Anda di halaman 1dari 17

PENYELESAIAN PELANGGARAN ETIKA PERAWAT

Disusun untuk memenuhi Tugas


Mata Kuliah: Etika dan Hukum Kesehatan

Oleh:
Ike Puspitaningrum

22020113410037

Kori Limbong

22020113410038

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2013

DAFTAR ISI

Halaman Judul........................................................................................................ i
Daftar Isi ...............................................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latarbelakang....................................................................................

B. Permasalahan......................................................................................

BAB IITINJAUAN PUSTAKA


A. Pengertian...........................................................................................

B. AspekYuridis....................................................................................

C. AspekKeperawatan...........................................................................

BAB IIIPEMBAHASAN
A. StudiKasus.........................................................................................

B. AnalisaKasus....................................................................................

C. PengambilanKeputusanEtis..............................................................

10

D. Pelanggaran yang dilakukandaritinjauan

11

Undang-Undangdankodeetikperawat.............................................
E. PenyelesaianPelanggaranEtikaPerawat...........................................

12

F. SanksiPelanggaranEtikaPerawat.....................................................

13

BAB IV PENUTUP
A. Simpulan............................................................................................

14

B. Saran...................................................................................................

14

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. LatarBelakang
Keperawatan merupakan pelayanan profesional yang integral dari pelayanan
kesehatan berfokus pada bio, psiko, sosial dan spiritual yang diberikan kepada
individu, keluarga,kelompok dan masyarakat. Sasaran pelayanan keperawatan adalah
manusia,

maka

dalam

memberikan

pelayananperawat

harus

benar-benar

memperhatikan faktor etika karena sejalan dengan semakin berkembangnya ilmu


pengetahuan dan teknologi.Masyarakat semakin paham atas hak-hak individu,
kebebasandalam memberikan dan mengemukakan pendapat dan tanggung jawab
dalam melindungi hak yang dimiliki. Kemajuan dan teknologi dan dampaknya
terhadap kehidupan sosial, politik dan ekonomi membuat semakin tingginya perhatian
pada dimensi etika praktik asuhan keperawatan (Gold, Chambers &Dvorak, 1995).
Etika bagi perawat adalah suatu pedoman bagi perawat yang digunakan dalam
pemecahan masalah dan pengambilan keputusan etis baik dalam area praktek,
pendidikan, administrasi maupun penelitian. Etika keperawatan menghasilkan
informasi tentang moral, perawat yang peka terhadap masalah yang dihadapi, perawat
yang bertanggung-gugat dan mempunyai kemampuan untuk mengambil keputusan
etis dalam praktik keperawatan. Kemampuan untuk membuat suatu keputusan yang
merupakan sesuatu yang esensial dalam praktik keperawatan profesional (Fry, 2002).
Standar pelayanan profesional serta refleksi dari moral pelayanan tertuang dalam kode
etik perawat (RR.Pujiastuti & Purba, 2010). Apabila seseorang melanggar kode etik
profesi, organisasi profesi dapat memberikan sanksi atau mengeluarkan anggota
tersebut (Suhaemi,2003).
Pada saat menghadapi masalah yang menyangkut etika, perawat harus
mempunyai

kemampuan

yang

baik

untuk

pasien

maupun

dirinya.

Beberapa ahli menyatakan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, perawat sebenarnya


telah menghadapi permasalahan etis, bahkan Thompson dan Thompson menyatakan
semua keputusan yang dibuat dengan, atau tentang pasien mempunyai dimensi etis.
Setiap perawat harus dapat mendeterminasi dasar-dasar yang dimiliki dalam membuat
keputusan misalnya agama, kepercayaan atau falsafah moral tertentu yang
menyatakan hubungan kebenaran atau kebaikan dengan keburukan.Beberapa orang

membuat keputusan dengan mempertimbangkan segi baik dan buruk dari


keputusannya, ada pula yang membuat keputusan berdasarkan pengalamannya.

