Anda di halaman 1dari 12

Perspektif Vol. 11 No. 1 /Juni 2012.

Hlm 79 - 90
ISSN: 1412-8004

PENGEMBANGAN KARET ALAM (Hevea brasiliensis)


BERKELANJUTAN DI INDONESIA
Sustainable Development of Natural Rubber in Indonesia
SABARMAN DAMANIK

Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan


Jl. Tentara Pelajar 1.Bogor 16111. Telp. (0251) 8313083. Faks. (0251) 8336194
E-mail: tuanbuttu@yahoo.co.id
Diterima : 11 April 2012; Disetujui : 20 November 2012
ABSTRAK
Pengembangan karet berkelanjutan merupakan salah
satu faktor penting yang menentukan investasi usaha
perkebunan karet karena investasi pada komoditas ini
merupakan investasi jangka panjang. Oleh karena itu
dalam tulisan ini didiskusikan tentang kajian tersebut
yang mencakup luas pertanaman, produksi, konsumsi
perdagangan, dan harga karet tingkat nasional
maupun internasional. Produksi dan konsumsi karet
dunia diperkirakan akan tumbuh dengan laju 2,5% /
thn, sedangkan perdagangan karet dunia diperkirakan
akan tumbuh dengan laju 2,6% pertahun, sehingga
harga karet diperkirakan akan berkisar antara 1,2-1,5
US$/kg. Berdasarkan informasi tersebut, dengan
skenario moderat, Indonesia diperkirakan mempunyai
peluang untuk meningkatkan produksi yang sekaligus
juga menambah volume ekspor mencapai 2,2% per
tahun. Dalam upaya memanfaatkan peluang tersebut,
Indonesia masih menghadapi berbagai masalah. Untuk
mengatasi permasalahan tersebut diperlukan beberapa
kebijakan seperti yang disarankan dalam studi ini.
Kata kunci: Karet, Hevea
berkelanjutan

brasiliensis, mutu, hasil,

ABSTRACT
Prospect of sustainable rubber development is one of
the important factors determining investment in
rubber plantations as thikind of investment is a long
term one. In according with this issue, area,
production, consumption, trade, an price of rubber,
either in term of international or national perspective
are discussed. World production an consumption are
projected to increase at the same growth rate that is at
2,5 % annual growth rate. World trade a projected to
increase by 2,6/cent/annum, while rubber price is
estimated to lie between USS$ 1,2 1,5 per kg in the
next decade. Based on these figures and with a
moderate scenario. Indonesia is estimated to have a
opportunity to increase rubber production and export

by 2,2% per annum, respectively. To capture these


opportunities, Indonesia still faces some problems in
relation to low productivity and product quality. The
overcame these problems, same polities are also
proposed within this study.
Keywords: Rubber, Hevea brasiliensis, development,
product, quality, sustainable

PENDAHULUAN
Karet (Hevea brasiliensis) merupakan tanaman
perkebunan
yang
penting
baik
bagi
perekonomian masyarakat maupun sumber
devisa non migas bagi negara. Tanaman karet
berasal dari lembah Amazon, Brazilia yang
mempunyai curah hujan antara 2000-3000
mm/thn dan hari hujan antara 120-170 hari/thn
(Sutardi, 1981). Pengembangan karet dunia
terkonsentrasi pada daerah antara 10o LU dan 10o
LS (Moraes, 1977), salah satunya adalah
Indonesia. Sebagian besar areal perkebunan karet
Indonesia terletak di Pulau Sumatera (70%),
Kalimantan (24%) dan Jawa (4%). Daerah-daerah
tersebut memiliki curah hujan antara 1500- 4000
mm/thn dengan rata-rata bulan kering 0-4 bulan
per tahun dan mempunyai elevasi < 500 m dpl.
Thailand,
India,
dan
China
sedang
mengembangkan karet di daerah semiarid,
elevasi tinggi, dan daerah sub tropis
(Vijayakumar et al., 2000).
Areal Pertanaman karet di Indonesia
meliputi area seluas 3.445.317 ha, dengan
produksi total sebesar 2.770.308 ton pertahun
(Direktorat
Jenderal
Perkebunan,
2010).
Perbandingan luas areal menurut status
pengusahaan yaitu perkebunan rakyat 84,66%,
perkebunan besar negara 7,11%, dan perkebunan
besar swasta 8,23%. Produksi perkebunan rakyat

Pengembangan Karet Alam (Hevea brasiliensis) Berkelanjutan di Indonesia (SABARMAN DAMANIK)

79

78,97%, perkebunan besar negara 10,08% dan


perkebunan besar swasta 10,95%. Nilai ekspor
karet Indonesia tahun 2008
sebesar US$
6.023.295.600 dengan volume 2.283.153,8 ton. Laju
pertumbuhan produksi karet dunia diperkirakan
2,5% per tahun sedangkan laju perdagangan
dunia tumbuh 2,6% (BPS, 2009).
Indonesia mempunyai potensi untuk menjadi
produsen utama karet dunia walaupun saat ini
masih menduduki posisi kedua setelah Thailand.
Hal ini dapat terjadi jika permasalahan utama
yang dihadapi perkebunan karet dapat diatasi
dan agribisnisnya dikembangkan serta dikelola
secara baik. Indonesia masih memiliki lahan
potensial sekitar 0,5 juta hektar (Direktorat
Jenderal Perkebunan, 2010), yang cukup besar
untuk pengembangan karet
terutama di
Kalimantan
Barat,
Kalimantan
Tengah,
Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan
Papua. Hasil penelitian (Thomas et al., 2007),
karet dapat ditanam pada elevasi > 500 m dpl,
dan daerah beriklim kering dengan curah hujan
kurang dari 1500 mm/th. Hal ini menambah
peluang Indonesia untuk dapat memperluas
areal pertanaman karet.
Dalam situasi perkaretan dunia beberapa
tahun terakhir mengalami peningkatan karena
bertambahnya permintaan khususnya karet alam.
Terkait kondisi harga karet dunia yang relatif
stabil dan cukup tinggi, maka perluasan areal
perkebunan karet Indonesia diperkirakan akan
terus berlanjut dan perlu mendapatkan
dukungan agar kebun yang berhasil dibangun
dapat memberikan produktivitas yang tinggi.
Tahun 2025 diperkirakan Indonesia dapat
menjadi produsen utama karet dunia dengan luas
areal perkebunan karet mencapai 4,5 juta ha dan
mampu menghasilkan 3,3 juta ton.
Perkembangan karet alam masih mempunyai
harapan untuk tetap bertahan di pasar
internasional. Industri pabrik ban mobil tidak
selamanya memihak pada karet sintetis, karena
sebagian sifat karet alam tidak dimiliki oleh karet
sintetis.
Perkembangan
akhir-akhir
ini
menunjukkan semakin banyak industri ban
radial yang memakai karet alam sebagai bahan
bakunya. Sejak dekade 1980 hingga saat ini,
permasalahan karet Indonesia adalah rendahnya
produktivitas dan kualitas karet yang dihasilkan,

