Anda di halaman 1dari 7

Latar Belakang

Dewasa ini, kesadaran masyarakat untuk melakukan gotong royong sangat kurang. Hal ini
dapat dilihat dari keadaan lingkungan yang mulai tidak terjaga kebersihannya. Sedangkan
kebersihan lingkungan hanya dapat diciptakan oleh masyarakat itu sendiri. Bantuan dana dalam
jumlah besar serta program-program tidak dapat menghasilkan perubahan tanpa keikutsertaan
masyarakat untuk menjaga lingkungan sekitar. Kebersihan lingkungan ini dapat dilakukan
dengan berbagai macam, salah satunya adalah bergotong royong.
Gotong royong adalah bekerja bersama-sama dalam menyelesaikan pekerjaan dan secara
bersama-sama menikmati hasil pekerjaan tersebut secara adil. 1 Banyak manfaat yang dapat kita
peroleh dengan melakukan gotong royong, antara lain dengan bersama-sama menjaga kebersihan
lingkungan tentu masyarakat akan terhindar dari berbagai macam penyakit, seperti wabah diare.
Selain itu juga, gotong royong dapat menciptakan semangat kebersamaan, persatuan, dan
kesatuan yang merupakan sikap dan karakter bangsa Indonesia. Suatu kegiatan tidak akan
memperoleh hasil yang maksimal dan dapat dilakukan dalam waktu yang singkat bila dikerjakan
secara individu. Oleh karena itu, gotong royong sangat diperlukan untuk memperoleh keduanya.
Kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumahnya
membuat lingkungannya terlihat begitu kumuh dan kotor. Situasi ini dapat kita temui di daerah
yang dipadati oleh penduduk, yang memiliki jarak antara satu rumah ke rumah lainnya sangat
dekat, serta hanya menyisakan sedikit lahan yang bisa dijadikan jalan untuk bisa dilewati oleh
kendaraan beroda empat. Begitu juga daerah di RW 08, kelurahan Petojo Utara, terlihat begitu
kumuh dan tidak terjaga kebersihannya. Padahal menurut Sadaton (1960: 43), syarat-syarat
halaman rumah yang sehat apabila jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain tidak boleh
terlalu dekat, rumah-rumah yang terletak di daerah yang rendah lebih baik memiliki langit-langit
yang aga tinggi, dan tidak membiarkan sampah berserakan dihalaman.
Selain lingkungan rumah yang tidak memenuhi persyaratan, MCK (Mandi Cuci Kakus) di
daerah tersebut pun tidak terawat dan kotor. Masyarakat setempat tidak lagi memperhatikan
kebersihan MCK yang sering mereka gunakan untuk melakukan aktivitas sehari-hari, seperti
mandi, mencuci, dan buang air besar maupun kecil. Mereka seenaknya menggunakan sandal
yang kotor ke dalam MCK, serta tidak adanya jadwal kebersihan untuk mengontrol kebersihan
MCK tersebut. Kumuhnya lingkungan di RW 08 tersebut menyebabkan banyaknya balita yang
menderita penyakit DBD (Demam Berdarah Dangue) dan diare.
Melihat sudah tidak terjaganya lagi lingkungan di daerah RW 08 tersebut, maka disusun
berbagai macam program yang diharapkan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan untuk

melakukan gotong royong. Melalui kegiatan gotong royong ini masyarakat akan melakukannya
secara bersama-sama, sehingga diharapkan mempermudah pekerjaan masyarakat setempat untuk
membersihkan lingkungan sekitar, menjaganya agar tetap bersih dan dapat mengurangi jumlah
balita yang terkena penyakit DBD dan diare. Selain itu juga, masyarakat diharapkan bisa
menyadari akan pentingnya kebersamaan dalam menjalankan suatu kegiatan sehingga dapat
terjadinya perubahan perilaku, dari yang terbiasa melakukan secara individu, beralih
melakukannya secara bersama-sama.
Rumusan Masalah
Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan dalam latar belakang, maka ada dua masalah pokok
yang akan diteliti dalam penulisan ini, yaitu:

1.

Bagaimanakah perubahan perilaku masyarakat sebelum dan sesudah melakukan gotong

royong?

2.

Apa sajakah kendala yang dihadapi oleh para petugas RW ketika berusaha menumbuhkan

semangat bergotong royong masyarakat?


1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.

Untuk mengetahui perubahan perilaku masyarakat RW 08, Kelurahan Petojo Utara,

Jakarta Pusat, sebelum dan sesudah melakukan gotong royong.

2.

Untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi petugas RW 08 ketika berusaha

menumbuhkan semangat bergotong royong masyarakat RW 08.