B. Permasalahan
Pelaksanaan praktek keperawatan didasarkan pada kewenangan dan keahlian
yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan kesehatan masyarakat, perkembangan
ilmu pengetahuan dan tuntutan globalisasi. Asuhan keperawatan dilaksanakan dengan
menjunjung nilai-nilai profesional, salah satunya adalah prinsip etika keperawatan.
Tanggungjawab perawat terhadap pelayanan telah diatur oleh undang-undang
kesehatan, permenkes, dan kode etik profesi. Dengan semakin majunya teknologi dan
masyarakat yang semakin kritis dalam menerima pelayanan, perawat harus bisa
memberikan pelayanan dengan sangat profesional. Pasien dan keluarga dapat
menuntut haknya apabila tidak mendapatkan pelayanan sesuai standar pelayanan yang
sekarang sudah disosialisasikan kepada masyarakat umum, setiap masuk rumah sakit.
Dengan kondisi seperti tuntutan kepada perawat akan hak-hak pasien semakin tinggi
dan jika seorang perawat melakukan pelanggaran etik akan sangat mudah untuk pasien
menuntut haknya. Dalam hal ini penulis ingin memaparkan bagaimana cara
menyelesaikan permasalahan pelanggaran etika perawat tersebut?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian
1. EtikaKeperawatan
Etika keperawatan adalah bagaimana perawat wajib bertingkah laku. Etika
keperawatan merujuk pada standar etik yang menentukan dan menuntun perawat
dalam praktek sehari-hari (Fry,2002).
Etika keperawatan menghasilkan informasi tentang moral, perawat yang peka
terhadap masalah yang dihadapi, perawat yang bertanggung-gugat dan
mempunyai kemampuan untuk mengambil keputusan etis dalam praktik
keperawatan. Kemampuan untuk membuat suatu keputusan yang merupakan
sesuatu yang esensial dalam praktik keperawatan profesional (Fry, 2002).

2. PrinsipEtika
a. Kejujuran
Kejujuran adalah menyatakan hal yang sebenarnya dan tidak berbohong
(Purba & Pujiastuti, 2009). Prinsip kejujuran didefinisikan untuk menyatakan
hal yang sebenarnya dan tidak berbohong (Veatch dan Fry, 1987). Kejujuran
merupakan dasar terbinanya hubungan saling percaya perawat-pasien.
Mengatakan yang sebenarnya mengarahkan perawat untuk menghindari
kebohongan pada pasien atau menipu pasien. Jujur bukan berarti mengatakan
semua yang diketahui apa adanya, tetapi mengatakan apa yang diketahui
sepanjang

mengandung

kebaikan.

Kejujuran

disampaikan

dengan

keputusan

sendiri.

bertanggung jawab (affan, 2013).

b. Otonomi
Otonomi

merupakan

hak

untuk

membuat

Menghormati otonomi menyangkut penghormatan terhadap otonomi individu


untuk dengan bebas menentukan sendiri apa yang akan dilakukan.Setiap
orang mempunyai mempunyai hak dasar untuk membuat keputusan yang
penting dalam program pengobatan (Purba & Pujiastuti, 2009).
Prinsip otonomi sangat penting dalam praktik keperawatan. Jahn (2011)
menyebutkan ada tigakondisi yang harusada untukbertindak secara otonom,
4

yaitu intensionalitas/niat, memahami dan tidak adanya pengendalian


pengaruh yang menentukan tindakan mereka.

c. Bersifatadil
Justice(keadilan)menyangkut kewajiban untuk memperlakukan setiap
orang sesuai dengan apa yang baik dan benar dan memberikan apa yang yang
menjadi hak pada setiap orang.Prinsip keadilan mewajibkan untuk secara adil
mendistribusikan manfaat, risiko, biaya, dan sumber daya. Aturan prinsip
keadilan dalam Jahn (2011):(1) Untuk setiap orang bagian yang sama, (2)
Untuk setiap orang sesuai dengan kebutuhan, (3) Untuk setiap orang sesuai
dengan usaha, (4) Untuk setiap orang sesuai dengan kontribusi, dan (5) Untuk
setiap orang sesuai dengan pantas.

d. Berorientasipadaasasmanfaat
Nonmaleficence (tidak merugikan orang lain/jangan mencelakakan)
berarti tidak melukai atau tidak menimbulkan bahaya/cidera bagi orang lain.
Prinsip nonmaleficence menyatakan bahwa ada kewajiban untuk tidak
menimbulkan kerugian pada orang lain. Prinsip nonmaleficence mendukung
aturan berikut (Jahn, 2011) : (1) Jangan membunuh, (2) Tidak menyebabkan
rasa sakit atau penderitaan, (3) Jangan melumpuhkan (membuat tidak
mampu), dan (4) Jangan menyebabkan pelanggaran, melukai orang lain.