80

khususnya karet rakyat. Sebagai gambaran


produksi karet rakyat hanya 600-650 kg
KK/ha/th.
Walaupun
demikian,
peranan
Indonesia sebagai salah satu produsen terbesar
karet alam dunia masih dapat diraih kembali
dengan memperbaiki teknik budidaya dan pasca
panen/pengolahan.
Perkembangan cara penyajian karet alam
ternyata sangat menarik. Timbulnya industri
karet dengan spesifikasi teknis merupakan
perkembangan yang sangat positif sebagai
jawaban yang sangat nyata. Demikian pula
dengan cara pengepakan yang baik akan
membuka era baru penyajian karet alam. Kondisi
kemajuan seperti ini menyebabkan para
konsumen mulai berpaling lagi ke karet alam.
Selain hal tersebut di atas, kemajuan lain
yang terjadi pada industri karet alam di
antaranya :

Pembuatan
karet
secara
kimia
yang
menghasilkan karet tahan minyak pelumas.
Penemuan karet termo-plastik yang berasal
dari campuran karet alam dan polipropilen.
Perluasan penggunaan karet alam untuk
pembuatan barang bukan ban.
Penemuan teknik pencangkokan dari lateks.
Perbaikan teknik eksploitasi seperti penggunaan stimulan dan penyempurnaan alat
sadap.

Melalui inovasi teknologi seperti di atas,


bukan tidak mungkin usaha ini akan
memberikan dampak pada kenaikan harga jual
dan penurunan biaya produksi. Oleh karena itu
terdapat kecenderungan konsumen akan kembali
pada karet alam sehingga diperkirakan akan
terjadi kekurangan penawaran karet alam. Jika
berpijak pada asumsi ini maka dapat
disimpulkan masa depan karet alam memiliki
prospek yang cukup baik.
Dulu, tanaman karet lebih dikenal sebagai
penghasil lateks, namun dengan semakin
berkembangnya teknologi, kayu karet pun sudah
mulai dimanfaatkan. Tanaman karet yang sudah
berumur 2030 tahun dapat ditebang dan
kayunya dimanfaatkan dalam pembuatan rubber
smoked sheet (RSS).

Volume 11 Nomor 2, Des 2012 : 79 - 90

Tabel 1. Keadaan kayu karet dan perkiraan peluang pengembangan kayu Indonesia tahun 2000 dan 2020

Kayu untuk kertas dan kayu energi


Kayu bukan untuk kertas dan kayu pertukangan

Permintaan (000)
2000
2020
135.269
237.425
49.700
94.425

Total (1000 m3)

184.969

Jenis produk kayu

331.580

Tahun
Penawaran
(000 m3)
2000
2020
74.425
74.425
88.643
88.643
163.068

163.068

Peluang Pasar (000 m3)


2000
2020
60.844
163.000
38.943
5.782
99.787

168.782

Sumber : Nunung, 1991.

Alur pembuatan RSS sebagai berikut : lateks


dimasukkan ke tangki penampungan dan
dicampur dengan asam formic, kemudian
lembaran karet dikeringkan di ruang asap
dengan suhu sekitar 120o - 140o C. Kayu karet
yang sudah tua dimanfaatkan sebagai bahan
bakar pengasapan tersebut.
Ditinjau dari sifat alaminya, kayu karet dapat
dijadikan sebagai barang substitusi kayu rami,
agathis, meranti putih, dan pinus sebagai bahan
baku kayu olahan. Berdasarkan asas manfaat dan
kegunaan kayu karet, prospek tanaman karet
sebagai penghasil kayu pada masa mendatang
cukup baik. Keadaan produk sampingan
tanaman
karet
dan
perkiraan
peluang
pengembangannya di Indonesia dapat dilihat
pada Tabel 1. Sisi permintaan lebih besar dari
penawaran sehingga peluang pasar masih sangat
terbuka, hal ini memberikan peluang bagi
pengembangan karet pada masa datang.
Kebijakan pengembangan tanaman karet
menetapkan empat pola pengembangan yang
dikenal dengan program Hutan Tanaman
Industri (HTI), yaitu pola PIR, pola UPP, pola
swadaya, dan pola perkebunan besar. Penerapan
empat pola ini diharapkan dapat meningkatkan
produktivitas karet, khususnya perkebunan karet
rakyat yang masih berada pada tingkat yang
rendah.
Bibit atau klon unggul dipilih yang benarbenar dapat menghasilkan kayu berkualitas dan
berproduktivitas tinggi. Sedikitnya ada lima
kriteria yang harus dipenuhi oleh klon unggul,
baik dalam bentuk benih, kayu okulasi, stum
mata tidur, maupun bibit dalam polibag. Kriteria
tersebut adalah: (1) Mempunyai pertumbuhan
awal yang cepat sehingga mampu berkompetisi
dengan gulma dan tanaman lain; (2) Mampu
beradaptasi dengan keadaan lahan terutama
padang alang-alang dan lahan gundul; (3)

Mempunyai pertumbuhan batang yang besar,


lurus, dan mutu kayu baik; (4) Mampu
memproduksi lateks yang tinggi: (5) Tidak
sensitif terhadap penyadapan dan perubahan
lingkungan fisik atau biologis.
Jenis-jenis klon yang memenuhi kriteria seperti
di atas adalah Avros 2037, BPM 1, BPM 107, RRIM
712, PRIC 100, PRIC 102, PRIC 110, PRIC 120, dan TM.
Adapun produksi rata-rata klon anjuran tersebut
sebesar 1,2 1,5 ton/ha/th (Tabel 2)
Produksi puncak dicapai pada umur tahun
sadap 8-9 tahun, setelah itu produksi lateks
menunjukkan kecenderungan menurun. Bila
dirata-rata produksi karet kering pada lima
tahun pertama antara 1.200-1.500 kg/ha/th.
Produksi karet kering rata-rata pada umur 10
tahun antara 1.600-1.800 kg/ha/th. Pengembangan
perkebunan karet ditentukan oleh banyak faktor
antara lain ketersediaan bahan tanam, tenaga
pembina, dan dukungan perbankan.
Menurut Hardjoamidjojo (2002), melalui
analisis prospektif ada beberapa tahap kegiatan
yang harus dilakukan, yaitu :
a. Menentukan faktor-faktor kunci untuk masa
depan sistem yang dikaji.
b. Menentukan tujuan strategis dan kepentingan pelaku utama.
c. Mendefinisikan/mendeskripsikan hasil evaluasi kemungkinan masa depan.
d. Menentukan nilai faktor yang berpengaruh.

