Anda di halaman 1dari 44

TIPOLOGI DAN MORFOLOGI KAWASAN

IDENTIFIKASI TIPOLOGI DAN MORFOLOGI


KAWASAN ALUN-ALUN TUGU DAN ALUN-ALUN
MERDEKA KOTA MALANG

KELOMPOK:
Zakharia S.M.N
Yuni Dizi
Rina Badiatuzaroh
Cantya Paramita
Natanael Ekananda Aditya
Putra Adytia
Rizqi Novian Pratama

0910650088
0910650086
0910653051
0910650036
105060507111039
105060500111056
105060503111001

JURUSAN ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha kuasa karena dengan berkat
rahmat dan anugerahNya kami dapat menyusun laporan mengenai Identifikasi Tipologi Dan
Morfologi Kawasan Alun-Alun Tugu Dan Merdeka Kota Malang. Laporan ini merupakan
tugas mata kuliah Tipologi dan Morfologi Kawasan mengenai analisa tipologi dan morfologi
yang ada pada alun-alun tugu dan alun-alun merdeka Kota Malang. Dalam penyelesaian
proposal ini, banyak berbagai pihak yang turut membantu.
1. Bapak Ir. Sigmawan Tri Pamungkas, MT selaku penanggung jawab kelas Tipologi
dan Morfologi Kawasan.
2. Ibu Dr. Lisa Dwi Wulandari, ST., MT sebagai dosen anggota tim mata kuliah Tipologi
dan Morfologi Kawasan.
3. Seluruh pihak-pihak yang telah membantu menyelesaikan laporan ini.
Mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan laporan ini. Penulis
mengharapkan adanya saran dan kritik yang dapat membangun ataupun melengkapi
penulisan laporan ini. Semoga Proposal mengenai Identifikasi Tipologi dan Morfologi
Kawasan Alun-alun tugu dan Alun-alun Merdeka Kota Malang ini dapat bermanfaat bagi
semua pihak, khususnya untuk mahasiswa jurusan arsitektur.

Malang, Desember 2012

DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN
1.1
1.2
1.3

BAB II

Latarbelakang
Tujuan
Metode Pengumpulan Data dan Pembahasan
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Karakteristik Tempat

2.2

Tipologi Kawasan

2.3

Morfologi Kawasan

2.4

Alun-alun Kota

2.5

Studi Komparasi

BAB III

PEMBAHASAN
3.1

Tinjauan Umum Kota Malang dan Kawasan Studi


3.1.1

Sejarah perkembangan bentuk dan ruang

3.1.2

Tinjauan rencana tata ruang

3.2
Identifikasi Tipologi dan Morfologi Kawasan Studi: Alun-alun Tugu
dan Merdeka Kota Malang

BAB IV

3.2.1

Alun-alun Tugu

3.2.2

Alun-alun Merdeka

3.2.3

Komparasi

PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Dari masa ke masa kota Malang mengalami perubahan. Baik perubahan secara fisik
bangunan, perubahan jumlah penduduk dan perubahan tata masa di setiap kawasan. Dan
perubahan yang terjadi pastinya menimbulkan efek positif dan negative. Salah satu contoh
positifnya adalah Kota Malang mulai berkembang menjadi kota modern, tapi perkembangan
kota yang semakin maju tidak di ikuti dengan penataan kawasan yang baik. Sehingga banyak
kawasan di kota Malang tidak tertata dengan baik.
Seperti halnya dengan alun-alun kota Malang, pada awalnya alun-alun yang ada
adalah alun-alun Kota atau alun-alun Tugu. Yang mana dirancang oleh pemerintah Belanda
untuk kepentingan pemerintahan. Dan setelah perkembangan kota Malang dari tahun ke
tahun muncul alun-alun ke 2, yaitu alun-alun Merdeka. Alun-alun Merdeka digunakan untuk
kepentingan masyarakat kota Malang.
Awalnya pusat kota Malang ada di alun-alun
Tugu karna merupakan kawasan kantor pemerintahan, tapi dengan munculnya alun-alun
Merdeka pusat kota Malang pindah ke kawasan alun-alun Merdeka.
Dengan perkembangan ke 2 alun-alun tersebut, kami mencoba menganalisis
perkembangan kawasan alun-alun Tugu dan Merdeka melalui pendekatan tipologi dan
morfologi, juga melakukan komperasi terhadap alun-alun di kota lain.
1.2

Tujuan

Mengetahui perkembangan dan karakteristik kawasan Alun-alun Tugu dan Merdeka


serta mengetahui tipologi kedua kawasan alun-alun tersebut.
1.3

Metode Pengumpulan Data dan Pembahasan

1.3.1 Data Primer


Data primer merupakan data yang diperoleh melalui proses pengambilan data secara
langsung pada lokasi tapak dengan cara survey lapangan, berikut penjelasan proses
pengambilan data primer:

Survey Lapangan
Survey Lapangan dilakukan untuk pengambilan data lapangan berupa gambar, dan kondisi
objek dan sekitarnya.
1.3.2 Data Sekunder

Data sekunder adalah sumber data yang diperoleh dari sumber-sumber bacaan yang
mendukung sumber data primer yang relevan. Dimana pengumpulan informasi dibagi atas :
a.
Studi Pustaka
Studi pustaka merupakan pengumpulan data dan informasi mengenai pengertian dan
pembahasan mengenai tipologi dan morfologi mengenai kota, kawasan, dan menurut
arsitekturalnya. Studi pustaka dilakukan dengan cara mencari buku diperpustakaan sebagai
sumber pustaka.
b.
Studi Komparasi
Komparasi adalah menggabungkan data untuk melakukan perbandingan data-data
mengenai obyek kawsan alun-alun sejenis. Selanjutnya, dari tahapan metode tersebut
diperoleh data-data ideal kawasan alun-alun. Selain itu, studi komparasi untuk mendapatkan
data mengenai obyek sejenis, dengan mencari obyek yang sesuai dengan obyek di lapangan,
kemudian menganalisa kelebihan dan kekurangan obyek tersebut, dengan cara
membandingkan data-data literatur yang ada sebagai pembanding dengan data-data di
lapangan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Karakteristik Tempat

Karakteristik Alun-alun
Alun-alun adalah suatu lapangan terbuka yang luas dan berumput yang dikelilingi
oleh jalan dan dapat digunakan untuk kegiatan masyarakat yang beragam, merupakan titik
pertemuan dari jalan-jalan utama yang menghubungkan antara keraton (pusat pemerintahan)
dengan bagian barat, timur, utara dan selatan dari kota. Menurut Van Romondt (Haryoto,
1986:386), pada dasarnya alun-alun itu merupakan halaman depan rumah, namun dalam
ukuran yang lebih besar. Penguasa bisa berarti raja,bupati, wedana dan camat bahkan kepala
desa yang memiliki halaman paling luas di depan Istana atau pendopo tempat kediamannya,
yang dijadikan sebagai pusat kegiatan masyarakat sehari-hari dalam ikwal
pemerintahan militer, perdagangan, kerajinan dan pendidikan. Lebih jauh Thomas Nix
(1949:105-114) menjelaskan bahwa alun-alun merupakan lahan terbuka dan terbentuk dengan
membuat jarak antara bangunan-bangunan gedung. Jadi dalam hal ini, bangunan gedung
merupakan titik awal dan merupakan hal yang utama bagi terbentuknya alun-alun. (sumber:
wikipedia.org diakses 8 oktober 2012)
Sistem setting kota-kota Jawa pada umumnya mempunyai bentuk dasar yang hampir
sama, yaitu selalu dibentuk dengan adanya alun-alun dengan dikelilingi pusat pemerintahan
dan masjid besar, pada masjid besar tersebut, biasanva selalu dikelilingi rumah-rumah tinggal
yang kemudian disebut dengan nama kampung Kauman. Alun-alun yang ada pada saat ini
sudah mengalami banyak perkembangan, perkembangan alun-alun dipengaruhi oleh evolusi
pada budaya masyarakat yang meliputi tata nilai, pemerintahan, kepercayaan, ekonomi,
kebutuhan dan lain-lain. Aslinya konsep penataan alun-alun diatur dengan ketat oleh
peraturan pemerintah, mencakup pengaturan bangunan yang ada di sekitar alun-alun. Masjid
besar/masjid agung harus diletakkna di sebelah barat alun-alun dengan fasad bangunan
menghadap timur, diletakkan di sebelah barat karena kiblat menghadap ke arah barat. Pusat
pemerintahan dan kediaman patih/bupati diletakkan di sebelah utara atau selatan alun-alun.
Bagian timur disediakan untuk pusat perbelanjaan, pasar maupun rumah untuk keluarga
terkemuka.
Masuknya Islam memberi pengaruh besar terhadap penataan bangunan di sekitar
alun-alun, dengan pendirian bangunan masjid. Alun-alun juga digunakan sebagai perluasan
dari masjid, untuk menampung luapan jamaah masjid, terutama pada hari besar agama islam
dan shalat Jumat. Siar Islam telah membawa perubahan dalam perancangan pusat kota,
sehingga alun-alun, keraton dan Masjid berada dalam satu kawasan yang di dekatnya terdapat
jalur transportasi.
Pada masa penjajahan belanda, tata letak bangunan di sekitar alun-alun berubah,
disesuaikan dengn kepentingan penjajahan dan pemerintahan. Salah satu perubahan adalah
dengan dibangunnya penjara di sekitar alun-alun. Pendirian bangunan ini untuk kepentingan

penjajahan belanda, sekaligus berfungsi untuk mengurangi simbol alun-alun sebagai


kewibawaan penguasa setempat.
Seiring dengan berjalannya waktu, masa penjajahan Belanda berakhir dan alun-alun
kembali dikuasai oleh pemerintah Indonesia, banyak terjadi perubahan pada bentuk alun-alun
dan penataan kawasan di sekitarnya. Alun-alun pada dasarnya merupakan pusat suatu kota,
telah terbentuk suatu citra pemerintahan, perdagangan dan jasa di sekitar alun-alun. Pada
kota-kota di Indonesia khususnya di pulau Jawa, penataan alun-alun masih mengikuti konsep
penataan pada masa lalu, namun banyak bangunan disekitar alun-alun yang berubah fungsi,
misalnya pada alun-alun kota malang, bangunan yang dahulu merupakan penjara wanita kini
telah berubah menjadi pasar Ramayana (perdagangan), bangunan rumah wakil residen telah
berubah menjadi kantor pos dan giro (jasa), masih terdapat kantor kabupaten malang di
sekitarnya (pemerintahan), dan terdapat masjid agung di bagian barat alun-alun.
Alun-alun pada umumnya berbentuk persegi empat dengan empat arah mata angin.
Empat arah mata angin ini menurut masyarakat jawa memiliki hubungan dengan empat unsur
pembentuk Bhuwana yaitu air, angin, api dan bumi. Pada masa lalu aulun-alun sering
dianggap memiliki kekuatan spiritual tersendiri dan digunakan untuk upacara adat dan
upacara kerajaan. Pada saat ini alun-alun lebih banyak digunakan sebagai ruang terbuka hijau
dan ruang publik, untuk berkupul dan berekreasi.
Jalan masuk ke dalam alun-alun pada umumnya selalu terdapat di bagian tengah dan
pada sisi kanan dan kiri ditanam pohon beringin yang diberi pagar (ringin kurung). Pohon
beringin ditanam sebagai lambang kebesaran, ringin kurung hanya ditemukan pada keraton
dan kabupaten, sedangkan pada alun-alun kadipaten tidak terdapat ringin kurung. Pohon
beringin selain sebagai lambang kebesaran penguasa juga memiliki makna simbolik bahwa
raja bukan hanya sebagai penguasa namun juga sebagai pengayom/pelindung. Alun-alun
biasanya memiliki lapangan rumput yang luas sehingga dapat digunakan untuk berbagai
kegiatan. Lapangan ini juga memiliki makna tersendiri, menyiratkan kesan seorang penguasa
yang berpandangan luas. Selain pohon beringin, alun-alun yang diibaratkan halaman dari
keraton/pusat pemerintahan, juga ditanami oleh pohon-pohon lain yang mengandung filosofi
hubungan antara sesama. Seperti pohon sawo kecik yang konon mengandung pesan agar
manusia selalu berbuat kebaikan kepada sesama.
Pada perkembangannya sekarang, alun-alun sudah mengalami banyak perubahan.
Pohon yang ditanam dibagian dalam alun-alun bukan hanya pohon beringin maupun pohon
sawo kecik, ditambahkan beberapa pohon lain yang mndukung keberadaan alun-alun dan
lanskap di dalam alun-alun. Penambahan elemen lanskap ini tentunya telah meruah wajah
alun-alun, dan mengurangi makna yang sebelumnya telah terdapat pada penataan alun-alun.
Selain pepohonan, banyak elemen lanskap lain yang ditambahkan di dalam alun-alun sebagai
pendukung kegiatan masyarakat dan keindahan, seperti halnya air mancur, taman bermain
maupun pendopo.