e. Beneficience
Beneficience merupakan prinsip untuk melakukan yang baik dan tidak
merugikan orang lain. Inti dari prinsip beneficience adalah tanggungjawab
untuk melakukan kebaikan yang menguntungkan pasien dan menghindari
perbuatan yang merugikan atau membahayakan pasien.Prinsip beneficience
adalah kewajiban moral bertindak untuk kepentingan orang lain. Terdapat
dua

aspek

beneficience,

menyeimbangkan

manfaat

yaitu
dan

(1)

memberikan

risiko/bahaya.

manfaat

Prinsip

dan

(2)

beneficience

mendukung aturan-aturan moral atau kewajiban berikut: (1) Melindungi dan


membela hak-hak orang lain, (2) Mencegah bahaya dari terjadi kepada orang
lain, (3) Menghilangkan kondisi yang akan menyebabkan kerusakan, (4)

Memberikan bantuan penyandang cacat dan (5) Menyelamatkan orang-orang


dalam bahaya (Jahn, 2011).

f. Memegangkerahasiaan
Confidentiality (kerahasiaan) merupakan bagian dari privasi, seseorang
bersedia

untuk

menjaga

kerahasiaan

informasi.

Perawat

harus

mempertahankan kerahasian data tentang pasien baik secara verbal maupun


informasi tertulis. Praktik confidentiality terdiri dari tiga aspek, berupa subjek
individu atau perawatan kesehatan yang berhubungan dengan pasien,
hubungan profesional perawat dengan pasien serta menjelaskan prosedur
pertukaran informasi yang secara logis dapat menerima, mengizinkan,
mengakses informasi yang bertujuan untuk memfasilitasi komunikasi sensitif
dan mengeluarkan larangan individu (Purba & Pujiastuti, 2009).

B. AspekYuridis
Di indonesia belum ada undang-undang khusus mengatur tentang keperawatan,
meski demikian peraturan hukum yang ada di dalam berbagai peraturan perundangundangan dapat diterapkan bagi perawat.Peraturan yang dapat dijadikan landasan
hukum bagi perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan adalah:
1.

UU No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan

2.

UU No.44 tentang Rumah Sakit

3.

PP 32/1996 pasal 22

ayat (1): bagi tenaga kesehatan jenis tertentu dalam

melaksanakan tugas profesinya berkewajiban untuk:


a. Menghormati hak klien
b. Menjaga kerahasiaan identitas dan data kesehatan pribadi pasien
c. Memberikan informasi yang berkaitan dengan kondisi dan tindakan yang
dilakukan
d. Meminta persetujuan terhadap tindakan yang dilakukan
e. Membuat dan memelihara rekam medik.
4.

PP 32 /1996 : Melakukan Upaya Kesehatan Tanpa Ijin

5.

PP No. 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan

6.

KUHP pasal 322 ayat (1) Barang siapa dengan sengaja membuka rahasia yang
wajib disimpan karena jabatan atau pencariannya baik sekarang maupun yang
terdahulu diancam dengan hukuman penjara.
6

7.

KUHP

pasal

359:

Menyebabkan

meninggalnya

cacatBarangsiapakarenakealpaannyamenyebabkanmatinya

seseorang

atau

orang

lain,

diancamdenganpidanapenjara paling lama lima tahunataukurungan paling lama


satutahun.
8.

KUHPPasal

360:

kelalaian

yang

mengakibatkanterancamnyakeselamatanjiwaseseorangdapatdiancamdengansanksi
pidana.

Hak-hak pasien diatur dalam:


1.

Declaration of Lisbon (1991) : The Rights of the patient

2.

UU No.29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, Pasal 52 dan 53.

3.