PROSPEK PENGEMBANGAN
KARET ALAM
Kebutuhan karet alam terus meningkat
sejalan dengan meningkatnya standar hidup dan
mobilitas
manusia
serta
barang
yang
memerlukan komponen yang terbuat dari karet
seperti ban kendaraan, conveyor belt, sabuk

Pengembangan Karet Alam (Havea brasiliensis) Berkelanjutan di Indonesia (SABARMAN DAMANIK)

81

Tabel 2. Jenis-jenis klon karet yang dianjurkan (produksi rata-rata kg/ha/th)


Tahun 2

Tahun 3

Tahun 4

AVROS 2037
344
716
BPM 1
739
1.050
BPM 107
1.125
1.346
RRIM 717
1.115
1.541
RRIM 728
927
1.177
PRIC 100
710
1.278
PRIC 101
1.068
1.323
PRIC 102
941
1.120
PR 314
629
986
TM 8
547
961
TM 9
673
913
Sumber : Balai Penelitian Karet Getas, 1991.

Klon

Tahun 1

1.219
1.449
1.576
1.746
1.553
1.645
1.449
1.541
1.104
1.545
1.755

1.587
1.520
1.702
1.681
1.793
1.788
1.328
1.619
1.578
1.793
2.103

transmisi, sepatu dan sandal karet (Penebar


Swadaya, 2009). Secara fundamental harga karet
alam dipengaruhi oleh faktor permintaan
(konsumsi),
penawaran
(produksi),
dan
stock/cadangan.
Pertumbuhan Konsumsi Karet Alam
Dalam kurun waktu 1980-2005, konsumsi
karet alam di Eropa dan jepang mengalami
penurunan dan stagnan namun di China dan
beberapa negara berkembang lainnya mengalami
pertumbuhan yang cukup tinggi (IRSG, 2004).
International Rubber Study Group (IRSG)
memperkirakan bahwa akan terjadi kekurangan
pasokan karet alam pada priode dua dekade ke
depan. Kondisi ini akan mempengaruhi pihak
konsumen, terutama pabrik-pabrik ban mobil
seperti Bridgestone, Goodyear, dan Michelin.
Oleh karena itu pada tahun 2004, IRSG
melakukan studi tentang permintaan dan
penawaran karet alam dan sintetik dunia. Hasil
studi menyatakan bahwa permintaan karet alam
dan sintetik adalah 31,3 juta ton (15 juta ton
adalah karet alam) pada tahun 2035 untuk
industri ban dan non ban. Produksi karet alam
pada tahun 2005 sebesar 8,5 juta ton, sehingga
diproyeksikan pertumbuhan produksi karet
Indonesia per tahun akan mencapai 3%,
sedangkan Thailand dan Malaysia hanya 1- 2%
(IRSG, 2004). Pertumbuhan produksi Indonesia
ini dapat dicapai melalui peremajaan atau
penanaman baru karet yang cukup luas dengan
perkiraan produksi pada tahun 2020 sebesar 3,5
juta ton dan tahun 2035 sebesar 5,1 juta ton
(Chairil, 2006)

82

Pertumbuhan
Indonesia

Tahun 5

Rata-rata

2.167
1.700
1.854
1.464
1.767
1.907
1.623
1.746
1.939
2.200
2.128

Produksi

1.207
1.292
1.521
1.509
1.443
1.466
1.358
1.393
1.227
1.409
1.514

Karet

Alam

di

Menurut Chairil (2006), penawaran karet


dunia meningkat lebih dari tiga persen per tahun
dalam dua dekade terakhir atau mencapai 8,81
juta ton pada tahun 2005. Pertumbuhan tersebut
berasal dari negara produsen, seperti Thailand,
Indonesia, Malaysia, India, China, dan lainnya.
Sejak tahun 1991 Malaysia tidak lagi menjadi
produsen utama karet alam dunia tetapi digeser
oleh Thailand, sementara Indonesia tetap sebagai
negara produsen kedua. Thailand memproduksi
lebih dari 33% karet alam dunia pada tahun 2005,
sementara Indonesia hanya 26% dan Malaysia
13%.
Proyeksi yang berkaitan dengan karet alam
Indonesia, menurut Susila dan Herman, 2000
dibagi menjadi tiga skenario yaitu skenario
optimis (SO), skenario pasimis (SP) dan skenario
moderat (SM) dengan pertumbuhan produksi
untuk SO, SP dan SM masing-masing sebesar 3,5;
2,0; dan 2,2% per tahun.
Keseimbangan
Karet Alam

Penawaran

dan

Permintaan

Ketidakseimbangan (imbalance) penawaran


dan permintaan akan bereaksi terhadap harga.
Kenaikan harga terjadi karena defisit penawaran
dan turunnya harga karena surplus penawaran.
Data IRSG 2004, menunjukkan ketidakseimbangan penawaran dan permintaan karet
alam mulai terlihat sejak tahun 1990 an dan
berpengaruh terhadap cadangan (stock) karet
alam dunia.

