Anda di halaman 1dari 4

Perkembangan Ekspor Kelapa Sawit (CPO) Indonesia dalam

Perdagangan dunia
Kelapa sawit bakal tetap menjadi primadona ekspor di 2012. Sebab, tren pertumbuhan produksi komoditi itu
terus berada pada level positif. Kepala Lembaga Pengkajian, Penelitian, dan Pengembangan (LP3E) Kamar
Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Didik S. Rachbini, menuturkan, kelapa sawit akan menjadi penopang
ekspor Indonesia karena harga pasar internasional terus mengalami kenaikan. Permintaan terhadap produk sawit
hampir tidak memiliki pesaing berat sehingga produksinya terkerek. Bahkan, katanya, permintaan produk
biofuel yang meningkat ikut mendongkrak produksi kelapa sawit. Namun, berdasarkan aturan tarif yang
terlampir pada kolom 7 Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 128 tahun 2011 tentang Perubahan atas PMK
No 67 tahun 2010 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar, terjadi
penurunan tarif referensi.
Menurut Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Deddy Saleh, pemerintah telah
memberikan harga referensi CPO pada Januari 2012 sebesar US$ 1.032,29 per ton. Harga referensi untuk bulan
itu relatif turun dari posisi Desember 2011 sebesar US$ 1.041,56 per ton. Sementara untuk tarif bea keluar (BK)
untuk minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) periode Januari 2012 Kementerian Perdagangan menetapkan
sebesar 15%. Angka itu merupakan realisasi BK untuk komoditi yang sama pada Desember 2011. Regulasi itu
menyebut, batas minimum pengenaan BK untuk CPO sebesar US$ 750 per ton, sedangkan pada PMK
sebelumnya berlaku sebesar US$ 700 per ton. Selain itu, jumlah produk turunan sawit yang mendapat kewajiban
BK menjadi 29 produk dari sebelumnya 15 produk.
Hal itu pun diatur pada Peraturan Menteri Perdagangan No 26 tahun 2011 tentang Penetapan Harga Patokan
Ekspor atas Produk Turunan Crude Palm Oil yang Dikenakan Bea Keluar. Regulasi itu efektif berlaku sejak 14
September 2011.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Hatta Rajasa, mengatakan, sebanyak 65 persen ekspor minyak
kelapa sawit masih dalam bentuk mentah sehingga mayoritas masih belum memenuhi industri yang bernilai
tambah. "Kita membidik 60-65 persen ekspor yang masih dalam bentuk CPO (crude palm oil/minyak kelapa
sawit mentah) agar secara bertahap hanya menjadi sekitar 40 persen dari ekspor kelapa sawit," kata Hatta saat
acara peresmian Pabrik Industri Hilir Kelapa Sawit di Bekasi, Rabu.
Dengan demikian, ujar dia, maka di masa mendatang sekitar 60 persen dari ekspor kelapa sawit tidak lagi dalam
bentuk mentah tetapi sudah dalam bentuk produk olahan atau turunannya. Untuk itu, lanjutnya, pemerintah juga
tetap mengembangkan strategi insentif dan disinsentif terkait dengan rencana pengubahan komposisi ekspor
kelapa sawit Indonesia tersebut.
Ia mengingatkan, Indonesia memiliki sejumlah keunggulan kompetitif di bidang pertanian dibanding sejumlah
negara lain, misalnya dalam hal perkebunan kelapa sawit yang cocok diterapkan di daerah beriklim tropis seperti
Indonesia tetapi tidak demikian halnya di China. "China tidak bisa menanam kelapa sawit," kata Hatta.
Di tempat yang sama, Menteri Perindustrian, MS Hidayat memaparkan, produksi kelapa sawit Indonesia di
sektor hulu pada 2010 adalah sekitar 22 juta ton dan diperkirakan akan mencapai 43 juta ton dalam jangka waktu
10 tahun mendatang. Hidayat mengakui, saat ini sekitar 65 persen dari minyak kelapa sawit masih diekspor ke
sejumlah negara dalam bentuk bahan baku.