2.2

Tipologi Kawasan

2.2.1

Pengertian Tipologi

Tipologi berasal dari dua suku kata yaitu Tipo yang berarti pengelompokan dan
Logos yang mempunyai arti ilmu atau bidang keilmuan. Jadi tipologi adalah ilmu yang
mempelajari pengelompokan suatu benda dan makhluk secara umum. Berikut ini adalah
beberapa pengertian tipologi :
a.

Tipologi (dalam Arsitektur dan Perancangan Kota)


Tipologi adalah klasifikasi (biasanya berupa klasikasi fisik suatu bangunan)
karakteristik umum ditemukan pada bangunan dan tempat-tempat perkotaan, menurut
hubungan mereka dengan kategori yang berbeda, seperti intensitas pembangunan (dari alam
atau pedesaan ke perkotaan) derajat, formalitas, dan sekolah pemikiran (misalnya, modernis
atau tradisional). Karakteristik individu tersebut membentuk suatu pola. Kemudian pola
tersebut berhubungan dengan elemen-elemen secara hirarkis di skala fisik (dari detail kecil
untuk sistem yang besar).
b. Tipologi secara Harfiah
Tipologi adalah suatu ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang tipe. Tipologi arsitektur
atau dalam hal ini tipologi bangunan erat kaitannya dengan suatu penelusuran elemen-elemen
pembentuk suatu sistem objek bangunan atau arsitektural. Elemen-elemen tersebut
merupakan organisme arsitektural terkecil yang berkaitan untuk mengidentifikasi tipologi dan
untuk membentuk suatu sistem, elemen-elemen tersebut mengalami suatu proyek komposisi,
baik penggabungan, pengurangan, stilirisasi bentuk dan sebagainya.
c.
Tipologi / Theologi ( Agama )
Tipologi adalah pengelompokkan pada kitab-kitab suci.
d. Tipologi (Biologi)
Tipologi adalah pengelompok/pembagian tipe-tipe atau jenis-jenis makhluk hidup secara
fisik.
e.
Menurut Budi A. Sukada
Tipologi adalah sebuah pengklasifikasian sebuah tipe berdasarkan atas penelusuran terhadap
asal usul terbentuknya objek-objek terhadap arsitektural yang terdiri dari 3 tahap.proses
penelusuran terhadap asal usul objek arsitektur.
f.
Tipologi Menurut Bahasa Yunani
Tipologi atau typology, kadang ditulis dengan typologi dari kata Yunani, tupos
(kadang ditrasliterasikan typos kata dari kata Inggris type berasal) dan
logos.Istilah tipologi atau typology dalam kekristenan adalah studi tentang tipe-tipe atau
prafigur dalam Kitab Suci. Yaitu suatu penelaahan Perjanjian Lama yang cermat menyatakan
unsur-unsur (disebut tipe atau lambang, Yunani, tupos) yang digenapi di dalam

kedatangan Mesias (yang merupakan antitype-nya); Tipologi adalah studi tentang peristiwa
pada perjanjian Lama yang mempunyai arti rohani, dengan kata lain, terdapat persesuaian di
antara berbagai oknum, peristiwa, atau hal dalam Perjanjian Lama dan Yesus Kristus dalam
Perjanjian Baru.
g.
Menurut Eccles des Beaux Arts
Salah satu dari 3 definisi tipologinya dijelaskan bahwa Definisi yang digunakan oleh ahli
teori arsitektur dan arsitek Itali dan Perancis selama 2 dasawarsa, memperlakukan tipologi
sebagai totalitas kekhususan yang menggambarkan saat diciptakannya karya arsitektural oleh
suatu masyarakat atau suatu kelas sosial.
h.
Menurut KBBI
Tipologi adalah ilmu watak tentang bagian manusia dalam golongan-golongan menurut sifat
masing-masing.
2.2.2

Tipologi Arsitektur

Tipologi arsitektur adalah kegiatan yang berhubungan dengan klasifikasi atau


pengelompokan karya arsitektural dengan kesamaan ciri-ciri atau totalitas kekhususan yang
diciptakan oleh suatu masyarakat atau kelas sosial yang terikat dengan ke-permanen-an dari
karakteristik yang tetap atau konstan. Kesamaan ciri-ciri tersebut antara lain kesamaan bentuk
dasar,sifat dasar objek kesamaan fungsi objek kesamaan asal-usul sejarah/ tema tunggal
dalam suatu periode atau masa yang terikat oleh ke-permanen-an dari karakteristik yang
tetap/ konstan.
Tiga alasan pentingnya tipologi dalam arsitektur, yaitu antara lain (Aplikawati 2006:13)
1.

Membantu proses analisis terhadap objek arsitektur yang sudah ada.

2.

Berfungsi sebagai media komunikasi, dalam hal ini terkait dengan transfer
pengetahuan.

3.
2.2.3

Membantu kepentingan proses mendesain.

Tipologi Bangunan

Pengertian Tipologi Bangunan menurut Anthony Vidler Tipologi bangunan adalah


sebuah studi/ penyelidikan tentang penggabungan elemen-elemen yang memungkinkan untuk
mencapai/ mendapatkan klasifikasi organisme arsitektur melalui tipe-tipe. Klasifikasi
mengindikasikan suatu perbuatan meringkas/ mengikhtiarkan, yaitu mengatur penanaman
yang berbeda, yang masing-masing dapat diidentifikasikan, dan menyusun dalam kelas-kelas
untuk mengidentifikasikan data umumnya dan memungkinkan membuat perbandinganperbandingan pada kasus-kasus khusus. Klasifikasi tidak memperhatikan suatu tema pada
suatu saat tertentu (rumah, kuil, dsb.) melainkan berurusan dengan contoh-contoh konkrit dari
suatu tema tunggal dalam suatu periode atau masa yang terikat oleh kepermanenan dari
karakteristik yang tetap/ konstan.

2.2.4

Analisa Tipologi

Tipologi dapat digunakan sebagai salah satu metode dalam mendefinisikan atau
mengklasifikasikan objek arsitektural. Tipologi dapat mengidentifikasi perubahanperubahan yang terjadi pada suatu objek dan analisa perubahan tersebut menyangkut bentuk
dasar objek atau elemen dasar, sifat dasar, fungsi objek serta proses transformasi
bentuknya.
Menurut Rafael Moneo, analisa tipologi dibagi menjadi 3 fase yaitu:
a.Menganalisa tipologi dengan cara menggali dari sejarah untuk mengetahui ide awal dari
suatu komposisi; atau dengan kata lain mengetahui asal-usul atau kejadian suatu objek
arsitektural.
b.Menganalisa tipologi dengan cara mengetahui fungsi suatu objek.
c.Menganalisa tipologi dengan cara mencari bentuk sederhana suatu bangunan melalui
pencarian bangun dasar serta sifat dasarnya.
Menurut Sukada dalam Sulistijowati (1991), ada tiga tahapan yang harus ditempuh untuk
menentukan suatu tipologi yaitu:
a. Menentukan bentuk dasar yang ada pada setiap objek arsitekural
b. Menentukan sifat dasar yang dimiliki oleh setiap objek arsitektural
c. Mempelajari proses perkembangan bentuk dasar tersebut, hingga sampai perwujudannya
pada saat ini.
2.2.5

Tipologi kota
Menurut C. D. Harris jenis-jenis kota dibagi menjadi enam bagian yaitu kota industri,

industri menengah, kota dengan aktivitas komersial retail (eceran), wholesale (grosir), kota
dengan berbagai fungsi dan kota transportasi.
1. Kota industri
Ciri-ciri dari kota ini adalah :
- Suatu kota dikatakan kota industri bila paling sedikit 45 % populasinya
bekerja di industri,
- Pekerja ekonomi dan pelayanan jasa di kota tersebut tidak begitu berkembang,
- Skala pelayanan tidak mencakup secara regional,
- Kota ini bukan merupakan daerah pemasaran,
- Rata-rata penghasilan industri basic rendah,
- Permasalahan transportasi belum terpecahkan, sehingga gambaran
perencanaan kota yang rasional tidak dapat dilaksanakan
- Kegiatan perdagangan eceran dan jasa sangat minim,

Kota ini tidak mempunyai pusat sosial dan kegiatan komersial, kegiatan
pelayanan (jasa) perkotaannya menyebar secara luas,

2. Kota industri menengah


Ciri-ciri dari kota ini adalah :
- Proporsi yang bekerja di perindustrian yaitu 30-40 % dari seluruh penduduk
yang bekerja,
- Umumnya dulu kota ini melayani fungsi regional, jaringan pasar, dan
disekitarnya muncul pembangunan industri.
- Mengimplikasikan suatu keseimbangan sosio ekonomi dan kondisi-kondisi
habitalitas yang lebih baik,
3. Kota aktivitas retail (eceran) dan wholesale (grosir)
Ciri-ciri dari kota ini adalah :
- Pekerja di kota ini memiliki populasi 30-40 % dari seluruh penduduk yang
bekerja,
- Fungsi regional tidak berkembang secara intensif
- Dulu merupakan pusat kota dari wilayah sekunder
- Tidak ada pembangunan industri, sektor pertanian sebagai basis dalam
aktivitas ekonominya,
- Tidak ada sumber kehidupan lain selain penyediaan pelayanan
4. Kota berbagai fungsi
Ciri-ciri dari kota ini adalah :
- Kota ini merupakan perbaikan struktur sosio-ekonomi dari kota industri
menengah,
- Mengelola berbagai jenis fungsi seperti administrasi, pertahanan, budaya,
produksi, transportasi dan pariwisata sehingga dapat berkembang dalam skala
besar,
- Jumlah penduduknya bisa sampai ratusan bahkan jutaan jiwa,
- Sekitar 25-30 % penduduknya bekerja dalam kegiatan industri, 10% bekerja
dalam perdagangan grosir dan 25 % bekerja dalam perdagangan eceran,
- Kota melayani daerah yang lebih luas dan industrinya menghasilkan produk
yang dikonsumsi oleh penduduknya dan yang mendapat pengaruh kotanya,
5. Kota transportasi
Ciri-ciri dari kota ini adalah :
- Proporsi yang bekerja di transportasi mencapai 11 % dan proporsi yang bekerja
di industri mencapai 30%, tetapi dengan bagian yang terpisah. Proporsi 11 %
merupakan kota regional yang berkembang jauh dan berlokasi di pertemuan
komunikasi nasional utama (pertemuan jalan kereta api),
- Kota ini merupakan kota-kota pengembangan industri menengah dan
pekerjaannya sangat beragam,
- Pertumbuhan sosio-ekonomi dan fisik kota-kota ini adalah harmonis seperti
pertumbuhan diversifikasi,

