Anda di halaman 1dari 16

Ketogogan Tolol/Ketololan

Togog
Oleh Muhammad Ainun Nadjib

Togog selalu salah posisi


sejarahnya, karena Tuannya
tidak pernah mengakui
dirinya raksasa, melainkan
merasa yakin dirinya adalah
satria halus luhur budi.
Togog telah
membayarkan hampir
seluruh hidup dan nasibnya,
waktu, pikiran dan hartanya
kepada proses kebenaran
dan keadilan, namun di mata
Tuannya maupun di
anggapan banyak wong cilik
teman-temannya sendiri ia
adalah pencopet yang harus
selalu diwaspadai.
Togog dilupakan oleh
Tuan dan rekan-rekannya
bahwa ia sesungguhnya
adalah Dewa yang bisa dan
berhak memiliki sangat
banyak hal, yang toh hanya
ia ambil sangat sedikit dari
itu semua. Togog diwajibkan
menjadi pengemis compang
camping. Kebersahajaan
Togog dianggap sebagai
kewajiban, padahal itu
adalah kemurahan hatinya.
Kemelaratan dan
kesengsaraan Togog
melegakan hati mereka.
Togog ada tidak ada
bedanya dengan Togog
tidak ada, demikian pada
pandangan Tuan dan rekanrekannya. Bagi Togog itu
adalah kegagalan diri. Ada
yang tidak ada bagi Togog

adalah dosa, maka ia


berupaya untuk tidak ada
yang semoga ada.
Togog berjongkok, orang
memandang pantatnya dan
merasa yakin bahwa itu
adalah wajahnya. Orang
mengintip Togog dari lubang
di antara dua jari jemarinya,
dan orang itu yakin bahwa
Togog lebih kecil dibanding
lubang di antara dua jari
jemarinya. Perut Togog
menutupi pandangan orang
terhadap rembulan, dan
orang yakin bahwa badan
Togog lebih besar dari
rembulan.
Togog bilang daun, yang
didengar orang adalah waru:
maka Togog dipersalahkan.
Togog bilang sinar, yang
didengar orang adalah
lampu: maka Togog dibodohbodohkan. Togog omong
tembakau, orang
melaporkan yang
diomongkan Togog adalah
cengkeh karena orang lebih
menyukai cengkeh dibanding
tembakau: maka Togog
dihardik.
Togog semalaman
tertidur di tepi kuburan,
paginya tersiar berita bahwa
semalam suntuk Togog
menelusuri kebun, memanjat
kelapa, mencuri mangga dan
tapa kungkum di telaga,
karena kabar yang semacam
ini yang lebih terasa manis di
telinga.
Togog adalah gerobak
pengangkut palawija yang

dipetiknya dari sawah antah


berantah. Palawija itu sangat
dibutuhkan oleh orang
sekampung, tapi mereka
lebih tertarik mengerubungi
gerobaknya yang kusam dan
peyot, sehingga Togog
melemparkan kembali
tumpukan palawija itu ke
sawah si empunya.
Togog bermurah hati
menyediakan makan gratis
bagi sejumlah fakir di depan
rumahnya tiap pagi dan sore.
Pada suatu hari Togog sibuk
mengobati sakitnya
rombongan fakir yang lain di
kampung sebelah sehingga
lupa menyediakan makanan:
maka Togog didemonstrasi
dan dituduh penipu.
Togog disuruh oleh
orang seantero pasar untuk
hampir tiap hari berkeliling
pasar sehingga orang
sepasar mengenalnya:
disimpulkan Togog berupaya
agar dikenal oleh orang
sepasar dengan cara
berkeliling pasar.
Togog diperah susunya
siang malam dan ia dilarang
makan maupun minum.
Togog diperintahkan untuk
mengangkut barang-barang
dan ia dilarang memelihara
kesehatan. Togog dituntut
menjadi tanaman padi di
sawah di mana orang
beramai-ramai menuai, dan
Togog dilarang menanam
padi.
Togog diwajibkan kerja di
sebuah pulau sepanjang

pagi, sepanjang siang harus


kerja lagi di pulau lain, juga
sepanjang sore dan
malamnya harus bekerja di
pulau demi pulau yang lain.
Untuk berpindah dari pulau
ke pulau lain Togog harus
merangkak dan berenang.

Togog adalah sepiring


nasi. Seribu orang meminta
masing-masing sepiring nasi
dari Togog. Seratus orang
menggugat kenapa minta
nasi kok tidak diberi roti,
seratus lainnya mengancam:
awas kalau Togog ikut-ikut
makan!
Itu edisi pertama ketogogan
Tolol, eh ketololan Togog,
yang menjadi sempurna justru
sesudah ia membungkam
mulutnya sendiri. Barangkali
ada volunteer yang berkenan
memborgol kaki dan tangannya
yang masih bebas itu?
Senang dan Ketemu
Oleh Muhammad Ainun Nadjib
Seandainya Anda tidak senang
ketemu saya, entah karena
tidak percaya pada hidup saya,
entah karena benci, dengki atau
apapun saya berdoa semoga
Allah memperkenankan kita
berdua untuk terhindar dari
pertemuan, dalam bentuk dan
cara apapun selama hidup kita
di dunia.
Tapi seandainya Anda senang
bertemu saya, sebagaimana
saya sangat senang berjumpa
dengan Anda semua, apalagi

