Anda di halaman 1dari 17

Proteksi Differensial Busbar

oleh Mas Bejo Juli 5, 2014

Proteksi Differensial Busbar


Prinsip kerja proteksi diferensial busbar menggunakan metode Merz-Price Circulating Current.
Semua arus yang masuk dan keluar dari busbar dibandingkan satu sama lain. Pada kondisi sistem
normal atau terjadi gangguan di luar zona proteksi busbar, tidak ada resultan arus yang mengalir
ke relai diferensial busbar sehingga relai tidak bekerja. Namun sebaliknya apabila terjadi
gangguan di dalam zona busbar, maka akan timbul resultan arus yang besar dan mengalir ke relai
diferensial busbar sehingga relai bekerja.

Prinsip Kerja Proteksi Differential Busbar


Komponen yang menyusun suatu sistem proteksi diferensial busbar adalah :
1.
Bus
Zone
Bus zone merupakan bagian dari diferensial busbar yang berfungsi untuk menentukan busbar
yang terganggu. Apabila Gardu Induk mempunyai lebih dari satu busbar, maka sistem proteksi
busbar di GI tersebut mempunyai beberapa zona proteksian tergantung dari jumlah busbar yang
dimiliki (satu zona mengamankan satu busbar), seperti pada Gambar diatas ,Bus zone 1 meliputi
CT a, CT b, dan CT c, sedangkan untuk Bus zone 2 meliputi CT d, CT e dan CT f.
2.
Check
Zone
Check zone berfungsi untuk memastikan bahwa relai proteksi busbar akan bekerja dengan benar
pada saat terjadi gangguan internal dan tidak akan bekerja pada saat gangguan eksternal. Check
zone bekerja dengan cara membandingkan semua arus pada bay yang tersambung dalam gardu
induk tanpa membandingkan arus yang ada pada bus coupler,seperti Gambar diatas,Check Zone
meliputi CT g, CT h, CT j, dan CT k.
Prinsip kerja proteksi diferensial busbar menggunakan metode Merz-Price Circulating Current.
Semua arus yang masuk dan keluar dari busbar dibandingkan satu sama lain

Proteksi dan Kontrol Busbar TT dan TET


oleh Mas Bejo Juli 4, 2014
Busbar merupakan bagian utama dalam suatu gardu induk yang berfungsi sebagai tempat
terhubungnya semua bay yang ada pada gardu induk tersebut, baik bay line maupun bay trafo.

Umumnya gardu induk didesain dengan konfigurasi 2 busbar (double busbar), namun juga masih
terdapat gardu induk yang memiliki satu busbar (single busbar).
Sistem gardu induk beroperasi pada beberapa level tegangan. Level tegangan ini dikelompokkan
menjadi 2 bagian yaitu tegangan ekstra tinggi dan tegangan tinggi. Gardu induk yang beroperasi
pada level tegangan 500 kV dan 275 kV disebut sebagai GITET (Gardu Induk Tegangan Ekstra
Tinggi), sedangkan gardu induk yang beroperasi pada level tegangan 150 kV dan 70 kV disebut
sebagai GI (Gardu Induk). GITET dibangun dengan konfigurasi sistem satu setengah PMT,
sedangkan GI umumnya menggunakan konfigurasi 1 breaker (single breaker). Namun, pada
beberapa GI yang tersambung langsung dengan pembangkit juga menggunakan konfigurasi
sistem satu setengah PMT.
Gardu Induk satu setengah PMT memiliki bagian utama yang disebut sebagai diameter yang
berfungsi untuk menghubungkan 2 busbar pada sistem gardu induk satu setengah PMT tersebut.
Diameter dilengkapi dengan 3 buah Pemutus Tenaga (PMT), di antaranya : PMT busbar A (PMT
A), PMT busbar B (PMT B) dan PMT pengapit (PMT AB).

Busbar pada Gardu Induk Tegangan Tinggi


Dalam pengoperasiannya, busbar dan diameter tidak terlepas dari kondisi abnormal yang disebut
sebagai gangguan. Gangguan yang terjadi pada busbar dan diameter adalah gangguan yang
bersifat destruktif. Apabila terjadi gangguan pada busbar atau diameter, maka kemungkinan
terjadi kerusakan pada peralatan instalasi yang sangat besar. Di samping itu, keandalan sistem
dalam menyalurkan pasokan daya juga akan terganggu. Proteksi busbar/diameter adalah suatu
sistem proteksi yang berperanan penting dalam mengamankan gangguan yang terjadi pada
busbar atau diameter. Sistem proteksi ini harus bekerja secara sensitif, selektif, cepat dan harus
stabil untuk gangguan yang terjadi di luar daerah proteksian busbar atau diameter.
Sistem proteksi busbar dan diameter merupakan suatu sistem kolektif yang meliputi : trafo arus
(CT) / trafo tegangan (PT), relai proteksi, pemutus tenaga (PMT), catu daya dan rangkaian
pengawatannya.