SE Ditjen Yanmed Depkes RI No YM.02.04.3.5.2504 : Pedoman Hak dan


kewajiban pasien, dokter dan RS

C. AspekKeperawatan
1. KodeEtikPerawatan
Sesuai Keputusan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia
(PPNI) No: 023/PP.PPNI/SK/K/XII/2009 ada 5 Kode Etik yang harus dilaksanakan
oleh seorang perawat dalam menjalankan praktek/asuhan keperawatanyaitu:
a. Perawat dan Klien
1) Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan menghargai harkat dan
martabat manusia, keunikan klien, dan tidak terpengaruh oleh pertimbangan
kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik, dan
agama yang dianut serta kedudukan social.
2) Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan senantiasa memelihara
suasana lingkungan yang menghormati nilai-nilai budaya, adat istiadat dan
kelangsungan hidup beragama dari klien
3) Tanggung jawab utama perawat adalah kepada mereka yang membutuhkan
asuhan keperawatan
4) Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui sehubungan
dengan tugas yang dipercayakan kepadanya kecuali jika diperlukan oleh
berwenang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

b. Perawat dan Praktik


1) Perawat memelihara dan meningkatkan kompetisi dibidang keperawatan
melalui belajar terus menerus
2) Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi
disertai kejujuran professional yang menerapkan pengetahuan serta
keterampilan keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien.
3) Perawat dalam membuat keputusan didasarkan pada informasi yang akurat
dan mempertimbangkan kemampuan serta kualifikasi seseorang bila
melakukan konsultasi, menerima delegasi dan memberikan delegasi kepada
orang lain
4) Perawat senantiasa menjunjung tinggi nama baik profesi keperawatan
dengan selalu menunjukkan perilaku professional

c. Perawat dan Masyarakat


Perawat mengemban tanggung jawab bersama masyarakat untuk memprakarsai
dan mendukung berbagai kegiatan dalam memenuhi kebutuhan dan kesehatan
masyarakat.

d. Perawat dan Teman Sejawat


1) Perawat senantiasa memelihara hubungan baik dengan sesama perawat
maupun dengan tenaga kesehatan lainnya, dan dalam memelihara
keserasian suasana lingkungan kerja maupun dalam mencapai tujuan
pelayanan kesehatan secara menyeluruh
2) Perawat bertindak melindungi klien dari tenaga kesehatan yang memberikan
pelayanan kesehatan secara tidak kompeten, tidak etis dan illegal.

e. Perawat dan Profesi


1) Perawat mempunyai peran utama dalam menentukan standar pendidikan
dan pelayanan keperawatan serta menerapkannya dalam kegiatan pelayanan
dan pendidikan keperawatan
2) Perawat berperan aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan profesi
keperawatan

3) Perawat berpartisipasi aktif dalam upaya profesi untuk membangun dan


memelihara kondisi kerja yang kondusif demi terwujudnya asuhan
keperawatan yang bermutu tinggi.

2. Sanksiolehprofesi
Sanksi admisnistratif pada perawat yang melakukan tindakan pelanggaran (Ta,adi.
2013):
Permenkes RI No.HK.02.02./Menkes/148/I/2013
a.

Pasal 13 :
(1). Pemerintah dan pemerintah daerah melakukan pembinaan dan
pengaswasan dengan mengikutsertakan organisai profesi.
(2). Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diarahkan untuk meningkatkan mutu pelayanan,keselamatan pasien
dan melindungi masyarakat terhadap segala kemungkinan yang dapat
menimbulkan bahaya bagi kesehatan.

b.

Pasal 14:
(1). Dalam rangka pelaksanaan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam
pasal 13, pemerintah dan pemerintah daerah dapat memberikan
tindakan administratif kepada perawat yang melakukan pelanggaran
terhadap ketentuan penyelenggaraan praktek dalam peraturan ini.
(2). Tindakan administratif sebagaimana dimaksud

pada ayat (1)

dilakukan melalui:
a. Teguran Lisan,
b. Teguran tertulis,
c. Pencabutan surat ijin praktik perawat

