)
AKSESIBILITAS
5
Akses ke Pelayanan Kesehatan
Desa
1
10,44
> 5 Km (Jumlah Desa) (2011)
Akses Ke Pelayanan Pendidikan
Desa
1,02
4,94
Dasar (2011)
% Desa Gempa bumi (2011)
%
1,03
5,48
% Desa Tanah Longsor (2011)
%
9,74
9,50
% Desa Banjir (2011)
%
15,38
19,45
% Desa Bencana Lainnya (2011)
%
11,28
16,32
KARAKTERISTIK
6
%
Desa
di
Kawasan
Lindung
DAERAH
%
20,00
29,08
(data di kawasan hutan) (2011)
% Desa berlahan Kritis (2011)
%
0,00
5,49
% Rata2 Desa Konflik 1 tahun
%
0,51
3,60
terakhir (2011)
Sumber : Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, Penyusunan Road Map
Pengentasan Daerah Tertinggal, PSPPR UGM 2013, Statistik Listrik 2013, statistik
telekomunikasi Indonesia 2013, statistik Indonesia 2013, Statistik Kabupaten Kaur 2013,
Kabupaten Kaur Dalam Angka 2013, Bappeda Kabupaten Kaur, http://kpdt.bps.go.id/ .

Berdasarkan data sekunder di Kabupaten Kaur, maka ditemukan terdapat


sub indikator yang bermasalah pada 5 indikator dari 6 indikator utama. Sub
indikator yang memiliki masalah paling banyak terdapat pada indikator ekonomi
dan infrastruktur. Pada indikator ekonomi, semua sub indikator yang ditetapkan
oleh KPDT berada dibawah rata-rata nasional. Sedangkan pada sub indikator
infrastruktur terdapat 5 sub indikator dari 11 sub indikator yang berada di bawah
rata-rata nasional.

136

BAB 5
HASIL TEMUAN DAN PEMBAHASAN

5.1

Bantuan Sosial Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal


(KPDT) Untuk Kabupaten Kaur

5.1.1

Deskripsi Awal Bantuan Sosial KPDT untuk Kabupaten Kaur


Berdasarkan Permen PDT No 4 Tahun 2012 tentang Pedoman Pengelolaan

Bantuan Sosial Di Lingkungan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal,


bantuan sosial atau yang biasa disebut bansos adalah bantuan uang, barang dan
atau jasa yang bersumber dari APBN dan APBN-P (APBN Perubahan)
sebagaimana yang tertuang dalam DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran)
yang dialokasikan dan diberikan kepada masyarakat/ kelompok masyarakat dan
atau lembaga non pemerintah lainnya di daerah tertinggal. Bansos diberikan
dalam bentuk uang, barang atau jasa kepada masyarakat atau kelompok
masyarakat atau lembaga non pemerintah lainnya di daerah tertinggal.
Pemberian bansos diberikan secara langsung oleh KPDT kepada daerah
tertinggal. Pemberian bansos ini biasanya diberikan dalam bentuk barang dan
hanya yang bersifat operasional yang diberikan dalam bentuk dana (fresh money).
Pemberian bansos ini dibagi menjadi 5 bidang berdasarkan 5 deputi yang ada di
Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal. 5 Deputi yang ada di KPDT yaitu,
deputi 1 membawahi bidang pengembangan sumber daya, deputi 2 yang
membawahi bidang peningkatan infrastruktur, deputi 3 yang membawahi bidang
pembinaan ekonomi dan dunia usaha, deputi 4 yang membawahi bidang
pembinaan lembaga sosial dan budaya, dan deputi 5 yang membawahi bidang
pengembangan daerah khusus. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada bagan
struktur organisasi Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal dibawah ini:

137

Gambar 5.1 -1
Struktur Organisasi Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal
Sumber : Sumber : http://www.kemenegpdt.go.id diakses pada tanggal 10 April 2014

A.

Tujuan

Bantuan

Sosial

Kementerian

Pembangunan

Daerah

Tertinggal
Berdasarkan Peraturan Menteri PDT No 4 Tahun 2012 tentang Pedoman
Pengelolaan Bantuan Sosial Di Lingkungan Kementerian Pembangunan Daerah
Tertinggal, tujuan dari pemberian bansos kepada daerah tertinggal adalah:
1.

Memberdayakan masyarakat, sehingga dapat menjalankan aktifitas untuk


berperan aktif dalam pembangunan daerah tertinggal

2.

Meningkatkan taraf kesejahteraan, kualitas, kelangsungan hidup, dan


memulihkan fungsi sosial, ekonomi, dan budaya dalam rangka mencapai
kemandirian sehingga terlepas dari resiko sosial.
Resiko sosial yang dimaksud dalam hal ini adalah kejadian atau peristiwa

yang dapat menimbulkan potensi terjadinya kerentanan sosial yang ditanggung


oleh individu maupun kelompok sebagai akibat dari krisis sosial, krisis ekonomi,
krisis politik, fenomena alam, dan bencana alam. Sasaran dari pemberian bansos

138

adalah berkurangnya kesenjangan sosial, ekonomi dan budaya anatara masyarakat


daerah tertinggal dengan masyarakat daerah maju lainnya.
Bansos dalam hal ini berupaya untuk melepaskan masyarakat dari kondisi
ketertinggalan, baik tertinggal dari sisi ekonomi, pendidikan, kesehatan dan
lainnya yang sudah ditetapkan dalam indikator oleh Kementerian Pembangunan
Daerah Tertinggal. Oleh karena itu, bansos yang diberikan berada dalam bentuk
barang ataupun uang yang dapat digunakan untuk membantu masyarakat secara
langsung untuk meningkatkan taraf hidupnya.

B.

Kriteria dan Mekanisme Penyaularan Bantuan Sosial KPDT


Dalam upaya pelaksanaan program bantuan sosial KPDT ini, terdapat

beberapa kriteria yang digunakan untuk menentukan masyarakat atau kelompok


masyarakat yang mendapatkan bantuan sosial ini. Hal ini tertuang dalam Permen
PDT No 4 Tahun 2012 tentang Pedoman Pengelolaan Bantuan Sosial Di
Lingkungan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, yaitu:
1.

Dapat

langsung

diberikan

kepada

anggota

masyarakat,

lembaga

kemasyarakatan dan lembaga non pemerintah lainnya untuk melindungi


individu, kelompok masyarakat dari kemungkinan terjadinya resiko sosial.
2.

Bersifat sementara

3.

Ditujukan untuk mendanai kegiatan rehabilitasi sosial, perlindungan


sosial,

pemberdayaan

sosial,

penanggulangan

kemiskinan,

dan

penanggulangan bencana.
4.

Diberikan dalam bentuk bantuan langsung, penyediaan aksesibilitas, dan


atau penguatan kelembagaan
Berdasarkan Permen PDT No 4 Tahun 2012 tentang Pedoman Pengelolaan

Bantuan Sosial Di Lingkungan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal,


terdapat mekanisme dalam penyaluran bansos dari KPDT ini, yaitu:
1.

Penyaluran bansos berupa uang dilakukan melalui transfer langsung ke


rekening kelompok dan atau lembaga non pemerintahan yang mengajukan.

2.

Penyaluran bansos berupa barang dan jasa dilakukan setelah adanya


penetapan calon penerima bansos

139

3.

Setelah penetapan calon penerima barang sudah ditetapkan, maka akan


dilakukan pelaksanaan pengadaan barang dan jasa.
Dari hasil wawancara dengan pihak Bappeda Kabupaten Kaur, diperoleh

alur atau mekanisme untuk pengajuan bansos kepada KPDT, yaitu pihak
pemerintah daerah mengajukan usulan bantuan dari masyarakat kepada
Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, setelah itu proposal tersebut di
pelajari oleh kementerian terkait dan bila cocok maka akan diberikan bantuan
kepada daerah tertinggal tersebut. Alur bantuan sosial dari KPDT secara normal
adalah seperti yang sudah disebutkan diatas. Namun berdasarkan hasil
wawancara, ditemukan kendala yang dirasakan oleh pihak daerah sebagai
penerima bantuan.
normalnya usulan di ajukan lalu mendapat bantuan dari KPDT, akan
tetapi seringnya KPDT sudah punya program lalu kita tinggal diberikan
bantuan, kadang itu juga yang sering menjadi kendala. Jadi seperti KPDT
itu sudah punya program sendiri lalu tinggal diberikan ke daerah
tertinggal (hasil wawancara, Pak Mt, Kabid Penanaman Modal Bappeda,
Kabupaten Kaur, tanggal 17 februari 2014)
Dari hasil wawancara tersebut, ditemukan bahwa seringnya penyaluran
bantuan sosial dari KPDT itu berjalan tanpa melihat usulan dari daerah
bersangkutan. Jadi secara umum, KPDT sudah mempunyai daftar bantuan yang
akan diberikan dan pihak daerah hanya menerimanya. Namun karena hal tersebut
bentuknya adalah bantuan, maka pihak daerah tidak berkeberatan dalam
menerima bantuan tersebut walaupun belum diajukan oleh pemerintah daerah.

5.1.2

Bantuan Sosial KPDT di Kabupaten Kaur


Program bansos yang dikeluarkan oleh KPDT melalui 5 deputi yang ada di

Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal dimulai pada tahun 2010.


Kabupaten Kaur sebagai salah satu kabupaten tertinggal telah mendapatkan
bantuan sosial yang sudah di program oleh KPDT sejak tahun 2010. Bantuan
sosial dari KPDT ini terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini

140

menunjukkan komitmen pemerintah pusat untuk segera mengentaskan daerah


tertinggal yang ada di Indonesia.
Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak Bappeda Kabupaten Kaur,
diperoleh informasi bahwa penyaluran bantuan lebih banyak dalam bentuk
barang. sehingga pihak Kabupaten Kaur tidak mengetahui nominal dari bantuan
tersebut.
kita hanya menerima bantuan langsung dari pihak kementerian, jadi
kita tidak tahu nominal dana sebenernya yang diterima. Lelang
pengadaan barang juga terjadi di pusat (hasil wawancara DPU, Kasubid
Promosi, Bidang Penanaman Modal, Bappeda Kabupaten Kaur, tanggal 17
februari 2014)
kita juga mulai merekap data bansos itu mulai dari tahun 2013, jadi
kalau tahun-tahun sebelumnya kita tidak punya (hasil wawancara DPU,
Kasubid Promosi, Bidang Penanaman Modal, Bappeda Kabupaten Kaur,
tanggal 17 februari 2014)
Berdasarkan hasil wawancara pula, data bansos yang didapat dari pihak
Bappeda Kabupaten Kaur hanya sebatas tahun 2013. Sehingga data bansos yang
ada dalam penelitian ini bersumber dari website Kementerian Pembangunan
Daerah Tertinggal. Berikut adalah daftar bantuan sosial yang sudah dijalankan di
Kabupaten Kaur dari tahun 2010 hingga tahun 2013 (terlampir).

141

A.

Bantuan Sosial Bidang Pembinaan Lembaga dan Sumber Daya

Penguatan Kelembagaan KPPD (Kelompok Penggerak Pembangunan Desa)


Kualitas

sumber

daya

manusia

suatu

daerah

ditunjukkan

oleh

perkembangan indeks pembangunan manusia (IPM) daerah tersebut. Di


Kabupaten Kaur, IPM hingga tahun 2012 masih di bawah target RPJM KPDT
tahun 2014, yaitu 72,2 sedangkan di Kabupaten Kaur hanya mencapai 71,13.
Untuk lebih jelasnya dapat diperhatikan pada tabel dibawah ini:
Tabel 5.1 -1
Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Kaur 2008 - 2012
Indikator

Satuan

2008

2009

2010

2011

2012

IPM
Indeks
68,63
69,21
69,99
70,43
71,13
Sumber : Kabupaten Kaur dalam Angka, Analisis IPM dan Statistik Kabupaten
Kaur 2013

Berdasarkan indeks pembangunan manusia Kabupaten Kaur hingga tahun


2012, maka sangat tepat bila kegiatan penguatan kelembagaan KPPD selalu ada di
Kabupaten Kaur dari tahun 2010 hingga tahun 2013 ini. Bahkan jumlah bantuan
yang diberikan KPDT terus meningkat hingga tahun 2013 terkait kegiatan
penguatan kelembagaan KPPD ini. Pada tahun 2013, jumlah dana yang di berikan
mencapai 200 juta rupiah dan dibagi untuk 8 kelompok KPPD di Kabupaten Kaur.
Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan sumber daya manusia sangat penting
untuk kemajuan daerah tertinggal.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) itu sendiri dipengaruhi oleh 4
indikator utama, yaitu angka harapan hidup, angka melek huruf, rata-rata lama
sekolah dan kemampuan daya beli masyarakat. Keempat indikator ini merupakan
indikator

yang digunakan oleh KPDT dalam menggambarkan

kondisi

ketertinggalan di Kabupaten Kaur (lihat subbab 5.1, Gambaran Kondisi


Ketertinggalan Kabupaten Kaur).
Pertumbuhan IPM di Kabupaten Kaur dari tahun ke tahun terus mengalami
peningkatan secara konstan antara 0,4 hingga 0,7 per tahunnya. Pertumbuhan
pesat ditunjukkan pada tahun 2012 yang mencapai 0,7. Jika melihat
kecenderungan ini, maka target RPJM KPDT akan tercapai pada tahun 2014 yaitu

74

sebesar 72,2. Maka dari itu, bantuan sosial penguatan kelembagaan KPPD selalu
ada tiap tahun hingga tahun 2013 ini.
Berdasarkan gambaran ketertinggalan di Kabupaten Kaur, informasi yang
dilihat adalah indikator pembentuk IPM di Kabupaten Kaur masih tergolong
sebagai indikator yang bermasalah. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan bansos
di Kabupaten Kaur secara umum masih berusaha untuk mengeluarkan Kabupaten
Kaur dari kondisi ketertinggalan. Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa
indikator pengeluaran perkapita dan angka harapan hidup di Kabupaten Kaur
tergolong sebagai indikator yang bermasalah (dibawah rata-rata nasional).
Kabupaten Kaur telah mendapatkan bantuan sosial dari Kementerian
Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) sejak tahun 2010. Namun jumlah
bansos yang diterima Kabupaten Kaur pada tahun 2010 hanya sedikit (hanya
bidang lembaga sosial dan budaya, dan bidang peningkatan infrastruktur). 2
kegiatan atau jenis bansos yang terdapat di Kabupaten Kaur pada tahun 2010
adalah pembangunan PLTS dan penguatan kelembagaan KPPD.
Peningkatan kualitas lembaga
Pembangunan sumber daya
manusia

Penguatan Kelembagaan KPPD

Peningkatan Indeks
Pembangunan Manusia (IPM)
Gambar 5.1 -2
Bagan uraian bantuan sosial Penguatan Kelembagaan KPPD
Sumber : Analisis Peneliti 2014

Kegiatan utama yang selalu ada di Kabupaten Kaur hingga tahun 2013
adalah penguatan kelembagaan KPPD dan ditujukan untuk peningkatan kualitas
lembaga di Kabupaten Kaur, dimana hal ini juga berkaitan dengan kualitas
sumber daya manusia di Kabupaten Kaur itu sendiri. Bentuk bantuan penguatan
kelembagaan KPPD ini adalah dana operasional yang digunakan oleh kelompok
tersebut.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa bantuan sosial
penguatan kelembagaan KPPD telah ada sejak tahun 2010 dan ditujukan untuk

75

peningkatan kualitas lembaga di Kabupaten Kaur, dimana hal ini juga berkaitan
dengan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Kaur itu sendiri. Selain itu,
indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai indikator yang ditentukan
KPDT dalam hal pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten Kaur
cenderung mengalami peningkatan secara konstan dari tahun ke tahun sejak
diberikannya bantuan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian bansos
bidang penguatan kelembagaan KPPD di Kabupaten Kaur secara umum dapat
menberikan manfaat, namun belum dapat melepaskan Kabupaten Kaur dari
kondisi ketertinggalan.
Pembinaan Usaha Kecil Dan Menengah (UKM) Bidang Sosial dan Budaya
Daya beli masyarakat merupakan salah satu indikator yang digunakan oleh
KPDT untuk menggambarkan kondisi ketertinggalan di Kabupaten Kaur.
Indikator ini masih tergolong ke dalam indikator yang bermasalah karena berada
di bawah rata-rata nasional. Dimana pengeluaran perkapita masyarakat atau
kemampuan daya beli masyarakat akan mempengaruhi penghasilan masyarakat.
Bantuan sosial dalam bentuk pembinaan usaha kecil dan menengah
(UKM) bidang sosial dan budaya telah diberikan oleh Bidang pembinaan lembaga
sosial dan budaya pada tahun 2013. Bantuan sosial yang diberikan berupa
pembinaan dalam bentuk bantuan dana yang digunakan untuk mengembangkan
usaha masyarakat. Bantuan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemandirian
masyarakat dan pada akhirnya diharapkan akan meningkatkan penghasilan
masyarakat.
Peningkatan daya beli
masyarakat
Peningkatan kemandirian
masyarakat

Pembinaan Usaha Kecil Dan


Menengah (UKM) Bidang
Sosial dan Budaya

Bantuan sosial dalam bentuk


bantuan dana
Gambar 5.1 -3
Bagan uraian Bantuan Sosial Pembinaan Usaha Kecil Dan Menengah
Sumber : Analisis Peneliti 2014

76

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa bantuan sosial dalam


bentuk pembinaan usaha kecil dan menengah (UKM) bidang sosial dan budaya
telah diberikan oleh bidang pembinaan lembaga sosial dan budaya pada tahun
2013 dan ditujukan untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan kemandirian
masyarakat. Dimana hal ini akan berkaitan dengan peningkatan penghasilan
masyarakat. Sehingga bantuan sosial yang diberikan berupa pembinaan dalam
bentuk bantuan dana yang digunakan untuk mengembangkan usaha masyarakat,
diharapkan akan bermanfaat dalam meningkatkan pengeluaran per kapita
masyarakat yang berkaitan erat dengan penghasilan masyarakat.
Menurut uraian diatas, kesimpulan yang diperoleh adalah kegiatan
pemberian bantuan sosial bidang pembinaan lembaga dan sumber daya di
Kabupaten Kaur terdiri dari dua kegiatan sejak tahun 2010. Kedua kegiatan
tersebut, adalah penguatan kelembagaan KPPD dan juga pembinaan UKM bidang
sosial dan budaya.
Penguatan kelembagaan KPPD

Pembinaan UKM bidang sosial


dan budaya

Bantuan sosial bidang


pembinaan lembaga dan
sumber daya di Kabupaten
Kaur

Gambar 5.1 -4
Bagan Kegiatan Bantuan Sosial Bidang Pembinaan Lembaga dan Sumber Daya di
Kabupaten Kaur
Sumber : Analisis Peneliti 2014

B.

Bantuan Sosial Bidang Peningkatan infrastruktur

Pengadaan Pembangkit Listrik


KPDT sudah menetapkan analisis awal persentase pengguna listrik di
Kabupaten Kaur tergolong sebagai indikator yang bermasalah (masih terdapat
30% rumah tangga di Kabupaten Kaur yang belum menikmati listrik). Hal ini
membuat keberadaan listrik menjadi salah satu fokus pemberian bantuan sosial di
Kabupaten Kaur. Ini tidak terlepas dari pentingnya kebutuhan listrik. Hampir

77

semua peralatan modern yang ada saat ini membutuhkan listrik sebagai sumber
energi utama. Namun yang paling utama adalah terkait dengan penerangan pada
malam hari karena dengan adanya lampu akan menambah jam untuk masyarakat
beraktivitas dan akan menjadikan produktivitas masyarakat meningkat.
Bantuan sosial bidang peningkatan infastruktur di Kabupaten Kaur yang
selalu ada sejak tahun 2010 hingga tahun 2013 adalah bantuan sosial pengadaan
pembangkit listrik, baik itu pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terpusat
maupun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) tersebar. Bantuan sosial ini tidak
terlepas dari kondisi di Kabupaten Kaur itu sendiri dimana berdasarkan data
statistik Kabupaten Kaur, hingga tahun 2012 masih

terdapat 30,75% rumah

tangga belum menikmati listrik. Pengguna listrik dari PLN pun hanya setengah
dari penduduk Kabupaten Kaur.
Masyarakat akan merasakan manfaat yang sangat besar terkait bantuan
sosial ini. Dalam jangka waktu yang singkat, masyarakat yang belum menikmati
listrik di Kabupaten Kaur dapat segera menikmatinya. Dampak jangka panjang
dari keberadaan listrik ini sangat banyak. Mulai dari peningkatan aktifitas (yang
dapat dilakukan hingga malam hari) hingga peningkatan produktifitas (peralatan
yang menggunakan listrik sebagai sumber energi dapat digunakan).
Tabel 5.1 -2
Data Bansos Pembangkit Listrik Di Kabupaten Kaur
Jenis Bansos
Dana
Keterangan
PLTS tersebar
PLTS
PLTS Tersebar 50
Wp(APBN P)

1,321,500,000.00

PLTS Tersebar 50 Wp

129,026,000.00

75 unit

Tahun 2010

1 bcs

Tahun 2011

156 unit

Tahun 2012

775,880,000.00
30 unit

Tahun 2012

Tahun 2013
PLTS Terpusat 10 Kw
1,807,586,000.00
1 unit
Sumber : http://www.kemenegpdt.go.id/bansos diakses pada tanggal 10 April 2014,
Bappeda Kabupaten Kaur, 2014, Kepmen PDT no 154 tahun 2013, Kepmen PDT no 56
Tahun 2013, kepmen pdt no 122 tahun 2013, Kepmen PDT no 141 tahun 2013,
rekapitulasi kegiatan bansos tahun 2013, kepmen pdt no 148 tahun 2013, diolah

Dari tabel diatas, dapat terlihat bahwa bantuan sosial untuk peningkatan
listrik di Kabupaten Kaur terus dilakukan sejak tahun 2010 hingga tahun 2013.

78

Hal ini menunjukkan komitmen dari pemerintah pusat melalui KPDT dalam
mengentaskan kondisi ketertinggalan di Kabupaten Kaur.

Peningkatan persentase
pengguna listrik
Peningkatan aktivitas
masyarakat

Pengadaan Pembangkit Listrik

Peningkatan produktivitas
masyarakat
Gambar 5.1 -5

Bagan uraian bantuan sosial pengadaan pembangkit listrik


Sumber : Analisis Peneliti 2014

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa bantuan sosial


pengadaan pembangkit listrik dalam pembangkit listrik tenaga surya (PLTS)
terpusat maupun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) telah diberikan dari
tahun 2010-2013 dan ditujukan untuk persentase pengguna listrik di Kabupaten
Kaur. Dimana hal ini akan berkaitan dengan adanya penerangan pada malam hari
dan penggunaan peralatan modern yang membutuhkan listrik sebagai sumber
energi utama, sehingga penggunaan listrik akan menambah jam untuk masyarakat
beraktivitas dan akan menjadikan produktivitas masyarakat meningkat.