Daerah kerja proteksi busbar adalah daerah di antara semua trafo arus (CT) bay yang tersambung
di busbar tersebut. Sistem proteksi busbar harus bekerja tanpa tunda waktu (instantaneous)
apabila terjadi gangguan di dalam zona proteksiannya (area warna hijau) seperti diperlihatkan
pada Gambar di bawah. Namun, untuk gangguan yang terjadi di luar zona proteksiannya (di luar
area warna hijau), proteksi busbar tidak boleh bekerja (relai harus stabil).

Daerah Proteksi Busbar


Proteksi diameter memiliki daerah kerja yang meliputi daerah di antara CT dalam satu diameter
yang sama seperti diperlihatkan Gambar Berikut

Daerah Proteksi Busbar dan Diameter


Dalam pengoperasiannya, busbar dan diameter tidak terlepas dari kondisi abnormal yang disebut
sebagai gangguan. Gangguan yang terjadi pada busbar dan diameter adalah gangguan yang
bersifat destruktif. Apabila terjadi gangguan pada busbar atau diameter, maka kemungkinan
terjadi kerusakan pada peralatan instalasi yang sangat besar
Refferensi :
Buku Petunjuk Batasan Operasi dan Pemeliharaan Peralatan Penyaluran Tenaga Listrik. Proteksi dan Kontrol
Busbar. SK114 No 7-22/HARLUR-PST/2009. Perusahaan Listrik Negara.

Iwandy Sagala (Pend.Teknik Elektro Unimed)

Home

JURNAL PROTEKSI 1

JURNAL PROTEKSI 2

Rabu, 06 Juni 2012


PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK 2
ANALISIS SIMULASI PROTEKSI DIFFERENSIAL
SEBAGAI PENGAMAN BUS BAR MENGGUNAKAN MATLAB

IWANDY SAGALA
5111131005
JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

A. PENDAHULUAN
Hal yang paling penting untuk menerapkan proteksi pada bus bar adalah
memiliki security dan dependability yang baik. Security adalah kemampuan relai
proteksi untuk tidak memberikan
perintah operasi/trip kepada circuit breaker untuk gangguan eksternal.
Dependabilty adalah
kemampuan relai untuk memberikan perintah operasi/trip untuk gangguan internal
yang terjadi
pada zona proteksinya

Relai Proteksi Differensial pada Bus Bar


Konsep dasar relai proteksi differensial pada busbar merupakan pengunaan
hukum kirchoff
pertama. Jumlah arus yang terhubung pada satu zona proteksi harus nol. Jika arus
tidak nol maka

terjadi gangguan internal Dengan kata lain jumlah semua arus yang mengalir
menuju zona proteksi (arus positip) harus sama dengan arus yang mengalir
meninggalkanzona proteksi (arus negatip) pada setiap waktu. Zona proteksi
differensial dapat direpresentasikan dengan tiga besaran
, seperti pada Gambar 1 :

Gambar 1. Prinsip dasar proteksi pada bus bar

Dimana:
Iin = total arus yang mengalir menuju bus bar
Iout = total arus yang mengalir meninggalkan bus bar
Id = arus differensial (selisih antara arus yang menuju dengan yang meninggalkan
bus bar)

Berdasarkan Gambar 1., gangguan internal terjadi (gangguan yang terjadi


dalam zona proteksi nya) apabila Id lebih besar dari nilai setting (nilai ambang
batas) maka relai differensial
memberikan perintah trip. Sebaliknya apabila Id mendekati nol maka tidak terjadi
gangguan internal dan relai differensial tidak memberikan perintah trip. Tulisan ini
membahas penggunaan paket pemograman MATLAB untuk menggambarkan
kinerja proteksi differensial sebagai pengaman pada bus bas sistem tenaga listrik.

