Anda di halaman 1dari 7

HUBUNGAN TUMBUHAN DENGAN AIR, TRANSPIRASI DAN

EVAPORASI
PUTRI TRI NINGSIH (1210421006)
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas
Andalas, Padang

ABSTRAK

Air merupakan komponen utama dalam tumbuhan, dimana air menyusun 60-90%
dari berat daun. Jumlah air yang dikandung tiap tanaman berbeda-beda, hal ini
bergantung pada habitat dan jenis spesies tumbuhan tersebut. Tujuan dari praktikum
ini adalah dapat mengukur kadar air yang ada pada bagian tanaman, mengukur
turgiditas relatif dan deficit air dari jaringan tumbuhan, menghitung luas permukaan
daun dan laju evaporasi dan transpirasi dari lembaran daun dan mengetahui struktur
umum dan prosese membuka dan menutupnya stomata. Adapun metoda yang
digunakan dalam praktikum ini adalah pengovenan, penimbangan, mencari berat
kering, turgiditas relatif dan persentasi devisit air. Hasil yang didapatkan pada
praktikum ini adalah bagian tanaman yang memilik kadar air lebih banyak adalah
pada bagian ranting Ipoemea laerii, Turgiditas relative terbesar pada kecambah
Phaceolus radiatus yang memiliki nilai devisit air terkecil. Sedangkan proses
transpirasi dan evaporasi lebih lama yaitu pada bagian atas permukaan daun yang
diolesi vaselin.
Kata kunci: transpirasi, evaporasi, turgiditas relative, defisit air, Ipoemea laerii, dan
Phaceolus radiatus

PENDAHULUAN
Air merupakan komponen utama dalam tumbuhan, dimana air menyusun 60-90%
dari berat daun. Jumlah air yang dikandung tiap tanaman berbeda-beda, hal ini
bergantung pada habitat dan jenis spesies tumbuhan tersebut ( Filter dan Hay, 1981).
Menurut Lakitan (2010) menyatakan bahwa, di dalam tumbuhan, air berperan
sebagai pelarut. Sruktur molekul protein dan asam nukleat sangat ditentukan oleh
adanya molekul air disekitarnya. Aktivitas dari protein dan asam nukleat dapat
berlangsung karena adanya air di sekitarnya. Selain protein dan asam nukleat,
aktivitas senyawa lain di dalam protoplasma juga ditentukan oleh adanya air.
Walaupun air dapat bertindak sebagai bahan pereaksi(reaktan) atau sebagai produk
suatu reaksi kimia, tetapi yang lebih penting adalah air menciptakan lingkungan yang
memungkinkan untuk berlangsungnya berbagai reaksi biokimia dalam sel tumbuhan.
Air seringkali membatasi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Respon
tumbuhan terhadap kekurangan air dapat dilihat pada aktivitas metabolism,
morfologinya, tingkat pertumbuhannya, atau produktivitasnya. Pertumbuhan sel

merupakan fungsi tanaman yang paling sensitive terhadap kekurangan air.