Peningkatan Infrastruktur Handtraktor dan Mobil Rice miller


Selain peningkatan infrastruktur listrik, bantuan sosial bidang peningkatan
infrastruktur pada tahun 2012 dan tahun 2013 juga terdapat bantuan sosial berupa
pemberian handtraktor kepada kelompok masyarakat yang ada di Kabupaten
Kaur. Pemberian handtraktor ini dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas
masyarakat Kabupaten Kaur (terutama Kelompok Wanita Tani Kabupaten Kaur).
Selain itu, pemberian handtraktor ini dalam jangka panjang diharapkan akan
meningkatkan perekonomian masyarakat Kabupaten Kaur.
seperti kelompok wanita tani itu bisa memanfaatkan pekarangan
mereka yang dulunya tidak terpakai untuk ditanami sayuran dan
kebutuhan sehari-hari seperti cabe, tomat. Sehingga mereka tidak perlu
79

membeli lagi. Itu minimalnya kebutuhan rumah tangga mereka sendiri


sudah terpenuhi. (hasil wawancara 18 februari 2014, Df, Kepala Dinas
Pertanian Kabupaten Kaur)

Pemberian handtraktor kepada kelompok wanita tani di Kabupaten Kaur


bertujuan agar para wanita tani tersebut dapat memanfaatkan lahan pekarangan
yang ada untuk ditanami kebutuhan sehari-sehari seperti cabe, tomat dan sayursayuran. Pada dasarnya, kondisi ini bertujuan agar para masyarakat tani di
Kabupaten Kaur dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka dari hasil
bertanam di pekarangan. Namun manfaat jangka panjang yang diharapkan adalah
dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.
ya, pemberian handtraktor ini sangat membantu. Kami jadi bisa
menanam dipekarangan rumah, cak cabe, lumayanlah kita bisa hemat
(hasil wawancara, Pt, Anggota Kelompok Wanita Tani Suka Maju, tanggal
20 Februari 2014)
Penggunaan handtraktor untuk jangka panjang diharapkan dapat
meningkatkan produktivitas dan perekonomian masyarakat Kabupaten Kaur
karena pada dasarnya sebagian besar penduduk Kaur adalah bekerja pada bidang
pertanian. Sehingga pemberian handtraktor ini dirasakan akan sangat bermanfaat.
Jika dianalogikan, masyarakat Kabupaten Kaur dapat memenuhi kebutuhan
sehari-hari dari hasil menanam di pekarangan, maka biaya untuk membeli
kebutuhan tersebut dapat dialihkan untuk keperluan lainnya, seperti biaya
pendidikan anak ataupun biaya untuk peningkatan kesehatan. Sehingga dalam
jangka yang sangat panjang, masyarakat Kabupaten Kaur akan menjadi
masyarakat yang mandiri.
tapi mereka jadi tidak perlu membeli kebutuhan sehari-hari ke pasar.
Jika mereka sehari dapat menghemat 10 ribu, dalam sebulan mereka
dapat menghemat hingga 300 ribu dan dapat untuk keperluan lainnya.
Jadi diharapkan kedepannya semua kelompok wanita tani dan juga
masyarakat pada umumnya juga melakukan hal seperti ini. (hasil
wawancara, Df, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kaur, 18 februari
2014)
Secara

umum,

pemberian

handtraktor

pada

kelompok-kelompok

masyarakat di Kabupaten Kaur tidak memberikan dampak langsung kepada 27

80

sub indikator yang ditetapkan oleh KPDT seperti pembangunan pembangkit listrik
di Kabupaten Kaur, namun terdapat dampak tidak langsung yang dapat dirasakan
banyak manfaatnya oleh masyarakat. Mulai dari peningkatan perekonomian
masyarakat, peningkatan pendidikan masyarakat (sebagai efek peningkatan
ekonomi masyarakat), dan tingkat kesehatan (sebagai efek peningkatan ekonomi
masyarakat).
Sedangkan untuk mobil rice miller, bantuan sosial ini digunakan untuk
meningkatkan produktivitas para petani yang ada di Kabupaten Kaur. Dengan
meningkatknya produktivitas, maka diharapkan dapat memberikan dampak positif
terhadap peningkatan perekonomian Kabupaten Kaur secara umum dimana hal
tersebut merupakan salah satu indikator daerah tertinggal yang di tetapkan oleh
KPDT.
...ya, sama seperti handtraktor, digunakan untuk meningkatkan
produktivitas para petani di Kabupaten Kaur (hasil wawancara, Df,
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kaur, 18 februari 2014)
Selain hanya memberikan bantuan kepada kelompok masyarakat, untuk
mencapai tujuan utama dari pemberian bantuan ini, maka pihak dinas pertanian
Kabupaten Kaur selalu memberikan pendampingan (bentuk kerjasama antara
pihak KPDT dengan pemerintah daerah). Dinas pertanian Kabupaten Kaur telah
memliki tenaga penyuluh yang bekerja di kelompok-kelompok petani, baik itu
tenaga penyuluh honorer maupun tetap. Hal ini ditujukan untuk terus mengawal
bantuan sosial yang sudah diberikan agar selalu digunakan sebagaimana mestinya.
ya, masih ada pendampingan. Kita punya tenaga dinas pertanian di
kecamatan, selain itu setiap kelompok itu punya pendamping lapangan
(hasil wawancara, Df, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kaur, 18
februari 2014)

81

Manfaat bantuan sosial berupa


pemberian handtraktor
Peningkatan Infrastruktur
Handtraktor dan Mobil Rice
miller

Manfaat bantuan sosial berupa mobil


rice miller
Memberikan pendampingan kepada
kelompok-kelompok petani

Gambar 5.1 -6

Bagan uraian bantuan sosial peningkatan infrastruktur handtraktor dan


mobil rice miller
Sumber : Analisis Peneliti 2014

Berdasarkan

uraian

diatas,

dapat

disimpulkan

bahwa

pemberian

handtraktor kepada kelompok masyarakat yang ada di Kabupaten Kaur telah


dilakukan dan dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat
Kabupaten Kaur (terutama Kelompok Wanita Tani Kabupaten Kaur). Selain itu,
pemberian handtraktor ini dalam jangka panjang diharapkan akan meningkatkan
perekonomian masyarakat Kabupaten Kaur dimana hal ini akan memberikan
dampak tidak langsung kepada 27 sub indikator yang ditetapkan oleh KPDT.
Sementara pemberian mobil rice miller akan meningkatkan produktivitas para
petani yang ada di Kabupaten Kaur. Selain itu, pihak dinas pertanian Kabupaten
Kaur juga memberikan pendampingan dengan mendatangkan tenaga penyuluh
yang bekerja di kelompok-kelompok petani, baik itu tenaga penyuluh honorer
maupun tetap. Hal ini bertujuan untuk terus mengawal bantuan sosial yang sudah
diberikan agar tujuan dari bantuan sosial tersebut dapat tercapai.

Warung Informasi Masyarakat Dan ICT


Selain itu, bidang peningkatan infrastruktur juga memberikan bantuan
sosial pada tahun 2012 dan tahun 2013 berupa warung informasi masyarakat dan
ICT di Kabupaten Kaur. Output dari warung informasi masyarakat adalah
bangunan dengan perangkat komputer yang terhubung dengan internet. Hal ini
ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dan memberantas buta

82

internet. Sedangkan ICT merupakan bantuan kepada sekolah yang ada di


Kabupaten Kaur untuk digunakan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di
Kabupaten Kaur.
. Warung informasi masyarakat itu dalam bentuk bangunan yang berisi
komputer serta tekoneksi dengan internet (hasil wawancara, Ab, staff
dinsosnakertrasn Kabupaten Kaur mantan staff bappeda Kabupaten Kaur
21 februari 2014)
Warung informasi masyarakat memang tidak secara langsung memberi
pengaruh kepada peningkatan 27 sub indikator yang sudah ditetapkan oleh KPDT
ataupun sub indikator bermasalah yang sudah dijelaskan pada bab 5.1. Akan
tetapi, warung informasi masyarakat diharapkan dapat memberikan dampak
secara tidak langsung seperti halnya bantuan sosial pemberian handtraktor kepada
kelompok masyarakat.
Di warung informasi masyarakat ini, masyarakat dapat mengakses
informasi untuk meningkatkan pengetahuan. Sehingga diharapkan masyarakat
dapat mengakses informasi mengenai cara-cara untuk meningkatkan hasil
produksi karena sebagaimana kita ketahui, sebagian besar penduduk Kabupaten
Kaur bekerja sebagai petani. Selain itu diharapkan warung informasi masyarakat
ini dapat digunakan untuk memasarkan hasil dari usaha-usaha masyarakat secara
lebih luas dan tidak hanya untuk lokal saja.
Dampak yang diperoleh dari bantuan sosial warung informasi masyarakat
ini lebih mengarah kepada peningkatan ekonomi dan peningkatan kualitas sumber
daya manusia di Kabupaten Kaur, dimana 2 indikator ini memang masih
bermasalah. Sehingga peningkatan pemasaran hasil produksi secara global yang
dapat dijangkau oleh masyarakat akan secara langsung meningkatkan pendapatan
masyarakat.
pemasaran kopi buatan kaur untuk saat ini masih lokal di Kabupaten
Kaur, tapi sangat mengharapkan kalau kopi tersebut dapat dipasarkan ke
luar daerah bahkan jika bisa sampai ke luar negeri. Karena kopi buatan
kaur itu berbeda, apalagi kopi luwaknya, kita memakai luwak liar, bukan
luwak peliharaan seperti yang lainnya. (hasil wawancara, Ab, staff

83

dinsosnakertrans Kabupaten Kaur mantan staff bappeda Kabupaten


Kaur, 21 februari 2014)

Gambar 5.1 -7
Kiri : Salah Satu Tempat Produksi Kopi Luwak Di Bintuhan
Kanan : Hasil Produksi Kopi Yang Siap Dipasarkan
Sumber : Survei 2014

Dari keberadaan warung informasi masyarakat ini, diharapkan hasil


produksi di Kabupaten Kaur yang sangat beragam dapat dipasarkan secara lebih
luas. Hal ini akan berdampak kepada bertambahnya penghasilan masyarakat
Kabupaten Kaur dan sesuai dengan sub indikator yang bermasalah seperti yang
telah ditetapkan oleh KPDT. Dari segi peningkatan ekonomi masyarakat, maka
dampak lebih jauhnya adalah peningkatan taraf pendidikan (biaya untuk
pendidikan

masyarakat

bertambah)

dan

tingkat

kesehatan

masyarakat

(kemampuan masyarakat untuk berobat akan meningkat).


Selain warung informasi masyarakat, KPDT juga memberikan bantuan
sosial dalam bentuk Information and Communication Technology (ICT) kepada
sekolah-sekolah di Kabupaten Kaur dalam upaya meningkatkan kualitas sumber
daya manusia di Kabupaten Kaur,. Pada tahun 2012, terdapat 2 sekolah yang
mendapat bantuan ICT yaitu, SMA Negeri 1 Kaur dan SMP Negeri 1 Kaur
Selatan. ICT yang diberikan berada dalam bentuk komputer kepada sekolahsekolah tersebut. Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa di
Kabupaten Kaur dalam sisi teknologi informasi dimana saat ini semua hal telah
berbasis komputer.
Manfaat peningkatan sumber daya manusia ini di Kabupaten Kaur ini
tidak secara langsung dapat terlihat pada 3 sub indikator sumber daya manusia

84

yaitu angka melek huruf, rata-rata lama sekolah dan angka harapan hidup. Namun
manfaat tersebut lebih jauh kepada kualitas dari sumber daya manusia itu sendiri,
seperti peningkatan kualitas pengetahuan dan pendidikan di Kabupaten Kaur.
Kemampuan penggunaan komputer di masa modern ini merupakan aspek
yang sangat penting. Segala sesuatu yang terkait dengan pekerjaan, sebagian besar
harus berhubungan dengan komputer, karena itulah kemampuan menggunakan
komputer sangat penting. Berdasarkan pengamatan langsung dilapangan, saat
pembuatan surat izin survei pada tanggal 12 februari 2014, dapat dilihat bahwa
masih adanya pegawai negeri sipil di Kabupaten Kaur yang belum terlalu
paham menggunakan perangkat komputer. Tentu saja hal ini sangat disayangkan
karena mengingat pembuatan surat izin saat itu menggunakan komputer, sehingga
membutuhkan waktu untuk menunggu seseorang yang mengerti dalam pembuatan
surat izin tersebut.
Hal inilah yang menjadi tujuan pengadaan ICT di Kabupaten Kaur karena
diharapkan dengan pengadaan ICT, pembelajaran dapat dilakukan sejak dini.
Pengadaan ICT pada saat ini masih terbatas hanya pada 2 sekolah yang ada di
Kabupaten Kaur dikarenakan minimnya tenaga pengajar dan juga dana yang
tersedia.
ICT yang ada saat ini baru di 2 sekolah, SMA 1 Kaur dan SMP 1
Kaur Selatan, hal ini dikarenakan minimnya tenaga pengajar dan juga
minimnya dana yang ada (hasil wawancara, Ad kasubag perencanaan
dan pelaporan, Kesekertariatan, Dinas Pendidikan Kabupaten Kaur, 19
Februari 2014)
Bentuk dan manfaat bantuan
sosial warung informasi
masyarakat
Bentuk dan manfaat bantuan
sosial ICT

Warung Informasi
Masyarakat Dan ICT

Kemampuan penggunaan
komputer merupakan aspek
penting
Gambar 5.1 -8

Bagan uraian bantuan sosial warung informasi masyarakat dan ICT


Sumber : Analisis Peneliti 2014

85

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pemberian bantuan


sosial warung informasi masyarakat yang ada di Kabupaten Kaur berbentuk
bangunan dengan perangkat komputer yang terhubung dengan internet dan
diharapkan masyarakat dapat mengakses informasi mengenai cara-cara untuk
meningkatkan hasil produksi kpertanian Selain itu warung informasi masyarakat
ini dapat digunakan untuk memasarkan hasil dari usaha-usaha masyarakat secara
lebih

luas.

Sementara

bantuan

sosial

dalam

bentuk

Information

and

Communication Technology (ICT) diberikan kepada sekolah-sekolah karena


kemampuan penggunaan komputer merupakan aspek penting yang harus
ditanamkan sejak usia sekolah. Secara umum, bantuan sosial warung informasi
masyarakat dan ICT akan memiliki tujuan yang mengarah kepada peningkatan
ekonomi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Kaur.
Peningkatan Infrastruktur Jalan Desa
Seperti yang sudah dijelaskan, beberapa bantuan sosial di Kabupaten Kaur
berdampak langsung pada 27 sub indikator yang sudah ditetapkan oleh KPDT dan
ada juga yang berdampak tidak langsung pada 27 sub indikator tersebut. Salah
satu bantuan sosial yang ada di Kabupaten Kaur adalah peningkatan infrastruktur
jalan desa.
Peningkatan infrastruktur jalan desa adalah bantuan sosial pembangunan
jalan menuju desa-desa yang terpencil. Pembangunan jalan ini akan berdampak
langsung kepada sub indikator yang ada, terutama terkait dengan persentase desa
dengan permukaan jalan terluas tanah dan jenis permukaan jalan terluas lainnya.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, banyak desa di Kabupaten Kaur yang
belum memiliki jalan yang layak untuk menunjang aktivitas mereka. Baik itu
aktivitas ekonomi, maupun aktivitas lainnya yang membutuhkan mobilitas tinggi.
Oleh karena itu, persentase desa dengan permukaan jalan terluas lainnya berada
diatas rata-rata nasional dan tergolong dalam sub indikator yang bermasalah.
.manfaat dirasakan oleh masyarakat langsung. Contohnya itu seperti
pembangunan jalan desa. Daerah-daerah yang belum terbuka seperti itu
menjadi terbuka, itu salah manfaat nya yang dapat dirasakan secara

86

langsung (hasil wawancara, DPU Kasubid Promosi, Bidang Penanaman


Modal, Bappeda Kabupaten Kaur, tanggal 17 februari 2014)
Selain memberikan dampak langsung kepada sub indikator yang
bermasalah (desa dengan jalan tanah dan lainnya), pembangunan jalan desa ini
juga memberikan dampak yang berjangka terhadap masyarakat Kabupaten Kaur.
Hal ini sudah dijelaskan oleh pihak Bappeda Kabupaten Kaur.
Pembukaan akses jalan ke daerah-daerah atau desa-desa terpencil
merupakan manfaat yang diterima secara langsung oleh masyarakat di Kabupaten
Kaur. Selain itu terdapat juga manfaat tidak langsung yang diperoleh oleh
masyarakat Kabupaten Kaur. Salah satunya adalah peningkatan ekonomi
masyarakat. Pembukaan jalan-jalan menuju daerah ini (yang secara notabene
merupakan wilayah perkebunan) memudahkan distribusi hasil perkebunan di
Kabupaten Kaur seperti kopi dan kelapa sawit (komoditas unggulan) untuk diolah
di Bintuhan (pusat kota). Sehingga biaya transportasi akan mengalami penurunan
dan perekonomian masyarakat akan semakin meningkat.
manfaat lainnya adalah peningkatan perekonomian masyarakat. Itu
jangka panjangnya. Karena wilayah-wilayah terpencil itu sebagian besar
wilayah perkebunan jadi dengan pembangunan jalan memudahkan hasil
kebun untuk diangkut ke tempat pengolahannya (hasil wawancara, Mt,
Kabid Penanaman Modal, Bappeda Kabupaten Kaur, tanggal 17 februari
2014)
Selain itu terdapat juga manfaat lainnya yang dapat diambil dari
pembangunan jalan desa ini. Salah satunya adalah peningkatan kualitas
pendidikan dan kesehatan masyarakat Kabupaten Kaur. Logikanya adalah dengan
dibukanya jalan, masyarakat akan semakin mudah untuk menuju tempat
pendidikan, sehingga minat masyarakat untuk sekolah akan semakin besar.
Sedangkan peningkatan kesehatan berhubungan langsung dengan akses menuju
tempat pelayanan kesehatan terdekat.

87

Bentuk peningkatan infrastruktur jalan


desa
Peningkatan persentase desa dengan
permukaan jalan terluas

Peningkatan
infrastruktur jalan desa

Manfaat peningkatan infrastruktur jalan


desa
Gambar 5.1 -9

Bagan uraian bantuan sosial peningkatan infrastruktur jalan desa


Sumber : Analisis Peneliti 2014

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa bantuan sosial


peningkatan infrastruktur jalan desa yang ada di Kabupaten Kaur berbentuk
pembangunan jalan menuju desa-desa yang terpencil. Pembangunan jalan ini akan
berdampak langsung kepada sub indikator yang ada, terkait dengan peningkatan
persentase desa dengan permukaan jalan terluas tanah dan jenis permukaan jalan
terluas lainnya. Manfaat yang diperoleh adalah peningkatan ekonomi masyarakat
dan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat Kabupaten Kaur karena akan
memudahkan distribusi hasil perkebunan dan pertanian di Kabupaten Kaur, serta
memudahkan akses bagi masyarakat untuk menuju tempat pendidikan.

Pengadaan Sarana Infrastruktur Kesehatan


Permasalahan kesehatan merupakan salah satu permasalahan yang timbul
di daerah tertinggal. Berdasarkan 27 sub indikator yang ditetapkan oleh KPDT,
permasalahan kesehatan secara langsung ditentukan oleh angka harapan hidup.
Sub indikator ini dinilai bermasalah pada analisis sebelumnya karena berada
dibawah rata-rata nasional dimana angka harapan hidup di Kabupaten Kaur hanya
mencapai 67,85 tahun pada tahun 2012. Berdasarkan hal inilah, banyak bantuan
sosial ditujukan untuk meningkatkan kualitas kesehatan di Kabupaten Kaur.
Permasalahan kesehatan ini akan memberikan dampak langsung pada
kualitas sumber daya manusia (produktivitas masyarakat). Karena itulah tingkat
kesehatan merupakan salah satu indikator yang juga digunakan untuk menentukan
IPM. Banyak hal yang ikut berpengaruh dalam menentukan tingkat kesehatan di

88

suatu daerah yaitu faktor ekonomi, faktor sarana dan prasarana kesehatan serta
faktor budaya. Namun yang perlu dicermati disini adalah faktor sarana dan
prasarana kesehatan di Kabupaten Kaur.
Pada tahun 2012, tercatat bahwa 24,90 % rumah tangga di Kabupaten
Kaur mengambil sumber air bersih dari sumur yang tidak terlindungi dan 12,03 %
mengambil sumber air dari sungai. Hal inilah yang juga menyebabkan tingkat
kesehatan di Kabupaten Kaur cukup rendah. Jika dibandingkan dengan data
statistik Kabupaten Kaur, hanya 50% rumah tangga di Kabupaten Kaur yang
memiliki jamban sendiri, sedangkan yang lainnya masih menggunakan sungai,
laut dan sebagainya untuk tempat pembuangan, sehingga pencemaran air tanah
sulit untuk dihindarkan (statistik Kabupaten Kaur tahun 2013, dan buku putih
sanitasi 2012).
Bantuan sosial pengadaan sarana infrastruktur kesehatan terdiri dari
kegiatan-kegiatan pengadaan sarana tangki air, pengadaan alat kesehatan dan juga
sarana air bersih. Hal ini sesuai dengan indikator bermasalah di Kabupaten Kaur,
dimana persentase rumah tangga pengguna air bersih di Kabupaten Kaur masih
berada di bawah rata-rata nasional.
Bantuan sosial yang diberikan oleh KPDT dengan tujuan meningkatkan
tingkat kesehatan di Kabupaten Kaur adalah bantuan pengadaan sarana kesehatan
tangki air, pengadaan sarana kesehatan dan bantuan pembangunan sarana air
bersih. Hal ini memberikan dampak langsung kepada peningkatan kesehatan di
Kabupaten Kaur.
Melihat kecenderungan seperti yang sudah dijelaskan, bantuan sosial yang
diberikan oleh KPDT berupa bantuan tangki air bersih dan pembangunan sarana
air bersih di Kabupaten Kaur sudah berada pada sasaran yang sangat tepat. Namun
dampak yang dapat dilihat (melalui peningkatan angka harapan hidup di
Kabupaten Kaur) belum begitu terasa dikarenakan bantuan sosial ini turun di
Kabupaten Kaur pada tahun 2013.
untuk melihat dampak dari pengadaan sarana air bersih ini belum
bisa, karena masih tahun 2013 bansos KPDT ini turun di Kabupaten
Kaur (wawancara, Rw, staff PU Kabupaten Kaur, 19 Februari 2014)

89

Selain itu, program pengadaan sarana kesehatan di Kabupaten Kaur juga


memiliki tujuan untuk meningkatkan tingkat kesehatan di Kabupaten Kaur. Pada
analisis sebelumnya, sub indikator sarana dan prasarana kesehatan di Kabupaten
Kaur memang tidak bermasalah (tidak berada di bawah rata-rata nasional), yaitu
jumlah dokter per 1000 penduduk maupun jumlah prasarana kesehatan per 1000
penduduk. Namun peningkatan harus terus dilakukan karena jumlah penduduk di
Kabupaten Kaur yang cenderung bertambah tiap tahunnya.
Bentuk bantuan sosial pengadaan sarana
infrastruktur kesehatan

Peningkatan persentase rumah tangga


pengguna air bersih

Pengadaan Sarana
Infrastruktur Kesehatan

Manfaat bantuan sosial pengadaan


sarana infrastruktur kesehatan
Gambar 5.1 -10

Bagan uraian bantuan sosial pengadaan sarana infrastruktur kesehatan


Sumber : Analisis Peneliti 2014

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa bantuan sosial


pengadaan sarana infrastruktur kesehatan yang ada di Kabupaten Kaur berbentuk
kegiatan-kegiatan pengadaan sarana tangki air, pengadaan alat kesehatan dan juga
sarana air bersih. Pengadaan sarana infrastruktur kesehatan ini akan berdampak
langsung kepada indikator bermasalah di Kabupaten Kaur, sehingga akan
meningkatkan persentase rumah tangga pengguna air bersih di Kabupaten Kaur
yang masih berada di bawah rata-rata nasional. Hal ini memberikan dampak
langsung kepada peningkatan kesehatan di Kabupaten Kaur.
Bantuan Peningkatan Infrastruktur Pasar Desa
Salah satu bantuan sosial bidang peningkatan infrastruktur yang turun di
Kabupaten Kaur pada tahun 2013 adalah peningkatan infrastruktur pasar desa. Hal
ini sesuai dengan sub indikator yang bermasalah di Kabupaten Kaur yaitu jumlah
desa yang mempunyai pasar dengan bangunan permanen. Pada tahun 2012 hanya

90

terdapat 20 pasar dengan skala desa dan tidak ada pasar dengan skala kabupaten di
Kabupaten Kaur (Kabupaten Kaur Dalam Angka 2013).
Berdasarkan hasil wawancara, Kabupaten Kaur belum memiliki pasar
yang benar-benar seperti pasar pada umumnya (memiliki bangunan tetap yang
menjadi pusat jual dan beli). Pasar di Kabupaten Kaur hanya sebagai tempat bagi
masyarakat untuk melakukan transaksi jual beli seperti pasar tumpah jika di
daerah jawa.
pasar di siko idak ado cak pasar di bengkulu, cak PTM, paling-paling
cak pasar pas tabot (hasil wawancara Dn, Supir travel Bengkulu Kaur,
21 Februari 2014)
PTM adalah pasar tradisional modern yang ada di kota Bengkulu dimana
pasar tersebut memiliki bangunan permanen, sedangkan pasar saat acara tabot
adalah pasar yang ada seperti pada saat pasar bulan puasa, tidak memiliki
bangunan permanen sebagai tempat melakukan jual dan beli. Informasi lain yang
diperoleh adalah masalah utama di Kabupaten Kaur terkait pemasaran.
ya, memang masalah utama dari di Kabupaten Kaur ini adalah
masalah pemasaran. Di desa tanjung agung, sudah banyak hasil
pertanian yg ada. Missal nya timun, bawang. Akan tetapi sebagian besar
ga terjual. Baik keluar daerah maupun di dalam daerah itu sendiri. Untuk
dalam daerah, kita masih belum ada pasar-pasar yang dapat digunakan
untuk menjual hasil-hasil pertanian, sedangkan jika ingin dikirim keluar
daerah, jumlah nya masih belum mencukupi (wawancara Es, Kepala
Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kaur, 20
Februari 2014)
Berdasarkan wawancara tersebut, program bantuan sosial dari KPDT
terkait dengan peningkatan infrastruktur pasar desa berada pada sasaran yang
sangat tepat. Dari hasil wawancara dengan kepala dinas sosial, tenaga kerja dan
transmigrasi, masalah utama adalah dalam hal pemasaran. Hal ini berkaitan
dengan hasil produksi para transmigran yang ada di Kabupaten Kaur yang tidak
dapat dipasarkan sehingga menjadi terbuang sia-sia.
para transmigran menjadi salah satu sumber pemenuhan kebutuhan di
Kabupaten Kaur. cabe di Kabupaten Kaur itu berasal kebun para
transmigran (wawancara Es, Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Kabupaten Kaur, 20 Februari 2014)

91

Dengan adanya pembangunan infrastruktur pasar desa ini sangat


diharapkan bahwa pemasaran hasil produksi di Kabupaten Kaur dapat meningkat
dengan pesat. Memang secara langsung, peningkatan infrastruktur pasar dapat
meningkatkan sub indikator persentase pasar permanen di Kabupaten Kaur,
namun diharapkan dampak berjangkanya adalah peningkatan perekonomian
masyarakat Kabupaten Kaur secara umum. Manfaat jangka panjang dari
pembangunan pasar desa ini belum dapat dirasakan. Hal ini dikarenakan bantuan
sosial pasar desa ini baru diturunkan oleh KPDT pada tahun 2013, sehingga hanya
dampak langsung yang dapat dirasakan, yaitu masyarakat Kabupaten Kaur
memiliki tempat untuk memasarkan hasil produksi mereka.

