Anda di halaman 1dari 12

TEKNIK PENGGELONTORAN SEDIMEN PADA...

, Pranoto Samto Atmojo, Isdiyana, Agus Santoso

TEKNIK PENGGELONTORAN SEDIMENPADA WADUK WONOGIRI


MELALUI PELIMPAH BARU
Pranoto Samto Atmojo1, Isdiyana2, Agus Santoso3
2,3 Balai

1Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro


Sungai, Pusat Litbang Sumber Daya Air, Balitbang, Kementerian Pekerjaan Umum
Jl. Solo-Kartasura Km.7 PO. Box 159 Surakarta57101. Telp (0271) 719429
Email: pranotosa2001@yahoo.com

Tanggal diterima: 27 Februari 2013 ,Tanggal disetujui: 02 Mei 2013


ABSTRAK
Sedimentasi waduk merupakan masalah umum di Indonesia yang sampai saat ini belum diperoleh cara
penanggulangan secara efektif. Masalah ini juga terjadi di Waduk Wonogiri dengan adanya pengurangan
kapasitas tampung operasional sebesar 13,4%. Rencana penanggulangan dilakukan dengan membuat
pelimpah baru di ujung kanan bendungan dengan tujuan untuk mengalirkan langsung debit sedimen yang
berasal dari Kali Keduang yang merupakan sungai terdekat di sisi kanan bendungan dan pemasok
sedimen terbesar (38%) di antara anak-anak sungai lainnya.Model hidraulik fisik dilakukan untuk
mempelajari efektivitas pelimpah dan pintu air dalam menggelontor endapan sedimen di hulunya. Model
fisik skala 1: 66,67 digunakan untuk mensimulasikan debit aliran dengan berbagai tinggi bukaan pintu,
panjang gerusan dan volume sedimen tergelontor untuk berbagai ketebalan endapan sedimen. Bahan
endapan sedimen digunakan serbuk batubara (=1,558 kg/l)dengan diameter 50% (d50) =0,45 mm
sebagai pengganti bahan endapan pasir.Hasil pengujian menunjukkan bahwa semakin besar debit yang
dikeluarkan (semakin tinggi bukaan pintu), volume endapan sedimen yang tergelontor semakin besar dan
gerusan semakin panjang. Namun demikian, gerusan endapan sedimen hanya terjadi di sekitar pintu
penggelontor. Untuk mengefektifkan penggelontoran sedimen perlu diusahakan agar lubang masuk aliran
dapat dipindah-pindah ke lokasi dimana endapan sedimennya akan digelontor. Bila tidak dapat dilakukan,
maka penggelontoran sedimen dilakukan dengan membuka pintu secara penuh untuk membentuk aliran
pada saluran terbuka dengan angkatan sedimen melalui alurnya.
Kata Kunci: penggelontoran sedimen, waduk wonogiri, model hidraulik fisik, pelimpah baru, kali keduang

ABSTRACT
Dam sedimentation is a common problem in Indonesia, which until now has not obtained effective
countermeasures. This problem also occurs in Wonogiri Dam withoperational capacity reduction of 13.4%.
Prevention plan is done by creating a new spillway at the right end of the dam in order to drain the sediment
discharge directly from Keduang River, which is located on the right side of the dam and also as a sediment
largest supplier (38%) among other tributaries. Physical hydraulic model was conducted to study the
effectiveness of spillway and sluice in the flushing of sediment deposition in the upper reaches. Physical model
scale of 1: 66.67 is used to simulate high flow rates with a variety of door openings, length and volume of
sediment scour for various thicknesses of sediment deposition. Sediment materials used crushed coal ( =
1.558 kg / l) with a mean diameter (d50) = 0.45 mm as a substitute for sand deposits. The test results showed
that the greater discharge issued or the higher opening doors, the greater the volume of sediment deposition,
and the longer scouring location. Nevertheless, deposited sediment scouring occurs only around the flushing
door. To effectively flushing sediment needs to arrange the inlet flow to be moved to a location where the
sediment deposition will be flushed. If not possible, sediment flushing should be done by opening the door fully
to establish flow in open channels carriestransportedsediment through the channel.
Keywords:sediment flushing, wonogiri dam, physical hydraulic model, new spillway, keduang river

39.

