Anda di halaman 1dari 13

PENDAHULUAN

Kornea adalah jaringan transparan, yang ukurannya sebanding dengan


kristal sebuah jam tangan kecil. Kornea ini disisipkan ke sklera di limbus,
lengkung melingkar pada persambungan ini disebut sulkus skelaris. Kornea
dewasa rata-rata mempunyai tebal 0,54 mm di tengah, sekitar 0,65 di tepi, dan
diameternya sekitar 11,5 mm dari anterior ke posterior, kornea mempunyai lima
lapisan yang berbeda-beda: lapisan epitel (yang bersambung dengan epitel
konjungtiva bulbaris), lapisan Bowman, stroma, membran Descement, dan lapisan
endotel. Batas antara sclera dan kornea disebut limbus kornea. Kornea merupakan
lensa cembung dengan kekuatan refraksi sebesar + 43 dioptri. Kalau kornea udem
karena suatu sebab, maka kornea juga bertindak sebagai prisma yang dapat
menguraikan sinar sehingga penderita akan melihat halo.1
Kerusakan pada bentuk dan kejernihan kornea dapat menyebabkan
gangguan pembentukan bayangan di retina. Apabila lapisan epitel mengalami
kerusakan biasanya menyebabkan edema lokal sesaat pada stroma kornea yang
akan cepat menghilang dengan regenerasi sel-sel epitel yang cepat. Namun, jika
endotel yang mengalami kerusakan dapat terjadi edema kornea dan hilangnya sifat
transparan yang cenderung lama karena terbatasnya potensi perbaikan fungsi
endotel.4,5
Ulkus kornea adalah keadaan patologik kornea yang ditandai oleh adanya
infiltrat supuratif disertai defek kornea bergaung, diskontinuitas jaringan kornea
dapat terjadi dari epitel sampai stroma. Ulkus kornea yang luas memerlukan
penanganan yang tepat dan cepat untuk mencegah perluasan ulkus dan timbulnya
komplikasi berupa descematokel, perforasi, endoftalmitis, bahkan kebutaan.
Ulkus kornea yang sembuh akan menimbulkan kekeruhan kornea dan merupakan
penyebab kebutaan nomor dua di Indonesia.2
Ulkus kornea dibedakan dalam bentuk ulkus kornea setral dan ulkus
kornea marginal. Penyebab ulkus kornea sentral adalah bakteri (pseudomonas,
pneumokok, moraxela liquefaciens, streptokok beta hemolitik, klebsiela
pneumoni, e. coli, proteous), virus (herpes simpleks, herpes zoster), jamur

(kandida albikan, fusarium solani, spesies nokardia, sefalosporium, dan


aspergilus).6
Insiden ulkus kornea tahun 1993 adalah 5,3 juta per 100.000 penduduk di
Indonesia, sedangkan predisposisi terjadinya ulkus kornea antara lain terjadi
karena trauma, pemakaian lensa kontak, dan kadang-kadang tidak diketahui
penyebabnya.3
Berikut ini akan dilaporkan sebuah kasus ulkus kornea pada seorang
penderita yang datang berobat ke Poliklinik Ilmu Kesehatan Mata RSUP Prof. Dr.
R. D. Kandou Malalayang pada tanggal 27 November 2013.

LAPORAN KASUS
I.

II.

IDENTITAS

Nama

A. T

Umur

20 tahun

Jenis Kelamin

Laki-laki

Alamat

Sindulang I

ANAMNESA
Keluhan Utama : Pandangan kabur.
Laki-laki, umur 20 tahun, suku Minahasa, agama Kristen Protestan,
alamat Sindulang I, datang ke Poliklinik Ilmu Kesehatan Mata RSUP Prof.
Dr. R. D. Kandou Malalayang tanggal 27 November 2013 dengan keluhan
utama pandangan kabur. Penderita mengatakan pandangan kabur, merasa
ada benda asing di mata, silau, gatal dan nyeri sejak 12 jam sebelum
datang ke poliklinik dan perlahan lahan menjadi lebih kabur dan silau.
Riwayat mata merah setelah pemakaian lensa kontak 1 hari
sebelum datang ke Poliklinik.

III.

PEMERIKSAAN FISIK
Riwayat Penyakit dahulu:
Penderita tidak pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga:
Hanya penderita yang sakit seperti ini dalam keluarga
Riwayat Sosial:
Merokok (+), alkohol (-)

Pemeriksaan Fisik Umum


A.