Bentuk bantuan peningkatan


infrastruktur pasar desa
Meningkatkan persentase pasar
permanen di Kabupaten Kaur

Bantuan Peningkatan
Infrastruktur Pasar Desa

Dampak bantuan peningkatan


infrastruktur pasar desa

Gambar 5.1 -11

Bagan uraian bantuan sosial peningkatan infrastruktur pasar desa


Sumber : Analisis Peneliti 2014

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa bantuan sosial


pengadaan sarana infrastruktur kesehatan peningkatan infrastruktur pasar desa
yang ada di Kabupaten Kaur berbentuk pembangunan infrastruktur pasar desa.
Pembangunan infrastruktur pasar desa ini akan berdampak langsung kepada sub
indikator persentase pasar permanen di Kabupaten Kaur, sehingga akan
meningkatkan persentase pasar permanen di Kabupaten Kaur di Kabupaten Kaur
yang masih berada di bawah rata-rata nasional. Hal ini memberikan dampak
langsung yaitu sebagai tempat untuk memasarkan hasil produksi masyarakat di

92

Kabupaten Kaur dengan peningkatan ekonomi masyarakat sebagai dampak jangka


panjang.

Pengadaan Pembangkit Listrik


Peningkatan Infrastruktur Handtraktor dan Mobil
Rice miller
Warung Informasi Masyarakat Dan ICT

Bantuan Sosial Bidang


Peningkatan infrastruktur

Peningkatan Infrastruktur Jalan Desa


Pengadaan Sarana Infrastruktur Kesehatan

Bantuan Peningkatan Infrastruktur Pasar Desa

Gambar 5.1 -12

Bagan bantuan sosial bidang peningkatan infrastruktur


Sumber : Analisis Peneliti 2014

Bantuan sosial di bidang peningkatan infrastruktur cukup banyak sejak


tahun 2010 hingga tahun 2013. Hal ini juga merupakan salah satu akibat dari
infrastruktur yang masih sangat bermasalah di Kabupaten Kaur. Dari 11 sub
indikator infrastruktur yang ada di Kabupaten Kaur, terdapat 5 sub indikator yang
bermasalah, yaitu: persentase desa dengan jalan utama terluas lainnya, persentase
pengguna listrik, persentase pengguna telepon, persentase pengguna air bersih,
dan infrastruktur ekonomi seperti pasar permanen. Adapun jenis bantuan sosial
yang diberikan untuk meningkatkan infrastruktur adalah pengadaan pembangkit
listrik, peningkatan infrastruktur handtraktor dan mobil rice miller, warung
informasi masyarakat dan ict, peningkatan infrastruktur jalan desa, pengadaan
sarana infrastruktur kesehatan serta bantuan peningkatan infrastruktur pasar desa.

93

C.

Bidang Pembinaan Ekonomi dan Dunia Usaha

Pengembangan Komoditas Unggulan


Pada

tahun

2012,

KPDT

memberikan

bantuan

sosial

berupa

pengembangan komoditas unggulan, yaitu kopi sebagai komoditas unggulan di


Kabupaten Kaur. Bantuan sosial pengembangan komoditas unggulan di
Kabupaten Kaur ini berlanjut pada tahun 2013 yaitu bantuan sosial pengembangan
kopi berupa pemberian bibit kopi.
Program KPDT ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan
perekonomian masyarakat. Bantuan sosial pengembangan komoditas unggulan ini
berupa pemberian alat pengolahan kopi sebagai komoditas unggulan (4 unit di 4
kelompok masyarakat Kabupaten Kaur).

Gambar 5.1 -13


Salah satu tempat produksi kopi di Kecamatan Kaur Selatan
Sumber : Survei 2014

Hal ini sesuai dengan 27 sub indikator yang sudah ditetapkan oleh KPDT,
dimana indikator ekonomi merupakan salah satu indikator yang menjadi masalah
di Kabupaten Kaur. Dengan pengembangan komoditas unggulan ini, diharapkan
pendapatan masyarakat akan meningkat dan memberikan efek yang berkelanjutan
sehingga tingkat kemiskinan di Kabupaten Kaur dapat menurun.
jadi kita disini, ini barang, ini kelompoknya, kalian bimbing (hasil
wawancara, Ha kabid perindustrian, dinas perindagkop, Kabupaten Kaur,
20 Februari 2014)
Pengembangan komoditas unggulan ini terus diberikan pendampingan
oleh pemerintah daerah melalui dinas perindustrian, perdagangan dan koperasi
Kabupaten Kaur. Pemilihan pengembangan komoditas unggulan berupa kopi di

94

Kabupaten Kaur ini dikarenakan kopi merupakan salah satu hasil perkebunan
yang cukup baik di Kabupaten Kaur. Sedangkan pengolahan kopi itu sendiri
selama ini belum berjalan maksimal dikarenakan minimnya peralatan yang ada,
sehingga melalui bantuan dari KPDT ini diharapkan hasil produksi kopi tersebut
akan lebih berkualitas.
dari segi produksi, kita kalo mau mengolah kopi itu kan banyak
tahapnya, dulu kita menggunakan secara manual. Misalkan bikin kopi kita
sangrai hanya menggunakan kuali, bubuk, misalkan mereka mau
pembubukan itu harus butirannya harus seukuran apa. Nah dari peralatan
yang diberikan KPDT ini, permintaan seperti apa dapat dipenuhi,
sehingga nilai jualnya meningkat (hasil wawancara, Ha kabid
perindustrian, dinas perindagkop, Kabupaten Kaur, 20 Februari 2014)
Dari hasil wawancara tersebut, terlihat bahwa bantuan yang diberikan
KPDT sangat bermanfaat. Terutama dalam hal peningkatan kualitas hasil produksi
komoditas unggulan di Kabupaten Kaur. Hal itu juga akan berdampak kepada
peningkatan pendapatan masyarakat.
dengan alat yang baru ini, kita jadi bisa buat kopi dengan jumlah yang
banyak dan kualitas yang bagus. Ini sangat membantu (hasil wawancara,
Sy, salah satu anggota kelompok masyarakat sekunyit, 19 Februari 2014)

Gambar 5.1 -14


Salah satu mesin kopi Bantuan Dari KPDT
Sumber : survei, 2014

Sebagai ilustrasi, peningkatan kualitas produksi akan meningkatkan


permintaan. Peningkatan permintaan hasil produksi juga akan berpengaruh kepada
peningkatan permintaan bahan baku produksi, sehingga pendapatan para petani
kopi juga akan meningkat. Hasil produksi kopi di Kabupaten Kaur sudah ada

95

dipasarkan sampai ke luar negeri karena kopi yang dihasilkan unik dan berbeda.
Hal inilah yang menjadi sasaran peningkatan sebagai salah satu upaya untuk
meningkatkan pendapatan masyarakat Kabupaten Kaur.
kalo kopi, ada tipenya limited, namanya itu kopi luwak, tapi luwak
liar. Itu juga dibantu oleh KPDT, itu sudah dipasarkan ke mancanegara,
Cuma karena barang itu limited, pemasaran nya juga limited, karena
luwak yang digunakan adalah luwak liar. (hasil wawancara, Ha kabid
perindustrian, dinas perindagkop, Kabupaten Kaur, 20 Februari 2014)

Gambar 5.1 -15


Salah Satu Hasil Produksi Kopi Yang Unik, Yaitu Kopi Luwak Liar
Sumber : Survei 2014

Bentuk bantuan sosial berupa


pengembangan komoditas unggulan
Peningkatan kualitas hasil produksi
komoditas unggulan

Pengembangan Komoditas
Unggulan

Tujuan bantuan sosial berupa


pengembangan komoditas unggulan

Gambar 5.1 -16

Bagan uraian bantuan sosial pengembangan komoditas unggulan


Sumber : Analisis Peneliti 2014

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa bantuan sosial


pengembangan komoditas unggulan yang ada di Kabupaten Kaur berbentuk
pemberian bibit kopi dan alat pengolahan kopi sebagai komoditas unggulan.
Selain itu, juga diberikan pendampingan oleh pemerintah daerah melalui dinas
perindustrian, perdagangan dan koperasi Kabupaten Kaur. Pengembangan
komoditas unggulan ini akan berdampak langsung kepada indikator ekonomi
96

sebagai salah satu indikator yang menjadi masalah di Kabupaten Kaur. Dengan
pengembangan komoditas unggulan ini, diharapkan pendapatan masyarakat akan
meningkat dan memberikan efek yang berkelanjutan sehingga tingkat kemiskinan
di Kabupaten Kaur dapat menurun.

Modal Usaha dan Sarana Informasi Ekonomi


Bantuan sosial lainnya adalah pemberian modal usaha dan sarana
informasi ekonomi (pusat edukasi ekonomi pedesaan). Pada dasarnya, bantuan
sosial modal usaha dan sarana informasi ini mengadopsi sistem koperasi.
Masyarakat desa yang ingin membuka usaha dipersilahkan datang ke pusat
edukasi ekonomi pedesaan.
jadi kalo masyarakat ingin mengembangkan usaha, tinggal datang ke
pusat edukasi ini dan dapat meminjam modal usaha. Kalo dia mau
mengembangkan usaha apa, sudah ada di kontennya, tinggal
menjalankan (hasil wawancara, Ha staff dinas perindagkop, Kabupaten
Kaur, 20 Februari 2014)
Hasil wawancara tersebut memberikan gambaran secara jelas mengenai
tujuan dari bantuan sosial modal usaha dan sarana informasi ekonomi ini. Bantuan
ini bertujuan agar masyarakat yang ingin membuka usaha dan tidak memiliki
modal dapat melakukan peminjaman modal di pusat edukasi dan ekonomi ini.
Selain itu, di dalam database juga sudah terdapat panduan-panduan dalam
menjalankan usaha apa yang diinginkan.
kalo mau pelihara itik, sudah ada di kontennya. Kalo mau usaha roti,
tinggal buka. Jadi masyarakat tinggal menjalankan saja. Dari sini nanti
masyarakat akan dapat meningkatkan penghasilan mereka dan
meningkatkan perekonomian Kabupaten Kaur. (hasil wawancara, Ha staff
dinas perindagkop, Kabupaten Kaur, 20 Februari 2014)
Dengan pola seperti ini, indikator ekonomi yang merupakan salah satu
indikator bermasalah di Kabupaten Kaur diharapkan dapat segera teratasi. Hal ini
dikarenakan masyarakat sudah secara mandiri dapat memiliki usaha untuk
meningkatkan penghasilan mereka.

97

bagus sekali, dengan adanya bantuan modal usaha dan pusekdes


masyarakat desa jadi punya modal untuk membuka usaha (hasil
wawancara, Jn, Kades Pasar Baru, 18 Februari 2014)
Bantuan modal usaha dan sarana pusekdes ini memiliki lokasi sementara
di rumah kepala desa. Ada 5 desa yang mendapat bantuan ini yaitu desa pasar
baru, desa kepala pasar, desa sekunyit, desa binjai dan desa tanjung liman. Kelima
desa tersebut berada di Kecamatan Kaur Selatan dengan alasan bahwa sumber
daya manusia yang ada memiliki kemampuan cukup mumpuni untuk membuka
usaha dengan memanfaatkan modal usaha. Namun fasilitas ini hanya terdapat di
Kecamatan Kaur Selatan yang merupakan ibukota dari Kabupaten Kaur.
Tujuan dari bantuan sosial bidang ekonomi dan dunia usaha ini secara
umum adalah untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Kabupaten Kaur.
Hal ini dikarenakan indikator ekonomi berupa tingkat kemiskinan dan
pengeluaran perkapita masih merupakan indikator yang bermasalah. Adanya
peningkatan penghasilan akan berdampak lebih jauh kepada penurunan angka
kemiskinan di Kabupaten Kaur.

Bentuk bantuan sosial modal usaha dan


sarana informasi ekonomi
Peningkatan perekonomian masyarakat

Modal Usaha dan Sarana


Informasi Ekonomi

Tujuan bantuan sosial modal usaha dan


sarana informasi ekonomi

Gambar 5.1 -17

Bagan uraian bantuan sosial modal usaha dan sarana informasi ekonomi
Sumber : Analisis Peneliti 2014

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa bantuan sosial modal


usaha dan sarana informasi ekonomi yang ada di Kabupaten Kaur berbentuk
pemberian modal usaha dan sarana informasi ekonomi (pusat edukasi ekonomi
pedesaan). Kegiatan ini akan berdampak langsung kepada indikator ekonomi
berupa peningkatan penghasilan atau pengeluaran perkapita masyarakat dan

98

penurunan angka kemiskinan di Kabupaten Kaur. Tujuan dari bantuan sosial ini
secara umum adalah meningkatkan perekonomian masyarakat Kabupaten Kaur.

Pengembangan Komoditas Unggulan


Bidang Pembinaan
Ekonomi dan Dunia Usaha
Modal Usaha dan Sarana Informasi
Ekonomi

Gambar 5.1 -18

Bagan uraian bantuan sosial bidang pembinaan ekonomi dan dunia usaha
Sumber : Analisis Peneliti 2014

Bantuan sosial bidang pembinaan ekonomi dan dunia usaha di Kabupaten


Kaur baru ada pada tahun 2012 dan 2013, sedangkan pada tahun 2010 dan 2011
Kabupaten Kaur tidak mendapatkan bantuan sosial dari bidang pembinaan
ekonomi dan dunia usaha. Bantuan ini berbentuk Pengembangan Komoditas
Unggulan dan pemberian Modal Usaha dan Sarana Informasi Ekonomi. Bantuan
sosial pembinaan ekonomi dan dunia usaha berkaitan dengan peningkatan iklim
usaha di Kabupaten Kaur yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian
masyarakat Kabupaten Kaur secara umum. Oleh karena itu bantuan sosial di
bidang ini ditujukan secara umum untuk peningkatan perekonomian Kabupaten
Kaur.

D.

Bidang Pengembangan Sumber Daya


Bantuan sosial di bidang pengembangan sumber daya yang ada di

Kabupaten Kaur, terkait dengan pengembangan ternak beserta pemanfaatan


limbah ternak tersebut sebagai alternatif energi untuk daerah tertinggal. Bantuan
tersebut diberikan dalam bentuk bantuan kandang, rumah jaga dan lab kesehatan
hewan, instalasi biogas, handtraktor, peralatan pengolahan pupuk organik dan
mesin potong rumput yang diberikan pada 1 kelompok.

99

Gambar 5.1 -19


Bantuan Sosial Pengolahan Limbah Ternak Menjadi Biogas 2013
Sumber : Bappeda Kabupaten Kaur, 2014

Bantuan ini secara umum bertujuan agar masyarakat memiliki kemampuan


beternak yang lebih baik. Bantuan kandang yang diberikan oleh KPDT sama
seperti kandang-kandang kelompok masyarakat yang berukuran 30 x 15 m.
Sedangkan bantuan lainnya seperti pemotong rumput dan sebagainya, adalah
peralatan penunjang masyarakat untuk beternak. Selain itu pelatihan dan instalasi
biogas yang diberikan memiliki tujuan agar masyarakat dapat memanfaatkan
limbah dari ternak mereka sebagai alternatif energi.
Bantuan sosial dari bidang pengembangan sumber daya ini sudah sesuai
dengan indikator yang bermasalah di Kabupaten Kaur, yaitu indikator ekonomi.
Bantuan ini diharapkan dapat memberikan stimulan kepada masyarakat untuk
dapat meningkatkan penghasilan mereka dengan cara beternak. Seperti yang
sudah di ketahui, Kabupaten Kaur memiliki lahan yang tergolong masih cukup
luas sehingga sangat cocok bila dimanfaatkan sebagai peternakan.
bantuan hewan ternak itu masih dititik beratkan cuma untuk contoh,
jadi seperti pembelajaran kepada masyarakat. Ini sangat terasa
manfaatnya, sekarang hewan ternak masyarakat itu sudah cukup banyak,
itu hasil dari bantuan yang tahun 2011 dan 2012. (Hasil wawancara, Ai,
staff bappeda, tanggal 17 februari 2014)
Bantuan pengembangan sumber daya ini terus berkelanjutan, pada tahun
2012, KPDT kembali memberikan bantuan terkait dengan hewan ternak yaitu
pemberian bantuan kambing ternak. Sama seperti penjelasan di atas, bahwa

100

bantuan ini juga bertujuan untuk memberikan stimulan kepada masyarakat


Kabupaten Kaur agar dapat mengembangkan hewan ternak untuk menambah
penghasilan mereka.
Sedangkan pada tahun 2013, bidang pengembangan sumber daya ini
banyak memberikan bantuan untuk peningkatan kualitas umber daya manusia di
Kabupaten Kaur. salah satunya adalah alat kesehatan poskesdes guna
meningkatkan kesehatan masyarakat Kabupaten Kaur, alat peraga penunjang
pendidikan keaksaraan dan juga fasilitasi penerapan teknologi inovasi
perkebunan, perikanan dan pertanian di daerah tertinggal. Bantuan ini berupa
peralatan pengolahan umbi-umbian yang digunakan oleh petani di Kabupaten
Kaur.

Pengembangan ternak
Pemanfaatan limbah ternak

Bidang Pengembangan
Sumber Daya

Peralatan penunjang masyarakat untuk


beternak

Gambar 5.1 -20

Bagan bantuan sosial bidang pengembangan sumber daya


Sumber : Analisis Peneliti 2014

E.

Bidang Pengembangan Daerah Khusus


Pengembangan daerah khusus membawahi beberapa hal terkait, antara lain

daerah perbatasan, daerah rawan konflik dan bencana, perdesaan, pulau terpencil
dan terluar, dan wilayah strategis. Berdasarkan kriteria yang ada, Kabupaten Kaur
tergolong kabupaten yang identik dengan pedesaan, sehingga bantuan sosial
dalam bidang pengembangan daerah khusus ini lebih menekankan kepada daerah
pedesaan di Kabupaten Kaur.
Seperti yang sudah digambarkan pada kondisi ketertinggalan di Kabupaten
Kaur, kondisi pedesaan di Kabupaten Kaur cukup menjadi masalah, terutama
terkait dengan kebutuhan akan jalan. Bantuan sosial yang diberikan oleh KPDT
101

dalam bidang pengembangan daerah khusus ini dirasa sudah cukup tepat sasaran.
Bantuan tersebut antara lain pembangunan jalan desa Penantian Tanjung Bunian
(Kecamatan Kelam Tengah), pembangunan jalan produksi, peralatan pengolahan
kopi.
Bantuan-bantuan tersebut ditujukan pada daerah-daerah terpencil yang ada
di Kabupaten Kaur. Peralatan pengolahan kopi yang diberikan pun di desa
Tanjung Aur di Kecamatan Maje. Tujuan dan manfaat dari pemberian bantuan
sosial ini sama dengan bidang-bidang lainnya dengan kegiatan yang sama. Hanya
lokasi pemberian bantuan yang berbeda (hasil wawancara Bappeda Kabupaten
Kaur).
Pembangunan jalan desa Penantian
Tanjung Bunian
Pembangunan jalan produksi

Bidang Pengembangan
Daerah Khusus

Peralatan pengolahan kopi

Gambar 5.1 -21

Bagan uraian bantuan sosial bidang pengembangan daerah khusus


Sumber : Analisis Peneliti 2014

5.1.3

Persepsi Stakeholders terhadap Bantuan Sosial KPDT di Kabupaten

Kaur
Uraian diatas telah menguraikan secara lengkap mengenai data-data yang
telah didapatkan dari observasi lapangan, catatan penulis, hasil wawancara, dan
dokumen yang relevan. Unit-unit informasi yang telah dipaparkan tersebut setelah
itu dapat dikategorikan ke dalam tema-tema sesuai dengan kesamaan diskusinya.
Kemudian selanjutnya dapat diuraikan lebih lanjut mengenai pembahasan tema
tersebut secara keseluruhan.

102

A. Efektifitas
Persepsi stakeholders terhadap efektifitas bantuan sosial di Kabupaten
Kaur dicerminkan dari pertanyaan apakah hasil yang diinginkan telah tercapai.
Efektifitas disini untuk melihat hasil dari bansos tersebut apakah telah tercapai
dari sudut pandang stakeholders yang menjadi sumber dalam penelitian.
Bentuk bantuan sosial yang telah diberikan
KPDT dalam perannya sebagai pemberi bantuan sosial biasanya
memberikan bantuan dalam bentuk barang, seperti pemberian bibit unggulan,
peralatan pengolahan kopi dan lain-lain. Pemberian bantuan dalam bentuk barang
dimaksudkan agar masyarakat dapat memanfaatkan bantuan sosial secara
langsung dan mandiri. Bantuan ini akan meningkatkan produktivitas masyarakat
Kabupaten Kaur karena dapat dimanfaatkan secara langsung.
Berdasarkan wawancara dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan
Koperasi, Kabupaten Kaur didapat bantuan sosial yang diberikan salah satunya
bantuan sosial pemberian modal usaha. Dari pemberian modal usaha ini (baik
uang dan juga barang) masyarakat dapat mandiri secara ekonomi, dalam hal ini
masyarakat dapat berusaha untuk mendapatkan penghasilan.
Selain itu, dari hasil wawancara ini juga ditemukan bahwa selain
pemberian modal usaha, juga disertakan pusat edukasi di desa, sehingga modal
usaha yang dipinjamkan akan dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh kelompok
masyarakat.
ada yang namanya program peningkatan program pedesaan mikro.
Sedangkan nama kegiatannya pusat ekonomi dan edukasi pedesaan. Jadi
kalo masyarakat ingin mengembangkan usaha, tinggal datang ke pusat
edukasi ini dan dapat meminjam modal usaha. Kalo dia mau
mengembangkan usaha apa, sudah ada di kontennya, tinggal
menjalankan (hasil wawancara Ha, Kabid Perindustrian, Tanggal 20
Februari 2014)

103

Biasa dalam bentuk barang


Bantuan dalam bentuk uang sebagai modal
usaha

Bentuk bantuan
sosial yang telah
diberikan di
Kabupaten Kaur

Terdapat pusat edukasi di desa

Unit Informasi

Sub Tema

Gambar 5.1 -22

Bagan pemetaan sub tema bentuk bantuan sosial yang telah diberikan
Sumber : Analisis Peneliti 2014

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa bentuk bantuan sosial


yang telah diberikan, yaitu berupa barang, uang sebagai modal dan adanya pusat
edukasi di desa cukup efektif bagi masyarakat di Kabupaten Kaur. Hal ini sejalan
dengan pandangan stakeholders baik masyarakat ataupun pemerintah daerah
bahwa bentuk pemberian bantuan sosial yang telah diberikan kepada Kabupaten
Kaur dinilai telah cukup efektif.

