Anda di halaman 1dari 32

PT PLN (PERSERO)

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

PERALATAN BANTU PLTA

7. PERALATAN BANTU PLTA

1. Fungsi Alat bantu PLTA


Agar Unit

PLTA

dapat beroperasi dengan aman, andal ,

ekonomis

bahagian peralatan dan komponen tidak mengalami kerusakan dan masa


penggunaan yang lebih panjang maka diperlukan mempertahankan kondisi
tersebut selalu dapat beroperasi .
Untuk menjaga dan mempertahankan agar Unit PLTA dapat diharapkan
seperti kondisi tersebut diatas diperlukan peralatan bantu yang disebut juga
dengan sistem.
Alat bantu beroperasi dengan sistemnya masing - masing sesuai dengan
urutan dan squenci yang telah dirancang serta dengan batasan parameter
yang telah diseting sesuai dengan kebutuhan dan batasan batarsan dari
peralatan yang menjadi sasaran alat bantu.
Peralatan bantu beroperasi dengan mempergunakan motor motor listrik
maupun dengan udara serta sistem hidrolik serta pneumatik.

Kondisi yang dipertahan tersebut adalah seperti


a. Pada bagian Turbin anatara lain :
-

Pelumasan Thrust bearing

Pelumasan

Lapisan pelumasan trhust bearing

Wadah tempat pelumasab itu sendiri

guide bearing

b. Pada bagian Generator

Winding dari Stator pada generator

Dengan berfungsinya alat bantu pada unit PLTA sesuai dengan sistem
sistem dan parameter unit akan dapat dioperasikan denga aman .
Dibawah ini digambarkan kondisi kendali parameter operasi dari unit PLTA
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

172

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

PERALATAN BANTU PLTA

Gambar 1. : Kendali operasi alat bantu unit PLTA Singkarak

2.

Alat bantu Turbin


Alat bantu turbin yang terpasang pada tiap tiap untuk suatu lokasi tidak
sama dengan

yang lainnya sesui dengan rancangan dari pembuatannya

dan kondisi dimana unit tersebut terpasang.

Alat bantu turbin terdiri dari :


-

Sistem Pelumasan

Sistem Pendingin

Sistem Hidrolik

Sistem Kompresor

Sistem Jack

Sistem Brake.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

173

PERALATAN BANTU PLTA

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

3.

Sistem Pelumasan.
Fungsi pelumasan

pada bahagian

komponen dan peralatan PLTA

adalah sebagai berikut :


a. Mencegah keausan akaibat dari gesekan

dua komponen yang

bergerak dengan bagian yang diam maupun bergerak relatif.


b. Mencegah timbulnya karat atau korosif.
c. Mencegah keausan.
d. Sebagai flim atau pembatas antara dua komponen.
e. Sabagai pendingin pada bagain bagain komponen yang bergerak
atau diam

Gambar 2 . : Lapisan pelumasan pada dua komponen

Gambar 3. : Gaya gesek menghambat bergeraknya sustu beban

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

174

PERALATAN BANTU PLTA

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Komponen Bergerak
Lapisan pelumas

Komponen diam atau bergerak relatif


Gambar 4. Lapisan pelumas pada komponen / peralatan mesin

Gambar 5 : Thrust Bearing ( bantalan Luncur )

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

175

PERALATAN BANTU PLTA

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Gambar 6 : Guide Baring dan pelumasan dengan sistem celup

Sistem pelumasan cair

pada

komponen PLTA dapat ada beberpa sistem

seperti
a. Sistem Celup
b. Sistem sirkulasi

Pada gambar diatas dapat dilihat bahwa untuk pelumasan bantalan dengan
sistem celup terutam pada turbin dengan poros tegak atau fertikal dan
bentuk lain dengan sistem sisrkulasi dapat dilihat pada gambar dibawah ini
untuk turbin yang mengunakan poros datar atau harizontal shaft .

