Anda di halaman 1dari 11

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Seorang ahli fisika Inggris bernama James Clerk Maxwell mengembangkan dasar-dasar
teori tentang elektromagnetik pada tahun 1865. Setahun kemudian, seorang ahli fisika
asal Jerman bernama Heinrich Rudolf Hertz berhasil membuktikan teori Maxwell
mengenai gelombang elektromagnetik dengan menemukan gelombang elektromagnetik
itu sendiri. Pendeteksian keberadaan suatu benda dengan menggunakan gelombang
elektromagnetik pertama kali diterapkan oleh Christian Hlsmeyer pada tahun 1904.
Bentuk nyata dari pendeteksian itu dilakukan dengan memperlihatkan kebolehan
gelombang elektromagnetik dalam mendeteksi kehadiran suatu kapal pada cuaca yang
berkabut tebal. Namun di kala itu, pendeteksian belum sampai pada kemampuan
mengetahui

jarak

kapal

tersebut.Pada

tahun

1921, Albert

Wallace

Hull menemukan magnetron sebagai tabung pemancar sinyal/transmitter yang efisien.


Kemudian transmitter berhasil ditempatkan pada kapal kayu dan pesawat terbang untuk
pertama kalinya secara berturut-turut oleh A. H. Taylor dan L. C. Young pada tahun
1922 dan L. A. Hyland dari Laboratorium Riset kelautan Amerika Serikat pada tahun
1930.Istilah radar sendiri pertama kali digunakan pada tahun 1941, menggantikan istilah
dari singkatan Inggris RDF (Radio Directon Finding), namun perkembangan radar itu
sendiri sudah mulai banyak dikembangkan sebelum Perang Dunia II oleh ilmuwan dari
Amerika, Jerman, Prancis dan Inggris. Dari sekian banyak ilmuwan, yang paling
berperan penting dalam pengembangan radar adalah Robert Watson-Watt asal
Skotlandia, yang mulai melakukan penelitiannya mengenai cikal bakal radar pada tahun
1915. Pada tahun 1920-an, ia bergabung dengan bagian radio National Physical
Laboratory. Di tempat ini, ia mempelajari dan mengembangkan peralatan navigasi dan
juga menara radio. Watson-Watt menjadi salah satu orang yang ditunjuk dan diberikan
kebebasan penuh oleh Kementrian Udara dan Kementrian Produksi Pesawat Terbang
untuk mengembangkan radar. Watson-Watt kemudian menciptakan radar yang dapat
mendeteksi pesawat terbang yang sedang mendekat dari jarak 40 mil (sekitar 64 km).
Dua tahun berikutnya, Inggris memiliki jaringan stasiun radar yang berfungsi untuk
melindungi pantainya.Pada awalnya, radar memiliki kekurangan, yakni gelombang

elektromagnetik yang dipancarkannya terpancar di dalam gelombangyang tidak


terputus-putus. Hal ini menyebabkan radar mampu mendeteksi kehadiran suatu benda,
namun tidak pada lokasi yang tepat. Terobosan pun akhirnya terjadi pada tahun 1936
dengan pengembangan radar berdenyut (pulsed). Dengan radar ini, sinyal diputus secara
berirama

sehingga

memungkinkan

untuk

mengukur

antara

gema

untuk

mengetahui kecepatan dan arah yang tepat mengenai target.