BAB III
PEMBAHASAN

A. Studi Kasus
Tn. P adalah seorang ayah dari 2 anak berusia 44 tahun.Tn. P mengeluh sering
demam, diare dan menderita sariawan yang tidak sembuh-sembuh sudah hampir 2
bulan, berat badan turun lebih dari 5 Kg. Tn P tidak menganggap serius penyakitnya
sehingga dia hanya berusaha minum obat warung dan belum sembuh juga akhirnya
keluarganya membawa Tn. P ke RSUP S. Tn. P meminta kepada Ners W untuk segera
memberitahu hasil pemeriksaannya. Dari hasilpemeriksaan yang dilakukan Tn. P
positif menderita HIV/AIDS.
NersW yang merawat Tn.P kebetulan sudah bekerja selama 10 tahun di bangsal
B20 ini. Tn.P meminta Ners W untuk tidak memberitahukan mengenai penyakit ini
kepada istri pasien ataupun kepada keluarganya. Tn.P takut ditinggalkan istrinya dan
dikucilkan keluarganya. Ners W mengalami dilemma etik dimana di satu sisi diaharus
memenuhi permintaan pasien namun di sisi lain Ners W memahami bayaha penularan
HIV/AIDS yang rentan terjadi pada keluarga. Atas pertimbangan pencegahan
penularan HIV/AIDS Ners W akhirnya memberitahu kondisi Tn.P kepada istri dan
keluarganya.
Respon istri sangat terkejut dan tidak bisa menerima kenyataan, dia
mempersalahkan suami dan berniat meninggalkan suaminya. Dengan keadaan seperti
ini Tn.P merasa terpojok dan mempersalahkan Ners W yang telah memberitahu
sakitnya kepada istri dan keluarga. Tn.P tidak terima dan ingin menuntut Ners W yang
tidak bisa menjaga rahasianya.

B. Analisa Kasus
Prinsip etika mempunyai peranan penting dalam menentukan perilaku yang
beretika dan dalam pengambilan keputusan etis. Prinsip etika berfungsi untuk
membuat secara spesifik apakah suatu tindakan dilarang, diperlukan atau diizinkan
dalam suatu keadaan. Pada kasus Tn.P ners W perlu mempertimbangkan prinsipprinsip etika sebelum mengambil suatu keputusan. Permintaan Tn.P untuk
merahasiakan penyakitnya merupakan privasi pasien yang harus dihormati.
Kerahasiaan (confidentiality) merupakan bagian dari privasi, seseorang bersedia
untuk menjaga kerahasiaan informasi. Confidentiality adalah sesuatu yang
10

professional dan merupakan kewajiban yang etis dalam menggunakan penggalian


pengetahuan pasien untuk meningkatkan kualitas perawatan pasien dan bukan untuk
tujuan lain seperti menggosip dan kepentingan orang lain. Perawat harus
mempertahankan kerahasian data tentang pasien baik secara verbal maupun informasi
tertulis.
Pada kasus Tn.P menjaga kerahasian data pasien adalah sesuatu yang khusus dan
penting dalam perawatan pasien HIV/AIDS. Meskipun pada kenyataannya,
masyarakat memberikan label/stigma kepada setiap orang yang didiagnosis
HIV/AIDS.

Setiap

pelanggaran

terhadap

prinsip

confidentiality

seperti

memberitahukan data pasien, diagnosis pasien, gejala yang muncul dan hasil
pengobatan tanpa mendapat persetujuan dari pasien akan mempengaruhi kualitas
hidup pasien.

Seperti yang terjadi pada Tn.P dampak dari ners W yang

memberitahukan diagnosis kepada istrinya, membuat Tn.P ditinggalkan oleh istrinya


ini tentunya akan berdapak pada kehidupan dan kulitas hidup Tn.P.

C. PengambilanKeputusanEtis
Pengambilan keputusan oleh Ners W untuk memberitahukan diagnosis Tn.P pada
istri seharusnya mempertimbangkan akibat dari tindakan yang diambil. Tahapan yang
bisa dipertimbangkan oleh Ners W dalam pembuatan keputusan adalah:
1. Mengumpulkaninformasidanidentifikasimasalah/isu.
a. Tentukanfaktaatassituasitersebut.
b. Identifikasikomponenetika.
c. Identifikasi orang-orang yang terlibatdansiapasaja yang perludilibatkan.
d. Nyatakanmasalah/isu/dilemasecarajelassedapatmungkin.
2. Klarifikasidanevaluasi.
a. Berusahamenjelaskanisu/dilemadenganmempertimbangkanprinsipetik yang
bertentangandenganisu. Iniakanmenjelaskandasaralamiahsuatudilema.
b. Empatpertanyaan yang bergunauntukmenentukanfaktasebuahsituasiklinis,
yaituinsdikasihidupdanhal-hal lain yang terkait (keluarga, finansial, agama,
jaraktempattinggal, dan lain-lain).
c. Kodeetikaprofesidaripenyediajasakesehatan yang
terkibatlangsungharusdipertimbangkandandiidentifikasinilaikonfliknya.
d. Identifikasidancarinilaisosialdankultural.