Pencapaian hasil yang diharapkan


Secara umum, dari hasil wawancara ditemukan bahwa hasil dari bantuan
sosial di Kabupaten Kaur sudah sangat efektif atau sesuai dengan tujuan dari
bantuan sosial itu sendiri..
kalo mau pelihara itik, sudah ada di kontennya. Kalo mau usaha roti,
tinggal buka. Jadi masyarakat tinggal menjalankan saja. Dari sini nanti
masyarakat akan dapat meningkatkan penghasilan mereka dan
meningkatkan perekonomian Kabupaten Kaur. Selain itu juga ada
bantuan alat pengolahan umbi-umbian dan kopi (hasil wawancara Ha,
Kabid Perindustrian, Tanggal 20 Februari 2014)
Menurut pendapat yang diungkapkan oleh narasumber dari Dinas Kelautan
dan Perikanan Kabupaten Kaur, bahwa dengan bantuan sosial yang diberikan ini,
masyarakat jadi dapat berwirausaha selain pekerjaan utama (sebagai nelayan)
sehingga dapat menghidupkan perekonomian di Kabupaten Kaur.
sudah sangat efektif, Sebagai contoh, di Kecamatan Kaur Selatan yang
tadi menerima bantuan dari KPDT, mereka disana memproduksi kerupuk
104

ikan, alat-alat tersebut dapat membantu kelancaran usaha mereka. Selain


itu, ada juga usaha bakso ikan (hasil wawancara, SM, Sekretaris Dinas
Kelautan dan Perikanan, 20 Februari 2014)
Pendapat ini juga diperkuat oleh salah satu kelompok penerima bantuan
peralatan kopi di Kecamatan Sekunyit. Dari hasil wawancara didapat bahwa
produktifitas mereka dalam hal pengolahan kopi menjadi meningkat setelah
diberikannya bantuan peralatan pengolahan kopi ini. Selain itu kualitas kopi yang
dihasilkan pun meningkat sehingga harga jual menjadi meningkat. Bahkan mereka
mengatakan bahwa kopi yang mereka hasilkan sudah dapat dijual ke luar daerah.

Kualitas kopi yang dihasilkan meningkat


Kopi yang dihasilkan sudah dapat dijual ke
luar daerah

Pencapaian hasil yang


diharapkan dari
bantuan sosial KPDT

Pemanfaatan modal secara maksimal

Unit Informasi

Sub Tema
Gambar 5.1 -23

Bagan pemetaan sub tema pencapaian hasil yang diharapkan


Sumber : Analisis Peneliti 2014

Berdasarkan uraian dan hasil pandangan stakeholder diatas, bahwa


kseimpulan yang dapat ditarik adalah hasil yang diinginkan dari pemberian
bantuan sosial ini telah tercapai. Tujuan awal dari pemberian bantuan sosial ini
adalah agar masyarakat dapat berusaha secara mandiri, dan dari contoh yang
disebutkan diatas terlihat bahwa tujuan tersebut telah tercapai.

Peningkatan perekonomian masyarakat


Pemberian bantuan sosial kepada masyarakat Kabupaten Kaur akan
meningkatkan maka aktifitas ekonomi masyarakat dimana masyarakat diharapkan
dapat memiliki kemandirian ekonomi (berwirausaha). Peningkatan aktivitas
ekonomi masyarakat akan berpengaruh kepada kehidupan perekonomian
105

masyarakat secara langsung. Hal ini akan meningkatkan pengeluaran perkapita


masyarakat sebagai bagian dari indikator ekonomi.

Masyarakat dapat beraktifitas ekonomi


secara lebih baik (berwirausaha)
Kehidupan perekonomian di Kabupaten Kaur
meningkat

Peningkatan
perekonomian
masyarakat dari hasil
bantuan sosial KPDT

Unit Informasi

Sub Tema
Gambar 5.1 -24

Bagan pemetaan sub tema peningkatan perekonomian masyarakat


Sumber : Analisis Peneliti 2014

Berdasarkan uraian dan pandangan pemerintah daerah Kabupaten Kaur,


bahwa efektifitas dari bantuan sosial yang diberikan oleh KPDT untuk Kabupaten
Kaur sudah cukup efektif. Dalam hal ini, hasil yang diinginkan telah dapat
tercapai, yaitu peningkatan perekonomian masyarakat Kabupaten Kaur.

Pemetaan Tema
Berdasarkan pendapat yang diungkapkan oleh narasumber dari akademisi
yang mengatakan bahwa secara harfiah memang bantuan langsung kepada
masyarakat akan lebih efektif, akan tetapi jika bantuan yang diberikan sesuai
dengan kebutuhan. Hal ini dikarenakan menurut pengalaman narasumber pernah
terjadi di Kabupaten Ogan Ilir bahwa bantuan yang diberikan oleh KPDT berupa
sumur bor malah tidak dapat dipakai. Hal seperti ini lah yang perlu menjadi
perhatian khusus oleh pemerintah pusat melalui KPDT dalam memberikan
bantuan kepada daerah-daerah tertinggal.

106

Bentuk bantuan sosial yang telah


diberikan di Kabupaten Kaur
Pencapaian hasil yang diharapkan dari
bantuan sosial KPDT

Persepsi stakeholder terhadap


efektifitas bantuan sosial
KPDT

Peningkatan perekonomian masyarakat


dari hasil bantuan sosial KPDT

Tema

Sub Tema
Gambar 5.1 -25

Bagan pemetaan tema persepsi stakeholder terhadap efektifitas bantuan sosial


Sumber : Analisis Peneliti 2014

Berdasarkan persepsi stakeholders diatas terhadap efektifitas bantuan


sosial di Kabupaten Kaur menurut bentuk bantuan sosial yang telah diberikan,
pencapaian hasil yang diharapkan dan peningkatan perekonomian masyarakat
telah cukup efektif. Masih menurut stakeholders bahwa bantuan akan lebih efektif
apabila sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pemberian bantuan yang lebih
sesuai akan meningkatkan efektivitas bantuan sosial yang diberikan kepada
masyarakat.
B.

Manfaat
Dari hasil temuan yang sudah dijelaskan pada subbab sebelumnya,

manfaat dari bantuan sosial yang diberikan KPDT pada daerah tertinggal sangat
dirasakan. Hal ini tidak terlepas dari tujuan awal dari bantuan sosial itu sendiri
yaitu:
1.

Memberdayakan masyarakat, sehingga dapat menjalankan aktifitas untuk


berperan aktif dalam pembangunan daerah tertinggal

2.

Meningkatkan taraf kesejahteraan, kualitas, kelangsungan hidup, dan


memulihkan fungsi sosial, ekonomi, dan budaya dalam rangka mencapai
kemandirian sehingga terlepas dari resiko sosial.
Dengan tujuan seperti yang telah disebutkan diatas, maka bantuan sosial

tersebut berusaha membantu daerah tertinggal untuk melepaskan diri dari kondisi
ketertinggalan yang telah ditetapkan oleh KPDT melalui 6 indikator utama dan 27

107

sub indikator. Bantuan sosial yang disalurkan kepada daerah tertinggal


mendapatkan tanggapan yang positif dari pemerintah daerah bersangkutan, seperti
yang terjadi pada pemerintah daerah Kabupaten Kaur.

Manfaat Tidak Langsung


Peningkatan aktivitas di daerah-daerah
Peningkatan aktivitas daerah merupakan manfaat tidak langsung dari
adanya bantuan sosial yang diberikan oleh KPDT. Adapun manfaat ini
dipengaruhi oleh bantuan berupa pembuatan pembangkit listrik dan pemberian
alat-alat pengolahan untuk peningkatan produksi. Bantuan pembuatan pembangkit
listrik akan meningkatkan aktivitas dan produktivitas masyarakat dimana dengan
keberadaan listrik, maka aktivitas di daerah-daerah yang baru mendapat listrik
akan meningkat, begitu pula dengan bantuan berupa alat-alat pengolahan untuk
peningkatan produksi.

Peningkatan perekonomian secara tidak langsung


Manfaat tidak langsung adalah manfaat yang tidak secara langsung
dirasakan setelah bantuan diberikan, seperti peningkatan ekonomi dan sebagainya.
Manfaat tidak langsung belum dapat dilihat secara nyata, akan tetapi dari hasil
wawancara didapat bahwa manfaat tidak langsung yang didapat adalah seperti
peningkatan ekonomi.
manfaat lainnya adalah peningkatan perekonomian masyarakat. Itu
jangka panjangnya. Karena wilayah-wilayah terpencil itu sebagian besar
wilayah perkebunan jadi dengan pembangunan jalan memudahkan hasil
kebun untuk diangkut ke tempat pengolahannya (wawancara Mt, Tanggal
17 Februari 2014)

Pembukaan akses ke desa dengan pembangunan jalan desa


Salah satu bentuk bantuan sosial yang memberikan manfaat tidak langsung
yang cukup dominan adalah pembukaan akses ke desa dengan pembangunan jalan
desa. Jalan desa merupakan sarana utama dalam transportasi yang akan berperan
dalam mepermudah aliran barang dari dan ke desa. Hal ini pun akan secara tidak

108

langsung berpengaruh kepada aktivitas masyarakat untuk meningkatkan


perekonomian masyarakat.
Pihak Bappada Kabupaten Kaur mengatakan bahwa salah satu contoh
manfaat tidak langsung dari keberadaan bansos ini adalah desa-desa yang awalnya
belum terbuka menjadi terbuka setelah dibangunnya jalan menggunakan bantuan
sosial dari KPDT ini.
manfaat dirasakan oleh masyarakat langsung. Contohnya itu seperti
pembangunan jalan. Daerah-daerah yang belum terbuka seperti itu,
manfaat nya dapat dirasakan secara langsung (wawancara DPU,
Kasubid Promosi, Bidang Penanaman Modal, Bappeda, Tanggal 17
Februari 2014)
Peningkatan aktivitas di daerah-daerah
Peningkatan perekonomian secara tidak
langsung

Manfaat Tidak
Langsung dari bantuan
sosial KPDT

Pembukaan akses ke desa dengan


pembangunan jalan desa

Unit Informasi

Sub Tema
Gambar 5.1 -26

Bagan pemetaan sub tema manfaat tidak langsung


Sumber : Analisis Peneliti 2014

Berdasarkan uraian dan pandangan stakeholders diatas bahwa bantuan


sosial dapat memberikan manfaat tidak langsung berupa peningkatan aktivitas di
daerah-daerah dan peningkatan perekonomian secara tidak langsung. Dalam hal
ini, pembukaan akses desa dengan pembangunan jalan desa memberikan manfaat
tidak langsung yang cukup dominan.

Manfaat Langsung
Salah satu manfaat yang didapat dari bantuan sosial ini adalah manfaat
langsung. Manfaat langsung adalah manfaat yang dirasakan oleh penerima
bantuan sosial sesaat setelah bantuan tersebut dijalankan. Dari hasil wawancara,
sangat banyak manfaat langsung yang diperoleh sejak tahun 2010 (semenjak
bansos pertama kali di turunkan di Kabupaten Kaur).
109

Pemberian handtraktor untuk bercocok tanam bagi wanita tani


Menurut narasumber lainnya dari dinas atau SKPD yang berbeda. Salah
satunya adalah dari dinas pertanian Kabupaten Kaur yang mengatakan bahwa
manfaat langsung yang diterima oleh masyarakat sangat besar. Sebagai contohnya
adalah pemberian handtraktor untuk kelompok wanita tani di Kabupaten Kaur.
Dari pemberian handtraktor ini, para wanita tani dapat memanfaatkan pekarangan
mereka yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal untuk bercocok
tanam. Hasil dari bercocok tanam ini dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari sehingga mereka tidak perlu membeli di pasar.
seperti kelompok wanita tani itu bisa memanfaatkan pekarangan
mereka yang dulunya tidak terpakai untuk ditanami sayuran dan
kebutuhan sehari-hari seperti cabe, tomat. Sehingga mereka tidak perlu
membeli lagi. Itu minimalnya kebutuhan rumah tangga mereka sendiri
sudah terpenuhi (wawancara Df, Kepala dinas Pertanian Kabupaten
Kaur, Tanggal 18 Februari 2014)
Kondisi ini juga diperkuat dari pernyataan salah satu anggota kelompok
wanita tani bahwa mereka merasakan manfaat langsung dari pemberian
handtraktor ini. Dengan bantuan handtraktor ini mereka dapat memanfaatkan
pekarangan rumah mereka yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Dengan hal ini mereka tidak perlu membeli kebutuhan sehari-hari di pasar
sehingga mereka dapat berhemat untuk keperluan lainnya.

Peningkatan produksi kopi, umbi-umbian


Selain itu, contoh manfaat langsung dari bantuan sosial adalah dari sisi
peningkatan produksi. Hal ini dikatakan oleh Kabid Perindustrian dari Dinas
Perdagangan, Perindustrian dan Koperasi Kabupaten Kaur. Peningkatan produksi
ini terkait dengan pemberian bantuan-bantuan dalam hal peralatan-peralatan
produksi, seperti mesin pengolahan kopi, umbi-umbian dan sebagainya. Dalam
hal mesin pengolahan kopi misalnya, dengan pemberian bantuan peralatan kopi
ini kualitas produksi dari kopi yang diproduksi dapat ditingkatkan.
misalnya saja dari segi produksi, kita kalo mau mengolah kopi itu kan
banyak tahapnya, dulu kita menggunakan secara manual. Misalkan bikin
kopi kita sangrai hanya menggunakan kuali, bubuk, misalkan mereka mau
110

pembubukan itu harus butirannya harus seukuran apa. Nah dari peralatan
yang diberikan KPDT ini, permintaan seperti apa dapat dipenuhi,
sehingga nilai jualnya meningkat (hasil wawancara Ha, Kabid
Perindustrian, Tanggal 20 Februari 2014)
Pendapat ini juga diperkuat oleh hasil wawancara dari salah satu anggota
organisasi masyarakat yang menerima bantuan dari peralatan pengolahan kopi ini.
Dari hasil wawancara, didapat bahwa setelah pemberian peralatan pengolahan
kopi ini, produksi kopi mereka menjadi meningkat. Selain itu, kualitas dari kopi
yang dihasilkan pun semakin meningkat dibandingkan sebelumnya. Hal ini
dikarenakan, sebelumnya mereka masih menggunakan peralatan yang relatif lebih
sederhana dan pengolahan yang masih konvensional.
dengan alat yang baru ini, kita jadi bisa buat kopi dengan jumlah yang
banyak dan kualitas yang bagus. Ini sangat membantu (hasil wawancara,
Sy, salah satu anggota kelompok masyarakat sekunyit, 19 Februari 2014)
Pemberian bibit kopi dan karet
Salah satu bentuk bantuan sosial yang memberikan manfaat langsung
adalah pemberian bibit kopi dan karet. Bibit kopi dan karet yang diberikan
merupakan bibit unggul. Dalam hal ini, bibit yang diberikan dapat langsung
dimanfaatkan dengan ditanam di perkebunan dan dapat dilakukan pemanenan
pada masa panen. Dengan kata lain, hal tersebut akan meningkatkan produktivitas
kopi dan karet di Kabupaten Kaur.
Pemberian handtraktor untuk bercocok
tanam bagi wanita tani
Peningkatan produksi kopi, umbi-umbian

Manfaat Langsung
dari bantuan sosial
KPDT

Pemberian bibit kopi dan karet

Unit Informasi

Sub Tema
Gambar 5.1 -27

Bagan pemetaan sub tema manfaat langsung


Sumber : Analisis Peneliti 2014

111

Berdasarkan uraian dan pandangan stakeholders diatas bahwa bantuan


sosial dapat memberikan manfaat langsung berupa peningkatan aktivitas bercocok
tanam bagi wanita tani dengan pemberian handtraktor, peningkatan produksi kopi,
umbi-umbian dengan pemberian alat-alat pengolahan kopi dan umbi-umbian serta
peningkatan kualitas kopi dan karet dengan pemberian bibit unggul kopi dan
karet. Dari beberapa contoh tersebut, terlihat bahwa bantuan sosial yang diberikan
memberikan manfaat langsung yang sangat besar kepada masyarakat di daerah
tertinggal. Hal ini sudah sesuai dengan tujuan awal dari pemberian bantuan sosial
ini.

Manfaat Jangka Panjang


Peningkatan produksi kopi, umbi-umbian
Contoh manfaat jangka panjang dari bantuan sosial adalah dari sisi
peningkatan produksi. Menurut Kabid Perindustrian dari Dinas Perdagangan,
Perindustrian dan Koperasi Kabupaten Kaur. Peningkatan produksi kopi dan karet
terkait dengan pemberian bantuan-bantuan dalam hal peralatan-peralatan
produksi, seperti mesin pengolahan kopi, umbi-umbian dan sebagainya. Dalam
hal mesin pengolahan kopi misalnya, dengan pemberian bantuan peralatan kopi
ini kualitas produksi dari kopi yang diproduksi dapat ditingkatkan. Dimana alatalat pengolahan kopi dan umbi-umbian tersebut dapat digunakan untuk jangka
waktu yang cukup lama.
misalnya saja dari segi produksi, kita kalo mau mengolah kopi itu kan
banyak tahapnya, dulu kita menggunakan secara manual. Misalkan bikin
kopi kita 112elativ hanya menggunakan kuali, bubuk, misalkan mereka
mau pembubukan itu harus butirannya harus seukuran apa. Nah dari
peralatan yang diberikan KPDT ini, permintaan seperti apa dapat
dipenuhi, sehingga nilai jualnya meningkat (hasil wawancara Ha, Kabid
Perindustrian, Tanggal 20 Februari 2014)
Pemberian bibit kopi dan karet
Salah satu bentuk bantuan sosial yang memberikan manfaat langsung
adalah pemberian bibit kopi dan karet. Bibit kopi dan karet yang diberikan
merupakan bibit unggul. Dalam hal ini, bibit yang diberikan dapat langsung

112

dimanfaatkan dengan ditanam di perkebunan dan dapat dilakukan pemanenan


pada masa panen, walaupun untuk waktu yang cukup panjang.
Peningkatan produksi kopi, umbiumbian
Pemberian bibit kopi dan karet

Manfaat Jangka
panjang dari bantuan
sosial KPDT

Unit Informasi

Sub Tema

Gambar 5.1 -28

Bagan pemetaan sub tema manfaat jangka panjang


Sumber : Analisis Peneliti 2014

Berdasarkan uraian dan pandangan stakeholders diatas bahwa bantuan


sosial dapat memberikan manfaat langsung berupa peningkatan produksi kopi,
umbi-umbian dengan pemberian alat-alat pengolahan kopi dan umbi-umbian serta
peningkatan kualitas kopi dan karet dengan pemberian bibit unggul kopi dan
karet. Dari beberapa contoh tersebut, terlihat bahwa bantuan sosial yang diberikan
memberikan manfaat langsung yang sangat besar kepada masyarakat di daerah
tertinggal. Hal ini sudah sesuai dengan tujuan awal dari pemberian bantuan sosial
ini.
Manfaat Jangka Pendek
Handtraktor untuk bercocok tanam
Salah satu bantuan sosial yang pemanfaatannya dalam waktu pendek
adalah pemberian handtraktor untuk kelompok wanita tani di Kabupaten Kaur.
Dari pemberian handtraktor ini, para wanita tani dapat memanfaatkan pekarangan
mereka yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal untuk bercocok
tanam. Hasil dari bercocok tanam ini dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari sehingga mereka tidak perlu membeli di pasar. Hal ini sesuai dengan
tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam waktu yang cukup cepat.
Pemberian bibit kambing
Bibit kambing yang diberikan merupakan bibit unggul. Dalam hal ini, bibit
kambing yang diberikan akan tumbuh menjadi kambing dewasa dalam waktu
113

yang tidak begitu lama. Kambing dapat dimanfaatkan dengan cara dikonsumsi
dagingnya, diambil susunya ataupun dimanfaatkan dengan cara lain. Dengan
adanya peternakan kambing dapat member tambahan bagi masyarakat untuk
meningkatkan penghasilan.
Peralatan pengolahan hasil alam
Pemberian bantuan-bantuan dalam hal peralatan-peralatan produksi,
seperti mesin pengolahan kopi, umbi-umbian dan sebagainya. Dalam hal mesin
pengolahan kopi misalnya, dengan pemberian bantuan peralatan kopi ini kualitas
produksi dari kopi yang diproduksi dapat ditingkatkan. Dimana peralatan
pengolahan kopi ini dapat digunakan untuk mengolah kopi dalam waktu yang
lebih singkat, sehingga kopi yang siap dipasarkan berada dalam jumlah yang lebih
banyak.
Handtraktor untuk bercocok tanam
Pemberian bibit kambing

Manfaat Jangka
Pendek dari
bantuan sosial
KPDT

Peralatan pengolahan hasil alam

Unit Informasi

Sub Tema

Gambar 5.1 -29


Bagan pemetaan sub tema manfaat jangka pendek
Sumber : Analisis Peneliti 2014

Berdasarkan uraian dan pandangan stakeholders diatas bahwa bantuan


sosial dapat memberikan manfaat jangka pendek berupa handtraktor untuk
bercocok tanam bagi kelopok wanita tani untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,
pemberian bibit kambing yang dapat diambil hasilnya dalam waktu singkat dan
peralatan pengolahan hasil alam yang akan meningkatkan produktivitas dalam
waktu singkat. Dari beberapa contoh tersebut, terlihat bahwa bantuan sosial yang
diberikan memberikan manfaat jangka pendek yang sangat besar kepada
masyarakat di daerah tertinggal. Hal ini sudah sesuai dengan tujuan awal dari
pemberian bantuan sosial ini.

114

Pemetaan Tema
Manfaat tidak langsung dari
bantuan sosial KPDT
Manfaat langsung dari
bantuan sosial KPDT
Manfaat jangka panjang
dari bantuan sosial KPDT
Manfaat jangka pendek dari
bantuan sosial KPDT

Persepsi stakeholder terhadap


manfaat dari bantuan sosial
KPDT

Tema

Sub Tema
Gambar 5.1 -30

Bagan pemetaan tema persepsi stakeholders terhadap manfaat dari bantuan


sosial KPDT
Sumber : Analisis Peneliti 2014

Secara umum, manfaat yang dirasakan dari keberadaan bantuan sosial ini
dibagi menjadi 4, yaitu manfaat tidak langsung, manfaat langsung, manfaat jangka
pendek dan manfaat jangka panjang. Dari hasil wawancara, manfaat langsunglah
yang sangat dirasakan, baik oleh pemerintah daerah maupun dari masyarakat
penerima bantuan sosial tersebut. Ini sejalan dengan konsep awal dari pemberian
batnuan sosial tersebut.
Terkait manfaat, menurut narasumber dari sisi akademisi, bantuan sosial
yang diberikan pastinya akan sangat bermanfaat bagi masyarakat. Akan tetapi
yang perlu menjadi perhatian khusus adalah kesesuaian dengan kebutuhan
mereka. Hal ini dikarenakan kebutuhan dan keinginan merupakan hal yang
berbeda. Apa yang menjadi keinginan belum tentu merupakan suatu kebutuhan.
Sehingga agar manfaat yang dirasakan dapat maksimal, maka bantuan yang
diberikan harusnya sesuai dengan kebutuhan dari daerah itu sendiri, terkhusus
kebutuhan dari masyarakat itu sendiri.

C.