JURNAL TEKNOLOGI SUMBER DAYA AIR, Vol.9, No. 1, Mei 2013, Hal : 39 - 50

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Waduk Wonogiri atau Waduk Gajah Mungkur
diresmikan pembangunannya pada tahun 1981
dengan fungsi serbaguna untuk pengendalian
banjir, irigasi (23.200 ha), pembangkit tenaga
listrik (12,4 MW), pariwisata, dan lain-lain. Dalam
menjalankan
fungsinya,
Waduk
Wonogiri
terkendala oleh besarnya sedimentasi pada daerah
genangannya, dengan laju pengurangan kapasitas
rata-rata 2,7% per tahun (JICA, 2007). Kondisi
endapan sedimen menurut survey tahun 2005
menunjukkan 41,10% berada pada tampungan
mati (dead storage) dan 13,4% berada pada lokasi
operasional waduk. Berdasarkan kondisi tersebut,
dikhawatirkan dalam waktu tidak lama Waduk
Wonogiri mengalami penurunan fungsi yang cukup
signifikan dan menurunkan nilai-manfaat waduk.
Usaha untuk mengatasi besarnya laju sedimentasi
sudah dilakukan sejak awal dibangunnya waduk.
Penghijauan kembali dan pelarangan penebangan
hutan ditujukan untuk mengurangi laju erosi pada
Daerah Aliran Sungai, pembangunan dam-dam
pengendali sedimen yang dilakukan pada anakanak sungai ditujukan untuk menahan aliran
sedimen pada alur sungai agar tidak masuk ke
waduk dan dewasa ini dilakukan pengerukan
sedimen di dasar waduk untuk mengatasi besarnya
endapan sedimen di depan bangunan pengambilan.
Semua usaha tersebut belum mampu untuk
mengatasi masalah besarnya laju sedimentasi pada
Waduk Wonogiri.
Sumber sedimen pada Waduk Wonogiri berasal
dari anak-anak sungai yang masuk ke dalam waduk
yaitu: Kali Keduang, Kali Tirtomoyo, Kali Temon,
Kali Bengawan Solo Hulu, Kali Alang dan sungaisungai kecil lainnya di daerah Wuryantoro dan
Ngunggahan. Dari total sedimen yang masuk ke
waduk sebesar 3.178.510 m3/ tahun, Kali Keduang
merupakan pemasok sedimen paling besar yaitu
38%. Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Keduang
seluas 392 km2 merupakan Sub DAS terbesar di
antara Sub-sub DAS di DAS Waduk Wonogiri. DAS
ini terletak di sebelah kiri bagian hilir daerah
genangan waduk, dengan muara sungai berjarak

40

sekitar 500meter dari tubuh bendungan bagian


kanan. Berdasarkan kondisi ini, Balai Besar
Wilayah Sungai Bengawan Solo merencanakan
pembangunan pelimpah baru di ujung kanan
bendungan. Pelimpah ini akan difungsikan untuk
menggelontor endapan sedimen yang berasal dari
Kali Keduang.

1.2 Tujuan dan Manfaat Penelitian


Penelitian ini ditujukan untuk mendapatkan
teknologi atau metodologi penggelontoran
endapan sedimen pada daerah genangan dengan
sarana pintu air dan kondisi muka air. Studi kasus
dilakukan pada rencana pelimpah Waduk Wonogiri
untuk penggelontoran sedimen yang berasal dari
Kali Keduang. Dari hasil studi akan dapat diperoleh
teknik penggelontoran yang efektif dan efisien
dengan menetapkan persyaratan yang dapat
dilaksanakan di lapangan.
Dengan banyaknya permasalahan sedimentasi
pada waduk-waduk di Indonesia, hasil penelitian
akan bermanfaat untuk mengatasi permasalahan
sedimentasi waduk atau bangunan-bangunan
penampung air lainnya. Penggelontoran sedimen di
sini tidak harus dengan mengosongkan air waduk
untuk mendapatkan aliran bebas, tetapi untuk
dapat dilakukan pada saat elevasi muka air tinggi.