Volume 11 Nomor 2, Des 2012 : 79 - 90

Menurut Ng (1986), tidak berpengaruhnya


surplus atau defisit pasokan dan cadangan
terhadap harga karet dunia disebabkan adanya
imperfect knowledge terhadap penawaran dan
permintaan global karet alam pada waktu
tertentu serta adanya kegiatan spekulasi dan
hedging pada kegiatan pemasaran karet alam
dunia seperti forward purchase, future contract,
longterm arrangement.
Target pengembangan karet harus didukung
dengan berbagai faktor antara lain:
a. Seluruh
sentra
produksi
mempunyai
komitmen untuk pengembangan karet pada
wilayahnya masing-masing.
b. Penyediaan benih/bibit karet sesuai dengan
permintaan setiap wilayah pengembangan.
c. Peningkatan kemampuan petugas penyuluh
perkebunan yang menangani karet.
d. Terpenuhinya sumber daya manusia dan
sarana petani untuk pemelihaaraan kebun
dan penanganan pasca panen.
e. Dukungan perbankan berupa dana untuk
pemeliharaan dan pengelolaan kebun.
Pengembangan perkebunan karet masih
dilakukan secara tradisional dan masih
memegang kuat ketentuan-ketentuan adat
masyarakat setempat khususnya terkait dengan
konservasi sumberdaya alam. Hal ini mereka
lakukan karena mereka hidup di lingkungan
alam pegunungan dengan kemiringan lereng
yang cukup tajam sehingga membutuhkan
pengelolaan yang baik agar tidak terjadi bencana.
Penentuan lokasi kebun karet dan cara
pengelolaan oleh petani setepat dilakukan
dengan sangat hati-hati, sehingga pengembangan
perkebunan karet dapat dikatakan tidak
menimbulkan permasalahan lingkungan yang
berarti.
Menurut Direktorat Jenderal Perkebunan
(2010), pengembangan perkebunan karet di
Indonesia diusahakan oleh petani (PR) seluas
2.935.081 ha (84,75%), perkebunan besar nasional
seluas 239.132 ha ( 6,97%), dan perkebunan besar
swasta 275.931 ha (8,28%) sehingga permasalahan
sosial khususnya yang terkait dengan lahan tidak
pernah terjadi. Kehadiran tanaman karet sebagai
tanaman perkebunan telah memberikan manfaat
sosial yang positif khususnya dalam penyediaan

kesempatan kerja dan usaha. Oleh karena itu


biaya dan manfaat lingkungan maupun biaya
dan manfaat sosial dalam pengembangan
perkebunan karet bernilai positf.
Ekspor karet Indonesia meningkat dari
1.874.3.241 ton pada tahun 2004 menjadi 2.295.456
ton pada tahun 2008 dan menurun menjadi
1.991.262 pada tahun 2009 dengan nilai 3.241.533
US$. Kenaikan volume dan nilai ekspor tersebut
memberikan peluang yang besar untuk
pengembangan karet alam Indonesia.

PERKEMBANGAN HARGA
KARET ALAM
Karet sintetik sebagai produk hasil industri
harganya relatif lebih stabil dibandingkan
dengan karet alam yang berfluktuasi dipengaruhi
oleh kondisi alam (Chairil, 2006). Untuk
menghindari kerugian karena gejolak harga karet
alam, pasar berjangka (future trading) karet
menyediakan sarana dan mekanisme lindung
nilai (hedging). Pasar berjangka karet alam yang
saat ini menjadi panutan/pedoman dunia adalah
Singapura (SICOM), Jepang (TECOM), Thailand
(AFET) dan China (SHFE). Sedangkan pasar fisik
(physical) karet alam selain di Singapura dan
Jepang juga terdapat di negara produsen seperti
Malaysia dan Thailand.
Kalangan produsen mengenal Singapura dan
Kuala Lumpur sebagai pasar karet global
sedangkan London, New York dan Tokyo
sebagai pasar dari kalangan konsumen. Beberapa
faktor yang mempengaruhi tren harga karet alam
adalah pasar luar negeri, permintaan, dan
penawaran (ekspor dan cadangan), situasi politik
dan ekonomi internasional, tren nilai tukar, harga
karet sintetik, dan pertumbuhan ekonomi global.
Menurut Hardjoamidjojo (2002), cadangan karet
alam yang dimiliki pabrik ban (afloat stock) dan
kualitas ban berperan besar pada keputusan
perusahaan apakah memakai lebih besar karet
alam atau karet sintetik.
Budiman (2004) menyatakan permintaan
karet alam dan sintetik akan terus bertumbuh
karena
didorong
perkembangan
industri
automotif dan ban. Secara ekonomi permintaan
karet alam dan sintetik ditentukan oleh kondisi
sekarang dan perkembangan ke depan dari
industri otomotif. Perkembangan ekonomi yang

Pengembangan Karet Alam (Havea brasiliensis) Berkelanjutan di Indonesia (SABARMAN DAMANIK)

83

pesat dan terjadi peningkatan standar kehidupan


dari masyarakat di negara-negara padat
penduduk, maka permintaan jenis ban akan
meningkat di masa yang akan datang.
Sejak pertengahan tahun 2002 harga karet
mencapai harga US$ 1,00/kg dan tahun 2006 telah
mencapai US$ 2,20/kg untuk harga SIR 20 di
SICOM Singapura. Harga diperkirakan akan
stabil pada jangka panjang sampai tahun 2020.
Konsumsi karet alam meningkat dari 4,4%
pada tahun 2006 menjadi 6,2% pada tahun 2007,
sementara karet sintetik menurun sebesar 4,7%
(2006) dan 4,6% (2007). Tahun 2007 harga karet
alam
bertahan sekitar US$ 2.00/kg.
Jika
invesment fund dan spekulator masuk ke pasar
berjangka untuk profit taking maka akan terjadi
lonjakan harga. Damardjati (2011), Darmansyah
(2011) dan Pane (2011) memproyeksikan bahwa
menjelang akhir tahun 2012 diperkirakan harga
karet
relatif
layak
dan
dipengaruhi
perkembangan perekonomian global dan market
fundamental.

PENGEMBANGAN KARET
BERKELANJUTAN
Pengembangan karet berkelanjutan perlu
memperhatikan
faktor-faktor
yang
mempengaruhi arah strategi pengembangan karet
yang berkelanjutan, yaitu :
Identifikasi Faktor-Faktor yang Berpengaruh
Menurut Hasyim (1998), lahan merupakan
modal penting proses produksi pertanian oleh
petani (termasuk petani karet), karena di atas
lahan tersebut kegiatan produksi dimulai dan
menjadi pengahasilan rumah tangga petani.
Struktur penghasilan petani dikaitkan dengan
status sosial petani (berdasarkan penguasaan
lahan), tampak bahwa peranan lahan dalam
bentuk pengelolaan usaha tani (on farm) sangat
menonjol pada status petani pemilik yaitu
sebesar 72% (Fadjar et al., 2008).
Terdapat delapan faktor strategis (Tabel 3)
yang mempengaruhi pengembangan karet
berkelanjutan (Herman dan Damanik, 2009),
yaitu : ketersediaan teknologi, tenaga pembina,
pelatihan petani, dukungan kebijakan, luas
kebun petani, ketrampilan petani, kelembagaan