2.2.6

Kota ini terdiri atas kota pelabuhan dan pusat komunikasi internasional, seperti
Leipzig di Jerman dan kota-kota pelabuhan utama di Hambourg, Amsterdam
dan Rotterdam. Kota-kota ini merupakan foci komunikasi dan komersial
internasional dan merupakan pusat metropolitan,
Kota metropolitan juga dapat digolongkan dalam kategori ini, tapi tidak semua
kota metropolitan termasuk golongan ini. Kota metropolitan yang tidak
termasuk kategori ini merupakan daerah pengaruh dan pelayanan langsung di
kota tersebut sangat terbatas,

Tipologi kota yang ada di Indonesia

a) Tipologi berdasarkan kondisi geografis wilayah dikenal dengan pesisir,kotadelta, dan kota
tepian air.
b) Tipologi berdasarkan ukuran atau skala kota dikenal dengan kota kecil,kota sedang,kota
besar, dan kota metro. Pembagian kota ini berdasarkan jumlah penduduk yang ada pada
sebuh ruang kota.
c) Tipologi berdasarkan proses politik atau pengambilan keputusan publik di sebuah kota
dikenal kota yang otoriter dan kota yang demokratis.
d) Tipologi berdasarkan penyelenggaraan penataan ruang dikenal dengan kota strategis
nasional,kota di pusat kegiatan nasional,kota di pusat kegiatan wilayah, dan kota di pusat
kegiatan lokal.
2.3

Morfologi Kawasan

Definisi Morfologi secara umum


Morfologi terdiri dari dua suku kata, yaitu morf yang berarti bentuk dan logos yang
berarti ilmu. Morfologi dalam kawasan kota dapat diartikan sebagai bentuk perubahan spasial
kota dari periode tahun ke tahun. Morfologi melihat suatu perubahan yang terjadi pada suatu
bentuk, beserta proses perubahannya. Morfologi lebih menekankan pada pembahasan bentukbentuk geometric, sehingga untuk menentukan nilai ruang hendaknya berkaitan dengan
maksud ruang tersebut. Dar keterkaitan ini kita dapat melihat keterkaitan yang erat antara
organisasi ruang, hubungan ruang dan bentuk, bentuk ruang dan nilai ruang.
Morfologi kota adalah ilmu terapan yang mempelajari tentang sejarah terbentuknya
pola ruang suatu kota dan mempelajari tentang perkembangan suatu kota mulai awal
terbentuknya kota tersebut hingga munculnya daerah-daerah hasil ekspansi kota tersebut.
Morfologi kota merupakan kesatuan organik elemen-elemen pembentuk kota Morfologi kota
terbentuk melalui proses yang panjang, setiap perubahan bentuk kawasan secara morfologis
dapat memberikan arti serta manfaat yang sangat berharga bagi penanganan perkembangan
suatu kawasan kota. Bentuk morfologi kawasan tercermin pada pila tata ruang, bentuk
arsitektur bangunan, serta elemen fisik lainnya. Pada kawasan kota dapat juga dipengaruhi
oleh factor budaya, politik, ekonomi, dll. Tujuan dari morfologi adalah untuk mengetahui
kronologis pembentukan kota dari masa lalu ke masa kini.

Cakupan morfologi adalah:

aspek detail (bangunan, sistem sirkulasi, open space, dan prasarana kota)

aspek tata bentuk kota/townscape (terutama pola tata ruang, komposisi lingkungan
terbangun terhadap pola bentuk di sekitar kawasan studi)

aspek peraturan (totalitas rencana dan rancangan kota yang memperlihatkan dinamika
kawasan kota

Perkembangan morfologi suatu kota dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor


yang berkembang umumnya memiliki karakter tertentu yang mempengaruhi wajah kota
dalam kurun waktu yang sangat panjang. Kompleksitas wajah kota dalam suatu kronologis
waktu dipengaruhi diantaranya oleh sejarah, gaya bangunan, peraturan, struktur jalan,
teknologi membangun, perkembangan regional, ataupun karena suatu landasan kosmologi
yang berkembang di suatu daerah. Morfologi sifatnya never ending dalam artian terus
berkembang dan waktu ke waktu.
Jenis Proses Perkembangan

2.4

proses formal (melalui proses planning dan design)


-

kota diarahkan sesuai dengan potensi dan karakteristik dasar wilayah (potensi
alamiah, ekonomi, sosial budaya)

Ada intervensi terhadap perkembangan kota

proses organis (proses yang tidak direncanakan dan berkembang dengan sendirinya).

Alun-alun Kota

Alun-alun (dalam bahasa Jawa : aloon-aloon) merupakan suatu lapangan terbuka yang
luas dan berumput yang dikelilingi oleh jalan dan dapat digunakan kegiatan masyarakat yang
beragam, dibuat oleh Fatahillah. Thomas Nix (1949:105-114) menjelaskan bahwa alun-alun
merupakan lahan terbuka dan terbentuk dengan membuat jarak antara bangunan-bangunan
gedung. Jadi dalam hal ini, bangunan gedung merupakan titik awal dan merupakan hal yang
utama bagi terbentuknya alun-alun. Tetapi kalau adanya lahan terbuka yang dibiarkan tersisa
dan berupa alun-alun, hal demikian bukan merupakan alun-alun yang sebenarnya (sumber
wikipedia.id diakses 17 Desember 2012). Pada awalnya Alun-alun merupakan tempat berlatih
perang (gladi yudha) bagi prajurit kerajaan, tempat penyelenggaraan sayembara dan
penyampaian titah (sabda) raja kepada kawula (rakyat), pusat perdagangan rakyat, dan tempat
hiburan rakyat, saat ini alun-alun merupakan ruang publik yang digunakan oleh semua orang
untuk berinteraksi.
2.4.1 Sejarah perkembangan alun-alun
Perkembangan alun-alun sangat tergantung dari evolusi pada budaya masyarakatnya
yang meliputi tata nilai, pemerintahan, kepercayaan, perekonomian dan lain-lain. Sejak
zaman Hindu-Budha, alun-alun telah ada (Buku Negara Kertagama, menyatakan di Trowulan

terdapat alun-alun) asal-usulnya ialah dari kepercayaan masyarakat tani yang setiap kali ingin
menggunakan tanah untuk bercocok tanam, maka haruslah dibuat upacara minta izin kepada
dewi tanah. Yaitu dengan jalan membuat sebuah lapangan tanah sakral yang berbentuk
persegi empat yang selanjutnya dikenal sebagai alun-alun.
Masa kerajaan Mataram, di Alun-alun depan istana secara rutin rakyat Mataram
seba menghadap Penguasa (lihat Keraton Yogyakarta). Alun-alun pada masa ini sudah
berfungsi sebagai pusat administratif dan sosial budaya bagi penduduk pribumi.

Fungsi administratif: masyarakat berdatangan ke alun-alun untuk memenuhi


panggilan ataupun mendengarkan pengumuman atau melihat unjuk kekuatan berupa peragaan
bala prajurit dari penguasa setempat.

Fungsi sosial budaya dapat dilihat dari kehidupan masyarakat dalam berinteraksi satu
sama lain, apakah dalam perdagangan, pertunjukan hiburan ataupun olah raga. Untuk
memenuhi seluruh aktivitas dan kegiatan tersebut alun-alun hanya berupa hamparan lapangan
rumput yang memungkinkan berbagai aktivitas dapat dilakukan.
Masuknya Islam, bangunan masjid dibangun di sekitar alun-alun. Alun-alun juga
digunakan sebagai tempat kegiatan-kegiatan hari besar Islam termasuk Salat Idul Fitri. Pada
saat ini banyak alun-alun yang digunakan sebagai perluasan dari masjid. Konsep alun-alun
menurut Islam adalah sebagai ruang terbuka perluasan halaman masjid untuk menampung
luapan jamaah dan merupakan halaman depan dari keraton. Siar Islam telah membawa
perubahan dalam perancangan pusat kota, sehingga alun-alun, keraton dan Masjid berada
dalam satu kawasan yang di dekatnya terdapat jalur transportasi.
Pada periode berikutnya kehadiran kekuasaan Belanda di Nusantara, ikut memberi
warna bentuk baru dalam tata lingkungan alun-alun. Hal ini terlihat dengan didirikannya
bangunan penjara pada sisi lain alun-alun. Pendirikan bangunan-bangunan untuk kepentingan
Belanda sekaligus mengurangi fungsi simbolis alun-alun, kewibawaan penguasa setempat
(penguasa pribumi). Periode zaman kemerdekaan, banyak alun-alun yang berubah bentuk,
yang dipengaruhi oleh faktor kebijakan pemerintah, aktivitas masyarakat, Perdagangan dan
Pencapaian (Dadang Ahdiat, 1993).

2.5

Studi Komparasi

2.5.1 Contoh Alun-alun di Indonesia


A. Alun-alun Lor Yogyakarta

Alun-alun

Kraton
Yogyakarta

Alun-alun Lor adalah sebuah lapangan berumput di bagian utara Keraton Yogyakarta.
Dahulu tanah lapang yang berbentuk persegi ini dikelilingi oleh dinding pagar yang cukup
tinggi. Sekarang dinding ini tidak terlihat lagi kecuali di sisi timur bagian selatan. Saat ini
alun-alun dipersempit dan hanya bagian tengahnya saja yang tampak. Di bagian pinggir
sudah dibuat jalan beraspal yang dibuka untuk umum.
Di pinggir Alun-alun ditanami deretan pohon Beringin (Ficus benjamina; famili
Moraceae) dan di tengah-tengahnya terdapat sepasang pohon beringin yang diberi pagar yang
disebut dengan Waringin Sengkeran/Ringin Kurung (beringin yang dipagari). Kedua pohon
ini diberi nama Kyai Dewadaru dan Kyai Janadaru. Pada zamannya selain Sultan hanyalah
Pepatih Dalem yang boleh melewati/berjalan di antara kedua pohon beringin yang dipagari
ini. Tempat ini pula yang dijadikan arena rakyat duduk untuk melakukan "Tapa Pepe" saat
Pisowanan Ageng sebagai bentuk keberatan atas kebijakan pemerintah. Pegawai /abdi-Dalem
Kori akan menemui mereka untuk mendengarkan segala keluh kesah kemudian disampaikan
kepada Sultan yang sedang duduk di Siti Hinggil.
Di sela-sela pohon beringin di pinggir sisi utara, timur, dan barat terdapat pendopo
kecil yang disebut dengan Pekapalan, tempat transit dan menginap para Bupati dari daerah
Mancanegara Kesultanan. Bangunan ini sekarang sudah banyak yang berubah fungsi dan
sebagian sudah lenyap. Dahulu dibagian selatan terdapat bangunan yang sekarang menjadi
kompleks yang terpisah, Pagelaran.
Pada zaman dahulu Alun-alun Lor digunakan sebagai tempat penyelenggaraan acara
dan upacara kerajaan yang melibatkan rakyat banyak. Di antaranya adalah upacara garebeg
serta sekaten, acara watangan serta rampogan macan, pisowanan ageng, dan sebagainya.
Sekarang tempat ini sering digunakan untuk berbagai acara yang juga melibatkan masyarakat
seperti konser-konser musik, kampanye, rapat akbar, tempat penyelenggaraan ibadah hari

raya Islam sampai juga digunakan untuk sepak bola warga sekitar dan tempat parkir
kendaraan.