1.3 Lokasi Penelitian


Penelitian dilakukan melalui pembuatan uji model
hidraulik fisik di laboratorium Balai Sungai,
Surakarta. Lokasi untuk studi kasus pada rencana
pelimpahan baru pada bendungan Wonogiri di
Kabupaten Wonogiri, sedangkan untuk analisis
pengujian dan perumusan hasil dilakukan di Balai
Sungai, Surakarta dan Universitas Diponegoro,
Semarang.
Denah situasi rencana pelimpah baru pada Waduk
Wonogiri tertera pada Gambar 1. Pintu
penggelontor terletak di sisi kanan tubuh
bendungan dengan tanggul penutup di sebelah kiri
untuk menyebarkan endapan sedimen di Kali
Keduang dan mengarahkan aliran menuju pintu
penggelontor.

TEKNIK PENGGELONTORAN SEDIMEN PADA..., Pranoto Samto Atmojo, Isdiyana, Agus Santoso

Gambar 1 Lokasi rencana pelimpah baru Waduk Wonogiri

Gambar 2 Denah dan potongan pelimpah pintu penggelontor Waduk Wonogiri

II.

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Perencanaan Pelimpah Baru Waduk


Wonogiri
Tampungan sedimen dan bangunan penggelontor
sedimen Waduk Wonogiri direncanakan terletak
disisi kanan tanggul bendungan, dengan tujuan
utama menampung sedimen yang datang dari Kali
Keduang, dengan membangun closure dyke dan
pintu penggelontor sedimen.
Pelimpah baru Waduk Wonogiri direncanakan oleh
konsultan Jepang Nippon Koei Co. Ltd. tahun 2009.
Data teknis pelimpah dan pintu penggelontor
sebagai berikut:
Panjang saluran luncur
: 650,187 m
Kemiringan saluran luncur : 1 : 90
Elevasi puncak ambang
: El + 127,00
Lebar ambang
:11,25 m

Jumlah pintu penggelontor : 2 buah


Lebar pintu penggelontor : 7,50 m
Jenis pintu penggelontor : pintu air sorong
Tinggi pintu penggelontor : 5,60 m
Denah dan potongan pelimpah
penggelontor seperti Gambar 2.

pada

pintu

Data teknis bendungan wonogiri yang berkaitan


dengan pengendalian muka air sebagai berikut:
Elevasi puncak bendungan : El+ 142,00 m
Elevasi ambang pelimpah : El + 131,00 m
Pintu air pada pelimpah : 4 buah ukuran
@8,70mx7,50m
Elevasi t.m.a normal
:El + 136,00 m
Elevasi t.m.a banjir rencana:El + 138,30 m
Elevasi t.m.a PMF
: El + 139,10 m

41

JURNAL TEKNOLOGI SUMBER DAYA AIR, Vol.9, No. 1, Mei 2013, Hal : 39 - 50

2.2 Efisiensi Penggelontoran Sedimen


Seperti
disampaikan
pada
Subbab
1.2,
penggelontoran sedimen disini tidak menggunakan
aliran bekas tetapi dengan aliran tertekan karena
kedalaman air di atas lubang penggelontor.
Distribusi kelipatan aliran dapat digambarkan
dengan flownet yang menunjukkan bahwa
kecepatan aliran menurun pada jarak mendekati
muka air dan/atau menjauhi lubang penggelontor.
Hal ini menyebabkan daya angkat sedimen

menurun fungsi dari jarak akibat menurunnya


tegangan gerak aliran To.
Pola gerusan pada endapan sedimen waduk
dengan muka air tinggi diberikan seperti Gambar
3 (Scheuerlin, 1993). Sedimen di dekat pintu
tergerus dan berkembang ke belakang membentuk
lubang
corong
sampai
jarak
batas
penggelontorancyang dirumuskan:
c =

