Anda di halaman 1dari 12

0

PROPOSAL
PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH
COMMUNITY RESEARCH PROGRAME (CRP)

JUDUL PENELITIAN
...............................................................................................

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN


JAKARTA

2009

IDENTIFIKASI
1. Judul Penelitian

2. Nama Peneliti Utama


..

3. Alamat Lengkap
Fakultas Kedokteran, Universitas Pembangunan Veteran Jakarta. Jl RS Fatmawati,
Pondok Labu, Jakarta Selatan 12450
Tel.
: 021 7669803
Fax
: 021 7669803
4.

Nama Instansi Pengusul Proposal


Fakultas Kedokteran, Universitas Pembangunan Veteran Jakarta. Jl RS Fatmawati,
Pondok Labu, Jakarta Selatan 12450
Tel.
: 021 7669803
Fax
: 021 7669803

5. Bidang Penelitian
Kesehatan Matra
Jakarta, 17 Februari 2009
Dekan

Buddy H.W. Utoyo, dr., MARS

Pengusul

Nama Mahasiswa

A. LATAR BELAKANG
Tentara Nasional Indonesia (TNI) memiliki tugas menjaga keutuhan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karena itu, kesehatan personil TNI perlu
diperhatikan. Malaria dan hepatitis viral termasuk penyakit yang dapat membahayakan
kesehatan personil TNI, sehingga perlu penatalaksanaan yang baik terhadap kedua
penyakit tersebut. Kita ketahui bahwa malaria merupakan penyakit parasit terbanyak di
dunia dan termasuk peringkat ketiga penyebab kematian, sedangkan hepatitis viral
merupakan penyakit hati yang berbahaya.
Sampai saat ini belum ada data penelitian tentang malaria dan hepatitis viral pada
personil TNI Angkatan Darat (TNIAD) di wilayah KODAM I Iskandar Muda, Nangroe
Aceh Darussalam (NAD). Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian tentang prevalensi
malaria dan hepatitis viral pada personil TNIAD di wilayah KODAM tersebut. Perlu
diketahui bahwa wilayah KODAM I Iskandar Muda, NAD merupakan daerah endimis
malaria maupun hepatitis. Untuk mendukung pelaksanaan tugas personil, diagnosis secara
cepat dan akurat terhadap personil TNIAD di daerah tersebut perlu segera dilakukan,
sehingga diperoleh data prevalensi dan odds ratio terhadap malaria dan hepatitis viral.
Setelah data tersebut diperoleh, maka dapat digunakan untuk menentukan kebijakan
berikutnya, antara lain pengobatan, pencegahan dengan obat maupun vaksin. Selain itu
juga dapat dilakukan rekayasa peningkatan imunitas pada personil TNIAD.

B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasar uraian latar belakang tersebut di atas muncul masalah yang menarik,
yaitu berapa prevalensi malaria dan hepatitis viral pada personil TNIAD di wilayah
KODAM I Iskandar Muda, Nangroe Aceh Darussalam ?.

C. TUJUAN PENELITIAN
Sehubungan dengan masalah tersebut di atas, maka penelitian ini bertujuan
Tujuan Umum : mengetahui prevalensi malaria dan hepatitis viral pada personil TNIAD
di wilayah KODAM I Iskandar Muda, Nangroe Aceh Darussalam.
Tujuan Khusus :