Sementara itu, terobosan yang paling signifikan terjadi pada tahun 1939 dengan
ditemukannya pemancar gelombang mikroberkekuatan tinggi . Keunggulan dari
pemancar ini adalah ketepatannya dalam mendeteksi keberadaan sasaran, tidak peduli
dalam keadaan cuaca apapun. Keunggulan lainnya adalah bahwa gelombang ini dapat
ditangkap menggunakan antena yang lebih kecil, sehingga radar dapat dipasang di
pesawat terbang dan benda-benda lainnya. Pada tahun-tahun berikutnya, sistem radar
berkembang lebih pesat lagi, baik dalam hal tingkat resolusi dan portabilitas yang lebih
tinggi, maupun dalam hal peningkatan kemampuan sistem radar itu sendiri sebagai
pertahanan militer.
1.2. Tujuan
Makalah ini membahas penelitian dan pengembangan radar FMCW (frequency
modulated continuous wave) yang digunakan untuk deteksi obyek-obyek yang terbang
di bawah ketinggian kurang dari 1000 feet dan jarak obyek kurang dari 100. radar ini
digunakan untuk memdeteksi kapal laut. Selain itu juga, radar ini juga digunakan untuk
pengawas pantai atau udara. Penelitian radar ini, didasarkan pada teknologi radar
FMCW yang sudah dikembangkan oleh PPET-LIPI yaitu radar pengawas pantai yang
menggunakan frekuensi S- band dari 2,8 sampai 3,1 GHz. Aktivitas utama pada
penelitian ini adalah untuk mengembangkan perangkat keras yang terdiri dari
pembangkit frekuensi, pemancar dan penerima.Beberapa perangkat keras merupakan
hasil pengembangan sendiri. Kinerja dari perangkat keras ini, telah diukur dan hasilnya
telah tersedia. Pengujian keseluruhan system Radar dalam lab maupun pengujian di luar
ruangan belum dilakukan karena antenna dan bagian perangkat lunak masih belum
dibuat. Berdasarkan hasil pengukuran, kinerja perangkat keras radar telah sesuai dengan
spesifikasi desain yang diharapkan. Pada makalah ini, dipresentasikan tentang penelitian

dan pengembangan tentang radar FM-CW yang diaplikasikan untuk mendeteksi obyekobyek yang terbang rendah dan kapal-kapal yang berada di sekitar area pantai.
Radar tipe ini sangat cocok untuk mendeteksi obyek-obyek yang terbang seperti,
pesawat tempur, pesawat udara tak berawak, pesawat-pesawat kecil, dimana tidak dapat
terdeteksi oleh radar konvensional. Oleh karena itu, penyusupan obyek-obyek tersebut
ke suatu negara, kecelakaan pesawat, pelanggaran batas negara dapat dihindari. Radar
ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi kapal-kapal yang ada di atas permukaan laut
dengan kemampuan beamwidth vertikalnya, selain itu radar ini dapat difungsikan untuk
radar pengawas udara 3D yang dapat memonitor obyek-obyek di atas permukaan lauat
sampai ketinggian tertentu sesuai dengan kamampuan radar. Gambar 3 dan 4
menyatakan ilustrasi radar FM-CW untuk pengawas air dan udara (ISRA 2012)
Makalah ini terdiri dari beberapa bagian sebagai berikut, Bagian I menerangkan tentang
pendahuluan, dasar tentang radar FM-CW dibahas pada bagian II, kemudian dilanjutkan
desain sistem pada bagian III, Bagian IV menjelaskan tentang proses perkembangan
radar terkini, pengukuran perangkat kerasditampilkan pada bagian V, dan bagian
terakhir IV, merupakan kesimpulan dari penelitian ini.

BAB 2
APLIKASI RADAR FM-CW UNTUK PENGAWASAN OBYEK TERBANG
PADA KAWASAN WILAYAH PANTAI
Pusat penelitian elektronika dan telekomunikasi,Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
(PPET-LIPI) telah mengembangkan radar pengawas pantai sejak tahun 2006. Radar

jenis ini diperlukan mengingat Indonesia mempunyai panjang pantai lebih dari
80,000Km. Oleh karena itu, diperlukan radar pengawas pantai yang banyak untuk dapat
menjangkau seluruh wilayah sepanjang garis pantai tersebut. Teknologi yang dipilih
untuk radar ini, adalah teknologi frequency modulated continuous wave (FM-CW),
dibandingkan teknologi radar pulsa.