u 2g

Hi

Gambar 3 Pola gerusan endapan sedimen waduk dengan muka air tinggi (Scheuerlein, 1993)
Apabila c telah tercapai, gerusan endapan tidak
terjadi lagi, kecuali apabila elevasi muka air
diturunkan lapisan atau endapan akan tererosi dan
penurunan muka air dilakukan terus akan
terbentuk alur sungai sebagaimana aslinya.
Tegangan gesek aliran mengikuti kaidah aliran
bebas yakni:

o w .g.h.I atau o .u 2
Penentuan muka air kritis dimana penggelontoran
sedimen menjadi efisien (Effective Flushing Water
Level, EFL) cukup rumit, fenomena alam tiga
dimensi dan sangat komplek. Dengan model fisik
fenomena tersebut dapat ditirukan dan parameterparameter yang berpengaruh dapat dikaji dan
dievakuasi untuk mendapatkan EFL.

2.3 Transportasi Sedimen


Telah dipahami bahwa terjadinya angkutan
sedimen diakibatkan adanya aliran turbulen dalam

42

tiga dimensi (x, y, z). pengendapan sedimen terjadi


apabila kecepatan jatuh butiran lebih besar dari
x2

fluktuasi kecepatan vertikalnya ' x v . Nilai


maksimum ' sama dengan kecepatan gesek

uA

ghI (Sumer B.M, 1982), sehingga ada

beberapa kriteria tersuspensinya butiran sedimen


yakni:
Bagnold R.A (1966)
Engelund F (1965)

uA
=1

u
: A = 0,25

Angkutan dasar (bed load) terjadi karena tegangan


gesek aliran longitudinal omelampaui tegangan
gesek kritik butiran *cr. Pada aliran yang betulbetul turbulen dan berdasarkan grafik sekilas
diperoleh hubungan *cr 0, 047 S W (Sumer

B.M, 1982). Hubungan ini diperoleh dari percobaan

TEKNIK PENGGELONTORAN SEDIMEN PADA..., Pranoto Samto Atmojo, Isdiyana, Agus Santoso

laboratorium dengan kondisi dasar aliran yang


rata. Pada kondisi alam dengan dasar aliran yang
tidak teratur dengan permodelan fisik atau
numeric (k-) nilai kecepatan gesek u A pada setiap
titik dapat dihitung sehingga endapan sedimen
akan terangkat atau diam dapat diketahui.

III. METODOLOGI
3.1 Uji Model Hidraulik Fisik
Penelitian penggelontoran sedimen pada rencana
pelimpah baru pada Waduk Wonogiri dilakukan
dengan uji model hidraulik fisik di Laboratorium
Balai Sungai di Surakarta.

Permodelan
dilakukan
untuk
mengetahui
efektivitas penggelontoran sedimen melalui pintu
penggelontor dengan berbagai variasi ketebalan
endapan sedimen (Hy), tinggi muka air (H), tinggi
bukaan pintu (h), dan debit masuk (Q). material
endapan sedimen pada model digunakan serbuk
batu bara dengan kerapatan massa s=1,558 kg/l
sebagai pengganti pasir dengan kerapatan massa
s=2,65 kg/l.
Konstruksi model menirukan bentuk prototipe
dengan skala panjang nL=66,67. Bagian waduk yang
dimodelkan seperti ditunjukkan pada Gambar 4.

Gambar 4 Situasi prototipewaduk wonogiri dan bagian waduk yang akan di modelkan.

Sebelum pengujian penggelontoran sedimen,


pengujian seri 0 (nol) dilakukan untuk mengetahui
bahwa bentuk sayap hulu bersudut 90o
memberikan hasil kurang baik yaitu terdapat
olakan dan aliran mati pada sisi kanan dan kiri di
hulu pintu. Dengan bentuk sayap pelimpah menjadi
bersudut 45o, hasil uji pengaliran menunjukkan
pada aliran yang baik (streamline). Untuk
pengujian selanjutnya dirumuskan bentuk sayap
bersudut 45o.

3.2 Skala Model


Model fisik pada dasarnya menirukan bentuk
prototipe dengan skala tertentu dan memenuhi
persyaratan
teori
kesebangunan.
Dari
kesebangunan geometris diperoleh skala panjang
nL=66,67. Skala ini didasarkan pada ketersediaan
fasilitas untuk pembuatan model (lahan, pompa
dan debit air, penyediaan bahan, dan lain-lain).
Dari analisis dimensi untuk kesebangunan dinamis
dan kinematis diperoleh skala untuk parameterparameter hidraulik (Tabel1).

