Anda di halaman 1dari 10

PEMBAHASAN FIX

Praktikum kali ini adalah pembuatan tablet salut film. Praktikum ini
bertujuan untuk memahami pembuatan tablet salut film. Tablet salut film adalah
tablet kempa yang disalut dengan salut tipis, berwarna atau tidak, dari bahan
polimer yang larut dalam air yang cepat hancur di dalam saluran cerna.
Perbedaannya dengan salut gula adalah tablet salut gula merupakan tablet kempa
yang disalut dengan beberapa lapis lapisan gula baik berwarna maupun tidak.
Supaya dapat menahan bantingan selama proses penyalutan, tablet inti harus
memiliki resistensi dan kekerasan yang cukup di dalam panci penyalut yang
berputar terus menerus selama proses berlangsung. Bentuk tablet inti yang ideal
untuk disalut ialah: sferis, elip, bikonvek bulat atau bikonvekoval . Tinggi antara
permukaan tablet sebisa mungkin agak rendah. Pada bentuk ini, sesudah dibasahi
dengan cairan penyalut,kemungkinan terjadi lengketan hanya pada satu titik
tertentu saja dari sisi tablet dan pelekatan ini hanya akan berlangsung selama
periode waktu yang relatif singkat karena segera terlepas lagi pada waktu gerakan
panci penyalut.
Tablet inti (core) yang akan disalut haruslah memenuhi persyaratan
tertentu, karena selama proses penyalutan akan terjadi gerakan dan bantingan
tablet inti secara terus menerus selama beberapa waktu. Kerapuhan tablet inti
haruslah

sekecil

mungkin.

Kerapuhan

yang

tinggi

akan

menyebabkan

terbentuknya partikel halus dan kasar yang dapat menempel pada permukaan
tablet selama proses penyalutan, tempelan tersebut dengan sendirinya akan
menyebabkan cacat pada permukaan tablet yang disalut. Tablet inti harus hancur
dengan cepat di dalam lambung atau usus sesudah penyalut terlarut (untuk tablet
yangentero soluble). Pada umumnya tablet inti yang disalutakan hancur lebih
lama jika dibandingkan dengan tablet yang tidak disalut.Perubahan waktu hancur
tersebut disebabkan karena pada waktu penyalutan, pori pada permukaan tablet
ditutupi oleh larutan penyalut sehingga akan memperlambat penetrasi cairan pada
waktu hancur.

Tujuan penyalutan yang dilakukan pada percobaan ini adalah supaya


sediaan lebih menarik dan disukai konsumen. Kelebihan salut film disbanding
dengan salut gula ialah lebih tahan terhadap kerusakan akibat goresan, bahan yang
dibutuhkan lebih sedikit, dan waktu pembuatannya lebih sedikit. Secara umum
terdapat beberapa keuntungan penggunaan teknologi film coating, yaitu:
1. Waktu proses yang lebih cepat
2. Pengurangan luas area produksi
3. Peningkatan berat yang minimum
4.Otomatisasi
Seiring dengan perkembangan teknologi, proses penyalutan lapis tipis dapat
diotomatisasi Dalam praktikum ini dilakukan penyalutan terhadap 200 tablet
dengan berat totalnya sebesar 31,54 gram.
Langkah pertama adalah membuat larutan film untuk menyemprot
tablet,yaitu dengan mencampurkan sebanyak 10 gram opadry dalam etanol 100
mldan menambahkan pewarna hijau secukupnya. Opadry adalah film pelapis yang
menggabungkan polimer, plastisizer, dan pigmen seperti yang dipersyaratkan
dalam konsentrat kering. Film ini memberikan kemampuan yang sangat baik
termasuk membentuk definisi logo tajam, kekuatan tarik tinggi, dan adhesi sifat
yang sangat baik, semua yang membantu untuk menghasilkan menarik, pelapis
elegan pada berbagai core tablet yang dapat digunakan pada pelarut organik
maupun air. Larutan yang dibuat harus memilki viskositas yang tepat, yaitu tidak
terlalu pekat karena dapat membuat lapisan terlalu tebal dan dapat terjadi
pelengketan.Semua komponen dalam larutan film mempunyai peranan dan
pengaruh terhadap tablet salut ini, yaitu:
a. Polimer
Faktor kelarutan dalam pelarut pembawa merupakan tinjauan
utama dalam pemilihan polimer. Pertimbangan lain yang perlu
diperhatikan dalam pemilihan polimer ialah pengaruh polimer tersebut
terhadap stabilitas bahanaktif, bersifat inert, sifat mekanik polimer, serta
sifat estetika polimer sesudah penyalutan. Dalam percobaan ini polimer