B. BAHAN DAN METODE

Bahan
Studi kasus yang diteliti pada tulisan ini adalah model sistem tenaga sederhana
seperti pada Gambar 2. Trafo arus (CTA dan CTB) yang dipasang bertujuan untuk

mendeteksi terjadinya gangguan di zona proteksi untuk bus bar A. Model sistem
tenaga pada Gambar 2., selanjutnya
diimplementasikan menggunakan ATPDraw yang meliputi pemodelan: sumber kirim,
sumber terima, saluran transmisi 150 kv, trafo arus, dan bus bar. data pemodelan
sistem tenaga sederhana diberikan pada tabel 1

METODE
Adapun tahapan/metode pada tulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Pembuatan model sistem tenaga dengan menggunakan ATPDraw. Pemodelan ini
mencakup:
sumber tegangan kirim, sumber teganga terima (beban), impedansi sumber,
impedansi saluran
menggunakan parameter sistem tenaga pada tabel 1. Gambar pemodelan sistem
tenaga sederhana ditunjukan pada Gambar 3.

2. Pembuatan model instrumen ukur (trafo arus) denganmenggunakan ATP-EMTP.


Pembuatan
pemodelan trafo arus harus berdasarkan grafik karakteristik arus dan tegangan dari
suatu trafo arus tersebut (Folker.1999, Sawko.2003). Gambar 4. menunjukan kurva
karakteristik untuk trafo arus dengan rasio 600/5 ampere yang digunakan pada
studi kasus ini.

3. Mensimulasikan gangguan hubung singkat 3 fasa. Arus gangguan simulasi


selanjutnya di ukur pada elemen differensial yang selanjutnya akan diolah
menggunakan algoritma proteksi differensial menggunakan paket pemograman
MATLAB.

Algoritma Proteksi Differensial


Adapun algoritma proteksi differensial yang diterapkan pada tulisan ini seperti di
Gambarkan
pada diagram alir Gambar 5

Pada Gambar 5, arus Ia, Ib dan Ic adalah arus differensial yang mengalir pada
elemen differensial.
Arus ini selanjutnya dibaca dan dijadikan sebagai masukan pada algoritma
differensial. Besarnya arus differensial tersebut selanjutnya dibandingkan dengan
arus setting, dalam studi kasus ini arus
setting sebesar 1.2 Ampere. Apabila salah satu arus differensial baik arus fasa a,
fasa b maupun fasa c lebih besar dari pada arus setting, maka diindikasikan terjadi
gangguan internal. Maka tugas relai selanjutnya adalah memberitahukan/memberi
perintah kepada pemutus (CB) untuk membuka kontak pemutus sehingga bus bar
yang terganggu terpisah/lepas dari sistem. Dengan demikian pencegahan
terjadinya perluasan gangguan dapat diminimalisir.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Algoritma pada Gambar 5 telah diuji dengan berbagai arus gangguan hubung
singkat off line yang didapat dari simulasi menggunakan ATPDraw. Kinerja yang duji
adalah selektifitas dan tanggap waktu dari relai differensial tersebut.

Selektifitas Relai differensial


Gambar 6 menunjukan sinyal arus yang terbaca di elemen differensialnya
dan grafik status relai. Untuk selang waktu 0 s sampai dengan 0.02 s elemen
differensial merasakan arus lebih kecil dari nilai setting arus differensialnya (kecil
dari 1.2 Ampere). Pada selang waktu ini status relai terlihat menunjukan logika
rendah mengindikasikan tidak adanya gangguan internal. Untuk selang waktu dari
0.02 s sampai dengan 0.1 detik, diciptakan suatu gangguan internal hubung singkat
3 fasa.

Akibat adanya gangguan internal hubung singkat tersebut arus di elemen


differensial menjadi lebih besar dan melebihi nilai setting differensial (lebih besar
dari 1.2 Ampere). Untuk selang yang sama terlihat bahwa status relah berubah dari
logika rendah menjadi logika tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa relai differensial
merasakan adanya gangguan internal dan relai
memberikan perintah pada pemutus untuk membuka kontaknya. Dari grafik status
relai pada
Gambar 6 terlihat bahwa algoritma differensial yang disimulasikan pada studi kasus
ini memiliki
selektifitas yang baik yaitu, dapat membedakan ada atau tidaknya gangguan
internal.