84

petani, produksi dan produktivitas. Ketersediaan


teknologi, tenaga pembina, pelatihan petani dan
dukungan kebijakan dikategorikan sebagai faktor
penentu (input) dalam sistem agribisnis karena
faktor-faktor tersebut mempunyai pengaruh yang
kuat
terhadap
faktor
lainnya,
tetapi
ketergantungannya kepada faktor lain relatif
lemah. Sedangkan faktor luas kebun petani,
ketrampilan petani, kelembagaan petani dan
produksi serta produktivitas merupakan faktor
penghubung dalam sistem agribisnis karet
karena mempunyai pengaruh dan ketergantungan yang kuat terhadap faktor lain.
Terdapat tiga faktor terikat yaitu harga karet,
hama penyakit terkendali dan pendapatan
petani. Ketiga faktor tersebut akan menjadi
sasaran akhir atau produk dari strategi
pembangunan perkebunan karet berkelanjutan
karena mempunyai karakteristik ketergantungan
yang cukup kuat namun mempunyai pengaruh
yang relatif lemah terhadap faktor lain. Kondisi
faktor yang menjadi output atau sasaran dari
pembangunan perkebunan karet berkelanjutan
bervariasi seperti hama, penyakit jamur akar
putih yang belum terkendali menyebabkan
kerugian mencapai miliaran rupiah hingga
pendapatan petani dalam kondisi moderat
(cukup memadai), dan harga karet di tingkat
petani tergolong optimis (sangat tinggi)
Selanjutnya pada Lampiran 1, dijelaskan
penilaian terhadap pengaruh langsung antar
faktor yang mempengaruhi pengembangan karet
di Indonesia.
Kondisi Faktor-faktor yang Berpengaruh
Ada tiga kemungkinan kondisi dari masingmasing faktor strategis yang mempengaruhi
keberlanjutan perkebunan karet di masa yang
akan datang. Secara ringkas kondisi berbagai
faktor strategis tersebut dapat dilihat pada Tabel
3. Faktor-faktor strategis tersebut umumnya
berada pada kondisi moderat dan cenderung
mengarah ke kondisi optimis (kondisi kombinasi
1B-2C-3C-4B-5A-6B-7C-8B). Oleh karena itu
diperlukan berbagai upaya perbaikan sehingga
faktor-faktor strategis dapat mencapai kondisi
optimal yaitu suatu kombinasi 1A-2A-3A-4A-5A6A-7A-8A. Kondisi tersebut menggambarkan
semua faktor strategis berada pada kondisi

Volume 11 Nomor 2, Des 2012 : 79 - 90

optimal dalam memberikan dukungan bagi


terlaksananya pembangunan perkebunan karet
secara berkelanjutan. Upaya perbaikan yang
perlu dilakukan meliputi semua faktor strategis
dengan sasaran sebagai berikut:
a.

b.

c.

Teknologi
mutakhir
selalu
tersedia,
contohnya perbanyakan vegetatif melalui
sambung samping yang saat ini telah berhasil
dilakukan. Sambung samping dilakukan
mulai dari penyiapan entres, penyiapan
batang bawah, memasukkan entres, mengikat
dan menutup dengan plastik telah berhasil
dengan tingkat produktivitas yang tinggi
(Hasrun et al., 2008).
Tenaga pembina tersedia memadai dari segi
jumlah maupun kualitas dengan kelembagan
yang mapan seperti Kelembagaan Usaha
Agribisnis Terpadu (Kemala, 2007).
Kegiatan
pelatihan
dan
penyuluhan

terprogram dan terlaksana dengan baik


sesuai dengan kebutuhan petani.
d. Adanya dukungan kebijakan pemerintah
yang menjadikan sub sektor perkebunan
sebagai unggulan secara konsekuen dan
berkesinambungan.
e.

Luas kebun karet petani terus bertambah


berkat dukungan kebijakan pemerintah dan
ketersediaan dana.

f.

Produktivitas kebun cukup tinggi paling


tidak 60% dari potensinya.

g.

Petani mempunyai kemampuan yang tinggi


dan cepat dalam mengadopsi teknologi baru
dan pengalaman terus meningkat.

h. Kelembagaan ekonomi petani berkembang


dengan baik dan dapat memberikan
pelayanan yang optimal kepada petani
anggotanya.

Tabel 3. Beberapa kemungkinan kondisi dari faktor-faktor yang berpengaruh


No
1

Faktor
Ketersediaan teknologi

Tenaga Pembina

Pelatihan petani

Kebijakan pemerintah

Luas kebun karet

Produksi dan
produktivitas

Ketrampilan Petani

Kelembagaan Petani

Keadaan (Kondisi)
1A
Teknologi mutakhir terus berkembang dan tersedia secara lokal.
2A
Tenaga pembina tersedia dengan
kemampuan yang memadai dan
siap membantu petani
3A
Pelatihan dan penyuluh terprogram
dengan jelas dan lerlaksana dengan
baik.

1B
Teknologi tersedia tetapi
lambat sampai ke petani
2B
Ketersedian tenaga memadai,
tetapi kemampuannya terbatas.

4A
Adanya dukungan kebijakan
pemerintah dengan sasaran
program yang jelas dan dapat
diimplementasikan karena
didukung oleh institusi yang kuat.
5A
Bertambah luas
6A
Tinggi (60% potensinya = 1.250
kg/ha/th)
7A
Kemampuan petani tinggi dan cepat
mengadopsi teknologi baru yang
tersedia dan pengalaman petani
terus bertambah.
8A
Adanya kelembagaan ekonomi
petani yang kuat dan berfungsi
melayani kebutuhaan petani
anggotanya.

4B
Adanya dukungan kebijakan
tetapi belum memiliki program
yang jelas serta kurang
didukung oleh institusi yang
kuat
5B
Tetap
6B
Sedang (50% dari potensinya =
1.000 kg/ha/th )
7B
Keterampilan petani cukup
memadai, tetapi lambat
menerima teknologi baru.

3B
Pelatihan dan penyuluh
terprogram tetapi dukungan
pembiayaan kecil.

8B
Kelembagaan ekonomi petani
kurang berkembang dan tidak
berfungsi dengan baik.

Pengembangan Karet Alam (Havea brasiliensis) Berkelanjutan di Indonesia (SABARMAN DAMANIK)

1C
Teknologi tidak tersedia secara
lokal.
2C
Ketersediaan pembina baik
jumlah maupun
kemampuannya terbatas.
3C
Penyuluhan dan pelatihan
kurang terprogram, karena
minimnya dukungan
pembiayaan.
4C
Tidak ada dukungan kebijakan
dan program tidak jelas.