secara langsung mohon maaf


saya tidak berdoa semoga Allah
mempertemukan kita.
Doa saya adalah: Semoga Allah
menghemat waktu Anda, enerji
Anda, pikiran dan seluruh
potensialitas hidup Anda
tidak melalui jalan di mana
Anda dipertemukan dengan
saya, melainkan Anda
dipertemukan dengan segala
sesuatu yang memang benarbenar Anda butuhkan secara
hakiki.
Blessing dan Ndilalah
Oleh Muhammad Ainun Nadjib
Kata kebenaran, padanannya
adalah the thruth, atau bahasa
Arabnya: al-haq. Kita pakai kata
itu ketika menjelaskan firman
Tuhan, teologi, hukum, moral
dan lain sebagainya.
Sedangkan kebetulan, akronim
yang dipakai biasanya adalah
blessing in disguise. Bahasa Al
Qurannya min haitsu la
yahtasib. Bahasa Kejawennya:
ndilalah, atau lengkapnya
ndilalah kersaning Allah.
Istilah kebetulan biasanya
dipakai untuk menjelaskan
nasib baik yang tak disengaja,
keberuntungan yang di luar
perhitungan. Ya itu tadi: min
haitsu la yahtasib, dari sesuatu
yang tidak engkau
perhitungkan. Kalau saya
dianiaya orang, saya langsung
kutip kata-kata Allah itu: min
haitsu la yahtasib!, ada sesuatu
yang tak engkau sangka-sangka

akan mendatangimu. Atau


ndilalah, yang bahasa aslinya:
indallah, atas kehendak Allah.
Pertanyaan kita adalah:
mosok kehendak Allah itu
hanya kebetulan, dan bukan
kebenaran.
Betul dan Benar
Oleh Muhammad Ainun Nadjib
Mohon maaf tak sengaja Anda
terpaksa ketemu saya lagi.
Mulai sekarang Anda sebaiknya
bersikap waspada dalam
memperhitungkan saat-saat
kapan, jam berapa saja,
terdapat kemungkinan kita
dipertemukan tanpa sengaja.
Demi Tuhan tak ada maksud
saya untuk memergoki atau
menjebak Anda. Pertemuan kita
ini semata-mata kebetulan saja.
Kebetulan itu asal katanya
betul. Betul itu sama dengan
benar. Tapi saya tidak berani
mengusulkan kepada Anda agar
menyepakati bahwa kebetulan
itu juga sama dengan
kebenaran meskipun selama
ini masyarakat kita memahami
kata kebetulan sangat-sangat
berbeda dengan makna
kebenaran.
Tak ada Ulama atau Pendeta
yang berkhutbah: Para Nabi
dan Rasul telah membawa
kebetulan.. Pasti mereka
katakan: Membawa
kebenaran.
Tentu Anda yang bisa
menjelaskan kepada saya apa

beda antara benar dengan


betul.
Peran Senyuman dalam
Pembangunan
Oleh Muhammad Ainun Nadjib
Seorang istri, yang bermurah
hati untuk tersenyum tatkala
menyambut suaminya datang,
menurut Rasulullah akan
diganjar kemuliaan oleh Allah
setingkat pahala orang
melakukan shalat tarawih.
Tentu saja itu bukan anjuran
agar para istri sebaiknya tak
usah bertarawih, asalkan ia
selalu tersenyum kepada
suaminya.
Sesungguhnya kalau kita murah
senyum, pergaulan akan lebih
indah, hangat dan segar.
Namun demikian atas seulas
senyum, sahabat-sahabat kita
bisa selalu tanpa sadar
menyiapkan seribu penafsiran.
Kalau sambil jalan di trotoar
kita senyum terus, orang bisa
menyangka kita sinting. Kalau
dalam situasi berdesakan di bis
kota kita tersenyum dan
pandangan mata kita mengarah
ke seseorang yang hatinya
sedang gundah, kita bisa
ditonjok karena dia tersinggung
atau merasa diejek.
Atau kalau sebagai wanita
cantik Anda tersenyum kepada
saya, lantas ternyata saya GR
dan diam-diam menafsirkan
bahwa senyuman Anda itu
bermakna cinta atau naksir
misalnya lantas ternyata

tidak ada kelanjutan tindakan


dari Anda sesuai dengan logika
harapan saya; bisa jadi Anda
lantas saya tuduh telah menipu
sesudah memberi saya
harapan.
Tapi insyaallah saya tidak akan
mencelakakan umpamanya
dengan mengumum-umumkan
tuduhan saya itu ke seantero
negeri.
Sekilo Beras dan Sebiji Ilmu
Oleh Muhammad Ainun Nadjib
Seorang kawan berkata:
Semakin banyak kita
menuangkan ilmu, jumlah ilmu
di dalam diri kita justru semakin
banyak. Itulah bedanya dengan
benda. Itulah beda antara roh
dengan jisim.
Saya memprotes: Jangan
terlalu banyak omong tentang
rohani. Masyarakat kita masih
belum terpenuhi problem
jasmaninya: kelayakan hidup
belum merata, lapangan kerja
semakin timpang jumlahnya
dibanding pencari kerja. Semua
itu urusan benda. Kalau kamu
terlalu banyak omong tentang
kehebatan rohani, nanti orang
makin mundur daya juangnya
untuk memperadilkan
perolehan benda, nafkah
keluarga, biaya sekolah anakanak dan lain-lain.
Kawan kita tertawa: Saya
justru bicara tentang benda,
tolol!, katanya ketus, Ilmu
bisa melipatgandakan benda,
tapi benda tidak begitu punya