43

JURNAL TEKNOLOGI SUMBER DAYA AIR, Vol.9, No. 1, Mei 2013, Hal : 39 - 50

Tabel 1 Konversi skala prototipe ke model


No

Besaran

Panjang, lebar, dalam, tinggi

2
3
4
5
6
7
8

Kecepatan aliran
Waktu
Debit
Kerapatan massa air
Kerapatan massa sedimen
Percepatan gravitasi
Kerapatan massa sedimen relatif
dalam air

*)

Notasi
L
h
v
t
Q
w
s
g

nL
nh = nL
nv = nh1/2
nt = nh1/2
nQ = nh5/2
nw
ns
ng

ns

u Ad
) dan teori angkutan sedimen dasar

(memasukkan parameter kerapatan massa air dan


sedimen). Dari hubungan tersebut diperoleh nilai
tegangan gesek kritik*crdan berdasarkan grafik
ShieldAcr dirumuskan:

*CR

Dengan skala

*cr

u*2

1 g.d

W
P

= *cr 1 dan dengan skala


*cr M

nv ,nsdan ng diperoleh nd=22,22. Pada permukaan


ini digunakan serbuk batubara dengan diameter
d30=0,30mm, d50=0,45mm, dan d90=1,0mm yang

44

S / W
S / W 1 m

Nilai Skala
Besaran
66,67
66,67
8,165
8,165
36.289,19
1
1,70*)
1
2,96

digunakan batubara (s=1,558 kg/l) sebagai ganti dari pasir (s=2,65 kg/l).

Skala diameter butiran sedimen (nd) dianalisis


tersendiri yang didasarkan pada bilangan Reynolds
( Re

Skala Besaran

setara dengan diameter d30=6,67mm, d50=10mm


dan d90=22mmdiprototipe.

3.3 Sistem Grid


Untuk
memudahkan
pembuatan
model,
pengamatan,
ketepatan
pengukuran
dan
penggambaran, maka digunakan sistem grid
dengan pengaturanposisi paralel dan tegak lurus
dengan as saluran penggelontor, dengan lebar grid
37,50 cm atau setara dengan 25 m di prototipe.
Penataan sistem grid tersebut seperti terlihat pada
Gambar 5.

TEKNIK PENGGELONTORAN SEDIMEN PADA..., Pranoto Samto Atmojo, Isdiyana, Agus Santoso

Gambar 5 Sistem Grid untuk keperluan pengamatan, pengukuran dan penggambaran

3.4 Lingkup Pengujian pada Model


Beberapa seri percobaan dilakukan untuk
mendapatkan pola operasi pintu air yang
berhubungan dengan tinggi muka air dan laju
angkutan sedimennya. Lingkup pengujian pada
model yang berkaitan dengan efektifitas
penggelontoran sedimen meliputi:
a. Pengujian pola aliran dan kecepatan aliran
b. Pengujian pola gerusan sedimen dan
panjang gerusan
c. Pengujian kemampuan gerusan serta
pengujian lain yang berkaitan untuk
kelengkapan analisis parameter aliran dan
angkutan sedimen.
Pengujian pengaliran dilakukan dengan berbagai
variasi debit yang direpresentasikan dengan tinggi
bukaan pintu untuk elevasi muka air yang
dipertahankan tetap pada t=136,30 m. Debit (Q)
dan tinggi bukaan pintu tersebut yakni Q=2,75 l/det
dengan a=1,15 cm, Q=5,51 l/det dengan a=2,50 cm

dan Q=11,02 l/detdengan a=5,30 cm untuk menguji


kemampuan gerusan dilakukan pengujian dengan
berbagai variasi tebal endapan sedimen (Hs) yakni
Hs=0,75 cm, Hs=1,50 cm, Hs=2,25 cm dan Hs=3 cm.
Pengujian dilakukan untuk mengukur panjang
gerusan setiap selang waktu 5 menit selama 60
menit dan besar volume sedimen kering yang
tergelantar pada setiap debit dan ketebalan
endapan sedimen.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Distribusi Kecepatan Aliran
Kecepatan aliran diukur pada jarak 15 cm, 30 cm,
60 cm dan 90 cm di hulu pintu. Debit aliran sesuai
dengan tinggi bukaan pintu dengan tinggi muka air
yang dipertahankan konstan pada +136,30 m.
Distribusi kecepatan aliran pada masing-masing
lokasi dan debit aliran seperti tertera pada Tabel 2
dan Gambar 6.