5C
Berkurang (mengecil)
6C
Rendah (kurang dari 1.000
kg/ha/th).
7C
Kemampuan dan keterampilan
petani rendah dan kesulitan
untuk mengakses teknologi
baru.
8C
Tidak ada kelompok tani
maupun kelembagaan ekonomi
petani.

85

Kondisi optimal dari berbagai faktor strategis


tersebut dapat dicapai dengan menerapkan
strategi
pembangunan
perkebunan
karet
berkelanjutan. Kondisi A adalah optimal yang
artinya ada keterkaitan dan saling mendukung
sedangkan Kondisi B kurang optimal dimana
teknologi tersedia tetapi lambat penyerapan
petani. Kondisi C menunjukkan tidak optimal
dan teknologi belum tersedia.
Strategi Pengembangan
Berkelanjutan

Perkebunan

Karet

Strategi dapat didefinisikan sebagai suatu


rangkaian tindakan yang ditujukan untuk
mencapai sasaran jangka panjang berdasarkan
kajian dan penelitian yang sudah dilakukan.
Strategi
pengembangan
sistem
agribisnis
komoditas harus dilakukan sesuai dengan
formulasi efisiensi dan integrasi simpul-simpul
pada setiap subsistem agribisnis (Damanik, 2007).
Sasaran pembangunan perkebunan karet di
Indonesia adalah : meningkatkan pendapatan
petani khususnya dari perkebunan karet rakyat
dan menjadikan Indonesia sebagai sentra
produksi utama perkebunan karet dunia.
Mengingat berbagai faktor strategis saat ini
umumnya berada pada kondisi moderat dan
beberapa berada pada kondisi minim dalam
memberikan dukungan bagi terlaksananya
pembangunan
perkebunan
karet
yang
berkelanjutan maka diperlukan kerja keras dan
perubahan yang cukup besar dalam perencanaan
maupun pelaksanaan kegiatan pembangunan sub
sektor perkebunan karet Indonesia.
Tahun 2008, produktivitas perkebunan karet
Indonesia rata-rata 989 kg/ha/thn atau meningkat
dibanding tahun-tahun sebelumnya. Meskipun
demikian, produktivitas perkebunan tersebut
masih di bawah potensi yang mungkin dicapai.
Potensi produktivitas perkebunan karet di
Indonesia diperkirakan dapat mencapai 2.000
kg/ha/tahun, tetapi dengan kondisi bahan tanam
yang ada saat ini dan kemampuan petani
mengelola kebun karetnya, maka produktivitas
yang mungkin dicapai beberapa tahun ke depan
diperkirakan hanya mencapai 1.250 kg/ha/tahun.
Peningkatan produktivitas rata-rata sekitar 25%
dapat dicapai dengan arahan kebijakan dan
langkah operasional yang dilakukan oleh

86

pemerintah dan pelaku agribisnis perkebunan


karet, seperti
a. Penyediaan teknologi mutakhir secara lokal
Kondisi ini menuntut agar lembaga
penelitian nasional melakukan uji lokasi dan
kesiapan lembaga penyuluhan serta dinas terkait
untuk segera menyebarluaskan hasil-hasil
penelitian yang dihasilkan. Pada saat ini kinerja
berbagai
lembaga
yang
terkait
dengan
penyediaan teknologi umumnya masih rendah
karena berbagai kendala terutama keterbatasan
dana dan tenaga profesional, serta kejelasan
tugas dan fungsi masing-masing lembaga/
instansi. Dukungan kebijakan dan ketersediaan
dana sangat dibutuhan untuk membenahi
kondisi faktor strategis ini.
b. Tenaga pembina dan kelembagaannya
Adanya
program
revitalisasi
telah
mendorong penambahan tenaga pembina di
lapangan dan hal ini cukup membantu untuk
menyiapkan petani untuk mengikuti program
revitalisasi. Namun, upaya penambahan tenaga
pembina belum menjamin kesinambungan
pembinaan petani karena kegiatan revitalisasi
terkendala dana dari perbankan serta tenaga
tambahan tersebut masih bersifat sementara
dengan sistem kontrak kerja dan dukungan dana
sangat minim. Oleh karena itu perlu dirumuskan
model kelembagaan petani karet yang bersifat
permanen
seperti
koperasi.
Keberadaan
kelembagaan koperasi di masyarakat petani karet
sangat strategis baik sebagai organisasi
pemasaran maupun pembiayaan (Adnyana,
2005). Penambahan tenaga pembina sesuai
dengan kebutuhan dan dukungan pendanaan
yang memadai untuk membantu petani
mengatasi berbagai permasalahan yang mereka
hadapi secara berkesinambungan.
c. Kegiatan pelatihan dan penyuluhan
Pengetahuan
dan
pengalaman
petani
melakukan budidaya karet perlu ditingkatkan.
Oleh karena itu diperlukan upaya pelatihan/
pembinaan dan penyuluhan secara intensif untuk
meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan
mereka.
Peningkatan
pengetahuan
dan
keterampilan perlu dilakukan secara bersamasama melalui kelompok tani hamparan dengan
Volume 11 Nomor 2, Des 2012 : 79 - 90

metode sekolah lapang. Melalui sekolah lapang


diharapkan lahir kebersamaan petani untuk
mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi.
Pembenahan faktor strategis ini juga menuntut
dukungan kebijakan dan pendanaan yang
memadai.

109, IRR 104, PB 217, dan PB 260 memiliki sifat


daya hasil tinggi 2,38-2,51 ton per ha dan daya
adaptasi lingkungan baik, Sedangkan klon
penghasil lateks dan kayu adalah IRR 112,IRR
118, PB 330, PB 340 dan RRIC 100 (Damanik et
al., 2010).