yang digunakan telah digabungkan dengan plastisizer dengan nama


opadry.
b. Pelarut (pembawa)
Dalam memilih pelarut atau sistem campuran pelarut, ada beberapa
faktor yang harus yang dipertimbangkan. Foktor utama yang perlu
dipertimbangkann ialah kemampuan pelarut untuk melarutkan polimer
yangakan digunakan. Pelarut dalam pembuatan tablet salut film berfungsi
untuk menghantarkan atau menyampaikan partikel penyalut ke permukaan
tablet yang akan disalut. Pelarut yang digunakan adalah etanol. Etanol
dapat melarutkan opadry sehingga dapat digunakan sebagai pembawa
dalam salut film ini. Selain itu etanol juga bersifat mudah menguap
sehingga akan hilang dalam proses penyalutan
c. Plastisizer
Plastisizer merupakan bahan yang dapat meningkatkan elastisitas
dan fleksibilitas dari penyalut. Penggunaan polimer saja dalam
formula film coating terkadang akan dihasilkan lapisan tipis yang rapuh,
mudah pecah,mudah terlepas dari sediaan, dan sebagainya. Kekurangan
tersebut dapat ditutupi dengan menggunakan plasticizer agar lapisan tipis
lebih fleksibel dan kuat.
d. Zat Warna
Zat warna yang digunakan dalam praktikum ini adalah pewarna
hijau.Pemakaian

atau

penambahan

zat

warna

bertujuan

untuk

meningkatkan nilai estetika sediaan dan untuk mempermudah identifikasi


sediaan (membedakan obat yang satu dengan yang lain).
Setelah dibuat larutam film, kemudian larutan dimasukkan ke dalam spray
gun. Spray gun yang digunakan menggunakan prinsip atomisasi udara. Pada
sistem penyemprotan atomisasi udara, larutan penyalut dengan tekanan rendah
melewati celah. Pada waktu larutan penyalut melewati celah, dalam waktu yang
bersamaan datang aliran udara dengan tekanan tinggi baik melalui celah atau
melalui saluran lain di luar celah. Hal tersebut menyebabkan larutan penyalut