Kesesuaian dengan kebutuhan

Usaha meningkatkan produktivitas SDM


Pemberian alat pengolahan kopi merupakan salah satu contoh bantuan
sosial yang dapat meningkatkan produktivitas SDM. Dengan peralatan
pengolahan kopi yang lebih modern akan meningkatkan kuantitas dari kopi yang

115

siap dipasarkan dimana hal tersebut akan berpengaruh pada peningkatan


produktivitas masayarakart. Selama ini peralatan pengolahan kopi yang digunakan
oleh masyarakat masih sangat sederhana sehingga produk yang dihasilkan
jumlahnya sedikit. Dengan bantuan pengolahan peralatan kopi yang diberikan,
maka kuantitas dari kopi yang dihasilkan dapat ditingkatkan secara maksimal.
Selain itu, bantuan lain yang diberikan adalah handtraktor. Pihak dinas
pertanian Kabupaten Kaur mengatakan bahwa pemberian handtraktor untuk
kelompok masyarakat sudah sangat sesuai dengan kebutuhan mereka. Terutama
untuk kelompok wanita tani. Hal ini dikarenakan permasalahan utama mereka
adalah kurangnya peralatan untuk mengelola tanah yang mereka miliki, sehingga
dengan pemberian peralatan handtraktor ini mereka dapat memanfaatkan lahan
mereka secara maksimal. Kondisi ini juga dibenarkan oleh salah seorang anggota
kelompok wanita tani di Kabupaten Kaur yang mengatakan dari pemberian
handtraktor ini mereka jadi dapat memanfaatkan lahan pekarangan mereka untuk
bercocok tanam.
Kedua hal tersebut merupakan salah satu contoh bantuan yang diberikan
KPDT langsung kepada masyarakat. Selain itu, kecocokan dengan kebutuhan juga
terlihat dari bantuan-bantuan lainnya seperti pembangunan fisik, yaitu
pembangunan jalan dan pembangunan pembangkit listrik di Kabupaten Kaur.
Pembangunan jalan dan pembangkit listrik ini di tujukan kepada daerah-daerah
yang memang membutuhkan. Hal ini diungkapkan oleh pihak dari Bappeda
Kabupaten Kaur bahwa pembangunan seperti jalan dan pembangkit listrik
ditujukan kepada daerah yang memang membutuhkan hal-hal tersebut.
misalkan pembangunan jalan dan pembangkit listrik, jadi memang kita
sudah menentukan daerah yang membutuhkan, dan pada saat bantuan
tersebut turun kita bangun di daerah yang membutuhkan tersebut (Hasil
wawancara DPU, Kasubid Promosi, Bidang Penanaman Modal, Bappeda,
tanggal 17 Februari 2014)

116

Pengolahan kopi menjadi lebih cepat dan


mudah
Proses pemasaran kopi menjadi lebih
mudah

Usaha meningkatkan
produktivitas Sumber
Daya Manusia di
Kabupaten Kaur

Kegiatan bercocok tanam dengan


memanfaatkan pekarangan

Unit Informasi

Sub Tema
Gambar 5.1 -30

Bagan pemetaan sub tema usaha meningkatkan produktivitas SDM


Sumber : Analisis Peneliti 2014

Berdasarkan uraian dan pandangan stakeholders diatas bahwa bantuan


sosial dalam usaha meningkatkan produktivitas SDM telah sesuai dengan
kebutuhan masyarakat. Bantuan sosial ini telah cocok dengan hal-hal yang
dibutuhkan oleh masyarakat. Dengan kata lain, pemberian bantuan telah dapat
meningkatkan produktivitas masyarakat karena memilik kesesuaian dengan
kebutuhan masyarakat.
Usaha meningkatkan kualitas SDA
Kabid Perindustrian, Dinas Perdagangan, Perindustrian dan Koperasi
mengatakan bahwa bantuan sosial yang diberikan sudah disesuaikan dengan
kebutuhan di daerah ini. Contohnya adalah pemberian bantuan pengolahan kopi
dan juga pengolahan umbi-umbian. Seperti yang telah di jelaskan, komoditi utama
dari Kabupaten Kaur adalah kopi. Akan tetapi, peralatan pengolahan kopi yang
digunakan oleh masyarakat masih sangat sederhana sehingga produk yang
dihasilkan kualitasnya masih tergolong rendah. Dengan bantuan pengolahan
peralatan kopi yang diberikan, maka kualitas dan kuantitas dari kopi yang
dihasilkan dapat ditingkatkan secara maksimal.

117

jika dikatakan sesuai dengan kebutuhan, memang sudah sesuai.


Contohnya itu mesin peralatan pengolahan Kopi. Hal ini karena melihat
bahwa hasil perkebunan kita ini sebagian besar adalah kopi, maka
peralatan yang diberikan akan sangat sesuai dengan apa yang dibutuhkan
oleh para petani kopi maupun pengumpul kopi (hasil wawancara Ha,
Kabid Perindustrian, Dinas Perdagangan, Perindustrian dan Koperasi,
Kabupaten Kaur, Tanggal 20 Februari 2014)
Pendapat ini juga diperkuat oleh anggota organisasi masyarakat yang
menerima bantuan peralatan pengolahan kopi ini. Dari hasil wawancara
didapatkan bahwa peralatan pengolahan kopi ini sangat sesuai dengan apa yang
mereka butuhkan. Dengan peralatan pengolahan yang baru ini, mereka dapat
menghasilkan kopi dengan kualitas yang lebih bagus dan juga dengan jumlah
yang lebih banyak sehingga dapat dipasarkan secara lebih luas.
bantuan peralatan ini sudah sangat sesuai dengan yang kita butuhkan,
kalo dengan mesin yang lama, kualitas produksi kita masih tergolong
rendah, dan juga untuk produksi nya butuh waktu yang lama (hasil
wawancara, Sy, salah satu anggota kelompok masyarakat sekunyit, 19
Februari 2014)
Selain itu, bantuan lain yang diberikan adalah handtraktor. Hal ini
dikarenakan permasalahan utama kelompok wanita tani adalah kurangnya
peralatan untuk mengelola tanah yang mereka miliki, sehingga dengan pemberian
peralatan handtraktor ini mereka dapat memanfaatkan lahan mereka secara
maksimal. Kondisi ini juga dibenarkan oleh salah seorang anggota kelompok
wanita tani di Kabupaten Kaur yang mengatakan dari pemberian handtraktor ini
mereka jadi dapat memanfaatkan lahan pekarangan mereka untuk bercocok
tanam. Hasil dari bercocok tanam dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari dengan kualitas yang terjamin karena merupakan hasil dari pekarangan
sendiri.

118

Produk kopi dengan kualitas yang lebih


bagus
Produk kopi dengan kuantitas yang lebih
besar

Usaha meningkatkan
kualitas Sumber Daya
Alam di Kabupaten Kaur

Pemenuhan kebutuhan sehari-hari dari hasil


bercocok tanam

Sub Tema

Unit Informasi
Gambar 5.1 -31

Bagan pemetaan sub tema usaha meningkatkan kualitas SDA


Sumber : Analisis Peneliti 2014

Berdasarkan uraian dan pandangan stakeholders diatas bahwa bantuan


sosial dalam usaha meningkatkan kualitas SDA telah sesuai dengan kebutuhan
masyarakat. Bantuan sosial ini telah cocok dengan hal-hal yang dibutuhkan oleh
masyarakat. Dengan kata lain, pemberian bantuan telah dapat meningkatkan
kualitas SDA yang dihasilkan dan dibutuhkan oleh masyarakat.
Pemahaman akan kebutuhan daerah
Menurut hasil wawancara dengan akademisi, perlu menjadi perhatian
khusus jika bantuan dari pemerintah pusat ini diberikan secara langsung terkait
dengan kesesuaian dengan kebutuhan. Hal ini dikarenakan, pemerintah pusat
melalui KPDT kadang tidak terlalu mengetahui kebutuhan daerah dan juga
kondisi daerah. Hal ini pernah terjadi di Kabupaten Ogan Ilir, dimana bantuan
yang diberikan malah tidak terpakai dikarenakan ketidaksesuaian dengan kondisi
daerah.
karena tidak memahami wilayahnya, sehingga spesifikasi sumur bor
yang diberikan tidak sesuai sehingga tidak dapat dipakai. Nah, penentuan
program dan kebutuhan daerah sering tidak match yang menyebabkan hal
seperti ini terjadi, ini yang perlu menjadi perhatian khusus jika memberi
bantuan secara langsung (hasil wawancara, Ay, staff ahli PSPPR UGM,
Tanggal 30 Juni 2014)

119

Bantuan sosial yang diberikan sudah sesuai


dengan kebutuhan
Bantuan sosial yang diberikan perlu menjadi
perhatian khusus

Pemahaman akan
kebutuhan daerah di
Kabupaten Kaur

Adanya kesesuaian bantuan dengan


kebutuhan daerah

Unit Informasi

Sub Tema

Gambar 5.1 -32

Bagan pemetaan sub tema pemahaman akan kebutuhan daerah


Sumber : Analisis Peneliti 2014

Berdasarkan uraian dan pandangan stakeholders diatas bahwa bantuan


sosial dalam harus memahamo kebutuhan daerah untuk mencapai kesesuaian.
Dalam hal ini, bantuan sosial yang diberikan memerlukan perhatian khusus akan
kebutuhan daerah. Hal tersebut dikarenakan kadangkala pemerintah tidak
memberikan perhatian terhadap kebutuhan daerah, sehingga dapat menyebabkan
ketidaksesuaian antara bantuan sosial dan kebutuhan daerah.
Pemetaan Tema
Kesesuaian dengan kebutuhan yang dimaksud diatas adalah kecocokan
bantuan sosial yang diberikan terhadap kebutuhan di daerah yang dituju. Secara
umum, dari hasil wawancara yang dilakukan, bantuan sosial yang diberikan oleh
KPDT kepada Kabupaten Kaur sebagai salah satu daerah tertinggal sudah sesuai
dengan kebutuhan daerah.

120

Usaha meningkatkan produktivitas SDM di


Kabupaten Kaur
Usaha meningkatkan kualitas SDA di
Kabupaten Kaur

Persepsi stakeholders
terhadap kesesuaian
bantuan sosial dengan
kebutuhan di
Kabupaten Kaur

Pemahaman akan kebutuhan daerah di


Kabupten Kaur

Tema

Sub Tema
Gambar 5.1 -33

Bagan pemetaan tema persepsi stakeholders terhadap kesesuaian bantuan


sosial dengan kebutuhan
Sumber : Analisis Peneliti 2014

Berdasarkan contoh-contoh yang sudah diuraikan, dapat disimpulkan


bahwa secara umum bantuan sosial yang diberikan untuk daerah tertinggal dalam
hal ini Kabupaten Kaur sudah sesuai dengan kebutuhan dari daerah tersebut.
Dengan kondisi seperti ini, maka bantuan yang diberikan akan dapat digunakan
secara maksimal. Dari sisi akademisi, memang pemberian bantuan secara
langsung ini ditujukan agar program atau bantuan langsung dirasakan oleh
masyarakat sebagai target group, akan tetapi yang perlu menjadi perhatian khusus
adalah kesesuaian bantuan dengan kebutuhan daerah yang harus diperhatikan. Hal
ini untuk meminimalisir kesalahan antara bantuan yang diberikan dengan
kebutuhan daerah.

D.

Keberlanjutan

Kontinyu
Bantuan sosial yang diberikan KPDT kepada kabupaten Kaur memiliki
potensi digunakan terus menerus, terutama yang berbentuk barang. Dalam hal ini
untuk menjaga kondisi barang atau peralatan tetap baik, maka dibutuhkan
perawatan dan pendampingan serta pengawasan bagi masyarakat yang akan
memanfaatkannya. Hal tersebut dilakukan dengan harapan bansos yang ada dapat
dimanfaatkan secara berlanjut (kontinyu). Selain itu, ada beberapa peralatan dari

121

bansos yang dikumpulkan di suatu tempat yang disebut pondok pusaka. Peralatan
ini tidak digunakan namun disimpan sebagai sampel untuk arsip.
Salah satu bentuk bantuan sosial yang memiliki potensi berlanjut
(kontinyu) adalah adanya bantuan pemasaran hasil produksi masyarakat oleh
Disperindagkop. Hal ini akan berpengaruh kepada tingkat penghasilan
masyarakat, sehingga diharapkan bantuan jenis ini dapat berlanjut seterusnya.
Walaupun bansos jenis ini masih memiliki permasalahan, namun telah
memberikan dampak positif yang cukup banyak bagi masyarakat. memberikan
manfaat langsung adalah pemberian bibit kopi dan karet.

Ada pendampingan dan pengawasan


Beberapa bansos dikumpulkan di pondok
pusaka (untuk sampel)
Ada perawatan

Keberlanjutan dari
bantuan sosial
KPDT di
Kabupaten Kaur

Ada bantuan pemasaran walaupun masih


bermasalah

Unit Informasi

Sub Tema

Gambar 5.1 -34

Bagan pemetaan sub tema kontinyu


Sumber : Analisis Peneliti 2014

Berdasarkan uraian dan pandangan stakeholders bahwa bantuan sosial


harus memiliki potensi berlanjut (kontinyu). Hal ini diupayakan dengan adanya
perawatan bagi bantuan sosial berupa barang, serta adanya pendampingan dan
pengawasan. Selain itu, di Kabupaten Kaur sendiri telah ada bantuan pemasaran
hasil produksi masyarakat, walaupun masih memiliki beberapa masalah.
Tidak kontinyu
Bantuan sosial yang diberikan KPDT kepada kabupaten Kaur memiliki
potensi digunakan terus menerus, terutama yang berbentuk barang. Hampir semua
bantaun sosial yang diterima dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh

122

masyarakat di Kabupaten Kaur. Namun ada beberapa bantuan sosial dalam bentuk
peralatan yang tidak dapat digunakan. Hal ini dikarenakan keterbatasan spesifikasi
dari alat dimana daya listrik yang ada tidak cocok, sehingga alat tersebut tidak
dapat dimanfaatkan.
Tidak ada bansos yang tidak dimanfaatkan
Ketidakberlanjutan
bantuan sosial KPDT
di Kabupaten Kaur

Ada peralatan yang tidak dapat digunakan


karena daya listrik tidak cocok

Unit Informasi

Sub Tema
Gambar 5.1 -35

Bagan pemetaan sub tema tidak kontinyu


Sumber : Analisis Peneliti 2014

Pemetaan tema
Keberlanjutan dari bantuan sosial
KPDT di Kabupaten Kaur

Persepsi stakeholders
terhadap keberlanjutan
bantuan sosial KPDT
di Kabupaten Kaur

Ketidakberlanjutan bantuan sosial


KPDT di Kabupaten Kaur

Sub Tema

Tema
Gambar 5.1 -36

Bagan pemetaan tema persepsi stakeholders terhadap keberlanjutan bantuan


sosial KPDT
Sumber : Analisis Peneliti 2014

Secara umum, keberadaan bantuan sosial ini diharapkan dapat terus


berlanjut

untuk

memberikan

manfaat

kepada

masyarakat.

Berdasarkan

pengamatan di lapangan, bahwa bantuan sosial harus memiliki potensi berlanjut


(kontinyu). Hal ini diupayakan dengan adanya perawatan bagi bantuan sosial
berupa barang, serta adanya pendampingan dan pengawasan. Selain itu, di
Kabupaten Kaur sendiri telah ada bantuan pemasaran hasil produksi masyarakat,
walaupun masih memiliki beberapa masalah. Sementara dari keseluruhan bantuan,

123

tidak terdapat bantuan sosial yang tidak dimanfaatkan masyarakat. Hanya saja,
beberapa jenis peralatan tidak dapat digunakan karena keterbatasan spesifikasi.
5.1.4

Pandangan

Stakeholders

terhadap

Kementerian

Pembangunan

Daerah Tertinggal (KPDT)


Kembali pada fungsi awal dari Kementerian Pembangunan Daerah
Tertinggal yaitu, perumusan dan penetapan kebijakan di bidang pembangunan
daerah tertinggal. Dengan fungsi seperti yang telah disebutkan, maka bagi daerah
tertinggal, keberadaan KPDT sangat vital atau dianggap sangat penting. Hal ini
dikarenakan KPDT mempunyai fokus dalam hal pembangunan daerah yang sudah
dinyatakan tertinggal.
Dari hasil wawancara dengan pemerintah daerah Kabupaten Kaur, didapat
hasil bahwa peran KPDT pada level daerah cukup signifikan. KPDT menjadi
pintu masuk bagi daerah tertinggal untuk mendapatkan program-program
pembangunan.
ya sangat bermanfaat dan sangat membantu. Seperti programprogram itu kalo kita menunggu yang regular tidak akan dapat. Misalnya,
kita mengusulkan pembangunan jalan ke kementerian PU, itu justru kita
susah. Jika melalui kementerian PDT kita malah menjadi prioritas dalam
mendapatkan bantuan tersebu (Hasil wawancara DPU, Kasubid Promosi,
Bidang Penanaman Modal, Bappeda, tanggal 17 Februari 2014)
Kondisi ini tidak terlepas dari fungsi utama dari KPDT yaitu
pembangunan daerah tertinggal, sehingga daerah-daerah yang tergolong dalam
kondisi ketertinggalan menjadi prioritas utama KPDT. Pendapat serupa juga
disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kaur yang mengatakan
bahwa KPDT merupakan salah satu jalan tol dalam mendapatkan bantuan atau
program-program untuk pembangunan daerah dimana jika hanya menunggu
regular akan susah untuk dapat seperti pembangunan jalan dan yang lainnya
karena ada kemungkinan tidak terpantau oleh kementerian lainnya.

124

karena namanya adalah kementerian pembangunan daerah tertinggal,


sehingga mereka secara khusus akan memantau dan membantu daerahdaerah tertinggal seperti Kabupaten Kaur ini dimana yang mungkin tidak
terpantau oleh kementerian lainnya (Hasil wawancara Df, Kepala Dinas
Pertanian Kabupaten Kaur, tanggal 18 Februari 2014)
Hal serupa juga dikatakan oleh narasumber lainnya yang ada di Kabupaten
Kaur, bahwa KPDT merupakan sebuah lembaga yang sangat penting dalam
pembangunan daerah tertinggal. Dari hasil wawancara pemerintah daerah
Kabupaten Kaur dapat disimpulkan bahwa peran KPDT pada level daerah sangat
diharapkan. KPDT dapat menjadi pintu masuk bagi daerah-daerah yang tergolong
kedalam daerah tertinggal dimana untuk mendapatkan program dari pemerintah
pusat secara regular akan sangat sulit. Selain itu, KPDT diharapkan dapat menjadi
pemantau bagi daerah tertinggal dimana dalam kementerian lain belum terpantau.
Hal ini dikarenakan fokus KPDT adalah pembangunan daerah tertinggal.
Akan tetapi, dari hasil wawancara akademisi yang menjadi narasumber,
bahwa KPDT itu sendiri kurang berperan. Pertama dari sisi dana, bahwa anggaran
di KPDT itu sangat kurang untuk mengatasi daerah tertinggal yang jumlahnya
sangat banyak, sehingga dengan dana yang sedikit tersebut tidak akan efektif
untuk mengentaskan kondisi ketertinggalan suatu daerah secara total.
dari sisi dana, kurang berperan. Karena dana yang dikelola KPDT itu
sangat sedikit. Jadi dari sisi dana sangat kurang peran KPDT (hasil
wawancara, Ay, staff ahli PSPPR UGM, Tanggal 30 Juni 2014)
Selain itu, dari sisi peran, KPDT merupakan koordinator dalam
pembangunan daerah tertinggal. Secara umum, KPDT memiliki acuan yang
seharusnya diikuti oleh kementerian lainnya dalam pembangunan daerah
tertinggal. Akan tetapi, dari hasil wawancara, menurut narasumber hal tersebut
perlu diteliti lebih lanjut, apakah stranas KPDT tersebut diikuti oleh oleh
kementerian lainnya.

125

Tabel 5.1 -3

Pandangan Stakeholders terhadap KPDT


Pemerintah Daerah

Akademisi

- keberadaan KPDT sangat - KPDT itu kurang memiliki


vital atau dianggap sangat
peranan dalam
penting
pengentasan kondisi
- KPDT dapat menjadi pintu
ketertinggalan
masuk bagi daerah-daerah - Evaluasi stranas KPDT
yang tergolong kedalam
apakah diikuti oleh oleh
daerah tertinggal sebagai
kementerian lainnya atau
salah satu jalan tol dalam
tidak
mendapatkan bantuan atau
program-program untuk
pembangunan daerah

Pandangan stakeholders
terhadap Kementerian
Pembangunan Daerah
Tertinggal (KPDT)

Sumber : Analisis Peneliti 2014


Dari hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan
pandangan mengenai keberadaan KPDT antara pemerintah daerah dan juga
akademisi. Hal ini dikarenakan terdapat perbedaan sudut pandang antara
keduanya. Dari sisi pemerintah daerah, KPDT dianggap sebagai jalan tol dalam
mendapatkan bantuan untuk pengentasan kondisi ketertinggalan. Akan tetapi, dari
sisi akademisi memandang posisi KPDT kurang berperan dalam pengentasan
daerah tertinggal, terkait masalah dana dan juga peran KPDT di antara
kementerian lainnya.

5.1.5

Rekomendasi

Stakeholders

terhadap

Program

Bantuan

Sosial

Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal


Secara umum tidak terdapat kendala-kendala yang cukup signifikan terkait
dengan

program

bantuan

sosial

yang

dicanangkan

oleh

Kementerian

Pembangunan Daerah Tertinggal ini. Bantuan sosial yang diberikan kepada


daerah tertinggal, khususnya Kabupaten Kaur yang menjadi lokasi penelitian.
Namun dibalik itu semua, masih terdapat kendala-kendala teknis dalam hal
pemberian bantuan sosial di Kabupaten Kaur ini yang perlu diperhatikan agar
kedepannya menjadi lebih baik. Kendala-kendala teknis yang dimaksud antara
lain: mekanisme penurunan bantuan sosial, waktu penurunan bantuan sosial dan
juga jenis barang bantuan sosial yang sering diluar harapan. Mekanisme

126

penurunan bantuan sosial di Kabupaten Kaur cukup dikeluhkan oleh pihak


pemerintah daerah. Hal ini berkaitan dengan bantuan sosial yang diturunkan
karena KPDT menentukan sendiri jenis bantuan yang akan diberikan tanpa
memperhatikan usulan yang berasal dari daerah. Sehingga hal ini sering dianggap
menjadi kendala oleh pihak pemerintah daerah.
normalnya usulan di ajukan lalu mendapat bantuan dari KPDT, akan
tetapi seringnya KPDT sudah punya program lalu kita tinggal diberikan
bantuan, kadang itu juga yang sering menjadi kendala. Jadi seperti KPDT
itu sudah punya program sendiri lalu tinggal diberikan ke daerah
tertinggal (hasil wawancara, Pak Mt, Kabid Penanaman Modal Bappeda,
Kabupaten Kaur, tanggal 17 februari 2014)
Berdasarkan hal tersebut, maka untuk kedepannya bantuan sosial yang di
berikan sebaiknya menunggu usulan dari pemerintah daerah sebagai pihak yang
membutuhkan bantuan. Sehingga bantuan yang diberikan akan sangat dirasakan
manfaatnya oleh daerah. Selain itu terkait dengan waktu penurunan bantuan yang
terkesan sering mendadak, juga menjadi salah satu masalah yang harus diperbaiki
oleh pihak pemerintah pusat melalui KPDT dan juga pemerintah daerah.
Perbaikan ini dapat dilakukan dengan cara meningkatkan koordinasi antara
pemerintah pusat melalui KPDT dengan pemerintah daerah.
Hanya saja, bantuan dari KPDT ini terkadang datangnya selalu
dadakan. Sehingga sering kita sebagai daerah tertinggal ini kelabakan
saat menerima bantuan. Selain itu, bantuan yang ingin diberikan itu
sebaiknya diinformasikan lebih awal. (hasil wawancara, Df, Kepala
Dinas Pertanian Kabupaten Kaur, 18 februari 2014)
Hal inilah yang perlu menjadi perhatian khusus dari kedua pihak sebagai
pemberi bantuan dan juga pihak pelaksana bantuan. Koordinasi ini sangat
diperlukan agar implementasi dari bantuan sosial yang diberikan ini dapat
maksimal dan tujuan dari bantuan sosial itu sendiri dapat tercapai. Hal ini
dikarenakan pemerintah daerah sebagai pelaksana perlu mempersiapkan hal-hal
teknis yang diperlukan, seperti pendampingan, pembebasan lahan dan sebagainya.
sering kita terkendala dalam teknis lapangan. Misalnya kita mendapat
bantuan pembangunan jalan. Lalu masyarakat tidak mau lahannya
digunakan. Jadi kita mesti lapor lagi ke KPDT terkait pembebasan lahan

127

(hasil wawancara, DPU Kasubid Promosi, Bidang Penanaman Modal,


Bappeda Kabupaten Kaur, tanggal 17 februari 2014)
Selain itu kendala lainnya adalah terkait dengan jenis bantuan yang
diberikan oleh KPDT. Jenis bantuan ini bukan terkait dengan tujuan dari bantuan
sosial yang tidak tepat sasaran, namun lebih tepatnya kepada jenis bantuan yang
diberikan berada diluar harapan atau diluar kebutuhan yang diharapkan oleh pihak
pemerintah daerah ataupun kelompok masyarakat yang mendapatkan bantuan.
itu menjadi salah satu kendala, secara umum memang pemberian
barang lebih enak. Akan tetapi kadang tidak tepat saasaran. Seperti mesin
kopi yang pernah diturunkan di Kabupaten Kaur, kita mengajukan mesin
ini, sedangkan yang diturunkan adalah mesin ini. istilahnya, tidak sesuai
dengan harapan. Seperti mesin yang daya nya terlalu besar, sehingga
tidak dapat digunakan Karena daya di kabupaten kaur masih rendah.
(hasil wawancara, Ad Kasubag perencanaan dan pelaporan,
Kesekertariatan, Dinas Pendidikan Kabupaten Kaur, mantan staff Bappeda
Kabupaten Kaur, 19 Februari 2014)

secara umum, yang dikatakan bantuan pasti sangat bermanfaat. Akan


tetpi permasalahannya adalah apakah sesuai harapan atau tepat sasaran.
Jika dipikir ulang, karena ini bantuan, dan gratis ya sudah, diterima saja.
Karena KPDT itu sendiri mungkin tidak punya panduan dalam
memberikan bantuan ke daerah tertinggal. Mereka tidak tau karakteristik
masyarakat nya bagaimana. (hasil wawancara, Ad Kasubag perencanaan
dan pelaporan, Kesekertariatan, Dinas Pendidikan Kabupaten Kaur,
mantan staff Bappeda Kabupaten Kaur, 19 Februari 2014)
Kendala seperti ini (jenis bantuan yang tidak sesuai dengan harapan) dapat
diatasi dengan cara koordinasi yang lebih baik antara pihak pemberi bantuan
(pemerintah pusat melalui Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal) dengan
kelompok masyarakat melalui pemerintah daerah Kabupaten Kaur. Selain itu,
kondisi seperti ini dapat diperbaiki dengan cara memiliki panduan khusus dalam
pemberian bantuan sosial kepada daerah tertinggal. Hal ini dikarenakan tiap
kecamatan di Kabupaten Kaur ini memiliki karakteristik yang berbeda antara satu
dengan yang lainnya. Baik itu karakteristik wilayah, maupun karakteristik
masyarakatnya.