Status Generalis
Keadaan umum
Kesadaran
Heart Rate
Suhu Badan
Jantung dan paru
Abdomen

: Baik
: Compos mentis
: 80 kali permenit
: 36,30 C
: Dalam batas normal
: Datar, lemas, bising usus (+) normal, hepar/lien
tidak teraba

B.

C.

Status Psikiatri
Sikap
Ekspresi Wajah
Respons

: Kooperatif
: Wajar
: Baik

Status Neurologis
Motoris
Sensoris
Refleks

: Normal
: Normal
: Normal

Pemeriksaan Status Oftalmologis


A.

Pemeriksaan Subjektif
Visus Oculus Dextra

: 6/60

Visus Oculus Sinistra

: 6/6

TIODS = n/palp
B.

Pemeriksaan Objektif
1. Pemeriksaan Bagian Luar

Jenis Pemeriksaan
1. Inspeksi

OD

OS

Normal

Normal

Posisi

Normal

Normal

Warna

Hiperemis

Normal

Bentuk

Normal

Normal

Edema

Normal

Normal

Ulkus

Tumor

Margo

Posisi

Normal

Normal

Palpebra

Ulkus

Silia

Normal

Normal

Warna

Hiperemis

Normal

Sekret

Edema

Injeksi

Inj.

Supersilia
Palpebra

Pergerakan

Konjungtiva

Konjungtiva(+)
Bulbus Okuli

Sklera

Kornea

Warna

Normal

Normal

Perdarahan

Benjolan

Lain-lain

Kekeruhan

Jernih

Ulkus

Sikatriks

Infiltrat (+)

Permukaan
Refleks
sensibilitas
kornea

COA
Iris

Dalam
Perlekatan

Cokelat

Cokelat

Bentuk

Bulat

Bulat

Refleks

Normal

Normal

Kekeruhan

Jernih

Jernih

Nyeri tekan

Tumor

Warna
Lain-lain
Pupil

Lensa
2. Palpasi

Normal

Tensi Okuli Schiotz

Normal

pada Normal

palpasi

pada
palpasi

2. Pemeriksaan Kamar Gelap


Jenis Pemeriksaan
Slit Lamp

OD

OS

Konjungtiva Bulbi

Injeksi siliar (+)

Normal

Kornea

Infiltrat stroma,

Normal

Bulging (+),
flourescein (+)

Direct Opthalmoscope

COA

Dalam

Normal

Iris

Normal

Normal

Lensa

Normal

Normal

Retina

Normal

Normal

Lensa

Jernih

Jernih

Refleks Fundus

Uniform (+)

Uniform (+)

Pembuluh Darah

Normal

Normal

IV.

RESUME
Seorang penderita laki-laki umur 20 tahun datang ke Poliklinik Ilmu
Kesehatan Mata RSUP Prof. dr. R.D. Kandou Manado dengan keluhan
utama pandangan kabur. Pandangan kabur dan merasa ada benda asing di
mata di alami penderita sejak 12 jam sebelum datang ke Poliklinik.
Penglihatan kabur sampai datang ke Poliklinik. Selain itu penderita juga
merasa nyeri, gatal, silau dan mata merah sejak penderita memakai lensa
kontak 1 hari sebelum masuk rumah sakit.
Pemeriksaan Fisik :
Status Generalis : dalam batas normal.
Status Oftalmikus : - VOD 6/60, VOS 6/6
- TIODS = n/palp
- Segmen anterior : palpebra edema; konjungtiva,
injeksi konjungtiva (+), injeksi siliar (+); kornea,
bulging (+), edema (+), ulkus anterior, ukuran
diameter: 1,8 mm, flourensensi (+); CoA :
-

dalam; iris/pupil: normal; lensa jernih.


Segmen posterior : Refleks fundus : normal,
retina : normal

V.

DIAGNOSA KERJA
Ulkus kornea sentral okuli dektra e.c pemakaian lensa kontak

VI.

PENATALAKSANAAN :
Antibiotik ED 8 x gtt I OD

Air mata buatan ED 8 x gtt I OD


Antibiotik 2 x 750mg
Analgetik 3 x 500mg
Antibiotik ED 1 x 1 app OD
Multivitamin 2 x 1
Anti inflamasi 3 x 1
Anjuran Pemeriksaan :
1. Pemeriksaan gram
2. Pemeriksaan kultur
VII.