terdispersi menjadi partikel halus. Derajat atomisasi dipengaruhi oleh bentuk


celah dan tekanan udara yang menyebabkan terjadinya atomisasi pada celah.
Keuntungan pemakaian prinsip atomisasi udara adalah karena baik celah ataupun
jumlah cairan yang disemprotkan dapat diatur misalnya dengan pompa peristaltik.
Keuntungan lain dari sistem ini ialah pembiayaan yang relatif murah .Kemudian
tablet dimasukkan ke dalam panci konvensional yang berbentuk buah pear. Di
dalam panci yang digunakan terdapat Baffle atau penyangga. Pemasangan
penyangga dalam panci penyalut bertujuan untuk memperbaiki gerakan tablet di
dalam panci selama proses penyalutan. Hal tersebut akan meningkatkan efisiensi
dan kualitas serta uniformitas penyalutan. Jumlah, bentuk, dan ukuran penyangga
dalam panci penyalut tergantung pada produsen dan pemakai perlengkapan
penyalut. Desain bentuk dan ukuran penyangga yang akan dipasang erat
hubunganya dengan persyaratan tablet, yang meliputi: bentuk, ukuran, kerapuhan,
atau jenis panic yang digunakan. Kemudian panci diputar dengan kecepatan yang
sesuai sambild ipanaskan dengan cara memberikan udara panas dan divakum
untuk menarik atau menghilangkan debu-debu yang terdapat pada panci. Setelah
panas,dilakukan penyeprotan dengan spray gun yang telah disiapkan.
Proses penyemprotan dilakukan secara intermiten yaitu dengan cara
menyemprot dan mengeringkan yang dilakukan berselang seling sampai terbentuk
salut film yang sempurna. Proses pemanasan dilakukan untuk mengeringkan
tablet supaya tidak terjadi penempelan. Namun panci tidak boleh terlalu panas
karena dapat menyebabkan permukaan tablet menjadi kasar. Tablet disemprot
terus hingga warna yang melapisi tablet merata, yang dapat diamati dengan kasat
mata. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penyalutan diantaranya adalah
ukuran partikel semprotan, dengan adanya tekanan maka partikel yang terbentuk
akan lebih halus. Selain itu faktor lainnya adalah jarak antara tablet dengan spray
gun. Pemanasan memegang peranan penting dalam proses penyalutan. Dan faktor
terakhir yang penting adalah proses exhauster (penyedot) yang memungkinkan
penghilangan debu dari panci penyalut.

Dari proses coating atau penyalutan tablet dengan larutan polimer 30 g


Opadry yang memiliki komposisi polimer, plasticizer, dan pigmen atau pewarna
yang dilarutkan dalam 300 ml alcohol dan 100 ml aquadest, dapat dihasilkan
sebanyak 200 tablet bersalut berwarna hijau terang. Tablet hasil salut ini kemudian
dievaluasi dengan dilakukan pengamatan organoleptis, penimbangan, dan uji
waktu hancur tablet. Dari pengamatan visual organoleptis tablet, diketahui bahwa
tablet berbentuk bikonkaf dengan warna hijau terang yang tidak merata. Warna
tablet yang hijau tidak merata ini disebut dengan mottling atau distribusi warna
tablet yang tidak merata, di mana salah satu sisi tablet memiliki warna yang lebih
tinggi intensitasnya atau lebih gelap dari sisi lainnya. Adanya variasi warna pada
tablet hasil penyalutan ini dapat terjadi akibat beberapa kemungkinan, antara lain
karena kurangnya larutan polimer atau coating yang di gunakan. Teknik
penyalutan perlu diperhatikan dalam hal ini. Pada tahap awal penyemprotan
larutan coating, sebaiknya kekuatan penyemprot (sprayer) yang digunakan tidak
terlalu besar tetapi merata, karena tahap awal proses coating atau yang disebut
dengan tahap coating dan adherence ini hanya bertujuan untuk memberikan basis
coating atau dasar pada permukaan tablet. Pada tablet yang memiliki banyak pori
atau cukup rapuh konsistensinya, proses ini harus benar-benar diperhatikan.
Volume penyemprotan pada jenis tablet seperti ini sebaiknya tidak lebih dari 100
mm3 per menit untuk setiap spray gun. Setelah basis terbentuk, barulah kekuatan
dan kecepatan penyemprotan ditingkatkan dan dilanjutkan dengan keadaan yang
tetap seperti itu hingga tablet tersalut dengan merata.
Hal-hal lain yang perlu diperhatikan dalam proses penyalutan disamping
teknik penyemprotan antara lain suhu dan pergerakan tablet di dalam coating pan.
Suhu selama penyemprotan harus dijaga agar tetap konstan selama proses
berlangsung. Suhu yang dianjurkan adalah sekitar 42oC, di mana suhu tersebut
ideal untuk penguapan pelarut polimer setelah larutan polimer coating
disemprotkan pada permukaan tablet. Setelah pelarutnya menguap, akan tertinggal
padatan polimer pada permukaan tablet sehingga akhirnya terbentuk lapisanlapisan film pada permukaan tablet. Sebelum larutan coating disemprotkan, tablet
yang akan disalut juga harus terlebih dahulu dipanaskan pada suhu tersebut untuk