Karenanya, dalam periode 10 tahun diharapkan persentase tersebut akan dapat berubah sehingga lebih banyak
hasil industri kelapa sawit di Indonesia yang bernilai tambah, "Produk turunan minyak kelapa sawit sebenarnya
banyak sekali, hingga puluhan jumlahnya," katanya seperti dikutip Antara.
Menteri Perindustrian juga mengatakan, pihaknya telah membicarakan hal ini dengan berbagai pihak dan
hasilnya, para pelaku bisnis di Indonesia juga telah setuju untuk melakukan perubahan ke arah itu secara
bertahap.
Menurut dia, kendala yang dihadapi antara lain adalah membutuhkan waktu yang cukup agar suatu produk
turunan kelapa sawit yang bernilai tambah menjadi dikenal baik di dalam negeri maupun di mancanegara.
Ekspor CPO memiliki prospek yang sangat cerah disebabkan oleh peningkatan kosumsi produk- produk yang
berbahan baku CPO yang sejalan dengan pertumbuhan produk diberbagai negara. Harga CPO penyerahan
Februari 2011 yang diperdagangkan di Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) dibuka pada level harga
US$1256 per ton dan pada akhir perdagangan berada pada level harga US$1188 per ton. Rata-rata harga CPO
yang ditransaksikan di BKDI berada pada level harga US$1260 per ton dengan harga tertinggi US$1299 per ton
dan harga terendah US$1188 per ton. Di Malaysia Derivatives Exchange (MDEX), harga rata-rata CPO yang
ditransaksikan untuk penyerahan Februari 2011 berada pada level harga US$1246 per ton, dan di Rotterdam
US$1283 per ton. Untuk perkembangan konsumsi minyak sawit (CPO) dunia dari tahun ke tahun terus
menunjukkan tren meningkat. Pertumbuhan akan permintaan CPO dunia dalam 5 (lima) tahun terakhir, rata-rata
tumbuh sebesar 9,92%.
China dengan Indonesia merupakan negara yang paling banyak menyerap CPO dunia. Selain itu Negara.
Uni Eropa juga termasuk konsumen besar pengkomsumsi CPO di dunia. Yang menjadi permasalahan utama
perdagangan dunia CPO sebenarnya bukan terletak pada tingkat permintaan konsumsi atau ekspornya, karena
baik konsumsi atau ekspor dunia cenderung meningkat dengan stabil. Permasalahan utamanya justru terletak
pada fluktuasi harga yang tidak stabil. Fluktuasi harga CPO ini cenderung dipengaruhi oleh isu-isu yang dibuat
oleh negara penghasil produk subtitusi (saingan CPO), yaitu negara-negara penghasil minyak dari kacang
kedelai dan jagung yang umumnya merupakan negara di Eropa dan Amerika (negara maju). Isu-isu seperti
produk yang tidak higienis, pengrusakan ekosistem hutan termasuk isu pemusnahan orang utan merupakan isu
yang diangkat untuk menjatuhkan harga CPO dunia.
Untuk pengembangan agribisnis kelapa sawit masih cukup terbuka bagi Indonesia, terutama karena
ketersediaan sumberdaya alam/lahan, tenaga kerja, teknologi maupun tenaga ahli. Dengan posisi sebagai
produsen terbesar kedua saat ini dan menuju produsen utama di dunia pada masa depan, Indonesia perlu
memanfaatkan peluang ini dengan sebaik-baiknya, mulai dari perencanaan sampai dengan upaya menjaga agar
tetap bertahan pada posisi sebagai a country leader and market leader. (Data BPS, berbagai sumber terkait, data
diolah F.Hero P.2011).
Permintaan yang terus anjlok, akibat lesunya permintaan dunia membuat harga minyak kelapa sawit
mentah (crude palm oil/CPO) pada perdagangan di Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX),
mengalami penurunan sebesar 16,3 persen, menjadi Rp 7.830 per kilogram. Kementerian Perdagangan
(Kemendag) menyatakan salah satu cara untuk menjaga agar harga tidak terus turun di bawah Rp 7.000 adalah
dengan pengurangan ekspor yang harus dilakukan bersama Malaysia. Direktur Jenderal Perdagangan Luar
Negeri Kemendag, Deddy Saleh menyatakan pembahasan dijadwalkan dua pekan mendatang dengan delegasi
Indonesia yang diwakili Wakil Menteri Perdagangan serta Direktur Jenderal Kementerian Pertanian. "Jadi