d. Dukungan kebijakan pemerintah

f. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan


petani

Dukungan kebijakan pemerintah baik pusat


maupun daerah merupakan faktor strategis yang
sangat dibutuhkan dalam menciptakan posisi
yang dapat memberikan dukungan secara
optimal bagi terlaksananya pembangunan
perkebunan karet berkelanjutan di Indonesia.
Dukungan kebijakan yang sangat diperlukan
terutama dalam mempersiapkan tenaga pembina
agar
menjadi
tenaga
yang
profesional,
penyediaan dana untuk penyuluhan dan
pembinaan petani, penyediaan kredit bunga
bersubsidi untuk modal kerja petani, serta
perbaikan berbagai infrastruktur dan prasana
penunjang lainnya seperti jalan, jembatan,
terminal, dan pelabuhan.
Program revitalisasi perkebunan karet yang
dicanangkan oleh pemerintah pusat hingga saat
ini belum berjalan sesuai dengan harapan
terutama karena masalah pencairan dana dari
bank yang ditunjuk belum terlaksana dengan
baik. Oleh karena itu perlu dukungan kebijakan
pemerintah daerah maupun pemerintah pusat
untuk mempercepat realisasi pendanaan tersebut.
Jika memungkinkan, pemerintah daerah (Pemda)
harus terlibat secara aktif dan berperan sebagai
inisiator dan fasilitator untuk menetapkan
kebijakan
yang
mendukung
program
pengembangan komoditas (Damanik et al., 2009).
e. Peningkatan produktivitas perkebunan karet
Produktivitas perkebunan karet masih
rendah karena sebagian besar tanaman sudah
tua. Tanaman terserang hama dan penyakit
tanaman serta kurang intensifnya pengelolaan
kebun. Langkah operasional yang dapat
ditempuh untuk meningkatkan produktivitas
perkebunan karet adalah dengan menerapkan
teknologi
budidaya
mutakhir
seperti
penggunaan bahan tanaman (klon unggulan),
dan pengendalian hama penyakit. Klon unggul
penghasil lateks seperti BPM 24, BPM 107, BPM

Pengetahuan dan keterampilan petani


merupakan salah satu kunci keberhasilan dan
keberlanjutan pengembangan perkebunan karet
di suatu wilayah. Saat ini petani karet umumnya
masih belum memiliki pengetahuan dan
keterampilan yang memadai untuk mengelola
perkebunan karet secara baik. Kondisi ini terjadi
karena tanaman karet memerlukan pengelolaan
dari hulu sampai hilir. Oleh karena itu
diperlukan
dukungan
kebijakan
untuk
membenahi atau merevitalisasi lembaga dan
program penyuluhan petani karet.
g. Kelembagaan ekonomi petani
Kelembagaan ekonomi petani merupakan
salah satu wadah bagi petani karet untuk tumbuh
dan berkembang serta mengatasi berbagai
kendala dan permasalahan secara bersama-sama.
Kelembagaan petani umumnya sudah terbentuk
berupa kelompok tani, tetapi belum berfungsi
sebagaimana yang diharapkan karena adanya
berbagai keterbatasan seperti terbatasnya tenaga
pembina, anggaran untuk pembinaan dan
fasilitas untuk pembinaan petani. Meskipun
demikian, keberadaan kelompok tani sudah
sangat membantu petani mengatasi berbagai
permasalahan bersama seperti perbaikan jalan
produksi
secara
gotong-royong
dan
mendapatkan pupuk secara bersama. Kelompok
tani yang sudah terbentuk tersebut dapat
dijadikan
sebagai
cikal-bakal
untuk
menumbuhkan kelembagaan ekonomi petani
yang lebih produktif dan berdaya guna bagi
petani anggotanya.
Model kelembagaan ekonomi klaster industri
telah dikembangkan oleh Mc Cann (2001). Para
pelaku dibagi dalam klaster industri sebagai
berikut : industri inti, perusahaan pemasok,
pembeli, industri pendukung, industri terkait
dan lembaga pendukung. Model ini diadopsi

Pengembangan Karet Alam (Havea brasiliensis) Berkelanjutan di Indonesia (SABARMAN DAMANIK)

87

oleh
Wahyudi
(2008)
untuk
model
pengembangan kelembagaan jarak pagar selain
model desa mandiri energi (DME).

KESIMPULAN
Pengembangan
perkebunan
karet
di
Indonesia dipengaruhi oleh delapan faktor
strategis yang saling berkaitan dan sangat
menentukan keberlanjutan perkebunan karet
antara lain : ketersediaan teknologi, tenaga
pembina, pelatihan petani, dukungan kebijakan,
luas
perkebunan
karet,
produktivitas,
keterampilan petani, dan kelembagaan ekonomi
petani. Faktor-faktor strategi ini berada pada
kondisi moderat dan mengarah kepada kondisi
optimis. Hal tersebut terjadi karena adanya
pencanangan
revitalisasi
perkebunan
di
Indonesia oleh pemerintah.
Untuk mempercepat pencapaian sasaran
pengembangan sekaligus menjamin keberlanjutan pembangunan perkebunan karet di
Indonesia diperlukan dukungan dan konsistensi
kebijakan pemerintah, baik pemerintah pusat
maupun daerah serta komitmen perbankan
dalam
program
revitalisasi
perkebunan.
Kebijakan tersebut meliputi kebijakan produksi
dan
peningkatan
mutu,
perdagangan,
revitalisasi, dan perindustrian
DAFTAR PUSTAKA
Adnyana, M.O. 2005. Laporan Lintasan dan
Marka jalan Menuju Ketahanan Pangan
Terlanjutkan dalam rangka Perdagangan
Bebas. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Depertemen Pertanian. Jakarta. 35 hlm. (Tidak dipublikasikan).
Badan Pusat Statistik. 2009. Ekspor-Impor Karet.
Badan Pusat Statistik. Jakarta
Budiman. S. 1988. Proyeksi Konsumsi Karet di
Masa Depan. Majalah Sasaran No: 8
Februari . Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2009. Ekspor-Impor Karet.
Badan Pusat Statistik. Jakarta.
Balai Penelitian Karet Getas, 1991. Klon-klon
Karet Anjuran Skala Besar dan Kecil. Seri

88

Buku Saku. ISBN 978-979-25-32852,Salatiga.