Tanggap Waktu Relai


Kinerja kedua yang juga dibahas pada tulisan ini adalah tanggap waktu relai.
Tanggap waktu
relai adalah waktu yang dibutuhkan oleh relai untuk mengenali adanya gangguan
internal. Dari

grafik status relai pada Gambar 6 terlihat bahwa relai differensial memiliki tanggap
waktu relai
yang sangat cepat. Untuk gangguan yang disimulasikan dimulai terjadi pada detik
ke - 0.02 s
terlihat bahwa status relai berubah dari logika rendah ke logika tinggi hampir
bersamaan dengan
detik 0.02 s tersebut. Ini mengindikasikan algoritma relai differensial yang
disimulasikan
memiliki tanggap waktu relai yang sangat cepat, yaitu kurang dari 40 ms (2 siklus).

KESIMPULAN
Dari tulisan ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Penggunaan paket pemograman MATLAB untuk mensimulasikan prinsip kerja
relai proteksi differensial sebagai pengaman bus bar memberikan hasil yang baik.
2. Relai differensial yang dimodelkan memiliki kriteria relai yang cukup baik.
Memiliki
selektifitas yang baik dan tanggap waktu relai yang sangat cepat (kurang dari 40
ms).
Diposkan oleh Iwandy Sagala (Elektro Unimed) di 20.34
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
Posting Lama Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

gambar

Cari Blog Ini

Pengikut
Total Tayangan
Laman
722

Mengenai Saya

Arsip Blog

2012 (3)
o

Juni (1)

Iwandy Sagala (Elektro


Unimed)

PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK 2

o Mei (2)

Lihat profil lengkapku


Template Awesome Inc.. Gambar template oleh loops7. Diberdayakan oleh Blogger.
http://iwandy.blogspot.com/2012/06/proteksi-sistem-tenaga-listrik-2.html#more

Pengertian

Relai

Differensial

Relay differensial merupakan suatu relay yang prinsip kerjanya berdasarkan kesimbangan
(balance), yang membandingkan arus-arus sekunder transformator arus (CT) terpasang pada
terminal-terminal peralatan atau instalasi listrik yang diamankan. Penggunaan relay differensial
sebagai relay pengaman, antara lain pada generator, transformator daya, bus bar, dan saluran
transmisi. Relay differensial digunakan sebagai pengaman utama (main protection) pada

transformator daya yang berguna untuk mengamankan belitan transformator bila terjadi suatu
gangguan. Relay ini sangat selektif dan sistem kerjanya sangat cepat.
Prinsip Kerja Relai Differensial
Sebagaimana disebutkan diatas, Relay differensial adalah suatu alat proteksi yang sangat cepat
bekerjanya dan sangat selektif berdasarkan keseimbangan (balance) yaitu perbandingan arus
yang mengalir pada kedua sisi trafo daya melalui suatu perantara yaitu trafo arus (CT). Dalam
kondisi normal, arus mengalir melalui peralatan listrik yang diamankan (generator, transformator
dan lain-lainnya). Arus-arus sekunder transformator arus, yaitu I1 dan I2 bersikulasi melalui jalur
IA. Jika relay pengaman dipasang antara terminal 1 dan 2, maka dalam kondisi normal tidak
akan ada arus yang mengalir melaluinya. Dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Gambar 1 Pengawatan Dasar Relay Differensial


Jika terjadi gangguan diluar peralatan listrik peralatan listrik yang diamankan (external fault),
maka arus yang mengalir akan bertambah besar, akan tetapi sirkulasinya akan tetap sama dengan
pada kondisi normal, sehingga relay pengaman tidak akan bekerja untuk gangguan luar tersebut.
Jika gangguan terjadi didalam (internal fault), maka arah sirkulasi arus disalah satu sisi akan
terbalik, menyebabkan keseimbangan pada kondisi normal terganggu, akibatnya arus ID akan
mengalir melalui relay pengaman dari terminal 1 menuju ke terminal 2. Selama arus-arus
sekunder transformator arus sama besar, maka tidak akan ada arus yang mengalir melalui
kumparan kerja (operating coil) relay pengaman, tetapi setiap gangguan (antar fasa atau ke
tanah) yang mengakibatkan sistem keseimbangan terganggu, akan menyebabkan arus mengalir
melalui Operating Coil relay pengaman, maka relai pengaman akan bekerja dan memberikan
perintah putus (tripping) kepada circuit breaker (CB) sehingga peralatan atau instalasi listrik
yang terganggu dapat diisolir dari sistem tenaga listrik. Seperti gambar dibawah ini :