D. TINJAUAN PUSTAKA/KERANGKA TEORITIS


Empat puluh satu persen penduduk dunia hidup di daerah malaria, misalnya
sebagian Afrika, Asia, Amerika, Hispaniola dan Oceania. Malaria terdapat di sebagian
besar negara tropis dan subtropis, antara 64 lintang utara (Archangel di Rusia) sampai 32
lintang selatan (Cordoba di Argentina), dari dataran rendah 400 meter di bawah
permukaan laut (Laut Mati) sampai 2600 meter di atas permukaan laut (Londiani di
Kenya) (Anonymous, CDC, 2004). Di daerah tropis, malaria merupakan masalah serius
karena dapat menyerang manusia baik musim hujan maupun kemarau (Kobayashi et al.,
1998, 2000).
Di Indonesia, penyakit malaria ditemukan tersebar di seluruh kepulauan terutama
di kawasan timur Indonesia. Menurut LPEM UI, angka insidensi malaria di Indonesia
pada tahun 1999 sebesar 0.38 per 1000 penduduk dan pada tahun 2002 sebesar 0.21 per
1000 penduduk. Broto Wasisto menyatakan bahwa angka kematian malaria mencapai 10
40% terutama pada penderita malaria yang mempunyai imunitas rendah (Syamsun et
al., 2004).
Malaria disebabkan oleh Plasmodium yang ditularkan lewat gigitan nyamuk. Ada
4 jenis Plasmodium yang menginfeksi manusia, yaitu P. falciparum, P. vivax, P. ovale dan
P. malariae (Anonymous, CDC, 2004).
P. falciparum ditemukan di daerah tropik dan sub tropik. Diperkirakan 700.000
2.700.000 penduduk meninggal karena diserang P. falciparum. Species jenis ini terutama
terdapat Afrika. P. falciparum dapat menggandakan diri secara cepat di dalam darah dan
menyebabkan anemia. Selanjutnya, terjadi komplikasi saraf yang menyebabkan kematian.
P vivax umunya ditemukan di Asia, Amerika Latin dan beberapa bagian Afrika. P
vivax dapat menyebabkan kematian jika limfa membesar dan pecah. P vivax serupa
dengan P. ovale karena dapat membentuk hypnozoite di dalam hati manusia. Hypnozoite
tersebut dapat masuk ke aliran darah beberapa bulan atau beberapa tahun setelah manusia
terinfeksi.
P. ovale

sebagian besar terdapat di Afrika (khususnya di Afrika barat) dan

kepulauan di Pasific barat. Secara biologi dan morfologi, P. ovale serupa dengan P. vivax.
P. malariae ditemukan hampir di seluruh dunia dan memiliki siklus quartana (siklus 3
hari), sedangkan Plasmodium yang lain memiliki siklus tertiana (siklus 2 hari). P.

4
malariae dapat menyebabkan komplikasi serius yang disebut sindrom neprotik (nephrotic
syndrome).
Siklus hidup Plasmodium disajikan pada gambar 1.

Gambar 1. Siklus hidup Plasmodium


Siklus hidup parasit malaria mencakup 2 host, selama menghisap darah manusia nyamuk Anopheles
betina memasukkan sporozoit ke dalam manusia
. Sporozoit menginfeksi sel hepar ; setelah
dewasa, menjadi skizont , kemudian pecah dan melepaskan merozoit
; (pada P. Vivax dan P.ovale
stadium dormant/hypnozoit dapat menetap di dalam sel hepar dan menyebabkan relaps) setelah replikasi
awal dalam hepar (skizogoni eksoeritrosit)
, selanjutnya parasit mengalami multlipikasi aseksual di
dalam eritrosit (skizogoni eritrositik) . Merozoit menginfeksi sel eritrosit . Stadium cincin tropozoit
dewasa menjadi skizont yang rupture dan melepaskan merozoit
. Beberapa parasit mengalami
diferensiasi menjadi stadium eritrositik seksual atau gametositik
. Stadium parasit dalam darah
berperan dalam manifestasi klinik penyakit; (gametosit, mikrogamet dan makrogamet) tertelan oleh
nyamuk anopheles selama menghisap darah . Multiplikasi parasit dalam tubuh nyamuk dikenal
sebagai siklus sporogenik . Selama di dalam perut nyamuk, mikrogamet melakukan penetrasi dengan
makrogamet yang menghasilkan zigot . Zigot dapat bergerak dan mengalami pemanjangan (ookinet)
; yang menginvasi dinding usus tengah nyamuk dan selanjutnya berkembang menjadi ookista
.
Ookista tumbuh dan pecah melepaskan sporozoit . Kemudian masuk ke dalam kelenjar ludah nyamuk.
Inokulasi sporozoit kedalam host manusia baru melanjutkan siklus malaria selanjutnya.