kecenderungan untuk
memuaikan ilmu, melainkan
mengkerdilkannya.
Itu juga masih terlalu filosofis!
saya memotong, Berbicaralah
tentang sekilo beras, misalnya.
Benih sekilo beras adalah
sebiji ilmu. Perjuangan
membagi adil beras,
dipanglimai oleh ilmu. Rasa
malu untuk tidak menumpuk
sendiri beras-beras kehidupan
sementara banyak orang lain
setengah mati mencarinya,
adalah juga berkat panduan
ilmu.
Kebaikan dalam Rangka
Oleh Muhammad Ainun Nadjib
Sahabat saya dari luar kota
pada suatu larut malam di
Malioboro Yogya menjumpai
seorang penjual gudeg yang
tampak agak menggigil karena
kedinginan.
Orang ini berjualan gudeg
setiap malam sampai dinihari.
Ia membayangkan dalam
beberapa tahun paru-parunya
akan basah, keseluruhan
badannya akan sakit-sakitan,
dan akan cepat tua.
Maka jaket yang ia pakai,
langsung ia berikan kepada si
penjual gudeg.
Yang sahabat saya tak sadari
adalah bahwa penjual gudeg ini
seorang gadis, perawan, yang
wajahnya cukup manis. Maka
esoknya tersebar berita dalam
komunitas gudeg Yogya bahwa
sahabat saya itu naksir si

penjual gudeg, sehingga


memberinya jaket dalam
rangka melakukan pendekatan.
Si perawan ini sendiri
beranggapan demikian
sehingga ia merasa sahabat
saya ini sedang menjanjikan
sesuatu yang akan
dikembangkannya lebih lanjut.
Maka ketika kemudian sahabat
saya tidak melakukan apa-apa
lebih lanjut, si perawan merasa
kecewa, sakit hati, sementara
warga komunitas gudeg yang
lain menganggap bahwa
sahabat saya ini
mempermainkan si perawan
gudeg.
Mungkin ini contoh dari
budaya dalam rangka yang
sudah memasyarakat. Kalau
seseorang memberi,
menyumbang, melakukan
kebaikan, dipahami sebagai
upaya untuk menggapai
sesuatu di luar kebaikan itu.
Kebaikan sukar berdiri sendiri
dan murni sebagai kebaikan itu
sendiri.
Sorga Neraka di Kaki Ibu
Oleh Muhammad Ainun Nadjib
Ibu saya berkata: Sorga
berada di bawah telapak kaki
Ibu itu artinya bukan bahwa
Ibumu ini berkuasa atasmu,
sehingga tidak ada kebaikan
bagimu kecuali mematuhi apa
saja kata Ibu kepadamu.
Sorgamu ada di kakiku, Nak.
Jadi amanat Tuhan kepada
Ibumu sangat berat. Ibu wajib

mensorgakan hidupmu. Ibumu


harus memproses kesorgaanmu
di dunia dan akhirat. Ibumu
wajib bersikap terbuka dan adil
agar engkau bisa merundingkan
masa depan sorgamu sebaikbaiknya.
Sorga di kakiku ini disediakan
untukmu, Nak. Tapi neraka di
kakiku disediakan buat kita
berdua. Kalau tak kusediakan
pendidikan jalan ke sorga
untukmu, Ibumu tercampak ke
dalam neraka. Kalau hati Ibumu
marah atau sakit hati
kepadamu tanpa dasar yang
Tuhan merelakannya, maka
neraka bukan untukmu,
melainkan untuk Ibumu.
Nak, kalau Ibumu
menyediakan jalan neraka
bagimu, ingatkanlah aku.
Namun kalau kusediakan jalan
sorga bagimu, engkau wajib
patuh kepadaku.

mencuri hak orang lain, begitu


banyak hamba Allah memeras
dan menindas kedaulatan
hamba Allah yang lain, tapi ilmu
kita terbentur pada dugaan
bahwa Allah Maha Sabar.
Saya menyebut itu misteri.
Sebab pasti Tuhan memiliki
takaran kesabaranNya sendiri,
memiliki kearifan dan
strateginya sendiri, serta
memiliki komprehensi
penyikapan sendiri dalam
rangkaian maksud dan
kehendak yang sungguh tak
terhingga untuk mampu
disentuh oleh kerdilnya akal
manusia.
Dalam penderitaan separah
apapun, semoga kita terlindung
dari kecenderungan untuk
bersangka buruk kepada Tuhan.