1.4 Manfaat Penelitian
1. Untuk memberikan gambaran tentang perubahan perilaku yang dihasilkan melalui kegiatan
gotong royong.
2. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang kendala apa sajakah yang dihadapi para
petugas RW 08 dalam usaha mereka untuk menumbuhkan semangat gotong royong masyarakat.

BAB II
2.1 Pengertian Gotong Royong
Gotong royong memiliki pengertian bekerja bersama-sama dalam menyelesaikan pekerjaan
dan secara bersama-sama menikmati hasil pekerjaan tersebut secara adil. Sikap gotong royong

harus dimiliki oleh setiap elemem atau lapisan masyarakat di Indonesia, khususnya masyarakat
RW 08, Kelurahan Potojo Utara, Jakarta Pusat. Hal ini disebabkan, segala sesuatu yang
dikerjakan secara bersama-sama dapat dilakukan dengan lebih mudah dan cepat selesai, dan
pastinya pembangunan di daerah tersebut akan semakin lancar dan maju. Bukan itu saja, dengan
menerapkan kebiasaan gotong royong, dapat membangun hubungan persaudaraan atau
silaturahmi yang semakin erat.
Sedangkan pekerjaan yang dilakukan secara individu, pekerjaan akan terasa lebih sulit dan
membutukan waktu yang lama, serta memeperlambat pambangunan di daerah tersebut. Suatu
pekerjaan yang dilakukan secara individu akan menimbulkan kesenjangan sosial diantara
masyarakat di daerah tersebut.
Menurut Susi (http://elcom.umy.ac.id), setiap individu yang melakukan suatu kegiatan secara
bersama-sama memiliki alasan bahwa manusia membutuhkan sesamanya untuk mancapai
kesejahteraan, baik jasmani maupun rohani, manusia sebagai makhluk yang berbudi luhur yang
memiliki rasa saling mengasihi, dan tenggang rasa terhadap sesamanya, dasar keimanan kepada
Tuhan yang Maha Esa yang mengharuskan setiap manusia untuk bekerja sama untuk
mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, serta kesadaran bahwa suatu usaha yang dilakukan
secara bersama-sama akan lebih terasa mudah, ringan, dan cepat selesai.
Dalam gotong royong terdapat nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya, seperti yang di
jelaskan oleh Susi (http://elcom.umy.ac.id), nilai-nilai norma yang terkandung itu antara lain
kebersamaan, saling membantu dan mengutamakan kepentingan umum, usaha pemenuhan
kesejahteraan, dan usaha penyesuaian antara kepentingan pribadi dan umum.
2.2 Perubahan Sosial dan Kebudayaan
Pada zaman dahulu, masyarakat Indonesia hampir tidak terlepas dari kegiatan bergotong
royong, namun semakin berkembangnya zaman yang memaksa manusia untuk melakukan
aktivitas diluar rumah, maka kegiatan bergotong royong sudah jarang dilakukan oleh sebagian
masyarakat. Setiap masyarakat, disadari atau tidak disadari, akan mengalami perubahan.
Soerjono (1982: 258) mengungkapkan perubahan-perubahan masyarakat ini dapat mengenai
nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola perilaku organisasi, dan lain sebagainya.
Para ahli telah mencoba untuk merumuskan prinsip-prinsp perubahan sosial, ada yang
berpendapat bahwa perubahan itu terjadi dikarenakan unsur-unsur yang mempertahankan
keseimbangan masyarakat, seperti unsur-unsur kebudayaan. Ada pula yang berpendapat bahwa
perubahan sosial itu bersifat periodik dan non periodik. Namun, Pitirim A. Sorokin (dalam

Soerjono Soekanto, 1982: 263) meragukan kebenaran akan adanya lingkaran-lingkaran