5
Pengobatan malaria di Indonesia memang telah dilakukan, tetapi obat antimalaria
yang digunakan dapat menimbulkan resistensi. Dilaporkan bahwa periode 1991 1995,
16% penderita malaria yang terinfeksi oleh P. malariae di Sulawesi Tengah telah resisten
terhadap klorokuin dan 50% penerita malaria yang terinfeksi P. falciparum resisten
terhadap sulfadoksin-pirimetamin (Tjitra et al., 1995; Tjitra, 1997). Tahun 2001, WHO
melaporkan bahwa di Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Irian terdapat penderita malaria
yang resisten terhadap klorokuin dan sulfadoksin-pirimetamin, sedangkan penderita
malaria di Sumatra selain resisten terhadap kedua obat anti malaria tersebut juga resisten
terhadap multi-obat (multi drug resistance). Sumawinata et al. (2003) juga melaporkan
bahwa penderita malaria di Papua (Irian) resisten terhadap klorokuin.
Hepatitis viral disebabkan oleh virus. Virus hepatitis yang dikenal sampai saat ini
yaitu virus hepatitis A (HAV), B (HBV), C (HCV), D (HDV), dan E (HEV). Selain virus
tersebut mungkin masih ada jenis virus hepatitis F dan G atau yang lain. Virus hepatitis A
dan E bersumber dari feces, sedangkan virus hepatitis B, C, dan D bersumber dari darah
atau cairan tubuh. Penularan hepatitis B, C, dan D melalui prekutanpremukosa,
sedangkan hepatitis A dan E melalui fecesoral. Virus hepatitis dapat menyebabkan
penyakit hati kronis maupun akut dengan masa inkubasi relatif lama. Virus hepatitis B, C,
dan D menyebabkan infeksi hati kronis tetapi virus hepatitis A dan E tidak
menyebabkannya. Setelah terjadi infeksi virus hepatitis, sebagian individu tidak
menunjukkan tanda atau gejala (Anonymous, CDC, 2004).
Perkiraan penyakit hepatitis viral akut dan kronis di Amerika serikat tampak pada
tabel I.
TABEL I
PERKIRAAN PENYAKIT HEPATITIS VIRAL AKUT DAN KRONIS
DI AMERIKA SERIKAT tahun 1984 - 1994
HAV
HBV
HCV
HDV
Infeksi akut
125 - 200
140 - 320
35 - 180
6 - 13
(x 1000)/tahun
Kematian/tahun
100
150
?
35
Infeksi kronis
0
1 1.25 juta
3.5 juta
70.000
Kematian
0
5.000
8 10.000
1.000
penyakit hati
kronis/tahun
Keterangan: HAV = virus hepatitis A; HBV = virus hepatitis B; HCV = virus hepatitis C;
HDV = virus hepatitis D. Sumber CDC 20041.

6
Prevalensi HAV di Indonesia termasuk tinggi (gambar 2), demikian pula untuk
HBV, yaitu 8% (gambar 3), sedangkan prevalensi hepatitis yang lain belum ada data.

Gambar 2. Prevalensi hepatitis A (Sumber: CDC, 2004)

Gambar 3. Prevalensi HBV di Indonesia tahun 2002 (Sumber: CDC, 2004).


Di Indonesia, penelitian tentang distribusi subtipe hepatitis B surface antigen
(HBsAg) telah dilakukan (Mulyanto et al., 1997). Hasil penelitian tersebut
memperlihatkan bahwa subtipe HBsAg di Indonesia ada 4 macam zona, yaitu zona adw,
ayw, adr dan campuran. Zona adw meliputi Sumatra, Jawa, bagian tenggara Kalimantan,
Bali, Lombok, Ternate dan Morotai. Zona ayw meliputi bagian timur Nusa Tenggara dan
Maluku. Zona adr terdapat di Irian Jaya, sedangkan zona campuran meliputi Kalimantan,
Sulawesi dan Sumbawa. Meskipun penelitian tentang distribusi subtipe HBsAg di
Indonesia telah dilakukan, tetapi belum ada data prevalensi hepatitis pada personil TNI