B. Alun-alun Kidul Surakarta


Kraton
Surakarta

Alun-alun Kidul
Surakarta

Alun-alun ini terletak di sebelah selatan keratin Surakarta Hadiningrat. Sitihinggil


kidul termasuk alun-alun kidul, memiliki sebuah bangunan kecil. Kini kompleks ini
digunakan untuk memelihara pusaka keraton yang berupa kerbau albino yang disebut dengan
Kyai Slamet.Terdapat pula tempat untuk menyimpan benda-benda peninggalan kerajaan
Surakarta jaman dahulu. Tempat ini menyimpan meriam-meriam kuno yang dahulu
digunakan oleh prajurit kerajaan Surakarta untuk berperang. Kawasan Alun-alun Kidul
keratin Surakarta ini dimanfaatkan untuk memelihara kerbau albino, yang dimana oleh rakyat
Surakarta dianggap hewan yang dikeramatkan.

2.5.2 Contoh Alun-alun di Luar Negri


A. Old Town Square in Prague

Gereja St
Nicholas

Apartmen/hotel

Restoran/cafe

The Old Town Square (Staromestske namesti) adalah salah satu dari dua lapangan
utama di Praha (Wenceslas Square adalah, lainnya hanya 5 menit berjalan kaki). Dengan
bangunan kuno dan gereja-gereja megah, ini adalah salah satu wisata sejarah paling indah di
Eropa. Berasal dari abad ke-12, Old Town Square memulai hidup sebagai pasar pusat untuk
Praha. Selama berabad-abad bangunan gaya Romawi, Baroque dan Gothic dipasang di sekitar
pasar, masing-masing dengan membawa cerita pedagang kaya dan intrik politik.
Pemandangan Old Town Square yang paling menonjol adalah Old Town Hall Tower &
Astronomical Clock, Gereja Bunda Maria sebelum Tyn dan St Nicholas Church. Di pusat Old
Town Square adalah patung Jan Hus, didirikan pada tanggal 6 Juli 1915 menandai ulang
tahun ke-500 kematian pembaharu itu. Gelombang pendukung selama abad 14 dan 15
akhirnya menyebabkan perang Hussite.

Patung Jan Huss yag terletak di tengah Old Town Square.

BAB III
PEBAHASAN
3.1

Tinjauan Umum Kota Malang dan Kawasan Studi

3.1.1

Sejarah perkembangan bentuk dan ruang

Kota Malang adalah sebuah kota di provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini berada
di dataran tinggi yang cukup sejuk. Malang terletak pada ketinggian antara 429-667 meter
diatas permukaan air laut. 112,06-112,07 Bujur Timur dan 7,06-8,02 Lintang selatan.
Wilayahnya dikelilingi oleh kabupaten Malang. Malang merupakan Kota terbesar kedua di
Jawa Timur.
Seperti halnya kebanyakan kota-kota lain di Indonesia pada umumnya, Kota Malang
modern tumbuh dan berkembang setelah hadirnya administrasi kolonial Hindia Belanda.
Fasilitas umum di rencanakan sedemikian rupa agar memenuhi kebutuhan keluarga Belanda.
Kesan diskriminatif masih berbekas hingga sekarang, misalnya Ijen Boullevard dan
kawasan sekitarnya. Pada mulanya hanya dinikmati oleh keluarga Belanda dan keluarga
eropa lainnya. Sementara penduduk pribumi harus puas bertempat tinggal di pinggiran kota
dengan fasilitas yang kurang memadai. Kawasan perumahan itu sekarang menjadi monumen
hidup dan seringkali dikunjungi oleh keturunan keluarga-keluarga Belanda yang pernah
bermukim disana.
Pada tahun 1767 Kompeni Hindia-Belanda memasuki kota dan memusatkan
kedudukan Pemerintahan Belanda. Pada Tahun 1821 Kota Malang mulai tumbuh dan
berkembang setelah hadirnya pemerintahan kolonial Belanda, terutama ketika mulai di
operasikannya jalur kereta api pada tahun 1879. Berbagai kebutuhan masyarakatpun semakin
meningkat terutama akan ruang gerak melakukan berbagai kegiatan. Akibatnya terjadilah
perubahan tata guna lahan, daerah yang bermunculan tidak terkendali.Perubahan fungsi lahan
mengalami perubahan pesat seperti dari fungsi pertanian berubah menjadi perumahan dan
industri. Pada tahun 1882 rumah-rumah di bagian barat Kota di dirikan dan alun-alun mulai
dibangun.
Mulai pemerintahan Pak Gubernur Jendral Deandles (1808-1811), sistem pembagian
daerah di Hindia Belanda dibagi jadi beberapa kabupaten dan karasidenan. Kedudukan
Bupati sejajar dengan Asisten Residen dan biasanya diwujudikan di alun-alun kota kabupaten
di Jawa (termasuk Malang), yang mana rumah Bupati berhadapan dengan rumah Asisten
Residen.
Dari penelitian arsitek Kazemeir, Tonkens dan Withkamp digambarkan tipologi
ibukota Kabupaten di Jawa adalah sebagai berikut:
- alun-alun berada di pusat kota

- di sumbu utara-selatan, terdapat rumah asisten residen, di sebelah utara


menghadap selatan dan di sebelah selatan menghadap ke utara terdapat rumah
bupati, membuat rumahnya saling saling berhadapan.
- di sebelah barat terdapat masjid
- di sebelah timur rumah tinggal orang swasta Belanda
- di sebelah barat-laut terdapat ballroom atau klub elit bagi orang Belanda

Alun-alun Kota Malang berbeda karena letak rumah Bupati tidak berhadapan dengan
rumah Asisten Residen. Di Malang, rumah Asisten Residen ada di sebelah Selatan
menghadap utara (orientasi bangunan menghadap Alun-alun), dan rumah Bupati berada di
sebelah Timur menghadap ke Selatan (orientasi bangunan tidak menghadap Alun-alun),
menghadap ke Regenstraat alias Jalan Kabupaten (skarang Jl. K.H. Agus Salim).
Secara penyebaran daerah pemukiman pada zaman itu, dibagi menjadi pemukiman
penduduk:
1. Eropa
2. Timur Asing *Vreemde Osterlingen termasuk orang Cina, Arab
3. Pribumi.
Sebelum tahun 1900 terdapat UU Wijkenstelsel, yang mana tiap etnik harus mempunyai
pemimpin sendiri lalu daerahnya ditentukan oleh penguasa serta batas-batsanya . tiap warga
yang ingin keluar dari daerahnya harus mendapat izin dari penguasa, tetapi UU ini tidak
berlaku lagi setelah tahun 1900.
Pembagian daerah hingga tahun 1940
1. pemukiman orang Eropa berada di Barat Daya alun-alun, Taloon, Tongan, Sawahan dan
sekitarnya dan juga terdapat di sekitar Kayutangan, Oro-oro Dowo, Tjelaket, Klodjenlor serta Rampal

2. pemukiman orang Cina berada di sebelah Tenggara alun-alun. Pemukiman orang Arab
berada di sebelah Barat alun-alun di belakang masjid
3. pemukiman Pribumi berada di daerah kampung sebelah Selatan alun-alun, yaitu
kampung Kebalen, Toemenggoengan, Djodipan, Talon, dan Klojen-Lor
Bentuk kota Malang sebelum tahunn 1900 berbentuk kota radial dengan alun-alun sebagai
pusatnya (centre), dan sungai brantas menjadi batas kota, daerah Malang sebelah timur kota
pada waktu itu tidak ada bangunan sama sekali. setelah kependudukan Belanda secara penuh
tahun 1821, bentuk kota nya mulai berubah jadi sistem jejala (grid). Sampai tahun 1914
Malang mash merupakan sebuah kota kabupaten , bagian dari Karesidenan Pasuruan. Salah
satu kendala tidak bisa berkembangnya kota-kota pedalaman adalah masalah prasarana dan
komunikasi. Pembangunan prasarana secara besar-besaran di Jawa termasuk Malang) baru
dimulai setelah tahun 1870. Jalan kereta api pertama antara Surabaya-Malang dibuat pada
tahun 1876. Rel kereta api yang sejajar dengan jalan masuk ke kota Malang dan berhenti di
stasiun kota.

Dengan dibangunnya rel kereta, memberi pengaruh pada penguasaan Belandan dan
berpengaruh besar terhadap perkembangan kota. Karena sesudah adanya rel kereta api ini,
maka banyak rumah-rumah orang Eropa yang dibangun di dekat rel kereta api tersebut. Jalanjalan darat yang menghubungkan antara Malang dengan daerah perkebunan disekelilingnya
juga mulai dibuat. Bahkan jalan antara Malang dengan kota-kota lain seperti Blitar, Batu dan
Surabaya juga sudah ada. Jadi sebenarnya secara geografis sesudah th. 1900, Malang sudah
bukan sebagai kota pedalaman yang terisolir lagi. Malang juga dialiri oleh sungai. Masingmasing adalah sungai Berantas yang mengalir dari Utara ke Selatan, sungai Bango dan
Amprung . Tapi yang berpengaruh besar terhadap bentuk dan kota Malang adalah sungai
Berantas. Tidak seperti kotakota Pesisir yang biasanya merupakan muara dari sungai-sungai
besar seperti Surabaya, Semarang dan Batavia, sungai Berantas yang melewati kota Malang
mempunyai lembah yang terjal sehingga sungai lebih berfungsi sebagai batas kota daripada

urat nadi transportasi perdagangan di kota. Baru pada tahun 1920 dengan dibentuknya pusat
pemerintahan baru di daerah alon-alon bunder maka sungai Berantas yang dulunya berfungsi
sebagai batas kota, berubah menjadi sungai yang membelah kota Malang (lihat peta th. 1914
dan 1934). Keadaan geografis lain yang sangat menguntungkan kota Malang adalah letaknya
yang cukup tinggi (450 m diatas permukaan laut) sehingga kota ini menjadi satu-satunya kota
yang berhawa dingin di Jatim. Selain itu Malang juga dikelilingi oleh gunung-gunung seperti
Kawi, Arjuna, Semeru dan Tengger yang memberikan suatu pemandangan indah pada
kotanya.
Kotanya sendiri sampai tahun 1914, berbentuk konsentris dengan pola jejala (grid)
dan pusatnya adalah alon-alon yang dihubungkan dengan jalan-jalan besar yang menuju ke
luar kota. Hal ini merupakan modal awal yang baik untuk perkembangan lebih lanjut pada
abad ke 20. Rencana perkembangan kota Malang merupakan salah satu perencanaan kota
yang terbaik di Hindia Belanda waktu itu. Tentu saja hal ini tidak luput dari orang-orang yang
ada dibalik rencana tersebut. Selain walikota Malang pertama yaitu: H.I. Bussemaker (19191929), juga tak bisa lepas dari peran perencana kota yang terkenal pada waktu itu yaitu: Ir.
Herman Thomas Karsten. Antara tahun 1914-1929, Malang sudah mempunyai 8 tahap
perencanaan kota yang pasti. Masing-masing tahapan tersebut dinamakan sebagai Bouwplan
I s/d VIII. Tujuan utama dari perluasan ini adalah pengendalian bentuk kota akibat dari
pertambahan penduduk serta kemajuan ekonomi yang sangat cepat.
Berhasilnya pihak Kotamadya (gemeente) Malang dalam melaksanakan rencana
perkembangan kota tersebut dengan baik, karena cepatnya mereka menguasai tanah-tanah
yang diperlukan untuk perkembangan kota, sehingga sulit sekali bagi pihak ketiga untuk
berspekulasi terhadap tanah. Tapi keadaan seperti ini tidak bisa dipertahankan terus, karena
selain diperlukan pengawasan yang ketat, pihak kotamadya (gemeente) tidak mungkin
mempunyai dana keuangan sendiri untuk menguasai tanah-tanah yang harganya makin
melambung. Hal tersebut dirasakan pada rencana Bouwplan ke V dan VII, yang terkenal
dengan sebutan pengembangan daerah Bergenbuurt (daerah tinggi yang ada disebelah
Barat kota), dimana para spekulan dari pihak swasta sudah banyak yang mengincar tanah di
daerah tersebut. Oleh sebab itu kotamadya terpaksa harus meminta bantuan pemerintah pusat.
Sesuai dengan undang-undang kota pada waktu itu (bijblad 11272)9, maka pihak
kotamadya Malang harus menyediakan Geraamteplan (Kerangka Rencana) ke pemerintah
pusat. Rencana pertamanya ditolak karena dianggap belum memenuhi persayaratan sebagai
satu :Geraamteplan. Oleh sebab itu pada bulan Agustus 1929, Walikota Malang meminta
secara resmi kepada Ir. Herman Thomas Karsten menjadi penasehat untuk perluasan dan
perkembangan kota Malang. Sejak saat itulah secara resmi Karsten menjadi dirigen bagi
perkembangan kota. Tugas utamanya sekarang adalah memperbaiki dan mengembangkan
geraamteplan kota Malang yang dibuat oleh pihak Kotamadya, supaya bisa diterima oleh
pemerintah pusat. Secara garis besar laporan Karsten (1935:59), bisa dibagi menjadi beberapa
bagian yaitu.
- Lahirnya perencanaan Kota Malang
- Hakekat dan dampak perencanaan Kota Malang