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

176

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

PERALATAN BANTU PLTA

Gambar 6. : Turbin dengan poros Harizontal dengan sistem pelumasan


sirkulasi.

Pada sistem pelumasan sistem celup diperlukan alat bantu seperti :

Alat kontrol
Y ang terdiri dari :
-

Kontrol level

Kontrol temperatur

Kontrol kadar air

Alat kontrol bisa berbentuk analog dan digital dan untuk lokal kontrol
kontrol room digunakan berbentuk digital

Untuk menjaga agar temperatur selalu berada dalam kondis operasi nomal
diperlukan alat bantu pendingin .

Pada pelumasan dengan sistem Flow sebagai kontrol

aliran

berbagai

kontrol seperti berbentuk Valve.


Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

177

PERALATAN BANTU PLTA

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Gambar 8 : Aplikasi alat bantu pompa air dan oli dan kompresor pada
sebuah PLTA

Untuk menjaga agar temperatur pelumas


maka

diperlukan

tetap pada temperatur kerja

pendinginan . Pweralatan pemindahan panas tersebut

disebut juga dengan Oil cooler ( Untuk pendingin pelimas dan Air Cooler
pendingin udara).
Sistem pelumasan dikatakan baik apabila :
1 Tamperatur selalu dalamkondisi normal operasi
Contoh :
Temperatur pelumas

selali dalambatas kondisi operasi normal

untuk PLTA Singkarak ( 70 s/d 78 derjat C )


2. Fiscositas selalu dengan viscositio normal .
3. Level perukaan selalu tetap
4. Tidak terdapat kadar air didalam pelumas.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

178

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Kondisi tersebut

PERALATAN BANTU PLTA

dipertahankan dengan sistem kontrol dan pelaralatabn

bantu lainnya.

4. Sistem Pendingin.
Media yang dipakai untuk perpindahan panas pada PLTA dipergunakan
air , untuk

mengalirkanm aiar dari sumber atau Resevoar diperlukan alat

pemindah yang disebut dengan pompa.


Pada sirKulasi sistem pendingin ada macam yaitu :
a. Sistem tertutup

( raw water )

Pada sistem pendingin

ini air sebagai fluida kerja menganmbil panas

berulang ulang dan panas yan diambil pada peralatan perpindahan (


Heat echener ) panas dipindahkan lagi pada fluida atau air lain dengan
sistem sirkulasi terbuka atau air yang diambil dari resevoar lain dan
kemudian dibuang

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

179

PERALATAN BANTU PLTA

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

b. Sistem terbuka
Pada sistem ini air sebagai pendingin pelulmas aatu udara pendingin
radiator mengambil panas sekali saja dan lansung dibuang
Untuk memsirkulasikan

aiar tesebut dibutuhkan pompa , dan pempa

tersebut digeraknan oleh motor motor listrik.

Pompa

yang

dipasang atau

dipergunakan

haruslah

mempunyai

persayaratan sesuai dengan dengan patrameter tertentu.

Peralatan pepindahan panas harus dapat memindahkan panas pada air


denga

penurunan

panas yang tertentu

sesuai

dengan besaran

parameter operasi normal.

Gambar 9 : Diagram pemasangan pompa dan sirkulasi air pendingin


dengan

sistem terbuka

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

180

PERALATAN BANTU PLTA

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Parameter pompa yang terpasang untuk sistem pendingin harus memenuhi


ketentuan operasi

yaitu

debit

air ( Q )

yang dipompakan

dan dan

kemampuan tinggi head yang harus dicapai ( H ) .

Gambar 10 : Pompa sirkulasi sistem pendingin

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

181

PERALATAN BANTU PLTA

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Gambar 11 : Peralatan perpindahan panas dan Oil filter

5.