membantu proses penempelan (adherence) polimer pada permukaan tablet. Suhu


yang tidak dijaga konstan akan menyebabkan pelarut sulit untuk menguap
sehingga lapisan film yang diharapkan tidak terbentuk pada permukaan tablet.
Pergerakan tablet di dalam coating pan juga harus diperhatikan selama proses
pemyalutan, karena hal ini akan mempengaruhi distribusi larutan polimer yang
dsemprotkan pada tablet. Tablet yang bergerak di dalam coating pan akan
bergesekan satu sama lain dan saling mentransfer larutan coating pada tablet
lainnya. Kecepatan coating pan yang terlalu rendah dapat menyebabkan
penyemprotan larutan coating tidak merata dan akhirnya dapat dihasilkan tablet
yang mengalami mottling. Selain ketiga hal tersebut, hal lainnya yang dapat
mempengaruhi distribusi warna dan lapisan film dalam proses penyalutan adalah
spray gun. Posisi spray gun selama larutan polimer disemprotkan harus tepat dan
secara efektif menyebar pada seluruh tablet yang akan disalut atau dapat
menjangkau luas permukaan yang tepat pada bed di permukaan bagian dalam
coating pan. Spray gun harus berada pada posisi yang tidak terlalu jauh ataupun
terlalu dekat dari mulut coating pan untuk memperoleh kondisi yang ideal
tersebut. Selain hal-hal tersebut di atas, homogenitas larutan polimer yang akan
digunakan

selama

penyalutan

juga harus

diperhatikan.

Harus

terdapat

perbandingan komposisi padatan polimer dan cairan atau pelarut yang seimbang
di dalam larutan agar diperoleh tablet salut yang berkualitas baik. Komposisi
tersebut juga harus selalu dijaga agar tetap perbandingannya saat disemprotkan
atau keluar dari spray gun dengan cara mengaduk larutan polimer sesekali selama
larutan digunakan dalam proses penyalutan.
Permasalahan lain yang ditemukan pada tablet hasil penyalutan adalah
bobot tablet yang berkurang setelah penyalutan dan waktu hancur yang jauh lebih
cepat dari tablet hasil penyalutan. Dari hasil evaluasi bobot tablet hasil salut,
diperoleh bobot 200 tablet salut adalah 27,864 g atau berkurang 3,676 g dari
bobot awal tablet sebelum disalut. Sementara itu, waktu hancur tablet sebelum
disalut adalah 2 menit 10 detik, sedangkan setelah disalut waktu hancur tablet
menjadi 10,53 detik. Padahal seharusnya, salut polimer Opadry ini tidak akan
banyak mengubah atau memberikan pengaruh pada waktu hancur tablet yang