- Cara penentuan perencanaan dan arti persetujuan pemerintah.


- Situasi dan pembentukan bagian kota yang tertua.
- Pertumbuhan kota hingga tahun 1930.
- Pertumbuhan dan Karakter
- Bentuk Utama dan Pusatnya.
- Kelompok utama dan peruntkannnya
- Jaringan jalan utama
- Keindahan kota.

Pada tanggal 8 Maret 1942 Malang di ambil alih oleh pemerintahan Jepang . namun
tak lama setelah Indonesia merdeka tepatnya tanggal 21 September 1945 Malang kembali
menjadima wilayah Republik Indonesia. Lalu tanggal 22 Juli 1947 Pemerintahan Belanda
menduduki kembali Kota Malang sampai pada akhirnya masuknya pemerintahan Indonesia
kembali di Kota Malang pada tanggal 2 Maret 1947.
Secara garis besar perkembangan arsitektur kolonial di Malang tidak berbeda dengan
perkembangan arsitektur di Hindia Belanda pada kurun waktu yang sama. Gaya arsitektur
yang disebut sebagai Indische Empire yang berkembang sampai akhir abad ke 19, juga
terdapat di Malang, terutama sekali pada gedung-gedung pemerintahan seperti gedung
Asisten Residen di alon-alon pusat kota Malang10 (sekarang sudah hancur). Hanya saja
sebelum tahun 1900 an Malang masih merupakan sebuah kota kabupaten kecil, sehingga
bangunan pemerintahan tidak begitu banyak disana. Oleh sebab itu peninggalan arsitektur
dengan gaya Indische Empire ini sekarang sangat jarang dijumpai di Malang. Walaupun
ada, tempatnya berada di daerah sekitar alon-alon kota, karena disanalah dulu merupakan inti
kota Malang dimasa lalu. Sekarang daerah disekitar alon-alon kota justru merupakan daerah
yang punya nilai ekonomi yang tinggi, sehingga otomatis juga merupakan suatu daerah yang
cepat berkembang/berubah. Sayang sekali karena hal-hal diatas maka asitektur dengan gaya
Indische Empire ini di Malang sekarang boleh dikatakan sudah tidak tersisa sama sekali.
Hampir semua bangunan kolonial yang tersisa di Malang sekarang dibangun setelah
tahun 1900 (sebagian besar dibangun setelah tahun 1920 an selaras dengan perkembangan
kotanya) yang diistilahkan sebagai arsitektur kolonial modern. Arsitektur kolonial yang
cukup besar, yang dibangun setelah tahun 1900 di Malang adalah: Gereja Hati Kudus Jesus di
Jl. Kayutangan (Basuki Rachmad), yang dibangun pada th. 1905. Arsiteknya adalah Maruis J.
Hulswit. Tapi pembangunan gereja gaya Neo Gothik di Malang ini secara keseluruhan tidak
begitu punya pengaruh terhadap perkembangan arsitektur kolonial di Malang pada umumnya.
Secara garis besar perkembangan arsitektur kolonial di Malang yang dibangun setelah th.
1914 bisa dibagi menjadi 2 bagian yaitu yang dibangun antara tahun 1914-1920 dan yang

dibangun sesudah tahun 1920-1940 an. Arsitektur yang dibangun antara tahun 1914-1920 an
dapat disebutkan misalnya:

- Javasche Bank (sekarang Bank Indonesia) disebelah Utara alon-alon dibangun th.
1915, arsiteknya adalah Hulswit, Fermont & Cuypers.
- Palace Hotel (sekarang Hoel Pelangi), dibangun antara th. 1916, disebelah
Selatan alon-alon, arsiteknya tidak diketahui dengan jelas.
- Kantor Pos dan Tilgram (sekarang sudah dibongkar) terletak di Jalan Kayutangan
(Basuki Rachmad) dibangun antara th. 1910 arsiteknya BOW (Burgelijke
Openbare Werken)
Sebagian besar bangunan umum sebelum tahun1920 kebanyakan dibangun disekitar
alon-alon, karena pusat kotanya masih terletak disana. Jumlahnya tidak terlalu banyak karena
kota Malang masih belum mengalami perkembangan yang pesat. Gaya arsitektur Indische
Empire pada tahun-tahun ini sudah menghilang. Arsitektur Kolonial yang dibangun sebelum
tahun 1920 an sebagian besar sudah ditangani oleh tenaga profesional. Meskipun gaya
arsitektur yang ditunjukkan masih banyak dipengaruhi oleh arsitektur di Belanda tapi pada
umumnya bentuk-bentuk arsitekturnya sudah beradaptasi dengan iklim setempat. Hal ini
ditunjukkan misalnya dengan menempatkan galeri keliling bangunan (dengan maksud supaya
sinar matahari langsung dan tampias air hujan tidak langsung masuk melalui jendela atau
pintu). Adanya atap-atap susun dengan ventilasi atap yang baik, serta overstek-overstek yang
cukup panjang untuk pembayangan tembok. Tapi secara keseluruhan bentuk arsitekturnya
masih belum merujuk ke bentuk modern, yang baru berkembang setelah tahun 1920 an.
Bangunan arsitektur kolonial yang dibangun antara th. 1920 sampai 1940 an dapat
disebutkan misalnya.:
- Zusterschool (Jl. Tjelaket- dibangun antara th. 1926 arsiteknya Hulswit, Fermont
& Ed.Cuypers)12
- Fraterschool (Jl. Tjelaket, dibangun antara tahun 1926, arsiteknya Hulswit,
Fermont & Ed.Cuypers)
- Komplek pertokoan di perempatan Jl. Kayutangan (dibangun ahun 1936,
arsiteknya Karel Bos)
- Balai Kota Malang (dibangun th. 1927-1929, arsiteknya H.F. Horn)
- Gedung HBS/AMS di J.P. Coen Plein (alon-alon bunder, dibangun tahun 1931,
arsiteknya Ir. W. Lemei)
- Theresiakerk (gereja Santa Theresia) di depan Boeringplein (taman Buring)
dibangun th. 1936, arsiteknya Rijksen en Estourgie.

- Gedung Maconieke Lodge, di Tjerme plein (taman Cerme), dibangun th. 1935,
arsiteknya Ir. W. Mulder.
- Pertokoan Jl.Kayutangan, dibangun tahun 1935 an.
Sebagian besar gedung-gedung kolonial yang ada di Malang dibangun sesudah tahun
1920. Gaya arsitektur kolonial modern setelah th. 1920 an di Hindia Belanda pada waktu itu
sering disebut sebagai gaya Nieuwe Bouwen, yang disesuaikan dengan iklim dan teknik
bangunan di Hindia Belanda waktu itu. Sebagian besar menonjol dengan ciri-ciri seperti: atap
datar, gevel horisontal, volume bangunan yang berbentuk kubus, serta warna putih (Gedung
Monieke Lodge, pertokoan di perempatan Jl. Kayutangan, pertokoan lainnya di sepanjang Jl.
Kayutangan dan sebagainya). Jadi sebagian gedung-gedung kolonial yang ada di Malang
umurnya rata-rata kurang lebih baru 60 tahun.

3.1.2

Tinjauan rencana tata ruang

Perkembangan dan pertumbuhan kota pada dasarnya merupakan perwujudan tuntutan


kebutuhan ruang yang diakibatkan oleh perkembangan dan pertumbuhan penduduk serta
kegiatan fungsionalnya dan interaksi antar kegiatan tersebut. Pertumbuhan dan
perkembangan kota dapat berjalan dengan sendirinya tetapi pada suatu saat dapat
menimbulkan masalah yang sulit untuk diatasi yang bersifat keruangan, structural dan
fungsional.
Kota Malang sebagai kota terbesar kedua setelah Kota Surabaya mempunyai fungsi
dan peran regional yaitu sebagai pusat SWP Malang-Pasuruan, pusat perdagangan, jasa dan
industri, Kota Malang telah mengalami perkembangan pesat. Perkembangan Kota Malang
yang pesat dari tahun ke tahun selalu mempengaruhi perkembangan kota dalam jangka
panjang sehingga keberadaan rencana kota harus dipertahankan dan dijadikan acuan dalam
program pembangunan. Kota Malang sudah memiliki rencana tata ruang dari RUTRK yang
disusun tahun 1990/1991 kemudian direvisi menjadi RTRW Kota Malang tahun 1993/1994
sehubungan dengan keluarnya UU No 24 Tahun 1992 tentang penataan ruang. Selanjutnya
setelah rencana berjalan sekitar lima tahun ternyata ada simpangan dalam arahan
pembangunan perkotaan sehingga harus direvisi lagi sesuai dengan kondisi yang berkembang
di lapangan.
A. Permasalahan dan Penataan Ruang
1.