Misteri Kesabaran
Oleh Muhammad Ainun Nadjib

Untuk mencuri, saya


memerlukan tiga hal.
Pertama, sesuatu yang saya
curi.
Kedua, saya memerlukan
peluang waktu untuk
melakukan pencurian.
Dan ketiga, saya membutuhkan
suatu tempat untuk menyimpan
sesuatu itu sesudah saya
pindahkan dari tempatnya yang
semula.
Jadi, dengan sekali mencuri,
dosa atau kesalahan saya
bertumpuk-tumpuk.
Sesuatu yang saya curi itu pasti
bukan milik saya.

Salah satu kenyataan yang


sangat misterius bagi
keterbatasan akal manusia
adalah praktek-praktek
kesabaran Tuhan. Mungkin itu
yang menyebabkan Tuhan
bergelar Maha Sabar, bukan
sangat sabar, atau juga bukan
terlalu sabar.
Begitu banyak manusia
menyakiti manusia: batas
pengetahuan kita adalah bahwa
terhadap itu semua Tuhan Maha
Sabar. Begitu banyak orang

Mencuri
Oleh Muhammad Ainun Nadjib

Waktu yang saya pakai untuk


mencuri pun bukan milik saya.
Dan seandainyapun pihak yang
berhak atas waktu
meminjamkannya kepada saya,
maka pasti ia tidak mengizinkan
waktu saya pakai untuk
mencuri.
Lantas tempat yang saya
gunakan untuk
menyembunyikan barang
curian itu jelas bukan milik saya
pula. Sebab saya tidak pernah
bisa menciptakan ruang, tanah,
dunia atau apapun saja
sehingga bagaimana mungkin
saya pernah benar-benar punya
hak atas suatu tempat.
Belum lagi kalau saya hitung
bahwa tangan, otak, mata,
telinga, darah, tenaga dan
lain sebagainya yang semua
saya kerahkan untuk
melakukan pencurian, ternyata
juga sama sekali bukan milik
saya.
Jadi, sekali mencuri, langsung
saya dapatkan puluhan
kesalahan, bahkan mungkin
ribuan dosa.
Direktur dan Sopir
Oleh Muhammad Ainun Nadjib
Kita menyimpulkan bahwa
karena tingkat pendidikan,
karena bakat dan kapasitas
pribadi, maka Pak A mampu
menjadi direktur, sementara
Pak B hanya mampu menjadi
sopirnya.
Kalau misalnya saya seorang
yang sangat berkuasa, dan

memerintahkan agar Pak


Direktur mulai hari ini menjadi
sopir dan Pak Sopir menjadi
direktur, maka Pak A mungkin
berkata begini: Bukan saya
tidak mampu, tapi saya tidak
mau.
Kita menyimpulkan bahwa
menjadi sopir atau buruh kecil
apapun itu gampang, sehingga
sangat tidak menyulitkan pak
direktur, pak menteri atau pak
komisaris untuk melakukannya.
Mereka sangat mampu, tapi
seumur hidup tak akan pernah
mau, sehingga akhirnya
ketidak-mauan itu
sesungguhnya adalah juga
ketidak-mampuan.
Saya sendiri pasti tidak mampu
bekerja sebagai pembantu
rumahtangga: seharian bekerja,
mencuci, memasak, siap
disuruh apa saja, rela
dibangunkan jam berapapun
untuk memenuhi keperluan
juragan.
Maka bukan saja para
pembantu rumah tangga itu
tidak kalah unggul atau tidak
lebih rendah dibanding saya.
Saya malah curiga saya yang
kalah unggul dibanding para
pembantu rumahtangga.
Mereka tiap saat menjamin
keberesan dan kegembiraan
rumahtangga saya, sedangkan
saya tidak pernah bertanya apa
bunyi perasaan mereka.
Mensana Mensini
Oleh Muhammad Ainun Nadjib

Mensana incorporesano, di
dalam badan yang sehat
terdapat jiwa yang sehat.
Ini filosofi dasar tentang betapa
pentingnya berolahraga,
merawat kesehatan badan,
agar semua onderdilnya
berfungsi maksimal.
Hanya saja, banyak orang yang
tubuhnya sakit-sakitan tapi
jiwanya sehat, akalnya tegak,
mentalnya positif, hatinya
teguh, sehingga produk moral
sosialnya juga
menggembirakan orang lain.
Sementara tidak sedikit orang
yang tubuhnya sangat sehat,
makan minumnya bergizi
ultramodern, konsumsi
badaniahnya mahal dan
bergengsi namun jiwanya
kotor, mentalnya kacau,
akalnya licik, hatinya egoistik,
suka memeras dan mau
enaknya sendiri, sehingga hasil
perilakunya juga menyusahkan
orang banyak.
Yang kita perlukan sekarang
adalah teman yang bisa
berbahasa Yunani dan
merumuskan mensana
incorporesano namun di balik.
Badan yang sehat terletak di
dalam jiwa yang sehat.
Orang yang sehat jiwanya tahu
persis bahwa badan harus
disehatkan, tapi orang yang
berbadan sehat tidak dijamin
sadar atau bersedia untuk
menyehatkan jiwanya.
Kalau tak ada yang tahu apa
bahasa Yunaninya, ya kita
ciptakan sendiri saja: Mensana
Mensini.