Gambar 1. Contoh aplikasi radar FM-CW untuk mendeteksi obyek-obyek di


atas permukaan laut dan yang terbang di atas udara di sekitar pantai.

Gambar 2. Jangkauan radar FM-CW dapat diperluas dengan membuat


jaringan radar

Gambar 3. Tiga buah radar FM-CW yang telah dikembangkan PPET-LIPI


Radar FM-CW mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya penggunaan daya yang
rendah, low probability of intercept (LPI), dimensi yang kecil, kemampuan Doppler,
berbasis computer, dan perangkat lunak yang dapat
disesuaikan. Blok diagram radar FM-CW dinyatakan pada Gambar 1 (Skolnik 1990,
Bassem 2005, Leo 2005, Mashury 2009). Sistem radar ini terdiri dari dua bagian utama:
pemancar dan penerima.Hasil dari pendeteksian ditampilkan pada unit display, yang
akan memproses sinyal kedalam informasi yang dapat dipahami oleh pengguna. Ada
dua macam antena yang digunakan, antena untuk mengirim sinyal transmisi kedalam
bentuk gelombang elektromagnetik dan antena untuk menangkap sinyal
elektromagnetik untuk diubah kedalam sinyal elektrik. Kontrol antena mempunyai
fungsi untuk mensinkronisasi pergerakan antena dengan pergerakan scanning pada unit
display. Sinkronisasi akan mengatur sinyal yang ditransmisikan dengan obyek yang
ditampilkan.
2.1 Dasar Radar FM-CW
Radar FM-CW adalah suatu sistem radar di mana energy gelombang radio dengan
frekuensi yang kontinu dan stabil dimodulasikan dengan sinyal segitiga sehingga akan
terjadi variasi frekuensi, kemudian sinyal refleksi dari suatu target yang diterima

akan dicampur dengan sinyal yang ditransmisikan untuk mendapatkan sinyal beat.
Berbagai variasi modulasi dimungkinkan (sinyal sinus, gigi gergaji, segitiga, dll), akan
tetapi modulasi gigi gergaji dipilih untuk aplikasi radar FM-CW karena untuk
mendapatkan jarak dan kecepatan obyek.Dengan adanya kemajuan dalam bidang
elektronika, suatu modul pemprosesan sinyal sigital (DSP) digunakan untuk proses
pendeteksian.

Gambar 3. Blok diagram sistem radar FM-CW

Sinyal beat dilewatkan ke suatu unit pengubah analog ke digital (ADC), kemudian
diproses dengan algoritma pemprosesan sinyal akan didapatkan sinyal keluaran pada
ADC.Sistem radar FM-CW terkini menggunakan satu antenna pemancar
dan satu antenna atau banyak antenna untuk penerima.Dikarenakan pemancar
mempunyai frekuensi yang sama dengan penerima, maka harus ada perlakuan khusus
untk mencegah kelebihan beban pada bagian penerima. Bentuk sinyal transmisi
FM-CW dalam bentuk gigi gergaji dinyatakan pada Gambar 5 (Bassem 2005, Leo 2005,
Mashury 2009, Richards 2005, Heijnen 2003).Di mana fe adalah frekuensi ekskursi, fb
adalah frekuensi beat (f) dan Tsweep adalah waktu sweep. Setelah sinyal transmisi
mengenai suatu obyek, maka sinyal pantulan obyek yang diterima radar akan dicampur
dengan sinyal transmisi untuk mendapatkan sinyal beat sebagaimana tampak pada
Gambar 6.

Gambar 5. Bentuk sinyal pemancar dan penerima dengan menggunakanmodulasi


frekuensi.