Sistem Hidrolik
Sistem Hidrolik pada PLTA berfungsi untuk :
-

Menggerakan sudu pengatur ( Guide vane )

Membuka dan menutup main velve

Membuka dan menutup by pass valve

Membuka dan menutup peralatan tersebut diatas digunakan servo


motor yang digerakan dari fluida yang betekanan, fluida kerja dari
sistem hidrolik tersebut
hidrolik tergantung

dugunakan oil. Tekanan kerja dari sistem

dengan tekanan didalam casing serta

besarnya

guide vane yang digerakan.

Suply fluida kerja dari sistem hidrolik didapat dari Acumulator atau Pressure
tank dan Pressure tank dapat suplay dari Pompa hidrolik ( pompa roda gigi ).
Pompa roda gigi tersebut digerakan oleh motor listrik.
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

182

PERALATAN BANTU PLTA

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Untuk menajamin beroperasinya pompa hidrolik tiap sistem hidrolik tersedia


2 unit motor beserta pompa hidrolik.

Beroperasinya

pompa tersebut berdasarkan tekanan pada prestenk

Akumulator ) yang dikontrol oleh relief valve yang diatur tekanan minimum
beroperasi dan tekanan maksimum berhenti,

secara

otomatis terhubung

dangan supllay daya listrik.

Gambar 12 : Pompa sistem Hidrolik yang dilengkapi denga relief fvalve

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

183

PERALATAN BANTU PLTA

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Gambar 13 : Press rank. ( Acumulator ) untuk suplay sistem hidrolik

6.

Sistem Kompresor
Untuk menjaga agar penurunan tekanan kerja pada sistem

Hidrolik

maka digunakan dua jenis fliuida yaitu Oil dara udara , karena jika
dipakai satu jenis

fluida seperti oil maka

apa bila sistem hirolik

beroperasi maka akan terjadi penurunan dratis pada sistem hidrolik


tersebut

agar tekanan tidak jauh peneurunan tekanannya

maka

digunakan dua media fluida yaitu udara dan oil.

Komporesor digunakan untuk mengisi acumullator atau Prss tank ,


tekan kerja kompresor diseting susuai dengan tekanan kerja PLTA
dan operasi atau stopingnya diatur oleh tekanan kerja , Kompresor
akan beroparasi pada tekanan yang diset minimum untuk beroperasi
pada tekan maksimum untuk stoping sesuai setting.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

184

PERALATAN BANTU PLTA

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Kompresor digeraknan oleh motor listik yang terhubung dengan


presure diskonek Switch ( Magnetik switch )

Gambar 14 : Compresor untuk Supali udara ke Pres Tank ( Acumulator )

7. Sistem Jack
Sistem

Jack

pada PLTA

yang Vertikal Shaft

diperlukan untuk

mengangkat Poros turbin agar antara Thrust bearing dengan denga


bahagian yang ditumpu selalu diisi denganoil flim ( laposan pelumas .

Cara kerja sistem Jack.

Sistem jack bekerja mengangkat bagian rotor group dan bagian turbin
beberapa

mm yang gunanya agar pelumas

selalu berada pada

bahagian trust bearing.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

185

PERALATAN BANTU PLTA

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Waktu bekerja atau operasi.


a. Pada unit PLTA tidak beroperasi
Sistem jack beropersai atau bekerja pada waktu tertentu beberapa
saat sesuai denga setting waktu.
b. Pada saat akan beroperasi
Sistem Jack akan bekerja

sesuai dengan squensi operasi

memberi kesempatan kepada pelumas

untuk

agar masik kepada celah

antara bahagian atas Trhust bearing dengan oil flim.

Gambar 15 : Pompa hidrolik untuk sistem Jack

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

186

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

PERALATAN BANTU PLTA

Gambar 16 : Pompa roda gigi untuk sistem hidrolik

8.