Kekurangan air akan mempengaruhi turgor sel sehingga akan mengurangi
pengembangan sel, sintesis protein, dan sintesis dinding sel (Gardner, 2008).
Pengaruh kekurangan air selama tingkat vegetative adalah berkembangnya
daun-daun yang ukurannya lebih kecil, yang dapat mengurangi penyerapan cahaya.
Kekurangan air juga mengurangi sintesis klorofil dan mengurangi aktivitas beberapa
enzim. Biomassa tumbuhan meliputi hasil fotosintesis, serapan unsure hara dan air.
Berat kering dapat menunjukkan produktivitas tanaman karena 90% hasil fotosintesis
terdapat dalam bentuk berat kering (Anggarwulan, 2005).
Kebutuhan air suatu tanaman dapat didefinisikan sebagai jumlah air yang
diperlukan untuk memenuhi kehilangan air melalui evapotranspirasi (ET-tanaman)
tanaman yang sehat, tumbuh pada sebidang lahan yang luas dengan kondisi tanah
yang tidak mempun yai kendala (kendala lengas tanah dan kesuburan tanah) dan
mencapai potensi produksi penuh pada kondisi lingkungan tumbuh
tertentu(Salisbury & Ross, 1995).
Transport air dalam jaringan akar dibedakan antara apoplas yang melewati
ruang antar sel dan simplas yang melalui sel ke sel lewat plasmodesmata. Seluruh
bagian dari dinding sel umumnya terbuka untuk aliran air dan bahan terlarut secara
apoplas yang berkaitan dengan adanya ruang bebas. Apoplas pada korteks akar
berhubungan langsung dengan medium tanah dan meningkat besarnya oleh adanya
sejumlah rambut akar dan sel-sel yang relatif besar dengan sejumlah ruang antar sel
(Rahardjo, 2000).
Pada tumbuhan , terjadi peristiwa kohesi karena adanya ikatan hydrogen yang
berperan pada pengangkutan (transport) air yang melawan gravitasi. Air mencapai
daun melalui pembuluh-pembuluh mikroskopik yang menjulur ke atas dari akar. Air
yang menguap dari daun digantikan oleh air dari pembuluh dalam urat daun. Ikatan
hydrogen menyebabkan molekul air yang keluar dari urat daun dapat menarik
molekul air yang berada lebih jauh dalam pembuluh, dan tarikan ke depan tersebut
akan terus ditransmisi sepanjang pembuluh sampai ke akar. Adhesi air pada dinding
pembuluh membantu melawan gravitasi (Campbell, 2002).
Akar mengabsorbsi air dengan cara osmosis. Oleh karena itu absorsi air oleh
tanaman mungkin dilakukan dengan mengendalikan potensial air larutan dimana akar
itu berada. Jika potensial osmotic larutan luar lebih rendah dari potensial osmotic selsel akar, maka air dapat masuk dari larutan luar ke dalam system akar. Dengan
meningkatnya konsentrasi zat-zat terlarut maka masuknya air ke dalam akar akan
menjadi lebih lambat sampai arah pergerakan air mungkin akan terbalik.
Transpirasi adalah proses penguapan air dari sel-sel yang hidup pada jaringan
tumbuh-tumbuhan. Sel hidup tumbuh-tumbuhan berhubungan langsung dengan
atmosfer melalui stomata dan lenti sel. (Anggarwulan, 2005). Menurut
Dwidjoseputro (1990) transpirasi dapat melalui kutikula, stomata dan lentisel.
Sebenarnya seluruh bagian tanaman itu mengadakan transpirasi, akan tetapi yang
biasanya dibicarakan hanyalah transpirasi lewat daun, karena hilangnya molekulmolekul air dari tubuh tanaman itu sebagian besar adalah lewat daun. Hal ini
disebabkan karena luasnya permukaan daun dan juga karena daun-daun itu lebih
terkena udara daripada bagian-bagian lain dari suatu tanaman.
Kegiatan transpirasi dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor dalam
maupun faktor luar. Yang termasuk faktor dalam ialah besar-kecilnya daun, tebal
tipisnya daun, berlapiskan lilin atau tidaknya permukaan daun, banyak sedikitnya

bulu pada permukaan, banyak sedikitnya stoma, bentuk dan lokasi stomata.
Sedangkan yang termasuk faktor luar adalah radiasi, temperatur, kebasahan udara,
tekanan udara, angin keadaan air di dalam tanah (Dwidjoseputro, 1990).
BAHAN DAN METODA
Praktikum dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 12 Maret 2014 pada pukul 07.45
WIB di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Universitas Andalas, Padang. Bahan yang
digunakan adalah daun dan ranting Ipoemea learii, daun Canna indica dan daun
kecambah Phaseolus radiatus. Adapun percobaan yang dilakukan pada hubungan
tumbuhan dengan air ialah pengukuran kadar air jaringan tumbuhan, dan pengukuran
turgiditas relatif jaringan tumbuhan. Sedangkan percobaan pada transpirasi dan
evaporasi adalah perhitungan luas permukaan daun, perkiraan laju evapurasi dan
transpirasi dan struktur stomata dan aktivitas membuka-menutup stomata.
Percobaan A. Pengukuran kadar air jaringan tumbuhan.
Daun dan ranting Ipoemea learii ditimbang sebanyak 10 gram dan dibuat tiga
sampel. Lalu disimpan di dalam oven dengan suhu 80C. Kemudian hitung kadar air
tumbuhan.
Percobaan B. Pengukuran Turgiditas Relatif Jaringan Tumbuhan
Daun kecambah dipotong dengan cork borer sebanyak 10 buah dari daun kecambah
basah, 10 buah dari daun kecambah kering. Di catat berat segar dari daun kecambah
tersebut. Lalu dimasukkan kedalam petridish dan diisi aquadest, dan diterangi
dengan lampu neon selama 3 jam. Dihitung berat turgid, lalu dikeringkan dalam oven
dengan suhu 80C sampai kering, dan dihitung berat keringnya. Kemudian dihitung
besarnya turgiditas relatif dan dihitung besarnya deficit air.
Percobaan C. Perhitungan luas permukaan daun
Daun Canna indica dijiplak pada selembar kertas kemudian digunting dan
ditimbang.
Percobaan D. Perkiraan laju evaporasi daun
Daun yang sebelumnya telah diketahui luas permukaannya digantung didalam
ruangan atau sinar matahari langsung. Pada waktu 30 menit dilakukan penimbangan.
Percobaan E. Perkiraan laju respirasi daun permukaan dorsiventral
Daun yang telah diketahui luas permukaannya kemudian direndam dalam air. Daun
pertama diolesi vaselin pada permukaan atas dan yang kedua pada permukaan
bawah, dan ditimbang kembali. Kemudian kedua daun tersebut diletakkan pada
panas matahari selama 1 jam, dan ditimbang kembali. Dibandingkan hasil transpirasi
kutikula dari permukaan atas dan transpirasi stomata dari permukaan bawah.
Percobaan F. Struktur Stomata dan aktivitas Membuka-Menutup Stomata
Dibuat sayatan tipis epidermis atas dan bawah dari daun Canna indica lalu ditetesi
aquadest pada kaca objek di amati dibawah mikroskop. Setelah itu ditetesi sukrosa,
diamati perubahan yang terjadi pada stomata dan dicatat waktunya. Kemudian
ditetesi kembali dengan aquadest lalu ditetesi NaCl , diamati dan dicatat waktu