Gambar 6. Sinyal beat setelah dicampur dan dikurangi dengan rata-rata


amplitodu sinyal (sweep time 1ms).
Sinyal beat dapat dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut
(Bassem 2005, Leo 2005, Heijnen 2003):

di mana f adalah frekuensi sinyal transmisi, fb adalah frekuensi beat, komponen cos()
pada bagian kiri adalah sinyal yang diterima, sedangkan pada bagian kanan adalah
sinyal transmisi.Dengan menggunakan filter lolos rendah (lowpass filter) komponen
yang mengandung frekuensi tinggi dapat dihilangkan

hanya tinggal komponen

yang tersisa. Komponen tersebut menyatakan hanya tersisa frekuensi beat saja.
Frekuensi beat berkaitan dengan waktu tunda antara sinyal transmisi dan sinyal yang
diterima, oleh karena itu berkaitan juga dengan jarak obyek yang terdeteksi r.
2.2 Desain System
Desain sistem radar FM-CW untuk pengawas udara dinyatakan pada Gambar 7 (ISRA
2011, 2012)

Gambar 7. Desain sistem radar FM-CW.


Spesifikasi perangkat keras radar yang dikembangkan (tidak termasuk antena) sebagai
berikut:
Pemancar
o Frekuensi: S band (2.8 - 3.1 GHz)
o Pilihan jangkauan: 96 Km, 48 Km, 24 km, 12 Km, 6 Km.
o Output power: 10 Watt.
Penerima
o IF frekuensi: 600 MHz.
o Jumlah range cells: 512.
o Range cells: 192 meter, 96 meter, 48 meter, 24 meter, 12meter.
o Pengolahan sinyal berbasis PC.
o Sensitifitas: -100 dBm (0 dBV)
o Range Dinamik: 40 dB (70 dB dengan attenuator)

o Gain Konversi: 70 dB 7 dB
o S/N rasio: 18 dB
o Frekuensi Sweep: 2 MHz, 4 MHz, 8 MHz, 16 MHz, 32MHz.
Pembangkit Frekuensi
o Pembangkit frekuensi utama dari DRO (dielectric
resonant oscillator).
o FM Modulation.
o Linear saw-tooth yang dihasilkan oleh DDS (direct
digital synthesizer).
Modul-Modul komponen yang telah dikembangkan dan diintegrasikan untuk bagian
pembangkit frekuensi adalah pembangkit frekuensi utama (DRO), generator sinyal 2,4
GHz, pembagi 4, pembagi 6, filter 400 MHz, Coupler 20 dB, dan 2,4 Splitter.

KESIMPULAN
9

Penelitian dan pengembangan radar FM-CW untuk pengawas udara benda-benda yang
terbang rendah telah dipresentasikan. Fungsi radar ini sebagai radar pengawasan 3D
yang dapat mendeteksi obyek-obyek di atas permukaan laut sampai ketinggian tertentu
di atas permukaan bumi. Fokus dari penelitian ini adalah perangkat keras radar, yang
terdiri dari pemabngkit frekuensi, pemancar, dan penerima. Penelitian ini diawali
dengan desain sistem, pengembangan, dan pengukuran. Beberapa pengukuran telah
dilakukan. Hasilnya menunjukkan bahawa pengembangan perangkat keras radar telah
memenuhi kriteria yang ditentukan

DAFTAR PUSTAKA

10

Bassem R. Mahafza, 2005, Radar Systems Analysis and Design Using


MATLAB, Chapman & Hall.

ISRA Radar team, 2011, ISRA Radar, internal report.

ISRA Radar team, 2012, ISRA Radar, internal report.

Leo P. Ligthart, September 2005, Short Course on Radar Technologies,


International Research Centre for Telecommunications and Radar, TU-Delft.

Mashury, 2009, Building a Radar from the Scratch: ISRA LIPI Radar
experience, International Conference ICTEL 2009, Bandung.

M.I. Skolnik, 1990, Radar Handbook, McGraw-Hill.

Mark Richards, 2005, Radar Signal Processing, McGraw-Hill.

S.H. Heijnen, October 2003, TARA Data Processing, Report for Cloudnet.

11