Sistem Brake.
Fungsi sistem Brake
Sistem brake berfungsi untuk menghentikan putaran turbin setelah
beroperasi pada proses stoping.
Cara kerja sistem brake
Sistem brake bekerja dengan sistem hidrolik untuk menekan sepatu
rem ( Brake Shoes ) kepada bhg dari lining brake . Brake bekerja
setelah proses stoping dan bekerja pada putaran tertentu dan lepas

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

187

PERALATAN BANTU PLTA

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

setelah putaran tertentu pula

( sebagi

contoh brake bekerja pada

putran 300 Rpm dan lepas kembali pada putaran 200 Rpm )
Beroperasi dan lepasnya sistem Jack berdasarkan seating dengan
sesnsor RPM atau Pick Up rotasi sensor .

Gambar 17. : Brake sistem

9.

Operasi Alat Bantu


Operasi alat bantu pada PLTA tergantuing dengan perencanaan dan
diseain serta kondisi dari unit PLTA tersebut.
Beroperasinya alat bantu tersebut bisa berbentuk :
a.

Squenci

b.

Automatik

c.

Manual

9.1.

Operasi squensi

Perlatan bantu yangberoperasi secara squenci dengan urutan kerja


sesuai dengan

kebutuhan dan fungsi alat bantu tersebut. Pengaturan

waktu yang bertingkat dan urutan squenci berdasarkan waktu , tekanan


dan Level serta fungsi alat bantu tersebut.
Seperti gambar Squenci
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

188

PERALATAN BANTU PLTA

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Gambar 18 : Urutan dan Squenci operasi alat bantu pda prosedure Starting

9.2.

Automatik.
Peralatan bantu yang beroperasi secara Automatik
berdasarkan

informasi

perubahan

tekanan

dan

diseting
dan level

perubahan aliran

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

189

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Gambar

PERALATAN BANTU PLTA

19 : Kontrol Automatik dengan diapragm dan Spring

Gambar 20 : Kontrol level

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

190

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

PERALATAN BANTU PLTA

Gambar 21 : Ptekanan yang diatur melaui Spring

9.3.

Manual
Operasi manual yaitu peralatan bantu yang dioperasikan secara
manual yaitu apabila kondisi kontrol tidak bekerja , peralatan bantu
dapat dioperasikan secara manual dengan memahami prosedure
operasi.
Pengoperasian alat bantu tersebut bisa dilakukan pada lokal panel
atau pun pada unit alat bantu itu sendiri denga memahami kontol
maupun kotrol room.
Pengoperasian mulai dari Power suplay samapi parameter operasi
alat

bantu.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

191

PERALATAN BANTU PLTA

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

10. Kontrol operasi alat bantu.


Kontrol alat bantu bisa dilihat secra visual , Untuk mengoperasikan
peralatan bantu dapat dilihat pada fungsi alat bantu tersebut.

Peralatan bantu beroperasi dengan beberapa parameter seperti :


a. Tekanan
b. Level
c. Flow
d. Temperatur

Peralatan sensor akan meberikan input pada suplay pengegrak untuk


menegrakan

magnetis Switc untuk memberikan power elektrik pada

pengerak alat

bantu

untuk beroperasi

dan juga

akan meberikan

informasi pada kontrktor untuk melepas suplay power kepada pengerak


alat bantu.
Penempatan sistem pengoperasian dari alat bantu

Parameter
Parameter alat bantu sengat bergantung denga besaran Q dan H
dan standar operasi menurut fabrikan dan fluida kerja serta fungsi
alat bantu tersebut .
Sebagaui contoh :
Sistem Hidrolik
Sdistem hidrolik pada suatu PLTA harue mampu menggerakkan
Guide vane . Guide vane akan mengalami gaya pada permukaan
sesuai denga luas permukaan guide vane dan jumlah guide vane..