perubahan yang terjadi pada stomata. Dan ditetesi aquadest kembali dilihat
perubahan yang terjadi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Percobaan A. Pengukuran Kadar Air Jaringan Tumbuhan
Bagian
Daun 1
Daun 2
Daun 3
Ranting 1
Ranting 2
Ranting 3

Berat basah (gr)


10
10
10
10
10
10

Berat kering (gr)


2, 14
2,04
1.95
1.03
1.27
0,71

Kadar air (%)


78,6
79,6
80,5
89,7
87,3
92,9

Dari data di atas ranting 3 memiliki kadar air paling besar yaitu 92% dengan berat
kering sebesar 0,71 g. Sedangkan kadar air yang paling kecil yaitu 78,6 % pada daun
1. Perbedaan banyaknya kadar air pada ranting dibandingkan pada daun setelah
proses pengovenan dikarenakan pada bagian batang memiliki kandungan air lebih
banyak yang merupakan hasil penyerapan dari akar. Menyusutnya berat pada bagian
daun dan ranting dikarenakan adanya penguapan cairan yang ada pada sampel akibat
adanya proses transpirasi dan juga pemanasan yang terjadi pada saat pengovenan.
Hal ini sesuai dengan pendapat Kimball (1989) bahwa air bergerak melalui
sel-sel xilem pada tumbuhan dan akan keluar dari daun melalui stomata. Peristiwa
tersebut dikenal sebagai transpiras, yaitu menguapnya air melalui stomata di daun.
Saat air menguap melalui daun, semakin banyak pula air mengalir ke daun dari
batang. Air yang berada pada batang merupakan air yang terserap oleh akar. Air
masuk ke akar secara osmosis. Batang menyimpan makanan dalam bentuk pati dan
menyimpan air. Air berasal dari akar, dan pati dibuat dari gula yang diangkut dari
daun. Satu keuntungan menyimpan air pada batang adalah terhindar dari kekeringan.
Air membantu menjaga sel-sel batang tetap kaku.
Percobaan B. Pengukuran turgiditas relatif dan deficit air dari jaringan
tumbuhan
Keadaan

Berat segar Berat turgid Berat


Turgiditas
Defisit air
(gr)
(gr)
kering (gr)
relatif (%)
(%)
kering
0,03
0,05
0,00
60
40
basah
0,04
0,05
0,01
75
25
Dari data di atas turgiditas relatif terbesar terdapat pada data daun kecambah basah
yaitu 75% dengan devisit air sebanyak 25%. Sedangkan pada data daun kecambah
kering memiliki turgiditas relative 60% dan devisit air 40 %. Semakin besar
turgiditas air yang dihasilkan maka persentasi devisit air semakin kecil. Perbedaan
nilai turgiditas pada keadaan daun kecambah kering dan basah disebabkan jumlah
penyerapan air dan kecepatan penguapan air. Pada daun kecambah basah memiliki
jumlah penyerapan air yang lebih banyak sehingga mampu mempertahan air pada sel
tanaman pada saat penguapan. Sedangkan pada daun kecambah kering penyerapan