128

Seperti ini, kita memiliki 15 kecamatan di Kabupaten Kaur ini dengan


karakteristik yang berbeda-beda. Jadi pada saat KPDT menurunkan
bantuan, belum tentu bantuan tersebut cocok, dalam hal ini koordinasi
lebih awal akan sangat kami harapkan. (hasil wawancara, SM, Sekretaris
Dinas Kelautan dan Perikanan, 20 Februari 2014)
Rekomendasi serupa juga dikatakan oleh akademisi yang menjadi
narasumber. Koordinasi antara pemerintah daerah dan juga pemerintah pusat juga
harus ditingkatkan. Koordinasi ini dilakukan untuk mengetahui apa yang sangat
dibutuhkan oleh daerah, dikarenakan kebutuhan dan keinginan daerah itu berbeda.
Sehingga tidak terjadi miss terkait lokus maupun fokus bantuan yang diberikan.
Koordinasi ini juga perlu ditingkatkan untuk meminimalisirkan tumpang tindih
program yang ada antara daerah dengan pusat melalui KPDT atau in line dengan
program pemerintah daerah setempat.
yang paling penting itu pemerintah pusat dalam memberikan bantuan
harus mengetahui benar kebutuhan daerah. Hal ini dikarenakan
kebutuhan dan keinginan merupakan hal yang berbeda. Selain itu,
program dari pemerintah pusat harus in line dengan program pemerintah
daerah, hal ini untuk meminimalisir tumpang tindih program di daerah
tersebut (hasil wawancara, Ay, staff ahli PSPPR UGM, Tanggal 30 Juni
2014)

Tabel 5.1 -4

Rekomendasi Stakeholders terhadap Program Bantuan Sosial KPDT

Rekomendasi Stakeholders
terhadap Program Bantuan
Sosial Kementerian
Pembangunan Daerah
Tertinggal

Pemerintah daerah

Akademisi

- Bantuan sosial yang di


berikan sebaiknya
menunggu usulan dari
pemerintah daerah sebagai
pihak yang membutuhkan
bantuan
- Perbaikan mengenai waktu
dan jenis bantuan yang
tidak sesuai dengan
meningkatkan koordinasi
antara pemerintah pusat
melalui KPDT dengan
pemerintah daerah

- Koordinasi antara
pemerintah daerah dan
juga pemerintah pusat
juga harus ditingkatkan

Sumber : Analisis Peneliti 2014

129

5.2

Kesesuaian Program-Program Pembangunan Daerah Tertinggal


Dengan Kondisi Ketertinggalan Di Kabupaten Kaur
Kesesuaian program pembangunan daerah tertinggal dapat dilakukan

dengan cara membuat matriks berdasarkan indikator yang menjadi masalah di


Kabupaten Kaur. Ada 5 indikator yang bermasalah di Kabupaten Kaur dari 6
indikator utama yang telah ditetapkan oleh KPDT. Berikut adalah indikator yang
bermasalah yang ada di Kabupaten Kaur.
Tabel 5.2 -1
Daftar Indikator Bermasalah Di Kabupaten Kaur
Data
Rata
Indikator
Sub Indikator
Kabupaten Nasional
Persentase Penduduk Miskin (%)
22,66
15,52
EKONOMI
Pengeluaran Konsumsi Perkapita (ribu)
615,69
641,04
SDM
Harapan Hidup
67,85
69,87
Jumlah desa dengan jenis permukaan jalan
1
0,71
utama terluas Lainnya
RT Pengguna Listrik (%)
67,79
82,32
INFRASTRUKTUR RT Pengguna Telepon (%)
1,53
6,31
RT Pengguna Air Bersih (%)
28,26
48,73
Jumlah Desa yg mempunyai Pasar Tanpa
195
152,53
bangunan Permanen
KAPASITAS
223.607,
Fiscal Gap (juta)
184.433
KELEMBAGAAN
59
KARAKTERISTIK
Persentase Desa Tanah Longsor (%)
9,74
9,50
DAERAH
Sumber : Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, Penyusunan Road Map
Pengentasan Daerah Tertinggal, PSPPR UGM 2013, Statistik Listrik 2013, statistik
telekomunikasi Indonesia 2013, statistik Indonesia 2013, Statistik Kabupaten Kaur 2013,
Kabupaten Kaur Dalam Angka 2013, Bappeda Kabupaten Kaur, http://kpdt.bps.go.id/,
diolah.

Berdasarkan data diatas, maka dapat dibuat matrik antara program


pemerintah daerah dan bantuan sosial KPDT dengan kondisi ketertinggalan di
Kabupaten Kaur. Berikut ini adalah matrik hubungan yang ada di Kabupaten Kaur
berdasarkan indikator bermasalah di Kabupaten Kaur.

130

Tabel 5.2 -2
Matriks Hubungan Indikator Masalah, Kegiatan Pemerintah Daerah, Bantuan Sosial KPDT
Bantuan Sosial KPDT 2010 Kegiatan Pemerintah Daerah Tahun 2012
Catatan dan Pembahasan
2013
Indikator
Bermasalah
Bantuan Stimulan Terhadap Ekonomi Lemah
Penyebarluasan informasi bursa tenaga
kerja
Penyiapan tenaga kerja siap pakai
Pengembangan kelembagaan produktivitas
dan pelatihan kewirausahaan
Pelatihan transmigrasi lokal
Penyusunan Sistem Informasi Terhadap
Layanan Publik (Profil Desa dan Kelurahan)
Ekonomi
(Persentase
Penduduk
Miskin,
Pengeluaran
Perkapita)

Kandang 1 Unit 30 x 15 m
Rumah Jaga dan Lab
Kesehatan Hewan
Water Supply
Instalasi Biogas
Pagar Hidup
Hand Tractor

Pelatihan kewirausahaan bagi pemuda

Peralatan Pengolahan Pupuk


Organik

Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan


Program Pengembangan Pemasaran
Pariwisata

Mesin Potong Rumput

Pengembangan Objek Pariwisata Unggulan


Pengembangan Daerah Tujuan Wisata
Peningkatan Kemampuan Industri Rumah
Tangga/ Industri kecil Menengah
Peningkatan Persertifikatan Tanah
Stabilisasi Harga Bahan Pokok dalam
Menghadapi lebaran
Pengendalian dan Pengawasan Raskin
Penyusunan Standar Satuan Harga

Pelatihan Peternak Kambing


PE
Ternak Kambing PE Jantan
Ternak Kambing PE Betina
Obat-obatan
Marking
Pelatihan dan Instalasi Biogas
Handtraktor

1. Indikator Ekonomi merupakan salah satu indikator yang


paling bermasalah di Kabupaten Kaur
2. semua sub indikator yang ada dalam indikator ekonomi
tergolong bermasalah, yaitu kemiskinan dan juga
pengeluaran perkapita
3. Tingkat kemiskinan di Kabupaten Kaur berada di bawah
rata-rata nasional, yaitu 22,66% penduduk kabupaten
kaur masih berada dibawah garis kemiskinan
4. Pengeluaran perkapita di Kabupaten Kaur tergolong
rendah, yaitu sebesar 615 ribu sedangkan rata-rata
nasional sebesar 641 ribu.
5. sebagai upaya untuk menanggulangi persoalan ekonomi
di Kabupaten Kaur, yang dilihat melalui angka
kemiskinan dan pengeluaran perkapita ini, baik
pemerintah daerah maupun pemerintah pusat sudah
menjalankan beberapa program / kegiatan di Kabupaten
Kaur.
6. terdapat 4 upaya yang dilakukan untuk mengatasi
persoalan ekonomi di Kabupaten Kaur ini, dimana ketiga
hal tersebut berhubungan, yaitu penguatan modal,
penguatan asset, peningkatan produktivitas dan
penguatan pengetahuan masyarakat.
7. penguatan modal di usahakan sebagai salah satu upaya
untuk meningkatkan perekonomian dan berdampak

Bersambung.
131

Lanjutan Tabel 5.2 -2

Kegiatan Pemerintah Daerah Tahun 2012

Bantuan Sosial KPDT 2010 2013

Catatan dan Pembahasan

Indikator
Bermasalah
Pengembangan Desa Mandiri Pangan
Penyuluhan kualitas gizi dan pakan ternak
Pembangunan Sarana dan Prasarana
Pembibitan Ternak
Pelatihan Petani dan Pelaku Agribisnis
Penyuluhan dan pendampingan petani dan
pelaku agrobisnis
Peningkatan Kemampuan Lembaga Petani
(Pendamping Usaha Agribisnis Pedesaan)
Pendamping Pengembangan Usaha
Agribisnis Pedesaan
Pelatihan dan bimbingan pengoperasian
teknologi pertanian/perkebunan tepat guna
Penyediaan Sarana Produksi
Pertanian/Perkebunan
Pembinaan Kelompok Ekonomi Masyarakat
Pesisir

Pendampingan Pada Kelompok Tani


Pembudidaya Ikan
Pendamping pada Kelompok Nelayan
Perikanan Tangkap

Warung Informasi Masyarakat


Perontok Padi
Pengembangan Komoditas
Unggulan (Kopi)
Modal Usaha
Sarana Informasi Edukasi
Ekonomi Desa
Peralatan Pengolahan Kopi
Mobil Rice miller
Bibit Kopi
Motor Roda Tiga
Fasilitasi Pelatihan
Keterampilan Pengolahan
Potensi Lokal
fasilitasi Penerapan teknologi
dan inovasi untuk
pengembangan komoditas
unggulan sektor pertanian,
perkebunan dan perikanan, di
DT

kepada pendapatan dan juga angka kemiskinan.


Sebagai ilustrasi, penyebab salah satu kemiskinan
adalah lemahnya kemampuan modal masyarakat miskin
untuk melakukan usaha. Dari hal inilah, maka programprogram pemerintah berupaya untuk memperkuat modal
masyarakat agar dapat melakukan usaha. Modal usaha
yang diberikan dapat berupa materi dan juga dapat
berupa modal uang.
8. Upaya lainnya adalah penguatan asset masyarakat.
Salah satu penyebab kemiskinan adalah lemahnya
penguasaan asset masyarakat seperti kepemilikan
tanah, kepemilikan sarana dasar untuk produksi seperti
kolam, kandang dan sebagainya. Dengan penguatan
asset ini, diharapkan masyarakat tidak perlu lagi
membayar sewa dalam melakukan produski sehingga
biaya tersebut dapat dipangkas dan dapat
meningkatkan pendapatan masyarakat secara umum.
9. peningkatan produktivitas masyarakat juga dapat
dijadikan salah satu cara untuk meningkatkan indiaktor
ekonomi di Kabupaten Kaur ini. peningkatan
produktivitas dilakukan dengan cara meningkatkan
peralatan untuk produksi, seperti pemberian
handtraktor, mobil rice miller, pengolahan kopi dan
umbi-umbian dan sebagainya.
10. Peningkatan pengetahuan masyarakat juga harus
dilakukan seiring dengan peningkatan modal dan juga
Bersambung

132

Lanjutan Tabel 5.2 -2


Kegiatan Pemerintah Daerah Tahun 2012

Bantuan Sosial KPDT 2010 2013

Catatan dan Pembahasan

Indikator
Bermasalah
Pengadaan Alat Tangkap Ikan
Pembuatan Kolam Rakyat
Penyelenggaraan Pelatihan Kewirausahaan
Fasilitasi Bagi Industri Kecil dan Menengah
Terhadap Pemanfaatan Sumber Daya
Pelatihan Pengembangan Industri
Pengemasan (Packing)
Pelayanan kesehatan penduduk miskin
dipuskesmas dan jaringannya
Peningkatan Pelayanan Kesehatan Rumah
Sakit
Pengadaaan obat dan perbekalan kesehatan
Pengadaan Sarana Penunjang gedung
Farmasi
Sumber Daya
Manusia
(Angka
Harapan
Hidup)

Pengadaaan Puskesmas Keliling


Pengadaaan sarana dan prasarana
puskesmas
Pembangunan Fisik Rehabilitasi Bangunan
Gedung
Pengadaan Alat-alat Rumah Sakit
Peningkatan Sarana Posyandu dan
Pembinaan Tumbuh Kembang Anak
Pembangunan Sarana Sanitasi Bagi
Masyarakat

peralatan produksi. Hal ini agar bantuan-bantuan


tersebut dapat dijalankan oleh masyarakat secara efektif

Warung Informasi Masyarakat


ICT
Alat Kesehatan Poskesdes
Alat Peraga Penunjang
Pendidikan Keaksaraan
Peningkatan Sarana dan
Prasarana Pendidikan
Pengembangan UKM Bidang
Sosial dan Budaya

1. permasalahn utama sumber daya manusia di Kabupaten


Kaur berhubungan dengan angka harapan hidup
(berada dibawah rata-rata nasional, yaitu 67,8 tahun.
2. angka harapan hidup sangat bergantung kepada tingkat
kesehatan penduduk.
3. peningkatan kualitas kesehatan di Kabupaten Kaur telah
dilakukan oleh pemerintah daerah dan juga pemerintah
pusat melalui KPDT seperti kegiatan pengadaan
puskesmas keliling, peningkatan sarana dan prasarana
kesehatan dan juga pelayanan kesehatan bagi
penduduk miskin.
4. Selain dari segi kesehatan, kualitas pendidikan di
Kabupaten Kaur juga harus ditingkatkan, hal ini
dikarenakan rata-rata lama sekolah di Kabupaten Kaur
hanya sebatas kelas 2 SMP sehingga pengetahuan
masyarakat harus terus ditingkatkan. Peningkatan
pengetahuan masyarakat dilakukan dengan cara
memberikan bantuan ICT, warung informasi
masyarakat, dan juga peningkatan sarana pendidikan di
Kabupaten Kaur.
Bersambung
133

Lanjutan Tabel 5.2 -2


Kegiatan Pemerintah Daerah Tahun 2012

Bantuan Sosial KPDT 2010 2013

Catatan dan Pembahasan

Indikator
Bermasalah

Infrastruktur
(Jumlah desa
dengan jenis
permukaan
jalan lainnya,
pengguna
listrik,
pengguna air
bersih,
pengguna
telepon,
jumlah pasar)

Pembangunan Jalan
Pembangunan Sarana Sanitasi Bagi
Masyarakat
Rehabilitasi/Pemeliharaan Rutin Jalan
Pembangunan Jaringan Irigasi
Penyediaan Prasarana dan Sarana Air
Minum Bagi Masyarakat
Penyediaan dan pengelolaan prasarana dan
sarana sosial dan ekonomi di kawasan
transmigrasi
Pembangunan Sarana & Prasarana Air
Bersih Pedesaan
Rehabilitasi/pemeliharaan sarana dan
prasarana air bersih pedesaan
Konservasi Sumber Daya Air dan
Pengendalian Kerusakan Sumber-Sumber
Air
Pembangunan Jalan dan Jembatan
Pedesaan
Pembangunan Jaringan Listrik
Kegiatan Pemeliharaan Jaringan
Listrik,PLTMH dan PLTS
Pembangunan Pasar Tradisional Modern
Perikanan (DAK - Non DAK)
Rehab Sedang/Berat Pasar Tradisional

PLTS Terpusat dan Tersebar


Peningkatan Laboratorium
Komputer Tenaga Surya
Peningkatan Jalan Desa
Pengadaan Mobil Tanki Air
Pembangunan Sarana air
Bersih
Pembangunan tanggul untuk
pencegahan krisis air bersih
Pengambangan Jalan
Produksi

1. indikator infrastruktur di Kabupaten Kaur cukup


bermasalah. Hal ini terlihat dari 5 sub indikator
infrastruktur bermasalah. Yang menjadi fokus dalam hal
ini adalah infrastruktur listrik, air bersij dam jalan.
2. pembangunan listrik dan jalan sebagaimana disebutkan
oleh bank dunia merupakan salah satu cara yang paling
efektif untuk menurunkan kemiskinan di suatu daerah.
oleh karena itu program dari pemerintah pusat dalam hal
ini KPDT sangat concern dalam peningkatan
infrastruktur listrik dan juga infrastruktur jalan. Dengan
pembangunan listrik dan jalan ini tidak hanya indikator
infrastruktur yang akan meningkat, akan tetapi ekonomi
yang juga menjadi masalah di Kabupaten Kaur juga
akan ikut meningkat.
3. pembangunan infrastruktur air bersih juga menjad fokus
dari pemerintah. Hal ini dikarenakan kebutuhan air
bersih merupakan kebutuhan primer bagi seorang
manusia. Pembangunan sarana air bersih ini selain
untuk meningkatkan indikator infrastruktur juga akan
meningkatkan kesehatan masyarakat Kabupaten Kaur.
4. pembangunan sub indikator lainnya yang bermasalah di
Kabupaten Kaur seperti pasar, dilakukan oleh
pemerintah daerah Kabupaten Kaur.
5. infrastruktur telepon di Kabupaten Kauryang dilihat
melalui persentase pengguna telepon tidak diperhatikan,
hal ini dikarenakan penurunan persentase pengguna
telepon dikarenakan beralih menggunakan handphone
Bersambung
134

Lanjutan Tabel 5.2 -2

Kegiatan Pemerintah Daerah Tahun 2012

Bantuan Sosial KPDT 2010 2013

Catatan dan Pembahasan

Indikator
Bermasalah

Kapasitas
Peningkatan Kapasitas dan Kinerja Aparatur
Kelembagaan
Pengelolaan Keuangan Daerah
(fiscal gap)

Penyuluhan dan Peningkatan Kewaspadaan


Masyarakat
Penyuluhan Kesadaran Masyarakat
Karakteristik
Mengenai Pelestarian Sumber Daya Hutan
Daerah
dan Pembangunan Bidang Kehutanan.
(Tanah
Penyelenggaraan reboisasi dan penghijauan
Longsor)
hutan
Penyuluhan kesadaran masyarakat
mengenai dampak perusakan hutan
Sumber : Analisis Peneliti 2014

Penguatan Kelembagaan
KPPD

1. Peningkatan kapasitas kelembagaan yaitu terkait dengan


kemampuan pengelolaan anggaran perbelanjaan
daerah. Permasalahan kelembagaan di daerah tertinggal
adalah keterbatasan pengelolaan dan efisiensi
anggaran, serta minimnya pendapatan asli daerah yang
dapat digunakan untuk pembangunan daerah
2. PAD Kabupaten Kaur masih sangat rendah, hanya 7 M
pada tahun 2012. Angka ini menjadikan kemampuan
untuk pembangunan, terutama untuk mengentaskan
kondisi ketertinggalan sangat minim. APBD yang ada
sudah digunakan untuk kebutuhan pokok di tiap
tahunnya.
1. Karakteristik daerah di Kabupaten Kaur yang menjadi
masalah adalah tanah longsor yang sering terjadi. Hal ini
dikarenakan kondisi geografis dari Kabupaten Kaur yang
berbukit dan mempunyai kemiringan yang curam.
2. tidak terdapat program khusus dari KPDT yang ditujukan
untuk penanggulangan indikator yang diakibatkan oleh
fisik daerah ini.

135

Berdasarkann tabel diatas, dapat terlihat bahwa telah cukup banyak


kegiatan yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Kaur sebagai
upaya untuk menyelesaikan indikator bermasalah yang ada di Kabupaten Kaur.
Sebagian besar kegiatan pemerintah daerah Kabupaten Kaur tersebut berpusat
pada peningkatan indikator ekonomi dan peningkatan infrastruktur yang ada di
Kabupaten Kaur. Hal ini dikarenakan kedua indikator ini merupakan indikator
yang paling bermasalah berdasarkan gambaran yang telah dilakukan.

5.2.1

Indikator Ekonomi
Indikator ekonomi merupakan salah satu indikator yang paling bermasalah

di Kabupaten Kaur. Semua sub indikator yang ada pada indikator ini dapat
menggambarkan masalah pada tingkat perekonomian yang dialami oleh suatu
daerah. Mulai dari persentase penduduk miskin, dimana hal ini merupakan tolak
ukur ekonomi masyarakat (jika pertumbuhan ekonomi tinggi, akan tetapi
persentase penduduk miskin juga tinggi, maka ada indikasi bahwa kesenjangan
semakin tinggi) dan juga pengeluaran perkapita, dimana hal ini menggambarkan
daya beli masyarakat dan juga tingkat pendapatan masyarakat.
Salah satu sub indikator ekonomi yang bermasalah adalah kemiskinan.
Kemiskinan adalah masalah yang sangat kompleks. Banyak faktor yang menjadi
penyebab terjadinya kemiskinan ini. Bappenas (2004) menggunakan beberapa
pendekatan dalam menggambarkan kemiskinan ini, yaitu pendekatan kebutuhan
dasar, pendekatan income, pendekatan kemampuan dasar dan pendekatan objektif
dan subjektif. Hal ini juga didukung oleh Bank Dunia bahwa indikator utama
kemiskinan adalah kepemilikan tanah dan modal yang terbatas, terbatasnya sarana
dan prasarana yang dibutuhkan, perbedaan kesempatan di antara anggota
masyarakat, perbedaan sumber daya manusia, rendahnya produktivitas, budaya
hidup yang jelek, tata pemerintahan yang buruk dan pengelolaan sumber daya
alam yang berlebihan. Selain itu pendapatan yang rendah juga menjadi salah satu
penyebab utama dari kemiskinan, sedangkan tingkat pendidikan, kesehatan dan
lainnya merupakan implikasi dari kondisi miskin itu sendiri.

136

Jika di telaah lebih lanjut, semua sub indikator dalam indikator ekonomi
ini saling berhubungan dan memberikan dampak satu sama lainnya. Maka dari itu,
kegiatan-kegiatan yang ada pun sebenarnya sudah berupaya untuk meningkatkan
ekonomi masyarakat yang berdampak kepada peningkatan pendapatan, dan akan
menurunkan tingkat kemiskinan. Salah satu indikator kemiskinan yang telah
disebutkan adalah kepemilikan aset dan modal yang rendah, serta produktivitas
dari masyarakat yang rendah. Penanggulangan yang dapat dilakukan untuk
mengatasi masalah ekonomi di Kabupaten Kaur ini adalah peningkatan aset, baik
tanah maupun modal dan juga peningkatan produktivitas. Hal ini merupakan salah
satu cara tercepat dalam mengentaskan masalah dalam indikator ekonomi.
Diiringi

Penguatan Modal
dan aset
masyarakat

Peningkatan
produktivitas
masyarakat

Peningkatan
pengetahuan,
dalam hal ini SDM,
kelembagaan dan
lain sebagainya

Secara Langsung
PENINGKATAN PENDAPATAN
Berdampak
PENURUNAN ANGKA
KEMISKINAN

Gambar 5.2 -1
Diagram Cara Penanggulangan Indikator Ekonomi di Kabupaten Kaur
Sumber : Analisis Peneliti 2014

Diagram diatas memperlihatkan bahwa sub indikator ekonomi yang


ditetapkan ini saling memiliki hubungan satu dengan yang lainnya. Oleh sebab
itu, kegiatan-kegiatan yang dilakukan memiliki hubungan terhadap 2 cara
137

peningkatan ekonomi masyarakat, yaitu penguatan modal dan aset masyarakat


serta peningkatan produktivitas masyarakat. Selain kedua hal tersebut, terdapat
juga beberapa kegiatan lainnya yang ditujukan untuk meningkatkan indikator
ekonomi yang ada di Kabupaten Kaur, namun tidak memberikan dampak secara
langsung seperti kedua cara yang telah disebutkan diatas.

A.