perubahan sosial tersebut. Akan tetapi, perubahan-perubahan itu akan tetap ada, dan lingkaran
yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial itu harus tetap dipelajari agar dapat diperoleh
suatu generalisasi.
Kingsley Davis (dalam Soerjono Soekanto, 1982: 266) berpendapat bahwa perubahan sosial
merupakan bagian dari perubahan kebudayaan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari tidak
mudah untuk menemukan perbedaan antara perubahan sosial dan perubahan kebudayaan, karena
tidak ada masyarakat yang tidak mempunyai kebudayaan dan sebaliknya tidak ada kebudayaan
yang tidak terjelma oleh masyarakat.
Pada dewasa ini perubahan sosial dapat diketahui dengan ciri-ciri bahwa tidak ada
masyarakat yang berhenti perkembangannya, suatu perubahan pada suatu lembaga tertentu akan
diikuti perubahan pada lembaga sosial lainnya, perubahan sosial yang terjadi dengan cepat akan
menyebabkan disorganisasi yang bersifat sementara karena terdapat proses penyesuaian diri di
dalamnya, yang dimana disorganisasi ini akan diikuti oleh reorganisasi yang memantapkan
kaidah-kaidah dan nilai-nilai lain yang baru, serta perubahan-perubahan sosial tersebut tidak
dapat dibatasi pada bidang kebendaan atau bidang spiritual saja. (Soerjono, 1982: 267-268)
Perubahan-perubahan sosial akan bergerak meninggalkan faktor yang diubah. Perubahan itu
mungkin akan bergerak kepada sesuatu bentuk yang baru atau bergerak kearah suatu bentuk yang
sudah ada pada masa lampau.
2.3 Gotong Royong Dalam Psikologi Sosial
McDavid dan Harari (1968) (dalam Sarlito, 2002: 9) mendefinisikan psikologi sosial sebagai
studi ilmiah tentang pengalaman dan perilaku individual dalam kaitan dengan individu lain,
kelompok dan kebudayaan. McDavid dan Harari mencoba untuk memperhitungkan pengaruh
masa lampau di dalam definisinya, karena mereka mencoba untuk mengaitkan antara
pengalaman dan perilaku individu tersebut, yaitu individu lain, kelompok, dan kebudayaan.
Dalam psikologi sosial, Myers (1996) (dalam Sarlito, 2002: 328) menjelaskan bahwa hasrat
untuk

menolong

orang

lain

tanpa

memikirkan

dirinya

sendiri

disebut altruisme. Altruisme memiliki berbagi teori, namun teori yang mendekati alasan
masyarakat melakukan gotong royong adalah teori empati dan teori norma sosial.
Batson (1991,1995) mengatakan bahwa egoisme dan simpati berfungsi dalam perilaku tolong
menolong. Bila egoisme dan simpati digabungkan, maka keduanya dapat menjadi empati, yaitu

ikut merasakan penderitaan orang lain sebagai penderitaannya sendiri. Dalam teori ini Miller dan
Eisenberg (1988) menitik beratkan pada usaha menolong ini terletak pada penderitaan orang lain,
bukan pada penderitaannya sendiri, karena jika orang lain dapat terlepas dari penderitaannya,
maka si penolong pun akan terbebas dari penderitaanya juga. (dalam Sarlito, 2002: 329-330)
Menurut teori norma sosial, orang menolong karena diharuskan oleh norma-norma sosial.
Ada tiga macam norma sosial yang biasa dijadikan pedoman, yaitu (a) norma timbal balik
(reciprocity norm), kita membalas pertolongan dengan pertolongan, (b) norma tanggung jawab
sosial (social responsibility norm), kita wajib menolong orang lain tanpa mengharapkan balasan
apa pun di masa yang akan datang, dan (c) norma keseimbangan (harmonic norm), norma ini
berlaku di dunia Timur. Teori ini menjelaskan bahwa seluruh alam semesta harus berada dalam
keadaan yang seimbang, serasi, dan selaras. Manusia harus membantu untuk mempertahankan
keseimbangan itu, antara lain dalam bentuk perilaku menolong. (Sarlito, 2002: 330-331)
2.4 Kesehatan masyarakat
Kesehatan adalah harta yang tak ternilai harganya. Kesehatan pribadi dan kesehatan
masyarakat saling mempengaruhi satu sama lain. Hal ini dikarenakan, semakin banyak orang
yang memperhatikan kesehatan dirinya sendiri, maka makin baik kesehatan masyarakatnya.
Begitu juga sebaliknya, semakin buruk kesehatan masyarakatnya, maka akan berpengaruh
kepada kesehatan pribadi warga masyarakatnya.
Menurut Indan (1994: 20), faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang itu antara lain
penyebab penyakit, manusia sebagai tuan rumah, dan lingkungan hidup. Jelas sekali bahwa
lingkungan hidup berperan penting dalam kesehatan. Lingkungan hidup itu sendiri diartikan
sebagai segala sesuatu baik benda maupun keadaan yang dapat mempengaruhi kesehatan
masyarakat (Indan, 1994: 22).
Indan membagi lingkungan hidup ini ke dalam empat golongan, yaitu lingkungan biologi,
fisik, ekonomi, dan mental sosial. Keempat golongan lingkungan ini saling mempengaruhi, yang
dimana bila kemiskinan disertai dengan sifat-sifat anti sosial akan menyebabkan keruntuhan
akhlak secara total