Sistem pendingin
Sistem pendingin
Pompa pada sistem pendingin harus
dengan

mampu

mengisi

resevoar

debit ( Q ) dan ketinggian ( H ) penempatan yang telah

terpasanng
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

192

PERALATAN BANTU PLTA

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Peralatan penukar panas

pada sistem pendingin pelumas

pada

bantalan harus

mam pu mengambil panas dari pelumas sesuai

batasan

normal pelumas

kerja

dan

dan mempertahankan

temperatur batasan operasi ( untuk bantalan 67 C

i. Batasan Operasi
Batasan operasi Alat Bantu PLTA Singkarak
Runner
(a) Material
(b) Dimensions
D1
D2
Dr
H1
Hr
B1
P
Spiral Case
(a) Material
(b) Dimensions
Ds
R
Dc
Bg
Dp
Ls
(c) Thickness at inlet
at small end

Main shaft
G-XSCrNiMo 13 4
2065.88 mm
1450 mm
2136.00 mm
40.74 mm
764.00 mm
255.02 mm
600.88 mm

StE 355
1500 mm
2390 mm
702.7 mm
575 mm
4400 mm
4900 mm
28 mm
18 mm

(a) Materials
(b) Dimension
D3
L1
Draft Tube
(a) Material & grade
(b) Dimensions
DS
L2
L3
Dd
H3
H4
HS
W3

Inlet Valves
(a) Dimensions
D6
LS
WS
L6
L

ASTM A668
Class D
CK 35
530 mm
3840 mm
St 360 C
1461.29 mm
11000 mm
3153.17 mm
2800 mm
1352.30 mm
3375.74 mm
520 mm
3314.3 mm
0 degrees

2050 mm
1860 mm
2050 mm
11218 mm
6170 mm

Insulation Class:
Stator winding : F
Rotor winding : F
Ohmic resistance of 20 C (calculated):
Rotor winding : I-K
0,110

Ohm

Stator winding : U1-U2


V1-V2
W1-W2

Ohm
Ohm
Ohm

0,00514
0,00514
0,00514

Temperature rise
At rated voltage 10,5 kV, rated frequency and continuous rating of 52 MVA,
with air-inlet temperature of max. 40 C.
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

193

PERALATAN BANTU PLTA

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Stator winding
:
max. 85 C
(embedded temperature detector method)
Rotor winding
:
max. 90 C
(resistance method)
Stator core
:
max. 70 C
(embedded temperature detector method)
Sliprings
:
max. 60 C
Cooling
Ventilated, with rotor mounted fans.
Cooling capacity
:
Cooling air temperature
:
Hot air temperature
:
Cooling air quantity
:
Max. air pressure drop
:
(in the circuit outside the generator)

670,0
40,0
69,7
20,0
280,0

kW
C
C
m3/s
Pa

Efficiencies
Referring to a winding temperature of 75 C, valid losses of excitation equipment, pro rata
thrust bearing losses.
Efficiency at power factor
0,85
1,0
And 100 % load
98,36 %
98,68 %
75 % load
98,15 %
98,49 %
50 % load
97,60 %
98,02 %
Summation of losses
At continuous rating of output 52 MVA and p. f. = 0,85
Core losses
145,0
kW
Windage losses
181,0
kW
Friction losses of brushes
1,5
kW
Lower guide bearing losses
17,0
kW
Stator-I2R losses
154,0
kW
Stray-load losses
41,0
kW
Rotor-I2R losses
99,0
kW
Total losses
638,5
kW
Copper losses are referred to a winding temperature of 75 C. The losses will be guaranteed
with 10% tolerance (acc. To IEC 34 standards).
Reactances
Direct-axis synchronous reactance
Unsaturated
Saturated

Xd
111,0
92,2

%
%

Quadrature-axis synchronous reactance


Unsaturated

Xq
70,0

Transient reactance
Unsaturated
Saturated

Xd
21,5
19,7

%
%

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

194

PERALATAN BANTU PLTA

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Direct-axis subtransient reactance