Penguatan Modal dan Aset Masyarakat


Salah satu cara meningkatkan perekonomian masyarakat adalah dengan

cara penguatan modal dan aset masyarakat. Aset ini berhubungan dengan tanah
sebagai salah satu hal penting dalam produksi dan juga bahan-bahan pokok
produksi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Sedangkan penguatan modal
berhubungan dengan pemberian modal usaha kepada masyarakat untuk
memberikan kesempatan kepada masyakat untuk melakukan usaha.
Tabel 5.2 -3
Kegiatan Yang Bertujuan Penguatan Modal dan Penguatan Aset

Kegiatan Yang Bertujuan


Penguatan Modal
Pemerintah Daerah
KPDT

Penguatan Aset
Pemerintah Daerah
KPDT

Bantuan Stimulan
Terhadap Ekonomi
Lemah

Penyusunan Standar
Satuan Harga

Kandang 1 Unit 30 x
15 m

Peningkatan
Persertifikatan Tanah
Pembuatan Kolam
Rakyat
Pembangunan Sarana
dan Prasarana
Pembibitan Ternak

Rumah Jaga dan Lab


Kesehatan Hewan

Modal Usaha

Ternak Kambing PE
Jantan
Ternak Kambing PE
Betina
Pengembangan
Komoditas Unggulan
(Kopi)
Bibit Kopi
Sumber : Analisis Peneliti 2014

Water Supply
Instalasi Biogas

Tabel diatas memperlihatkan bahwa cukup banyak kegiatan yang ada di


Kabupaten Kaur yang bertujuan untuk penguatan modal dan penguatan aset
masyarakat sebagai upaya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Kegiatan
yang bertujuan terhadap penguatan modal dapat dilakukan dengan cara
memberikan bantuan dalam bentuk uang seperti modal usaha atau bantuan
stimulant, ataupun dalam bentuk barang seperti bibit kopi dan juga kambing. Hal
ini ditujukan agar masyarakat mampu untuk dapat memulai usaha, karena
138

penyebab utama kemiskinan adalah ketidakmampuan masyarakat untuk berusaha,


dimana hal ini dikarenakan ketidakmampuan masyarakat untuk mendapatkan
modal usaha.
Hal lainnya adalah penguatan aset. Penguatan aset adalah penguatan dalam
hal utama terkait faktor-faktor produksi. Aset dalam hal ini terkait dengan
kebutuhan dasar masyarakat dalam melakukan produksi, seperti tanah, harga
bahan dasar, sarana dan prasarana produksi seperti kandang, rumah jaga, kolam
dan sebagainya. Cukup banyak kegiatan yang bertujuan untuk peningkatan aset
masyarakat di Kabupaten Kaur. salah satunya adalah peningkatan jumlah
sertifikat tanah yang dilakukan pemerintah daerah. Dengan adanya kepemilikan
tanah oleh masyarakat, mereka dapat memproduksi tanah tersebut dan hasilnya
dapat mereka nikmati sendiri. Hal ini akan berbeda bila mereka bekerja pada
pemilik tanah dimana mereka hanya akan dibayar sebagai buruh tani.

B.

Peningkatan Produktivitas Masyarakat


Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah ekonomi adalah

dengan cara meningkatkan produktivitas masyarakat. Peningkatan produktivitas


ini dilakukan dengan cara meningkatkan nilai tambah dari hasil produksi itu
sendiri.
Tabel 5.2 -4
Kegiatan Yang Bertujuan Peningkatan Produktivitas Masyarakat
Kegiatan Yang Bertujuan Untuk Peningkatan Produktivitas Masyarakat
Pemerintah Daerah
KPDT
Hand Tractor
Pengadaan Alat Tangkap Ikan
Peralatan Pengolahan Pupuk Organik
Pelatihan Pengembangan Industri Pengemasan (Packing) Mesin Potong Rumput
Obat-obatan
Penyediaan Sarana Produksi Pertanian/Perkebunan
fasilitasi Penerapan teknologi dan
inovasi untuk pengembangan
komoditas unggulan sektor pertanian,
perkebunan dan perikanan, di DT
Peralatan Pengolahan Kopi
Mobil Rice miller
Perontok Padi
Motor Roda Tiga
Sumber : Analisis Peneliti 2014

139

Tabel diatas memberikan gambaran bahwa telah banyak kegiatan yang


dilakukan sebagai

upaya untuk

meningkatkan produktivitas

masyarakat

Kabupaten Kaur. Sebagai salah satu contohnya adalah pengadaan handtraktor oleh
KPDT kepada Kelompk Wanita Tani (KWT) Kabupaten Kaur. Dengan pemberian
handtraktor ini, masyarakat dapat memaksimalkan pekarangan rumah mereka
sebagai area untuk bercocok tanam, sehingga dapat memenuhi kebutuhan seharihari mereka. Uang yang biasanya digunakan untuk membeli kebutuhan pangan,
dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan lainnya. Kondisi ini juga merupakan
salah satu bentuk peningkatan pendapatan.
Selain hal diatas, peningkatan produktivitas juga dapat dilakukan dengan
pemberian peralatan pengolahan hasil perkebunan, pertanian dan perikanan.
Dengan bantuan seperti ini, masyarakat dapat menjual hasil pertanian mereka
yang sudah diolah sehingga akan mendapatkan nilai tambah. Salah satu contohnya
adalah peralatan pengolahan kopi. Dengan peralatan ini, kopi akan dihasilkan
lebih cepat dengan kualitas yang lebih bagus.

C.

Peningkatan Pengetahuan Sebagai Upaya Penyeimbang Dalam

Peningkatan Modal, Aset dan Produktivitas


Upaya peningkatan modal, aset dan bantuan alat peningkatan produktiivtas
tidak akan berhasil jika tidak diiringi dengan peningkatan sumber daya manusia
masyarakat dan juga kelembagaan dari kabupaten tertinggal itu sendiri. Bantuan
yang diberikan dan juga kegiatan-kegiatan yang dilakukan pun tidak akan berjalan
sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, upaya peningkatan tersebut juga harus
disertai dengan adanya upaya peningkatan pengetahuan dari masyarakat. Selain
itu, salah satu penyebab kemiskinan yang menjadi masalah dari indikator ekonomi
adalah kurangnya akses masyarakat terhadap lapangan pekerjaan. Hal ini
dikarenakan kurangnya informasi dan juga rendahnya kualitas sumber daya
manusia yang ada. Hal ini merupakan salah satu indikator bermasalah yang dapat
diberikan intervensi secara langsung guna meningkatkan perekonomian secara
keseluruhan.

140

Tabel 5.2 -5
Kegiatan Yang Bertujuan Meningkatkan Pengetahuan
Kegiatan Yang Bertujuan Meningkatkan Pengetahuan
Pemerintah Daerah
KPDT
Penyebarluasan informasi bursa tenaga kerja
Pelatihan Peternak Kambing PE
Penyiapan tenaga kerja siap pakai
Pelatihan dan Instalasi Biogas
Pengembangan kelembagaan produktivitas dan
Warung Informasi Masyarakat
pelatihan kewirausahaan
Pelatihan kewirausahaan bagi pemuda
Sarana Informasi Edukasi Ekonomi Desa
Fasilitasi Pelatihan Keterampilan Pengolahan
Pelatihan Petani dan Pelaku Agribisnis
Potensi Lokal
Penyuluhan dan pendampingan petani dan
pelaku agrobisnis
Peningkatan Kemampuan Lembaga Petani
(Pendamping Usaha Agribisnis Pedesaan)
Pendamping Pengembangan Usaha Agribisnis
Pedesaan
Pelatihan dan bimbingan pengoperasian
teknologi pertanian/perkebunan tepat guna
Pembinaan Kelompok Ekonomi Masyarakat
Pesisir
Pendampingan Pada Kelompok Tani
Pembudidaya Ikan
Pendamping pada Kelompok Nelayan
Perikanan Tangkap
Penyelenggaraan Pelatihan Kewirausahaan
Fasilitasi Bagi Industri Kecil dan Menengah
Terhadap Pemanfaatan Sumber Daya
Sumber : Analisis Peneliti 2014

Kegiatan-kegiatan diatas tidak secara langsung dapat meningkatkan


ekonomi masyarakat seperti peningkatan pendapatan dan juga penurunan angka
kemiskinan. Akan tetap bila dicermati lebih lanjut, kegiatan-kegiatan diatas dapat
turut membantu dengan cara meningkatkan pengetahuan masyarakat. Hal ini tidak
terlepas dari salah satu penyebab utama atau indikator utama kemiskinan, yaitu
rendahnya kualitas sumber daya manusia.

5.2.2

Indikator Sumber Daya Manusia


Sumber daya manusia juga menjadi salah satu indikator yang bermasalah

di Kabupaten Kaur. Jika melihat dari gambaran kondisi ketertinggalan, sub


indikator yang menjadi masalah adalah terkait dengan kesehatan masyarakat,
yaitu angka harapan hidup. Jika berbicara tentang sumber daya manusia, tidak

141

akan terlepas dari indeks pembangunan manusia (IPM). IPM terdiri dari 3
dimensi, yaitu dimensi kesehatan (angka harapan hidup), dimensi pendidikan
(rata-rata lama sekolah, angka melek huruf), dan dimensi ekonomi (pengeluaran
perkapita atau kemampuan daya beli).
Berdasarkan gambaran yang sudah ada, dapat terlihat bahwa dimensi
pendidikan di Kabupaten Kaur tidak mengalami masalah dikarenakan berada di
atas rata-rata nasional. Masalah terdapat pada indikator kesehatan yang terkait
dengan angka harapan hidup (dimensi ekonomi sudah dibahas dalam indikator
ekonomi). Angka harapan hidup merupakan rata-rata perkiraan jumlah tahun yang
dapat ditempuh seseorang selama hidup. Secara umum, banyak kegiatan yang ada
di Kabupaten Kaur baik dari pemerintah daerah maupun dari pemerintah pusat
yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan di Kabupaten Kaur.
Jika dilihat lebih mendalam, semua ini berhubungan dengan pengentasan
kemiskinan sebagai tujuan utama dari segala kegiatan yang ada. Menurut
Bappenas (2004) yang menyebutkan bahwa salah satu definisi kemiskinan adalah
tidak terpenuhinya hak-hak dasar, dimana salah satunya adalah terkait dengan
kesehatan (pendekatan kebutuhan dasar). Berdasarkan analisis IPM, dimensi
kesehatan dapat digambarkan melalui angka harapan hidup. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa tujuan utama dari tiap kegiatan dan indikator KPDT ini adalah
pengurangan angka kemiskinan sebagai induk dari permasalahan.
Kemiskinan

Rendahnya
Pendapatan

Kesehatan

Angka Harapan
Hidup

Produktivitas
Masyarakat Rendah
Gambar 5.2 -2
Diagram Hubungan Antara Kesehatan Dengan Ekonomi
Sumber : Analisis Peneliti 2014

Selain dari segi kesehatan, bantuan sosial dari KPDT juga mencakup
dimensi lainnya, terutama dimensi pendidikan. Hal ini bertujuan untuk

142

meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Kaur melalui adanya warung


informasi masyarakat, ICT dan pendidikan non formal lainnya.

5.2.3

Indikator Infrastruktur
Kegiatan-kegiatan yang ada di Kabupaten Kaur baik yang berasal dari

pemerintah daerah maupun dari pemerintah pusat sudah dirasa tepat untuk
meningkatkan sub indikator bermasalah yang ada di indikator infrastruktur ini.
Berdasarkan hasil penggambaran kondisi ketertinggalan, terdapat 5 sub indikator
yang bermasalah dalam indikator ini, antara lain jumlah desa dengan jenis
permukaan jalan lainnya, rumah tangga pengguna listrik, telepon dan air bersih,
serta jumlah pasar dengan bangunan permanen di Kabupaten Kaur.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan juga adanya
bantuan sosial dari KPDT sudah menunjukkan upaya untuk meningkatkan sub
indikator tersebut (dapat dilihat pada tabel). Pembangunan jalan, listrik, dan air
bersih masih menjadi prioritas utama pemerintah daerah dan pemerintah pusat
melalui KPDT. Hal ini dikarenakan kebutuhan akan hal-hal tersebut, selain dapat
memperbaiki sub indikator masalah, akan dapat juga meningkatkan perekonomian
masyarakat secara tidak langsung. Sub indikator telepon yang juga menjadi
masalah di Kabupaten Kaur tidak terlalu menjadi perhatian. Hal ini dikarenakan
penggunaan telepon genggam yang sudah mulai menggantikan penggunaan
telepon rumah.
Pembangunan-pembangunan jalan dapat terlihat jelas akan mempengaruhi
secara langsung jumlah desa dengan jenis permukaan lainnya, begitu juga dengan
pembangunan pembangkit listrik, jaringan listrik, sarana air bersih dan
pembangunan pasar. Kegiatan-kegiatan ini akan memberi pengaruh secara
langsung kepada indikator yang bermasalah di Kabupaten Kaur. Namun bila
dicermati lebih dalam, pembangunan jalan akan berdampak secara tidak langsung
pada perekonomian dengan meningkatkan pendapatan masyarakat secara
menyeluruh, selain itu juga dapat memberi pengaruh kepada tingkat kesehatan di
masyarakat Kabupaten Kaur yang masih menjadi salah satu masalah.

143

Pembangunan
Jalan

Transport Cost
Berkurang

Distribusi Barang
dan Jasa
Meningkat

Biaya Produksi
Menurun

Keuntungan
Meningkat

Pendapatan
Masyarakat
Meniningkat

Gambar 5.2 -3
Diagram Hubungan Pembangunan Jalan Dengan Peningkatan Ekonomi
Masyarakat
Sumber : Analisis Peneliti 2014

Berdasarkan wawancara dengan pihak Bappeda Kabupaten Kaur, bahwa


pembangunan jalan memberikan banyak manfaat dalam bidang perekonomian.
Hal ini dikarenakan daerah-daerah terpencil biasanya merupakan daerah
perkebunan dan sangat membutuhkan jalan sebagai sarana untuk mendistribusikan
hasil kebunnya. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan bank dunia yang
menyebutkan bahwa peningkatan fasilitas jalan di area pedesaan merupakan cara
yang efektif dalam mengurangi angka kemiskinan (meningkatkan pendapatan
masyarakat)

5.2.4

Kapasitas Kelembagaan
Peningkatan kapasitas kelembagaan yaitu terkait dengan kemampuan

pengelolaan anggaran perbelanjaan daerah. Permasalahan kelembagaan di daerah


tertinggal adalah keterbatasan pengelolaan dan efisiensi anggaran, serta minimnya
pendapatan asli daerah yang dapat digunakan untuk pembangunan daerah.

144

Sehingga untuk memperbaiki hal tersebut, maka pemerintah daerah telah


berupaya untuk meningkatkan kapasitas dan kinerja apparatus pengelola keuangan
daerah.

5.2.5

Karakteristik Daerah
Karakteristik daerah di Kabupaten Kaur yang menjadi masalah adalah

tanah longsor yang sering terjadi. Hal ini dikarenakan kondisi geografis dari
Kabupaten Kaur yang berbukit dan mempunyai kemiringan yang curam. Kondisi
seperti ini dapat diatasi dengan pemeliharaan hutan atau konservasi hutan yang
dapat memberikan pengaruh sangat besar. Seperti yang sudah diketahui, pohon
yang ada di lereng dapat menjadi penahan tanah untuk mencegah terjadinya
longsor. Selain itu, adanya penyuluhan kepada masyarakat agar tidak merusak
hutan juga akan sangat penting. Hal ini mengingat bahwa masih banyak
masyarakat yang belum sadar akan pentingnya menjaga kelestarian hutan.

5.4.6

Kesesuaian Program Pemerintah Daerah, Pemerintah Pusat dan


Kondisi Ketertinggalan
Dari hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa program pemerintah daerah,

pemerintah pusat sudah sesuai dengan kondisi ketertinggalan di Kabupaten Kaur


sebagai salah satu kabupaten tertinggal yang telah dicanangkan oleh KPDT.
Dilihat dari matriks kesesuaian, terlihat bahwa program-program pembangunan
daerah tertinggal baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat di Kabupaten
Kaur lebih terfokus kepada indikator ekonomi dan juga indikator infrastruktur
dimana dalam 2 indikator ini terdapat banyak subindikator yang bermasalah
(berada dibawah rata-rata nasional).

145

BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1

Kesimpulan
Dari penelitian ini, didapat beberapa kesimpulan mengenai persepsi

stakeholders terhadap bantuan sosial KPDT di Kabupaten Kaur. Secara umum,


menurut pemerintah daerah Kabupaten Kaur, bantuan sosial KPDT di Kabupaten
Kaur sudah sangat efektif. Hal ini dikarenakan bantuan sosial tersebut sudah
sesuai dengan tujuan dari pemberian bantuan sosial tersebut. Selain itu, manfaat
dari bantuan sosial yang diberikan KPDT di Kabupaten Kaur sudah dirasakan oleh
Kabupaten Kaur secara umum dan masyarakat penerima bantuan sosial secara
khusus. Manfaat yang didapat dibagi menjadi 2, yaitu manfaat langsung dan
manfaat tidak langsung. Selain itu juga, bantuan sosial yang diberikan menurut
pemerintah daerah Kabupaten Kaur sudah sesuai dengan kebutuhan dari daerah
yaitu kebutuhan Kabupaten Kaur. Masyarakat Kabupaten Kaur pun mengatakan
hal yang serupa dengan pemerintah daerah Kabupaten Kaur.
Sedangkan menurut akademisi, bantuan sosial yang diberikan secara
umum sudah efektif dan bermanfaat. Hal itu dikarenakan bantuan sosial yang
diberikan langsung kepada masyarakat dalam bentuk barang dan juga lainnya.
Akan tetapi, hal tersebut jika bantuan sosial sesuai dengan kebutuhan masyarakat
dan juga sesuai dengan kondisi daerah tertinggal yang diberikan. Hal ini harus
menjadi perhatian khusus dari KPDT dalam memberikan bantuan sosial kepada
daerah tertinggal.
Bantuan sosial yang diberikan di Kabupaten Kaur secara umum sudah
sesuai dengan kondisi ketertinggalan di Kabupaten Kaur. Kondisi ketertinggalan
di Kabupaten Kaur yaitu 5 dari 6 indikator utama berada dalam kondisi
ketertinggalan. Indikator ekonomi, SDM dan infrastruktur menjadi indikator yang
paling bermasalah di Kabupaten Kaur. Oleh karena itu bantuan sosial yang
diberikan di Kabupaten Kaur sebagian besar berada dalam 3 indikator ini.

146

6.2

Saran
Dari penelitian ini, saran yang dapat diberikan kepada pemerintah, baik

pemerintah daerah maupun pemerintah pusat adalah:


1.

Peningkatan stimulan langsung atau bantuan langsung kepada masyarakat


sangat diperlukan dalam upaya mengentaskan kondisi ketertinggalan di
suatu daerah. Hal ini dikarenakan jika hanya mengharapkan anggaran
perbelanjaan daerah belum mampu memberi bantuan langsung kepada
masyarakat secara kontinu.

2.

Pemberian bantuan langsung kepada masyarakat sebaiknya dengan


mempertimbangkan kebutuhan masyarakat daerah yang dituju, hal ini
dilakukan agar bantuan yang diberikan tepat sasaran dan dapat
dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat.

3.

Koordinasi terlebih dahulu sangat diperlukan antara pemerintah daerah


sebagai pelaksana dengan pemerintah pusat. Hal ini dilakukan agar proses
implementasi dari program / kegiatan yang dilakukan dapat maksimal dan
menghasilkan hasil yang sesuai dengan tujuan dari program / kegiatan
tersebut

Dari penelitian ini juga didapat rekomendasi untuk penelitian yang lebih
lanjut. Program bansos yang ada dari tahun 2010 dapat di evaluasi atau di
cocokkan dengan target RPJM dari KPDT terkait dengan upaya pengentasan
daerah tertinggal yang ada. Evaluasi dapat dilakukan dengan cara bagaimana
dampak dari bansos yang sudah diturunkan dari tahun 2010 mempengaruhi target
RPJMN KPDT 2009 2014.

147

DAFTAR PUSTAKA
Bappenas, 2009. Pedoman Evaluasi Kinerja Pembangunan Sektoral, Jakarta:
Kedeputian Evaluasi Kinerja Pembangunan
Bungin, Burhan, 2011. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan
Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya, Jakarta : Kencana
Dunn, William N (2003). Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Edy, Lukman, HM, (2009). Pencapaian Pembangunan Daerah Tertinggal Lima
Tahun Terakhir. Jurnal Sekretariat Negara RI, No 13, Agustus 2009.
Moleong, Lexy, 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : Remaja
Rosdakarya
Muliana, Rona (2009). Dampak Kebijakan Pemekaran Terhadap Perkembangan
Wilayah Kabupaten Induk, Studi Kasus Kabupaten Kampar. Tidak
Dipublikasikan
Nugroho, Riant (2011). Public Policy:Dinamika Kebijakan, Analisis Kebijakan,
Manajemen Kebijakan. Jakarta: Elex Media
Purwanto, Erwan Agus dan Sulistyastuti, Dyah Ratih (2012). Implementasi
kebijakan publik, konsep dan aplikasinya di Indonesia. Yogyakarta: Gava
Media
Satori. D, Komariah. A. (2009). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Alfabeta
Sholeh, Maimun (2010). Kemiskinan: Telaah Dan Beberapa Strategi
Penanggulangannya, Yogyakarta : Fakultas Ilmu Sosial Dan Ekonomi,
Universitas Negeri Yogyakarta
Sulistiowati, R (2007). Evaluasi program kompensasi pengurangan subsidi bahan
bakar minyak (pkps bbm) program bantuan langsung tunai di kelurahan
kaliawi kecamatan tanjungkarang pusat, kota bandar lampung. Lampung :
Jurusan Administrasi Negara, Fakultas ilmu social dan ilmu politik,
universitas lampung.
Suryahadi, A., (2007). Persyaratan dan unsur-unsur evaluasi yang baik. In
kumpulan bahan latihan pemantauan dan evaluasi program-program
pengentasan kemiskinan. Jakarta : Direktorat Penanggulangan Kemiskinan
Solihin, Dadang (2012). Sistem Monitoring Dan Evaluasi Kinerja Pembangunan,
Bandung : Capacity Building Biro Hukum Kabupaten Rokan Hilir.
Sayogyo (1974). Bunga Rampai Perekonomian Desa. Yayasan Obor Indonesia

xvii

Thoha, Miftha, (2002), Perilaku Organisasi: Konsep Dasar Dan Aplikasinya.


Jakarta : Rajawali Pers.
Yusransyah, M (2002) Evaluasi Pelaksanaan Program Pembangunan Prasarana
Pendukung Desa Tertinggal (P3DT), Tidak Dipublikasikan.
Walgito, Bimo (2002). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Andi
World Bank (2004) Indonesia Policy Briefs-ide-ide 100 hari, Mengurangi
kemiskinan,
diakses
melalui
http://siteresources.worldbank.org/
INTINDONESIA/Resources/Publication/280016-1106130305439/61733 11110769011447/810296-1110769073153/reducingpoverty.pdf.
Dokumen dan Perundang-Undangan
Anonimous,
(2013).
Statistik
Telekomunikasi
Indonesia
http://www.bps.go.id/ (diakses pada tanggal 17 April 2014)

2013.