air tidak dapat mengimbangi kecepatan penguapan air dari tanaman. Hal tersebut
dikarenakan daun telah layu akibat perlakuan tidak diberi air.
Hal tersebut sesuai dengan pendapat Kimball (1989) bahwa kekurangan air
(water deficit) akan mengganggu keseimbangan kimiawi dalam tanaman yang
berakibat kurangnya kemampuan mempertahankan air pada tanaman, berkurangnya
hasil fotosintesis atau semua proses-proses fisiologis berjalan tidak normal. Apabila
keadaan ini berjalan terus, maka akibat yang terlihat, misalnya tanaman kerdil, layu,
produksi rendah, kualitas turun dan sebagainya.
Percobaan C. Perhitungan Luas Permukaan Daun, Perkiraan Laju Evaporasi
dan Transpirasi Permukaan Dorsiventral Daun
Daun
ke

Perlakuan
Luas daun

Kec.
Evaporasi

Respirasi daun

272,40

0,00124

10,60 (bagian
atas
permukaan
daun)

2
3

264,73
240,43

0,00154
0,00156

Respirasi daun
diletakkan d
sinar matahri
selama 1 jam
9,95

9,64 (bagian 8,30


bawah
permukaan
daun)
Dari data diatas kecepatan evaporasi yang tinggi yaitu 0,00124 pada luas permukaan
daun 272,40. Hal ini sesuai dengan pendapat Dwidjoseputro (1985), bahwa faktorfaktor yang mempengaruhi laju evaporasi adalah cahaya. Tumbuhan jauh lebih cepat
berevaporasi bilamana lebih terbuka terhadap cahaya, dibandingkan dalam keadaan
gelap. Selain itu faktor internal yang mempengaruhi hilangnya molekul air
(penguapan), yaitu besar kecilnya luas permukaan daun dan jumlah stomata.
Semakin besar luas permukaan suatu daun maka jumlah stomatanya juga semakin
banyak sehingga kecepatan evaporasinya semakin tinggi. Sebaliknya semakin kecil
luas permukaan daunnya maka jumlah stomatanya semakin sedikit sehingga
kecepatan evaporasinya semakin rendah.
Pada percobaan perkiraan laju evaporasi dan transpirasi permukaan
dorsiventral daun hasil yang didapatkan ialah permukaan luas daun 272,40 dan
diolesi vaselin pada bagian atas memiliki laju transpirasi lebih kecil dibandingkan
pada permukaan luas daun 240,43. Hal tersebut dikarenakan pada bagian atas
permukaan daun terdapat kutikula yang berfungsi untuk mengurangi penguapan.
Selain itu, penambahan vaselin juga dapat mengurangi penguapan pada permukaan
atas daun tersebut. Sedangkan pada permukaan bawah daun terdapat stomata
sehingga menyebabkan terjadinya transpirasi yang lebih besar. Walaupun permukaan
bawah daun diolesi vaselin, vaselin tersebut berfungsi menutupi stomata, namun hal
itu tidak berpengaruh terhadap kecepatan transpirasi pada stomata di daun.
Hal ini sesuai dengan pendapat Devlin (1975), bahwa transpirasi melalui
kutikula lebih sedikit dibandingkan dengan transpirasi melalui stomata. Hal ini

disebabkan oleh adanya lapisan penghalang pada kutikula, seperti lapisan lilin dan
kutin yang dapat menahan laju transpirasi pada kutikula. Menurut Noggle (1979),
bahwa kutikula secara relatif tidak tembus air. Pada sebagian tanaman transpirasi
kutikula hanya 10% dari seluruh jumlah penguapan.
Menurut Dwijoseputro (1990) bahwa transpirasi melalui stomata lebih aktif
karena jaringan ini terdapat jaringan bunga karang yang susunannya longgar. Faktor
yang mempengaruhi kecepatan transpirasi adalah cahaya dan suhu. Bila suhu
semakin tinggi maka transpirasi semakin cepat terjadi.
Percobaan D. Struktur stomata dan aktivitas membuka dan menutup stomata