Unsaturated
Saturated

Xd
16,2
14,1

%
%

Quadrature-axis subtransient reactance


Unsaturated

Xq
11,7

Zero phase-sequence reactance

X0
7,0
Xp
12,5

Potier reactance

%
%

Time constants
Direct-axis transient open circuit
Time constant
Tdo 8,15
s
Direct-axis transient short circuit
Time constant
Td
1,57
s
Direct-axis subtransient short circuit
Time constant
Td
0,0232
s
Further electrical data
Short circuit ratio referred to
The no-load characteristic
1,05 times
The generator will be capable to supply at zero power factor overexcited 38,4 MVAr
The generator will be capable to supply at zero power factor underexcited 46,8 MVAr
Telephone-harmonic-factor
1,5
%
Excitation
Static excitation without exciter, connected to the alternator sliprings
Excitation consumption for 52 MVA, power factor = 0,85
Exciter voltage
134
V
Exciter current
868
A

11. Prosedure Pengoperasian Alat Bantu

11. 1 Pendahuluan
Untuk mencegah terjadinya system pengoperasian yang tidak benar maka
setiap operator diharapkan mengerti bagaimana cara mengoperasikan system
dengan benar.Tidak terkecuali mengoperasikan alat Bantu PLTA yang
merupakan bagian dari system pembangkit listrik. Untuk menghidari terjadinya
kerusakan pada system maka pengoperasian system harus mengacu pada
standar pengoperasian yang ada pada masing-masing unit. Hal ini dilakukan
untuk menjaga keandalan system secara umum. Berkut kita ini kita lihat
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

195

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

PERALATAN BANTU PLTA

beberapa contoh standar pengoperasian Alat Bantu pada PLTA Maninjau dan
Singkarak dan Batang agam

11.2 Tanding Operation Prosedure (SOP) Normal Shutdown

Gambar 22.a Contoh normal shut-down sequence PLTA Maninjau

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

196

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

PERALATAN BANTU PLTA

Gambar 22.b Lanjutan normal shut-down sequence PLTA Maninjau


STANDING OPERATION PROCEDURE (SOP) NORMAL SHUTDOWN
1. Opersikan handle pengatur ke posisi tutup sampai 0%
2. Tekan katup solenoid valve (65S) ke posisi tutup
3. Tekan katup solenoid valve locking servomotor (74S) ke posisi tutup
4. Tekan katup solenoid inlet valve (21 S) ke posisi tutup jarum penunjuk
bergerak dari 90-0 derajat sampai inlet menutup
5. Tekan katup solenoid inlet seat valve (21 S) ke posisi tutup
6.

Tekan katup solenoid bypass valve (21 BS) ke posisi tutup dan jarum
penunjuk bergerak dari posisi buka ke tutup.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

197

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

PERALATAN BANTU PLTA

Gambar 23. Contoh shut-down PLTA Batang Agam


STANDING OPERATION PROCEDURE (SOP) SHUTDOWN:
1. Periksa bahwa unit dapat di-stop
2. Kurangi beban (load) aktif dan reaktif hampir ke nol
3. Buka generator circuit breaker
4. Buka field breaker
5. Tutup governor valve dan guide vanes mulai menutup
6. Jalankan pompa oli tekanan tinggi untuk bearing generator
7. Aktifkan rem pada kecepatan (speed) 15% dan stop turbin-generator
8. Tutup inlet valve
9. Matikan auxiliary systems
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

198

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

PERALATAN BANTU PLTA

11.1 Standing Operation Prosedure (SOP) Black Start dan Black Out

STANDING OPERATIONAL PROCEDURE (SOP)


BLACK START PLTA SINGKARAK
TUJUAN:
Sebagai pedoman operator bila terjadi gangguan unit pembangkit atau black out sistem.
SASARAN :
Mempercepat waktu penormalan unit pembangkit yang trip atau terganggu
Mampu mengatasi kendala yang terjadi swaktu terjadi gangguan pembangkit
Koordinasi antar sesama dan UPB dalam hal penanggulangan relay proteksi yang bekerja
untuk penyampaian pelaporan.
Kasus :
1. Gangguan internal unit Pembangkit
2. Gangguan eksternal (sistem)
3. PMT lepas parallel
4. Unit Trip
I. KONDISI NORMAL
Semua Peralatan Dalam Kondisi Normal Operasi (Check List Peralatan Normal Operasi)
II. KONDISI BLACK OUT
1. Lepas PMT 150 KV Lubuk Alung 2.
2. Pastikan supply pemakaian sendiri normal (SOP Penormalan PS).
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