disalut. Bobot tablet setelah penyalutan umumnya akan bertambah 2-3 % dari
bobotnya sebelum disalut. Pengurangan bobot ini kemungkinan disebabkan tablet
yang hancur selama proses penyalutan di dalam coating pan. Hancurnya tablet
hasil salut ini ditunjukkan juga dengan beberapa tablet hasil salut yang mengalami
core erosion dan edge chipping. Kedua permasalahan ini timbul karena beberapa
kemungkinan, antara lain kecepatan coating pan yang terlalu tinggi, kecepatan
penyemprotan yang terlalu rendah, atau komponen disintegran yang mengalami
swelling prematur selama proses penyalutan. Permasalahan ini dapat diatasi
dengan cara meningkatkan kecepatan coating pan dan kecepatan penyemprotan
atau dengan mengganti disintegran yang digunakan dengan super disintegran yang
memiliki sifat hidrofil yang lebih rendah. Tablet yang mengalami kecacatankecacatan inilah yang juga menyebabkan waktu hancur tablet yang jauh lebih
cepat dibandingkan pada tablet sebelum disalut. Solusi lain dari permasalahan
tersebut dapat juga dengan mengubah bentuk awal tablet yang akan disalut agar
tidak mudah hancur jika mengalami gesekan, yaitu dengan mempertumpul bagian
sekitar pinggir tablet atau mempertebal bagian tengah tablet dengan tetap
mempertahankan kedua sisi bikonkafnya.
Terdapat beberapa uji sebelum penyalutan tablet dilakukan dan setelah
penyalutan tablet dilakukan. Hal ini bertujuan untuk melihat sudah memenuhi
standar ataukah belum sediaan tablet yang akan disalut dan sudah memenuhi
standarkah tablet salut yang telah dibuat.
Uji yang dilakukan sebelum dilakukan penyalutan terhadap tablet yaitu uji
bobot tablet terlebih dahulu. Caranya yaitu sebanyak 200 tablet ditimbang di
timbangan analitis. Dari penimbangan diperoleh bobot tablet sebelum dilakukan
penyalutan yaitu 31,54 gram.
Uji selanjutnya adalah uji friabilitas dan abrasi menggunakan alat
friabilator. Uji ini dilakukan untuk mengetahui kestabilan fisik dari suatu tablet.
Pertama tama ditimbang beberapa tablet sampai massanya minimal 6,5 gram.
Kemudian tablet tersebut dimasukkan ke dalam alat untuk menguji friabilitas.
Setelah diatur kecepatan pemutar alat friabilitas, alat tersebut dijalankan selama 4
menit. Saat alat dihidupkan tablet akan ikut bergulir dan jatuh. Setelah 4 menit,

tablet kembali ditimbang. Perbedaan massa menunjukkan bahwa tablet lecet atau
cacat. Pada penimbangan awal tercatat bahwa massa tablet sebesar 6,557 gram,
kemudian setelah diuji dengan alat friabilitas didapatkan massa tablet adalah
sebesar 6,5293 gram. Setelah itu dihitung % friabilitas dengan rumus :

Menurut persyaratan tablet yang baik harus memiliki presentase kehilangan


massa tablet kurang dari 1 %, maka tablet tersebut dinyatakan tahan terhadap
goresan ringan/ kerusakan dalam penanganan, pengemasan dan pengiriman.
Setelah dihitung dengan menggunakan rumus diatas, didapatkan bahwa persen
friabilitas adalah sebesar 0,42%. Hasil ini menunjukkan hasil yang baik karena
tablet dinyatakan tahan terhadap goresan maupun kerusakan.
Pada uji abrasi penimbangan awal tercatat bahwa massa tablet sebesar
6,5103 gram, kemudian setelah diuji dengan alat abrasi didapatkan massa tablet
adalah sebesar 6,4836 gram. Setelah itu dihitung % abrasi dengan rumus:

Menurut persyaratan tablet yang baik harus memiliki presentase kehilangan massa
tablet kurang dari 1 %, maka tablet tersebut dinyatakan tahan terhadap goresan
ringan/ kerusakan dalam penanganan, pengemasan dan pengiriman. Setelah
dihitung dengan menggunakan rumus diatas, didapatkan bahwa persen abrasi
adalah sebesar 0,41012%. Hasil ini menunjukkan hasil yang baik karena tablet
dinyatakan tahan terhadap goresan maupun kerusakan.
Uji selanjutnya yang dilakukan dalam evaluasi tablet ini adalah uji waktu
hancur atau uji disintegrasi. Tujuan dilakukannya uji ini adalah untuk melihat atau
menentukan waktu hancur dari sediaan tablet. Waktu hancur tablet adalah waktu
yang dibutuhkan untuk hancurnya tablet dalam media yang sesuai, sehingga tidak
ada bagian tablet yang tertinggal diatas kasa. Faktor-faktor yang mempengaruhi :
sifat fisik granul, kekerasan, porositas tablet & daya serap serbuk. Penambahan
tekanan pada waktu penabletan menyebabkan penurunan porositas dan menaikkan
kekerasan tablet. Dengan bertambahnya kekerasan tablet akan menghambat