Kondisi fisik
Berdasarkan kondisi fisiografi Jawa Timur Kota Malang termasuk dalam zona
pegunungan selatan. Pesatnya perkembangan kota tampak pada perubahan fungsi (konversi)
lahan pertanian menjadi kawasan perumahan yang diikuti dengan tumbuhnya kegiatan
perdagangan dan jasa, fasilitas sosial dan bangkitan lalu lintas serta permasalahan lingkungan
yang timbul. pencemaran limbah industri, persampahan, kurangnya RTH.
2.
Disparitas pembangunan

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini perkembangan pembangunan fisik dan
prasarana kota telah berkembang dengan pesat, namun perkembangan tersebut tidaklah dapat
dirasakan dapat dirasakan merata di seluruh pelosok kota. Perkembangan Kota Malang
semakin pesat dengan meningkatnya jumlah penduduk, kepadatan bangunan, meningkatnya
kebutuhan lahan untuk kawasan terbangun, serta meningkatnya kepadatan lalu lintas jalan
raya. Hal tersebut menimbulkan beberapa masalah perkotaan, terutama timbulnya
permukiman kumuh dan padat di kawasan pusat kota, kemacetan lalu lintas pada jalan-jalan
utama, masalah lingkungan seperti kondisi lingkungan yang kurang memadai dan semakin
menurun, timbulnya genangan air pada saat musim hujan pada kawasan tertentu, masalah
persampahan dll. Adanya permasalahan-permasalahan tersebut berdampak pada pergeseran
perkembangan/pembangunan perkotaan ke kawasan periferi (kawasan pinggiran) yang salah
satunya adalah Kecamatan Sukun.
Adanya ketidakmerataan perkembangan dan kepadatan kawasan terbangun antara
wilayah pusat kota dan wilayah pinggiran pusat kota, sehingga membutuhkan rencana
pengembangan untuk pemerataan pembangunan dan kesejahteraan. Mengacu kepada
Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007, Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Malang Tahun
2009-2029 menjadipedoman untuk penyusunan rencana pembangunan jangka panjang
daerah, penyusunan rencana pembangunan jangka menengahdaerah, pemanfaatan ruang dan
pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah kota, mewujudkan keterpaduan, keterkaitan
dankeseimbangan antar sektor, penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi, penataan
ruang kawasan strategis kota, dan penataanruang kawasan strategis kota.
B. Rencana Struktur Ruang Kota
Rencanastrukturfungsionalkota Malang
Berdasarkanfungsidanperankota Malang yang telahditetapkanstrukturkegiatanfungsional
yang telahdiarahkan di kota Malang adalah:
1. Fungsi Primer
Industri
Perdagangan
Pergudangan
Transportasi
2. Fungsi Sekunder
Industri
Perdagangan
Transportasi
Pariwisata
Perkantoran
Pendidikan
Kesehatan
Peribadatan
Militer

Olah raga
Struktur pelayanan kota Malang direncanakan sesuai dengan penempatan kegiatan
fungsional kota Malang yaitu sebelumnya dengan menetapkan pusat kota dan bagian wilayah
kota (BWK). BWK Malang Barat Daya dibagi menjadi 3 sub bagian wilayah kota dengan
pusat BWK sekaligus sebagai pusat sub BWK berada di desa Mulyorejo dan sekitarnya.
Untuk tingkat pelayanan yang ada di Kota Malang berdasarkan pada Bagian Wilayah Kota
diarahkan sebagai berikut:
Pada BWK Malang Barat Daya yaitu kecamatan Sukun dengan adanya kegiatan yang
menonjol seperti kegiatan perdagangan skala kota, pasar induk Gadang, industri dan
pergudangan, perumahan, di arahkan tingkat pelayanannya skala kota dan regional. Fungsi
atau kegiatan utamanya adalah pendidikan, perdagangan, industri besar/menengah dan kecil,
perdagangan dan pertanian.
Berikut adalah kebijakan dan strategi struktur ruang Kota Malang:
- Pusat Kota Malang diarahkan di Kawasan alun-alun dan sekitarnya. Hal ini
disebabkan karena aktifitas berpusat di kawasan alun-alundan sekitarnya, seperti;
pemerintahan, perdagangan seta fasilitas sosial yang berskala regional.
- Pembagian Kota Malang hingga tahun 2029 diarahkan menjadi 6 (enam) BWK
dengan adanya pemekaran wilayah kecamatanmenjadi 10 kecamatan.
- Masing-masing BWK yang dikelompokkan berdasarkan pada kedekatan dan
persamaan fungsi kegiatan. memiliki Pusat dan SubPusat yang saling berhubungan
dimana antara pusat yang satu dengan pusat yang lain dihubungkan dengan jaringan
jalan denganpola pergerakan yang bersifat Concentric Linier, yaitu semua kegiatan
berpusat pada satu titik yaitu Kawasan Alun-alun dansekitarnya.
- Menetapkan rencana jalan lingkar barat dan jalan lingkar timur untuk menunjang
aksesibilitas menuju pusat dan sub pusat darimasing-masing BWK serta menuju pusat
kota.Sesuai dengan kebijakan diatas, struktur ruang Kota Malang dapat digambarkan
pada gambar berikut:

Berdasarkan rencana tata ruang kota yang ada, pola penggunaan lahan berorientasi ke
pusat kota yang merupakan pusat kegiatan pemerintahan dan jasa serta perdagangan.
Kegiatan lainnya berupa perumahan, militer, dan sebagainya yang terletak mengitari pusat
kota. Dalam rencana tata ruang kota itu pula ditetapkan bahwa pusat kota diperuntukkan bagi
fungsi perdagangan dan perkantoran pemerintahan. Namun demikian, kenyataan saat ini
perkembangan kegiatan Kota Malang mendorong suatu pemanfaatan lahan yang luas
terhadap berbagai kegiatan.

3.2
Identifikasi Tipologi dan Morfologi Kawasan Studi: Alun-alun Tugu dan
Merdeka Kota Malang
3.2.1

Alun-alun Tugu

A. Sejarah dan Perkembangan Alun-alun Tugu


Cikal bakal alun-alun Tugu dibangun oleh Gubernur Pemerintah Hindia Belanda pada
masa pemerintahan Guberbur Jenderal Jaan Pieter Zoen Coen. Pada waktu itu model taman
ini masih sederhana berupa taman terbuka tanpa ada tugu dan tanpa dibatasi pagar. Taman ini
dibangun sebagai pelengkap halaman gedung Kegubernuran Hindia Belanda.

Kondisi alun-alun Tugu Malang pada masa pemerintahan Hindia

Kemudian, setahun setelah kemerdekaan Indonesia hasil KMB di Den Haag tepatnya
pada tahun 1946, masyarakat Malang mendesak untuk merubah struktur pemerintahan
daerahnya dengan menjadikan orang Indonesia sebagai pimpinannya. Setelah desakan itu
akhirnya di Malang telah terbentuk suatu Dewan Pimpinan Daerah yag dipimpin oleh seorang
pria bernama Sam. Sehingga pemerintahan di Malang bisa berjalan dengan baik. Oleh karena
itu pemerintah mulai membangun Kota Malang. Salah satu rencana pemerintah saat itu
adalah membangun sebuah Tugu Kemerdekaan di Kota Malang. tepat pada tanggal 17
Agustus 1946. Pemerintah Kota Malang merencanakan peletakan batu pertama pembangunan
Monumen Tugu. Monumen ini ditandatangani langsung oleh Ir. Soekarno, sebagai wakil dari
masyarakat Malang dan A.G. Suroto sebagai kepala komite pembangunan Monumen Tugu.
Sebagai simbol perjuangan masyarakat Malang.
Namun, pada saat pembangunan Monumen Tugu itu akan selesai, mendadak terjadi
Agresi Militer Belanda I. Monumen Tugu seolah-olah membuat Pasukan Belanda mengetahui
tentang semangatnya kemerdekaan yang dimiliki oleh masyarakat Malang. Sehingga pada 23
Desember 1948, Monumen Tugu itu dirusak oleh pasukan Belanda hingga tinggal puingpuing saja. Atas desakan masyarakat Malang, pada tanggal 9 Juni 1950 Pemerintah Malang
membentuk panitia baru untuk membangun kembali Monumen Tugu. Pada akhirnya
Monumen Tugu telah selesai dibangun. dan pada tanggal 20 Mei 1953, monumen Tugu ini
disahkan kembali oleh Presiden Indonesia pertama, Ir. Soekarno.

Ir. Soekarno sedang berpidato


didepan rakyat Malang pada
saat sebelum meletakkan batu
pertama tanda dibangunnya
monumen Tugu Malang tahun
1946.

Sisa atau Puing-puing batu dari


monumen Tugu Malang. Saat
belanda
menghancurkan
monumen Tugu Malang pada
masa Agresi Militer Belanda I
tahun 1948.

Tahun 1953 monumen Tugu


Malang dibangun kembali oleh
pemerintah Malang dan diresmikan
oleh Presiden RI pertama, Ir,
Soekarno.

Pada era tahun 1990-an Monumen Tugu ini terkenal dengan nama Alun-alun Bunder.
Masyarakat menjulukinya Alun-alun Bunder karena berbentuk lingkaran, dan pada awalnya
memang tidak terdapat tugu di tengah taman tersebut. Setelah dibangunnya Monumen Tugu
di tengahnya, maka masyarakat mulai menyebutnya dengan alun-alun tugu. Seiring
berjalannya waktu alun-alun tugu menjadi ruang public, dan digunakan untuk berkumpul oleh
masyarakat malang, taman yang sebelumnya adalah area privat bagi pemerintahan berubah
menjadi ruang publik.

Aktivitas masyarakat Malang yang


bermain dan berpose di area
Monumen Tugu pada tahun 1990-an.

Dari sebuah Taman Monumen Tugu


ini, taman ini dapat dinikmati dari 5
penjuru

Kota

Malang,

yaitu

melalui

Jl.Kahuripan, Jl. Kertanegara, Jl. Gajahmada, Jl.Untung Suropati dan Jl. Majapahit. Selain itu
pintu masuk untuk mengakses taman ini juga berjumlah 5 jalur, dengan pintu gerbang
utamanya terletak di depan kantor Walikota Kota Malang. Desain Taman Tugu Kota Malang
ini lebih menonjolkan Monumen Tugu yang berada tepat di tengah-tengah taman sebagai
point of view yang bernilai sejarah yang tinggi.

Taman
Monumen
Malang tampak atas.

Tugu

B. B.
Bentuk dan makna dari Monumen
Tugu

Monumen Tugu Kota Malang sekarang.

Jika dilihat dengan seksama bentuk dari Tugu yang berada di tengah Taman Tugu Kota
Malang itu, kita akan melihat beberapa sejarah yang benar-benar melekat pada setiap detil
bentuknya, diantaranya adala:
1. Tugu monumen yang berbentuk bambu tajam. Bambu tajam ini menggambarkan
bambu runcing yang menjadi senjata khas bangsa Indonesia dalam menghadapi
para penjajah dan mengorbankan hidupnya untuk merebut kemerdekaan hingga
tetes darah penghabisan..
2. Rantai yang mengambarkan kesatuan bangsa Indonesia dalam satu semangatnya
memperjuangkan kemerdekaan yang tidak mungkin mudah bisa dipisahkan.
3. Tangga yang berbentuk 4 dan 5 sudut yang menggambarkan tahun Kemerdekaan
Republik Indonesia 1945.
4. Bintang mempunyai 8 tingkat dan 17 pondasi. Pondasi berjumlah 17 dan bintang
yang memiliki 8 tinggat ini menggambarkan menggambarkan tanggal dan bulan
Kemerdekaan Indonesia.
5. Monumen ini terletak di tengah-tengah kolam yang di dalamnya terdapat Bunga
Teratai yang berwarna putih dan merah.Melambangkan keberanian dan kesucian
rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan.
6. Selain itu pada badan tubuh dari bambu runcing tersebut terdapat gambar peta
Indonesia, wajah Bung Karno dan Bung Hatta serta Teks Proklamasi bangsa
Indonesia.
Taman Monumen Tugu adalah taman terindah di Malang dengan sebuah monumen tugu
berdiri tegak meruncing, beralaskan kolam air dengan teratai yang mekar, berselimutkan
tatanan vegetasi tanaman hias, dan berlingkar pohon trembesi berumur sangat tua.
Monumen tugu yang terpancang kokoh di tengah lalu dikelilingi oleh kolam air berisi

ekosistemnya seperti ikan koki, teratai yang mekar, dan adapun ikan ikan kecil di
dalamnya. Kolam air ini juga dilengkapi oleh beberapa titik air mancur yang selalu
memancarkan air pada pagi dan malam hari. Gunanya air mancur ini adalah membantu siklus
energi dari udara ke dalam kolam air.