PROGNOSA : dubia ad Bonam

PEMBAHASAN
Diagnosa penderita ini ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
ophtalmologi dan pemeriksaan penunjang. Pada pasien tersebut didapatkan dari
anamnesa bahwa penderita mengalami penglihatan kabur, merasa ada benda asing
di mata nyeri, gatal, silau, dan merah. Hal ini sesuai kepustakaan dimana pada
pasien ulkus kornea didapatkan gejala berupa gejala umum dari ulkus kornea
adalah penurunan ketajaman penglihatan, eritema pada kelopak mata dan
konjungtiva, merasa ada benda asing di mata, bintik putih pada kornea, silau,
nyeri dan salah satu faktor resiko dari ulkus kornea adalah organisme penyebab
melekat pada lensa kontak.7
Hasil dari pemeriksaan subjektif pasien didapatkan VOD 6/60 dan VOS
6/6. Terdapat penurunan visus pada mata kanan yang mengalami ulkus kornea.
Hal ini sesuai dengan penjelasan kepustakaan dimana pada ulkus kornea
didapatkan penurunan penglihatan yang disebabkan berubahnya permukaan
kornea oleh karena adanya defek pada kornea sehingga menghalangi refleksi
cahaya yang masuk ke dalam media refraksi.
Pada pemeriksaan fisik dan slit lamp penderita ditemukan palpebra edema,
injeksi konjungtiva dan infiltrate pada kornea, injeksi siliar, silau jika melihat
cahaya atau fotofobia. Hal ini sesuai dengan kepustakaan dimana pada ulkus
kornea ditemukan tanda-tanda berupa terdapat infiltrate di kornea, palpebra
bengkak,, pada konjungtiva terdapat injeksi konjungtiva, injeksi siliar, fotofobia
dan florescein (+).7
Karena kornea avaskuler, maka pertahanan pada waktu peradangan tidak
segera datang, seperti pada jaringan lain yang mengandung banyak vaskularisasi.
Maka badan kornea, wandering cell dan sel-sel lain yang terdapat dalam stroma

kornea, segera bekerja sebagai makrofag, baru kemudian disusul dengan dilatasi
pembuluh darah yang terdapat dilimbus dan tampak sebagai injeksi perikornea.
Sesudahnya baru terjadi infiltrasi dari sel-sel mononuclear, sel plasma, leukosit
polimorfonuklear (PMN), yang mengakibatkan timbulnya infiltrat, yang tampak
sebagai bercak berwarna kelabu, keruh dengan batas-batas tak jelas dan
permukaan tidak licin, kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbullah
ulkus kornea.8
Pada pasien ulkus kornea terdapat keluhan nyeri pada mata karena kornea
memiliki banyak serabut nyeri, sehingga amat sensitif. Kebanyakan lesi kornea
superfisialis maupun yang sudah dalam menimbulkan rasa sakit dan fotofobia.
Rasa sakit diperberat oleh kuman kornea bergesekkan dengan palpebra. Karena
kornea berfungsi sebagai media untuk refraksi sinar dan merupakan media
pembiasan terhadap sinar yang masuk ke mata maka lesi pada kornea pada
umumnya akan mengaburkan penglihatan terutama apabila lesi terletak sentral
pada kornea. Fotofobia yang terjadi biasanya terutama disebabkan oleh kontraksi
iris yang meradang.
Ulkus kornea pada penderita dicurigai karena disebabkan oleh bakteri,
karena agen penyebab ulkus kornea berupa lensa kontak. Pada ulkus kornea yang
disebabkan oleh bakteri akan terbentuk infiltrat berwarna abu-abu.6
Untuk menunjang hasil diagnosa dapat dilakukan pemeriksaan gram
bertujuan untuk mengetahui secara lebih lanjut penyebab infeksi dan pemeriksaan
kultur agar dapat diketahui secara spesifik mikroorganisme penyebab dari ulkus
kornea ini sehingga dapat diberikan pengobatan yang adekuat terhadap penderita
ini.
Tujuan penatalaksanaan pada ulkus kornea adalah erdikasi bakteri dari
kornea, menekan reaksi peradangan sehingga tidak memperberat destruksi pada
kornea, mempercepat penyembuhan defek epitel, mengatasi komplikasi, resta
memperbaiki tajam penglihatan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pemberian
terapi yang tepat dan cepat sesuai dengan kultur.9