ANALISIS
Gotong royong merupakan salah satu cara untuk merubah perilaku masyarakat. Dengan
terbentuknya

perubahan perilaku masyarakat, maka kepedulian masyarakat terhadap

lingkungannya akan terjaga dengan baik, khususnya bagi masyarakat dikawasan padat peduduk,

yang identik dengan kekumuhan. Namun, usaha gotong royong ini bukanlah suatu yang mudah
diterima kembali oleh masyarakat zaman sekarang yang mulai mementingkan kepentingan
dirinya sendiri.
Usaha untuk mengembalikan kembali semangat gotong royong ditengah-tengah
masyarakat yang mulai memiliki aktivitas dan kesibukan yang berbeda bukanlah sesuatu yang
mudah untuk dilakukan. Berbagai aspek harus diperhitungkan dengan jelas, seperti pemilihan
waktu yang tepat untuk melakukan gotong royong, hal ini dikarenakan jam kerja setiap individu
yang berbeda-beda.
Begitu juga para petugas RW 08, Kelurahan Petojo Utara, berusaha keras untuk
membangkitkan semangat gotong royong masyarakatnya. Oleh karena itu, mereka berusaha
untuk menyusun berbagai macam program yang diharapkan melalui program-program ini dapat
membangkitkan semangat gotong royong masyarakat untuk menjaga kelestarian dan kebersihan
lingkungan tempat tinggal mereka. Program-program itu antara lain adalah:
1. Program Penghijauan
Program ini merupakan kegiatan menanam tanaman hias dan pohon di sekitar rumah untuk
menambah asri lingkungan rumah. Kegiatan ini dimulai sejak tahun 2004. Atas semangat
bersama untuk memberikan penghijauan di lingkungan RW 08, saat ini sudah ada satu warga
yang berhasil membudidayakan tanaman anthurium dan adenium.
2. Program Komposing
Program ini merupakan kegiatan memilah sampah yang dimulai dari rumah tangga. Sampah
organik ini dimanfaatkan untuk kompos dan sampah plastk di daur ulang. Saat ini kader
posyandu sedang mengembangkan kompos Takakura, dan melalui program ini volume sampah
telah berkurang 10-15%. Sampah yang didaur ulang oleh para kader posyandu tersebut telah
mengikuti pameran di berbagai instansi pemerintah atau lembaga lainnya, serta pameran di
Monas. Melaui program ini juga kader posyandu berhasil menyumbangkan dana untuk kas RW
08 sebesar Rp. 7.800.000,-.
3. Program Kali Bersih
Melalui program ini pengurus RW 08 mengajak masyarakat, khususnya bapak-bapak dan
para pemuda, untuk membersihkan kali krukut. Program ini dilaksanakan tiga bulan sekali
(dimulai sejak Mei 2004). Akan tetapi, program ini memiliki kendala, yaitu banyaknya lumput
yang terdapat di dalam kali Krukut dan masih kurangnya kesadaran masyarakat, sehingga hasil
yang diperoleh melalui program ini tidak maksimal.

4. Program Pengelolaan Air Bersih


Program ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas kesehatan warga melalui pentingnya
air minum yang bebas dari kuman dan wadah penyimpanan yang aman dari rekontaminasi.
Kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan hingga saat ini adalah melakukan diskusi cara-cara
pengelolaan air yang dilakukan secara rutin, 2 kali seminggu, yang dihadiri oleh setiap
perwakilan warga sejak tahun 2006. Akan tetapi pada saat ini, kegiatan ini hanya dimonitoring
oleh ibu-ibu PKK.
Program pengelolaan air bersih ini lebih dikenal dengan sebutan air rahmat, yang dimana
melalui program ini juga mulai merubah perilaku masyarakat RW 08. Masyarakat sudah mulai
mengerti untuk menggunakan air bersih untuk kegiatan sehari-hari, terutama untuk kebutuhan
memasak dan air minum. Selain itu juga, jumlah penduduk yang terjangkit penyakit DBD dan
diare sudah mulai berkurang. Pada tahun 2007, jumlah penduduk yang terjangkit penyakit DBD
sekitar 9 orang dan yang terjangkit wabah diare sekitar 2 orang. Akan tetapi perubahan drastis
terjadi pada tahun 2008, tidak ada satu penduduk pun yang terjangkit penyakit-penyakit tersebut.
Ini merupakan hasil dari perubahan perilaku masyarakat yang patut dibanggakan. Perubahan
perilaku ini tidak akan terjadi tanpa ada kerjasama antara pengurus RW 08 dan masyarakat
sekitar.