Suasana Monumen Tugu dengan dikelilingi kolam yang berisikan terai..

Teratai yang berada di kolam Monumen Tugu Berwarna merah dan putih
melambangkan bendera Indonesai

C. Analisa kawasan Alun-alun Tugu


1. Aktifitas Manusia
Adapun beberapa aktivitas manusia saat berada di dalam Taman Monumen Tugu pada
pagi hari. Terlihat mereka yang sedang menikmati keindahan taman ini seperti ketika berjalan
mengelilingi bundaran kolam air, memandangi tanaman hias, ada yang menuntun sepeda ke
dalam taman.

Aktivitas pengunjung Taman Monumen Tugu pada pagi dan siang hari.

Begitu juga dengan aktivitas pada malam hari, tampak lampu hias yang merangkai
monumen tugu dan lampu taman yang menyala seakan layaknya bulan untuk tanaman hias
dibawahnya.

Aktifitas tukang sate yang sedang berjualan di depanTaman Monumen Tugu


dan adanya lampu serta airmancur yang menghiasi Monumen Tugu pada malam

2. Analisis visual kawasan


Karakteristik pada alun-alun tugu yaitu bangunan-bangunan disekitar alunalun tugu sebagian besar merupakan bangunan dengan gaya khas belanda. Karena
dahulunya kawasan di alun-alun tugu termasuk kawasan pemerintahan Belanda.
Namun pada saat ini kawasan ini fungsinya bercampur, mulai dari pemerintahan,
pendidikan dan pariwisata. Pada elemen terbuka, alun-alun tugu termasuk ruang
terbuka hijau yang terletak di bunderan depan kantor balaikota Malang. Dengan di
tengahnya terdapat kolam, dengan tanaman khas air yaitu bunga teratai yang berwarna
merah dan putih.
Di elemen ruang terbuka hijau, alun-alun tugu memiliki fasilitas pedestrian,
tempat duduk, pagar dan lampu-lampu taman yang merupakan street furniture, area
terbuka hijau, dan penempatan parkir kendaraan. namun pada alun-alun tugu tidak
terdapat tempat parkir untuk mobil maupun motor, sehingga para pengunjung alunalun biasanya mereka parkir di parkiran sekolah SMA yang ada di dekatnya.
3. Analisis element ruang terbuka
Alun-alun tugu merupkan ruang terbuka hijau yang berupa taman kota dan

terleak di depan kantor walikota Malang. Banyak terdapat tanaman hias di sekitar
taman, dan juga tanaman air, untuk disekitar taman terdapat pohon besar yang
merupakan pohon trembesi. Pohon trembesi di kawasan alun-alun tugu merupakan
pohon yang menjadi karakteristik kawasan tersebut.Elemen-elemen yang terdapat di
alun-alun tugu yaitu, pedestrian untuk pengunjung, material pedestrian yaitu paving
yang bermotif. Street furniture terdapat pagar yang mengelilingi kolam dan pagar di
luar taman, tempat duduk, lampu taman, tempat sampah. Jalan yaitu mengelilingi
buderan taman, dan diatur searah, dengan lebar jalan sekitar 14 meter.
4. Analisis penyediaan tempat parkir
Di kawasan alun-alun tugu tidak terdapat fasilitas untuk parkir kendaraan.
sehingga seringkali para pengunjung yang ingin jalan-jalan di alun-alun, mereka harus
parkir di parkiran fasilitas sekolah-sekolah yang ada di kawasan alun-alun. Hal ini
sangat menyulitkan pengunjung ketika mereka ingin bermain dan menikmati alunalun.
5. Analisis penyediaan pedestrian
Di sekitar alun-alun tugu di kelilingi oleh pedestrian dengan ukuran kira-kira 1
meter, yang menggunakan material paving permotif persegi panjang. Untuk di dalam
area alun-alun juga disediakan pedestrian, dengan ukuran, material dan motif yang
sama.
Untuk pedestrian yang terdapat di luar kawasan dinilai kurang lebar, untuk
kenyamanan pengunjung. Namun untuk didalam are alu-alun dinilai cukup, karena
aktivitas pengunjung di dalam alun-alun tugu tidak begitu banyak.
Tipologi Elemen Hardscape Alun-Alun Tugu

Pagar

Pedestrian Ways

Perkerasan

Area Parkir

Bangku Taman

Lampu Taman

Pot Bunga

Bebatuan

Tempat Sampah
Tipologi Elemen Softscape Alun-Alun Kota

Vegetasi
Pohon Trembesi
Rerumputan
Perdu
Semak-semak

Air
Tipologi Bangunan di sekitar Kawasan Alun-Alun Kota Berdasarkan Fungsi

Bangunan Akomodasi

Bangunan Pemerintahan

Bangunan Pendidikan


Bangunan Pertahanan
Tipologi Bangunan di sekitar Kawasan Alun-Alun Kota Berdasarkan Langgam Bangunan

Langgam Bangunan Kolonial

Langgam Bangunan Klasik

Langgam Bangunan Modern


Tipologi Karakteristik Kawasan berdasarkan Elemen Ruang Terbuka

Pola Pertamanan

Street Furniture

3.2.2

Alun-alun Merdeka

A. Sejarah Alun-Alun Merdeka


Dari buku Nagara Kertagama, dapat diketahui bahwa alun-alun telah ada pada zaman
Hindu-Budha, ada bukti yang menjelaskan bahwa di Candi Trowulan terdapat alun-alun.
Asal-usul alun-alun ini sebenarnya berawal dari kepercayaan masyarakat tani yang setiap kali
ingin menggunakan tanah untuk bercocok tanam, harus mengadakan upacara minta izin
kepada dewi tanah, yaitu dengan jalan membuat sebuah lapangan tanah sakral yang
berbentuk persegi empat yang selanjutnya dikenal sebagai alun-alun.
Masa kerajaan Mataram, di Alun-alun depan istana secara rutin rakyat Mataram
menghadap Penguasa. Alun-alun pada masa ini sudah berfungsi sebagai pusat administratif
dan sosial bagi penduduk pribumi. Fungsi administratif: masyarakat berdatangan ke alun-alun
untuk memenuhi panggilan ataupun mendengarkan pengumuman atau melihat unjuk
kekuatan berupa peragaan bala prajurit dari penguasa setempat. Fungsi Sosial dapat dilihat
dari kehidupan masyarakat dalam berinteraksi satu sama lain, apakah dalam perdagangan,
pertunjukan hiburan ataupun olah raga. Untuk memenuhi seluruh aktivitas dan kegiatan
tersebut alun-alun hanya berupa hamparan lapangan rumput berbentuk persegi dengan pohon
beringin sebagai pusatnya dan memungkinkan berbagai aktivitas dapat dilakukan didalam
alun-alun.

Pada masa lalu, alun-alun didominasi oleh unsur alami, berupa pepohonan dan rerumputan

Kota Malang jauh ke tangan pemerintahan kolonial Belanda, bermula dengan


kekalahan pasukan Suropati di Pasuruan, sekitar tahun 1707. Pada awalnya, kota Malang
dapat dikategorikan sebagai kota agraris. Semakin kuatnya pemerintah kolonial Belanda

untuk menguasai perkebunan, merubah kota Malang menjadi kota administrasi. Ciri tersebut,
terlihat dari susunan spasial kota, berpusat di sekitar alun-alun. Pada lingkaran pertama di
sekeliling Alun-alun Malang, terdapat rumah kediaman kepala daerah setempat (Bupati). Di
kawasan ini, juga terdapat bangunan-bangunan penting seperti gedung pemerintahan (Ass.
Residen), masjid, gereja, penjara, serta kantor Bank. Pada lingkaran berikutnya, terdapat
rumah-rumah pamong praja ataupun pejabat-pejabat daerah. Disamping beberapa bangunan
tersebut, terdapat permukiman-permukiman lain, serta fasilitas penunjang kota. Pada periode
kehadiran kekuasaan
Belanda, ikut memberi warna bentuk baru dalam tata lingkungan alun-alun. Alun-alun
diperbaharui untuk kepentingan Belanda sebagai puat kekuasaan, administrasi, pusat control
dan kekuasaan politis Belanda. Hal ini terlihat dengan didirikannya bangunan penjara pada
sisi lain alun-alun. Pendirian bangunan-bangunan untuk kepentingan Belanda sekaligus
mengurangi fungsi simbolis alun-alun, kewibawaan penguasa setempat (penguasa pribumi).
Masjid Jami dibangun Belanda sebagai alat control masyarakat muslim.

Disisi barat alun-alun terdapat bangunan masjid, gereja dan Perkantoran.

Masa masuknya Islam, bangunan Masjid dibangun di sekitar alun-alun. Alun-alun


juga digunakan sebagai tempat kegiatan-kegiatan hari besar Islam termasuk Sholat Idul Fitri.
Pada saat ini banyak alun-alun yang digunakan sebagai perluasan dari masjid seperti Alunalun Kota Bandung. Periode zaman Kemerdekaan, Banyak alun-alun yang beralih fungsi.
Salah satunya Alun-alun Malang. Faktor pendorong perubahan / pertumbuhan ini bermacammacam, diantaranya Kebijakan Pemerintah, Aktivitas Masyarakat, dan Perdagangan.
Kawasan Alun-alun Malang terletak di bagian pusat wilayah Kota Malang, sehingga
menjadi daerah strategis. Kawasan Alun-alun ini, menjadi penghubung antara kawasan
bagian Selatan, bagian Barat, bagian Utara dan bagian Timur kota Malang. Lokasi yang
strategis demikian ini, menjadikan kawasan alun-alun berpotensi untuk berkembang secara
organis (tidak terencana). Terlebih, dengan adanya pusat perbelanjaan di dekat alun-alun
tersebut. Keberadaan pusat perbelanjaan modern dan tradisional tersebut, mampu menjadi
daya tarik masyarakat Malang, sebagai daerah tujuan untuk berbelanja.
Pada saat ini kawasan alun-alun berfungsi sebagai ruang publik, tempat masyarakat
berekreasi dan berkumpul untuk menikmati pemandangan, gedung-gedung di sekitar alun-

alun, maupun pusat perbelanjaan yang ada di sekitar kawasan alun-alun. Dilakukan renovasi
dan penambahan berbagai fasilitas pendukung di dalam alun-alun, seperti kolam air mancur,
pusat informasi, bangku-bangku taman, area parkir, pedestrian ways, toilet dan pagar. Pada
saat ini terdapat gerbang di bagian timur alun-alun, peninggian bagian tengah alun-alun dan
penambahan burung dara seagai hewan peliharaan di alun-alun. Banyak pedagang kaki lima
yang bejualan di dalam maupun disekitar alun-alun.
C. Aktifitas Manusia
Berdasarkan aktifitas manusia Klasifikasi Pengguna/Pengunjung Alun-alun Merdeka Malang
adalah sebagai berikut:
Tetap:

Pedagang Kaki Lima


Pedagang Asongan
Karyawan/pegawai MTIC (Malang Tourism Information Center)
Penjaga Parkir
Petugas Kebersihan
Polisi Lalulintas
PSK
Pengemis
Pengamen
Preman
Banci/ Waria
Satpol PP(Pamong Praja)

Tidak Tetap/Temporari:

Pelajar

Pedestrian/ Pejalan Kaki

Fotografer

Turis Mancanegara dan Lokal

Ojek

Supir Taxi dan Angkot


Tipologi Pengunjung Alun-Alun Kota Berdasarkan Aktifitas

Rekreasi

Olahraga

Belajar/ Survei

Berdagang

Beristirahat

Piknik

Dsb

B. Analisi Kawasan Alun-alun Merdeka Malang


Pusat kota yang berperan sebagai simpul aktifitas kota didukung oleh letak geografis
Kota Malang yang cukup strategis menjadikan kota tersebut makin maju dan berkembang
disegala bidangnya. Potensi internal ini diwujudkan dalam perkembangan terutama sektorperdagangan dan
jasa. Oleh sebab itu, segenap potensi yang ada sebaiknya dapatdikendalikan, agar kawasan dapat
dioptimalkan secara rasional.
1. Analisis Visual Kawasan
a. Karakter Kawasan Dalam kawasan alun-alun Malang dapat ditelaah dua elemen rona
kawasan utama yangmemiliki karakteristik khas, yaitu:1. Elemen ruang terbuka: Alunalun sebagai ruang terbuka hijau kota semula hanya berupa pelataran.
Dalamperkembangan-nya, terdapat pola pertamanan,street furniture,dan penempatan
parkirkendaraan di alun-alun yang seakan membatasi gerak manusia dalam berinteraksidengan ruang luarnya. Sebagaiurban mass,alun-alun semakin terjepit oleh luapanparkir
dari bangunan-bangunan yang ada di sekiling alun-alun.

