Anda di halaman 1dari 13

GAMBARAN UMUM

tentang
PROGRAM IMUNISASI

Imunisasi dimulai ..
Pemerintah Belanda Tahun 1851 mendirikan sekolah dokter

Jawa (dokter jawa school) di Batavia, pimpinan Dr. P Bleeker.


Siswa hanya 12 orang. Lama pendidikan 2 tahun
Tujuannya untuk mendidik menjadi Juru Cacar
(vaccinenateur)
Pada tahun 1856, lulus 11, siswa memulai mengajarkan
kepada masyarakat dan melaksanan vaksinasi Cacar di Jawa.
Tahun 1902 Sekolah dokter Jawa dirubah menjadi STOVIA
(School Top Opleiding Voor Inlandsche Aertsen), lama
pendidikan 9 tahun
Cikal bakal kedokteran di Indonesia, berkembanglah
vaksinasi cacar.

Perkembangan imunisasi.
Tahun 1972, Indonesia berhasil

membasmi penyakit Cacar.


Mulai dikembangkan imunisasi
gabungan Cacar dan BCG, juga
dilakukan study terhadap vaksinasi TT.
Tahun 1973 mulai ditetapkan secara
nasional.
April 1974, Indonesia resmi dinyatakan
bebas cacar oleh WHO.

Perkembangan imunisasi .
Tahun 1976 mulai dikembangkan

vaksin DPT di Pulau Bangka.


Tahun 1977-78, ditentukan fase PPI
(pengembangan program imunisasi)
Tahun 1980. ditetapkan imunisasi
rutin dengan 6 antigen (BCG,
DPT,Polio, Campak, TT dan DT)
Pada pelita IV (1985-1990) vaksinasi
Cacar dihentikan.

Keberhasilan dan Kegiatan


imunisasi
Tahun 1990, Indonesia secara

nasional telah mencapai UCI.


Komitmen global tentang Eradikasi
Polio dilakukan PIN 4 kali, 1995,
1996, 1997 dan 2002
Sub PIN antara 1999, 2002, 2005.
BIAS yang dilakukan setiap bulan
Nopember.

Pengembangan
Tahun 1993, Program imunisasi menjadi 7

antigen BCG, DPT, Polio, Campak, TT, DT


dan Hepatitis B.
Tahun 2003, mulai dikembangkan Hepatitis
B dengan Uniject menjadi Hept B PID.
Tahun 2004, dikenalkan vaksin tetravalent
kombinasi antara DPT-HB.
New vaksin JE, Hib, IVP, AI.

Vaksin program imunisasi


Vaksin berasal dari bahasa latin

Vacca = melemah
Difinisinya adalah suatu kuman /
bakteri yang sudah dilemahkan,
kemudian dimasukan kedalam tubuh
seseorang untuk membentuk
kekebalan (imunitas ) secara aktif.
Vaksin merupakan unsur biologis yang
memiliki karakteristik dalam
pananganan.

Penanganan vaksin
Cold chain Cool Chain vaccine

chain (Rantai vaksin) kegiatan meliputi ;

Pembuatan vaksin (pabrik)


Distribusi (Pengiriman)
Penyimpanan (prov, Kab/kota dan pusk)
Pemakaian vaksin (Pusk, UPS, Bides)

Dengan adanya VVM dan freeze tag

maka Paradigma penyimpanan,


pengiriman vaksin, dapat mengubah
salah pengertian bahwa makin dingin
vaksin akan semakin baik.

Cold chain terbagi menjadi 3


bagian:
equipment.

Data
Cold / freezer room
Lemari es / freezer
Cold box / VC

Data Inventory
Tool
CCEM

Cold chain
manageme
nt

Pelatihan
Penanganan Vaksin.
Stored Distribusi
Pemeliharaan L.es /
freezer

Tool
EVSM
SMS

Cold chain
technician

Pemeliharaan &
Perbaikan.
Cold room, refrig, freezer

Cold chain

Teknisi
Suku cadang
biaya

Tujuan pelatihan
Khusus

Meningkatkan kualitas program imunisasi


melalui penerapan pengelolaan rantai vaksin
dan vaksin yang memenuhi standar yang telah
ditetapkan (WHO)

Umum
Meningkatkan kualitas penanganan rantai
vaksin dan vaksin di semua tingkat puskesmas.
Meningkatkan kemampuan petugas imunisasi
dalam pemeliharaan tempat penyimpanan
vaksin.

Materi

Pengenalan Vaksin
Peralatan dan Perawatan Vaksin.
Pengelolaan vaksin
Peralatan dan Cara pemantauan suhu
Perlakukan terhadap vaksin pada
keadaan tertentu.
Perencanaan kebutuhan vaksin
Motivasi diri.
Rencana tindak lanjut.

Out put
Petugas tidak ragu-ragu dalam menentukan
vaksin mana yang boleh dan yang tidak
boleh digunakan.

Petugas mampu secara efektif dalam

menggunakan vaksin untuk mencegah


pemborosan

Petugas mampu secara benar dalam

menyimpan dan menyusun vaksin di lemari


es

Petugas mampu memelihara secara


rutin dan benar lemari es tempat
penyimpanan vaksin.

Dengan Cakupan imunisasi yang

tinggi, kualitas vaksin yang baik,


penyuntikan yang benar, dapat
mewujudkan anak bangsa yang kuat
dan sehat.