Matematika Buruh
Oleh Muhammad Ainun Nadjib
Tulang punggung setiap
lembaga usaha atau
perusahaan adalah masyarakat
buruh. Tulang punggung itu
bersusun-susun atau berlapislapis. Lapisan paling luar adalah
etos kerja yang maksimal pada
para buruh.
Supaya etos kerja mereka
tinggi, mereka memerlukan
keikhlasan bekerja.
Supaya hati mereka ikhlas,
terlebih dulu mereka perlu
merasa bahagia dan bangga
menjadi bagian dari
perusahaan.
Supaya mereka bangga,
mereka butuh pengetahuan dan
pengalaman bahwa tidak ada
tempat lain di mana mereka
bisa mendapatkan tingkat upah
dan santunan yang melebihi
perusahaan di mana mereka
bekerja.
Supaya kebahagiaan diperoleh
oleh masyarakat buruh, mereka
memerlukan kenyataan bahwa
nafkah keluarga mereka
terjamin, ekonomi rumahtangga
mereka aman.
Supaya produktivitas kerja
mereka meningkat lagi, maka
kebahagiaan yang mereka
dapatkan tidak sekedar
terjamin dan aman, tapi juga
lebih dari itu.
Maka kita tidak heran kalau
seorang pimpinan perusahaan
berkata kepada Tuhan dalam

sembahyangnya: Tuhan,
buruh-buruh yang bekerja
padaku bukan hanya asset
perusahaanku. Mereka adalah
kekasih hidupku.
Jiwo dan Tejo
Oleh Muhammad Ainun Nadjib
Di desa, saya punya dua teman.
Yang satu Jiwo namanya,
lainnya Tejo. Nasib mereka
berbeda. Posisi mereka tidak
sama. Cara orang banyak
memandang dan menilai
mereka juga unik.
Misalnya dalam pergaulan.
Kalau Jiwo terlihat di warung,
duduk di sisi seseorang yang
dikenal suka maling, maka
orang menyebut Jiwo adalah
temannya maling, punya
rancangan kolusi untuk maling,
dengan kata lain Jiwo dianggap
juga seorang maling. Contoh
lain kalau Jiwo pada suatu siang
tampak diboncengkan oleh
sepeda motor Pak Lurah, maka
orang menganggap Jiwo sudah
direkrut oleh Pak Lurah, sudah
berkongkalikong dengan Pak
Lurah, sudah berkhianat kepada
sebagian penduduk yang
kebetulan pernah disusahkan
hidupnya oleh Pak Lurah.
Adapun nasib Tejo berbeda.
Kalau ia akrab dengan maling,
orang menyimpulkan itu adalah
taktik untuk menginsafkan
maling. Kalau Tejo jalan
runtang-runtung dengan tukang
renten, itu adalah bagian dari
strategi makro politik

perekonomian Tejo. Kalau Tejo


pagi hari bercengkerama
dengan buruh-buruh di gardu,
sorenya dijamu di rumah Pak
Lurah orang menyimpulkan
Tejo adalah seorang yang
kosmopolit, seorang demokrat
sejati dan arif, yang mau
bergaul dengan siapa saja.
Ada kemungkinan, jika kelak
Jiwo masuk sorga, orang akan
menyebut itu adalah
penyelundupan, atau sekurangkurangnya Jiwo telah menyogok
agar bisa masuk sorga.
Sedangkan kalau Tejo masuk
neraka, itu adalah strategi
untuk menghindari sikap
takabur bahwa ia
sesungguhnya berhak masuk
sorga. Juga Tejo sengaja
menemani orang-orang
menderita di neraka.
Managemen Zam Zam
Oleh Muhammad Ainun Nadjib
Kata Tuhan: Kalau engkau
bersyukur, akan kutambahi
berlipat-lipat. Kalau engkau
ingkar, ingatlah siksaanku
sangat dahsyat.
Empati kepada derita atau
kekurangan orang lain,
kemudian upaya untuk
mengisinya, adalah suatu
bentuk rasa syukur. Egoisme,
ketidakperdulian terhadap
keadaan orang lain, adalah
ingkar terhadap hakekat
kebersamaan hidup. Orang
menciptakan sistem sosial atau
menyelenggarakan lembaga

sejarah yang bernama


negara, sesungguhnya karena
berusaha memenuhi ketentuan
Tuhan melalui hakekat dan
formula kemakhlukan alam dan
manusia.
Maka semakin kita menghayati
derita orang lain dan bersedia
bekerjasama untuk mengatasi
penderitaan itu, semakin lebur
kita di dalam kebersamaan
hidup, sehingga Tuhan juga
semakin sayang kepada kita.
Kalau kita disayang Tuhan, kita
seakan-akan menjadi air zam
zam. Tak akan habis. Bukannya
kita hebat, bukannya kita tidak
akan habis. Melainkan Tuhan
yang hebat, karena Tuhan
memang tidak akan pernah
habis.
Seribu Rupiah
Oleh Muhammad Ainun Nadjib
Uang seribu rupiah, kalau kita
pinjamkan tiga ratus rupiah,
menjadi tinggal tujuh ratus
rupiah.
Kalau yang tiga ratus rupiah itu
kita sampaikan kepada orang
lain dengan ikhlas dan
berdasarkan apresiasi terhadap
kadar kebutuhan orang yang
diberi, serta dengan
kebahagiaan memahami bahwa
Tuhan menyediakan alam ini
untuk berbagi - maka uang
seribu rupiah itu bisa malah
menjadi tujuh ribu rupiah.
Yang enam ribu tiga ratus
rupiah itu bisa berupa uang,
bisa juga berupa potensialitas