10

Diberikan sikoplegik serta antibiotik topikaldan subkonjungtiva yang


sesuai. Pasien dirawat jika terancam terjadi perforasi, tidak dapat member obat
sendiri, dan bila penyakit berat sehingga diperlukan obat sistemik. Mata tidak
boleh dibebat, pemeriksaan secret dilakukan 4 kali sehari, dan berhati-hati
terhadap glaukoma sekunder. Pengobatan dihentikan bila sudah terjadi epitelisasi
dan mata terlihat tenang. Bila penyebabnya pseudomonas pengobatan harus
ditambah 1-2 minggu.10
Ulkus kornea dapat berkomplikasi dengan terjadinya perforasi kornea
walaupun jarang. Hal ini dikarenakan lapisan kornea semakin tipis disbanding
dengan normal sehingga dapat mencetuskan terjadinya peningkatan tekanan
intraokuler. Jaringan parut kornea dapat berkembang dan pada akhirnya
menyebabkan penurunan parsial maupun kompleks juga dapat terjadi, glaucoma
dan katarak. Terjadinya neovaskularisasi dan endoftalmitis, penipisan kornea yang
akan menjadi perforasi, uveitis, sinekia anterior dan sinekia posterior juga bias
menjadi salah satu komplikasi dari penyakit ini.9,10,12
Anjuran pada penderita ini adalah perlu menjaga kebersihan mata, kontrol
yang baik ke poli mata dapat membantu mengetahui perbaikan dari mata, jika
memakai lensa kontak, secepatnya untuk melepaskan, jika memakai lensa kontak
harus sangat diperhatikan cara memakai dan merawat lensa tersebut jangan
memegang atau menggosok mata yang meradang, mencegah penyebaran infeksi
dengan mencuci tangan sesering mungkin dan mengeringkannya dengan handuk
atau kain bersih.
Prognosis dari ulkus kornea tergantung dari cepat lambannya pasien
mendapat pengobatan, jenis mikroorganisme penyebab, dan adanya penyulit
maupun komplikasi. Ulkus kornea biasanya mengalami perbaikan tiap hari dan
sembuh dengan terapi yang sesuai. Jika penyembuhan tidak terjadi atau ulkus
bertambah berat, terapi alternatif harus dipertimbangkan.

11

PENUTUP
Demikian telah dilaporkan suatu kasus dengan diagnosis ulkus kornea
yang

mencakup

diagnosis,

pemeriksaan

oftalmologis,

penanganan

dan

prognosisnya.
Kita harus menyadari bahwa penyakit ini sangat memerlukan control
periodik serta pengawasan terutama oleh dokter mata sangatlah penting.
Pengobatan terutama ditujukan untuk mencegah komplikasi seperti kebutaan
parsial atau komplit dalam waktu sangat singkat, kornea perforasi dapat berlanjut
menjadi endoptalmitis dan panopthalmitis, prolaps iris, pikatrik kornea, katarak
dan glaukoma sekunder. Pada pasien ini diharapkan dapat memeriksakan diri
secara berkala dan selalu menjaga kebersihan mata agar dapat sembuh secara
baik.

12

DAFTAR PUSTAKA
1. Vaughan D. Opthalmologi Umum. Edisi 14. Widya Medika, Jakarta, 2000
2. Anonimous. Ulkus Kornea. Dikutip dari www.medicastore.com 2007.
3. Suharjo, Fatah widido. Tingkat keparahan Ulkus Kornea di RS Sarjito
Sebagai Tempat Pelayanan Mata Tertier. Dikutip dari www.tempo.co.id.
2007.
4. Biswell D. Kornea. Dalam : Oftalmologi Umum. Edisi 17. Jakarta : EGC;
2010. H. 125-39.
5. Kanski JJ. Kornea. Dalam : Clinical Ophthalmology a Systematic Approach.
Edisi 6. London : Elsevier; 2007. h. 254-66.
6. Ilyas S. Ulkus Sentral. Dalam : Ilmu Penyakit Mata. Edisi 4. Jakarta : Badan
Penerbit FKUI, 2013. h.165-167
7. Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata, Edisi ketiga FKUI, Jakarta, 2004
8. Wijaya. N. Kornea dalam Ilmu Penyakit Mata, cetakan ke-4, 1989
9. Mills Tj, Corneal Ulceration and Ulcerative Keratitis in Emergency Medicine
Citied
on
Nov
30,
2013.
Avaible
from
:
http://www.emedicine.com/emerg/topic115.htm
10. Mansjoer A, Triyanti K, Ulkus Kornea. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ke-3
Media Aesculapius. FKUI. Jakarta 2001. Hal: 56-57.
11. Netter Atlas of Human Anatomy.
12. Lange Gerhard K. Ophthalmology. 2000. New York : Thieme. P. 117-44
13. Anonymous, Corneal Ulcer. Dikutip dari www.HealthCare.com 2007-04-14

13