Alun-alun sebagai ruang terbuka hijau


Sebagai
kotasemula
urban ma
han

Secara visual kendaraan yang menempati ruang terbuka hijau yangmengurangi nilai estetis ruang luar. Peranan ru
crowded(berdesak-desakan).

b. Tata Ruang dan Massa Bangunan


Pola tata ruang kawasan alun-alun tidak terlepas dari sistem dan distribusi
pusatkegiatan di sekitar kawasan alun-alun Malang. Jaringan dan sistem sirkulasi kota
telahmerangsang pusat kegiatan ekonomi di kawasan alun-alun, seperti pertokoan
danperbelanjaan yang mendominasi struktur ruang kawasan.Pola ruang terbuka (open space)
alun-alun tidak boleh digunakan sebagai peluberanaktifitas tempat parkir.
Massa bangunan memiliki keseimbangan (balance) dengan ruang luar alunalun, yang dalam perkembangannya mengalami ketidakseimbangan
dengan
ruang
sekitarkawasan akibat pertumbuhan kawasan pertokoan dan jasa lainnya. Urban mass
yang berupa solid-mass maupun void-mass terhadap struktur ruang pusatkawasan
alun-alun menunjukkan daerah yang padat bangunan dan crowded (berdesak-desakan)
bagi sirkulasi pejalan kaki maupun transportasi
angkutan kota.
Kualitas Visual Karakter lingkungan melalui pemaknaan ruang akan mempengaruhi
fungsi ruang dalam pengaturannya dengan komunikasi perilaku manusia sebagai
pemakai ruang. Di kawasan alun-alun Malang, karakter visual lingkungan interaksi
dengan diwarnai oleh berbagai bentuk,bangunan dan ruang serta perilaku manusianya.
Perpaduan kedua hal tersebut dilakukan dengan melihat potensi kawasan baik
fisik,lokasi, aktifitas, dan pola tata guna lahannya terhadap pengembangan kawasan
tersebut.Dari hasil analisa ini akan diperoleh suatu acuan bagi pembatasan aktifitas
dan tata gunalahan kawasan pusat kota alun-alun Malang.
2. Analisis elemen ruang terbuka
Alun-alun sebagai ruang terbuka hijau kota semula hanya berupa pelataran.
Dalam perkembangan-nya, terdapat pola pertamanan, street furniture, dan penempatan
parkirkendaraan di alun-alun yang seakan membatasi gerak manusia dalam berinteraksi Kejelasan bentuk massa bangunan akan memperkuat kejelasan terhadap kehadiran
suatutempat. Keterpaduan visual dan fasad akan memberikan citra pemakai terhadap
karaktervisual. Kejelasan tata guna dan pengaturan tata bangunan terhadap ruangruang luar serta jaringan (lingkage) akan memudahkan masyarakat pemakai,
mengenali kawasan dan kejelasan arah yang akan dituju. Hal ini berkaitan langsung
terhadap kehadiran massabangunan yang ada di kawasan alun-alun Malang.
3. Analisis penyediaan tempat parkir
Parkir merupakan perantara bagi orang yang mempergunakan sarana
transportasimenuju ke tempat pedestrian sebelum menuju ke tempat tujuan akhirnya. Tempat
parkirsebagai tempat pemberhentian kendaraan harus tetap sedekat mungkin dengan tujuan
yanghendak dicapai. Idealnya dekat dengan pintu yang dilalui dan masih di dalam
lingkuppencapaian si pemarkir.

Pada kondisi eksisting, di kawasan alun-alun Malang perletakan tempat parkir


sudahsemakin meluber hingga memakan sebagian tempat di alun-alun. Hal ini dirasa
cukupmengganggu manusia yang ingin melakukan aktifitas non-formal di alun-alun,
karena ruangyang seharusnya digunakan untuk bersantai menjadi semakin berkurang
oleh pemanfaatansebagian ruang bagi kepentingan tempat parkir. Penyediaan tempat parkir
hendak-nya cukup disediakan oleh masing-masing bangunanyang ada di kawasan alunalun.Indoor parking lebih sesuai karena pencapaian ke tempattujuan bisa dilakukan
sedekat mungkin. Dengan demikian tingkat kenyamanan, keamanandan jarak tempuh
ke tujuan akan semakin berkurang
4. Analisis penyediaan pedestrian ways
Penyediaan pedestrian sebagai prasarana pejalan kaki harus memperhatikankualitasnya terhadap faktor material, faktor keamanan, dan kenyamanan.
Hal tersebutsangat penting, mengingat pedestrian meru-pakan prasarana pejalan kaki
yang sangatdibutuhkan oleh masyarakat terutama bagi mereka yang memerlukan
jarak capai yang lebihdekat ke tempat tujuan.
Prasarana pejalan kaki yang ada dinilai cukup bagus namun perlu pelebaran,
khususnyatrotoar, karena kondisi eksisting saat ini sekedar sebagai pelengkap. Disamping itu,
perludiperhatikan faktor keamanan dan kenyamanannya; seperti masih adanya
penempatan tianglistrik yang memakan ruang pada trotoar bahkan hingga menjorok
ke jalan. Penempatantiang listrik yang ada di depan Kantor Kabupaten, Bank Lippo,
Pertokoan Ria, PertokoanSarinah, Kantor Pos dan Giro, serta Hotel Pelangi harus
dipindahkan ke tempat yang lebihmenjamin tingkat keamanan dan kenyamanan
pejalan kaki.
Tipologi Elemen Hardscape Alun-Alun Kota

Pagar

Pedestrian Ways

Perkerasan

Area Parkir

Bangku Taman

Lampu Taman

Pot Bunga

Bebatuan

Tempat Sampah
Tipologi Elemen Softscape Alun-Alun Kota

Vegetasi
Pohon Beringin
Pohon Palem
Pohon Cemara
Rerumputan
Perdu
Semak-semak


Air
Tipologi Bangunan di sekitar Kawasan Alun-Alun Kota Berdasarkan Fungsi

Bangunan Komersial

Bangunan Pemerintahan

Bangunan Peribadatan

Bangunan Jasa

Bangunan Akomodasi
Tipologi Bangunan di sekitar Kawasan Alun-Alun Kota Berdasarkan Langgam Bangunan

Langgam Bangunan Kolonial

Langgam Bangunan Klasik

Langgam Bangunan Modern


Tipologi Karakteristik Kawasan berdasarkan Elemen Ruang Terbuka

Pola Pertamanan

Street Furniture

Penempatan Parkir

Urban Mass
3.2.3

Komparasi

1. Berdasarkan pola aktivitas


Di alun-alun tugu berdasarkan aktivitas pengunjung lebih sepi daripada di
alun-alun merdeka. Karena lingkungan di sekitar alun-alun tugu lebih bersifat privat,
sedangkan di kawasan alun-alun merdeka bersifat public, yaitu banyaknya tempattempat perbelanjaan, masjid, dan toko buku.
Aktivitas yang terdapat di alun-alun tugu yaitu untuk survey, rekreasi, dan
kegiatan-kegiatan acara instansi setempat.
Sedangkan aktivitas di alun-alun merdeka lebih spesifik, yaitu terdapat orang
yang berjualan, rekreasi, survey, anak-anak kecil yang bermain, menikmati air
mancur, orang beristirahat setelah mereka berbelanja, orang yang akan atau dari
masjid, dan lain-lain.
Berdasarkan hal tersebut sangat berbeda sekali antara pola aktivitas yang
terda[at di alun-alun tugu dan di alun-alun merdeka. Namun fungsi secara aktivitas
dari keduanya itu sama, yaitu suatu tempat berkumpul bagi masyarakat yang terdapat
di tengah kota.
2. Berdasarkan pengguna
Berdasarkan pengguna tempat, kedua alun-alun itu juga memiliki banyak
sekali perbedaan. Karena bisa dilihat dari lingkungan sekitar yang mempengaruhinya.
Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa alun-alun tugu lebih sepi daripada
alun-alun merdeka. Karena lingkungan di alun-alun merdeka sangat spesifik sekali,
apalagi lingkungan alun-alun merdeka termasuk pusat kegiatan masyarakat kota,
semua fasilitas dan tempat perbelanjaan berada disana. Sehingga alun-alun merdeka
lebih sering dan bayak peng8unjung daripada alun-alun tugu.
3. Berdasarkan elemen solid void
Element solid di sekitar alun-alun tugu yaitu berupa bangunan-bangunan yang
berfungsi sebagai bangunan pendidikan, akomodasi, pemerintahan dan pertahanan.

Sedangkan di kawasan alun-alun merdeka hampir sama, namun disana terdapat pusat
perbelanjaan.
Pada elemen void, yaitu perkiran. Di kawasan alun-alun tugu tidak terdapat
rea parkir untuk mobil maupun motor. Hal ini terjadi, mungkin karena jumlah
pengunjung yang tidak terlalu banyak dan intensitas pengunjung yang tida terlalu
sering. Sedangkan di laun-alun merdeka sangat berbanding terbalik. Kawasan alunalun merdeka dikelilingi oleh area parkir kendaraan bermotor, baik kendaraan pribadi
maupun kendaraan umum. Suasana yang seperti itu sangat terlihat crowded, sehingga
citra dai alun-alun yang merupakan suatu tempat berkumpulnya warga, sangat terlihat
sekali.

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Alun-alun tugu dan alun-alun merdeka, keduaanya memiliki fungsi yang sama yaitu sebagai
ruang berkumpul untuk masyarakat, sebagai ruang terbuka hijau yang terdapat di tengah kota, elemenelemen ruang terbuka dan sebagai landmark kota. Namun keduanya juga memiliki perbedaan, dari
segi sejarah, langgam bangunan disekitar, pola aktivitas dan pengguna alun-alun.
Tujuan mempelajari tpologi alun-alun tugu dan alun-alun merdeka yaitu untuk mengetahui
dan mempelajari tipe-tipe dan karakterisik dari kedua alun-alun tersebut. Sedangkan tujuan
mempelajari morfologi alun-alun tugu dan alun-alun merdeka yaitu untuk mempelajari dan
mengetahui perkembangan kedua alun-alun tersebut mulai dari dulu awal terbentuknya sampai
keadaan saat ini.

DAFTAR PUSTAKA