rejeki dan kebahagiaan hidup


yang bermacam-macam
bentuknya, yang datangnya
tidak kita duga-duga dan lolos
dari hitungan managemen kita.
Setahun 23 Bulan
Oleh Muhammad Ainun Nadjib
Begitu seorang karyawan
diterima, keluarganya dipanggil
ke kantor untuk diberikan gaji
tiga bulan pertama. Jumlah gaji
yang diberikan dua kali lipat
lebih banyak dibanding standar
umum, sehingga sangat jauh di
atas UMR.
Pimpinan perusahaan berkata
kepada istri si karyawan:
Mudah-mudahan dengan uang
seadanya ini rumah tanggamu
aman. Tolong dorong suamimu
agar bekerja keras. Kami semua
juga mohon doa agar usaha kita
ini diridhoi Tuhan sehingga
bermanfaat bagi semua
warganya dan masyarakat
luas.
Kalau datang hari ulang tahun
Nabi Muhammad, semua
karyawan digaji tiga bulan.
Demikian juga pada hari-hari
besar lain, termasuk 17
Agustus. Kalau Idul Fitri tiba,
diterimakan gaji lima bulan.
Dalam setahun, yang diterima
para karyawan sebanyak 23
bulan gaji.
Pada idul adha, semua
karyawan diberi jatah
perkelompok untuk berkorban.
Biasanya setiap hari raya
korban oleh perusahaan

disediakan sekitar 160 sapi, 500


kambing serta sejumlah uang.
Zakat dan infaq perusahaan
keseluruhan perusahaan ini
pertahun antara 12 hingga 15
milyar.
Semua itu tidak pernah
ditayangkan di teve ataupun
dimuat di surat kabar.
Penumpang Dari Gang
Oleh Muhammad Ainun Nadjib
Kita para sopir taksi memiliki
perhitungan tentang wilayahwilayah tertentu pada jam-jam
tertentu yang kira-kira banyak
penumpang. Kita memilih lahan
mencari nafkah berdasarkan
perhitungan peta pasar
penumpang.
Demikianlah akal kita membaca
dunia dan kehidupan.
Tapi pada suatu siang kita lewat
di suatu jalan, pada jam
tertentu, menit tertentu dan
detik tertentu muncullah
seseorang dari dalam sebuah
gang, yang langsung
melambaikan tangan
memanggil taksi kita.
Bisakah akal kita
memperhitungkan atau
memperkirakan adegan itu?
Bisakah kita mengetahui bahwa
pada detik itu seseorang akan
nongol dari gang dan
memanggil kita? Kalau tidak,
siapakah yang mengatur
pertemuan di sebuah detik itu?
Kalau kita lebih cepat lima
detik, maka taksi lain yang akan

dipanggil oleh calon


penumpang dari gang itu.
Apakah kalau kita lewat terlalu
cepat maka kita simpulkan
bahwa memang itu bukan rejeki
kita, melainkan rejeki kawan
sopir taksi di belakang kita?
Ataukah kita sedang dirancang
untuk mendapatkan rejeki
berikutnya yang lebih besar
dari calon penumpang yang lain
yang entah di mana nanti akan
mencegat kita?
Hidayah Penumpang Taksi
Oleh Muhammad Ainun Nadjib
Kita para sopir taksi, dari
berbagai perusahaan, berbagi
wilayah. Demikianlah etika
orang berusaha, serta
demikianlah cara kita
menjalankan amanat Tuhan
untuk membagi alam dan dunia
ini secara seadil mungkin.
Dengan kata lain, menjalankan
etika bisnis, pada hakekat dan
kenyataannya adalah
menjalankan nilai Agama, alias
mematuhi penuturan Allah di
kitab suci.
Namun di setiap wilayah itu kita
bersaing satu sama lain. Ada di
antara kita yang suka menang
sendiri atau menyerobot,
mungkin karena dia tidak punya
pengetahuan yang cukup luas
tentang rejeki.
Ada juga di antara kita yang
suka mengalah dan tidak
bersedia gontok-gontokan.
Mungkin karena ia memang
orang lembek, hatinya tidak

tegaan, atau karena dia yakin


Tuhan sangat bersahabat
dengan hambaNya yang berhati
lapang kepada sesama
manusia.
Karena Tuhan bersahabat
dengannya, maka batas rejeki
sopir taksi sahabat kita itu tidak
dibiarkan terbatas pada
perolehan dari penumpang, tapi
juga dari kemurahankemurahan yang tak terduga.
Kemurahan itu bisa datang dari
luar urusan taksi, bisa juga
melalui seorang penumpang
yang dihidayahi Tuhan untuk
bermurah hati kepadanya.