penetrasi cairan ke dalam pori-pori tablet sehingga memperpanjang waktu hancur


tablet. Bagi tablet, langkah penting pertama sebelum melarut adalah pecahnya
tablet menjadi partikel-partikel kecil atau granul agar komponen obat sepenuhnya
tersedia untuk diabsorpsi dalam saluran pencernaan, langkah ini disebut
disintergrasi atau daya hancur. Dalam hal ini daya hancur tablet memungkinkan
partikel obat menjadi lebih luas untuk bekerja secara lokal dalam tubuh.
Pada uji ini menggunakan alat disintegration tester dimana air yang
digunakan yaitu bersuhu 370C. Dipilih suhu 37C karena suhu tersebut mirip
dengan suhu tubuh normal manusia. Sehingga hasil pengujian waktu hancur alat
kemungkinan besar akan persis dengan waktu hancur pada manusia dengan suhu
normal. Kemudian, diambil 6 tablet dan masing masing dimasukkan ke dalam
sumur sumur yang ada pada alat tersebut. Lalu alat dirunning, dan alat bergerak
naik turun sesuai dengan gerakan peristaltik usus hingga tablet hancur semua dan
dicatat waktu hancurnya. Dari percobaan yang dilakukan didapatkan waktu
hancur dari tablet tablet tersebut adalah sebesar 2 menit 10 detik. Waktu hancur
ini dapat dikatakan baik karena waktu hancur yang baik yaitu apabila tablet
hancur dalam waktu kurang dari 15 menit untuk tablet tidak bersalut.
Setelah dilakukan penyalutan dilakukan kembali uji evaluasi terhadap
tablet tersebut yaitu uji bobot tablet yang telah disalut caranya yaitu dengan
menimbang sebanyak 200 tablet yang telah disalut di neraca analitis kemudian
dilakukan perhitungan persentase massa tablet. Dari hasil penimbangan diperoleh
persentase massa tablet yang telah disalut yaitu sebesar 27,860%.
Uji selanjutnya yang dilakukan dalam evaluasi tablet ini adalah uji waktu
hancur atau uji disintegrasi. Tujuan dilakukannya uji ini adalah untuk melihat atau
menentukan waktu hancur dari sediaan tablet. Pada uji ini menggunakan alat
disintegration tester dimana air yang digunakan yaitu bersuhu 370C. Dipilih suhu
37C karena suhu tersebut mirip dengan suhu tubuh normal manusia. Sehingga
hasil pengujian waktu hancur alat kemungkinan besar akan persis dengan waktu
hancur pada manusia dengan suhu normal. Kemudian, diambil 6 tablet dan
masing masing dimasukkan ke dalam sumur sumur yang ada pada alat
tersebut. Lalu alat dirunning, dan alat bergerak naik turun sesuai dengan gerakan

peristaltik usus hingga tablet hancur semua dan dicatat waktu hancurnya. Tablet
dinyatakan hancur jika tidak ada bagian tablet yang tertinggal diatas kasa, kecuali
fragmen yang berasal dari zat penyalut. Kecuali dinyatakan lain, waktu yang
diperlukan untuk menghancurkan seluruh tablet tidak lebih dari 15 menit untuk
tablet tidak bersalut dan tidak lebih dari 60 menit untuk tablet bersalut gula dan
bersalut selaput. Dari percobaan yang dilakukan didapatkan waktu hancur dari
tablet tablet tersebut adalah sebesar 10, 53 detik. Waktu hancur ini dapat
dikatakan baik karena waktu hancurnya memenuhi persyaratan yaitu tidak lebih
dari 60 menit untuk tablet bersalut selaput.