45

JURNAL TEKNOLOGI SUMBER DAYA AIR, Vol.9, No. 1, Mei 2013, Hal : 39 - 50

Tabel 2 Distribusi kecepatan aliran


Debit (l/det); Bukaan pintu (m)
Q=2,75; a=1,15
Q=5,51; a=2,50
Q=11,02; a=5,30

15 cm
5,27
6,71
12,84

Kecepatan aliran (cm/det)


30 cm
60 cm
4,65
3,80
6,58
6,12
12,04
10,07

90 cm
3,55
6,12
8,54

Gambar 6 Perbandingan distribusi kecepatan aliran untuk setiap lokasi dan debit
Kecepatan aliran pada setiap lokasi meningkat
dengan meningkatnya debit aliranQ.Pada setiap
debit, kecepatan aliran menurun pada lokasi yang
semakin jauh di pintu. Kecepatan aliran ini akan
menentukan tergerus tidaknya endapan sedimen.
Panjang gerusan akan ditentukan oleh kecepatan
batas mulai bergeraknya butiran endapan sedimen.
Dari Tabel 2 di atas terlihat bahwa pada debit
Q=11,02 l/det akan memberikan gerusan endapan
sedimen yang paling panjang dengan lokasi
kecepatan batas kritik terjauh. Untuk aliran pada
saluran terbuka kecepatan batas kritik dapat
dengan
mudah
dihitung
dengan
merepresentasikan kecepatan gesek kritiknya
(V*cr). Untuk aliran pada tipe ini, kecepatan gesek
kritiknya tidak konstan tetapi berubah-ubah dalam
tiga dimensi, sehingga penghitungannya harus
menggunakan data kecepatan aliran dalam tiga
dimensi.

46

4.2 Panjang Gerusan dan Kemampuan


Gerusan
Dengan pengujian seperti disebut pada butir 4.1 di
atas pengujian juga dilakukan dengan variasi tebal
endapan sedimen di hulu pintu (Hs) sebesar Hs=0,75
cm, Hs=1,50 cm, Hs=2,25 cm dan Hs=3 cm. panjang
gerusan merupakan total panjang gerusan setelah
uji pengaliran selama 60 menit, sedangkan
kemampuan gerusan merupakan selisih antara
volume endapan sedimen sebelum uji pengaliran
dan volume endapan sedimen sesudah uji
pengaliran. Panjang gerusan untuk berbagai
kedalaman endapan sedimen dan debit aliran
seperti pada Tabel 3 Dan untuk kemampuan
gerusan pada Tabel 4.

TEKNIK PENGGELONTORAN SEDIMEN PADA..., Pranoto Samto Atmojo, Isdiyana, Agus Santoso

Tabel 3 Panjang gerusanuntuk setiap ketebalan endapan sedimen


Debit (l/det); Bukaan pintu (m)
0.75 cm
12,30
12,50
13,50

Q=2,75; a=1,15
Q=5,51; a=2,50
Q=11,02; a=5,30

Panjang gerusan (cm)


1,50 cm
2,25 cm
11,00
10,50
12,00
11,50
12,50
12,25

3,00 cm
10,0
11,0
12,0

Gambar 7 Perbandingan panjang gerusan untuk setiap ketebalan endapan sedimen


Pada debit aliran yang meningkat, panjang gerusan
meningkat untuk ketebalan endapan yang sama.
Hal ini dapat dimengerti karena adanya
peningkatan kecepatan aliran sampai jarak
tertentu. Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa pada
debit yang sama panjang gerusan menurun untuk
ketebalan endapan sedimen yang meningkat,
namun hal ini tidak dapat diambil kesimpulan yang

demikian. Pada debit yang sama akan memberikan


kecepatan aliran yang sama dan debit sedimen
yang relative sama, dalam waktu yang sama (60
menit) volume endapan sedimen yang terambil
akan relatif sama, sehingga dengan ketebalan
endapan sedimen yang meningkat maka panjang
gerusannya akan menurun.