Apalagi kalau menyaksikan


persaingan keras, sehingga
yang satu laku keras sedangkan
lainnya tidak begitu laku
rasanya mau bunuh diri saya
Hatimu memang rapuh, saya
berkomentar terus.
Itulah yang ingin saya
kemukakan kepadamu,
katanya, Hati saya sangat
rapuh. Sedangkan orang-orang
kecil yang saya ceritakan itu
berhati baja. Mereka tidak
bergeming oleh penderitaan,
oleh tekanan-tekanan .
Kebesaran Orang Kecil
Oleh Muhammad Ainun Nadjib

Hati Rapuh
Oleh Muhammad Ainun Nadjib
Seorang teman berkata kepada
saya: Hati saya ini sangat
rapuh
Apa maksudmu?
Tiap hari kerjanya mau nangis
dan menyalahkan diri sendiri
Cespleng saja, apa
maksudmu?
Sekedar melihat orang
berjualan makanan, memikul
angkringan atau mendorong
gerobak, saya sudah hendak
menangis
Itu namanya gembeng, kata
saya.
Melihat orang bekerja sebegitu
suntuk, seharian, semalaman,
untuk mencari seribu dua ribu
rupiah untuk anak istri,
perasaan saya hancur
Romantik, kata saya lagi.

Kebanyakan orang kecil adalah


orang besar. Mereka bukan
hanya berhati tabah, bermental
baja dan berperasaan terlalu
sabar, tapi juga berkemampuan
hidup yang luar biasa.
Mereka sanggup dan rela
berjualan beberapa botol air
untuk penghidupan primernya.
Kita pasti juga sanggup
berjualan seperti itu, tapi tidak
rela.
Orang kecil mampu menjadi
kenek angkutan, menjadi
satpam, menjadi tukang parkir
atau menjadi pembantu rumah
tangga seumur hidup.
Sedangkan kita tidak mampu
dan tak akan pernah bisa
membuktikan bahwa kita
sanggup menjadi kenek atau
satpam atau pembantu rumah
tangga seumur hidup.

Mereka ikhlas untuk tidak boleh


terlalu memikirkan harapan dan
masa depan. Sementara kita
selalu memamerkan harapan
dan masa depan yang kita
pidatokan seakan-akan berlaku
untuk mereka, padahal hanya
berlaku untuk kita.
Mereka adalah orang-orang
besar yang berjiwa besar.
Mereka senantiasa siap
menjalankan perintah kita dan
menyesuaikan segala
perilakunya dengan kehendak
kita.
Kita inilah yang sebenarnya
orang kecil. Kita hanya ikhlas
kalau kita kaya, sukses dan
berkuasa. Kita hanya sanggup
menjadi pembesar. Kita hanya
sanggup memerintah dan
menggantungkan diri pada
orang yang kita perintah.
Staf Khusus
Oleh Muhammad Ainun Nadjib
Ada anak-anak kecil menjajakan
makanan di perempatan jalan.
Sebagian yang lainnya
meminta-minta. Karena
inisiatifnya sendiri atau
dipekerjakan oleh orangtuanya,
atau diorganisir oleh bos
komunitasnya, sebagaimana
juga yang mungkin terjadi pada
para penyandang lepra yang
dijadikan armada pengemis di
berbagai tempat strategis kotakota besar.
Di buku mana nama-nama
mereka kita daftar? Kepada
siapa nasib mereka kita

adukan? Di lembaran formulir


peradaban manusia pandai
modern yang mana jumlah
mereka dihitung?
Ada orang bijak berkata:
Jangan kawatir. Nasib mereka
ada di tangan Tuhan.
Apakah itu berarti Tuhan
membebaskan ummat manusia,
negara dan organisasiorganisasi kehidupan dalam
sejarah, dari tanggung jawab
dan kasih sayang kepada
mereka?
Dengan kata lain: apakah Tuhan
dijadikan staf khusus manusia
yang bertugas mengurusi
masyarakat yang menderita?
Kenikmatan
Oleh Muhammad Ainun Nadjib
Rasanya nikmat bukan main
kalau karier kita sukses,
pendapatan kita berlimpah,
rumah dan saham kita
bertebaran di mana-mana, kita
jadi boss, kita punya kelebihan
di atas banyak orang, mereka
semua lebih rendah dari kita,
semua orang menunduk dan
tinggal kita perintah-perintah.
Pada posisi seperti itu kita
sangat sukar percaya bahwa
ada kenikmatan yang jauh lebih
dahsyat.
Ialah kalau yang disebut
pribadi kita bukanlah individu
kita, melainkan merangkum
sebanyak mungkin orang.
Ialah kalau yang dimaksud
keluarga kita bukanlah
sebatas sanak famili dan

koneksi, melainkan meluas ke


sebanyak mungkin saudarasaudara sesama manusia.
Ialah kalau orang tidak lebih
rendah dari kita.
Keberlimpahan kita adalah
keberlimpahan banyak orang.
Saham kita adalah saham
harapan banyak orang.
Kebahagiaan kita adalah bank
masa depan orang banyak.
Dan kita bukan bos, melainkan
buruh dari rasa malu sosial dan
kasih sayang kemanusiaan
yang terkandung di lubuk batin
kita.
Tapi ya itu tadi; orang sukar
percaya, dan bertahan untuk
tidak percaya.
Bodoh di Depan Tuhan
Oleh Muhammad Ainun Nadjib
Karena saya tidak bisa
membuat tangan dan kaki saya
sendiri, karena saya tidak
sanggup menciptakan kepala
dan otak saya sendiri, karena
bahkan saya tidak mampu
memproduksi sehelai rambut
alis atau sehelai rambut apapun
lainnya, maka modal dan
ekuipmen produksi yang saya
pergunakan bukanlah benarbenar saham saya.
Jadi kalau dengan itu saya
merasa dan yakin bahwa
pendapatan hidup saya adalah
sepenuhnya hak pribadi saya,
berarti:

Saya tidak punya


pengetahuan tentang diri
saya sendiri

Saya tidak bersikap


realistis kepada kenyataan
hidup
Saya juga tidak berlaku
ilmiah atas kasunyatan
dialektika hubungan
kemakhlukan
Dan saya bodoh kepada
Tuhan
Jendela di Sorga
Oleh Muhammad Ainun Nadjib

Seandainya Allah berkenan


memasukkan kita ke sorga,
lantas suatu sore kita
beristirahat, bermain gitar,
bersenandung sambil
memandang keluar jendela, dan
tampak saudara-saudara kita
sendiri yang kita kenal baik
sedang meraung-raung disiksa
di kubangan api neraka,
rasanya tidak tega juga.
Padahal kita sah masuk sorga
dan saudara-saudara kita itu
memang pantas masuk neraka.
Tapi kita tetap tidak tega.
Padahal itu di sorga. Apalagi di
dunia ini. Kita belum tentu
pantas berbahagia, karena
mungkin jalan kita untuk kaya
dan sejahtera tidak seratus
persen sah secara sistem.
Jutaan saudara-saudara kita
juga bisa jadi seharusnya tidak
melarat dan menderita,
seandainya tatanan yang
mengatur kehidupan kita
semua ini berlaku semestinya.
Tapi tatkala kalimat-kalimat ini
saya ungkapkan kepada temanteman, mereka berkata: Masa

di sorga ada sore hari dan ada


jendela. Masa di sorga kita bisa
main gitar dan bersenandung.
Padahal saya tidak berbicara
tentang sorga, melainkan
seratus persen tentang dunia.
Kehilangan Muka
Oleh Muhammad Ainun Nadjib
Menurut orang bijak,
kedewasaan adalah
pengetahuan dan penerimaan
terhadap kewajaran sosial,
serta mengutamakannya di
atas kewajaran pribadi.
Mungkin saya ini seorang
pengusaha raksasa yang
berpendapatan bersih satu hari
4 juta dolar Amerika Serikat.
Tapi kalau itu kita telah semua
untuk konsumsi pribadi dan
keluarga, kayaknya kurang
memenuhi kewajaran sosial.
Yakni kesanggupan untuk
mengukur secara tepat proporsi
diri saya di tengah
kebersamaan orang banyak.
Seandainyapun yang saya
konsumsikan dalam sehari
sekedar seperseribu dari 4 juta
US dolar, saya masih
kehilangan muka di depan
perasaan yang bernama malu.
Keunggulan
Oleh Muhammad Ainun Nadjib
Keunggulan kita atas orang lain
tidak ditentukan oleh kenyataan
bahwa kita lebih berkuasa, lebih
pandai atau lebih kaya.

Melainkan ditentukan oleh


tingkat manfaat kita atas orang
banyak.
Harga pribadi kita di tengah
orang banyak tidak bergantung
pada tingginya pendapatan
ekonomi saya, oleh sukses
karier kita, atau oleh simbolsimbol reputasi yang bisa kita
pamerkan. Melainkan
bergantung pada seberapa
banyak yang bisa kita berikan
kepada orang banyak.
Tegaan Hati
Oleh Muhammad Ainun Nadjib
Kalau tiap hari kita bisa tenang
mengunyah makanan yang satu
paket harganya sama dengan
gaji resmi pegawai negeri 4A
misalnya.
Kalau satu hari konsumsi dan
fasilitas hidup keluarga kita
tidak bisa didapatkan oleh
jutaan saudara-saudara kita
sendiri dengan bekerja keras
tiga bulan penuh ditambah
lembur tiap malam; dan kita
mengenyam itu semua dengan
perasaan yang tenteramtenteram saja maka
kemungkinannya ada tiga.
Pertama, kita tidak punya
imajinasi sosial.
Kedua, kita tahu masalah sosial,
tapi tak bisa bersikap ilmiah,
sehingga tak bisa merumuskan
keharusan-keharusan hidup
kita.
Kemungkinan ketiga, memang
kita kurang bermoral dan
tegaan hati.

Ranjang 65 Juta Rupiah


Oleh Muhammad Ainun Nadjib
Kita bisa dan boleh membeli
ranjang dan kasur tidur seharga
65 juta rupiah. Tapi kita pilih
yang harganya satu juta rupiah
saja. Atau yang harganya
seratus ribu rupiah saja. Bahkan
ada teman kita yang memilih
jauh lebih murah dari itu.

Kenapa? Salah satu jawabannya


adalah: karena ia dewasa.
Ranjang 65 juta rupiah itu bisa
dipakai untuk menggaji 2000
guru sekolah dasar, atau untuk
makan minum sebulan 1000
keluarga rakyat kecil, atau bisa
juga dipakai untuk memodali
130 organisasi koperasi wong
cilik.