Anda di halaman 1dari 2

Kasus 1

Harry telah lulus fakultas kedokteran kuna tahun yang lalu. Ia bertemu dengan Sally,
teman lamanya di sebuah acara reuni SMP. Sally bercerita bahwa ia menderita gatal-gatal
dan kemerahan pada daerah punggung. Ia bertanya pada Harry apakah ada obat yang
manjur untuk mengatasi masalah tersebut. Harry menggoda Sally dengan mengatakan
bahwa kemungkinan gatal-gatal terjadi karena ia kurang menjaga kebersihan diri, sprei
diganti sebulan sekali. Sally agak kesal mendengarnya. Harry kemudian menganjurkan
Sally untuk membeli dexamethasone, sejenis obat yang dapat mengatasi reaksi alergi.
Dua minggu setelah kejadian, Sally menghubungi Harry dan mengatakan akan
menuntutnya karena memberi obat yang salah sehingga kondisinya memburuk. Sally
sudah pergi ke dokter spesialis dan dokter tersebut mengatakan bahwa dexamethasone
menyebabkan kondisinya makin parah.
Kasus 2
Dr. Bryan adalah dokter bedah yang terkenal bertangan dingin walaupun saat berpraktek
tidak banyak bicara. Dian membawa anaknya, Maya, yang mengalami patah tulang
lengan bawah kiri akibat jatuh dari sepeda ke dr. Bryan. Sang dokter melakukan
pemeriksaan dan melakukan operasi segera untuk memperbaiki tulang Maya yang patah.
Setelah satu minggu dirawat, dr. Bryan mempersilakan Dian membawa Maya pulang dan
kembali untuk kontrol dua minggu mendatang. Sebelum pulang, Dian teringat untuk
menanyakan mengenai perawatan luka di rumah namun dr. Bryan sudah masuk ke ruang
operasi. Sebulan kemudian, direksi RS memberitahu dr. Bryan bahwa mereka dituntut
oleh Ibu Dian karena terjadi pemendekan tulang lengan Maya. Ibu Dian berani
mengajukan tuntutan setelah mendapat informasi dari teman pamannya, seorang dokter
yang bekerja di kota lain.
Kasus 3
Dr. Yanti bekerja di sebuah IGD yang sangat ramai. Dua hari yang lalu, ia mendapatkan
giliran jaga di malam hari. Begitu ia sampai, rekan yang ia gantikan mengatakan bahwa
masih ada 15 pasien yang belum stabil dan masih perlu dirawat di IGD, dan perawat jaga
menginformasikan bahwa sudah ada sepuluh pasien baru. Dr. Yanti bekerja dengan teliti,

menyeluruh, dan cepat. Pasien yang baru saja datang adalah seorang perempuan usia 60
tahun, penderita hipertensi lama, datang dengan kondisi tekanan darah tinggi. Ia segera
memberikan obat sublingual untuk menurunkan tekanan darah dengan segera,
menginstruksikan perawat untuk memasang alat dan memberikan obat-obatan untuk
menjaga tekanan darah tidak tinggi. Dr. Yanti berpindah ke pasien di sebelah ibu tersebut,
pasien berikut bernama Dina, masuk RS pada siang hari karena serangan asma, rekan dr.
Yanti mengatakan bahwa obat-obatan telah diberikan secara intravena, tinggal terapi
lanjutan secara intramuskuler. Sambil menyuntik, dr. Yanti menyadari bahwa Dina adalah
pasien yang ketigapuluh yang dia periksa malam itu. Saat kembali ke tempat duduknya,
dr. Yanti teringat bahwa ia memberikan suntikan pada Dina secara i.v. dan bukan i.m., ia
pun segera memeriksa kondisi Dina. Untungnya tidak ada efek samping yang terjadi, dan
Dina dipulangkan dalam keadaan baik malam itu juga.
Kasus 4
Dr Ruby membuka praktek di rumahnya. Ia mulai tepat pukul tujuh malam. Pasien
pertamanya hari ini adalah ibu Santi yang mengeluhkan sakit kepala. Keluhan sakit
kepala hilang timbul sejak dua minggu yang lalu. Awalnya masih bisa diatasi dengan
parasetamol namun akhir-akhir ini sudah tidak mempan lagi. Dr. Ruby melakukan
anamnesis lengkap untuk mengetahui gejala lain yang mungkin timbul, ia melakukan
pemeriksaan menyeluruh dan memutuskan untuk merujuk Ibu Santi ke spesialis saraf di
RS agar dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut menggunakan alat yang tersedia di RS.