7
AD untuk seluruh wilayah Indonesia. Selain itu juga belum ada data tentang prevalensi
hepatitis A, C, D dan E. Oleh karena itu studi ini merupakan tahap awal untuk
mengetahuinya.
Diagnosis malaria dan hepatitis viral dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah
satu cara yaitu tes diagnosis cepat (TDC) atau rapid diagnostic test (RDT). Diagnosis
cepat dan akurat terhadap malaria dan hepatitis sangat penting untuk pengobatan dan
kontrol penyakit. Kini telah tersedia kit berupa dipsticks untuk mendiagnosis kedua
penyakit tersebut. Dipsticks tersebut menggunakan prinsip tes imunokromatografi.
Labbe et al. (2001) melaporkan bahwa penggunaan dipsticks untuk mendiagnosis
malaria di Laos menunjukkan sensitifitas 90.6% dan spesifisitas 81.8%. Penggunaan
dipsticks di Thailand diperoleh hasil sensitifitas untuk P. falciparum 100% dan
spesifisitasnya 96.2%, sedangkan sensitifitas untuk P. vivax 87.3% dan specifisitas 97.7%
(Wongsrichanalai et al., 2001). Hasil penelitian Syamsun et al. (2004) terhadap
penggunakan dipsticks di

Indonesia

diperoleh

sensitivitas 97.3% dan spesifisitas

96% dengan nilai prediksi positif 97.3% dan nilai prediksi negatif 96%. Mulyanto
(2005)

menyatakan

bahwa

tes

entebe

HBsAg Strip memiliki sensitifitas dan

spesifisitas tinggi.
Berdasar uraian tersebut di atas, maka dapat dibuat kerangka teoritis sebagai
berikut:

E. METODOLOGI PENELITIAN
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan studi potong lintang (cross sectional study) yang dibagi
menjadi 2 fase. Fase pertama yaitu mendiagnosis malaria, sedangkan fase kedua
mendiagnosis hepatitis viral.
2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di beberapa tempat. Pengambilan sample darah
dilakukan di wilayah KODAM I Iskandar Muda, Nangroe Aceh Darussalam.
Diagnosis malaria dilakukan di Laboratorium Kesehatan Matra, FK UPN Veteran
Jakarta. Diagnosis hepatitis dilakukan di Laboratorium Hepatika Nusa Tenggara
Barat.
3. Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah personil TNIAD di wilayah KODAM I Iskandar Muda,
Nagroe Aceh Darussalam. Subyek mengisi informed consent terlebih dahulu sebelum
mengikuti penelitian ini. Protokol penelitian ini telah mendapat ijin dari Komisi Etik
Penelitian Kedokteran Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta. Jumlah subyek
minimal yang diperlukan dalam penelitian ini sebanyak 457 personil TNI ( = 0.05
dan B = 0.03). Subyek yang dipilih secara acak kemudian diambil darahnya dari vena
cubiti sebanyak 5 cc atau 5 mL (kurang lebih setengah sendok makan). Sebanyak 2 cc
darah dimasukan dalam tabung yang berisi EDTA dan 3 cc lainnya dibuat serum.
Darah dalam tabung EDTA digunakan untuk diagnosis malaria, sedangkan serum
darah digunakan untuk diagnosis hepatitis.
4. Diagnosis Malaria
Koleksi darah sample dari tabung reaksi yang berisi EDTA diambil dengan
Mikropipet 10-15L kemudian diteteskan pada bagian bawah kertas diagnosis. Cairan
Akan bergerak naik dan hasilnya akan terlihat sekitar 10 menit kemudian dalam
bentuk intensitas warna yang berbeda-beda sesuai petunjuk pada kit. Garis paling atas
(garis pertama) merupakan garis control yang menunjukkan kondisi kit. Garis di
bawahnya (garis kedua) menunjukkan spesifik untuk Plasmodium falcifarum (P.