Chairil, A. 2006. Perkembangan pasar dan
prospek agribisnis karet di Indonesis.
Makalah disajikan pada Lokakarya
Budidaya Tanaman Karet, 4-6 September
2006, Medan. 19 hlm.
Damanik, S. 2007. Strategi pengembangan
agribisnis kelapa (Cocos nucifera) untuk
meningkatkan pendapatan petani di
Kabupaten
Indragiri
Hilir,
Riau.
Perspektif 6 (2) : 94-104.
Damanik, S., C. Indrawanto, dan K. Aedan . 2009.
Model Pengembangan dan Kelembagaan
Jarak Pagar. Buku Inovasi Teknologi
Perkebunan
(Jarak
Pagar).
Pusat
Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Bogor. Hlm. 107-112.
Damanik, S., M. Syakir, I. M. Tasma dan
Siswanto. 2010. Budidaya dan Pasca
Panen Karet. Buku Budidaya dan
Pascapanen Karet. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Perkebunan. Bogor. 86
hlm.
Damardjati, D.S. 2011. Prospektif harga karet
alam, focus pada tren pasokan karet
alam.
Makalah
disajikan
dalam
Lokakarya Karet Nasional, 26 September
2011, Jakarta.
Darmansyah. 2012. Rubber fund price stabilization. Makalah pada Workshop Kerja
sama Komoditi Trialeteral Karet, 28
Februari 2012. 13 hlm.
Direktorat Jenderal Perkebunan. 2010. Statistik
Perkebunan
Indonesia
2009-2011:
Komoditas Karet. Direktorat Jenderal
Perkebunan. Jakarta.
Fadjar, U., M.T. Sitorus, A.H. Dharmawan, dan S.
Tjondronegoro. 2008. Bentuk struktur
sosial komunitas petani dan implikasinya
terhadap diferensiasi kesejahteraan (studi
kasus petani kakao). Pelita Perkebunan
24 (3) : 219-240.
Hardjoamidjojo, H. 2002. Panduan Analisis
Prospektif. Jurusan Teknologi Industri
Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian,
Institut Pertanian Bogor. 45 hlm (tidak
dipublikasikan)

Volume 11 Nomor 2, Des 2012 : 79 - 90

Hasrun, H., Z. Lapomi, R. Branford-Bowd, S.


Badcock and B.K. Matlick. 2008. Panduan
Amarta untuk keberlanjutan kakao
(Evaluasi kebun,
Rehabilitasi dan
Peremajaan). Laporan Penelitian. 55 hlm.
(Tidak dipublikasikan)
Hasyim, W. 1998. Peasant Under Peripheral
Capitalism.
Universiti
Kebangsaan
Malaysia. 67p.
Herman dan S. Damanik. 2009. Evaluasi
Pengembangan
Kakao
Indonesia.
Laporan Hasil Penelitian Lembaga Riset
Perkebunan Indonesia (LRPI). 19 hlm.
International Rubber Study Group (IRSG). 2004.
Rubber. International Rubber Study
Group Wembley. London.
Kemala, S. 2007. Strategi pengembangan sistem
agribisnis lada untuk meningkatkan
pendapatan petani. Perspektif 6 (1) : 4755.
Mc.Cann, P. 2001. Urban and Regional Economic.
Oxford University Press. USA.
Moraes, V.H.F. 1977. Rubber In Ecophysiology of
Tropical Crops 315-318. Academic
Press , New York.
Ng, C.S. 1986. Marketing of Malaysian Rubber
Trends and Strategies Malaysian Rubber
Research and Develovment Boards
(MRRDB). Monograph No. 12. IRSG
(International Rubber Study Group).

Nunung, M. 1991. Harapan Baru Tanaman Karet.


Kedaulatan Rakyat 3 Juni 1991.
Pane, A.A. 2011. Prospektif harga karet 20122013.
Makalah
disajikan
dalam
Lokakarya Karet Nasional, 26 September
2011, Jakarta.
Penebar Swadaya. 2009. Panduan Lengkap Karet.
Cetakan 2. Penebar Swadaya. Jakarta.
235 hlm.
Susila, W.R. dan Herman. 2000. Prospek dan arah
pengembangan
komoditas
karet
Indonesia. Buletin Kehutanan dan
Perkebunan. 1(2): 173 186.
Sutardi 1981. Faktor Ekologi daerah budidaya
karet
di
Jawa
dan
beberapa
pengembangan di luar Jawa. Pertemuan
Teknis Perkebunan II. Research Centre
Getas.
Thomas, Hidayati U, dan Silaban, M, 2007.
Rekomendasi Pemupukan PT Pamorganda Tahun 2007. Balai Penelitian Karet
Sembawa.
Vijayakumar, K.R. Chandrasehkar, T.R. and
Varghese Philip. 2000. Agroclimate In
Natural Rubber. Rubber Research of Indi.
Wahyudi, A. dan S. Wulandari. 2008. Model
kelembagaan pengembangan jarak pagar.
Prosiding
Lokakarya
III
Inovasi
Teknologi Jarak Pagar untuk mendukung
program Desa Mandiri Energi, Malang 5
Nopember 2007. Hlm 187-195.

Pengembangan Karet Alam (Havea brasiliensis) Berkelanjutan di Indonesia (SABARMAN DAMANIK)

89

Lampiran 1. Skor hasil penilaian terhadap pengaruh langsung antar faktor


Dari Terhadap
Luas Kebun Karet
Keterampilan Petani
Ketersediaan Teknologi
Pelatihan Petani
Produksi & Produktivitas
Serangan Hama penyakit
Pendapatan Petani
Ketersedian Saprodi
Ketersediaan Kredit
Biaya Tenaga Kerja
Kondisi Infrastruktur
Kelembagaan Petani
Harga Karet
Kebijakan Pemda
Tenaga Pembina
Hama/penyakit terkendali

Luas
Kebun

2
1
2
1
3
1
1
2
1
3
3
1
2

Keterampilan
Petani
2
2
3
1
1
-

3
1
2
3
2

Keterse- Pelatidiaan
han
Teknologi Petani
1
2
1
1
1
1
2
1
1
1
2
2
2
2

Produksi & Serangan PendapaProdukHama


tan Petani
tivitas
Penykt
3
1
3
2
2
2
2
1
1
2
1
2
3
2
1
1
1
1
1
2
2
1
2
2
2
3
2
3
3
3
2
1
3
3
2
3
3
2
3

Ketersedian
Saprodi
2
2
2
2
-

Ketersediaan
Kredit
1
2
2
1
2
-

Biaya
Tenaga
Kerja
1
1
-

Kondisi Infra- Kelemstruktur


bagaan
Petani
2
2
1
2
1
2
1
2
1
1
2
1
1
2
3
3
3
3
2

Harga

1
2
2
3
1
1
2
2
1
1
-

Kebijakan
Pemda
1
1
2
1
1
2
1
2
1
2
-

Tenaga
Pembina
1
1
2
1
1
2
2
1
-

Hama/
penyakit
terkendali
2
2
3
3
1
2
1
2
1
2
3

Cadangan
lahan
1
1
1
1
1
1
1
1
1
-

Keterangan :
Skor 1 : optimal pengaruh komponen yang terkait.
Skor 2 : kurang optimal
Skor 3 : belum ada keterkaitan

90
90

Pengembangan Karet Alam (Hevea brasiliensis) Berkelanjutan di Indonesia (SABARMAN DAMANIK)

Volume 11 Nomor 2, Des 2012 : 79 - 90