11

e. Pertimbangkankebutuhanakanlegalitasuntukmenentukankomplainterhadaph
ukumdankebijakan yang berlaku.
f. Identifikasidanpertimbangannilaidankepercayaanpihak yang terlibattidak.
g. Bertentangandengannilai NOR-MAN Regional Health Authority.
h. Identifikasinilaikonflik yang aktualdanpotensial.
Pada langkah ini informasi sebelumnya dipertimbangkan sebagai data baru.
3. Tindakandanpertimbangan.
a. Identifikasitindakanapasaja yang dapatdilakukan,
analisiskonsekuensidanhasilnya.
b. Jelaskansecaragarisbesartanggungjawabpeserta.
c. Buatkeputusandanbertindak.
d. Evaluasihasilkeputusandanbuatamandemen yang sesuai.

Kasus yang terjadi pada Ners W, tidak mempertimbangkan tahapan tersebut


dalam mengambil keputusan, sehingga dia melakukan pelnggaran prinsip etika, yaitu
tidak dapat menjaga kerahasian pasien.

D. Pelanggaran yang dilakukan dari tinjauan kode etik perawat


Dasar hukum pelanggaran kode etik keperawatan dalam hal tidak menjaga rahasia
pasien :
1. Permenkes RI No.HK.02.02./Menkes/148/I/2013 pasal 12 bagian (c): perawat
wajib menyimpan rahasia sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
2. Permenkes No.1239/Menkes/Per/XI/2001 pasal 16:
a. Menghormati hak pasien
b. Merujuk kasus yang dapat ditangani
c. Menyimpan rahasia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
3. PP 32/1996 pasal 22

ayat (1): bagi tenaga kesehatan jenis tertentu dalam

melaksanakan tugas profesinya berkewajiban untuk:


a. Menghormati hak klien
b. Menjaga kerahasiaan identitas dan data kesehatan pribadi pasien
4. Keputusan Musyawarah Nasional IV PPNI No. 08/Munas IV/PPNI/1989 Tentang
Ikrar perawat Indonesia no.5: kami perawat Indonesia memegang teguh segala

12

rahasia yang berhubungan dengan tugas, kecuali jika diperlukan oleh yang
berwenang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
5. Pelanggaran kode etik keperawatan yang dilakukan telah Ners W:
Hak pasien memperoleh informasi tentang diagnosis penyakitnya sudah
didapatkan oleh pasien. Tetapi ners W melanggar hak pasien tentang hak
mendapat privasi selama pemeriksaan kesehatan dan pengobatan.Ners W
tidakbisamenjagakerahasianinformasidiagnosis penyakit pasiendarikeluarganya.
Perawat berhak mendapatkan informasi secara lengkap dari pasien dan
keluarga tentang keluhan kesehatan dan perawat juga mempunyai kewajiban
untuk menghormati hak-hak pasien. Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu
yang diketahui tentang pasien kecuali diminta keterangan oleh pihak berwenang.
Hubungan antara perawat dan pasien, perawat harus benar-benar memahami
tentang hak-hak pasien dan harus melindungi hak tersebut , salah satunya adalah
hak untuk menjaga privasi pasien.

E. Penyelesaian Pelanggaran Etika Perawat


Perawat yang melakukan pelanggaran etika akan dirujuk oleh bagian keperawatan
kepada komite etik untuk menyelesaikan permasalahannya dengan aturan profesi atau
penyelesaian berdasarkan hukum yang berlaku di Indonesia apabila pelanggaran yang
dilakukan berat, yang dapat mengancam hilangnya nyawa seseorang.
Pada kasus Ners W, perawat akan mendapatkan teguran dari atasan kemudian
mendapatkan pembinaan dari majelis kode etik. Majelis kode etik mengani kasus Ners
W berdasarkan standar pelayanan, wewenang profesi dan kode etik profesi
keperawatan. Apanila ners W terbukti melakukan pelanggaran maka akan
mendapatkan pembinaan dan sanksi berupa sanksi sosial atau sanksi administratif.
Sanksi sosial dapat berupa tidak digunakannya jasa perawat dalam memberikan
pelayanan kepada masyarakat. Sanksi administratif berupa pencabutan Surat ijin
praktik perawat (SIPP).