9
falcifarum). Garis paling bawah (garis ketiga) menunjukkan spesifik untuk
Plasmodium species non P. falcifarum. Bila tes positif untuk non P. falcifarum, garis
teratas dan terbawah akan terlihat berwarna merah muda (pink) sedangkan garis
tengah tidak terlihat. Bila positif untuk P. falcifarum, garis teratas dan garis kedua
saja atau semua garis terlihat.
5. Diagnosis Hepatitis Viral
Antigen permukaan hepatitis B dalam serum sample diperiksa dengan metode
imunokromatografi secara kualitatif dalam satu langkah menggunakan entebe HBsAg
strip. Tes ini merupakan tes cepat dan tidak memerlukan peralatan tambahan.
Hasilnya bias dibaca dengan mata telanjang hanya dalam waktu 10 menit yang
tampak sebagai garis merah muda pada posisi garis tes. Pada waktu strip dicelupkan
ke dalam 10 15 L serum sample maka serum sample bereaksi dengan konjugat dan
merambat sepanjang membran nitroselulose. Pemeriksaan ini hanya memerlukan
waktu 10 menit. Bila HBsAg positif, konyugat (koloid emasantiHBs monoklonal)
akan mengikat HBsAg dalam serum sample dan membentuk komplek konyugat
HbsAg. Komplek tersebut akan berikatan dengan antiHBs poliklonal (pada posisi
garis tes) dan menghasilkan komplek konyugatHbsAgantiHBs sehingga
menimbulkan warna merah muda. Komplek konyugat HbsAg berlebih yang tidak
terikat pada garis tes akan berikatan dengan antiIgG pada posisi garis kontrol
sehingga menimbulkan warna yang sama (merah muda). Bila tidak ada HBsAg dalam
serum, tidak akan terbentuk komplek konjugatHbsAganti HBs sehingga tidak
tampak warna merah muda pada posisi garis tes. Warna merah muda hanya tampak
pada posisi garis kontrol akibat adanya ikatan konjugatanti IgG. Untuk
pemeriksaan jenis hepatitis viral lainnya dilakukan dengan prinsip yang sama dengan
pemeriksaan hepatitis B.
6. Analisis Data
Data yang diperoleh menunjukkan jumlah personil TNIAD yang positif
terinfeksi malaria maupun hepatitis viral. Data tersebut digunakan untuk menentukan
prevalensi dan odds ratio malaria dan hepatitis viral pada personil TNIAD di wilayah
KODAM I Iskandar Muda, Nangroe Aceh Darussalam.

10

F. JADUAL PENELITIAN
Penelitian akan dilakukan mulai bulan Maret sampai bulan Agustus 2009 dengan
tahap-tahap sebagai berikut:

11

G. DAFTAR PUSTAKA
Anonymous (2004) Central for Disease Control and Prevention (CDC). Atlanta, USA.
Kobayashi J., Vannachone B., Sato Y. et al (1998) Current status of malaria infection in a
southern province of Lao PDR. Southeast Asian J Trop Med Public Health 2: 236
241.
Kobayashi J., Somboon P., Keomanila H. et al (2000) Malaria prevalence and a brief
entomological survey in a village surrounded by rice fields in Khammouan
Province, Lao PDR. Trop Med Int Health 5: 17 21.
Mulyanto, Tsuda F., Karossi A. T. et al (1997) Distribution of the hepatitis B surface
antigen subtypes in Indonesia: implications for ethnic heterogeneity and infection
control measures. Arch Virol 142: 2121 - 2129.
Mulyanto (2005) Komunikasi pribadi.
Syamsun A., Lestarini I. A., Octora M. et al., (2004) Perbandingan sensitivitas dan
spesifisitas metode imunokromatografi terhadap metode gold standard
mikroskopik pada pemeriksaan laboratorik malaria. Program Sstudi Pendidikan
Dokter, Universitas Mataram. 1- 25.
Sumawinata I. W., Bernadeta, Leksana B. et al., (2003) Very high risk of therapeutic
failure with chloroquine for uncomplicated Plasmodium falciparum and P. vivax
malaria in Indonesian Papua. Am J Trop Med Hyg 68: 416 420.
Tjitra E., Mursianto, Harun S et al., (1995) Survey malariometrik di Kecamatan Sindue
dan Ampibabo, Kabupaten Donggala, Propinsi Sulawesi Tengah. BPK 23 (1).
Tjitra E (1997) Tinjauan hasil uji coba pengobatan malaria di beberapa tempat di
Indonesia 1986 1995. BPK 25 (384).
Wongsrichanalai C., Arevalo I., Laoboonchai et al. (2001) Rapid diagnostic devices for
malaria: field evaluation of a new prototype immunochromatographic assay for
the detection of Plasmodium palciparum and non-falciparum Plasmodium.
http://us.f536.mail.yahoo.com/ym/Compose?.