masing-masing merumuskan mekanisme," ujar Deddy saat ditemui di kantornya, Selasa (9/10)
Pengurangan CPO akan kan berbeda antara Indonesia dan Malaysia. Hal ini karena dua negara menguasai 90
persen lebih produksi dunia. "Jadi lebih banyak kemungkinannya untuk mengatur suplai CPO.". Dia menyatakan
Indonesia telah disiapkan beberapa skenario. Diantaranya, penebangan pohon sawit tua dan menggantinya
dengan yang baru serta pengalihan produksi untuk biofuel menjadi beberapa pilihan opsi.
Saat ini, tantangan terberat Indonesia dan Malaysia soal ekspor CPO sebetulnya kampanye negatif yang
menyebut produk olahan sawit itu merusak lingkungan dan menyumbang emisi karbon tinggi, dari LSM asing
dan Badan Lingkungan Amerika (EPA). "Untuk kampanye kita bisa kolaborasi dengan Malaysia. Kalau kita
bersama-sama akan lebih kuat. Seperti saat kita menghadapi (laporan emisi karbon) EPA Amerika, kita bersamasama Malaysia," katanya.
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan telah berkoordinasi dengan Asosiasi Pengusaha Sawit sebelum membawa
rumusan pengurangan ekspor dengan pihak Malaysia di Hotel Borobudur. Ekspor CPO tidak akan terpengaruh
karena kesepakatan yang ada dalam APEC hanya bersifat kesepakatan
Kementerian Keuangan menyatakan tidak masuknya minyak sawit mentah (CPO) dalam kategori produk yang
ramah lingkungan dalam pertemuan Asian Pasific Economic Cooperation (APEC) belum lama ini dinilai tidak
akan mempengaruhi ekspor kelapa sawit.
Dirjen Bea Cukai Agung Kuswandono menjelaskan ekspor CPO tidak akan terpengaruh karena kesepakatan
yang ada dalam APEC hanya bersifat kesepakatan dan tidak terikat secara hukum internasional atau suatu
negara. Dengan demikian, katanya, apabila Indonesia dan negara-negara APEC tidak mengikuti aturan tersebut
juga tidak dikenakan sanksi, sehingga tidak akan berpengaruh secara signifikan.
Sepanjang sepengetahuan saya kalau APEC itu tidak mengikat secara legal dan hanya kesepakatan, ujar Agung
saat rapat dengar pendapat bersama komisi XI DPRRI di gedung DPR Senayan, Jakarta, semalam.
Sebaliknya, Agung memprediksi ekspor CPO dan turunannya bakal meningkat pada tahun 2013 antara 10
persen hingga 12 persen dibandingkan kinerja pada 2012. Peningkatan nilai ekspor tersebut menurutnya karena
adanya potensi kenaikan harga CPO pada 2013. Prediksi kita harganya yang utama kalau harga naik volume
sudah stabil, imbuhnya.
Sekedar informasi, saat ini harga CPO tengah mengalami penurunan. Badan Pengawas Perdagangan Berjangka
Komoditi melaporkan harga CPO yang diperdagangkan di Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia juga
mengalami penurunan. Harga CPO untuk penyerahan September 2012 ditutup pada harga Rp8.635 per kilogram
atau mengalami penurunan Rp215 per kilogramnya.
Dia menuturkan adanya penurunan harga dikarenakan akhir-akhir ini para eksportir lebih suka mengekspor
barang turunan CPO seperti RDB untuk dipasarkan ke negara lain. Fenomena tersebut dinilai menunjukkan
bahwa hilirisasi telah berjalan karena para pengusaha telah berhasil mengolah bahan mentah ke barang siap
pakai.

Agung memproyeksikan akan terjadi trend kenaikan harga komoditas, terutama CPO pada tahun depan. Dia
mengaku optimistis ekspor CPO dan turunannya akan naik pada 2013 menjadi 27.449.538 Ton, naik dari 2012
yang mencatat volume 22.649.187 Ton.
Menurutnya ekspor CPO pada 2013 akan mendatangkan devisa hingga US$22,482 milliar , atau meningkat dari
2012 yang menghasilkan devisa US$21,232 milliar. Peningkatan nilai ekspor CPO akan berpengaruh terhadap
pemasukan dari bea keluar, sehingga negara diprodiksi akan mendapatkan pemasukan Rp23,3 triliun dari bea
keluar CPO dan turunannya pada 2013.

Sumber :
http://pphp.deptan.go.id/disp_informasi/1/5/54/1188/perkembangan_ekspor_kelapa_sawit__cpo__indonesia_dal
am_perdagangan_dunia.html
http://www.bumn.go.id/ptpn6/id/publikasi/berita/indonesia-ekspor-kelapa-sawit-tidak-terpengaruh-hasil-apec /
http://www.merdeka.com/uang/indonesia-dan-malaysia-bahas-pengurangan-ekspor-kelapa-sawit.html
http://industri.kontan.co.id/news/kelapa-sawit-bakal-tetap-menjadi-primadona-ekspor