Gambar 2 Sistem Pengaman Relay Differensial


Tinjauan Beberapa Masalah Terhadap Relay Differensial
1. Karakteristik CT
Relay differensial dalam operasinya bahwa dalam keadaan normal atau terjadi gangguan diluar
daerah pengamanannya arus pada relay sama dengan nol. Karena itu kemungkinan salah kerja
dari relay differnsial dapat terjadi, arus yang dapatmenyebabkan relay salah kerja tersebut
dinamakan arus ketidakseimbangan. Bila suatu arus yang besar mengalir melalui suatu trafo arus
maka arus pada terminal sekunder tidak lagi linear terhadap arus primer. Hal ini disebabkan
kejenuhan pada intinya. Pada relay differensial trafo arusnya harus identik, namun kejenuhan
intinya tidak dapat sama betul. Hal ini disebabkan perbedaan beban dari masingmasing trafo arus
tersebut.
2. Karakteristik Trafo Arus pada relay differensial, seperti gambar berikut ini :

Gambar 3 Karakteristik Trafo Arus (CT) Pada Relay Differensial


3. Perubahan Sadapan Berbeban

Pada saat ini umumnya transformator sudah dilengkapi dengan pengubah sadapan berbeban
dimana tap input dapat dirubah untuk mendapatkan output yang dikehendaki. Penyetelan dari
trafo-trafo arus pada transformator daya telah diset pada tegangan nominal dari transformator
daya tersebut. Dengan demikian bila terjadi gangguan pada waktu operasi transformator tersebut,
maka tegangan pada sisi primernya harus dirubah agar tegangan pada sisi sekundernya tetap.
Oleh karena itu harga-harga tap trafo yang telah diset pada tegangan nominalnya tadi tidak akan
tepat lagi. Hal tersebutlah yang menyebabkan terjadinya arus ketidak seimbangan yang dapat
membuat relay salah kerja.
4. Adanya Arus Serbu Magnetisasi (Magnetising Inrush Current) Pada Trafo
Jika trafo daya dihubungkan kesuatu sumber tenaga (jaringan) maka pada sisi primernya akan
terjadi proses transient yaitu menaiknya arus yang dinamakan arus serbu magnetisasi
(Magnetising Inrush Current) yang besarnya dapat mencapai 8 sampai 30 kali dari arus beban
penuh yang terjadi dalam waktu relative cepat. Peristiwa ini dapat membawa pengaruh terhadap
kerja suatu relay kendatipun pada daerah pengamanan tidak terjadi kesalahan.
Relay Differensial Persentase
Untuk mengatasi masalah (a) dan (b) diatas, maka relay differensial dilengkapi dengan kumparan
kerja dan restraining coil (kumparan penahan) atau lebih dikenal dengan Relay Differensial
Persentase (Relay Differensial Bias). Dengan melakukan pembaharuan relay defferensial yang
berdasarkan Prinsip Sirkulasi arusnya adalah untuk mengatasi gangguan yang timbul diluar dari
pada perbedaan dalam hal ratio terhadap nilai arus hubung singkat External yang tinggi. Relay
differensial dengan persentase memiliki Coil (belitan) peredam tambahan yang dihubungkan
dengan pilot wire seperti gambar berikut ini :

Gambar 4 Relay Differensial Persentase (Relay Differensial Bias).


Didalam relay ini kumparan kerjanya dihubungkan dengan titik tengah kumparan penahan
(peredam), total jumlah impedansi belitan didalam kumparan peredam sama dengan jumlah
ampere belitan yang ada pada kedua bagian kumparan yaitu I1N/2 + I2/N yang memberikan
rata-rata arus peredam sebesar (I1 + I2)/2 di dalm belitan N. Untuk gangguan luar I1 dan I2
semakin besar dan karenanya kopel peredam bertambah besar yang bisa mencegah kesalahan
operasi.
Karakteristik operasi dari relay yang demikian diberikan pada gambar dibawah ini :

Gambar 5 Karakteristik Operasi Dari Sebuah Relay Differensial


Ratio arus perendaman rata-rata dari arus operasi differensial persentasenya bisa ditetapkan,
maka relay tersebut dinamakan relay differensial dengan persentase. Relay tersebut juga disebut
relay differensial bias, sebab relay ini dilengkapi dengan flux tambahan. Persentase relay
differensial bias memiliki karakteristik pick-up yang semakin tinggi. Karena besarnya arus yang
lewat semakin bertambah, maka arus peredamannya semakin bertambah.

http://ahmadelc.blogspot.nl/2014/01/dasar-dasar-proteksi-stl-relai_13.html