Tabel 4 Kemampuan gerusanpada masing-masing ketebalan endapan sedimen


Debit (l/det); Bukaan
pintu (m)
Q=2,75;
a=1,15
Q=5,51;
a=2,50
Q=11,02;
a=5,30

0,75 cm
72
67,2
4,8
72,5
65,05
7,42
73,0
63,12
9,88

Kemampuan gerusan (l)


1,50 cm
2,25 cm
139
210
132,75
203,7
6,25
6,3
142
210
133,7
199,86
8,3
10,14
143,5
211,5
130,3
196,9
13,2
14,60

Keterangan
3,00 cm
279
273
7,0
272
260,55
11,45
275
258
17

Sebelum
Sisa
Tergerus
Sebelum
Sisa
Tergerus
Sebelum
Sisa
Tergerus

47

JURNAL TEKNOLOGI SUMBER DAYA AIR, Vol.9, No. 1, Mei 2013, Hal : 39 - 50

Dari Tabel 4 dan Gambar 8 terlihat bahwa


semakin tinggi debit aliran dan semakin tebal
endapan
sedimen
kemampuan
gerusan
sedimennya semakin tinggi.
Debit yang tinggi memberikan kecepatan aliran
yang tinggi sehingga daya angkut sedimennya
menjadi tinggi. Endapan sedimen yang tebal

memberikan sumber gerusan yang mencukupi


untuk debit angkutan sedimen yang maksimum.
Dengan demikian penggelontoran endapan
sedimen akan efektif apabila kecepatan aliran
dilokasi tergelantar dan volume endapan
sedimennya
mencukupi
untuk
kontinuitas
angkutan sedimennya.

Gambar 8 Hubungan ketebalan endapan sedimen dengan kemampuan gerusan

4.3 Analisis Efektifitas


Sedimen

Penggelontoran

Dari hasil pengujian penggelontoran sedimen di


atas diketahui bahwa batas gerusan sedimen
merupakan fungsi dari kecepatan batas kritiknya.
Untuk mengkorelasikan dua parameter tersebut
dan dapat berlaku secara universal, perlu
dilakukan analisis melalui bilangan-bilangan tidak
berdiameter. Pada butir 2.3 diuraikan tentang
batas angkutan sedimen dasar dan angkutan
sedimen layang; dengan diketahuinya bahan
endapan sedimen (batu bara) d50=0,45mm, p=1,558
kg/l dan dengan rumus kecepatan jatuh butiran
dari Shields (1936) akan dapat dihitung
kecepatangesek kritik untuk masing-masing jenis
angkutan sedimen. Menurut Bagnold, R.A. (1966),
kecepatan gesek kritik untuk angkutan sedimen
layang VACr= w= 0,067 m/detdan dari grafik Shields
kecepatan gesek kritik untuk angkutan dasar
diperoleh VACr= 0,01 m/det.
Untuk mengkonversi kecepatan gesek kritik (VACr)
ke kecepatan batas aliran kritik (VCr) pada pola

48

aliran seperti di model sulit untuk dilakukan.


Distribusi kecepatan secara vertikal tidak
mengikuti pola susut secara terbuka tetap
berubah-ubah pada arah transversal dan
longitudinal. Pengukuran kecepatan aliran di setiap
titik pada system grid belum dapat dilakukan
karena masih terbatasnya alat ukur yang tersedia
di laboratorium.
Pada prinsipnya gerusan sedimen terjadi pada
aliran dengan kecepatan (V) melebihi dari
kecepatan batas kritiknya (VCr). Kecepatan ini
berada di sekitar lubang pintu pengeluaran atau
penggelontoran. Percobaan Wibawa, Y., et all
(2010) pada Pengaliran Hidraulik dalam Pipa
untuk Pengangkutan Sedimen menunjukkan bahwa
penyedotan sedimen hanya terjadi di sekitar
lubang aliran hidrauliknya. Scheuerlein (1993)
juga menunjukkan aliran menuju outlet mengikuti
pola yang terlihat pada Gambar 9, dengan bentuk
flow net, yaitu grid streamlines (flow line) dan
isotachs (equivelocity).