199

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

PERALATAN BANTU PLTA

3. Periksa PMT 150 KVv incoming unit, (pastikan posisi open).


4. Operasikan Emergency Cooling Water (SOP Emergency Cooling Water)
5. Lakukan Penormalan peralatan unit pembangkit (SOP Penormalan Unit).
Dalam melaksanakan penormalan, prioritaskan unit 1 atau unit yang stand
by untuk masuk sistem
6. Bila pemakaian sendiri masih dari Genset maka lepas PMT 150 KV
transformer 5 MVA.
7. Operasikan unit pembangkit prioritas (SOP start unit) sampai masuk sistem.
8. Masukkan PMT 150 KV transformer 5 MVA.
9. Operasikan unit pembangkit lain yang sudah normal (SOP start unit)
sesuai perintah UPB.
III. SOP Penormalan Pemakaian Sendiri
1. Periksa/pastikan Genset emergency beroperasi secara normal.
2. Bila tidak beroperasi periksa PMT 20 KV from transformer 5 MVA (Posisi harus bebas
(//)).
3. Bila diesel tidak operasi, lakukan operasi Genset secara manual (SOP Diesel).
4. Periksa system 20 kV switchgear (lakukan manuver sesuai dengan konfigurasi):
Control Building (Lihat Gambar P2 691)
i.
PMT 20 KV MV Transformer I posisi close (Panel 50+BC 002)
ii.
PMT 20 KV MV Transformer II posisi close (Panel 50+BC 013)
iii.
PMT 20 KV Power house posisi close (Panel 50+BC 014)
iv.
PMT 20 KV Water treatment posisi close (Panel 50+BC 001)
v.
PMT 20 KV Asam pulau posisi open (Panel 50+BC 012)
vi.
PMT 20 KV MV Transformer 5 MVA posisi open (Panel 50+BC 003)
Power house (Lihat Gambar P2 651)
i. PMT 20 KV MV Transformer I posisi close (Panel 30+BC 002)
ii. PMT 20 KV MV Transformer II posisi close (Panel 30+BC 013)
iii. PMT 20 KV Control Building I posisi close (Panel 30+BC 013)
iv. PMT 20 KV Wter treatment posisi OK (Panel 30+BC 001)
Water treatment, Main storage tank dan Valve chamber (Lihat Gambar)
i. PMT 20 KV Powerhouse Water Treatment posisi close (Panel 30+BC 001)
ii. PMT 20 KV Main Storage Tank Water Treatment posisi close (Panel 42+BC 003)
iii. PMT 20 KV Control Building Water Treatment posisi close (Panel 50+BC 001)
iv. PMT 20 KV MV Valve chamber, Main storage tank posisi close (Panel 38+BC 002)
v. PMT 20 KV Main storage tank, Valve chamber posisi close (Panel 41+BC 003)
5. Pastikan sistem 400 VAC normal (sesuai dengan konfigurasi gambar).
IV. SOP PENORMALAN UNIT PEMBANGKIT
1. Pastikan tegangan di unit LV distribution board normal
2. Tutup TIV secara manual dari powerhouse lantai 2 (SOP TIV)
3. Amati proses shutdown sampai proses stop selesai (putaran = 0 rpm)
4. Pastikan Main valve CWS (M04) posisi close, Bila terbuka lakukan penutupan secara
manual
5. Catat semua relay proteksi yang bekerja
6. Reset semua relay proteksi yang bekerja

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

200

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

10.1.