Anonimous, (2013). Statistik Listrik 2013. http://www.bps.go.id/ (diakses pada


tanggal 17 April 2014)
Anonimous, (2013). Statistik Indonesia 2013. http://www.bps.go.id/ (diakses pada
tanggal 17 April 2014)
Anonimous, (2013). RTRW Kabupaten Kaur tahun 2011 2031. Bappeda
Kabupaten Kaur
Anonimous, (2013). RUTRW Kabupaten Kaur tahun 2011 2031. Bappeda
Kabupaten Kaur
Anonimous, (2010). Kabupaten Kaur Dalam Angka 2009. Badan Pusat Statistik
Kabupaten Kaur
Anonimous, (2011). Kabupaten Kaur Dalam Angka 2010. Badan Pusat Statistik
Kabupaten Kaur
Anonimous, (2012). Kabupaten Kaur Dalam Angka 2011. Badan Pusat Statistik
Kabupaten Kaur
Anonimous, (2013). Kabupaten Kaur Dalam Angka 2012. Badan Pusat Statistik
Kabupaten Kaur
Anonimous, (2014). Kabupaten Kaur Dalam Angka 2013. Badan Pusat Statistik
Kabupaten Kaur
Anonimous, (2013). Profil Kesehatan 2012. Dinas Kesehatan Kabupaten Kaur
xviii

Anonimous, (2014). PDRB Kabupaten Kaur Tahun 2012. Badan Pusat Statistik
Kabupaten Kaur
Anonimous, (2013). PDRB Kabupaten Kaur Tahun 2011. Badan Pusat Statistik
Kabupaten Kaur
Anonimous, (2012). PDRB Kabupaten Kaur Tahun 2010. Badan Pusat Statistik
Kabupaten Kaur
Anonimous, (2011). PDRB Kabupaten Kaur Tahun 2009. Badan Pusat Statistik
Kabupaten Kaur
Anonimous, (2014). Statistik Daerah Kabupaten Kaur 2013. Badan Pusat Statistik
Kabupaten Kaur
Anonimous, (2013). Analisis IPM dan IKK Kabupaten Kaur 2012. Badan Pusat
Statistik Kabupaten Kaur
Anonimous, (2012). Analisis IPM dan IKK Kabupaten Kaur 2011. Badan Pusat
Statistik Kabupaten Kaur
Anonimous, (2011). Analisis IPM dan IKK Kabupaten Kaur 2010. Badan Pusat
Statistik Kabupaten Kaur
Anonimous, (2010). Analisis IPM dan IKK Kabupaten Kaur 2009. Badan Pusat
Statistik Kabupaten Kaur
Anonimous. RPJMD Kabupaten Kaur 2011 2016. Bappeda Kabupaten Kaur
Anonimous. LKPJ Kabupaten Kaur tahun 2012. Sekretaris Daerah Kabupaten
Kaur
Anonimous. Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Kaur. Dinas Pengelolaan
Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Kaur, statistik
Kabupaten Kaur 2013
Anonimous. BPBD Kabupaten Kaur 2014
Anonimous. Bappeda Kabupaten Kaur 2014
Anonimous, (2013). Laporan Antara Penyusunan Road Map Pengentasan
Daerah Tertinggal Kabupaten Kaur PSPPR UGM, Tidak Dipublikasikan
Kepmen PDT No 154 Tahun 2013
Kepmen PDT No 56 Tahun 2013 tentang perubahan atas kepmen PDT no 338,
tentang penetapan bantuan sosial bidang pembinaan lembaga sosial dan
budaya tahun 2013

xix

Kepmen PDT No 122 Tahun 2013 tentang penetapan bantuan sosial APBN P
bidang pembinaan ekonomi dan dunia usaha tahun 2013
Kepmen PDT no 141 Tahun 2013 Tentang perubahan ketiga atas kepmen PDT no
336 tentang penetapan bantuan sosial bidang peningkatan infrastruktur
tahun 2013
Kepmen PDT No 148 Tahun 2013 Tentang perubahan ketiga atas kepmen PDT no
335 tentang penetapan bantuan sosial bidang pengembangan sumber daya
tahun 2013
Keputusan Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal nomor: 006/PER/MPDT/1/2010 tentang Rencana Strategis Kementrian Pembangunan Daerah
Tertinggal Tahun 2010 2014
Keputusan Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal nomor: 001/KEP/MPDT/1/2005 tentang Strategi Nasional Pembangunan Daerah Tertinggal.
Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan
Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan
Permen PDT No 4 Tahun 2012 tentang Pedoman Pengelolaan Bantuan Sosial Di
Lingkungan Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
Website
Anonimous, Rekapitulasi Bansos KPDT Tahun 2010
http://www.kemenegpdt.go.id/bansos (diakses pada tanggal 11 April 2014)
Anonimous, Rekapitulasi Bansos KPDT Tahun 2011
http://www.kemenegpdt.go.id/bansos (diakses pada tanggal 11 April 2014)
Anonimous, Rekapitulasi Bansos KPDT Tahun 2012
http://www.kemenegpdt.go.id/bansos (diakses pada tanggal 11 April 2014)
Anonimous, Rekapitulasi Bansos KPDT Tahun 2013
http://www.kemenegpdt.go.id/bansos (diakses pada tanggal 11 April 2014)
http://kaurkab.bps.go.id/ (diakses pada tanggal 9 April 2014)
http://www.kemenegpdt.go.id (diakses pada tanggal 10 April 2014)
http://www.bps.go.id/ (diakses pada tanggal 17 April 2014)
www.kpdt.bps.go.id (diakses pada tanggal 7 April 2014)

xx

LAMPIRAN

xxi

Lampiran 1
Bantuan Sosial Kabupaten Kaur Tahun 2010
no

Bidang

alokasi

nama kegiatan/jenis bansos


Dana

Pengambangan Sumber
Daya

Peningkatan Infrastruktur

Pembinaan Ekonomi dan


Dunia Usaha

pembinaan lembaga
sosial dan budaya

realisasi

PLTS

keterangan
volume

75

satuan

Kecamatan Nasal, Desa


Sumber Harapan

penguatan kelembagaan kppd


penguatan kelembagaan kppd

10,000,000.00
10,000,000.00

10,000,000.00
10,000,000.00

KPPSB Desa Cahaya Batin


KPPSB Desa Sekunyit

penguatan kelembagaan kppd

10,000,000.00

10,000,000.00

KPPSB Desa Tanjung Baru

penguatan kelembagaan kppd

10,000,000.00

10,000,000.00

KPPSB Desa Gedung Sako

penguatan kelembagaan kppd

10,000,000.00

10,000,000.00

KPPSB Desa Pasar Lama

penguatan kelembagaan kppd

10,000,000.00

10,000,000.00

KPPSB

penguatan kelembagaan kppd

10,000,000.00

10,000,000.00

penguatan kelembagaan kppd

10,000,000.00

10,000,000.00

KPPSB Desa Linau


KPPSB Kelurahan Simpang
III

penguatan kelembagaan kppd

10,000,000.00

10,000,000.00

KPPSB Rigangan III

penguatan kelembagaan kppd

10,000,000.00

10,000,000.00

KPPSB Desa Rigangan I

APBNP

Pengembangan Daerah
Khusus

Sumber : http://www.kemenegpdt.go.id/bansos diakses pada tanggal 10 April 2014, rekapitulasi kegiatan bansos tahun 2010, diolah

xxii

Lampiran 2
Bantuan Sosial Kabupaten Kaur Tahun 2011
no

bidang

alokasi

nama kegiatan/jenis bansos


dana

realisasi

keterangan
volume

satuan

paket

penerima 1 kelompok

BCS

Kecamatan Nasal, Desa


Merpas, Kelompok
Pematang Permai

Kandang 1 Unit 30 x 15 m
Rumah Jaga dan Lab Kesehatan Hewan
Water Supply
1

Pengembangan Sumber
Daya

Instalasi Biogas

260,000,000.00

100%

Pagar Hidup
Hand Tractor
Peralatan Pengolahan Pupuk Organik
Mesin Potong Rumput

Peningkatan Infrastruktur

Pembinaan Ekonomi dan


Dunia Usaha

Pembinaan Lembaga sosial


dan budaya

1,321,500,000.0
0

100%

penguatan kelembagaan kppd

10,000,000.00

100%

penguatan kelembagaan kppd

10,000,000.00

100%

penguatan kelembagaan kppd

10,000,000.00

100%

KPPD Sinar Bulan


KPPD Desa Tanjung
Bunian

penguatan kelembagaan kppd

10,000,000.00

100%

KPPD Desa Rigangan II

penguatan kelembagaan kppd

10,000,000.00

100%

KPPD Desa Aur Ringit

penguatan kelembagaan kppd

10,000,000.00

100%

penguatan kelembagaan kppd

10,000,000.00

100%

KPPD Desa Papahan


KPPD Desa Ulak
Bandung

penguatan kelembagaan kppd

10,000,000.00

100%

KPPD Desa Suka

PLTS

Penanggung
Jawab Kabid
Pertambangan
dan ESDM

KPPD Desa Bungin


Tambun I

xxiii

Merindu

penguatan kelembagaan kppd

10,000,000.00

100%

penguatan kelembagaan kppd

10,000,000.00

100%

KPPD Desa Tanjung Aur


KPPD Desa Guru Agung
II

Pengembangan Daerah
Khusus

Sumber : http://www.kemenegpdt.go.id/bansos diakses pada tanggal 10 April 2014, rekapitulasi kegiatan bansos tahun 2011, diolah

Lampiran 3
Bantuan Sosial Kabupaten Kaur Tahun 2012
no

bidang

alokasi

nama kegiatan/jenis bansos

keterangan

Dana

realisasi

volume

satuan

300,000,000.00

100%

paket

Pelatihan Peternak Kambing PE


Ternak Kambing PE Jantan
Ternak Kambing PE Betina
1

Pengembangan Sumber
Daya

Penerima : Tahiji 1

Obat-obatan
Marking
Kelompok Rukun Santoso
Pelatihan dan Instalasi Biogas

200,000,000.00

Kelompok Setia Bakti

100%

Kelompok Tunas Muda

Peningkatan Infrastruktur

Handtractor

375,000,000.00

100%

30

unit

Kelompok Sumber Makmur


Kecamatan Kaur Selatan, Desa Gedung
Sako 2, Kelompok Harapan Maju
Kecamatan Kaur Selatan, Desa Padang
Petron, Kelompok Ulu Bintuhan
Kecamatan Kaur Selatan, Desa Padang
Petron, Kelompok Pekan Baru
Kecamatan Kaur Selatan, Desa Padang

xxiv

no

bidang

alokasi

nama kegiatan/jenis bansos


Dana

realisasi

keterangan
volume

satuan
Petron, Kelompok Usaha Bersama
Kecamatan Kaur Selatan, Desa Padang
Petron, Kelompok Petron Bersama
Kecamatan Kaur Selatan, Desa Padang
Petron, Kelompok Suka Maju
Kecamatan Kaur Selatan, Desa Padang
Petron, Kelompok Petron Mandiri
Kecamatan Kaur Selatan, Desa Padang
Petron, Kelompok Punjung Cempedak
Kecamatan Kaur Selatan, Desa Jembatan 2,
Kelompok Karya Tani
Kecamatan Kaur Selatan, Desa Jembatan 2,
Kelompok Mendahayu
Kecamatan Kaur Selatan, Desa Jembatan 2,
Kelompok Air Luntung
Kecamatan Maje, Desa Air Long , Kelompok
Pelita Jaya
Kecamatan Nasal, Desa Ulak Pandan,
Kelompok Sumur Putri
Kecamatan Tetap, Desa Tanjung Dalam,
Kelompok Karang Mandang
Kecamatan Kaur Tengah, Desa Tanjung
Pandan, Kelompok Tunas Harapan
Kecamatan Kaur Tengah, Desa Tanjung
Iman, Kelompok Bina Karya
Kecamatan semidang Gumay, Desa Gunung
Tiga I, Kelompok Semidang Jaya
Kecamatan semidang Gumay, Desa Suka
Merindu, Kelompok Lubuk Kalung
Kecamatan semidang Gumay, Desa Suka
Merindu, Kelompok Serkudu Jaya

xxv

no

bidang

alokasi

nama kegiatan/jenis bansos


Dana

realisasi

keterangan
volume

satuan
Kecamatan semidang Gumay, Desa
Tanjung Harapan, Kelompok Air Batang
Kecamatan semidang Gumay, Desa Kara
Dapo, Kelompok Harapan Maju
Kecamatan semidang Gumay, Desa Nusuk,
Kelompok Padang Sarintan
Kecamatan semidang Gumay, Desa
Tanjung Kemuning II, Kelompok Padang
Tupak
Kecamatan Tanjung Kemuning, Desa Selika
III, Kelompok Setia Kawan
Kecamatan Kelam Tengah, Desa tanjung
Betung II, Kelompok Langgar Yarbiah
Kecamatan Kaur Utara, Desa Simpang tiga,
Kelompok mangga dua
kecamatan padang guci hilir, desa talang
jawi II, kelompok suka maju
kecamatan padang guci hulu, desa manau
IX,2, kelompok harapan maju
kecamatan luas, desa tuguk, kelompok
semoga jaya
kecamatan kinal, desa gunung terang,
kelompok suka maju

PLTS Tersebar 50 Wp(APBN P)


Bantuan Peningkatan Infrastruktur
sosial Laboratorium Komputer Tenaga
Surya

775,880,000.00

100%

156

unit

580,000,000.00

100%

paket

Warung Informasi Masyarakat

400,000,000.00

100%

unit

Information and Communication


Technology (ICT)

710,000,000.00

100%

unit

desa merpas

Kecamatan Kaur Selatan, Bintuhan


SMA Negeri 1 Kaur
SMP Negeri 1 Kaur Selatan

xxvi

no

bidang

alokasi

nama kegiatan/jenis bansos


Dana
Perontok Padi

Bidang Ekonomi dan


Dunia Usaha

Pengembangan Komoditas Unggulan


(Kopi)

Modal Usaha
Sarana Informasi Edukasi Ekonomi
Desa

Pembinaan Lembaga
Sosial dan Budaya

realisasi

keterangan
volume

satuan

250,000,000.00

1,000,000,000.00

unit

unit

unit

unit

100%

Kelompok Masyarakat
Kecamatan Kaur Selatan, Desa Sekunyit,
Pokmas Sekunyit
Kecamatan Kaur Selatan, Desa Padang
Petron, Pokmas Padang Petron
Kecamatan Kaur Selatan, Desa Jembatan
Dua, Pokmas Jembatan Dua
Kecamatan Kaur Selatan, Kelurahan
Bandar, Pokmas Bandar

475,000,000.00

100%

375,000,000.00

100%

penguatan kelembagaan kppd

7,750,000.00

100%

KPPD Suka rami

penguatan kelembagaan kppd

7,750,000.00

100%

KPPD desa ulak bandung

penguatan kelembagaan kppd

7,750,000.00

100%

kpps desa datar lebar II

penguatan kelembagaan kppd

7,750,000.00

100%

KPPD maju bersama

penguatan kelembagaan kppd

7,750,000.00

100%

KPPD kemiling sakti

penguatan kelembagaan kppd

7,750,000.00

100%

KPPD Karya Muda

penguatan kelembagaan kppd

7,750,000.00

100%

KPPD Desa Benua Ratu

penguatan kelembagaan kppd

7,750,000.00

100%

KPPD Al Muhajirin

penguatan kelembagaan kppd

7,750,000.00

100%

KPPD Desa Jawi

penguatan kelembagaan kppd

7,750,000.00

100%

KPPD Harapan Maju Desa Sukarami I

penguatan kelembagaan kppd

7,750,000.00

100%

KPPD Bungin Tambun II

penguatan kelembagaan kppd

7,750,000.00

100%

KPPD Desa Bungin Tambun I

penguatan kelembagaan kppd

7,750,000.00

100%

KPPD Mulya Jaya

penguatan kelembagaan kppd

7,750,000.00

100%

KLP Penggerak Pembangunan Desa

Sekunyit Makmur, Harapan Bersama,


Sabura Jaya, Suka Maju, Tebat Raya

xxvii

no

bidang

alokasi

nama kegiatan/jenis bansos


Dana

Pengembangan daerah
Khusus

penguatan kelembagaan kppd


Peningkatan Jalan Desa Penantian Tanjung Bunian
Peralatan Pengolahan Komoditas Kopi

realisasi

keterangan
volume

satuan

7,750,000.00

100%

P2SEDT Desa Guru Agung II

1,000,000,000.00

100%

Kecamatan Kelam Tengah

200,000,000.00

100%

OMS Talang Tanjung Aur

Sumber : http://www.kemenegpdt.go.id/bansos diakses pada tanggal 10 April 2014, rekapitulasi kegiatan bansos tahun 2012

, diolah

Lampiran 4
Bantuan Sosial Kabupaten Kaur Tahun 2013
no

bidang

alokasi

nama kegiatan/jenis bansos


dana

Bidang Pengembangan
Sumber daya

bidang peningkatan
infrastruktur

Alat Kesehatan Poskesdes


Alat Peraga Penunjang Pendidikan
Keaksaraan
Fasilitasi Peningkatan Keterampilan
Pengolahan Potensi Lokal di DT
fasilitasi Penerapan teknologi dan inovasi
untuk pengembangan komoditas
unggulan sektor pertanian, perkebunan
dan perikanan, di DT
fasilitasi pemanfaatan limbah menjadi
biogas untuk DT
koordinasi dan fasilitasi usaha masyarakat
di sekitar tambang
Bantuan Peningkatan Infrastruktur sosial
Prasarana dan sarana pendidikan

keterangan

realisasi

volume

100%

20

paket

kepmen pdt no 148 tahun 2013

895,000,000.00

paket

kepmen pdt no 148 tahun 2013

225,000,000.00

paket

kepmen pdt no 148 tahun 2013

240,000,000.00

paket

kepmen pdt no 148 tahun 2013

150,000,000.00

paket

kepmen pdt no 148 tahun 2013

150,000,000.00

paket

kepmen pdt no 148 tahun 2013

paket

rekap kegiatan bansos tahun 2013

1,290,000,000.00

satuan

xxviii

no

bidang

alokasi

nama kegiatan/jenis bansos


dana
bantuan peningkatan infrastruktur
peralatan pendukung/alat-alat berat
bantuan peningkatan infrastruktur jalan
desa
Bantuan pengadaan Sarana Kesehatan
Mobil Tanki Air
Bantuan pengadaan sarana alat kesehatan

realisasi

keterangan
volume

satuan

paket

rekap kegiatan bansos tahun 2013

1,000,000,000.00

paket

Kepmen PDT no 141 tahun 2013

476,000,000.00

paket

Kepmen PDT no 141 tahun 2013

4,960,000,000.00

paket

Kepmen PDT no 141 tahun 2013

Bantuan pembangunan sarana air bersih

paket

rekap kegiatan bansos tahun 2013

Warung Informasi Masyarakat


bantuan peningkatan infrastruktur
handtractor
bantuan peningkatan infrastruktur mobil
rice miller
bantuan peningkatan infrastruktur pasar
desa

510,000,000.00

unit

Kepmen PDT no 141 tahun 2013

236,400,000.00

20

unit

Kepmen PDT no 141 tahun 2013

280,500,000.00

paket

Kepmen PDT no 141 tahun 2013

720,000,000.00

paket

Kepmen PDT no 141 tahun 2013

PLTS Tersebar 50 Wp

129,026,000.00

30

unit

Kepmen PDT no 141 tahun 2013

1,807,586,000.00

unit

Kepmen PDT no 141 tahun 2013

500,000,000.00

paket

Kepmen PDT no 141 tahun 2013

PLTS Terpusat 10 Kw
bantuan peningkatan infrastruktur jalan
non status
bantuan sosial bibit kopi
3

ekonomi dan dunia usaha

pembinaan lembaga sosial


dan budaya

pengembangan daerah

kepmen pdt no 337 tahun 2012

bantuan sosial hand tractor

600,000,000.00

paket

kepmen pdt no 13 tahun 2013

bantuan motor roda tiga

450,000,000.00

paket

kepmen pdt no 13 tahun 2013

bantuan sosial pompa air

1,500,000,000.00

paket

kepmen pdt no 13 tahun 2013

bantuan sosial pengembangan kopi


pengembangan ukm bidang sosial dan
budaya

1,000,000,000.00

paket

kepmen pdt no 122 tahun 2013

100,000,000.00

bantuan kemandirian kelembagaan KPPD

215,280,000.00

rintisan jalur evakuasi / tanggul dan

240,000,000.00

APBN P

kepmen pdt no 56 tahun 2013


8

kelompok

kepmen pdt no 56 tahun 2013


kepmen PDT no 154 tahun 2013

xxix

no

bidang

alokasi

nama kegiatan/jenis bansos


dana

khusus

realisasi

keterangan
volume

satuan

sarana air bersih untuk pencegahan krisis


air bersih
pembangunan jalan produksi

1,500,000,000.00

kepmen PDT no 154 tahun 2013

Sumber : http://www.kemenegpdt.go.id/bansos diakses pada tanggal 10 April 2014, Bappeda Kabupaten Kaur, 2014, Kepmen PDT no 154 tahun
2013, Kepmen PDT no 56 Tahun 2013, kepmen pdt no 122 tahun 2013, Kepmen PDT no 141 tahun 2013, rekapitulasi kegiatan bansos tahun
2013, kepmen pdt no 148 tahun 2013, diolah

xxx

PEDOMAN WAWANCARA
Untuk Penelitian
Persepsi Stakeholder terhadap Program Bantuan Sosial KPDT
di Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu

Identitas Responden
Nama

Alamat

Pekerjaan

Pertanyaan
1.

Bagaimana peran KPDT pada level daerah?

2.

Apa saja program yang sudah diturunkan KPDT di Kabupaten Kaur?


Bagaimana bentuk program yang diturunkan oleh KPDT di Kabupaten
Kaur?
(bentuk, bagaimana dana dan mekanisme, apakah tepat sasaran)

3.

Bagaimana efektifitas bantuan sosial yang diberikan KPDT di Kabupaten


Kaur?

4.

Bagaimana pendapat pemerintah daerah terkait program yang diturunkan


oleh KPDT?
Apakah sangat bermanfaat atau memberikan dampak pada Kabupaten Kaur?

5.

Jika ia, Apa contoh manfaat yang didapat?


Jika tidak, kenapa program tersebut tidak memberikan manfaat kepada
kabupaten Kaur?

6.

Apakah program KPDT di Kabupaten Kaur berjalan lancar?

7.

Bagaimana keberlanjutan program yang diberikan oleh KPDT di Kabupaten


Kaur?

8.

Secara kualitatif, bagaimana pendapat mengenai peran KPDT pada level


daerah? Terkait juga dengan program-program KPDT pada level daerah.

9.

Bagaimana komitmen KPDT dalam pembangunan daerah tertinggal?

10.

Apakah terdapat keluhan-keluhan terkait program-program KPDT yang


diterapkan di Kabupaten Kaur?

xxxi

Biasa diberikan dalam bentuk barang


Terkadang, bantuan diberikan dalam bentuk uang
sebagai modal usaha
Terdapat pusat edukasi di desa
Kualitas kopi yang dihasilkan meningkat
kopi yang dihasilkan sudah dapat dijual ke luar
daerah
Pemanfaatan modal secara maksimal
Masyarakat dapat
beraktifitas ekonomi secara
langsung
lebih baik (berwirausaha)
Kehidupan perekonomian di Kaur meningkat
Peningkatan aktivitas di daerah-daerah
Peningkatan perekonomian secara tidak langsung
Pembukaan akses ke desa dengan pembangunan
jalan desa
Pemberian handtraktor untuk bercocok tanam
bagi wanita tani
Peningkatan produksi kopi, umbi-umbian
Pemberian bibit kopi dan karet
Handtraktor untuk bercocok tanam
Pemberian bibit kambing
Peralatan pengolahan hasil alam
Pengolahan kopi menjadi lebih cepat dan mudah
Proses pemasaran kopi menjadi lebih mudah
Kegiatan bercocok tanam dengan memanfaatkan
pekarangan
Produk kopi dengan kualitas yang lebih bagus
Produk kopi dengan kuantitas yang lebih besar
Pemenuhan kebutuhan sehari-hari dari hasil
bercocok tanam
Bantuan sosial yang diberikan sudah sesuai
dengan kebutuhan
Bantuan sosial yang diberikan perlu menjadi
perhatian khusus
Adanya kesesuaian bantuan dengan kebutuhan
daerah
Ada pendampingan dan pengawasan
Ada perawatan
Beberapa bansos dikumpulkan di pondok pusaka
(untuk sampel)
Ada bantuan pemasaran walaupun masih
bermasalah
Tidak ada bansos yang tidak dimanfaatkan
Ada peralatan yang tidak dapat digunakan karena
daya listrik tidak cocok

Bentuk bantuan sosial yang telah


diberikan kepada masyarakat
Pencapaian hasil yang diharapkan
oleh KPDT
Peningkatan perekonomian
masyarakat Kabupaten Kaur

Persepsi stakeholders
terhadap efektifitas
bantuan sosial

Manfaat tidak langsung dari bansos


Manfaat langsung dari bansos
Manfaat jangka panjang bansos
Manfaat jangka pendek bansos

Usaha meningkatkan produktivitas


SDM Kabupaten Kaur
Usaha meningkatkan kualitas SDA
Kabupaten Kaur

Persepsi stakeholders
terhadap manfaat dari
bantuan sosial

Persepsi
stakeholders
terhadap program
bantuan sosial
KPDT di
Kabupaten Kaur
Provinsi Bengkulu

Persepsi stakeholders
terhadap kesesuaian
bantuan sosial
dengan kebutuhan

Pemahaman akan kebutuhan daerah


oleh KPDT
Keberlanjutan bantuan sosial KPDT
di Kabupaten Kaur
Ketidakberlanjutan bantuan sosial
KPDT di Kabupaten Kaur

Persepsi stakeholders
terhadap
keberlanjutan
bantuan sosial
xxxii