TEKNIK PENGGELONTORAN SEDIMEN PADA..., Pranoto Samto Atmojo, Isdiyana, Agus Santoso

Gambar 9 Pola Aliran Operasi di Bottom Outlet (Scheuerlein, 1993)


Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
terjadinya gerusan atau angkutan sedimen
disebabkan akan adanya kecepatan aliran yang
melebihi kecepatan batas kritik untuk bergeraknya
butiran-butiran endapan sedimen. Pada pintu air
penggelontor kecepatan tersebut berada di sekitar
lubang aliran dan semakin menurut dengan
bertambahnya jarak dari lubang aliran. Dengan
demikian,
agar
dapat
mengefektifkan
penggelontoran endapan sedimen waduk perlu
usaha untuk dapat memindah-mindahkan lubang
aliran tersebut ke lokasi endapan sedimen.

V.

KESIMPULAN

Pada pengujian penggelontoransedimen melalui


model hidraulik fisik rencana pelimpah baru
Waduk Wonogiri dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1. Penggelontoran sedimen hanya terjadi pada
jarak 10-12 cm pada model atau setara 6,67 m
8,0 m di prototipe.

2. Semakin tinggi bukaan pintu atau semakin


besar debit keluar, panjang gerusan semakin
jauh dan volume sedimen tergelontor semakin
besar.
3. Distribusi kecepatan aliran dalam waduk
menuju pintu air dapat digunakan dengan
flownet, namun pengukuran kecepatan
dengan sistem grid belum dapat dilakukan
karena terbatasnya alat ukur di laboratorium.
4. Kecepatan aliran yang melampaui kecepatan
batas kritik terangkutnya butiran sedimen
hanya berada di sekitar pintu air
penggelontor sampai batas panjang gerusan.
Untuk memperpanjang lokasi gerusan kearah
hulu perlu memindah atau menarik lubang
aliran penggelontor ke arah hulu.
5. Pada elevasi muka air rendah, endapan
sedimen dapat digelontor dengan membuka
penuh pintu air untuk mendapatkan aliran
pada saluran terbuka yang akan mengangkut
sedimen di sepanjang alur, hal ini tidak masuk
dalam penelitian ini.

49

JURNAL TEKNOLOGI SUMBER DAYA AIR, Vol.9, No. 1, Mei 2013, Hal : 39 - 50

DAFTAR PUSTAKA
Bagnold, R., 1966. An approach to the sediment
transport
problem
from
general
physics.United States Geological Survey
Professional Papers 422-1, 137.
Engelund, F., 1965. A criterion for the occurrence of
suspended load. La Houille Blanche, 6:607.
JICA, 2007. Final Report, Volume II Main Report: The
Study on Countermeasure for Sedimentation
in the Wonogiri Multipurpose Dam Reservoir
in the Republic of Indonesia. Directorate
General of Water Resources Ministry of
Public Works The Republic of Indonesia.
Scheuerlein, Helmut., 1993. Estimation of Flushing
Efficiency in Silted Reservoir, Proceedings of

50

the First International Conference on HydroScience and Engineering, Washington D.C.


Shields, A.F. 1936.Application of similarity
principles and turbulence research to bedload movement, vol 26. Mitteilungen der
Preussischen
Versuchsanstalt
fur
Wasserbau und Schiffbau,Berlin, Germany,
pp 524.
Sumer, B.M. and A. Muller. 1982. (eds.): Mechanics
of Sediment Transport, Balkema, Rotterdam,
5564.
Wibawa, Y., et all. 2010.Pengaliran Hidraulik dalam
Pipa untuk Pengangkutan Sedimen.Prosiding
PIT XXVII.HATHI. Surabaya.