PERALATAN BANTU PLTA

STanding Operation Prosedure (SOP) Emergensi Cooling Water

STANDING OPERATION PROCEDURE (SOP)


PENGOPERASIAN MANUAL
EMERGENCY COOLING WATER
(PADA LAYAR MONITOR)
1. LANGKAH KERJA MEMBUKA (OPEN)
- Tampilkan menu fire fichting system (P 28)
- Click emergency cooling water system ( =30+VC-M07)
- Click open cooling water motor operated valve
- Click throttle valve (=30+VC-M08)
- Click open Throttle valve motor operated valve
1. LANGKAH KERJA MENUTUP (CLOSE)
- Click throttle valve (=30+VC-M08)
- Click close Throttle valve motor operated valve
- Click emergency cooling water system ( =30+VC-M07)
- Click close cooling water motor operated valve

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

201

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

PERALATAN BANTU PLTA

SKR/SMP/1112-1.0

STANDING OPERATION PROSEDURE ( S O P )


PENGISIAN
PRESSURE SHAFT ( PENSTOCK )
PLTA SINGKARAK
1.

Tutup drain valve PHC di lantai 1 antara unit 1 dan 2

2.

Tutup valve untuk Cooling Water Emergency semua unit

3.

Tutup by pass valve 1,2 semua unit manual dengan memutar valve

4.

Sambung selang dari tabung berisi air dari lantai 3 ke Hand pump pada
panel hydraulic TIV semua unit di lantai 2

5.

Posisi Valve 405 open

6.

Buka Valve 412 dan valve P1

7.

Tutup valve 404

8.

Lakukan pemompaan secara manual pada Hand pump di panel Hidraulic


TIV ( penunjukan

pressure gauge Working Seal & Maintanance seal

bergerak dari 0 s/d 29 bar

9.

Buka Valve by pass secara bertahap di Valve Chamber

SKR/SOP/1020-0

Diesel Emergency Intake dan Ombilin Secara Manual


PLTA SINGKARAK
Apabila suplai listrik dari luar terganggu Diesel Emergency dapat
dioperasikan dengan cara manual seperti berikut :
I.

Persiapkan Operasi.

Periksa level minyak pelumas Diesel Genset sesuai petunjuk


pada tongkat (Stick) berada dalam batas antara Maximum
dengan minimum.
Periksa air pendingin Diesel Ginset dalam tangki Radiator,
apakah tersedia dengan cukup.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

202

PERALATAN BANTU PLTA

PT PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Periksa persediaan bahan bakar solar dalam tangki harian yang


dapat menunjang lama operasi mesin.

II. Pengoperasian :
-

Tempatkan penunjukan switch control ke posisi manual,


pada panel kontrol Diesel Emergency (panel 29+RP
00001).
Tekan tombol switch bergambar jari tangan untuk
merubah selection mode ke posisimanual dan mesin
siap beroperasi.
Tekan tombol Switch bergambar I dan Mesin beroperasi
( Start ) dan selanjutnya langsung bertegangan.
Jika mesin tidak diinginkan beroperasi lagi ( distop),
tekan tombol bergambar 0.
SKR/SOP/1008-0

SOP
DIESEL EMERGENCY 700 KVA SECARA MANUAL
PLTA SINGKARAK
I.

Apabila supply PS terganggu dari Trafo 5 MVA Diesel Emergency dapat


diopersikan secara manual seperti berikut :

II.

1.

PERIKSA LEVEL MINYAK PELUMAS

2.

PERIKSA AIR PENDINGIN

3.

PERIKSA LEVEL BAHAN BAKAR

Pengoperasian :
1. PINDAHKAN SWITCH PRIORITAS OPERASI DIESEL 1 ATAU 2
2. TEKAN TOMBOL SWITCH BERGAMBAR JARI TANGAN UNTUK
MERUBAH MODE KE POSISI MANUAL
3. TEKAN TOMBOL SWITCH BERGAMBAR I DAN MESIN BEROPERASI
4. JIKA MESIN TIDAK DIINGINKAN BEROPERASI ( DI STOP ), TEKAN
TOMBOL SWITCH BERGAMBAR O

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

203