13

F. Sanksi Pelanggaran Etika Perawat


Sanksi admisnistratif pada perawat yang melakukan tindakan pelanggaran(Ta,adi.
2013):
a.

Permenkes RI No.HK.02.02./Menkes/148/I/2013
Pasal 13:
(1).

Pemerintahdanpemerintahdaerahmelakukanpembinaandanpengaswa
sandenganmengikutsertakanorganisaiprofesi.

(2).

Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


diarahkan untuk meningkatkan mutu pelayanan,keselamatan pasien
dan melindungi masyarakat terhadap segala kemungkinan yang
dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan.

Pasal 14:
(1). Dalam rangka pelaksanaan pengawasan sebagaimana dimaksud
dalam pasal 13, pemerintah dan pemerintah daerah dapat
memberikan tindakan administratif kepada perawat yang melakukan
pelanggaran terhadap ketentuan penyelenggaraan praktek dalam
peraturan ini.
(2). Tindakan administratif sebagaimana dimaksud

pada ayat (1)

dilakukan melalui:
a. Teguran Lisan,
b. Teguran tertulis,
c. Pencabutan Surat Ijin Praktik Perawat (SIPP).

14

BAB IV
PENUTUP

A. Simpulan
Asuhan keperawatan dilaksanakan dengan menjunjung nilai-nilai profesional,
salah satunya adalah prinsip etika keperawatan. Prinsip Etika meliputi kejujuran,
Otonomi, Justice, Nonmaleficence, Beneficience, Confidentiality. Apabila seorang
perawat melakukan pelanggaran pada prinsip etik tersebut dapat dikenankan sanksi.
Sanksi admisnistratif pada perawat yang melakukan tindakan pelanggaran:Permenkes
RI No.HK.02.02./Menkes/148/I/2013 Pasal 13 ayat 1, 2 dan pasal 14 ayat 1 dan 2.
Pada saat menghadapi masalah yang menyangkut etika, perawat harus mempunyai
kemampuan yang baik untuk pasien maupun dirinya. Apabila seseorang melanggar
kode etik profesi, organisasi profesi dapat memberikan pembinaan, sanksi
administratif (pencabutan SIPP) atau mengeluarkan anggota tersebut.
Peraturan yang dapat dijadikan landasan hukum bagi perawat dalam
melaksanakan asuhan keperawatan adalah:
1.

UU No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan

2.

UU No.44 tentang Rumah Sakit

3.

PP 32/1996 pasal 22 ayat (1)

4.

PP No. 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan

5.

KodeEtikPerawatan

B. Saran
Perawat harus memahami hak dan tanggung jawab perawat yang tertuang dalam
kode etik profesi, sehingga pelanggaran dapat diminimalkan. Selain itu juga harus
paham tentang peraturan yang dapat dijadikan landasan hukum bagi perawat dalam
melaksanakan asuhan keperawatan.

15

DAFTAR PUSTAKA
Affan, U. (2013, Juni 10). PembentukanKarakterManusia. Retrieved Juli 27, 2013, from
http://www.untajiaffan.com/2013/06/pembentukan-karakter-manusia.html
Fry, S.T & Johnstone. 2002. Ethics in nursing practice. Oxford: blackwell
Gold, Chambers &Dvorak. 1995. Ethical dilemmas in the lived experience of nursing
practice. Nursing ethics, 2(2) p:373-385.
Jahn, Warren. T. 2011. Professional ethics: beyond the clinical competency. Journal of
chiropractic medicine, p:225-226.
J. guwandi. 2010. Sekitar gugatan malpraktik medik. Balai penerbit: fakultas kedokteran
universitas indonesia
Purba, J. M., &RrPujiastuti,S.E (2009). Dilema Etik dan Pengambilan Keputusan Etis
dalam Praktik Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.
Suhaemi, M. E. (2003). Etika Keperawatan: Aplikasi pada Praktik. Jakarta: EGC.
Ta,adi. 2013. Hukum kesehatan: sanksi dan motivasi bagi perawat. Jakarta : EGC

16

Anda mungkin juga menyukai