Gambar1. Stomata menutup


Perlakuan
aquadest
Sukrosa
Aquadest
Nacl
aquadest

Gambar 2. Stomata membuka


Waktu
1 menit 4 detik
5 menit
57 detik
42 detik

Keterangan
Menutup
Membuka
Membuka
Menutup
Membuka

Beradasarkan tabel di atas, pada saat sayatan epidermis Canna indica saat diberi
larutan sukrosa peristiwa yang terjadi adalah bagian stomata membuka dalam waktu
1 menit 4 detik. Pada saat diberi larutan sukrosa, stomata yang membuka hanya
separuh saja dibandingkan stomata yang tertutup saat di tetesi aquadest, hal itu
menunjukkan bahwa konsentrasi sukrosa lebih rendah daripada konsentrasi aquadest
sehingga mengubah nilai osmosis dari isi sel-sel penutup dan menurunkan tekanan
turgor atau turgiditas dari sel-sel penutup sehingga jumlah stomata yang membuka
pada larutan sukrosa lebih sedikit dibandingkan pada aquadest. Stomata membuka
karena sel penjaga mengambil air dan menggembung dimana sel penjaga yang
menggembung akan mendorong dinding bagian dalam stomata hingga merapat.
Pada saat sayatan epidermis ditetesi larutan NaCl, peristiwa yang terjadi
adalah bagian stomata tertutup dealam waktu 57 detik. Kemudian setelah ditetesi
aquadest kembali bagian stomata masih tertutup. Hal itu terjadi karena saat ditetesi
larutan NaCl sel di sekeliling stomata mengembang kemudian mendorong sel lainnya
sehingga sel stomata menutup.
Hal tersebut sesuai dengan pendapat Campbell (2002) membuka dan
menutupnya stomata dipengaruhi oleh kandungan air dan ion kalium di dalam sel
penjaga. Ketika sel penjaga memiliki banyak ion kalium, air dari sel tetangga akan
masuk ke dalam sel penjaga secara osmosis. Akibatnya, dinding sel penjaga yang
berhadapan dengan celah stomata akan tertarik ke belakang, sehingga stomata
menjadi terbuka. Sebaliknya, ketika ion kalium keluar dari sel penjaga, air dari sel

penjaga akan berpindah secara osmosis ke sel tetangga. Akibatnya, sel tetangga
mengembang dan mendorong sel penjaga kea rah celah sehingga stomata menutup.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi membuka dan menutupnya
stomata. Antara lain kelembapan udara, temperature, kecepatan angin, cahaya, dan
ketersediaan air. Faktor ketersedian air berhubungan dengan turgiditas pada sel. Bila
tumbuhan kekurangan air, transpirasi akan berkurang karena stomata menutup akibat
turunya tekanan turgor sel penutup (Gardner, 2008).
KESIMPULAN
Dari percobaan yang dilakukan didapatkan kesimpulan, bahwa bagian tanaman yang
memilik kadar air lebih banyak adalah pada bagian ranting Ipoemea laerii, Turgiditas
relative terbesar pada kecambah Phaceolus radiatus yang memiliki nilai devisit air
terkecil. Sedangkan proses transpirasi dan evaporasi lebih lama yaitu pada bagian
atas permukaan daun yang diolesi vaselin.
DAFTAR PUSTAKA

Anggarwulan, Endang. 2005. Pengaruh ketersediaan Air terhadap Pertumbuhan dan


Kandungan Bahan Aktif Sponin Tanaman Ginseng Jawa (Talinum
paniculatum). Jurnal Biofarmasi 3(2):47-51.
Campbell dan reece. 2002. Biologi Edisi Kelima Jilid 1. Erlangga. Jakarta.
Delvin, R. M. 1975. Plant of Physiology Second Edition. Mc. Milan Publishing. New
York.
Dwijoseputro. 1990. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia. Jakarta.
Filter, A. H. dan R. K. M. Hay. 1998. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Gajah Mada
University Press. Yogyakarta.
Gardner. 2008. Fisiologi Tanaman Budidaya. UI Press. Jakarta.
Kimball. 1985. Biologi Jilid 2. Erlangga. Jakarta.
Lakitan, Benyamin. 2010. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Rajawali Press. Jakarta.
Noggle and Fritz. 1979. Introduction Plant Physiology. Practice Hall of India. New
Delhi.
Rahardjo, M. dan I. Darmawati. 2000. Pengaruh cekaman air terhadap produksi dan
mutu simplisa tempuyung (Sunchus arvensis L.). Jurnal Littri 6(3): 73-79.
Salisbury, and C. w. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 1. ITB Press. Bandung.